Kamis, 12 Oktober 2017

BERTEMU DENGAN TUHAN

Hampir setiap malam, kita bisa melihat para pelacur, gelandangan, pemabuk, dan pecandu di pusat Kota Amsterdam. Bahkan, beberapa tahun yang lalu, di Amsterdam pernah diadakan Olympiade khusus untuk para homo dan lesbian -- "Gaygames", yang mengakibatkan banyak orang terjangkit AIDS di Amsterdam. Kota tempat saya tinggal, letaknya 36 kilometer dari Amsterdam.
Beberapa hari yang lalu, saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi di salah satu hotel bintang lima di Amsterdam. Untuk menuju ke tempat pertemuan tersebut, saya harus melewati daerah kumuh tempat para gelandangan dan pecandu tinggal. Tiba-tiba, saya mendengar panggilan, "Selamat pagi, Tuan!" Saya menoleh ke belakang dan saya melihat seorang pengemis tua dengan wajah yang kotor, dekil, dan bau alkohol. Pengemis ini memegang cangkir besar yang berisikan kopi panas. Ia menawarkan kepada saya, "Maukah Bapak minum seteguk dari air kopi saya?"
Dalam hati, saya berkata, "Jangankan minum dari cangkirnya, dekat dengan dia pun rasanya sudah muak dan jijik, apalagi kalau melihat kumis dan janggutnya yang masih penuh dengan sisa-sisa makanan." Di samping itu, kalau saya minum dari cangkir bekas dia, jangan-jangan saya akan tertular AIDS. Logika dan otak saya melarang saya untuk menerima tawaran tersebut, tetapi hati nurani saya menganjurkannya: "Percuma ke gereja tiap minggu, kalau masih mempunyai pikiran dan praduga buruk terhadap orang lain!"
Akhirnya, saya datang ke pengemis itu dan minum seteguk kopinya, tetapi logika dan pikiran saya berjalan terus -- "Apa maksud pengemis ini menawarkan kopinya kepada saya? Jangan-jangan ia mau minta duit!" Lalu, saya bertanya kepada pengemis ini, "Kenapa Anda menawarkan kopi kepada saya?" Ia menjawab, "Saya ingin Anda ikut menikmatinya, bagaimana enaknya minum kopi di pagi hari, apalagi pada saat cuaca dingin seperti sekarang ini."
Ketika saya mendengar jawaban tersebut, saya malu dengan praduga saya terhadap dia. Walaupun demikian, logika saya masih belum mau menyerah, saya masih tetap tidak percaya: "Masa Bapak tua ini tidak ada maunya, tidak ingin sesuatu timbal balik dari saya, masa ia mau memberikan sesuatu tanpa pamrih, apalagi pada saat ini ia lagi membutuhkannya -- pasti ia akan minta uang!" Berdasarkan pemikiran ini, akhirnya saya menanyakannya sekali lagi kepada dia "Adakah sesuatu yang bisa saya bantu untuk Anda?" Pengemis itu menjawab, "Ada!" Betapa senangnya saya ketika mendengar jawaban tersebut, sebab dengan demikian saya bisa membuktikan analisis saya!
"Apakah Anda membutuhkan sesuatu?" "Tidak!", jawabnya. "Saya hanya ingin dipeluk oleh Anda karena saya sudah tidak mempunyai kawan maupun keluarga," jawab pengemis tersebut. Saya kaget mendengar jawaban tersebut karena analisis dan praduga saya tidak benar. Lebih dari itu, saya berpikir bagaimana mungkin saya memeluk seorang gelandangan, yang sudah berbulan-bulan tidak mandi, dengan pakaian kotor dan bau? Apalagi, saya harus bertemu dengan seorang pejabat tinggi -- jangan-jangan pakaian saya akan menjadi bau dan kotor juga, dan bisnis saya bisa gagal karena pejabat tinggi itu mungkin akan merasa diremehkan kalau saya datang menemuinya dengan pakaian kotor dan bau!
Namun, entah mengapa saya langsung memeluk pengemis tersebut dengan erat, seperti saya memeluk anak saya sendiri. Tanpa saya sadari, kejadian tersebut disaksikan oleh banyak orang di sekitar lokasi tersebut, yang merasa aneh dan janggal melihat seorang yang berpakaian lengkap dengan dasi dan jas, mau memeluk seorang pengemis tua yang kotor dan bau, seperti seorang sahabat yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Saat saya sedang memeluk pengemis tersebut, saya mendengar suara sayup-sayup yang sangat lembut: "Ketahuilah: waktu engkau melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti engkau melakukannya kepada-Ku!" Saya merasa seakan-akan saya telah bertemu dan memeluk Tuhan Yesus pada saat itu.
Saya telah diundang minum kopi oleh seorang pengemis, tetapi kebalikannya, apakah saya bisa dan mau mengundang seorang pengemis, untuk minum dan makan bersama dengan saya dan keluarga saya? Kita lebih mudah dan lebih ikhlas memberikan uang kepada seorang pengemis, daripada mengundang dia untuk makan atau minum bersama dengan kita. Apakah Anda pernah mengundang seorang pengemis untuk makan atau minum di rumah Anda? Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa kalau kita mau mencari Tuhan, carilah dengan "Kasih", jangan dengan logika karena kekuatan dan kuasa kasih jauh lebih besar dan lebih kuat daripada segala macam logika yang ada di dunia ini. Kalau seseorang meminta bantuan kepada kita, gantilah pikiran logika dengan perasaan kasih karena Tuhan mengasihi kita, tanpa menggunakan logika.
Bunuhlah perasaan praduga yang ada di dalam diri Anda dan hapuslah perkataan "jangan-jangan" yang ada di dalam kamus kehidupan Anda! Ibu saya tidak bisa menulis dan membaca. Ia membesarkan kami, anak-anaknya, hanya dengan kasih sayang, tanpa segala macam teori psikologi pendidikan. Saya bisa merasakan hasilnya sampai dengan detik ini, walaupun setengah abad telah berlalu. Logika bisa mengotori dan meracuni perasaan kasih. Logika adalah tembok pemisah antara Sang Pencipta dengan manusia!
Copas : www.sabda.org
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul majalah:Curahan Hati, Januari 2006
Judul artikel:Bertemu dengan Tuhan
Penulis:Mang Ucup
Penerbit:Yayasan Curahan Hati
Halaman:21 -- 22

"Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku."
(Matius 25:45)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar