Sabtu, 28 Oktober 2017

KESAKSIAN AMELIA YANG DISEMBUHKAN DARI PENYAKIT MATA SEJAK LAHIR


Penyakit Mata
Siapa yang tidak mendambakan anak atau cucu lahir dengan selamat tanpa mengidap suatu penyakit? Apalagi jika sebuah keluarga sedang menantikan anak atau cucu pertama.Yang ada dalam hari-hari penantian mereka adalah anak yang lucu dan sehat sehingga semakin melengkapi sukacita dan kebahagiaan keluarga.

Berbeda dengan situasi keluarga Hendrik ketika menerima kehadiran anak pertama dalam keluarga mereka. Anak ini diberi nama Amelia. Pada waktu kelahirannya, dia memiliki kelainan pada mata yaitu selalu mengeluarkan air dan kotoran dari mata sehingga mengganggu penglihatannya. Setiap pagi, ibu dan bapaknya membersihkan mata Amelia agar bisa terbuka dan melihat. Berbagai pengobatan melalui beberapa dokter telah dijalani namun tidak memberikan hasil kesembuhan. Sampai Amelia menginjak usia dua setengah tahun, penyakitnya bertambah parah. Amelia di bawa pada seorang dokter ahli mata. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata terjadi penyumbatan pada mata Amelia. Dokter segera mengambil tindakan pada Amelia dengan menusuk sisi mata Amelia.Walaupun telah menjalani pengobatan melalui dokter ahli, tetap juga tidak membawa perubahan. Usaha mereka telah mencapai batas maksimal kemampuan seseorang sehingga mereka sempat putus asa. Kemana lagi mereka harus membawa Amelia untuk mendapatkan pengobatan yang sempurna?

Tetapi ada yang sangat mengasihi Amelia yaitu nenek Amelia atau ibu Bertha yang sekaligus mengingatkan orang tua Amelia agar jangan putus asa, sebab pasti masih ada jalan keluar di luar kuasa dokter yaitu Sang pencipta dan pemilik manusia. Manusia tidak sanggup melakukannya tetapi didalam Dia semua beban penderitaan dan pergumulan manusia menjadi hilang. Nenek Amelia mengajak orang tua Amelia menghadiri suatu ibadah.

Selama ibadah berlangsung, orang tua Amelia mengikuti dengan seksama firman Tuhan dan doa yang disampaikan oleh pendeta. Ibadah itu merupakan moment penting bagi orang tua Amelia membawa segala pergumulan yang dihadapi keluarga mereka.Jika selama ini orang tua Amelia sempat melupakan Tuhan, maka dalam ibadah saat itu mereka juga diingatkan bahwa hanya kuasa Tuhan segala sesuatu dapat terjadi. Dan lebih khusus lagi, kiranya Amelia menerima jamahan kasih Tuhan atas penyakit yang dialaminya saat ini.

Orang tua dan nenek Amelia kembali ke rumah membawa roti dan anggur untuk mengadakan perjamuan kudus bersama Amelia. Nenek Amelia memimpin perjamuan sambil mengajari Amelia berdoa mengikuti doa yang diucapkan neneknya.Dengan penuh ketulusan dan kepolosan seorang anak kecil datang bersujud pada Tuhan memohon pertolonganNya.Bukan pada saat itu saja Amelia dibimbing dan dibesarkan di dalam Tuhan, tetapi seluruh hidup dan sepanjang kehidupannya berada dalam naungan kasih Tuhan. Hari demi hari penyakit mata Amelia sembuh total. Air dan kotoran tidak lagi keluar dari mata.

Semua yang terjadi dalam keluarga Hendrik adalah semata-mata karya Tuhan. Kini Amelia berusia tujuh tahun dan merupakan cucu pertama dari ibu Bertha yang tumbuh menjadi anak yang periang dan cerdas baik di sekolah maupun di rumah.

Sumber: http://www.kisahnyatakristen.com/2012/08/21/sakit-mata-sejak-lahir/

Selasa, 24 Oktober 2017

KESAKSIAN NITA PELAMONIA DISEMBUHKAN DARI PENYAKITNYA : PENYAKIT KARENA TIDAK MAU MENGAMPUNI ORANG LAIN

Awalnya mengalami sakit kulit, gatal-gatal akibat terkelupasnya kulit di sekujur tubuhnya.Dimulai dari 2 titik seperti bintil merah pada sisi perut bagian kiri dan kanan. Lalu bergerak terus dari hari ke hari ke atas dan ke bawah sehingga seluruh tubuh saya penuh dengan penyakit kulit seperti eksim yang gatal sekali dan menebal di kulit. Setelah 2 bulan berjalan saya diserang oleh satu penyakit yang saya tidak tahu itu apa tetapi saya mendadak mengalami dehidrasi (kehilangan cairan) dan buang air besar secara mendadak sekaligus. Saya diantar oleh suami saya ke dokter karena perasaan saya sudah tidak enak dirumah.

Akhirnya pada waktu sampai di rumah sakit, saya pingsan dan cairan itu keluar sekaligus. Untung dokter bisa mengatasi hal itu dengan memberikan infus secepatnya sehingga saya terselamatkan. Selama 1 minggu saya dirawat di rumah sakit tetapi tidak dapat ditemukan penyakitnya apa. Setelah itu saya pulang ke rumah. Waktu tiba di rumah saya melakukan aktivitas seperti biasa. Kira-kira 5 hari kemudian saya merasakan sakit ditusuk-tusuk dari luar seperti orang ditusuk oleh pisau lalu dicabut lagi. Tidak tertahankan sakitnya. Ketika saya dirawat, biasanya saya bisa diinfus tetapi saya tidak bisa diinfus lagi karena nadi vena yang biasa dipakai untuk menusukkan jarum infus itu pecah walaupun pakai jarum untuk bayi. Urine saya warnanya coklat seperti coca cola dan feses saya putih seperti kapas .

Pengecekan oleh dokter pada air seni dan muntahannya tidak memberikan hasil. Diagnosa dokter gagal untuk memastikan apa penyakitnya . Saat itu suami nyonya Nita memanggil hamba Tuhan untuk mendoakan isterinya. Hamba Tuhan itu menanyakan kepada saya, apakah saya pernah menyakiti dan membenci seseorang dan tidak bisa mengampuninya ?

Lalu saya mulai berpikir apakah urusannya dengan penyakit saya, tetapi ketika dijelaskan bahwa Tuhan akan mengampuni kamu jika kamu mengampuni orang yang telah menyakiti hati kamu. Saat itu saya teringat bahwa saya benci kepada ayah saya sendiri. Lalu hamba Tuhan itu bertanya kepada saya, “Maukah kamu sembuh, kamu harus mengampuni ayahmu.” Itulah syarat untuk saya sembuh. Saya didoakan dan saya melihat bagaimana Tuhan bekerja. Jam 09.00 malam saya merasakan serangan yang luar biasa. Saatnya mungkin saya harus pergi meninggalkan dunia ini karena kematian datang dari ujung kaki simetris ke arah tangan berjalan bersama-sama seperti tidak mempunyai rasa, tubuh saya mati dari ujung kaki dan terus merambat keperut sampai kelambung nafas hanyai sampai di dada dan leher.

Rasanya Tuhan saya tidak kuat lagi. Jika saya mau diambil Tuhan tolong saya, tetapi kalau saya masih diberi kesmpatan untuk hidup, pakai saya. Tuhan tolong saya, tolong saya. Pada saat itu dalam keadaan yang seperti itu dimana pikiran saya masih utuh tetapi badan saya tidak dapat bergerak sama sekali dan tidak merasa mempunyai badan, tiba-tiba ada sinar yang terang benderang turun persis di sekujur tubuh saya. Terangnya bukan main pada saat yang bersamaan saya melihat orang-orang di sekeliling saya seperti xtrim. Bisa dibayangkan begitu takutnya saya waktu itu, saya pikir itulah saat kematian saya sambil berteriak Tuhan tolong saya, tolong saya.

Esok harinya nyonya Nita diperiksa dokter dan hasilnya sungguh luar biasa. Penyakit tersebut hilang menurut pengecekan dokter. Tubuh saya, kulit saya yang sebelumnya merah padam dan berair jadi kering dan menjadi kulit yang terkelupas dan perut saya yang besar itu menjadi kempes dan rasanya yang tidak karuan dan sakit sekali itu hilang sirna. Saya bangun benar-benar sehat.

Kuasa mujizat Yesus sungguh menyembuhkan segala penyakit nyonya Nita dan saat ini nyonya Nita aktif bersama suaminya membuat program acara keluarga di televisi.

Semuanya yang saya alami ini tentunya karena Tuhan Yesus Kristus. Tuhan kita.

(2 Tawarikh 20:9 [LAI TB] Bila sesuatu malapetaka menimpa kami, yakni pedang, penghukuman, penyakit sampar atau kelaparan, kami akan berdiri di muka rumah ini, di hadapan-Mu, karena nama-Mu tinggal di dalam rumah ini. Dan kami akan berseru kepada-Mu di dalam kesesakan kami, sampai Engkau mendengar dan menyelamatkan kami.)

Jumat, 20 Oktober 2017

KESAKSIAN MAYA H'NNIE ÏNI KISAHKU TENTANG KEBAIKAN TUHAN YESUS

Maya H'nnie Ini kisahku ttg kebaikan Tuhan Yesus : 

Tuhan Yesus memang baik & dahsyat. Dia bekerja luar biasa dalam hidupku. Dari kecil aku hidup dalam tekanan, aku sempat hidup di daerah yg cukup rawan, keamanannya sering terganggu & sungguh tdk baik untk prkembangan anak2. Dgn keadaan yg sprti itu, ortuku membuat keputusan utk membwaku plg ke daerah asal mereka, & aku di rawat oleh nenek. Smntara mereka kmbali k tempat tugas. Dgn terpaksa aku hidup terpisah dgn ortu selama beberapa thn krn papa harus tugas di tempat yg jauh & cukup rawan, tapi puji Tuhan, krn campur tgn Tuhan, ortu ku akhirnya kembali, aku bisa dekat lagi dgn mereka. Meskipun aku sempat hidup jauh dr mereka, tapi Aku ber bersyukur sma Tuhan, krn dikasih kesempatan utk merasakan bgmn rasanya punya ortu, krn ku tau, nasibku masih lebih beruntung di banding anak2 yg lain yg ga pernah sm sx merasakan gmn rasany pnya ortu. Usia remajaku ku lewati bersama ortu & adiku. Kmi hidup bahagia. Namun disaat usiaku 17thn, papaku di panggil plg oleh Tuhan Yesus. Sedih rasanya kehilangan papa yg juga adlh tulang punggung keluarga. Waktu itu aku blum kuliah, adikku msih klas 2 smp. & ma2 hrus berjuang sendiri utk menafkahi kami. Tapi ma2 slalu berdoa sma Tuhan, memohon berkat serta kekuatan, utk membesarkan kami. & aku pun percaya kalau Tuhan tak prnah tutup mata melihat keadaan kami, Dia mendengar setiap doa yg kami naikkan. Buktinya, skrg stelah 7 thn speninggal papa, aku blh selesai kuliah, skrg tggal mncari pekerjaan. bahkan adikku skrg smntara kuliah smster 5 di sbuah universitas. Bahkan baru2 ini aku sakit, rasanya aku ga kuat nahan penyakit itu, tapi dgn doa dr org2 terdekat & dgn campur tangan serta kasih dr Tuhan Yesus, pelan tapi pasti, aku sembuh dr sakit penyakit itu. Skrg hnya tggal 1 lagi yg blm ku dptkan, pekerjaan. Tapi ku yakin Tuhan Yesus pasti menolongku, sma sprti Dia menolongku melewati setiap masa di kehidupanku. Aku senang punya Tuhan seperti Tuhan Yesus :)
Semoga anda diberkati atas kesaksian Maya H'nnie, Mari kita saling mendoakan.Amin
God Bless You All

Senin, 16 Oktober 2017

KESAKSIAN HIDUP : ALLAH MENYELESAIKAN SEGALA PERKARA DAN KASIH-NYA MENYEMBUHKAN

Namaku Novita dan aku adalah ibu dari putra kembar yang kini berusia 9 tahun. Aku mengikuti retret awal di tahun 2006 dan retret penyembuhan batin kemarin ini, April 2009. Yang ingin aku bagikan disini adalah bagaimana Yesus berbicara padaku, menyelesaikan perkaraku satu persatu dan menjawab doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Aku menikah di tahun 1999 dan ketika aku hamil 7 bulan, suamiku meninggalkan Kristus untuk menikahi kekasihnya. Aku mengetahui hal tersebut ketika anak-anak baru dilahirkan dan berusia satu bulan. Setelah melalui satu proses yang tidak mudah, suamiku menceraikan istri keduanya dan kembali kepada kami. Namun masalah tidak berhenti di situ. Sejak saat itu aku kerap menerima tindak kekerasan baik fisik maupun mental dari suami aku, mulai dari dicemooh, dilempar sisir, diludahi sampai dipukuli. Dia pun tak berhenti berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain dan ada beberapa dari mereka yang dibawa ke rumah. Semuanya aku simpan sendiri. Baik orang tua maupun teman tidak ada yang tahu. Kalau aku ke kantor dengan wajah lebam dan ada teman yang bertanya, aku katakan bahwa aku secara tidak sengaja kejeduk kepalanya anak-anak, dan banyak alasan yang lain.

 Satu malam, ketika aku menemukan kartu penuh ucapan cinta untuk suami aku dari salah satu wanitanya, sambil menangis aku berkata pada diri sendiri, “Aku merasa sangat sendirian.” Di saat itu, terdengar dengan jelas suara yang lembut yang dengan penuh iman aku yakini, itu adalah Yesus yang berbicara padaku. Dia mengatakan, “Kamu tidak sendiri, ada Aku bersamamu.” Begitu aku sadar, aku menangis sejadi-jadinya. Betapa bodohnya aku yang berpikir bahwa aku seorang diri.

 Di malam yang lain di saat aku sudah tidak tahan akan beban yang begitu berat, aku memutuskan untuk bunuh diri. Aku pikir dengan bunuh diri, masalah aku selesai. Sambil menimbang-nimbang apakah aku mau gantung diri, potong urat nadi atau minum obat nyamuk, aku pikir aku berdoa dulu saja, mau minta supaya Tuhan cepat-cepat ambil nyawaku. Akupun berdoa dan bilang “Tuhan, aku titip anak-anak. Tolong supaya Engkau cepat-cepat mengambil nyawaku, aku sudah tidak kuat.” Untuk kedua kalinya, Yesus menyapaku yang aku dengar dengan jelas, kataNYA, “Hidupmu adalah anugrah terbesar dariKU, mengapa ingin kau sia-siakan.” Mendengar itu, aku sadar dan menangis meminta ampun dari Tuhan.

Aku ikut retret awal karena aku kuatir bahwa aku menjadi agak tidak waras. Sebelum aku ikut retret, aku tidak mengerti mengapa di tengah penderitaan hidup, ketika aku berdoa aku bisa berkata, “Terima kasih Tuhan karena aku boleh ikut merasakan sedikit dari penderitaanMU waktu Engkau memikul salib.” Waktu itu aku berpikir aku mulai gila dengan berdoa seperti itu. Kini aku mengerti bahwa salib bisa membawa sukacita dan Roh Kudus membimbing kita ketika kita menyerahkan diri pada Tuhan saat kita berdoa. Di retret awal, aku mendapat banyak sekali pengalaman iman yang begitu indah. Setiap aku menutup mata, aku bisa membayangkan Yesus dengan jubah putihnya yang berkilau membuka tanganNYA untukku. Ada saat di mana aku melihat Yesus yang mengulurkan tanganNYA ke aku. Dan satu pesan yang aku dapat dan ingat waktu aku konseling adalah: jangan sombong dihadapan Tuhan. Keselamatan menurut Tuhan tidak sama dengan keselamatan menurut ibu.

Pulang dari retret awal, masalah memang tidak selesai bahkan aku dibawa pada titik kepasrahan yang terendah dalam hidupku. Anak-anakku dibawa pergi dan disembunyikan oleh suamiku selama hampir 4 bulan. Mereka hilang bagai ditelan bumi. Keluarga suami tidak ada yang mau membantu. Aku berdoa, mohon supaya Tuhan segera mengembalikan anak-anak. Setiap malam aku mohon itu dari Tuhan tapi entah mengapa rasanya doaku seolah tidak terangkat. Aku pun marah sama Tuhan dan berhenti berdoa selama dua hari. Kemudian satu hari, aku terbangun pukul tiga pagi. Aku keluar kamar, duduk di ruang tamu dan berdoa. Aku cuma bisa berkata, “Tuhan, kalau boleh, ijinkan aku mengasuh dan membesarkan kedua buah hatiku, tapi Tuhan, kehendakMUlah yang terjadi.” Tiga hari aku ucapkan doa itu, kemudian aku dipertemukan dengan anak-anak.

Saat ini setelah suamiku melakukan tindak kekerasan yang menyebabkan salah satu tulang rusuk bagian depanku bergeser dan pada akhirnya ia memilih untuk hidup dengan salah satu wanitanya yang lain, aku pun berkonsultasi dengan pastor di Keuskupan Agung Jakarta dan kami berpisah. Aku membesarkan anak-anak sendiri. Dalam doa aku sering meminta kepada Yesus supaya DIA memampukan aku untuk membesarkan kedua buah hatiku dengan sabar, bijaksana dan penuh kasih. DIA menjawab doaku dengan mengundangku ke retret penyembuhan batin. DIA mengundangku karena DIA mau menyembuhkan luka-luka batinku supaya aku tidak menorehkan luka pada anak-anakku. Luka bisa berbuah luka dan Yesus yang begitu besar cintaNYA padaku dan anak-anakku, tidak menginginkan hal itu terjadi. DIA mau menyembuhkanku. Itulah jawabanNYA atas doaku.

Di dalam retret, aku dibawa pada kesadaran akan cinta Tuhan. Namun aku pun diingatkan kembali akan semua luka dan sakit hati yang kualami dan rasanya memang sakiiittttt sekali. Semua pengkhianatan suamiku dan tindak kekerasan yang aku terima baik fisik maupun mental diputar kembali dibenakku. Aku meminta supaya Yesus mau mengambil semua rasa sakit itu dan semua luka-lukaku. Dan DIA menjawab permohonanku. Bahkan diluar dugaan, ketika pembasuhan kaki, ada seorang figur yang wajahnya mirip dengan suamiku dan ada yang mirip dengan wanita yang kini hidup dengannya. Aku pun membasuh kaki mereka. Karena rahmat Tuhan dan kemurahan kasihNYA, aku pun bisa mengampuni suamiku dan wanita yang kini hidup dengannya. Dan itu sungguh amat melegakan.

Yesusku menyembuhkanku. Dengan kesembuhanku, aku dimampukan untuk membesarkan kedua anakku dengan penuh kasih dan tidak menorehkan luka pada mereka. DIA yang mengerti kebutuhanku dan DIA yang menjawab semua doa-doaku dengan caraNYA sendiri. Satu ayat Kitab Suci yang selalu kuingat: ‘Serahkanlah hidupmu pada Tuhan dan percayalah kepadaNYA, dan DIA akan bertindak’ (Mazmur 37:5)


Kesaksian ditulis oleh Novita Patricia

Kamis, 12 Oktober 2017

BERTEMU DENGAN TUHAN

Hampir setiap malam, kita bisa melihat para pelacur, gelandangan, pemabuk, dan pecandu di pusat Kota Amsterdam. Bahkan, beberapa tahun yang lalu, di Amsterdam pernah diadakan Olympiade khusus untuk para homo dan lesbian -- "Gaygames", yang mengakibatkan banyak orang terjangkit AIDS di Amsterdam. Kota tempat saya tinggal, letaknya 36 kilometer dari Amsterdam.
Beberapa hari yang lalu, saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi di salah satu hotel bintang lima di Amsterdam. Untuk menuju ke tempat pertemuan tersebut, saya harus melewati daerah kumuh tempat para gelandangan dan pecandu tinggal. Tiba-tiba, saya mendengar panggilan, "Selamat pagi, Tuan!" Saya menoleh ke belakang dan saya melihat seorang pengemis tua dengan wajah yang kotor, dekil, dan bau alkohol. Pengemis ini memegang cangkir besar yang berisikan kopi panas. Ia menawarkan kepada saya, "Maukah Bapak minum seteguk dari air kopi saya?"
Dalam hati, saya berkata, "Jangankan minum dari cangkirnya, dekat dengan dia pun rasanya sudah muak dan jijik, apalagi kalau melihat kumis dan janggutnya yang masih penuh dengan sisa-sisa makanan." Di samping itu, kalau saya minum dari cangkir bekas dia, jangan-jangan saya akan tertular AIDS. Logika dan otak saya melarang saya untuk menerima tawaran tersebut, tetapi hati nurani saya menganjurkannya: "Percuma ke gereja tiap minggu, kalau masih mempunyai pikiran dan praduga buruk terhadap orang lain!"
Akhirnya, saya datang ke pengemis itu dan minum seteguk kopinya, tetapi logika dan pikiran saya berjalan terus -- "Apa maksud pengemis ini menawarkan kopinya kepada saya? Jangan-jangan ia mau minta duit!" Lalu, saya bertanya kepada pengemis ini, "Kenapa Anda menawarkan kopi kepada saya?" Ia menjawab, "Saya ingin Anda ikut menikmatinya, bagaimana enaknya minum kopi di pagi hari, apalagi pada saat cuaca dingin seperti sekarang ini."
Ketika saya mendengar jawaban tersebut, saya malu dengan praduga saya terhadap dia. Walaupun demikian, logika saya masih belum mau menyerah, saya masih tetap tidak percaya: "Masa Bapak tua ini tidak ada maunya, tidak ingin sesuatu timbal balik dari saya, masa ia mau memberikan sesuatu tanpa pamrih, apalagi pada saat ini ia lagi membutuhkannya -- pasti ia akan minta uang!" Berdasarkan pemikiran ini, akhirnya saya menanyakannya sekali lagi kepada dia "Adakah sesuatu yang bisa saya bantu untuk Anda?" Pengemis itu menjawab, "Ada!" Betapa senangnya saya ketika mendengar jawaban tersebut, sebab dengan demikian saya bisa membuktikan analisis saya!
"Apakah Anda membutuhkan sesuatu?" "Tidak!", jawabnya. "Saya hanya ingin dipeluk oleh Anda karena saya sudah tidak mempunyai kawan maupun keluarga," jawab pengemis tersebut. Saya kaget mendengar jawaban tersebut karena analisis dan praduga saya tidak benar. Lebih dari itu, saya berpikir bagaimana mungkin saya memeluk seorang gelandangan, yang sudah berbulan-bulan tidak mandi, dengan pakaian kotor dan bau? Apalagi, saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi -- jangan-jangan pakaian saya akan menjadi bau dan kotor juga, dan bisnis saya bisa gagal karena pejabat tinggi itu mungkin akan merasa diremehkan kalau saya datang menemuinya dengan pakaian kotor dan bau!
Namun, entah mengapa saya langsung memeluk pengemis tersebut dengan erat, seperti saya memeluk anak saya sendiri. Tanpa saya sadari, kejadian tersebut disaksikan oleh banyak orang di sekitar lokasi tersebut, yang merasa aneh dan janggal melihat seorang yang berpakaian lengkap dengan dasi dan jas, mau memeluk seorang pengemis tua yang kotor dan bau, seperti seorang sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Saat saya sedang memeluk pengemis tersebut, saya mendengar suara sayup-sayup yang sangat lembut: "Ketahuilah: waktu engkau melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti engkau melakukannya kepada-Ku!" Saya merasa seakan-akan saya telah bertemu dan memeluk Tuhan Yesus pada saat itu.
Saya telah diundang minum kopi oleh seorang pengemis, tetapi kebalikannya, apakah saya bisa dan mau mengundang seorang pengemis, untuk minum dan makan bersama dengan saya dan keluarga saya? Kita lebih mudah dan lebih ikhlas memberikan uang kepada seorang pengemis, daripada mengundang dia untuk makan atau minum bersama dengan kita. Apakah Anda pernah mengundang seorang pengemis untuk makan atau minum di rumah Anda? Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa kalau kita mau mencari Tuhan, carilah dengan "Kasih", jangan dengan logika karena kekuatan dan kuasa kasih jauh lebih besar dan lebih kuat daripada segala macam logika yang ada di dunia ini. Kalau seseorang meminta bantuan kepada kita, gantilah pikiran logika dengan perasaan kasih karena Tuhan mengasihi kita, tanpa menggunakan logika.
Bunuhlah perasaan praduga yang ada di dalam diri Anda dan hapuslah perkataan "jangan-jangan" yang ada di dalam kamus kehidupan Anda! Ibu saya tidak bisa menulis dan membaca. Ia membesarkan kami, anak-anaknya, hanya dengan kasih sayang, tanpa segala macam teori psikologi pendidikan. Saya bisa merasakan hasilnya sampai dengan detik ini, walaupun setengah abad telah berlalu. Logika bisa mengotori dan meracuni perasaan kasih. Logika adalah tembok pemisah antara Sang Pencipta dengan manusia!
Copas : www.sabda.org
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul majalah:Curahan Hati, Januari 2006
Judul artikel:Bertemu dengan Tuhan
Penulis:Mang Ucup
Penerbit:Yayasan Curahan Hati
Halaman:21 -- 22

"Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku."
(Matius 25:45)

Minggu, 08 Oktober 2017

SAYA MASIH BELAJAR UNTUK MEMAAFKAN (KISAH CORRIE TEN BOOM)


Di sebuah gereja di Munich itulah saya melihatnya, seorang pria gemuk berkepala botak yang mengenakan mantel abu-abu sambil mencengkeram topi berwarna cokelat dengan kedua tangannya. Orang-orang sedang berjalan keluar dari ruang bawah tanah tempat saya berkhotbah hari itu. Saat itu adalah tahun 1947, dan saya datang dari Belanda ke Jerman, yang kala itu telah kalah perang, dengan pesan bahwa Allah mengampuni mereka.

Dan, saat itulah, saya melihat dia yang berusaha menerobos maju ke depan. Untuk sesaat, saya melihat mantel dan topi cokelatnya berubah menjadi seragam berwarna biru dan topi militer dengan bros berbentuk tengkorak dan tulang bersilang yang tersemat di atasnya. Seketika itu juga, saya mengingat ruangan besar dengan lampu yang sangat terang, tumpukan gaun dan sepatu yang lusuh di tengah lantai ruangan, dan rasa malu karena berjalan telanjang melewati orang ini. Saya bisa melihat sosok saudari saya yang lemah berjalan di depan saya. Tulang rusuknya tampak jelas dari balik kulitnya yang setipis perkamen. Betsie, betapa kurusnya kamu saat itu!

Betsie dan saya ditangkap karena menyembunyikan orang Yahudi di rumah kami selama Nazi menduduki Belanda; dan orang ini pernah menjadi salah satu penjaga di kamp konsentrasi Ravensbruck tempat kami dipenjara.

"Anda menyebutkan Ravensbrück dalam khotbah Anda," ujar laki-laki itu. "Saya pernah menjadi petugas di sana." Tidak, dia tidak mengingat saya.

"Saya harus melakukannya -- saya tahu hal itu. Firman Allah yang mengatakan bahwa Allah akan mengampuni memiliki syarat utama, yaitu bahwa kita harus mengampuni orang-orang yang telah bersalah kepada kita ...."

"Namun, sejak saat itu," ia melanjutkan, "Saya telah menjadi seorang Kristen. Saya tahu bahwa Allah telah mengampuni saya untuk banyak hal keji yang sudah saya lakukan di sana, tetapi saya ingin mendengarnya dari bibir Anda sendiri. Fraulein." Laki-laki itu mengulurkan tangannya, "... maukah Anda memaafkan saya?"

Saya pun mematung. Saya, orang yang dosanya harus diampuni setiap hari, tidak bisa mengampuni orang ini. Betsie meninggal di tempat itu -– dapatkah orang ini menghapus kematian yang lambat dan mengerikan yang dialami Betsie saat itu hanya dengan sebuah permintaan maaf?

Sebenarnya, ia tidak lama berdiri di sana dengan mengulurkan tangannya, tetapi bagi saya waktu itu terasa bagai berjam-jam karena saya bergumul dengan hal yang paling sulit untuk saya lakukan.

Saya benar-benar harus melakukannya! Saya betul-betul mengetahui bahwa firman Tuhan yang mengatakan bahwa Allah akan mengampuni kita memiliki syarat utama: kita harus mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita. "Jika kamu tidak mengampuni kesalahan orang lain," kata Yesus, "Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahanmu ...."

Saya masih berdiri di sana dengan hati yang beku. Pengampunan bukanlah sebuah emosi -- saya juga tahu tentang hal itu. Pengampunan adalah tindakan yang muncul dari kehendak, dan kehendak itu dapat terlaksana terlepas dari suasana hati saya. "Yesus, tolong saya!" Saya berdoa dalam hati. "Saya bisa mengangkat tangan saya, hanya itu yang bisa saya lakukan. Engkau yang memberi perasaan itu."

Dengan kaku, dan tanpa perasaan, saya mengulurkan tangan saya ke tangan yang terulur kepada saya itu. Dan, ketika saya melakukannya, hal yang luar biasa terjadi. Arus itu dimulai pada bahu saya, bergerak menuruni lengan saya, melompat ke tangan kami yang bersalaman, dan kemudian kehangatan pemulihan ini seolah membanjiri seluruh tubuh saya. Perasaan itu membuat saya mengeluarkan air mata.

"Saya memaafkanmu, saudaraku!" ujar saya sambil menangis. "Dengan segenap hati saya!"

Untuk sesaat, kami saling menggenggam tangan, mantan penjaga dan mantan tahanan. Saya tidak pernah tahu kasih Allah yang begitu kuat sampai saya melakukannya. (t/Jing Jing)

Copas : www.sabda.org

Diterjemahkan dan disunting dari:
Nama Situs : PBS.org
Alamat URL : http://www.pbs.org/wgbh/questionofgod/voices/boom.html
Judul asli artikel : I'm Still Learning to Forgive
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 19 September 2013


"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga."

Rabu, 04 Oktober 2017

PERTOBATAN MANTAN PELAUT PECINTA WANITA

Johny Saweho, seorang mantan pelaut. Ia berlayar dari tahun 1993 sampai 1998. Bertahun-tahun hidup di atas kapal yang sarat dengan harta, kekuasaan, dan wanita, membuat Johny seakan dibuai dan larut dalam kehidupan yang penuh dengan dosa.

Pergaulan di kapal sangat identik dengan yang namanya mabuk, diskotek, dan wanita.

Hidup diombang-ambing oleh ombak membuat Johny lelah dan jenuh. Namun, saat ia hendak melabuhkan hatinya pada keluarga yang ia cintai, kenyataan berkata lain.

"Saya mendengar berita dari kampung halaman saya bahwa istri saya sudah menikah dengan orang lain. Bertambahlah dendam saya kepada wanita. Kamu bikin begini, saya juga bisa bikin lebih dari begini. Kamu dapat satu, saya bisa dapat lebih dari satu," kisah Johny Saweho bagaimana ia ingin membalas dendam ketika istrinya meninggalkan dirinya.

Amarah itu berganti menjadi nafsu yang membara. Banyak wanita ia jadikan pelampiasan dendamnya, tetapi Johny tak menyadari bahwa kehidupannya pun semakin hancur. Sampai suatu hari, ia bertemu dengan seorang sahabat yang iba dengan kehidupan Johny.

Johny berkisah, "Teman saya membuka sebuah perusahaan pelayaran di Bengkulu, dan saya langsung dipercayakan untuk menjadi seorang supervisor di sana."

Penghasilan yang besar dan jabatan yang tinggi membuat Johny semakin larut dalam kehidupan yang suram.

"Setelah saya "turun" ke darat, gaya hidup saya tidak berubah. Seks bebas pun malah lebih parah saya lakukan," kisah Johny mengenai kehidupannya setelah tidak lagi berlayar, yang sama saja atau malah lebih parah.

Lelah dengan kesepian dan kesendirian, pada tahun 2000, Johny akhirnya memutuskan untuk melabuhkan hatinya pada seorang wanita yang dicintainya. Akan tetapi, itu tak mengubah kebiasaannya.

Johny berkisah, "Sombongnya saya, tidak merendahkan diri di hadapan Tuhan. Sombong karena mungkin dulu saya gampang cari duit. Saya tidak berpikir bahwa itu adalah berkat dari Tuhan."

Johny tidak menyangka gaya hidup dan kesombongannya adalah awal dari kehancuran, sampai tiba pada hari semua seakan tak ada artinya lagi bagi Johny.

"Di kantor saya, ada kontainer perusahaan yang hilang. Dan, bos meminta saya mencari kontainer itu. Karena jika hilang, bisa didenda ribuan dolar. Wah, inilah beratnya bagi saya. Saya tidak dapat uang, saya yang ditekan-tekan. Perasaan saya dendam dengan orang yang meninggalkan pekerjaannya begitu saja."

Berbagai masalah silih berganti menimpa Johny. Hingga suatu hari, ia pun mengalami suatu hal yang tak pernah ia duga.

"Waktu itu kira-kira pukul 12.00, saya lapar dan minta makan. Saya makan nasi, tetapi kok nasinya jatuh-jatuh .... Saya makan seperti anak kecil. Lalu, saya minta agar disapu nasi yang jatuh itu. Kemudian, saya pun minum mengambil gelas. Di situlah saya terjatuh, saya roboh. Saya jatuh dari kursi, lalu dibawa ke rumah sakit. Sampai dua hari kemudian, saya sudah tidak tahu apa-apa. Saya sudah mulai koma," kisah Johny bagaimana ia terjatuh dan koma.

Lalu, istrinya pun memberi tahu adik Johny mengenai keadaan Johny di rumah sakit.

"Adik saya kaget mendengar keadaan saya, lalu ia datang ke rumah sakit. Ketika ia datang, ia melihat layar detak jantung saya. Hingga ketika saya tarik napas panjang, ia teriak ... bahwa saya itu sudah mau mati," kisah Johny terisak.

Di tengah kedukaan yang mendalam, dokter memberitahukan kabar mengejutkan kepada istri Johny dan istrinya sudah siap menerima apa pun keadaan suaminya. Dokter mengatakan bahwa bila Johny sembuh, Johny akan lumpuh total dan tidak akan sembuh. Dan yang kedua, pilihan lainnya adalah Johny meninggal.

Di masa sulit itu, beberapa teman Johny menjenguk dan mendoakannya hingga ia tak menduga sesuatu telah terjadi. "Tiba-tiba, saya bergerak dan sudah mulai sadar, orang-orang pun kaget. Ketika saya sadar, saya merasakan tangan dan kaki saya berat. Lumpuh, pikir saya."

Di tengah kebahagiaan itu, Johny menghadapi situasi bahwa ia harus membuat keputusan untuk meluluhkan hatinya yang beku.

"Ketika di rumah, datang seorang hamba Tuhan, Bapak Ade Manuhutu, yang mengatakan bahwa saya harus mengakui semua perbuatan saya. Dan, saya pun mengungkapkan semuanya kepada Pak Ade Manuhutu. Tetapi, ia mengatakan agar jangan ungkapkan semua itu kepadanya, tetapi kepada Tuhan. Akhirnya, saya mengakui semuanya itu di hadapan Tuhan. Saya didoakan dan saya merasa lega. Kesombongan, keangkuhan, kekerasan hati tidak ada artinya di depan mata Tuhan. Kita terlihat kecil di mata Tuhan," kisah Johny bagaimana ia mengaku semua dosanya kepada Tuhan.

Waktu itu, tangan Johny masih terasa kaku. Suatu siang, ia bermimpi. Ada tetangganya seorang wanita yang sudah tua dalam mimpinya itu. Di mimpinya itu, justru tetangga wanitanya yang mengalami stroke dan tangannya tidak bisa digerakkan.

"Dalam mimpi itu, tangan tetangga wanita saya bisa bergerak. Tetapi, ketika saya tersadar dari tidur saya, tangan saya yang justru bisa bergerak. Saya terbangun, berteriak memanggil istri saya. 'Ma, tanganku sudah bisa bergerak!'" kisah Johny.

Lalu, Johny pun pergi ke rumah sakit dan memeriksakan keadaannya tersebut. Dokter sangat terkejut melihat keadaan Johny. "Luar biasa," kata dokter.

Manusia bisa saja mengatakan "tidak" akan kesembuhan Johny, tetapi bagi Tuhan "ya" Johny pasti sembuh.

Melalui sebuah doa dan pertobatan, mukjizat terjadi bagi Johny. Ia pun pulih dari kelumpuhannya dan siap menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya.

"Dikatakan, carilah maka kamu akan menemukan, ketuklah maka pintu akan dibukakan, mintalah pasti akan diberikan. Dan, saya sangat berterima kasih kepada Tuhan Yesus karena saya sudah disembuhkan seratus persen kembali seperti keadaan saya semula. Dan, saya sudah sangat senang dan gembira sekali. Saya sudah tidak mau lagi kembali kepada dosa-dosa saya yang lama dan hidup saya sekarang adalah untuk melayani Tuhan. Inilah mukjizat yang diberikan Tuhan kepada saya," kisah Johny bagaimana Tuhan melakukan perkara besar dalam kehidupannya.

Sumber Kesaksian: Johny Saweho
Copas : www.sabda.org

Diambil dan disunting dari:
Nama situs : Facebook Kesaksian Mujizat Yesus Kristus
Alamat URL : https://www.facebook.com/KesaksianMujizatYesusKristus/posts/491980530865365mataku.html
Tanggal akses : 19 September 2013


"Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!"