Senin, 29 Mei 2017

KESAKSIAN DARI BP. A SENG (PENGUSAHA)


Shalom, terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bersaksi.Kesaksian ini untuk memuliakan Tuhan dan disampaikan apa adanya, tanpa bermaksud menyinggung atau mempermalukan siapapun. Oleh karena itu, sya mohon maaf terlebih dahulu.
Dulu saya adalah seorang pengusaha sepatu. Usaha itu maju dan berkembang dengan luar biasa. Tapi kemudian saya mengaami proses. Tuhan ijinkan saya mengalami kebangkrutan. Akhirnya usaha saya, rumah, mobil, semuanya habis dan hutang bertumpuk sangat banyak, tidak mampu saya bayar.
Dalam kondisi itu, saya sangat stres. Ketika itu, saya memang belum betobat. Tetapi saya sudah sering ke gereja. Waktu itu, Gereja Sungai Yordan masih beribadah di gedung Graha Air Kehidupan, Jl. H. Abbas. Ketika saya mengalami kebangkrutan, saya tidak memiliki seorang teman yang bisa menasehati saya., memberikan ide atau jalan supaya kita bisa semangat kembali. Apalagi biasanya, jika sedang bangkrut, rumah tangga dan keluarga pun mengalami masalah.
Waktu itu, saya berencana menjual rumah saya di daerah Paris II. Sebuah rumah 2 tingkat, dengan lebar 20 m. Tetapi istri saya tetap mempertahankannya. Namun akhirnya juga tidak bisa dipertahankan juga. Rumah saya yang ditempat lain pun habis dijual. Sekalipun saya belum bertobat, tetapi saya bukan penjudi, pemabuk, tidak pernah terlibat kriminal. Namun semua uang dan harta saya tetap ludes.
Saya bingung, tidak ada jalan keluar dan tidak ada teman yang bisa diajak bicara. Di rumah pun sering bertengkar dengan istri sampai hampir mau cerai. Saya pun tidak tahu mengapa bisa sampai begini, padahal sebenarnya saya sayang dengan istri, sekalipun dia bersalah, tapi saya sering mengampuninya.
Saya sudah sering berbicara dengan beberapa adik ipar saya. Saya katakan, jika saya di rumah sering bertengkar dengan istri, sehubungan dengan ekonomi keluarga yang sedang sulit. Mungkin istri juga sering pulang ke rumah orang tuanya dan berbicara dengan mereka, tentang perkelahian kami. Jadi saya minta tolong dengan adik ipar saya untuk mengatakan kepada istri supaya bisa mengerti keadaan saya sebagai kepala rumah tangga, Tetapi justru kepahitan yang saya peroleh.
Saya sudah pernah share masalah ini dengan Pdt. Tonny dan beberapa kawan gereja. Suatu hari, Saya berniat mau ke rumah mertua saya dengan tujuan untuk menjelaskan kepada mereka, jika keadaan saya sudah susah. Saya datang bukan untuk pinjam uang atau minta beras. Saya hanya ingin minta nasehat, berikan saya ide dan jalan, supaya saya bisa bangkit dan berusaha kembali.
Saya datang ke sana. Saya mulai menjelaskan keadaan saya ini, tetapi justru saya diminta untuk menceraikan istri. Hal ini sangat melukai dan membuat hati saya pahit. Bukan saran, ide dan nasehat yang saya terima, tetapi sebaliknya. Jadi kepahitan saya sangat besar. Sampai bulan Novembur 2011 lalu, saya masih belum bisa mengampuni mereka. Ketika saya masih jaya, istri saya tidak pernah kekurangan suatu apapun. Bahkan ketika sudah susah, saya tidak pernah pinjam, apalagi minta uang dan beras dengan keluarga istri.
Ketika saya mendapat perkataan seperti itu, saya pun berdiri hendak pergi. Saya pun pergi dengan kesal. Saya mengendarai motor tanpa tujuan. Belok ke kiri, ke kanan, tapi tanpa tujuan, tidak tahu menyasar di mana, seperti orsng ling-lung. Saya sudah sangat stress.
Bukan menyombongkan diri, tetapi sejak kecil memang saya tidak pernah hidup susah. Saat itu, saya tidak bisa terima kenyataan hidup. Sampai saya pernah mencoba untuk bunuh diri. Ketika saya pergi dari rumah keluarga tadi, tanpa sepengetahuan saya, tiga orang saudara istri saya ingin menjebak saya. Waktu saya sampai di rumah, adiknya menelepon dan meminta saya kembali ke rumah. Katanya mau berbicara dengan saya. Saya pun kembali, karena saya memang bertujuan untuk berbicara. Saya mau bicara dan minta nasehat tentang masalah rumah tangga kami.”
Setelah tiba di sana, ternyata ibukan kebaikkan yang saya terima. Ketika saya masuk ke rumah, langsung pintu rumah itu dikunci dari dalam. Mereka bertiga mau memukuli saya. Saya pun melawan, tetapi untung kakak ipar saya tiba dan membantu saya, jika tidak saya sudah dikeroyok. Saya pun pergi.
Saya pustukan untuk pergi ke Jakarta dengan uang yang pas-pasan. Dengan kasih karunia Tuhan, saya bisa berusaha dan bangkit kembali. Saya belum punya uang cukup, jadi saya kredit motor. Namun saya masih depresi waktu itu. Setiap malam saya selalu bermimpi buruk, dendam, menangis sampai berteriak-teriak. Tetapi puji Tuhan, saya bisa bangkit kembali, tanpa bantuan pihakkeluarga  istri. Tetapi sakit hati dan dendam masih ada dalam hati saya.
Sekitar November 2011, saya datang dan beribadah di gereja Sungai Yordan di gedung Graha Mazmur 21, atas ajakan dari Pdt. Markus Tonny Hidayat, yang memang sudah melayani dan mementori saya ketika  masih beribadah di Jl. H. Abbas.  Saya dipulihkan kembali ketika beribadah di sini. Saya menyadari bahwa dalam keadaan apapun, kita sebagai anak, cucu, mertua atau istri, derajatnya tidak akan pernah berubah. Ketika saya beribadah di Sungai Yordan, batu yang terasa puluhan kilo beratnya, yang tersimpan dalam hati saya, telah terangkat dan dibuang Tuhan. Dalam keadaan apapun, anak adalah tetap anak, dan mertua tetap mertua. Selesai beribadah, saya pulang dan berlutut dihadapan Tuhan, mengucap syukur atas kasih karunia-Nya yang sungguh besar. Lalu saya mendatangi mertua saya dan mohon pengampunan mereka, sekalipun sebenarnya saya tidak  bersalah. Betapa luar biasanya orang yang membangun Rumah Kediaman-nya dan memiliki seorang mentor yang baik.

Minggu, 28 Mei 2017

KESAKSIAN : IMAN dan PENGHARAPAN

Saya mencoba sharing pengalaman rohani yang saya alami dalam beberapa tahun. Pengalaman rohani ini berawal dari pernikahan kami pada tahun 2005, seperti kebanyakan pasangan yang baru menikah pasti memimpikan seorang anak. Dari sinilah awal dari perjalanan iman saya dan istri dibentuk langsung oleh Tuhan. Awal pernikahan kami tidak terjadi hal yang mengejutkan, sampai kira-kira 3 bulan setelah pernikahan kami, saya bermimpi dan dalam mimpi saya itu, saya sedang bermain dengans eorang anak. Awalnya mimpi saya ini saya anggap hanya biasa seperti mimpi-mimpi lainnya. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian saya bermimpi lagi dan anak yang saya temui adalah anak laki-laki yang bermain bersama saya beberapa bulan yang lalu dan hal ini tidak pernah saya ceritakan dengan istri saya, sampai suatu saat setelah mimpi yang kesekian kali, saya seperti mendapat karunia bahwa anak itu adalah anak yang akan dikaruniakan Tuhan kepada kami. 


Hal ini saya ketahui setelah dalam satu bulan saya merasa Tuhan menunjukkan hal-hal yang menurut saya sangat menyentuh keimanan dan hati saya yang paling dalam. Dalam sebulan saya selalu mendapati bahwa Tuhan benar-benar berbicara kepada saya melalui renungan-renungan harian yang saya baca karena sehari 3 kali saya bersaat teduh dan firman Tuhan yang saya baca dan dengar di gereja saat ibadah hari minggu. Tuhan berbicara melalui pengalaman Abraham pada Kejadian 15,18 dan 21, tentang janji keturunan Abraham. Melalui pengalaman Hana pada 1 Samuel 1:1-28 dan melalui pengalaman Zakharia dan Elisabeth pada Lukas 1:5-80. Bagi beberapa orang hal ini terlihat mengada-ngada dan mustahil, karena hal ini saya ceritakan ke beberapa teman dan terlihat muka yang tidak percaya akan pengalaman saya,demikian juga istri saya tidak percaya akan hal itu, tetapi saya tetap meyakini hal ini dan terus menyimpan hal itu di dalam hati.

Sampai akhirnya ujian itu dimulai, saat saya dan istri memeriksa kesehatan untuk mengetahui apakah kami sehat secara medis melalui pemeriksaaan kesuburan dan pada pemeriksaan pertama kami dinyatakan baik dan sehat, tetapi pada pemeriksaan kedua ternyata istri saya mengalami yang namanya penyumbatan di saluran tuba palopi dan ini terjadi pada kedua saluran. Dan yang lebih menyakitkan lagi dokter mengatakan bahwa cara untuk memiliki anak hanya melalui bayi tabung. Mendengar itu istri saya hancur hatinya, saya mengetahui itu tetapi saya terus memberikan semangat padanya walau saya tahu mentalnya sangat terpukul. Dan mulai saat itu perlahan-lahan muncul masalah di rumah tangga kami, saya tahu hal itu berawal dari hasil pemeriksaan itu. Dan saat bertengkar itu, saya mengatakan pada istri saya, saya tidak pernah menuntut untuk punya anak, tetapi hanya satu yang saya tahu dan saya yakini kebenarannya bahwa Tuhan sudah menjanjikan anak dalam kehidupan kita dan saya yakin itu terjadi, tetapi kalau ditanya waktunya saya tidak bisa mengatakan dan istri saya terdiam mendengar kata-kata saya. 

Berangsur-angsur setelah kejadian itu keadaan mulai normal, sampai suatu waktu di saat kebaktian hari minggu di gereja Tuhan berbicara dan saya merasakan benar itu benar-benar Tuhan yang berbicara. Tuhan menyatakan bahwa segala sesuatunya sudah direncanakan dan sedang dipersiapkan, seperti saat Tuhan menciptakan langit bumi dan segala isinya. Saya terkejut dan terdiam serta memohon ampun pada Tuhan karena dalam beberapa hari sebelumnya saya alami bingung dan bimbang. Kemudian saya amini dan saya berkata, jadilah kehendakMu Tuhan seperti rencanaMu. Setelah kejadian itu Tuhan menuntun saya dan istri saya untuk selalu bersaat teduh,berdoa dan berpuasa. Dan perlahan-lahan saya melihat jalan yang ditunjukkan Tuhan kepada kami. 

Puncaknya adalah saat kebaktian malam natal tanggal 24 desember 2012 di gereja Gondokusuman di Yogyakarta, ketika tanpa sengaja kami bertemu seseorang tapi dalam hati saya, saya tahu bahwa ini adalah rancangan Tuhan. Kami bertemu dengan seorang wanita yang awalnya hanya bertanya tentang istri saya, kemudian lama-lama pembicaraan itu menyentuh tentang anak, nah dari sinilah saya lihat istri saya mulai terbuka perihal masalahmya kepada ibu itu. Dan yang sangat mengejutkan adalah ibu itu berkata: ibu adalah wanita kedua yang saya temui digereja ini, tahun kemarin saat yang sama saya menjumpai wanita yang punya masalah sama dengan ibu dan saya bilang ibu akan mempunyai keturunan pada tahun depan dan ternyata Tuhan benar mengaruniainya anak. Dan ibu percayalah bahwa tahun depan ibu akan mempunyai anak, istri saya mengamini hal itu dan saya juga mengucap syukur pada Tuhan mendengar hal itu. 

Dan setelah 7 tahun masa penantian itu, pada tanggal 22 desember 2012 pkl 06.05 Tuhan mengaruniai kami seorang anak laki-laki, dan kami menamakannya Joel Yohanes Jonathan. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan ibu itu bahwa tahun depan (2013) kami akan memiliki seorang anak. Joel sekarang tumbuh sehat dan aktif dan kami selalu mengucap syukur karena dia adalah anak yang dijanjikan Tuhan yang akan membawa kesenangan bagi lingkungan sekitarnya dan Tuhan telah mengaruniakannya kepada kami dan hal ini sesuai dengan namanya. Terima kasih yang Bapa, terima kasih ya Tuhan Yesus, penyertaanMu Nyata dalam hidup kami, amin


Dikirim oleh Bpk Rudi Waluyo ,Yogyakarta
www.yesuskristus.com

Kamis, 25 Mei 2017

JESUS IS MY BIG BOSS !!! KESAKSIAN NYATA DARI BAPAK AYUB HERYANTO

Exclusive Intervieuw with Ayub Haryanto


JESUS IS MY BIG BOSS!!!
. . . apa saja yang diperbuatnya berhasil. - Mazmur 1:3
Ayat di atas merupakan janji Tuhan yang Dia nyatakan bagi setiap anak-anak-Nya yang hidup benar dihadapan-Nya. Apa saja yang diperbuatnya, berhasil! Berarti ada kesuksesan disegala aspek kehidupan. Namun untuk mencapainya, terkadang tidaklah mudah. Penuh liku-liku proses kehidupan yang harus dilalui. Menghargai proses, waktu dan sesama . . .
Demikianlah kesan petama saya, ketika mendengar kesaksian keberhasilan Bp. Ayub Herianto (36), seorang pengusaha muda, yang bergerak dibidang bisnis property. Dalam usia yang masih tergolong muda, beliau sudah mencapai kesuksesan. Namun dia tidak akan pernah puas dan akan terus berjuang, sampai tercapainya penggenapan visinya yang Tuhan nyatakan kepadanya.
Bagaimana perjuangan bapak dua anak ini dalam menghadapi berbagai tantangan hidup? Dari kebangkrutan, bisa bangkit lagi? Dari keterpurukan, bisa bangkit lagi bagaikan rajawali yang terbang tinggi di angkasa? Bagaimana seorang yang hanya lulusan SD, bisa menjadi penguasa dalam domainnya? Kiat-kiat apa yang akan disampaikannya, supaya kita pun bisa belajar darinya? Mari kita ikuti kisah perjuangannya dalam sebuah wawancara eksklusif, yang saya beri judul sesuai dengan semboyan hidup beliau, yang terpampang jelas dalam kantornya, JESUS IS MY BIG BOSS!   
Yakubus Edy Susanto 
(YES) : Bisa Anda ceritakan latar belakang Anda sedikit dan usaha apa yang Anda lakukan?

Ayub Haryanto (AH) :
Awal mulanya, ketika itu belum mengenal Tuhan, saya menjalankan bisnis kayu. Itu saya lakukan ketika saya baru berusia sekitar 17 tahun. Saya tinggal di Jangkang 1, daerah Kubu dengan Papa. Pada masa itu, kayu Ramin sedang berjaya. Lalu juga kayu Kempa, kemudian setelah itu, berbagai jenis kayu Meranti (log/bantalan).
Usaha ini saya rintis sendiri, masih bujangan. Ketika menginjak usia 19 tahun, saya sudah mencapai kesuksesan. Karena saya belum mengenal Tuhan, maka semua kesuksesan itu, saya capai dengan mengandalkan kepandaian dan kemampuan sendiri. Dengan uang sendiri, saya mampu membeli sebuah rumah di Pontianak, di jl. A. Yani 2. Karena sudah beli rumah di Pontianak, saya sering bolak-balik Pontianak-Kubu.
YES     : Keadaan keluarga Anda saat itu?

AH      :
Pada waktu itu keluarga kami kurang harmonis. Papa dan Mama sering ribut. Papa tetap tinggal di kampung, sedangkan Mama tinggal di Jakarta. Saya sendiri tinggal di kampung juga. Hubungan saya dengan Papa juga tidak baik. Saya memilih untuk melanjutkan hidup sesuai tujuan saya sendiri. Saya tidak mau melanjutkan usaha Papa, sekalipun itu yang Papa harapkan. Padahal saya bukan anak pertama, tetapi Papa mau mewariskan uasahanya kepada saya. Namun saya tidak mau.
Abang dan kakak saya cukup berpendidikan. Sedangkan saya hanya lulusan SD saja. Saya berhenti sekolah, ketika SMP kelas 1. Jadi, setelah dewasa dan mampu membeli rumah di Pontianak, saya menjemput Mama dari Jakarta untuk kembali. Sekembalinya mama dan berjumpa lagi dengan Papa, justru tidak menyelesaikan masalah, malah mereka semakin ribut dan tidak harmonis. Papa juga tidak mau tinggal bersama mama. Akhirnya mama tinggal bersama saya.
YES     : Bagaimana pengalaman Anda, menjalankan bisnis diluar Tuhan?

AH      :
Berjalan dengan waktu bisnis saya mengalami pasang-surut, naik-turun. Setelah berkeluarga  pada usia 22 tahun, saya berpisah dengan Papa. Ketika itu istri saya sudah mengandung 7 bulan. Tetapi walaupun saya sudah pindah ke Pontianak, bisnis saya masih di kampung, karena saya membuka sebuah soumil di kampung. Jadi, saya sering bolak-balik Pontianak-kampung.
Jujur saja, dalam menjalankan bisnis di luar Tuhan, saya hanya mengandalkan otak dan otot, kekuatan sendiri. Jika mau dibilang, kesuksean yang saya capai saat itu, ya tidak terlalu sukses sekali. Uang sih banyak, namun kesuksesan yang dicapai itu belum memberikan kebanggaan atau dapat saya nikmati. Sepertinya uang itu, kalau dihitung ada, tetapi sebenarnya tidak ada. Kalau kita bisnis kayu, keuntungan bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Tetapi uang sebanyak itu terkadang tidak ada di tangan. Biasanya lari kembali ke modal atau bayar hutang atau juga dihutang orang. Karena banyak yang tidak bayar secara cash, alias kredit.
Berjalan terus usaha saya dibisnis kayu, saya sudah “main” dengan perusahaan besar, terutama perusahaan-perusahaan plywood besar di Pontianak. Saya mulai dikenal oleh bos-bos perusahaan besar itu. Pesaing-pesaing usaha saya memang banyak, terutama mereka yang sudah senior, saya kan masih termasuk junior dalam bisnis ini. Saat itu, saya sudah dipercaya oleh tiga perusahaan besar, yang mau bekerjasama dengan saya. Tetapi sayangnya, tidak ada satu perusahaan pun yang mengakhiri kerjasamanya dengan saya, tanpa perkelahian. Selalu ada masalah. Rata-rata setelah bekerjasama 3-4 tahun, terus diakhiri dengan keributan.
YES     : Apakah Anda juga pernah menggunakan/memakai kuasa gelap dalam bisnis?

AH      : 
Ya, dalam menjalankan kerjasama, saya tidak hanya menggunakan kemampuan saya sendiri, tetapi saya juga menggunakan kuasa gelap, orang-orang pintar, alias dukun, loya, pawang.  Jadi, ketika saya masuk sebuah perusahaan, terlebih dahulu saya ikat kuasa kegelapan yang mereka miliki, dengan kuasa gelap yang saya miliki. Jadi, melawan setan dengan setan juga. Supaya perusahan ini bisa saya taklukan dan percaya dengan saya.
Itulah sebabnya, saya bisa menjadi penguasa, supplyer tunggal bagi perusahaan-perusahaan besar itu. Bahkan jika ada supplyer lain yang coba masuk, harus melalui saya. Bisa dikata, saya memonopoli ketiga perusahaan itu. Dengan demikian, saya bisa mengambil untung dari kayu yang mereka tawarkan. Selain itu, perusahaan memberikan saya fee. Sambil itu, saya terus mencari mitra yang mau bekerjasama. Perusahaan tidak boleh membocorkan harga yang telah saya tentukan dengan supplyer, demikian juga sebaliknya.
YES     : Apakah Anda senang dengan kehidupan Anda saat itu?

AH      :                                                                        
Kalau bisa dibilang, kehidupan saya pada saat itu senang. Tetapi jika dipikirkan sekarang, kehidupan seperti itu tidaklah senang, malah capek kerja seperti itu. Kerjanya ribet...dikejar-kejar orang, baik itu aparat, LSM, dan musuh-musuh lain.  Sehingga hidup tidak damai, tidak tentram.
Untuk mencari kebutuhan akan kedamaian dan ketentraman ini, saya mencarinya dengan cara-cara dunia. Maklumlah karena belum kenal Yesus. Saya berusaha mencari kesenangan dunia. Ketika ada tamu dari kampung yang datang membawa kayu, biasanya saya mengajak mereka mengikuti hiburan malam. Kita bawa ke diskotik, karaoke, pelacuran, mabuk-mabukan, narkoba, dll. Pada awalnya saya hanya mengantarkan tamu-tamu itu, tetapi akhirnya saya terjerumus juga. Bukankah Alkitab berkata bahwa pergaulan yang buruk, merusak kebiasaan baik? Jadi saya terus mencari kesenangan dunia. Kalau di rumah saja, rasanya sumpek. Tetapi kedamian tetap tidak saya peroleh. Saya jadi sering keluar, rumah hanya sekedar tempat untuk tidur saja.
Berjalan dengan waktu, saya terus bekerja dengan mengandalkan kuasa gelap dan kekuatan sendiri. Tetapi kehidupan saya tetap tidak ada kedamaian, dan rumah tangga berantakkan. Jadi jangankan mau mencari Tuhan, mendengarkan nasehat istri saja tidak mau. Saya tahu tentang Tuhan, tetapi hati tidak pernah tertarik mencari Tuhan. Saya merasa bahwa saya mampu dengan kekuatan sendiri. Jika sudah tidak mampu, saya bisa mencari paranormal, loya, dukun, orang pintar, dll., karena bisa saya bayar dengan uang. Kekuatan gaiblah yang saya cari. Tetapi saya pun tidak bisa terus mengandalkan orang-orang pintar itu, karena kekuatan dan sugesti mereka juga ada batasnya, sehingga kekuatannya tidak mempan lagi.
YES     : Bagaimana proses pemulihan yang Anda alami?

AH      :
Proses pemulihan itu diawali dengan kebangkrutan saya. Saya bangkrut sekitar akhir 2003. Ketika itu, saya berusia sekitar 26 tahun. Saya menikmati sukses dalam bisnis kayu hanya sekitar empat tahun. Terakhir dalam bisnis kayu, saya berada di Nanga Pinoh, main logging. Saya sempat ribut dengan salah satu bos dari tiga perusahaan besar yang saya sebutkan di atas. Hal ini akhirnya diperkarakan kepengadilan. Akibatnya, saya sempat masuk sel.
Walaupun akhirnya kita berdamai, tetapi saya sudah sempat masuk sel dan mengalami kerugian harta benda yang cukup banyak. Harta sih masih ada, ini baru proses awal dari kebangkrutan saya. Saya sangat dendam dengan bos itu. Akibat dari peristiwa itu, banyak orang sudah tidak mempercayai saya. Kuasa gelap yang saya pegang itu juga sudah tidak mempan.
Karena dendam, saya bermaksud untuk membunuh bos ini, tetapi tidak kesampaian. Suatu hari, saya pulang dalam keadaan mabuk berat dan istri saya marah-marah. Ketika itu sudah tidak ada uang, karena usaha sudah macet akibat tidak ada lagi yang percaya dengan saya. Kemalasan menghinggapi saya. Kerja malas, maunya hanya mabuk saja, saya sangat stress. Nama baik saya sudah jelek, karena orang sudah tahu kalau saya pernah masuk sel.
Dalam keadaan terpuruk dan stress, akhirnya Tuhan tolong saya. Melalui abang sepupu saya, Bp. Adrianus, menginjili saya. Awalnya saya sangat marah dan mengusirnya. Tetapi Bp. Adrianus tidak pernah mundur, dia terus menginjili saya. Kalau tidak salah, ada sekitar 7 kali dia mengunjungi dan terus menginjili saya, dan sudah tidak terhitung berapa telepon yang ditujukan ke saya, berasal dari Bp. Adrianus. Beliau mengajak saya ke gereja. Awalnya saya tidak mau, karena dulu saya pernah coba-coba ke gereja, tetapi tidak mendapatkan apa-apa, hanya ngantuk saja, jadi saya tidak mau. Tetapi karena perasaan tidak enak, akhirnya saya menerima ajakan abang sepupu saya itu untk pergi ke gereja. Akhirnya kami pergi beribadah di Gereja Sungai Yordan. Ketika itu, gereja  masih di jl. H. Abbas I no. 52. Itu terjadi sekitar awal tahun 2004.
YES     : Ketika Anda datang beribadah di gereja, apa yang Anda alami?

AH      :
Begini ceritanya. Ketika tiba di gereja dan masuk ke ruang ibadah, saya sudah merasakan suatu yang beda. Berbagai kepercayaan sudah pernah saya peluk, termasuk kepercayaan nenek moyang. Tetapi yang satu ini, benar-benar berbeda. Saya merasakan adanya hembusan angin yang sangat kuat, seperti kalau kita masuk ke sebuah supermarket, kita akan merasakan tiupan angin yang kuat dari AC yang berada tepat di atas kepala kita. Seperti itulah yang saya rasakan. Tetapi tidak ada AC di atas kepala saya dalam ruang ibadah itu.
Saya tidak ambil pusing, terus masuk ke dalam dan duduk di deretan kursi sebelah kiri. Saya merasakan kuasa Tuhan dalam gereja sangat dahsyat. Ketika itu, Bp. Irwan yang melayani sebagai Worship Leader. Ketika duduk, saya terheran-heran melihat orang-orang yang ada disekitar, kok mereka kelihatan sangat sukacita. Mereka mengenakan pakaian yang bagus, rapi, sopan, baik suami-istri, maupun anak-anaknya. Saling senyum dan bersalaman, kayaknya mereka sangat merasakan kedamaian yang belum saya rasakan.
Saya yakin, ketika saya melihat jemaat itu, sebenarnya Roh Kudus sudah mulai menjamah dan berbicara kepada saya. Pada saat itu, Bp. Adrianus sempat memperkenalkan saya dengan Bp. Yosepus Lele, yang adalah seorang leader (pemimpin kamit/komsel) di wilayah Sungai Raya Dalam. Dikemudian hari, saya dan keluarga, serta Bp. Adrianus bergabung dengan KAMIT yang dipimpin beliau.
Pada waktu pujian dinaikkan, saya melihat adanya sukacita yang luar biasa dalam diri jemaat, begitu indahnya. Saya pun ikut-ikutan memuji dan bertepuk tangan. Tetapi yang membuat saya tidak mampu bertahan adalah pada waktu penyembahan. Ketika lagu dinaikkan, hati saya langsung luluh. Baru pertama kalinya dalam sejarah hidup, saya mengalami hancur hati. Saya menangis sambil menjerit.
Ketika jemaat berbahasa roh, bahasa itu memang asing buat saya, tetapi kedengarannya sangat indah. Saya bertanya kepada Bp. Adrianus, bahasa ini aneh ya, ini bahasa apa? Maklumlah saya belum tahu tentang hal ini. Tetapi saya bisa menikmati alunan bahasa itu. Saya merasakan kedamaian yang tiada taranya, diikuti dengan rasa hancur hati. Sepertinya terjadi peperangan dalam hati. Disitu saya bisa berteriak memanggil nama Tuhan.
Saya tahu jika di gereja itu Tuhannya, dipanggil dengan nama Yesus. Bahkan saya juga sudah sering menyaksikan film-film tentang Yesus, yang pernah diputar di TV. Pada waktu penyembahan itu, pertobatan saya terjadi. Saya melihat dalam pikiran saya, semacam penglihatan, seperti sebuah film, dimana saya melihat semua dosa-dosa saya, sepertinya diputar ulang lagi. Saya menangis dan menjerit meminta ampun dengan Tuhan.
YES     : Apa saja dampak dari jamahan Tuhan yang Anda alami?

AH      :
Dampaknya saya langsung alami, setelah ibadah. Ketika pulang, saya merasakan ada yang berbeda dalam hidup saya, ada sesuatu yang baru yang saya dapatkan. Lepas itu, saya masih aktif seperti biasanya. Walaupun sudah mengaku dosa, tetapi saya belum mampu melepaskan semua dosa itu. Terutama kesukaan saya yang suka minuman keras. Tetapi setelah mengalami lawatan pertama itu, saya ketagihan dan ingin mengalaminya lagi.
YES     : Bagaimana pengalaman lawatan yang kedua?

AH        :
Akhirnya sekarang saya yang mengajak abang sepupu saya itu untuk pergi lagi ke gereja. Pasti abang sepupu saya itu heran dan terkejut. Pada kedatangan saya kedua di gereja, saya sudah bisa menyesuaikan diri. Saya sangat bersukacita dan menari mengikuti pengarah gaya di depan. Saya berkata kepada abang, “Hia, kalau yang kayak begini, saya mau...”.
Setelah mengikuti ibadah kali kedua inilah, perubahan radikal mulai terjadi dalam hidup saya. Saya tidak mau lagi ikut berkumpul dengan teman-teman yang suka ke diskotik, mabuk dan nge-drug. Teman-teman itu menelepon dan berusaha mengajak saya lagi, tetapi saya tidak mau. Sementara itu, saya sangat rindu untuk beribadah. Sepertinya menunggu sampai hari Minggu itu kok lama sekali.
YES     : Dampak kelanjutannya?

AH      :
Bp. Yosepus Lele selalu datang melayani saya. Pak Yosepus-lah seorang leader, yang bagi saya sangat memiliki sifat kebapaan. Dalam satu minggu, beliau dua kali datang mengunjungi saya. Melihat bapak ini datang saja, sudah membuat saya sangat terhibur, sekalipun dia tidak membawa apa-apa. Sepertinya ada api Roh dan kedamaian dalam dirinya. Jika bapak ini datang, rasanya ada keamanan.
Setelah beribadah beberapa minggu, saya mulai membawa istri dan keluarga ke gereja. Disitulah kami mengalami pemulihan. Memang, seperti kata orang-orang, kok sepertinya pertobatan kami itu sangat mudah, hanya seperti membalikan telapak tangan. Istri saya memang adalah seorang  wanita dengan figur ketundukkan yang bagus. Rupanya, diam-diam menjadi seorang Kristen sudah menjadi kerinduannya sejak lama, karena dia sudah sering melihat tingkah laku dari tetangga sebelah yang Kristen. Rasanya mereka hidup sangat rukun dan bahagia. Jika dibandingkan dengan kehidupan kami dulu, sangat bertolak belakang. Itulah yang membuat istri saya tertarik ke gereja. Selain itu, yang ikut tinggal di rumah juga sudah banyak yang Kristen, seperti adik saya, Atian. Anak saya pun sudah pernah dibawa ke sekolah minggu di Gereja Sungai Yordan, sebelum saya kesana.
YES     : Bagaimana pertumbahan rohani Anda selanjutnya sampai Anda dibaptis?

AH      :
Sebelum dibaptis, tidak lama setelah saya membawa keluarga ke gereja, saya mengikuti SHDR(Seminar Hidup Baru dalam Roh/sekarang bernama KG atau Kingdom Gathering). Saya mengalami hal-hal yang luar biasa dalam seminar itu. Saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang sangat luar biasa. Sejak mengikuti seminar ini, saya menjadi suka membaca Alkitab. Lebih luar biasanya lagi, Bp. Yosepus sebagai leader dan mentor saya, terus mengarahkan saya. Ketika roh saya sedang menyala-nyala, Bp. Yosepus terus “memepet” saya. Dia tidak memberikan saya kesempatan untuk terlepas lagi. Dia terus mengunjungi saya dua kali dalam seminggu dan mengajak saya ke KAMIT (dulu komsel).
Saya bertanya kepada beliau, apa hanya saya sendiri yang dilayani seperti ini? Dia menjawab, “Saya melayani semua jiwa yang dipercayakan, sama seperti saya mealyani kamu, tetapi tidak semuanya menaggapi dengan respon yang baik. Mereka yang menanggapi dengan respon yang baik, seperti kamu dan yang lain, pasti akan berubah dan mengalami sesuatu yang baik dalam hidupnya.
Saya terus bertumbuh sampai saya dibaptis. Ketika kami suami-istri bertobat, kami segera dibaptis. Ketika pulang sampai di rumah, kami masih merasakan dinginnya air baptisan bahkan seakan-akan merasuk sampai ke tulang. Selain itu, mata kami kok terasa terang. Istri saya berkata, “Kenapa mata kok rasanya beda ya, sangat terang, sepertinya tidak ada lagi sampah.” Ini adalah suatu pengalaman yang luar biasa.
Setelah dibaptis dan bergabung dalam KAMIT, saya mengikuti pemuridan 7 Pelabuhan (sekarang SMK). Saya terus dibimbing oleh Pak Yosepus dan dimuridkan oleh Bp. Sukardi. Melalui pemuridan, keinginan saya untuk mengenal Tuhan lebih dalam, semakin menjadi-jadi. Inilah pengalaman saya bisa bertumbuh.
Tetapi jujur saja, rohani sih rohani, tetapi saya kan juga masih ada kebutuhan? Saya masih menganggur saat itu, akibat dari kebangkrutan saya. Jadi ketika bertobat, saya merasa damai, sukacita, tetapi secara jasmani, saya belum mengalami perubahan apa-apa. Saya butuh uang dan butuh makan.
YES     : Kalau begitu, masih ada proses kelanjutannya ya pak?

AH      :
Benar. Karena tidak ada uang sehingga tidak bisa membayar tagihan, listrik di rumah kami dicabut oleh pihak PLN. Demikian juga dengan PDAM dan telepon juga diputuskan. Rumah juga hampir dieksekusi oleh Bank. Pihak Bank menganjurkan supaya rumah itu dijual saja dengan cara diiklankan di koran. Saya bilang bukannya tidak mau, tapi saya tidak punya uang untuk pasang iklan. Setelah saya berkata demikian, ajaibnya pihak Bank bisa memberikan saya uang dua ratus ribu rupiah untuk pasang iklan. Bagi saya, itu hal yang tidak mungkin terjadi, tetapi memang demikianlah kejadiannya. Uang dua ratus ribu itu saya gunakan untuk memasang iklan di koran, selebihnya saya gunakan untuk membeli beras karena persediaan kami sudah habis. Itu semua terjadi setelah kami bertobat. Kalau dulu saya bisa stress dan tidak tahu kemana harus meminta pertolongan, sekarang saya bisa berteriak pada Tuhan. Jika saya berteriak kepada Tuhan, rasanya enjoy.
Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk menggadaikan motor saya. Uangnya saya pakai untuk bayar hutang, bayar semua tagihan seperti telepon, PLN, PDAM. Sisanya tinggal sekitar 7 jutaan untuk kehidupan kami sekeluarga waktu itu. Tetapi ya lama kelamaan habis. Saya kembali mendapatkan penawaran dari keluarga untuk kerja kayu lagi di Putusibau. Sedangkan saya sudah bicara dengan gembala bahwa kami tidak akan kerja kayu lagi. Lalu tidak lama kemudian, seorang paman minta saya kerja di Kaltim dengan gaji 5 juta sebulan, di plywood, berarti kayu lagi. Wah, ini sangat menjanjikan buat saya.
Tetapi saya sangat bergumul untuk mengambil keputusan. Disatu sisi, saya sangat membutuhkan uang. Disisi lain, jika saya meninggalkan Pontianak, maka kemungkinan kerohanian saya tidak bisa bertumbuh. Ini satu keputusan yang sangat sulit bagi saya. Saya menceritakannya kepada Bp. Yosepus. Beliau tidak berani memberikan saya option, apalagi keputusan, dia hanya bisa mendoakan.
Sejak saya bertobat, saya banyak memenangkan keluarga, termasuk adik saya Herpi. Walaupun saat itu masih belum bekerja dan terpuruk dalam hal ekonomi, saya bisa mengajak orang untuk bertobat, karena mereka melihat perubahan saya. Teman-teman yang sering mengajak saya ke disko, pelacuran dan mabuk, juga saya injili. Ada yang memberi respon, tetapi ada juga yang mengolok.
Saya memang lagi on fire. Semua acara gereja kita selain KAMIT dan ibadah raya, saya ikuti, seperti doa malam, pemuridan dan winner fellowship. Tetapi saya masih saja bergumul soal kehidupan. Gimanalah, saya tidak ada kerjaan.
YES     : Bagaimana cara Anda bisa menyelesaikan proses ini?

AH      :
Semua hanya karena Roh Kudus. Suatu hari saya berdoa dan Roh kudus mengingatkan saya kembali menjual rumah saya. “Kamu buat sebuah papan nama dengan tulisan ‘RUMAH INI DIJUAL’ dan gantungkan di tempat yang dapat terlihat,” bisik Roh Kudus. Jujur saja, ada orang yang lewat juga tetangga malah mengolok dan menertawakan. “Nah, tuh kan? Belum ada uang sudah mau beli rumah. Akhirnya rumahnya dijual”, kilah mereka. Saya merasa terhina dan hancur hati.
Sementara itu, untuk mencukupkan kebutuhan sehari-hari, saya terpaksa kerja sebagai tukang bangunan dengan tetangga-tetangga saya dan bekerja sebagai kuli di sebuah toko yang menjual gula pasir di Kapuas besar. Satu hari, saya hanya mendapat Rp. 35.000,00. Uang yang saya dapatkan ini pun habis kena tipu orang.
YES     : Kok bisa ditipu pak? Lalu bagaimana dengan keputusan ke Kaltim?

AH      :
Ceritanya, suatu hari ada orang datang rencananya mau lihat dan berniat membeli rumah saya. Sore harinya, orang ini datang lagi dan mengaku baru mengalami kecelakaan dan minta bantuan uang. Karena merasa iba, akhirnya saya menolong orang itu, yang ternyata sedang menipu saya. Jadi akhirnya uang yang ada pun amblas.
Tentang rencana ke Kaltim, saya mengalami peristiwa ini. Ketika itu, di gereja diadakan KGS (Konferensi Gereja Sel) dengan pembicara Pdt. Obaja Tanto Setiawan dan salah satu staffnya Pdt. Agung, yang adalah seorang pendeta juga sekaligus pengusaha garmen. Saya berkata kepada adik saya, “Tuh, itu baru mantap. Pendeta, melayani, tetapi tidak digaji. Dia membiayai hidupnya sendiri dengan usahanya. Dia part timer, tetapi melayani seperti full timer.” Ketika penyembahan, saya merasakan jamahan Tuhan, lalu saya berdoa dan berkata, “Tuhan , Engkau nyatakan kehendakMu. Apakah saya harus tetap di Pontianak atau berangkat bekerja di Samarinda (Kaltim)? Aku memohon Engkau nyatakan sekarang juga keputusanMu!”
Ternyata suara Tuhan itu benar-benar ada dan terdengar. Tetapi suara itu akan terdengar pada saat kita benar-benar “mematikan” diri kita. Dan itulah yang saya lakukan saat itu. Saya berlutut dan berkata, “Tolong saya Tuhan! Saya tidak bisa bebuat apa-apa lagi. Saya ada banyak tanggungan, istri, anak. Juga hutang-hutang. Tolong saya Tuhan. Saya sudah banyak mengalami kebaikkanMu.” Tuhan hanya menjawab dengan singkat, “Kamu tetap di Pontianak.”  Saya meresponi perkataan Tuhan, “OK tuhan, saya percaya ini suaraMu.” Meskipun saya sangat membutuhkan uang, tetapi saya putuskan untuk tetap di Pontianak sesuai kata Tuhan. Jika saya menerima tawaran dari Paman di Kaltim, saya langsung mendapatkan uang Rp.10 juta, untuk beli tiket dan uang untuk kebutuhan keluarga. Tetapi saya tetap memilih taat pada kehendakNya.
Setelah bubar dari semianr, saya langsung mengejar dan memeluk Bp. Yosepus. Sambil menangis, saya berkata, “Pak, saya tidak akan meninggalkan Pontianak.” Bp. Yosepus ikut menangis. Hati kami hancur berkeping-keping. Bp. Yosepus melihat wajah saya berbinar-binar, seperti seorang bapa yang sedang memandang anaknya. Dia sangat mengasihi saya. Beliau berkata, “Ayub, ayo bangkit semangatmu.”
Sejak itu, saya bersemangat lagi dalam Tuhan dan menelepon paman saya untuk menyatakan ketidaksediaan saya berangkat ke Kaltim. Yah, tidak dapat uang. Kerja, ya seperti yang saya ceritakan di atas. Tetapi saya rajin berpuasa, baik itu puasa karena panggilan hati, juga karena terpaksa, karena uang dapur tidak cukup, mengalah untuk istri dan anak. Dalam seminggu, saya bisa berpuasa sampai 5 kali. Tetapi walaupun puasa, saya tidak merasa capek, sekalipun bekerja keras.
Ketika itu, dalam keadaan sulit, makanan kesukaan kami adalah kangkung dan genjer, yang kami tanam di depan rumah. Itu pun hanya direbus, dimakan pake sambal belancan. Hampir setiap hari inilah menu utama kami. Kalau dulu saya mampu membelikan anak saya susu yang mahal, saat itu saya hanya mampu membelikan susu kental manis kalengan.
Saya kagum dengan Tuhan, tetapi sedih melihat keadaan anak-anak saya. Namun saya tetap memiliki pengharapan. Seringkali Pendeta berkotbah tentang kesuksesan, sudah mencium aroma kesuksesan. Dalam hati saya berkata, “Sukses apanya, lagi bokek nih.”
YES     : Kapan Anda mulai mengalami pemulihan yang maksimal? Khususnya dalam bisnis dan ekonomi Anda? BagaimanA toko bangunan Anda bisa didirikan?

AH      :
Suatu hari, hari yang saya anggap sebagai hari yang penuh berkat luar biasa. Saya percaya, inilah waktunya Tuhan memberkati saya. Hari itu, saya berdua dengan adik saya, Herpi,  sedang berkeliling Pontianak mencari pekerjaan. Sampailah kami di depan GOR Pangsuma. Saya memang sering ke kompleks GOR Pangsuma, bukan untuk berolah raga, tetapi untuk rileks. Juga karena tidak ada uang. Kalau diam di rumah terus, nanti dibilang pengangguran, malu. Itulah sebabnya saya sering berteduh dan merenung di bawah sebuah pohon depan GOR Pangsuma.
Akhirnya, pada hari itu, dibawah sebuah pohon rindang depan GOR Pangsumah, saya menelepon bapak Gembala. Gembala menyuruh saya ke kantor gereja di jl. H. Abbas. Gembala sudah tahu jika saya masih keponakkannya, karena saya sempat menceritakannya. Lalu saya menceritakan semua pergumulan saya kepadanya. Gembala mensharingkan kembali mengenai kesuksesan dan KPR 3M (Katakan, Pikirkan, Rasakan, Mendengarkan, Merenungkan dan Melakukan). Sekarang disebut KPR 3T (Terobsesi, Terasimilasi, dan Terstimulasi).
Saat itu, saya menerima apa adanya sharing itu. Gembala memberikan saya firman Tuhan dalam Markus 11:24, yang berkata, “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” Saya menerima firman itu dengan sukacita.
Selanjutnya, Gembala mengatakan, “Yub, saya ini om kamu. Jika kamu minta 10 juta, saya bisa mencarikannya untuk kamu. Tetapi begitu kamu menerimanya, itulah nilai kemiskinan kamu.” Saya mengerti, karena jika saya menerima uang hasil sebuah permintaan, alias minta-minta, maka artinya saya adalah pengemis. Saat itu juga  gembala bernubuat untuk saya. Dia berkata, “Yub, saya tidak mau melihat kamu seperti ini. Saat ini, kamu sedang berjalan di atas batu kerikil. Tapi lihatlah di tempat jauh itu, terdapat aspal yang licin. Itulah hidupmu. Aku nyatakan kepadamu, kamu akan bersaksi kepada ribuan orang tentang kesuksesanmu.” Setelah didoakan, tidak terasa kami telah berbicara selama 3 jam.
YES     : Bagaimana respon Anda selanjutnya terhadap sharing gembala?

AH      :
Ketika pulang, firman Tuhan yang diberikan kepada saya itu, masih terus terngiang-ngiang. Seminggu kemudian, ketika saya sedang merenungkan ayat tadi, saya terus katakan, pikirkan dan rasakan ayat itu, tetapi saya masih belum menemukan hal apa yang seharusnya didoakan dengan sepakat bersama keluarga. Jadi masih agak sedikit “ngelantur”. Saya mendapatkan firman Tuhan di Matius 18:18-20, yang berbunyi, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitu Aku ada di tengah-tengah mereka."
Ketika saya mendapatkan firman itu, langsung saya melompat. Firman inilah yang mendasari saya mendapatkan visi “Hosana bagaikan Burung Rajawali!”. Firman inilah dan Markus 11:24 tadi, yang terus saya pegang sampai saat ini. Kedua firman ini, sangat meresap dan berakar dalam hati dan jiwa saya.
Akhirnya saya mengumpulkan seluruh keluarga dalam rumah saya. Saya tunjukkan ayat itu dan mengatakan inilah saatnya kita praktekkan firman ini. Keluarga pun meresponi perkataan saya. Kami bermaksud untuk berkumpul dan berdoa pada malam harinya. Kami sekeluarga mau menyatakan kesepakatan yang sama dalam doa. Ketika kami berkumpul, saya membaca Matius 18:18-20 itu dengan sungguh-sungguh dan kepercayaan penuh, bahwa kita harus mencapai kesepakatan. Kami bersepakat berdoa untuk membuka sebuah toko bangunan. Jadi anggota keluarga lainnya rela berkorban dan mendukung doa untuk membuka toko bangunan itu. Kami bergandengan tangan memanjatkan doa sepakat ini. Setelah berdoa, kami sepakat untuk berpuasa, yang dimulai dari pukul 24 malam itu juga, selama 3 hari berturut-turut. Jadi selama tiga hari itu, setiap pk. 24 malam, kami berdoa dan berbahasa roh, sampai kami lupa waktu. Bahkan kami mengalami jamahan Tuhan yang luar biasa, sekalipun tidak ada pendeta yang melayani kami waktu itu, hanya berempat. Kami mengalami manifestasi lawatan Tuhan, berteriak, tertawa, menangis, dan berbahasa roh. Sampai ibu saya menganggap kami sudah gila. Setelah itu, setiap hari kami melakukan KPR 3M.
Hampir setiap hari kami putar-putar kesana-kesini dengan motor,  mencari lokasi yang tepat untukmendirikan toko bangunan, sekalipun uang belum ada. Setelah itu ya kerja pikul gula di Kapuas Besar. Ketika sedang bekerja sebagai kuli, saya bertemu dengan teman-teman lama, mantan anak buah saya dulu. Mereka hampir tidak percaya, “Ah masa ia sih, itu kan bos kita dulu, sekarang kok jadi kuli? Aduh bos, kok jadi begini?” Seorang teman yang bekerja sebagai kepala Bea Cukai pelabuhan dan bukan seorang Kristen, datang bertemu bos di tempat saya bekerja. Dia juga sama terkejutnya sepeti teman yang lain.  “Ini, kamu kah?” katanya. Lalu dia berkata kepada bos tempat saya bekerja, “Kau apakan dia ini, kok jadi begini? Dulu dia kan bos?” Saya malu sekali dan menjawab, “Ya, inilah keadaan saya sekarang, seperti yang Anda lihat.” Sambil tertawa, teman itu menjawab, “Hui, kamu tamu gak? Kamu pasti akan sukses!” Setelah itu, saya langsung lari ke belakang, bersujud dan menangis. Saya berkata, “Ini adalah suara dari Tuhan melalui teman saya itu, sekalipun dia bukan Kristen!”
Tidak lama kemudian, rumah saya laku terjual. Setelah menerima uangnya, saya membayar hutang-hutang, membayar hutang di bank, tinggal sisa  sekitar Rp. 90-an juta. Dengan semangat saya berkata, inilah modal awal kita untuk membuka toko bangunan. Tapi ternyata itu bukanlah modal awal toko bangunan, karena uang itu ludes dibawa lari orang. Seorang teman datang meminjam uang itu sebagai modal usaha sebesar Rp. 75 juta. “Jika berhasil, akan bagi hasil,” katanya. “Boleh pinjam, tapi tidak boleh lama, harus segera dikembalikan,” Kataku. Dia menjawab, “Paling dua bulan.” Tapi ternyata uang itu tidak pernah kembali. Tinggalah sisa Rp. 15 juta, yang saya pakai untuk uang muka membeli sebuah mobil pick up. Uang sudah ludes dan orang yang punya rumah minta dalam jangka waktu dua bulan, saya sudah harus pindah. Saya bergumul karena tidak punya uang lagi.
YES     : Selanjutnya bagaimana pak?

AH      :
Suatu sore, saya bertemu dengan salah satu om saya. “Eh, Wi, rumahmu udah dijual kan?” “Sudah”, Jawabku. “Kamu mau buka usaha apa?” Tanyanya. Saya katakan jika saya mau buka toko bangunan. “Wah, kalau gitu boleh dong, kita join. Om juga ingin membuka toko bangunan”, Katanya. Saya bertanya, “Boleh. Tapi om ada uang berapa?” “Berapa yang kamu perlukan?” Tanyanya. “Kurang lebih 200 juta-an”, Jawabku. Akhirnya kami sepakat untuk join dan masing-masing mengeluarkan uang 100 juta sebagai modal awal. Saya OK-kan, sekalipun sebenarnya saya tidak punya uang. Akhirnya kami cari tanah lokasi pembangunan toko bangunan itu. Kami dapatkan di Sungai Raya Dalam, tempat yang kami gunakan sampai sekarang.
Waktu itu, tidak langsung saya beli tanah itu, tapi saya mau sewa. Saya masih mengujinya. Saya berdoa, “Tuhan saya rencana mau menyewa tanah ini. Jika ini dari Tuhan, maka saya bisa menyewa tanah ini maksimal Rp. 4,5 juta/tahun.” Setelah itu, saya berjumpa dengan pemilik tanah dan orang itu mau menyewakan tanahnya dengan harga Rp. 6 juta/tahun. Saya berpikir, kalau begitu, ini bukan kemauan Tuhan.Tanpa tawar-menawar lagi, saya membatalkannya. Tetapi dua hari kemudian, orang itu menghubungi saya dan langsung menawarkan saya untuk menyewa tanah itu, tepat seperti yang saya inginkan, Rp. 4,5 juta/tahun. Padahal saya belum mengatakan apapun kepadanya.  Bagi saya, ini adalah mukjizat. Dari Rp. 6 juta, langsung turun menjadi Rp. 4,5 juta. Tanpa tawar-menawar lagi, saya langsung setuju dan masuk ke kamar, bersyukur pada Tuhan. Langsung kami menyewa selama lima tahun. Om saya datang dan kami membuat surat perjanjian dihadapan notaris. Akhirnya dibangunlah toko bangunan ini, sekaligus tempat tingal kami.
Tetapi rupanya prosesnya belum selesai, masih berkelanjutan, dan kami pun bergumul lagi. Memang, jika mau sukses, kita harus menghargai setiap proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita. Prosesnya dahsyat dan panjang. Setelah toko bangunan dibuka, adik saya Herpi bekerja dengan saya. Kami bergumul lagi untuk tambahan modal. Akhirnya kami bermaksud pinjam uang untuk tambahan modal sebesar Rp. 50 juta dengan seorang paman saya di Putusibau. Paman saya itu senang mendengar pertobatan saya dan menasehati saya untuk tidak bergantung kepada manusia. Sampai tiga bulan saya menunggu uang pinjaman itu, akhirnya saya meneleponnya kembali. Paman saya lupa dan meminta maaf, lalu dikirimkanlah uang itu kepada saya, hanya Rp. 25 juta saja, separuh dari permintaan saya. Saya terima apa adanya.
Proses belum selesai dan masih berlanjut. Kami sering dimarahin oleh agen, karena kami mengambil barang terus, sedangkan hutang tidak dibayar-bayar. Maklumlah, modalnya belum cukup. Tetapi saya tetap setia melakukan apa yang menjadi kewajiban saya. Perpuluhan saya bayar. Persembahan sulung, sebagai hasil pertama saya dari toko bangunan itu pun saya bayar kepada gereja.Tapi jumlahnya masih kecil, karena memang itu hasil pertama kami. Pada waktu membawa persembahan sulung itu, dengan iman saya berkata, “Tuhan, saya mau menjadi pengusaha property”.
Namun apakah persoalan selesai? Tidak! Toko saya sepi, karena lokasinya terletak di ujung jl. Sungai Raya Dalam. Jujur kalau dikatakan saya sempat loyo, itu benar. Suatu hari, ketika saya mengendarai motor hendak jemput anak saya, Tuhan berbisik dalam hati saya, “Aku akan mempromosikan kamu dan Aku akan menjadikan kamu kepala dan bukan ekor.” Saya menjawab, “Tuhan, saya sudah cek disepanjang jalan ini, anak Tuhan yang buka toko bangunan hanya saya. Tetapi toko saya yang paling sepi.” Tiba-tiba Tuhan menjawab, “Kamu pergi dan promosikan tokomu.”
YES     : Bagaimana Bapak mempromosikan toko Bapak?

AH      :
Sepulangnya, saya menceritakan hal ini kepada Herpi, adik saya. Lalu kami sepakat mencetak kartu nama dan selama satu bulan, dengan mengendarai motor, kami melakukan sales dan membagikan kartu nama. Kami mendatangi hampir setiap proyek yang ada dan mempromosikan toko kami. Awalnya, belum memperlihatkan hasil apa-apa. Tetapi empat bulan kemudian, langganan mulai bermunculan, pembeli menjadi ramai, dahsyat!
Ketika Dia menguji hati kita, apakah ada mengandung unsur kekekalan? Keseriusan? Redup atau bersemangat? Masih bertahan? Dan kami maih bertahan sampai saat ini. Setelah menunggu empat bulan, orderan datang silih berganti. Dari pembangunan lapangan Futsal di Sepakat I, Perumahan Duta Bandara, dll. Haleluyah. Hutang pun mulai bisa dibayarkan, para agen tidak marah-marah lagi. Enam bulan kemudian, terhitung dari sejak saya memberikan persembahan sulung yang pertama kali, saya mendapat order besar dari PT. Omega untuk membangun perumahan Bhayangkara. Saya langsung dihubungi dan dikontrak untuk membangun 80 rumah. Dengan modal yang langsung diberikan oleh pihak PT. Omega. Tapi proses ini masih juga belum selesai.
Saya belum memiliki pengalaman membangun perumahan. Tapi tetap saya terima penawaran ini. Keuntungan saya hanya Rp. 1,7 juta/rumah. Saya coba untuk membangun satu rumah percontohan. Pembangunan rumah contoh itu berhasil dengan baik, terjual dan keuntungan mulai masuk. Terus kami berhasil sampai ke- delapab puluh rumah itu terbangun dan terjual, dalam waktu hanya empat bulan saja. Saya mendapat keuntungan sekitar Rp. 300 juta. Haleluyah! Tangan Tuhan memang sungguh luar biasa, Dia membuat kita tercengang-cengang dengan berkatNya.  
YES     : Bagaimana ceritanya Bapak bisa sampai terjun dalam dunia bisnis property?Apa rahasianya sampai Bapak bisa sukses dalam bisnis ini?

AH      :
Karena keberhasilan itu, saya berencana untuk benar-benar meningkat dari hanya toko bangunan, menjadi pengusaha property. Saya membangun CV. Hosanna Utama dan pada bulan Oktober 2006, kami mulai membangun sebuah perumahan di daerah jl. Ujung Pandang. Semua keuntungan yang sudah kami dapat, saya jadikan sebagai modal. Saya melakukan semuanya itu, tidak terlepas dari melakukan KPR 3M (sekarang 3T). Saya membayangkan bagaimana jadinya perumahan yang saya bangun itu. Ketika perumahan itu selesai dibangun, jadinya persis sama dengan apa yang saya bayangkan.
YES     : Bapak menjalankan bisnis property, ketika sudah bertobat. Karena pernyertaan Tuhan, pasti ada banyak mukjizat yang Anda alami. Bisa Anda ceritakan salah satunya?

AH      :
Ada, salah satunya adalah peristiwa ini. Ketika itu, kami mau membeli tanah seharga Rp. 1,7 M, yang dimilik sekelompok orang (8 orang) , tapi kami bayar panjar hanya Rp. 150 juta. Jujur, secara manusiawi, mana mungkin ada orang yang mau balik nama lahannya yang seharga Rp. 1,7 M itu, hanya dengan panjar Rp. 150 juta. Tetapi itulah yang terjadi. Tuhan kita memang dahsyat!
Mukjizat lainnya yang kami alami adalah dalam pembangunan yang kami lakukan. Sekalipun kami juga sempat mengalami krisis ekonomi, tapi Tuhan begitu membela kami. Ketika mengalami krisis, rumah kami tidak terjual. Tetapi tiba-tiba ada pengumuman dari kementrian bahwa harga sebuah rumah tipe 36, naik menjadi Rp. 55 juta/buah dari harga awal Rp. 47 juta/rumah. Dan luar biasanya, setelah kenaikkan harga itu, justru rumah yang kami bangun itu banyak terjual. Yang lebih luar biasa lagi, belum selesai proyek perumahan ini, kami diijinkan Tuhan untuk mebangun sebuah perumahan lagi, yaitu Hosanna Griya, pada tahun 2008. Setelah Hosanna Griya, pada Desmber 2010, kami membangun lagi perumahan Hosanna Victory. Jadi Tuhan mempromosikan kami secara berturut-turut. Sampai sekarang, perumahan yang telah kami bangun, antara lain Perumahan Bhayangkara, Villa Brata, Hosanna Griya dan Hosanna Victory.
YES     : Luar biasa! Bisnis sudah OK, bagaimana dengan perkembangan kerohanian Bapak?

AH      :
Seiring dengan naiknya bisnis saya, kerohanian saya juga meningkat. Dimulai dari menjadi pekerja biasa, kemudian menjadi leader (memimpin sebuah KAMIT/komsel), lalu menjadi koordinator Bukit Doa Mazmur 21, Ketua Departemen Outreach, juga koordinator Ibadah Raya II. Hal ini sesuai dengan firman Tuhan yang berkata, jika kita setia dalam perkara kecil, kita akan diberi tanggungjawab dalam perkara yang besar. Ingatlah bahwa setiap pelayanan yang dipercayakan kepada kita, harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana tangggung jawab kita menyelesaikan pekerjaan sekuler kita. Kita ini abdinya Tuhan. Itulah sebabnya dalam kantor, saya memajang sebuah poster besar bertuliskan JESUS, IS MY BIG BOSS. Jadi semua harus saya laporkan kepada Tuhan Yesus. Bukan hanya pada waktu ada masalah, tetapi juga keuntungan, pengeluaran, dan banyak hal lain, saya laporkan kepada BIG BOSS.
YES     : Sungguh mengagumkan pekerjaan Tuhan yang terjadi dalam kehidupan Bapak. Untuk memberkati pembaca, adakah kiat-kiat yang bisa Bapak berikan, supaya kita bisa mencapai sukses seutuhnya dalam setiap aspek kehidupan?

AH      :
Jadi saudara, ingatlah:
1. Segala sesuatu yang kita punya adalah milik Tuhan. Kita hanya diberi kepercayaan untuk mengelolanya.
2. Inti dari kesuksesan adalah berserah penuh kepada Tuhan.
3. Hargai proses, waktu dan sesama. Ketika kita diproses, sebenarnya Tuhan sedang memberkati kita. Saya selalu beraggapan bahwa kita tidak bisa diberkati, tanpa melalui masalah.  Tapi masalah yang terjadi disini, bukan akibat dari dosa yang kita lakukan, tapi merupakan proses pendewasaan kita. Hargai juga sesama, sebab sesama kita adalah mitra kita. Kita tidak bisa berhasil dengan bekerja sendiri. Kita perlu mitra.
4. Tetap lakukan dengan setia ATM KPR 3T. Amati, Tangkap sesuatu dan Melakuan firman Tuhan. Katakan, Pikirkan dan Rasakan firman Tuhan itu, sampai kita Terobsesi, Terasimilasi dan Terstimulasi oleh firman itu.

Sampai akhirnya seperti sekarang inilah, bisa menikmati kesuksesan dan mengalami ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan.Sekalipun saya masih tinggal di rumah yang sangat sederhana, lantai dan dindingnya dari papan. Boleh saja kita memiliki rumah yang bagus, tetapi bukan itu tujuan hidup saya. Yang penting kita bekerja bersama Tuhan. Disaat kita mengurus pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita dengan benar, maka saya percaya Tuhan akan memberikan apapun yang kita butuhkan. Yang penting saya bisa menikmati semuanya ini, saya tidak pernah putus asa dan saya selalu percaya bahwa segala sesuatu dapat saya tanggung di dalam DIA, karena DIA yang memberikan kekuatan kepada saya.
YES     : Apa rencana Bapak dimasa depan? Adakah visi/impian yang belum tercapai?

AH      :
Saya masih ada visi yang belum terlaksana. Saya ingin membangun sebuah kota satelit mandiri, misalnya seperti Bumi Serpong Damai dan Pantai Indah Kapuk di Jakarta atau sejenisnya. Saya berencana menamai kota satelit mandiri ini, “Hosanna City”, sebuah kota dengan prasarana lengkap seperti Mal, Hotel, Rumah Sakit bertaraf internasional, Sekolah bertaraf internasional dari play group sampai perguruan tinggi, proyek pariwisata, dan segudang fasilitas lainnya.  Inilah mimpi saya. Dan kami sedang bergerak kesana. Modalnya mungkin diperlukan triliunan rupiah. Tapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan bagi orang kepercayaan-Nya.
Haleluyah! Demikianlah kisah perjuangan seorang Ayub Haryanto, yang memberikan motivasi dan inspirasi bagi kita semua. Sampai saat ini Bp. Ayub Haryanbeserta istrinya, ibu Susan (34), telah dikaruniakan dua anak, yaitu Handsen Pratama (12) dan Chesia Anggelina (10). Mereka sekeluarga tinggal di Sungai Raya Dalam, Pontianak, yang berfungsi sebagai tempat tinggal sekaligus toko bangunan dan juga kantor bisnis property yang dibangunnya. Sampai saat ini, toko bangunan dan bisnis property yang dijalankan, semakin berkembang dan maju. Siapa yang mau menyusul menjadi orang sukses? Pesan saya, lakukanlah kiat-kiat di atas. Itulah kebenaran yang akan membawa kita mencapai impian kita! Terus berjuang, maju terus! Ingatlah JESUS IS OUR BIG BOSS!!!

Minggu, 21 Mei 2017

KESAKSIAN BAPAK SUMADI (PENGUSAHA SUKSES) : SEMUA ORANG BISA SUKSES


SEMUA ORANG BISA SUKSES!
Dengan tampilan seperti anak muda yang stylelish, saya berkesempatan berjumpa dan berbincang-bincang dengan seorang pengusaha muda di showroom mobil-nya, yang sekaligus juga tempat tinggal beliau. Sumadi(35), demikian biasa  kami menyapanya, adalah gambaran dari seorang pengusaha muda yang sukses karena pertolongan Tuhan. Dalam usianya yang masih tergolong muda, suami dari seorang istri bernama Santi(30), sudah berhasil memimpin sebuah showroom jual-beli mobil, yang cukup baik di Pontianak.
“Semuanya hanya karena Tuhan”,demikian perkataannya dalam pertemuan kami yang hangati sore itu, pengusaha kelahiran Pontianak ini menturkan kisah kesaksiannya, yang menjelaskan bahwa semua orang bisa sukses (sama seperti judul salah satu buku tulisan Bpk. Markus Tonny hidayat), bagaimana dia berangkat dari keluarga yang tidak mampu secara finansial, bahkan pernah berjualan es, sampai akhirnya mencapai kesuksesan dalam usaha dan pelayanannya.Di akhir perbincangan, ayah dari Rich Stephen (8), Rich Stepfanny(5) dan Rich Stella Vannesia(4), juga menuturkan kiat-kiat sukses yang dilakukan dan dialaminya. Mari kita simak..... .
Yakobus Edy Susanto (YES) :Ceritakan latar belakang bapak, sebelum mengalami sukses seperti ini, pak.
Sumadi(SMD):
Saya lahir di Pontianak,  35 tahun yang lalu, tepatnya Maret 1976. Ketika itu saya tinggal di gg. Damai sampai berumur sekitar 5 tahun. Kemudian kami pindah ke jl. AR. Hakim dalam. Keadaan kami masih sangat memprihatinkan. Rumah masih dinding kayu dan ber-atap daun. Saya dibesarkan dalam keadaan seperti ini.
Sejak menduduki bangku sekolah dasar, saya sudah ikut papa jualan es di pelampung (tempat penyeberangan kapal ferry). Ketika itu, penyeberangan dengan kapal ferry, lebih ramai dari sekarang, karena jembatan Tol yang menghubungkan kota dengan Siantan, belum dibangun. Jadi semua kendaraan dan orang, jika mau menyeberang ke daerah siantan, pasti menggunakan jasa kapal ferry.  Tetapi setelah jembatan Tol dibangun, mulai terasa sepi, karana banyak kendaraan yang memilih menggunakan jembatan dari pada kapal ferry, terutama mereka yang mau ke arah Tanjung Raya, Tanjung Hulu dan Ambawang. 
YES : Apakah hal ini sempat membuat perkonomian keluarga semakin sulit?
SMD:
Jelas pak. Hal ini membuat pergumulan ekonomi keluarga, semakiin terasa. Ketika memasuki usia SMP (sekitar 13 atau 14 tahun). Papa dan saya tidak lagi jualan es lagi. Saya bersyukur untuk papa saya, sekalipun keadaan kami sangat sederhana, tetapi dia berkorban luar biasa dan terus berusaha supaya kami bisa tetap mengenyam pendidikan di sekolah yang bagus. Kami ada empat bersaudara dan semuanya lulus di sekolah favorit di Pontianak.
 YES : Apakah setlah itu, masih jualan es lagi?
SMD:
Setelah, tidak lagi berjualan di pelampung, saya membantu papa berjualan es cincau. Seporsi es cincau, kami mendapat keuntungan hanya sekitar Rp. 50 saja. Memasuki bulan puasa, kami berjualan dengan menggunakan gerobak, dan mangkal di tepi jalan.
Memasuki usia pemuda dan bersekolah SMA, saya membantu papa berjualan buah di kaki lima pasar Mawar, Pontianak. Yang menyedihkan, karena kami berjualan di dekat.tempat pembuangan sampah Pasar Mawar, tentunya bisa dibayangkan bagaimana keadaannya, sangat tidak hiegenis. Apalagi jika sudah musim buah durian, sang berbau. Karena saking banyaknya sampah durian yang menumpuk sehingga kami terpaksa berjualan di atas timbunan sampah. Hal ini berjalan cukup lama, beberapa tahun, sampai akhirnya TPS itu dipindahkan dan pasar Mawar dibangun kembali, seperi keadaan sekarang ini. 
Ketika hampir tamat SMA, saya memiliki kerinduan supaya orang tua saya, tidak lagi perlu bekerja.  Karena saya kasihan dengan mereka. Jika dilihat dari wajah mereka, justru di masa tuanya sekarang, bisa nampak lebih muda daripada dulu, ketika masa muda, karena ketika masih muda, orang tua saya bekerja sangat keras untuk menghidupi keluarga.  Tapi puji Tuhan, kerja keras mereka ada hasilnya juga.  Dari hasil jual buah, saya bisa kuliah dan orang tua saya bisa pensiun, menikmati masa tuanya.  
YES : Bagaimana kehidupan Anda pada waktu kuliah dan setelah selesai kuliah, pak?
SMD:
Setelah selesai kuliah, saya masih belum bertobat dan mengenal Tuhan.  Sekalipun saya bersekolah di sekolah Katolik dari sejak TK, namun saya masih belum mengenal Kristus. Saya memang siring mengikuti kebaktian di gereja dan sekolah minggu, tapi itu dilakukan dengan motivasi yang kurang benar, seperti hanya untuk memenuhi kewajiban dari sekolah, cari teman, dll. Bahkan ketika saya kuliah, itu lebih parah lagi. Saya sama sekali tidak lagi pergi ke gereja dan lebih mengikuti kepercayaan tradisi kebudayaan. Seiring dengan proses yang saya alami, karena bekerja keras, perokonomian pun semakin membaik. Bukankah Tuhan juga berkata bahwa orang yang bekerja, layak mendapat upahnya, sekalipun orang itu belum mengenal-Nya? 
Setelah selesai kuliah, pada tahun 2002, saya menikah dengan seorang gadis, yang sampai saat ini menjadi istri saya tercinta. Saya menikah dalam keadaan belum bertobat. Karena kekurangan dana untuk menikah, saya ikut arisan Tiong Hoa.  Dari arisan itu saya memperoleh uang Rp. 45 juta. Tapi saya menggunakan uang itu untuk membangun rumah saya yang masih kumuh saat itu. Dengan perhitungan seorang tukang bangunan, uang itu cukup untuk merenovasi rumah saya. Diperlukan waktu satu bulan dalam proses renovasinya. Tetapi akhirnya biaya renovasinya “membengkak”, sampai kisaran Rp.  90-an juta. Diperparah lagi dengan biaya untuk menikah. 
Kami mengadakan repsepsi pernikahan di sebuah hotel ternama di Pontianak, maka biaya yang saya butuhkan semakin membengkak. Akhirnya pendapatan dari hasil jualan buah, saya gunakan untuk membayar semua biaya itu. Tetapi itu masih belum cukup. Saya berhutang kepada orang sampai mencapai ratusan juta rupiah. 
Tetapi karena masih ada jualan buah, akhirnya kami cicil semua hutang itu. Sampai ketika kami mempunyai anak pertama, masalah lain, yang tak kalah sulitnya, mulai timbul. Kami menikah dalam keadaan belum siap secara mental, maka sering mengalami cek cok suami-istri, terutama karena masalah anak. Diperparah lagi dengan rewelnya anak kami. 
Rewelnya anak kami, istilah orang Khek disebut “ma’ to”.  Jadi jika ada orang yang meninggal, kita lewat di depan tempat persemayamannya, atau melayat ke tempat orang meninggal, pasti anak ini akan rewel, menangis, sampai tidak bisa tidur, baik anak itu, juga kami. Sedangkan kami setiap jam empat subuh sudah harus ke Pasar, mengurus jualan buah kami. Kami sangat stress dan jengkel  dengan keadaan anak ini. Satu-satunya cara untuk menenangkannya, jika sudah mulai rewel, kami harus mengajak anak ini keliling dengan motor, tidak boleh ada di rumah. 
Kami berusaha menyembuhkan anak ini dengan memanggil “orang pintar” (dukun). Orang pintar ini memberikan mantra. Dengan mantra dan memandikannya,, anak ini bisa tenang, tapi hanya bertahan sekitar satu sampai dua minggu. Setelah itu, datang lagi “penyakitnya” ini. Ini terjadi berulang-ulang terus meneruss. Kami sangat stress mengahdapi situasi ini, sampai kami berlangganan dengan “orang pintar” itu. Setiap kali mulai ada gejala seperti itu, saya langsung menghubungi “orang pintar” itu. 
YES : Selain pernah menggunakan jasa “orang pintar”, apakah Anda pernah terlibat dosa-dosa lainnya?
Sumadi(SMD):
Ada. Saya juga memiliki emosi yang tidak baik, cepat marah. Kesukaan saya adalah dugem (dunia gemerlap). Saya suka ke diskotik, karaoke, judi, nonton film porno, perzinahan, onani dan terikat narkoba. Sejak kuliah saya sudah terikat narkoba, sekitar tahun 2000. Bahkan setelah menikah, saya masih menggunakan narkoba secara “curi-curi”.
YES : Masih ada kelanjjutan proses lainnya?
SMD:
Setelah saya mengalami proses seperti itu, timbul lagi masalah lainnya, yaitu sakitnya mama saya dan harus diopname di rumah sakit. Ini sekitar tahun 2004. Penyakit yang didiagnosa dokter adalah ada penyempitan pergeseran tulang belakang. Penyakit ini menyebabkan mama susah untuk berjalan (lumpuh) dan menangis terus di pembaringannya. Setelah keluar dari rumah sakit, mama bilang bahwa dia tidak mau hidup lagi.   
YES : Bagaimana ceritanya sampai Anda bisa mengenal Yesus?
SMD:
Awal proses yang membawa saya mulai mengenal Yesus dimulai dari ketika saya sempat mengembangkan usaha dengan membuka sebuah toko ATK di Pasar Melati, Parit Baru. Usaha ATK itu berjalan sekitar empat tahun (th 2000-th 2004). Ketika itu, saya sering diinjili hamba-hamba Tuhan. Mereka sering membeli ATK di toko, sambil menceritakan tentang Yesus. 
Awalnya saya hanya diam saja, kurang meresponi. Tetapi ternyata seorang karyawan saya, mulai percaya dan ikut ke gereja. Akihrnya dia masuk Kristen. Mula-mula, karyawan saya itu menuliskan firman Tuhan di kertas dan sengaja ditaruh di meja saya. Saya membacanya, tetapi tidak memberikan respon apapun. Kejadian ini terus berlangsung sampai ketika saya menutup toko itu, di tahun 2004, karena sakitnya mama.
Sampai suatu ketika, beberapa tahun kemudian, secara tidak sengaja, saya berjumpa kembali dengan seorang gadis hamba Tuhan, yang sering memberitakan injil di toko itu. Ketika itu, gadis ini, dengan berjalan kaki, sedang melintasi depan rumah saya, bertemu dan dipanggil oleh papa. Padahal  gadis itu tidak tahu dimana rumah saya. Saya percaya, ini pasti rencana Tuhan.
Secara luar biasa, papa bisa meminta gadis itu untuk mendoakan istrinya (mama) yang sedang sakit. Padahal sebenarnya papa tidak suka dengan gadis ini, karena sering memberitakan injil di toko. Akhirnya mama didoakan dan dihibur oleh gadis itu. Dia berkata bahwa di dalam Yesus, ada pengharapan. Awalnya hamba Tuhan ini hanya datang sendiri, tetapi ketika mengunjungi kami kembali, dia mulai membawa teman-temannya. Semain sering dia datang dan semakin banyak teman yang dia bawa. 
Suatu ketika, gadis hamba Tuhan ini, minta kami untuk mulai wa mama ke gereja. Kami mulai membawa mama ke gereja. Saat itu, saya sudah mulai terjun ke bisnis jual-beli mobil, tetapi masih dalam skala kecil, maklum, baru mulai. Ketika mengantar mama beribadah, saya tidak mau masuk. Sampai suatu saat, secara ajaib mama mulai pulih kesehatannya. Mama terus didoakan, sambil terus menjalankan terapi. Puji Tuhan, akhirnya mama sembuh total.
YES :  Apakah Anda langsung percaya Yesus, setelah melihat kesembuhan mama?
SMD:
Belum. Saya masih bandel dan belum mau bertobat serta percaya kepada Tuhan Yesus. Jika sudah sembuh, ya sudahlah. Kejadian dahsayt ini, “lewat” begiitu saja dalam hidup saya. Temperamen saya juga masih tidak baik, pemarah. Saya berpikir, kalau bekerja seperti ini terus, mau sampai kapan baru bisa sukses. Harta saya miliki, tetapi saya tidak memiliki kedamaian dan ketentraman hidup. Emosi yang juga semakin tidak terkendali. Keadaan keluarga juga hanya “begini-begini” saja, anak sering sakit dan uang banyak habis untuk berobat saja. 
YES : Jika demikian, kapan saat Anda mulai mengalami proses kelanjutan untuk mengenal Yesus?
SMD:
Sampai suatu saat, Tuhan mulai melakukan rencana-Nya untuk memulihkan kami sekeluarga. Saat itu, papa pergi ke luar negeri. Pulangnya, papa singgah di Jakarta. Adik saya menghubungi seorang hamba Tuhan dari sebuah gereja besar di Jakarta, dan hamba Tuhan ini ikut papa pulang ke Pontianak. Hamba Tuhan ini bermalam di rumah kami, walaupun pada saat itu, rumah kami bukanlah rumah yang bagus. Tiga hari dua malam, hamba Tuhan itu bermalam. 
Selama bermalam, beliau teruws menceritakan tentang kebaikkan Tuhan Yesus. Hingga hari terakhir, sorenya hamba Tuhan ini akan kembali ke Jakarta, tetapi siangnya, mama yang sudah mulai percaya, dan adik saya, mengambil keputusan untuk dibaptis. Sedangkan saya masih bingung. Saya menelepon istri saya, untuk menanyakan pendapatnya tentang hal ini. Istri nampaknya kurang setuju. Dia menganjurkan supaya saya memikirkannya kembali. Saya berkata, jika ada orang yang mengajak saya melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti  judi, diskotik, karaoke, narkoba, saya tidak pernah menolaknya, masakan ada orang yang mengajak untuk hal-hal yang baik, harus saya tolak? “Lalu kenapa saya tidak coba untuk ikut Yesus”, pikirku. 
Saat itu, tidak ada lagi yang bisa merubah hidup, sikap dan temperamen saya yang keras. Tapi mungkin Yesus bisa. Akihirnya saya, berkomitmen untuk mengikuti Yesus. Saya mengetuk kamar hamba Tuhan itu, dan menyatakan mau menerima Yesus dan dibaptis. Hamba Tuhan itu, langsung berdiri, mengangkat tangannya dan mengucap syukur kepada Tuhan. Dia langsung bernubuat untuk saya. Dia berkata bahwa Tuhan akan memakai saya secara luar biasa. 
Lalu kami dibaptis pada tahun 2006. Baptisan itu berlangsung luar biasa pula. Kami sekeluarga dibaptis di dalam kamar mandi (WC). Satu per satu kami “dicelupkan” dalam bak mandi berukuran 1m x 50 cm. Bagi saya, ini merupakan pengalaman baptisan yang luar biasa. 
YES : Puji Tuhan, pengalaman yang dahsyat! Sebelumnya Anda mengatakan pernah menggunakan jasa “orang pintar”, apakah pernah terlibat okultisme, yang lebih mendalam? 
SMD:
Dulu saya sering menggunakan kuasa kegelapan (okultisme). Sekalipun pada waktu itu, kami berpikir bahwa kuasa-kuasa itu, kami pergunakan untuk Tuhan, padahal bukan. Sepertinya menyembah Tuhan, padahal bukan. Ketikamengunakan kuasa-kuasa kegelapan itu, banyak pantangannya. Tidak boleh terkena sesuatu, tidak boleh dibawa ke WC, tidak boleh makan ini...itu..., dll. Saya juga mengenakan dan menggunakan jimat-jimat, seperti cincin. Tujuannya supaya saya memiliki karisma, dll. Semuanya saya gunakan. Jadi rumah saya penuh dengan jimat dan mantra. Jika jimatnya sudah tidak mempan, saya ganti lagi dengan jimat yang lain. 
Tetapi ketika saya dibaptis, saya meraakan ada pembaharuan dalam hidup saya. Ternyata Yesus adalah Tuhan yang sanggup mengubahkan saya. Dia Tuhan yang Maha hadir. Bahkan di WC sekalipun, Dia ada. Dialah Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan Maha Kuasa. Kami bergabung deengan sebuah gereja di Pontianak. Sekalipun letaknya jauh, tetapi kami tetap beribadah di gereja itu. Itulah kasih mula-mula.
Sekitar dua tahun kemudian, pertengahan tahun 2008, kami bergabung dengan Psalm 21 Successfull Community dan mengalami pemulihan yang lebih lagi. Tetapi saya masih bergumul untuk istri, karena dia belum percaya 100%, ketika itu. Puji Tuhan, suatu saat istri saya berdoa, “Yesus, jika Engkau mau isaya ikut Engkau, bukalah jalan bagiku.” Halangan terbesar adalah dari bapak mertua saya, yang melarang istri untuk bertobat. Bapak mertua adalah seorang dukun (orang pintar). Kakak-kakak ipar saya mengatakan kepada istri, “Terserah kamu lah.” Akhirnya istri mengambil keputusan menerima Yesus, dan dibaptis. 
YES : Haleluyah! Bagaimana proses selanjutnya?
SMD:
Kami sudah seiman, tetapi masih ada tantangan yang kami hadapi. Sudah percaya Tuhan, tetapi kan hutang masih harus dibayar? Suatu saat saya berdoa, “Tuhan, kami adalah anak-Mu. Dan Engkau tidak pernah mempermalukan kami. Kami masih memiliki hutan sekian ratus juta, tolong kami, berilah jalan bagi kami untuk bisa melunasi hutang ini. 
Setalah menyerahkan hal ini kepada Tuhan, herannya, berkat-berkat mulai mengalir. Setiap hari saya selalu menghitung pendapatan saya dan selalu disisihkan untuk membayar hutang setiap dua minggu atau satu bulan. Anehnya,setiap kali menghitung pendapatan, selalu ada uang yang lebih. Saya heran, uang yang lebih itu darimana asalnya, saya tidak tahu. Istri saya berkata, “Mungkin saya salah catat kali.” “Mungkn saja,” Jawabku. Tapi saya percaya, inilah salah satu cara Tuhan untuk membantu melunasi hutang.  
Haleluyah, dengan berjalannya waktu, akhirnya hutang itupun lunas. Satu per satu masalah mulai terselesaikan. Keluarga pun semakin harmonis. Kami mulai memiliki anak kedua dan ketiga. Mereka tidak lagi rewel, ada apa-apa tinggal kami doakan dalam nama Yesus. Disinilah kami melihat bahwa kuasa Tuhan Yesus, luar biasa. Dialah “mantra di atas mantra”, lebih dahsyat! Benturan-benturan alam keluarga pasti ada, tetapi selalu ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Semua masalah itu dapat diselesaikan dengan selalu memuji Tuhan, berdoa dan bersekutu bersama dalam mezbah keluarga. Setiap malam kami sekeluarga doa bersama.  
YES : Bagaimana proses bisa memiliki rumah yang megah ini, sampai bisa bisnis di mobil?
SMD:
Suatu saat, kami memiliki sebuah impian, punya rumah baru, karena rumah lama kami, yang kami huni saat itu, tidak memiliki sertifikat, karena rumah itu awalnya adalah rumah kumuh yang didirikan di atas tanah milik negara. Saya merindukan memiliki rumah yang ada bathtub. Kami terus mendoakan semua impian ini. Tetapi justru Tuhan menjawab doa kami dengan cara lain, cara yang unik.

Tahun 2009, ada sebuah developer, yang ingin membangun ruko di daerah tempat tinggal saya itu. Salah satu syarat untuk mendapatkan kucuran pinjaman dana dari bank, harus ada akses jalan yang lebar, sesuai standar yang ditetapkan bank. Akses jalan di tempat tinggal kami itu sempit, jadi harus diperlebar, menjadi minimal 5 meter.

Pada waktu itu, bisnis jual beli mobil sudah saya jalankan, tapi masih dalam skala kecil. Saya mendapatkan surat edaran dari developer tersebut, mengenai teras rumah yang harus segera dibongkar, untuk pelebaran jalan. Jadi, kami berdoa untuuk bisa mendapatkan rumah bersertifikat, yang memiliki bathtub, tapi jawaban-Nya adalah rumah tempat tinggal kami waktu itu, malah harus dibongkar terasnya. Sepertinya kontradiksi, tetapi sebenarnya tidak. 

Akhirnya kami mengadakan pertemuan dengan pihak developer. Karena rumah kami tidak memiliki sertifikat, tetapi jika kemi merelakan teras rumah dibongkar untuk pelebaran jalan, maka rumah kami tidak akan dibongkar keseluruhannya. Sempat terjadi keributan,m karena kami tetap bertahan, tidak menyerahkan teras rumah untuk dibongkar. Seluruh pemilik rumah di deretan itu, menunjukk ke saya, karena rumah kami berada di deretan paling depan. Mereka berkata  bahwa jika rumah saya yang ada di deretan terdepan dibongkar terasnya, maka yang lainnya akan mengikuti. Developer menggunakan segala cara untuk mempengaruhi saya. Mereka menggunakan jasa  keplosian dan pengacara. Mereka juga tidak segan-segan menggunakan preman-preman untuk menekan saya. Jadi saya terus diintimidasi dan diancam. 

Hingga suatu hari, tetangga saya menyerah dan merelakan teras rumahnya dibongkar, dengan ganti rugi yang sangat kecil, tidak sesuai. Kami sekeluarga berunding, jika kita tidak menyerahkan teras rumah dibongkar, maka rumah kita ini bisa dibongkar paksa, karena tidak bersertifikat, wah nanti susah. 

Akhirnya Tuhan mempertemukan saya dengan bos pemilik developer itu. Jadi kami bersepakat, teras rumah kami boleh dibongkar dengan ganti rugi sepantasnya. Setelah Ruko dibangun, maka kami dijinkan untuk membangun kembali teras rumah kami. Jadi ini hanya semacam trik untuk mendapatkan kredit dari bank.  Selain itu, rumah kami juga dironavasi, dibangun kembali dengan beton (sebelumnya hanya kayu). Ganti rugi yang kami terima, jika dibandingkan dengan tetangga lain, bisa berkali-kali lipat. 

Kami tetap memiliki kerinduan untuk memiliki rumah impian seperti yang saya saksikan di atas. Dengan uang yang berlebih, saya mulai bergerak dalam usaha kaplingan tanah. Puji Tuhan, kaplingan itu laku, tetapi uang saya “dimakan” oleh teman saya sendiri, yang bagian menagih cicilan pembelian tanah dari pembeli. Saya merugi puluhan juta rupiah. 

Namiun akhirnya saya menemukan sebuah rumah, yang menyerupai impian saya, yaitu rumah tinggal saya sekarang ini. Awalnya kami suami-istri datang meninjaunya, langsung terasa cocok. Tanpa membesarkan kemampuan kami, semuanya bisa kami miliki karena Tuhan. Tuhan menjawab doa kami secara luar biasa, sekalipun cara-Nya unik, yaitu melalui suatu masalah, kami justru diberkati. Dengan kesetiaan dan ketaatan, kita bisa memuliakan Tuhan. 

Rumah ini dibuka dengan harga Rp. 1,5 M. Setiap minggu, sepulang dari ibadah di Psalm 21,  saya membawa keluarga melewati rumah ini. Saya selalu berkata dengan iman kepada istri dan anak saya, ini rumah kita. Mama menertawakan saya, dia berkata, “Kamu belinya pake uang apa? Rp. 1,5 M lho?” '

Saya tetap yakin bahwa Tuhan akan memberikan rumah itu. Saya memberanikan diri untuk menawar rumah itu. Akhirnya setelah tawar-menawar, disepakati harga Rp. 1,35 M. Karena rumah ini dimiliki oleh sebuah yayasan, maka diperlukan proses untuk pemberesan administrasi surat-menyurat-nya. Sebenarnya sudah banyak orang menaksir rumah ini, karena luas dan terletak di tepi jalan yang ramai, sangat baik untuk bisnis. Bahkan ada yang berani membayar ratusan juta lebih banyak dari harga yang kami putuskan. Ada juga yang berani memberikan bonus, untuk mendapatkan rumah ini. Ada seorang calon pembeli yang berani membayar saya Rp. 150 juta, untuk mendapatkan rumah ini. 

Anehnya, ketua yayasan pemilik rumah, tetap memutuskan hanya menjual rumah ini kepada saya. Keluarga istri saya sempat memberikan masukan. Mereka bilang bahwa saya harus waspada, jangan-jangan rumah ini ada masalah, karena ada orang yang mau beli dengan nilai tinggi, tetapi pemilik rumah tidak mau menjualnya. Tetapi saya tetap pada keyakinan saya bahwa inilah mujizat Tuhan. Ada orang yang mau beli dengan harga mahal, pemilik rumah tidak mau menjualnya. Tetap mau menjualnya pada saya. Inilah kuasa-Nya yang ajaib.

Enam bulan kemudian, masih tidak ada perkembangannya. Saya menelepon pemiliknya dan menanyakan hal ini. Rupanya pemilik rumah mengira saya tidak jadi membelinya. Saya katakan bahwa saya tetap serius dengan kesepakatan harga yang telah ditetapkan.  Notaris yang ditunjuk pemilik mengatakan bahwa berdasarkan NJOP Rumah, sebenarnya harga rumah ini di atas Rp.2 M. Namun saya tetap memegang kesepakatan harga yang telah diputuskan sebelumnya yaitu Rp.1,35 M. Lalu saya berkata,  “Saya serahkan semuanya kepada Anda, sekarang tergantung Anda saja.” 

Setiap malam saya mengajak istri dan anak-anak berdoa, “Tuhan, jika memang rumah ini yang Engkau berikan kepada kami, bukalah jalan bagi kami, tetapi jika bukan kehendak-Mu, biarlah Engkau menutup semua jalannya. Kalau bukan kehendak-Mu, rumah ini tidak jadi dibeli juga tidak apa-apa.” Tetapi  dalam kejadian-kejadian berikutnya, Tuhan membukakan jalan yang luar biasa!

Seminggu kemudian, pihak yayasan menelepon saya. Mereka langsung meng-OK-an. Kami langsung mengadakan transaksi. Puji Tuhan! Tetapi masih ada masalah lain. Uang yang sudah saya sediakan, sudah terpakai untuk inves di usaha jual-beli mobil dan saham, jadi saya mengajukan pinjaman ke sebuah bank swasta. Kredit saya disetujui, tetapi kucuran dananya tidak sesuai, tidak mencukupi. Akhirnya pihak penjual protes, jika saya tidak ada uang cukup, batal saja.

 YES: Tetapi rumah ini tetap dibeli? Bagaimana Anda bisa mendapatkan uang untuk membeli rumah ini, pak?

SMD:
Tuhan menggerakkan hati saya untuk menceritakan hal ini kepada seorang teman hamba Tuhan dari Jakarta. Teman itu bersedia meminjamkan uang kepada saya, tetapi saya katakan akan berunding dulu dengan istri. Akhirnya kami bersepakat, untuk menerima pinjaman itu, sebesar Rp. 600 juta. Dengan uang pinjaman itu, ditambah dengan uang kami suami-istri dan bantuan dari orang tua, akhirnya kami beli rumah itu, kontan.

Masalah berikutnya adalah, saya harus mengembalikan pinjaman Rp. 600 juta itu. Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada orang yang memperkenalkan seorang teman yang bekerja di sebuah bank, dimana bank itu sedang ada promo kredit rumah murah. Kreditnya jauh lebih murah dari kredit dari bank tempat kami mengajukan kredit sebelumnya. Bahkan dengan bunga flatt, selama 5 tahun. Saya belum pernah menemukan ada bank yang bisa membrikan pinjaman semudah ini, dengan kredit yang murah dan bunga 7,8% flatt! Di bank lain biasanya kredit dengan bunga flatt, hanya berlangsung maksimal 2 tahun, setelah itu bunga pinjaman akan kembali tinggi. Inilah jalan Tuhan yang dahsyat! 

Dua minggu kemudian, dengan kucuran dana pinjaman dari bank ini, saya gunakan untuk membayar hutang kepada teman hamba Tuhan itu. Saya sudah berjanji kepada Tuhan bahwa rumah ini akn menjadi berkat dan saya akan bersaksi akan kebesaran Tuhan. 

YES : Setelah memiliki rumah, bagaimana dengan showroom ini?

SMD:
Setelah punya rumah, saya bisa mengoptimalkan usaha saya dalam jual-beli mobil. Saya membuka showroom mobil di rumah saya. Jika ditanya darimana modalnya, saya sendiri juga binggung. Tetapi yang pastinya, bahwa Tuhan sungguh-sungguh mengangkat kita menjadi kepala. Saya berdoa, bahea saya mau usaha saya ini bisa menjadi berkat bagi orang lain. Puji Tuhan, melalui tempat ini, sudah banyak jiwa yang dimenangkan untuk Tuhan. Sampai sekarang sudah terhitung beberapa keluarga yang bertobat, bahkan sampai tukang yang mengecat rumah ini dan keluarganya pun, bertobat. 

YES : Puji Tuhan! Jadi ukuran keberhasilan itu bukan harta yang dimiliki, tetapi bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan memenangkan jiwa bagi Dia. Apa ada Firman Tuhan yang menjadi pegangan bapak dalam berbisnis?

SMD:
Firman Tuhan yang menjadi pegangan saya, untuk menjalankan segala bisnis saya adalah Mazmur 1:1-3, yang berbunyi, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

YES : Sebelum kita menutup perbincangan ini, adakah kiat-kiat yang bisa disampaikan bagi pembaca Psalm 21 Magazine, supaya para pembaca pun bisa mengalmi sukses di usia muda seperti Anda?

SMD:
Saya percaya, jika kita setia melakuakn firman-Nya, Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Saya merangkum Lima Prinsip untuk Sukses, yang selalu saya jadikan pedoman. Semua orang bisa sukses, karena sesungguhnya manusia diciptakan untuk sukses. Kelima prinsip itu adalah :

1.    Beriman kepada Tuhan Yesus. 
Mujizat terbesar dalam hidup saya, adalah ketika mengenal Yesus. 
2.    Bertobat dari segala dosa.
Setelah mengikuti Tuhan, saya berkomitmen untuk bertobat dari segala dosa. Saya menghancurkan semua kaset-kaset film porno, meninggalkan narkoba, judi, perzinahan, onani dan kehidupan malam. Saya bertobat dari segala dosa itu pada th. 2006. 
3.    Berani bermimpi. 
Dalam Yesus ada pengharapan. Dan pengharapan itulah yang menguatkan saya untuk berani bermimpi (maksudnya memilki impian untuk masa depan – red). Tapi impian kita, harus selaras dengan firman Tuhan. Inpian saya terbesar adalah saya mau seluruh kehidupan, bisnis, keluarga saya bisa menjadi berkat.
4.    Berani melangkah. 
Untuk mencapai mimpi itu. Jadi jangan hanya bermimpi saja. Iman tanpa perbuatan, hakekatnya mati. Dengan impian yang selaas dengan firman, dan kita melangkah bersama Tuhan untuk mencapai impian itu, maka saya yakin,  sukses sudah ada di hadapan kita. 
5.    Taat dan setia pada perkara kecil. 
Salah satu ketaatan kita adalah berkomitmen untuk melayani Tuhan, sesuai talenta kita. Itulah ssebabnya sampai sekarang, saya aktif melayani sebagai penyiar di Radio rohani, Radio Mazmur 21. Saya juga terlibat dalam komsel di rumah, setiap hari Rabu. Saya juga menyediakan kamar di rumah, untuk penginapan –hamba-hamba Tuhan, yang direkomendasikan gereja.

YES : Haleluyah! Apakah masih ada impian dimasa depan yang belum tercapai, tetapi Anda sedang menuju ke sana?

SMD:
 Saya rindu untuk membangun semacam mess khusus untuk penginapan hamba-hamba Tuhan. Saya yakin, jika Tuhan mengijinkan, dalam waktu lima tahun ini, impian ini bisa terlaksana. Saya juga memiliki kerinduan bersama istri, bisa melayani Tuhan dimana-mana.Mohon dukung dalam doa, untuk impian-impian ini. GBU

Demikianlah perbincangan kami. Saya yakin, para pembaca sekalian sangat diberkati Sekarang tiba saatnya, bagi kita untuk memprakktekkan kelima prinsip diatas.SUKSES! GBU

Penulis :YES