Senin, 08 Januari 2018

ANTARA DOA DAN VONIS


Bertahun-tahun sejak pernikahan mereka, pasangan Kiki dan Mulyana belum juga dikaruniai anak. Sampai akhirnya diketahui bahwa Kiki menderita serangan virus toxoplasma yang menyebabkan dirinya sulit untuk hamil.

Memang kebanyakan penderita toxoplasma akan mengalami kesulitan dalam mengandung. Jika seseorang menderita toxoplasma, maka orang itu kemungkinan besar akan mengalami kesulitan saat mengandung. Janinnya juga kemungkinan kecil untuk dapat hidup, jika lahir sekalipun diperkirakan hanya hidup satu minggu hingga satu bulan. Karena mengidap hal itu maka saya mendapat doa terus menerus dalam kelompok persekutuan saya. Saya minta disembuhkan oleh Tuhan. Ternyata kuasa Tuhan bekerja, saya disembuhkan dari toxoplasma dan saya bahkan dapat mengalami kehamilan.

Namun pada awal kehamilan ini ternyata penyakit asma Kiki mulai kambuh kembali. Untuk itu ia mulai mengkonsumsi obat-obat asma yang cukup keras. Namun hal ini berakibat fatal. Saat di rumah sakit, Kiki menerima berita mengejutkan dari dokter yang memeriksa kandungannya.

Waktu saya hamil inilah ternyata asma saya kambuh dan saya makan obat asma. Obat ini saya makan kurang lebih selama sepuluh hari. Namun saat saya memeriksakan diri, dokter mengatakan bahwa secara ilmu kedokteran anak saya 90 persen akan mengalami cacat fisik. Hal ini disebabkan karena pada saat saya memakan obat asma tersebut, kandungan saya baru berusia 5 minggu. Dan menurut dokter, masa tersebut merupakan masa pembentukan tubuh janin dan obat asma yang saya makan akan menghambat pertumbuhan tubuh janin. Obat tersebut berakibat buruk pada janin saya dan menurut dokter anak saya kelak akan mengalami cacat fisik.

Akibat keterangan dokter tersebut, Kiki merasa sedih dan putus asa. Hatinya bimbang apakah dia harus melanjutkan kehamilannya.

Saya mulai berpikir saat itu. Tuhan sudah berikan anak pada saya, masakan saya harus menggugurkan kembali anak tersebut. Saya lalu pergi ke dokter asma dan membawa kembali obat-obat asma yang saya minum. Dokter ahli asma tersebut mengatakan bahwa memang obat-obatan yang saya minum adalah berbahaya jika saya sedang mengandung dan jika terus dikonsumsi akan berakibat anak saya akan lahir cacat. Dari ilmu kedokteran memang tidak dapat dipastikan jika bayi saya kelak akan lahir normal.

Berita ini memang buruk, namun Kiki dan Mulyana percaya akan mujizat. Dengan satu hati mereka terus menerus berdoa bagi janin yang ada dalam kandungan Kiki. Mereka percaya pada Yesus yang mereka sembah sanggup membuat suatu mujizat bagi mereka.

Sikap Mulyana sendiri dalam menanggapi hal ini sungguh menguatkan hati Kiki.
Saya berpikir tentang hal ini. Tuhan sudah memberikan kehamilan bagi istri saya, masakan janin itu harus digugurkan kembali. Tujuan kami ialah memiliki anak, masakan janin yang sudah ada harus kita gugurkan kembali. Kami yakin bahwa Yesus pasti memberikan yang terbaik bagi kami.

Pengalaman mujizat pertama membangkitkan iman Kiki menanti mujizat berikutnya.
Saya yakin Tuhan pasti akan memberikan anak pada saya. Mujizat pertama Tuhan lakukan ketika saya disembuhkan dari toxoplasma dan mujizat kedua ialah saat saya bisa hamil. Tuhan buat mujizat dan saya percaya hal itu. Saya tidak akan gugurkan bayi itu dan saya percaya bahwa bayi saya pasti akan lahir sempurna.

Kiki akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kehamilannya dan Tuhan akhirnya menjawab doa dan iman orang yang datang dan percaya kepadaNya. Joshua, putra Kiki dan Mulyana akhirnya dilahirkan dengan sempurna dan tanpa cacat. Suatu kebahagiaan yang sukar dilukiskan oleh Kiki dan Mulyana. Namun kegembiraan ini ternyata tidak berlangsung lama, ujian kembali dialami keluarga Kiki dan Mulyana. Dokter tidak mengijinkan Joshua pulang ke rumah karena mereka menemukan adanya pendarahan di bagian otak. Joshua harus menjalani operasi secapatnya.

Pergumulan saya ternyata belum berhenti saat anak saya divonis mengalami pendarahan di bagian otak. Tuhan sudah sembuhkan saya dari toxoplasma, Tuhan sudah berikan anak yang lahir sempurna dan tanpa cacat. Waktu itu saya bergumul pada Tuhan dan minta Tuhan nyatakan lagi mujizat bagi anak saya. Selama dua setengah tahun saya sudah begitu rindu untuk memeluk dan menggendong anak saya. Namun ketika anak saya dilahirkan, ternyata anak saya ada dalam keadaan sakit.

Kiki dan Mulyana tidak menyerah. Bersama keluarga yang lain, mereka terus berdoa dan berharap pada Tuhan. Hati Kiki menangis dan menjerit pada Tuhan agar Joshua dapat mengalami kesembuhan tanpa harus mengalami operasi.

Saya bilang pada Tuhan, saya serahkan semuanya pada Tuhan sebab saya sudah lelah dan tidak punya lagi kemampuan. Saya bilang bahwa saya tidah tahu harus berpegang pada apa lagi kecuali yang saya butuhkan hanyalah mujizat. Saya juga katakan bahwa saya tidak mau anak saya sakit lagi.

Tuhan itu sungguh ajaib dan Ia sungguh baik pada orang yang berharap padaNya.
Ternyata pagi itu saat saya ke rumah sakit untuk melihat anak saya dan mau mencoba memberi minum anak saya. Saat itulah suster mengatakan bahwa anak saya tidak jadi diselang. Saya langsung tahu bahwa Tuhan telah mengerjakan kembali mujizat pada kami. Dokter lalu mengatakan bahwa anak saya ini telah mereka periksa ulang dan mereka katakan bahwa anak saya ini telah sembuh. Saya merasa ringan seperti terbang, hati saya penuh sukacita.

Mulyana sungguh tidak mengira cara Tuhan bekerja.
Hari itu bisa saya rasakan bahwa Tuhan Yesus benar-benar bisa sembuhkan anak saya. Yang seharusnya dokter bilang anak saya harus diselang ternyata hari itu dokter mengatakan bahwa anak saya bisa dibawa pulang.

Joshua akhirnya dinyatakan sehat. Kiki dan Mulyana bisa membawa Joshua pulang tanpa harus melalui operasi. Dan Tuhan bekerja dalam hidup Joshua selanjutnya. Joshua tumbuh menjadi anak yang lucu, sehat dan tanpa cacat.

Anak kami Joshua adalah mujizat terbesar yang Tuhan berikan kepada kami. Dokter sudah memvonis dia lahir dengan cacat fisik, tapi ternyata dia lahir dengan normal dan ternyata dia sangat sehat. Sampai sekarang kesehatannya sangat luar biasa, kami sangat menyayanginya dan kami menamai dia anak Yesus. Kami sangat menyayanginya.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.(Ibrani 11:1,6)

Sumber Kesaksian:
Kiki dan Mulyana (jawaban.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar