Minggu, 30 April 2017

PENGALAMAN MENJELANG KEMATIAN OLEH MICKEY ROBINSON



Kesaksian Mickey Robinson. Near Death Experience . Mati Suri. Shalom, begini kisahnya :


Saya dilahirkan tahun 1949 di Cleveland, Ohio.

Saat itu malam agustus yang panas, saya dan empat pria lainnya akan melakukan terjun parasit yang merupakan suatu rutinitas. Keadaan cuaca tidaklah bagus, sehubungan dengan panas dan tingkat kelembaban yang tinggi. Say tidak begitu kuatir, saya adalah seorang penerjun professional dan ini adalah demontrasi saya sebelum dilihat oleh ribuan orang nantinya. Semenjak melihat olah raga terjun payung di sekolah itulah saya mencintai olah raga ini. Tidak terhitung lagi uang dan waktu yang saya habiskan, sampai pada akhirnya saya bisa bersama melakukan terjun payung bersama penerjun terbaik dunia.
Malam itu pesawat penuh dengan enam orang, pesawat lepas landas, melintas bagus pada kecepatan 100 mil per jam. Tiba-tiba, tanpa peringatan, mesin pesawat mati. Pilot berteriak kepada saya : ‘Kita akan jatuh’. Kemudian pesawat jatuh, sayap mengenai tanah terlebih dahulu. Wajah saya terbentur keras ke interior dalam pesawat yang keras, terluka dan syok, tiga penerjun keluar dari bangkai pesawat. Penerjun keempat kaget, dia melihat ke saya dan pilot bergerak dan mengira saya dan pilot akan keluar juga. Ketika dia keluar dari pesawat, seketika pesawat terbakar. Bahan bakar memacu kebakaran dan terjadilah kebakaran besar. Kemudian penerjun keempat berusaha menolong saya ketika saat itu saya terbakar dari kaki sampai kepala, tetapi kaki saya tersangkut.
Saya merasa putus asa, kobaran api dari kepala sampai kaki saya, dan saya terjebak di reruntuhan pesawat. Kemudian penolong kedua saya berhasil mengeluarkan saya dari dalam bangkai pesawat, kemudian dia menggulingkan saya di tanah dan berusaha memadamkan api yang menyala di badan saya. Kemudian api yang berkobar di badan saya akhirnya padam juga. Tetapi malang bagi si pilot, dia terbakar sampai mati.
Terbaring di tanah, terluka parah. Kulit di tangan dan lengan saya terbakar dan jatuh ke tanah seperti ayam goreng. Muka saya juga terluka parah. Ketika saya menanyakan kepada mereka bagaimana kondisi saya diantara kepulan asap di tubuh saya, mereka tidak dapat menjawabnya. Kemudian paramedis datang dan memotong pakaian dan sebagian kulit dan daging saya yang menempel di pakaian saya. Mereka mengetahui bahwa saya menderita luka bakar yang sangat parah. Hampir ¾ Badan saya terbakar. Meskipun saya atletis dan kuat tapi mereka mengatakan bahwa saya tidak mungkin selamat.
Berhari-hari dan berminggu-minggu kemudian tubuh saya terinfeksi, Berat badan saya turun dari 167 pound menjadi hanya 90 pound. Sangat kurus dan kering, dan ada luka menganga sehingga tulang saya kelihatan. Bagian belakang tumit saya membusuk dan tangan saya terinfeksi parah dan mereka menyarankan untuk diamputasi.
Sakitnya luar biasa. Perut bagian dalam saya mengalami kerusakan parah, banyak cairan yang keluar dari perut saya. Hal ini menyebabkan pendarahan internal yang parah. Tiga perempat tenggorokan saya mengalami kerusakan, sehingga minum air saja tidak bisa. Darah saya terkontaminasi oleh mikro bakteri dan darah saya berkurang sebanyak 10 pints – hampir menyamai volume total darah manusia. Juga kepala saya terluka parah sehingga merusak sebagian otak saya.
Tubuh saya berperang dengan maut, tapi akhirnya kalah. Tiap komplikasi yang saya alami cukup membuat seorang meninggal. Mata kanan saya buta. Tubuh saya rapuh. Saraf kedua kaki mati. Otot mengerut dan kaki menekuk
Semua dokter telah berusaha sekuat tenaga, sampai akhirnya mereka menyerah dan mengatakan saya akan mati.
Selama waktu itu saya mengalami peristiwa yang mengubah kehidupan. Secara tiba-tiba dunia fisik menghilang dan roh saya keluar dari dalam tubuh fisik saya. Saya tidak lagi berada di ruang rumah sakit, saya memasuki dunia roh. Seketika saya menyadari dua hal : bahwa dunia roh adalah nyata dan waktu seperti tidak berjalan.
Sangat mencengangkan ! saya menjelajah ke suatu tempat dan saya tidak dapat mengendalikannya.
Tiba-tiba, ada sebuah pintu yang akan tertutup. Kegelapan seketika mulai menutupi sekelilingku, dan saya mulai menyadari bahwa ada titik pemisah. Datang melalui ruang yang hampir tertutup adalah suatu cahaya putih yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Saya menyadari apabila pintu itu benar-benar tertutup, maka saya akan terpisah dengan sinar putih itu selamanya.
Saya mengalami ketakutan dan ke-putus-asa-an yang luar biasa. Saya tidak ingin terpisah dengan cahaya itu dan sampai akhirnya saya menangis kepada Tuhan.
Sebelumnya saat dibawa kerumah sakit setelah kecelakaan, saya ditanya : ‘Apakah kamu seorang kristen ketika peristiwa ini terjadi ?’. Malam pada saat saya dimasukkan kedalam ruang UGD, meskipun saya tidak ingat, saya meminta ibu saya untuk mengirim pendeta yang saya kenal. Ia datang ke sisi saya, memberi saya minyak dan mendoakan saya.
Pertobatan terjadi pada saat itu. Saat saya terbaring disana, terluka parah, sakit hampir mati. Saya berteriak “Tuhan, maafkan saya. Berilah aku kesempatan kedua”. Saya tidak tahu bagaimana berdoa dan aku meminta ampunan Tuhan.
Ketika pintu itu mau tertutup, saya takut kegelapan. Kemudian saya berteriak : “Tuhan, saya mau hidup ! Maafkan saya ! Tolong beri aku kesempatan lagi”…
Kemudian Tuhan mulai memperlihatkan kepadaku kejadian-kejadian dimasa datang. Saya melihat saat-saat, detik, hari-hari, minggu, bulan dan tahun berlalu didepanku – semuanya tersambung. Saya melihat waktu – Saya tidak tahu bagaimana Tuhan melakukan ini, tetapi Dia punya kemampuan. Saya melihat diri saya sendiri melihat orang-orang yang saya tidak tahu seakan-akan saya tahu mereka, seperti saya sedang menonton televisi. Ketika saya melihat diri saya sendiri melakukan sesuatu yang bodoh, saya berteriak : “jangan lakukan itu”. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya hanya bisa melihat. Kemudian saya melihat sesuatu yang lainnya lagi.
Kemudian Tuhan mengatakan kepadaku bahwa saya akan kembali ke bumi. Tuhan tidak berbicara kepada saya dalam bahasa yang saya gunakan sekarang, tetapi dalam kesadaran dan pengetahuan bahwa saya akan dikirim kembali. Kemudian saya kembali kepada kehidupan saya dan masuk kedalam badan jasmani saya. Tiba-tiba saya dapat mendengar dan melihat dengan mata dan telinga fisik saya.
Kemudian saya tersadar. Saya menyadari bahwa saya berbicara dalam suatu bahasa yang indah, dan bingung apa yang terjadi. Segera setelah saya pikir bahasa itu berhenti, saya menyadari bahwa saya masih hidup. Suhu 106 derajat sudah menurun, kemudian saya tertidur untuk pertama kalinya semenjak terjadinya kecelakaan itu. Ketika saya terbangun beberapa jam kemudian saya merasa sakit karena sprei lengket dengan keringat dan darah saya, tetapi suatu istirahat didalam kedamaian untuk pertama kalinya didalam hidup saya, itu adalah kedamaian yang benar-benar damai.
Dokter tidak memahami pengalaman saya dan tetap menunggu kematianku – tetapi saya tidak mati ! Saya masih sangat sakit dan sepengetahuan mereka, seharusnya saya sudah mati. Tetapi tiap hari keadaan saya semakin membaik. Meskipun syaraf di kedua kaki saya mati, dan dokter mengatakan bahwa saya tidak akan dapat berjalan kembali.
Selama beberapa tahun saya mengalami 75 sampai 100 operasi. Saya tidak tahu bagaimana pengalaman spiritual itu terjadi pada diri saya.
Kaki kanan saya mulai sembuh dan dapat digerakkan tetapi kaki kiri saya masih membandel tidak mau bergerak. Tetapi setiap hari saya memerintahkan kaki kiri saya untuk bergerak ‘Ayo .. Ayo …Jalan’ , dan sampai pada akhirnya suatu hari kaki kiri saya dapat bergerak dan saya dapat berjalan. Kemudian saya buang penyangga kaki saya dan tidak pernah saya sentuh lagi.


Rabu, 26 April 2017

KESAKSIAN PELAYANAN MALAIKAT TUHAN

 OLEH JOSEPH RAPHAEL PRIMA


Ibrani 1:14, Bukankah mereka ( malaikat ) semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka ( Orang Percaya Yesus ) yang harus memperoleh keselamatan..?

Inilah dimana TUHAN berkata, 

“ Malaikat-MalaikatKU adalah Partnermu nak, mereka akan membantu engkau, melayani engkau dalam setiap Jalan-JalanKU seperti AKU juga selalu menyertai perjalananmu sebab engkau berjalan bersamaKU dan Malaikat-MalaikatKU yang juga ada bersama-sama denganKU selalu bersama denganmu. “

Ada beberapa kali TUHAN ijinkan saya melihat, menerima pelayanan, bantuan bahkan menjamu Malaikat-MalaikatNYA.

Raphael memberikan arahan untuk Tugas TUHAN dalam sektor Kesembuhan

Yang pertama adalah ketika saya kembali dari hidup lama saya, kembali untuk panggilanNYA yang kedua dimana ketika saya DIA panggil untuk yang pertama kali di tahun 2007, dalam perjalanannya saya ingkari panggilanNYA dan menghindar dariNYA, saya tetap ibadah tapi saya hindari panggilanNYA, dan hidup dalam “abad kegelapan” dalam hidup saya. Hari itu pelayanan saya yang ketiga kalinya bersama GKKD Jogja dalam Ibadah Natal Sekota 2011 yang dilaksanakan Januari 2012 di Magelang. Hari itu saya melayani sebagai Choir, sampai ditempat kami diberitahu bahwa nanti kami harus merangkap sebagai Konselor yang mendoakan orang sakit. Saya berpikir, “ Yang bener aja, aku ini Choir kok malah disuruh jadi pendoa yang doakan orang sakit. Bagaimana aku bisa? Aku baru mulai pelayanan dan hal lainnya. “ Yang memang akhirnya 1 tahun kemudian TUHAN panggil sebagai Pendoa namun sejujurnya hari itu sungguh berat buat saya, buat iman saya.

Sepanjang ibadah dan melayani sebagai Choir saya terpikirkan “tugas konselor” tersebut. Sampai akhirnya tibalah waktu melayani sebagai konselor, saat itu saya hanya pasrah. Ya sudah doakan saja. 1 orang, 3 orang sampai 6 orang saya doakan semua berkata kurang lebih,

“ HaleluYAH, terima kasih TUHAN. Saya sembuh. “

Disitu iman saya mulai naik, mulai ‘pede’ dan langkah tegap dengan percaya ‘diri.’ Sampai saya berjalan ke belakang, keluar gedung karena gedung itu tak cukup menampung orang yang datang. Tiba-tiba ada seorang yang tinggi besar, cukup ganteng dan berpakaian batik biru. Dia pegang pundak saya, keduanya sambil hadapkan muka saya ke muka dia lalu dia putar-putar tubuh saya yang akhirnya kembali ke arah saya sebelum dia pegang pundak saya. Dia rangkul saya, sambil tunjuk satu arah dan berkata,

“ Itu, bapaknya yang baju kuning sakit. Kamu kesana dan doain dia. “

Saya cuma toleh sedikit ke dia dan anggukkan kepala saya. Saya hampiri bapak berbaju kuning dengan mantap, sampai didepan beliau iman saya drop, hilang semua ke’pede’an saya, hilang semua kemantapan saya. Saya lihat ada bulatan daging di bawah rahang sebelah kirinya, besar, sungguh besar. Saya diberitahu keluarganya bahwa itu Tumor, tambah drop saya. Tapi saya ga bisa balik, ga bisa tinggalkan begitu saja karena saya sudah datang dan menawarkan diri mendoakan. Pasrah saya mulai pegang Tumor itu dan berdoa, beberapa waktu saya rasakan Tumor itu mengecil, sungguh mengecil sedikit demi sedikit. Hingga tinggal kecil sekali, saya tanya ke TUHAN bagaimana kok belum hilang..? TUHAN katakan hati, saya tanya kepada bapak itu dan memang dia punya kepahitan, dendam dengan temannya, kami sepakat bapak ampuni dia dan Tumor itu sembuh sempurna. Ketika saya menoleh ke arah belakang saya tak mendapati seorang yang berbatik biru, saya cari tak ada dimanapun bahkan sampai acara selesai ia tak ada. Lalu TUHAN beri tahu kalau dia adalah MalaikatNYA, dan sore ini saya baru tahu siapa Malaikat itu sebenarnya sebab TUHAN baru bukakan identitasnya, dia Raphael.

MalaikatNYA membantu kita dalam pelayanan dengan mengarahkan kita untuk menggenapi Tujuan dan Tugas dariNYA

Abraham dilawat tiga Malaikat TUHAN dan menjamu mereka

Yang kedua hari itu ketika saya pergi ke Indomaret Babarsari di depan UPN Babarsari seusai dari Kampus, saat itu saya berjalan masuk ke Indomaret ada seorang anak kecil seperti keterbelakangan mentalnya, matanya menatap saya dan saya menatap matanya. Saya tahu ada sesuatu tapi saya ga ngerti jadi saya lewati. Setelah membayar belanjaan saya dan keluar menuju ke motor, sampai di motor anak itu lari dengan cepat ke arah saya padahal disitu sedang ramai dan halaman Indomaret penuh dengan motor. Tiba di depan saya, saya tanya dia

“Ada apa?”

Anak itu hanya memperagakan tangannya seperti sedang menyuap makanan ke mulutnya. Saya tahu dia ingin makan, dan saya tanya dia ingin makan apa, ia tak jawab, Jujur ketika lihat itu ROH KUDUS langsung berkata belikan ia makanan, dan sejujurnya uang saya sudah sangat terbatas waktu itu. Namun saya berkata kepada anak itu,

“Oke, tunggu disana yah, duduk aja.”

Dia mengangguk dan lari keteras dimana ia duduk sebelumnya. Lalu saya belikan nasi bungkus dimana saya cari-cari dan muter-muter karena saat itu bertepatan dengan salah satu hari raya jadi tak banyak warung makan yang buka. Saya belikan teh anget sebagai tambahan karena pikir saya biar ga seret makannya. Sampai di indomaret lagi, ia kembali lari mendatangi saya, saya berikan nasi bungkus dan teh angetnya. Dia balik ke teras dimana posisi itu sudah sangat penuh, tertutup dari segala sisi oleh motor dan galon-galon Indomaret, saya hanya menolehkan kepala sebentar saja sejak ia sampai di teras itu hanya untuk membelokkan stang motor, ketika saya lihat ke teras kembali saya kaget, anak itu tak ada di tempat. Hilang, saya hampiri teras tempat ia duduk ada satu bungkusan, ada satu plastik Teh Hangat. Dan saya tanya TUHAN,

“Ini apa?”

TUHAN hanya berkata, “ Engkau menjamu MalaikatKU. “

Saya ingin nangis disitu rasanya, saya tahu ia hanya minta makan, nasi, saya belikan Teh Hangat ia tak ambil, disitu saya juga belajar tentang ketepatan.

Ada waktuNYA kita dilayani oleh MalaikatNYA dan ada waktuNYA juga kita diijinkan menjamu MalaikatNYA

Malaikat TUHAN berperang melawan iblis

Yang ketiga adalah saat saya pulang dari misi EL-fenomena dalam Penerbangan dari Jakarta menuju Jogja, saat itu cuaca tiba-tiba berubah. Dan pesawat saya sempat berputar-putar di atas langit Jogja, saat itu ROH KUDUS beri tanda ada yang tidak beres. Saya langsung berdoa saat itu, karena pesawat berguncang-guncang dengan keras. Beberapa sudah seperti ketakutan, beberapa langsung berdoa. Ketika saya berdoa TUHAN katakan,

“ Aktifkan Pelayanan Malaikat nak, panggil Malaikat-MalaikatKU!”

Dan saya aktifkan, saya lihat keluar jendela benar terjadi peperangan di udara, di sekeliling Pesawat saya. Mata Roh saya DIA buka dan saya melihat jelas Malaikat-MalaikatNYA sedang berperang melawan iblis-iblis di udara. Sampai akhirnya pesawat tak lagi berguncang dan landing dengan selamat.

Malaikat-MalaikatNYA diutus untuk menjagai kita dan berperang bersama-sama dengan kita dalam keadaan apapun

Mikhael, Panglima Malaikat TUHAN

Yang keempat adalah saat ketika saya bersama dengan beberapa orang rekan berdoa untuk Kota Jogja di Menara Doa Jaringan Doa Sekota, Gloria. Saat itu hanya ada 3 Laki-Laki di Menara doa. Sebelum kami melakukan mandat TUHAN kami nyembah, kami berdoa. Ada rekan yang menangkap ada pribadi musuh yang mengintai kami hingga satu detik TUHAN berkata,

“ Aktifkan Pelayanan Malaikat Mikhael nak."

Saya pikir, ini ga main-main berarti sampai TUHAN suruh aktifkan Pelayanan Mikhael, setelah saya berdoa untuk mengaktifkan, tiba-tiba ada satu suara laki-laki ikut bernyanyi dan menyembah bersama kami, suaranya sangat cool, berwibawa, suara sebagus ini belum pernah saya dengar dan di dalam Roh saya merasa ada sosok tinggi besar penuh Kemuliaan TUHAN di sebelah kanan saya, sejujurnya saya bingung suara siapa itu, dan siapa dia namun saya tetap menyembah sampai TUHAN buat saya ngerti bahwa dia adalah Mikhael hingga akhir penyembahan dan doa Mikhael bersama-sama dengan kami menyanyi, menyembah TUHAN. Setelah itupun Mikhael menyertai kami hingga kami selesaikan misi kami hari itu.

MalaikatNYA pun turun untuk menyembah TUHAN, Sang RAJA bersama-sama dengan kita. Mereka bersukacita bersama kita dalam penyembahan yang dalam

Bukan kita menyembah Malaikat, tapi kita ber-partnership dengan mereka untuk kerjakan mandat TUHAN, setiap tugas yang DIA berikan. Sesungguhnya sesedniri-sendirinya kita ada DIA, ribuan bahkan jutaan Orang Kudus dan berlaksa-laksa Malaikat-MalaikatNYA yang bersama dengan kita.

Mari jalan dengan DIA, alami perjumpaan dengan DIA dan bekerjasama dengan Malaikat-MalaikatNYA dalam setiap misi, tugas dan mandat yang kita kerjakan. Mereka sangat siap membantu setiap kita.

Glory to GOD!!! Baruch HaShem, HaleluYAH!!!
TUHAN YESUS Memberkati...

Oleh Kasih Karunia-Nya

Sabtu, 22 April 2017

PAPA SAYA BERADA DI SURGA (GRACE NATALIA ADRIANA SIMATUPANG)


Sebenarnya, saya merasa tidak layak untuk bercerita tentang pengalaman rohani saya di FB. Namun, sejak bulan Juli 2016 ada dorongan yang terus berkata" kamu harus saksikan apa yg kamu lihat". Di lingkungan internal saya sudah menyaksikannya, namun untuk pertamakali di lingkungan eksternal saya menceritakan pengalaman ini.

Sebenarnya memasuki bulan September ini saya tidak seceria biasanya....karena di September 2015 saya harus melalui ujian iman yg begitu berat.... September 2015 merupakan bulan terkelam dalam hidup saya, saya yang amat sangat menyayangi papi dan mami saya, saya yang rela pindah ke Siantar demi menemani papi mami di hari tua, saya yang rela mengorbankan karir saya di Jakarta dengan meninggalkan sejumlah tawaran praktek di beberapa RS besar di Jakarta harus menerima kenyataan pahit.

Papi saya meninggal mendadak setelah beberapa jam sebelumnya masih mengoperasi dan menyelamatkan nyawa orang. Papi pergi  setelah sebelumnya membangunkan saya di jam 4 pagi dan beberapa menit kemudian pergi begitu saja. Kepahitan hati saya masih ditambah dengan kondisi mami yang tiba2 kankernya aktif setelah 5 tahun mami sehat2, dan dinyatakan bebas kanker. Mami kembali harus melakukan kemoterapi di Jakarta dan mami sedang di Jakarta saat papi dipanggil Tuhan.

Pada saat itu hati saya menolak, saya menangis pada Tuhan, saya berkata: Bapa, kenapa orang yang amat kusayangi dalam hidupku harus begitu cepat Engkau panggil? Dan kenapa Engkau panggil papi dalam kondisi mami yg sedang turun kondisinya?bagaimana cara kami mengatakannya pada mami? Bagaimana cara kami menjaga mami? Bagaimana mami melanjutkan hidup tanpa papi? Aku kan setia padamu Bapa? Kenapa kami harus melalui semua ini? Kami mengikuti perintah Bapa tapi kenapa kami harus mengalami kepahitan seperti ini?"  Penolakan di hati saya terjadi terus menerus....pada saat itu saya bahkan tidak mau melihat anak saya Zaveta, untuk pertama kali dalam hidup Zaveta, saya tidak perduli padanya, saya marah pada semua orang dan marah pada Tuhan Yesus.

Tanggal 7 September pagi kepergian papi, tanggal 7 September malam mami tiba dari Jakarta ke Siantar. Kondisi mami amat sangat lemah. Mami diam tapi mami shock. Ditengah kondisinya yg menurun, mami harus menerima kenyataan kepergian papi. Tanggal 8 September kami melarikan mami ke RS Vita Insani karena mami tidak mampu berdiri, kondisi amat sangat lemah,  trombosit hanya 25.000, tensi hanya 60 per palpasi...pada saat itu tim dokter menyatakan mami SIRS atau sepsis dan harus dirawat untuk mendapat obat2 inotropik karena fungsi jantung melemah. Jadi kami semua harus menahan tangis kami, menegarkan diri, memberi kekuatan dan menemani mami dirawat di RS sementara papi disemayamkan dirumah.

Bagaimana hati saya melihat kondisi mami yang kritis sambil memandang jenazah papi ??? Dunia saya runtuh. Saya setengah waras menjalani ini semua. Saya bilang pada Tuhan Yesus....bawa saya juga sama papi...saya ga sanggup...tega Engkau Tuhan....Baringkan saya disamping papi dan biarlah semua berlalu...saya ga kuat Tuhan...

Puncaknya di tanggal 10 September 2015 hari dimana papi akan dimakamkan. Pada saat itu tim dokter tidak memperbolehkan mami ikut acara pemakaman karena trombosit mami yg hanya 20.000 ( di cek trombosit tiap hari dan hasilnya selalu dibawah 50.000). Tim dokter takut mami syok karena mami juga memakai 3 jenis inotropik untuk membantu kontraksi jantung, dengan kata lain, bila obat dihentikan maka mami tidak mampu bertahan dan ditakutkan terjadi perdarahan spontan pada mami yg dipicu stress karena trombosit mami yg sangat rendah.

Mami berkeras mau melihat papi terakhir kalinya, mami memaksa harus mengantarkan papi ke tempatnya yg terakhir. Ditengah kondisinya yang amat sangat lemah, mami masih berdandan, memakai lipstik dan kaca mata hitamnya. Luar biasa melihat ketabahan hati mami, mami yang tiap hari mempunyai waktu berdoa 1 jam, mami yang dalam setiap helaan nafasnya selalu mengatakan dalam nama Yesus, mami yang selalu mengajarkan dan menguatkan kami, apapun didunia ini adukan saja pada Tuhan Yesus dan biarlah Tuhan yang membimbing jalan hidup kita.

Mami membuktikan imannya, mami kenal Tuhannya,mami tidak berteriak dan menangis2 menjerit, mami hanya meneteskan airmata dan berdoa atas semua kejadian yang dialaminya namun mami tidak marah pada Tuhan.

Mami berangkat ke tempat papi disemayamkan dengan memakai oksigen, memakai kursi roda, memakai infus pump dengan 3 jenis obat penguat jantung ( inotropik) dan ditemani tim medis dan dokter. Pada saat saya sedang mengikuti ibadah yang dilakukan oleh tim FULL GOSPEL (FGBFMI) yang khusus datang dari Jakarta, saat itu saya dipanggil oleh seorang anggota vita insani (Selly), dia berkata " dok, tolong lihat ibu, ibu ga kuat bangkit dari tempat duduk toilet". Segera saya berlari, pada saat itu saya melihat mami sedang duduk di toilet setelah BAK dengan memakai oksigen, infus pump dengan nafas tersengal2...mami bilang" Grace, mami sesak...mami ga kuat bangkit dari sini". Dengan menahan air mataku, aku memeluk mami, aku mengiggit bibirku supaya aku tidak menangis melihat kondisi mami...aku berbisik pada mami" Mi.. ingat Yesus ya mi...mami selalu bilang apa2 dalam nama Tuhan Yesus, sekarang kita coba bangkit sambil mami bilang DALAM NAMA TUHAN YESUS". Mami memandangku dan mengangguk. Aku meletakkan kedua tangan mami di leherku dan akupun memegang pinggang mami sambil berusaha mengangkat mami..."mi, dalam hitungan ketiga mami bilang "DALAM NAMA TUHAN YESUS ya, mami tegakkan kaki mami dan berdiri ya...." mami pun melakukannya dan karena nama YESUS, mami pun berhasil berdiri. Aku segera menyuruh perawat memakaikan baju dalam mami dan memegang mami, tapi aku tidak mau memandang mami karena bila kupandang mami pasti tangisku pecah.....lalu aku segera kabur dari kamar mandi.....aku ga kuat, aku ga mampu tidak menangis, aku berjalan sambil menangis sambil melangkah ke samping  jenazah papi sambil mengikuti kebaktian dari tim Full Gospel....

Sambil mengikuti kebaktian ....air mataku mengalir terus menerus bagaikan sungai derasnya, aku menangis tanpa suara, hatiku sakit melihat kondisi mami dan memandang jenazah papi dan aku hanya mengatakan kata2 ini pada Tuhan " Tuhan, aku ga sanggup lagi, Tuhan tolong aku, Tuhan ambil alih daripadaku...tolong aku Tuhan...Tolong Tuhann.." berkali kali kata2 itu aku ucapkan dan sambil berdoa airmataku tetap mengalir seperti aliran sungai.

Pada saat itu tiba2 aku merasakan lidahku bergoyang sendiri, aku ketakutan karena aku mengira aku bakal kena stroke...aku menutup mulutku dengan satu tangan namun lidahku semakin kuat bergoyang...akhirnya aku menutup mulutku dengan kedua tangan karena aku takut dilihat orang. Namun semakin kuat aku menutup mulutku, bukan hanya lidah yang bergoyang namun mulutku bergoyang sendiri dan tiba2 aku bebahasa roh.....yahhhh aku berbahasa roh. Padahal aku tidak pernah berbahasa roh dan tidak mengerti bagaimana bahasa roh. Aku juga tidak begitu percaya dulu dengan bahasa roh...namun aku mengalaminya....dimana mulutku bergoyang sendiri tanpa bisa kukontrol.

Pada saat berbahasa roh aku menutup mata...pada saat itu aku melihat langit dan melihat YESUS amat sangat besar di langit, Tuhan berkata padaku : Grace, kenapa engkau menangis??? Papimu sudah senang di sorga" dan Tuhan membuka suatu layar dilangit dan tampaklah bagiku satu paduan suara yang sedang bernyanyi. Mereka membentuk dua barisan yang rapi dan memanjang ke kanan. Mereka semua memakai jubah putih panjang dengan tanda salib ungu didadanya.. aku tidak mampu mengenali orang2 lain di paduan suara tersebut karena wajahnya semua sama namun aku mampu melihat papi....yah aku melihat papi berdiri di tengah2 barisan, dengan usia sekitar 45 tahun, dia tampak muda dengan belahan rambut ke samping ( pada saat meninggal belahan rambut papi ke belakang semua).

Papi kurus, muda dan ganteng.....aku melihat papi sedang bernyanyi....aku berteriakkk " PAPIIIIII...aku disini piiii lihattt piiii...aku disini sebelah kiri papiiii.....lihatt piiiii...aku berteriak sekuat tenaga namun papi tidak juga menoleh....lalu aku berkata pada Tuhan...Tuhannn...bilang papi aku disinii...suruh papi menoleh ke kiri....namun papi tetap tidak mendengar aku....karena kecapean aku akhirnya berhenti berteriak dan terdiam sambil terus memandang papi yang sedang bernyanyi. Papi tampak muda dan tampak ganteng dengan jubah putihnya....

Tiba2 penglihatanku berubah....aku melihat satu lapangan sepak bola besarrrrr dan ratusan ribu penontonnya...anehnya penontonnya semua memakai jubah putih dan wajah mereka sama semua...mereka sedang bernyanyi2 lagu pujian . Setelah melihat penglihatan tersebut aku tersadar....namun aku tidak mampu menghentikan bahasa roh sampai akhirnya pendeta Hutagaol yang mendoakan aku...dia berkata " terimakasih Bapa, Engkau memberikan roh penghibur kepada anak ini..kuatkan anak ini Bapa" pada saat itulah aku mengerti mengapa aku bisa berbahasa roh, ternyata Tuhan mengirimkan roh kudus penghiburnya padaku...dan pada saat itulahhh aku mendengar seseorang berkata di telinga kiriku " MARILAH KEPADAKU SEMUA YANG LEMAH LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT, AKU AKAN MEMBERIKAN KELEGAAN KEPADAMU" (Matius 11: 28)

Pada saat suara itu berhenti, aku merasakan bebanku yang berat, bebanku yang hitam kelam dan membuatku sesak terangkatttt langsung...pada saat itulah aku mampu tersenyum dan pada saat itulah aku tidak mampu menangisi papi seperti sebelumnya...aku merasa ringan, aku merasa kuat dan aku merasakan kasih Tuhan....aku berteriak2 kepada mami...." mamiiiii..aku melihat papi di sorga....mami tenang sajaa..papi di sorga...aku berteriak2 pada mami....pada saat itu mami menangis sambil berkata " halelluyaaaa Tuhan...terimakasihhh Tuhannnnn"

Aku pun lalu mengikuti acara keberangkatan papi dengan hati yang kuat dan tenang...aku akhirnya merelakan kepergian papi. Kami semya dapat melepas kepergian papi dengan tenang dan setelah itu mami kembali ke RS untuk kembali dirawat..

Aku bertanya tanya kepada Tuhan kenapa Tuhan memperlihatkan tempat papi di sorga, karena menurut beberapa pendeta, itu adalah satu karunia... aku merasa tidak layak karena aku orang berdosa, aku masih banyak kekurangan dan belum bisa menjadi orang yg mempunyai buah roh.....

Ternyata tujuan Tuhan lain...Tuhan memberikanku penglihatan untuk menguatkanku dalam proses berikutnya  karena memang aku harus menghadapi proses pemanggilan Tuhan terhadap mami....aku harus menghadapi kondisi mami yang semakin menurun sampai akhirnya mami masuk ventilator di RS Columbia Asia Medan. kami memutuskan memindahkan mami ke RS Medistra Jakarta dengan memakai pesawat yang ada ventilatornya dari Medan ke Jakarta.  Dan saya, suami, Zaveta serta 2 perawat kami sudah sampai duluan di Bandara Soekarno Hatta untuk menerima mami di bandara.... Namun proses ini gagal karena mami sudah meninggal di bandara Kualanamu persis didepan pesawat yang sudah tiba dari Jakarta..jadi saya menyaksikan detik2 mami meninggal dan di resusitasi oleh tim Siloam Jakarta dengan LINE yg dinyalakan oleh abang saya selama mami kritis ...saya yg waktu itu baru saja nyampe di bandara Soetta menangis histeris melihat detik2 kepergian mami melalui video call....dan saya harus kembali lagi ke Medan...betapa berat beban yang harus saya alami....

Kembali 26 hari kemudian setelah kepergian papi, kami harus merelakan kepergian mami kami....dalam waktu 1 bulan kami menguburkan kedua orangtua kami...kedua orangtua kami yang amat sangat kami sayangi, bahkan di tahun 2009, tahun pertama kali mami didiagnosis kanker multiple mieloma grade IIIb ( late stage) dan prof hematologi yang mengatakan usia mami tidak lebih dari 3 bulan karena kankernya sudah metastasis ke tulang dan ginjal dan kaknker sudah menyebar 70% keseluruh tubuh.  Saya yang sedang menjalani masa PPDS Anak di RSCM selalu menangis setiap hari melihat kondisi mami sampai saya selalu memakai masker supaya teman2 tidak melihat wajah dan  mata saya yang selalu bengkak. Setelah cape menangis, akhirnya sambil berdoa saya membuat tawaran pada Tuhan" Tuhan...saya masih muda, saya tidak punya anak dan tidak akan ada yang kehilangan saya...saya mohon pada Tuhan, jangan ambil nyawa mamiku tapi saya rela Tuhan ambil nyawaku sebagai ganti nyawa mami"

Tuhan menjawab doaku dengan memberikan mujizat mami hidup lebih panjang, semua teman2nya dengan sakit yang sama meninggal namun mami bertahan dan bahkan sehat selama 5 tahun terakhir...mami mampu jalan2 ke mana mana dan melakukan aktivitasnya sehari hari....namun ternyata Tuhan memanggil papi dan mami bersamaan.

Setelah kejadian ini, saya mengerti..kita yang mengikut Tuhan tidak akan terbebas dari masalah...Tuhan tidak pernah menjanjikan kita akan bebas masalah namun Tuhan selalu menjanjikan KEKUATAN. Pada saat imanmu diuji, pada saat itulah Tuhan menilaimu...sanggupkah engkau melewati ujian atau tidak dan apakah engkau tetap bersyukur pada Tuhan atau tidak...karena mereka yang tahan uji dan tetap setia pada Tuhan akan menerima mahkota ( Yakobus 1:  12) namun mereka yang lemah dan menyerah akan menerima kegagalan demi kegagalan dalam hidupnya.

Sejak kepergian papi mami, fokus hidup saya berubah. Kalau dulu saya berfokus menjadi dokter anak yang kaya raya, dokter anak terkenal dan hebat....namun sekarang fokus saya berubah....saya berusaha semampu yg saya bisa untuk menolong orang atau pasien saya...saya butuh duit tapi saya tidak fokus menjadi orang yang kaya raya.
Kekayaan tidak terlalu menarik lagi bagi saya, karena saya melihat dengan mata kepala saya sendiri....rumah papi mami, mobilnya, harta bendanya ditinggal begitu saja pada waktu Tuhan panggil....jadi bila semua itu tidak kekal, untuk apa saya berlomba2 mengejarnya?

Meskipun saya tidak terlalu ngotot mencari uang, namun PUJI TUHAN....dengan masa kerja saya yg baru aktif 9 bulan, Tuhan membuka pintu2 rejekinya dengan amat sangat luar biasa sehingga saya terheran heran....pada waktu itulah saya membuktikan kata kata firman " berkat Tuhan yang menjadikan kaya, susah payah tidak menambahi" (Amsal 10:22)

Beberapa orang merasa heran melihat saya dan abang serta adik saya yang merasa begitu kehilangan orangtuanya, padahal banyak orang yang ditinggal orangtuanya tidak sesedih dan sedepresi kami. 

Jawabannya sederhana, tidak semua orang punya hubungan yang kuat dengan orangtuanya, banyak yg tidak terlalu akrab dengan orangtuanya. Namun,  hubungan kasih kami dengan mami papi amat sangat kuat, kami benar benar dicintai dan dikasihi oleh mami papi. Kami selalu menyempatkan diri kami pulang di hari2 ulangtahun mami papi sebagai bentuk terimakasih kami pada mereka berdua...tanpa didikan mereka berdua, kami hanyalah manusia yang sekedar bernafas...namun karena didikan mereka, kami bukan hanya bernafas namun kami mampu melakukan sesuatu yang baik pada orang lain.


Cerita ini saya ceritakan apa adanya, kejadian pada waktu saya berbahasa roh dan melihat papi di sorga disaksikan hampir 200 an orang yang memang sedang mengikuti prosesi pemakaman papi. Saya tidak menambahi atau mengurangi cerita ini, biarlah pengalaman ini menjadi kekuatan bagi mereka yg mebutuhkan dan menjadi saksi bagi mereka yang belum percaya.


Selasa, 18 April 2017

KUNYANYI HALELUYA, LAGU YANG DITULIS DARI KISAH YANG MENGHARUKAN

Ku Nyanyi Haleluya adalah lagu penyembahan yang mulai populer dibawakan oleh kelompok pujian penyembahan Symphony Worship dari GBI City Tower, Jakarta Pusat.
“Ku nyanyi haleluya, ku nyanyi haleluya, sungguh Kau hebat, ajaib perkasa, perbuatan-Mu (di hidupku)”, demikian sepenggal lirik lagu pujian ini berkumandang dan memberkati para pendengarnya. Tak hanya lirik dan iramanya saja yang membuat lagu ini menjadi salah satu pujian yang banyak dikumandangkan di gereja-gereja di tanah air. Tetapi ternyata ada kisah mengharukan di balik terciptanya lagu ini loh.
Lagu ini ternyata ditulis oleh seorang anak Tuhan yang bernama Wawan Lee. Dia adalah penyanyi rohani Kristen yang berdomisi di Singapura. Dalam kesaksiannya Wawan Lee menuturkan bahwa terciptanya lagu ini berawal dari kondisi hidup yang dia hadapi. Dia menuturkan, dulu keluargnya hidup di tengah kondisi ekonomi yang serba kekurangan. Sementara sang ayah harus menjalani perawatan medis akibat sakit jantung yang dideritanya. Di saat yang bersamaan, dia juga harus menerima kenyataan bahwa keluarga dari sang kekasih menolak Wawan karena latar belakang keluarga yang kurang mampu.
“Yang saya lakukan adalah doa dan doa…sampai sekali waktu, saya join dengan Symphony Worship 2014. Ketika itu saya dalam keadaan stress, walau teman-teman tidak tahu keadaan saya sesungguhnya, karena saya nggak pernah cerita kepada semua orang,” tuturnya.
Tapi suatu kali saat dirinya mengambil waktu untuk menulis lagu. Di depan sebuah piano Wawan seperti mendapat inspirasi tiba-tiba untuk menulis setiap kata yang keluar dari hatinya. “Jangan takut, jangan cemas jangan bimbang, percaya kepadaKu.” Lalu aku bangun dari piano, berdiri sambil angkat tangan, tiba-tiba Tuhan kasih nada dan kata-kata: Kunyanyi Haleluya,” terangnya.
Saat Wawan mulai menulis lagu, dia membayangkan bahwa dirinya tengah berada dalam pertarungan Daud dan Goliat. Di situlah dia dengan spontan merampungkan lagu penyembahan ini pada tahun 2014 silam.
Satu tahun setelah lagu ini dibuat, Wawan seakan menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja luar biasa dalam hidupnya. Dia pada akhirnya mendapat restu dari orang tua sang kekasih dan menikah pada tahun 2015 silam. “Puji Tuhan saya menikah tahun 2015. Semua Tuhan cukupkan, bahkan Tuhan membuat semua indah, Tuhan Yesus luar biasa,” terangnya.
Berikut lirik lagu lengkap “Ku Nyanyi Haleluya” :
Verse 1
Bapa ku datang menyembah-Mu di sini
Ku percaya Kau ada bagiku
Tak usah ku takut s’bab Kau sertaku
Tak usah ku bimbang, Kau di dalamku
Tak usah ku cemas, Kau penghiburku
Saat ku lemah, Kau kuatku

Chorus
Ku nyanyi haleluya
Ku nyanyi haleluya
Sungguh Kau hebat
Ajaib perkasa
Perbuatan-Mu di hidupku….
Sumber : Berbagai Sumber/jawaban.com

Jumat, 14 April 2017

KISAH NYATA BEZALEEL : PAPIKU SUDAH TENANG BERSAMA TUHAN


Nama saya Bezaleel Subhan, atau biasa dipanggil Subhan. Saya tergabung dalam sebuah gangster di Jakarta, dan saya bangga akan itu, karena nama besar yang saya sandang. Sudah pasti perkelahian menjadi makanan sehari-hariku.
Saya adalah pencinta darah! Setiap kali selesai melakukan kekerasan, saya selalu menjilat darahnya di depan mata si korban saya itu.
Penusukan dan pemukulan membuat pundi-pundi harta saya bertambah banyak. Saya semakin beringas. Emosi saya tidak dapat dikendalikan. Suatu kali, saya dan teman-teman pergi ke klab malam. Saya sedang mengobrol dengan pacar saya. Ada teman saya yang memandangi pacar saya dengan tatapan aneh, dan saya langsung berpikiran bahwa dia mau macam-macam dengan pacar saya. Saya mau bunuh dia.
Adu jotos pun tak terelakkan. Saya selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan.
Sifat keras dan kasar saya mungkin memang sudah turunan dari sononya. Pasalnya, sejak kecil saya sudah melihat langsung kekerasan di dalam keluarga saya.
Belasan tahun sebelumnya….
Waktu itu saya masih kecil, sekitar usia bangku SD. Berkali-kali di rumah saya menyaksikan Papi memukul Mami. Kalau Papi mukul Mami itu sadis. Mami sampai nangis dan teriak, dan tetangga sekitar bisa mendengar.
Pernah, Mami dipukul Papi sampai kepala Mami sobek. Mami meminta saya untuk mencukur rambutnya; Mami ingin membotakkan kepalanya!
Terus terang, saya kasihan melihat Mami diperlakukan begitu oleh Papi. "Mami mendingan pergi aja deh dari rumah, biar Mami engga dipukulin Papi lagi," kataku kepada Mami waktu itu.
Mami cuma berkata, "Nak, kamu jangan marah kepada Papimu. Papimu itu sedang sakit. Jangan menjauhi dia, ya?"
Aku hanya mengangguk.
Saya sempat memergoki Papi sedang melakukan ritual gaib di kamarnya. Dari situlah saya sadar bahwa Papi selama ini memakai ilmu hitam untuk menghimpun kekuatannya. Karena dia tidak bisa mengontrol kekuatan yang ada dalam dirinya, makanya Papi sering ngamuk. Itulah akibat dari okultismenya.
***
Itulah kilasan balik peristiwa di masa kecil yang melatarbelakangi kekerasan yang sering saya lakukan.
Saya punya kerinduan agar keluarga saya baik-baik saja. Saya mencari tahu bagaimana caranya supaya Papi bisa lepas dari jerat okultismenya. Nyatanya tak ada hasil padahal semua usaha sudah saya coba.
***
Pada suatu hari saya bermain basket. Saat sedang istirahat, saya bertemu dengan seorang pemuda yang usianya mungkin sebaya saya. Namanya David. Saya berkenalan dengan dia dan mulai saling mengobrol. Melihat ketulusannya, saya jadi tidak ragu untuk terbuka menceritakan permasalah keluarga saya.
"Vid, lu bisa bantu gue, engga?" tanyaku. "Gue pengen keluarga gue bahagia, bokap gue sembuh, dan bokap mau melepaskan ikatan okultismenya."
David langsung menjawab, "Ada satu pribadi yang akan menolong lu. Lu harus percaya dan menerimanya, Subhan. Pribadi itu namanya Yesus, Isa Almasih."
David mendorong saya untuk percaya dan menerima Yesus. Namun dia mengingatkan bahwa masih ada tugas saya. "Itu semua harus berawal dari kamu, Subhan. Kamu harus berubah dulu, baru Papi kamu bisa berubah," kata David. "Kamu bisa menyembuhkan Papi kamu."
Kemudian David memberi saya Alkitab dan buku renungan harian. "Gue harap lu bisa baca itu setiap hari. Di sini lu bisa tahu tentang apa yang mau Tuhan lakukan dalam hidup lu," pungkasnya.
Saya menerima dua buku pemberian David. Tapi, saya masih bingung bagaimana harus berdoa untuk Papi saya. "Yaealah.." kata David. "Lu enggak usah bingung. Lu ngomong aja langsung sama Tuhan pakai bahasa lu sendiri! Tuhan tahu hati lu."
Mulai saat itu, saya berdoa buat Papi.
***
Beberapa minggu kemudian, saya menerima telepon dari keluarga. Kebetulan saat itu saya sedang berada di Surabaya. Saya mendapat berita bahwa Papi meninggal!
Saya jatuh tersungkur saat itu juga. Mengapa seperti ini? Waktu saya berdoa buat ayah saya, kok dia malah jadi meninggal? Itu membuat saya marah.
Seketika itu juga, terkenang kembali masa kecil saat Papi suatu kali memberikan saya bola basket. Bagaikan film, gambaran itu bermain di kepala saya.
"Ini bola basket, Papi beliin buat kamu. Tapi kamu latihan yang rajin, ya, supaya kamu jago," kata Papi.
"Makasih, Papi!" kataku gembira.
Papa mengulurkan tangannya di bahuku. "Kamu tahu enggak, Papi itu sangat sayang sama kamu,"lanjutnya.
Momen inilah yang saya tidak lupa : Papi mengantar saya ke lapangan basket, beliau membuatkan saya ring basket di rumah bareng saya… Jadi, Papi juga punya sisi baik yang membekas dalam ingatan.
Makanya, begitu saya tahu Papi meninggal saya marah kepada Tuhan karena saya "kan belum sempat membahagiakan dia.
Dengan perasaan gundah gulana, saya pun membereskan barang-barang untuk pulang ke Sulawesi. Saat sedang memasukkan pakaian ke tas, tak sengaja saya membaca isi buku renungan harian yang terletak di atas ranjang. Di situ tertulis, "Mengucap syukurlah engkau karena semua itu adalah rencana-Nya."
Pada saat nangis dan disuruh mengucap syukur seperti itu, saya jadi marah.
Dalam perjalanan menuju bandara, saya merenungkan isi renungan tadi. Dan saya menantang Yesus pada waktu itu, "Oke, Tuhan, kalau memang ayah saya meninggal dan kini ada bersama-Mu, saya minta Engkau buat jenazah ayah saya tersenyum."
Sesampainya saya di Sulawesi, saya langsung dijemput untuk melihat jasad ayah.
Mami menghampiriku dan berkata, "Nak, Papimu sekarang sudah ada di sorga."
"Maksud Mami gimana?" tanyaku kebingungan.
"Sebelum Papi meninggal, dia berdoa bersama om kamu," jawab Ibu. Rupanya sebelum meninggal, Papi sempat menceritaakan uneg-unegnya kepada om saya, bahwa dia sudah lelah dengan jimat dan ilmu yang dipegangnya. Papi merasa bersalah kepada Tuhan. Papi bertanya kepada Om apakah dirinya dapat diampuni dan diterima oleh Tuhan.
"Kamu tidak usah khawatir," kata Om kepada Papi waktu itu. "Dia sudah terlebih dahulu berkenan menerima pertobatan kamu, karena Dia sangat menyayangimu."
Mendengar cerita itu, aku menangis terharu. Tetapi saya masih mau lihat dulu, seperti apakah wajah Papi di dalam peti mati itu. Aku pun mendekat.
Beliau tersenyum.
Saya berlutut di depan jenazah Papi. Saya menangis, tapi bukan karena dia meninggal, melainkan karena Yesus hidup dan ayah saya bersama Yesus.
Kejadian-kejadian yang telah saya alami membuat saya ingin lebih lagi mengenal Yesus, Isa Almasih ini. Siapa Dia sebenarnya?
***
Saya kagum dengan Yesus. Dengan pribadi-Nya yang penuh dengan kelemahlembutan, kasih, dan pengendalian diri, Dia mengubah hidup saya begitu banyak. Dan saya mau menjadi seperti Yesus, meniru karakter-Nya.
Saya harus melatih supaya diri saya berubah.
David, kawan saya tadi, pernah berkata, "Kalau lu mukulin orang yang bikin lu emosi, itu biasa. Tapi, kalau lu mengasihi orang yang bikin lu emosi, itu yang luar biasa." Saya pun belajar untuk meninggalkan sifat keras saya dan berubah menjadi orang yang lemah lembut.
Kini, saya mengisi hari dengan menjadi pelatih parkour dan freestyle basketball. Saya membagikan hal yang baik dengan orang lain. Mengapa? Karena kita sudah terlebih dahulu mendapatkan kebaikan dari Yesus.

Sumber Kesaksian:
Bezaleel Subhan

copas : https://www.facebook.com/KesaksianMujizatYesusKristus/posts/515229635207121

Senin, 10 April 2017

KISAH NYATA MASNITA, AKHIRI HIDUP DENGAN TENGGAK OBAT NYAMUK


Ditengah-tengah bahtera rumah tangga yang sudah dibina Masnita sejak akhir tahun 1990, ia pun harus menghadapi kenyataan pahit ketika suami yang dicintainya memperlakukannya dengan sangat kasar. Ia mengakui bahwa setelah satu tahun pernikahan mereka, suaminya tak segan-segan memukuli Masnita dan anak-anaknya.
"Saya pernah melihat anak saya juga dipukul. Itu saya lihat sendiri. Ia dipukul, di tendang, diseret."
Seorang ibu yang melihat perlakuan ayah kandung terhadap anaknya sontak menjadi akar pahit bagi Masnita. Ia tidak dapat menerima perlakuan seorang ayah kandung yang tega menganiaya anak dan istrinya. Perlakuan sakit itu pun harus ditanggungnya hingga bertahun-tahun lamanya. Belum sampai disitu, masnita juga harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya punya simpanan istri muda.
"Tadinya saya tidak tau kalau suami saya punya istri muda. Sampai saya tahu pada saat usia kandungan yang ke delapan bulan. Itu anak yang ke empat, ada perempuan yang menelepon, mencari suami. Ia mengaku bahwa ia adalah istrinya bapak. Saya syok."
Bukan justru mengakui perbuatannya, suami malah menyiksanya hingga ia mengalami pendarahan. Perlakuan kasar suaminya selama itu membuatnya semakin tidak tahan dan tidak lagi betah untuk hidup bersama. Akhirnya mereka cerai dan hutang piutang kembali membelit kehidupannya.
"Saya habis untuk membayar segala hutang piutang, memPHK karyawan dan lain sebagainya. Sampai rumah kami pun yang ditinggalin pun harus ikut terjual dan cari kontrakan rumah petak."
Dengan kenyataan harus kehilangan segala harta benda dan suaminya, Masnita mengalami rasa kecewa dan putus asa terhadap apa yang menimpa kehidupannya. Hingga ia mengakui bahwa ia tak lagi mempercayai Tuhan saat itu.
"Saya sudah tidak berfikir lagi Tuhan..Tuhan, bagi saya itu tidak ada.Itu kecewa yang sangat mendalam kepada Tuhan."
Depresi yang dialaminya sempat melumpuhkan akal sehatnya dengan mengambil keputusan untuk bunuh diri massal bersama keempat anaknya dengan cara meminum racun serangga. Namun tanpa ia pahami, sebuah pertolongan datang menghampirinya dan tiba-tiba sebuah cahaya dan seorang sosok menghampirinya.
"Itu adalah laki-laki putih, berbaju putih, berkerudung. Dia hanya mengatakan, datanglah kerumahku maka aku akan menolongmu."
Sejak saat itu, Masnita tiba-tiba merasa tidak lagi sendiri dan tak berdaya. Ada kekuatan yang dia rasakan dan juga seorang sosok yang akan tetap menopangnya. Hingga keajaiban-keajaiban lainnya pun ia alami dan mengalir begitu saja. Berkat-berkat yang ia terima mengubahkan hidupnya perlahan-lahan.
"Bagi saya, ini hidup saya yang kedua. Saya pertaruhkan, saya serahkan kepada Tuhan. Tidak ada yang lain. Saya ingin membuat orang lain berarti sebagaimana juga Tuhan menolong saya menjadikan hidup saya lebih berarti."
Alhasil, keempat anak-anak Masnita berhasil dalam pendidikannya. Mereka hidup dipenuhi dengan kebahagiaan, semakin mencintai Tuhan dan mengulurkan tangan untuk menolong orang lain.
Demikianlah kisah Masnita, ibu empat anak yang berjuang dalam keterpurukan hidupnya dari seorang yang tidak memiliki apa-apa, merasa tidak berarti dan tak sanggup menghadapi pahitnya kenyatan hidup hingga Tuhan pulihkan dan pelihara menjadi berkat bagi banyak orang.

Sumber kesaksian:
Masnita Sarah Dinata

COPAS : https://www.facebook.com/KesaksianMujizatYesusKristus/posts/517048531691898

Kamis, 06 April 2017

KISAH NYATA ERNAWATY NYARIS BUNUH AYAH AKIBAT DENDAM MEMBARA


Perpisahan orang tua ernawaty menjadi awal penderitaan keluarganya, harapan dan impiannya berubah. Sejak ibunya menikah lagi dengan ayah tirinya, mereka selalu mendapat perlakuan kejam dari ayahnya.
"Kalau saya nggak pernah dianggap sebagai anak" katanya.
Sejak kehadiran ayah tirinya hingga mereka beranjak besar, ayahnya selalu berlaku kejam terhadap dia dan adiknya. Ia mengakui bahwa ayahnya sering kali memukuli mereka tanpa sebab yang jelas. Sementara ibunya tak dapat berbuat apa-apa bila sang ayah sudah murka terhadap kedua gadis si mata wayangnya itu.
Selama bertahun-tahun mendapat perlakuan dan penderitaan yang tak kunjung berakhir, menggoreskan dendam dan benci yang sudah memuncak di hati erna. Hingga kemudian ia berencana untuk membunuh sang ayah.
"Aku pernah mau bunuh Bapak aku pake pisau gitu, tapi gagal.Nggak tau kenapa. Ada suara ngelarang aku untuk membunuh gitu."
Rencananya gagal karena ia menuruti suara yang melarangnya untuk membunuh sang ayah. Setelah kegagalannya itu, ia tak juga berhenti untuk merencanakan pembunuhan yang kedua kalinya. Kali kedua ini, ia coba untuk membunuh ayahnya lewat minuman yang dibubuhi obat supaya ayahnya overdosis. Namun ia harus menerima kegagalan kali kedua.
Ia merasa capek dengan kegagalannya untuk berusaha membunuh sang ayah. Lalu terbersik dalam pikirannya untuk mengakhiri hidupnya akibat lelah dan beratnya penderitaan yang ia alami selama hidup bersama dengan ayah tirinya. Namun apa daya, ia tetap saja gagal karena suara yang sama yang ia dengar.
Dengan hati yang hancur, ia datang kehadirat Tuhan dan mempertanyakan penderitaan yang ditimpakan kepadanya itu. Ia bertanya mengapa ia harus mendapatkan seorang ayah tiri yang memperlakukan ia dengan sangat kejam. Hingga ia mendengarkan sebuah suara yang berseru:"Anakku,Aku mengasihimu.Kalau engkau percaya kepadaku, percayalah akan mujizat yang terjadi."
Ada sebuah harapan yang masih terbungkus rapat di hati erna, sebuah harapan atas pertobatan sang ayah dan perubahan hidup yang lebih baik atas keluarganya. Hingga suatu hari, ketika ia ikut sebuah persekutuan Kristen, ia harus mengambil satu keputusan tersulit yaitu mengakui segala kesalahannya. Mau mengampuni segala kesalahan ayahnya dan mencoba untuk menerima dan mengasihi ayahnya.
Namun Tuhan berbicara melalui seorang hamba yang melayani dalam persekutuan itu. Sampai akhirnya erna mau mengambil komitmen untuk mengampuni ayah yang sudah memperlakukannya, adik dan ibunya dengan kejam.
"Aku berjanji sama Tuhan. Tuhan aku mau mengampuni bapakku."
Sejak itu, ia meminta ampun atas kesalahan yang ia lakukan atas rencana pembunuhan yang pernah ia lakukan. Dan akhirnya ia merasakan terlepas dari akar pahit, rasa dendam dan benci yang sudah berkobar dalam hati selama bertahun-tahun. Ia mau mengasihi, mengampuni dan menerima ayahnya tanpa mengingat lagi segala perlakuan kejam yang ia alami selama ini.
Mengampuni orang yangbersalah kepada kita merupakan perintah Allah yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita. Sekalipun rasanya sangat menyakitkan, namun mengampuni dapat membebaskan kita dari segala perasaan sakit dan dendam yang selalu menghantui kehidupan kita. Maka dari itu, marilah memohon ampun dan minta Tuhan untuk membuka hati kita agar mau mengampuni orang lain.

Sumber Kesaksian: Ernawaty

COPAS : https://www.facebook.com/KesaksianMujizatYesusKristus/posts/517410314989053