Rabu, 11 Januari 2017

MISTERI ANAK TANPA AYAH

Bertahun-tahun ia hidup tanpa tahu siapa ayahnya. Bahkan sewaktu kecil, banyak orang sering melontarkan hinaan bahwa ia anak haram. Teman-temannya pun tak jarang mengejek dan mengucilkannya, hingga perkelahianpun tak terelakkan. Ia tumbuh dalam kesusahan, kekecewaan dan kekerasan. Baru tiga puluh tahun kemudian, Jarwo Yosafat akhirnya mengetahui misteri penyebab kehadirannya didunia ini.
Sewaktu kecil, berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya tentang keberadaan ayahnya. Namun sang ibu tak pernah menjawab dengan gamblang, siapa sebenarnya ayah dari Jarwo. Rasa malu, terhina, dan marah karena berbagai hinaan yang diterimanya, membuat Jarwo menyimpan kekecewaan yang dalam pada sang ibu. “Ketika saya tanyakan kepada Mak’e, selalu saja dijawab: Tuhan yang tahu, kamu itu bukan anak haram, bapak kamu ada di Jakarta. Kami telah menikah secara resmi, dan surat-suratnya ada semua. Hanya Mak’e saja yang tidak mau tinggal di Jakarta,” ungkap Jarwo.
Rasa penasaran harus dipendam oleh Jarwo dan tetap menjadi sebuah misteri. Hingga suatu saat seorang pria hadir dalam kehidupan Suciati, ibunda Jarwo. Pria itu melakukan pernikahan dibawah tangan dengan Suciyati, namun setelah itu, bapak tiri Jarwo pergi meninggalkan mereka demi wanita lain. Tak lama kemudian lahirlah seorang bayi perempuan, buah cinta Suciati dan ayah tiri Jarwo. Namun hinaan dan makian dari sanak saudara harus ditanggung kembali oleh Suciyati. Apa lagi selepas melahirkan, Suciati tak bisa bekerja untuk menopang kehidupan mereka. Sanak saudara ibunya yang tak lagi memiliki belas kasihan, membuat Jarwo harus rela berhenti bersekolah dan menggantikan ibunya menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue.
“Sewaktu adiknya baru berumur dua bulan, saya kan tidak bisa berjualan untuk mencari makan. Jadi Jarwo yang jualan untuk makan kami. Lalu guru Jarwo memanggil saya, menanyakan mengapa Jarwo tidak lagi bersekolah. Saya mengatakan bahwa, untuk makan sehari-hari saja kami susah apa lagi harus membayar sekolah anak, saya tidak mampu,” Demikian penuturan ibu Suciati dengan mata berkaca-kaca. Demi ibu dan adiknya, Jarwo rela mengubur impiannya untuk bisa kembali bersekolah. Hingga suatu saat, seseorang datang dengan membawa sebuah harapan. Pada saat itu, Pak Marsono datang dan menawarkan Jarwo untuk bisa kembali meneruskan sekolahnya, namun dengan syarat Jarwo harus tinggal di panti asuhan. Dengan berat hati, Jarwo harus meninggalkan adik dan juga ibunya. Sang ibu pun merasa begitu berat harus berpisah dengan anak laki-laki yang sangat dikasihinya itu.
“Saya sebenarnya ingin sekali sekolah. Tapi pada satu sisi saya tidak rela meninggalkan ibu dan adik saya hidup menderita. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap mencari uang untuk membantu mereka, dengan cara menerobos peraturan panti asuhan. Pada jam istirahat siang, sewaktu seharusnya tidur siang atau melakukan kegiatan lain, diam-diam saya pergi untuk mencari uang dengan mengamen, menjual koran, dan banyak hal lain. Uang itu saya berikan kepada ibu saya untuk beli beras, dan kebutuhan hidup lainnya.” Tak peduli siang atau malam, bahkan kerasnya dunia jalanan tidak mematahkan semangat Jarwo untuk mencari uang demi adik dan ibunya. Hingga suatu saat Jarwo harus menghadapi sebuah pengalaman buruk.
“Ada ketua genk yang menguasai daerah dimana saya ngamen saat itu yang memeras saya. Karena sering diminta setoran, membuat saya berpikir, kalau begini saya akan terus menderita.” Tidak mau terus ditindas dan harus menyetorkan hasil kerja kerasnya, membuat Jarwo memutuskan untuk mempelajari bela diri dengan sungguh-sungguh. Tekad Jarwo sudah bulat, bahwa bela diri adalah satu-satunya jalan keluar. Namun secara tidak disadarinya, keberanian dan kekerasan yang ia pupuk membawanya kepada dunia kejahatan. “Semakin banyak saya mengalahkan orang, semangat dan kepercayaan diri saya semakin tinggi. Saya semakin tidak takut dengan orang.”
Pada suatu saat, Jarwo dan temannya Aji mengamen di Semarang. Tetapi keinginan memiliki sandal bermerek yang cukup mahal saat itu, membuatnya memberanikan diri untuk mencuri di salah satu rumah dimana mereka mengamen. Namun rupanya hal tersebut diketahui oleh sang pemilik rumah. Keduanya dikejar, ditangkap bahkan dijebloskan kedalam penjara. Jarwo harus mendekam dipenjara selama tiga bulan, dan membuatnya benar-benar merasa terpisah dengan ibunya. Hal itu akhinya membuat Jarwo dikeluarkan dari panti asuhan.
Namun ada hal yang tidak disadari oleh Jarwo, kekecewaan dan kekerasan yang disimpannya sejak kecil terus terbawa hingga ia dewasa. Bahkan hingga ia menikah dan dikarunia dua anak, tabiat Jarwo tidak juga berubah. “Sikap saya dulu seperti preman saja. Ada orang yang bicara kasar sedikit saja, sudah saya anggap menantang saya.” Suatu hari karena suatu perkara, Jarwo bersitegang dengan tetangganya. Namun tetangganya itu tidak bisa lagi membiarkan sikap Jarwo yang kasar tersebut. Dengan memanggil teman-teman sekampungnya, tetangga Jarwo mempersiapkan sebuah rencana untuk memberikan pelajaran kepada Jarwo. Melihat gelagat buruk tersebut, Jarwo buru-buru pergi meninggalkan rumah. “Melihat banyak orang datang kerumah tetangga saya, buru-buru saya pergi ke pabrik tempat saya bekerja.” Namun dalam perjalanan, Jarwo diculik dan dipukuli habis-habisan oleh tetangga dan teman-temannya itu. Ketika nyawanya diujung maut, Jarwo diingatkan pada sebuah kejadian.
Waktu itu Jarwo baru pulang kerja, dan ia meminta istrinya untuk dibuatkan teh. Namun sang istri menjawab bahwa tidak ada teh dan gula, sekalipun ada itu pun milik ibu Suciati. Merasa tersinggung, dengan kemarahan yang menyala-nyala Jarwo mengusir ibu dan adiknya untuk keluar dari rumahnya. Bahkan di depan mata ibu dan adiknya, peralatan yang digunakan ibunya untuk berjualan bubur untuk mencari tambahan sedikit uang dibakar oleh Jarwo. Hati dan perasaan ibunya seperti disayat-sayat, namun jauh didalam hatinya dia tidak ingin membenci anaknya itu. Akhirnya ibu Suciati dan Puji, adik Jarwo pergi meninggalkan rumah itu.
“Sewaktu saya tahu, mak’e dan adik saya Puji pergi dan tidak kembali, saya merasa sangat menyesal. Saya tidak rela ibu saya pergi, tapi saya merasa kecewa, karena hingga setua ini saya belum pernah dipertemukan dengah ayah saya.”
Kedurhakaan pada sang ibu, diperlihatkan dengan jelas sewaktu Jarwo dipukuli hingga babak belur. Setelah puas memukulinya, Jarwo diserahkan oleh para penculiknya kepada polisi. Kemudian polisi memperbolehkannya untuk pulang. Namun kesalahan yang telah diperbuat pada ibunya terus membayanginya. Di tengah kegalauannya, seorang teman memperkenalkannya pada seorang hamba Tuhan yang menuntunnya pada pertobatan dan mengalami pengampunan dari Tuhan.
“Pada waktu itu, Kak Lina, hamba Tuhan itu berkata: Tuhan tidak pernah lagi mengingat-ingat lagi masa lalu kamu, dosa kamu. Tuhan tidak pernah mengingat-ingat lagi, sepanjang kamu mau bertobat. Saat itu rasanya seperti disambar petir, saya disadarkan. Ayat-ayat firman Tuhan yang ditunjukkan Kak Lina meneguhkan saya untuk bertobat. Mulai dari situ, saya sungguh-sungguh bertobat.”
Namun ujian kembali datang, Christy, anak pertama Jarwo mengalami kecelakaan dan harus dioperasi. Saat itu Jarwo meminta ibunya datang untuk mendoakan anaknya. “Ketika saya butuhkan, Mak’e pun datang. Meskipun sering saya sakiti hatinya, namun seperti tak pernah jera dan tanpa dendam, Mak’e datang dan berdoa bagi anak saya.” Sebuah mujizat terjadi, Christy sadar dan kondisinya mulai membaik. Lewat kesembuhan Christy tersebut, Tuhan menegur Jarwo atas kesalahan yang pernah diperbuatnya pada sang ibu. Dalam sebuah ibadah ucapan syukur, Jarwo menyatakan penyesalannya atas semua yang pernah dilakukannya dan meminta maaf pada sang ibu. “Rasanya plong… Pada saat itu saya sangat bersyukur. Puji Tuhan, anak saya bisa ingat dan punya kasih pada orangtuanya.”
Sebenarnya, rahasia apa yang terjadi dibalik kelahiran Jarwo? Sebuah kenyataan pahit harus ditanggung Suciati selama bertahun-tahun. Semua itu bermula sewaktu Suciati bekerja sebagai pembantu di Jakarta, sebuah peristiwa menghancurkan kehidupannya. Suatu malam, anak majikan dimana dia bekerja membekap dan memperkosanya. Kesuciannya terengut, dan ia pun hamil mengandung Jarwo. Hari demi hari dilewati dengan tangisan dan kegalauan. Tak dapat dibayangkan bagaimana respon orangtua dan saudara-saudaranya di kampung jika mengetahui semua kenyataan pahit ini.
Dengan dibekali surat dari orang tua majikannya yang menyatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas anak tersebut, Suciati dipulangkan ke kampungnya. Suciati pulang ke rumah dengan penuh harap mendapat penghiburan dan dukungan dari orang tua dan saudaranya, namun hinaan yang dia terima. Dianggap telah berbuat zinah seperti perempuan jalanan, keluarganya mengucilkan Suciati dan anaknya. Satu hal yang dipegangnya, janji sang majikan yang tak pernah terwujud. “Anak saya wajahnya itu persis seperti bapaknya, tapi saya tidak merasa benci setiap kali melihatnya. Hanya saya sedih, jika saja anak saya ada bapaknya pasti dia tidak menderita seperti ini. Saya juga tidak berani mengatakan dengan jujur bahwa saya diperkosa oleh bapaknya, karena saya takut dia marah dan memukul saya, lalu dia meninggalkan saya. Saya takut sekali kehilangan Jarwo.” Demikian penuturan ibu Suciati kepada Solusi.
Namun kasih Tuhan telah memulihkan kehidupan Jarwo, demikian pengakuannya, “Saya sangat mengasihi Mak’e. Saya rindu untuk membahagiakan Mak’e. Saya sudah tidak mempersalahkan Mak’e lagi. Bahkan jika Tuhan ijinkan saya bertemu dengan bapak saya, dengan tulus saya mengampuni bapak saya. Jika dia mau terima, saya mau mengakui dia sebagai bapak saya. Bahkan jika dia menolak saya, saya tetap mau menerima dia sebagai bapak saya.” Demikianlah karya Tuhan yang sempurna memulihkan seorang anak bernama Jarwo Yosafat, tak ada lagi kekecewaan ataupun amarah.
“Saya merasakan sukacita saat ini, karena Tuhan memulihkan keluarga saya. Saya tahu bahwa saya berharga dimata Tuhan, demikian juga dengan keluarga saya. Tuhan memberkati keluarga saya. Sehingga kebahagiaan saya menjadi penuh. Saya yakin, sepanjang hidup saya, saya bukan hanya keluar sebagai seorang pemenang, tetapi lebih dari pemenang.” Demikian Jarwo menutup kesaksiannya dengan penuh senyum.
Sumber kesaksian:
Jarwo Yosafat (jawaban.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar