Jumat, 23 Maret 2018

TUHAN YESUS, MENGAPA JALAN SEMPIT YANG HARUS KAMI LALUI ?



Matius 7 : 13-14
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Demikian tertulis di Alkitab mengenai jalan yang benar (pada Alkitab versi bahasa Indonesia) atau jalan yang sempit (pada Alkitab versi Bahasa Inggris). Jalan yang menuju kehidupan itu digambarkan sebagai jalan yang sempit dengan pintu yang sesak. Berbeda dengan jalan menuju kebinasaan yang luas dan pintu yang lebar.

Membaca bagian Alkitab ini awalnya saya lebih tertarik pada kata-kata “sedikit orang yang mendapatinya” 

Dimana kata ini bisa diterjemahkan dengan artian “sedikit orang yang menemukannya”. Menemukan apa? Tentunya menemukan “kehidupan” itu sendiri, yang merupakan tujuan dari jalan yang benar atau jalan yang sempit.

Kata sedikit orang mendapatinya mengesankan “Kehidupan” yang diinginkan seperti tersembunyi entah dimana. Padahal bila ditawarkan kepada kita, pasti kita mencari yang namanya “kehidupan”, tidak ada tentunya orang yang secara sadar berusaha mencari “kebinasaan”.

Kehidupan, saat mendengar kata ini, kita mungkin terbayang gambaran “surga”, tempat dimana ada kedamaian. Tempat dimana kita tidak mengalami masalah keuangan, tidak ada masalah keluarga, tidak ada kesulitan, tidak ada sakit penyakit, tempat dimana doa-doa kita terjawab sudah dengan memuaskan. 

Perasaan yang ada adalah bahagia, senang, tidak ada lagi tetesan air mata yang tercurah. Semuanya beres dan baik-baik saja, sejalan dengan pergumulan kita.
Betapa baiknya “kehidupan” sebagai tujuan akhir dari jalan yang ditunjukkan Tuhan.
Namun Yesus mengatakan, “sedikit orang yang mendapatinya”.
“Kehidupan” itu ada, tetapi sedikit orang yang mendapatinya.

Ini seperti Yesus mengatakan, “Saya ada sesuatu yang bagus, tetapi sedikit orang yang akan mendapatinya”. Sedikit orang yang akan menemukan hal itu.

Apa yang ada di pikiran saya adalah, “Tuhan Yesus, kalau memang itu sesuatu yang baik yang ingin Kau berikan, mengapa harus disembunyikan? Mengapa Tuhan harus berteka-teki? Mengapa saya harus mencari “kehidupan” itu? Dan belum tentu juga setelah saya mencari, saya akan mendapatkan. Karena Engkau sendiri mengatakan bahwa hanya sedikit orang yang akan mendapatinya”

 “Tuhan, mengapa tidak Engkau tunjukkan saja dengan mudah? Bukankah baik bila semua orang bisa mendapatkannya? Bukankah baik bila semua orang tidak berjalan menuju kebinasaan? Kenapa jalan menuju kehidupan tidak dibuka lebar? “

Dengan kata lain saya ingin menyampaikan kepada Tuhan, mengapa sih harus susah-susah menderita? Kenapa orang harus mengalami masalah keuangan yang membuat dia memilih jalan kebinasaan dengan berbuat dosa? Kenapa orang harus sakit dan tidak ada kesembuhan? Kenapa harus ada orang yang menjadi korban kriminalitas (pelecehan seksual, perampokkan, penipuan) sehingga orang itu menyalahkan Tuhan?

Bukankah lebih mudah bila Tuhan menurunkan harta untuk orang yang membutuhkan, kesembuhan bagi yang sakit, perlindungan bagi semua orang. Dengan begitu makin banyak orang akan percaya kepada Mu. Orang tidak akan menyimpang kesana kemari karena mereka tahu Engkau bisa secara nyata menyediakan semuanya. Daripada hanya “sedikit orang mendapatinya” bukankah lebih baik “semua orang mendapatinya”

Mengapa Engkau menyembunyikan Surga?

Untuk menjawab pertanyaan ini saya perlu untuk membaca berulangkali perumpamaan Yesus mengenai dua jalan. Yang satu luas dengan pintu yang lebar, yang lainnya sempit dengan pintu yang sesak. Untuk jalan yang luas dengan pintu yang lebar, banyak orang yang melaluinya. Sementara yang satu lagi, seperti sudah disebutkan, sedikit yang akan mendapatinya.

Benarkah Yesus menyembunyikan “kehidupan “ itu?

Ada dua jalan, yang satu lebih populer. Yang lainnya tidak.

Jalan yang luas dengan pintu yang lebar, menuju kebinasaan, pastinya Ia tidak ada disana. Karena kita paham betul bahwa Yesus tidak mengarahkan orang menuju ke kebinasaan. Lalu jalan apakah itu? Yang katanya banyak orang melaluinya?

Apa yang dicari orang? Kemudahan hidup, kenyamanan, kehormatan, kepopuleran, dan lain-lain yang dewasa ini mudah kita temukan, dalam diri kita maupun dalam kehidupan masyarakat. Jalan yang lebar, artinya segala sesuatunya lancar, dengan kekayaan, kepopuleran dan hal-hal duniawi, segalanya bisa dikatakan mudah untuk dibereskan. Jalan yang lebar juga artinya bisa berjalan bersama-sama. Tidak ada kesepian karena banyak orang yang mengikuti kita. Kalau populer dan kaya, atau berpenampilan menarik, banyak yang akan dekat dengan kita, mulai dari orang biasa sampai pejabat.
Karenanya jalan ini menjadi menarik dan banyak orang mau melewatinya.

Lalu bagaimana dengan jalan yang satu lagi?

Jalan sempit dengan pintu yang sesak. Jalan ini pastinya susah dilalui. Selain itu akan ada kesepian disana, karena jalannya sempit tidak bisa dilalui beramai-ramai. Ini jalan yang tidak populer. Ini jalan yang tidak enak. Tidak menghasilkan kekayaan, dan apapun yang secara duniawi dihargai. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada jutaan likes dan followers. Karena memang jalan ini sempit, sepi.

Karena sedikit orang yang melewatinya, saya pun kurang bisa memberikan gambaran mengenai jalan apakah itu.

Mungkin ini jalan yang dilalui oleh dokter-dokter misi, yang setelah belasan tahun kuliah di fakultas kedokteran, lalu membaktikan diri di tempat-tempat terpencil dengan fasilitas terbatas. Mungkin ini jalan yang dilalui oleh guru-guru yang mengajar di pedalaman, jauh dari sorotan media sosial. Mungkin ini jalan yang dilalui seorang yang benar lalu difitnah dan harus mendekam selama dua tahun di penjara. Mungkin ini jalan orang-orang yang bekerja di penampungan anak jalanan atau para relawan yang harus mengurusi anak-anak berkebutuhan khusus.

Tetapi bisa juga jalan diartikan sebagai gambaran menjalani kehidupan dengan penuh kesulitan dan tekanan.

Jalan sempit ini bisa dikatakan juga jalan yang dilalui oleh korban pelecehan seksual yang memilih bertahan menjalani hidupnya meskipun berat, atau jalan seorang penderita penyakit yang tidak ada obatnya, tetapi ia tetap berusaha tabah melewatinya. Bisa juga ini gambaran hidup orang yang gagal berkali-kali tetapi masiih mau mencoba lagi.
Wah kehidupan macam apa itu? Kehidupan di jalan kebinasaan tampak lebih menarik dibandingkan 

“kehidupan” yang Ia tunjukkan di jalan yang sempit.
Hidup dan mati di dalam Alkitab tidak selalu diartikan hidup dan mati secara harafiah, seperti hidup itu masih bernafas, sementara kalau mati, ya seseorang sudah menjadi mayat.

Hidup artinya mempunyai relasi atau hubungan dengan Tuhan. Sedangkan mati berarti putusnya hubungan dengan Tuhan. Ingatkah Anda waktu Yesus mengatakan di luar pokok anggur, ranting akan mati? Di luar Yesus , orang akan “mati”.

Berada di jalan yang sempit dengan pintu yang sesak, “kehidupan” bukanlah tujuan akhir. Namun “kehidupan” adalah sesuatu yang akan dijalani oleh orang tersebut. Berada di jalan itu, Anda, saya atau siapapun juga akan melihat wajah Tuhan dan tidak mati. Akan ada hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan. Karena di jalan ini tidak ada dosa atau penghalang untuk melihat wajahNya. Ia tidak terhalang oleh kekayaan duniawi, tidak ada hiruk pikuk popularitas yang mengalihkan perhatian kita dari diri Nya. Di jalan ini, saat kita merasa sepi, seolah tidak ada yang mengerti jalan pikiran dan kehidupan kita, kita akan lebih menyadari kehadiranNya yang berjalan bersama dengan kita.

Tidak ada dosa atau sesuatu yang membuat kita malu untuk bersama dengan Nya.

“Kehidupan” itu tidak pernah Ia sembunyikan. “Kehidupan” itu ada, hanya saja sedikit orang yang mendapatinya. Sedikit orang yang ingin melalui jalan tersebut.

Yang memilih jalan sempit akan melihat wajah Tuhan secara nyata dalam bentuk orang-orang yang mereka tolong, murid-murid yang miskin, orang dengan disabilitas, anak jalanan, korban kekerasan, korban ketidak adilan, dan lain sebagainya.

Selain itu di jalan ini, orang juga akan merasakan kehadiranNya secara spiritual. Ia hadir ketika kita memilih jalan doa dibandingkan berkeluh kesah dan marah karena kehidupan. Ia hadir dalam setiap kata dari Firman yang kita baca ketika kita meninggalkan jalan kepalsuan yang menawarkan hiburan sesaat. Dan dalam situasi ini, yang terbaik ialah, Ia melayakkan kita untuk berada dalam “kehidupan”, yakni bertatapan dengan Nya tanpa adanya pembatas suatu pengalaman, yang mungkin memang  “hanya sedikit orang yang mendapatinya”.

Melihat dan merasakan relasi dengan Terang Kasih Tuhan melebihi mujizat apapun yang dapat Ia berikan kepada kita. Karena Ia sendiri, sang pembuat mujizat, kita dapati di jalan yang sempit dan berpintu sesak.

"Masuklah melalui pintu yang sesak itu......"

Demikian harapan Yesus kepada kita semua. Ia berharap kita mengalami “kehidupan” itu, berelasi secara pribadi dengan Nya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar