Senin, 11 Desember 2017

VIDEO GAMES ADALAH HIDUPKU


Aku mulai bermain video games sejak dari kelas sekolah dasar. Pada saat itu kedua orang tuaku sangat ketat mengawasi game yang aku mainkan dan seberapa lama aku bermain. Namun seiring aku bertumbuh besar, aku menemukan cara-cara untuk menghindari pengawasan mereka.

Seiring berjalannya waktu, video games perlahan menjadi hal yang paling terutama dalam hidupku, meskipun aku sebenarnya tidak mau mengakuinya. Aku senang menawar-nawar seberapa lama aku dapat bermain video games dengan orang tuaku. Kapanpun orang tuaku pergi, aku dapat berhenti dari apapun yang sedang kukerjakan dan langsung memainkan komputer atau X-Box. Ini seperti alam kedua bagiku. Aku biasa mengevaluasi kualitas hariku dengan seberapa lama aku bermain video games – Hari-hari tanpa video games kuanggap hari-hari yang buruk.

Jika kamu pernah bermain games yang bernama The Sims, kamu pasti tahu bahwa karakter dalam game tersebut memiliki delapan kebutuhan, atau keinginan yang ditampilkan dalam bentuk balok panjang. Jika karakter memakan sesuatu, balok “lapar” terisi penuh, dan jika karakter bermain video games, balok “kesenangan” akan terisi pula. Meski demikian, kenyataan tidak berjalan seperti itu. Aku bermain video games dengan pikiran dapat memuaskan hasrat “kesenangan”ku, tapi setelah berjam-jam bermain video games, hasrat itu tidak pernah terpenuhi. Justru aku semakin ingin bermain lebih lagi.

Hasrat bermain video games sungguh kuat sampai-sampai hal itu selalu muncul di pikiranku. Aku berpikir tentang video games ketika aku tidur, ketika ujian, bahkan ketika aku berdoa memohon Roh Kudus.

Setelah beberapa lama aku mencari Tuhan, aku menerima Roh Kudus dan dibabtis saat aku kelas 9. Namun aku tetap merasa video games tidak menjadi masalah dalam hidupku, meskipun hal ini menguras banyak waktuku yang berharga, membuatku lupa untuk memegang hari Sabat, dan membuatku banyak berbohong pada orang tua.

Aku tidak menyadari bahwa video games adalah masalah bagi kehidupan rohaniku sampai aku menghadiri the 2003 Winter Student Spiritual Convocation (SSC) untuk pertama kalinya sebagai murid baru di SMA. Topik khusus mengenai video games sangat kuat dan menyentuh. Hal ini menyadarkanku bahwa video games memenuhi waktu-waktuku dibanding untuk Tuhan. Aku juga belajar bagaimana video games secara tidak sadar mempengaruhiku dalam banyak hal, seperti mempengaruhi emosiku dan membiasakanku berbuat kasar.

Namun aku tidak cukup kuat untuk berhenti atau bahkan mengurangi bermain video games.


TITIK BALIK

Sebelum menghadiri the 2006 National Youth Theological Seminar (NYTS) di bagian selatan California, perasaanku bercampur aduk. Aku mendengar banyak hal-hal “buruk” akan acara tersebut, seperti orang-orang berhenti bermain video games dan menonton TV setelah menghadiri NYTS. Aku tidak perduli soal TV, karena aku tidak punya kebiasaan menonton TV. Namun aku tidak dapat membayangkan diriku tanpa video games. Bagiku video games merupakan suatu hal yang terpenting dalam hidupku.

Seperti biasa, video games tetap muncul di pikiranku selama doa di NYTS. Sebelumnya ketika aku mendengar pastur berkata bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan, aku selalu berkata pada diriku aku tidak melayani dua tuan; bahwa video games hanyalah bagian dari aktivitas senggangku. Namun selama doa aku perlahan menyadari bahwa aku memiliki masalah.

Aku teringat Yesus Kristus pernah berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Sehingga aku memutuskan untuk melemparkan beban yang paling berat pada Yesus Kristus, yaitu video games dan kedua orang tuaku yang belum dibabtis.

Aku berkata pada Tuhan Yesus, “Jika Engkau membuat kedua orang tuaku dibabtis, maka aku akan berhenti bermain video games.” Aku merasa sedikit cerdas dengan melempar tanggung jawab pada Tuhan, karena aku tahu bahwa jika kedua orang tuaku memutuskan untuk dibaptis, pertemuan rohani dan baptisan yang berikutnya masih 5 bulan lagi, dan selama 5 bulan tersebut aku masih bisa bermain video games sepuasnya. Masalah selesai.

Meski demikian, doaku semakin memburuk. Saat Kamis pagi, aku merasa imanku lebih rendah daripada saat aku hadir di NYTS sebelumnya. Aku telah siap untuk pulang karena aku sangat rindu pada gamesku. Aku juga merasa aku tidak perlu untuk tinggal karena aku tidak melakukan dosa yang berat, jadi aku tidak butuh pengampunan.

Bersyukur pada Tuhan, penasehatku dan penasehat yang lain memberiku semangat dengan ayat-ayat Alkitab dan pengalaman hidup mereka, dan aku memutuskan untuk tinggal. Saat itu pula aku sadar bahwa aku butuh pengampunan dan rahmat Tuhan lebih daripada siapapun.


PENGALAMAN DENGAN TUHAN DAN SETAN

Selama doa malam hari Selasa, aku mendapat pengalaman yang paling indah selama aku hidup. Saat aku bertobat dan menyesali perbuatanku dalam doa, Aku merasa Tuhan amat menjamahku dan menggenggamku dengat erat; aku bahkan melihat Dia memberiku hati yang baru. Air mata sukacita yang tidak dapat kutahan lagi mengalir deras selama doa tersebut. Setelah doa tersebut, aku merasa ringan, sungguh tanpa beban, dan aku tidak pernah merasa seperti ini sejak aku mendapat Roh Kudus.

Aku merasa seperti video games tidak menjadi suatu masalah lagi, bukan karena aku berhenti dari video games, tapi karena video games telah berhenti dariku. Aku merasa sangat bebas, video games tidak punya kuasa lagi terhadap diriku. Aku sangat bersukacita, sungguh ingin aku membagikan sukacitaku dengan orang-orang disekitarku.

Malam itu aku sangat bahagia karena aku tidak dapat tidur hingga larut malam. Anehnya, aku mendapat mimpi buruk. Aku terjatuh, terus jatuh, dan aku tidak merasakan angin menerpa wajahku yang sedang jatuh bebas ke bawah. Dalam perjalananku jatuh ke bawah, aku melihat iblis sedang jatuh mendahuluiku di depan.

Tubuh iblis itu menyerupai seekor gurita, namun dengan jumlah kaki yang lebih banyak. Wajahnya tidak terlalu jelas dan aku tidak dapat ingat seperti apa rupanya. Disekitar iblis tersebut terdapat banyak monitor komputer, jatuh bersama iblis tersebut. Saat-saat kami menuju ke tanah, aku melihat sebuat lubang api yang amat besar di bawah sana, menyala-nyala dengan laharnya.

Si Iblis dan seluruh monitor tersebut jatuh ke dalam lubang itu, merekapun lenyap. Ketika aku hampir jatuh juga ke dalam lubang api itu, tiba-tiba aku terbangun dengan sebuah ayat di benakku. Saat aku mencari ayat tersebut pagi harinya, hanya butuh 5 detik sampai aku mendapatinya (biasanya aku tidak secepat itu).

Demikian bunyi ayat tersebut, “Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaanya semula.” (Mat 12:45). Dari pengalaman ini, aku menyadari bahwa aku harus segera mengisi kehidupanku dengan firman Tuhan dan hal bermakna lainnya, jika tidak maka aku akan jatuh ke dalam pencobaan yang lain.



MEMBUAT KETETAPAN

Aku menikmati kebebasanku yang baru untuk sementara waktu. Tetapi 2 hari kemudian, godaan untuk bermain video games kembali muncul – kali ini jauh lebih kuat dari yang pernah ada. Aku merasa imanku menjadi lemah, dan video games hampir mengambil alih diriku kembali. Aku merasa seperti bangsa Israel yang tidak tahu berterima kasih; yang bahkan setelah mengalami mukjizat Tuhan yang penuh kuasa, kasih, dan pengampunan, aku masih memalingkan perhatianku untuk mengingat kembali akan ikan yang kumakan di Mesir.

Sisa dari apa yang terjadi selama NYTS, aku mengalami pergumulan hebat antara roh dan daging. Aku tahu bahwa aku tidak dapat membiarkan pertempuran ini terus berlanjut. Aku tahu bahwa aku akan kembali pada kehidupanku yang lama saat aku meninggalkan NYTS – diperbudak oleh video games, menyesali waktu yang terbuang sia-sia, namun tidak sanggup berbuat apa-apa.

Aku menyadari bahwa aku butuh sebuah obat dalam dosis yang besar untuk benar-benar menghentikan video games dari kehidupanku. Aku memutuskan untuk bernazar sebelum NYTS berakhir. Aku mengerti kalau kita tidak boleh menganggap remeh nazar, tapi aku tahu Tuhan-ku maha pengasih, sehingga aku memutuskan bahwa bernazar akan lebih menguntungkan untuk diriku daripada tidak melakukannya. Nazarku adalah, “Aku tidak akan menyentuh video games lagi seumur hidupku, jika tidak maka Tuhan akan menghukumku dengan sangat berat, seperti membiarkanku gagal dalam semua pelajaran.”

Setelah kedua orang tuaku mengantarkanku ke rumah dari NYTS, mereka harus pergi ke pesta sahabatnya. Nenekku sedang di luar dan adik laki-lakiku juga tidak sedang di rumah. Rumahku kosong. Godaan untuk bermain video games muncul. Aku dapat mendengarnya memanggilku, “Kemarilah, habiskan malam terakhir denganku, lalu kau dapat melenyapkanku besok.”

Puji syukur pada Tuhan bahwa aku baru saja kembali dari NYTS, dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku berlutut dan berdoa. Setelah 30 detik aku merasa cukup kuat untuk menyalakan komputer, menghapus semua games yang kumainkan, dan memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan video games.


ARAH YANG BARU

Sedikit sulit untuk terbiasa pada awalnya. Aku mendadak mempunyai waktu luang yang amat banyak, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Perlahan-lahan aku menemukan kesenangan berkebun di halaman rumahku, rasa pencapaian saat membantu urusan dapur, kesabaran lebih untuk membaca buku bahasa Inggris (Bahasa Inggris bukanlah bahasa utamaku), lebih banyak waktu untuk keluargaku, dan lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa.

Ketika aku kembali kuliah untuk tahun keduaku, aku memiliki waktu yang lebih banyak dengan persekutuan di kampus, lebih banyak waktu untuk fokus dalam akademis, memiliki keingingan untuk menjadi relawan dalam klub, dan lebih semangat menghadiri pelayanan Jumat malam dan bergabung dengan tim paduan suara. Tuhan juga memberkatiku dalam banyak hal, seperti peningkatan nilai akademik; bahkan aku mendapat nilai A+ untuk yang pertama kalinya dalam hidupku; dalam kelas kimia organik yang sulit.

Selama SSC pada musim dingin, aku menemukan bahwa tidak ada lagi rasa hampa setelah berdoa seperti tahun sebelumnya. Yang paling penting, aku menemukan jalan untuk masa depanku yang lebih jelas – aku memiliki arah, dan tujuan untuk terus maju.

Aku ingin menjadi professor di bidang sains, sehingga di kemudian hari aku dapat berkhotbah tentang kebenaran kepada para ilmuwan dan menjadi kesaksian yang baik bagi Kritstus. Seorang professor juga dapat mempengaruhi muridnya secara benar, dan membantu persekutuan dalam kampus. Aku masih belum tahu apakah ini adalah tempat yang diperuntukan Tuhan bagiku, namun aku tahu jika aku mengarahkan tujuanku kepada hadiah terakhir – Menuju Surga – dan aku sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan dalam hidupku, maka Tuhan akan memimpinku kepada jalan yang benar.

Berhenti dari video games terkadang terasa seperti terkekang, seperti pada tahun kemarin ketika teman sekamarku berkumpul dan bermain video games tetapi aku tidak dapat bermain, atau ketika seseorang mengajakku untuk bermain video games saat aku pergi ke rumahnya. Tetapi aku tahu bahwa pertemanan yang sesungguhnya tidak dibangun diatas video games. Video games adalah dunia maya dimana kau dapat menutupi idetitas aslimu dan tidak perlu bertanggung jawab akan apa yang kau perbuat. Namun kehidupan yang kita jalani sesungguhnya sama sekali tidak seperti itu.

Video games terkadang membawa kenangan yang indah, seperti ketika aku dan adik laki-lakiku mengalahkan game bersama-sama. Tapi yang sudah lalu biarlah berlalu. Paulus berkata dalam Filipi 3:13, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Aku yakin masih banyak hal selain video games yang dapat kulakukan dengan adikku untuk mempererat hubungan kami.

Belajar Terbang dalam Ikatan

Aku melihat sebuah video singkat yang sangat membangun pada website Gereja Yesus Sejati Taiwan (http://www.joy.org.tw). Ini menceritakan mengenai sebuah layang-layang yang sangat menikmati terbang, dan berpikir bahwa dia dapat memutuskan diri dari ikatan tali, dia dapat terbang lebih tinggi lagi dan memandang lebih banyak hal. Sehingga dia meminta angin untuk menghempaskannya.

Dia menikmati kebebasannya namun perlahan mulai turun. Dia tersangkut diantara pepohonan, terbawa pergi, namun jatuh di atas tanah. Terinjak dan tertendang, dia dipenuhi dengan lumpur serta penuh luka-luka. Saat dia menangis dan menyesal, seorang anak kecil pemilik layang-layang tersebut menemukannya, membersihkannya, menutupi lukanya, dan membawanya terbang kembali ke angkasa.

Layang-layang tersebut kini menikmati kebebasan terbang dalam tali. Air mata menetes keluar saat aku menonton video ini, meskipun video ini ditujukan untuk anak kecil. Terkadang kita mungkin melihat keluarga, gereja, atau bahkan Tuhan sebagai batasan yang mencegah kita untuk mencapai sesuatu yang tinggi. Namun kenyataannya adalah, tanpa mereka, kita bukan apa-apa.

Aku berharap pengalamanku dapat menguatkan kamu untuk jangan pernah kehilangan harapan dalam Tuhan. Kita tidak perlu takut untuk membuat ketetapan hati untuk Tuhan kita, karena Tuhan kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus, sesungguhnya adalah Tuhan yang maha pengasih.


SETELAH ITU

Semenjak menulis kesaksianku di awal tahun 2007, aku telah menyadari bahwa tidaklah semudah pikiranku untuk menjauhi video games.

Seiring musim panas datang, aku berhenti dari kebiasaanku membaca Alkitab dan berdoa. Oleh sebab itu aku merasa jauh dari Tuhan, dan ketika aku mulai merasa kewalahan dengan tugas pelajaran dan penelitianku, aku tidak mampu menghadapi godaan untuk bermain video games. Bersyukur pada Tuhan, aku berhenti dan bertobat setelah bermain video games dua kali.

Saat sekolah kembali dimulai di musim gugur, iman dan rohaniku kembali stabil. Aku pikir hal ini dikarenakan Irvine Campus Fellowship. Selalu indah mempunyai banyak saudara dan saudari di sekitar kita untuk selalu bersekutu.

Aku tahu bahwa aku memiliki ketetapan untuk berhenti bermain video game tetapi tanpa pertolongan Tuhan aku tidak dapat melakukannya. Jika aku berpikir aku dapat melakukanya dengan kekuatanku sendiri, itu adalah bentuk kesombongan dan aku tidak akan mampu untuk berhasil.

Namun aku tahu bahwa aku tetap dapat hidup dalam kemenangan dengan pertolongan Tuhan dan kasih dari saudara dan saudari sekalian.

copas : members.tjc.org


Tidak ada komentar:

Posting Komentar