Sabtu, 30 September 2017

KEKAYAAN HANCURKAN CINTA ANDY DAN HUI MING


Bagaimana cara bertemunya dua insan yang saling mencintai kadang tidak dapat diduga. Contohnya Andy, ia jatuh cinta dengan seorang gadis di Taiwan dan berhasil memboyongnya pulang ke Indonesia.

Wu Hui Ming, gadis Taiwan tersebut kini telah menjadi istrinya. Tetapi, ternyata cinta Andy hanya sebatas asmara saja. Sebagai seorang suami, ia tidak memiliki tanggung jawab. Saat sang istri yang tengah hamil bekerja keras mencari uang dengan berjualan pakaian batik, Andy malah menggunakan uang bahkan perhiasan istrinya untuk taruhan ketika main badminton.

Tidak hanya itu, Andy yang menganggur menolak saat diajak untuk memulai sebuah usaha baru.

"Saya sih tadinya tidak setuju, ngapain sih jualan panci. Tapi ya, karena papa juga marah, ya saya jalankan sambil males-malesan."

Namun, berkat dukungan sang istri, Andy berhasil dalam usahanya. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas tahun, Andy sudah berlimpah dengan harta. Penghasilan per bulan yang mencapai 130 hingga 150 juta membuatnya mampu mengirim anak-anaknya bersekolah di luar negeri. Tetapi, semua keberhasilan itu membuat Andy besar kepala dan lupa diri, bahkan ia tega mengorbankan perasaan istrinya. Dengan uang hasil kerja kerasnya itu, ia merasa memiliki hak untuk melakukan apa saja, termasuk menikmati kehidupan malam.

"Sampai pagi baru pulang, kadang pulangnya mabuk-mabuk gitu," ucap Hui Ming. "Saya sering ingin berpisah dari dia, ingin cerai."

Bukan hanya istrinya yang menderita karena ulah Andy, walaupun bergelimang harta, anak-anaknya pun tidak merasakan kebahagiaan. Anak-anaknya yang berada di luar negeri ternyata juga mengonsumsi minuman keras dan rokok. Hui Ming begitu kaget melihat semua itu saat ia mengunjungi anaknya.

"Kenapa kamu bisa jadi begini?"

"Mama kira uang yang Mama kasih tiap bulan bisa buat bahagia? Bukan itu Ma, yang aku butuhkan itu perhatian dari Mama dan Papa," ungkap anak perempuan Andy.

Keadaan bertambah buruk ketika Andy memutuskan untuk berhenti bekerja. Dengan dalih mencukupi kebutuhan keuangan keluarga, Andy berjudi. Namun, kenyataannya itu bukannya menghasilkan uang, tetapi malah membuat keluarga kehilangan miliaran rupiah karena Andy kalah judi.

Hui Ming yang sudah tidak tahan dengan ulah Andy akhirnya memutuskan untuk bunuh diri demi mengakhiri semua penderitaannya.

"Saya sudah beli obat tikus." Akan tetapi, pada saat kritis itu tiba-tiba Hui Ming teringat pesan seorang teman yang memintanya untuk berdoa kepada Tuhan jika menghadapi masalah. Ia pun berdoa dan berseru kepada Tuhan, dan saat itu Tuhan berbicara secara langsung kepadanya.

"Saya mendengar suara Tuhan, 'Suamimu dan anak-anakmu masih membutuhkan kamu. Kamu adalah orang yang penting. Tugasmu belum selesai.'"

Akhirnya, Hui Ming pun mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Untuk membantu suaminya melunasi utang, ia merelakan semua perhiasannya, rumah, tanah, dan mobil dijual, tetapi semua itu masih belum cukup. Andy pun mencoba meminjam uang pada adik-adiknya. Namun, sekalipun Andy telah memohon-mohon, bantuan tak juga diberikan. Bahkan, mereka memandang rendah dirinya. Hingga suatu hari, seorang teman datang membawa kabar baik kepadanya.

"Dia sepertinya bisa melihat keadaan saya yang letih lesu dan berbeban berat, yang butuh pertolongan," tutur Andy.

Temannya itu membawa Andy untuk mengenal Yesus Kristus yang telah mati dan menebus dosa-dosanya. Namun, baru saja Andy mengenal Kristus, sebuah penyakit menyerangnya dan membuatnya terbaring di rumah sakit. Bahkan, dokter memvonis bahwa penyakit paru-paru yang diidapnya akan segera merenggut nyawanya. Dalam kondisinya yang tidak berdaya itu, Hui Ming, yang selama ini ia kecewakan, merawatnya dengan penuh kasih dan kesabaran.

"Dia melayani saya dengan mulut diam, hal itu membuat saya hancur hati. Saya pikir ini adalah waktu yang paling tepat untuk minta ampun sama istri." Hari itu, di ranjang rumah sakit tempat Andy terbaring, ia mengaku kepada sang istri bahwa ia pernah selingkuh.

Hui Ming sangat kaget dan terluka menghadapi kenyataan itu, tetapi ia mengingat kasih Tuhan yang telah mati menebus dosanya, "Saya harus memaafkan dia, sebab Tuhan juga telah memaafkan saya."

Hui Ming mengusap kepala Andy dengan penuh kasih sayang dan mengatakan bahwa ia mengampuninya. Hal itu membuat Andy seperti mendapat siraman air dari surga. "Saya peluk dia, dan di situ terjadi pemulihan yang dahsyat sekali," ungkap Andy. "Setelah saya mengerti semua ini, saya katakan pada anak istri saya bahwa kita lebih kaya dari siapa pun yang ada di dunia ini."

Kini, Andy telah diubahkan Tuhan menjadi seorang suami dan ayah yang sangat bertanggung jawab kepada keluarganya. "Setelah kami mengenal pribadi Yesus ini, kehidupan kami tidak pernah tidak merasa damai. Damai dan sukacita. Ketika kita mau datang kepada Dia, Dia dapat memberikan harapan hidup yang benar-benar nyata." (Kisah ini ditayangkan 30 Desember 2010 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber Kesaksian: Andy Surya & Wu Hui Ming

Copas :www.sabda.org

Diambil dan disunting dari:
Nama situs : http://www.kisahnyatakristen.com/
Alamat URL : http://www.kisahnyatakristen.com/2011/01/04/kekayaan-hancurkan-cinta-andy-dan-hui-ming/
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 4 Desember 2013


"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."

Selasa, 26 September 2017

KEBENARAN DIBUKAKAN

Saya seorang pria berusia 27 tahun dari keluarga bukan Kristen. Sejak di bangku SMP, saya mulai tertarik dengan pelajaran agama, khususnya mengenai perbandingan agama. Saya juga aktif dalam kegiatan keagamaan di SMP. Saya menjadi lebih tertarik dengan ilmu perbandingan agama setelah saya nonton film tentang Yesus di TVRI bulan Desember 1988, menjelang Natal.
Saya dahulu tidak percaya dengan semua ajaran Kristen, baik itu Allah Tritunggal, dosa warisan, dan ajaran-ajaran Kristen yang lain, khususnya tentang penyaliban Yesus, yang katanya disalib untuk menebus dosa manusia. Ada beberapa pertanyaan yang janggal mengenai penyaliban Yesus, yaitu:
Benarkah Yesus disalib, sedangkan Ia sendiri adalah Tuhan? Bukanlah Tuhan itu maha perkasa? Mungkinkah Tuhan bisa mati di atas kayu salib?
Menurut ajaran agama saya, yang disalibkan adalah Yudas, karena ia telah mengkhianati Yesus dan Allah telah menolong Yesus naik ke langit. Benarkah Yesus disalib?
Saya mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Suatu kali, saya kembali menonton film Yesus yang disiarkan oleh RCTI pada perayaan Paskah. Setelah menonton film tersebut, saya mengirim surat ke sebuah yayasan penginjilan yang tertera di film tersebut dan mereka mengajak saya berdialog tentang ajaran-ajaran Kristen, baik itu tentang Allah Tritunggal, dosa warisan, dan penyaliban Yesus, kematian-Nya untuk menebus dosa kita. Roh Kudus bekerja dan memberikan saya pengertian tentang pertanyaan-pertanyaan saya.
Yesus bersabda, yang tercantum dalam injil Matius 20:17-19, yang berbunyi:
Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:
"Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.
Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."
(Baca pula Markus 8:31, Lukas 18:31-34, Yohanes 12:20-36)
Dari keempat Injil tersebut telah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya: Mengapa Yesus tidak berdaya waktu disalib? Mengapa Yesus tidak melawan dan diam saja padahal Ia adalah Tuhan? Ini jawabnya: karena Tuhan Yesus, di empat Injil sudah memberitahukan bahwa diri-Nya akan menderita, dan penderitaan Yesus itu untuk menggenapi segala yang telah dinubuatkan Allah melalui para nabi sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab Perjanjian Lama.
Jika Tuhan melarikan diri, atau dengan kata lain ditolong oleh Allah naik ke langit dan Allah mengubah wajah Yudas menjadi Yesus, sehingga yang ditangkap dan disalib adalah Yudas, itu sama saja dengan Tuhan yang merusak rencana-Nya sendiri, karena Allah telah menubuatkan melalui para nabi, bahwa Anak Manusia akan menderita dan serahkan kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Ini sama dengan orang yang telah membuat sebuah rencana matang, lalu di kemudian hari ia merusaknya sendiri. Allah adalah Allah yang membuat rencana dan rencana-Nya tidak akan dapat digagalkan oleh siapapun dan tidak mungkin diubah oleh-Nya, karena Ia maha tahu. Jika Allah yang telah membuat rencana, dan rencana-Nya kemudian diubah oleh-Nya oleh karena mungkin ada yang kurang baik dari rencana yang telah Ia buat, maka itu menunjukkan bahwa Allah yang demikian adalah Allah yang kurang maha tahu.
Lalu rencana matang apakah dengan kematian Yesus di atas kayu salib? Rencana matang itu adalah:
Kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib untuk menebus dosa kita, sebagaimana diterangkan dalam surat Roma 5:
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Juga tertera dalam 1 Korintus 15:3-6. Ini artinya, kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib adalah untuk menghapus dan menebus dosa-dosa kita. Ia adalah Tuhan, Juruselamat kita yang perkasa.
Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.
Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi,
dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit."
Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.
Oleh karena pekerjaan Roh Kudus, maka saya boleh mengerti mengapa Tuhan Yesus harus mati di kayu salib. Itu bukan berarti bahwa Ia tidak mampu menolong diri-Nya sendiri, tetapi setiap dosa harus ada penebusan. Karena Allah adalah Allah Yang Maha Suci, sehingga tidak ada kemungkinan manusia yang sudah jatuh dalam dosa dapat menghampiri Allah. Kita dapat datang menghampiri Allah yang Maha Suci, apabila diri kita juga suci. Dan yang menyucikan kita adalah darah Yesus. Darah melambangkan hidup, oleh karena itu dalam Perjanjian Lama ada darah binatang yang dialirkan untuk berdamai dengan Allah dan penggenapannya adalah Darah Anak Allah sendiri, yaitu Yesus yang dialirkan untuk menebus dosa kita.
Dalam Matius 27:1-5, dijelaskan mengenai penyesalan Yudas yang telah menjual Yesus, bahwa ia mati bunuh diri. Ia menyesal, tetapi tidak bertobat. Sedangkan Petrus, yang telah menyangkal Yesus, menyesal dan bertobat. Kematian Yudas pun tertera dalam surat Kisah Para Rasul 1:18.
Oleh karena pengertian yang telah diberikan, maka saya bertobat dan menerima Yesus yang adalah Tuhan, Juruselamat, dan Raja.
Ada satu keinginan saya setelah bertobat, bahwa saya ingin memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus yang telah mati untuk menebus dosa dan telah bangkit dari kematian dan menang atas dosa. Saya terus mendalami akan iman Kristen dengan pemahaman teologia yang benar.
Mengenai kesaksian ini yang dititikberatkan pada kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib adalah semata-mata untuk membuat kita paham mengenai rahasia yang telah Allah berikan kepada kita. Sebenarnya saya juga ingin mengulas tentang Allah Tritunggal, dosa warisan, namun biarlah tentang keduanya itu akan saya buat dalam bentuk buku.
Semua kesaksian mengenai iman saya kepada Kristus ini saya tulis bukan karena paksaan, tekanan, ataupun iming-iming, tetapi oleh karena kemurahan Tuhan yang rela memberikannya kepada saya ketika pencarian kebenaran selama 12 tahun.
Semoga kesaksian ini boleh menjadi berkat dan sebelum mengakhirinya saya ingin mengutip surat Roma 10:9:
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan
Tuhan Memberkati. AMIN
Jakarta, Desember 2002
Budi S.
Copas : www.sabda.org
Diambil dari:
Nama Situs:Pemudakristen.com
Alamat Url:http://www.pemudakristen.com
Penulis:Budi S.
Tanggal Akses:27 April 2014

Jumat, 22 September 2017

KESOMBONGAN MENGHANCURKAN PERSAHABATANKU

Pada saat saya masih kuliah, saya merasa bahwa saya merasa mampu melakukan segala sesuatu dengan kemampuan saya sendiri. Saya semakin senang dan besar kepala ketika teman-teman saya mengakui bahwa saya memang mampu melakukan tugas-tugas dengan benar. Saya menjadi sombong dan meremehkan setiap tugas yang saya dapat karena nilai-nilai saya bagus dan nyaris sempurna. Namun, saya tidak menyadari kalau semua itu berkat dari Tuhan, dan keberhasilan saya hanya karena pertolongan Tuhan.
Hingga pada suatu saat, tepatnya pada semester akhir kuliah saya, saya menghadapi masalah dalam mengerjakan tugas akhir sebagai syarat kelulusan kuliah. Saya sakit selama beberapa hari hingga tidak bisa masuk kuliah. Saya sangat sedih karena selama saya sakit tidak ada seorang teman pun yang datang menjenguk atau memberi informasi terkait dengan mata kuliah maupun keadaan kelas di kampus. Saya sadar bahwa saya sudah ketinggalan banyak materi pelajaran, dan hal ini akan berpengaruh pada kelulusan saya. Setelah saya sembuh, saya segera bertanya kepada teman saya, tetapi mereka tidak memberikan jawaban yang jelas dan seolah tidak memedulikan pertanyaan saya. Dengan kejadian ini, saya diingatkan Tuhan akan kesalahan saya. Selama ini saya tidak menyadari bahwa kemampuan saya itu adalah pemberian Tuhan Yesus; tanpa pertolongan-Nya saya tidak mampu mengerjakan apa pun dengan kekuatan saya sendiri.
Saya mulai sadar apa yang telah saya perbuat, saya terlalu membanggakan diri sendiri, saya begitu sombong dengan kepintaran saya dalam melakukan segala hal, dan cenderung tidak mau kalah dalam berdebat dengan siapa pun. Saya bersyukur Tuhan mengingatkan saya akan kesombongan saya ini. Namun demikian, saya merasa bahwa penyesalan saya ini sudah terlambat karena teman-teman saya tidak ada yang mau memedulikan saya dan menolong saya dengan memberikan penjelasan kepada saya tentang tugas kuliah yang harus saya kerjakan.
Dalam keadaan seperti ini, saya pun segera pulang dan berdoa kepada Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, merendahkan hati, dan meminta pengampunan kepada-Nya karena saya terlalu membanggakan diri sendiri dan sombong. Dan saat itu pula, hati saya digerakkan Tuhan untuk meminta maaf kepada teman-teman saya karena kelakuan saya, kesombongan saya, dan segala kesalahan saya.
Keesokan harinya, saya meminta maaf kepada teman-teman saya, tetapi mereka hanya diam saja. Saya merasa tidak dianggap dan tidak enak hati. Dan, ketika saya mau pergi, ada seorang yang menanggapi permintaan maaf saya dan menjelaskan kepada teman-teman saya bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sama seperti Tuhan mengampuni kesalahan kita. Lalu, ia tersenyum dan mengatakan bahwa dia memaafkan saya. Tidak lama kemudian, teman-teman saya memaafkan saya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus karena melalui sakit yang saya dapat, Dia menyadarkan saya bahwa Dia mengasihi saya dan menghendaki saya untuk rendah hati di hadapan orang, dan terlebih lagi di hadapan-Nya.
Sumber Kesaksian: Yans
Copas : www.sabda.org
"Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkitkan perkara, menceraikan sahabat yang karib." (Amsal 17:9)
http://alkitab.sabda.org/?Amsal+17:9 >

Senin, 18 September 2017

KISAH PERTOBATAN DAN PEMBEBASANKU DARI RASA SAKIT HATI DAN KEBIASAAN BERDOSA

Terpeliharanya hidup tidak bergantung pada seberapa kaya atau cukupnya hidup seseorang. Demikianlah yang terjadi dalam hidupku. Orang tuaku bekerja sebagai wiraswasta, dan hidup kami berkecukupan secara materi. Akan tetapi, keluargaku tidak bahagia karena perhatian dan kasih sayang di antara anggota keluargaku sangat kurang. Pertengkaran satu sama lain sering terjadi, kesalahan kecil pun yang aku lakukan tidak jarang membuatku mendapatkan omelan-omelan kasar yang menyakitkan. Orang tuaku sering mengatakan bahwa aku adalah anak perempuan yang bodoh, tidak cantik, dan tidak menghargai orang tuaku. Hal itu tentu saja membuatku sangat kecewa terhadap mereka.
Aku bertumbuh menjadi anak perempuan yang rendah diri dan penakut. Aku takut orang lain juga akan menolakku dan mengatakan hal-hal buruk tentang diriku. Akhirnya, aku mencari pelarian ke pendidikan, aku menyibukkan diri untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dan pelajaran-pelajaran yang kudapatkan. Aku mengejar kepopuleran. Aku memang berhasil menjadi juara kelas terus, bahkan terpilih juga sebagai siswa teladan sewaktu SD dan SMP. Namun, aku tidak bahagia dan tidak merasa puas karena aku selalu hidup dalam ketakutan. Di sisi lain, aku menjadi sombong dan sering merendahkan teman-temanku. Aku tahu dan sadar bahwa semua yang aku perbuat itu tidak benar.Meskipun aku selalu rajin beribadah di gereja dan aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani, tetapi aku tidak mampu keluar dari dosa-dosaku dan sakit hati yang menjeratku. .SUNGGUH SANGAT MENGENASKAN!!!
Suatu hari, ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP, ada seorang siswa SMA yang menjelaskan kepadaku tentang status semua orang di dunia dan hukuman di balik semua itu. "Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23), dan upah bagi semua orang yang berdosa adalah maut atau kematian kekal di neraka.
Jelas aku tidak mau mendapatkan tempat di neraka! Karena itu, aku mengakui dosa-dosaku waktu itu dan tidak mau mengulanginya lagi. Lalu, aku memohon pertolongan Tuhan Yesus yang telah mati bagiku di kayu salib untuk menebus dosa-dosaku. Aku juga mengundang-Nya masuk ke dalam hatiku sebagai Tuhan yang berhak mengatur hidupku dan sebagai Juru Selamatku secara pribadi. Aku tidak mau terus-menerus hidup dalam dosa-dosaku, keminderanku, dan rasa sakit hatiku.
Setelah aku berdoa, aku merasa lega sekali. Aku sangat bersukacita. Aku berjumpa dengan Pribadi yang mengasihiku dan yang tidak akan menyakitiku. Aku juga sangat yakin kalau dosa-dosaku sudah diampuni dan aku memperoleh jaminan dari Tuhan Yesus bahwa aku tidak akan masuk neraka. Sebab, itulah janji-Nya dalam Yohanes 5:24, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup." Karena aku sudah diampuni, mulai saat itu aku belajar mengampuni orang tuaku dan menghargai teman-temanku. Aku memang tidak selalu berhasil, terkadang aku masih jatuh bangun. Namun, aku tidak takut karena keselamatanku tidak akan hilang. Keselamatan yang kuperoleh dari Tuhan Yesus ini bukan karena jerih lelahku. Sejak waktu itu, Tuhan Yesus semakin mengubah hidupku lewat firman-Nya yang kupelajari dalam kelompok Pemahaman Alkitab. Bersama teman-temanku, aku belajar suatu kebenaran bahwa hidupku ini penting dan berharga. Aku tidak perlu takut dan minder lagi. Semakin hari, aku semakin mengenal Tuhan dan kasih-Nya. Oleh karena itu, aku semakin dipuaskan dengan sukacita yang sejati.
Maukah kamu mengalami seperti yang aku alami? Mendapatkan keselamatan jiwa dan kebebasan? Datanglah kepada Tuhan Yesus dan mintalah pengampunan dari-Nya atas dosa-dosamu. Terimalah Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu secara pribadi. Kamu pasti bisa merdeka dari dosa dan hukuman kekal. Tuhan Yesus mengasihi kita.
Sumber Kesaksian: Ester Winarsih
Copas : www.sabda.org
"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15)


Kamis, 14 September 2017

DARI ATHEIS SEJATI, JADI PENGIKUT KRISTUS



Tahun 1967, tanggal 17 Februari, umurnya 38 tahun.

Hukuman 18 tahun telah mengunci seluruh hidupnya di balik terali besi, penjara khusus wanita di Tangerang. Segala kehormatan yang ia sandang sebagai pejuang wanita pada masa perang kemerdekaan (clash I -- agresi militer Belanda, Red. -- tahun 1946 -- 1947 dan clash II tahun 1949), wartawan internasional, penulis muda berbakat, penerjemah resmi negara, dan aktif di organisasi GWDS (Gabungan Wanita Demokratik Sedunia) pada zaman pemerintahan Orde Lama, telah sirna, diganti dengan tuduhan anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) dan pembela Soekarno. Kakinya yang sangat lincah melompat dari negara satu ke negara lain di Eropa untuk tugas negara, sekarang meringkuk di dalam sel. Tidurnya hanya beralas tikar. Bukan hanya tubuhnya yang dipenjarakan dan mengalami berbagai penganiayaan mental dan fisik yang mengerikan, tetapi juga seluruh potensi dan masa depannya mati.

Suatu hari, sesudah 8 tahunan di dalam penjara, seorang pria Belanda, Hoekama, menengok kawannya yang terlibat masalah narkotika internasional dan dipenjara di samping selnya. Hoekama menyempatkan diri menemuinya juga dan mengajaknya berdoa. Sebagai seorang ateis sejati, wanita ini hanya diam, hitung-hitung menjadi hiburan karena setelah bertahun-tahun, inilah satu-satunya orang yang mau peduli kepadanya.

Sejak itu, mereka berteman. Hoekema inilah yang kemudian mengusahakan kesejahteraan di penjara bagi teman barunya itu. Entah karena pemerintah takut orang Belanda ini akan berbicara kepada dunia internasional atau memang kebijaksanaan negara sudah berubah, yang pasti mulai ada perbaikan di selnya. Ia mendapat kasur dan jam untuk mengobrol di luar sel. Ia juga boleh ikut kegiatan koor, menyulam taplak meja makan dan sapu tangan, merajut syal, dan tidak ketinggalan, menulis. Hoekema dan kerabatnyalah yang menyediakan semua bahan dan menjualkan karya-karyanya. Uang penghasilannya ini pun ditabungnya.

Sesudah masa tahanan selama 16 tahun, yakni pada tahun 1983, wanita ini mendapat keringanan hukuman. Dibebaskan, tetapi harus melapor setiap bulan. Namun, kebebasan ini ternyata tetap membuatnya terbelenggu. Karena sudah sekian lama tidak menghirup udara luar, ia jadi gagap berteknologi, berhubungan dengan orang lain, dan bermasyarakat. Ditambah lagi, tidak ada seorang pun yang mau mendekat, apalagi menampungnya. Embel-embelnya sebagai "eks tapol" (mantan tahanan politik) membuat orang-orang takut. Kalau terlalu dekat, ada risiko dituduh pemerintah sebagai orang yang terlibat dengan PKI, yang nantinya akan mendapat sanksi. Isu ini masih sangat kuat pada waktu itu.

Hanya teman Belandanya inilah yang berani menampung di lingkungan gerejanya. Di komunitas gereja ini, wanita tersebut menerima Yesus sebagai Tuhannya. Dan, dari orang-orang dalam gereja inilah, ia mendapat penerimaan dan kesempatan mencari sertifikat penerjemah bahasa Belanda di Erasmus Huis dan sertifikat guru bahasa Inggris di LIA (Lembaga Indonesia Amerika), Jakarta. Lalu, ia juga menjadi penerjemah dan pengajar bahasa Inggris di beberapa LSM seperti Kalyana Mitra, Solidaritas Perempuan, dan Yasalira. Selain itu, ia juga bekerja di berbagai Kedutaan Asing sambil tetap menulis. Tulisannya sering mendapat penghargaan internasional dan beberapa bukunya diterbitkan oleh penerbit besar di Indonesia. Buku yang ia tuliskan antara lain: "Terempas Gelombang Pasang" (2003, oleh Penerbit ISAI), "Mereka yang Tersisih" (kumpulan 18 cerpen dalam bahasa Inggris oleh Yayasan Lontar) serta "In a Jakarta Prison" (oleh Yayasan Lontar) yang mendapat penghargaan di Hawai University dan Harmlet Award.

Kamis, 6 September 2007, Tuhan memanggilnya. Dalam sebuah upacara pemakaman yang dijalankan secara kristiani, teman-temannya datang memberikan penghormatan terakhir.

Sebuah inisiatif seorang Belanda untuk mendoakan orang yang tidak punya harapan, dianggap sampah negara, momok masyarakat, dikucilkan orang, dan tidak dikenalnya ini, bukan hanya membawa wanita tadi dari ateis sejati menjadi orang yang percaya Kristus dan Injil, serta mengembalikan seluruh potensinya, tetapi juga menyebarkan dampak luar biasa. Bukan hanya sejumlah temannya yang ateis juga kemudian menjadi orang yang percaya Yesus dan aktif dalam pelayanan, melainkan setiap hubungan yang ia bangun dengan orang-orang di berbagai kedutaan tempat ia bekerja, murid-murid yang ia ajar, dan juga pembaca-pembaca karyanya di seluruh dunia, telah menerima dampak kepercayaan serta nilai-nilai yang baru ia yakini tersebut.

Wanita itu bernama Sujinah. Ia adalah Bude saya, kakak kandung bapak saya. Kisahnya menegaskan dampak dari sebuah inisiatif. Sungguh-sungguh ada kuasa di dalam inisiatif.

Diambil dan disunting dari:
Judul buku : Aku Takkan Menyerah
Judul artikel : Dari Ateis Sejati, Jadi Pengikut Kristus
Penulis : Retno Palupi
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta:2010
Halaman : 98 -- 100



"maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah." (Amsal 2:5

Copas : www.sabda.org

Minggu, 10 September 2017

KESAKSIAN PERTOBATAN TEVANNUS

Nama saya Tevannus, 19 tahun. Dasar kepercayaan keluarga saya adalah Buddha, tetapi dari kecil saya sudah mengenal nama Yesus Kristus dalam kepercayaan Kristen. Awalnya, saya juga pernah ikut acara sekolah minggu, tetapi pada saat remaja semua itu tidak ada artinya lagi bagi saya. Saya makin tumbuh menjadi anak yang memberontak, melawan orang tua, sombong, berkata-kata yang tidak pantas dan kasar. Saya sering menghina dan memperdaya orang. Saya menjadi seorang pendendam, egois. Lebih naas lagi karena saya jatuh dalam banyak dosa perkelahian dan dosa pornografi.
Ini semua berlanjut sampai saya duduk di kelas 3 SMA. Dalam hati kecil saya, saya sadar kalau hidup saya ini adalah hidup dengan cara yang salah. Saya tahu tentang Tuhan, tetapi itu hanya agama belaka. Artinya, saya pergi ke gereja baik-baik, tetapi setelah pulang dari gereja, sifat-sifat lama saya kembali lagi.
Satu hari, saya tidak tahan lagi dan ingin mengubah hidup saya yang kosong ini. Saya hanya berseru kepada Tuhan dalam doa saya, "TUHAN, AKU MAU BERUBAH, BANTU AKU." Tuhan menjawab doa saya. Kurang lebih dua minggu setelah itu, saya bertemu seseorang yang menceritakan tentang Injil di Mall Season City. Kami berbincang sejenak dan saat itu saya benar-benar merasa bahwa apa yang dikatakan orang ini menjamah hati saya dan dengan tantangan yang dia berikan, saya akhirnya mengambil keputusan untuk bertobat saat itu juga. Setelah saya berdoa pertobatan itu, saya langsung mengingat seruan saya kepada Tuhan dua minggu lalu.
Saya sekarang mengerti bahwa Tuhan itu sangat baik, Dia tetap menunggu sampai saya sendiri mengambil keputusan untuk mencari-Nya. Saya yakin pengalaman ini bukan kebetulan, dan ini adalah rencana Tuhan. Orang yang membawa pesan Injil itu sekarang menjadi pastor saya, dia bernama Pastor Alvin.
Saya percaya Tuhan akan membantu saya, Pastor Alvin juga membantu saya dan orang-orang lain untuk mengalami pertobatan di dalam Kristus. Sekarang, saya sedang berusaha untuk menghancurkan sifat-sifat lama saya. Saya memohon kepada Tuhan, kiranya Tuhan selalu menolong saya sehingga saya tidak lagi diperbudak oleh Iblis.
Saya bangga bisa menjadi pemenang. Hidup lama sudah saya tinggalkan. Kini, saya sangat bangga menjadi anak Tuhan yang sejati.
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9)
http://alkitab.sabda.org/?1yohanes+1:9 >
Copas : www.sabda.org

ALLAH MENGUBAH HIDUPKU

Chandra adalah seorang penduduk yang tinggal di wilayah Andhra Pradesh, India. Dia mempunyai sebuah panti asuhan dimana dia merawat orang-orang yang membutuhkan pertolongan -- anak yatim piatu, para janda dan orang-orang cacat. Chandra bekerja keras merawat dan mengasihi mereka. Tapi dulu Chandra bukanlah orang yang seperti itu. Berikut ini adalah kesaksiannya :
  • Seorang pria meninggal karena kebencianku pada Allah dan semua orang Kristen. Tujuan hidupku adalah menghajar setiap orang Kristen yang kulihat sedang menceritakan tentang Allah dan Kasih-Nya. Kadang- kadang aku membakar Alkitab mereka dan menyobek-nyobek traktat yang mereka bagi-bagikan lalu membuangnya ke tempat sampah. Temanku dan aku juga membakar tas dan pakaian mereka. Keinginanku adalah membunuh semua orang Kristen yang kutemui.
  • Pada waktu itu, aku telah memiliki sebuah toko perhiasan yang dibantu oleh 10 orang pekerja. Hasil pendapatan dari toko selalu kuhambur- hamburkan untuk memenuhi segala sesuatu yang memberiku kepuasan.
  • Ada 3 orang pendeta yang biasa berkunjung ke toko dan mendoakanku. Suatu hari, sesaat setelah ketiga pendeta itu memasuki toko, aku segera menutup semua pintu dan memukuli mereka. Aku lepaskan pakaian mereka dan membakar pakaian tsb. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa kecuali memandangiku. Karena pukulan-pukulan yang dilancarkan ke tubuh mereka, salah satu dari pendeta itu meninggal dunia. Polisi menangkapku dengan tuduhan pembunuhan dan aku dihukum penjara seumur hidup. Aku berdoa memohon bantuan kepada para dewa yang kusembah agar membebaskanku dari penjara, tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi.
  • Suatu hari, seorang pendeta datang berkunjung ke penjara. Dia menceritakan kepada semua narapidana tentang Allah dan bagaimana Dia telah mengutus Yesus Kristus, Anak-Nya, agar datang ke dunia untuk disalibkan sehingga barang siapa yang percaya pada-Nya akan mendapatkan pengampunan. Lalu, pendeta itu membagi-bagikan traktat yang kemudian mulai kubaca. Semenjak saat itu, hidupku mulai berubah. aku mulai suka membaca Alkitab -- buku yang sebelumnya sangat kubenci dan pernah kubakar. Aku mulai belajar berbicara dengan Allah.
  • Setahap demi setahap, tingkah lakuku mulai berubah. Karena tingkah lakuku baik selama di penjara maka kepala penjara mengusulkan namaku pada pemerintah setempat agar memberikan kebebasan. Akhirnya aku bebas -- bebas dari penjara dan bebas dari rasa benci yang selama ini telah menguasai hidupku.
  • Sekarang aku mulai menceritakan kepada orang-orang yang kutemui tentang semua yang telah Allah kerjakan dalam hidupku dan apa yang dapat Ia kerjakan dalam hidup mereka. Kebencianku telah diubah-Nya menjadi rasa kasih. Aku sekarang rindu memberi pertolongkan kepada mereka yang membutuhkan."
  • Sumber: S O O N, Issue no. 169
    Copas : www.sabda.org
    Diambil dari:
    Nama situs:e-MISI
    Alamat URL:http://www.sabda.org/misi/saksi_isi.php?id=37
    Judul artikel:Allah Mengubah Hidupku
    Penulis artikel:Anonim
    Tanggal akses:8 Juni 2016

    Rabu, 06 September 2017

    PERJALANAN DOA CAREN YANG MENYAKITKAN

    Perjalanan saya dimulai pada bulan Mei dengan perasaan pegal di bagian belakang leher saya.
    Perasaan itu muncul dan hilang, jadi saya hanya menganggapnya sebagai kelelahan. Ketika minggu demi minggu berlalu, sensasi kaku pada leher saya terus-menerus muncul dan hilang. Saya pun mulai mengalami sakit kepala ringan.
    Tidak bertambah baik, malahan bertambah buruk: Saya menggonta-ganti bantal belasan kali, tetapi itu tidak membantu.
    Pada bulan Juli, saya merasakan sakit dan kekakuan pada leher saya setiap kali saya menoleh. Saya tahu ada sesuatu yang salah, tetapi berpikir bahwa dengan cukup istirahat kondisi itu akan menjadi lebih baik. Bulan Agustus datang, dan begitu pula serangkaian gejala yang baru. Selain sakit yang terasa di seluruh kepala, saya merasakan sensasi dingin di tulang belakang dan tekanan kuat di kepala saya. Saya pusing dan tidak bisa berpikir jernih. Mata saya kabur, dan ada begitu banyak tekanan di kepala saya hingga telinga saya berdenging. Semua otot di leher saya mengalami kekejangan. Sakit kepala ada di angka 10 pada skala nyeri.
    CT Scan
    Tidak ada bantuan dari para dokter:Tidak ada perbaikan kondisi melalui semua perawatan yang diberikan oleh dokter kepada saya. Saya menjalani pemeriksaan X-ray dan CT Scan yang tidak menunjukkan kelainan apa pun.
    Pada bulan September, seorang dokter spesialis mengatakan bahwa leher saya keseleo parah dan karenanya membutuhkan terapi fisik. Saya menjalani enam minggu terapi fisik, tetapi itu tidak membantu. Pada bulan Oktober, otot leher saya terkunci, dan sakit kepala yang mengerikan dan gejala-gejala lainnya muncul kembali. Saya melakukan semua yang saya tahu untuk mengurangi rasa sakit. Tidak ada yang membantu.
    Namun, pada awal Desember, saya mulai merasakan bahwa kondisi saya mengalami kemajuan. Saya telah memperoleh hampir semua gerakan persendian saya walaupun masih disertai rasa sakit. Tiga hari sebelum Natal, semua itu terjadi lagi. Saya mengalami tiga hari penderitaan sepanjang musim Natal.
    Perjalanan doa yang menyakitkan: Kali ini, saya merasa benar-benar kalah secara fisik dan emosional. Saya benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk melawan lagi. Pada saat itulah, Allah menunjukkan bahwa saya sudah sampai pada batas untuk melakukan semuanya dengan kekuatan saya sendiri, dan bahwa sudah waktunya saya percaya kepada-Nya untuk menyembuhkan saya.
    Proverbs
    Dia memimpin saya ke suatu bagian dalam kitab Amsal yang menantang kita agar tidak bersandar pada pemahaman kita sendiri, tetapi mengakui Dia dalam semua yang kita lakukan, dan Dia akan mengarahkan langkah-langkah kita.
    Selama berbulan-bulan, saya telah mengandalkan diri sendiri dan pengobatan modern untuk melakukan apa yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Jangan salah paham, saya sangat menghargai pengobatan modern, tetapi pengobatan modern hanya berfungsi mendukung pemulihan kondisi tubuh. Hanya Allah yang benar-benar dapat menyembuhkan.
    Perubahan paling penting yang terjadi pada diri saya adalah perubahan dalam hubungan saya dengan Tuhan. Saya mulai berdoa setiap pagi dan sepanjang hari. Saya menghabiskan waktu bersaat teduh setiap hari dan mendengarkan musik penyembahan. Saya memfokuskan waktu dan energi saya kepada Dia.
    Saya segera menyadari bahwa saya perlu memutuskan dalam hati saya bahwa saya akan mengasihi dan menghormati Dia, entah Dia akan menjawab doa saya dan memberi saya kesembuhan atau tidak.
    Hal itu terbukti menjadi tantangan bagi saya. Saya harus percaya dengan segenap hati bahwa Allah memiliki tujuan dalam segala hal, termasuk rasa sakit saya.
    Saya memutuskan mempertahankan iman saya dengan kuat, tidak peduli apa pun yang terjadi. Rasanya begitu damai ketika saya menyerahkan besarnya kekhawatiran dan rasa frustrasi atas situasi saya kepada Tuhan.
    Sebuah kedamaian yang melampaui segala akal: Saya mulai menikmati hari-hari saya lagi, bahkan dengan menanggung rasa sakit. Sungguh menakjubkan bagaimana Allah mengubah kita dari dalam ke luar.
    <a target='_blank' href='http://alkitab.mobi/?Markus+11:24'>Markus 11:24</a>
    Saya mulai berlutut dan berdoa dengan anak-anak saya setiap hari. Setiap hari, saya berusaha mengadopsi sikap Kristus. Sikap hidup saya masih jauh dari sempurna dan sering gagal, tetapi saya terus berusaha. Setelah menimbang selama satu minggu, akhirnya saya memutuskan kembali ke gereja. Seluruh keluarga saya pergi dengan saya.
    Pada akhir ibadah, pendeta bertanya kepada saya apakah saya ingin didoakan. Saya sangat tersentuh oleh tawarannya. Saya bukan tipe orang yang nyaman meminta bantuan. Namun, Allah telah menggerakkan mereka untuk berdoa bagi saya. Itu adalah berkat yang mengubah hidup! Pendeta dan beberapa penatua jemaat mendoakan saya dan mengurapi kepala saya. Mereka mengatakan kepada saya bahwa Tuhan telah memberi saya kesembuhan, tetapi yang saya perlu pikirkan adalah bahwa Setan masih akan menguji iman saya. Mereka mendorong saya supaya tetap kuat dan membiarkan penyembuhan dari Allah mengalir.
    <a target='_blank' href='http://alkitab.mobi/?Markus+9:23'>Markus 9:23</a>
    Saya berharap, saya bisa mengatakan bahwa saya telah bangkit dari kursi dan tidak pernah merasa sakit lagi. Saya secara perlahan-lahan mulai merasa lebih baik sepanjang hari. Pada malam itu, saya merasakan sakit yang sangat minim, dan bisa merasakan bahwa kekuatan saya sudah kembali. Rasa sakit saya semakin memudar setiap hari, sampai saya sadar bahwa sepanjang hari saya tidak lagi merasakan sakit. Saya sekarang telah bebas dari sakit!
    Jalan-Nya selalu lebih tinggi: Saya bersyukur kepada Tuhan atas pencobaanyang saya alami karena itu menarik saya lebih dekat kepada-Nya melalui satu-satunya cara yang memungkinkan. Iman dan kepercayaan saya pada kekuatan dan kasih Allah yang luar biasa naik ke tingkat yang baru. Saya harap cerita saya akan memperkuat iman Anda, dan Tuhan akan memberikan keajaiban Anda sendiri untuk dibagikan! (t/Jing-Jing)
    Copas : www.sabda.org
    Diterjemahkan dari:
    Nama situs:Sunday Post
    Alamat situs:http://www.​nagalandpost.com/SundayPost/ArticleShow.​aspx?sid=UzEwMDAwMDc4Nw%3D%3D
    Judul asli artikel:A painful prayer journey
    Penulis artikel:Caren
    Tanggal akses:3 Oktober 2016

    Sabtu, 02 September 2017

    PENYERTAAN TUHAN SUNGGUH NYATA

    Oleh: Matahari
    Dahulu, saya memang sudah di dalam Tuhan, tetapi setelah masuk SD, saya berubah pikiran. Saya yang tadinya ceria, jadi tidak ceria lagi, dan saya pun merasa terkucilkan di sana. Rasanya, saya ingin sekali marah. Teman-teman saya tidak mau mendekat kepada saya hanya karena saya beragama Kristen. Itu membuat iman saya goyah tentunya. Hanya setahun saja saya mempertahankan iman saya, dan pada tahun berikutnya saya telah menduakan Tuhan. Saya malu dengan lingkungan saya, bahkan guru agama di sekolah saya pun ikut mengejek saya. Akhirnya, dengan keputusan bulat, saya memutuskan pindah ke agama lain semenjak kelas dua SD. Awalnya, saya merasa lebih baik, tetapi entah kenapa, masalah datang menghampiri saya satu per satu. Sejak itu, saya jadi korban perundungan (kekerasan verbal). Saya disebut sebagai anak adopsi. Saya dirundung habis-habisan, sampai-sampai ibu saya marah dan jengkel dengan tingkah laku seorang anak kaya yang merundung saya. Dia merasa menang karena dia kaya. Dia punya ayah yang kaya, rumah bagus, dan pendidikan orangtuanya tinggi, sedangkan saya tidak punya apa-apa. Rumah pun dari anyaman bambu dan orangtua tidak sempat mengenyam pendidikan, hanya seorang petani yang setiap hari mengurus ladang.
    Hope
    Masalah itu terus berlanjut sampai saya menjadi korban gosip di kampung saya sendiri. Di sekolah pun, saya mengalami penolakandan tidak ada seorang pun yang menghargai saya. Saat saya sudah kelas empat SD, saya baru menyadari bahwa keputusan saya untuk pindah ke agama lain adalah perbuatan bodoh. Saya belum bisa memikirkan risiko seperti apa yang akan saya tanggung nantinya karena saat saya menduakan Tuhan, saya masih kecil, masih duduk di kelas satu SD. Namun, terjadi peristiwa yang menakjubkan ketika saya kelas empat SD. Saya terjatuh dan kaki saya harus dioperasi. Alhasil, saya tidak bisa berjalan selama satu bulan, bahkan untuk bangun pun terasa sulit. Saat itu, saya merasa lumpuh. Akan tetapi, setelah beberapa minggu, saya bisa berjalan dengan sempurna. Lalu, ada seorang pendeta datang ke rumah saya. Saya sempat bingung dan bertanya-tanya. Setelah saya mengenalnya cukup lama, beliau bertanya, "Mengapa saya menduakan Tuhan?" Saya menjawab dengan spontan, "Saya malu dengan lingkungan sekolah saya, semua orang mengejek saya." Semenjak itu, pendeta itu terus membimbing saya.
    Akhirnya, saya mengambil keputusan, "Saya berjanji saat saya SMP nanti saya akan kembali mengikut Tuhan." Sampai pada waktu itu, saya masih menganut dua agama. Ketika saya kelas satu SMP, saya membuktikan janji saya. Saat itu, teman seangkatan saya semasa SD tidak percaya. Saya disebut sebagai orang murtad dan paling berdosa, dan dosa saya tidak bisa diampuni jika saya tidak memeluk agama yang mereka anut. Saya hanya bergeming dengan perkataan itu. Waktu itu, saya mulai bertingkah nakal. Pergaulan saya mulai tidak terkontrol. Pagi hari, saya berangkat sekolah, dan pukul empat pagi keesokan harinya, saya baru pulang. Atau, bahkan tiga hari saya tidak pulang ke rumah. Tindakan itu sudah biasa saya lakukan. Saya pun sering keluar-masuk ruang BP (Bimbingan Konseling di sekolah - Red.) semasa SMP. Sampai pada saat itu, masalah yang berat datang lagi. Saya kembali menjadi korban perundungan dan bahan cemoohan orang. Saya dikerjai orang dan dijauhi teman. Ketika di gereja, seseorang mengatakan kepada saya, "Nak, ini semua ujian buat kamu. Apa kamu sanggup menjadi orang Kristen yang berani memikul salib?" Saya terdiam merenungi pertanyaan itu.
    Saat di sekolah, saya juga menjadi bahan cemoohan kakak-kakak kelas saya. Sampai-sampai saya menganggap mereka itu musuh terbesar saya. Saya sempat berpikir, apakah sebaiknya saya keluar saja dari sekolah ini? Rasanya, saya tidak kuat dengan masalah ini. Tetangga di rumah pun terus bergosip mengenai saya. Suatu saat, saya bertemu dengan kakak senior saya di gereja. Dia mengatakan kepada saya, "Dik, sebenarnya kakak ingin menganggap kamu sebagai adik saya sendiri, tetapi kakak tidak ingin kamu seperti ini, pergaulan kamu itu tidak benar, apa kamu mau berubah untuk kakak?" Pertanyaan itu sangat menyentuh, dan akhirnya saya berubah. Saya jalani masa-masa sulit itu dengan penuh semangat. Di gereja, saya semakin dikuatkan. Saat itu, muncul lagi masalah di kampung saya; saya disebut sebagai "perempuan tidak benar" yang punya hubungan dengan seorang anak pendeta. Karena saat itu, saya belum punya kendaraan sendiri. Jadi, setiap Sabtu, saya pasti dijemput untuk ibadah pemuda-remaja di gereja. Mendengar sebutan itu, saya hanya diam saja. Saya mencoba melakukan aktivitas seperti biasa dan saya hanya mengatakan, "Ada saatnya saya menang dan orang itu akan malu dengan perbuatannya." Saya juga tidak peduli jika pemuda-pemudi di kampung saya itu memusuhi saya.
    Tetap Setia
    Ketika saya menjadi "trending topic" di desa saya, ada dua berita yang membuat mereka semua tercengang. Berita pertama, kakak kelas saya mengandung di luar hubungan pernikahan, dan teman saya yang lain juga mengandung tanpa kejelasan siapa ayahnya. Mendengar hal itu, saya menjadi tertegun. Seiring waktu berjalan, saya tidak lagi menjadi "trending topic", dan saya mulai lega. Saat itu, saya sudah berubah total. Saya tinggalkan kebiasaan saya bermain di luar rumah, saya tinggalkan pergaulan saya. Saya mulai aktif di gereja dan mulai diikutkan dalam pelayanan. Dan, pada saat SMK, saya mulai mengerti apa arti dari semua peristiwa yang pernah saya jalani. Semua mulai berjalan baik. Ya, walaupun ada masalah, tetapi tidak seberat yang lalu. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan masih mau memenangkan saya walaupun saya adalah orang yang sangat berdosa. Ia pun masih mau meneguhkan iman saya. Iman saya dibentuk agar semakin dewasa. Ketika iman saya mulai tumbuh dewasa, tentu makin besar pula rintangan yang harus saya hadapi. Akan tetapi, saya percaya, Tuhan pasti sanggup menolong saya.
    Saat kita percaya dan kita tetap mengandalkan Tuhan dalam hidup kita, kita akan yakin bahwa Tuhan yang akan menolong kita. Saya tidak berjanji bahwa Tuhan akan selalu menolong pada saat itu juga ketika kita membutuhkan pertolongan, tetapi saya yakin bahwa Tuhan sanggup membuka jalan bagi kita semua. Seperti dikatakan dalam Amsal 19:21, "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." Jadi, apa pun yang direncanakan manusia itu bisa dilakukan, tetapi Tuhanlah yang menentukan akhir dari rancangan itu sendiri. GBU All.

    Copas : www.sabda.org