Senin, 24 Juli 2017

MUJIZAT DI BALIK PELAYANAN


Salah satu kenangan ketika baru saja bertumbuh di dalam Yesus adalah ketika terlibat dalam pelayanan retreat mahasiswa. Saat itu saya membantu di bidang danus (dana), dimana kegiatannya adalah mengumpulkan dana untuk pelaksanaan retreat. Kegiatan yang harus dilakukan cukup banyak dari menelepon alumni untuk meminta bantuan dana, berjualan kue dan minuman , sampai mengikuti rapat-rapat yang bisa berlangsung sampai malam.

Berjualan kue dan minuman biasa dilakukan saat acara wisuda , karena acara ini ramai dikunjungi mahasiswa dan keluarganya. Seperti pengalaman sebelumnya, yang berhasil meraih cukup banyak dana, hari itu saya juga yakin kue dan minuman yang dijual bisa laku keras. Tetapi yang terjadi adalah saat itu hujan deras turun, sehingga sulit bagi kami yang berjualan untuk mondar-mandir di area wisuda. Para wisudawan dan keluarganya pun berjalan cepat melewati kami, karena tidak mau kehujanan.

Walaupun sudah berdiri hujan-hujanan, hampir tidak ada kue yang terjual hari itu. Betapa kecewanya saya karena waktu itu berpikir "kok usaha buat kegiatan Tuhan bisa nggak ada yang nolong". Dan memang benar tidak ada mukjizat atau apapun yang terjadi. Dengan jengkel saya rapat darurat dengan teman-teman bidang danus , mengenai mau diapakan kue-kue yang masih banyak ini. Kue-kue yang kami jual adalah kue basah yang kalau disimpan sampai besok pasti basi.

Akhirnya diputuskan untuk menjual kue tersebut ke warung dan restoran yang ada di dekat tempat kos teman saya. Disana hasilnya pun mengecewakan, karena si pemilik restoran hanya menghargai kue-kue itu separuh dari modal yang kami keluarkan. Ya ampun! Pikir saya, mengenaskan sekali, sudah bersusah-susah, dana tidak didapat malah rugi. Apalagi saat itu dana yang diperlukan masih jauh dari cukup.

Pulang dari menjual kue yang hasilnya rugi, kami para panitia berdoa dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan mengenai dana untuk retreat. Sampai beberapa hari setelah kejadian itu, saya agak tidak semangat lagi pelayanan. Apalagi harus ikut rapat-rapat di sore hari setelah kuliah.

Apa yang terjadi kemudian adalah, mulai masuknya dana yang ditransfer ke rekening untuk persembahan retreat. Dana-dana yang masuk tidak diketahui darimana asalnya, namun jumlahnya cukup banyak. Sampai bisa surplus alias melebihi dana yang dibutuhkan. Sebagai salah satu orang pertama yang mengetahuinya saya merasa ini adalah mukjizat Tuhan, ya walaupun mungkin tidak sebesar apa yang orang-orang kategorikan sebagai "mukjizat"

Dari pengalaman ini saya belajar, bahwa setiap pelayanan yang kita lakukan, pasti Tuhan akan campur tangan, Ia tidak akan membiarkan suatu tujuan baik untuk pelayananNya jadi kacau balau apalagi sampai hancur berantakan.

Tuhan memberkati!

Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!
Mazmur 34:10

sumber :
www.yesuskristus.com

Kamis, 20 Juli 2017

KESAKSIAN : TUHAN SELALU PUNYA CARA

Minggu pagi, sebelum berangkat untuk mengikuti ibadah di gereja, di radio terdengar lagu ‘Tuhan Selalu Punya Cara’ sedang diputar. Saya terdiam beberapa saat mendengarkan setiap lirik lagu ini dan merenungkannya, dan saya melihat kembali ke kehidupan saya yang telah saya lalui, bagaimana Tuhan selalu mempunyai cara untuk menolong saya di dalam hidup. 

Saya hidup ditengah-tengah keluarga yang memiliki berbagai kepercayaan. Sehingga, pada saat kecil saya sama sekali tidak kenal siapa itu Yesus, siapa itu dewa ini-dewa itu, siapa itu Tuhan. Saya beranggapan baik Yesus, dan tokoh dari agama lain itu sama-sama Tuhan, Tuhan yang satu, hanya penyebutannya saja yang berbeda dalam tiap-tiap agama. 

Semakin saya beranjak dewasa, mulailah masalah-masalah muncul dalam kehidupan saya. Papa saya mulai suka mendidik anak dengan menggunakan kekerasan, baik saya maupun kakak saya sering dipukul ketika papa memarahi kami. Papa dan mama saya juga sering bertengkar malam-malam, seringkali pertengkarannya di sebabkan papa saya yang suka merokok ataupun minum-minum hingga larut malam bersama teman-temannya.
Beberapa tahun hidup dengan keluarga yang tidak harmonis membuat saya tidak betah dirumah. Saya tidak pernah pergi ke gereja, saya mulai sering pulang malam sehabis sekolah. Naik ke kelas 2 SMP, saya mulai berani mencoba-coba merokok, tapi setelah seminggu saya memutuskan untuk berhenti merokok.

Diakhir kelas 2 SMP, papa di PHK dari kantornya dan mama saya terpaksa kerja keras sendirian untuk menghidupi kami sekeluarga dan juga membiayai sekolah saya, kakak, serta adik saya. Papa dan mama semakin sering bertengkar karena masalah ekonomi. Papa sering tidak pulang kerumah, mama selalu pulang malam dari kantor. Dan pada saat pulang kerumah juga, papa saya seringkali memukul saya karena alasan yang tidak jelas.

Naik ke bangku SMA, saya semakin ikut dalam pergaulan yang tidak baik, saya sering pergi malam-malam, berkumpul bersama teman-teman, minum-minum, dll. Hal itu menjadi kegiatan rutin saya setiap malam selama berbulan-bulan.

Pertengahan tahun 2010, saya, kakak, dan mama saya bertengkar hebat dengan papa hanya karena hal sepele, saat itu pertama kalinya dalam hidup saya, saya membentak dan memaki papa saya. Rasanya saat itu emosi saya dan segala kepahitan terhadap papa yang selama ini tertanam di hati saya sudah tidak dapat saya tahan lagi. Setelah itu papa saya berkata kepada saya dengan keras, “kalau papa mati nanti, jangan datang ke pemakaman papa!” dan setelah itu membanting pintu dan pergi keluar rumah dan tidak pulang selama 3 hari.

Pada akhir tahun 2010, saya bersama kakak dan adik saya diajak mama untuk pindah rumah, meninggalkan papa saya sendiri karena kami, terutama mama, sudah tidak tahan dengan kelakuan papa terhadap kami. Kami mengontrak sebuah rumah didekat rumah saudara kami yang hingga saat ini masih kami tempati.

Setelah itu saya menjalani kehidupan seperti biasa, dengan rutinitas setiap malam bersama teman-teman yang hampir tidak pernah saya lewatkan. Seringkali papa saya datang menelpon saya atau kakak saya untuk meminta maaf dan menanyakan kabar kami, seminggu sekali juga dia datang ke rumah kami ketika mama sedang kerja. Saya dan kakak saya memaafkan papa, tetapi masih ada kepahitan dalam hati saya terhadap dia.

Pertengahan kelas 2 SMA, saya merasa semakin jenuh dengan hidup saya, hanya diisi dengan rutinitas yang tidak karuan, saya merasakan ada yang hilang dalam hidup saya, ada kekosongan di hati saya. Ketika dirumah, dalam keadaan jenuh dan hampa itu, saya bertanya, “Tuhan, kok hidup saya begini sih?? Hampa, datar, kayaknya sia-sia banget hidup saya.”

Beberapa hari kemudian, saya diajak teman saya ke gereja. Saya berpikir, yaa boleh juga, toh saya juga tidak ada kerjaan hari minggu. Akhirnya saya ke gereja bersama teman saya. Di gereja teman saya bercerita bagaimana hidupnya diubahkan oleh Tuhan Yesus, bagaimana Yesus menolong dia. Dia mengajak saya untuk ikut KS pada hari selasa dan saya mengiyakannya.

Setelah pulang dari gereja, sesampainya dirumah saya merenungkan cerita teman saya tadi. Dia juga hidup di keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya sudah berpisah tetapi hidupnya bisa diubahkan oleh Yesus. Saya merenung, dan dalam hati saya minta tolong kepada Yesus untuk pulihkan hidup saya, saya minta Yesus untuk tinggal di hati saya, dan saat itu juga timbul rasa damai di dalam hati saya, seakan-akan kekosongan yang sebelumnya saya rasakan di hati saya itu sudah terisi, dan saya merasakan kelegaan yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan.

Pada hari selasanya, saya mengikuti KS untuk pertama kalinya. Tetapi pada saat itu masih ada keraguan dalam hati saya sehingga minggu-minggu berikutnya saya tidak mengikuti KS lagi. Tetapi setiap minggunya saya mulai rutin ke gereja.

Awal tahun 2012, saya mulai mengikuti KS setiap minggunya, saya mulai merasakan iman saya bertumbuh, saya mulai membaca Alkitab, saya merubah cara hidup saya. Segala rutinitas yang dulu saya lakukan setiap malam saya tinggalkan, saya mulai belajar untuk hidup didalam Kristus.

Tetapi disaat iman saya bertumbuh, iblis kembali mencobai kehidupan saya. Kakak saya memberi tahu saya kalau mama mau menjadi orang muslim. Saya sedih, karena saat itu saya sudah tahu kalau Kristus adalah satu-satunya jalan kebenaran dan keselamatan. Tetapi saya juga tidak mampu melarang mama saya karena mama saya juga orang yang keras kepala, dia bilang kalau itu iman dia, juga karena di kantornya mayoritas beragama muslim dan temannya mengajaknya untuk menjadi muslim. Tepat pada hari ulang tahun saya yang ke 18, mama saya menjadi seorang muslim.

Tidak sampai 2 minggu setelah ulang tahun saya, di akhir bulan maret, tante saya mendapat telpon yang mengabarkan kalau papa saya kecelakaan motor dan sudah berada di rumah sakit. Saya teringat dulu ketika saya masih SMP, papa saya pernah menelpon berpura-pura menjadi polisi dan mengabarkan kalau papa saya kecelakaan dan kondisinya kritis, tetapi kemudian terdengar suara tertawa papa saya di telpon.

Tetapi kali ini berbeda, papa saya benar-benar kecelakaan dan kondisinya cukup parah. Saya segera berangkat ke rumah sakit bersama kakak saya. Waktu itu, setelah kecelakaan papa saya dibawa ke RS. Hermina Galaxy. Sesampainya di rumah sakit, saya segera menuju ruang UGD, saya melihat papa saya terbaring kesakitan dengan luka luar yang cukup parah di kepala, tangan, kaki, serta dadanya. Darah mengalir melalui selang yang dimasukan ke perutnya melalui tenggorokannya karena adanya pendarahan dalam akibat benturan di perutnya.

Saya memeluk papa saya, dia menyadari kehadiran saya, dan membalas memeluk saya. Tubuh saya bergetar dan saya tertegun sedih, sosok papa saya yang selama ini keras dan kasar, sosok papa yang keras kepala dan benar-benar keterlaluan hingga menimbulkan kepahitan dalam diri saya, kini terbaring lemah menahan sakit di hadapan saya. Entah kenapa saat itu air mata saya tidak mengalir meskipun saya merasa benar-benar sedih.

Kemudian saya bicara didekat telinganya, “Pah, Donny udah maafin papa, Donny udah maafin semua kesalahan papa. Donny minta maaf juga yah pah udah ninggalin papa, papa mau maafin Donny kan?” belum sempat papa saya menjawab, papa saya sudah hilang kesadaran karena luka-lukanya.

Malam harinya papa saya dipindahkan ke RS. Mitra Keluarga dikarenakan tidak adanya peralatan yang memadai di RS. Hermina. Sesampainya di ruang UGD RS. Mitra, papa saya sudah dalam kondisi koma. Kemudian dilakukan CT Scan, dan diketahui kalau ternyata otak sebelah kiri papa saya sudah tertekan ke sebelah kanan karena pendarahan di kepala. Dokter juga tidak bisa melakukan operasi karena tingkat kesadaran papa lemah, sehingga papa harus dirawat di ruang ICU dulu sampai tingkat kesadarannya meningkat.

Setelah masuk ruang ICU, keadaan papa semakin menurun, dia bertahan hidup berkat alat-alat yang terus memompa jantungnya agar bernafas dan juga obat-obatan yang menjaga organ tubuhnya tetap berfungsi. Beberapa teman KS saya datang kerumah sakit dan berdoa bersama untuk papa saya. Setelah 3 hari koma dan bertahan hidup berkat bantuan alat-alat, akhirnya papa saya dinyatakan meninggal. Satu hal yang saya syukuri adalah papa saya sebelumnya telah menerima Yesus dalam hidupnya, dan saya percaya kalau dia kini tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga.

Setelah itu banyak pergumulan yang saya hadapi, tetapi semua pergumulan itu dapat saya lalui bersama Tuhan. Saya semakin sering datang KS setiap minggunya, dan saya diberi tanggung jawab oleh teman-teman untuk menjadi cpks.

Mendekati akhir tahun 2012, saya mulai mengikuti ibadah di GKII dan saya merasakan iman saya bertumbuh di gereja ini dan mulai ikut ibadah setiap minggunya.

Tahun 2013 awal, saya menjadi pks di KS saya. terdorong untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan di gereja dan juga karena firman Tuhan, saya akhirnya mendaftarkan diri untuk mengikuti baptisan dan di pertengahan Juni kemarin akhirnya saya di baptis. Walaupun sebelumnya itu menjadi pergumulan buat saya karena keluarga banyak yang tidak setuju, tetapi Puji Tuhan, Tuhan membuka jalan sehingga pada akhirnya saya bisa dibaptis.

Yang mau saya tekankan dari kesaksian ini, seringkali dalam kehidupan, kita merasa kalau masalah yang kita hadapi sangat berat dan kita tidak mampu untuk menghadapinya. Tidak jarang juga kita mengeluh dan bersungut-sungut ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi perlu kita sadari, dibalik semua masalah yang kita alami, keadaan-keadaan yang kita hadapi, semuanya itu diijinkan Tuhan terjadi dalam kehidupan kita tetapi Dia tidak akan membiarkan kita berjalan sendirian menghadapi semuanya itu, Dia berjalan menyertai kita sepanjang hidup kita, seberat apapun masalah kita Dia tidak akan meninggalkan kita. Dan di Roma 8:28 di katakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiNya.

Dan pertolonganNya sangat nyata saya alami dalam kehidupan saya, bagaimana Dia memakai teman saya untuk menyelamatkan saya, bagaimana Dia mendamaikan hati saya yang tadinya dipenuhi kepahitan dan kekosongan, bagaimana Dia juga membuka mata saya sehingga saya bisa melihat bahwa dalam setiap masalah selalu ada hal bisa disyukuri, bagaimana cara Dia juga merubahkan hidup saya melalui persekutuan dan juga firmanNya yang hidup.

Tuhan selalu punya cara untuk menolong umatNya dan tidak jarang pertolonganNya melampaui akal pikiran kita. Entah apapun masalah yang kita hadapi, yakin dan percayalah bahwa Dia akan mengulurkan tangannya untuk menopang kita dan Dia selalu punya cara untuk menolong kita. Tuhan Yesus memberkati.

Tulisan dikirim oleh Donny Marvine
www.yesuskristus.com

Minggu, 16 Juli 2017

PERNAH DIKEJAR-KEJAR PAKAI GOLOK, PENGALAMAN MENGERIKAN JEFFRY MOKALU LAYANI PARA PECANDU NARKOBA

Berhadapan dengan para pecandu narkoba, pelaku kriminal dan orang-orang yang bermasalah dalam hidupnya tentu saja sangat berisiko tinggi. Tapi salutnya, ada saja orang-orang yang berdiri untuk menjangkau orang-orang seperti ini. Salah satunya yang ada di Indonesia adalah Victory Outreach Bandung yang merupakan rumah pemulihan gratis yang melayani setiap orang yang mengalami kecanduan narkoba, kenakalan remaja, pelaku seks, kriminalitas, yang baru bebas dari penjara, tertolak keluarga dan orang-orang yang terluka.
Bersama Jeffry Mokalu, yang merupakan mantan pecandu narkoba sendiri, pelayanan ini terus berjalan maksimal untuk menolong orang-orang yang terjerat dalam persoalan-persoalan di atas dengan cara yang sangat unik, yaitu cukup mengandalkan kuasa doa dan firman Tuhan.
Tentu saja melayani orang-orang dengan latar belakang kehidupan liar dan keras bukanlah perkara yang mudah. Selama menjalankan pelayanan berisiko ini, Jeffry bersama rekannya Denny Hilton bahkan pernah dikejar-kejar penghuni rumah pemulihan Victory Outreach sendiri pakai golok.
“Jadi suka dukanya kita banyak konflik sama mereka. Karena kerasnya karakter mereka. Cuma yah karena kita tahu itu panggilan kita, ya kita harus tetap di situ. Dan kita tetap percaya mereka bisa berubah,” ucap Jeffrey.
Dia menerangkan juga pernah ingin dibunuh, dikejar-kejar pakai golok. Peristiwa itu terjadi ketika si pelaku sedang dalam kondisi mabuk. Selain itu mereka juga kerap menghadapi konflik bersama karena keberatan dengan peraturan yang diterapkan di rumah pemulihan Victory Outreach Bandung.
“Kita coba memasukkan program di sini, untuk merubah kebiasaan mereka dan tentu mereka yang nggak biasa pasti kessel, pasti marah dan berontak. Kadang kita sudah memberikan hidup kita tapi ini kog nggak mau. Itu juga rasa dukanya,” terang Jeffry.
Meski banyak hal yang membuat mereka seakan putus asa, tapi Jeffry mengaku tak ingin putus asa untuk terus berjuang menyelamatkan hidup orang-orang yang masuk di rumah pemulihan tersebut. “Paling senang kalau lihat mereka berubah. Karena kita tahukan masa lalunya seperti apa. Lalu ketika kita lihat mereka berubah, terbayar semuanya. Apalgi melihat mereka serius, jadi berkat. Ya senang sekali,” lanjutnya.
Dan melalui pendisiplinan hidup dan bimbingan rohani, rumah pemulihan Victory Outreach Bandung sudah sukses memulihkan dan membawa ratusan orang menghidupi kebenaran firman Tuhan, kembali kekeluarganya, bekerja dan menjadi berkat bagi banyak orang di luar sana.
Sumber : Jeffry Mokalu
www.jawaban.com

Rabu, 12 Juli 2017

MUJIZAT TERJADI (PUNGKY "ÖRANG GILA" DISEMBUHKAN TUHAN

Ketamakan dan keinginan untuk menjadi lebih kaya, seringkali bisa menjerumuskan seseorang. Hal inilah yang dialami oleh Pungky Yahya, ketamakannya akan kekayaan membuatnya berujung pada penyakit jiwa atau gila. Berawal dengan ketidakpuasan atas penghasilannya, Pungky mencoba peruntungannya di bisnis perjudian.

"Jadi ada beberapa bandar judi dari Medan datang ke Bandung minta tolong sama saya. Karena saya punya hubungan yang kuat di Bandung ini, bos-bos itu minta saya jadi pengelolanya, jadi bagi keuntungan. Berawal dari kecil-kecilan, dari cuma 20 mesin, 50 mesin, 70 mesin sampai ratusan mesin bahkan sampai 1000 mesin," demikian cerita Pungky mengisahkan awal kehancuran hidupnya.

Bagi Pungky saat itu, judi dan narkoba seakan menjadi jantung kehidupannya. Namun bisnis haram tersebut akhirnya mulai tercium oleh aparat kepolisian.

" Saya sudah curiga kalau saya itu mau dijebak. Anak buah saya juga sudah curiga kalau ada oknum kepolisian yang mau menjebak saya. Dari narkoba tidak terbukti, akhirnya lari ke masalah perjudian. Tempat perjudian saya di acak-acak."

Pungky ditangkap di lokasi perjudiannya, namun dia tidak bisa terima atas tindakan polisi tersebut. Saat itu Pungky protes, "Saya ditangkap atas dasar apa?!! Mereka juga tidak bisa menjawab, pokoknya saya ditangkap dan dibawa ke Polwiltabes waktu itu, bersama adik saya dan keluarga saya yang lain."

Pungky harus menelan pil pahit akibat perbuatannya itu, ia harus mendekam di balik jeruji besi. Saat kasusnya diajukan ke pengadilan, Pungky melampiaskan kekesalannya kepada aparat penegak hukum.

" Pada saat itu ketua pengadilan negerinya itu kenal baik sama saya, karena saya sering berurusan sama polisi, sering dihukum sama dia. Sehingga pada saat saya diperhadapkan dalam persidangan, dia itu bilang ‘kamu lagi..kamu lagi..' Lalu saya tanya, ‘Pengadilan ini bagaimana? Saya kok dijerumusin. Kenapa yang lain ngga ditangkap? Kuncinya, kenapa saya yang dikorbanin? Kalau mau dikorbanin, ok.. tapi yang lain harus ditangkap. Saya siap dengan hukuman seumur hidup juga. Liat saja sidang berikutnya nanti. Kalau sampai saingan saya diluar tidak ditangkap, saya akan bikin ulah.' Dia menjawab, ‘oo...berani kamu?' Saya jawab, ‘Berani!' Minggu depannya saya buktikan, waktu sidang itu saya marah-marah. Saya ambil kursi, saya bantingin ke meja sidang. Saya ambil pembatas sidang, saya patahin, saya ancurin, baloknya saya lemparin ke muka hakim, ke jaksa... 

Pokoknya hari itu jadi heboh, dan ruang sidang itu hancur. Saya diringkus dan dijebloskan ke penjara. Dan perkaranya bertambah, perkaranya jadi perusakan barang-barang peradilan dan penghinaan peradilan. Karena itu saya berpikir sudah sudah berakhir kehidupan saya. Ujung-ujungnya pasti hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup. Saya sudah putus pengharapan, benar-benar sudah tidak ada jalan keluar untuk hidup saya."

Saat hukuman dijatuhkan dan Pungky harus menjalani hari-harinya dipenjara, hatinya dipenuhi dendam terhadap para saingannya.
"Benar-benar saya ingin balas dendam. Saya iangin bunuh semua orang itu. Bahkan sewaktu dipenjara, saya tulis nama-nama orang yang akan jadi target operasi saya. Saya tulis dan berkata kalau saya pulang nanti saya akan buat perhitungan."

Namun masalah Pungky bukan hanya dendam dan sakit hati yang dia rasakan. Di penjara yang sempit dan pengap itu, kekuatiran dan ketakutan juga menghantui hidup Pungky.
"Saya benar-benar stress berat. Teman-teman saya ninggalin, keluarga juga harus tetap dibiayai, tapi saya juga tidak tahu harus gimana. Hutang saya juga dimana-mana dan banyak. Selain itu keluarga sepertinya kecewa, sehingga mereka seperti tidak mau mengakui dan tidak mendukung keberadaan saya. Saya jadi seperti merasa kesepian. 

Dengan problem begitu banyak, saya rasanya tidak sanggup menghadapinya. Saya tidak sanggup lagi secara manusia, lebih baik mati."
Hidup tidak lagi menjadi tujuan bagi Pungky, harapannya yang hampa membuatnya lebih memilih jalan menuju maut.

"Saya sering minum pil, pernah minum pil epilepsi yang jumlahnya ratusan, saya ingin menghilangkan rasa sakit dan ingin bunuh diri. Tapi saya lolos juga, saya tidak sampai mati."

Menyadari bahwa pil-pil itu tidak membunuhnya, Pungky mencoba jalan lain untuk mengakhiri hidupnya.
"Berulang-ulang minum saya minum racun, ingin mati. Tapi sepertinya Tuhan tidak ijinkan. Jadi saya malu sendiri. Saya juga bingung, saya ini punya kekebalan apa, kok saya tidak mati-mati? Pada saat itu yang saya pikirkan ini hidup saya dipenjara, inilah pilihan saya, tidak mungkin saya bisa keluar dari penjara."

Sungguh keadaan itu menjadikan membuat jiwa dan raga Pungky tersiksa. Narkoba pun akhirnya menjadi jawaban atas kegalauan hatinya, yang berlahan-lahan melumpuhkan akal sehatnya.

"Karena saya itu konsumsi narkoba cukup banyak, kalau orang lain make ekstasi satu, saya bisa dua belas, bisa dua puluh. Hal itu mernyebabkan saya mengalami halusinasi dan paranoid. Jadi saya tidak bisa bergaul dengan orang. Karena saya liat lampu seperti liat polisi. Liat pintu seperti seperti liat orang yang mau pukul saya. Sehingga saya itu banyak ngomong sendiri, saya nangis sendiri, kadang tertawa sendiri. Jadi orang menganggap saya sudah gila."

Kondisi Pungky semakin tidak stabil, terkadang Pungky pun berperilaku abnormal.
"Kondisi saya waktu ngga normal itu sering aneh-aneh. Makan rumput, makan tanah, minum air selokan. Kadang-kadang kotoran-kotoran saya kumpulin saya makan. Pada saat itu saya bingung, saya ngga ngerti. Tapi waktu ada yang memberi tahu saya, saya baru sadar, dan bertanya ‘kenapa begitu?' Hal itu membuat saya menyadari bahwa saya tidak normal, tidak normalnya 90% dan normalnya hanya 10%. Pada saat itu saya tidak punya pengharapan lagi untuk bisa hidup normal, sehingga saya jalani saja kehidupan penjara begitu saja."

Berkat bantuan temannya, Pungky pun dibebaskan dari penjara. Dalam kondisi belum pulih benar, Pungky kembali terperosok dalam dunia narkoba.
"Pada saat keluar penjara, saya bukannya tambah baik, saya tambah gila. Saya gabung lagi dengan anak-anak narkoba, saya pake lagi. Akhirnya saya terjerumus lagi makin dalem, saya makin kongslet."

Kondisi mental Pungky semakin memburuk, ulahnya membuat para tetangganya sering ketakutan.
"Kalau saya stress, sebenarnya tetangga tidak mencela atau menghina saya, tapi saya merasa mereka menghina saya. Saya keluar marah-marah sambil bawa parang. Pos hansip itu saya obrak-abrik, setiap rumah saya gedor-gedor. Sehingga pada waktu itu di lingkungan rumah mama saya ketakutan. RT, RW, lurah, camat, dan hansip ketakutan, ada orang gila dari mana. Sampai berapa kali saya juga di grebek sama polisi, tapi mereka juga maklum, mereka bilang, ‘Ini mah China gelo. Udah aja.. biarin aja..'"

Sungguh tragis nasib Pungky, saat raganya mengalami kebebasan. Namun jiwanya terperangkap dalam kegelapan.
"Saya keluar dari penjara seperti orang yang hidup sendirian. Ngga ada yang peduli dengan saya, mereka jijik bergaul dengan saya. Keluarga juga stress dengan keadaan saya, mereka juga malu dengan keadaan saya. Bagi mereka tidak mungkin saya bisa sembuh. Ngga mungkin saya bisa bertobat dan pulih, hal itu mungkin ngga pernah terpikirkan sama mereka."

Saat tidak ada lagi yang memperhatikan keberadaan Pungky, narkoba terus merusak kehidupannya. Namun tiba-tiba seorang teman datang, dan membawa Pungky keluar dari tempat itu.

"Saya lagi nyabu dan waktu itu tiba-tiba Aan datang dan ngajak saya ke Tasik, untuk diobatain. Saya mau aja ngikutin dia. Akhirnya Aan mengajak saya ke gereja, dan disana saya didoakan. Disana saya merasakan di jamah Tuhan. Saat itu saya baru mengerti, saya itu butuh Tuhan. ‘Carilah Tuhan, maka kamu akan hidup,' demikian katanya. Saya merasa kalau saya itu diujung kematian, mulai saya tertarik untuk mempelajari siapa itu Yesus. Kalau lagi normal, saya itu semangat sekali. Saya merasakan benar-benar sukacita. Namun semua itu belum tuntas, prosesnya itu butuh waktu."

Walau tingkat kesadarannya masih mengalami pasang surut, namun dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Pungky menginginkan suatu perubahan terjadi dalam hidupnya.
"Beberapa bulan kemudian, saya mulai normal lagi. Saya merasa, aduh hidup saya kalau terus-terusan seperti ini, kayanya tidak ada artinya. Saya pulang kerumah, saya minta maaf sama mama saya, saya minta maaf sama kakak saya, saya minta maaf sama adik-adik saya. Mulai saat itu saya merasakan sesuatu yang aneh, lihat gambar Yesus saya nangis. Foto Yesus saya peluk, saya nangis. Saya dikamar nangis minta ampun, saya minta Tuhan bisa ampunin saya, karena saya merasa dosa saya banyak. Saya banyak menyendiri, dengerin kaset. Adik saya kasih buku rohani buat saya baca. Saya denger pujian sepanjang hari, nangis minta ampun sama Tuhan. Saya ingin keluar dari kehidupan seperti itu . Tuhan lihat hati saya, lihat kerinduan saya yang benar-benar mencari wajahnya, sehingga waktu itu dari tahun ke tahun saya dipulihkan dengan luar biasa." 

Dalam keadaan yang belum pulih total, Pungky mengikuti suatu pelajaran di sebuah institusi. Dan di tempat itulah Pungky mengalami suatu mukjizat.
"Seperti ada aliran yang menjamah pikiran saya. Dari yang sebelumnya beku, saya jadi normal. Saya langsung makin semangat, saya menggebu-gebu dan yakin kalau saya sudah diampuni dosanya. Saya dipulihkan."

Mengingat semua hal yang pernah terjadi dalam hidupnya, Pungky sangat mengucap syukur.
"Saya benar-benar sangat mengucap syukur dan berterima kasih pada Tuhan Yesus yang telah mengampuni saya, yang mengasihi saya, yang mempersiapkan hidup yang baik, hidup yang berkenan, sehingga saya bisa menjadi saksi, saya bisa jadi alat, saya bisa membawa banyak orang datang kepada Tuhan lewat kesaksian hidup saya yang begitu buruk."

Berkat kuasa Tuhan yang begitu ajaib, Pungky bisa hidup dengan normal. Dan Pungky telah membuat sebuah keputusan penting dalam hidupnya.
" Kalau dulu saya jadi ujung tombak iblis, sekarang saya adalah ciptaan baru, saya ingin jadi ujung tombak dari Tuhan Yesus. Kurang lebih saya ingin balas dendam, kalau dulu saya meracuni generasi dengan narkoba dan judi, hari ini setelah saya ditebus Tuhan, saya ingin buat mereka kembali ke jalan Tuhan. Kalau saya dipanggil Tuhan dan diampuninya. Saya percaya semua orang di dunia ini juga butuh Tuhan Yesus."

Hari ini Pungky Yahya menjadi salah seorang pendiri panti rehabilitasi Pondok Anugrah, tempat menampung para penderita gangguan jiwa. Ditempat itu banyak terjadi banyak mukjizat, dimana orang-orang yang berlatar belakang sama sepertinya disembuhkan.
(kisah ini ditayangkan 8 April 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel)

Sumber Kesaksian:Pungky Yahya
Sumber : nevergiveup-all.blogspot.co.id

Sabtu, 08 Juli 2017

TRUE STORY - MUJIZAT ITU TERJADI

Teman2, saya mau saksikan salah 1 kebaikan Tuhan pada saya yang terjadi minggu2 ini.

Sudah 6 thn lebih saya sangat sulit sekali menelan makanan bahkan minum air pun sulit, rasanya seperti dicekik, tangan kaki dingin, sangat sulit utk bernafas dan akhirnya muntah disertai rasa panas kebakar dr tulang punggung sampai tenggorokan.

Saya sempat kehilangan berat badan 10 kg, malah ada orang yang kehilangan 30 kg dlm waktu 1 bulan stlh menderita penyakit ini. Saya ingat dokter bilang, saya harus jaga berat badan jangan sampai kehilangan lebih banyak lagi krn itu akan sangat berbahaya dan akan segera meninggal. Sebab itu saya berusaha minum susu panas sebanyak2nya yaitu dengan cara pakai sedotan, karena hanya dengan panas hampir mendidih susu itu baru bisa masuk ke dalam kerongkongan saya.

Saya sudah berobat ke lebih dari 10 dokter dan profesor yg terkenal. Kata beberapa dokter saya terkena kanker esophagus malignan sampai achalasia, ini tidak ada obatnya. Semua dokter yang saya datangi tidak mampu berbuat apa2, ada 1 dokter yg sangat pengalaman menyarankan saya ke Belgia karena alatnya cuma ada di negara itu.

3 dokter menyarankan saya di operasi dgn mengambil jaringan di perut untuk disambung pada kerongkongan.

Saya menolak saran dokter2 tersebut karena saya berprinsip ibarat mesin mobil kalau telah diotak atik maka kerusakan akan menjalar kemana2.

Saya berusaha utk tetap tegar dan selalu sukacita di tengah kesakitan saya. Teman2 selalu menghibur saya dengan menyuruh saya bersabar, bersyukur dan itulah yang saya lakukan setiap kali penyakit itu kumat.

Saya sangat jarang mendoakan diri saya karena saya berpikir waktu saya tidak lama maka itu saya harus mendoakan orang2 lain.

Saya sangat bersyukur karena pertolongan Tuhan selalu datang tepat waktu, saat saya di jalan , saya lupa membawa air minum dan rasa kebakar itu muncul, badan saya tidak bisa gerak dan sulit bernafas maka tiba2 saja datang pedagang asongan dengan membawa air minum. Ini terjadi 3x saat saya berhenti di lampu merah.

Saya sempat berkata pada Tuhan, apa sih yang sebenarnya Tuhan ingini dalam diri saya? Saya ini mati tidak hidup juga tidak. Sampai dengan awal Pebruari 2010 saya tidur diatas 3 bantal yang ditumpuk tinggi, saya tidur setengah duduk, itu smua utk menahan supaya air dalam lambung tidak tumpah keluar melalui hidung saat saya tidur. Saya hanya bersyukur air dalam lambung itu belum masuk ke paru2 karena apabila terjadi maka akan sangat berbahaya dan akan komplikasi.

Saya sangat bersyukur tidak habis2nya karena tgl 10 pebruari 2010 saya telah sembuh dari penyakit ini. Saya baru mengetahui ternyata dari 100.000 org hanya ada 1 org yang menderita penyakit ini, pertanda penyakit ini langka dan dari yang terkena penyakit ini sekitar 3% yang bisa bertahan, berarti saya ini termasuk dalam 3% orang yang bertahan sampai detik ini.

Saya sangat bersyukur Tuhan tunjukan rumah sakit dan dokter yang tepat buat saya.

Saya awalnya sama sekali tidak berpikir dan berharap akan sembuh karena di Indonesia ini dokter2nya tidak memberikan saya harapan utk sembuh.

Saya dan suami hanya sekedar coba2 berobat di rumah sakit di Penang, siapa tau dokter disana berkata lain.

Sebelum berangkat saya masih berdebat dgn suami, saya ingin cari rumah sakit yg lebih murah saja tapi suami saya bilang sudahlah lebih mahal sedikit tapi yakin dengan dokternya, jadi lebih baik rumah sakit ini saja. Ini masukan untuk para istri, kita harus patuh pada suami karena Tuhan bisa berbicara dan memberikan hikmat pada suami kita.

Akhirnya sebenarnya dgn terpaksa saya menurut.

Sampai di Penang dari bandara saya langsung menuju rumah sakit dan langsung ditangani dgn baik sekali dan langsung dilakukan operasi.

Saat saya mau di operasi, saya dimarahi oleh dokter disana karena keadaan 6 thn itu sudah sangat parah kenapa baru ke rumah sakit itu sekarang. Saya bilang saya selama 6 thn berobat di Indonesia bolak balik ke berbagai rumah sakit sampai saya letih fisik dan sangat down.

Lalu dokternya bilang, di Indonesia tidak ada alatnya dan tidak tau bagaimana cara menanganinya karena penyakit ini langka, bahkan di Malaysia hanya ada di Penang dan di Penang pun hanya ada di rumah sakit ini..

Baru saya sadar bahwa untung saya ikuti perkataan suami saya dan ternyata suami saya benar, kalau kami ke rumah sakit lain maka saya akan sia2 juga datang ke sana.

Dokter yang menangani saya memakai metode baru yang tidak pernah saya dengar via dokter lain ataupun via internet.

Operasi ini dengan metode menanamkan balon berbentuk kerucut yang digantung di seutas kawat di sepanjang kerongkongan. Dokter menyarankan agar melakukan pengecekan ulang sekitar 1,5 tahun mendatang.

Saya terus berdoa agar setelah itu balonnya tidak perlu diganti melainkan dibuang karena fungsi saluran cernanya sudah sehat permanen.

Puji Tuhan semuanya berjalan lancar, besoknya saya sudah boleh pulang.

Teman2 sekamar saya di rumah sakit itu sangat heran, mereka bilang ini ajaib.

dan perlu keterampilan tinggi seorang dokter. Saya lebih heran lagi, saat saya disediakan makanan dan susu, saya sempat takut utk menelan makanan itu.

Sambil menyebut nama Yesus saya pun mulai makan dan ajaib smuanya ludes saya habiskan. Saya masih tidak percaya bahwa saya bisa makan dengan lancar, setelah saya pulang rumah sakit, kami pun mencoba makan berbagai jenis makanan yg berbeda2 sampai puas. Tiap sendok makanan yang masuk ke dalam mulut saya itu adalah merupakan berkat buat saya.

Saya berterima kasih pada Tuhan karena Tuhan tau 1 bulan sebelumnya saya sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit dan hampir tiap malam menangis ketakutan.

Saya tau Tuhan tidak membiarkan ini melewati batas kekuatan yg bisa saya tanggung.

Saya sangat berterima kasih pada suami dan anak2 saya yang selalu setia menumpangkan tangan dan memberikan harapan2 baru buat saya. Tanpa mereka saya tidak bisa seperti sekarang ini.

Saya berterima kasih pada Muse Hengky dan Semu Susan yang sering mendoakan saya.

Juga pada beberapa hamba Tuhan GKBJ yang memberikan perhatian dan mendoakan saya.

Saya berterima kasih pada sahabat2 saya dan sahabat2 suami saya:

- Dr. Hendra & Dr. Ina yang telah banyak memberikan masukan, informasi, konsultasi, doa, perhatian dan dukungan.

- Aliong & Yunita yang sering memberi kekuatan.

- Bambang & Yung Yung yg telah memberikan semangat baru pada saya,

- Yulia yang setia menolong saya saat kebaktian karena penyakit saya suka kumat saat kebaktian.

- Yenny Tahir yang sangat mengerti keadaan saya.

- Juni yg penuh perhatian

- Keluarga besar saya dan suami yang terus menerus memberikan support

- Teman2 semua di GKBJ Taman Kencana

- Teman2 di GKBJ Samanhudi

- Teman2 sekolah yang terus mendukung dan mensupport saya. 

- Merry Indrajati yang begitu penuh perhatian

- Terima kasih juga pada Susu Energen yg super panas, Super bihun dan Super bubur yg super lembek dan panas karena mereka yg setia menemani saya selama 6 thn lebih dan sekarang sudah saatnya saya meninggalkan mereka.

Bila teman-teman ada yang tau teman atau saudara yang mengalami sakit seperti saya, bisa menghubungi saya di email: Sandra_mutiara@hotmail.com.

Saya siap membantu memberikan informasi sebanyak yang saya tau tentang penyakit ini, rumah sakit, dokter dll.

Sekali lagi kuasa Tuhan tidak terbatas, Dia sungguh ajaib dan Dia tidak akan membiarkan kita tergeletak. Amin.

salam,

Sandra Mutiara
sumber : nevergiveup-all.blogspot.co.id

Selasa, 04 Juli 2017

MUSIK METAL BUAT APRON DIRASUKI SETAN

Musik metal awalnya hanyalah hiburan bagi Apron Stamril, namun tanpa disadarinya musik-musik pemuja setan tersebut lama kelamaan membuat dirinya seperti dirasuki oleh setan.

“Saya mulai melukis-lukis tembok-tembok itu dengan segala penghuni neraka. Saya mulai gambarkan monster-monster, saya mulai gambarkan ada api, tengkorak-tengkorak. Mahluk-mahluk itu adalah keluarga saya. Pikiran dan hidup saya mulai dirubah, saya seperti bukan si Apron lagi.”

Tidak berhenti sampai disana, prilaku Apron pun berubah menjadi beringas dan suka kekerasan. Suatu kali, hanya karena seseorang melihatnya dengan pandangan aneh, Apron dan teman-temannya memukuli orang tersebut.

“Dia jatuh ke got, masih kita injak-injak. Saya ambil batu lalu pukul kepalanya. Lalu teman saya berkata, 'Udah-udah, kita pergi.' Baru beberapa langkah, ada suara dalam hati saya seperti meneriakkan kepada telinga saya, 'Habisin aja!' Lalu saya balik lagi, dan menginjak-injak dia. Saya ngga tahu orang itu mati atau ngga sampai sekarang.”

Kekerasan dan keberingasan Apron tidak hanya dilampiaskan kepada lawan berkelahinya saja. Bahkan ia melakukan fantasi seks yang gila dan penuh kekerasan kepada kekasihnya. Dengan mencekik dan memukuli kekasihnya, pribadi lain dalam diri Apron seakan dipuaskan.

Namun setelah melakukan berbagai tindakan jahat itu, Apron terkadang menangis. Batinnya merasa tersiksa oleh semua tindakannya, namun ia tak mengerti mengapa ia terus melakukannya. Hingga suatu hari, sebuah rahasia terkuak. Sang kakak menceritakan bahwa saat ia masih kecil, ibunya hampir saja melemparkan dirinya ke tungku api.

“Mendengar kejadian itu, hati saya jadi sedih. Ternyata saya ini memang anak buangan ya..”
Namun ia tahu, ibunya saat itu melakukan tindakan nekat itu karena tertekan dan mengalami gangguan jiwa akibat siksaan sang ayah. Tak jarang sang ayah memukuli ibunya tanpa rasa kasihan di depan matanya. Hal tersebut membuatnya membenci sang ayah.

“Sampai suatu kali muncul pikiran gila, 'Pengen ku bunuh nih orangtua..” tutur Apron.
Kebenciannya pada ayahnya semakin dalam saat melihat ibunya yang sering kerasukan dan mengalami gangguan jiwa akibat tidak kuat mengalami siksaan mental dan fisik dari sang ayah. Sejak itulah ia mulai masuk dalam kehidupan jalanan dan terjerat dalam musik-musik pemuja setan.

Belum sempat mewujudkan keinginannya untuk membunuh sang ayah, Apron mengalami sebuah penyakit yang sangat menyiksanya. Karena sudah putus asa, Apron menghubungi kakaknya dan sebuah nasihat dari sang kakak menjadi titik balik kehidupannya.
“Sudahlah kau harus banyak berdoa. Kau harus terima Tuhan Yesus,” demikian nasihat sang kakak.

Sang kakak mengirimkan uang agar Apron membeli Alkitab. Saat hendak membeli Alkitab, mata Apron tertuju pada sebuah buku yang berjudul, “Dibebaskan Dari Jerat Iblis.” Judul buku itu begitu mengusik hatinya dan membawa langkah kakinya ke sebuah ibadah. Disana Apron berseru, “Tuhan, aku ini jahat. Masih mungkin ngga Engkau terima saya. Kalau Tuhan mau terima saya, aku akan berikan hidupku kepada-Mu.”

Sejak hari itu pemulihan demi pemulihan dialami oleh Apron. Kaset-kaset lagu metal itu dibakarnya, bahkan Apron meninggalkan rokok, minuman keras dan kehidupan seks bebas. Pada hari itu ia berkata, “Tidak akan lagi hal itu menyentuh hidup saya, hanya Yesus yang bisa menyentuh hidup saya,” demikian Apron memproklamirkan kebebasannya dari perbudakan setan. 
Kisah ini ditayangkan pada 25 Januari 2011 dalam acara Solusi Life di O'Channel.)Sumber 

Kesaksian:Apron Stamril
nevergiveup-all.blogspot.co.id