Minggu, 31 Desember 2017

PENYEMBUHAN GINJAL BOCOR


Ana adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kehidupannya ia jalani dengan sederhana bersama suami dan seorang putrinya di sebuah gang daerah Palmerah Jakarta. Suatu saat Ana merasa sakit di pinggangnya dan hanya bisa tergelatak di tempa tidur. Sekitar pertengahan bulan Oktober 1999 tejadi pembengkakan di kaki dan tangan. Saya lihat badan saya semakin bengkak dan lemas. Saya tidak bisa bangun dan makan dengan baik karena seluruh tubuh lemas. Untuk ke WC saja saya harus dibopong oleh suami.

Saya tidak segera berobat dan tetap bertahan dirumah karena tidak ada biaya. Suatu saat teman-temannya mendengar bahwa ia sakit dan mereka segera datang kerumahnya. Mereka kaget saat melihat keadaanya “kok sampai separah ini ? kami kira biasa-biasa saja” Atas bantuan biaya dari teman-temannya, Ana dibawa berobat ke sebuah rumah sakit. Selama beberapa hari Ana terbaring di rumah sakit dan menjalani permeriksaan dokter. Waktu di rumah sakit dokter bertanya kepadanya apa saja yang menjadi keluhannya. Dokter segera pastikan bahwa dari keluhan yang saya ungkapkan “Kalau saya buang air kecil warnanya kuning dan berbusa”, bahwa saya sakit ginjal bocor. Keesokan harinya Ana langsung periksa ke laboratorium dan ternyata hasil labnya saya sakit ginjal bocor. Dokter kemudian memberikan Ana obat. Keesokan harinya dokter sudah memperbolehkan ia pulang.

Namun satu hari setelah sampai di rumah, keadaannya semakin memburuk. Seluruh tubuh Ana mulai bengkak dan menjalar samapai ke kaki. Lalu mereka membawa Ana kembali ke dokter. Dokter spesialis ginjal kaget melihat keadaannya dan mengatakan “Ini diluar dugaan saya, saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya akan buatkan surat pengantar dan ibu bisa mencari rumah sakit lain” Namun karena tidak ada biaya, Ana tidak pergi ke rumah sakit seperti dianjurkan oleh dokter. Hari-hari selanjutnya ia lewati dengan terbaring di tempat tidur. Kondisi tubuhnya semakin buruk, badanya semakin sakit dan bengkak-bengkak si sekujur tubuh.

“Saya tahu saya mempunyai tabib yang ajaib yang sanggup menyembuhkan saya” Malam itu Ana berdoa dengan suaminya. Pada saat mereka menaikkan pujian penyembahan, Ana hanya ingat lagu : ajarku mengerti….ajarku berharap…ajarku berserah hanya padaMu. “Bapa sekarang imanku hanya berserah kepada kekuatanMu. Sekarang saya tidak mempunyai apa-apa, saya tidak sanggup tetapi saya percaya Bapaku sanggup menyembuhkan saya” Pada saat mengucapkan hal itu Ana melihat sebuah penglihatan. “Saya melihat Tuhan Yesus menumpangkan tangan di kepala saya dan saya lihat dari dari tangan itu keluar darah. Darah yang membasahi rambut saya. Saya ambil darah itu dan saya usapkan ke seluruh tubuh saya. Terima kasih Tuhan, darahMu tercurah penuh bagi saya. DarahMu menebus saya. Dan saya percaya di dalam nama Tuhan Yesus, saat ini saya sudah disembuhkan oleh Engkau. Saya sudah terima mujizat kesembuhan”

Saat itu suaminya heran dengan apa yang dilakukan oleh isterinya dan hanya bertanya-tanya di dalam hatinya. “Tepat pukul 06.00 urat di tangan saya mulai kelihatan, saya lihat kerutan di mata saya sudah kelihatan. Saya langsung teriak Puji Tuhan – puji Tuhan pak, puji Tuhan, mujizat Allah terjadi. Saya gandeng dan peluk suami saya dan kami mengucap syukur bersama” Suatu perjalanan yang indah yang takkan terlupakkan. Ana bersyukur memiliki Tuhan Yesus yang selalu membawa kebahagiaan di dalam kehidupannya.

Sumber Kesaksian:

Rabu, 27 Desember 2017

HARAPAN YANG PASTI


Vika Patricia seorang anak kecil ketika berusia tiga tahun menderita sakit aplastik anemia yaitu suatu penyakit dimana sumsum tulang tidak mampu memproduksi elemen-elemen darah. Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit anemia. Gejala penyakit ini ditandai dengan wajah yang pucat, badan yang lemah, lekosit kurang dan suhu badan naik turun. Gejala ini dirasakan Vika pada pagi hari dan saat itu juga Vika dihentar oleh ayahnya ke dokter untuk memeriksakan diri. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Vika mengidap penyakit “aplastik anemia”.

Pemeriksaan terus dilakukan dan ternyata dokter juga menemukan ada kejanggalan penyakit lain. Menurut dokter, penyakit ini sulit disembuhkan.Vika harus diopname di rumah sakit. Dokter juga menganjurkan agar Vika berobat di Belanda, sebab pengobatan di Belanda lebih canggih. Orang tua Vika sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Orang tua Vika mengikuti anjuran dokter. Vika berobat ke Belanda namun dokter tidak dapat menyembuhkannya. Pengobatan juga dilakukan di salah satu rumah sakit di Singapura, namun tidak memberikan kesembuhan.

Akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Mereka banyak mendapat dukungan doa dari teman-teman. Hari demi hari mereka lewati namun kondisi kesehatan Vika tidak menunjukan hasil yang menggembirkan. Orang Tua Vika pasrah menerima kenyataan yang ada. Pada saat itu, orang tua Vika belum sepenuhnya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Mereka benar-benar mengandalkan kuasa dokter untuk menyembuhkan penyakit Vika.

Sampai tiba pada suatu hari, orang tua Vika sangat bergumul dengan penyakit yang diderita Vika. Sampai kapan Vika harus menanggung beban penderitaan ini? Ibu Vika berkata kepada ayah Vika, sebaiknya kita tidak mengandalkan kuasa dokter tetapi kita menyerahkan sepenuhnya pada Yesus Kristus yang berkuasa dan empunya kehidupan kita. Ayah Vika merenungkan hal ini. Di dalam hatinya dia berkata bahwa benar juga dan memang seharusnya demikian. Tidak ada yang mampu melawan kuasa Tuhan. Akhirnya orang tua Vika bersepakat agar semua yang mereka alami pada saat ini, sepenuhnya diserahkan kedalam kuasa dan kasih Tuhan. Orang Tua Vika yakin bahwa pasti akan ada kesembuhan yang Tuhan anugerahkan pada diri Vika. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kepada mereka yang percaya dan menaruh pengharapan pada Tuhan. Sesulit apapun bagi manusia, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

Pada beberapa hari berikutnya, dokter menyatakan bahwa penyakit Vika berangsur pulih. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertambahnya sel darah merah (hemoglobin) yang semula 3,0 menjadi 13,0 dalam waktu satu minggu.Tuhan memang baik dan sangat mengasihi hidup kita. Orang tua Vika menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan dalam kehidupan, kita tidak dapat melakukan sesuatu.

Mulai saat itu, orang tua Vika menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Saat ini anak Vika berusia sebelas tahun dan bertumbuh menjadi anak yang sehat dan kreatif. Ia mengikuti berbagai macam les, seperti les vokal, les renang dan les beberapa mata pelajaran. Pengharapan itu telah diperoleh. Ini semua diyakini sebagai berkat kasih sayang Tuhan yang tidak berkesudahan bagi kehidupan umatNya.

Sumber Kesaksian:
Vika Patricia (jawaban.com)

Sabtu, 23 Desember 2017

USIA HIDUPKU TINGGAL SESAAT


Seandainya ada seorang anggota keluarga kita yang sakit keras dan berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mengatakan: “Kuatkanalah hati saudara, karena harapannya sangat tipis sekali.” Apa reaksi saudara ketika mendengar hal tersebut? Ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan yang pertama berontak dan tidak percaya, karena dibawa berobat tentu dengan harapan untuk sembuh. Kemungkinan yang kedua: pasrah pada apa yang akan terjadi, terjadilah asalkan penderitaan si sakit cepat berlalu. Lalu, kalau di antara kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, di tengah-tengah harapan tipis yang hampir menuju pada keputusasaan, ternyata saudara kita yang sakit itu sembuh. Bagaimana pula perasaan kita? Tentunya kita merasakan “sukacita yang tidak dapat digambarkan hanya dengan kata-kata saja.”

Perasaan-perasaan semacam ini dialami oleh Yakobus Karman, ketika berusia muda dan ia adalah seorang yang sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Ia bekerja pada sebuah pabrik farmasi dan memiliki posisi baik di kantornya sehingga secara finansial ia tidak mengalami kesulitan.Waktunya tidak hanya tersita pada pekerjaan tetapi juga tersita bersama teman-teman seperti berjudi dan melakukan hubungan seks. Di tengah kesibukannya, dia tidak merasa bahwa ada bahaya besar menghadang dia.Disinilah awal kehancurannya.Dia mulai merasakan ada sesuatu di lehernya yang kelihatan membengkak.Yakobus menjadi tidak tenang sebab sangat mengganggu pekerjaannya.Ia memeriksakan diri ke dokter dan dokter mengambil langkah pemeriksaan melalui CT scan. Dari hasil pemeriksaan dokter dengan menggunakan alat CT scan, ternyata Yakobus mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening yang berukuran 1,5cm x 1,5cm. Sumsum darah juga diambil sebab kelenjar getah bening ini akan menjalar ke darah.

Pada waktu pengambilan sumsum darah, Yakobus merasakan sakit sehingga dia harus berteriak-teriak karena menahan rasa sakit. Dokter juga menyatakan bahwa kemampuan Yakobus bertahan hidup diperkirakan enam bulan jika memang dia memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Salah seorang anggota keluarga berinisiatif mencari pertolongan lewat paranormal.Sementara paranormal mempersiapkan segala peralatan, Yakobus berbaring dengan tenang dan hanya berharap mudah-mudahan dia sembuh.Proses penyembuhan ini dijalani beberapa jam yang dipenuhi dengan pembacaan mantera.Setelah selesai, paranormal memberitahukan hasil pengobatan bahwa reaksi dari pengobatan ini adalah keluarnya darah yang berarti Yakobus sembuh dari penyakitnya. Beberapa saat kemudian, darah keluar dari tubuhnya dan mendadak Yakobus ketakutan, seperti mau mati rasanya.Harapannya untuk bertahan hidup sirna seketika.Sepertinya tidak ada harapan hidup bagi Yakobus. Keluarganya bingung melihat tingkah Yakobus yang ketakutan.

Pada saat depresi yang berat, Yakobus teringat pergi ke gereja.Kebetulan pada hari itu ada suatu acara kebaktian di gereja.Yakobus mendengar dengan seksama Firman Tuhan yang disampaikan oleh bapak Pendeta.Tema khotbah pada saat itu ialah “janganlah minta kekayaan, tetapi minta ampun pada Tuhan atas dosa yang telah diperbuat.” Hatinya tersentuh mendengar khotbah itu.Yakobus memberanikan diri maju ke depan mengaku dosa dan mohon ampun dari Tuhan atas segala dosa yang diperbuatnya selama ini.

Selama pengakuan dosa, ia merasa ada pertemuan yang indah bersama Tuhan.Pada saat yang bersamaan, ada sinar memancar yang menerangi dirinya sehingga dirinya terasa panas. Rasa sesak yang dirasakan sebelumnya mendadak hilang. Namun, ada suatu kelegaan yang mengalir dalam dirinya. Pada malam itu ia menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan takut seperti hari-hari sebelumnya.Yakobus mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak mau di operasi, sebab ia merasa sehat. Namun ibunya berkeras harus dioperasi. Malam itu adalam malam terakhir saat ia menunggu waktu operasi pada besok hari.

Keesokan harinya, sebelum operasi dimulai, dengan penuh keyakinan bahwa ia menerima kesembuhan dari Tuhan, Yakobus mengatakan pada dokter bahwa dirinya tidak lagi merasa sakit.Dokter tidak percaya yang dikatakan Yakobus sehingga pemeriksaan melalui CT scan dilakukan kembali.Hasil pemeriksaan menunjukan kelenjar getah bening telah hilang dan itu berarti penyakit kanker yang di deritanya sembuh. Dokter tetap tidak percaya melihat hasil pemeriksaan sehingga pemeriksaan dilakukan kembali pada beberapa bulan berikutnya.Hasilnya tetap sama, yaitu kelenjar getah bening hilang dari tubuhnya.Pembengkakan pada leher menjadi kempes.

Akhirnya dokter menyatakan bahwa Yakobus benar-benar sembuh dan operasi tidak jadi dilakukan.Yakobus dan keluarga sangat bersukacita menerima kesembuhan dari Tuhan yang menurut ilmu kedokteran, penyakit yang dideritanya sulit disembuhkan tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sebelas tahun yang silam ia melewati penderitaan ini. Sungguh besar kasih setia Tuhan pada umatNya yang selalu mengingat, meyakini dan menyerahkan diri, hati dan hidup kita pada penyertaan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Yakobus Karman (jawaban.com)

Selasa, 19 Desember 2017

AKU KEMBALI SEPERTI ANAK KECIL


Apa jadinya kalau seseorang yang telah menginjak dewasa kembali melakukan kegiatan anak kecil yaitu belajar berbicara, belajar berjalan, bahkan kemampuan fisiknya seperti seorang anak kecil. Ketika masih kecil dia dididik sangat keras oleh kakeknya sehingga mempengaruhi mental dan kepribadian dia menjadi seorang yang nakal dan pemberontak. Sampai dia besar perilakunya makin buruk sehingga menjadikan dia sebagai seorang pemakai narkoba, tukang berkelahi, ugal-ugalan, kebut-kebutan di jalan, dan pemain perempuan.

Peristiwa ini dialami oleh Haryanto Budi, yang mengalami kecelakaan bermotor sehingga mengakibatkan lumpuh pada kedua kaki dan tangan serta buta pada kedua matanya.Dia tidak menyangka kalau kecelakaan itu akan mengakibatkan fatal pada dirinya.Kejadian ini dialaminya pada suatu malam, ketika dia sedang mengendarai motor, tiba-tiba dari arah depan ada mobil dan Haryanto tidak dapat menguasai kecepatan motor yang dikendarai sehingga tabrakan itu tidak dapat dihindari. Haryanto terlempar, kepalanya membentur trotoar dan berlumuran darah.

Orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian mengatakan bahwa dirinya tak bernyawa lagi. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dan dokter segera mengambil tindakan. Dokter tidak dapat berbuat banyak sebab kecelakaan yang dialami Haryanto cukup berat. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Haryanto mengalami geger otak dan harapan hidupnya tinggal duapuluh persen. Seandainya hidup, dia akan mengalami geger otak yang hebat, separuh saraf-saraf dalam tubuhnya tidak berfungsi, penglihatan kabur, kedua kaki dan tangan lumpuh dan tidak dapat berbicara.

Sekarang Haryanto tak berdaya dan semangat hidupnya hilang seketika.Hari-hari kehidupannya dilalui dengan melakukan kegiatan dia pada waktu kecil yaitu belajar berbicara dan belajar berjalan sementara penglihatan dia semakin kabur. Pada saat dia sedang sendiri dan termenung, pikirannya kembali mengingat masa lalunya yang dipenuhi dengan kehidupan ugal-ugalan, kebut-kebutan, perkelahian, pemakai narkoba, dan mempermainkan perempuan. Kini dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini betapa menghancurkan kehidupan dan masa depannya. Dia berjanji akan meninggalkan semua kebiasaan buruknya di masa lalu. Haryanto tetap yakin bahwa masih ada harapan kehidupan dan kesembuhan yang diberikan Tuhan pada dirinya, dan oleh karena itu ia tidak putus asa untuk terus berlatih berbicara dan berjalan walaupun masih gagap dan terus terjatuh.

Pada suatu hari, di saat Haryanto duduk berdoa dan merenungkan kehidupannnya, tiba-tiba dia merasakan kekuatan baru dalam dirinya. Dia mencoba berdiri dan berjalan sambil mencoba berbicara. Memang benar, pada saat itu Haryanto dapat berjalan dan berbicara, penglihatannya juga semakin jelas. Betapa bahagianya Haryanto mengalami kesembuhan. Kebahagiaan dia tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Dia sangat yakin bahwa apa yang dialaminya adalah semata-mata pertolongan Tuhan. Entah dengan apa dia harus mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas segala kasihNya yang tak berkesudahan. Namun yang pasti bahwa dia menempatkan Tuhan yang terutama dalam segala kehidupan dan pergumulan hidup yang dialaminya.

Kini dia dapat melewati masa-masa sulit selama beberapa waktu lamanya dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang baru dengan segala rencana kehidupan dan masa depan yang lebih jelas dan terarah di dalam bimbingan dan penyertaan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Haryanto Budi (jawaban.com)

Jumat, 15 Desember 2017

WAKTUKU TERSITA DI LAPANGAN TENIS



Bermain tenis adalah hobi Jimmy Dumais, demikian nama lengkapnya atau yang biasa dipanggil Jimmy. Hampir setiap hari dia bermain tenis bahkan sampai melupakan dan menomorduakan keluarga. Dalam keluarga sering timbul pertengkaran karena Jimmy jarang berkumpul bersama keluarga di rumah. Ia lebih menyukai berkumpul bersama teman-teman di lapangan tenis.

Pada suatu hari yang cerah, tepatnya pada tanggal 18 Februari 2000, seperti biasanya Jimmy melakukan kegiatan rutin bersama teman-teman yaitu bermain tenis. Permainan pada hari itu sangat bersemangat seperti hari biasanya. Permainan terus berlangsung sampai tiba pada hitungan keempat. Sementara permainan berlangsung, tiba-tiba kakinya keseleo sehingga permainan tak dapat diteruskan.Teman-temanya mencoba menekuk kakinya namun kakinya tarasa sakit sekali.

Jimmy segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter segera memeriksanya, dan menurut hasil pemeriksaan dokter, ternyata arkhilesnya putus. Sebelum diadakan operasi, dokter terlebih dahulu memeriksa jantung juga diperiksa dan di ronsen untuk diadakan operasi. Dokter menyarankan agar Jimmy beristrahat total di rumah sakit selama seminggu. Dalam kesakitan, dia masih sempat menanyakan pada dokter apakah ada kemungkinan bermain tenis lagi. Dokter mengatakan masih dapat melakukan olah raga tenis dalam waktu enam bulan atau setahun mendatang. Dan jikalau tak dapat melakukan olah raga tenis, mungkin dapat melakukan olah raga lain.

Rasa sedih dan putus asa menyelimutinya sebab harus berjalan memakai tongkat dan tak dapat bermain tenis lagi. Ia menjadi rendah diri sebab merepotkan dan menyusahkan orang lain untuk menuntunnya kemanapun dia pergi.Tidak ada yang dapat dilakukan tanpa pertolongan orang lain. Sikap mandiri yang tertanam dalam dirinya terasa pudar seketika. Jimmy tidak menyadari bahwa melalui kehidupannya ada sesuatu yang luar biasa akan mengisi kehidupannya.

Pada suatu hari, ia diajak anaknya mengikuti pertemuan ibadah beberapa hari di luar kota. Dalam hatinya ia berkata, apakah mungkin kuasa doa akan mampu menyembuhkan kakinya yang sakit? Mustahil semua itu. Tapi untuk menyenangkan hati anaknya, ia mengikuti ajakan anaknya. Pada hari terakhir acara pertemuan ibadah, Jimmy merasa bosan dan ingin pulang. Hal itu dikatakan pada istri dan anaknya. Anaknya menyetujui permintaan akan kembali terlebih dahulu ke rumah. Ia merasa heran mengapa anaknya tidak memperhatikan keadaan mereka selama pertemuan itu. Menjelang berakhirnya pertemuan ibadah itu, anaknya mengajak mengikuti doa penyerahan pada malam hari. Namun, keinginan duniawi lebih kuat menguasai dirinya.

Dalam hatinya selalu berkata, tidak mungkin hanya dengan doa seseorang akan mampu menyembuhkan penyakit orang lain. Dia masih terus diliputi rasa tidak percaya akan kuasa Tuhan melalui doa sang pendeta. Jimmy tidak mengikuti ajakan anaknya mengikuti doa penyerahan, dia tetap berkeras pada pendiriannya. Sepanjang malam, kakinya terasa sakit dan ia kembali bersungut-sungut bahwa jika dia mengikuti doa penyerahan, pasti dia akan menyusahkan orang lain dan tidak dapat mengikuti doa penyerahan. Pada malam itu, seperti ada yang menahannya agar tidak kembali ke rumah, tetapi dia tidak tahu apa yang menahannya.

Keesokan paginya tepat pada hari Minggu, ia bangun lebih awal tak seperti hari biasanya. Ada yang menyuruh dia untuk pergi ke gereja. Ia segera berkemas-kemas hendak pergi ke gereja. Istri dan anaknya terheran-heran. Jimmy mengajak anak dan istrinya agar bersiap-siap pergi ke gereja. Bagi istri dan anak Jimmy, hal ini merupakan peristiwa terbesar dalam keluarga mereka sebab suami atau ayah yang sangat mereka kasihi ternyata mau membuka hatinya untuk mendengarkan firman Tuhan. Jika keadaan sebelumnya Jimmy sangat tertutup hatinya akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, maka saat ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup Jimmy untuk menerima Tuhan sebagai Penolong dan Pelindung kehidupannya.

Kehadiran Jimmy di gereja, sangat menggembirakan pak pendeta. Semua anggota jemaat menyambut dengan penuh sukacita kehadiran Jimmy sekeluarga. Kiranya melalui kehadirannya, akan memberikan pembaruan bagi kehidupan pribadinya. Acara demi acara berlangsung dan Jimmy mengikutinya dengan seksama.Sementara istrinya mengambil makanan, tiba-tiba Jimmy menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak dan panas. Kemudian pak pendeta mendoakannya dengan mengimani bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk menyembuhkan seseorang.

Jimmy mohon ampun pada Tuhan atas segala dosa yang dilakukannya selama ini yang telah jauh dari Tuhan dan menyangkali kehadiran dan kuasa Tuhan dalam kehidupan pribadinya. Selesai berdoa, Jimmy mencoba berdiri dan berjalan secara perlahan tanpa ditopang oleh tongkat. Dia berjalan terus ke depan sambil memuji Tuhan dan bersukacita. Alangkah bersuka citanya Jimmy, sebab mengalami kebaikan Tuhan dalam kehidupan pribadinya walaupun dia sempat menyangkali kasih Tuhan tetapi Tuhan tetap mengasihi dirinya. Melalui pengalaman yang dialaminya, ia semakin menyadari dan meyakini kasih Tuhan dalam kehidupannya.


Sumber Kesaksian:
Jimmy Dumais (jawaban.com)


Senin, 11 Desember 2017

VIDEO GAMES ADALAH HIDUPKU


Aku mulai bermain video games sejak dari kelas sekolah dasar. Pada saat itu kedua orang tuaku sangat ketat mengawasi game yang aku mainkan dan seberapa lama aku bermain. Namun seiring aku bertumbuh besar, aku menemukan cara-cara untuk menghindari pengawasan mereka.

Seiring berjalannya waktu, video games perlahan menjadi hal yang paling terutama dalam hidupku, meskipun aku sebenarnya tidak mau mengakuinya. Aku senang menawar-nawar seberapa lama aku dapat bermain video games dengan orang tuaku. Kapanpun orang tuaku pergi, aku dapat berhenti dari apapun yang sedang kukerjakan dan langsung memainkan komputer atau X-Box. Ini seperti alam kedua bagiku. Aku biasa mengevaluasi kualitas hariku dengan seberapa lama aku bermain video games – Hari-hari tanpa video games kuanggap hari-hari yang buruk.

Jika kamu pernah bermain games yang bernama The Sims, kamu pasti tahu bahwa karakter dalam game tersebut memiliki delapan kebutuhan, atau keinginan yang ditampilkan dalam bentuk balok panjang. Jika karakter memakan sesuatu, balok “lapar” terisi penuh, dan jika karakter bermain video games, balok “kesenangan” akan terisi pula. Meski demikian, kenyataan tidak berjalan seperti itu. Aku bermain video games dengan pikiran dapat memuaskan hasrat “kesenangan”ku, tapi setelah berjam-jam bermain video games, hasrat itu tidak pernah terpenuhi. Justru aku semakin ingin bermain lebih lagi.

Hasrat bermain video games sungguh kuat sampai-sampai hal itu selalu muncul di pikiranku. Aku berpikir tentang video games ketika aku tidur, ketika ujian, bahkan ketika aku berdoa memohon Roh Kudus.

Setelah beberapa lama aku mencari Tuhan, aku menerima Roh Kudus dan dibabtis saat aku kelas 9. Namun aku tetap merasa video games tidak menjadi masalah dalam hidupku, meskipun hal ini menguras banyak waktuku yang berharga, membuatku lupa untuk memegang hari Sabat, dan membuatku banyak berbohong pada orang tua.

Aku tidak menyadari bahwa video games adalah masalah bagi kehidupan rohaniku sampai aku menghadiri the 2003 Winter Student Spiritual Convocation (SSC) untuk pertama kalinya sebagai murid baru di SMA. Topik khusus mengenai video games sangat kuat dan menyentuh. Hal ini menyadarkanku bahwa video games memenuhi waktu-waktuku dibanding untuk Tuhan. Aku juga belajar bagaimana video games secara tidak sadar mempengaruhiku dalam banyak hal, seperti mempengaruhi emosiku dan membiasakanku berbuat kasar.

Namun aku tidak cukup kuat untuk berhenti atau bahkan mengurangi bermain video games.


TITIK BALIK

Sebelum menghadiri the 2006 National Youth Theological Seminar (NYTS) di bagian selatan California, perasaanku bercampur aduk. Aku mendengar banyak hal-hal “buruk” akan acara tersebut, seperti orang-orang berhenti bermain video games dan menonton TV setelah menghadiri NYTS. Aku tidak perduli soal TV, karena aku tidak punya kebiasaan menonton TV. Namun aku tidak dapat membayangkan diriku tanpa video games. Bagiku video games merupakan suatu hal yang terpenting dalam hidupku.

Seperti biasa, video games tetap muncul di pikiranku selama doa di NYTS. Sebelumnya ketika aku mendengar pastur berkata bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan, aku selalu berkata pada diriku aku tidak melayani dua tuan; bahwa video games hanyalah bagian dari aktivitas senggangku. Namun selama doa aku perlahan menyadari bahwa aku memiliki masalah.

Aku teringat Yesus Kristus pernah berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Sehingga aku memutuskan untuk melemparkan beban yang paling berat pada Yesus Kristus, yaitu video games dan kedua orang tuaku yang belum dibabtis.

Aku berkata pada Tuhan Yesus, “Jika Engkau membuat kedua orang tuaku dibabtis, maka aku akan berhenti bermain video games.” Aku merasa sedikit cerdas dengan melempar tanggung jawab pada Tuhan, karena aku tahu bahwa jika kedua orang tuaku memutuskan untuk dibaptis, pertemuan rohani dan baptisan yang berikutnya masih 5 bulan lagi, dan selama 5 bulan tersebut aku masih bisa bermain video games sepuasnya. Masalah selesai.

Meski demikian, doaku semakin memburuk. Saat Kamis pagi, aku merasa imanku lebih rendah daripada saat aku hadir di NYTS sebelumnya. Aku telah siap untuk pulang karena aku sangat rindu pada gamesku. Aku juga merasa aku tidak perlu untuk tinggal karena aku tidak melakukan dosa yang berat, jadi aku tidak butuh pengampunan.

Bersyukur pada Tuhan, penasehatku dan penasehat yang lain memberiku semangat dengan ayat-ayat Alkitab dan pengalaman hidup mereka, dan aku memutuskan untuk tinggal. Saat itu pula aku sadar bahwa aku butuh pengampunan dan rahmat Tuhan lebih daripada siapapun.


PENGALAMAN DENGAN TUHAN DAN SETAN

Selama doa malam hari Selasa, aku mendapat pengalaman yang paling indah selama aku hidup. Saat aku bertobat dan menyesali perbuatanku dalam doa, Aku merasa Tuhan amat menjamahku dan menggenggamku dengat erat; aku bahkan melihat Dia memberiku hati yang baru. Air mata sukacita yang tidak dapat kutahan lagi mengalir deras selama doa tersebut. Setelah doa tersebut, aku merasa ringan, sungguh tanpa beban, dan aku tidak pernah merasa seperti ini sejak aku mendapat Roh Kudus.

Aku merasa seperti video games tidak menjadi suatu masalah lagi, bukan karena aku berhenti dari video games, tapi karena video games telah berhenti dariku. Aku merasa sangat bebas, video games tidak punya kuasa lagi terhadap diriku. Aku sangat bersukacita, sungguh ingin aku membagikan sukacitaku dengan orang-orang disekitarku.

Malam itu aku sangat bahagia karena aku tidak dapat tidur hingga larut malam. Anehnya, aku mendapat mimpi buruk. Aku terjatuh, terus jatuh, dan aku tidak merasakan angin menerpa wajahku yang sedang jatuh bebas ke bawah. Dalam perjalananku jatuh ke bawah, aku melihat iblis sedang jatuh mendahuluiku di depan.

Tubuh iblis itu menyerupai seekor gurita, namun dengan jumlah kaki yang lebih banyak. Wajahnya tidak terlalu jelas dan aku tidak dapat ingat seperti apa rupanya. Disekitar iblis tersebut terdapat banyak monitor komputer, jatuh bersama iblis tersebut. Saat-saat kami menuju ke tanah, aku melihat sebuat lubang api yang amat besar di bawah sana, menyala-nyala dengan laharnya.

Si Iblis dan seluruh monitor tersebut jatuh ke dalam lubang itu, merekapun lenyap. Ketika aku hampir jatuh juga ke dalam lubang api itu, tiba-tiba aku terbangun dengan sebuah ayat di benakku. Saat aku mencari ayat tersebut pagi harinya, hanya butuh 5 detik sampai aku mendapatinya (biasanya aku tidak secepat itu).

Demikian bunyi ayat tersebut, “Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaanya semula.” (Mat 12:45). Dari pengalaman ini, aku menyadari bahwa aku harus segera mengisi kehidupanku dengan firman Tuhan dan hal bermakna lainnya, jika tidak maka aku akan jatuh ke dalam pencobaan yang lain.



MEMBUAT KETETAPAN

Aku menikmati kebebasanku yang baru untuk sementara waktu. Tetapi 2 hari kemudian, godaan untuk bermain video games kembali muncul – kali ini jauh lebih kuat dari yang pernah ada. Aku merasa imanku menjadi lemah, dan video games hampir mengambil alih diriku kembali. Aku merasa seperti bangsa Israel yang tidak tahu berterima kasih; yang bahkan setelah mengalami mukjizat Tuhan yang penuh kuasa, kasih, dan pengampunan, aku masih memalingkan perhatianku untuk mengingat kembali akan ikan yang kumakan di Mesir.

Sisa dari apa yang terjadi selama NYTS, aku mengalami pergumulan hebat antara roh dan daging. Aku tahu bahwa aku tidak dapat membiarkan pertempuran ini terus berlanjut. Aku tahu bahwa aku akan kembali pada kehidupanku yang lama saat aku meninggalkan NYTS – diperbudak oleh video games, menyesali waktu yang terbuang sia-sia, namun tidak sanggup berbuat apa-apa.

Aku menyadari bahwa aku butuh sebuah obat dalam dosis yang besar untuk benar-benar menghentikan video games dari kehidupanku. Aku memutuskan untuk bernazar sebelum NYTS berakhir. Aku mengerti kalau kita tidak boleh menganggap remeh nazar, tapi aku tahu Tuhan-ku maha pengasih, sehingga aku memutuskan bahwa bernazar akan lebih menguntungkan untuk diriku daripada tidak melakukannya. Nazarku adalah, “Aku tidak akan menyentuh video games lagi seumur hidupku, jika tidak maka Tuhan akan menghukumku dengan sangat berat, seperti membiarkanku gagal dalam semua pelajaran.”

Setelah kedua orang tuaku mengantarkanku ke rumah dari NYTS, mereka harus pergi ke pesta sahabatnya. Nenekku sedang di luar dan adik laki-lakiku juga tidak sedang di rumah. Rumahku kosong. Godaan untuk bermain video games muncul. Aku dapat mendengarnya memanggilku, “Kemarilah, habiskan malam terakhir denganku, lalu kau dapat melenyapkanku besok.”

Puji syukur pada Tuhan bahwa aku baru saja kembali dari NYTS, dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku berlutut dan berdoa. Setelah 30 detik aku merasa cukup kuat untuk menyalakan komputer, menghapus semua games yang kumainkan, dan memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan video games.


ARAH YANG BARU

Sedikit sulit untuk terbiasa pada awalnya. Aku mendadak mempunyai waktu luang yang amat banyak, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Perlahan-lahan aku menemukan kesenangan berkebun di halaman rumahku, rasa pencapaian saat membantu urusan dapur, kesabaran lebih untuk membaca buku bahasa Inggris (Bahasa Inggris bukanlah bahasa utamaku), lebih banyak waktu untuk keluargaku, dan lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa.

Ketika aku kembali kuliah untuk tahun keduaku, aku memiliki waktu yang lebih banyak dengan persekutuan di kampus, lebih banyak waktu untuk fokus dalam akademis, memiliki keingingan untuk menjadi relawan dalam klub, dan lebih semangat menghadiri pelayanan Jumat malam dan bergabung dengan tim paduan suara. Tuhan juga memberkatiku dalam banyak hal, seperti peningkatan nilai akademik; bahkan aku mendapat nilai A+ untuk yang pertama kalinya dalam hidupku; dalam kelas kimia organik yang sulit.

Selama SSC pada musim dingin, aku menemukan bahwa tidak ada lagi rasa hampa setelah berdoa seperti tahun sebelumnya. Yang paling penting, aku menemukan jalan untuk masa depanku yang lebih jelas – aku memiliki arah, dan tujuan untuk terus maju.

Aku ingin menjadi professor di bidang sains, sehingga di kemudian hari aku dapat berkhotbah tentang kebenaran kepada para ilmuwan dan menjadi kesaksian yang baik bagi Kritstus. Seorang professor juga dapat mempengaruhi muridnya secara benar, dan membantu persekutuan dalam kampus. Aku masih belum tahu apakah ini adalah tempat yang diperuntukan Tuhan bagiku, namun aku tahu jika aku mengarahkan tujuanku kepada hadiah terakhir – Menuju Surga – dan aku sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan dalam hidupku, maka Tuhan akan memimpinku kepada jalan yang benar.

Berhenti dari video games terkadang terasa seperti terkekang, seperti pada tahun kemarin ketika teman sekamarku berkumpul dan bermain video games tetapi aku tidak dapat bermain, atau ketika seseorang mengajakku untuk bermain video games saat aku pergi ke rumahnya. Tetapi aku tahu bahwa pertemanan yang sesungguhnya tidak dibangun diatas video games. Video games adalah dunia maya dimana kau dapat menutupi idetitas aslimu dan tidak perlu bertanggung jawab akan apa yang kau perbuat. Namun kehidupan yang kita jalani sesungguhnya sama sekali tidak seperti itu.

Video games terkadang membawa kenangan yang indah, seperti ketika aku dan adik laki-lakiku mengalahkan game bersama-sama. Tapi yang sudah lalu biarlah berlalu. Paulus berkata dalam Filipi 3:13, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Aku yakin masih banyak hal selain video games yang dapat kulakukan dengan adikku untuk mempererat hubungan kami.

Belajar Terbang dalam Ikatan

Aku melihat sebuah video singkat yang sangat membangun pada website Gereja Yesus Sejati Taiwan (http://www.joy.org.tw). Ini menceritakan mengenai sebuah layang-layang yang sangat menikmati terbang, dan berpikir bahwa dia dapat memutuskan diri dari ikatan tali, dia dapat terbang lebih tinggi lagi dan memandang lebih banyak hal. Sehingga dia meminta angin untuk menghempaskannya.

Dia menikmati kebebasannya namun perlahan mulai turun. Dia tersangkut diantara pepohonan, terbawa pergi, namun jatuh di atas tanah. Terinjak dan tertendang, dia dipenuhi dengan lumpur serta penuh luka-luka. Saat dia menangis dan menyesal, seorang anak kecil pemilik layang-layang tersebut menemukannya, membersihkannya, menutupi lukanya, dan membawanya terbang kembali ke angkasa.

Layang-layang tersebut kini menikmati kebebasan terbang dalam tali. Air mata menetes keluar saat aku menonton video ini, meskipun video ini ditujukan untuk anak kecil. Terkadang kita mungkin melihat keluarga, gereja, atau bahkan Tuhan sebagai batasan yang mencegah kita untuk mencapai sesuatu yang tinggi. Namun kenyataannya adalah, tanpa mereka, kita bukan apa-apa.

Aku berharap pengalamanku dapat menguatkan kamu untuk jangan pernah kehilangan harapan dalam Tuhan. Kita tidak perlu takut untuk membuat ketetapan hati untuk Tuhan kita, karena Tuhan kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus, sesungguhnya adalah Tuhan yang maha pengasih.


SETELAH ITU

Semenjak menulis kesaksianku di awal tahun 2007, aku telah menyadari bahwa tidaklah semudah pikiranku untuk menjauhi video games.

Seiring musim panas datang, aku berhenti dari kebiasaanku membaca Alkitab dan berdoa. Oleh sebab itu aku merasa jauh dari Tuhan, dan ketika aku mulai merasa kewalahan dengan tugas pelajaran dan penelitianku, aku tidak mampu menghadapi godaan untuk bermain video games. Bersyukur pada Tuhan, aku berhenti dan bertobat setelah bermain video games dua kali.

Saat sekolah kembali dimulai di musim gugur, iman dan rohaniku kembali stabil. Aku pikir hal ini dikarenakan Irvine Campus Fellowship. Selalu indah mempunyai banyak saudara dan saudari di sekitar kita untuk selalu bersekutu.

Aku tahu bahwa aku memiliki ketetapan untuk berhenti bermain video game tetapi tanpa pertolongan Tuhan aku tidak dapat melakukannya. Jika aku berpikir aku dapat melakukanya dengan kekuatanku sendiri, itu adalah bentuk kesombongan dan aku tidak akan mampu untuk berhasil.

Namun aku tahu bahwa aku tetap dapat hidup dalam kemenangan dengan pertolongan Tuhan dan kasih dari saudara dan saudari sekalian.

copas : members.tjc.org


Kamis, 07 Desember 2017

TUHAN MENGEMBALIKAN ANAKKU

Pada Tanggal 1 April 1987, saya dan istri saya sangat dibahagiakan oleh kelahiran anak pertama kami, seorang anak laki-laki yang kami beri nama Lai Zhen Seng. Tetapi kebahagiaan kami hanya bertahan sebentar. Ketika suster memberi dia makan pertamanya, susu yang diberikan tidak dapat masuk. Setiap memberikan susu, semuanya dimuntahkan kembali. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menemukan bahwa beberapa bagian dalam organ pencernaannya tidak tersambung dengan baik sehingga susu yang diberikan tidak bisa sampai ke perutnya. Kami diberitahu bahwa bayi kami harus segera dioperasi atau ia bisa meninggal. Dia belum berumur 1 hari! Bagaimana bisa bayi kecil ini bertahan dari cobaan yang begitu menyakitkan? Tetapi Puji Tuhan, Roh Kudus menenangkan saya dan memberikan saya kekuatan untuk mempercayakan kehidupan bayi ini kedalam tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Ilmu medis mungkin sudah sangat maju tetapi seorang dokter tetap tidak dapat memberikan kehidupan kepada pasien yang sekarat. Hanya Tuhan Yesus yang dapat melakukannya. Setelah dikuatkan oleh Roh Kudus, saya dan istri saya sepenuhnya menyerahkan hidup anak kami kepada Tuhan.

Dokter mengoperasinya keesokan harinya. Ketika ia dibawa keluar dari ruang operasi, penampilannya sudah tidak seperti yang kami kenal. Kepala kecilnya diperban dan banyak selang dengan berbagai ukuran tejulur dari tubuhnya, tubuhnya dipenuhi dengan selang-selang yang berjuluran. Ia lebih terlihat seperti alien dari luar angkasa! Pemandangan itu sangat memilukan hati dan hati saya dipenuhi rasa kasihan kepadanya. Ketika seorang pendeta menjenguk bayi kami, ia menyarankan kami untuk siap akan hal terburuk yang bisa terjadi. Saudara-saudari yang lain juga berkata demikian. Untuk beberapa hari bayi kami ada di dalam ruang perawatan intensif. Ia diberi makan melalui dua selang; satu dipasang di lehernya dan satu lagi di daerah perutnya - pemandangan yang menyedihkan bagi semua orang yang melihatnya.

Tetangga kami menyarankan pada kami untuk tidak mempercayai Tuhan Yesus lagi dan kembali kepada penyembahan berhala untuk meminta bantuan atau bayi kami akan meninggal. Tetapi kami berpegang teguh pada iman kepercayaan kami pada Tuhan dan tidak bimbang dalam iman kami.

Puji Tuhan atas belas kasihan dan kemurahan berkat Tuhan, melalui doa dari saudara-saudari seiman, bayi kami berangsur-angsur pulih setelah 28 hari di rumah sakit. Sekarang dia adalah seorang anak laki-laki berumur delapan tahun yang aktif, menggemaskan dan sehat. Puji Syukur dan kemuliaan pada Tuhan Yang Maha Kuasa!

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yoh 11:25)

"Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian." (Pkh 8:8)

copas : members.tjc.org

Minggu, 03 Desember 2017

DUA KALI DISEMBUHKAN

Dalam nama Tuhan Yesus menyampaikan kesaksian. 

Saya lahir pada tahun 1936 dalam keluarga yang belum percaya Tuhan Yesus. Saya sangat bersyukur karena bisa percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati sejak tahun 1950. 

Itu semua bermula dari penderitaan saya. Sejak berumur 6 tahun mata saya selalu merah, berair, dan bengkak. Sebabnya tidak diketahui meskipun sudah berobat ke banyak dokter. Dan dengan bermacam obat serta ramuan pun, hasilnya tetap tidak ada. 

Sampai pada suatu hari ada seorang saudari datang ke rumah dan ia mengajak saya ke Gereja Yesus Sejati. Saya tergerak dan ingin mencoba memohon kesembuhan. Jadi setiap hari Sabtu saya datang mengikuti kebaktian Sabat untuk mendengarkan firman Tuhan tentang kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan orang sakit. Ketika diadakan sakramen baptisan, saya memberi diri dibaptis. 

Beberapa hari setelah dibaptis, mata saya berangsur sembuh. Hal ini membuat heran orang tua saya, karena sakit mata yang telah berlangsung selama 8 tahun itu sekarang sembuh tanpa pengobatan. Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah bahwa kedua orang tua dan kelima adik saya akhirnya tergerak untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan mereka pun menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena melalui mujizat ini keluarga saya mendapat anugerah keselamatan. 

Ada lagi satu anugerah Tuhan yang saya rasakan. Sesudah menikah, tentunya sebagai istri saya harus membantu pekerjaan suami. Karena suami saya adalah seorang yang belum percaya Tuhan dan saya sendiri sibuk mengurus anak dan rumah tangga, saya menjadi jauh dari Tuhan dan jarang mengikuti kebaktian. Dalam satu tahun saya hanya satu kali berkebaktian, yaitu pada kebaktian awal tahun. 

Namun rupanya Tuhan masih menyayangi saya, sehingga pada tahun 1985 saya mendapat peringatan dari Tuhan. Saya mengalami kesakitan yang luar biasa di bagian perut yang disertai dengan pendarahan selama 3 bulan terus-menerus. Saya diperiksa oleh beberapa ahli kandungan. Dan semua dokter memastikan bahwa dalam rahim saya ada tumor yang harus segera diangkat. Seketika itu juga saya teringat akan penyakit mata saya dahulu. Saya teringat bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Saya memohon ampun kepada Tuhan. Siang-malam saya berdoa dengan pasrah sambil mencucurkan air mata. Akhirnya tanggal untuk operasi pun ditentukan. 

Tapi mujizat terjadi kembali. Pada hari yang sudah disepakati untuk operasi, pendarahan itu berhenti. Saya merasa gembira dan amat yakin bahwa Tuhan sudah menyembuhkan saya. Namun untuk lebih memastikan, saya memeriksakan diri kepada dokter yang sedianya akan mengoperasi saya. Dokter itu juga merasa heran karena tumor itu telah mengecil. Ia mengatakan bahwa sementara ini operasi tidak perlu dilakukan. 

Sejak itu sakit perut dan pendarahan yang saya alami berhenti sama sekali berkat kasih karunia-Nya. Karena itu saya tidak berani lagi menjauhi ibadah dan meninggalkan Tuhan. Pada Kebaktian Kebangunan Rohani tahun 1985, saya memperoleh Roh Kudus yang sangat saya rindukan. Saya merasa sangat bersukacita dan bertambah yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus yang saya sembah adalah Allah yang hidup, yang dapat menyembuhkan segala penyakit yang bagi manusia mustahil disembuhkan. Saya tidak dapat membalas kasih Tuhan yang begitu besar kepada saya. Semoga melalui kesaksian ini, nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Amin.

Lam Sim Mey - Bandung, Indonesia

Copas : members.tjc.org

Rabu, 29 November 2017

KESAKSIAN KISAH NYATA ! DISEMBUHKAN DARI KELUMPUHAN ANEH

Shalom sahabat Kerajaan, dahsyat!

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-raendirincangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." - Yeremia 29:11

"Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." - Yesaya 53:4-5

Sahabat, saya sering menyampaikan kesaksian orang lain yang sungguh membangun iman kita. Tetapi kali ini, melalui blog ini, saya mau menyaksikan secara ringkas, sebuah kisah nyata yang pernah saya alami sendiri, bagaimana Tuhan Yesus, telah menyembuhkan saya dari penyakit kelumpuhan yang aneh, yang telah saya alami selama kurang lebih 10 tahun (1992-2002).

Nama saya, Yakobus Edy Susanto (bisa juga dikenal James Edy). Saya bertobat sejak tahun 1988 sampai sekarang. Sejak tahun 1990, saya telah menyerahkan diri kepada Tuhan untuk melayaniNya dan belajar di sebuah Seminari di Jakarta (Institut Theologia dan Keguruan Bethel Jakarta - ITKI Bethel Jakarta). Namun sejak tahun 1992, tiba-tiba tanpa sebab yang jelas, saya mengidap sebuah penyakit kelumpuhan yang aneh. Kelumpuhan ini saya alami ketika saya sedang mengikuti kuliah di seminari tersebut. Diawali dengan sakit pinggang, tiba-tiba saya kehilangan kemampuan untuk berdiri dan berjalan.

Suatu hari, ketika saya baru selesai mengikuti sebuah kuliah, tiba-tiba saya tidak mampu berdiri. Seluruh tubuh lunglai. Saya hanya mampu menggerakkan leher saja. Saya dibawa ke dokter, tetapi dokter belum bisa menemukan apa sebenarnya penyakit yang saya alami. Sampai tahun 1997, sudah sekitar 5 kali saya diopname di RS karena penyakit ini.

Sejak saat itu, saya terus mengalami kelumpuhan setiap 2 minggu sekali. Setiap kali lumpuh, saya alami selama 4-5 hari. Setelah itu, secara aneh, penyakit itu berangsur-angsur mereda dengan sendirinya, lalu akan kumat lagi 2 minggu kemudian. Hal ini terus terjadi bahkan sampai ketika saya sudah pindah ke Pontianak untuk melayani Tuhan secara fulltime di gereja Psalm 21 Succesfull Community , Pontianak, sebagai penulis warta gereja, renungan, wartawan Psalm 21 Magazine, edittor buku-buku terbitan Psalm 21 Publishing, serta melayani juga sebagai pengkotbah/pengajar, pemusik (keyboard), serta instruktur keyboard/piano di Psalm 21 School. Bisa anda bayangkan? Dengan kegiatan yang "segudang", kelumpuhan aneh ini masih terus menghantui saya.

Namun puji Tuhan, Dia mulai membuka jalan bagi kesembuhan saya. Menurut analisa seorang sahabat dari Jakarta, yang juga adalah dokter ahli penyakit dalam, kelumpuhan saya ini terjadi akibat dari kurangnya vitamin Kalium dalam tubuh. Ini adalah jenis penyakit langka, hanya 1 dari 1000 jiwa yang memiliki kemungkinan mengalami penyakit ini. Saya harus mengkonsumsi vitamin Kalium dalam jumlah yang cukup banyak, yaitu 6 butir/hari, seumur hidup. Ini cukup menyulitkan saya karena harganya lumayan mahal untuk ukuran kantong saya. Belum lagi efek sampingnya, karena kelebihan dosis vitamin ini, dapat menyebabkan penyakit jantung dan ginjal. Untuk dapat mengonsumsi dosis yang tepat, maka saya harus cek di laboratorium medis setiap 3 bulan sekali, untuk mengetahui kadar Kalium yang saya butuhkan.

Namun, keadaan yang menyulitkan ini, tidak menyurutkan semangat saya untuk memenuhi panggilan pelayanan. Di atas sudah saya ceritakan bahwa sejak Tahun 1993, saya bergabung dengan Psalm 21 Successful Community, Pontianak. Namun penyakit itu tidak kunjung sembuh. Bahkan setiap kali kambuh, saya tetap melayani sebagai musisi. Banyak teman-teman sepelayanan yang sering menggotong saya untuk turun-naik ke mimbar, ketika saya sakit. Dalam kondisi seperti ini, sayu tetap melayani, bahkan juga sampai ke daerah pedalaman Kalbar. Semua Kabupaten sudah pernah saya kunjungi dalam rangka pelayanan, kecuali Kabupaten Ketapang yang belum pernah.

Suatu ketika, di tahun 1997. Ketika itu, penyakit ini sedang kambuh. Saya berdoa sesuai dengan iman yang timbul dari perenungan kedua ayat di atas. Saya percaya, Tuhan Yesus tidak pernah merancangkan penyakit untuk saya. Mungkin penyakit ini terjadi atas dosa saya di masa lampau. Saya sujud dan mengakui semua dosa saya. Selain itu saya juga percaya bahwa Tuhan Yesus sudah menanggung penyakit saya. Saya bertekad bahwa saya harus sembuh! Saya tidak mau terus-menerus mengkonsumsi vitamin Kalium lagi.

Iman saya timbul. Dengan iman ini, saya bersemangat untuk melawan penyakit ini. Ketika itu, sudah hampir pukul 24 malam, seluruh tubuh saya masih lunglai. Setelah berdoa, di dalam nama Tuhan Yesus, saya mencoba untuk duduk. Berkali-kali saya gagal, namun berkali-kali itu juga saya terus mencoba dengan semangat. Akhirnya secara ajiab saya mampu duduk sendiri, di dalam kamar tidur, tanpa dibantu oleh siapapun.

Sudah berhasil duduk, saya mencoba berdiri. Setelah berkali-kali gagal, akhirnya puji Tuhan, saya bisa! Saya sangat lelah, keringat bercucuran. Tapi saya tetap semangat mencoba. Dengan berpegangan, saya mencoba untuk berjalan. Singkat cerita, ketika pukul 6 pagi, besoknya, saya sudah mampu berjalan.

Haleluyah, itulah pengalaman terakhir saya mengalami kelumpuhan. Tahun 1997 saya menikah. Sejak saat itu, kelumpuhan aneh yang saya alami, disembuhkan Tuhan Yesus secara ajaib. Sampai saat ini, puji Tuhan, saya tidak lagi pernah mengalami kelumpuhan ini. Vitamin Kalium, yang seharusnya saya terus konsumsi seumur hidup, tidak pernah lagi saya minum.Saat ini, saya hidup bahagia dengan seorang istri yang cantik dan cinta Tuhan, Elizabeth Oi Su dan dikaruniakan 2 anak, yaitu seorang putri, Michelle Gracia Susanto dan seorang putra, Dave Jonathan Susanto.

Copas : edy-fajarpengharapan.blogspot.co.id

Sabtu, 25 November 2017

KESAKSIAN SESEORANG YANG TERLIBAT DENGAN ALIRAN SATANISME





Salam kenal, sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri saya. Saya lahir di sebuah kota kecil di daerah Sulawesi Tengah dan dari keluarga kristen pantekosta, sejak kecil saya adalah anak kristen yang taat ke gereja bahkan ikut persekutuan-persekutuan doa. Namun, sebenarnya di keluarga kami masih sangat percaya akan dunia okultisme (perdukunan). Bahkan, mempraktekkannya terutama paman-paman dan oma dari keluarga papa saya, karena kami hidup dan menetap di sebuah kota kecil bahkan sangat dekat dengan pedesaan. Hal ini berlangsung turun temurun, padahal oma saya adalah anggota majelis di gereja kami.

Kehidupan keuangan keluarga kami pun bisa di bilang berkecukupan bahkan berlebih untuk ukuran di kampung saya ini karena orang tua saya punya usaha toko kelontong grosiran. Langganan toko kami pun banyak dari pedagang-pedagang kelontong dari desa sekitar bahkan dari pulau-pulau kecil di sekitar. Sungguh, berkat Tuhan begitu melimpah buat keluarga kami pada waktu itu. Namun, suatu ketika cobaan pun datang dalam kehidupan keluarga kami. Papa saya terlibat perselingkuhan dengan perempuan di kampung sebelah. Hal itu sebenarnya sangat tertutup rapat dan tidak diketahui oleh kami sekeluarga. Tapi memang insting seorang istri sekaligus mama saya dibukakan oleh Tuhan sehingga mama saya mulai curiga dengan gelagat papa saya yang suka marah-marah ga jelas.

Akhirnya puncaknya terjadilah keributan antara mama dan papa di rumah, saat itu pun saya sebagai seorang anak yang sudah dewasa (19th) merasa saya harus membela mama saya apalagi papa kalo marah suka mukul.

Saya segera melerai keributan mama dan papa malam itu, tetapi yang terjadi adalah papa malah tambah emosi dan akhirnya saya pun ikut terpancing emosi dan kami pun berkelahi. Sungguh hal yang tak pernah saya pikirkan saya memukul jatuh papa saya. Namun, itu tidak membuat suasana tenang malah tambah parah. Papa segera ke dapur untuk mengambil parang/golok dan kembali mengejar saya. Perkelahian maut yang tak terelakan lagi. Beruntung tetangga berdatangan melerai kami bahkan saya ingat pada waktu itu juga polisi datang tapi diusir oleh papa saya.

Malam itu setelah dilerai, papa saya dibawa oleh paman saya untuk sementara tidur di rumahnya. Mama begitu sedih dan frustasi melihat keadaan ini dan akhirnya mama memutuskan dan menyuruh agar saya segera berangkat ke Jakarta esok harinya.

Di Jakarta inilah awal baru kehidupan saya dimulai. (Oh iya sebelumnya ketika masih di kampung, kelakuan saya pun nakal, saya sering ikut balapan liar, mabuk-mabukan bahkan berkelahi). Selama 4 tahun hidup di Jakarta, saya sangat taat terhadap Tuhan, rajin gereja, berdoa, bahkan puasa dan penyembahan pribadi dengan Tuhan pun sering saya lakukan.

Namun, mungkin karena dosa kutukan keturunan (praktek okultisme oleh keluarga sebelumnya) iblis berusaha menggoyahkan iman saya lagi, dan akhirnya saya pun jatuh kedalam dosa jebakan iblis ini melalui godaan kehidupan glamour ibukota. Saya sering ke diskotik dan tempat-tempat hiburan malam lainnya sehingga terjerumus dalam dosa perzinahan. Iblis begitu kuat mencengkram kehidupan saya dan membuat saya berpikir bahwa uang adalah segalanya di dunia ini. Pikiran saya hanya uang dan bagaimana menghasilkan uang dengan cepat dan banyak yang akhirnya membawa saya masuk dan terjerumus lagi dalam dunia perjudian. Sungguh jebakan iblis itu sangat terencana dan rapi sehingga kita pun tidak menyadari semakin dalam sudah masuk dalam cengkramannya.

Oh iya, saya juga saat itu sudah mulai lagi dibuat ingat oleh iblis akan dunia okultisme yang dulu pernah dilakuin keluarga saya, dan saya pun tergoda untuk mencari lagi praktek ini. Karena teknologi sudah canggih pencarian pun saya lakukan melalui internet dan saya mendapat suatu hal menarik yang membahas soal dunia malaikat dan malaikat jatuh (fallen angel “Lucifer dkk”) ternyata itu adalah sebuah cerita tulisan dari seorang pengikut aliran Satanic. Saya pun memberanikan diri menghubunginya dan setelah dia tanya-tanya akhirnya saya diijinkan untuk datang ke alamatnya.

Kesan pertama yang saya dapat dari para pengikut Satanic ini adalah mereka cukup ramah terhadap siapa saja (ini adalah trik mereka, agar orang baru merasa nyaman dan tertarik akan perkataan-perkataan mereka). Berteman dengan orang ini membuat saya semakin jauh mendalami dunia dan aliran ini, bahkan saya berkenalan lagi dengan beberapa orang lainnya dari aliran berbeda seperti Necronomic, Afro, Paganism, Kejawen, Thai Amulet dll. Yang semuanya pada intinya adalah aliran kepercayaan akan kekuatan-kekuatan magis dari suatu benda isian (jimat/amulet) dan kepercayaan akan Satan/Setan/Iblis/Lucifer dkk.

Sebagai orang yang senang akan sesuatu yang misteri dan rahasia, saya pun sangat mendalami dan senang akan semua artikel bacaan, cerita-cerita dari semua aliran ini dan saya pun terlibat dalam ritual dan memakai jimatnya. Bantuan-bantuan mistis itu memang nyata dalam kehidupan saya, terutama dalam hal perjudian saya selalu menang dan sedikit kalah, saya takabur menjadi sombong dan foya-foya, makin parah dalam perzinahan sampai suatu saat Tuhan bilang, “Cukup anak-Ku.!!” Dan semuanya pun selesai, segala kesenangan saya selama ini berbalik drastis, judi yang tadinya selalu menang menjadi kalah terus. Bahkan, tidak bisa sekalipun menang/untung.

Saya masih belum juga sadar pada waktu itu. Saya berpikir mungkin lagi sial dan saya makin bergelut lagi dengan setan-setan sembahan saya (waktu itu saya menyembah demon barbatos, noferathu dan mamon), tetapi hasilnya sama saya kalah dan baru sadar ketika uang kemenangan saya sebelumnya habis sudah dan sekarang menjadi minus alias saya berhutang kepada bandar judi dan untuk menutupi hutang itu sementara saya belum bisa bayar, saya diajak bekerja pada bandar judi tersebut sebagai bagian penagihan hutang.

Selain frustasi hutang yang menumpuk sana sini, cobaan lain pun datang. Perselingkuhan perzinahan saya di dunia malam ketahuan istri saya. Sungguh bagai geledek menyambar saya rasanya istri bener-benar shock tahu sifat saya selama ini. Keributan yang benar-benar tak terhindarkan lagi bahkan hampir berujung pada perceraian. Beruntung Tuhan tidak tinggal diam, Tuhan meluluhkan hati istri saya dan mertua saya sehingga ketika kami duduk bersama semua keluarga untuk merundingkan masalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan opsi perceraian pun dibatalkan (Puji Tuhan).

Tapi cobaan tidak berhenti sampai dsini, usaha orang tua saya di kampung pun mengalami cobaan, toko yg tadinya ramai menjadi sepi bahkan hutang sudah jatuh tempo belum bisa terbayar sehingga membuat toko mengalami kebangkrutan dan ditutup. Untuk membayar hutang kepada bank, rumah di kampung menjadi aset sitaan, juga tanah, mobil dan emas perhiasan yang pernah di beli mama sebagai aset simpanan itu pun juga harus dijual untuk membayar hutang kepada supplier. Semua habis sudah dijual dan membuat kedua orang tua saya untuk hijrah ke daerah Manado tempat dimana adik saya kuliah dan mereka memulai hidup baru disana. Mereka hidup mengontrak rumah kecil dan papa memulai usaha baru yaitu bengkel kecil untuk tambal ban dan oli motor. (Puji Tuhan) Tuhan masih memberi berkat meski kecil, kepada orang tua saya.

Namun cobaan lain juga masih datang, iblis selalu saja tidak tinggal diam, papa saya terkena stroke ringan dan mama terkena penyakit kelenjar getah bening, makin hari kondisi mereka semakin memburuk. Papa dan mama yang tadinya gemuk berisi jadi kurus kering hampir seperti tulang dibungkus kulit. Sedih hati ini ketika saya melihat mereka lagi ketika mereka datang ke Jakarta untuk berobat.

Berbagai Pendeta sudah membantu mendoakan supaya penyakit orang tua saya disembuhkan terutama mama yang kaki dan perutnya membesar karena cairan dari kelenjar getah bening tersebut. Bahkan, kaki mama yang bengkak sampai keluar air/nanah terus. Menurut beberapa Pendeta yg pernah mendoakan orang tua saya ini, kata mereka ini adalah pekerjaan roh jahat/ santet. Orang tua saya telah disantet oleh lawan dagang di kampung kami sehingga toko bangkrut dan orang tua saya juga tiba-tiba mendapat penyakit ini (padahal tadinya sehat-sehat saja).

Oh Tuhan, saya hampir putus asa sampai dipersoalan ini, saya mulai bertanya dimanakah Tuhan, apakah Tuhan mendengarkan doa kami?

Sampai saat itupun iblis masih tetap menggoda saya dan menguji iman saya sehingga saya berpikir apabila berobat ke dokter tidak sembuh, didoakan Pendeta juga sama saja, maka masih ada satu cara lagi yaitu pengobatan ala satanic (di aliran satanic ada diajarkan mantera untuk menyembuhkan seseorang dari sakit). Saya sempat berpikir cara itu, tapi untungnya Tuhan bekerja luar biasa dalam hati saya, meneguhkan saya agar tidak terjerumus lagi ke dalam dunia okultisme itu. Saya ingin bertobat dan kembali dalam lindungan kasih Tuhan.

Sampai saat kesaksian ini saya buat orang tua saya masih tetap dalam kondisinya dan telah kembali ke manado karena tidak adanya biaya lagi untuk berobat, tetapi Puji Tuhan kabar terakhir dari kakak dan adik saya bahwa kondisi mama sudah mulai membaik, kakinya saya bengkak mulai turun bengkaknya dengan cuma mengkonsumsi obat saya kami beli sendri tanpa resep dari dokter.

Dan bagi siapa saja saya membaca kesaksian saya ini, saya mohon bantuan doanya agar kondisi orang tua saya kembali dipulihkan seperti sedia kala, usaha mereka pun diberkati lagi, dan saya juga agar saya bisa melunasi hutang-hutang saya kepada bandar judi sehingga saya dapat berhenti dari pekerjaan saya menagih hutang. Karena saya ingin hidup normal kembali, bekerja normal, tidak ada tuntutan dan yang terpenting tidak ada hutang, sehingga keluarga saya dapat hidup tenang.

Saya percaya Tuhan saya Yesus Kristus Allah yg hidup dan akan membantu saya menyelesaikan masalah saya ini dalam rencana Nya, Amin.


Catatan tambahan dari kebenaranalkitabmain.blogspot.com:
Dari kesaksian di atas, kita bisa menarik pelajaran bahwa janganlah sekali-kali kita bermain-main dengan kuasa roh-roh jahat, dukun-dukun atau setan-setan. Mereka semua hanya menawarkan kenikmatan sesaat saja, tetapi setelah itu mereka akan menuntut jiwa kita karena kita telah mengikat perjanjian dengan mereka.

Tuhan sendiri sangat tidak senang jika kita menduakan Dia dimana kita sambil menyembah Tuhan Yesus, tetapi kita juga menyembah roh-roh jahat. Ada begitu banyak orang-orang Kristen saat ini yang meskipun mereka sering hadir di gereja, bahkan tidak sedikit di antaranya adalah pendeta, majelis, dll, tetapi ternyata mereka semua terlibat dalam praktek-praktek perdukunan dan mengikat perjanjian dengan roh-roh jahat.

Ingat! Tuhan kita adalah Tuhan yang pencemburu dan sangat tidak senang jika kita menyembah ilah-ilah lain. Dia akan menghajar kita jika kita menyembah ilah-ilah lain.

(Keluaran 20:2 [LAI TB] Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan
20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 
20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 
20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,)

Tuhan tidak akan segan-segan menghajar kita jika kita bermain-main dengan roh-roh jahat dan bersekutu dengan roh-roh jahat. Tuhan akan memukul kita dan menimpakan tulah ke atas kepala kita karena kita telah mengikat perjanjian dengan roh-roh jahat.

Jadi, jika saat ini kita sedang bermain-main dengan roh-roh jahat dan sedang bersekutu dengan mereka atau sedang memasang banyak jimat, segeralah bertobat karena Tuhan serius dalam firman-Nya.

Well, orang yang telah menulis kesaksiannya di atas (yang kita tidak tahu siapa namanya), semoga kiranya Tuhan Yesus memberikan jalan keluar bagi masalah yang sedang dia hadapi dan Tuhan Yesus mengadakan pemulihan bagi keluarganya. Mari kita sama-sama doakan dia. 

Salam Kasih. Tuhan Yesus memberkati

Jumat, 24 November 2017

PEREKONOMIAN KELUARGA DIPULIHKAN


Pada tahun 1990, dengan maksud membawa keluarga keluar dari himpitan ekonomi, Sri justru terjebak ke arah yang salah. Sri terjerat dalam hutang yang luar biasa besar. Karena sangat takut pada suami, Sri tidak berani memberitahukan masalah yang ia alami pada suaminya, Edy. Setelah Edy tahu bahwa istrinya mempunyai hutang yang banyak, lalu bangkitlah murkanya karena Edy merasa tidak mempunyai hutang pada siapapun.Lalu mereka berdua bekerja keras untuk melunasi hutang tersebut. Namun hal itu tidaklah mudah. Membutuhkan waktu yang lama untuk membayar semua itu. Mereka mencari uang, tetapi tidak pernah cukup untuk membayar hutang tersebut. Setelah mereka hitung-hitung semua hutang mereka, memerlukan waktu sampai mereka berusia 80 tahun baru hutang mereka terbayar semuanya. Mereka juga mengalami hal yang buruk.

Pertengkaran tidak dapat dihindari. Mereka bertengkar setiap hari, suasana rumah menjadi tidak harmonis. Kebutuhan anak-anak pun tidak dapat terpenuhi.Bukan hanya keadaan ekonomi yang morat-marit, tetapi mereka juga tertekan karena penagih hutang yang datang hampir setiap hari. Penagih hutang itu menekan mereka sedemikian rupa supaya mereka membayar hutang mereka. Bahkan ada yang membawa preman, polisi bahkan tentara. Depresi dan ketakutan menghantui keluarga ini. Mereka tidak dapat tidur dengan tenang. Hal ini menjadi lingkaran setan dalam hidup mereka.Mereka merasa hidup mereka melarat, mereka kepahitan dan banyak lagi hal yang tercampur aduk. Didalam kekecewaan mereka, mereka berpikir untuk bunuh diri, dengan bunuh diri mereka merasa masalah pasti akan selesai. Tetapi ditengah-tengah kekalutan mereka, ada suara lembut yang timbul dalam hati Sri. Suara itu mengingatkan Sri bahwa bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan menambah masalah. Belum lagi anak-anak mereka yang masih membutuhkan orangtua.Tetapi karena Sri rajin beribadah, maka Sri tersadar dan minta ampun kepada Tuhan karena sudah berpikir bodoh seperti itu.

Sri pun bertobat dan dengan suaminya berkomitmen untuk mencari Tuhan dan meminta pertolongan Tuhan. Mulai saat itu mereka berdua mencari Tuhan dengan benar. Mereka membaca Firman, mereka berdoa dan meminta belas kasihan Tuhan atas kehidupan keluarga merekaSetelah itu mereka setia mencari kehendak Tuahn, kehidupan mereka berubah total. Mereka mengalami hal yang tidak pernah mereka pikirkan dan bayangkan. Sri yang sebelumnya tidak bisa memasak, menjadi pintar memasak dan membuka usaha katering. Mulai dari hanya 3 orang lalu menjadi 300 orang. Bahkan karena terlalu banyaknya pesanan, Sri sampai harus menolak beberapa pesanan. Edy juga mempunyai toko. Dari hanya 1 toko menjadi 5 toko. Merekapun memiliki tanah, rumah dan kendaraan.Kehidupan mereka diberkati dengan luar biasa. Tuhan mempercayakan banyak hal dalam hidup mereka dengan berlimpah. Ekonomi dan hubungan dalam keluarga mereka dipulihkan. Mereka hidup bahagia dan itu semua karena kebaikan Tuhan.

(Kesaksian ini ditayangkan 9 Desember 2008 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

sumber kesaksian:Edy dan Sri Palastri
http://yesuskristus.com/index.php?option=com_content&task=view&id=106&Itemid=28

Selasa, 21 November 2017

Kesaksian Soedono Wijaya Terbebas dari Jerat Narkoba



Kesaksian

Ketika badai krisis moneter menerpa negeri ini, pada tanggal 5 Juni  1997, kami memutuskan untuk pindah dari kota Medan dan meneruskan  kembali bisnis properti dan jual beli mobil di kota kelahiran saya,  Surabaya. Ketika usaha tersebut sudah berjalan dengan baik, saya menyerahkannya kepada anak dan istri untuk mereka kelola, sehingga  saya mulai mempunyai banyak waktu senggang. Saat itu, salah seorang  saudara dari istri mengajak saya untuk pergi ke gereja. Namun, setelah berada di ruang ibadah, saya melihat orang-orang di situ bernyanyi  sambil berdiri dan bertepuk tangan penuh sorak-sorai. Sambil tertawa kecut, hati saya mulai mengatakan bahwa tempat ini bukanlah tempat  yang cocok bagi saya. Maka, saya mengurungkan niat untuk percaya pada Tuhan Yesus dan tidak pernah menginjak gereja itu lagi.

Pada tahun 2000 yang lalu, karena mempunyai waktu senggang, saya mulai melakukan lagi kebiasaan-kebiasaan jelek yang pernah saya lakukan  bersama dengan teman-teman waktu masih tinggal di Medan, sekitar tahun  1993-1995. Berjudi sambil bersenang-senang di diskotek dan menikmati  alunan musik bingar-bingar di ruangan yang remang-remang, ternyata jauh lebih menarik bila dibandingkan dengan alunan musik di gereja.

Setelah berkali-kali menggunakan ekstasi, kawan-kawan saya mulai menawarkan untuk mencoba mengisap sabu-sabu. Tetapi karena badan saya agak besar, mengisapnya 5 kali tidaklah terlalu terasa dampaknya. Oleh  karena itu, saya dianjurkan untuk mengisapnya sebanyak 10 kali. Mula- mula, menggunakan obat-obat tersebut hanyalah sebagai pemacu semangat  kerja saya. Namun beberapa bulan kemudian, obat-obatan itu mulai  menjerat saya, terutama jika terjadi masalah di rumah atau pada bisnis  saya. Pilihan saya hanya tertuju pada barang haram itu, menghisapnya  lagi dan lagi, sampai akhirnya menjadi ketergantungan dan tidak bisa terlepas darinya.

Sebenarnya, saya ingin berhenti dari obat-obatan itu. Saya dan istri  saya mulai mencari jalan keluar dengan mendatangi dukun-dukun, bahkan  meminta pertolongan pada berhala-berhala kami. Seperti anjuran para  dukun tersebut, saya pun mulai mencoba untuk tidak mengkonsumsi obat-obatan itu. Namun, badan saya mulai sakit dan tulang-tulang saya  terasa ngilu seperti ditusuk ribuan jarum. Karena tidak dapat menahan  rasa sakit tersebut, saya mengisap sabu-sabu lagi untuk membuat badan
saya fit kembali.

Kalau batang itu tidak masuk ke dalam tubuh saya, saya akan menderita "sakau (ketagihan)" dan kalau hal itu dibiarkan, saya akan mengalami paranoid. Apabila saya terserang paranoid, maka akan mudah tersinggung  dan curiga pada semua orang, akibatnya istri dan anak-anak sayalah yang menjadi sasarannya.

Suatu hari, setelah semalaman berpesta ekstasi dan sabu-sabu dengan  kawan-kawan di diskotek, pagi harinya saya tidak langsung kembali ke  rumah. Tanpa berpamitan terlebih dulu pada istri, saya bersama teman-teman berangkat untuk bersenang-senang di salah satu diskotek di  Jakarta. Karena hingga malam saya belum kembali ke rumah, istri dan  anak-anak saya mencoba menghubungi teman-teman saya. Namun, tak  seorang pun dari mereka yang mengetahui keberadaan saya. Maka, mereka  mulai mencari-cari saya ke setiap diskotek yang ada di Surabaya. Pada  hari yang ketiga setelah segala upaya yang dilakukan untuk mencari  saya tidak berhasil, istri saya mulai khawatir dan stres. Akhirnya, ia  pun jatuh sakit. Anak-anak yang memerhatikan ibunya dalam keadaan  seperti itu, segera melarikannya ke Rumah Sakit Mitra di Surabaya.

Ketika istri saya sedang dirawat intensif di ruang ICU, telepon  genggam yang baru saja saya aktifkan malam itu, tiba-tiba berbunyi.  Karena hanya teman-teman yang menelepon dan mengabarkan bahwa istri  saya sakit, saya tidak mempercayainya. Saya berpikir itu hanyalah upaya  untuk membuat saya segera pulang ke Surabaya. Tetapi tidak lama  kemudian, seorang tetangga kami, Dokter Hendro Gunawan, yang merawat  istri saya di rumah sakit, menelepon dan mengatakan bahwa istri saya sedang dirawat di rumah sakit, bahkan sekarang ini sedang ditangani  secara serius di ICU.

Setelah saya meyakini bahwa seorang dokter tak mungkin berbohong, maka saya segera membeli tiket pesawat untuk keberangkatan pada jam pertama besok pagi. Sesampainya di Surabaya, saya segera mencari istri saya ke rumah. Tetapi, saya tidak menemukannya sehingga saya segera menuju  rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, saya menemukan istri saya  sedang didoakan oleh beberapa orang pria. Sebenarnya, saya tidak  setuju dengan itu. Bahkan, hati saya sangat jengkel kepada mereka karena saya pikir cara itu tidak mungkin dapat membuat istri saya  sembuh dan sadar kembali.

Setelah didoakan oleh orang-orang tersebut, yang belakangan saya  ketahui bahwa mereka adalah anggota dari FGBMFI Surabaya, Kertajaya  Chapter, tak lama kemudian istri saya benar-benar sadar dan siuman.  Sejak saat itulah, istri saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Sejak hari itu pulalah, istri saya mendoakan saya secara  terus-menerus, agar saya bertobat dan berhenti dari narkoba.

Seminggu kemudian, ketika saya tetap meneruskan petualangan saya di  dunia remang-remang diskotek, sekitar pukul 01.00 pagi, saya sedang triping berat. Tetapi tiba-tiba, kepala saya berhenti bergeleng-geleng, seolah menginjak rem. Tiba-tiba saya merasakan kesepian yang luar biasa dan langsung teringat pada Tuhan Yesus yang belum pernah  saya kenal sebelumnya. Saya mengatakan kepada Tuhan bahwa jika saya  bisa berhenti dari ekstasi, sabu-sabu, dan obat-obatan lainnya, saya  akan bertobat dan menerima Dia masuk ke dalam hati saya. Saya akan  beribadah kepada-Nya di gereja.

Sekitar lima sampai sepuluh menit kemudian, saya melihat wajah orang-orang yang sedang menari di depan saya menjadi seperti hantu. Ada juga  yang berwajah polos dan hitam, seperti katak yang sedang melompat-lompat, atau seperti binatang yang seram, yang akan menerkam saya.

Ketika saya berdiri, saya melihat pelayan-pelayan yang sedang membawa nampan minuman, berjalan tanpa wajah. Ketika saya menengok ke kiri,  saya melihat beberapa pelayan perempuan yang membawa minuman tetapi  tidak berjalan, seperti melompat-lompat. Karena sangat ketakutan, saya  segera melarikan diri ke luar ruangan. Para satpam yang mencegat saya  terlihat bertanya-tanya, tetapi karena tak berani mengatakan bahwa  saya baru saja melihat setan, maka saya hanya mengatakan bahwa saya  sedang kurang sehat. Teman-teman yang menyusul saya ke luar ruangan  melihat bahwa wajah saya masih merah padam karena pengaruh obat. Jika  saya pulang dalam keadaan seperti itu, maka bisa dipastikan bahwa saya  akan over dosis, kemudian sesak napas, dan meninggal. Sejak saya  terikat dengan narkoba, istri dan anak-anak saya telah melarang saya  untuk menyetir sendiri. Tetapi malam itu, saya mengatakan kepada  teman-teman bahwa saya harus pulang saat itu juga.

Sesampainya di rumah, istri saya yang membukakan pintu. Sambil melihat wajah saya yang masih merah padam, ia menanyakan tentang kepulangan saya, yang kurang lebih pukul 01.30 itu. Saya menjelaskan peristiwa  yang saya alami dan janji yang saya ucapkan kepada Tuhan di diskotek  tadi. Dengan tidak percaya, istri saya mengatakan bahwa saya sudah  gila atau sedang mengalami paranoid. Biasanya, saya bisa fit selama  tiga sampai empat hari hanya dengan tidur selama satu hari karena  pengaruh obat. Tetapi pada subuh itu, saya langsung merebahkan diri di  tempat tidur dan terlelap.

Biasanya, sarapan pagi saya adalah sabu-sabu yang sudah siap untuk  diisap, tetapi pagi itu saya tidak ingin menghisapnya lagi. Sepanjang  hari itu, lebih dari lima kali saya keluar masuk karaoke untuk mengisap sabu-sabu, tetapi setiap kali saya berusaha melakukannya,  saya tidak ingin memakainya lagi. Biasanya, jika tidak mengkonsumsi  sabu-sabu dalam dua hari, badan saya akan terasa tidak enak dan tulang-tulang saya terasa sangat sakit. Tetapi anehnya, saat itu sudah  hari keempat saya tidak mengkonsumsi sabu-sabu dan badan saya tidak terasa sakit seperti biasanya.

Beberapa hari kemudian, istri saya mengajak saya pergi ke rumah sakit  untuk direhabilitasi (cuci darah-urin). Setelah disuntik dan diinfus,  saya tidak sadarkan diri selama tiga hari. Pada hari yang keempat,  saya mulai siuman, tetapi seperti terkena parkinson. Kaki dan tangan  saya tak berhenti bergetar.

Melihat keadaan saya yang seperti itu, keluarga membawa saya untuk diperiksa oleh dokter saraf dan psikiater. Setelah diberikan terapi  namun belum mendapat kesembuhan juga, pada akhir Desember 2000 saya  dibawa oleh anak dan istri saya berjalan-jalan ke Eropa. Sebenarnya,  saya tidak ingin ikut bersama mereka karena keadaan badan saya yang  belum sembuh. Tetapi karena mereka sudah membeli tiket dan saya tak  ingin mengecewakan mereka, akhirnya saya ikut juga. Pada hari pertama  tiba di Eropa, saya dibawa untuk melihat-lihat bangunan gereja. Saya  sempat menggerutu bahwa kalau hanya ingin melihat gereja, di Surabaya  pun banyak gereja dan bangunannya jauh lebih bagus daripada di situ.  Keesokan harinya, walaupun saya menggerutu, ketika mereka kembali  membawa saya melihat suatu gereja, saya ingin berlama-lama tinggal di  gereja itu. Setelah satu jam berlalu, istri dan anak-anak mengajak  saya keluar dari gereja itu. Karena masih ingin berada di gereja itu,  saya mengatakan kepada istri saya dan pemimpin rombongan untuk keluar terlebih dulu, dan saya akan menyusul mereka lima menit kemudian.  Dalam waktu lima menit itu, tiba-tiba Tuhan mengingatkan saya pada  janji yang saya ucapkan pada Tuhan, bahwa saya akan bertobat dan datang ke gereja.

Di dalam gereja itu, saya berjanji bahwa sepulangnya dari Eropa, saya  akan bertobat dan mau ke gereja. Saya juga mau dibaptis. Tiga sampai  empat hari kemudian, istri dan anak-anak saya mengatakan pada saya  bahwa badan saya sudah tidak bergetar-getar lagi. Saya menjawab mereka  bahwa Tuhan Yesus-lah yang telah menyembuhkan saya.

Saat berada di Surabaya, kami sekeluarga menyerahkan diri pada Kristus  dan telah dibaptis dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Seiring dengan  pertobatan tersebut, Dr. Hendro Gunawan dan kawan-kawan dari FGBMFI  Kertajaya Chapter Surabaya membimbing kerohanian saya. Dalam sebuah  outreach meeting, mereka mengajak saya untuk bergabung menjadi anggota  FGBMFI. Sekarang, bukan hati saya saja yang semakin dipenuhi dengan  sukacita dan damai sejahtera oleh Tuhan, melainkan bisnis dan keluarga  kami pun dipulihkan hingga bertambah harmonis.

Soedono Wijaya sekarang menjadi anggota FGBMFI Chapter Surabaya. Pengusaha otomotif dan garmen di Jasmin Jaya ini, bersama istrinya,  Christina Irani, serta anak-anaknya, Tommy W., Fera Carolina W., Hendry W., Denny W., dan Jeanifer Yasmin W., bergereja di Mawar Sharon Surabaya.

Diambil dari: Judul buletin: SUARA (Full Gospel Business Men`s VOICE Indonesia)