Minggu, 31 Desember 2017

PENYEMBUHAN GINJAL BOCOR


Ana adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Kehidupannya ia jalani dengan sederhana bersama suami dan seorang putrinya di sebuah gang daerah Palmerah Jakarta. Suatu saat Ana merasa sakit di pinggangnya dan hanya bisa tergelatak di tempa tidur. Sekitar pertengahan bulan Oktober 1999 tejadi pembengkakan di kaki dan tangan. Saya lihat badan saya semakin bengkak dan lemas. Saya tidak bisa bangun dan makan dengan baik karena seluruh tubuh lemas. Untuk ke WC saja saya harus dibopong oleh suami.

Saya tidak segera berobat dan tetap bertahan dirumah karena tidak ada biaya. Suatu saat teman-temannya mendengar bahwa ia sakit dan mereka segera datang kerumahnya. Mereka kaget saat melihat keadaanya “kok sampai separah ini ? kami kira biasa-biasa saja” Atas bantuan biaya dari teman-temannya, Ana dibawa berobat ke sebuah rumah sakit. Selama beberapa hari Ana terbaring di rumah sakit dan menjalani permeriksaan dokter. Waktu di rumah sakit dokter bertanya kepadanya apa saja yang menjadi keluhannya. Dokter segera pastikan bahwa dari keluhan yang saya ungkapkan “Kalau saya buang air kecil warnanya kuning dan berbusa”, bahwa saya sakit ginjal bocor. Keesokan harinya Ana langsung periksa ke laboratorium dan ternyata hasil labnya saya sakit ginjal bocor. Dokter kemudian memberikan Ana obat. Keesokan harinya dokter sudah memperbolehkan ia pulang.

Namun satu hari setelah sampai di rumah, keadaannya semakin memburuk. Seluruh tubuh Ana mulai bengkak dan menjalar samapai ke kaki. Lalu mereka membawa Ana kembali ke dokter. Dokter spesialis ginjal kaget melihat keadaannya dan mengatakan “Ini diluar dugaan saya, saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Saya akan buatkan surat pengantar dan ibu bisa mencari rumah sakit lain” Namun karena tidak ada biaya, Ana tidak pergi ke rumah sakit seperti dianjurkan oleh dokter. Hari-hari selanjutnya ia lewati dengan terbaring di tempat tidur. Kondisi tubuhnya semakin buruk, badanya semakin sakit dan bengkak-bengkak si sekujur tubuh.

“Saya tahu saya mempunyai tabib yang ajaib yang sanggup menyembuhkan saya” Malam itu Ana berdoa dengan suaminya. Pada saat mereka menaikkan pujian penyembahan, Ana hanya ingat lagu : ajarku mengerti….ajarku berharap…ajarku berserah hanya padaMu. “Bapa sekarang imanku hanya berserah kepada kekuatanMu. Sekarang saya tidak mempunyai apa-apa, saya tidak sanggup tetapi saya percaya Bapaku sanggup menyembuhkan saya” Pada saat mengucapkan hal itu Ana melihat sebuah penglihatan. “Saya melihat Tuhan Yesus menumpangkan tangan di kepala saya dan saya lihat dari dari tangan itu keluar darah. Darah yang membasahi rambut saya. Saya ambil darah itu dan saya usapkan ke seluruh tubuh saya. Terima kasih Tuhan, darahMu tercurah penuh bagi saya. DarahMu menebus saya. Dan saya percaya di dalam nama Tuhan Yesus, saat ini saya sudah disembuhkan oleh Engkau. Saya sudah terima mujizat kesembuhan”

Saat itu suaminya heran dengan apa yang dilakukan oleh isterinya dan hanya bertanya-tanya di dalam hatinya. “Tepat pukul 06.00 urat di tangan saya mulai kelihatan, saya lihat kerutan di mata saya sudah kelihatan. Saya langsung teriak Puji Tuhan – puji Tuhan pak, puji Tuhan, mujizat Allah terjadi. Saya gandeng dan peluk suami saya dan kami mengucap syukur bersama” Suatu perjalanan yang indah yang takkan terlupakkan. Ana bersyukur memiliki Tuhan Yesus yang selalu membawa kebahagiaan di dalam kehidupannya.

Sumber Kesaksian:

Rabu, 27 Desember 2017

HARAPAN YANG PASTI


Vika Patricia seorang anak kecil ketika berusia tiga tahun menderita sakit aplastik anemia yaitu suatu penyakit dimana sumsum tulang tidak mampu memproduksi elemen-elemen darah. Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit anemia. Gejala penyakit ini ditandai dengan wajah yang pucat, badan yang lemah, lekosit kurang dan suhu badan naik turun. Gejala ini dirasakan Vika pada pagi hari dan saat itu juga Vika dihentar oleh ayahnya ke dokter untuk memeriksakan diri. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Vika mengidap penyakit “aplastik anemia”.

Pemeriksaan terus dilakukan dan ternyata dokter juga menemukan ada kejanggalan penyakit lain. Menurut dokter, penyakit ini sulit disembuhkan.Vika harus diopname di rumah sakit. Dokter juga menganjurkan agar Vika berobat di Belanda, sebab pengobatan di Belanda lebih canggih. Orang tua Vika sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Orang tua Vika mengikuti anjuran dokter. Vika berobat ke Belanda namun dokter tidak dapat menyembuhkannya. Pengobatan juga dilakukan di salah satu rumah sakit di Singapura, namun tidak memberikan kesembuhan.

Akhirnya mereka kembali ke Indonesia. Mereka banyak mendapat dukungan doa dari teman-teman. Hari demi hari mereka lewati namun kondisi kesehatan Vika tidak menunjukan hasil yang menggembirkan. Orang Tua Vika pasrah menerima kenyataan yang ada. Pada saat itu, orang tua Vika belum sepenuhnya menerima Yesus sebagai Juruselamat. Mereka benar-benar mengandalkan kuasa dokter untuk menyembuhkan penyakit Vika.

Sampai tiba pada suatu hari, orang tua Vika sangat bergumul dengan penyakit yang diderita Vika. Sampai kapan Vika harus menanggung beban penderitaan ini? Ibu Vika berkata kepada ayah Vika, sebaiknya kita tidak mengandalkan kuasa dokter tetapi kita menyerahkan sepenuhnya pada Yesus Kristus yang berkuasa dan empunya kehidupan kita. Ayah Vika merenungkan hal ini. Di dalam hatinya dia berkata bahwa benar juga dan memang seharusnya demikian. Tidak ada yang mampu melawan kuasa Tuhan. Akhirnya orang tua Vika bersepakat agar semua yang mereka alami pada saat ini, sepenuhnya diserahkan kedalam kuasa dan kasih Tuhan. Orang Tua Vika yakin bahwa pasti akan ada kesembuhan yang Tuhan anugerahkan pada diri Vika. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kepada mereka yang percaya dan menaruh pengharapan pada Tuhan. Sesulit apapun bagi manusia, Tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kita.

Pada beberapa hari berikutnya, dokter menyatakan bahwa penyakit Vika berangsur pulih. Hal ini dapat dibuktikan dengan bertambahnya sel darah merah (hemoglobin) yang semula 3,0 menjadi 13,0 dalam waktu satu minggu.Tuhan memang baik dan sangat mengasihi hidup kita. Orang tua Vika menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan dalam kehidupan, kita tidak dapat melakukan sesuatu.

Mulai saat itu, orang tua Vika menerima Yesus sebagai Juruselamat mereka. Saat ini anak Vika berusia sebelas tahun dan bertumbuh menjadi anak yang sehat dan kreatif. Ia mengikuti berbagai macam les, seperti les vokal, les renang dan les beberapa mata pelajaran. Pengharapan itu telah diperoleh. Ini semua diyakini sebagai berkat kasih sayang Tuhan yang tidak berkesudahan bagi kehidupan umatNya.

Sumber Kesaksian:
Vika Patricia (jawaban.com)

Sabtu, 23 Desember 2017

USIA HIDUPKU TINGGAL SESAAT


Seandainya ada seorang anggota keluarga kita yang sakit keras dan berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mengatakan: “Kuatkanalah hati saudara, karena harapannya sangat tipis sekali.” Apa reaksi saudara ketika mendengar hal tersebut? Ada dua kemungkinan yang terjadi. Kemungkinan yang pertama berontak dan tidak percaya, karena dibawa berobat tentu dengan harapan untuk sembuh. Kemungkinan yang kedua: pasrah pada apa yang akan terjadi, terjadilah asalkan penderitaan si sakit cepat berlalu. Lalu, kalau di antara kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi, di tengah-tengah harapan tipis yang hampir menuju pada keputusasaan, ternyata saudara kita yang sakit itu sembuh. Bagaimana pula perasaan kita? Tentunya kita merasakan “sukacita yang tidak dapat digambarkan hanya dengan kata-kata saja.”

Perasaan-perasaan semacam ini dialami oleh Yakobus Karman, ketika berusia muda dan ia adalah seorang yang sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Ia bekerja pada sebuah pabrik farmasi dan memiliki posisi baik di kantornya sehingga secara finansial ia tidak mengalami kesulitan.Waktunya tidak hanya tersita pada pekerjaan tetapi juga tersita bersama teman-teman seperti berjudi dan melakukan hubungan seks. Di tengah kesibukannya, dia tidak merasa bahwa ada bahaya besar menghadang dia.Disinilah awal kehancurannya.Dia mulai merasakan ada sesuatu di lehernya yang kelihatan membengkak.Yakobus menjadi tidak tenang sebab sangat mengganggu pekerjaannya.Ia memeriksakan diri ke dokter dan dokter mengambil langkah pemeriksaan melalui CT scan. Dari hasil pemeriksaan dokter dengan menggunakan alat CT scan, ternyata Yakobus mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening yang berukuran 1,5cm x 1,5cm. Sumsum darah juga diambil sebab kelenjar getah bening ini akan menjalar ke darah.

Pada waktu pengambilan sumsum darah, Yakobus merasakan sakit sehingga dia harus berteriak-teriak karena menahan rasa sakit. Dokter juga menyatakan bahwa kemampuan Yakobus bertahan hidup diperkirakan enam bulan jika memang dia memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Salah seorang anggota keluarga berinisiatif mencari pertolongan lewat paranormal.Sementara paranormal mempersiapkan segala peralatan, Yakobus berbaring dengan tenang dan hanya berharap mudah-mudahan dia sembuh.Proses penyembuhan ini dijalani beberapa jam yang dipenuhi dengan pembacaan mantera.Setelah selesai, paranormal memberitahukan hasil pengobatan bahwa reaksi dari pengobatan ini adalah keluarnya darah yang berarti Yakobus sembuh dari penyakitnya. Beberapa saat kemudian, darah keluar dari tubuhnya dan mendadak Yakobus ketakutan, seperti mau mati rasanya.Harapannya untuk bertahan hidup sirna seketika.Sepertinya tidak ada harapan hidup bagi Yakobus. Keluarganya bingung melihat tingkah Yakobus yang ketakutan.

Pada saat depresi yang berat, Yakobus teringat pergi ke gereja.Kebetulan pada hari itu ada suatu acara kebaktian di gereja.Yakobus mendengar dengan seksama Firman Tuhan yang disampaikan oleh bapak Pendeta.Tema khotbah pada saat itu ialah “janganlah minta kekayaan, tetapi minta ampun pada Tuhan atas dosa yang telah diperbuat.” Hatinya tersentuh mendengar khotbah itu.Yakobus memberanikan diri maju ke depan mengaku dosa dan mohon ampun dari Tuhan atas segala dosa yang diperbuatnya selama ini.

Selama pengakuan dosa, ia merasa ada pertemuan yang indah bersama Tuhan.Pada saat yang bersamaan, ada sinar memancar yang menerangi dirinya sehingga dirinya terasa panas. Rasa sesak yang dirasakan sebelumnya mendadak hilang. Namun, ada suatu kelegaan yang mengalir dalam dirinya. Pada malam itu ia menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan takut seperti hari-hari sebelumnya.Yakobus mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak mau di operasi, sebab ia merasa sehat. Namun ibunya berkeras harus dioperasi. Malam itu adalam malam terakhir saat ia menunggu waktu operasi pada besok hari.

Keesokan harinya, sebelum operasi dimulai, dengan penuh keyakinan bahwa ia menerima kesembuhan dari Tuhan, Yakobus mengatakan pada dokter bahwa dirinya tidak lagi merasa sakit.Dokter tidak percaya yang dikatakan Yakobus sehingga pemeriksaan melalui CT scan dilakukan kembali.Hasil pemeriksaan menunjukan kelenjar getah bening telah hilang dan itu berarti penyakit kanker yang di deritanya sembuh. Dokter tetap tidak percaya melihat hasil pemeriksaan sehingga pemeriksaan dilakukan kembali pada beberapa bulan berikutnya.Hasilnya tetap sama, yaitu kelenjar getah bening hilang dari tubuhnya.Pembengkakan pada leher menjadi kempes.

Akhirnya dokter menyatakan bahwa Yakobus benar-benar sembuh dan operasi tidak jadi dilakukan.Yakobus dan keluarga sangat bersukacita menerima kesembuhan dari Tuhan yang menurut ilmu kedokteran, penyakit yang dideritanya sulit disembuhkan tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sebelas tahun yang silam ia melewati penderitaan ini. Sungguh besar kasih setia Tuhan pada umatNya yang selalu mengingat, meyakini dan menyerahkan diri, hati dan hidup kita pada penyertaan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Yakobus Karman (jawaban.com)

Selasa, 19 Desember 2017

AKU KEMBALI SEPERTI ANAK KECIL


Apa jadinya kalau seseorang yang telah menginjak dewasa kembali melakukan kegiatan anak kecil yaitu belajar berbicara, belajar berjalan, bahkan kemampuan fisiknya seperti seorang anak kecil. Ketika masih kecil dia dididik sangat keras oleh kakeknya sehingga mempengaruhi mental dan kepribadian dia menjadi seorang yang nakal dan pemberontak. Sampai dia besar perilakunya makin buruk sehingga menjadikan dia sebagai seorang pemakai narkoba, tukang berkelahi, ugal-ugalan, kebut-kebutan di jalan, dan pemain perempuan.

Peristiwa ini dialami oleh Haryanto Budi, yang mengalami kecelakaan bermotor sehingga mengakibatkan lumpuh pada kedua kaki dan tangan serta buta pada kedua matanya.Dia tidak menyangka kalau kecelakaan itu akan mengakibatkan fatal pada dirinya.Kejadian ini dialaminya pada suatu malam, ketika dia sedang mengendarai motor, tiba-tiba dari arah depan ada mobil dan Haryanto tidak dapat menguasai kecepatan motor yang dikendarai sehingga tabrakan itu tidak dapat dihindari. Haryanto terlempar, kepalanya membentur trotoar dan berlumuran darah.

Orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian mengatakan bahwa dirinya tak bernyawa lagi. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dan dokter segera mengambil tindakan. Dokter tidak dapat berbuat banyak sebab kecelakaan yang dialami Haryanto cukup berat. Dari hasil pemeriksaan dokter, ternyata Haryanto mengalami geger otak dan harapan hidupnya tinggal duapuluh persen. Seandainya hidup, dia akan mengalami geger otak yang hebat, separuh saraf-saraf dalam tubuhnya tidak berfungsi, penglihatan kabur, kedua kaki dan tangan lumpuh dan tidak dapat berbicara.

Sekarang Haryanto tak berdaya dan semangat hidupnya hilang seketika.Hari-hari kehidupannya dilalui dengan melakukan kegiatan dia pada waktu kecil yaitu belajar berbicara dan belajar berjalan sementara penglihatan dia semakin kabur. Pada saat dia sedang sendiri dan termenung, pikirannya kembali mengingat masa lalunya yang dipenuhi dengan kehidupan ugal-ugalan, kebut-kebutan, perkelahian, pemakai narkoba, dan mempermainkan perempuan. Kini dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini betapa menghancurkan kehidupan dan masa depannya. Dia berjanji akan meninggalkan semua kebiasaan buruknya di masa lalu. Haryanto tetap yakin bahwa masih ada harapan kehidupan dan kesembuhan yang diberikan Tuhan pada dirinya, dan oleh karena itu ia tidak putus asa untuk terus berlatih berbicara dan berjalan walaupun masih gagap dan terus terjatuh.

Pada suatu hari, di saat Haryanto duduk berdoa dan merenungkan kehidupannnya, tiba-tiba dia merasakan kekuatan baru dalam dirinya. Dia mencoba berdiri dan berjalan sambil mencoba berbicara. Memang benar, pada saat itu Haryanto dapat berjalan dan berbicara, penglihatannya juga semakin jelas. Betapa bahagianya Haryanto mengalami kesembuhan. Kebahagiaan dia tak dapat terlukiskan dengan kata-kata. Dia sangat yakin bahwa apa yang dialaminya adalah semata-mata pertolongan Tuhan. Entah dengan apa dia harus mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas segala kasihNya yang tak berkesudahan. Namun yang pasti bahwa dia menempatkan Tuhan yang terutama dalam segala kehidupan dan pergumulan hidup yang dialaminya.

Kini dia dapat melewati masa-masa sulit selama beberapa waktu lamanya dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang baru dengan segala rencana kehidupan dan masa depan yang lebih jelas dan terarah di dalam bimbingan dan penyertaan Tuhan.

Sumber Kesaksian:
Haryanto Budi (jawaban.com)

Jumat, 15 Desember 2017

WAKTUKU TERSITA DI LAPANGAN TENIS



Bermain tenis adalah hobi Jimmy Dumais, demikian nama lengkapnya atau yang biasa dipanggil Jimmy. Hampir setiap hari dia bermain tenis bahkan sampai melupakan dan menomorduakan keluarga. Dalam keluarga sering timbul pertengkaran karena Jimmy jarang berkumpul bersama keluarga di rumah. Ia lebih menyukai berkumpul bersama teman-teman di lapangan tenis.

Pada suatu hari yang cerah, tepatnya pada tanggal 18 Februari 2000, seperti biasanya Jimmy melakukan kegiatan rutin bersama teman-teman yaitu bermain tenis. Permainan pada hari itu sangat bersemangat seperti hari biasanya. Permainan terus berlangsung sampai tiba pada hitungan keempat. Sementara permainan berlangsung, tiba-tiba kakinya keseleo sehingga permainan tak dapat diteruskan.Teman-temanya mencoba menekuk kakinya namun kakinya tarasa sakit sekali.

Jimmy segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter segera memeriksanya, dan menurut hasil pemeriksaan dokter, ternyata arkhilesnya putus. Sebelum diadakan operasi, dokter terlebih dahulu memeriksa jantung juga diperiksa dan di ronsen untuk diadakan operasi. Dokter menyarankan agar Jimmy beristrahat total di rumah sakit selama seminggu. Dalam kesakitan, dia masih sempat menanyakan pada dokter apakah ada kemungkinan bermain tenis lagi. Dokter mengatakan masih dapat melakukan olah raga tenis dalam waktu enam bulan atau setahun mendatang. Dan jikalau tak dapat melakukan olah raga tenis, mungkin dapat melakukan olah raga lain.

Rasa sedih dan putus asa menyelimutinya sebab harus berjalan memakai tongkat dan tak dapat bermain tenis lagi. Ia menjadi rendah diri sebab merepotkan dan menyusahkan orang lain untuk menuntunnya kemanapun dia pergi.Tidak ada yang dapat dilakukan tanpa pertolongan orang lain. Sikap mandiri yang tertanam dalam dirinya terasa pudar seketika. Jimmy tidak menyadari bahwa melalui kehidupannya ada sesuatu yang luar biasa akan mengisi kehidupannya.

Pada suatu hari, ia diajak anaknya mengikuti pertemuan ibadah beberapa hari di luar kota. Dalam hatinya ia berkata, apakah mungkin kuasa doa akan mampu menyembuhkan kakinya yang sakit? Mustahil semua itu. Tapi untuk menyenangkan hati anaknya, ia mengikuti ajakan anaknya. Pada hari terakhir acara pertemuan ibadah, Jimmy merasa bosan dan ingin pulang. Hal itu dikatakan pada istri dan anaknya. Anaknya menyetujui permintaan akan kembali terlebih dahulu ke rumah. Ia merasa heran mengapa anaknya tidak memperhatikan keadaan mereka selama pertemuan itu. Menjelang berakhirnya pertemuan ibadah itu, anaknya mengajak mengikuti doa penyerahan pada malam hari. Namun, keinginan duniawi lebih kuat menguasai dirinya.

Dalam hatinya selalu berkata, tidak mungkin hanya dengan doa seseorang akan mampu menyembuhkan penyakit orang lain. Dia masih terus diliputi rasa tidak percaya akan kuasa Tuhan melalui doa sang pendeta. Jimmy tidak mengikuti ajakan anaknya mengikuti doa penyerahan, dia tetap berkeras pada pendiriannya. Sepanjang malam, kakinya terasa sakit dan ia kembali bersungut-sungut bahwa jika dia mengikuti doa penyerahan, pasti dia akan menyusahkan orang lain dan tidak dapat mengikuti doa penyerahan. Pada malam itu, seperti ada yang menahannya agar tidak kembali ke rumah, tetapi dia tidak tahu apa yang menahannya.

Keesokan paginya tepat pada hari Minggu, ia bangun lebih awal tak seperti hari biasanya. Ada yang menyuruh dia untuk pergi ke gereja. Ia segera berkemas-kemas hendak pergi ke gereja. Istri dan anaknya terheran-heran. Jimmy mengajak anak dan istrinya agar bersiap-siap pergi ke gereja. Bagi istri dan anak Jimmy, hal ini merupakan peristiwa terbesar dalam keluarga mereka sebab suami atau ayah yang sangat mereka kasihi ternyata mau membuka hatinya untuk mendengarkan firman Tuhan. Jika keadaan sebelumnya Jimmy sangat tertutup hatinya akan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, maka saat ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup Jimmy untuk menerima Tuhan sebagai Penolong dan Pelindung kehidupannya.

Kehadiran Jimmy di gereja, sangat menggembirakan pak pendeta. Semua anggota jemaat menyambut dengan penuh sukacita kehadiran Jimmy sekeluarga. Kiranya melalui kehadirannya, akan memberikan pembaruan bagi kehidupan pribadinya. Acara demi acara berlangsung dan Jimmy mengikutinya dengan seksama.Sementara istrinya mengambil makanan, tiba-tiba Jimmy menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak dan panas. Kemudian pak pendeta mendoakannya dengan mengimani bahwa Tuhan mempunyai kuasa untuk menyembuhkan seseorang.

Jimmy mohon ampun pada Tuhan atas segala dosa yang dilakukannya selama ini yang telah jauh dari Tuhan dan menyangkali kehadiran dan kuasa Tuhan dalam kehidupan pribadinya. Selesai berdoa, Jimmy mencoba berdiri dan berjalan secara perlahan tanpa ditopang oleh tongkat. Dia berjalan terus ke depan sambil memuji Tuhan dan bersukacita. Alangkah bersuka citanya Jimmy, sebab mengalami kebaikan Tuhan dalam kehidupan pribadinya walaupun dia sempat menyangkali kasih Tuhan tetapi Tuhan tetap mengasihi dirinya. Melalui pengalaman yang dialaminya, ia semakin menyadari dan meyakini kasih Tuhan dalam kehidupannya.


Sumber Kesaksian:
Jimmy Dumais (jawaban.com)


Senin, 11 Desember 2017

VIDEO GAMES ADALAH HIDUPKU


Aku mulai bermain video games sejak dari kelas sekolah dasar. Pada saat itu kedua orang tuaku sangat ketat mengawasi game yang aku mainkan dan seberapa lama aku bermain. Namun seiring aku bertumbuh besar, aku menemukan cara-cara untuk menghindari pengawasan mereka.

Seiring berjalannya waktu, video games perlahan menjadi hal yang paling terutama dalam hidupku, meskipun aku sebenarnya tidak mau mengakuinya. Aku senang menawar-nawar seberapa lama aku dapat bermain video games dengan orang tuaku. Kapanpun orang tuaku pergi, aku dapat berhenti dari apapun yang sedang kukerjakan dan langsung memainkan komputer atau X-Box. Ini seperti alam kedua bagiku. Aku biasa mengevaluasi kualitas hariku dengan seberapa lama aku bermain video games – Hari-hari tanpa video games kuanggap hari-hari yang buruk.

Jika kamu pernah bermain games yang bernama The Sims, kamu pasti tahu bahwa karakter dalam game tersebut memiliki delapan kebutuhan, atau keinginan yang ditampilkan dalam bentuk balok panjang. Jika karakter memakan sesuatu, balok “lapar” terisi penuh, dan jika karakter bermain video games, balok “kesenangan” akan terisi pula. Meski demikian, kenyataan tidak berjalan seperti itu. Aku bermain video games dengan pikiran dapat memuaskan hasrat “kesenangan”ku, tapi setelah berjam-jam bermain video games, hasrat itu tidak pernah terpenuhi. Justru aku semakin ingin bermain lebih lagi.

Hasrat bermain video games sungguh kuat sampai-sampai hal itu selalu muncul di pikiranku. Aku berpikir tentang video games ketika aku tidur, ketika ujian, bahkan ketika aku berdoa memohon Roh Kudus.

Setelah beberapa lama aku mencari Tuhan, aku menerima Roh Kudus dan dibabtis saat aku kelas 9. Namun aku tetap merasa video games tidak menjadi masalah dalam hidupku, meskipun hal ini menguras banyak waktuku yang berharga, membuatku lupa untuk memegang hari Sabat, dan membuatku banyak berbohong pada orang tua.

Aku tidak menyadari bahwa video games adalah masalah bagi kehidupan rohaniku sampai aku menghadiri the 2003 Winter Student Spiritual Convocation (SSC) untuk pertama kalinya sebagai murid baru di SMA. Topik khusus mengenai video games sangat kuat dan menyentuh. Hal ini menyadarkanku bahwa video games memenuhi waktu-waktuku dibanding untuk Tuhan. Aku juga belajar bagaimana video games secara tidak sadar mempengaruhiku dalam banyak hal, seperti mempengaruhi emosiku dan membiasakanku berbuat kasar.

Namun aku tidak cukup kuat untuk berhenti atau bahkan mengurangi bermain video games.


TITIK BALIK

Sebelum menghadiri the 2006 National Youth Theological Seminar (NYTS) di bagian selatan California, perasaanku bercampur aduk. Aku mendengar banyak hal-hal “buruk” akan acara tersebut, seperti orang-orang berhenti bermain video games dan menonton TV setelah menghadiri NYTS. Aku tidak perduli soal TV, karena aku tidak punya kebiasaan menonton TV. Namun aku tidak dapat membayangkan diriku tanpa video games. Bagiku video games merupakan suatu hal yang terpenting dalam hidupku.

Seperti biasa, video games tetap muncul di pikiranku selama doa di NYTS. Sebelumnya ketika aku mendengar pastur berkata bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan, aku selalu berkata pada diriku aku tidak melayani dua tuan; bahwa video games hanyalah bagian dari aktivitas senggangku. Namun selama doa aku perlahan menyadari bahwa aku memiliki masalah.

Aku teringat Yesus Kristus pernah berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Sehingga aku memutuskan untuk melemparkan beban yang paling berat pada Yesus Kristus, yaitu video games dan kedua orang tuaku yang belum dibabtis.

Aku berkata pada Tuhan Yesus, “Jika Engkau membuat kedua orang tuaku dibabtis, maka aku akan berhenti bermain video games.” Aku merasa sedikit cerdas dengan melempar tanggung jawab pada Tuhan, karena aku tahu bahwa jika kedua orang tuaku memutuskan untuk dibaptis, pertemuan rohani dan baptisan yang berikutnya masih 5 bulan lagi, dan selama 5 bulan tersebut aku masih bisa bermain video games sepuasnya. Masalah selesai.

Meski demikian, doaku semakin memburuk. Saat Kamis pagi, aku merasa imanku lebih rendah daripada saat aku hadir di NYTS sebelumnya. Aku telah siap untuk pulang karena aku sangat rindu pada gamesku. Aku juga merasa aku tidak perlu untuk tinggal karena aku tidak melakukan dosa yang berat, jadi aku tidak butuh pengampunan.

Bersyukur pada Tuhan, penasehatku dan penasehat yang lain memberiku semangat dengan ayat-ayat Alkitab dan pengalaman hidup mereka, dan aku memutuskan untuk tinggal. Saat itu pula aku sadar bahwa aku butuh pengampunan dan rahmat Tuhan lebih daripada siapapun.


PENGALAMAN DENGAN TUHAN DAN SETAN

Selama doa malam hari Selasa, aku mendapat pengalaman yang paling indah selama aku hidup. Saat aku bertobat dan menyesali perbuatanku dalam doa, Aku merasa Tuhan amat menjamahku dan menggenggamku dengat erat; aku bahkan melihat Dia memberiku hati yang baru. Air mata sukacita yang tidak dapat kutahan lagi mengalir deras selama doa tersebut. Setelah doa tersebut, aku merasa ringan, sungguh tanpa beban, dan aku tidak pernah merasa seperti ini sejak aku mendapat Roh Kudus.

Aku merasa seperti video games tidak menjadi suatu masalah lagi, bukan karena aku berhenti dari video games, tapi karena video games telah berhenti dariku. Aku merasa sangat bebas, video games tidak punya kuasa lagi terhadap diriku. Aku sangat bersukacita, sungguh ingin aku membagikan sukacitaku dengan orang-orang disekitarku.

Malam itu aku sangat bahagia karena aku tidak dapat tidur hingga larut malam. Anehnya, aku mendapat mimpi buruk. Aku terjatuh, terus jatuh, dan aku tidak merasakan angin menerpa wajahku yang sedang jatuh bebas ke bawah. Dalam perjalananku jatuh ke bawah, aku melihat iblis sedang jatuh mendahuluiku di depan.

Tubuh iblis itu menyerupai seekor gurita, namun dengan jumlah kaki yang lebih banyak. Wajahnya tidak terlalu jelas dan aku tidak dapat ingat seperti apa rupanya. Disekitar iblis tersebut terdapat banyak monitor komputer, jatuh bersama iblis tersebut. Saat-saat kami menuju ke tanah, aku melihat sebuat lubang api yang amat besar di bawah sana, menyala-nyala dengan laharnya.

Si Iblis dan seluruh monitor tersebut jatuh ke dalam lubang itu, merekapun lenyap. Ketika aku hampir jatuh juga ke dalam lubang api itu, tiba-tiba aku terbangun dengan sebuah ayat di benakku. Saat aku mencari ayat tersebut pagi harinya, hanya butuh 5 detik sampai aku mendapatinya (biasanya aku tidak secepat itu).

Demikian bunyi ayat tersebut, “Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaanya semula.” (Mat 12:45). Dari pengalaman ini, aku menyadari bahwa aku harus segera mengisi kehidupanku dengan firman Tuhan dan hal bermakna lainnya, jika tidak maka aku akan jatuh ke dalam pencobaan yang lain.



MEMBUAT KETETAPAN

Aku menikmati kebebasanku yang baru untuk sementara waktu. Tetapi 2 hari kemudian, godaan untuk bermain video games kembali muncul – kali ini jauh lebih kuat dari yang pernah ada. Aku merasa imanku menjadi lemah, dan video games hampir mengambil alih diriku kembali. Aku merasa seperti bangsa Israel yang tidak tahu berterima kasih; yang bahkan setelah mengalami mukjizat Tuhan yang penuh kuasa, kasih, dan pengampunan, aku masih memalingkan perhatianku untuk mengingat kembali akan ikan yang kumakan di Mesir.

Sisa dari apa yang terjadi selama NYTS, aku mengalami pergumulan hebat antara roh dan daging. Aku tahu bahwa aku tidak dapat membiarkan pertempuran ini terus berlanjut. Aku tahu bahwa aku akan kembali pada kehidupanku yang lama saat aku meninggalkan NYTS – diperbudak oleh video games, menyesali waktu yang terbuang sia-sia, namun tidak sanggup berbuat apa-apa.

Aku menyadari bahwa aku butuh sebuah obat dalam dosis yang besar untuk benar-benar menghentikan video games dari kehidupanku. Aku memutuskan untuk bernazar sebelum NYTS berakhir. Aku mengerti kalau kita tidak boleh menganggap remeh nazar, tapi aku tahu Tuhan-ku maha pengasih, sehingga aku memutuskan bahwa bernazar akan lebih menguntungkan untuk diriku daripada tidak melakukannya. Nazarku adalah, “Aku tidak akan menyentuh video games lagi seumur hidupku, jika tidak maka Tuhan akan menghukumku dengan sangat berat, seperti membiarkanku gagal dalam semua pelajaran.”

Setelah kedua orang tuaku mengantarkanku ke rumah dari NYTS, mereka harus pergi ke pesta sahabatnya. Nenekku sedang di luar dan adik laki-lakiku juga tidak sedang di rumah. Rumahku kosong. Godaan untuk bermain video games muncul. Aku dapat mendengarnya memanggilku, “Kemarilah, habiskan malam terakhir denganku, lalu kau dapat melenyapkanku besok.”

Puji syukur pada Tuhan bahwa aku baru saja kembali dari NYTS, dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku berlutut dan berdoa. Setelah 30 detik aku merasa cukup kuat untuk menyalakan komputer, menghapus semua games yang kumainkan, dan memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan video games.


ARAH YANG BARU

Sedikit sulit untuk terbiasa pada awalnya. Aku mendadak mempunyai waktu luang yang amat banyak, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Perlahan-lahan aku menemukan kesenangan berkebun di halaman rumahku, rasa pencapaian saat membantu urusan dapur, kesabaran lebih untuk membaca buku bahasa Inggris (Bahasa Inggris bukanlah bahasa utamaku), lebih banyak waktu untuk keluargaku, dan lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa.

Ketika aku kembali kuliah untuk tahun keduaku, aku memiliki waktu yang lebih banyak dengan persekutuan di kampus, lebih banyak waktu untuk fokus dalam akademis, memiliki keingingan untuk menjadi relawan dalam klub, dan lebih semangat menghadiri pelayanan Jumat malam dan bergabung dengan tim paduan suara. Tuhan juga memberkatiku dalam banyak hal, seperti peningkatan nilai akademik; bahkan aku mendapat nilai A+ untuk yang pertama kalinya dalam hidupku; dalam kelas kimia organik yang sulit.

Selama SSC pada musim dingin, aku menemukan bahwa tidak ada lagi rasa hampa setelah berdoa seperti tahun sebelumnya. Yang paling penting, aku menemukan jalan untuk masa depanku yang lebih jelas – aku memiliki arah, dan tujuan untuk terus maju.

Aku ingin menjadi professor di bidang sains, sehingga di kemudian hari aku dapat berkhotbah tentang kebenaran kepada para ilmuwan dan menjadi kesaksian yang baik bagi Kritstus. Seorang professor juga dapat mempengaruhi muridnya secara benar, dan membantu persekutuan dalam kampus. Aku masih belum tahu apakah ini adalah tempat yang diperuntukan Tuhan bagiku, namun aku tahu jika aku mengarahkan tujuanku kepada hadiah terakhir – Menuju Surga – dan aku sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan dalam hidupku, maka Tuhan akan memimpinku kepada jalan yang benar.

Berhenti dari video games terkadang terasa seperti terkekang, seperti pada tahun kemarin ketika teman sekamarku berkumpul dan bermain video games tetapi aku tidak dapat bermain, atau ketika seseorang mengajakku untuk bermain video games saat aku pergi ke rumahnya. Tetapi aku tahu bahwa pertemanan yang sesungguhnya tidak dibangun diatas video games. Video games adalah dunia maya dimana kau dapat menutupi idetitas aslimu dan tidak perlu bertanggung jawab akan apa yang kau perbuat. Namun kehidupan yang kita jalani sesungguhnya sama sekali tidak seperti itu.

Video games terkadang membawa kenangan yang indah, seperti ketika aku dan adik laki-lakiku mengalahkan game bersama-sama. Tapi yang sudah lalu biarlah berlalu. Paulus berkata dalam Filipi 3:13, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Aku yakin masih banyak hal selain video games yang dapat kulakukan dengan adikku untuk mempererat hubungan kami.

Belajar Terbang dalam Ikatan

Aku melihat sebuah video singkat yang sangat membangun pada website Gereja Yesus Sejati Taiwan (http://www.joy.org.tw). Ini menceritakan mengenai sebuah layang-layang yang sangat menikmati terbang, dan berpikir bahwa dia dapat memutuskan diri dari ikatan tali, dia dapat terbang lebih tinggi lagi dan memandang lebih banyak hal. Sehingga dia meminta angin untuk menghempaskannya.

Dia menikmati kebebasannya namun perlahan mulai turun. Dia tersangkut diantara pepohonan, terbawa pergi, namun jatuh di atas tanah. Terinjak dan tertendang, dia dipenuhi dengan lumpur serta penuh luka-luka. Saat dia menangis dan menyesal, seorang anak kecil pemilik layang-layang tersebut menemukannya, membersihkannya, menutupi lukanya, dan membawanya terbang kembali ke angkasa.

Layang-layang tersebut kini menikmati kebebasan terbang dalam tali. Air mata menetes keluar saat aku menonton video ini, meskipun video ini ditujukan untuk anak kecil. Terkadang kita mungkin melihat keluarga, gereja, atau bahkan Tuhan sebagai batasan yang mencegah kita untuk mencapai sesuatu yang tinggi. Namun kenyataannya adalah, tanpa mereka, kita bukan apa-apa.

Aku berharap pengalamanku dapat menguatkan kamu untuk jangan pernah kehilangan harapan dalam Tuhan. Kita tidak perlu takut untuk membuat ketetapan hati untuk Tuhan kita, karena Tuhan kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus, sesungguhnya adalah Tuhan yang maha pengasih.


SETELAH ITU

Semenjak menulis kesaksianku di awal tahun 2007, aku telah menyadari bahwa tidaklah semudah pikiranku untuk menjauhi video games.

Seiring musim panas datang, aku berhenti dari kebiasaanku membaca Alkitab dan berdoa. Oleh sebab itu aku merasa jauh dari Tuhan, dan ketika aku mulai merasa kewalahan dengan tugas pelajaran dan penelitianku, aku tidak mampu menghadapi godaan untuk bermain video games. Bersyukur pada Tuhan, aku berhenti dan bertobat setelah bermain video games dua kali.

Saat sekolah kembali dimulai di musim gugur, iman dan rohaniku kembali stabil. Aku pikir hal ini dikarenakan Irvine Campus Fellowship. Selalu indah mempunyai banyak saudara dan saudari di sekitar kita untuk selalu bersekutu.

Aku tahu bahwa aku memiliki ketetapan untuk berhenti bermain video game tetapi tanpa pertolongan Tuhan aku tidak dapat melakukannya. Jika aku berpikir aku dapat melakukanya dengan kekuatanku sendiri, itu adalah bentuk kesombongan dan aku tidak akan mampu untuk berhasil.

Namun aku tahu bahwa aku tetap dapat hidup dalam kemenangan dengan pertolongan Tuhan dan kasih dari saudara dan saudari sekalian.

copas : members.tjc.org


Kamis, 07 Desember 2017

TUHAN MENGEMBALIKAN ANAKKU

Pada Tanggal 1 April 1987, saya dan istri saya sangat dibahagiakan oleh kelahiran anak pertama kami, seorang anak laki-laki yang kami beri nama Lai Zhen Seng. Tetapi kebahagiaan kami hanya bertahan sebentar. Ketika suster memberi dia makan pertamanya, susu yang diberikan tidak dapat masuk. Setiap memberikan susu, semuanya dimuntahkan kembali. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menemukan bahwa beberapa bagian dalam organ pencernaannya tidak tersambung dengan baik sehingga susu yang diberikan tidak bisa sampai ke perutnya. Kami diberitahu bahwa bayi kami harus segera dioperasi atau ia bisa meninggal. Dia belum berumur 1 hari! Bagaimana bisa bayi kecil ini bertahan dari cobaan yang begitu menyakitkan? Tetapi Puji Tuhan, Roh Kudus menenangkan saya dan memberikan saya kekuatan untuk mempercayakan kehidupan bayi ini kedalam tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Ilmu medis mungkin sudah sangat maju tetapi seorang dokter tetap tidak dapat memberikan kehidupan kepada pasien yang sekarat. Hanya Tuhan Yesus yang dapat melakukannya. Setelah dikuatkan oleh Roh Kudus, saya dan istri saya sepenuhnya menyerahkan hidup anak kami kepada Tuhan.

Dokter mengoperasinya keesokan harinya. Ketika ia dibawa keluar dari ruang operasi, penampilannya sudah tidak seperti yang kami kenal. Kepala kecilnya diperban dan banyak selang dengan berbagai ukuran tejulur dari tubuhnya, tubuhnya dipenuhi dengan selang-selang yang berjuluran. Ia lebih terlihat seperti alien dari luar angkasa! Pemandangan itu sangat memilukan hati dan hati saya dipenuhi rasa kasihan kepadanya. Ketika seorang pendeta menjenguk bayi kami, ia menyarankan kami untuk siap akan hal terburuk yang bisa terjadi. Saudara-saudari yang lain juga berkata demikian. Untuk beberapa hari bayi kami ada di dalam ruang perawatan intensif. Ia diberi makan melalui dua selang; satu dipasang di lehernya dan satu lagi di daerah perutnya - pemandangan yang menyedihkan bagi semua orang yang melihatnya.

Tetangga kami menyarankan pada kami untuk tidak mempercayai Tuhan Yesus lagi dan kembali kepada penyembahan berhala untuk meminta bantuan atau bayi kami akan meninggal. Tetapi kami berpegang teguh pada iman kepercayaan kami pada Tuhan dan tidak bimbang dalam iman kami.

Puji Tuhan atas belas kasihan dan kemurahan berkat Tuhan, melalui doa dari saudara-saudari seiman, bayi kami berangsur-angsur pulih setelah 28 hari di rumah sakit. Sekarang dia adalah seorang anak laki-laki berumur delapan tahun yang aktif, menggemaskan dan sehat. Puji Syukur dan kemuliaan pada Tuhan Yang Maha Kuasa!

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yoh 11:25)

"Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian." (Pkh 8:8)

copas : members.tjc.org

Minggu, 03 Desember 2017

DUA KALI DISEMBUHKAN

Dalam nama Tuhan Yesus menyampaikan kesaksian. 

Saya lahir pada tahun 1936 dalam keluarga yang belum percaya Tuhan Yesus. Saya sangat bersyukur karena bisa percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati sejak tahun 1950. 

Itu semua bermula dari penderitaan saya. Sejak berumur 6 tahun mata saya selalu merah, berair, dan bengkak. Sebabnya tidak diketahui meskipun sudah berobat ke banyak dokter. Dan dengan bermacam obat serta ramuan pun, hasilnya tetap tidak ada. 

Sampai pada suatu hari ada seorang saudari datang ke rumah dan ia mengajak saya ke Gereja Yesus Sejati. Saya tergerak dan ingin mencoba memohon kesembuhan. Jadi setiap hari Sabtu saya datang mengikuti kebaktian Sabat untuk mendengarkan firman Tuhan tentang kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan orang sakit. Ketika diadakan sakramen baptisan, saya memberi diri dibaptis. 

Beberapa hari setelah dibaptis, mata saya berangsur sembuh. Hal ini membuat heran orang tua saya, karena sakit mata yang telah berlangsung selama 8 tahun itu sekarang sembuh tanpa pengobatan. Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah bahwa kedua orang tua dan kelima adik saya akhirnya tergerak untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan mereka pun menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena melalui mujizat ini keluarga saya mendapat anugerah keselamatan. 

Ada lagi satu anugerah Tuhan yang saya rasakan. Sesudah menikah, tentunya sebagai istri saya harus membantu pekerjaan suami. Karena suami saya adalah seorang yang belum percaya Tuhan dan saya sendiri sibuk mengurus anak dan rumah tangga, saya menjadi jauh dari Tuhan dan jarang mengikuti kebaktian. Dalam satu tahun saya hanya satu kali berkebaktian, yaitu pada kebaktian awal tahun. 

Namun rupanya Tuhan masih menyayangi saya, sehingga pada tahun 1985 saya mendapat peringatan dari Tuhan. Saya mengalami kesakitan yang luar biasa di bagian perut yang disertai dengan pendarahan selama 3 bulan terus-menerus. Saya diperiksa oleh beberapa ahli kandungan. Dan semua dokter memastikan bahwa dalam rahim saya ada tumor yang harus segera diangkat. Seketika itu juga saya teringat akan penyakit mata saya dahulu. Saya teringat bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Saya memohon ampun kepada Tuhan. Siang-malam saya berdoa dengan pasrah sambil mencucurkan air mata. Akhirnya tanggal untuk operasi pun ditentukan. 

Tapi mujizat terjadi kembali. Pada hari yang sudah disepakati untuk operasi, pendarahan itu berhenti. Saya merasa gembira dan amat yakin bahwa Tuhan sudah menyembuhkan saya. Namun untuk lebih memastikan, saya memeriksakan diri kepada dokter yang sedianya akan mengoperasi saya. Dokter itu juga merasa heran karena tumor itu telah mengecil. Ia mengatakan bahwa sementara ini operasi tidak perlu dilakukan. 

Sejak itu sakit perut dan pendarahan yang saya alami berhenti sama sekali berkat kasih karunia-Nya. Karena itu saya tidak berani lagi menjauhi ibadah dan meninggalkan Tuhan. Pada Kebaktian Kebangunan Rohani tahun 1985, saya memperoleh Roh Kudus yang sangat saya rindukan. Saya merasa sangat bersukacita dan bertambah yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus yang saya sembah adalah Allah yang hidup, yang dapat menyembuhkan segala penyakit yang bagi manusia mustahil disembuhkan. Saya tidak dapat membalas kasih Tuhan yang begitu besar kepada saya. Semoga melalui kesaksian ini, nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Amin.

Lam Sim Mey - Bandung, Indonesia

Copas : members.tjc.org