Sabtu, 02 September 2017

PENYERTAAN TUHAN SUNGGUH NYATA

Oleh: Matahari
Dahulu, saya memang sudah di dalam Tuhan, tetapi setelah masuk SD, saya berubah pikiran. Saya yang tadinya ceria, jadi tidak ceria lagi, dan saya pun merasa terkucilkan di sana. Rasanya, saya ingin sekali marah. Teman-teman saya tidak mau mendekat kepada saya hanya karena saya beragama Kristen. Itu membuat iman saya goyah tentunya. Hanya setahun saja saya mempertahankan iman saya, dan pada tahun berikutnya saya telah menduakan Tuhan. Saya malu dengan lingkungan saya, bahkan guru agama di sekolah saya pun ikut mengejek saya. Akhirnya, dengan keputusan bulat, saya memutuskan pindah ke agama lain semenjak kelas dua SD. Awalnya, saya merasa lebih baik, tetapi entah kenapa, masalah datang menghampiri saya satu per satu. Sejak itu, saya jadi korban perundungan (kekerasan verbal). Saya disebut sebagai anak adopsi. Saya dirundung habis-habisan, sampai-sampai ibu saya marah dan jengkel dengan tingkah laku seorang anak kaya yang merundung saya. Dia merasa menang karena dia kaya. Dia punya ayah yang kaya, rumah bagus, dan pendidikan orangtuanya tinggi, sedangkan saya tidak punya apa-apa. Rumah pun dari anyaman bambu dan orangtua tidak sempat mengenyam pendidikan, hanya seorang petani yang setiap hari mengurus ladang.
Hope
Masalah itu terus berlanjut sampai saya menjadi korban gosip di kampung saya sendiri. Di sekolah pun, saya mengalami penolakandan tidak ada seorang pun yang menghargai saya. Saat saya sudah kelas empat SD, saya baru menyadari bahwa keputusan saya untuk pindah ke agama lain adalah perbuatan bodoh. Saya belum bisa memikirkan risiko seperti apa yang akan saya tanggung nantinya karena saat saya menduakan Tuhan, saya masih kecil, masih duduk di kelas satu SD. Namun, terjadi peristiwa yang menakjubkan ketika saya kelas empat SD. Saya terjatuh dan kaki saya harus dioperasi. Alhasil, saya tidak bisa berjalan selama satu bulan, bahkan untuk bangun pun terasa sulit. Saat itu, saya merasa lumpuh. Akan tetapi, setelah beberapa minggu, saya bisa berjalan dengan sempurna. Lalu, ada seorang pendeta datang ke rumah saya. Saya sempat bingung dan bertanya-tanya. Setelah saya mengenalnya cukup lama, beliau bertanya, "Mengapa saya menduakan Tuhan?" Saya menjawab dengan spontan, "Saya malu dengan lingkungan sekolah saya, semua orang mengejek saya." Semenjak itu, pendeta itu terus membimbing saya.
Akhirnya, saya mengambil keputusan, "Saya berjanji saat saya SMP nanti saya akan kembali mengikut Tuhan." Sampai pada waktu itu, saya masih menganut dua agama. Ketika saya kelas satu SMP, saya membuktikan janji saya. Saat itu, teman seangkatan saya semasa SD tidak percaya. Saya disebut sebagai orang murtad dan paling berdosa, dan dosa saya tidak bisa diampuni jika saya tidak memeluk agama yang mereka anut. Saya hanya bergeming dengan perkataan itu. Waktu itu, saya mulai bertingkah nakal. Pergaulan saya mulai tidak terkontrol. Pagi hari, saya berangkat sekolah, dan pukul empat pagi keesokan harinya, saya baru pulang. Atau, bahkan tiga hari saya tidak pulang ke rumah. Tindakan itu sudah biasa saya lakukan. Saya pun sering keluar-masuk ruang BP (Bimbingan Konseling di sekolah - Red.) semasa SMP. Sampai pada saat itu, masalah yang berat datang lagi. Saya kembali menjadi korban perundungan dan bahan cemoohan orang. Saya dikerjai orang dan dijauhi teman. Ketika di gereja, seseorang mengatakan kepada saya, "Nak, ini semua ujian buat kamu. Apa kamu sanggup menjadi orang Kristen yang berani memikul salib?" Saya terdiam merenungi pertanyaan itu.
Saat di sekolah, saya juga menjadi bahan cemoohan kakak-kakak kelas saya. Sampai-sampai saya menganggap mereka itu musuh terbesar saya. Saya sempat berpikir, apakah sebaiknya saya keluar saja dari sekolah ini? Rasanya, saya tidak kuat dengan masalah ini. Tetangga di rumah pun terus bergosip mengenai saya. Suatu saat, saya bertemu dengan kakak senior saya di gereja. Dia mengatakan kepada saya, "Dik, sebenarnya kakak ingin menganggap kamu sebagai adik saya sendiri, tetapi kakak tidak ingin kamu seperti ini, pergaulan kamu itu tidak benar, apa kamu mau berubah untuk kakak?" Pertanyaan itu sangat menyentuh, dan akhirnya saya berubah. Saya jalani masa-masa sulit itu dengan penuh semangat. Di gereja, saya semakin dikuatkan. Saat itu, muncul lagi masalah di kampung saya; saya disebut sebagai "perempuan tidak benar" yang punya hubungan dengan seorang anak pendeta. Karena saat itu, saya belum punya kendaraan sendiri. Jadi, setiap Sabtu, saya pasti dijemput untuk ibadah pemuda-remaja di gereja. Mendengar sebutan itu, saya hanya diam saja. Saya mencoba melakukan aktivitas seperti biasa dan saya hanya mengatakan, "Ada saatnya saya menang dan orang itu akan malu dengan perbuatannya." Saya juga tidak peduli jika pemuda-pemudi di kampung saya itu memusuhi saya.
Tetap Setia
Ketika saya menjadi "trending topic" di desa saya, ada dua berita yang membuat mereka semua tercengang. Berita pertama, kakak kelas saya mengandung di luar hubungan pernikahan, dan teman saya yang lain juga mengandung tanpa kejelasan siapa ayahnya. Mendengar hal itu, saya menjadi tertegun. Seiring waktu berjalan, saya tidak lagi menjadi "trending topic", dan saya mulai lega. Saat itu, saya sudah berubah total. Saya tinggalkan kebiasaan saya bermain di luar rumah, saya tinggalkan pergaulan saya. Saya mulai aktif di gereja dan mulai diikutkan dalam pelayanan. Dan, pada saat SMK, saya mulai mengerti apa arti dari semua peristiwa yang pernah saya jalani. Semua mulai berjalan baik. Ya, walaupun ada masalah, tetapi tidak seberat yang lalu. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan masih mau memenangkan saya walaupun saya adalah orang yang sangat berdosa. Ia pun masih mau meneguhkan iman saya. Iman saya dibentuk agar semakin dewasa. Ketika iman saya mulai tumbuh dewasa, tentu makin besar pula rintangan yang harus saya hadapi. Akan tetapi, saya percaya, Tuhan pasti sanggup menolong saya.
Saat kita percaya dan kita tetap mengandalkan Tuhan dalam hidup kita, kita akan yakin bahwa Tuhan yang akan menolong kita. Saya tidak berjanji bahwa Tuhan akan selalu menolong pada saat itu juga ketika kita membutuhkan pertolongan, tetapi saya yakin bahwa Tuhan sanggup membuka jalan bagi kita semua. Seperti dikatakan dalam Amsal 19:21, "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." Jadi, apa pun yang direncanakan manusia itu bisa dilakukan, tetapi Tuhanlah yang menentukan akhir dari rancangan itu sendiri. GBU All.

Copas : www.sabda.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar