Selasa, 29 Agustus 2017

PERJALANAN MISI LOTTIE MOON

Lottie Moon melayani sebagai misionaris selama 39 tahun di provinsi Shantung, China, tepatnya di Tungchow dan Pingtu. Sulit untuk menggambarkan keadaan di kota kecil di China pada tahun 1873, saat Lottie pertama kali menginjakkan kaki di kota itu. Lottie sudah terbiasa dengan kehidupan yang serba mewah karena dilahirkan dalam keluarga pemilik tanah yang kaya raya di bagian Selatan Amerika Serikat, tetapi sekarang ia harus beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru dan asing, baik dari segi bahasa, budaya, makanan, maupun cara pemikiran, semuanya terasa sangat asing baginya. Adiknya, Edmonia Moon, tiba di China satu tahun sebelumnya dan ia mengalami culture shock atau kekagetan terhadap kebudayaan yang begitu luar biasa sehingga mengalami emotional breakdown atau gangguan secara emosi dan histeris. Adiknya akhirnya harus dipulangkan. Tidak semua orang, misionaris sekalipun, yang dapat bertahan di China pada tahun 1800-an.
Bagi Lottie, semuanya itu tidak menjadi masalah. Dengan penuh semangat, Lottie memulai studi bahasa serta mendalami sejarah dan budaya China. Dari segi pakaian dan tutur kata, ia berusaha untuk menjadi sama seperti orang-orang yang ingin dijangkaunya. Dalam waktu yang singkat, ia dapat menguasai bahasa China secara lisan, dan beberapa minggu setelah tiba di Tungchow, ia melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk membagikan buku kecil berisi Injil kepada para wanita. Pada waktu itu, badan misi yang mengutusnya tidak mengizinkan wanita untuk mengajar kaum pria.
Dalam bahasa China, orang asing, terutama orang kulit putih, disebut dengan sebutan "setan asing", tetapi Lottie berhasil membuat anak-anak di kotanya memanggilnya "wanita kue" (cookie lady) dengan selalu menyediakan kue-kue manis yang dibagikan kepada anak-anak. Setelah memakan kuenya, anak-anak sering kali akan mengajaknya ke rumah mereka dan dari situ Lottie memiliki kesempatan untuk membagikan Injil kepada ibu dari anak-anak tersebut. Selain dari penginjilan, Lottie memulai sebuah sekolah di rumahnya khusus untuk anak-anak perempuan. Dari Tungchow, Lottie mulai melakukan perjalanan misi ke pendalaman dan dalam waktu yang singkat berhasil membawa banyak orang untuk mengenal Tuhan.
Banyak dari antara orang yang diinjilinya adalah buta huruf. Di suatu kota bernama Huanghsien, Lottie meminta bantuan seorang sarjana Konfusius, Li Show Ting, untuk membacakan Alkitab kepada orang Kristen yang baru bertobat. Walaupun pada awalnya Li tidak percaya, tetapi karena hari demi hari ditugaskan membaca Alkitab, ia akhirnya mengakui kebenaran Injil. Sewaktu ia mengaku percaya, saudara-saudara kandungnya menganiayanya dengan memukul dan mencabik-cabik rambutnya, tetapi ia tetap teguh dalam imannya. Pada kemudian hari, saudara Li menjadi seorang penginjil yang terkenal dan dikabarkan telah membaptis lebih dari 10.000 orang selama pelayanannya.
Lottie Moon bekerja siang dan malam demi pengabaran Injil. Dalam waktu 6 bulan, ia telah berhasil mengunjungi sekitar 139 desa. Selama 14 tahun, ia tidak pernah pulang ke Amerika untuk cuti. Walaupun berat, tetapi ia tahu itulah harga yang harus dibayarnya karena pada saat itu misionaris yang berangkat ke ladang misitidak pernah berpikir untuk pulang. Banyak yang disebabkan oleh penyakit dan kekurangan gizi meninggal di tempat pelayanan.
Namun, bagi Lottie, hal yang paling berat baginya adalah masalah kesepian. Dalam suratnya, ia pernah menulis, "Biarlah tidak ada misionaris yang akan mengalami kesepian seperti yang aku alami." Selama bertahun-tahun, Lottie harus melayani sendirian tanpa teman kerja. Namun demikian, Lottie sempat menjalin kembali hubungannya dengan seorang profesor di sekolah teologia di Amerika yang pernah melamarnya sebelum ia memutuskan untuk ke ladang misi.
Gambar: Misi
Sumber gambar: https://majalahdia.net
Akan tetapi, pada waktu itu, Lottie menolak lamarannya. Pada tahun 1882, setelah berada di China selama 9 tahun, ia menulis surat kepada keluarganya bahwa ia telah bertunangan dan akan menikah pada tahun itu. Akan tetapi, akhirnya entah apa alasannya, pertunangannya dengan profesor Crawford Toy dibatalkan. Beberapa tahun kemudian, keponakan dari Lottie pernah bertanya apakah ia pernah jatuh cinta. Lottie menjawab, "Ya, tetapi Tuhan memiliki prioritas yang terutama atas hidupku, dan karena keduanya berkonflik, sangatlah jelas mana yang harus diutamakan." Walaupun ia mengaku tidaklah mudah hidup sendiri, tetapi Lottie tidak pernah mau mundur dari jalan yang sudah dipilihnya. Tahun-tahun setelah itu diwarnai penganiayaan yang dahsyat, perang, dan bencana kelaparan.
Pada tahun 1890, sewaktu Jemaat di Shaling dianiaya, Lottie langsung menuju ke tempat itu dan berkata kepada kepala penganiaya di situ, "Jika Anda mencoba untuk memusnahkan gereja ini, Anda harus membunuh saya terlebih dahulu. Yesus memberikan Diri-Nya bagi kami orang percaya. Sekarang, saya siap untuk mati bagi Dia." Dapat dibayangkan betapa anehnya situasi pada saat itu, seorang wanita bertubuh kecil dengan tinggi badan di bawah 130 cm mencoba menghadang massa yang sedang mengamuk. Ada yang berusaha untuk membunuhnya, tetapi dapat dihalang oleh yang lain. Lottie tidak pernah meninggalkan jemaat yang sedang dianiaya, ia berada bersama mereka sampai penganiayaan itu berhenti. Salah seorang Jemaat, Dan Ho-Bang, diikat ke batang kayu dan dipukul oleh kerabatnya setelah ia menolak untuk menyembah leluhurnya. Akan tetapi, tidak kira apa yang dilakukan ke atasnya, ia tetap menolak. Seperti yang selalu terjadi setelah penganiayaan, banyak orang bertobat, termasuk orang yang menganiaya karena mereka melihat ketabahan dan kesetiaan orang-orang percaya. Dan, Jemaat di Shaling menjadi gereja yang kuat dan melakukan banyak penginjilan ke daerah sekitarnya.
Revolusi China bermula pada musim gugur tahun 1911, Lottie yang sudah berusia 71 tahun pada waktu itu menolak untuk mengevakuasi diri, tetapi malah berangkat menuju zona perang. Ia ingin memulai pelayanan medis untuk menangani korban perang di kota Huanghsien. Periode itu merupakan permulaan dari kelaparan yang berkepanjangan, diiringi oleh tersebarnya berbagai wabah penyakit. Pada waktu itu, dana misi sudah tidak lagi tersedia dan Lottie harus menggunakan uangnya sendiri untuk menopang pelayanan. Lottie telah melihat dirinya sebagai orang China, tidak ada lagi tembok yang memisahkan dia dari orang yang dilayaninya. Melihat orang yang kelaparan dan tidak memiliki cukup dana untuk membantu, Lottie sendiri sering kali mengalami kelaparan bersama-sama dengan orang-orang Kristen yang ada di sekitarnya. Pada musim panas tahun 1912, fisiknya mulai melemah. Saat dibawa ke rumah sakit Baptis yang baru dibangun di China, doktor yang merawatnya menyimpulkan bahwa Lottie yang berat badannya hanya 24 kg mengalami kelaparan yang sungguh parah. Diputuskan bahwa Lottie harus segera dibawa pulang ke Amerika. Pada tanggal 12 Desember 1912, ditemani oleh seorang perawat, Lottie meninggalkan China dari pelabuhan di Shanghai. Akan tetapi, dua belas hari kemudian, saat kapal sedang berlabuh di Kobe, Jepang, Lottie mengembuskan napasnya yang terakhir, satu hari sebelum Natal 1912.
Semangat dan pengorbanan Lottie Moon tetap dikenang sampai hari ini lewat Lottie Moon Christmas Offering yang diselenggarakan setiap tahun oleh gereja-gereja Southern Baptist di Amerika Serikat. Dana yang terkumpul sejak pertama kali diselenggarakan telah mencapai miliaran rupiah yang semuanya dipakai untuk mendanai misi pelayanan. Sembilan puluh lima tahun setelah Lottie meninggalkan dunia ini, setiap tahun menjelang Natal namanya tetap dapat membangkitkan semangat umat Kristen untuk turut mengambil bagian dalam pengabaran Injil di seluruh dunia.
Copas : www.sabda.org
Diambil dari:
Nama situs:My side Blog - The Beloved Son - Only For Christian
Alamat situs:http://thebelovedson.blogspot.co.id/2014/07/kesaksian-hidup-misionaris-charlotte.html
Judul asli artikel:Kesaksian Hidup Misionaris Charlotte (Lottie) Moon
Penulis artikel:Anonim
Tanggal akses:3 Oktober 2016

Jumat, 25 Agustus 2017

HIDUP DALAM ANUGERAH ALLAH

Kesaksian Mai Spencer
Nama saya Mai Spencer. Saya lahir di kota Binh Chau, Vietnam Selatan, dan dibesarkan sebagai seorang Buddha. Saya bertemu dan menikah dengan suami saya, Dennis, di Vietnam, ketika ia ditempatkan di sana, dalam Angkatan Darat. Kami meninggalkan Vietnam pada tahun 1971 dan datang ke negeri yang besar, Amerika Serikat, untuk memulai rumah tangga kami dan membesarkan keluarga kami. Kami memiliki 4 anak, 3 dari mereka meninggal pada usia 9 bulan, usia 16 tahun, dan 23 tahun. Kepergian anak-anak kami membawa kami kepada Kristus.
Gambar: Dennis dan Mai
Sumber gambar: http://jesusinvietnam.com
Dua puluh delapan tahun yang lalu, saya melahirkan anak perempuan kembar. Mereka lahir prematur 30 hari, dan Brenda beratnya kurang dari 3 pon sementara Michelle beratnya kurang dari 2 pon. Michelle sakit parah dan meninggal pada usia 9 bulan. Kami sangat sedih karena kehilangan bayi kami. Seorang teman kami datang bersaksi tentang Yesuskepada saya, tetapi saya bilang tidak. Saya tidak bisa meninggalkan Buddha untuk mengikuti Yesus Anda. Jadi, dia memberi saya sebuah buku Perjanjian Barudalam bahasa Vietnam. Dia mengatakan jika saya ada waktu bacalah buku itu, dan anggaplah itu seperti sebuah buku yang sangat menarik.
Sampai saat itu, saya sama sekali tidak mengenal Yesus atau Allah, tetapi saya mengambil Alkitab dan membacanya 2 kali. Saya tidak mengerti banyak, tetapi saya membaca bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Selamat dunia. Beberapa bulan kemudian, teman saya datang kembali untuk berkunjung lagi. Dia bertanya apakah saya telah membaca buku itu. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya telah membaca dua kali dan bahwa itu menarik, tetapi saya sama sekali tidak mengerti atau percaya. Teman saya kemudian mengatakan kepada saya bahwa dia benar-benar percaya bahwa sebelum saya mati saya akan mengenal-Nya. Sejak hari itu, nama Yesus terus bermunculan masuk keluar dari kepala saya dari waktu ke waktu.
Ketika saya memiliki masalah, saya akan berdoa kepada Yesus ini. Dan, meskipun saya tidak memiliki hubungan sehari-hari dengan-Nya, Dia masih menjawab sebagian doa-doa saya. Satu doa yang tidak Dia jawab adalah agar keluarga saya di Vietnam datang ke sini untuk tinggal bersama saya. Untuk waktu yang lama, saya tidak mengerti mengapa Dia tidak menjawab doa itu, tetapi sekarang saya mengerti sepenuhnya alasannya. Saya ingin Anda mengingat hal itu dan saya akan kembali ke masalah ini nanti.
Sekarang, saya ingin menceritakan kepada Anda apa yang terjadi pada 2 anak kami yang lain dan bagaimana Allah menggunakan apa yang terjadi pada mereka untuk membawa saya dan seluruh keluarga saya kepada Kristus. Ketika kami pertama kali datang ke Amerika Serikat, kami tinggal di Mesa, Arizona. Dennis bekerja di sebuah blok kelontong bernama A.J. Bayless selama 16 tahun. Dia dipromosikan ke Divisi Manager Arizona selatan dan kantornya terletak di Tucson, Arizona. Dennis pindah ke Tucson terlebih dahulu, dan beberapa bulan kemudian setelah tahun sekolah anak-anak selesai, kami bergabung dengannya di Tucson. Lalu, 6 bulan kemudian, perusahaan mengalami kebangkrutan dan mulai menutup banyak toko. Beberapa bulan kemudian, Dennis berhenti dan mulai mencari pekerjaan lain. Dia mendapat tawaran pekerjaan di San Diego, jadi kami menjual rumah kami di Tucson dan siap untuk pindah ke San Diego. Namun, Dennis memiliki pikiran kedua tentang tawaran pekerjaan itu dan dia memutuskan untuk tidak mengambilnya. Kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan atau apakah kami ingin tinggal di Tucson, jadi kami menyimpan perabotan kami dan menyewa sebuah apartemen untuk sementara.
Kemudian, pada tahun 1988, pemerintah Vietnam mulai mengizinkan wisatawan datang ke negara itu. Saya pergi pada bulan November tahun itu untuk mengunjungi keluarga saya di Vietnam yang sudah 17 tahun tidak saya jumpai.
Ketika saya meninggalkan Vietnam pada tahun 1971, meskipun perang masih berlangsung, orang-orang memiliki harapan dan keberanian tentang masa depan. Ketika saya kembali pada tahun 1988, saya menemukan bahwa bagi banyak orang Vietnam, hidup adalah pergumulan mengenai untuk bertahan hidup dari satu hari ke hari berikutnya. Saat saya melihat keluarga saya dan orang-orang lain yang saya temui, saya bisa melihat jauh di mata mereka bahwa mereka rindu untuk memiliki kehidupan seperti saya. Saya merasa begitu banyak kesedihan dan sakit hati pada diri mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa bahwa jauh dalam hati saya terdapat rasa syukur kepada Tuhan. Saya tidak mengucapkannya, tetapi hanya dalam hati, saya berterima kasih kepada Tuhan atas berkat dalam hidup saya karena tinggal di Amerika Serikat.
Saya mendapati bahwa sebagian besar orang menjalani kehidupan yang sulit dalam kemiskinan. Bahkan, saya menemukan salah satu saudara saya, suaminya yang cacat, ibunya, dan 6 anak mereka adalah tunawisma, dan bepergian dari satu kota ke kota lain untuk mengemis makanan. Butuh waktu 3 hari untuk menemukan mereka dan membawa mereka ke rumah ibu saya di Binh Chau. Saya akhirnya memiliki rumah baru yang dibangun untuk ibu saya sehingga ibu saya memberikan rumahnya yang lama kepada mereka.
Pada waktu itu, tidak ada listrik di kota Binh Chau, jadi saya membeli generator untuk rumah ibu saya. Saat itu menjelang Natal dan gereja Katolik setempat datang untuk menanyakan apakah mereka bisa meminjam generator supaya mereka dapat memiliki lampu untuk kebaktian Natal mereka. Ketika gereja mengembalikan generator pada hari berikutnya, mereka bercerita sedikit tentang ibadah mereka malam sebelumnya. Saya dapat merasakan sukacita di wajah mereka dan suara mereka yang tidak saya perhatikan sehari sebelumnya. Mereka tampak begitu damai dibandingkan dengan sebagian besar orang yang saya temui. Pada waktu itu, Tuhan menaruh dalam hati saya apa yang saya telah baca dalam Perjanjian Baru yang diberikan kepada saya tahun sebelumnya, bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Juru Selamat dunia. Saya berdoa pada waktu itu, Yesus, jika Engkau datang, silakan datang ke kota ini. Juga, ketika saya pergi dari sini, tolonglah saya untuk mengingat orang-orang ini, dan jika Engkau memberkati saya untuk melakukannya, saya akan datang kembali dan membangun tempat bagi mereka untuk datang dan merayakan Engkau.
Gambar: Mai dan Ibunya
Sumber gambar: http://jesusinvietnam.com
Saya telah merencanakan untuk tinggal di Binh Chau selama 3 bulan, tetapi meskipun saya belum mengenal Dia, Allah tahu bahwa saya harus pulang kepada Dennis dan anak-anak. Saya sangat merindukan mereka karena ini adalah pertama kalinya kami terpisah sejak pernikahan kami. Saya mengatakan kepada ibu saya bahwa saya harus pulang, tetapi saya akan kembali dalam satu bulan untuk memastikan rumah barunya selesai dengan baik. Empat hari kemudian saya ada di rumah di Tucson. Saya sangat senang bertemu Dennis dan anak-anak. Kami benar-benar menikmati waktu bersama sebagai sebuah keluarga 4 minggu berikutnya. Lalu, seperti yang telah saya janjikan kepada ibu saya, saya membuat rencana untuk kembali ke Vietnam. Tiket untuk saya sudah dibeli dan saya seharusnya pergi pada hari Senin pukul 8 pagi.
Satu-satunya anak kami, Tim, yang baru saja diputuskan oleh pacarnya, pulang terlambat dari pekerjaannya Jumat malam itu setelah kami pergi tidur. Dia meraih pistol dan berjalan 2 mil ke rumah pacarnya. Di sana, di tengah malam dengan foto gadis itu di tangannya, dia menembak dirinya sendiri di kepala, lalu mati seketika. Ketika diberi tahu, kami benar-benar hancur. Selama beberapa bulan ke depan, Dennis menyalahkan dirinya sendiri; Saya menyalahkan Dennis. Saya melampiaskan kemarahan saya ke Dennis dan ingin mengakhiri pernikahan kami, tetapi saya tahu saya masih sangat mencintainya.
Saya mengalami depresi berat dan mulai minum-minum serta sering berjudi. Saya tidak bisa meninggalkan Dennis, jadi saya akan membuat dia meninggalkan saya. Suatu hari, saya kembali dari Las Vegas dan mengatakan pada Dennis bahwa saya perlu berbicara dengannya. Kami duduk di samping tempat tidur kami dan saya menatap matanya. Saya bisa melihat dia begitu sedih dan mungkin berpikir saya akan meninggalkan dia. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya telah mempertaruhkan semua tabungan kami di Las Vegas. Saya berharap dia meledak, tetapi dia malah bertanya apakah itu meringankan rasa sakit saya untuk sementara? Dia mengatakan itu hanya uang dan kami selalu bisa mendapatkan lebih banyak lagi, tetapi yang penting adalah bahwa kami tetap bersama-sama untuk mengatasi perasaan putus asa ini.
Saya kemudian menyadari bahwa Allah telah memberi saya seorang pria yang lembut, ramah, dan baik sebagai suami saya. Meskipun ia juga serasa mau mati saja dalam hatinya, dia masih mengulurkan tangan untuk menghibur saya.
Saya menyadari bahwa Tim adalah anaknya juga, dan bahwa ia mengalami rasa sakit yang sama dengan yang saya rasakan. Saya perlu dihibur sama seperti dia juga perlu dihibur. Bersama-sama, kami perlu belajar untuk memahami dan saling menghibur melewati rasa sakit. Saat kami menengok kembali ke masa itu sekarang, kami berdua berharap bisa tahu bagaimana berdoa kepada Yesus untuk memohon kekuatan dan memberi kami pengharapan yang teramat kami butuhkan. Sekarang, saya mengerti bahwa Allah bersama kami, bahkan selama pencobaan kami selanjutnya.
Kami memutuskan untuk tinggal di Tucson dan membeli sebuah rumah baru untuk memulai dari awal. Pekerjaan Dennis membaik, dan putri tertua kami, Terie, melahirkan cucu pertama kami, Cheree. Kami pun merasa semakin pulih dari shock dan kehancuran atas kematian Tim.
Kemudian, pada Juni 1992, Terie, pulang dari dokter dan menyatakan bahwa ia telah didiagnosis menderita kanker ovarium dan hanya tersisa 6 bulan untuk hidup. Saya benar-benar mati rasa dan tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana saya bisa menerima penderitaan lagi? Hari itu ketika sendirian, saya berlutut dan menangis kepada Yesus. Saya mengatakan bahwa saya tidak tahan lagi menderita dan tolong saya karena saya tidak tahu apa yang harus dilakukan atau ke mana harus berpaling. Saya meminta-Nya untuk masuk ke dalam hati saya dan hidup saya karena saya menyadari saya tidak bisa melakukannya sendiri. Saya bertemu Yesus di hati saya pada saat itu dan diselamatkan.
Gambar: Trust In The Lord
Selama beberapa minggu kemudian, Allah mencurahkan kasih dan belas kasih-Nya kepada kami! Dia membawa seseorang ke dalam kehidupan Terie yang memberitakan Injil Yesus Kristus kepadanya, dan Terie menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Beberapa hari kemudian, Dennis juga berdoa untuk menerima Kristus. Allah Mahabesar! Ketika Allah mengambil Terie pulang untuk bersama-Nya beberapa bulan kemudian, saya sedih karena saya akan merindukannya, tetapi Allah memenuhi hati saya dengan rasa damai mengetahui bahwa Terie bebas dari semua rasa sakit dan penderitaan, dan dia berada di rumah bersama Tuhan. Dan, saya tahu bahwa saya akan bertemu lagi dengannya kelak.
Tak lama setelah Terie pergi untuk bersama Tuhan, Allah memberkati saya dengan bisnis impian saya, perusahaan saya sendiri di mana saya merancang dan memproduksi pakaian wanita barat. Ini membuat saya sibuk bekerja selama 14-16 jam sehari pada suatu waktu dalam hidup saya ketika saya perlu untuk terus sibuk. Selama 8 tahun kemudian, Allah memberi saya kekuatan dan keinginan untuk berfokus pada-Nya. Allah mulai benar-benar membersihkan saya, mengubah bagian dari hidup saya yang perlu berubah, dan kehidupan saya mulai menghasilkan buah. Dari 8 orang yang datang bekerja pada saya (semua orang Vietnam), 7 dari mereka menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Allah kemudian menaruh dalam hati saya untuk berhenti dari bisnis saya agar saya bisa lebih berfokus kepada-Nya sehingga Dia bisa mempersiapkan hati saya untuk melayani-Nya.
Sekarang, ingat Alkitab Perjanjian Baru di Vietnam yang diberikan oleh teman saya pada tahun 1978. Nah, pada tahun 1993, seorang teman saya pergi untuk mengunjungi keluarganya di Vietnam. Tuhan menaruh dalam hati saya untuk membawakan Alkitab itu kepadanya untuk diberikan kepada keluarga saya. Saya pergi ke kamar tidur saya, berlutut, dan berdoa kepada Allah agar Dia membuat Alkitab ini sampai ke tangan salah satu anggota keluarga saya yang akan membacanya, memahaminya, percaya akan itu, menerima Kristus, dan bersaksi ke seluruh keluarga saya. Tuhan pun menjawab doa saya.
Betapa mengagumkannya Allah yang kita layani!! Dalam waktu kurang dari 2 tahun, semua keluarga saya di Vietnam, kecuali 2 orang, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka, dengan jumlah total 35 orang! Beberapa tahun kemudian, saya memberikan Alkitab yang sama kepada salah satu saudara saya saat menceritakan Yesus kepadanya. Dia juga berdoa untuk menerima Kristus, dan 6 bulan kemudian Allah membawanya pulang bersama-Nya. Sejak itu, jumlah orang yang telah menerima Kristus telah bertambah menjadi lebih dari 100. Allah menggunakan Alkitab ini untuk menyelamatkan banyak orang. Saya tidak tahu di mana Alkitab itu hari ini, tetapi saya kira Allah masih menggunakannya di suatu tempat untuk membawa orang-orang kepada Kristus.
Setelah dilahirkan kembali, dan bahkan sebelum itu, saya berdoa kepada Allah tentang berbagai hal. Dia telah menjawab hampir semuanya, kecuali satu. Selama bertahun-tahun, saya telah berdoa agar Allah membuka pintu bagi keluarga saya di Vietnam untuk ikut dengan saya di sini, di Amerika Serikat, tetapi doa itu tidak terjawab. Akhirnya, Tuhan berbicara kepada hati saya bahwa alasan keluarga saya tetap di Vietnam adalah untuk menarik Dennis dan saya kembali ke Vietnam.
Tuhan mulai menaruh ke dalam hati saya beban yang saya lihat pada tahun-tahun sebelumnya bagi rakyat Binh Chau supaya mereka memiliki tempat untuk belajar tentang Allah, dan menyembah-Nya dan melihat anak-anak tumbuh mengenal Yesus. Saya mulai berdoa kepada Allah, jika ini adalah kehendak-Mu, maka kiranya suami saya sepakat dengan saya. Saya menceritakan ini kepada Dennis dan Tuhan mulai menempatkan visi yang sama untuk Binh Chau dalam hatinya.
Sejak itu, Allah telah membuka banyak pintu bagi kami untuk melayani Dia di Binh Chau. Tiga tahun yang lalu, Tuhan memindahkan kami ke Catalina Foothills Church di Tucson, di mana kami memiliki kesempatan untuk menjadi dewasa berjalan dengan Tuhan. Dia telah memperlengkapi kami supaya kami mengetahui bagaimana membagikan iman kami melalui pelayanan Ledakan Penginjilan di Catalina Foothills Church. Allah telah memberkati kami dengan bertemu banyak saudara dan saudari dalam Kristus di Foothills Catalina Church yang memiliki gairah dan hati untuk misi, yang telah mendorong kami dan mendukung dalam doa dan/atau secara finansial dalam pelayanan kami untuk Binh Chau.
Gambar: Church
Pada bulan Juni 2004, Dennis dan saya kembali ke Vietnam dan bertemu dengan beberapa pendeta untuk membicarakan tentang perintisan gereja di Binh Chau. Salah seorang pendeta setuju, dengan bantuan keuangan dari Catalina Foothills Church untuk memulai sebuah gereja rumah di Binh Chau. Kebaktian Minggu dimulai dengan hanya 2 atau 3 orang pada Januari 2005. Pada Maret 2005, jumlah yang menghadiri Ibadah dan studi Alkitab mingguan lebih dari 30 orang, termasuk anak-anak. Allah itu baik!
Selama kami berada di Vietnam pada bulan Juni 2004, kami mampu membeli sebidang tanah sedikit lebih besar dari lapangan sepak bola. Visi Dennis dan saya adalah untuk melihat gereja dan pelayanan anak-anak dibangun di atas tanah itu. Kami meminta Anda untuk terus mendoakan kami agar Allah terus membuka pintu bagi kami untuk melihat visi ini menjadi kenyataan sehingga nama-Nya dimuliakan. (t/Jing-Jing)
Copas : www.sabda.org
Diterjemahkan dari:
Nama situs:Jesus in Vietnam Ministries
Alamat situs:http://jesusinvietnam.com/? page_id=2
Judul asli artikel:Mai's Testimony
Penulis artikel:Mai Spencer
Tanggal akses:4 Oktober 2016

Senin, 21 Agustus 2017

KEPUTUSANKU TERHADAP PANGGILAN TUHAN

Oleh: Illene Victoria
Saya, Illene Victoria, mahasiswa semester tujuh berusia 21 tahun. Saya adalah orang yang tertarik dengan hal-hal yang berbau rohani sejak dulu. Namun, saya sendiri tidak pernah serius dalam menjalin hubungan saya dengan Tuhan. Saat itu, saya masih malas bersaat teduh dan merenungkan Alkitab. Pelayanan pun juga asal-asalan. Sampai pada suatu masa di mana saya berumur 19 tahun, saya sadar, saya mengalami banyak pertolongan Tuhan yang nyata dalam hidup saya. Tuhan menarik saya kembali untuk bersekutu dengan Dia, merasakan kehadiran-Nya, dan mendengar pesan dari-Nya. Banyak hal yang membuat saya bertumbuh dan bergairah kembali dalam Tuhan.
Praise
Saya dapat merasakan hal yang luar biasa tersebut karena adanya orang-orang yang membantu saya untuk bertumbuh, khususnya dari pelayanan pemuda di gereja tempat saya berasal yang dulunya tidak memiliki dampak apa pun pada gereja. Akan tetapi, pelayanan mereka mulai bertumbuh dan berkembang pesat sejak Pastor Youth saya pulang dari sekolah-singkat Proskuneo di Bandung. Ketika ia pulang, ia membawa api yang besar sehingga cara dan tata ibadah youth pun diubah. Mereka yang tadinya mudah bosan untukberdoa, memuji Tuhan dengan lesu dan malas pergi ibadah, berubah total menjadi sebaliknya. Mulai dari situ, ada kegerakan yang besar dalam gereja saya. Tepat di usia saya yang ke-20, saya memutuskan untuk lebih sungguh-sungguh hidup di hadapan Tuhan.
Singkat cerita, pada bulan Mei 2014, ada satu acara semacam KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) di gereja saya. Acara ini mirip seperti KKR pada umumnya, hanya saja peserta dan pelayannya adalah anak-anak muda. Para pelayan KKR itu dari Bandung, dan anak-anak youth di tempat saya berperan sebagai tuan rumah. Jadi, kami lebih mendahulukan para peserta di luar gereja kami untuk dilayani. Kemudian, saat saya menyaksikan kuasa Tuhan yang terjadi di sana, saya melihat orang-orang dipulihkan dan diubahkan. Ada perasaan yang timbul dalam hati saya. Perasaan itu seperti keinginan yang tiba-tiba muncul dalam hati saya, "Saya tidak mau terus-terusan jadi orang yang duduk menikmati dan dilayani. Saya pun mau melayani. Pergi ke banyak tempat, memberitakan kabar baik, dan memeluk mereka yang hancur."
Sebelum acara ini, beberapa tahun yang lalu, pernah ada satu acara KKR di Temanggung yang dilayani orang-orang dari gereja. Pada waktu itu, saya ditugaskan sebagai catcher (penangkap jiwa - Red.) saat pengurapan. Saat saya memegang mereka dan melihat mereka menangis, saya sendiri pun ikut menangis. Hati saya tergerak saat melihat itu. Kemudian, pernah juga di suatu acara doa pemuda, beberapa teman saya bernubuat untuk saya dan berkata, "Tuhan akan pakai mulutmu untuk bersaksi di mana pun kamu berada," dan ada yang lainnya yang mendapat ayat, "Jika Tuhan ada di pihakmu, maka siapa lawanmu?" Saat itu, saya tidak mendapat gambaran tentang apa panggilan pelayanan saya karena saya merasa bahwa saya tidak memiliki keterampilan dalam bidang pelayanan. Akan tetapi, kejadian-kejadian tersebut menuntun saya sampai saat ini.
Seperti yang sudah saya nyatakan sebelumnya, saya sudah memutuskan untuk serius dalam menjalani hubungan saya pribadi dengan Tuhan. Pada waktu itu, saya pun menanyakan apa yang menjadi panggilan saya karena saya berpikir saya juga mau menyenangkan Tuhan di sisa hidup saya. Sampai pada akhirnya, saya membaca buku The Purpose Driven Life karya Rick Warren yang saya rasa telah meneguhkan keinginan saya untuk mencari panggilan saya. Kemudian, selama membaca buku tersebut, teman saya mengajak saya untuk ikut dalam komunitasnya. Pada awalnya, dia meminta bantuan saya untuk ikut dalam pelayanan komunitas itu. Akan tetapi, pada akhirnya, saya merasa bahwa saya di situ bukan sekadar membantu. Itu memang menjadi tugas saya, dan saya merasa bahwa saya berada di tempat yang tepat.
Melayani-Mu
Pada awalnya, saya sulit untuk mengambil keputusan untuk ikut teman saya ke komunitasnya atau tidak karena saya butuh waktu untuk berpikir dan mematangkan hati saya dengan hal yang nantinya akan saya lakukan. Jadi, komunitas ini kental dengan pemuridan. Walaupun masih baru dan belum berkembang luas, mereka sudah mendatangi banyak sekolah untuk melakukan misi mereka, yaitu membawa anak-anak untuk mengenal Tuhan Yesus agar mereka menjadi percaya dan diselamatkan. Nantinya, mereka pun akan dimuridkan dan memuridkan. Saya berpikir selama seminggu hanya untuk mengatakan "ya" kepada teman saya. Namun, karena masih baru bergabung dan belajar, saya dimuridkan terlebih dahulu sebelum nantinya pelayanan saya berkembang dan memuridkan adik-adik saya yang lain.
Pertama kali saya bergabung, saya merasa minder karena saya merasa tidak memiliki kemampuan apa pun, apalagi dalam kemampuan berbicara. Namun, saya ingat akan semua kejadian yang tadi saya ceritakan, dan saat itu saya mendapat pesan, "God does not call the qualified, He qualifies the called". Kalimat itu cukup dalam karena dari situ saya tahu, Tuhan tidak memanggil orang-orang hebat yang memenuhi syarat. Dia memanggil orang yang mau memenuhi panggilan-Nya. Walaupun orang itu merasa tidak mampu, tetapi jika Tuhan yang sudah memanggil, Ia sendiri yang akan memampukan. Dan, jika saya dipercaya dan ditempatkan bersama dengan orang-orang hebat seperti mereka, berarti Tuhan tahu, saya sama hebatnya dengan mereka.
Panggilan Tuhan
Dari komunitas itu, saya mulai tergabung untuk melayani ke sekolah-sekolah. Dari sana, saya tahu panggilan pelayanan saya mulai digenapi. Meskipun saya masih cukup baru dan belum memuridkan, saya merasa senang karena apa yang ada di hati saya saat KKR itu sudah mulai terlihat buahnya. Dan, meskipun buah itu belum banyak dan lebat, saya senang karena Tuhan memercayakan hal ini kepada saya. Tidak peduli saya akan dibawa ke mana, saya bisa atau tidak, saya nanti seperti apa, tetapi inilah jalan yang saya tempuh yang mengantarkan saya sampai pada hari ini. Dan, di sinilah saya, magang di tempat pilihan yang juga sudah Tuhan setujui. Kemudian, menulis kesaksian ini kepada Anda sembari terus menyiram dan memberi pupuk pada rencana Tuhan dalam hidup saya sendiri agar kelak bisa menghasilkan buah yang lebat.
Dari kesaksian ini, saya berharap tulisan saya bisa menjadi berkat untuk Anda. Saya berdoa agar Anda yang belum menemukan panggilan pelayanan, segera mendapatkannya. Dan, sementara menunggu, jangan jemu-jemu untuk meminta. Bangun hubungan Anda semakin intim dengan Tuhan karena pada dasarnya kita semua memiliki tugas masing-masing yang sudah Tuhan rancangkan dalam hidup kita sejak dulu. Bagi Anda yang sudah menemukan panggilan Anda, saya berdoa supaya Anda semakin bertumbuh dan berbuah lebat di dalam Tuhan. Teruslah berpegang teguh dan setia dalam pelayanan. Akan ada banyak hal besar menanti dalam hidup Anda. Jangan lupa untuk tetap terus menomorsatukan Dia dalam segala hal. Tuhan Yesus memberkati.
Copas : www.sabda.org

Kamis, 17 Agustus 2017

TUHAN YESUS MENJADIKAN HIDUPKU BERARTI


Saya berasal dari keluarga berlatar belakang lain yang sangat fanatik. Pada usia 22 tahun saya mengalami kekecewaan yang sangat berat yang membuat saya berputus asa. Namun, puji Tuhan, pada tahun 1976, saya diajak teman ke gereja dan di situlah saya mengenal Tuhan Yesus. Beberapa waktu kemudian saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi. Sungguh luar biasa, Tuhan Yesus menjadikan hidup saya berarti dan Ia memulihkan saya dari keputusasaan hidup. Saya mengalami keindahan hidup yang tidak saya temukan sebelumnya di dalam keyakinan saya yang lama. Di dalam Tuhan Yesus, saya memiliki kepastian keselamatan sebagaimana yang dijanjikan firman-Nya.

Pada waktu itu seluruh anggota keluarga saya belum mengenal Tuhan Yesus dan mereka tidak bisa menerima kepindahan saya menjadi orang Kristen. Mereka memusuhi saya, bahkan papa pernah memukuli dan mengusir saya dari rumah. Sungguh, tekanan hidup yang saya rasakan pada waktu itu sangat berat; saya dikucilkan keluarga. Namun, puji Tuhan, Ia menguatkan saya. Saya tetap bersikap baik terhadap keluarga, mendoakan mereka supaya mereka juga mendapat bagian di dalam Tuhan. Siang malam saya berdoa tak henti-hentinya sambil menangis, memohon Tuhan berkenan menjamah mereka. Puji Tuhan, Ia menjawab doa saya, akhirnya anggota keluarga saya diubahkan; tahun 1979 ketiga adik saya bersedia ke gereja dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi. Kemudian, mama saya menyusul bersedia dibaptis pada tahun 1980. Saya mengalami sukacita yang luar biasa ketika melihat keluarga saya mulai mengikuti Tuhan. Namun, papa masih mengeraskan hati dan memusuhi saya, karena pola pemikirannya masih kolot dan ia bersikap seperti diktator.

Saya terus mendoakan papa supaya beliau mendapat bagian di dalam keselamatan yang disediakan oleh Tuhan. Hati saya dipenuhi dengan kerinduan supaya papa bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya. Saya terus bergumul dalam doa. Saya menantikan jawaban Tuhan selama 30 tahun -- bayangkan, rentang waktu yang tidak singkat itu -- namun Tuhan tidak pernah terlambat. Beberapa waktu yang lalu saya bertemu seorang pendeta yang sudah berusia lanjut, yaitu Pdt. M.. Bapak pendeta ini memunyai kerinduan untuk memberitakan Injil kepada papa saya. Selama setahun pendeta ini terus mendampingi papa saya, dengan ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan, ia memberitakan kebenaran kepada papa. Akhirnya, pada pertengahan November 2005 papa saya membuka hatinya bagi Tuhan Yesus. Beliau bersedia menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya secara pribadi. Papa saya sekarang sudah ke gereja.

Mendengar kabar ini, saya benar-benar terkejut, tidak menyangka bahwa papa bisa membuka hatinya. Saya begitu terharu, setiap kali saya memikirkan peristiwa ini, saya tidak kuasa menahan air mata. Tuhan Yesus begitu baik. Saya tidak henti-henti menyaksikan kebaikan Tuhan di dalam kehidupan keluarga saya. Sebagai orang yang sudah mengalami kebaikan Tuhan, saya juga rindu selalu menyaksikan cinta kasih-Nya kepada orang-orang yang belum percaya, supaya mereka juga beroleh keselamatan di dalam Tuhan Yesus.

Copas : kesaksian.sabda.org

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buletin : Gema Kalvari, Edisi 67, Mei -- Juni 2006
Penulis : Ch
Penerbit : Lembaga Pelayanan Terpadu "GEMA KALVARI", Salatiga
Halaman : 31 -- 32

Minggu, 13 Agustus 2017

PATAH HATI JANGAN KELAMAAN

Masa-masa patah hati atau broken heart , pasti hampir semua orang pernah mengalaminya. Di saat kita mendapatkan penolakan dari orang yang kita sukai atau kita kehilangan orang yang kita cintai karena ia lebih menyukai orang lain, rasanya pasti menyakitkan. Yang umum terjadi adalah kita menjadi sedih, dan kesedihan itu dilengkapi dengan lagu-lagu galau atau lagu-lagu mellow. Tingkatan yang lebih parah adalah ketika fase patah hati itu disertai dengan menurunnya performa dalam pekerjaan atau dalam studi yang sedang kita jalani. 



Tidak ada larangan untuk menjalani masa patah hati, tetapi masa-masa ini akan memakan waktu tersendiri. Dimana semakin lama kita berpatah hati , berarti semakin banyak waktu yang kita buang. Padahal masih ada hal-hal lain yang dapat kita kerjakan. Ada beberapa pikiran positif yang perlu kita renungkan antara lain :

1. Tuhan menyediakan yang lebih baik
Percayalah , Tuhan tidak membiarkan hidup Anda hancur karena penolakan satu orang. Ia pasti menyediakan seseorang yang terbaik untuk Anda. Saat Samuel ditugaskan mencari calon raja yang baru, ia semua pilihan yang menurutnya benar ditolak oleh Tuhan . Dan pilihan jatuh kepada orang terakhir yang tidak diduga yaitu Daud.

Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: "Semuanya ini tidak dipilih TUHAN."
1 Samuel 16:10

Mungkin jodoh Anda saat ini sedang dalam masa persiapan, mungkin dia belum hadir dalam hidup Anda, mungkin saja ia orang yang selama ini tidak Anda perhitungkan.

2. Tuhan menghindarkan dari sesuatu yang buruk
Ketika Tuhan tidak mengizinkan kita memperoleh suatu hal, bisa jadi itu adalah jalanNya untuk kita menghindarkan diri dari suatu hal yang buruk. Saat mencintai seseorang kita biasanya hanya fokus pada hal-hal yang baik pada dirinya, padahal sebenarnya ada hal-hal negatif yang mungkin suatu saat kita tidak bisa menerimanya. Seorang teman sangat sedih karena gagal menikah dengan pria yang ia cintai, tetapi setelah beberapa minggu, orangtuanya menemukan fakta bahwa pria tersebut sebelumnya sudah pernah menikah dan mempunyai anak. Tetapi kemudian meninggalkan anak dan istrinya dan pergi kota lain tanpa bertanggungjawab. 

Lalu Ia berfirman: "Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu."
Keluaran 33:14

Tuhan membimbing Musa menjalani perjalanan yang berat, Tuhan juga membimbing kita melalui perjalanan hidup, dan menjaga kita dari bahaya yang mungkin terjadi.

3. Jadikan masukan yang baik
Ketika mengalami penolakan, kita bisa melakukan evaluasi diri, kita bisa mulai meningkatkan kualitas diri kita sehingga menarik bagi orang lain. Bukan soal materi yang kita miliki, tetapi karakter yang kita miliki. Mungkin kita perlu lebih rendah hati, tidak cepat emosi, tidak cepat putus asa dan lain-lain. Momen patah hati terkadang bisa menjadi motivator yang baik untuk meningkatkan hal-hal positif di dalam diri kita.

Bila kita percaya bahwa rancangan Tuhan adalah yang terbaik, patah hati pun menjadi bagian rencana yang baik dari Nya.

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yeremia 29:11

Tuhan memberkati!

Mazmur 34:18
TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.
sumber : www.yesuskristus.com

Rabu, 09 Agustus 2017

IMAN DAN PERBUATAN

Di sebuah kota yang terletak tidak jauh dari kota Paris sedang diadakan atraksi sirkus yang luar biasa besar. Pertunjukkan utama dari sirkus ini adalah Mr Leon sang pemberani. Mr Leon dikenal mampu menaklukkan binatang-binatang buas, mulai dari buaya, singa, hingga harimau. Tidak butuh waktu lama bagi pihak panitia untuk menghabiskan tiket yang mereka jual.


Tibalah hari pertunjukkan yang dinanti. Penonton memadati kursi-kursi yang disediakan. Tentu saja mereka menunggu atraksi dari Mr Leon. Setelah beberapa hiburan pembuka, musik gegap gempita menyambut kehadiran Mr Leon. Pembawa acara pun memperkenalkan si bintang sirkus yang terkenal . "inilah dia Mr Leon sang pemberani! ". "Hari ini Mr Leon akan menunjukkan keberaniannya berenang di kolam yang penuh buaya lapar, apakah penonton yakin ia akan selamat?"

Para penonton pun bertepuk tangan dan berseru bahwa mereka yakin. Sebelum Mr Leon berenang di kolam yang penuh buaya, seekor ayam hidup dimasukkan ke dalam kolam, dan tidak lama kemudian buaya-buaya mulai memangsa ayam tersebut. Penonton terpekik karena terkejut. Setelah ayam malang itu habis dimakan buaya, Mr Leon segera menceburkan diri ke dalam kolam buaya. Ia berenang berputar-putar dan tidak seekor buaya pun mengganggunya. Penonton pun bertepuk tangan dan bersorak sorai.

" Agar atraksi lebih seru, Mr Leon akan berenang sambil memanggul seekor ayam hidup, apakah penonton percaya bahwa Mr Leon dan ayamnya akan selamat?" Penonton pun berseru "Percaya!" dan mereka bertepuk tangan. Seekor ayam kemudian diletakkan di atas bahu Mr Leon yang kemudian berenang sambil membawa ayam tersebut mengitari kolam. Buaya-buaya mendekati mereka tetapi tidak menggigit Mr Leon maupun si ayam.

Kali ini penonton bertepuk tangan dengan lebih meriah. "Baiklah penonton, agar lebih seru, kami ingin minta satu sukarelawan untuk berenang bersama Mr Leon di kolam buaya!" Penonton awalnya bertepuk tangan, tetapi tidak ada satupun yang bersedia berenang bersama Mr Leon di kolam buaya. Sampai beberapa kali pembawa acara mengulangi permintaan sukarelawan, tetapi tidak ada tanggapan. Suasana arena sirkus menjadi sepi dan para penonton berdiri bersiap untuk pulang.

Tiba-tiba terdengar teriakan seorang anak kecil. "Saya mau!" Penonton melihat anak tersebut dengan heran. Anak tersebut kemudian berjalan menuju ke kolam buaya. Lalu Mr Leon perlahan-lahan membimbing anak tersebut untuk bersamanya memasuki kolam buaya. Para penonton begitu tegang melihat mereka. Mr Leon menggendong anak tersebut di atas bahunya , mereka memasuki kolam buaya dan mengelilinginya. 

Buaya-buaya mendekati mereka tetapi tidak menyerang mereka berdua. Sampai akhirnya Mr Leon dan si anak naik dari kolam menuju ke tempat pembawa acara. Penonton pun bersorak sorai dan bertepuk tangan dengan sangat meriah. Tidak lama kemudian acara sirkus berakhir dan penonton pulang dengan puas.

Seorang kru TV yang meliput atraksi Mr Leon kemudian mendatangi si anak yang menjadi sukarelawan. Ia sangat penasaran dengan keberanian si anak. "Nak kenapa kamu berani berenang di kolam buaya bersama Mr Leon?" tanyanya. "Tentu saja aku berani, karena Mr Leon adalah ayahku dan aku percaya ia mampu mengatasi buaya-buaya itu" jawab si anak.
----------------------
Seringkali kita mudah berteriak percaya atau Amin. Tetapi apakah iman itu benar-benar dipraktekkan ketika berada dalam kesulitan? Atau kita memiliki iman seperti si anak yang percaya bahwa Bapa nya bisa mengatasi segala kesulitan.

Tuhan memberkati

Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Yakobus 2:17
sumber : www.yesuskristus.com

Sabtu, 05 Agustus 2017

BERTAHAN DALAM IMAN


Di klinik tumbuh kembang tempat saya bekerja dulu, saya menangani berbagai macam klien anak dengan gangguan perkembangan. Mulai dari yang mengalami gangguan autisme, keterlambatan berbicara, keterlambatan dari segi kecerdasan, cerebral palsy, down syndrome, dan lain-lain. Ada satu klien yang sampai sekarang meninggalkan kesan yang mendalam untuk saya, terutama dari sikap orangtuanya.

Sebut saja namanya Erni (bukan nama sebenarnya), ia sudah berusia menginjak remaja, sekitar 12-13 tahun, mengalami keterlambatan berbicara dan keterlambatan dari segi kecerdasan. Ditambah lagi adanya gangguan dari struktur tulangnya (skoliosis). Orangtuanya bekerja di dalam pelayanan terhadap mahasiswa, dengan pendapatan yang tentunya tidak banyak.

Di saat harus bekerja di dalam pelayanan dan merawat anaknya yang berkebutuhan khusus, masalah demi masalah terjadi. Salah satunya adalah Erni pernah dianiaya oleh seseorang, dimana pada akhirnya kasus ini menguap begitu saja karena tidak cukupnya bukti, ditambah lagi si oknum dilindungi pihak-pihak tertentu. Ketika masalah ini berlalu, muncul masalah baru lagi, yaitu kondisi tulang Erni yang semakin memburuk sehingga perlu dana yang sangat besar untuk operasi. Orangtuanya sudah berusaha mencari bantuan dana, namun lebih sering mendapat penolakan atau hanya janji-janji belaka. Mereka harus menunggu 1 tahun sampai akhirnya ada sebuah gereja yang memberikan bantuan dana.

Satu hal yang benar-benar membuat saya terharu adalah, baik Ibu maupun Ayah dari Erni tidak pernah sekalipun menyalahkan Tuhan atau mengasihani diri mengenai kondisi anaknya. Ibunya beberapa kali mengatakan (saat konseling mengenai kondisi anaknya) " saya bersyukur Tuhan percayakan anak seperti Erni pasti Tuhan punya rencana yang baik untuk keluarga saya ". Beliau pun di akhir evaluasi mengenai kondisi anaknya, selalu mengajak kami para psikolog yang memantau perkembangan anaknya untuk berdoa bersama. Isi doanya adalah ucapan syukur dan harapan yang baik untuk orang-orang yang sudah membantu perkembangan Erni.

Benar-benar suatu kesaksian hidup yang baik mengenai iman kepada Yesus. 18 tahun mereka melayani di persekutuan-persekutuan mahasiswa, mereka tidak mendapat hidup berlimpah, malah mereka harus merawat seorang anak berkebutuhan khusus, ditambah musibah-musibah yang terjadi. Mudah bagi mereka untuk meninggalkan iman mereka karena seolah-olah sudah ikut Yesus "tidak dapat apa-apa"

Bagi mereka, ketika jaminan keselamatan dari Yesus sudah diperoleh karena iman percaya mereka, itu sudah "lebih dari cukup". 

Saya percaya, salib yang mereka pikul sekarang, suatu saat akan diganti dengan mahkota yang indah dari Tuhan Yesus.

Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia."
Wahyu 17:14b

sumber : www.yesuskristus.com

Selasa, 01 Agustus 2017

BELAJAR TENTANG INTEGRITAS DARI MUTIARA HITAM


Majalah Tempo edisi 3-9 Juni 2013, memberikan pernyataan yang menarik tentang figure Yap Thiam Hien. Yap Thiam Hien mendapatkan gelar minoritas dalam tiga lapisan: Cina, Kristen dan jujur. Pernyataan di majalah Tempo ini menarik karena orang yang jujur dimasukkan ke dalam kategori minoritas. Pada masa kini, orang yang jujur mungkin termasuk pada kategori “langka”. Manusia terjerat untuk menukar kejujuran –yang menunjukkan integritas pribadinya—dengan gelimang harta, kedudukan, kekuasaan, nama baik, dan tawaran menggiurkan lainnya.

Dalam perjalanan ke tanah Papua beberapa waktu yang lalu, saya menjumpai seorang mutiara hitam Kristen yang jujur. Dengan penuh kejujuran dan keberanian, alumnus dari salah satu perguruan tinggi di Surabaya ini berani menyatakan kebenaran. Ia berani mengkritisi para penguasa dari tanahnya sendiri. Ia mengkritisi saluran yang meraup alokasi dana yang seharusnya dinikmati oleh masyarakat Papua di pedalaman. 


Dalam sebuah perjumpaan antara para penguasa dengan perwakilan lembaga internasional yang memberikan bantuan dana bagi masyarakat Papua di pedalaman, dengan lantang ia berkata, “Kalian salah memberikan dana kepada orang-orang ini. Dananya mereka pangkas sehingga masyarakat di pedalaman tidak merasakannya. Desa-desa tetap tidak dibangun. Pendidikan minim dan pelayanan kesehatan sangat buruk”

Sebagai upah dari tindakannya, mutiara hitam ini dibuang selama lima tahun ke desa Sanfarmun, kecamatan Soukorem Papua Barat. Desa ini dianggap sebagai desa yang terisolasi, karena akses transportrasi menuju ke sana sangat sulit. Pada saat saya menuju ke sana bersama dengan rombongan GKI Kayu Putih, kondisinya memang tidak begitu baik. Tidak ada tenaga medis di sana. Hanya ada seorang kepala sekolah di sana dan mungkin satu hingga dua orang guru lainnya. Entah bagaimana kondisi yang harus dihadapi oleh putra daerah ini beberapa tahun yang lalu pada saat ia ditugaskan di desa itu. Mungkin saja kondisinya lebih buruk.

Dalam “pembuangannya”, Ia ditugaskan untuk menjadi mantri selama lima tahun di desa itu. Dengan penuh keberanian, ia menanggung akibat dari integritasnya sebagai manusia yang jujur, yang tak dapat dibeli oleh uang. Yang menarik, ia dapat menikmati hidup bersama dengan masyarakat di tempat pembuangan itu. Ia menata dan mengusahakan kesejahteraan desa tersebut. Ia mendidik masyarakat di Sanfarmun agar tidak mengalami ketergantungan pada suplay beras bulog. Sayangnya, waktu lima tahun memang belum cukup untuk membuat masyarakat untuk menjadi mandiri. Tampaknya, perlu orang-orang yang memiliki cinta yang besar untuk melayani di sana dalam rentang waktu yang lebih lama.

Di akhir percakapan dengan saya, ia mengatakan untaian kalimat yang membuat saya tersentak. Saya merasa Tuhan berbicara kepada saya melalui orang ini. Ia mengatakan, “Walaupun mereka membuang ke tempat ini, saya tetap bertahan. Saya bertahan karena saya hidup untuk Tuhan, bukan untuk penguasa. Tuhan yang memberikan kehidupan kepada saya, untuk apa saya kuatir.” Terima kasih mutiara hitam yang telah memberikan inspirasi bagi saya tentang arti integritas melalui kejujuran dan keberanianmu. Wajah Allah sungguh nyata dalam dirimu.

Jakarta, 17 Juli 2013
YIL
sumber:yesuskristus.com