Sabtu, 25 Februari 2017

BAMBANG SETYO : GAGAL NIKAH, AKU MASUK RUMAH SAKIT JIWA

Aku berasal dari keluarga yang perekenomiannya jauh dari kata mampu. Demi bisa sekolah, aku menjual kudapan, gorengan yang dibuat oleh ibuku. Hari-hari, aku berkeliling kampung agar bisa mendapatkan uang.

Seringkali aku dipandang sebelah mata. Apa yang aku lakukan selalu diremahkan orang lain. Itu semua akhirnya membuat aku bertekad untuk menempuh perguruan tinggi. Dengan satu harapan, kehidupan yang aku impikan bisa aku wujudkan dengan titel yang kupunya.
Mimpi itu yang membuat aku bersemangat untuk bekerja. Rupiah demi rupiah aku kumpulkan. Meski pun begitu, perlakuan yang aku terima sebagai anak sangatlah menyedihkan.
Hidup di rumah dengan banyak orang tidaklah menyenangkan. Ayahku mempunyai istri sebanyak 39 orang. Ibuku dan aku tinggal bersama dengan ibu tiri dan saudara-saudara tiriku.
Perlakuan yang aku terima justru jauh dari kata adil. Seringkali aku harus diminta mengalah dengan saudara-saudara tiriku. Mereka tega membiarkan aku makan hanya dengan nasi sementara adik-adikku memakan nasi dengan lauk-pauk. Bahkan, karena tahu aku bekerja, ibu tiriku suka meminjamkan uang kepadaku dengan paksaan.
Tidak kuat dengan segala yang aku terima di rumah akhirnya aku kabur di rumah dan tinggal di jalan. Aku menjadi anak jalanan dan bergabung dengan orang-orang nakal yang ada di sana. Aku adalah bagian dari mereka.
Beranjak dewasa, pekerjaanku bukan hanya membantu kejahatan mencopet, tetapi aku terlibat dalam transaksi penjualan narkoba. Berawal dari membeli barang-barang tersebut, akhirnya sang bandar mempercayakanku untuk menjadi kurirnya.
Dari hasil kerjaan menjual narkoba akhirnya perlahan demi perlahan, perekonomianku meningkat. Aku akhirnya menjadi orang mapan. Kondisi itu membuat aku jadi lupa dengan orang-orang terdekatku – ibu, ayah, dan bahkan keluargaku.
Punya uang banyak, kepercayaan diriku pun meningkat. Sampai suatu waktu, dari awalnya membantu membawa kendaraan perempuan tersebut ke bengkel, akhirnya kisah kami berlanjut. Angan-anganku melayang tinggi. Harapanku besar untuk membawanya menjadi istriku.
Namun, apa daya. Berjalan waktu. Ketika aku mengungkapkan niatku untuk meminang, ternyata perempuan tersebut menolak karena orangtuanya tidak menyetujui hubungan kami.
Bagai disambar petir, ketika aku mendengar jawaban dari perempuan tersebut. Aku menjadi depresi berat. Aku minum minuman keras ditambah minuman bersoda dan obat-obatan. Aku mengurung diriku. Sampai satu titik, kondisiku akhirnya tidak sadarkan diri.  
Mengetahui keadaanku, sejumlah tetangga membawaku ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyarankanku dirawat di bangsal 13. Karena tidak tahu apa itu bangsal 13, aku menyetujui dirawat di sana.
Betapa kagetnya ketika masuk ke bangsal 13 karena ternyata itu adalah tempat perawatan orang-orang yang terganggu jiwanya. Setiap hari, aku mendengar keributan dari mereka. Aku tidak bisa tidur karena kelakuan mereka. Aku tahu jika aku terus berada di sana, aku akan benar-benar menjadi orang gila.
Pada satu kesempatan untuk melarikan diri, aku berhasil melakukannya. Setelah berhasil kabur dari rumah sakit jiwa, aku ditawari bekerja sebagai security di salah satu tempat usaha biliar.
Setahun bekerja di sana, aku diajak seorang pelanggan di tempat biliar tersebut untuk bekerja di rumah tuannya. Tawaran itu tidak aku buang dengan percuma.
Pada hari yang ditentukan, aku dibawa oleh orang tersebut ke rumah tuannya. Dengan penuh kehangatan, sang tuan rumah dan istrinya menyambutku dan mereka menerimaku sebagai pekerjanya. Mereka memperlakukanku dengan begitu baik. Setelah aku mencari-cari mengapa mereka begitu baik, akhirnya aku mengetahui jawabannya bahwa di dalam diri mereka ada satu pribadi yang bernama Yesus.
Aku pun mulai menggali, mencari tahu tentang siapa itu Yesus. Dari pencarian yang aku lakukan, aku mengetahui bahwa Ia adalah Pribadi yang telah mati bagiku agar aku menjadi orang yang seperti yang dirancangkan-Nya, orang yang berharga dan mulia.
Setelah mengetahui siapakah Yesus tersebut, aku akhirnya memutuskan menerima-Nya secara pribadi sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi merokok, minum obat-obatan keras, masalah-masalah kriminal, mabuk, dan main perempuan. Bukan itu saja, aku pun telah berkomitmen kepada Tuhan untuk melayani Dia dengan melayani generasi anak-anak yang ada di gereja dimana aku saat ini bertumbuh. Aku mau membawa mereka jadi orang-orang yang seperti Tuhan mau. Apabila diizinkan, aku dan istriku akan mendirikan taman belajar bagi anak-anak di desa.
Jika saat ini Tuhan ada di depanku saat ini, aku mau mengucapkan ini kepada-Nya: “Terima kasih, Engkau sudah hadir di dalam hidupku, Engkau sudah mengubah kehidupanku dan Engkau telah mengizinkanku menjadi orang yang lebih baik. Terima kasih untuk penerimaan-Mu. Terima kasih.”    
Sumber : Bambang Setyo
JAWABAN.COM

Selasa, 21 Februari 2017

LANTAS SINAGA : DENGAN KUASA GELAP, SAYA LAKUKAN APAPUN YANG SAYA MAU

Lantas adalah nama yang diberikan orangtua kepadanya. Ia dilahirkan di sebuah kota kecil di tepi Danau Toba. Memiliki bapak yang bekerja sebagai nelayan kecil, perekonomian keluarganya sangatlah jauh dari kata sejahtera. Tidak pernah ia menerima uang jajan atau untuk membeli sesuatu dari kedua orangtuanya.   
Namun yang lebih menyakitkan adalah baik bapak maupun ibunya, sama-sama buta huruf alias tidak dapat membaca.
Bapak dari Lantas Sinaga merupakan seorang pengagum roh-roh nenek moyang. Menurut kepercayaannya, asal tidak lupa memberikan sesajen di waktu bulan purnama di tepi Danau Toba, ketika dipanggil, roh-roh tersebut akan membantu di dalam segala hal.
Sejak kecil, Lantas sudah mencari duit dengan menjual koran lokal. Suatu kali, ketika sedang menawarkan jualan kepada seorang perempuan kaya raya, ia mendapat perlakuan kurang menyenangkan. Peristiwa itu pun membuatnya jengkel. Dalam kemarahan hatinya, terbesit sebuah cita-cita untuk membalikkan kehidupannya menjadi lebih baik.  
Dengan mengenyam bangku pendidikan, Lantas akhirnya dapat menjadi seorang pegawai negeri. Walau sudah bekerja di tempat yang nyaman, hatinya begitu sedih melihat keadaan sekitarnya dimana ia melihat banyak orang miskin yang mengalami kesakitan.
“Lalu terbentiklah di hati saya, kalau saya dapat berbuat baik kepada mereka ini, kalaulah saya seorang dukun, yang bisa mengobati mereka ini saya tidak akan meminta duit mereka supaya sembuh,” ujar Lantas.  
Tanpa diduga-duga, di saat sedang tidur di malam hari, ia mendapatkan sebuah mimpi. Ia mendengar satu suara yang jelas sekali.
“..dia mengatakan ‘aku pernah datang ke orangtuamu. Akulah yang disembah orangtuamu pada zaman dahulu. Tetapi Karena mereka meninggalkan saya, apa yang kuberikan kutarik semua makanya mereka jatuh miskin’,” kata Lantas.
Oleh karena dia percaya bahwa suara tersebut datangnya dari Tuhan, Lantas kemudian menawarkan dirinya dan menyatakan siap untuk berkorban demi mendapatkan kekuatan yang ditawarkan roh tersebut.
Tidak lama kemudian, ada seorang tetangga yang datang mengadu bahwa ada dari sanak familinya yang mengalami sakit. Lantas lalu pergi ke tempat semedi dan mengambil daun kelutuk. Daun itu kemudian diserahkan kepada orang yang mengadu tersebut dan memintanya agar orang yang sakit itu dimandikan dengan pemberiannya tersebut.  
Orang yang sakit itu pun ternyata sembuh. Akhirnya tersebar ke seluruh Riau bahwa Lantas merupakan dukun sakti yang didatangi malaikat surga.
“Saya pun buka praktik. Yang datang bukan puluhan, tetapi ratusan. Berjubel. Siapa yang datang harus bawa jeruk karena itu jadi media untuk kesembuhan,” ungkap Lantas. 
Meski sudah mengobati banyak orang, tetapi ia diperhadapkan sebuah kenyataan bahwa anaknya yang sakit tidak bisa ia sembuhkan. Justru, saat dibawa ke dokter, buah hatinya mengalami kesembuhan.
Oleh karena tidak mempunyai uang, Lantas bermain kartu dengan teman-teman pergaulannya. Di saat sedang kumpul-kumpul, seorang teman datang dan memberitahukan kepada mereka tentang sebuah kegiatan KKR.   Mereka pun tertarik karena di situ tertulis ada sejumlah penyanyi yang dikenal oleh mereka.
Lantas dan teman-teman kemudian datang ke acara KKR yang dipromosikan temannya. Betapa kaget dirinya ketika justru lagu yang dibawakan ternyata lagu-lagu yang asing di telinganya.  
Saat KKR berlangsung, tiba-tiba hujan datang. Sang pendeta kemudian mengajak semua yang datang berdoa memberhentikan hujan. Hujan ternyata memang berhenti.   Melihat kejadian itu, badan Lantas merinding.
Walau pun begitu, Lantas merasa tertantang. Ia akhirnya mencoba kekuatan untuk merusak acara yang ada. Namun, betapa kaget dirinya saat semua usahanya digagalkan.    
Ketika sang pendeta melakukan altar call, entah kenapa ia datang maju. Saat dilayani, ia sempat ditanyakan tentang dosa. Pertanyaan itu sungguh menyinggung dirinya dan ia pun menjadi marah kepada mereka.
Meski mendapatkan perlakuan tidak baik, orang yang melayani Lantas tetap meresponi dengan ramah dan mengajak untuk berdoa terlebih dahulu sebelum menjelaskan maksudnya tersebut.
“Saya ditunjukkan 1 Yohanes 1:9, barangsiapa yang datang kepada Tuhan dan mohon pengampunan maka dosanya pasti diampuni oleh Tuhan dan segala kesalahannya tidak akan pernah diingat-ingat lagi,” tutur Lantas.
Selesai berdoa, Lantas merasakan ada sesuatu yang mengubah pikiran dan melembutkan hatinya. Di situ, ia pun menerima Yesus secara pribadi sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. “Sejak itu, saya menjadi orang yang saya kira batak yang berbeda,” ujar Lantas.     
Dengan bantuan seorang pendeta, Lantas akhirnya membuang semua barang yang ia gunakan selama menjadi seorang dukun. Benda-benda itu pun dibakar di dalam nama Tuhan Yesus. Seusai kejadian tersebut, satu mantra pun tidak ada lagi yang diingat-ingatnya.
“Setelah saya menerima Tuhan Yesus, iblis dan perdukunan adalah yaitu pembodohan. Membodoh-bodohi manusia supaya tidak mendapat keselamatan,” jelas Lantas.
Oleh anugerah Tuhan, Lantas diberi kesempatan menjadi anggota wakil rakyat di Kalimantan Tengah. Bukan hanya itu saja, ia pun terpanggil menjadi seorang hamba Tuhan. Sampai hari ini, ia terus mengerjakan keselamatannya.
“Pengharapan saya tidak ada lain, ada hanya Yesus Kristus,” pungkas Lantas Sinaga.
Sumber : Lantas Sinaga
jawaban.com

Jumat, 17 Februari 2017

CERITA INSPIRATIF : JANGAN TERLALU CEPAT MENILAI SESEORANG


Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan. Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa.. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah. Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei.

Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca *,“Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun.”

Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.

Sumber : http://renunganhidup.com

Senin, 13 Februari 2017

KESAKSIAN IMAN KRISTEN : KISAH SUKSES GEORGE MULLER

Suatu hari ketika hendak menyeberang, seorang nahkoda tidak berani menyeberangkan kapal karena badai. Lalu, seorang pengasuh yatim piatu mengajaknya turun kebawah untuk berdoa. Doanya sangat sederhana: "Tuhan, Engkau tahu hambaMu harus menyeberang untuk ,emjalankan tugas, Engkau tahu hambaMu tidak pernah tidak menepati janji, kiranya Tuhan meredakan badai." Ketika selesai berdoa, mujizat terjadi. Badai reda sehingga ia bersama penumpang lain dapat menyeberang. Pengasuh yatim piatu itu adalah George Muller. Kehidupan doa dan imannya telah menjadi inspirasi banyak generasi.


George Muller (1805-1898) adalah seorang misionaris kristen dan kepala dari sebuah rumah yatim piatu di Bristol Inggris. Selama hidupnya ia mengasuh 10,024 anak yatim piatu. Tidak hanya dikenal karena menyediakan kebutuhan pendidikan bagi anak-anak asuhannya, tetapi juga karena ia telah meninggalkan teladan iman yang bergantung penuh pada pemeliharaan Allah. Hal ini nampak dari cara kerja dan kehidupan pribadinya.

Memberi hidup
Sebelum masuk sekolah teologia di universitas Halle, kehidupan Muller sangat berbeda. Lahir di sebuah desa di daerah Kroppenstedt, dekat dengan daerah Halbestadt, wilayah kerajaan Prussia (Jerman), sejak muda ia tidak mempunyai tujuan hidup yang baik. Ia adalah pencuri, pembohong, dan suka berjudi. Bahkan ibunya meninggal saat Muller sedang berjudi dan mabuk-mabukan bersama dengan teman-temannya. Pada waktu itu ia berusia 15 tahun.

Dengan motivasi yang kurang tepat, ayahnya memasukan Muller di pendidikan Theologia Universitas Halle. Jabatan rohaniawan saat itu merupakan incaran dan kedudukan yang bisa menghasilkan gaji besar, apalagi jika direkrut sebuah gereja milik negara.

Saat menempuh pendidikan disana, Muller bertemu dengan seorang rekan yang mengundangnya ikut dalam pertemuan kristen. Muller disambut baik dalam pertemuan itu. Selanjutnya dengan teratur ia membaca Alkitab dan berdiskusi tentang kekristenan dengan rekan-rekan lainnya di pertemuan tersebut. Akhirnya, hidup Muller berubah. Ia segera meninggalkan kebiasaan buruknya dan memberi hidupnya menjadi seorang misionaris.

Pada tahun 1828 Muller mendapatkan tawaran kerja di London Missionari Society. Memasuki tahun 1829, ia jatuh sakit dan sempat berpikir bahwa ia tidak dapat bertahan. Mujizat Tuhan menyembuhkannya. Ia kemudian mendedikasikan hidupnya untuk melakukan kehendak Tuhan. Ia langsung meninggalkan London Missionary Society dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menyediakan apa yang ia butuhkan bagi pekerjaan Tuhan.
 
Institusi ini bertujuan membantu sekolah-sekolah kristen dan para misionaris serta membagikan Alkitab. Institusi ini tidak menerima dukungan dana dari pemerintah dan hanya menerima dukungan atau pemberian sukarela. Meski demikian, institusi ini menerima dan menjalankan 1,5 juta poundsterling (setara dengan 2,718,844 US dollar) pada waktu Muller meninggal dunia, yang dipergunakan untuk mendukung biaya rumah yatim piatu, penyebaran hampir 2 juta Alkitab, dan juga mendukung "misionaris iman" lainnya di seluruh dunia seperti Hudson Taylor.

Iman
Muller bersama dengan istrinya kemudian mengelola rumah yatim piatu pada tahun 1836 dengan menggunakan rumah mereka sendiri di kota Bristol. Awalnya rumah mereka digunakan untuk menampung 30 anak perempuan. Kemudian jumlah anak yatim piatu bertambah menjadi 130 anak sehingga membutuhkan 3 rumah.

Pada tahun 1845 terjadi peningkatan jumlah anak yatim piatu sehingga Muller memutuskan untuk membangun gedung yang baru dan dapat digunakan pada tahun 1849 dengan kapasitas akomodasi 300 anak. Jumlah anak ini terus bertambah hingga mencapai 2000 anak di tahun 1870 sehingga membutuhkan 5 rumah yang dapat menampung seluruh anak-anak tersebut.

Muller mengambil satu keputusan dimana ia tidak pernah meminta dukungan dana dari siapa pun dan tidak berhutang pada pihak manapun meskipun diperlukan lebih dari 100,000 poundsterling untuk membangun kelima rumah yang menjadi akomodasi 2000 anak.

Keyakinan yang kuat atau lebih tepatnya sikap percayanya yang kuat terhadap pemeliharaan Allah bagi kebutuhannya sejak 1829 membuat Muller dapat menyaksikan mujizat Allah dinyatakan melalui hidupnya. Seringkali ia menerima bantuan makanan yang datang tanpa diminta dan bantuan makanan itu hanya datang beberapa jam sebelum waktu makan anak-anak yatim piatu itu tiba. Peristiwa-peristiwa ini seperti menguatkan iman muller.

Setiap pagi setelah jam makan pagi, selalu diadakan waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa. Setiap anak diberikan sebuah Alkitab disaat mereka pergi meninggalkan rumah yatim piatu. Anak-anak yatim piatu itu diberikan pakaian yang baik dan pendidikan yang baik.

Muller telah membaca alkitab lebih dari 200 kali dan separuh dari waktunya dilakukan untuk berdoa. Ia mengatakan bahwa 50,000 jawaban doa yang khusus yang telah ia terima, berasal dari permohonan doanya hanya kepada Allah! lebih dari 3000 anak yatim piatu yang diasuhnya, dimenangkan bagi kristus melalui pelayanannya oleh penyertaan Roh Kudus.
 
Sumber : http://renungan-harian-kita.blogspot.com

Kamis, 09 Februari 2017

CERITA INSPIRATIF : RENUNGAN DARI SI PENCURI KUE

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk.


Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka berdua. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: (“Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!”). Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki juga mengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir (“Ya ampun orang ini berani sekali”), dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih. Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan, dan ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terima kasih!”.

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Disitu ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati. Jadi kue tadi adalah milik laki-laki tersebut dan ia mencoba berbagi. 

Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu. 

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.

Orang lainlah yang selalu salah, orang lainlah yang patut disingkirkan, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang selalu bikin masalah, orang lainlah yang pantas diberi pelajaran. Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu terima kasih. Kita sering mempengaruhi, mengomentari,mencemooh pendapat, penilaian atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.

Sumber: http://renunganhidup.com

Minggu, 05 Februari 2017

CERITA INSPIRATIF : BAJU-BAJU YANG MENIPU

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.


Mereka meminta janji. Sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.

"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.

"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.

Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini, bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung ?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya mengangguk.

Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS. 


Refleksi: 
Kita, seperti pimpinan Hardvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap menipu.

Sumber : ajarran-kristen.blogspot.co.id

Rabu, 01 Februari 2017

KISAH MENGHARUKAN BOCAH DAN PERAMPOK

Moore adalah seorang dokter terkenal dan dihormati, melalui tangannya sudah tak terhitung nyawa yang diselamatkan, dia tinggal disebuah kota tua di Prancis. 20 tahun yang lalu dia adalah seorang narapidana, kekasihnya mengkhianati dia lari kepelukan lelaki lain, karena emosinya dia melukai lelaki tersebut, maka dia dari seorang mahasiswa di universitas terkenal menjadi seorang narapidana, dia dipenjara selama 3 tahun.


Setelah dia keluar dari penjara, kekasihnya telah menikah dengan orang lain, karena statusnya sebagai bekas narapidana menyebabkannya ketika melamar pekerjaan menjadi bahan ejekan dan penghinaan. 

Dalam keadaan sakit hati, Moore memutuskan akan menjadi perampok. Dia telah mengincar di bagian selatan kota ada sebuah rumah yang akan menjadi sasarannya, para orang dewasa dirumah tersebut semuanya pergi bekerja sampai malam baru pulang kerumah, didalam rumah hanya ada seorang anak kecil buta yang tinggal sendirian.

Dia pergi kerumah tersebut mencongkel pintu utama membawa sebuah pisau belati, masuk kedalam rumah, sebuah suara lembut bertanya, “Siapa itu?” Moore sembarangan menjawab, “Saya adalah teman papamu, dia memberikan kunci rumah kepadaku.”

Anak kecil ini sangat gembira, tanpa curiga berkata, “Selamat datang, namaku Kay, tetapi papaku malam baru sampai ke rumah, paman apakah engkau mau bermain sebentar dengan saya?” Dia memandang dengan mata yang besar dan terang tetapi tidak melihat apapun, dengan wajah penuh harapan, di bawah tatapan memohon yang tulus, Moore lupa kepada tujuannya, langsung menyetujui.

Yang membuat dia sangat terheran-heran adalah anak yang berumur 8 tahun dan buta ini dapat bermain piano dengan lancar, lagu-lagu yang dimainkannya sangat indah dan gembira, walaupun bagi seorang anak normal harus melakukan upaya besar sampai ke tingkat seperti anak buta ini.

setelah selesai bermain piano anak ini melukis sebuah lukisan yang dapat dirasakan didalam dunia anak buta ini, seperti matahari, bunga, ayah-ibu, teman-teman, dunia anak buta ini rupanya tidak kosong, walaupun lukisannya kelihatannya sangat canggung, yang bulat dan persegi tidak dapat dibedakan, tetapi dia melukis dengan sangat serius dan tulus.

“Paman, apakah matahari seperti ini?” Moore tiba-tiba merasa sangat terharu, lalu dia melukis di telapak tangan anak ini beberapa bulatan, “Matahari bentuknya bulat dan terang, dan warnanya keemasan.”

“Paman, apa warna keemasan itu?” dia mendongakkan wajahnya yang mungil bertanya, Moore terdiam sejenak, lalu membawanya ketempat terik matahari, “Emas adalah sebuah warna yang sangat vitalitas, bisa membuat orang merasa hangat, sama seperti kita memakan roti yang bisa memberi kita kekuatan.”

Anak buta ini dengan gembira dengan tangannya meraba ke empat penjuru, “Paman, saya sudah merasakan, sangat hangat, dia pasti akan sama dengan warna senyuman paman.” Moore dengan penuh sabar menjelaskan kepadanya berbagai warna dan bentuk barang, dia sengaja menggambarkan dengan hidup, sehingga anak yang penuh imajinatif ini mudah mengerti. Anak buta ini mendengar ceritanya dengan sangat serius, walaupun dia buta, tetapi rasa sentuh dan pendengaran anak ini lebih tajam dan kuat daripada anak normal, tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat.

Akhirnya, Moore teringat tujuan kedatangannya, tetapi Moore tidak mungkin lagi merampok. Hanya karena kecaman dan ejekan dari masyarakat dia akan melakukan kejahatan lagi, berdiri di hadapan Kay dia merasa sangat malu, lalu dia menulis sebuah catatan untuk orang tua Kay,

“Tuan dan nyonya yang terhormat, maafkan saya mencongkel pintu rumah kalian, kalian adalah orang tua yang hebat, dapat mendidik anak yang demikian baik, walaupun matanya buta, tetapi hatinya sangat terang, dia mengajarkan kepada saya banyak hal, dan membuka pintu hati saya.”

Tiga tahun kemudian, Moore menyelesaikan kuliahnya di universitas kedokteran, dan memulai karirnya sebagai seorang dokter.

Enam tahun kemudian, dia dan rekan-rekannya mengoperasi mata Kay, sehingga Kay bisa melihat keindahan dunia ini, kemudian Kay menjadi seorang pianis terkenal, yang mengadakan konser ke seluruh dunia, setiap mengadakan konser, Moore akan berusaha menghadirinya, duduk disebuah sudut yang tidak mencolok, mendengarkan music indah menyirami jiwanya yang dimainkan oleh seorang pianis yang dulunya buta.

Refleksi:
Ketika Moore mengalami kekecewaan terhadap dunia dan kehidupannya, semangat dan kehangatan Kay kecil yang buta ini yang memberikan kehangatan dan kepercayaan diri kepadanya, Kay kecil yang tinggal didalam dunia yang gelap, sama sekali tidak pernah putus asa dan menyia-nyiakan hidupnya, dia membuat orang menyadari betapa besar vitalitas dalam hidup ini, vitalitas dan semangat ini menyentuh ke dasar hati Moore.

Cinta dan harapan akan dapat membuat seseorang kehilangan niat melakukan kejahatan, sedikit harapan mungkin bisa menyembuhkan seorang yang putus asa, atau bahkan bisa mengubah nasib kehidupan seseorang atau kehidupan banyak orang, seperti Moore yang telah membantu banyak orang, ketika mengalami putus asa maka bukalah pintu hatimu, maka cahaya harapan akan menyinari hatimu.

Sumber : http://renunganhidup.com