Jumat, 30 Juni 2017

KESAKSIAN : AGNES JESSICA : DEPRESI MEMBAWAKU KE HIPNOTISME

JJ

Agnes Jessica, adalah penulis best seller yang sukses dengan 32 novelnya. Dan sudah 70 skenario film televisi yang lahir dari tulisannya dan ditayangkan dari berbagai stasiun televisi. Tapi di balik suksesnya, banyak orang yang tidak tahu rahasia kehidupannya.
"Saat saya menulis skenario, saya harus ketemu banyak orang. Dan mungkin karena itu juga saya tidak meneruskannya. Sedangkan kalau saya menulis novel, saya bisa sendirian. Jadi depresi saya tidak sembuh. Dan depresi saya itu seperti membuat hidup saya kosong dan hampa," Agnes menjelaskan sisi hidupnya yang depresi di tengah kesuksesan pekerjaannya.

Di awal pernikahannya, Agnes membayangkan yang manis dalam rumah tangganya. Tapi disitulah awal masalah mulai terjadi.
"Ketika kami baru pulang dari bulan madu, kami ditimpa kesulitan ekonomi. Jadi, saya baru tahu di situ bahwa ternyata kami memiliki banyak hutang sampai kami jual barang-barang kami untuk bayar hutang itu. Dan akhirnya, saya tinggal dengan mertua, dan keluar dari situ pun kami mengontrak. Lalu untuk membeli susu pun susahnya bukan main. Dan kadang-kadang jika kurang, harus pinjam sama orang tua," Agnes menjelaskan masa-masa sulit dalam pernikahannya.

Satu tahun setelah pernikahannya, suaminya di-PHK dari pekerjaannya. Dan setelah itu, suaminya mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru. Dan akhirnya, Agnes-lah yang tampil menjadi tulang punggung keluarga.

Demi memenuhi kebutuhan ekonominya, Agnes mengajar dari pagi hingga malam setiap harinya.
"Saya katakan bahwa saya tidak sanggup. Saya bertanya kenapa mesti saya, karena selepas kerja menjadi guru, saya curi waktu untuk mengajar les. Dan anak saya masih bayi, saya sudah kerja dari pagi sampai malam. Saya bertemu dengan siklus hidup saya dahulu, karena begitulah ibu saya dahulu, pergi pagi pulang malam tidak bertemu anak," Agnes menuturkan kesibukannya sebagai tulang punggung keluarga.

Memang saat kecil, Agnes tak pernah merasakan kasih sayang dari orang-tuanya. Dan memang kedua orang-tuanya tidak bercerai, tetapi yang terjadi sebenarnya adalah ayahnya tak pernah pulang-pulang ke rumahnya. Dan ia mendapat kabar bahwa ayahnya sudah bersama wanita lain. Tanpa disadari ada sesuatu yang terpendam dalam hati Agnes akibat perilaku ayahnya yang tak kunjung datang kembali ke rumah keluarganya.
Agnes mengalami depresi selama tujuh tahun, hal ini membuat Agnes menuju titik kehancuran dengan segala impian yang sudah ia raih.

"Jadi saya merasakan penolakan. Ketika saya bertemu dengan orang, untuk berbicara normal pun saya tidak bisa. Saya sepeti orang yang maluuu... dengan keadaan saya sendiri. Bahkan untuk keluar beli sayur pun saya meminta tolong suami saya untuk membelikannya. Keluar buang sampah pun tak mau. Saya menutup diri, akhirnya saya di rumah saja kerjaannya. Jadi depresi saya tidak sembuh. Kadang-kadang depresi saya membuat saya merasa kosong dan hampa. Jadi kadang saya merasakan keinginan bunuh diri," Agnes menceritakan masa depresinya yang bisa dikatakan sudah terlampau parah.

Saat depresi, Agnes memutuskan berhenti menjadi guru dan membuka les privat di rumahnya. Dan saat itulah, Agnes menemukan sesuatu yang baru dalam hidupnya.
Agnes berpikir, "Lalu, saya mulai berpikir untuk menulis novel semenjak itu. Saya pikir jika saya bisa mendapat uang dari menulis novel, alangkah bagusnya."

Novel Agnes yang pertama langsung diterima oleh penerbit. Dan semenjak saat itu, Agnes sering menulis novel.
"Semenjak itu saya berpikir juga bahwa hidup saya ini dari awal sampai akhir adalah suatu hidup yang unik. Tak ada orang yang bisa menemukan talenta menulis di saat dia itu depresi," Agnes menceritakan bahwa ia sadar ia menemukan talenta baru yang juga adalah karunia dari Tuhan.

Nama Agnes Jessica sebagai penulis novel dan penulis skenario film semakin dikenal. Tapi disitulah depresi-nya semakin parah.
"Di situ saya mulai berfokus pada kesembuhan. Saya berpikir saya harus sembuh, bagaimanapun caranya. Karena saya tahu penyakit ini mulai menghalangi saya untuk maju," ujar Agnes.

Akhirnya Agnes mengikuti perkumpulan hipnoterapi di Jakarta untuk mencari kesembuhan. Lalu Agnes meminta dihipnotis kesembuhan, disitu terbuka roh-roh yang mengganggu Agnes. Ia merasakan bagaimana ia mendengar suara yang ramai sekali di telinganya, seperti sekerumunan orang yang bertanya kepadanya. Dan ternyata tidak hanya ia saja yang merasakan, tetapi juga orang-orang lain dalam perkumpulan tersebut.
Saat Agnes menjadi penulis paling produktif pada waktu itu, pada waktu itu pula tiba-tiba Agnes tidak dapat berkarya lagi.

"Saya mulai suka membaca buku psikologis, saya mulai percaya adanya reinkarnasi. Dikatakan bahwa jika kita mengalami suatu penyakit, itu karena kesalahan kita di masa lalu. Seperti karma. Dan saya mulai percaya itu. Lalu saya percaya lagi dengan novel-novel yang menghujat Tuhan Yesus. Jadi saya bukannya semakin teguh malah semakin murtad. Saya mulai tak percaya Alkitab dan Tuhan Yesus," Agnes menceritakan di balik perjalanannya mencari kesembuhan justru ia semakin jauh dan murtad dari Tuhan.

Sejak Agnes mengikuti perkumpulan tersebut, Agnes semakin sering diserang oleh suara-suara yang aneh. Setiap malam, setiap ia tidur. Ia hanya bisa tidur setengah sadar saja. Hingga akhirnya ia mendengar sebuah suara...
"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan..."
"Mendengar itu saya berpikir mungkin saya terlalu banyak membaca Alkitab. Saya hanya berpikir, mungkin itu hanya pikiran saya sendiri," Agnes mencoba menyimpulkan sendiri dari apa yang telah ia dengar.

Lalu beberapa jam kemudian, Agnes membaca buku yang isinya ada berkata, "Ketika kita menyerahkan hidup kita secara total kepada Tuhan, maka itu akan menjadi persembahan yang kudus untuk Tuhan dan Tuhan akan berkenan kepada kita."
Lalu Agnes berkata sendiri, "Ya Tuhan, saya mau menyerahkan hidup saya buat Tuhan."
Dan terdengar kembali suara itu, "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan..."

"Dan ketika itu terjadi, saya percaya bahwa Tuhan itu benar-benar sudah memulihkan saya! Jadi sebenarnya ini adalah proses pemulihan, satu demi satu dibereskan oleh Tuhan," Agnes menceritakan bagaimana imannya bertumbuh pada malam itu.
Akhirnya Agnes bersama suaminya mencari seorang hamba Tuhan dan didoakan sehingga lepas dari kuasa kegelapan dan sembuh dari depresinya.

"Saya meminta ampun atas semua dosa saya ketika saya meninggalkan Tuhan Yesus, dan ketika saya sudah kembali kepada Tuhan Yesus itu luar biasa. Ketika saya murtad pun Tuhan tidak meninggalkan, Ia tetap memberkati saya. Dari saya waktu dahulu memberi les, ternyata saya bisa mendapat penghasilan empat kali lipat dari sebelumnya. Itu luar biasa. Dalam beberapa tahun kedepan, ekonomi saya dipulihkan. Dari saya menjadi penulis, saya bisa membeli rumah sendiri, beli mobil, bisa punya tabungan..." Agnes mengingat-ingat bagaimana Tuhan tetap memberkati dia meskipun ia sempat jauh dari Tuhan.

Bagi Agnes, semua badai kehidupan yang pernah dilaluinya itu merupakan cara Tuhan untuk mendekatkan diri Agnes kepada Tuhan hingga hidupnya dipulihkan.
"Saya belajar untuk menjadi seorang hamba, saya mengosongkan diri, saya bukan apa-apa, saya hanya mengerjakan pekerjaan dari Tuhan. Dan ketika itu saya lakukan, rupanya itu kunci rahasianya! Jadi saya hanya melakukan apa yang Tuhan mau, saya hanya hamba... Dan ternyata setelah itu saya, malah, lancar kembali untuk menulis. Dan ide-ide datang luar biasa. Setelah saya berjalan bersama Tuhan, semua yang saya lakukan, benar-benar damai sejahtera. Jadi ketika saya berhasil, ya, itu karena Tuhan membantu saya. Dan ketika saya tidak berhasil, ya sudah, berarti Tuhan tidak ingin ini terjadi. Dan apa yang Tuhan mau pasti lebih baik untuk saya," kisah Agnes. (Kisah ini ditayangkan 25 Januari 2011 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Sumber Kesaksian:
Agnes Jessica
nevergiveup-all.blogspot.co.id

Senin, 26 Juni 2017

ALLAH YANG MENYURUH SAYA MENOLONGMU "BECAK MOTOR "

Saya tidak mau diantar
Tiba-tiba saya melihat waktu sudah jam 11 malam. Saya mendengar suatu suara berkata, "Engkau akan bersaksi di Muree besok dan kau masih disini sekarang." Saya menjadi agak panik dan bergegas ke kamar kakak perempuanku serta memohon bantuan bila ada orang yang dapat mengantarku ku ke Badami Bagh. Tapi mobil Samina sedang dipakai tamu-tamu lainnya, Anis sedang sibuk dengan kaum keluarga suaminya dan beberapa tamu dengan tegas menolak – saya mendengar seseorang berkata, "Kami tidak mau mencemarkan mobil kami. Mintalah kepada Yesusmu untuk menolong dirimu." Samina mendekat dan memegang tanganku – "Gulshan maafkan saya karena tidak dapat menolongmu. Kenapa kau tidak bermalam dengan kami malam ini lalu besok kami akan mengantarmu ke stasiun bus?" Sebenarnya usul ini baik kedengarannya, karena bagi seorang wanita pergi sendirian dimalam hari seperti ini di jalanan mengandung ancaman bahaya. Namun saya merasakan suatu desakan perasaan yang mendorongku. Saya telah diberi tugas sehingga saya harus mengusahakan sedapatnya untuk memperoleh jalan keluarnya


Saya minta Tuhan tolong saya
Lupa berpamitan saya menyelinap perlahan dari rumah yang terang benderang itu bersama seluruh kesenangan dan rasa amannya lalu berdiri di pinggir jalan. Awanawan menyelubungi bulan, rumah-rumah dan pepohonan kelihatan samar dalam kegelapan. Dahan-dahan sebatang pohon mulberry (bebesaran) mendesir diatas kepalaku. Dengan gugup saya bergerak dibawah bayangannya."Tuhan, Engkau telah menyucikan saya. Jagalah dan tolonglah agar saya dapat sampai ke stasiun bus pada waktunya. Saya serahkan diriku sepenuh-penuhnya dalam lidungan Tuhan," doaku. Ketika saya mengakhiri doaku, air mata jatuh berlinang. Saya merasa kehadiran Allah di sekelilingku di dalam gelap itu dan di dalam lingkaran itu saya merasa aman.

Saya mendengar suara motor
Lalu dari jauh saya mendengar dan makin mendekat, bunyi deru mesin sepeda motor dan hampir bersamaan saya melihat lampu depannya kelap-kelip; cahaya lampu diselubungi kegelapan malam itu, sewaktu kendaraan itu bergerak menuju ke arahku menelusuri jalanan aspal. Saya melihat rupanya sebuah rickshaw (semacam becak bertutup yang dilengkapi mesin). Apakah kendaraan ini sedang membawa seseorang yang terlambat datang ke pesta kawin itu ataukah pengemudinya akan pulang setelah bekerja sehari-harian? Sambil berdoa agar orang ini akan berhenti bagiku, saya melambai-lambai dan kendaraan itu berhenti disamping tempat saya berdiri.

"Dapatkah bapak membawa saya ke Badami Bagh secepat yang dapat bapak lakukan? Saya harus mengejar sebuah sebuah bus yang akan berangkat ke Rawalpindi selekas mungkin." Saya tidak dapat melihat wajahnya karena ia memakai semacam penutup kepala, namun ia mengangguk dan saya naik keatas kendaran itu dan saya tidak mau mengira-ngira apakah orang ini penjahat yang akan mengambil keuntungan dari situasi saya.

Saya di antar terminal bis
Kami bergerak maju, meninggalkan gema deru mesin. Rasanya kami melaju degan cepat sepanjang jalan. Sewaktu kami berputar masuk ke Badami Bagh saya melihat ke jam saya, nyatanya kami menempuh jarak 28 km dalam waktu 5 menit. Pengemudi itu mengangkat tas kerjaku tanpa berkata-kata dan membawanya ke deretan bus Watan Transport untuk tujuan Rawalpindi. Waktu ia mendekat, kelihatan berperawakan tegap dan mengenakan sebuah jubah panjang yang aneh berwarna coklat tua, pikirku mungkin di seorang Pathan (Indo-Iran).

Tasku diletakkan di bawah tempat duduk depan dan mau berlalu tanpa menunggu bayaran, sewaktu saya menghentikan dan bertanya, "Berapa ongkos yang harus saya bayar?"

Allah yang menyuruh saya menolongmu
Setelah berpaling kearahku, ia berkata, "Allah telah menyuruh saya untuk menolongmu. Pergilah dengan damai". Lalu ia membalik, pada lipatan leher jubahnya dan pada lengannya yang berotot saya membaca sebuah kata yang ditulis dengan huruf mengkilap "PETRUS".Saya berusaha melihat wajahnya namun saya hanya dapat melihat matanya yang bercahaya.

Air mataku berlinang-linang dan saya terpaksa menghapusnya. Ketika saya menengok lagi kearahnya, dia telah menghilang dan tidak mengambil bayaranku, saya melihat ke sekeliling stasiun bus itu yang pada waktu malam selarut itu cukup sibuk karena orang-orang lebih suka bepergian di saat itu dibandingkan dengan di siang hari yang panas, namun yang terlihat ialah para penumpang bus yang meluruskan kaki-kakinya bersiapsiap melaksanakan perjalanan panjang. Saya mengambil tempat di tempat duduk berkasur, satu-satunya wanita di bus itu yang bepergian sendirian dan tidak mengenakan ‘burka’ dan saya membayar ongkosnya pada kondektur sewaktu ditagih.

Kamis, 22 Juni 2017

TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK BERTOBAT

Saya Lukas Bundiyanto, anak pertama dari lima bersaudara. Kehidupan saya yang hancur berantakan di Bali. Sebenarnya saya minggat ke Bali karena papa saya marah setelah mengetahui saya suka ke tempat pelacuran di Magelang.
Kebiasaan ini saya ulangi lagi ketika saya sudah bekerja di Bali dan tidak hidup bersama dengan pasangan gay saya itu lagi. Jadi di Bali selain menjalani hubungan sesama jenis, saya juga beberapa kali pergi ke tempat pelacuran wanita. Semua jenis dosa sudah saya lakukan. Dari free-sex sampai nge-drugs. Hidup saya benar-benar hancur.
Awal mengenal kehidupan gay
Ketika di pesawat jurusan Yogja – Denpasar saya bertemu dengan seorang pria. Orang ini bertanya saya mau ke mana dan saya menjawab bahwa saya minggat. Akhirnya orang itu menawarkan diri apakah saya mau tinggal bersamanya. Saya menyetujuinya.

Minggu-minggu pertama tidak ada apa-apa. Namun memasuki minggu ketiga pria ini melakukan sesuatu yang ‘aneh’ terhadap saya. Dia mulai menggerayangi tubuh saya. Ternyata dia seorang gay.
Awalnya saya jijik karena ini adalah awal hubungan saya dengan sesama jenis. Namun karena sungkan atas pertolongannya selama ini akhirnya saya ikuti saja keinginannya. Lama-kelamaan saya jadi menikmati hubungan sejenis itu. Saya hidup bersama dengannya kurang lebih selama enam bulan. Setelah itu kami pisah karena saya sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Saya bekerja sebagai tukang pijat plus.
Pergi ke gereja
Pada suatu hari di Minggu pagi di bulan Desember 1997 untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki saya ke gereja. Saya diajak oleh seorang teman kost saya yang bernama Esther. Saya tidak tahu kenapa pagi itu saya ada keinginan untuk pergi ke gereja. Padahal malamnya sampai jam 5 pagi hari saya baru clubbing ke beberapa diskotik di daerah Kuta. Dan malam itu ada pemeriksaan narkoba. Saat itu saya membawa ecstasy. Semua kami digeledah.

Oleh anugrah dan kemurahan Tuhan saat itu saya lolos. Karena saya berhasil membuang ecstasy tersebut tanpa diketahui oleh aparat. Padahal saat itu saya belum mengenal Tuhan Yesus. Sedangkan teman saya saat itu berhasil ditangkap dan dipenjara selama 6 tahun.
Pagi itu ketika pulang dari gereja saya tidak merasa ada sesuatu yang spektakuler. Semua berjalan biasa saja. Tapi entah kenapa Minggu depannya lagi yaitu tanggal 4 Januari 1998 saya punya kerinduan untuk datang ke gereja itu lagi. Kali ini saya merasa berbeda. Merasa ada kedamaian di dalam hati saya. Meskipun demikian saya tetap masih melakukan kewajiban agama saya. Kemudian pada tanggal 11 Januari 1998 adalah Minggu yang ke-3 saya datang ke gereja.
Ketika sedang kebaktian pada jam 8 pagi saya mendengar ada suara pria yang berkata, “Saatnya Aku memanggilmu sekarang.” suaraNya jelas sekali. Saya mendengarnya secara audible. Kemudian saya melihat ke kanan dan ke kiri saya barangkali ada pria yang berbicara kepada saya. Namun kiri dan kanan saya adalah wanita. Suara itu saya dengar sampai tiga kali. Dalam hati saya berkata ini suara Tuhan Yesus.
Tapi saya tidak percaya saat itu kalau itu suara Tuhan. Suara itu saya abaikan saja. Namun ketika ada tantangan altar call saya tidak tahu tiba-tiba saya bisa rebah di tempat duduk saya, kemudian saya bangkit kembali dan berlari ke depan mimbar. Saat itu yang melayani adalah seorang hamba Tuhan dari Amerika. Ketika itu berkata (saya baru tahu kalau itu nubuatan setelah bertobat menerima Tuhan Yesus), “Kamu akan menjadi penyelamat keluargamu dan menjadi terang buat keluargamu dan bangsa-bangsa.”
Mendengar suara Tuhan
Sejak saat itu, mulai Minggu depannya lagi tanggal 18 Januari 1998 saya punya kerinduan yang sangat dalam untuk mengenal Tuhan Yesus bahkan dibaptis. Kemudian saya mulai ikut komsel (di GBI Lembah Pujian namanya Komunitas Mesianik). Akhirnya saya menyerahkan diri saya untuk dibaptis pada tanggal 25 April 1998. Saya menerima Tuhan Yesus di dalam keadaan saya berhutang kurang lebih 40-an juta.

Karena saya korupsi uang kantor dan ketahuan setelah diaudit. Akhirnya saya harus mencicil hutang saya dengan cara gaji saya dipotong. Namun tetap tidak bisa melunasi hutang saya seluruhnya. Saya hanya bisa melunasi setengahnya. Saya tidak tahu lagi bagaimana caranya. Ketika sedang mengendarai motor saat pulang kerja keluarlah nyanyian ini dari mulut saya, “Dia buka jalan saat tiada jalan…”. Kemudian ada kalimat firman Tuhan yang tiba-tiba keluar menjadi rhema buat saya yaitu, “Dengan tinggal tenang terletak kekuatanmu.” Keesokan harinya saya bisa dengan berani menghadap pimpinan saya mengaku semua kesalahan saya dan dia memberikan kesempatan kepada saya buat mencicil hutang saya.
Bahkan dia meminjamkan motornya buat saya pakai. Saya melihat keajaiban dan pertolongan Tuhan di dalam hidup saya. Karena orang-orang yang tadinya saya harapkan dapat menolong saya ternyata tidak dapat membantu. Saat itu saya ingat lagi Firman Tuhan yang berkata, “Janganlah berharap dan bersandar kepada manusia.” Saat itu saya menangis dan saya semakin sungguh-sungguh datang kepada Tuhan. Kemudian saya mulai rajin mengikuti doa malam juga.
Pertolongan Tuhan
Dalam doa malam itu Tuhan kembali membuktikan pertolongannya. Ada seorang ibu yang mendatangi saya dan berkata, “Tuhan memberitahukan tante bahwa kamu ada masalah berat, tapi bukan masalah keluarga, pekerjaan atau pacar tapi keuangan. Berapa jumlahnya?” Awalnya saya tidak mau menyebutkan jumlahnya karena sungkan, namun setelah didesak saya sebutkan angka yang masih harus saya selesaikan yaitu hutang saya sebesar Rp.22 juta.

Saat itu beliau berkata, “OK, hari Minggu kamu ambil uangnya. Tante cuma minta kwitansinya aja.” Saat itu saya menangis. Ternyata enam tahun kemudian beliau baru cerita bahwa uang itu adalah hasil penjualan tokonya yang ada di Bedugul dan jumlahnya persis seperti yang saya sebutkan di atas. Hutang saya lunas! Tuhan memang luar biasa!
Namun ketika Tuhan menangkap hidup saya, saya mulai meninggalkan semua dosa-dosa lama. Tidak seketika memang, semuanya berjalan melalui proses. Saya mulai meninggalkan komunitas saya yang lama dan mulai membangun hidup yang baru dengan keluarga rohani sejak saya mengenal kebenaran di dalam Tuhan Yesus. Saya dilayani pelepasan dari keterikatan saya dengan hubungan sesama jenis dan dosa-dosa lama saya lainnya. Saya dilayani oleh Ibu I Ketut Labek. Saya mulai ikut Sekolah Orientasi Melayani, saya ikut komsel dan dengan berjalannya waktu mulai ambil bagian di dalam pelayanan. Saya angkut-angkut kursi, kemudian saya menjadi ketua komsel dan aktif di dalam creative ministry.
Jatuh bangun lagi
Namun kehidupan saya selanjutnya tidak berjalan dengan mulus. Pada akhir tahun 1999 sampai awal tahun 2000 saya jatuh lagi di dalam dosa homoseksual. Saya jatuh lagi karena saya kecewa dan kepahitan dengan orang yang sudah saya anggap kakak rohani saya sendiri. Padahal saat itu saya sudah dipercayakan melayani sebagai ketua komsel.

Saya sudah percaya kepada dia, tapi waktu itu dia membuat saya tersinggung, sakit hati sehingga saya jatuh lagi. Pada saat yang bersamaan dengan itu juga mantan pacar sesama jenis saya menghubungi saya kembali. Sehingga saya jatuh lagi selama kurang lebih enam bulan.
Saya tidak ke gereja lagi karena saya dituduh korupsi uang perusahaan. Jadi saya melarikan diri dari Tuhan dan persekutuan dengan saudara seiman. Saat itu saya berniat pergi ke Jakarta. Namun Tuhan tidak izinkan sehingga detik-detik saya mau berangkat ke Jakarta saya mengalami sakit panas yang sangat tinggi.
Pemulihan terjadi
Karena lama-kelamaan saya tidak pernah kelihatan datang ke gereja, beberapa orang sahabat saya heran. Akhirnya mereka bertanya ada apa dengan saya dan saya menceritakan semua kejadian yang saya alami. Itulah gunanya sahabat. Jadi ketika kita menghadapi masa-masa yang buruk dan tidak menyenangkan merekalah yang menopang kita dan membawa kita bangkit kembali. Kalau tidak ada mereka saya benar-benar terhilang.

Akhirnya saya mau datang ke gereja lagi. Dan saya tinggal bersama sahabat saya yang bernama Suhardiman selama 3 tahun. Dari tahun 2000 sampai tahun 2003. Karena saat itu saya terus dikejar-kejar pasangan gay saya yang dulu. Satu pelajaran yang saya tangkap adalah ketika kita lemah kita harus memiliki sahabat yang melindungi dan meng-cover kita. Jadi ketika kita lemah kita tidak boleh tinggal sendiri. Karena pasti jatuh.
Dalam sebuah fellowship gereja di Bedugul hubungan saya dengan kakak rohani saya itu dipulihkan. Memang butuh waktu untuk mengembalikan hubungan yang sempat retak yaitu kurang lebih setahun sampai Tuhan pulihkan di Bedugul itu.
Kemudian saya mulai pelayanan lagi. Saya melayani di Sekolah Minggu. Tahun 2004 saya mulai pelayanan sekolah minggu ke daerah-daerah di timur Indonesia seperti di Kupang – NTT. Tahun 2005 saya pelayanan di Waingapu dan Waikabubak. Di sana kami mengadakan KKR anak. Juni 2006, saya juga pelayanan ke Papua.
Pada bulan Mei 2005 lalu saya ditahbiskan sebagai Pendeta Pembantu. Karena panggilan Tuhan yang begitu kuat dalam hidup saya, khususnya di pelayanan anak, akhirnya saya memutuskan menjadi pelayan Tuhan sepenuh waktu. Sehari-hari saya melayani sebagai penyiar radio ROCK FM di Lembah Pujian Bali.
Saya percaya bahwa Tuhan sudah punya rencana dalam hidup saya jika saya bisa seperti sekarang ini. Orangtua dan keluarga saya yang tadinya tidak bisa menerima saya karena saya pindah agama dan ikut Tuhan Yesus, sekarang malah senang apalagi saya sudah menjadi hamba Tuhan. Bahkan beberapa waktu yang lalu saya sempat mengajak kedua orangtua saya berlibur ke Bali, tempat di mana saya mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang mengubah hidup saya yang tadinya bergelimang dosa, kemudian dipulihkan dan sekarang diangkat menjadi alat kerajaanNya.
“Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?”(Yehezkiel 18:31)
Sumber Kesaksian:
Lukas Bundiyanto (jawaban.com)

Minggu, 18 Juni 2017

PENGLIHATAN YANG MEMBAWA PERTOBATAN

Jimmy Wardemar sosok pria yang terkenal sangat pemarah dan kejam. Ia tinggal di Sentani, Papua. Semua orang takut berhadapan dengan dia. Berikut ini perjalanan hidupnya.
Satu hari, Jimmy mendatangi rumah pacarnya di Pantai Amade. Pacar Jimmy (Tince Homer) berjanji untuk datang ke rumah Jimmy. Karena marah, Jimmy mendatangi rumah pacarnya di Pantai Amade dalam keadaan mabuk. Ternyata, pacarnya tidak ada di rumah dan adiknya berkata mungkin Tince ada di pantai.
Jimmy Wardenar: Dia janji kepada saya, “Saya akan ke rumah kamu”. Tetapi, dia tidak datang, di situ membuat hati saya marah. Saya cari dia di pantai.
Jimmy beranjak ke pantai dengan marah sambil mengibas-ngibaskan parangnya ke berbagai arah. Di pantai, ia pun langsung menghampiri pacarnya dan menempelkan parang di leher Tince.
Tince Homer: Langsung Jimmy taruh parang. Terus, takut saya. Kakak saya datang. Kakak pukul dia, dia tidak terima. Terus, dia rebut parang, langsung kejar kakak saya.
Jimmy langsung mengejar Anis. Ia melampiaskan kemarahannya kepada Anis yang sempat melemparinya dengan batu. Setelah itu, Jimmy langsung menebas kaki Anis dengan parang.
Jimmy Wardenar: Saya potong dia di kaki dia.
Tince Homer:Jimmy cincang dia seperti potong anjing.
Orang-orang dan polisi pun berdatangan karena mendengar teriakan minta tolong Anis. Polisi bahkan sampai mengeluarkan senjata untuk menenangkan massa.
Tince Homer: Polisi tembak ke langit pertama, terus ke bawah, ke tiga mau ke badannya Jimmy, langsung ia ditangkap. Jimmy itu sangat nakal sekali. Semua orang di Sentani tahu, kalau Jimmy tuh nakal. Jimmy tuh kalau sedikit bertengkar pasti bawa parang. Padahal masih pacaran, Jimmy bisa pukul saya sampai pingsan-pingsan.
Jimmy pun diadili dan harus pasrah dengan keputusan hakim. Karena perbuatannya, Jimmy dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Di dalam penjara, ia sempat dipukuli oleh seorang polisi. Diam-diam, dia merencakan untuk membalas dendam kepada polisi tersebut. Satu kali, ia mengundang si polisi untuk minum bersama.
Jimmy Wardenar: Waktu saya keluar dari penjara, bebas, saya undang dia polisi itu yang pernah pukul saya di sel. Kami mabuk. Waktu mabuk itu, teman saya sudah punya rencana untuk pukul dia. Tapi, teman saya tuh karena emosi dia, dia ambil batu dan lempar kepalanya.
Karena kejadian itu, Jimmy kembali dikejar oleh polisi. Setelah buron selama satu bulan, Jimmy ditangkap. Penjara kembali menjadi rumah Jimmy. Masa depannya suram. Dan seolah tidak lagi ada harapan. Kekeras pribadi Jimmy ini diakibatkan kekerasan yang ia alami sejak ia masih kecil. Ia sering dimarahi dan dipukuli oleh ayahnya.
Jimmy Wardenar: memang waktu dari kecil, ya saya dengan Bapak sering dipukul, sering dimarah, dibilang goblok. Waktu itu saya marah. Marah dengan Bapak. Marah sekali. Dan saya simpan itu dalam hati. Saya rindu sekali ketemu dengan orang tua, tetapi tidak bisa ketemu dengan orang tua.
Perubahannya diawali pada suatu malam yang ajaib di penjara. Jimmy dikejutkan oleh sebuah cahaya terang yang bersinar tepat di depan pintu penjara saat ia sedang berdiri tepat di depan terali penjara.
Jimmy Wardenar: Malam-malam, kami sudah masuk semua ke dalam tahanan. Waktu itu saya lihat banyak orang, mereka ada yang berkelahi, dipotong dengan parang. Terus, tentara pukul orang dengan kayu, terus ada lihat suster-suster juga, pegawai-pegawai Negeri yang suka menipu. Ada juga yang beribadah di gereja. Itu hampir sekitar dua jam atau tiga jam.
Banyak peristiwa dan kehidupan orang-orang terlintas di depan matanya dalam penglihatan itu. Kemudian, ada suara yang bergema dalam diri Jimmy.
Jimmy Wardenar: “Jim, dari semua yang kau lihat di sini, mana yang harus kau pilih?” Saya pilih hidup seperti orang yang berdoa. Dan saya ambil satu keputusan, saya tidak mau lagi hidup seperti itu.
Kini, Jimmy yang sekarang bukanlah Jimmy yang dikenal orang-orang di Kota Sentani. Pacar yang kemudian menjadi istrinya, Tince pun mengakuinya.
Tince Homer: Sampai sekarang, dia tidak pernah pukul saya lagi. Tidak pernah buat-buat hal yang Tuhan tidak ingin kan, begitu.
Perubahan itu bertahan sampai saat ini. Frans Billin yang merupakan pembimbing rohani Jimmy juga mengakui perubahan yang terjadi pada diri Jimmy.
Frans Billin: Waktu dia mengalami perubahan, waktu dia mengalami pertobatan, dilawat oleh Tuhan di penjara dan keluar, dia menyerahkan diri pada Tuhan. Orang boleh melihat ada hal yang baru dalam dirinya.
Saat beribadah di gereja, Jimmy bisa memuji Tuhan dengan sangat bersukacita.
Jimmy Wardenar: Setelah saya mengenal Tuhan. Di situ saya rasa, rasa sukacita. Walaupun ada masalah, saya disinggung, tetapi saya rasa tetap dihibur oleh Tuhan.
Namun, Jimmy belum merasa cukup. Ia masih ingin meminta maaf pada orang yang pernah dianiayanya 4 tahun yang lalu. Dalam suatu kesempatan, Jimmy mendatangi rumah Anis untuk meminta maaf. Saat Jimmy datang, tak disangka Anis bisa menyambut Jimmy dengan senyuman. Seakan lega, Jimmy pun memeluk Anis sebelum mereka berbincang-bincang.
Pertemuan yang masih terlihat agak kaku dan terlihat sedikit menegangkan itu pun semakin cair saat Jimmy meminta maaf pada Anis. Lalu ia bangkit dan menghampiri Anis untuk memeluknya. Anis pun mengulurkan tangan dan meminta maaf. Lalu, Jimmy memberikan hadiah yang ia sudah siapkan. Anis pun membukanya dengan terharu dan memandangi Jimmy. Jimmy terlihat sedikit cemas. Namun, kecemasan itu segera sirna setelah Anis angkat bicara.
Anis: Terima kasih atas perbuatan yang engkau jalani… dalam tahanan.
Jimmy Wardenar: Yah, saya terima kasih juga sama Kakak. Saya tahu ini rencana Tuhan buat saya dengan Kakak.
Lalu ia berdoa bersama Anis sambil berpegangan tangan.
Jimmy Wardenar: Tuhan, kami tahu, semua ada dalam rencana-Mu Tuhan. Setiap waktu setiap saat, di mana kami ada, Engkau ada di situ Tuhan. Dan Engkau melihat hati kami yang ada di dalam ini. Kami rindu mau berdamai. Kami rindu hidup dalam kasih. Kami rindu hidup dalam sukacita-Mu, Tuhan. Saya percaya Tuhan, kami sudah damai. Dan Engkau sudah mendamaikan kami juga di surga Tuhan. Kami taruh semua dalam tangan-Mu, Tuhan. Haleluya, Amin.
Selah itu, Jimmy bersalaman dengan anggota keluarga lainnya yang ada di tempat itu. Mereka saling berpelukan. Kelegaan dan sukacita pun terpancar dari wajah Jimmy dan Anis. Tak ada lagi rasa benci atau pun dendam di antara mereka. Karena pengenalan mereka akan Yesus Kristus yang adalah Raja Damai itu sendiri, maka mereka memutuskan untuk saling mengampuni, seperti yang Kristus ajarkan.
Yesaya 51:11 Maka orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan sorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, duka dan keluh akan menjauh.
Sumber Kesaksian:
Jimmy Wardenar (jawaban.com)


Rabu, 14 Juni 2017

SAKIT MATA SEJAK LAHIR

Siapa yang tidak mendambakan anak atau cucu lahir dengan selamat tanpa mengidap suatu penyakit? Apalagi jika sebuah keluarga sedang menantikan anak atau cucu pertama.Yang ada dalam hari-hari penantian mereka adalah anak yang lucu dan sehat sehingga semakin melengkapi sukacita dan kebahagiaan keluarga.
Berbeda dengan situasi keluarga Hendrik ketika menerima kehadiran anak pertama dalam keluarga mereka. Anak ini diberi nama Amelia. Pada waktu kelahirannya, dia memiliki kelainan pada mata yaitu selalu mengeluarkan air dan kotoran dari mata sehingga mengganggu penglihatannya. Setiap pagi, ibu dan bapaknya membersihkan mata Amelia agar bisa terbuka dan melihat. Berbagai pengobatan melalui beberapa dokter telah dijalani namun tidak memberikan hasil kesembuhan. Sampai Amelia menginjak usia dua setengah tahun, penyakitnya bertambah parah. Amelia di bawa pada seorang dokter ahli mata. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata terjadi penyumbatan pada mata Amelia. Dokter segera mengambil tindakan pada Amelia dengan menusuk sisi mata Amelia.Walaupun telah menjalani pengobatan melalui dokter ahli, tetap juga tidak membawa perubahan. Usaha mereka telah mencapai batas maksimal kemampuan seseorang sehingga mereka sempat putus asa. Kemana lagi mereka harus membawa Amelia untuk mendapatkan pengobatan yang sempurna?
Tetapi ada yang sangat mengasihi Amelia yaitu nenek Amelia atau ibu Bertha yang sekaligus mengingatkan orang tua Amelia agar jangan putus asa, sebab pasti masih ada jalan keluar di luar kuasa dokter yaitu Sang pencipta dan pemilik manusia. Manusia tidak sanggup melakukannya tetapi didalam Dia semua beban penderitaan dan pergumulan manusia menjadi hilang. Nenek Amelia mengajak orang tua Amelia menghadiri suatu ibadah.
Selama ibadah berlangsung, orang tua Amelia mengikuti dengan seksama firman Tuhan dan doa yang disampaikan oleh pendeta. Ibadah itu merupakan moment penting bagi orang tua Amelia membawa segala pergumulan yang dihadapi keluarga mereka.Jika selama ini orang tua Amelia sempat melupakan Tuhan, maka dalam ibadah saat itu mereka juga diingatkan bahwa hanya kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi. Dan lebih khusus lagi, kiranya Amelia menerima jamahan kasih Tuhan atas penyakit yang dialaminya saat ini.
Orang tua dan nenek Amelia kembali ke rumah membawa roti dan anggur untuk mengadakan perjamuan kudus bersama Amelia. Nenek Amelia memimpin perjamuan sambil mengajari Amelia berdoa mengikuti doa yang diucapkan neneknya.Dengan penuh ketulusan dan kepolosan seorang anak kecil datang bersujud pada Tuhan memohon pertolonganNya.Bukan pada saat itu saja Amelia dibimbing dan dibesarkan di dalam Tuhan, tetapi seluruh hidup dan sepanjang kehidupannya berada dalam naungan kasih Tuhan. Hari demi hari penyakit mata Amelia sembuh total. Air dan kotoran tidak lagi keluar dari mata.
Semua yang terjadi dalam keluarga Hendrik adalah semata-mata karya Tuhan. Kini Amelia berusia tujuh tahun dan merupakan cucu pertama dari ibu Bertha yang tumbuh menjadi anak yang periang dan cerdas baik di sekolah maupun di rumah.
Sumber Kesaksian:
Kel. Hendrik / Amelia (jawaban.com)


Sabtu, 10 Juni 2017

USIA HIDUPKU TINGGAL SESAAT

Seandainya ada seorang anggota keluarga kita yang sakit keras dan berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mengatakan: “Kuatkanalah hati saudara, karena harapannya sangat tipis sekali.” Apa reaksi saudara ketika mendengar hal tersebut? Ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan yang pertama berontak dan tidak percaya, karena dibawa berobat tentu dengan harapan untuk sembuh. Kemungkinan yang kedua: pasrah pada apa yang akan terjadi, terjadilah asalkan penderitaan si sakit cepat berlalu. Lalu, kalau di antara kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, di tengah-tengah harapan tipis yang hampir menuju pada keputusasaan, ternyata saudara kita yang sakit itu sembuh. Bagaimana pula perasaan kita? Tentunya kita merasakan “sukacita yang tidak dapat digambarkan hanya dengan kata-kata saja.”
Perasaan-perasaan semacam ini dialami oleh Yakobus Karman, ketika berusia muda dan ia adalah seorang yang sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Ia bekerja pada sebuah pabrik farmasi dan memiliki posisi baik di kantornya sehingga secara finansial ia tidak mengalami kesulitan.Waktunya tidak hanya tersita pada pekerjaan tetapi juga tersita bersama teman-teman seperti berjudi dan melakukan hubungan seks. Di tengah kesibukannya, dia tidak merasa bahwa ada bahaya besar menghadang dia.Disinilah awal kehancurannya.Dia mulai merasakan ada sesuatu di lehernya yang kelihatan membengkak.Yakobus menjadi tidak tenang sebab sangat mengganggu pekerjaannya.Ia memeriksakan diri ke dokter dan dokter mengambil langkah pemeriksaan melalui CT scan. Dari hasil pemeriksaan dokter dengan menggunakan alat CT scan, ternyata Yakobus mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening yang berukuran 1,5cm x 1,5cm. Sumsum darah juga diambil sebab kelenjar getah bening ini akan menjalar ke darah.
Pada waktu pengambilan sumsum darah, Yakobus merasakan sakit sehingga dia harus berteriak-teriak karena menahan rasa sakit. Dokter juga menyatakan bahwa kemampuan Yakobus bertahan hidup diperkirakan enam bulan jika memang dia memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Salah seorang anggota keluarga berinisiatif mencari pertolongan lewat paranormal.Sementara paranormal mempersiapkan segala peralatan, Yakobus berbaring dengan tenang dan hanya berharap mudah-mudahan dia sembuh.Proses penyembuhan ini dijalani beberapa jam yang dipenuhi dengan pembacaan mantera.Setelah selesai, paranormal memberitahukan hasil pengobatan bahwa reaksi dari pengobatan ini adalah keluarnya darah yang berarti Yakobus sembuh dari penyakitnya. Beberapa saat kemudian, darah keluar dari tubuhnya dan mendadak Yakobus ketakutan, seperti mau mati rasanya.Harapannya untuk bertahan hidup sirna seketika.Sepertinya tidak ada harapan hidup bagi Yakobus. Keluarganya bingung melihat tingkah Yakobus yang ketakutan.
Pada saat depresi yang berat, Yakobus teringat pergi ke gereja.Kebetulan pada hari itu ada suatu acara kebaktian di gereja.Yakobus mendengar dengan seksama Firman Tuhan yang disampaikan oleh bapak Pendeta.Tema khotbah pada saat itu ialah “janganlah minta kekayaan, tetapi minta ampun pada Tuhan atas dosa yang telah diperbuat.” Hatinya tersentuh mendengar khotbah itu.Yakobus memberanikan diri maju ke depan mengaku dosa dan mohon ampun dari Tuhan atas segala dosa yang diperbuatnya selama ini.
Selama pengakuan dosa, ia merasa ada pertemuan yang indah bersama Tuhan.Pada saat yang bersamaan, ada sinar memancar yang menerangi dirinya sehingga dirinya terasa panas. Rasa sesak yang dirasakan sebelumnya mendadak hilang. Namun, ada suatu kelegaan yang mengalir dalam dirinya. Pada malam itu ia menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan takut seperti hari-hari sebelumnya.Yakobus mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak mau di operasi, sebab ia merasa sehat. Namun ibunya berkeras harus dioperasi. Malam itu adalam malam terakhir saat ia menunggu waktu operasi pada besok hari.
Keesokan harinya, sebelum operasi dimulai, dengan penuh keyakinan bahwa ia menerima kesembuhan dari Tuhan, Yakobus mengatakan pada dokter bahwa dirinya tidak lagi merasa sakit.Dokter tidak percaya yang dikatakan Yakobus sehingga pemeriksaan melalui CT scan dilakukan kembali.Hasil pemeriksaan menunjukan kelenjar getah bening telah hilang dan itu berarti penyakit kanker yang di deritanya sembuh. Dokter tetap tidak percaya melihat hasil pemeriksaan sehingga pemeriksaan dilakukan kembali pada beberapa bulan berikutnya.Hasilnya tetap sama, yaitu kelenjar getah bening hilang dari tubuhnya.Pembengkakan pada leher menjadi kempes.
Akhirnya dokter menyatakan bahwa Yakobus benar-benar sembuh dan operasi tidak jadi dilakukan.Yakobus dan keluarga sangat bersukacita menerima kesembuhan dari Tuhan yang menurut ilmu kedokteran, penyakit yang dideritanya sulit disembuhkan tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sebelas tahun yang silam ia melewati penderitaan ini. Sungguh besar kasih setia Tuhan pada umatNya yang selalu mengingat, meyakini dan menyerahkan diri, hati dan hidup kita pada penyertaan Tuhan.
Sumber Kesaksian:

Yakobus Karman (jawaban.com)

Selasa, 06 Juni 2017

KISTA MEMBUSUK DI KANDUNGANKU

Seorang wanita karir terpaksa berhenti melakukan pekerjaannya oleh karena mengidap suatu penyakit yang cukup berat yaitu terdapat kista di kandungannya. Ia adalah seorang ibu rumah tangga dan mantan direktur sebuah bank di Jakarta. Dia adalah Elizabet Budi. Mula-mula dia menganggap bahwa sakit di perutnya adalah sakit ringan dan tidak dihiraukannya.Setiap hari dia merasakan sakit di perut. Namun, pada suatu hari ketika dia kembali dari kantor, sakit di perut terasa hebat sehingga tak dapat ditahan. Pada hari itu juga, Elizabet bersama suaminya pergi ke dokter ahli gynekolog. Dokter memeriksa kandungan Elizabet melalui alat USG. Dari hasil pemeriksaan, ternyata di kandungan Elizabet terdapat kista yang sudah membusuk dan menghitam.
Dokter memberikan jalan keluar satu-satunya yaitu harus menjalani operasi agar kista yang ada di kandungan diangkat. Menurut diagnosa dokter bahwa jikalau tidak dilakukan operasi maka kista akan pecah dalam waktu tiga hari dan umur kehidupan Elizabet tinggal tiga hari juga. Namun Elizabet berkeras tidak mau di operasi oleh karena trauma pada saat melahirkan anak yang kedua juga melalui operasi, tidak sadarkan diri selama kurang lebih lima jam. Dalam keyakinan iman Elizabet bahwa masih ada seseorang yang mampu menyembuhkannya yaitu Tuhan. Dia sangat yakin bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan penyakitnya. Selama tiga hari, dia terbaring di tempat tidur sambil berdoa dan meyerahkan pergumulannya pada Tuhan agar Tuhan memberikan kekuatan dan umur panjang. Ada banyak saudara dan handai taolan turut mendoakannya. Di dalam kesakitannya, dia masih menyempatkan diri menghadiri ibadah di gereja sebab dia yakin bahwa di dalam kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi.
Dari hari ke hari, penyakit Elizabet semakin memburuk, tetapi tidak melunturkan iman dan kepercayaan pada kasih dan kuasa Tuhan yang suatu saat akan menganugerahkan kesembuhan atas dirinya. Pada suatu saat, ketika dia tertidur pulas, terdengar isak tangis anaknya. Elizabet langsung bangun dan berdiri seolah-olah tidak merasa sakit dalam dirinya.Dia menghampiri anaknya yang sedang dimandikan oleh baby sitter.Ternyata anaknya menangis oleh karena sedang dimandikan. Elizabet juga merasa haus dan kemudian menuju meja makan mengambil air. Tanpa disadarinya, ia dapat berjalan dan berdiri.
Ia kemudian menyadari bahwa dirinya sedang sakit dan tak dapat bangun dari tempat tidur.Betapa terkejutnya dia pada saat itu melihat dirinya mampu berjalan, berdiri dan perutnya kempes di saat mengalami penyakit yang cukup parah yang hanya dapat terkulai lemas di tempat tidur. Elizabet masih meragukan apa yang dialaminya, kembali dia mencoba meloncat-loncat ternyata tidak merasa sakit. Elizabet kemudian membangunkan suaminya dan mengatakan bahwa dirinya sembuh. Hal pertama yang mereka lakukan adalah berdoa dan mengucap syukur pada Tuhan.
Pada keesokan harinya, mereka berdua ke dokter memeriksakan diri sambil memastikan bahwa penyakit Elizabet benar-benar sembuh. Dokter melakukan USG dan hasilnya kista yang ada di kandungan Elizabet benar-benar hilang dan itu berarti Elizabet sembuh. Dokter juga membandingkan hasil USG pada waktu kista masih ada di kandungannya. Dokter tetap tidak yakin pada hasil pemeriksaan sehingga dia bertanya apakah Elizabet pergi berobat ke dokter lain. Elizabet mengatakan bahwa dia tidak pernah berobat ke dokter lain. Selama ini yang dilakukannya adalah menyerahkan penuh segala keberadaannya pada Tuhan yang diyakininya sanggup mengobati penyakitnya.Akhirnya dokter dapat memahami bahwa ini adalah karya Tuhan dalam kehidupan seseorang yang tak dapat disangsikan.
Elizabet sekeluarga sangat bersukacita dan mengucap syukur atas pertolongan Tuhan yang terjadi dalam keluarga. Sebagai ungkapan syukur pribadi, Elizabet kini menyerahkan seluruh kehidupannya bagi pekerjaan pelayanan Tuhan.
Sumber Kesaksian:
Elizabet Budi (jawaban.com)

Jumat, 02 Juni 2017

AKU KEMBALI SEPERTI ANAK KECIL

Apa jadinya kalau seseorang yang telah menginjak dewasa kembali melakukan kegiatan anak kecil yaitu belajar berbicara, belajar berjalan, bahkan kemampuan fisiknya seperti seorang anak kecil. Ketika masih kecil dia dididik sangat keras oleh kakeknya sehingga mempengaruhi mental dan kepribadian dia menjadi seorang yang nakal dan pemberontak. Sampai dia besar perilakunya makin buruk sehingga menjadikan dia sebagai seorang pemakai narkoba, tukang berkelahi, ugal-ugalan, kebut-kebutan di jalan, dan pemain perempuan.
Peristiwa ini dialami oleh Haryanto Budi, yang mengalami kecelakaan bermotor sehingga mengakibatkan lumpuh pada kedua kaki dan tangan serta buta pada kedua matanya.Dia tidak menyangka kalau kecelakaan itu akan mengakibatkan fatal pada dirinya.Kejadian ini dialaminya pada suatu malam, ketika dia sedang mengendarai motor, tiba-tiba dari arah depan ada mobil dan Haryanto tidak dapat menguasai kecepatan motor yang dikendarai sehingga tabrakan itu tidak dapat dihindari. Haryanto terlempar, kepalanya membentur trotoar dan berlumuran darah.
Orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian mengatakan bahwa dirinya tak bernyawa lagi. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dan dokter segera mengambil tindakan. Dokter tidak dapat berbuat banyak sebab kecelakaan yang dialami Haryanto cukup berat. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Haryanto mengalami geger otak dan harapan hidupnya tinggal duapuluh persen. Seandainya hidup, dia akan mengalami geger otak yang hebat, separuh saraf-saraf dalam tubuhnya tidak berfungsi, penglihatan kabur, kedua kaki dan tangan lumpuh dan tidak dapat berbicara.
Sekarang Haryanto tak berdaya dan semangat hidupnya hilang seketika.Hari-hari kehidupannya dilalui dengan melakukan kegiatan dia pada waktu kecil yaitu belajar berbicara dan belajar berjalan sementara penglihatan dia semakin kabur. Pada saat dia sedang sendiri dan termenung, pikirannya kembali mengingat masa lalunya yang dipenuhi dengan kehidupan ugal-ugalan, kebut-kebutan, perkelahian, pemakai narkoba, dan mempermainkan perempuan. Kini dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini betapa menghancurkan kehidupan dan masa depannya. Dia berjanji akan meninggalkan semua kebiasaan buruknya di masa lalu. Haryanto tetap yakin bahwa masih ada harapan kehidupan dan kesembuhan yang diberikan Tuhan pada dirinya, dan oleh karena itu ia tidak putus asa untuk terus berlatih berbicara dan berjalan walaupun masih gagap dan terus terjatuh.
Pada suatu hari, di saat Haryanto duduk berdoa dan merenungkan kehidupannnya, tiba-tiba dia merasakan kekuatan baru dalam dirinya. Dia mencoba berdiri dan berjalan sambil mencoba berbicara. Memang benar, pada saat itu Haryanto dapat berjalan dan berbicara, penglihatannya juga semakin jelas. Betapa bahagianya Haryanto mengalami kesembuhan. Kebahagiaan dia tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Dia sangat yakin bahwa apa yang dialaminya adalah semata-mata pertolongan Tuhan. Entah dengan apa dia harus mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas segala kasihNya yang tak berkesudahan. Namun yang pasti bahwa dia menempatkan Tuhan yang terutama dalam segala kehidupan dan pergumulan hidup yang dialaminya.
Kini dia dapat melewati masa-masa sulit selama beberapa waktu lamanya dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang baru dengan segala rencana kehidupan dan masa depan yang lebih jelas dan terarah di dalam bimbingan dan penyertaan Tuhan.
Sumber Kesaksian:
Haryanto Budi (jawaban.com)