Senin, 28 November 2016

ALLAH MENYELESAIKAN SEGALA PERKARA DAN KASIHNYA MENYEMBUHKAN

Namaku Novita dan aku adalah ibu dari putra kembar yang kini berusia 9 tahun. Aku mengikuti retret awal di tahun 2006 dan retret penyembuhan batin kemarin ini, April 2009. Yang ingin aku bagikan disini adalah bagaimana Yesus berbicara padaku, menyelesaikan perkaraku satu persatu dan menjawab doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Aku menikah di tahun 1999 dan ketika aku hamil 7 bulan, suamiku meninggalkan Kristus untuk menikahi kekasihnya. Aku mengetahui hal tersebut ketika anak-anak baru dilahirkan dan berusia satu bulan. Setelah melalui satu proses yang tidak mudah, suamiku menceraikan istri keduanya dan kembali kepada kami. Namun masalah tidak berhenti di situ. Sejak saat itu aku kerap menerima tindak kekerasan baik fisik maupun mental dari suami aku, mulai dari dicemooh, dilempar sisir, diludahi sampai dipukuli. Dia pun tak berhenti berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain dan ada beberapa dari mereka yang dibawa ke rumah. Semuanya aku simpan sendiri. Baik orang tua maupun teman tidak ada yang tahu. Kalau aku ke kantor dengan wajah lebam dan ada teman yang bertanya, aku katakan bahwa aku secara tidak sengaja kejeduk kepalanya anak-anak, dan banyak alasan yang lain.


 Satu malam, ketika aku menemukan kartu penuh ucapan cinta untuk suami aku dari salah satu wanitanya, sambil menangis aku berkata pada diri sendiri, “Aku merasa sangat sendirian.” Di saat itu, terdengar dengan jelas suara yang lembut yang dengan penuh iman aku yakini, itu adalah Yesus yang berbicara padaku. Dia mengatakan, “Kamu tidak sendiri, ada Aku bersamamu.” Begitu aku sadar, aku menangis sejadi-jadinya. Betapa bodohnya aku yang berpikir bahwa aku seorang diri.

 Di malam yang lain di saat aku sudah tidak tahan akan beban yang begitu berat, aku memutuskan untuk bunuh diri. Aku pikir dengan bunuh diri, masalah aku selesai. Sambil menimbang-nimbang apakah aku mau gantung diri, potong urat nadi atau minum obat nyamuk, aku pikir aku berdoa dulu saja, mau minta supaya Tuhan cepat-cepat ambil nyawaku. Akupun berdoa dan bilang “Tuhan, aku titip anak-anak. Tolong supaya Engkau cepat-cepat mengambil nyawaku, aku sudah tidak kuat.” Untuk kedua kalinya, Yesus menyapaku yang aku dengar dengan jelas, kataNYA, “Hidupmu adalah anugrah terbesar dariKU, mengapa ingin kau sia-siakan.” Mendengar itu, aku sadar dan menangis meminta ampun dari Tuhan.

Aku ikut retret awal karena aku kuatir bahwa aku menjadi agak tidak waras. Sebelum aku ikut retret, aku tidak mengerti mengapa di tengah penderitaan hidup, ketika aku berdoa aku bisa berkata, “Terima kasih Tuhan karena aku boleh ikut merasakan sedikit dari penderitaanMU waktu Engkau memikul salib.” Waktu itu aku berpikir aku mulai gila dengan berdoa seperti itu. Kini aku mengerti bahwa salib bisa membawa sukacita dan Roh Kudus membimbing kita ketika kita menyerahkan diri pada Tuhan saat kita berdoa. Di retret awal, aku mendapat banyak sekali pengalaman iman yang begitu indah. Setiap aku menutup mata, aku bisa membayangkan Yesus dengan jubah putihnya yang berkilau membuka tanganNYA untukku. Ada saat di mana aku melihat Yesus yang mengulurkan tanganNYA ke aku. Dan satu pesan yang aku dapat dan ingat waktu aku konseling adalah: jangan sombong dihadapan Tuhan. Keselamatan menurut Tuhan tidak sama dengan keselamatan menurut ibu.

Pulang dari retret awal, masalah memang tidak selesai bahkan aku dibawa pada titik kepasrahan yang terendah dalam hidupku. Anak-anakku dibawa pergi dan disembunyikan oleh suamiku selama hampir 4 bulan. Mereka hilang bagai ditelan bumi. Keluarga suami tidak ada yang mau membantu. Aku berdoa, mohon supaya Tuhan segera mengembalikan anak-anak. Setiap malam aku mohon itu dari Tuhan tapi entah mengapa rasanya doaku seolah tidak terangkat. Aku pun marah sama Tuhan dan berhenti berdoa selama dua hari. Kemudian satu hari, aku terbangun pukul tiga pagi. Aku keluar kamar, duduk di ruang tamu dan berdoa. Aku cuma bisa berkata, “Tuhan, kalau boleh, ijinkan aku mengasuh dan membesarkan kedua buah hatiku, tapi Tuhan, kehendakMUlah yang terjadi.” Tiga hari aku ucapkan doa itu, kemudian aku dipertemukan dengan anak-anak.

Saat ini setelah suamiku melakukan tindak kekerasan yang menyebabkan salah satu tulang rusuk bagian depanku bergeser dan pada akhirnya ia memilih untuk hidup dengan salah satu wanitanya yang lain, aku pun berkonsultasi dengan pastor di Keuskupan Agung Jakarta dan kami berpisah. Aku membesarkan anak-anak sendiri. Dalam doa aku sering meminta kepada Yesus supaya DIA memampukan aku untuk membesarkan kedua buah hatiku dengan sabar, bijaksana dan penuh kasih. DIA menjawab doaku dengan mengundangku ke retret penyembuhan batin. DIA mengundangku karena DIA mau menyembuhkan luka-luka batinku supaya aku tidak menorehkan luka pada anak-anakku. Luka bisa berbuah luka dan Yesus yang begitu besar cintaNYA padaku dan anak-anakku, tidak menginginkan hal itu terjadi. DIA mau menyembuhkanku. Itulah jawabanNYA atas doaku.

Di dalam retret, aku dibawa pada kesadaran akan cinta Tuhan. Namun aku pun diingatkan kembali akan semua luka dan sakit hati yang kualami dan rasanya memang sakiiittttt sekali. Semua pengkhianatan suamiku dan tindak kekerasan yang aku terima baik fisik maupun mental diputar kembali dibenakku. Aku meminta supaya Yesus mau mengambil semua rasa sakit itu dan semua luka-lukaku. Dan DIA menjawab permohonanku. Bahkan diluar dugaan, ketika pembasuhan kaki, ada seorang figur yang wajahnya mirip dengan suamiku dan ada yang mirip dengan wanita yang kini hidup dengannya. Aku pun membasuh kaki mereka. Karena rahmat Tuhan dan kemurahan kasihNYA, aku pun bisa mengampuni suamiku dan wanita yang kini hidup dengannya. Dan itu sungguh amat melegakan.

Yesusku menyembuhkanku. Dengan kesembuhanku, aku dimampukan untuk membesarkan kedua anakku dengan penuh kasih dan tidak menorehkan luka pada mereka. DIA yang mengerti kebutuhanku dan DIA yang menjawab semua doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Satu ayat Kitab Suci yang selalu kuingat: ‘Serahkanlah hidupmu pada Tuhan dan percayalah kepadaNYA, dan DIA akan bertindak’ (Mazmur 37:5)


Kesaksian ditulis oleh Novita Patricia

Kamis, 24 November 2016

IRMA OCTARI : LEBIH BAIK MATI DARIPADA BAU BUSUK

Irma Octari: Lebih Baik Mati Daripada Bau BusukSumber : Jawaban.com
 Play Video
Di masa lalunya, Irma Octari pernah mengidap penyakit kulit berupa benjolan-benjolan besar di beberapa bagian tubuhnya. Penyakit itu membuat separuh hidupnya tersiksa. Parahnya, bukan hanya teman-temannya saja yang mengjauhinya, tetapi juga saudara dan keluarga dekatnya sendiri perlahan menjauhinya lantaran bau amis dan busuk yang berasal dari luka benjolan tersebut.
“Mereka semua pada pergi karena baunya badan saya. Saya nggak nyalahin mereka sih. Bau banget memang. Itu baunya bau amis, bau busuk,” ucap Irma.
“Awalnya benjolan kecil. Aku pegang-pegang, kog dileher aku ada benjolan. Semakin hari, benjolannya itu menjalar bahkan sampai ke payudara. Itu ada empat bekas. Di tubuh saya itu awalnya dari leher, di bawah leher, di bawah ketiak sampai ke payudara itu sampai bolong,” terang Irma.
Lantaran terhambat biaya, Muriah, ibu Irma tak mampu membawanya berobat ke rumah sakit. Hal yang hanya ia lakukan adalah dengan menjual perabotan rumah demi mencukupi pengobatan alternatif untuk Irma. Sang ibu hanya bisa meratap sedih ketika Irma mengeluhkan rasa sakit tanpa mampu berbuat banyak hal.
“Ke dokterkan pakai duit gedde. Bapaknya nggak kerjajarang pulang. Saya aja yang ngurusin anak, si Irma sakit. Cuman sedih doang saya ngelihat dia. Saudara saya udah nggak ngopenin saya. Orang ajarin kemana aja saya pergi. Sampe abis-abisan saya. Jangankan katanya tv, coek tiga ribu perak saya jual buat berobat nambahin ke alternatif,” terang Muriah.
Merasa tak mendapat penyembuhan dari alternatif, Muriah membawa Irma berobat ke dukun atau orang pintar. Sayangnya, upaya pengobatan yang sudah dilakukan berkali-kali itu tak membuahkan hasil. Irma masih tetap menjerit kesakitan dengan kondisi luka di payudara yang semakin parah.
Hingga di suatu ketika, tetangga baru mereka yang bernama Nurlela yang dikenal begitu baik memberikan sebotol minyak kepadanya. “Waktu dikasih minyak itu sih aku terima aja. Karena memang dia itu orangnya baik banget. Tapi saya sempat nggak percaya minyak itu karena obat di rumah itu banyak banget dan banyak menjanjikan sembuh. Buktinya saya nggak sembuh-sembuh. Tapi karena orangnya baik saya mau terima”.
Keputusasaan dan ketidakyakinan yang timbul di hati Irma, membuatnya tidak segera menggunakan minyak pemberian Nurlela yang telah didoakan itu. Kondisi penyakit terus semakin memburuk. Bahkan sang kakak yang bekerja dan membiayai separuh pengobatan Irma sudah tak lagi peduli.
Terbersit kesedihan di hati Irma bahwa ia telah banyak menyusahkan ibu dan kakaknya. Banyak biaya yang sudah dihabiskan untuk pengobatannya, namun tetap saja tak mampu menyembuhkan penyakitnya. Belum lagi rintihan kesakitan yang selalu dialaminya setiap malam. Perasaan putus asa dan tak ebrguna bercampur menjadi satu dan mendorongnya untuk bunuh diri saja. “Aku udah putus asa banget di saat itu karena semua ngejauhin aku. Kondisi juga udah makin parah. Ini payudara udah ancur separoh, udah keluar nanah. Baunya, saya sendiri aja udah nggak kuat,” terang Irma.
“Akhirnya aku mau bunuh diri aku ambil racun serangga terus aku berpikir, ngapain aku hidup mendingan mati aja. Toh aku hidup nggak ada gunanya. Aku nyusahin keluarga, gara-gara aku sakit semua perabotan rumah habis. Pas aku mau ngambil racun serangga aku dengar suara: Aku mengasihimu. Aku lihat nggak ada orang, aku pikir hantu terus aku lari keluar,” kenang Irma saat menghadapi masa-masa putus asanya itu.
Ketika peristiwa itu, Nurlela dengan senang hati membawa Irma ke rumahnya. Dalam kondisi penyakit yang sudah parah dan bau busuk, wanita itu masih tetap mau memeluk dan mencium Irma layaknya seperti orang biasanya. Melalui wanita itulah Irma merasa diterima dan mulai terdorong untuk mencari Tuhan. “Dia selalu perkatakan yang bagus-bagus. Kamu itu cantik, Tuhan sayang sama kamu. Aneh aja gitu denggernya, kog ada ya manusia kayak gitu”.
Di suatu malam ketika Irma meronta kesakitan, ia teringat akan minyak pemberian Nurlela. Ia pun mulai mengoleskan minyak itu dan meminta agar Tuhan menyembuhkannya. “Waktu itu aku ngelihat ada sosok orang berjubah putih di atas langit. Itu banyak banget orang ngerumunin. Sampai naik-naik ke atas gedung, terus teriak-teriak: Tuhan, Tuhan…. Aku lihat ke atas dan Dia bilang “Aku akan kembali menjemput orang yang percaya dan yakin kepadaku””.
Sejak memakai minyak pemberian itu, Irma mengalami tidur yang begitu nyenyak dan kondisi penyakitnya berangsur-angsur sembuh. Ia menyadari bahwa selama ini Nurlela telah lama meninggalkan Tuhan. Setelah itu, ia mengakui bahwa Tuhan bertindak ketika setiap orang mau mencari dan meminta kesembuhan kepada-Nya. “Ketika saya percaya dan menaruh permasalahan saya kedalam tangan Tuhan, saya percaya Tuhan yang bertindak. Saya mulai berdoa: Sembuhkan saya Tuhan seperti Engkau menyembuhkan orang-orang sakit”.
Kini Irma sudah sembuh, yang tadinya bau busuk, jelek dan tak lagi punya teman, saat ini Irma menjadi teman bagi banyak orang. Segala yang dia alami tersebut diperoleh karena keyakinan dan percaya kepada Tuhan yang sanggup memulihkan segala sakit penyakit dan permasalahan manusia.
Sumber : Irma Octari
www.jawaban.com

Minggu, 20 November 2016

PUJITANTO : KUMAAFKAN PELAKU PENUSUK TUBUHKU

Pujitanto: Ku Maafkan Pelaku Penusuk Tubuhku
Sumber : Jawaban.com
 Play Video
Di suatu malam, tepatnya di hari Minggu pukul 02.00 subuh, seorang pria bertopeng memasuki kediaman keluarga Pujitanto. Namun Pujitanto yang saat itu sudah tertidur mendengar sayup-sayup suara pintu kamar terbuka dan mengira bahwa itu adalah sang istri.
“Suara itu mengganggu, akhirnya sama panggil “Maa..Maa”. Waktu saya panggil, saya langsung bangun. Orang itu pakai topeng, penutup kepala. Naik ke tempat tidur lalu memukul saya dengan pukulan pemijat ke arah muka saya,” demikian Pujianto mengisahkan kejadian yang dialaminya itu.
Saat sang maling berhenti memukulinya, Puji akhirnya merasakan sakit dibagian dada seperti tusukan. Dia mulai menyadari bahwa dirinya ditusuk setelah benar-benar terbangun dan memanggil-manggil sang istri. Endah yang saat itu terbangun menyaksikan seorang pria bertopeng menusuk suaminya kemudian histeris dan meneriakinya ‘maling’. Seketika itu pula pria bertopeng tersebut menyerang Endah dan menusuknya pula dibagian dada.
“Saya keluar kamar sambil teriak ‘malinggg...malinggg’, diikuti oleh anak saya paling kecil. Waktu saya memegang gagang telepon, orang itu saya lihat berusaha membuka pintu lalu balik menyerang suami saya lagi,” terang Endah.
Dengan diselimuti ketakutan dan kepanikan, Endah terus berteriak ‘maling maling’, sampai akhirnya putra sulungnya Peter terbangun dan menyaksikan kejadian itu. Dengan segera Peter berlari menuju kamar orangtuanya dan menolong sang ayah yang saat itu sedang berusaha menghindari serangan pria bertopeng itu. Peterpun berhasil mendekap sang maling dengan ketat, kemudian Puji meraih kabel dan mengikatkannya ke bagian leher si pria bertopeng itu.
Dalam kondisi yang serba kacau, Peter segera meninggalkan sang ayah dan pria bertopeng tersebut untuk mencari pertolongan. Puluhan luka tusukan di tubuh Puji membuatnya lemah tak berdaya. Dia pun akhirnya membiarkan si pria bertopeng tersebut di dalam kamar. Tanpa disangka, sang maling berusaha untuk melarikan diri. Sayangnya, saat hendak menuruni jendela pihak polisi berhasil membekuknya.
Dalam kondisi penuh luka, Pujianto dan Endah berangkat menuju rumah sakit. Berkat doa dan dukungan sang istri, Puji bisa bertahan hingga tiba di rumah sakit. “Tuhan Yesus tuh lebih kuat dari semua ini. Ayo kuat terus jalan. Saya udah pasrah nyampe apa nggak ke rumah sakit. Sepanjang jalan pokoknya saya bilang ‘Tolong Yesus. Tolong kuatkan’. Ternyata sampai di rumah sakit,” kenang Endah.
Puji harus menjalani dua operasi besar akibat luka tusukan yang mengenai organ penting dalam tubuhnya. Rasa sakit yang bukan kepalang membuat Puji begitu menderita. Namun dia kemudian menyerahkan rasa sakitnya kepada Tuhan. “Jadi hidung saya diberi selang langsung masuk ke lambung. Pada saat hari pertama itu, tidak boalh masuk apapun (ke dalam perut). Saya bilang sama perawat ‘saya haus’. Susternya bilang: “Bapak belum pulih. Bapak harus puasa.” Saya membayangkan Tuhan Yesus waktu disalib. ‘Tuhan Engkau pernah merasakan haus seperti itu dan dilukai.’ Saya hanya mencicipi sebagian dari luka itu. Mungkin seperti itulah penderitaan (Yesus) karena kehausan yang luar biasa,” ucap Puji.
Kendati di tengah penderitaan yang begitu menyiksa itu, Tuhan bahkan memberikan kekuatan kepada Puji. Lewat sebuah lagu rohani yang dinyanyikannya dalam hati, Puji seakan mendapat kekuatan baru yang tak terkira. “‘Tuhan adalah kekuatanku, bersama Dia ku tak akan goyah’ Ketika lagu itu saya nyanyikan dalam hati, lagu itu menguatkan saya, memompa semangat saya. ‘Harus sembuh! Harus sembuh!’”.
Sementara sang istri, Endah merasakan sakit yang relatif jauh lebih ringan. Namun peristiwa nahas itu membuatnya hidup dalam trauma dan ketakutan yang begitu mendalam. Saat masih dalam perawatan, polisi yang melakukan penyelidikan tersebut menyampaian kabar yang begitu mengejutkan. Pria bertopeng tersebut ternyata adalah tetangganya.Meski begitu Endah belum mengetahui secara pasti motif dari kejahatan itu. Dengan mujizat Tuhan, kesembuhan pun dialami Puji dan Endah.
Endah yang saat itu masih begitu trauma kerap kali terganggu dengan rasa takutnya setiap malam tiba. Kondisinya tidak mengenakkan itu akhirnya berakhir ketika Puji mengajak sang istri untuk bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan kesempatan hidup yang kedua kalinya. Diapun mengingatkan sang istri untuk mau mengampuni orang lain dan tidak menyimpan dendam.
Empat bulan setelah kejadian, Puji dan Endah akhirnya mengambil keputusan yang pastinya akan sulit diterima akal manusia, yaitu mengampuni sang pelaku sepenuhnya.
Sumber : Pujitanto & Endah
www. jawaban.com

Rabu, 16 November 2016

KISAH NYATA CATHERINE SI MODEL CANTIK : ADA HARGA MAHAL YANG HARUS KUBAYAR

 
Kisah Nyata Catherine si Model Cantik: Ada Harga Mahal yang Harus KubayarSumber : jawaban.com
Banyak yang mengatakan bahwa menjadi model adalah anugerah. Sudah cantik, glamor, memiliki penampilan rupawan dan tubuh memukau pula. Namun, apakah kisah hidup model yang satu ini seindah fisiknya?
Masa Silam
Ayah adalah figur bapak yang baik, bertanggung jawab, dan penuh kasih. Aku kehilangan ayah saat masih kecil, karena ia tewas terbunuh. Kejadiannya benar-benar tidak diduga. Setiap kali mengingat ayah, aku tak kuat menahan air mata. Aku selalu kangen dengannya.
Ibuku menikah lagi dengan duda beranak dua. Jika aku terus bertahan di rumah, pasti akan ada problem-problem yang menyebabkan kami saling menyakiti. Suatu kali aku mengatakan kepada Ibu bahwa aku ingin tinggal bersama pacarku. Ibuku tampak tak peduli. Dia mengiyakan saja saat aku berkata demikian.Terlihat sekali bahwa Ibu lebih menyayangi anak-anak tirinya dibandingkan aku.
Kasih sayang dan perhatian seorang ibu sungguh tak kurasakan.
Tuhan tidak adil. Hidup ini begitu pahit kurasakan. Buat apa hidup dengan keadaan seperti ini? Lebih baik aku mati.
Kabur
Ke Surabaya-lah aku melangkah, mengubur semua kenangan lama yang tertinggal di Makassar. Di Surabaya aku tinggal sendiri, tanpa pengawasan orangtua. Aku merasa ada sesuatu yang kosong dan harus diisi. Akupun mencarinya: mulai dari pergaulan kesana kemari, keluar malam, nongkrong, mabuk, dugem, pesta, pacaran, dan lain-lain. Aku merasa semakin bebas. Seks menjadi titik dimana aku selalu jatuh bangun.
Aku selalu berpikir bisa mendapatkan yang terbaik, meskipun tindakanku terlarang untuk usiaku.
Sebetulnya rasa bersalah dan berdosa itu sering datang. Ada penyesalan yang menghinggapi batinku. Tetapi, setiap kali aku ingat bahwa ibuku toh tidak peduli dengan keadaanku, maka penyesalan dan rasa bersalah itupun terkubur. Pada akhirnya aku menikmati saja semua yang kuperbuat.
Tuntutan Hidup
Dengan gaya hidup seperti ini, tentu aku memerlukan uang yang tidak sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan, aku bekerja sebagai Account Executive. Tugasku adalah membantu mengurusi artis dan model.
Suatu kali sebuah tawaran datang tanpa disangka. Ada seorang temanku yang punya butik. Dia menawari aku untuk menjadi modelnya.
Wow, rasanya begitu nyaman menjalani profesi baru ini. Aku disuruh senyum, berpose, memperagakan berbagai gaya, dan lain-lain.
Semenjak fotoku dipasang di majalah, tawaran demi tawaran mulai berdatangan. Tapi itupun disertai dengan harga yang tidak sedikit. Ada yang berani membayarku sepuluh kali lipat, asalkan aku mau difoto dengan pose tanpa busana. Tapi aku tak mau menerima itu. Yang aku mau terima hanya sebatas sesi glamor. Sebetulnya sesi glamor juga sudah menunjukkan bagian-bagian tubuh tertentu yang asusila, meskipun bagiku masih belum menyalahi kode etik. Kuakui, pose-pose demikian memang tidak lazim dilakukan. Uang yang kudapatkan juga memang lebih besar.
Gaya hidupku semakin menjadi-jadi. Aku mulai mengenal narkoba, khususnya ecstasy. Sangat susah untuk bisa lepas dari barang tersebut. Seks bebas juga sudah menjadi bagian hidupku. Dengan pacarku, aku melakukan seks bebas dan merasa bahwa kami sehati serta memiliki satu dunia yang sama.
Tersadar
Aku menjadi berpikir, apakah hidup yang kujalani akan begini saja sampai seterusnya?
Kasih sayang seorang pria itu rupanya semu. Aku tahu, mereka menyukai aku hanya karena mengharapkan bisa tidur denganku. Komitmen pun tak bisa mereka jaga.
Untuk melupakan pikiran-pikiran yang menganggu tersebut, aku mabuk-mabukan. Saat aku mabuk, tubuhku rasanya menghilang, tak ada lagi yang kukhawatirkan. Tetapi saat mabuk itu sudah hilang, aku teringat kembali dengan berbagai masalah dan kepahitan. Itu semua menorehkan luka di hatiku.
Aku sebetulnya ingin lepas, namun tak berdaya. Aku baru tahu bahwa kalau kita sudah terikat dengan narkoba, dan kita berusaha untuk lepas darinya, maka badan akan menjadi sering drop. Rambutku menjadi rontok. Aku butuh topangan seseorang. Namun saat itu tak ada satupun yang peduli.
Di situlah aku merasakan takut mati.
Entah dari mana mulanya, muncul kilas-kilas balik (flashback) perjalanan hidupku dulu. Aku hanya melihat bahwa hidupku dipenuhi hal-hal yang tidak baik. Apakah sampai selamanya aku akan hidup seperti ini? Jika kelak aku mati, maka hanya hal-hal buruk saja yang kubawa, sementara tidak satupun hal yang baik? Aku harus lepas dari semua ini, tetapi, bagaimana caranya?
Dan terlintas di pikiranku untuk berdoa.
"Tuhan, aku ingin punya keluarga, yang tulus mengasihi aku tanpa melihat apa dan siapa. Sehingga aku bisa kuat melewati hidup ini dan kembali tegar. Dan aku juga bisa melanjutkan kehidupan dengan cara yang lebih baik lagi," demikian aku memohon.
Benahi Hidup
Aku lelah. Tak lagi aku mau pacar-pacaran. Aku mau mulai menjalin hubungan dengan serius bersama orang yang tepat, karena aku mau menikah.
Singkat cerita, aku bertemu dengan seorang desainer. Yang aku lihat, dia adalah sosok yang dewasa. Dia mau menerima kekurangan saya, dan aku pun mau menerima kekurangan dia. Lalu kami memutuskan untuk tinggal serumah.
Lama-kelamaan aku mengenal tabiat asli pria ini. Rupanya dia itu seorang pengangguran. Dan ternyata dia adalah seorang duda yang ditinggalkan oleh istrinya. Saat aku hendak menagih janjinya—yang katanya mau menikahi aku—dia malah berkata, "Kamu itu banyak permintaanya, ya!"
Begitulah. Semuanya itu semu. Janji-janjinya hanya kamuflase belaka. Bahkan dia sering mengeluarkan kata-kata kasar.
Keadaan ini semakin membuatku tersiksa.
Semakin lelah diriku ini. Aku hanya berteriak kepada Tuhan, "Tuhan, aku capek. Kalau Tuhan mau ambil nyawaku, aku siap." Bukankah Tuhan sudah mengetahui niat hatiku yang tulus untuk bertobat? Aku pikir aku bisa mempercayai pria itu, namun ternyata pilihanku masih salah.
Lanjutkan Hidup Ini
Aku tetap berusaha tegar melewati hidup hari demi hari.
Suatu hari saat aku selesai pemotretan, aku diajak oleh seorang kawan untuk hadir dalam pertemuan sebuah komunitas.
Komunitas itu membuatku merasa diterima. Orang-orang yang ada di dalamnya menerimaku tanpa melihat latar belakang hidupku yang kelam. Di situlah aku merasa "dirangkul".
Bagiku, komunitas ini adalah jawaban doa dari Tuhan, ketika aku pernah meminta sebuah keluarga yang baru.
Aku bertemu dengan seorang pembimbing rohani yang berani blak-blakan menceritakan kisah hidupnya. Rupanya ceritanya mirip dengan apa yang kualami. Di situlah aku juga berani mengutarakan lika-liku kehidupanku yang bobrok. Aku tidak merasa malu, sebab keterbukaan adalah awal pemulihan.
Kehidupanku perlahan mulai berubah. Dari bimbingan rohani yang kudapatkan, aku mempelajari sebuah kebenaran: Apapun yang terjadi—entah baik maupun buruk—di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan, jangan pernah berpikir bahwa itu adalah musibah. Sebaliknya, jalani dan ambil hikmahnya.
Meskipun kebenaran tersebut sangat membebaskanku sampai-sampai membuat aku tak kuasa menahan tangis, realita yang kuhadapi tak semudah itu. Aku masih belum bisa lepas dari pria yang tinggal serumah denganku itu. Aku diperhadapkan pada situasi yang begitu rumit: di satu sisi aku ingin bertobat, tapi di sisi lain aku tak mampu melepaskannya. Mengapa? Karena ada rasa gengsi, malu, dan lainnya.
Di tengah kekalutan yang membelenggu, sekonyong-konyong aku bisa mendengar suara Tuhan yang berbicara, "Kalau kamu sudah tidak kuat, lepas. Lepaskan."
Sejak itu, aku memilih untuk lari meninggalkan pria ini.
Menyongsong Masa Depan
Aku semakin yakin dengan keputusanku untuk meninggalkan masa lalu dan melangkah menuju masa depan yang luar biasa. Dalam semua yang telah kualami, aku dapat mengambil kesimpulan: Seberat apapun kita disakiti, kita harus mengampuni dan berdoa untuk mereka yang telah menyakiti kita.
Aku sendiri sudah merasakan seperti apa mengampuni itu. Rasanya plong, enak, dan beban terasa diangkat.
Apapun yang sudah kualami, aku mau menerima itu sebagai sebuah proses. Proses yang dijalani tiap orang tidaklah sama. Tetapi, alangkah baiknya kalau kita dapat menyadari bahwa kita telah salah, dan kemudian kita langsung memiliki komitmen untuk mengubah diri kita ke arah yang lebih baik.
Saya juga mau katakan bahwa komunitas adalah suatu wadah yang penting, yang dapat membantu mengubah hidup kita menjadi lebih baik.
Kekosongan akan figur seorang ayah dan kasih sayang, rupanya hanya bisa diisi oleh Tuhan Yesus. Damai diperoleh saat kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itu sudah pasti; aku sudah mengalaminya sendiri.
Sumber Kesaksian:
Catherine
www.jawaban.com

Sabtu, 12 November 2016

STEPHANIE SANJAYA : DENGAN MENJADI CANTIK, AKU PASTI BAHAGIA

 Sumber : Jawaban.com

Namaku Stephanie Sanjaya. Sejak duduk di bangku sekolah, aku sering kali diejek oleh teman-teman sekolah karena kondisi fisik yang tidak sempurna. Aku terlahir tidak sempurna, memiliki cacat lahir. Kata dokter mata ku terkena satu virus, namanya virus toksoplasma yang disebarkan lewat binatang. Dan virus itu membuat mata ku tidak bisa melihat di sebelah kiri.
Aku menjadi bahan olokan teman, di tambah dengan tampilanku yang tidak menarik, kulitku yang hitam dan tidak terawat. Mama memang sering menganjurkan agar aku melakukan perawatan, tetapi karena pergaulanku yang dominan bersama laki-laki membuat ku abai dengan nasihat mama.
Padahal di sekolah, aku suka sekali dengan laki-laki yang suka olahraga, apalagi basket. Tetapi mereka kerap memperlakukanku dengan buruk, laki-laki yang aku sukai malah mengejekku. “Gue dengar loe suka ya sama gue. Masa ia gue suka sama cewek yang kayak gini. Udah item, jelek, matanya kecil lagi sebelah..hahahahaa,” ucap laki-laki itu mengejekku.
Saat itu aku sadar bahwa ternyata hanya cewek cantik, populer dan menarik yang akan selalu dipandang semua orang. Dan pada titik aku sudah bosan dihina dan diejek, akhirnya aku mulai berpikir untuk mengubah penampilanku.
Sejak aku mulai mengikuti saran mama untuk perawatan, usaha aku ternyata berhasil. Banyak orang yang menyadari perubahan fisik yang aku alami. Bahkan seorang laki-laki yang berbeda usia 10 tahun pun mendekati ku dan kami mulai berpacaran. Saat itu aku merasa sangat berbunga-bunga, kisahku seperti cerita dongeng yang penuh dengan hal menyenangkan dan imajinasi indah.
Sayang, aku harus menyaksikan bahwa laki-laki yang sudah aku sayangi itu ternyata berselingkuh. Hubungan yang pertama kali aku jalani bersama seorang pria harus berakhir karena aku merasa dipermainkan. Aku patah hati dan merasa hidup tidak berarti. Aku merasa perjuanganku untuk berubah tidak ada artinya. Sampai-sampai aku berpikir pendek dengan mencoba bunuh diri, menelan sejumlah obat saat itu.
Usaha bunuh diri itu pun gagal. Aku justru masih diberi kehidupan. Dan tersadar bahwa aku harus move on. Karena aku berpikir hidup ku hanya akan sia-sia kalau hanya harus memilih mati demi laki-laki yang belum tentu memikirkanku. Dari situ aku berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Tentu saja dengan semakin memperbaiki penampilan dan memperluas pergaulan.
Dengan hasil make over yang aku lakukan, aku mulai dipandang menarik oleh orang-orang. Dari cara pakaian, berbicara dan pendidikan pun aku merasa lebih baik. Apalagi hal itu membuatku mendapatkan relasi, teman dan pergaulan yang lebih luas.  Dari situ aku mulai tahu kunci untuk menjadi orang yang dianggap adalah dengan tetap menjadi cewe modern dan modis.
Tak hanya tampil modis dan menarik, aku pun mulai mencoba hal-hal yang belum pernah aku lakukan seperti menikmati duniaclubbing dan minum-minuman keras. Sejak itu, hidup ku berubah drastis. Aku menjadi primadona di sekolah.
Namun hal itu membuatku menjadi sombong dan merasa bahwa aku bisa melakukan segala-galanya. Aku sudah merasa cantik, pintar dan populer. Dari situ aku merasa bahwa tidak cukup hanya sekolah di Indonesia. Aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Malaysia.
Aku pun ibarat seperti kuda yang lepas dari kandangnya, karena bebas dari pengawasan orang tua. Meskipun pergaulan ku semakin luas, tetapi kelakuanku semakin liar. Di sana aku pun dipertemukan dengan satu pria yang aku pikir akan menjadi pasangan hidup ku. Sayangnya, setelah melakukan banyak hal dan berkorban banyak hal, hubungan itu pun akhirnya putus. Impianku untuk menikah dan punya banyak anak musnah seketika. Lagi-lagi, aku dipermainkan dengan perselingkuhan nya dengan wanita lain.
Untuk sesaat waktu, aku merasakan patah hati yang begitu mendalam. Aku merasa bahwa apa yang aku lakukan selama ini tidak berarti apa-apa. Tetapi berkat sahabat-sahabat dekatku, aku didorong untuk bangkit dan memulai hal yang baru.  
Hingga peristiwa kecelakaan itu membuatku kecewa dan marah. Kecelakaan itu terjadi ketika dua teman ku berusaha menghiburku ketika aku masih mengalami masa-masa berat pasca putus. Mereka mengajakku untuk menghadiri undangan makan siang. Namun entah kenapa, mobil yang kami tumpangi tiba-tiba melaju ke bagian kiri jalan, jalur yang berlawanan arah. Hingga akhirnya, mobil bertabrakan dengan mobil lain. Tanpa pikir panjang, aku buru-buru keluar dan mengambil apa yang bisa aku ambil. Tak lama setelah itu, mobil tiba-tiba terbakar.
Untungnya, aku tidak mengalami patah tulang atau kondisi yang parah. Tetapi saat dokter memeriksa bagian kepala, didapati sebuah tumor otak bersarang di kepala ku. Saat itu aku kembali semakin terpuruk. Aku merasa kecewa bercampur marah karena masalah tampak tak pernah berhenti menerpa kehidupanku.
Aku sudah cacat sejak lahir, suka diejek, lalu disakiti oleh pria yang aku cintai, kecelakaan, lalu kemudian aku terserang tumor otak. Masalah yang silih berganti membuatku berpikir bahwa kisah hidup yang Tuhan tuliskan untukku memang tidak bagus. Saat itu aku lebih memilih kematian.
Tetapi sesuatu terjadi, saat operasi berlangsung aku mendengar suara yang lembut sekali dan yang aku yakini dari Tuhan. Dia berkata, “Kenapa kamu menyakiti Aku?” Saat aku mendengar perkataan itu, rasanya hati ditusuk begitu dalam dan sangat sakit. Aku sempat merasa, “Kog Engkau (Tuhan) kenapa meninggalkan aku? Kenapa Tuhan kasih cobaan begitu banyak? Kenapa Tuhan memberikan cerita hidup saya seperti ini?”
Lalu suara lembut itu kembali terdengar, “Belum saatnya kamu berada di sisi kananku. Masih ada waktumu untuk memuliakan nama Ku”. Hal itu menyadarkanku tentang sosok Tuhan Yesus. Tuhan Yesus itu rela bahkan mati untuk kita semua. Saat operasi itu aku menyadari bahwa Tuhan sudah melakukan banyak hal dalam hidupku. Padahal aku bukanlah siapa-siapa yang bahkan sudah melakukan banyak kesalahan.
Kesembuhan yang aku lewati menyadarkan ku bahwa pengampunan itu masih ada. Tuhan masih mengasihiku dan sejak saat itu aku mulai mengalami pertobatan. Hidupku pun mulai aku persembahkan untuk Tuhan, termasuk mempersembahkan suaraku untuk memuliakan-Nya.
Sumber : Stephanie Sanjaya
www.jawaban.com

Selasa, 08 November 2016

KESAKSIAN : TIGA KALI ANNE BERTEMU TUHAN


Mengenang Anne Satya Adhika

Saat ini Anne Satya Adhika (12) mungkin sudah bisa melihat wajah Tuhan. Ia sudah memperoleh apa yang pernah dijanjikan oleh Tuhan Yesus yang datang dua kali dalam mimpinya. Dalam mimpi itu Tuhan Yesus berkata akan mengambil dua benda dari tubuhnya, namun Ia akan mengganti dengan sesuatu yang paling baik buat Anne. Yang paling baik bagi puteri pasangan Antonius Yosef Sri Kahono (43) dan Yohana Fransisca Emy Kusindriati (38) tiada lain adalah surga! Karena Anne dipanggil Tuhan pada 26 September 2007, setelah melewati pergulatan panjang dari operasi tumor 3 April 2007 berikut rangkaian enam kali kemoterapi.


Anne Satya Adhika, terlahir 7 Juni 1995 dengan badan sehat dan gemuk. Anne yang penurut dan lugu, menurut ayahandanya adalah anak yang pendiam, namun anehnya Anne
punya banyak teman. Walaupun terkesan pendiam, Anne pandai merangkai doa bahkan memimpin doa dengan rangkaian kata-kata yang dibuatnya sendiri. Kecintaan Anne untuk berdoa juga terbukti dengan rajinnya Anne ikut ibadat, doa rosario atau pun misa baik di paroki, maupun di rumah. Di kamar Anne yang bernuansa pink, tertempel doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris, menunjukkan kecintaan Anne pada Tuhan dan keinginannya untuk
belajar bahasa Inggris.

Tingginya semangat belajar Anne dan keinginannya untuk mengetahui sudah terbukti dari prestasi belajar yang ia dapatkan dari sekolahnya di SD Kanisius Demangan Baru. Beberapa kali Anne mendapatkan ranking di sekolahnya, terutama ketika Anne belajar di kelas 1 sampai dengan 3. Di kelas 6, seperti anak-anak lain yang juga ingin mempersiapkan ujian, maka Anne mengikuti les-les supaya memperoleh nilai bagus dalam ujian dan bisa melanjutkan ke sekolah favorit. "Menjelang ujian, tanpa ada gejala sakit sebelumnya tubuh Anne tampak mengurus namun perutnya agak besar. Setelah dicek di RS Panti Rapih ternyata ada tumor di bagian perut," terang Bapak Kahono. Kemudian waktu itu dokter menganjurkan supaya segera dilakukan operasi. Vonis tersebut membuat pak Kahono dan istri merasa panik dan stress. Disaat-saat suasana hati yang tidak enak, orangtua Anne mohon bantuan doa kepada sanak saudara dan tettangga, maka malamnya dirumah pak Kahono diadakan doa lintas agama untuk kekuatan dan kesembuhan Anne, pukul 18.00 doa dari beberapa warga yang beragama Islam, dan pukul 19.00 dilanjutkan doa dari warga yang beragama Katolik. 

Ada keinginan untuk mengikuti pengobatan alternatif. Namun, menurut dokter hal ini hanya akan memperparah kondisi pasien.  Itu sebabnya tanpa memikirkan masalah biaya, mereka menyetujui operasi pengangkatan tumor Anne. "Kami hanya ingin Anne sembuh. Namun, ternyata Tuhan mempunyai rencana lain untuk Anne dan kami sekeluarga." jelas Ibu Emy tabah. Ibunda Anne dan Gisela Sotya Gracia Diwyacita (3,5) ini ternyata masih harus berjuang untuk membujuk putri sulungnya agar mau dioperasi.

Namun, ternyata hanya Tuhan Yesus sendiri yang bisa membujuk Anne. "Malam sebelum dioperasi Anne bermimpi bertemu Tuhan. Katanya, dia melihat Tuhan Yesus menungguinya di ruang operasi dan memegangi tangan kanannya. Jadi, setelah mimpi itu dia pasrah saja
dioperasi." ujar Ibu Emy. Mimpi itu adalah kali pertama Anne bertemu Tuhan Yesus. 

Sebelumnya, Anne belum pernah menceritakan perjumpaan dengan Tuhan. Namun, Anne sangat suka berdoa. Ia gemar berdoa rosario dan memimpin doa spontan. Bahkan setelah ia meninggal orang tuanya menemukan diari doa Anne yang dibuatnya sejak ia duduk di kelas 3 SD. "Kami tidak tahu kalau Anne menulis berbagai doa mulai doa di hari ibu, hari
pahlawan, sampai hari kelahiran Gisela. Dan baru menjelang saat-saat terakhirnya ia menulis doa untuk dirinya sendiri," tutur Bapak Kahono. Dalam doanya yang terakhir, Anne juga sempat memohon berkat agar kedua orang tuanya sehat dan mempunyai cukup rejeki untuk membiayai pengobatan di rumah sakit.

Padahal saat itu tidak seorang pun yang memberitahu bahwa kedua orang tuanya kesulitan menutup biaya yang tidak sedikit. Dan untunglah sebagian biaya dibantu oleh perusahaan tempat Pak Kahono bekerja. Bantuan juga datang dari sanak saudara, juga dari teman-teman di milis yang bersimpati dengan Pak Kahono. Namun bantuan itupun belum bisa menutup seluruh biaya pengobatan yang luar biasa mahalnya.

Maka atas kebaikan perusahaan tempat Pak Kahono bekerja meminjami uang untuk menutup biaya tersebut, sedangkan untuk pengembalia nya Pak Kahono harus rela dipotong gajinya setiap bulan, yang jumlahnya cukup besar. "Saya tidak tahu berapa tahun potongan gaji itu akan selesai." kata Pak Kahono. Maka untuk menutup kebutuhan setiap bulannya yang selalu minus pak kahono harus berjuang mencari kerja dimalam hari diluar perusahaannya. 

Perjumpaan Anne dengan Tuhan Yesus dalam mimpi ternyata membawa mukjijat bagi kondisi fisik dan mentalnya. Secara mengejutkan, rekam jantung dan berbagai pemeriksaan sebelum operasi memungkinkan bagi terlaksananya operasi. Padahal dua hari sebelumnya, rekam jantung Anne sangat jelek.

Begitu senangnya Anne berjumpa Tuhan sampai dia bisa menghibur sang ibu. "Sebelum masuk kamar operasi, Anne sempat bilang pada saya: Ibu, wajahnya jangan begitu. Senyum to....da...da. ..." kenang Ibu Emy.

Operasi yang menyita waktu 3 jam 45 menit itupun seperti mukjizat, karena sebelumnya dokter sempat memberitahukan bahwa setelah operasi Anne pasti membutuhkan perawatan di ICU, namun hal ini tidak terjadi. Tuhan seakan menjawab doa Anne dan keinginan Anne.

Sebelum operasi Anne sempat bilang kepada Ibunya, "Ibu setelah operasi saya maunya kembali ke kamar ini." Dan memang benar, setelah operasi, Anne tidak memerlukan perawatan di ICU. Anne dikembalikan ke kamar perawatan semula dan dia kelihatan tegar, tidak merasa sakit.

Pasca operasi dengan semangat hidup yang luar biasa, Anne ngotot ikut ujian kelulusan sekolah dasar. "Waktu itu Anne tidak pernah belajar karena sakit dan masuk rumah sakit. Tapi, syukurlah Anne bisa lulus ujian kelulusan sekolah dasar dan diterima di SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta," kata Bapak Kahono. Anne pun tetap rajin menyalin pelajaran guna mengejar ketertinggalannya selama dia harus mengikuti kemoterapi.

Saat-saat mendampingi kemoterapi Anne, Bapak Kahono dan Ibu Emy merasakan beban yang sangat berat. "Setiap bulan, kurang lebih 4 sampai 5 hari kami harus mendampingi Anne yang pasti merasakan sakit, pusing berat, mual, muntah, dan menggigil sampai tempat tidurnya bergoyang hebat.

Setelah itu, di rumah kadang-kadang Anne susah minum obat." Kata kedua orangtua Anne. Disaat-saat Anne menggigil karena efek dari kemoterapi ia selalu bilang pada ibunya, "Bu...dingin banget, doakan Anne ya bu...." Kenang ibu Emy sambil menangis. "ia anak yang tabah, semangat dan selalu ingat pada Tuhan, saya bisa merasakannya betapa sakitnya orang menjalani kemoterapi, tetapi saya harus tabah dan kuat selama mendampingi anak saya".

Di tengah beratnya pendampingan itu, keduanya tidak putus asa. Meski doa mereka agar sang anak tidak kesakitan paska kemoterapi tidak dikabulkan Tuhan, mereka terus berdoa agar Anne disembuhkan. Dengan kepercayaan penuh mereka membimbing Anne agar terus berpasrah dan berdoa. Bahkan Pak Kahono juga rajin berpuasa agar Anne segera sembuh dan Pak Kahono bisa sabar melayani Anne.

Dari kemoterapi pertama sampai keempat, kondisi fisik Anne sangat bagus. Meski harus kesakitan setelah kemoterapi, ia bisa kembali beraktifitas dengan ceria. Bahkan setelah menjalani kemoterapi ia antusias untuk masuk sekolah, ia dengan semangat dan senang hati selalu ingin bersekolah berjumpa dan belajar bersama-sama dengan teman-temannya. 

Kali ini tantangan besar menanti keluarga Kahono karena kerontokan rambut Anne tidak bisa dicegah. Anne pun mengalami stres berat. Berbagai cara dilakukan oleh keluarganya agar rasa percaya diri Anne kembali. Mulai dari membeli wig sampai jalan-jalan untuk sekadar makan atau membeli pensil pun dilakoni keluarga ini agar Anne bisa merasa senang. "Syukur kepada Allah karena dengan cepat Anne bisa menerima kenyataan ini, dia sempat stress selama 4 hari, selalu marah karena hampir setiap hari rambutnya lepas satu per satu. 

Kami hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar kami diberi kesabaran dan ketabahan, maka disaat-saat selesai doa malam atau disaat-saat kami makan bersama diluar secara pelan-pelan kami mencoba menjelaskan kepada Anne mengenai kerontokan rambutnya" kata pak Kahono. "Dan syukur kepada Allah sekali lagi Anne akhirnya mau mendengarkan dan mau menerima kenyataan ini".

Setelah kemoterapi ketiga, Anne bermimpi ketemu Tuhan Yesus lagi. Pada sang ibu, Anne bercerita," Ibu, Tuhan datang lagi. Tuhan bilang Dia telah ambil salah satu organ tubuhku sebanyak dua buah.  Tuhan bilang agar aku tidak khawatir, suatu saat akan diganti yang lebih baik, tetapi tidak dalam waktu dekat. Kemudian Tuhan bilang dengan bahasa lain yang tidak pernah aku mengerti. Tapi aku paham dengan apa maksud perkataan Tuhan padaku. Bu kira-kira apa ya organ yang diambil itu?"

Lewat pertemuan kedua ini, akhirnya Tuhan Yesus sendiri yang menunjukkan pada Anne apa yang terjadi dalam operasi itu. Mengingat tumor seberat 3,2 kg itu menempel pada kedua indung telurnya, dokter memutuskan untuk mengangkat indung telur Anne sekaligus.  Pengangkatan kedua indung telur ini tidak disampaikan oleh keluarga pada Anne agar dia tidak stress. Rencananya baru akan disampaikan setelah dia dewasa karena dia tidak akan bisa punya anak. Namun, justru Tuhan sendiri yang memberitahukannya langsung pada Anne.

Perjumpaan Anne yang kedua dengan Tuhan Yesus ini juga menimbulkan perubahan drastis pada dirinya. Menurut cerita keluarga dan para tetangga, setelah kemoterapi ketiga Anne tidak seperti dirinya lagi. Pada seorang anggota keluarganya dia berkata, "Mbak, Anne minta maaf ya kalau ada salah."

Sementara itu, pada kedua orang tuanya ia sering minta supaya para kerabat diundang makan-makan. Dengan undangan ini dia seakan berpamitan. Ketika itu Anne juga ingin sekali bertemu dengan emak Inge dan oma Maria, mereka berdua adalah sahabat orangtua Anne yang begitu baik memperhatikan Anne. Namun sayang keinginan itu tidak bisa terlaksana, Anne sangat senang sekali dengan pemberian boneka dari emak Inge dan emak Nancy juga rosario dari oma Maria, maka Anne sering memeluk boneka dan memakai rosario disaat-saat Anne opname di rumah sakit. Dia juga berkesan dengan para suster yang selalu menjenguknya, suster Gratia, suster Theresia. Juga romo Agus dan ibu guru Erna yang selalu setia menemani dan mendampingi Anne sejak operasi bulan April.

Menjelang kemoterapi ke-6 Anne sebenarnya sudah menolak, bahkan sempat kirim sms kepada ibunya "Bu..aku tidak mau dikemo lagi, aku tahu bapak ibu ingin menyembuhkanku, tapi aku sudah tidak kuat lagi.." begitu isi dari sms yang ia kirimkan kepada ibunya.  Bahkan Anne sempat kirim sms juga kepada ibu gurunya "bu tolong aku, aku tidak mau dikemo lagi, kalau ibu gak mau menolong aku maka kita tidak akan berjumpa lagi". 

Dan bagi Kahono hal itu pun sangat dilematis. Menurut dokter kemoterapi harus dijalani, "Pak ini kemo terakhir, sayang kalau tidak dijalani, biar tuntas" begitu kata dokter. Bahkan ketika ibu Anne menanyakan soal kemoterapi yang ke-6 kepada dokter, maka dokter hanya menjawab "memang begitu skedulenya bu, harus dijalani". Padahal kondisi Anne saat itu sangat stress dan bahkan hasil lab sangat tidak baik, lekosit dan trombosit turun drastis.

Namun Anne seakan ingin memakai waktu-waktu terakhirnya untuk menyenangkan semua orang. Ia tidak mau orang tuanya sedih, "Bapak jangan gitu, Bapak jangan sedih ya," ucapnya setiap kali sang ayah nyaris menitikkan air mata. Anne juga sempat membelikan kado ulang tahun bagi temannya di sela kesakitan paska kemoterapi keempat.

Menjelang kemoterapi terakhir, ia sempat momong Gisela bermain di sebuah mall di Yogyakarta. Waktu itu Anne punya keinginan yang tidak bisa ditolak, ia ingin mengajak adiknya untuk bermain disebuah mall. Ia juga berjuang menyiapkan sepucuk doa "Malaikat Tuhan" yang ditulis rapi untuk kedua orang tuanya. Doa itu belum sempat diajarkan pada orang tuanya karena Tuhan sudah menemuinya untuk yang ketiga kali.

Hari Selasa sore 25 september pukul 14.20 WIB, Tuhan Yesus menjumpai Anne yang sedang mengalami masa kritis. Saat itu Anne selalu meminta bapak dan ibunya untuk memeluknya. Tiba-tiba Anne minta duduk, lalu memandang ke arah sudut ruangan. Seperti ketakutan ia menunjuk ke sudut ruangan dan berkata dengan nada yang terpatah-patah, "Ibuuu... ka..ta Tuu..han Yesusss, o..rang yang ma...mau me...ning..gal itu su..su..lit bernafas.... .bapaaaak. ....ibuuu, aku ta..kutt.." Anne lalu meminta agar kedua tangannya dipegang dengan erat oleh kedua orangtuanya. Ketika itu Anne juga menanyakan saudara-saudaranya kepada ibunya, "Bu...mana budhe dan pak dhe, mana mbak vita, mbak Nuke....kok sepi to" Kenang ibu Emy. Bahkan ketika itu Anne juga menanyakan adiknya dan keponakannya, katanya "...mana Marsa, mana Gisela...Gisela mbak Anne mau meninggal... " kenang pak kahono sambil menitikkan air mata. 

Kata-kata Anne seperti itu membuat perasaan orangtua Anne menjadi tidak karuan. Maka pak Kahono segera menelepon seluruh sanak saudara untuk datang ke rumah sakit, dan juga menelepon Romo Agus. Sore itu juga pada pukul 18.00, Anne menerima sakramen minyak suci. Ketika upacara pemberkatan minyak suci berlangsung Anne bisa mengikutinya dengan khidmat, dan setelah selesai kepada Romo ia masih berucap, "Terima kasih Romo. Doakan saya ya Romo." Lalu setelah itu dilanjutkan dengan doa roasio
oleh warga lingkungan dan Anne pun juga bisa mengikuti dengan tenang.

Mulai jam 21.00 - 03.30 Anne tidak bisa tidur, sesekali minta minum karena haus sekali, tetapi ketika diberi minum selalu dikeluarkan lagi. Orangtua anne sehari tidak tidur menunggui Anne.

Keesokan paginya, hari Rabu, dokter yang memeriksa Anne bilang
bahwa Anne membutuhkan cuci darah
karena kondisinya semakin menurun. Namun kata dokter melihat kondisi seperti ini cuci darah tidak berani. Pukul 9 pagi, Anne mengalami masa kritis lagi. Meski ketakutan akan berpisah dengan orang-orang terkasih dan terutama adik yang dinantinya tujuh tahun lamanya Anne manut saja mengikuti bimbingan doa dari sang ayah. 

Pada saat itu, pak Kahono membimbing Anne untuk berdoa Bapa Kami yang diikuti Anne dengan pelan-pelan. Anne minta air karena merasa haus sekali. Tapi Anne sudah tidak bisa
menelan lagi. Anne hanya minta dipeluk kedua orangtuanya sambil sesekali memanggil orangtuanya dengan nada pelan "bapaaaak... ....ibuuuuu. ....." tangan Anne begitu kuat memegang tangan kedua orangtuanya, tangan kanan memegang tangan ibunya, sedang tangan kiri minta dipegang bapaknya. 

Pada saat itu, Papa Anne membimbing Anne untuk berdoa. Sekali lagi pak Kahono membimbing Anne untuk berdoa dan Anne pun bisa mngikuti doa walaupun dengan suara yang pelan dan terpatah-patah. "Ya Tu...han, Ampuni hamba-Mu Anne. Pe....ganglah tangan Anne ke dalam pangkuan-Mu. .. tuntunlah hamba-Mu kedalam surga" Dan pada waktu itu, kedua orangtuanya sempat minta maaf juga. "Anne, bapak ibu minta maaf ya, bapak dan ibu banyak dosa dan salah pada Anne." Anne pun menjawab, "Aku ituuu sudah me..maaf..kan. " Saat itu juga Anne sempat minta maaf kepada bapak dan ibunya. "Anne juga ya bu minta maaf.." Kahono sambil menangis menjawab, "Anne gak punya salah. Bapak dan ibu sudah memaafkan".

Setelah itu Anne memanggil Bapak Ibu-nya sekali lagi dan memegang dengan kuat tangan orangtua itu. Bapak Kahono pun berdoa untuk yang terakhir pada Tuhan, "Tuhan yang Maha Kasih, Tuhan yang Maha Agung, seandainya Anne harus Kau panggil, maka tuntunlah dan peganglah Anne ke dalam pangkuan-Mu di surga. Tapi apabila Engkau menghendaki mukjizat, kami siap untuk membimbingnya kembali." Sekali lagi Anne berkata "Ba..paaak.. ibuuuu" Perlahan pegangan Anne terasa semakin mengendur dan akhirnya Anne pergi memenuhi panggilan Tuhannya. Saat itu kedua orangtua Anne terasa lemas sekali, mau bicarapun tidak bisa, hanya cucuran airmata yang ada. 

Para suster berusaha untuk memompa paru-paru Anne tetapi nampaknya sia-sia karena Anne memang sudah tiada......orangtua anne menangis habis-habisan sambil berdoa memohon ampun kepada Sang Maha Suci...

"Rasa menyesal, rasa kecewa, dan marah pada dokter berbaur menjadi satu saat itu." ujar pak Kahono. Ketika para sahabat pada datang dan bertanya "Anne sakit apa, kok meninggal, kemarin khan masih sehat" . Dengan nada kesal pak Kahono pun menjawab "Anne meninggal karena di kemoterapi". Rasa kesal dan kecewa masih terlihat diwajah pak Kahono saat itu, untunglah banyak sahabat, saudara dan juga romo mencoba menenangkan hati pak Kahono.

"Selamat jalan anakku, selamat jalan Anne.....banyak kenangan indah bersamamu yang tidak akan aku lupakan selamanya, engkau begitu baik, bersemangat dan bahkan mau maaf memaafkan menjelang engkau pergi. Sekali lagi maafkan segala kesalahan bapak ibu
nak....damai dan bahagia di Surga Amin" begitu kata pak Kahono.

Begitulah Anne Satya Adhika menyelesaikan peziarahannya di bumi dalam doa.


Kisah dan percakapan tersebut diatas adalah kisah nyata yang sebenarnya, tanpa mengurangi dan menambahi sedikitpun. Pak Kahono bercerita apa adanya, ia memang ingin berbagi pengalaman iman kepada kita semua. "Saya ingin sharing pengalaman pribadi dan iman kepada semua sahabat tanpa kecuali, bahwa mendampingi seseorang yang sedang sakit terlebih orang yang mau meninggal dunia itu sangat-sangat penting" kata pak Kahono.


"Sekali lagi, mudah-mudahan sharing ini berguna..." lanjutnya. 

Catatan:
Kisah ini ditulis dari hasil wawancara orangtua Anne dengan seorang teman wartawan pada tanggak 29 September 2007 (tiga hari setelah Anne tiada) dan dilanjutkan pada awal bulan Nopember setelah 40 hari peringatan Anne. Artikel ini telah dimuat di dua media,
yaitu majalah Utusan terbit bulan Desember 2007, media Pondok Renungan, dan Sabda serta salah satu media di jakarta yang terbit Januari 2008.


copas : kasih-yesus-dihidupku.blogspot.co.id

Jumat, 04 November 2016

KISAH KESAKSIAN SI SUPIR TAKSI SAAT AKU PULANG KE RUMAH

Td perjlnan pulang kermh aku naik taksi plg kermh si supir yg kira2 berumur 50thn berkata "mbak aku mau cerita ya jgn di potong"..lalu aku jawab 'mo cerita apa pak sambil aku tersenyum'..mbak kenal TUHAN YESUS? sy bkn org nasrani sy org dr agama seberangan tp knp DIA sembuhkan istri sy yg sdh koma tak ada harapan akibat kanker stadium 3 stlh kemo paru n jantungnya tdk berfungsi baik seluruh bdn istriku bengkak, lalu si supir bercerita lg hari kedua pagi hari saat menunggu sang istri yg masih koma di ruang icu tiba2 dia di datangi hamba Tuhan meminta ijin mendoakan si istri setelah di doakan lalu si supir jg di doakan setelah si supir di doakan dia merasakan damai tanpa beban. 

Hilang smua kekuatirannya baik dr segi biaya bahkan si supir itu berkata pak pendeta aku pasrah Kehendak Tuhan istriku sembuh atau di panggil Tuhan aku pasrah.. 

Setelah hamba Tuhan itu pergi si supir mendoakan istrinya Doa Bapa Kami yg di catat di kertas oleh hamba Tuhan td.

Bahkan setiap jam dia mendoakan istrinya dengan penuh cinta kasih dgn berikan minyak urapan, ajaibnya pada paginya istrinya bangun sadar istrinya berkata aku sudah membaik, badan istrinyapun tidak bengkak lagi lalu si supir panik lari menuju ruang suster dan berkata..suster..susterrrr istriku sudah sadar lalu dokter dan beberapa suster memeriksa kondisi si istri yg pagi itu sudah tersadar jg bahkan paru n jantungnya normal..

Dokter dan suster pun heran,lalu si supir berkata kepada dokter dan suster ini keajaiban mujizat.

TUHAN YESUS benar ada terimakasih Tuhan Yesus sungguh baik DIA sembuhkan istriku...

Hari keempat si istri di ijinkan pulang ke rmh..dan mulai saat itu si supir setiap narik taksi slalu berbicara dgn penumpang betapa baiknya Tuhan Yesus..bukan hanya kesembuhan istrinya tp seluruh biaya rumah sakit Tuhan tutup Tuhan sediakan.  

Kini sdh 2 minggu kejadian itu berlalu..setiap hari minggu si supir tidak pernah narik bahkan mereka mulai ke gereja.."

Aku tersenyum dan berkata sebentar pak saya masuk rumah dl lalu kuambilkan 1 cd baru yg br saja kubeli mase ada segelnya dr ir niko lalu kuberikan kepada si supir ini cd pujian buat bapak dengarkan dirmh ya dgn istri bapak lalu.

Dia berkata terimakasih banyak mbak lalu aku berkata kepada si supir Tetaplah Berdoa Mengucap Syukur Tuhan Yesus teramat baik..

Lalu si supir itu menjawab pasti mbak terimakasih banyak mbak Tuhan Berkati..aku jawab Tuhan Berkati bapak N istri.. 

Oh Tuhan Yesus KAU dahsyattttttt datang kpd org yg tidak kenal ENGKAU tapi KAU menunyembuhkan n Memulihkan Menyediakan smua biaya mrk..aku sungguh bangga punya ENGKAU di hidupku..sangat di berkati skali dengan kesaksian dr si supir taks.

GOD BLESS they family

Blessing Family Centre Surabaya
Copas : mujizatitunyata2.blospot.co.id