Jumat, 17 Maret 2017

SAATI TIADA JALAN, YESUS PENGHARAPANKU MEMBERI JAWABAN

Saat Tiada Jalan, Yesus Pengharapanku Memberi Jawaban (Kisah Nyata Pertolongan Tuhan Bagi Hidup dan Keluarga Saya Yang Hancur).


SionSaat Tiada Jalan, Yesus Pengharapanku Memberi Jawaban (Kisah Nyata Pertolongan Tuhan Bagi Hidup dan Keluarga Saya Yang Hancur).
By. Sionita Yuli Yanti
Salam bagi kita semua yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Semoga Tuhan yang kaya Dengan Rahmat-Nya selalu memberkati dan menyertai kita sekalian dimanapun berada. Melalui Artikel ini saya ingin berbagi Pengalaman mengikut Yesus dengan saudara sekalian dan dengan kerinduan yang tulus ingin menyaksikan kemurahan dan pertolongan Tuhan yang sangat luar biasa bagi kehidupan saya disaat mengalami banyak pergumulan dan persoalan yang seakan tidak akan mungkin dapat teratasi lagi, bahkan seakan telah putus pengharapan dan merasa tidak ada lagi jalan, namun selalu ada jalan dalam pertolongan Tuhan, Allah yang penuh dengan belas kasihan melihat keadaan itu segera menolong.
Sepintas mengenai kehidupanku, saya hidup dari keluarga yang terbilang sangat sederhana. Saya adalah anak pertama dari empat bersaudara dan merupakan satu-satunya perempuan diantara adik-adik saya laki-laki (Daniel, Samuel dan Josua). Akan tetapi ditengah-tengah kesederhanaan itu ada segudang persoalan dan masalah hidup yang amat terasa berat dan rumit menindih keluarga kami.
Ayah (yang sehari-harinya saya sebut “Papa”) mengalami masalah dengan Usahanya, sehingga dengan bangkrutnya Perusahaan ayah menjadikan keadaan itu memaksa kami harus pindah dari daerah Cikampek (Jawa Barat) ketempat yang sangat jauh yaitu di Kota Medan Provinsi Sumatera Utara, sedangkan ayah tinggal menetap dibandung untuk urusan pekerjaan. Di Kota Medan inilah kami (Ibu dan anak-anaknya) termasuk saya menjalani kehidupan. Ini menjadi catatan penting bagi kehidupan saya, sebab di saat itulah ekonomi kami mengalami kemerosotan terburuk yang tidak terkatakan sehingga lalu kesana sini mencari pinjaman untuk mencukupi kebutuhan keluarga karena sempat terancam tidak makan, sedangkan ayah tidak tahu dan tidak pernah memberikan kabar apapun.
Dalam keadaan seperti itu boleh dikatakan tidak jarang ada yang bertahan termasuk Ibu yang saat itu terlihat begitu kacau fikirannya, seakan ingin lari dari masalah, dan memang saat itu Ibu tanpa berfikir panjang lalu meninggalkan saya dan adik-adik begitu saja. Sungguh ironis, saya pun dalam keadaan seperti itu akhirnya merasa terbeban untuk mempertahankan kehidupan adik-adik saya agar tetap hidup dan tercukupi kebutuhannya. Akhirnya saya mengambil kesimpulan untuk bekerja sebagai penjual asongan di terminal, begitulah berjalan sampai beberapa waktu lamanya.
Ditengah-tengah kerumitan ekonomi seperti itu tetap saja penagih hutang menjadi tamu yang menakutkan bagi saya, setiap saat selalu datang untuk menagih, sedangkan uang tidak ada untuk membayar, sehingga barang-barang dirumah habis diambil olej penagih hutang. Saat itu saya pasrah saja barang-barang diambil semua, asalkan adik-adik saya tercukupi makan minumnya, itupun sudah syukur meskipun sebenarnya itu diluar batas kemampuan saya.
Disaat seperti itu tidak ada seorangpun yang menolong saya, bahkan sanak family pun serasa enggan untuk menolong kami, sehingga dengan keterbatasan kemampuan ini saya yang harus berjuang menghidupi adik-adik saya. Di waktu yang lain Ibu saya tiba-tiba kembali pulang dengan menunjukkan sikap yang berbeda, seakan tidak perduli lagi dengan keadaan kami, sepengetahuan saya Ibu hanya datang untuk mengambil baju ganti. Selain itu Ibu juga datang hanya meminta uang hasil penjualan saya sebagai pedangang asongan di terminal, lalu pergi lagi entah kemana. Jika Ibu datang kerumah saya hanya mendengar suara-suara kemarahan yang sebenarnya tidak cukup beralasan, bahkan sampai memukul adik-adik tanpa sebab mengapa. Sampai akhirnya saya memendam rasa tidak suka dengan Ibu, bahkan rasa tidak suka itu semakin meningkat menjadi sebuah kebencian. Entahlah, tapi itu yang saya rasakan, seperti rasanya kondisi itu tidak terkatakan lagi.
Tibalah bagi kami mengalami cerai berai seperti anak tidak punya orang tua, kami pun tidak lagi tinggal dirumah itu, sehingga hidup semakin terkatung-katung tidak karuan. Hingga pada saatnya adik-adik saya dibawa oleh Mak Tua (kakak kandung dari Ibu saya) ke suatu Gereja yang saya pun tidak tahu apa nama gerejanya, sebab sayapun saat itu tidak lagi bersama-sama dengan adik-adik, saya sudah menumpang tinggal dirumah orang lain. Di tempat dimana Mak Tua membawa adik-adik, disitu juga adik-adik tercerai berai entah kemana, seakan ada orang yang mengambilnya satu persatu, entah dengan siapa mereka (adik-adikku) menetap tinggal, saya pun tidak mengetahui informasinya. Keadaan ini menjadikan kami terpencar-pencar bagaikan anggota tubuh yang kehilangan anggota tubuh lainnya, tidak lagi seperti satu keluarga yang utuh.
Lama kudapat informasi, terdengar kabar bahwa salah satu adikku (Samuel) disuatu gereja akan diangkat menjadi Anak (anak angkat) oleh orang lain. Rintihan adik kecilku itu terdengar seperti kabar yang menyakitkan hatiku, sebab ia berkata “Jangan bawa aku, aku tidak mau kemana-mana, aku hanya mau ikut kakak”.
Saya tidak dapat berbuat apa-apa lagi saat itu, saya hanya menumpang tinggal dirumah orang yang sebenarnya tidak mempunyai ikatan Keluarga (family) dengan keluarga kami, hanya dengan belas kasihan dan kemurahan saja saya di izinkan tinggal untuk menetap, dan suatu kemurahan juga jika saya diberikan pekerjaan dirumah mereka supaya saya bisa sekolah. Jadi saya sangat merasakan sakit dukanya tinggal dirumah orang, sampai harus menanggung tekanan demi tekanan. Sampai dititik yang sangat lemah sayapun mendengar kabar bahwa Ayah saya Meninggal Dunia karena sakit. Kabar itu membuat saya saat itu seakan-akan berada terbaring dilembah yang amat dalam, rasa putus asa dan takut menghadapi masa depan, seperti rasanya tidak ingin lagi melanjutkan hidup ini. Bunuh diri? Itu mungkin nyaris menjadi pilihan terakhir bagi saya. Pikiran saya saat itu buntu, terasa hati ini perih dan sakit, tidak ada yang dapat menolong saya. Yang terfikir hanya rasa kebencian dan akar pahit terhadap Ibu yang terpendam amat dalam dihati saya. Bahkan ada fikiran jika mungkin bisa biarlah Ibu saya ini meninggal, biar tidak lagi wajahnya terlihat oleh saya. Tapi ini wujud pertolongan Tuhan, saya disadarkan akan Dosa Kebencian dan akar pahit yang terpendam amat dalam dihati terhadap Ibu saya lewat KUASA Firman Pengajaran yang dibukakan dalam Matius 11 ayat 28-29 yang demikian bunyinya: Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Bunyi Firman itu dengan tiba-tiba memberikan kekuatan kepada saya, saya bagaikan langsung mendapat ketenangan, rangkulan Allah Bapa lewat kasih-Nya yang besar mengerjakan keubahan dalam hidupku.
Melalui Firman yang disampaikan dalam urapan Roh Kudus hati ini pun menjadi sadar dan tergerak untuk mengakui segala dosa melalui hamba Tuhan kepada Allah yang penuh dengan belas kasihan. Sejak Pengakuan itu lah saya merasakan ada pengampunan Tuhan dalam hidup saya, walaupun tubuh jasmaniku semakin hancur dan rapuh, namun dari hari kesehari Ia (Tuhan) selalu membaharui hidupku. Saya percaya pada Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 1 ayat 9 yang berkata: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
Pemulihan yang saya rasakan seperti bejana yang rusak ditangan penjunan yaitu Tuhan Yesus Kristus dan dibentuk kembali menjadi bejana yang indah menurut pandangan Tuhan. Rasa luka dan perih dihati serasa dibalut oleh Tuhan dan bejana hidup saya diisi oleh Firman Pengajaran sehingga sukacitaku penuh dengan pengharapan kepada Tuhan yang memegang masa depan saya. Sebab DIA-lah YESUS PENGHARAPAN HIDUPKU.
Perlahan-perlahan demi perlahan ada mujizat yang nyata dalam hidupku, sehingga disuatu saat Tuhan mempertemukan saya dengan adik-adik (Samuel dan Daniel) yang sudah lama tidak pernah bertemu lagi, meskipun saya dan adik-adik belum bisa berkumpul, tapi syukur bagi Tuhan setidaknya saya sudah dipertemukan dengan mereka berdua, dan saya sudah tahu dimana dan dengan siapa mereka tinggal saat ini. Hanya tinggal adikku Josua yang belum saya temukan, namun ini akan menjadi pergumulan saya senantiasa agar kami bisa dipersatukan kembali oleh Tuhan menjadi utuh sebagai kelaurga yang bahagia. Ini membuat saya percaya bahwa dalam pergumulan ini Tuhan akan memberikan kekuatan yang baru kepada kehidupan saya, saya yakin Tuhan akan menyatakan rencana-Nya indah pada waktunya.
Ini merupakan kenyataan yang tidak bisa saya pungkiri namun harus saya syukuri, bahwa Tuhan Yesus Kristus telah melepaskan saya dari belenggu dosa seperti ular Lewiatan yang membelenggu amat kuat kehidupan itu, namun Tuhan dengan Firman Pengajarannya mampu melepaskan saya dari Dosa dan pergumulan yang bertahun-tahun lamanya bersarang di kehidupan saya. Firman dan Perjamuan Suci itu bekerja amat luar biasa dalam hidup saya, sehingga dalam pergumulan saya terlepas dari dosa kebencian terhadap Ibu saya, meskipun sangat sulit rasanya, tapi Tuhan selalu mengingatkan saya bahwa kebencian terhadap sesama merupakan suatu Dosa Pembunuhan seperti kata Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 3 ayat 15 yang berkata: “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya.” Ini menjadikan sedikit demi sedikit akar pahit dalam hati saya dilepaskan oleh Tuhan, dan saya merasakan ada suatu kelepasan.
Sesaat kurenungkan hatiku bertanya, siapakah saya, manusia yang hina ini ya Tuhan, Hingga Engkau Tuhan mau menolong dan mengangkat kehidupan saya yang sudah rusak lagi hancur ini? Pernyataan kasih-Mu dan perhatian-Mu selalu Engkau nyatakan lewat Pemberitaan Firman Pengajaran-Mu. Dari itu saya sadar bahwa Tuhan mau menolong saya asal berserah sepenuh kepada Tuhan, tanpa melihat siapa saya dan apa latar belakang saya, serta bagaimana masa lalu dan hancurnya keluarga saya, tapi Tuhan mengulurkan tangan-Nya terhadap Kehidupan saya. Saya percaya pertolongan Tuhan seperti dalam Matius 12 ayat 20 dan Zakaria 3 ayat 1 dan 2 yang berkata demikian:
Matius 12 ayat 20
“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.
Zakaria 3 ayat 1 dan 2
1.Akhirnya Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia. 2.Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: “TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?”
Demikianlah aku berharap bahwa Pertolongan Tuhan yang tak pernah terlambat bagaikan matahari pagi yang bersinar terang akan selalu menyertaiku. Amin. Tuhan Kiranya memberkati kita semua. 🙂
COPAS : 1forumkristen.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar