Senin, 29 Mei 2017

KESAKSIAN DARI BP. A SENG (PENGUSAHA)


Shalom, terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bersaksi.Kesaksian ini untuk memuliakan Tuhan dan disampaikan apa adanya, tanpa bermaksud menyinggung atau mempermalukan siapapun. Oleh karena itu, sya mohon maaf terlebih dahulu.
Dulu saya adalah seorang pengusaha sepatu. Usaha itu maju dan berkembang dengan luar biasa. Tapi kemudian saya mengaami proses. Tuhan ijinkan saya mengalami kebangkrutan. Akhirnya usaha saya, rumah, mobil, semuanya habis dan hutang bertumpuk sangat banyak, tidak mampu saya bayar.
Dalam kondisi itu, saya sangat stres. Ketika itu, saya memang belum betobat. Tetapi saya sudah sering ke gereja. Waktu itu, Gereja Sungai Yordan masih beribadah di gedung Graha Air Kehidupan, Jl. H. Abbas. Ketika saya mengalami kebangkrutan, saya tidak memiliki seorang teman yang bisa menasehati saya., memberikan ide atau jalan supaya kita bisa semangat kembali. Apalagi biasanya, jika sedang bangkrut, rumah tangga dan keluarga pun mengalami masalah.
Waktu itu, saya berencana menjual rumah saya di daerah Paris II. Sebuah rumah 2 tingkat, dengan lebar 20 m. Tetapi istri saya tetap mempertahankannya. Namun akhirnya juga tidak bisa dipertahankan juga. Rumah saya yang ditempat lain pun habis dijual. Sekalipun saya belum bertobat, tetapi saya bukan penjudi, pemabuk, tidak pernah terlibat kriminal. Namun semua uang dan harta saya tetap ludes.
Saya bingung, tidak ada jalan keluar dan tidak ada teman yang bisa diajak bicara. Di rumah pun sering bertengkar dengan istri sampai hampir mau cerai. Saya pun tidak tahu mengapa bisa sampai begini, padahal sebenarnya saya sayang dengan istri, sekalipun dia bersalah, tapi saya sering mengampuninya.
Saya sudah sering berbicara dengan beberapa adik ipar saya. Saya katakan, jika saya di rumah sering bertengkar dengan istri, sehubungan dengan ekonomi keluarga yang sedang sulit. Mungkin istri juga sering pulang ke rumah orang tuanya dan berbicara dengan mereka, tentang perkelahian kami. Jadi saya minta tolong dengan adik ipar saya untuk mengatakan kepada istri supaya bisa mengerti keadaan saya sebagai kepala rumah tangga, Tetapi justru kepahitan yang saya peroleh.
Saya sudah pernah share masalah ini dengan Pdt. Tonny dan beberapa kawan gereja. Suatu hari, Saya berniat mau ke rumah mertua saya dengan tujuan untuk menjelaskan kepada mereka, jika keadaan saya sudah susah. Saya datang bukan untuk pinjam uang atau minta beras. Saya hanya ingin minta nasehat, berikan saya ide dan jalan, supaya saya bisa bangkit dan berusaha kembali.
Saya datang ke sana. Saya mulai menjelaskan keadaan saya ini, tetapi justru saya diminta untuk menceraikan istri. Hal ini sangat melukai dan membuat hati saya pahit. Bukan saran, ide dan nasehat yang saya terima, tetapi sebaliknya. Jadi kepahitan saya sangat besar. Sampai bulan Novembur 2011 lalu, saya masih belum bisa mengampuni mereka. Ketika saya masih jaya, istri saya tidak pernah kekurangan suatu apapun. Bahkan ketika sudah susah, saya tidak pernah pinjam, apalagi minta uang dan beras dengan keluarga istri.
Ketika saya mendapat perkataan seperti itu, saya pun berdiri hendak pergi. Saya pun pergi dengan kesal. Saya mengendarai motor tanpa tujuan. Belok ke kiri, ke kanan, tapi tanpa tujuan, tidak tahu menyasar di mana, seperti orsng ling-lung. Saya sudah sangat stress.
Bukan menyombongkan diri, tetapi sejak kecil memang saya tidak pernah hidup susah. Saat itu, saya tidak bisa terima kenyataan hidup. Sampai saya pernah mencoba untuk bunuh diri. Ketika saya pergi dari rumah keluarga tadi, tanpa sepengetahuan saya, tiga orang saudara istri saya ingin menjebak saya. Waktu saya sampai di rumah, adiknya menelepon dan meminta saya kembali ke rumah. Katanya mau berbicara dengan saya. Saya pun kembali, karena saya memang bertujuan untuk berbicara. Saya mau bicara dan minta nasehat tentang masalah rumah tangga kami.”
Setelah tiba di sana, ternyata ibukan kebaikkan yang saya terima. Ketika saya masuk ke rumah, langsung pintu rumah itu dikunci dari dalam. Mereka bertiga mau memukuli saya. Saya pun melawan, tetapi untung kakak ipar saya tiba dan membantu saya, jika tidak saya sudah dikeroyok. Saya pun pergi.
Saya pustukan untuk pergi ke Jakarta dengan uang yang pas-pasan. Dengan kasih karunia Tuhan, saya bisa berusaha dan bangkit kembali. Saya belum punya uang cukup, jadi saya kredit motor. Namun saya masih depresi waktu itu. Setiap malam saya selalu bermimpi buruk, dendam, menangis sampai berteriak-teriak. Tetapi puji Tuhan, saya bisa bangkit kembali, tanpa bantuan pihakkeluarga  istri. Tetapi sakit hati dan dendam masih ada dalam hati saya.
Sekitar November 2011, saya datang dan beribadah di gereja Sungai Yordan di gedung Graha Mazmur 21, atas ajakan dari Pdt. Markus Tonny Hidayat, yang memang sudah melayani dan mementori saya ketika  masih beribadah di Jl. H. Abbas.  Saya dipulihkan kembali ketika beribadah di sini. Saya menyadari bahwa dalam keadaan apapun, kita sebagai anak, cucu, mertua atau istri, derajatnya tidak akan pernah berubah. Ketika saya beribadah di Sungai Yordan, batu yang terasa puluhan kilo beratnya, yang tersimpan dalam hati saya, telah terangkat dan dibuang Tuhan. Dalam keadaan apapun, anak adalah tetap anak, dan mertua tetap mertua. Selesai beribadah, saya pulang dan berlutut dihadapan Tuhan, mengucap syukur atas kasih karunia-Nya yang sungguh besar. Lalu saya mendatangi mertua saya dan mohon pengampunan mereka, sekalipun sebenarnya saya tidak  bersalah. Betapa luar biasanya orang yang membangun Rumah Kediaman-nya dan memiliki seorang mentor yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar