Minggu, 25 Februari 2018

KESAKSIAN KESEMBUHAN : TUHAN YESUS SEMBUHKAN INCE DARI SAKIT PINGGANG


Saya seorang ibu rumah tangga anak 1, asli dari Kupang. Pada akhir September 2013 saya mengalami sakit bila buang air kecil pada sisa akhir Saya awalnya tidak ambil pusing. Tapi 3 minggu makin lama makin sakit. Saya ke tukang urut, saat itu kepikiran oleh saya mungkin saya turun berok karena dulu pernah kena tapi sembuh karnea diurut. Itu alasan kenapa saya ke tukang urut. Selesai diurut, makin sakit, tapi saya berpikir positif mungkin dalam proses sembuh.

Namun keesokan harinya saat buang air kecil mengeluarkan darah demikian berlangsung terus menerus. Kondisi ini membuat saya lemah melakukan aktifitas. Hal ini saya tunggu 3 hari, saya tetap buang air kecil dengan mengeluarkan darah. Akhirnya saya dijenguk oleh tetangga saya, atas sarannya saya ke tukang urut yang lain yang lebih baik. Memang tidak mengeluarkan darah. Namun rasa sakitnya menjalar tidak hanya di bawah perut, tapi sampai di pinggang. Saya mencoba sabar mungkin proses. Tapi rasa sakit semakin jadi.

Bulan Desember seminggu sebelum Natal saya putuskan ke Dokter yang Cengkareng. Tetap saja sakit pinggang, dan mengeluarkan darah saat buang air kecil dan juga sakit saat penghabisan belum ada perubahan. Kembali saya mencoba menunggu mungkin proses kesembuhan.   

Akhirnya Januari 2014 saya mencoba kembali ke Puskesmas Cengkareng, dokter menganjurkan periksa darah. Saya menolak dengan alasan saya punya Yesus yang luarbiasa. Pihak Puskesmas memang memberikan obat sebatas mengurangi rasa sakit saja. Hingga suatu hari, beberapa hari sebelum KPPI datang seorang Hamba Tuhan (Murid Duri Kosambi-Wandi) mengundang saya ke KPPI. Saat menerima undangan itu, saya percaya Tuhan akan sembuhkan saya di KPPI

Saya datang dengan satu iman. Untuk kesembuhan, saya didoakan dan sampai hari ini sakit saya hilang tidak pernah kambuh. Tuhan Yesus sembuhkan saya Puji Tuhan.
Haleluya!!


COPAS : ada-jawaban.blogspot.co.id

Rabu, 21 Februari 2018

PENCERAHAN VS PUTUS ASA

Apakah Anda pernah berputus asa? Anggap saja itu pertanyaan retorik yang tak perlu dijawab.
Dari dapur perajut ada sepotong putus asa.... Sabtu siang itu saya baru mendapatkan pencerahan yang menjawab keputusasaan saya. Jawaban itu dari pegawai toko benang.
Terjadilah percakapan saya dan pegawai toko benang kira-kira demikian:
"Mbak, kalau buat syal dengan benang ini perlu berapa gulung?"
"Satu gulung"
Saya amat sangat tidak percaya.
"Ah... masak????"
Dia menjawab dengan kalimat lain hanya sekedar meyakinkan saya.
Saya punya benang seperti itu 2 gulung di rumah. Langsung dari USA pemberian sepupu saya beberapa tahun yang lampau.
Benang itu ternyata menyimpan misteri yang di tangan saya hanya berujung pada keputusasaan. Dia bagaikan alat musik di tangan orang yang buta nada. Dibunyikan sana sini ting tang ting tong...tidak menghasilkan melodi indah.
Siang itu pegawai toko itu menunjukkan pada saya bahwa benang itu bisa dilebarkan dan setelah itu baru dirajut. Oooooo.... pantas saya gagal di waktu lalu.
Malam itu saya bongkar semua laci benang saya hanya sekedar mencari bola benang hasil keputusasaan. Ternyata saya tidak menemukannya. Ooooo mungkin karena saya mencarinya buru-buru dengan seribu ketidaksabaran maka saya tidak berhasil menemukan benang itu.
Mungkin di kamar sebelah. Di sana ada satu laci untuk menyimpan benang. Singkat cerita saya pergi ke empat ruangan yang berbeda dan tidak juga berhasil menemukan benang itu. Kok bisa hilang ya ???? Kalau tidak dicari sepertinya ada. Kalau sungguh-sungguh dicari malah tidak ketemu.
Bagaimana bisa hilang ????
Dengan menarik nafas panjang saya meringankan tangan saya dan membuka mata lebar-lebar guna menambah ketelitian saya demi menemukan benang yang hilang itu. Tak mengapa mengulang lagi upaya pencarian itu. Dijiwai bak hati gembala mencari domba yang hilang. Habis akal tetapi belum habis hati, hati masih mau mencari dan mencari.
Apakah saya pernah memberikan benang itu kepada orang lain? Entahlah, … mungkin saya sudah memberikan benang itu kepada seseorang. Seseorang siapa? Tiba-tiba merasa hilang ingatan…ha…ha…
Rasa-rasanya semua kemungkinan sudah saya jelajahi.
Ooooo belum, ada yang belum saya periksa yaitu gudang.
Baiklah, saya ke gudang. Malam itu saya coba menyalakan lampunya. Syukurlah, lampunya bisa menyala. Saya menengok isi gudang itu. Di sana ada 4 kaleng ice cream yang bersusun ke atas. Semua kaleng ice cream itu sudah tidak ada ice creamnya. Kaleng-kaleng yang dipakai untuk penyimpanan barang lain.
Kaleng yang paling atas saya buka. Isinya benang putih satu kilogram yaitu 10 gulung. Saya menertawakan diri sendiri…. bagaimana saya bisa mempunyai benang sebanyak ini??? Di sana sini ada benang kendati saya bukan bermaksud menjual benang.
Lalu kaleng di bawahnya saya goyangkan. Sepertinya ada isinya. Baiklah, saya buka tutupnya. Horeeeee ketemulah benang yang saya cari-cari sedari tadi.
Bola benang putus asa ada di mana???? Ada di gudang. Begitulah manusia…putus asa bagaikan anak tiri yang diumpetin. Sepertinya saya berpikir bahwa bola benang putus asa itu hanya layak di gudang saja. Tak pantas dia bersama dengan benang-benang baru yang bagai emas mengilaukan harapan cemerlang.
Selanjutnya saya mengambil sepasang jarum rajutan. Saya mulai merajut guna memastikan pencerahan dari pegawai toko benang itu dengan merajutnya bagai pemain musik yang tahu nada melodinya.....
Sungguh hari keberuntungan...
Putus asa pergilah kau...
Misteri sudah dipecahkan...
Dapur perajut bergairah...
Malam telah berganti pagi...
Di hari selanjutnya terjadilah eksplorasi hitungan. Ke tiga kalinya baru oke. Namanya saja eksplorasi, jangankan ke tiga kali mungkin saja itu sampai ke sepuluh kali.
Pegawai toko benang itu memberikan pencerahan kepada saya, tetapi dia menuntun saya di jalan hitungan yang salah..... Ha... ha... Hitungan yang tepat harus saya cari sendiri hingga saya menemukannya. Maka jadilah syal yang cantik dengan gelombang-gelombang indah.
Apakah Anda pernah berputus asa?
Bola keputusasaan terurai ketika Anda mendapatkan pencerahan, itu mungkin-mungkin saja terjadi dalam hidup Anda.
Saya akhiri saja catatan ini seraya mengingat bahwa ada ayat yang sangat menyentuh saya yaitu Roma 8:25 "Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun."
5 Oktober 2016, Yvonne Sumilat,
dari dapur perajut telah mengantongi satu pencerahan untuk harapan mengurai bola keputusasaan.

SUMBER :  ARTIKEL.SABDA.ORG

Sabtu, 17 Februari 2018

SELEDRI

Salah satu kemahiran Tuhan berkomunikasi.
Ini ada kisah yang sangat menolong saya di saat saya putus asa, kisah dari papi, harap bisa menjadi berkat bagi keluarga atau pribadi lain yang mengalami krisis.
Suatu hari ada isu PETRUS alias PEMBUNUH MISTERIUS. Papi juga ketakutan dan gelisah amat sangat. Waktu itu dia tinggal di desa sendiri, sedangkan istri dan anak-anak tinggal di Malang. Ia merasa menjadi sasaran orang yang hendak dibunuh. Dan untuk masalah ini dia tanggung sendiri, tidak berani bercerita pada istri. Kalau ia bercerita pada istri, ya pasti tidak diberi ijin pergi ke desa dan pelayanan.
Di desa itu, kalau malam, papi tinggal di rumah sendiri. Ia tidak berani menyalakan lampu, jadi rumah itu gelap gulita. Juga tidak berani tidur di atas tempat tidur, tidurnya di lantai. Kalau tidur di atas tempat tidur, itu bisa terlihat dari jendela kaca kamar itu. Rumah di desa itu tiada pagar. Semua orang bisa mengintip jendela kamar.
Demikian terjadi beberapa hari. Ketakutan dan kegelisahan memenuhi hatinya.
Suatu saat dia memasak sup sayur. Memasak sendiri untuk konsumsi sendiri. Dalam hati dia berkata, alangkah enaknya kalau ada seledri, tetapi tidak ada seledri. Lalu dia membuka pintu dapur. Karena rumah itu tanpa pagar, maka siapa saja bisa masuk dan lalu lalang di samping rumah di sebelah dapur.
Terasa ajaib sebab ada seledri di samping pintu dapur. Ditengok sana dan sini tidak ada orang, hanya ada seledri itu. Di saat itulah TUHAN berbicara, "Mengapa engkau mengkuatirkan nyawamu? Mengapa engkau gelisah? Sedangkan seledri saja, kebutuhanmu yang kecil, Aku peduli, terlebih nyawamu."
Sejak saat itu papi tidak takut mati dalam pelayanan dan menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Papi juga dikuatkan melalui kisah-kisah misionari yang pernah ia baca.
*Setting artikel ini adalah pelayanan di suku Tengger sekitar tahun 1970-80-an, di Desa Tosari (daerah wisata Gunung Bromo).

SUMBER : ARTIKEL.SABDA.ORG

Selasa, 13 Februari 2018

CERITA NATASHIA NIKITA SOAL PENJARAH YANG BERTOBAT KARENA LAGUNYA

Kalau dulu si pelantun cilik ‘Di Doa Ibuku’ ini kita kenal masih sangat belia. Kini, penyanyi rohani Natashia Nikita sudah bermetamorfosis menjadi seorang wanita dewasa yang ceria dan suka berbagi cerita.
Dalam kesempatan wawancara bersama tim JC Channel, penyanyi yang akrab disapa Niki ini membagi sebagian cerita dan pengalaman uniknya sepanjang berkarir di dunia tarik suara rohani. Jika sebagian diantaranya unik dan lucu, maka sebagian lainnya sangat menginspirasi.
Nah, salah satu di antara pengalaman yang dia bagikan adalah saat ketika Niki mendapat surat dari salah satu penggemarnya. Kejadian itu terjadi saat masa kerusuhan tahun 1998. Di dalam surat tersebut, sang pengirim menceritakan soal titik balik hidupnya mengalami pertobatan setelah mendengar lagu Niki.
“Dulu itu pas jaman kerusuhan, jadi waktu itu masih jaman surat. Jadi kita suka dapat surat gitu dari penggemar yang suka dengerin lagu-lagu Niki. Nah, waktu itu dapat satu surat ini, dia cerita ‘Saya itu dulu salah satu orang yang ngejarah pas di kerusuhan 98.’ Itu dia ngejarah salah satu toko elektronik di Jakarta. Jadi, yang dia jarah tuh banyak: TV, tape recorder, apalah. Pokoknya banyaklah yang dia jarah,” terang Niki.
Lalu sang pengirim surat menyampaikan, setelah menjarah barang-barang itu. Sebagian barang jarahan itu sudah terjual, kecuali tape recorder. Tapi entah kenapa, ketika hendak menjual barang itu, si penjarah merasa penasaran dengan isi yang ada di dalam tape. Kemudian dia buka tapenya dan menemukan satu kaset yang tertempel di sana. Dan ternyata kaset itu adalah album ke-2 Nikita berjudul ‘Ada Ampun Bapa Bagimu’ yang dirilis tahun 1997 silam. Si penjarah lalu memutar album itu dan merasa tersentuh dengan salah satu lagu yang diputarkan.
“Pas dia lihat ada isi itu, dia penasaran trus didengerin pas banget tuh albumnya yang ke-2 album aku yang ‘Ada Ampun Bapa BagiMu’. Jadi ya pas banget. Kata-katanya kan ‘Pulanglah anakku Bapa rindu berseru. Pulanglah anakku ada ampun Bapa bagimu’. Jadi, itu nggak tau gimana ya Tuhan bekerja gimana. Caranya suka aneh-aneh tapi manjur banget. Jadi begitu dia dengger itu, dia kayak tergerak gitu untuk mau pulangin (tape recorder itu) ke orang yang punya toko itu,” cerita Niki.
Niki menuturkan kalau si pengirim surat sebenarnya sudah diserang rasa takut yang begitu besar. Karena berpikir akan dilaporkan ke polisi dan dipenjara. Namun ternyata, si pemilik toko justru berterima kasih kepada penjarah itu karena sudah mau mengembalikan tape tersebut. Pemilik toko pun memaafkan si penjarah itu dan bahkan mau menyekolahkan si penjarah. Berkat kemurahan hati si pemilik toko, si penjarah itu pun akhirnya lulus dari sekolah pendeta.
Bagi Niki, ini adalah kisah nyata yang menginspirasi dirinya. Dia menyadari bahwa karya-karya musik rohani yang dia sudah hasilkan berdampak nyata bagi hidup orang lain. Sejak itulah penyanyi kelahiran Jakarta, 22 Mei 1988 ini memutuskan untuk terus bernyanyi sampai saat ini.
“Itu salah satu (alasan) kenapa Niki nyanyi sampai sekarang. Karena justru melalui nyanyi, Niki nggak harus berkhotbah panjang lebar. Tapi pesannya juga tetap sampe,” terangnya.
Salah satu alasan dirinya juga konsisten bernyanyi di jalur musik rohani adalah karena kerinduannya sendiri. Meskipun tawaran untuk bernyanyi di jalur sekuler banyak berdatangan, tapi Niki mengaku jauh lebih damai dan nyaman jika bernyanyi bagi Tuhan dan bisa memberkati banyak orang.
Jadi, buat yang terus bertanya soal alasan Niki nggak pengen berkarir di jalur sekuler pasti udah pada dapat jawabannya ya. Kalau pengen tahu lebih banyak soal kehidupan Niki, kamu bisa mampir ke laman Youtube Jawaban.com di JC Channel (Klik di sini).

Sumber : Youtube.com/JC Channel                

Jumat, 09 Februari 2018

RUMATA SITOMPUL, KARENA IMANNYA KEPADA TUHAN SUAMI TERLEPAS DARI GANGGUAN SETAN

Meski kondisi perekenomian masih jauh dari berkecukupan, tetapi Rumata boru Sitompul tetap merasa bahagia hidup bersama dengan Ahmad Gultom. Baginya, sang suami adalah laki-laki yang bertanggung jawab, sayang kepada istri, anak-anak, dan bahkan keluarga besarnya. 
Suatu waktu, ada beberapa orang mengantar suami Rumata ke rumah. Kata yang membawa, suaminya seperti orang meninggal. Posisi saat ditemukan, suaminya berada di dalam mobil angkot yang dibawanya.
Melihat kondisi tersebut, Rumata langsung sigap. Dengan segala pengetahuan dan kekuatan yang dimiliki mulai dari urut sampai membalurkan minyak ke tubuh rutin ia lakukan. Ia bahkan membawakan sang suami ke dokter, tetapi hasilnya nihil. Dokter yang memeriksa mendiagnosis laki-laki yang dicintainya itu mengalami sakit lambung. Namun, berjalan waktu hingga tiga tahun, kondisinya tetap begitu-begitu saja, tanpa perubahan.
Sebuah permintaan pun dilontarkan Pak Gultom kepada Rumata Sitompul. Ia memohon agar dibawa saja ke tempat paranormal. Mendengar itu, Rumata langsung menolak. Tetapi karena desakan yang kuat dari sang suami, usulan itu pun dipenuhinya. Meski di hatinya masih berat untuk melakukannya.
Mereka berdua pun sampai di salah satu tempat paranormal. “Kok orang ini kayak adu ilmu, pikiran saya itu. Saya berdoa aja di kursi,” ujar Rumata.
Hari demi hari pun berganti. Bukan membaik, kondisi sang suami justru semakin parah. Ia justru setiap hari hanya duduk termenung. Akan tetapi di satu waktu, mukanya bisa berubah seperti marah.
Melihat hal tersebut, anak-anak di rumah menjadi ketakutan. Lopyana, salah satu anak dari Ahmad Gultom dan Rumata Sitompul, mengalami sedikit trauma karena pernah dimarahi habis-habisan oleh bapak untuk sesuatu hal yang baik yang dia perbuat kepada bapak.
“Kok bapak seperti itu ya mak?” ungkap Rumata.
Sebagai seorang ibu, ia hanya bisa mendorong anak-anaknya untuk terus mendoakan buat kesembuhan bapak mereka.  
Uang Habis, Makan Kerupuk Pake Kecap
Perlahan tapi pasti keuangan keluarga kian lama kian menipis. Pada satu titik terendah, Rumata dan seluruh keluarga hanya bisa makan kerupuk dengan kecap.
“Jadi saya biar cukup, saya suapin mereka. Nanti makan sendiri-sendiri pasti kurang,” kenang Rumata.
Di dalam situasi itu, Rumata tidaklah berpangku tangan. Demi suami dan anak-anak, ia pun berjualan. Sekian lamanya ia melakukan hal tersebut hari demi hari tanpa henti.
Namun, merasa suami justru tetap tidak berubah, Rumata menemukan dirinya kelelahan. Ia pun mau memutuskan untuk meninggalkan suaminya. Ketika hendak mau melakukan niat tersebut, sebuah Firman Tuhan menegornya.
“Mateus 11:28, ‘Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Maka kan kuberikan kelegaan kepadamu. Pencobaan ini gak seberapa, ini kecil kok. Datang sama Tuhan, kecil ini, jangan kau khawatir. Terngiang-ngiang di sini,” kata Rumata.
Ia pun juga teringat akan janji yang pernah diucapkan ia dan suami di saat menikah. “apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh siapa pun, hanya bisa dipisahkan oleh maut,” ungkap Rumata.
Rumata pun membatalkan niat untuk meninggalkan sang suami, tetapi ada satu permohonan yang ia sampaikan kepada Tuhan, yakni ia dibukakan jalan keluar.
Suami Dipulihkan
Ketika sedang berjualan, Rumata bertemu dengan seorang ibu yang ia kenal. Ibu tersebut menawarkan bantuan yakni membawa suaminya kepada seorang laki-laki bernama Pak Agus Ten.
Walau sempat ragu, tetapi demi melihat kesembuhan Pak Gultom, Rumata pun membawa ke Pak Agus Ten.
“Jadi saat saya bertemu dengan Pak Gultom, satu hal yang bisa saya katakan pandangan matanya kosong. Saya tanya bagaimana lagi. Dibawa ke paranormal atau dukun. Dengan demikian pasti gangguan dari iblis itu sendiri,” imbuh Rumata.
Pak Agus Ten pun menyampaikan kepada pasangan suami-istri ini bahwa yang sanggup melepaskan seseorang dari kuasa kegelapan hanyalah Tuhan Yesus. Oleh karena itu, ia pun mulai melakukan pelayanan pelepaskan. Sehari berlalu, satu bulan berlalu, sampai hingga satu tahun lebih. Kuasa Tuhan benar-benar bekerja. Mukjizat pun terjadi.
“Sesudah setahun kemudian, dia sudah mulai makin membaik. Matanya sudah mulai terang, sudah bisa diajak komunikasi,” tutur Pak Agus Ten.
Melihat perubahan yang terjadi kepada sang suami, Rumata begitu senang luar biasa Hanya saja, masih ada tertinggal keraguan, benarkah suaminya sudah pulih total. Dengan kepastian yang diberikan Pak Agus Ten, ia akhirnya turut mengimani suaminya telah sembuh. Sungguh, Pak Gultom memang sudah pulih.
“Saya hidup bisa kembali seperti ini dan anak-anak mencintai saya; istri juga kembali mencintai dan tidak takut, itu karena pertolongan Tuhan,” ujar Pak Gultom.
Sementara itu, Rumata semakin dikuatkan dengan apa yang dialami oleh sang suami bahwa kuasa gelap tidak pernah menyelesaikan masalah. Justru itu akan menambah persoalan.
Bagi Rumata, jika ia bisa melewati semua yang terjadi dalam hidupnya, itu bukanlah karena kuat dan gagahnya, melainkan semua karena Tuhan yang menolong dan memberikan kekuatan.
“Tuhan Yesus bisa memulihkan suami saya, anak-anak saya bisa kuliah seperti saat ini, Tuhan pelihara. Tuhan Yesus baik bagi kami,” pungkas Rumata.

Sumber : Rumata Sitompul (JAWABAN.COM)

Senin, 05 Februari 2018

DAHLIA NAINGGOLAN, BAYANG-BAYANG KEMATIAN SELALU MENGHANTUINYA

Di mata Dahlia Nainggolan, sang suami adalah pria yang sangat baik. Tidak hanya bertanggung jawab, ia juga adalah seorang yang harmonis. Setiap ada rezeki, sang suami pasti langsung memberikan untuk terserah mau diapakan sama dirinya.
Jika mau jujur, seratus persen kehidupan Dahlia dan anak-anak sangatlah tergantung kepada sang suami selaku kepala keluarga.
Suatu hari, saat sedang bermain catur, sang suami tiba-tiba terjatuh ke lantai. Bagian badannya ada yang  membiru. Melihat hal itu, Dahlia pun bergegas membawanya ke dokter paling terdekat dari lokasi rumah Sang suami kemudian mendapat perawatan medis. Sekeluarnya dari ruangan gawat darurat, dokter menyampaikan sebuah kabar yang mengejutkan. Sang suami telah meninggal dunia. Betapa terkejut Dahlia mendengarkan hal itu. Ia pun meminta izin kepada dokter untuk melihat tubuh sang suami.
Karena tidak percaya dengan situasi itu, Dahlia pun menangis sambil meminta kepada Tuhan untuk menghidupkan kembali suami serta ayah dari anak-anaknya ini. Meskipun meronta-ronta, sang suami tidak hidup juga.
Hana Septiana yang ketika itu masih sangat kecil mengaku tidak terlalu mengerti dengan kondisi yang dialami mamanya. Yang ia dan saudara-saudaranya tahu bahwa ayah telah menghembuskan nafas terakhir. Yang mereka bisa lakukan pun hanya mengatakan sabar kepada sang mama.  
“Apa sih dosa saya yang Tuhan gak bisa ampuni? Kok segini berat saya? Buat saya, Tuhan kejam banget,” ujar Dahlia.
Depresi melanda Dahlia. Ia masih tidak terima atas kepergian sang suami untuk selama-lamanya.  
“Saya gak bisa mengungkapkan yang saya rasakan. Tidak berartinya manusia itu. Tidak ada artinya manusia ini. Suami saya yang gagah, yang saya andalkan, yang saya banggakan selama ini, kok segitunya,” ucap Dahlia dengan penuh lirih.
Peristiwa itu kemudian membuat Dahlia akhirnya memutuskan mempersiapkan diri untuk hadapi kematian dirinya juga. Pikirnya, suaminya saja bisa meninggal mendadak, bukan tidak mungkin di keesokan harinya, dirinya juga akan alami itu.
Suami Pergi, Hidup Jadi Tidak Berarti
Meninggalnya sang suami benar-benar menghancurkan kehidupan Dahlia. Ia bahkan menganggap hidupnya sudah tidak berarti lagi. Hidupnya kosong.
Di dalam otaknya yang ada adalah manusia tidak berguna yang semuanya sedang menuju kepada kematian.  
Suatu kali ia bertemu dengan seorang teman di angkutan umum. Ia pun saling menyapa dan berbincang. Ketika turun dari angkutan umum, Dahlia kemudian turut membayarkan ongkos temannya tersebut.
Ada perasaan senang bisa membayar ongkos teman lama walaupun sebenarnya jumlahnya tidaklah seberapa. Sejak itu, ia menetapkan hati untuk berbuat baik kepada setiap orang.
Walaupun sebelumnya sebenarnya sudah mempersiapkan diri untuk hadapi kematian, tetapi di hatinya paling dalam, ia begitu ketakutan.
Untuk mengatasi hal itu, Dahlia pun giat mencari buku-buku seputar kematian. Setiap beli buku, asal itu berhubungan dengan kematian, pasti langsung ia beli.
Pola Pikir Diubahkan
Setiap hari, di saat merenungkan kematian sang suami, pertanyaan-pertanyaan akan keadilan Tuhan terus muncul di pikirannya.
“Mana biasa ini Tuhan, ini kan luar biasa. Anak saya masih kecil, saya ngga kerja, kok Tuhan ambil Dia? Ngga biasa lah; Hidup kami itu kan tergantung pada suamiku sepenuhnya,” ungkap Dahlia.  
Suatu malam, salah seorang dari anaknya mengalami kejang-kejang. Di tengah ketidaksadaran, ia memanggil nama bapaknya. Dalam pikiran Dahlia, anak ini sepertinya akan mengikuti suaminya yakni mati.
Saking takut kehilangan untuk kehilangan orang tersayang kesekian kalian, Dahlia pun mengucapkan sebuah janji kepada dirinya sendiri. “Kalau anak ini mati, saya juga harus mati,” imbuh Dahlia.  
Di tengah menunggu kepastian akan pemulihan salah seorang anaknya, kesedihan begitu meliputi hati Dahlia. Walau hati tersayat-sayat, tetapi Dahlia tidak menunjukkannya di hadapan anak-anaknya.
“Puji Tuhan, berjalan, berjalan, berjalan, anak itu pun sembuh dan saya bawa kembali ke rumah,” kata Dahlia.
2008, bersama dengan Ruspita, Dahlia mengikuti pelatihan yang membahas kematian. Dalam pelatihan itu, kematian yang dikupas ternyata mengenai hidup yang kekal.
Sejalan dengan acara pelatihan itu, pola pikir Dahlia pun turut berubah 180 derajat.
“Jadi hidup kekal itu ternyata apabila kita punya iman, yang benar-benar mengakui, mengenal, dan mengandalkan Yesus. Percaya saja, sudah masuk surga.  Perbuatan baik tadi itu apa? Ternyata itu tadi adalah bentuk ucapan syukur. Malah kesininya berusaha untuk melakukan yang terbaik, tapi bukan yang tadi masuk surga itu,” imbuh Dahlia.
“Ternyata saya salah konsep. Saya begitu berharga di mata Tuhan, sebegitu mahalnya saya diperjuangkan dengan darah-Mu, dengan nyawa-Mu. Di situ saya baru dapat,” sambung Dahlia.
“Kayaknya beban yang saya bawa selama ini udah berkurang. Ada sukacita meluap. Ada rasa bahagia yang tidak bisa dinilai oleh apapun. Ternyata Tuhan punya rencana yang indah buat saya. Dan harus seperti itulah cara-Nya Tuhan untuk memperkenalkan diri-Nya pada saya,” ungkap Dahlia.
Jika dahulu ia begitu ketakutan dengan kematian, setelah pola pikirnya diubahkan, Dahlia telah siap apabila dia harus menghadap Tuhan. “Surga sudah milik saya. Jadi gak ada lagi pikiran takut mati. Gak ada lagi,” kata Dahlia.
Bukan hanya itu saja, ketakutan akan kebutuhan rumah tangganya kian lama kian terkikis habis seiring ia melihat bagaimana Tuhan mencukupkan semua kebutuhan mereka.
“Bersama Yesus ada sukacita yang tidak bisa dinilai oleh apapun juga. Ada sukacita yang tidak bisa dibeli oleh apapun juga. Yesus sungguh dahsyat dan luar biasa,” tukas Dahlian Nainggolan.  

Sumber : Dahlia Nainggolan (JAWABAN.COM)

Kamis, 01 Februari 2018

RITSON MANYONYO, PRIA TUNANETRA YANG HIDUP DALAM DOSA PERZINAHAN

Nama saya Ritson Manyonyo. Saya memiliki kelemahan fisik di seputar mata yakni tidak bisa melihat. Karena hal ini, saya pun menjadi orang yang minder. Untuk makan saja, makanan saya harus diantar orang lain. Saya menganggap hidup saya tersebut persis seperti hewan.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan tidak terasa kehidupan yang saya jalani itu telah mencapai 2 ½ tahun. Jenuh, itulah yang saya rasakan. Saya bosan terus-menerus dikasihani. Maka, saya bertekad untuk mengubahnya.
Pada usia 24 tahun, saya sudah menjalani kuliah di salah satu sekolah tinggi di Jakarta. Ketika itu, saya adalah mahasiswa tingkat tiga (semester enam). Di kalangan teman-teman sekampus, saya dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan cerdas.  
Jujur saja, saya adalah orang yang selalu ingin unggul. Tujuannya pun sederhana yaitu supaya orang tidak lagi melihat kecacatan, tetapi prestasi saya. Dari prestasi itulah akhirnya saya dianggap hebat oleh orang lain.    
Kecerdasan yang saya miliki memikat banyak orang khususnya para kaum hawa. Padahal, kelemahan saya adalah tidak bisa dekat dengan perempuan secara berlebihan. Jika ada yang mendekat dan ternyata klik dengan saya biasanya ujungnya kami akan berhubungan badan. Itu tidak terjadi dengan hanya seorang perempuan.
Anehnya, setiap kali jatuh ke dalam dosa perzinahan, saya pasti mengalami kemalangan, kesusahan dan karena keadaan-keadaan itu, hidup saya jadi terpuruk.  
Ingin tidak melakukan, tetapi intimidasi demi intimidasi yang saya rasakan justru membuat saya sulit keluar. Jadi, bila ada kesempatan untuk berbuat dosa perzinahan, saya justru kembali melakukannya.
Saya sendiri sebenarnya punya riwayat penyakit asma. Pada suatu malam, asma saya kumat dan saat itu tidak ada orang. Saya tidak bisa bergerak. Kematian itu serasa begitu dekat. Namun, rekan saya di kampus Kristina Silva ternyata datang ke tempat saya tinggal.
Melihat kondisi tersebut, ia pun segera melakukan pertolongan. Mulai dari mencari obat asma, memberikan obat asma itu kepada saya, memberi saya minum, serta memijat badan saya. Oleh karena apa yang saya lakukan, nyawa saya pun tertolong hari itu. Saya percaya kedatangan Kristina Silva karena dorongan dari Tuhan.
Peristiwa itulah yang membuat saya kembali melihat merasakan hidup ini milik Tuhan. Maka Titus 3:5, hanya Yesus yang mampu membuat orang berubah dan dia bisa pakai cara apa saja untuk mengubah anak-Nya yang dicintai-Nya. Dalam rasa malu karena dosa-dosa yang telah saya buat, saya datang dalam doa kepada Tuhan. Saya akui segala dosa saya dan memutuskan untuk bertobat sungguh-sungguh.
Sejak saat itu, tidak ada lagi kemauan untuk melukai hati Tuhan. Kalau pun ada selintas keinginan untuk melakukannya, saya selalu minta Roh Kudus untuk memberi saya kekuatan agar tidak jatuh ke dalamnya.
Oleh anugerah Tuhan, saya bisa menyelesaikan kuliah saya di STT. Saya sungguh melihat karya-Nya dalam menolong saya di saat-saat saya mengerjakan tugas akhir saya.
Bersama dengan Kristina Silva yang adalah sekarang istri saya, kami berdua bersama teman-teman mendapatkan izin mendirikan lembaga pelayanan Yayasan Elsafan yang menampung 45 anak tunanetra dan tunanetra ganda. Saya sangat bersyukur karena karya dan kreasi Allah, saya bisa menikmati kehidupan sebagai pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Tanpa kesetiaan dan pertolongan Roh Kudus, manusia tidak bisa berbuat apa-apa.
Saya Ritson Manyonyo, kalau saya bisa hidup diubahkan oleh Tuhan maka peluang besar itu pun dapat terjadi di dalam hidupmu. Oleh karena itu, setia sampai mati, bersyukur selama-lamanya dan bersemangat untuk melayani Tuhan, dengan demikian kita akan menjadi manusia yang mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya untuk sesama dan akhirnya memuliakan nama Tuhan.
Saya bersyukur sama Tuhan Yesus karena tanpa Dia, saya tidak bisa hidup seperti ini.  

Sumber : Ritson Manyonyo (WWW.JAWABAN.COM)