Minggu, 28 Januari 2018

LAYANI RIBUAN ANAK PEDALAMAN DENGAN MODAL KEMUSTAHILAN

Henny Kristianus adalah founder dari Yayasan Tangan Pengharapan, sebuah lembaga sosial yang berdiri untuk membantu dan membiayai pendidikan 4000 anak-anak dan kaum termarjinal di 50 daerah di tanah air. Bersama sang suami Yoanes Kristianus, mereka terus bergerilia mengulurkan tangan bagi anak-anak miskin yang tidak bisa mengecap dunia pendidikan formal di tanah air.
Perjalanan pelayanan pasangan ini terbilang sangat panjang dan penuh pengorbanan. Pasalnya, mereka harus meninggalkan negeri Kanguru, Australia tempat mereka kuliah, bekerja dan menikah serta hidup dengan segala kemapanan dan memutuskan untuk kembali ke tanah air.
Pada 26 Januari 2006 adalah pendaratan mereka yang pertama kali di tanah air setelah sekian lama tak pernah pulang. Henny dan Yoanes bahkan saat itu sudah memiliki dua anak kembar yang masih berusia empat bulan. Yoanes yang kala itu juga memiliki banyak pekerjaan di Australia segera kembali setelah mengantarkan sang istri dan anak-anaknya.
Tapi selama dua bulan tinggal di Indonesia, suara hati Henny justru menyuruhnya untuk tak kembali ke Australia. Dan dengan segala pertimbangan yang ada, sang suami pun setuju.
Setahun menetap di Bandung, pasangan ini ditawari pekerjaan dari salah seorang pengusaha yang mereka kenal di Australia. Dari penghasilan sang suami, 30% nya kemudian mereka alokasikan untuk memberikan makanan gratis bagi anak-anak kurang mampu. Selain itu, Henny juga mencoba menghidupi panggilan yang didapatkannya dengan memberikan pengajaran bahasa Inggris gratis kepada anak-anak di Bandung.
Setelah itu, mereka pindah ke Jakarta dan mendirikan Yayasan Tangan Pengharapan. Di Jakarta Henny mendirikan 8 feeding center, memberikan makanan dan pendidikan gratis kepada 1.028 anak. Saat itu, Henny juga bekerja sebagai Country Director di pelayanan televisi Joyce Meyer Ministry. Selama enam tahun bekerja, Henny memutuskan untuk resignkarena saat itu dirinya harus berkeliling ke berbagai daerah di pedalaman tanah air.
“Setelah enam tahun, saya memutuskan untuk resign. Karena saya harus kepedalaman itu tiap bulan karena begitu banyak daerah yang kami mentor. Dan memang dari Joyce Meyer sendiri, sudah memberikan warning mereka tidak bisa support terus kami harus find a way out (jalan keluar, red) untuk support. Sehingga pelayanan kami ini tidak bergantung terus dari mereka. Itu Oktober 2013,” terang Henny saat diwawancarai oleh tim JC Channel.
Nah, saat itulah Henny dan Yoanes benar-benar hampir menyerah karena dana yang mereka butuhkan untuk menolong anak-anak di Yayasan Tangan Pengharapan berhenti total dari sokongan Joyce Meyer Ministry.
“Uang direkening itu sisa 12 juta. Bayangin setiap bulan kita masih ngasih makan waktu itu 3000 anak dan gaji guru di seluruh Indonesia. Dan betul-betul saya down banget. Saya ingat waktu itu saya masuk ke kamar mandi dan saya Cuma bilang sama Tuhan begini, “Tuhan kalau Tuhan yang memanggil saya ke Indonesia untuk menolong anak-anak di bangsa ini, saya percaya Tuhan yang kasih mereka makan dan bukan saya. Pelayanan ini bukan punya saya, pelayanan ini punya Tuhan dan kalau uangnya nggak cukup dan uangnya nggak ada lagi saya pulang aja ke Australi,” ungkapnya.
Di situlah titik terendah yang dialami Henny selama masa pelayanannya menolong anak-anak di tanah air. Tapi entah bagaimana, Tuhan membuka jalan dengan cara yang luar biasa.
“Saya menghidupi kemustahilan tiap hari, setiap bulan. Sekarang ada 4000-an anak di 50 titik di seluruh Indonesia yang setiap bulan bisa membutuhkan biaya satu buah mobil Lexus,” jelasnya.
Yayasan Tangan Pengharapan adalah pelayanan yang sama-sama dibangun oleh Henny dan Yoanes Kristianus. Melalui pelayanan ini, mereka paham betul visi Tuhan melalui hidup mereka.  Kendati tidak berdarah asli Indonesia, tapi keduanya merasa benar-benar harus berkontribusi untuk kemajuan bangsa, yaitu dengan menolong anak-anak putus sekolah yang hidup di tengah garis kemiskinan. Karena itulah mereka bermimpi untuk menyekolahkan sebanyak-banyaknya anak-anak pedalaman sampai pada akhir hayal, ketika Tuhan memanggil pulang.
“Saya juga punya pemikiran, mumpung kita masih produktif, mumpung kita masih bisa, kami nggak ada jemu-jemunya untuk menolong sebanyak mungkin orang terutama buat Indonesia. Saya percaya ketika kita menolong Indonesia, maka Tuhan bukan sekedar memberkati kita tapi Tuhan akan memperbesar kapasitas kita menjadi berkat atas bangsa-bangsa,” ungkap Yoanes.  
Untuk menyaksikan wawancara selengkapnya bersama Henny dan Yoanes Kristianus, kalian bisa klik video di bagian gambar artikel atau bisa klik DI SINI.
Sumber : Henny & Yoanes Kristianus (JAWABAN.COM)

Rabu, 24 Januari 2018

PENDETA INI KLAIM SELAMAT DARI SERANGAN TERORIS KARENA SINGA LOH !

Seorang pendeta yang menjalani pelayanan bawah tanah di Timur Tengah mengaku diselamatkan oleh singa saat kelompok teroris menyerang dia dan rekan-rekannya. Pendeta yang diidentifiaksi bernama Pendeta Paul Ciniraj, yang merupakan pemimpin dari lembaga penyebaran Alkitab di Timur Tengah itu pun menceritakan pengalaman aneh tersebut.
Peristiwa ini terjadi tiga minggu lalu saat pendeta Paul sedang mengganti pakaian sehabis menggelar baptisan. Lalu sekolompok teroris mulai melempari mereka dengan batu. Akibat lemparan itu, kepala sang pendeta pun terluka dan dia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Lantaran hendak menghabisi nyawa sang pendeta, kelompok teroris itu pun mencarinya ke rumah sakit. Mengetahui rencana itu, Paul dipindahkan ke rumah pendeta lainnya yang terletak sangat terpencil dan dekat dengan hutan.
Selama bersembunyi di sana, dirinya selalu dikunjungi dengan diam-diam oleh rekan sepelayanannya. Sayangnya, persembunyian itu tercium juga. Sekelompok teroris tiba di rumah tersebut tepat di hari Paskah lalu. Sementara pemilik rumah, Pendeta Ayoob sedang memimpin ibadah.
Saat kejadian, Paul hanya bersama ibunya yang sudah berusia 80 tahun, seorang wanita hamil dan beberapa anak. Dia bahkan sudah merasa kalau itu adalah akhir dari hidupnya. Lalu mereka semua bergandengan tangan memuji Tuhan dan berdoa berulang-ulang.
“Ya, Tuhan Yesus, terpujilah namaMu. Tapi tiba-tiba, seekor singa lari dari hutan, melompat ke arah para teroris itu dan menerkam leher salah satu dari mereka,” tulis sang pendeta dalam laman situs website mereka.
Sementara singa lain datang dan kembali menyerang yang lain. Pada akhirnya, sekelompok anggota teroris itu pun lari terbirit-birit dan para singa segera pergi meninggalkan rumah tersebut. “Sangat menakjubkan, karena seharusnya tak ada singa yang hidup di hutan itu,” lanjutnya.
Setelah kejadian itu, pendeta Paul dan orang-orang di rumah itu akhirnya meninggalkan rumah hutan tersebut karena mendapat tekanan dari beberapa pejabat.
Sebagaimana diketahui, Paul adalah mantan seorang Muslim yang pindah agama sekitar 40 tahun yang lalu. Dia mengatakan bahwa ribuan orang di Timur Tengah memang diam-diam telah percaya Yesus.  Bahkan selama masa pra-Paskah banyak sekali Muslim yang sudah dibaptis di Timur Tengah.

Sumber : Christiantimes.com/jawaban.com

Sabtu, 20 Januari 2018

BANGKIT DARI KEBANGKRUTAN


Ayah saya dulu memiliki sebuah bisnis ekspor-impor rotan yang berjalan cukup bagus dan keluarga kami saat itu tergolong cukup mapan. Kemudian terjadi masalah dengan pembayaran bank yang menyebabkan modal ayah saya tersangkut sehingga akhirnya bisnisnya hancur dan bangkrut. Karena ayah saya masih menggunakan hutang bank, maka rumah tempat tinggal kami disita oleh pihak bank karena dijadikan sebagai jaminan.

Kedua orang tua saya bertengkar setiap hari dengan ibu saya yang selalu menyalahkan ayah saya atas semua bencana itu. Saya dan kakak saya merasakan perceraian sudah diambang pintu. Tapi mereka bertahan. Kami kemudian berhasil mendapatkan pinjaman bank untuk pindah ke sebuah rumah yang kecil dan ibu saya yang memang selama itu bekerja, terpaksa menanggung seluruh beban keluarga. Papa saya menganggur selama beberapa tahun karena stress dan karena urusan-urusan pengadilan. Pada saat itu seluruh anggota keluarga saya tidak ada yang mengenal Tuhan. Kepercayaan kami pada Tuhan hanya sebatas tulisan yang tertera di kartu identitas kami.

Dalam masa-masa sulit tersebut, Tuhan mulai bekerja. Dimulai dari kakak saya yang mengalami jamahan Roh Kudus dalam sebuah kebaktian yang dia ikuti karena diundang oleh tetangga kami. Ibu saya juga mulai setiap pagi menyempatkan diri mengikuti ibadah pagi disebuah gereja dekat kantornya. Ayah saya mulai pulih dan mulai bekerja sebagai karyawan swasta. Keadaan terus membaik dan pada tahun 1998 ketika keadaan ekonomi Indonesia merosot, justru menjadi kunci pemulihan ekonomi kami karena kurs dollar yang meroket membuat nilai tabungan dollar ibu saya menjadi naik berkali-kali lipat sampai cukup untuk melunasi rumah kami dari hutang bank dan membeli sebuah mobil tua.

Tuhan dengan cara-caraNya yang unik terus menarik kami semakin dekat kepadaNya. Saya ingat, saat kami semakin mengenal Kristus, semakin keadaan ekonomi kami dipulihkan. Akhirnya kami semua sekeluarga menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat kami dan menerima Roh Kudus didalam hati kami. Hidup kami berubah total sejak itu dan pada saat itu semua pertobatan, semua kerugian awal akibat kebangkrutan ayah saya sudah 100% dikembalikan Tuhan… bahkan lebih!

Melihat kebelakang, saya bersyukur karena pernah mengalami itu semua. Saya tidak akan menjadi orang yang seperti sekarang kalau bukan karena kebangkrutan ayah saya. Kalau saat ini anda tengah menghadapi masalah keuangan, semua itu terjadi hanya untuk satu tujuan yaitu untuk membawa anda lebih dekat kepada Tuhan! Maka jangan tunda lagi, Mendekatlah KepadaNya!

http://www.jerrytrisya.com/bangkit-dari-kebangkrutan/

Selasa, 16 Januari 2018

KISAH NYATA KELUARGA YANG HANCUR KARENA HUTANG KARTU KREDIT


Memiliki kartu kredit lebih dari satu membuat perasaan Hendro melambung dan ia merasa menjadi orang yang sukses sehingga gaya hidupnya berubah menjadi sangat konsumtif, misalnya dia selalu gonta-ganti Handphone yang terbaru. Gaya hidup konsumtif Hendro, awalnya disebabkan oleh masa kecilnya yang kurang bahagia. Dia merasa minder karena kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan bahkan kekurangan. Hal ini membentuk pribadinya menjadi pribadi yang prihatin dan membulatkan tekadnya untuk sukses di kemudian hari. "Saya punya prinsip saya harus berhasil. Paling ga saya harus pintar itu, orang sudah memandang.", ungkap Hendro.

Setelah lulus kuliah Hendro merantau untuk mencari kerja di Jakarta. Dan buah dari kegigihannya Hendro diterima bekerja menjadi seorang auditor di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. "Waktu itu senangnya luar biasa, dengan gaji yang seperti itu. Paling ga bisa punya baju yang agak mendingan dan bisa makan yang lebih enak yang saya sukai.", katanya.

Sejak menjalani kehidupan di Jakarta itulah, Hendro mulai jatuh dalam penggunaan kartu kredit yang tak terkendali. Dia berpikir bahwa kartu kredit itu adalah uang milikinya. "Misalkan saya punya 5 kartu kredit dengan limit masing-masing 10 juta berarti saya memiliki uang 50 juta. Dan 50 juta ini bisa dipakai untuk apa saja. Ya udah saya gesek-gesek seakan-akan itu uang saya."

Bahkan hal itu terus berlanjut ketika Hendro berkenalan dan berpacaran dengan Erliani, calon istrinya. Hendro sering menelepon Erliani diluar jam kerja dengan Handphonenya sehingga dia harus mengeluarkan biaya telepon antara 3 sampai 4 juta per bulan.

Hubungan Hendro dan Erliani pun menjadi semakin dekat hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah namun Hendro selalu berusaha merahasiakan hutang-hutang kartu kreditnya kepada istrinya. Bahkan Hendro semakin sering mengunakan kartu-kartu kreditnya untuk kebutuhan pernikahannya. "Saya memang minta banyak ke dia untuk booking rumah makan, hotel, sewa baju pengantin dan yang lain-lain. Waktu itu sangat mudah untuk minta ke dia.", ungkap Erliana.

Awal pernikahan Hendro dan Erliani terasa manis di saat mereka berdua menempati rumah baru yang dibeli oleh sebagai hadiah pernikahan mereka. Rumah itu memang masih kosong sehingga hari pertama mereka harus tidur di bawah karena belum ada tempat tidur. Hari berikutnya mereka mulai membeli tempat tidur dan perkakas-perkakas yang lain. Semuanya dibayar dengan kartu kredit Hendro.

Hendro seperti menumpuk bara di dalam keluarganya dengan merahasiakan hutang kartu kredit kepada istrinya. Hingga sampai suatu waktu istri Hendro mulai mencurigai perangai Hendro. Pada awal pernikahan dia baru menyadari bahwa suaminya ternyata agak pelit untuk memenuhi kebutuhannya sebagai wanita namun untuk kebutuhan rumah tangga tidak. "Jadi setiap kali jalan ke toko, saya ingat, kalau saya baru pegang suatu benda, dia udah langsung bilang jangan pegang ga ada duit." Padahal dia tahu suaminya ada uang, dia merasa kebutuhannya sebagai perempuan tidak terpenuhi. Hendro selalu menganggap bahwa permintaan istrinya sebagai sebuah ancaman dan menimbulkan ketakutan dalam hidupnya.

Pertengkaran-pertengkaran pun sering terjadi dalam keluarga Hendro. Namun Hendro tetap berusaha menyimpan dengan rapi segala jerat hutang kartu kreditnya di hadapan istrinya. "Saya adalah wanita yang sangat mudah berkata cerai kepada suami, setiap kali berantem saya gampang bilang saya mau pulang, mau pisah saja sekalipun sudah punya anak, Saya adalah seorang wanita yang emosional, histeris trus mudah mengambil keputusan tanpa berpikir sedangkan suami saya seorang yang terlalu sabar jadi saya banyak menindas suami saya justru." Suatu kali karena Hendro tidak mengijinkan istrinya keluar dari rumah, istrinya pernah mau bunuh diri dengan sebuah pisau tetapi Hendro berhasil merebut pisau tersebut.

Semakin lama Hendro menyimpan rahasia kartu kreditnya, itu membuat hatinya diliputi ketakutan dan kegelisahan karena dia takut tidak bisa membayar tagihan-tagihannya yang semakin bertambah, kurang lebih 40 sampai 50 juta. Hingga suatu hari tanpa diduga oleh Hendro, rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat mulai tercium oleh istrinya. Istrinya marah-marah karena merasa tertipu, tidak dianggap sebagai istri dan minta untuk bercerai.

Malam itu pernikahan Hendro dan Erliani seperti ada di ujung tanduk kehancuran. Namun tanpa mereka duga, sebuah pertolongan pun datang dari sepasang suami istri yang mengetahui pertengkaran mereka. Mereka datang sekitar jam setengah sebelas malam. Pada malam itu Hendro dan Erliani didoakan dan diingatkan kembali akan janji pernikahan mereka untuk sehati menghadapi setiap masalah yang muncul dalam pernikahan mereka, tanpa harus mengucapkan kata cerai. "Waktu itu, saya ingat, teman saya bilang kesepakatan. Dia berbicara tentang kesepakatan antara suami dan istri. Jadi ada kuasa dalam kesepakatan suami dan istri, apapun masalahnya, sebesar apapun masalahnya kalau suami istri berdoa sepakat minta kepada Tuhan, Tuhan jawab." , kenang Erliani.

Sejak malam itu, pemulihan dari Tuhan datang dan menyadarkan kebodohan Hendro juga keegoisan Erliani hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bersatu menyerahkan segala masalah hutang-hutang mereka kepada Tuhan. Dan perlahan namun pasti, pertolongan Tuhan pun datang memulihkan kondisi keuangan mereka. Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba ada telepon dari sebuah bank memberitahukan bahwa mereka mendapatkan potongan 30% dan entah bagaimana mereka bulan itu mereka dapat uang dari THR dan bonus untuk membayar hutang-hutang tersebut. "Tuhan campur tangan dalam masalah ini sangat cepat, dalam setahun selesai semua hutang-hutangnya.",

Pemulihan dari segala hutang kartu kredit yang dikerjakan Tuhan dalam keluarga Hendro berlangsung sangat cepat. Bahkan tidak hanya sampai di situ saja, Tuhan memulihkan keluarga Hendro menjadi semakin harmonis.

"Buat saya sekarang setelah lepas dari hutang-hutang. Merdeka dan saya mulai menikmati hidup saya dan saya sudah mulai merasa inilah hidup." ungkap Erliani.

"Saya bersyukur sekali sama Tuhan Yesus karena dengan pertolonga Dia istri saya dipulihkan, saya dipulihkan, keluarga kami dipulihkan. Saya bisa merasakan menjadi orang yang benar-benar bebas dari hutang di saat keluaraga kami mengangkat tangan, Tuhan benar-benar turun tangan saat itu juga." tambah Hendro menutup kesaksiannya.

Sumber Kesaksian :

Hendro Pranoto dan Erliana
https://www.facebook.com/KesaksianMujizatYesusKristus/posts/436391756424243

Jumat, 12 Januari 2018

KETIKA YANG LAIN TIDAK MAMPU MENOLONG


Saya mengalami sakit lumpuh di tahun 1973. Saya tidak mengerti mengapa saya harus mengalami kelumpuhan ini. Suatu ketika di pagi hari saat saya sedang berjalan tiba-tiba saya terjatuh, saat itu rasanya tubuh saya ini seperti tidak mempunyai tulang lagi. Saya seperti daun yang rontok begitu saja. Mengalami hal seperti itu, saya langsung menjerit dan minta pertolongan. Saya tidak mengerti mengapa badan saya ini tiba-tiba bisa lunglai begitu, apa yang terjadi dengan badan saya ini?.

Orang tua Robin kemudian membawa Robin ke dokter. Orang tua saya kuatir dan takut tentunya. Dokter lalu memeriksa saya, memeriksa darah, memeriksa semuanya, tapi hasilnya bagus. Dari hasil pemeriksaan semua keadaan tubuh saya, tidak ditemukan hal yang salah atau kurang menurut dokter. Begitu juga saat saya pergi ke dokter lainnya, tidak ditemukan adanya kelainan. Hanya saja ketika saya pergi ke dokter ahli syaraf, dia menganjurkan saya untuk dipijat saja, tapi itupun tidak menolong apa-apa.

Melihat kondisi anaknya yang makin parah, orang tua Robin memutuskan membawa anaknya ke dukun.
Kemudian saya dibawa ke orang-orang pintar dan dukun. Tapi dari mereka juga saya tidak mendapatkan kesembuhan malahan penyakit itu semakin sering untuk kambuh. Bila kambuh, lumpuh pada badan ini bukan hanya terjadi satu atau dua hari saja, bahkan kadang-kadang bisa mencapai lima hari. Hal itu saya alami selama bertahun-tahun.

Sementara itu Robin merasakan hidup ini seperti seorang bayi yang harus dipapah dan ditolong bila ia bergerak kemana-mana. Bukan hanya kelumpuhan, Robin juga merasakan kepekaan yang sangat pada sekujur kulit di tubuhnya.

Saya sangat menderita. Kalau mau keluar saya harus dibopong atau dipapah. Kalau saya mau buang air besar maka badan saya harus dipegangi, tidak bisa didudukkan begitu saja. Semua otot saya baik pinggang itu tidak berfungsi sama sekali. Selain itu kulit saya juga menjadi sangat sensitif dan peka. Pasir yang sangat halus sekalipun bila mengenai kulit rasanya kulit saya ini seperti ditoreh-toreh. Tempat tidur saya harus bersih dari butiran-butiran yang sangat halus sekalipun. Kulit saya ini rasanya sangat sensitif sekali.

Lengkap sudah penderitaan yang dialami Robin Sinaga. Saya sudah tidak punya pengharapan untuk hidup lebih baik lagi. Padahal waktu itu saya masih muda, masih punya potensi banyak dan masih punya angan-angan yang tinggi. Saya saat itu baru saja tamat SMA dan baru berkuliah.

Di tengah-tengah keputusasaannya itulah orang tuanya membawa Robin ke seorang hamba Tuhan.

Setelah sepuluh tahun saya mengalami penyakit itu dan saya menjadi putus asa, saat itulah orang tua saya datang dan menanyakan pada saya, kemanakah mereka dapat membawa saya demi kesembuhan yang ditunggu-tunggu itu. Saat itu saya sudah pasrah dan saya katakan terserah pada orang tua saya saja kemana mereka hendak membawa saya, saya sudah tidak mempunyai pengharapan lagi. Saya sudah putus asa. Orang tua menanyakan bagaimana jika saya dibawa ke pendeta saja untuk dilayani dan didoakan?. Saya katakan bahwa semua keputusan ada di tangan orang tua saya, terserah mereka saja.

Tapi kemudian setelah saya dilayani dan didoakan oleh seorang hamba Tuhan, timbul iman dalam hati saya. Memang pada waktu itu penyakit saya tidak langsung sembuh. Ketika saya sampai di rumah saya mulai membaca Alkitab walaupun saya membaca sambil berbaring. Saya menemukan satu nats dalam Alkitab, dalam kitab Yakobus pasal 5:17 yang mengatakan bahwa Elia itu adalah manusia biasa walaupun dia nabi. Saya berpikir bahwa sayapun manusia biasa sama seperti Elia yang berdoa itu. Saya berpikir bahwa sayapun bisa berdoa seperti Elia itu. Sayapun mulai berdoa kepada Tuhan. Saya percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan dan tidak ada yang mustahil bagi Dia. Malam itu saya dapat tidur dengan tenang dan tidak gelisah.

Keesokan harinya, sesuatu telah terjadi. Robin merasakan sesuatu yang berbeda dalam tubuhnya yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Besok paginya saya bangun dengan sesuatu yang berbeda!. Saya mulai menggerakkkan badan saya, saya duduk lalu bangkit berdiri, semua mampu saya lakukan. Saya melompat dan saya ternyata bisa!. Saya yakin saat itu saya sudah sembuh!. Saya memuji Tuhan, bersyukur dan menangis di hadapan Tuhan. Saya katakan bahwa hidup saya ini adalah milik Tuhan semata. Saya ingat bahwa kesembuhan itu terjadi di bulan Oktober 1982, sepuluh tahun setelah saya terkena penyakit ini. Sejak saat itulah saya sembuh sampai sekarang. Setelah itu saya dapat berkuliah dengan bergairah dan akhirnya dapat menyelesaikan studi saya.

Bagi Robin yang menyembuhkannya secara total hanyalah satu pribadi. Setelah kami memakai segala daya upaya baik medis maupun ilmu-ilmu perdukunan dan mistik tidak membawa suatu pertolongan bahkan penyakit saya semakin hari semakin berat. Tapi setelah saya datang pada Yesus dan didoakan dan saya mengakui dosa saya, saya merasakan kasih Tuhan dan mengalami kesembuhan atas segala penyakit saya. Luar biasa Tuhan Yesus itu karena Dia menyembuhkan saya sampai sekarang, Haleluya.

Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain (Yesaya 45:5-6)

Sumber Kesaksian:
Robin Sinaga (jawaban.com)

Senin, 08 Januari 2018

ANTARA DOA DAN VONIS


Bertahun-tahun sejak pernikahan mereka, pasangan Kiki dan Mulyana belum juga dikaruniai anak. Sampai akhirnya diketahui bahwa Kiki menderita serangan virus toxoplasma yang menyebabkan dirinya sulit untuk hamil.

Memang kebanyakan penderita toxoplasma akan mengalami kesulitan dalam mengandung. Jika seseorang menderita toxoplasma, maka orang itu kemungkinan besar akan mengalami kesulitan saat mengandung. Janinnya juga kemungkinan kecil untuk dapat hidup, jika lahir sekalipun diperkirakan hanya hidup satu minggu hingga satu bulan. Karena mengidap hal itu maka saya mendapat doa terus menerus dalam kelompok persekutuan saya. Saya minta disembuhkan oleh Tuhan. Ternyata kuasa Tuhan bekerja, saya disembuhkan dari toxoplasma dan saya bahkan dapat mengalami kehamilan.

Namun pada awal kehamilan ini ternyata penyakit asma Kiki mulai kambuh kembali. Untuk itu ia mulai mengkonsumsi obat-obat asma yang cukup keras. Namun hal ini berakibat fatal. Saat di rumah sakit, Kiki menerima berita mengejutkan dari dokter yang memeriksa kandungannya.

Waktu saya hamil inilah ternyata asma saya kambuh dan saya makan obat asma. Obat ini saya makan kurang lebih selama sepuluh hari. Namun saat saya memeriksakan diri, dokter mengatakan bahwa secara ilmu kedokteran anak saya 90 persen akan mengalami cacat fisik. Hal ini disebabkan karena pada saat saya memakan obat asma tersebut, kandungan saya baru berusia 5 minggu. Dan menurut dokter, masa tersebut merupakan masa pembentukan tubuh janin dan obat asma yang saya makan akan menghambat pertumbuhan tubuh janin. Obat tersebut berakibat buruk pada janin saya dan menurut dokter anak saya kelak akan mengalami cacat fisik.

Akibat keterangan dokter tersebut, Kiki merasa sedih dan putus asa. Hatinya bimbang apakah dia harus melanjutkan kehamilannya.

Saya mulai berpikir saat itu. Tuhan sudah berikan anak pada saya, masakan saya harus menggugurkan kembali anak tersebut. Saya lalu pergi ke dokter asma dan membawa kembali obat-obat asma yang saya minum. Dokter ahli asma tersebut mengatakan bahwa memang obat-obatan yang saya minum adalah berbahaya jika saya sedang mengandung dan jika terus dikonsumsi akan berakibat anak saya akan lahir cacat. Dari ilmu kedokteran memang tidak dapat dipastikan jika bayi saya kelak akan lahir normal.

Berita ini memang buruk, namun Kiki dan Mulyana percaya akan mujizat. Dengan satu hati mereka terus menerus berdoa bagi janin yang ada dalam kandungan Kiki. Mereka percaya pada Yesus yang mereka sembah sanggup membuat suatu mujizat bagi mereka.

Sikap Mulyana sendiri dalam menanggapi hal ini sungguh menguatkan hati Kiki.
Saya berpikir tentang hal ini. Tuhan sudah memberikan kehamilan bagi istri saya, masakan janin itu harus digugurkan kembali. Tujuan kami ialah memiliki anak, masakan janin yang sudah ada harus kita gugurkan kembali. Kami yakin bahwa Yesus pasti memberikan yang terbaik bagi kami.

Pengalaman mujizat pertama membangkitkan iman Kiki menanti mujizat berikutnya.
Saya yakin Tuhan pasti akan memberikan anak pada saya. Mujizat pertama Tuhan lakukan ketika saya disembuhkan dari toxoplasma dan mujizat kedua ialah saat saya bisa hamil. Tuhan buat mujizat dan saya percaya hal itu. Saya tidak akan gugurkan bayi itu dan saya percaya bahwa bayi saya pasti akan lahir sempurna.

Kiki akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya dan Tuhan akhirnya menjawab doa dan iman orang yang datang dan percaya kepadaNya. Joshua, putra Kiki dan Mulyana akhirnya dilahirkan dengan sempurna dan tanpa cacat. Suatu kebahagiaan yang sukar dilukiskan oleh Kiki dan Mulyana. Namun kegembiraan ini ternyata tidak berlangsung lama, ujian kembali dialami keluarga Kiki dan Mulyana. Dokter tidak mengijinkan Joshua pulang ke rumah karena mereka menemukan adanya pendarahan di bagian otak. Joshua harus menjalani operasi secapatnya.

Pergumulan saya ternyata belum berhenti saat anak saya divonis mengalami pendarahan di bagian otak. Tuhan sudah sembuhkan saya dari toxoplasma, Tuhan sudah berikan anak yang lahir sempurna dan tanpa cacat. Waktu itu saya bergumul pada Tuhan dan minta Tuhan nyatakan lagi mujizat bagi anak saya. Selama dua setengah tahun saya sudah begitu rindu untuk memeluk dan menggendong anak saya. Namun ketika anak saya dilahirkan, ternyata anak saya ada dalam keadaan sakit.

Kiki dan Mulyana tidak menyerah. Bersama keluarga yang lain, mereka terus berdoa dan berharap pada Tuhan. Hati Kiki menangis dan menjerit pada Tuhan agar Joshua dapat mengalami kesembuhan tanpa harus mengalami operasi.

Saya bilang pada Tuhan, saya serahkan semuanya pada Tuhan sebab saya sudah lelah dan tidak punya lagi kemampuan. Saya bilang bahwa saya tidah tahu harus berpegang pada apa lagi kecuali yang saya butuhkan hanyalah mujizat. Saya juga katakan bahwa saya tidak mau anak saya sakit lagi.

Tuhan itu sungguh ajaib dan Ia sungguh baik pada orang yang berharap padaNya.
Ternyata pagi itu saat saya ke rumah sakit untuk melihat anak saya dan mau mencoba memberi minum anak saya. Saat itulah suster mengatakan bahwa anak saya tidak jadi diselang. Saya langsung tahu bahwa Tuhan telah mengerjakan kembali mujizat pada kami. Dokter lalu mengatakan bahwa anak saya ini telah mereka periksa ulang dan mereka katakan bahwa anak saya ini telah sembuh. Saya merasa ringan seperti terbang, hati saya penuh sukacita.

Mulyana sungguh tidak mengira cara Tuhan bekerja.
Hari itu bisa saya rasakan bahwa Tuhan Yesus benar-benar bisa sembuhkan anak saya. Yang seharusnya dokter bilang anak saya harus diselang ternyata hari itu dokter mengatakan bahwa anak saya bisa dibawa pulang.

Joshua akhirnya dinyatakan sehat. Kiki dan Mulyana bisa membawa Joshua pulang tanpa harus melalui operasi. Dan Tuhan bekerja dalam hidup Joshua selanjutnya. Joshua tumbuh menjadi anak yang lucu, sehat dan tanpa cacat.

Anak kami Joshua adalah mujizat terbesar yang Tuhan berikan kepada kami. Dokter sudah memvonis dia lahir dengan cacat fisik, tapi ternyata dia lahir dengan normal dan ternyata dia sangat sehat. Sampai sekarang kesehatannya sangat luar biasa, kami sangat menyayanginya dan kami menamai dia anak Yesus. Kami sangat menyayanginya.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.(Ibrani 11:1,6)

Sumber Kesaksian:
Kiki dan Mulyana (jawaban.com)

Kamis, 04 Januari 2018

MENGHADAPI 50 SENGATAN UBUR-UBUR


Ada kekuatan yang indah pada laut dan Ian menyukainya. Ian cukup percaya diri saat di laut. Ia lebih suka berada di laut dari pada di daratan. Ia lebih suka berada dilaut dari pada di daratan. Ia suka kekuatan misterius, kecantikan mahluk-mahluk unik di laut. Ia menduga sudah mengetahui seluruh bahaya yang ada di bawah sana. Tapi satu mahluk yang berbahaya yang tidak dipahami. Bahkan kini para ahlipun sedikit yang mengetahuinya. Mahluk itu disebut ubur-ubur. Tampaknya tak berbahaya tetapi dapat membunuh orang dalam waktu 4 menit. Dan Ian McCormack mengalaminya.

Saat saya menyelam, ada sesuatu yang menghantam lengan dan saya merasakan seperti sengatan listrik. Seluruh tangan saya membengkak 2 kali ukuran normal. Saya merasakan racun menjalar dengan cepat melalui darah. Saat itu saya bertanya “Ian, apa saja yang sudah kau lakukan dalam hidupmu ? Hal ini seperti hukuman.” Ian tidak siap untuk mati. Ia masih muda dan penuh gairah hidup. Ia bertualang, berpesta, dan bermain wanita. Ia menggambarkan dirinya sebagai hedonis. Dan saat menghadapi kematian akibat 50 sengatan ubur-ubur, ia dipaksa berhadapan dengan bagaimana kehidupannya dan apa yang akan terjadi kemudian.

Teman-teman meyakinkan saya bahwa cara yang tercepat adalah membawa saya ke pantai dan ditinggalkan tergeletak begitu saja. Dengar, saya akan mencoba mencari bantuan …” Lalu saya berteriak “Jangan tinggalkan saya. Saya perlu ambulance. Saya akan mati…!” Ia begitu panik. Dan ketika terbaring, saya hampir menutup mata saya. Tiba-tiba ada suara pria yang berbicara sangat jelas “Nak, kalau engkau tutup matamu sekarang, engkau tidak akan bangun lagi.” Suara itu jelas berbicara pada saya apakah saya bodoh ? Lalu saya mulai merangkak dan mencari pertolongan.

Ian lalu mencoba untuk berjalan dan akhirnya Ian terjatuh di dekat supir taxi “Tuan, Anda perlu ambulance”, dan ia harus memohon kembali agar nyawanya diselamatkan. “Tolong saya ……” Dalam perjalanan ke RS, supir taxi tidak yakin bahwa penumpangnya yang sekarat akan membawa kebaikan bagi pekerjaannya sehingga ia melakukan hal yang tidak terbayangkan. Ia meninggalkannya di dekat sebuah hotel dalam kondisi sekarat. Untungnya petugas keamanan melihat apa yang terjadi dan memanggil ambulance. Tetapi bagi Ian, mungkin sudah terlambat. Tangan kanan dan muka saya mulai kaku dan kejang.

Saya tahu apa yang sedang terjadi dan bersiap untuk mati. Sementara saya berjuang hidup di dalam ambulance, saya mulai melihat kehidupan yang sudah saya lalui seperti video klip. Kemudian saya melihat wajah ibu saya dan ia berkata, “Nak, seberapapun jauhnya engkau dari Tuhan… jika Engkau memanggilNya dari hatimu, Tuhan akan mendengar doamu.” Saya berkata “Tuhan, kalau engkau bisa mendengar saya dan Engkau itu ada, saya meminta bantulah saya berdoa” dan seperti ada barisan kalimat muncul di depan saya “Ampunilah segala dosa dan kesalahan kami.” Jadi Tuhan, maukah Engkau memaafkan aku untuk semua perbuatanku yg salah ..? Dan wajah ibuku kembali berkata ” Nak, berdoalah dalam hatimu.” Saya berkata, “Tuhan saya minta dengan sungguh pengampunan untuk dosa dan kesalahan saya.” Setelah saya berkata demikian, bayangan kalimat itu hilang. Lalu muncul kalimat lainnya “Ampunilah orang yang bersalah kepadamu.” Wajah pengemudi taxi muncul dalam ingatan saya. Suara itu berkata “Maukah engkau mengampuni orang itu, setelah ia menarikmu keluar dari taxi dan meninggalkanmu di jalan?” Saya ingin sekali membalas dendam tetapi dengan semua ini, saya berpikir “siapakah suara ini ?

Jelas bukan pikiran saya sendiri ? Dan kalimat-kalimat itu ? Apakah saya berbicara kepada Tuhan ? ” Saya sadar bahwa jika saya tidak mengampuni mereka dengan segenap hati maka saya tidak akan bisa berdoa lagi. Lalu saya hanya melihat seluruh Doa Bapa Kami muncul. Sepanjang hidup saya sudah berdoa dengan doa tersebut, tapi kali ini saya megerti arti doa itu. Dan saya menyadari bahwa hal terbaik yang saya bisa lakukan adalah memperoleh damai dari Tuhan. Saya melihat banyak orang disana memberikan suntikan. Saat saya berbaring, saya pergi semakin jauh … jauh… Dan seketika saya berada di tempat lain. Tempat itu begitu menakutkan bagi Ian, yaitu neraka. Ia berkata bukanlah satu masalah bahwa ia tidak mempercayai neraka.

Dan saat berdiri, saya melihat satu cahaya yang mengatasi kegelapan. Saya ditarik mendekati cahaya itu. Saat saya menangis, saya berkata “Tuhan, Engkau tidak mungkin mencintai aku. Aku sudah mengutukiMu.” Tetapi kasih itu mengalir. “Aku sudah memakai obat dan bermain wanita.” Tetapi kasih itu mengalir semakin kuat dalam diriku. Hatiku yang hancur dipulihkan secara total. Tuhan adalah orang yang pertama mengasihi dan menerimaku apa adanya. Hadirat dan kasihMu …. Tidak mungkin aku balas …

Ian lalu teringat kepada seseorang yang mengasihinya yaitu ibunya yang setia berdoa untuk dirinya. Ian bertanya pada Yesus jika ia mungkin untuk kembali. Dan Ian minta disembuhkan secara total. Tuhan berkata “Ian, kalau engkau ingin kembali, kau harus melihat segala sesuatu dengan cara yang baru.” Saat saya hampir kembali ke tubuh saya, mata saya sebelah kanan terbuka dan melihat tubuh saya, kaki kanan saya dinaikkan. Dan saya melihat seorang dokter memegangi kaki saya dengan jarum ditangannya, menusuki tubuh saya seperti orang mati. Dokter hampir menyerah dan saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Sambil berbaring saya berpikir apa yang terjadi, apakah saya melihat Tuhan ? Satu hal yang bisa saya katakan, dalam 15 menit Ia melakukannya. Saya merasakan aliran seperti listrik dan hangat mengaliri tubuh saya dan dalam 4 jam seluruh tubuh saya sudah disembuhkan. Keesokan harinya saya sudah keluar dari RS.

Ian McCormack bertobat seperti Rasul Paulus dalam perjalanan ke Damaskus. Tidak di dalam gereja, tidak ada panggilan pertobatan, hanya pertemuan sekejap dengan Tuhan akan satu dunia yang tidak bisa di terangkan dengan kata-kata. Ian masih berkeliling untuk menyampaikan pada orang lain tentang Tuhan yang menyelamatkannya dari kematian dan neraka yang kekal serta memberikan hidup baru.

Sumber Kesaksian:
Ian McCormack (jawaban.com)