Jumat, 27 Januari 2017

KEKUATAN DUKUN TIDAK BISA MELAWAN KUASA TUHAN

Kesaksian Rohani Kristen Terbaru







Roh pedukunan kuasa kegelapan tidak bisa melawan kuasa Tuhan yang besar dalam diri orang yang percaya sama Tuhan Yesus. Seperti yang dialami oleh seorang istri yang bernama ibu Nuke Korompis.
Berikut kesaksian rohani nya yang luar biasa. Kiranya bisa memberkati kita yang membacanya 
Di tahun ke-7 pernikahannya, kesibukan suami pada pekerjaan dan pelayanan gereja membuat Nuke Korompis merasa diabaikan dan kesepian dalam hidupnya. Lantaran tak tahan lagi dengan kondisi itu, ia lalu terbujuk oleh ajakan teman untuk mengalihkan kembali perhatian suami terhadapnya melalui praktik ilmu hitam. “Saya berpikir mungkin masalah saya dapat dibereskan olehdukun itu, dan menjauhkan daripada pribadinya suami saya Benny dengan Tuhannya,” terang Nuke yang saat itu hanya ingin mengembalikan perhatian dan cinta Benny hanya kepadanya.


Pada awalnya ia jelas tak begitu saja percaya dengan kehebatan sang dukun, yang katanya telah banyak melayani kalangan pejabat dan artis. Melalui temannya, dukun pun segera membuktikan kehandalan yang dia miliki. “Bukan hanya untuk kekebalan, tetapi kamu akan semakin cantik, dan yang paling penting, suami kamu akan tunduk kepadamu. Apapun yang kamu mau,” terang si dukun. Saat menjalani ritual hitam itu, sang dukun terlebih dahulu menanyakan gambar dari sang suami. Tak ayal, tampak ekspresi ketakutan terpancar di wajah sang dukun. Bisa jadi, dia mengetahui bahwa sosok Benny adalah pribadi yang percayaTuhan dan tak akan mudah untuk ditaklukkan dengan ilmu yang dimilikinya. “Waktu saya perlihatkan fotonya, mimik mukanya berubah. Dan dia (dukun) ketakutan sekali melihat foto dari suami saya. Ritualnya dikasih mantra, terus saya juga dikasih telur. Lalu ditiupkan dan suaranya sangat gemuruh,” terang Nuke. Selain itu, sang dukun bahkan memberikan benda-benda keramat dan jimat untuk mempraktikkan ilmu hitamnya kepada Benny. Baik melalui minuman, air mandi, dan gerak gerik Benny diawasi dengan mantra dan jimat-jimat sang dukun. "Saya nggak tahu dia (Nuke) punya tujuan yang jauh untuk supaya saya ikut pribadinya dia. Yang dimana saya sedih (dengan) perbuatan dia. Bagi saya, saya percaya kuasa Tuhan lebih besar daripada kuasa dunia. Jadi saya jalani aja. Sekalipun saya tahu, saya punya perasaan juga jadi begitu suasananya? Tapi ya, Tuhanselalu beri ketenangan jiwa saya,” ucap Benny menjelaskan. Hari demi hari, Nuke kerap menjalankan ritual ilmu hitamnya sesuai dengan perintah sang dukun. Namun ia mulai kecewa karena merasa tak ada perubahan sama sekali dengan suaminya.


Benny tetap saja melakukan kebiasaan-kebiasaan sehari-hari bahkan perhatian lebih yang didambakan Nuke tetap saja tak terjadi. Pada akhirnya, Nuke mulai lepas kendali. Dengan jujur dia mulai menuntut perhatian Benny saat sang suami tengah dalam tuntutan pekerjaan yang banyak. Konflik emosi yang biasanya terjadi diantara suami istri pun tertumpah saat itu. Nuke tetap mendesak Benny untuk memberi perhatian dan memilih untuk meninggalkan Tuhan dan mengancam akan tetap bercerai jika tidak menuruti kehendaknya. “Saya tidak akan pernah tinggalkan Tuhan sekalipun istri saya menyampaikan untuk minta cerai,” jelas Benny. Nuke pun berada dalam posisi yang serba salah. Ia menyadari bahwa sang suami tidak akan pernah takut dengan ancaman perceraian itu. Tanpa disadarinya, ilmu perdukunan yang dijalani Nuke pada akhirnya membelenggu hidupnya. Ia merasakan sakit yang tak tertahankan di dalam tubuhnya. Timbul rasa panas yang membara di dalam tubuhnya. Saat itu, ia tak lagi berpikir tentang apapun selain meminta pertolongan dari sang dukun. “Badan saya merasakan panas sekali. Melihat punggung itu membara. Sepetinya di dalam tubuh saya ini bukan saya lagi. Tubuh saya ini seperti ada kuasa kegelapan. Saya tidak mempunyai dosa apa-apa tapi kenapa tubuh saya ini sepertinya menakutkan bagi pribadi saya. Saya merasa sedih sekali”. Rasa sakit itupun tak kunjung hilang meski telah diberikan beragam benda-benda keramat dan jimat. Karena kuasa kegelapan dan roh-roh jahat sudah membelenggu tubuh Nuke. Di dalam ketidaksadarannya, ia mengalami mimpi yang tak pernah ia alami sebelumnya. “Tiba-tiba waktu itu ada suara begitu lemah lembut. Perkataan yang mendorong kepada pribadi saya. Dia katakan seperti ini,'Kamu mau sembuh Nuke didalam penyakitmu yang diderita. Kamu mau dilepaskan di dalam kehidupanmu, derita, sakit penyakit. Aku adalah jawabannya. Sesungguhnya melalui doa suamimu, maka engkau akan disembuhkan. Sesungguhnya melalui doa suamimu maka engkau akan dilepaskan dari pada penderitaan yang sekarang ini.',” ucap Nuke. Nuke pun segera meminta Benny datang menjemputnya. Saat itu pula ia meminta maaf kepada sang suami dan meminta berdoa untuk kesembuhannya. “Saya telepon ibu saya, kakak-kakak saya. Dia datang, dari situ berdoa terus ‘aku berserah, aku berserah…’. Dan memang luar biasa, dari jam sembilan malam sampai jam sembilan pagi kuasa-kuasa kegelapan, kuasa-kuasa iblis itu keluar dari tubuhnya. Dan dia menerima keselamatan dari Tuhan. Mulai saat itu hidupnya bukan dia lagi, hidupnya menjadi hidup yang baru di dalam Tuhan,” ucap Benny menceritakan masa lalu itu. Pemulihan itu membuat hidup Nuke menjadi baru. Nuke dan Benny hidup dalam suka cita dan kebahagiaan hingga saat ini. Tuhan Yesus memberi jawaban atas doa-doa Benny selama itu. Jika awalnya Nuke mencoba untuk mengancam Benny melepaskan Tuhanyang dia sembah, saat itu Nuke justru mengalami keselamatan dalam Yesus.

Sumber: Jawaban.com

Senin, 23 Januari 2017

PERTOLONGAN TUHAN TEPAT PADA WAKTUNYA

Melayani Tuhan adalah hal yang terindah dalam hidup ini, sebuah panggilan yang sangat Istimewa bagi yang mau meresponinya. 

Nama saya Kapry Arni Diana Pethan, biasanya disapa Dian, umurku sudah  26 Tahun.
Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan Yesus yang adalah Tuhan dan Juruslamat hidupku  yang telah memilih dan memperlengkapiku untuk melayaniNya. Sebelum saya diperlengkapi di Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia, saya sudah aktif dalam pelayanan, bersama dengan Persekutuan Doa Tiga bersaudara dari Penkase-Oeleta. Pelayanan yang sering kami lakukan yaitu mengadakan  KKR ke gereja-gereja GMIT yang berada di NTT ini, Rote, sabu, sumba, semau, amfoang dan tempat-tempat lain.

Saya sadar bahwa melayani Tuhan jauh lebih efektif bila saya betul-betul memahami Alitab, yang adalah dasar orang Kristen. Namun ketika saya ingin untuk melanjutkan studi saya, saya merasa ini sesuatu hal yang sangat mustahil. Karena untuk masuk dalam satu Univertitas tentunya membutuhkan banyak biaya. Sedangkan saya sadar betul kondisi keluarga saya.

Saya adalah anak ke-6 dari 5 bersaudara. Papa saya meninggal dunia ketika saya berumur 1 tahun. Sedangkan mamaku bekerja sebagai tani dengan penghasilan yang tidak menentu. Dengan kondisi seperti ini, maka saya menguburkan dalam-dalam semua cita-cita saya.
Puji Tuhan, pada tahun 2009 saya bertemu dengan bapa Nehimia soru dan mama Margereta Soru-nge, yang adalah bapa besar saya sendiri. Saya tinggal bersama dengan keluarga ini, dan saya dibiayai untuk bisa kuliah.

Kini saya sadar bahwa jika Tuhan yang memilih saya untuk melayaniNya maka Dia akan bertanggungjawab atas hidupku. Tanpa kusadari skarang saya sudah skripsi. Wah luar biasa kasih Tuhan dalam hidup ku.   

Di akhir kesaksian ini saya mohon dukungan doa supaya tepat waktu Tuhan saya bisa diwisudakan. Amin!!!!!!!!!.
God bless You.

Sumber : kaprydiana.blogspot.co.id

Kamis, 19 Januari 2017

NYARIS AKU BUNUH DIRI

“Saya melihat anak saya yang nomor tiga itu nggak bisa…nyuapin pun saya nggak bisa. Nyuapin salah-salah terus, ke telinga, ke mata…saya sering nyuapi sembari menangis…sedih karena nggak bisa nyuapin sendiri…”
Semasa kecil, Endang pernah terjatuh dari ketinggian dengan cukup keras. Dan karena kejadian itu, semakin Endang beranjak dewasa penglihatannya semakin menurun. Puncaknya ialah ketika Endang menikah dan mempunyai anak.
“… setiap kali saya melahirkan, maka makin bertambah menurun penglihatan saya. Tapi kesepakatan saya dan suami saya, namanya perkawinan kan ingin punya anak dan bahagia. Jadi hal-hal itu sudah kami sepakati, tidak apa-apa lah…”
Karena takut terjadi sesuatu, Endang kembali memeriksakan matanya ke dokter.
“Tapi saya dinasehati dokter itu bahwa suatu saat saya akan kehilangan penglihatan saya. Dan dokter itu mengatakan kepada saya bahwa saya tidak boleh berpikir hanya dengan emosi, dengan pikiran dan dengan perasaan saja, tapi saya harus juga berpikir peka dan nyata. “Ibu mulai dari sekarang harus mulai belajar huruf braile” katanya”.
Adalah kabar yang sangat mengejutkan bagi seorang ibu yang ketika itu harus membesarkan anak-anaknya yang masih kecil.
“Yang terlintas di pikiran saya ialah aduh, bagaimana nanti kalau saya buta? Saya bisa berbuat apa? Aduh saya bakal ngerepotin orang banyak, saya bakal ngerepotin saudara, aduh nanti suami saya sudah nggak mau lagi dengan saya…
aduh dia pasti nanti dengan orang lain dan ninggalin saya. Pokoknya hal-hal yang mencemaskan dan membuat saya kuatir dan putus asa dan membuat saya merasa saya tidak berguna lagi. Saya ketakutan sekali dan saya sangat minder, mider sekali… Saya sering diejek dan dicemooh orang… kalau di pesta misalnya saya sering makan keliru atau makan berantakan… suka ada yang cekikikan dan ketawa… saya malu!”.

Perasaan depresi yang begitu dalam mengisi hari-hari Endang, hingga suatu hari dengan pikiran yang kalut Endang mencoba mengakhiri hidupnya….Ketika silet hendak menyayat tangannya, tiba-tiba Theresia, anak Endang yang kedua menangis karena rebutan mainan dengan kakaknya. Endang tersentak dan segera lari keluar kamar menghampiri anaknya.
“Saya mendengar jeritannya, dan saya buang silet itu. Anak saya saya tubruk, saya menangis sejadi-jadinya dan saya mohon ampun sama Tuhan. Hampir saja saya melakukan kebodohan itu…”
“Beberapa minggu kemudian saya diajak melayat karena ada tetangga saya yang meninggal dunia, seorang ibu. Terus anaknya yang kira-kira umur tiga tahun datang ke jenasah itu dan jenasah itu digoyang-goyang sambil teriak-teriak “mak.. bangun mak…” berkali-kali. Saya semakin menangis dan semakin saya sadar bahwa bagaimanapun seorang ibu masih dibutuhkan oleh anak-anaknya”.
Motivasi dari teman-teman sangat membantu bagi pemulihan Endang. Lewat dukungan dari keluarga dan teman itulah semangat hidup Endang bangkit kembali. Kini sebagai tuna netra, Endang bisa menikmati hidupnya bersama orang-orang tercinta.
“Ya, walaupun saya nggak bisa sembuh secara kenyataan, tapi saya tidak menyesali…”
Anak Endang, Theresia juga memiliki perasaan yang sama: “Saya tidak pernah punya perasaan malu atau minder dengan keadaan ibu. Saya justru merasa bangga karena memiliki seorang ibu yang begitu kuat dan tabah dalam menghadapi kekurangannya itu, untuk menghadapi hidupnya”
Endangpun bersyukur. “Tuhan telah menganugerahkan suami yang terbaik bagi saya dan ayah yang baik bagi anak-anak saya dan anak-anak yang sangat baik bagi saya. Saya sungguh bersyukur. Dan saya juga bersyukur diberi teman-teman, sahabat. Semua telah diberikan kepada saya. Saya bersyukur sekali. Saya sungguh bersyukur….Saya sungguh berterimakasih kepada Tuhan. Tuhan begitu mengasihi saya”.
Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Mazmur 136:2
Sumber Kesaksian:
Endang (jawaban.com)

Minggu, 15 Januari 2017

LAHIR SEBAGAI TUNA RUNGU

Waktu aku masih kecil, berbaur sama dengan teman-teman yang bisa mendengar. Aku lihat teman-teman bisa ngomong terlalu cepat. Aku cuma bisa diam, nggak bisa sama mereka….
Orang tua Shianne mengingat masa ketika putrinya masih kecil. Waktu suami istri itu tengah bermain bertiga dengan putri mereka. Saat itu ada hujan deras yang diiringi halilintar yang begitu besar. Pintu depan tiba-tiba tertutup karena angin yang membuat suami istri itu begitu kaget dibuatnya. Tapi Shianne tidak kaget sama sekali. Ia diam saja. Dari situ mereka mulai curiga…
Dokter mengatakan bahwa Shianne tidak bisa diobati sehingga akhirnya iapun disekolahkan di SLB B Pangudi Luhur. Disana, ia dan anak-anak tuna rungu lainnya diajarkan untk berkomunikasi dengan membaca gerakan bibir. Prestasi Shianne sama sekali tidak mengecewakan. Beberapa prestasi pernah ia capai, antara lain dalam bidang olahraga. Kepala Sekolah, Bapak Anton M. Fic ikut mengkonfirmasi bahwa Shianne adalah seorang pemain basket yang tangguh, dan seorang juara lari nasional dan tingkat DKI.
Aku ingin mencari pengalaman atau wawasan lebih luas lagi, ke sekolah umum. Soalnya kalau sekolah SLB B, bisa cuma itu saja, tidak bisa berkembang karena bergaul sama teman-teman tuna rungu. Kalau sekolah umum, bisa bergaul sama semuanya.
Hal itu terwujud bagi Shianne. Namun saat ia baru masuk SLTP di sekolah umum, Shianne tidak hanya harus belajar mengatasi hambatan saat harus menerima pelajaran, tapi juga hambatan dalam pergaulan.
Saat aku berkumpul sama teman-teman yang bisa mendengar, mereka sangat sering melupakan aku, meninggalkan aku. Mereka ngomong terus, bercanda. Aku tidak mengerti apa yang mereka omong. Aku diam saja, sedih. Aku bertanya sama Tuhan, kenapa aku dilahirkan tuna rungu? Yang lain bisa mendengar…..kenapa terjadi kepada aku, bukan sama orang lain? Kenapa harus aku? Aku iri sama teman-teman, bisa bermain, bisa ngobrol.
Demi kepentingan anaknya, ibunda Shianne meminta putrinya untuk tidak perlu kuliah. Karena banyak sarjana yang menganggur. Apalagi seorang anak tuna rungu yang cacat. Ibunya menyarankan untuk ikut kursus biasa saja. Tapi Shianne berpikiran lain.
Aku tidak berminat, karena aku tidak mau disamakan kebanyakan teman-teman tuna rungu, kursus. Pokoknya aku ingin sama seperti teman-teman yang bisa mendengar, bisa kuliah. Aku ingin membuktikan diri apakah aku bisa seperti mereka. Aku pernah baca Alkitab, ada mujizat. Mungkin bisa terjadi kepada aku tapi tidak tahu kapan waktunya. Tapi aku menunggu jawaban dari Tuhan, sampai kapan aku mendengar.
Saat ini, dengan bakat dan tekad yang ada padanya, Shianne kuliah di Jurusan Design Interior di salah satu universitas swasta di Jakarta. Walaupun masih harus beradaptasi, namun berkat usahanya, serta dukungan keluarga dan teman-temannya, Shianne dapat mencapai prestasi yang cukup tinggi.
Terimakasih Tuhan sudah memberi jalan yang benar saya dan beberapa rencana yang tidak terduga. Terimakasih Tuhan sudah memberi orang tua yang baik, sayang sama aku. Dan teman-teman yang mau berteman sama saya.
Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang Amsal 24:14
Sumber Kesaksian:
Shianne Tugiman (jawaban.com)

Rabu, 11 Januari 2017

MISTERI ANAK TANPA AYAH

Bertahun-tahun ia hidup tanpa tahu siapa ayahnya. Bahkan sewaktu kecil, banyak orang sering melontarkan hinaan bahwa ia anak haram. Teman-temannya pun tak jarang mengejek dan mengucilkannya, hingga perkelahianpun tak terelakkan. Ia tumbuh dalam kesusahan, kekecewaan dan kekerasan. Baru tiga puluh tahun kemudian, Jarwo Yosafat akhirnya mengetahui misteri penyebab kehadirannya didunia ini.
Sewaktu kecil, berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya tentang keberadaan ayahnya. Namun sang ibu tak pernah menjawab dengan gamblang, siapa sebenarnya ayah dari Jarwo. Rasa malu, terhina, dan marah karena berbagai hinaan yang diterimanya, membuat Jarwo menyimpan kekecewaan yang dalam pada sang ibu. “Ketika saya tanyakan kepada Mak’e, selalu saja dijawab: Tuhan yang tahu, kamu itu bukan anak haram, bapak kamu ada di Jakarta. Kami telah menikah secara resmi, dan surat-suratnya ada semua. Hanya Mak’e saja yang tidak mau tinggal di Jakarta,” ungkap Jarwo.
Rasa penasaran harus dipendam oleh Jarwo dan tetap menjadi sebuah misteri. Hingga suatu saat seorang pria hadir dalam kehidupan Suciati, ibunda Jarwo. Pria itu melakukan pernikahan dibawah tangan dengan Suciyati, namun setelah itu, bapak tiri Jarwo pergi meninggalkan mereka demi wanita lain. Tak lama kemudian lahirlah seorang bayi perempuan, buah cinta Suciati dan ayah tiri Jarwo. Namun hinaan dan makian dari sanak saudara harus ditanggung kembali oleh Suciyati. Apa lagi selepas melahirkan, Suciati tak bisa bekerja untuk menopang kehidupan mereka. Sanak saudara ibunya yang tak lagi memiliki belas kasihan, membuat Jarwo harus rela berhenti bersekolah dan menggantikan ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue.
“Sewaktu adiknya baru berumur dua bulan, saya kan tidak bisa berjualan untuk mencari makan. Jadi Jarwo yang jualan untuk makan kami. Lalu guru Jarwo memanggil saya, menanyakan mengapa Jarwo tidak lagi bersekolah. Saya mengatakan bahwa, untuk makan sehari-hari saja kami susah apa lagi harus membayar sekolah anak, saya tidak mampu,” Demikian penuturan ibu Suciati dengan mata berkaca-kaca. Demi ibu dan adiknya, Jarwo rela mengubur impiannya untuk bisa kembali bersekolah. Hingga suatu saat, seseorang datang dengan membawa sebuah harapan. Pada saat itu, Pak Marsono datang dan menawarkan Jarwo untuk bisa kembali meneruskan sekolahnya, namun dengan syarat Jarwo harus tinggal di panti asuhan. Dengan berat hati, Jarwo harus meninggalkan adik dan juga ibunya. Sang ibu pun merasa begitu berat harus berpisah dengan anak laki-laki yang sangat dikasihinya itu.
“Saya sebenarnya ingin sekali sekolah. Tapi pada satu sisi saya tidak rela meninggalkan ibu dan adik saya hidup menderita. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap mencari uang untuk membantu mereka, dengan cara menerobos peraturan panti asuhan. Pada jam istirahat siang, sewaktu seharusnya tidur siang atau melakukan kegiatan lain, diam-diam saya pergi untuk mencari uang dengan mengamen, menjual koran, dan banyak hal lain. Uang itu saya berikan kepada ibu saya untuk beli beras, dan kebutuhan hidup lainnya.” Tak peduli siang atau malam, bahkan kerasnya dunia jalanan tidak mematahkan semangat Jarwo untuk mencari uang demi adik dan ibunya. Hingga suatu saat Jarwo harus menghadapi sebuah pengalaman buruk.
“Ada ketua genk yang menguasai daerah dimana saya ngamen saat itu yang memeras saya. Karena sering diminta setoran, membuat saya berpikir, kalau begini saya akan terus menderita.” Tidak mau terus ditindas dan harus menyetorkan hasil kerja kerasnya, membuat Jarwo memutuskan untuk mempelajari bela diri dengan sungguh-sungguh. Tekad Jarwo sudah bulat, bahwa bela diri adalah satu-satunya jalan keluar. Namun secara tidak disadarinya, keberanian dan kekerasan yang ia pupuk membawanya kepada dunia kejahatan. “Semakin banyak saya mengalahkan orang, semangat dan kepercayaan diri saya semakin tinggi. Saya semakin tidak takut dengan orang.”
Pada suatu saat, Jarwo dan temannya Aji mengamen di Semarang. Tetapi keinginan memiliki sandal bermerek yang cukup mahal saat itu, membuatnya memberanikan diri untuk mencuri di salah satu rumah dimana mereka mengamen. Namun rupanya hal tersebut diketahui oleh sang pemilik rumah. Keduanya dikejar, ditangkap bahkan dijebloskan kedalam penjara. Jarwo harus mendekam dipenjara selama tiga bulan, dan membuatnya benar-benar merasa terpisah dengan ibunya. Hal itu akhinya membuat Jarwo dikeluarkan dari panti asuhan.
Namun ada hal yang tidak disadari oleh Jarwo, kekecewaan dan kekerasan yang disimpannya sejak kecil terus terbawa hingga ia dewasa. Bahkan hingga ia menikah dan dikarunia dua anak, tabiat Jarwo tidak juga berubah. “Sikap saya dulu seperti preman saja. Ada orang yang bicara kasar sedikit saja, sudah saya anggap menantang saya.” Suatu hari karena suatu perkara, Jarwo bersitegang dengan tetangganya. Namun tetangganya itu tidak bisa lagi membiarkan sikap Jarwo yang kasar tersebut. Dengan memanggil teman-teman sekampungnya, tetangga Jarwo mempersiapkan sebuah rencana untuk memberikan pelajaran kepada Jarwo. Melihat gelagat buruk tersebut, Jarwo buru-buru pergi meninggalkan rumah. “Melihat banyak orang datang kerumah tetangga saya, buru-buru saya pergi ke pabrik tempat saya bekerja.” Namun dalam perjalanan, Jarwo diculik dan dipukuli habis-habisan oleh tetangga dan teman-temannya itu. Ketika nyawanya diujung maut, Jarwo diingatkan pada sebuah kejadian.
Waktu itu Jarwo baru pulang kerja, dan ia meminta istrinya untuk dibuatkan teh. Namun sang istri menjawab bahwa tidak ada teh dan gula, sekalipun ada itu pun milik ibu Suciati. Merasa tersinggung, dengan kemarahan yang menyala-nyala Jarwo mengusir ibu dan adiknya untuk keluar dari rumahnya. Bahkan di depan mata ibu dan adiknya, peralatan yang digunakan ibunya untuk berjualan bubur untuk mencari tambahan sedikit uang dibakar oleh Jarwo. Hati dan perasaan ibunya seperti disayat-sayat, namun jauh didalam hatinya dia tidak ingin membenci anaknya itu. Akhirnya ibu Suciati dan Puji, adik Jarwo pergi meninggalkan rumah itu.
“Sewaktu saya tahu, mak’e dan adik saya Puji pergi dan tidak kembali, saya merasa sangat menyesal. Saya tidak rela ibu saya pergi, tapi saya merasa kecewa, karena hingga setua ini saya belum pernah dipertemukan dengah ayah saya.”
Kedurhakaan pada sang ibu, diperlihatkan dengan jelas sewaktu Jarwo dipukuli hingga babak belur. Setelah puas memukulinya, Jarwo diserahkan oleh para penculiknya kepada polisi. Kemudian polisi memperbolehkannya untuk pulang. Namun kesalahan yang telah diperbuat pada ibunya terus membayanginya. Di tengah kegalauannya, seorang teman memperkenalkannya pada seorang hamba Tuhan yang menuntunnya pada pertobatan dan mengalami pengampunan dari Tuhan.
“Pada waktu itu, Kak Lina, hamba Tuhan itu berkata: Tuhan tidak pernah lagi mengingat-ingat lagi masa lalu kamu, dosa kamu. Tuhan tidak pernah mengingat-ingat lagi, sepanjang kamu mau bertobat. Saat itu rasanya seperti disambar petir, saya disadarkan. Ayat-ayat firman Tuhan yang ditunjukkan Kak Lina meneguhkan saya untuk bertobat. Mulai dari situ, saya sungguh-sungguh bertobat.”
Namun ujian kembali datang, Christy, anak pertama Jarwo mengalami kecelakaan dan harus dioperasi. Saat itu Jarwo meminta ibunya datang untuk mendoakan anaknya. “Ketika saya butuhkan, Mak’e pun datang. Meskipun sering saya sakiti hatinya, namun seperti tak pernah jera dan tanpa dendam, Mak’e datang dan berdoa bagi anak saya.” Sebuah mujizat terjadi, Christy sadar dan kondisinya mulai membaik. Lewat kesembuhan Christy tersebut, Tuhan menegur Jarwo atas kesalahan yang pernah diperbuatnya pada sang ibu. Dalam sebuah ibadah ucapan syukur, Jarwo menyatakan penyesalannya atas semua yang pernah dilakukannya dan meminta maaf pada sang ibu. “Rasanya plong… Pada saat itu saya sangat bersyukur. Puji Tuhan, anak saya bisa ingat dan punya kasih pada orangtuanya.”
Sebenarnya, rahasia apa yang terjadi dibalik kelahiran Jarwo? Sebuah kenyataan pahit harus ditanggung Suciati selama bertahun-tahun. Semua itu bermula sewaktu Suciati bekerja sebagai pembantu di Jakarta, sebuah peristiwa menghancurkan kehidupannya. Suatu malam, anak majikan dimana dia bekerja membekap dan memperkosanya. Kesuciannya terengut, dan ia pun hamil mengandung Jarwo. Hari demi hari dilewati dengan tangisan dan kegalauan. Tak dapat dibayangkan bagaimana respon orangtua dan saudara-saudaranya di kampung jika mengetahui semua kenyataan pahit ini.
Dengan dibekali surat dari orang tua majikannya yang menyatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas anak tersebut, Suciati dipulangkan ke kampungnya. Suciati pulang ke rumah dengan penuh harap mendapat penghiburan dan dukungan dari orang tua dan saudaranya, namun hinaan yang dia terima. Dianggap telah berbuat zinah seperti perempuan jalanan, keluarganya mengucilkan Suciati dan anaknya. Satu hal yang dipegangnya, janji sang majikan yang tak pernah terwujud. “Anak saya wajahnya itu persis seperti bapaknya, tapi saya tidak merasa benci setiap kali melihatnya. Hanya saya sedih, jika saja anak saya ada bapaknya pasti dia tidak menderita seperti ini. Saya juga tidak berani mengatakan dengan jujur bahwa saya diperkosa oleh bapaknya, karena saya takut dia marah dan memukul saya, lalu dia meninggalkan saya. Saya takut sekali kehilangan Jarwo.” Demikian penuturan ibu Suciati kepada Solusi.
Namun kasih Tuhan telah memulihkan kehidupan Jarwo, demikian pengakuannya, “Saya sangat mengasihi Mak’e. Saya rindu untuk membahagiakan Mak’e. Saya sudah tidak mempersalahkan Mak’e lagi. Bahkan jika Tuhan ijinkan saya bertemu dengan bapak saya, dengan tulus saya mengampuni bapak saya. Jika dia mau terima, saya mau mengakui dia sebagai bapak saya. Bahkan jika dia menolak saya, saya tetap mau menerima dia sebagai bapak saya.” Demikianlah karya Tuhan yang sempurna memulihkan seorang anak bernama Jarwo Yosafat, tak ada lagi kekecewaan ataupun amarah.
“Saya merasakan sukacita saat ini, karena Tuhan memulihkan keluarga saya. Saya tahu bahwa saya berharga dimata Tuhan, demikian juga dengan keluarga saya. Tuhan memberkati keluarga saya. Sehingga kebahagiaan saya menjadi penuh. Saya yakin, sepanjang hidup saya, saya bukan hanya keluar sebagai seorang pemenang, tetapi lebih dari pemenang.” Demikian Jarwo menutup kesaksiannya dengan penuh senyum.
Sumber kesaksian:
Jarwo Yosafat (jawaban.com)

Sabtu, 07 Januari 2017

BILLY GLENN : ARTIS PECANDU NARKOBA

Aku lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat pada Kristus. Sejak kecil aku rajin ke gereja dan ibuku selalu menanamkan dasar-dasar iman Kristus kepadaku.
Tahun 1995, pada suatu kesempatan yang luar biasa, aku mengikuti sebuah ajang pemilihan top model di Bandung. Selama proses audisi, aku selalu berdoa pada Tuhan meminta agar aku keluar sebagai pemenangnya. Dan ternyata Tuhan memang baik, Ia menjawab doaku. Aku terpilih menjadi juara pertama. Setelah memenangkan ajang tersebut, kesempatanku untuk masuk ke dunia model semakin besar. Perjalanan karierku sebagai seorang model berjalan dengan sangat lancar. Aku percaya bahwa ini semua berkat pertolongan Tuhan dan aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Karierku semakin berkembang, banyak job dari Jakarta. Situasi ini membuatku memutuskan untuk tinggal di sana saja.
Meraih Kesuksesan
Ternyata di Jakarta karierku berkembang dengan sangat baik. Bahkan aku mulai memasuki dunia akting sinetron. Dengan berbekal pengalaman di bidang taekwondo yang sejak kecil digeluti, aku berhasil menapaki dunia akting dengan peran pertamaku sebagai peran pembantu utama. Aku pun berhasil mendapatkan peran dalam film layar lebar yang sangat terkenal saat itu, Ca Bau Kan. Disaat teman-temanku harus berjuang keras dalam dunia entertainment ini, jalanku justru sangat mulus. Aku sangat merasakan kemurahan Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Tahun 2002, aku mendapat peran utama dalam sebuah sinetron yang terkenal. Saat itulah aku meraih titik puncak kesuksesanku dan mendapatkan kontrak yang bernilai sangat besar.
Melupakan Tuhan
Namun, kemurahan Tuhan dan kesuksesanku itu justru membuatku semakin menjauh dari Tuhan. Kesibukanku justru membuatku tidak memiliki waktu untuk berdoa dan mendekat padaNya. Aku mulai merasa mampu hidup tanpa Dia. Aku benar-benar membuang Tuhan jauh-jauh dari hidupku. Saat itulah, kuasa kegelapan mulai masuk dalam hidupku. Aku mulai terbawa arus pergaulan yang buruk. Diskotik, minuman keras, bahkan jenis narkoba seperti extacy, ganja, kokain, dan shabu-shabu selalu ada di setiap hari-hariku. Honor dari pekerjaanku itu kuhabiskan untuk berfoya-foya sehingga aku pun terjerumus dalam pergaulan seks bebas.
Tertangkap Polisi
September 2002, aku tertangkap polisi. Ketika baru saja pulang dari syuting sebuah sinetron, aku meminta temanku untuk membelikan sejenis narkoba. Polisi ternyata telah mengincar temanku itu sehingga ia tidak bisa melarikan diri lagi. Setelah ditangkap, atas pengakuannya polisi memintanya untuk menjebakku. Seperti yang telah mereka rencanakan, akhirnya aku pun ditangkap dan harus menjalani masa tahanan selama 8 bulan. Dalam situasi ini kesombongan masih kuat menguasaiku sehingga aku tidak menyadari kesalahan, sebaliknya malah selalu mempersalahkan Tuhan. Sebagai seorang artis yang sudah dikenal, aku sering menerima pujian. Tetapi semuanya berubah menjadi hinaan karena tindakan kriminalku ini. Walaupun aku tahu bahwa narkoba itu tidak baik bagi masa depanku, tetapi keterikatanku dengan obat jahat itu membuatku terus mengkonsumsinya sekalipun berada dalam penjara.
Bebas dan Tertangkap Lagi
Setelah masa 8 bulan tahanan itu selesai, aku kembali mulai merintis karierku di dunia sinetron. Namun kesombongan itu tetap mengendalikan pikiranku. Aku sama sekali tidak tergerak untuk bertobat, justru semakin kecanduan dengan obat-obatan. Akhirnya, aku boleh dikatakan menjadi lebih bodoh dari orang bodoh…karena orang bodoh pun tidak akan masuk ke lubang yang sama. Pukul 12 malam itu, ketika sedang berpesta drugs di sebuah tempat di kota Bekasi, bersama teman-teman pecandu, polisi pun mengetahui aksi kami ini dan kami pun digelandang ke tahanan setempat. Aku harus mendekam lagi selama 7 bulan di penjara Bulak Kapal Bekasi.
Ingat Tuhan?
Dalam penjara, pengalaman memalukan ini membuatku merenungkan kasih Tuhan yang besar dalam hidupku. Di saat aku meninggalkanNya, Ia tidak membiarkanku terjebak terus-menerus dalam jurang dosa, justru berusaha menegurku bahkan sampai 2 kali agar aku berbalik kembali kepada jalanNya. Akupun teringat tulisan dalam Wahyu 3: 9 yang mengatakan “Barangsiapa Kukasihi, ia kuhajar. Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Aku langsung menangis histeris dan menyadari bahwa Tuhan begitu baik bagiku. Walaupun aku telah menjauh dariNya, bahkan seringkali menyalahkanNya, namun Ia tidak pernah meninggalkanku dan tetap mengakuiku sebagai anakNya. Ia ingin agar aku bertobat sebelum semuanya terlambat. “Tuhan, Engkau sangat baik bagiku. Kau tidak membiarkanku tenggelam dalam lumpur dosa. Kau tidak membiarkan narkoba itu merenggut nyawaku dan membawaku ke dalam kematian. Terima kasih untuk kesempatan ini. Aku ingin menjadi hambaMu yang taat dan setia di dalam Engkau…” Saat itu aku benar-benar bertobat. Yang berbeda dalam masa tahananku kali ini ialah, sebelumnya aku ditahan dengan rasa kekuatiran dan kemarahan, namun kali ini aku lebih banyak mengucap syukur dan berusaha untuk menjalani dengan sukacita hari-hari dalam tahanan itu sampai akhirnya, 31 Desember 2005, aku selesai menjalani masa tahananku.
Titik balik kehidupanku
1 Januari 2006, hari yang paling bersejarah untukku karena hari itu aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan Tuhan Yesus yang akan terus menuntunku dalam tiap langkahku. “Tuhan, ajar aku melakukan segala yang Kau inginkan untuk aku jalani dalam hidupku ini…” pintaku kepadaNya.
Sebagai jawaban doaku, Ia menempatkanku dalam sebuah komunitas rohani di daerah Kelapa Gading. Dan aku juga kembali memulai karierku di dunia entertainment dengan cara hidupku yang baru dalam Kristus. Aku juga ambil bagian dalam pelayanan untuk menyaksikan betapa besar kasihNya bagiku karena Ia telah menghajar dan menegurku saat aku hampir tenggelam dalam lembah maut demi menyelamatkan hidupku. Lingkungan pergaulanku yang baru ini juga membuatku merasa sangat damai dan tentram. Ada sukacita yang kurasakan dalam hari-hariku, yang tidak pernah kurasakan sebelumnya ketika aku masih hidup dalam kenikmatan dunia. Hal yang membanggakan bagiku ialah, melalui pertobatan dan pemulihanku ini, ayahku yang dulu belum sungguh-sungguh di dalam Tuhan kini mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen sejati.
Sumber Kesaksian :
Billy Glen (jawaban.com)

Selasa, 03 Januari 2017

LINDIAWATI : TERLEPAS DARI IKATAN ILMU GAIB


Dilahirkan dalam sebuah keluarga keturunan dukun, sejak umur 3 tahun Lindiawati memiliki kemampuan yang tidak lazim. Lindiawati memiliki kemampuan supranatural dan ia mulai melihat hal-hal yang gaib.

Suatu sore Lindiawati yang sedang disuapi makan oleh kakaknya di teras rumah mereka melihat seorang nenek berbaju hijau memegang sebuah batok dan tongkat berjalan dan masuk ke dalam pohon. Pohon itu memang berlubang tengahnya. Saat Lindiawati mengatakan kepada kakanya apa yang baru saja dilihatnya, kakakLindiawati lari ketakutan.

Peristiwa-peristiwa mistis sering dialami Lindiawatisampai ia dewasa. Bahkan dirinya sering bermimpi aneh. Saat Lindiawati menceritakan perihal mimpi-mimpinya kepada kakaknya, kakak Lindiawati malah mengatakan kalau dirinya sudah dipelet. Kakaknya pun mengajakLindiawati pergi ke orang pintar dan diisi dengan ilmu yang bisa mengimbangi peletannya.

Lindiawati dibekali ilmu untuk memagari diri. Tanpa disadari, ia memperhambakan dirinya kepada setan. Saat mengikuti ritual itu, kepala Lindiawati dan dua kakak iparnya ditutupi dengan kain tujuh warna. Lalu di hadapan mereka ada tujuh macam minuman, tujuh macam kembang, tujuh macam kue dan tujuh macam air sumur. Kemudian Lindiawati diminta mengikuti ucapan dukun itu membaca mantera. Sesudah membaca mantera, Lindiawati disuruh minum air kembang dan ditiup. Setelah acara ritual itu selesai, dukun itu meminta Lindiawati untuk megulurkan tangannya. Laludukun itu kemudian mengayunkan golok ke tangan Lindiawati dan memang senjata itu hanya meninggalkan garis merah saja di tangannya.

Semenjak saat itu, emosi Lindiawati menjadi tidak terkontrol. Bahkan hal itu berpengaruh terhadap hidup pernikahannya yang selalu diwarnai pertengkaran. Temperamen Lindiawati memang sangat tinggi. Hal kecil yang diributkan dalam rumah tangganya pun bisa menjadi sesuatu yang besar. Kelihatannya Lindiawati tidak memiliki kesabaran sama sekai. Emosional Lindiawati benar-benar tidak terkendali.

Dan Lindiawati sendiri sering menjadi nekat. Saat sedang kesal, keinginan untuk mati itu begitu kuat. Berulang kali Lindiawati mencoba untuk bunuh diri. Dari memotong nadinya dengan silet, menenggelamkan diri ke dalam bak mandi sampai mengurung diri di mobil yang tertutup rapat agar kekurangan oksigen.

Tidak hanya suami, anak-anaknya pun menjadi korban ketidaksabaran Lindiawati. Dalam hal emosi, jika Lindiawati sedang marah kepada anaknya, ia bisa memukuli anaknya dengan kejam. Dengan memakai ikat pinggang atau sapu, Lindiawatimemukuli anaknya sampai kulitnya lebam dan bengkak. Lindiawati menghajar anaknya sampai puas, sampai anaknya ketakutan. Saat memukuli anaknya itu,Lindiawati benar-benar merasakan benci kepada anaknya itu.

Bahkan buah hati Lindiawati yang masih balita pun tak luput menjadi sasaran kemarahannya. Keempat anaknya saat masih bayi sempat dibekap Lindiawati dengan menggunakan bantal jika mereka tidak berhenti menangis. Bahkan ditengkurapkan sampai tidak bisa bernafas dan dicubit bila tangisannya tidak juga kunjung berhenti. Kalau mendengar anaknya menangis, Lindiawati langsung merasa pusing. Ia merasakan seperti ada dorongan untuk membekap anaknya.

Bertahun-tahun Lindiawati terikat dan diperhamba oleh kuasa gaib. Suami dan anak-anaknya menjadi korban. Sampai suatu ketika Lindiawati mengikuti suatu pertemuan ibadah karena ajakan seorang teman. Awalnya Lindiawati merasa tidak betah karena aneh melihat orang berdoa dengan suasana yang cukup ribut. Kepalanya sakit tapi di hatinya Lindiawati merasa ada sesuatu yang berbeda. Hingga tanpa terasa minggu demi minggu Lindiawati mendatangi pertemuan ibadah tersebut.

Lindiawati pun pada akhirnya berterus terang dengan keterlibatannya dalam dunia mistis dan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan dunia gaib.Lindiawati dilayani pelepasan. Saat ia pertama kali bermanifestasi, yang dilihatnya adalah kain terbang di sebelah kanannya, berwarna-warni. Menurut kesaksian anak-anak dan rekan pelayanan yang melayaninya, saat itu Lindiawati berteriak, menjerit, menangis, mengamuk dan berguling-guling seperti orang kerasukan.

“Mama seperti orang kerasukan gitu deh… jadi seperti ular,macan, burung….” kisah William, anak Lindiawati.

“Saya juga tidak tahu kalau istri saya itu ternyata punya ilmu sebenarnya. Saat melihat pelepasan itu, saya baru tahu kalau istri saya itu ilmunya banyak sekali,” kisah Hansen Haskindy, suami Lindiawati.

Saat ikatan di alam roh itu diputuskan, Lindiawati melihat sang dukun datang, membelakangi Lindiawati dan pergi. Setelah selesai pelayanan kelepasan itu,Lindiawati mulai merasa enak dan merasa lega. Sampai akhirnya Lindiawati meminta Tuhan Yesus masuk ke dalam hatinya dan Lindiawati merasakan ketenangan yang luar biasa, suatu damai sejahtera yang luar biasa. Lindiawati juga merasakan sukacita yang luar biasa, sesuatu yang belum pernah dirasakannya di dalam hidupnya.

Semua ilmu yang ada di dalam dirinya telah dilepaskan. Kini Lindiawati memiliki hidup yang baru, yang berbeda dari sebelumnya. Tentu saja keluarganya yang paling merasakan dampak dari perubahan Lindiawati.

“Dulu itu saya sama mama merasa kesal, nakal sedikit saja dipukul, dicubit, disambet sampai merah-merah gitu. Kalau sekarang, sifat mama sudah berubah, jadi mama yang baik,” kisah William menceritakan perubahan Lindiawati.

Saat ini Lindiawati pun sudah berubah menjadi lebih sabar, lebih baik dan care sama anak-anak. Di dalam rumah tangganya saat ini penuh dengan sukacita dan Lindiawatijuga jadi banyak mengalah. Lindiawati pun menjadi pribadi yang semakin dewasa, sangat jauh berbeda dengan Lindiawati yang dulu sebelum ia mengenal Tuhan. Yesus memang suatu sosok yang sangat handal. Saat kita berseru, saat kita mau mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, Ia akan datang.

“Saya sangat merasakan bahwa Tuhan Yesus itu memang benar-benar ada dan mengasihi saya. Saya sangat berterima kasih karena Tuhan Yesus menyelamatkan saya, Tuhan Yesus mau bersabar sampai saya bertobat, diselamatkan dan Tuhan mau memakai saya,” kisah Lindiawati menutup kesaksiannya dengan penuh haru.

Sumber Kesaksian :
Lindiawati (jawaban.com)