Sabtu, 28 April 2018

DAHSYAT DAN AJAIB ! TUHAN PULIHKAN KELUARGA DAN USAHA SAYA

Kesaksian dari Bp. A Seng (pangusaha)
Shalom, terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bersaksi.Kesaksian ini untuk memuliakan Tuhan dan disampaikan apa adanya, tanpa bermaksud menyinggung atau mempermalukan siapapun. Oleh karena itu, sya mohon maaf terlebih dahulu.
Dulu saya adalah seorang pengusaha sepatu. Usaha itu maju dan berkembang dengan luar biasa. Tapi kemudian saya mengaami proses. Tuhan ijinkan saya mengalami kebangkrutan. Akhirnya usaha saya, rumah, mobil, semuanya habis dan hutang bertumpuk sangat banyak, tidak mampu saya bayar.
Dalam kondisi itu, saya sangat stres. Ketika itu, saya memang belum betobat. Tetapi saya sudah sering ke gereja. Waktu itu, Gereja Sungai Yordan masih beribadah di gedung Graha Air Kehidupan, Jl. H. Abbas. Ketika saya mengalami kebangkrutan, saya tidak memiliki seorang teman yang bisa menasehati saya., memberikan ide atau jalan supaya kita bisa semangat kembali. Apalagi biasanya, jika sedang bangkrut, rumah tangga dan keluarga pun mengalami masalah.
Waktu itu, saya berencana menjual rumah saya di daerah Paris II. Sebuah rumah 2 tingkat, dengan lebar 20 m. Tetapi istri saya tetap mempertahankannya. Namun akhirnya juga tidak bisa dipertahankan juga. Rumah saya yang ditempat lain pun habis dijual. Sekalipun saya belum bertobat, tetapi saya bukan penjudi, pemabuk, tidak pernah terlibat kriminal. Namun semua uang dan harta saya tetap ludes.
Saya bingung, tidak ada jalan keluar dan tidak ada teman yang bisa diajak bicara. Di rumah pun sering bertengkar dengan istri sampai hampir mau cerai. Saya pun tidak tahu mengapa bisa sampai begini, padahal sebenarnya saya sayang dengan istri, sekalipun dia bersalah, tapi saya sering mengampuninya.
Saya sudah sering berbicara dengan beberapa adik ipar saya. Saya katakan, jika saya di rumah sering bertengkar dengan istri, sehubungan dengan ekonomi keluarga yang sedang sulit. Mungkin istri juga sering pulang ke rumah orang tuanya dan berbicara dengan mereka, tentang perkelahian kami. Jadi saya minta tolong dengan adik ipar saya untuk mengatakan kepada istri supaya bisa mengerti keadaan saya sebagai kepala rumah tangga, Tetapi justru kepahitan yang saya peroleh.
Saya sudah pernah share masalah ini dengan Pdt. Tonny dan beberapa kawan gereja. Suatu hari, Saya berniat mau ke rumah mertua saya dengan tujuan untuk menjelaskan kepada mereka, jika keadaan saya sudah susah. Saya datang bukan untuk pinjam uang atau minta beras. Saya hanya ingin minta nasehat, berikan saya ide dan jalan, supaya saya bisa bangkit dan berusaha kembali.
Saya datang ke sana. Saya mulai menjelaskan keadaan saya ini, tetapi justru saya diminta untuk menceraikan istri. Hal ini sangat melukai dan membuat hati saya pahit. Bukan saran, ide dan nasehat yang saya terima, tetapi sebaliknya. Jadi kepahitan saya sangat besar. Sampai bulan Novembur 2011 lalu, saya masih belum bisa mengampuni mereka. Ketika saya masih jaya, istri saya tidak pernah kekurangan suatu apapun. Bahkan ketika sudah susah, saya tidak pernah pinjam, apalagi minta uang dan beras dengan keluarga istri.
Ketika saya mendapat perkataan seperti itu, saya pun berdiri hendak pergi. Saya pun pergi dengan kesal. Saya mengendarai motor tanpa tujuan. Belok ke kiri, ke kanan, tapi tanpa tujuan, tidak tahu menyasar di mana, seperti orsng ling-lung. Saya sudah sangat stress.
Bukan menyombongkan diri, tetapi sejak kecil memang saya tidak pernah hidup susah. Saat itu, saya tidak bisa terima kenyataan hidup. Sampai saya pernah mencoba untuk bunuh diri. Ketika saya pergi dari rumah keluarga tadi, tanpa sepengetahuan saya, tiga orang saudara istri saya ingin menjebak saya. Waktu saya sampai di rumah, adiknya menelepon dan meminta saya kembali ke rumah. Katanya mau berbicara dengan saya. Saya pun kembali, karena saya memang bertujuan untuk berbicara. Saya mau bicara dan minta nasehat tentang masalah rumah tangga kami.”
Setelah tiba di sana, ternyata ibukan kebaikkan yang saya terima. Ketika saya masuk ke rumah, langsung pintu rumah itu dikunci dari dalam. Mereka bertiga mau memukuli saya. Saya pun melawan, tetapi untung kakak ipar saya tiba dan membantu saya, jika tidak saya sudah dikeroyok. Saya pun pergi.
Saya pustukan untuk pergi ke Jakarta dengan uang yang pas-pasan. Dengan kasih karunia Tuhan, saya bisa berusaha dan bangkit kembali. Saya belum punya uang cukup, jadi saya kredit motor. Namun saya masih depresi waktu itu. Setiap malam saya selalu bermimpi buruk, dendam, menangis sampai berteriak-teriak. Tetapi puji Tuhan, saya bisa bangkit kembali, tanpa bantuan pihakkeluarga  istri. Tetapi sakit hati dan dendam masih ada dalam hati saya.
Sekitar November 2011, saya datang dan beribadah di gereja Sungai Yordan di gedung Graha Mazmur 21, atas ajakan dari Pdt. Markus Tonny Hidayat, yang memang sudah melayani dan mementori saya ketika  masih beribadah di Jl. H. Abbas.  Saya dipulihkan kembali ketika beribadah di sini. Saya menyadari bahwa dalam keadaan apapun, kita sebagai anak, cucu, mertua atau istri, derajatnya tidak akan pernah berubah. Ketika saya beribadah di Sungai Yordan, batu yang terasa puluhan kilo beratnya, yang tersimpan dalam hati saya, telah terangkat dan dibuang Tuhan. Dalam keadaan apapun, anak adalah tetap anak, dan mertua tetap mertua. Selesai beribadah, saya pulang dan berlutut dihadapan Tuhan, mengucap syukur atas kasih karunia-Nya yang sungguh besar. Lalu saya mendatangi mertua saya dan mohon pengampunan mereka, sekalipun sebenarnya saya tidak  bersalah. Betapa luar biasanya orang yang membangun Rumah Kediaman-nya dan memiliki seorang mentor yang baik.

Sumber : edy-fajarpengharapan.blogspot.co.id

Selasa, 24 April 2018

KESAKSIAN BAPAK SUMADI (PENGUSAHA SUKSES) : SEMUA ORANG BISA SUKSES !

Exclusive Interview with SUMADI


SEMUA ORANG BISA SUKSES!
Dengan tampilan seperti anak muda yang stylelish, saya berkesempatan berjumpa dan berbincang-bincang dengan seorang pengusaha muda di showroom mobil-nya, yang sekaligus juga tempat tinggal beliau. Sumadi(35), demikian biasa  kami menyapanya, adalah gambaran dari seorang pengusaha muda yang sukses karena pertolongan Tuhan. Dalam usianya yang masih tergolong muda, suami dari seorang istri bernama Santi(30), sudah berhasil memimpin sebuah showroom jual-beli mobil, yang cukup baik di Pontianak.
“Semuanya hanya karena Tuhan”,demikian perkataannya dalam pertemuan kami yang hangati sore itu, pengusaha kelahiran Pontianak ini menturkan kisah kesaksiannya, yang menjelaskan bahwa semua orang bisa sukses (sama seperti judul salah satu buku tulisan Bpk. Markus Tonny hidayat), bagaimana dia berangkat dari keluarga yang tidak mampu secara finansial, bahkan pernah berjualan es, sampai akhirnya mencapai kesuksesan dalam usaha dan pelayanannya.Di akhir perbincangan, ayah dari Rich Stephen (8), Rich Stepfanny(5) dan Rich Stella Vannesia(4), juga menuturkan kiat-kiat sukses yang dilakukan dan dialaminya. Mari kita simak..... .
Yakobus Edy Susanto (YES) :Ceritakan latar belakang bapak, sebelum mengalami sukses seperti ini, pak.
Sumadi(SMD):
Saya lahir di Pontianak,  35 tahun yang lalu, tepatnya Maret 1976. Ketika itu saya tinggal di gg. Damai sampai berumur sekitar 5 tahun. Kemudian kami pindah ke jl. AR. Hakim dalam. Keadaan kami masih sangat memprihatinkan. Rumah masih dinding kayu dan ber-atap daun. Saya dibesarkan dalam keadaan seperti ini.
Sejak menduduki bangku sekolah dasar, saya sudah ikut papa jualan es di pelampung (tempat penyeberangan kapal ferry). Ketika itu, penyeberangan dengan kapal ferry, lebih ramai dari sekarang, karena jembatan Tol yang menghubungkan kota dengan Siantan, belum dibangun. Jadi semua kendaraan dan orang, jika mau menyeberang ke daerah siantan, pasti menggunakan jasa kapal ferry.  Tetapi setelah jembatan Tol dibangun, mulai terasa sepi, karana banyak kendaraan yang memilih menggunakan jembatan dari pada kapal ferry, terutama mereka yang mau ke arah Tanjung Raya, Tanjung Hulu dan Ambawang. 
YES : Apakah hal ini sempat membuat perkonomian keluarga semakin sulit?
SMD:
Jelas pak. Hal ini membuat pergumulan ekonomi keluarga, semakiin terasa. Ketika memasuki usia SMP (sekitar 13 atau 14 tahun). Papa dan saya tidak lagi jualan es lagi. Saya bersyukur untuk papa saya, sekalipun keadaan kami sangat sederhana, tetapi dia berkorban luar biasa dan terus berusaha supaya kami bisa tetap mengenyam pendidikan di sekolah yang bagus. Kami ada empat bersaudara dan semuanya lulus di sekolah favorit di Pontianak.
 YES : Apakah setlah itu, masih jualan es lagi?
SMD:
Setelah, tidak lagi berjualan di pelampung, saya membantu papa berjualan es cincau. Seporsi es cincau, kami mendapat keuntungan hanya sekitar Rp. 50 saja. Memasuki bulan puasa, kami berjualan dengan menggunakan gerobak, dan mangkal di tepi jalan.
Memasuki usia pemuda dan bersekolah SMA, saya membantu papa berjualan buah di kaki lima pasar Mawar, Pontianak. Yang menyedihkan, karena kami berjualan di dekat.tempat pembuangan sampah Pasar Mawar, tentunya bisa dibayangkan bagaimana keadaannya, sangat tidak hiegenis. Apalagi jika sudah musim buah durian, sang berbau. Karena saking banyaknya sampah durian yang menumpuk sehingga kami terpaksa berjualan di atas timbunan sampah. Hal ini berjalan cukup lama, beberapa tahun, sampai akhirnya TPS itu dipindahkan dan pasar Mawar dibangun kembali, seperi keadaan sekarang ini. 
Ketika hampir tamat SMA, saya memiliki kerinduan supaya orang tua saya, tidak lagi perlu bekerja.  Karena saya kasihan dengan mereka. Jika dilihat dari wajah mereka, justru di masa tuanya sekarang, bisa nampak lebih muda daripada dulu, ketika masa muda, karena ketika masih muda, orang tua saya bekerja sangat keras untuk menghidupi keluarga.  Tapi puji Tuhan, kerja keras mereka ada hasilnya juga.  Dari hasil jual buah, saya bisa kuliah dan orang tua saya bisa pensiun, menikmati masa tuanya.  
YES : Bagaimana kehidupan Anda pada waktu kuliah dan setelah selesai kuliah, pak?
SMD:
Setelah selesai kuliah, saya masih belum bertobat dan mengenal Tuhan.  Sekalipun saya bersekolah di sekolah Katolik dari sejak TK, namun saya masih belum mengenal Kristus. Saya memang siring mengikuti kebaktian di gereja dan sekolah minggu, tapi itu dilakukan dengan motivasi yang kurang benar, seperti hanya untuk memenuhi kewajiban dari sekolah, cari teman, dll. Bahkan ketika saya kuliah, itu lebih parah lagi. Saya sama sekali tidak lagi pergi ke gereja dan lebih mengikuti kepercayaan tradisi kebudayaan. Seiring dengan proses yang saya alami, karena bekerja keras, perokonomian pun semakin membaik. Bukankah Tuhan juga berkata bahwa orang yang bekerja, layak mendapat upahnya, sekalipun orang itu belum mengenal-Nya? 
Setelah selesai kuliah, pada tahun 2002, saya menikah dengan seorang gadis, yang sampai saat ini menjadi istri saya tercinta. Saya menikah dalam keadaan belum bertobat. Karena kekurangan dana untuk menikah, saya ikut arisan Tiong Hoa.  Dari arisan itu saya memperoleh uang Rp. 45 juta. Tapi saya menggunakan uang itu untuk membangun rumah saya yang masih kumuh saat itu. Dengan perhitungan seorang tukang bangunan, uang itu cukup untuk merenovasi rumah saya. Diperlukan waktu satu bulan dalam proses renovasinya. Tetapi akhirnya biaya renovasinya “membengkak”, sampai kisaran Rp.  90-an juta. Diperparah lagi dengan biaya untuk menikah. 
Kami mengadakan repsepsi pernikahan di sebuah hotel ternama di Pontianak, maka biaya yang saya butuhkan semakin membengkak. Akhirnya pendapatan dari hasil jualan buah, saya gunakan untuk membayar semua biaya itu. Tetapi itu masih belum cukup. Saya berhutang kepada orang sampai mencapai ratusan juta rupiah. 
Tetapi karena masih ada jualan buah, akhirnya kami cicil semua hutang itu. Sampai ketika kami mempunyai anak pertama, masalah lain, yang tak kalah sulitnya, mulai timbul. Kami menikah dalam keadaan belum siap secara mental, maka sering mengalami cek cok suami-istri, terutama karena masalah anak. Diperparah lagi dengan rewelnya anak kami. 
Rewelnya anak kami, istilah orang Khek disebut “ma’ to”.  Jadi jika ada orang yang meninggal, kita lewat di depan tempat persemayamannya, atau melayat ke tempat orang meninggal, pasti anak ini akan rewel, menangis, sampai tidak bisa tidur, baik anak itu, juga kami. Sedangkan kami setiap jam empat subuh sudah harus ke Pasar, mengurus jualan buah kami. Kami sangat stress dan jengkel  dengan keadaan anak ini. Satu-satunya cara untuk menenangkannya, jika sudah mulai rewel, kami harus mengajak anak ini keliling dengan motor, tidak boleh ada di rumah. 
Kami berusaha menyembuhkan anak ini dengan memanggil “orang pintar” (dukun). Orang pintar ini memberikan mantra. Dengan mantra dan memandikannya,, anak ini bisa tenang, tapi hanya bertahan sekitar satu sampai dua minggu. Setelah itu, datang lagi “penyakitnya” ini. Ini terjadi berulang-ulang terus meneruss. Kami sangat stress mengahdapi situasi ini, sampai kami berlangganan dengan “orang pintar” itu. Setiap kali mulai ada gejala seperti itu, saya langsung menghubungi “orang pintar” itu. 
YES : Selain pernah menggunakan jasa “orang pintar”, apakah Anda pernah terlibat dosa-dosa lainnya?
Sumadi(SMD):
Ada. Saya juga memiliki emosi yang tidak baik, cepat marah. Kesukaan saya adalah dugem (dunia gemerlap). Saya suka ke diskotik, karaoke, judi, nonton film porno, perzinahan, onani dan terikat narkoba. Sejak kuliah saya sudah terikat narkoba, sekitar tahun 2000. Bahkan setelah menikah, saya masih menggunakan narkoba secara “curi-curi”.
YES : Masih ada kelanjjutan proses lainnya?
SMD:
Setelah saya mengalami proses seperti itu, timbul lagi masalah lainnya, yaitu sakitnya mama saya dan harus diopname di rumah sakit. Ini sekitar tahun 2004. Penyakit yang didiagnosa dokter adalah ada penyempitan pergeseran tulang belakang. Penyakit ini menyebabkan mama susah untuk berjalan (lumpuh) dan menangis terus di pembaringannya. Setelah keluar dari rumah sakit, mama bilang bahwa dia tidak mau hidup lagi.   
YES : Bagaimana ceritanya sampai Anda bisa mengenal Yesus?
SMD:
Awal proses yang membawa saya mulai mengenal Yesus dimulai dari ketika saya sempat mengembangkan usaha dengan membuka sebuah toko ATK di Pasar Melati, Parit Baru. Usaha ATK itu berjalan sekitar empat tahun (th 2000-th 2004). Ketika itu, saya sering diinjili hamba-hamba Tuhan. Mereka sering membeli ATK di toko, sambil menceritakan tentang Yesus. 
Awalnya saya hanya diam saja, kurang meresponi. Tetapi ternyata seorang karyawan saya, mulai percaya dan ikut ke gereja. Akihrnya dia masuk Kristen. Mula-mula, karyawan saya itu menuliskan firman Tuhan di kertas dan sengaja ditaruh di meja saya. Saya membacanya, tetapi tidak memberikan respon apapun. Kejadian ini terus berlangsung sampai ketika saya menutup toko itu, di tahun 2004, karena sakitnya mama.
Sampai suatu ketika, beberapa tahun kemudian, secara tidak sengaja, saya berjumpa kembali dengan seorang gadis hamba Tuhan, yang sering memberitakan injil di toko itu. Ketika itu, gadis ini, dengan berjalan kaki, sedang melintasi depan rumah saya, bertemu dan dipanggil oleh papa. Padahal  gadis itu tidak tahu dimana rumah saya. Saya percaya, ini pasti rencana Tuhan.
Secara luar biasa, papa bisa meminta gadis itu untuk mendoakan istrinya (mama) yang sedang sakit. Padahal sebenarnya papa tidak suka dengan gadis ini, karena sering memberitakan injil di toko. Akhirnya mama didoakan dan dihibur oleh gadis itu. Dia berkata bahwa di dalam Yesus, ada pengharapan. Awalnya hamba Tuhan ini hanya datang sendiri, tetapi ketika mengunjungi kami kembali, dia mulai membawa teman-temannya. Semain sering dia datang dan semakin banyak teman yang dia bawa. 
Suatu ketika, gadis hamba Tuhan ini, minta kami untuk mulai wa mama ke gereja. Kami mulai membawa mama ke gereja. Saat itu, saya sudah mulai terjun ke bisnis jual-beli mobil, tetapi masih dalam skala kecil, maklum, baru mulai. Ketika mengantar mama beribadah, saya tidak mau masuk. Sampai suatu saat, secara ajaib mama mulai pulih kesehatannya. Mama terus didoakan, sambil terus menjalankan terapi. Puji Tuhan, akhirnya mama sembuh total.
YES :  Apakah Anda langsung percaya Yesus, setelah melihat kesembuhan mama?
SMD:
Belum. Saya masih bandel dan belum mau bertobat serta percaya kepada Tuhan Yesus. Jika sudah sembuh, ya sudahlah. Kejadian dahsayt ini, “lewat” begiitu saja dalam hidup saya. Temperamen saya juga masih tidak baik, pemarah. Saya berpikir, kalau bekerja seperti ini terus, mau sampai kapan baru bisa sukses. Harta saya miliki, tetapi saya tidak memiliki kedamaian dan ketentraman hidup. Emosi yang juga semakin tidak terkendali. Keadaan keluarga juga hanya “begini-begini” saja, anak sering sakit dan uang banyak habis untuk berobat saja. 
YES : Jika demikian, kapan saat Anda mulai mengalami proses kelanjutan untuk mengenal Yesus?
SMD:
Sampai suatu saat, Tuhan mulai melakukan rencana-Nya untuk memulihkan kami sekeluarga. Saat itu, papa pergi ke luar negeri. Pulangnya, papa singgah di Jakarta. Adik saya menghubungi seorang hamba Tuhan dari sebuah gereja besar di Jakarta, dan hamba Tuhan ini ikut papa pulang ke Pontianak. Hamba Tuhan ini bermalam di rumah kami, walaupun pada saat itu, rumah kami bukanlah rumah yang bagus. Tiga hari dua malam, hamba Tuhan itu bermalam. 
Selama bermalam, beliau teruws menceritakan tentang kebaikkan Tuhan Yesus. Hingga hari terakhir, sorenya hamba Tuhan ini akan kembali ke Jakarta, tetapi siangnya, mama yang sudah mulai percaya, dan adik saya, mengambil keputusan untuk dibaptis. Sedangkan saya masih bingung. Saya menelepon istri saya, untuk menanyakan pendapatnya tentang hal ini. Istri nampaknya kurang setuju. Dia menganjurkan supaya saya memikirkannya kembali. Saya berkata, jika ada orang yang mengajak saya melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti  judi, diskotik, karaoke, narkoba, saya tidak pernah menolaknya, masakan ada orang yang mengajak untuk hal-hal yang baik, harus saya tolak? “Lalu kenapa saya tidak coba untuk ikut Yesus”, pikirku. 
Saat itu, tidak ada lagi yang bisa merubah hidup, sikap dan temperamen saya yang keras. Tapi mungkin Yesus bisa. Akihirnya saya, berkomitmen untuk mengikuti Yesus. Saya mengetuk kamar hamba Tuhan itu, dan menyatakan mau menerima Yesus dan dibaptis. Hamba Tuhan itu, langsung berdiri, mengangkat tangannya dan mengucap syukur kepada Tuhan. Dia langsung bernubuat untuk saya. Dia berkata bahwa Tuhan akan memakai saya secara luar biasa. 
Lalu kami dibaptis pada tahun 2006. Baptisan itu berlangsung luar biasa pula. Kami sekeluarga dibaptis di dalam kamar mandi (WC). Satu per satu kami “dicelupkan” dalam bak mandi berukuran 1m x 50 cm. Bagi saya, ini merupakan pengalaman baptisan yang luar biasa. 
YES : Puji Tuhan, pengalaman yang dahsyat! Sebelumnya Anda mengatakan pernah menggunakan jasa “orang pintar”, apakah pernah terlibat okultisme, yang lebih mendalam? 
SMD:
Dulu saya sering menggunakan kuasa kegelapan (okultisme). Sekalipun pada waktu itu, kami berpikir bahwa kuasa-kuasa itu, kami pergunakan untuk Tuhan, padahal bukan. Sepertinya menyembah Tuhan, padahal bukan. Ketikamengunakan kuasa-kuasa kegelapan itu, banyak pantangannya. Tidak boleh terkena sesuatu, tidak boleh dibawa ke WC, tidak boleh makan ini...itu..., dll. Saya juga mengenakan dan menggunakan jimat-jimat, seperti cincin. Tujuannya supaya saya memiliki karisma, dll. Semuanya saya gunakan. Jadi rumah saya penuh dengan jimat dan mantra. Jika jimatnya sudah tidak mempan, saya ganti lagi dengan jimat yang lain. 
Tetapi ketika saya dibaptis, saya meraakan ada pembaharuan dalam hidup saya. Ternyata Yesus adalah Tuhan yang sanggup mengubahkan saya. Dia Tuhan yang Maha hadir. Bahkan di WC sekalipun, Dia ada. Dialah Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan Maha Kuasa. Kami bergabung deengan sebuah gereja di Pontianak. Sekalipun letaknya jauh, tetapi kami tetap beribadah di gereja itu. Itulah kasih mula-mula.
Sekitar dua tahun kemudian, pertengahan tahun 2008, kami bergabung dengan Psalm 21 Successfull Community dan mengalami pemulihan yang lebih lagi. Tetapi saya masih bergumul untuk istri, karena dia belum percaya 100%, ketika itu. Puji Tuhan, suatu saat istri saya berdoa, “Yesus, jika Engkau mau isaya ikut Engkau, bukalah jalan bagiku.” Halangan terbesar adalah dari bapak mertua saya, yang melarang istri untuk bertobat. Bapak mertua adalah seorang dukun (orang pintar). Kakak-kakak ipar saya mengatakan kepada istri, “Terserah kamu lah.” Akhirnya istri mengambil keputusan menerima Yesus, dan dibaptis. 
YES : Haleluyah! Bagaimana proses selanjutnya?
SMD:
Kami sudah seiman, tetapi masih ada tantangan yang kami hadapi. Sudah percaya Tuhan, tetapi kan hutang masih harus dibayar? Suatu saat saya berdoa, “Tuhan, kami adalah anak-Mu. Dan Engkau tidak pernah mempermalukan kami. Kami masih memiliki hutan sekian ratus juta, tolong kami, berilah jalan bagi kami untuk bisa melunasi hutang ini. 
Setalah menyerahkan hal ini kepada Tuhan, herannya, berkat-berkat mulai mengalir. Setiap hari saya selalu menghitung pendapatan saya dan selalu disisihkan untuk membayar hutang setiap dua minggu atau satu bulan. Anehnya,setiap kali menghitung pendapatan, selalu ada uang yang lebih. Saya heran, uang yang lebih itu darimana asalnya, saya tidak tahu. Istri saya berkata, “Mungkin saya salah catat kali.” “Mungkn saja,” Jawabku. Tapi saya percaya, inilah salah satu cara Tuhan untuk membantu melunasi hutang.  
Haleluyah, dengan berjalannya waktu, akhirnya hutang itupun lunas. Satu per satu masalah mulai terselesaikan. Keluarga pun semakin harmonis. Kami mulai memiliki anak kedua dan ketiga. Mereka tidak lagi rewel, ada apa-apa tinggal kami doakan dalam nama Yesus. Disinilah kami melihat bahwa kuasa Tuhan Yesus, luar biasa. Dialah “mantra di atas mantra”, lebih dahsyat! Benturan-benturan alam keluarga pasti ada, tetapi selalu ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Semua masalah itu dapat diselesaikan dengan selalu memuji Tuhan, berdoa dan bersekutu bersama dalam mezbah keluarga. Setiap malam kami sekeluarga doa bersama.  
YES : Bagaimana proses bisa memiliki rumah yang megah ini, sampai bisa bisnis di mobil?
SMD:
Suatu saat, kami memiliki sebuah impian, punya rumah baru, karena rumah lama kami, yang kami huni saat itu, tidak memiliki sertifikat, karena rumah itu awalnya adalah rumah kumuh yang didirikan di atas tanah milik negara. Saya merindukan memiliki rumah yang ada bathtub. Kami terus mendoakan semua impian ini. Tetapi justru Tuhan menjawab doa kami dengan cara lain, cara yang unik.
Tahun 2009, ada sebuah developer, yang ingin membangun ruko di daerah tempat tinggal saya itu. Salah satu syarat untuk mendapatkan kucuran pinjaman dana dari bank, harus ada akses jalan yang lebar, sesuai standar yang ditetapkan bank. Akses jalan di tempat tinggal kami itu sempit, jadi harus diperlebar, menjadi minimal 5 meter.
Pada waktu itu, bisnis jual beli mobil sudah saya jalankan, tapi masih dalam skala kecil. Saya mendapatkan surat edaran dari developer tersebut, mengenai teras rumah yang harus segera dibongkar, untuk pelebaran jalan. Jadi, kami berdoa untuuk bisa mendapatkan rumah bersertifikat, yang memiliki bathtub, tapi jawaban-Nya adalah rumah tempat tinggal kami waktu itu, malah harus dibongkar terasnya. Sepertinya kontradiksi, tetapi sebenarnya tidak. 
Akhirnya kami mengadakan pertemuan dengan pihak developer. Karena rumah kami tidak memiliki sertifikat, tetapi jika kemi merelakan teras rumah dibongkar untuk pelebaran jalan, maka rumah kami tidak akan dibongkar keseluruhannya. Sempat terjadi keributan,m karena kami tetap bertahan, tidak menyerahkan teras rumah untuk dibongkar. Seluruh pemilik rumah di deretan itu, menunjukk ke saya, karena rumah kami berada di deretan paling depan. Mereka berkata  bahwa jika rumah saya yang ada di deretan terdepan dibongkar terasnya, maka yang lainnya akan mengikuti. Developer menggunakan segala cara untuk mempengaruhi saya. Mereka menggunakan jasa  keplosian dan pengacara. Mereka juga tidak segan-segan menggunakan preman-preman untuk menekan saya. Jadi saya terus diintimidasi dan diancam. 
Hingga suatu hari, tetangga saya menyerah dan merelakan teras rumahnya dibongkar, dengan ganti rugi yang sangat kecil, tidak sesuai. Kami sekeluarga berunding, jika kita tidak menyerahkan teras rumah dibongkar, maka rumah kita ini bisa dibongkar paksa, karena tidak bersertifikat, wah nanti susah. 
Akhirnya Tuhan mempertemukan saya dengan bos pemilik developer itu. Jadi kami bersepakat, teras rumah kai boleh dibongkar dengan ganti rugi sepantasnya. Setelah Ruko dibangun, maka kami dijinkan untuk membangun kembali teras rumah kami. Jadi ini hanya semacam trik untuk mendapatkan kredit dari bank.  Selain itu, rumah kami juga dironavasi, dibangun kembali denagn beton (sebelumnya hanya kayu). Ganti rugi yang kami terima, jika dibandingkan dengan tetangga lain, bisa berkali-kali lipat. 
Kami tetap memiliki kerinduan untuk memiliki rumah impian seperti yang saya saksikan di atas. Dengan uang yang berlebih, saya mulai brgerak dalam usaha kaplingan tanah. Puji Tuhan, kaplingan itu laku, tetapi uang saya “dimakan” oleh teman saya sendiri, yang bagian menagih cicilan pembelian tanah dari pembeli. Saya merugi puluhan juta rupiah. 
Namiun akhirnya saya menemukan sebuah rumah, yang menyerupai impian saya, yaitu rumah tinggal saya sekarang ini. Awalnya kami suami-istri datang meninjaunya, langsung terasa cocok. Tanpa membesarkan kemampuan kami, semuanya bisa kami miliki karena Tuhan. Tuhan menjawab doa kami secara luar biasa, sekalipun cara-Nya unik, yaitu melalui suatu masalah, kami justru diberkati. Dengan kesetiaan dan ketaatan, kita bisa mmuliakan Tuhan. 
Rumah ini dibuka dengan harga Rp. 1,5 M. Setiap minggu, sepulang dari ibadah di Psalm 21,  saya membawa keluarga melewati rumah ini. Saya selalu berkata dengan iman kepada istri dan anak saya, ini rumah kita. Mama menertawakan saya, dia berkata, “Kamu belinya pake uang apa? Rp. 1,5 M lho?” 
Saya tetap yakin bahwa Tuhan akan memberikan rumah itu. Saya memberanikan diri untuk menawar rumah itu. Akhirnya setelah tawar-menawar, disepakati harga Rp. 1,35 M. Karena rumah ini dimiliki oleh sebuah yayasan, maka diperlukan proses untuk pemberesan administrasi surat-menyurat-nya. Sebenarnya sudah banyak orang menaksir rumah ini, karena luas dan terletak di tepi jalan yang ramai, sangat baik untuk bisnis. Bahkan ada yang berani membayar ratusan juta lebih banyak dari harga yang kami putuskan. Ada juga yang berani memberikan bonus, untuk mendapatkan rumah ini. Ada seorang calon pembeli yang berani membayar saya Rp. 150 juta, untuk mendapatkan rumah ini. 
Anehnya, ketua yayasan pemilik rumah, tetap memutuskan hanya menjual rumah ini kepada saya. Keluarga istri saya sempat mmberikan masukan. Mereka bilang bahwa saya harus waspada, jangan-jangan rumah ini ada masalah, karena ada orang yang mau beli dengan nilai tinggi, tetapi pemilik rumah tidak mau menjualnya. Tetapi saya tetap pada keyakinan saya bahwa inilah mujizat Tuhan. Ada orang yang mau beli dengan harga mahal, pemilik rumah tidak mau menjualnya. Tetap mau menjualnya pada saya. Inilah kuasa-Nya yang ajaib.
Enam bulan kemudian, masih tidak ada perkembangannya. Saya menelepon pemiliknya dan menanyakan hal ini. Rupanya pemilik rumah mengira saya tidak jadi membelinya. Saya katakan bahwa saya tetap serius dengan kesepakatan harga yang telah ditetapkan.  Notaris yang ditunjuk pemilik mengatakan bahwa berdasarkan NJOP Rumah, sebenarnya harga rumah ini di atas Rp.2 M. Namun saya tetap memegang kesepakatan harga yang telah diputuskan sebelumnya yaitu Rp.1,35 M. Lalu saya berkata,  “Saya serahkan semuanay kepada Anda, sekarang tergantung Anda saja.” 
Setiap malam saya mengajak istri dan anak-anak berdoa, “Tuhan, jika memang rumah ini yang Engkau berikan kepada kami, bukalah jalan bagi kami, tetapi jika bukan kehendak-Mu, biarlah Engkau menutup semua jalannya. Kalau bukan kehendak-Mu, rumah ini tidak jadi dibeli juga tidak apa-apa.” Tetapi  dalam kejadian-kejadian berikutnya, Tuhan membukakan jalan yang luar biasa!
Seminggu kemudian, pihak yayasan menelepon saya. Mereka langsung meng-OK-an. Kami langsung mengadakan transaksi. Puji Tuhan! Tetapi masih ada masalah lain. Uang yang sudah saya sediakan, sudah terpakai untuk inves di usaha jual-beli mobil dan saham, jadi saya mengajukan pinjaman ke sebuah bank swasta. Kredit saya disetujui, tetapi kucuran dananya tidak sesuai, tidak mencukupi. Akhirnya pihak penjual protes, jika saya tidak ada uang cukup, batal saja.
 YES: Tetapi rumah ini tetap dibeli? Bagaimana Anda bisa mendapatkan uang untuk membeli rumah ini, pak?
SMD:
Tuhan menggerakkan hati saya untuk menceritakan hal ini kepada seorang teman hamba Tuhan dari Jakarta. Teman itu bersedia meminjamkan uang kepada saya, tetapi saya katakan akan berunding dulu dengan istri. Akhirnya kami bersepakat, untuk menerima pinjaman itu, sebesar Rp. 600 juta. Dengan una pinjaman itu, ditambah dengan uang kami suami-istri dan bantuan dari orang tua, akhirnya kami beli rumah itu, kontan.
Masalah berikutnya adalah, saya harus mengembalikan pinjaman Rp. 600 juta itu. Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada orang yang memperkenalkan seorang teman yang bekerja di sebuah bank, dimana bank itu sedang ada promo kredit rumah murah. Kreditnya jauh lebih murah dari kredit dari bank tempat kami mengajukan kredit sebelumnya. Bahkan dengan bunga flatt, selama 5 tahun. Saya belum pernah menemukan ada bank yang bisa membrikan pinjaman semudah ini, dengan kredit yang murah dan bunga 7,8% flatt! Di bank lain biasanya kredit dengan bunga flatt, hanya berlangsung maksimal 2 tahun, setelah itu bunga pinjaman akan kembali tinggi. Inilah jalan Tuhan yang dahsyat! 
Dua minggu kemudian, dengan kucuran dana pinjaman dari bank ini, saya gunakan untuk membayar hutang kepada teman hamba Tuhan itu. Saya sudah berjanji kepada Tuhan bahwa rumah ini akn menjadi berkat dan saya akan bersaksi akan kebesaran Tuhan. 
YES : Setelah memiliki rumah, bagaimana dengan showroom ini?
SMD:
Setelah punya rumah, saya bisa mengoptimalkan usaha saya dalam jual-beli mobil. Saya membuka showroom mobil di rumah saya. Jika ditanya darimana modalnya, saya sendiri juga binggung. Tetapi yang pastinya, bahwa Tuhan sungguh-sungguh mengangkat kita menjadi kepala. Saya berdoa, bahea saya mau usaha saya ini bisa menjadi berkat bagi orang lain. Puji Tuhan, melalui tempat ini, sudah banyak jiwa yang dimenangkan untuk Tuhan. Sampai sekarang sudah terhitung beberapa keluarga yang bertobat, bahkan sampai tukang yang mengecat rumah ini dan keluarganya pun, bertobat. 
YES : Puji Tuhan! Jadi ukuran keberhasilan itu bukan harta yang dimiliki, tetapi bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan memenangkan jiwa bagi Dia. Apa ada Firman Tuhan yang menjadi pegangan bapak dalam berbisnis?
SMD:
Firman Tuhan yang menjadi pegangan saya, untuk menjalankan segala bisnis saya adalah Mazmur 1:1-3, yang berbunyi, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”
YES : Sebelum kita menutup perbincangan ini, adakah kiat-kiat yang bisa disampaikan bagi pembaca Psalm 21 Magazine, supaya para pembaca pun bisa mengalmi sukses di usia muda seperti Anda?
SMD:
Saya percaya, jika kita setia melakuakn firman-Nya, Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Saya merangkum Lima Prinsip untuk Sukses, yang selalu saya jadikan pedoman. Semua orang bisa sukses, karena sesungguhnya manusia diciptakan untuk sukses. Kelima prinsip itu adalah :
1.    Beriman lepada Tuhan Yesus. 
Mujizat ternesar dalam hidup saya, adalah ketika mengenal Yesus. 
2.    Bertobat dari segala dosa.
Setelah mengikuti Tuhan, saya berkomitmen untuk bertobat dari segala dosa. Saya menghancurkan semua kaset-kaset film porno, meninggalkan narkoba, judi, perzinahan, onani dan kehidupan malam. Saya bertobat dari segala dosa itu pada th. 2006. 
3.    Berani bermimpi. 
Dalam Yesus ada pengharapan. Dan pengharapan itulah yang menguatkan saya untuk berani bermimpi (maksudnya memilki impian untuk masa depan – red). Tapi impian kita, harus selaras dengan firman Tuhan. Inpian saya terbesar adalah saya mau seluruh kehidupan, bisnis, keluarga saya bisa menjadi berkat.
4.    Berani melangkah. 
Untuk mencapai mimpi itu. Jadi jangan hanya bermimpi saja. Iman tanpa perbuatan, hakekatnya mati. Dengan impian yang selaas dengan firman, dan kita melangkah bersama Tuhan untuk mencapai impian itu, maka saya yakin,  sukses sudah ada di hadapan kita. 
5.    Taat dan setia pada perkara kecil. 
Salah satu ketaatan kita adalah berkomitmen untuk melayani Tuhan, sesuai talenta kita. Itulah ssebabnya sampai sekarang, saya aktif melayani sebagai penyiar di Radio rohani, Radio Mazmur 21. Saya juga terlibat dalam komsel di rumah, setiap hari Rabu. Saya juga menyediakan kamar di rumah, untuk penginapan –hamba-hamba Tuhan, yang direkomendasikan gereja.
YES : Haleluyah! Apakah masih ada impian dimasa depan yang belum tercapai, tetapi Anda sedang menuju ke sana?
SMD:
 Saya rindu untuk membangun semacam mess khusus untuk penginapan hamba-hamba Tuhan. Saya yakin, jika Tuhan mengijinkan, dalam waktu lima tahun ini, impian ini bisa terlaksana. Saya juga memiliki kerinduan bersama istri, bisa melayani Tuhan dimana-mana.Mohon dukung dalam doa, untuk impian-impian ini. GBU
Demikianlah perbincangan kami. Saya yakin, para pembaca sekalian sangat diberkati Sekarang tiba saatnya, bagi kita untuk memprakktekkan kelima prinsip diatas.SUKSES! GBU
Penulis :YES

Sumber : edy-fajarpengharapan.blogspot.co.id

Jumat, 20 April 2018

PENGACARA TERKENAL UNTUK MELAYANI TUHAN, INILAH KISAH PAUL WONG

Oleh Janice Tai, Singapura

meninggalkan-karier-sebagai-pengacara-terkenal-untuk-melayani-tuhan-inilah-kisah-paul-wong
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Paul Wong: Hotshot Lawyer to Devoted Campus Pastor
Sebagai putra dari seorang pengacara terkenal di Singapura, Paul Wong tampaknya akan mengikuti jejak ayahnya.
Setelah menyelesaikan studi hukumnya di Universitas Cambridge, Paul kemudian bekerja di Linklaters, sebuah firma hukum terkemuka di London yang merupakan salah satu dari lima firma hukum terbaik di Inggris.
Sebagai seorang pengacara korporat, dia membantu perusahaan-perusahaan FTSE 100 (100 perusahaan dengan nilai pasar tertinggi di Bursa Saham London) untuk meraup miliaran dolar dengan membuatkan mereka dokumen yang membantu mereka dalam menjual saham-saham mereka.
Namun di masa keemasannya di usia 30 tahun, Paul memutuskan untuk melepaskan seluruh karier yang telah dibangunnya dan berjalan mengikuti arahan dari Tuhan.
Awalnya dia tidak pernah berpikir bahwa dia mampu atau mau meneruskan jejak ayahnya. Ayah Paul, Lucien Wong, baru-baru ini diangkat sebagai pengacara penasihat negara Singapura pada bulan November 2016. Sebelumnya, Lucien sempat memimpin firma Allen & Gledhill, salah satu firma hukum terbesar di Singapura.
Karier Paul di Inggris juga tampak sangat menjanjikan. Saat dia memutuskan untuk mengundurkan diri dua tahun yang lalu, gajinya sudah mencapai lebih dari Rp 1 miliar setahun. Dia mungkin juga bisa menjalin berbagai kemitraan jika saja dia bertahan selama dua hingga lima tahun lagi.
Namun, Paul memilih untuk mengundurkan diri dan mengikuti sebuah pelatihan untuk menjadi seorang pengkhotbah dan pengajar Alkitab. Di akhir bulan Agustus 2016, dia kembali ke Singapura untuk menjadi pendeta kampus dalam kelompok persekutuan Kristen di Singapore Management University (SMU).
Dari sebuah firma hukum raksasa yang mempekerjakan 2.000 pengacara, Paul pindah ke sebuah tempat kerja yang hanya memiliki seorang karyawan, yaitu dirinya, dan seorang pekerja magang.
Jadi mengapa dia membuat perubahan yang begitu besar ini dalam kariernya?
Ada di titik terbawah
Coba tanya seorang pemuda berusia 33 tahun, apakah dia pernah berpikir untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, dan mungkin kamu akan mendapat jawaban yang cepat: Tidak pernah.
Sewaktu Paul masih remaja, dia juga pernah melakukan kenakalan. Ketika SMP, dia sering bolos sekolah beberapa kali seminggu untuk bermain biliar di Lucky Plaza atau menonton bioskop.
Namun, dia memastikan dia menjalani “kewajibannya” sebagai orang Kristen. Setiap hari Minggu dia pergi ke Gereja Methodist Wesley dan bermain gitar dalam persekutuan pemuda. Ketika dia di London, dia pergi ke sebuah gereja lokal yang berjarak setengah jam perjalanan dari tempat dia tinggal dan bekerja.
“Gereja hanyalah aktivitas hari Minggu pagi bagiku dan tidak berdampak banyak bagi hidupku, keputusan-keputusanku, dan cara pandangku,” kata Paul. “Ketika aku menghadapi dilema antara pekerjaan atau gereja, pekerjaanlah yang selalu menang.”
Paul bekerja sangat keras. Dia ada di kantor enam hari seminggu. Sebuah hari yang baik baginya adalah jika dia dapat meninggalkan kantor sebelum tengah malam dan dapat cukup tidur sepanjang malam. Pernah suatu kali dia bekerja dua malam berturut-turut dan ada di kantor terus selama tiga hari untuk memenuhi tenggat waktu pekerjaannya.
“Dulu aku berpikir, jika Tuhan menempatkanmu di sebuah kampus atau firma hukum, hal terbaik yang memuliakan Tuhan yang dapat kamu lakukan adalah dengan menjadi mahasiswa terbaik atau menjadi pengacara terbaik. Tapi aku kemudian menyadari bahwa itu adalah pemikiran yang salah,” kata Paul.
Menurutnya, kehidupan rohaninya ada di “titik terbawah” ketika dia berhenti hidup dan berpikir seperti yang Tuhan inginkan.
Kebangkitan rohani
Pada sebuah hari Minggu di tahun 2011, Paul merasa malas pergi ke gereja. Dia sudah ada di kantornya, dan dia merasa malas jika dia harus pergi dan kemudian kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Rekan kerjanya menyarankannya untuk pergi ke gereja lain yang hanya berjarak lima menit perjalanan.
Dia akhirnya pergi ke gereja itu dan begitu terkesan dengan apa yang dilihat dan didengarnya di sana. “Aku telah mendengar banyak khotbah-khotbah bagus, tapi semuanya hanya masuk di telinga kiri lalu keluar di telinga kanan. Tapi, di gereja itu aku melihat firman Tuhan diberitakan dengan tegas dan bertujuan untuk mengoreksi diri. Dan orang-orang yang ada di sana menghidupi nilai-nilai itu. Roh Kudus bekerja melalui firman Tuhan yang mengubah segalanya,” kata Paul.
Dia mulai rutin datang ke gereja itu dan juga mengikuti kelompok pendalaman Alkitab yang ada. Mereka sedang mempelajari kitab Markus selama setahun penuh. Itu menjadi sebuah pengalaman yang mengajarkan Paul untuk menjadi rendah hati.
“Waktu itu aku berpikir, kitab Markus adalah kitab Injil terpendek di dalam Alkitab dan aku sudah membacanya setidaknya 10 kali. Mengapa kita perlu waktu setahun untuk mempelajarinya?” dia bertanya. “Tapi dalam prosesnya, aku baru tahu bahwa sesungguhnya aku sama sekali tidak tahu cara membaca Alkitab. Itu adalah pengalaman yang mengajarkanku menjadi rendah hati. Dulu aku berpikir boleh-boleh saja menjadikan Alkitab seperti sebuah buku ajaib di mana aku bisa mengartikan isinya sesuka hati tanpa memperhatikan konteksnya. Ironisnya, sebagai seorang pengacara, aku tahu bahwa itu adalah cara terburuk dalam membaca sebuah tulisan.”
Suatu kali, kelompok pendalaman Alkitab Paul sedang membaca Markus 8, di mana Yesus memberitahukan kepada orang banyak bahwa setiap orang yang mau menjadi murid-Nya harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Dia. “Aku sadar bahwa meskipun aku menyebut diriku Kristen, aku masih hidup bagi diriku sendiri. Itu membuatku berpikir tentang apa artinya mengikut Tuhan, dan aku menyadari bahwa aku sama sekali belum mengerti tentang pemuridan,” kata Paul.
Setelah mendapatkan pencerahan itu, Paul mulai mengubah secara drastis bagaimana dia menggunakan waktunya. Dia mulai melayani dalam persekutuan jam makan siang di Linklaters dan melakukan pendalaman Alkitab privat dengan rekan-rekan di kantor dan gerejanya. Untuk melakukan itu, Paul harus mengurangi jam kerjanya setidaknya tujuh jam seminggu. Keputusannya mengurangi jam kerjanya itu pun mempengaruhi perusahaannya dan prospek kariernya.
“Aku punya seorang atasan yang pengertian dan aku merasa tidak perlu lagi menjadi seorang pengacara terbaik. Yang kuinginkan saat itu adalah menjadi pengacara yang paling setia. Yang harus aku lakukan adalah bekerja keras dan dengan integritas dan membuat Tuhan dikenal oleh orang-orang di sekitarku,” kata Paul.
Perubahan mendadak dalam cara Paul menyusun prioritas hidupnya itu membuat ibunya terkejut. Ibunya bahkan mengira Paul bergabung dengan sebuah kelompok sesat. Ibunya menginginkan Paul lebih berfokus ke kariernya di dunia hukum.
“Aku bisa saja jatuh semakin jauh dari imanku dalam tahun-tahun itu tapi Tuhan mengubah dosa-dosaku menjadi sebuah kebaikan,” kenang Paul. Dia menikahi Angela tiga tahun lalu dan kini mereka telah dikaruniai seorang putri yang telah berusia satu tahun, Elizabeth.
Kehidupan yang baru
Dukungan yang diberikan Angela sangat penting dalam titik balik kehidupan Paul selanjutnya.
Ketika Paul mulai mengajar Alkitab lebih sering, pemimpin gereja Paul mulai memintanya mempertimbangkan untuk melayani sepenuh waktu di tahun 2013. Paul kemudian mendiskusikannya dengan beberapa orang, termasuk Angela, dan mendoakannya.

Paul tidak mendapatkan “panggilan” berupa mimpi atau penglihatan yang supernatural dari Tuhan. “Beberapa orang mungkin mengalami itu, tapi aku pikir tidak semua orang harus mengalami panggilan yang khusus seperti itu. Satu-satunya panggilan yang ada dalam Alkitab adalah panggilan untuk merespons Yesus. Sejak aku diberitahu bahwa karuniaku adalah mengajar dan aku harus menggunakannya, aku memutuskan untuk taat dan menggunakan karunia itu untuk Tuhan,” kata Paul.
Selain itu, Paul berpikir, melanjutkan pekerjaannya sebagai seorang pengacara akan membuat waktunya untuk mengajar semakin terbatas. Menurutnya, dampak yang dihasilkannya akan lebih besar jika dia menjadi seorang pengajar yang memperlengkapi siswa-siswa, daripada jika dia menjadi pekerja kantoran.
Jadi, di tahun 2014 dia mengambil keputusan untuk mengikuti dua tahun pelatihan untuk pelayanan penuh waktu, sebelum dia bergabung dengan persekutuan Kristen SMU di tahun 2016. Ada sekitar 90 mahasiswa dalam persekutuan itu. Mereka bersekutu setiap hari Selasa dan Paul berkhotbah di sana. Selain itu, Paul juga melatih para pemimpin kelompok mahasiswa untuk memulai kelompok pendalaman Alkitab di kampus. “Sungguh suatu sukacita ketika aku dapat melihat orang-orang yang merindukan Tuhan dan juga membimbing mereka dalam masa mereka membentuk identitas dan pemikiran mereka tentang dunia ini,” katanya.
Paul masih bekerja selama enam hari dalam seminggu karena dia lebih senang mempersiapkan khotbah di hari Minggu. Tapi menurutnya tekanan yang dihadapinya kini lebih berarti. Daripada mengejar tenggat waktu, dia kini lebih memperhatikan orang-orang dan pertumbuhan rohani mereka.
“Bagian tersulit dari pelayanan penuh waktu bukanlah ketika aku mengambil keputusan itu, tapi ketika aku harus menjelaskan kepada orang-orang di sekitarku mengapa aku mengambil keputusan itu,” kata Paul. Istrinya mendukung keputusannya. Dan yang tidak disangkanya, ayahnya juga mendukungnya dan mengatakan kepadanya untuk melakukan apapun yang dia pikir benar.
Uniknya, justru ibunya—yang adalah seorang pemimpin awam di gereja, dan yang membimbing Paul menjadi seorang Kristen setelah kedua orangtuanya berpisah—yang awalnya paling menentang keputusan Paul. Ibu Paul merasa tidak seharusnya Paul menyia-nyiakan “gelar sarjananya” atau “masa depannya yang cerah”. Seharusnya, Paul bekerja lebih keras untuk mempersiapkan tabungannya untuk masa pensiun kelak. Tapi, ibu Paul kini telah berubah dan akhirnya mendukung pelayanan Paul sepenuhnya.
Selama mengikuti pelatihan, Paul harus menekan pengeluarannya, karena dia tidak mendapatkan penghasilan apapun selama masa pelatihan itu. Itu berarti dia tidak dapat naik taksi atau makan di restoran-restoran. Kini, dia mendapatkan penghasilan rata-rata seorang guru. Istrinya merawat putri mereka dan menjadi ibu rumah tangga.
Namun bagi Paul, pengorbanan terbesarnya bukanlah karena dia harus melepas gajinya yang besar, tapi karena dia harus menurunkan harga diri dan ambisinya dahulu. “Selain karier dan penghasilan yang jauh berbeda, statusku pun menjadi sangat berbeda daripada teman-teman sepermainanku. Namun aku takkan menukar apa yang kulakukan saat ini dengan apapun yang ada di dunia ini,” kata Paul.
Bagian Alkitab favoritnya adalah Yesaya 25, yang melukiskan sebuah gambaran tentang masa depan dan harapan yang akan datang. Ayat-ayat dalam pasal itu memotivasi Paul untuk mengejar upah yang kekal—bukan harta duniawi.
“Ayat itu membentuk cara pandangku terhadap dunia ini,” katanya. “Dunia yang fana ini hanya akan berakhir pada kehancuran dan satu-satunya yang akan bertahan adalah orang-orang yang diselamatkan Tuhan. Itulah yang membangun alasanku untuk hidup, bagaimana aku hidup, dan mengapa aku melakukan pekerjaan ini.”
Sumber : www.warungsatekamu.org


Senin, 16 April 2018

KETIKA TUHAN BERKATA PRIA ITU BUKAN UNTUKKU

Oleh Ruth Theodora, Jakarta

Sakit. Sedih. Kecewa. Itulah yang kurasakan ketika aku akhirnya putus dari pacarku setelah kami menjalin hubungan selama 3 tahun 7 bulan. Di saat aku telah mendoakan hubungan ini dan membayangkan akan menikah dengannya, ternyata hubungan kami harus kandas di tengah jalan. “Aku rasa aku tidak sungguh-sungguh mencintaimu,” begitulah alasan yang diucapkannya ketika memintaku untuk putus.
Tiga bulan berikutnya menjadi hari-hari terberat dalam hidupku. Aku bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa ini harus terjadi?” Aku pun menjadi takut menghadapi masa depan. “Kalau hubungan yang telah kudoakan ini saja bisa kandas di tengah jalan, bagaimana dengan masa depanku?” begitu pikirku.
Aku pun merasa lelah sendiri. Aku merasa tidak bisa hidup seperti ini terus-menerus. Aku berdoa kepada Tuhan setiap hari agar aku bisa terlepas dari semua perasaan ini. Tuhan menjawabku melalui kakak rohaniku, mamaku, saat teduhku, firman Tuhan di gerejaku, bahkan juga melalui media sosial Instagram, Path, dan Facebook yang kugunakan. Pesan itu terangkum dalam tiga kata: Let it go (Lepaskan saja).
Meskipun pesan untuk melepaskan itu begitu kuat, tapi aku masih takut untuk melepaskan mantan pacarku. Aku takut aku tidak bisa mendapat pria yang sebaik dia. Aku takut mempunyai masa depan yang suram. Aku takut aku tidak bisa masuk dalam suatu hubungan lagi. Namun, semakin besar perasaan takut yang aku rasakan, semakin keras juga pesan “let it go” itu kutemukan dalam keseharianku. Entah mengapa, setiap kali aku membuka media sosial, banyak sekali postingan yang kutemukan itu berbicara tentang melepaskan masa lalu.
Akhirnya, pada minggu kedua bulan Januari 2017, saat aku pergi ke gereja, Tuhan kembali mengatakan kepadaku lewat khotbah yang kudengar, “Jangan mau dihantui masa lalu, karena Aku menyiapkan masa depan yang penuh harapan untukmu.” Kata-kata itu begitu menguatkanku, dan di saat itu juga aku mengambil komitmen untuk tidak takut lagi. Aku mulai mengatakan kepada diriku, “Kalau Tuhan berkata pria itu bukan untukku berarti Tuhan sudah menyiapkan yang lebih baik untukku.”
Puji Tuhan, pengalamanku ini akhirnya dapat membuatku mengenal Tuhan lebih baik lagi.
1. Aku percaya Tuhan punya rencana yang terbaik untukku
Jangan lagi terpaku dengan kesedihan masa lalu. Percayalah bahwa Tuhan memiliki rencana yang luar biasa yang sedang Dia siapkan buat kita, meskipun saat ini kita belum dapat melihatnya. Percayalah bahwa apapun yang terjadi saat ini memang Tuhan izinkan terjadi untuk mempersiapkan kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik di masa depan kita. Dalam Yeremia 29:11, Dia mengatakan bahwa Dia mempunyai rencana, dan rencana-Nya itu adalah untuk mendatangkan kebaikan dan masa depan yang penuh harapan.
2. Aku percaya dengan proses dan waktu yang ditentukan Tuhan
Ketika Tuhan mengizinkan hubunganku dengan mantan pacarku kandas, aku tidak tahu apa maksud Tuhan. Yang aku tahu adalah aku mengalami proses yang luar biasa yang menjadikanku semakin dewasa baik secara rohani maupun karakter. Aku jadi bisa melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda, yang mengubah hidupku. Aku juga menjadi percaya bahwa waktu-Nya Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak pernah terlalu cepat, sama seperti matahari yang setiap hari terbit dan tenggelam tepat pada waktunya.
Proses yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku membuatku semakin kuat dan mempersiapkan diriku untuk masa depanku. Ketika aku berumah tangga kelak, tentu akan ada lebih banyak tantangan. Tapi aku percaya pada saat itu tiba, aku telah siap untuk menghadapinya karena Tuhan telah membentukku melalui proses-Nya.
3. Aku percaya Tuhan mengetahui isi hatiku dan peduli kepadaku
Ketika aku baru putus, setiap hariku terasa berat dan hampir setiap saat aku menangis. Hatiku begitu hancur sampai-sampai aku tidak tahu bagaimana aku harus berdoa dan mengutarakan isi hatiku kepada Tuhan. Tapi kemudian aku membaca firman Tuhan berikut ini.
“Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN” (Mazmur 139:4).
Firman Tuhan itu memberitahuku bahwa Tuhan sangat mengerti isi hatiku, bahkan sebelum itu terucap di bibirku. Dia amat mengenalku, bahkan lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri. Dan Dia juga peduli kepadaku. Buat apa lagi aku takut? (Matius 10:31).
“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5).
Sumber : www.warungsatekamu.org

Kamis, 12 April 2018

KETIKA TUHAN MENJAWAB DOAKU DENGAN 2 BUAH KENTANG

Oleh Diana Yemima

Ketika-Tuhan-Menjawab-Doaku-dengan-2-Buah-Kentang

Aku dan keluargaku bergumul dengan permasalahan ekonomi yang terjadi belakangan ini. Gaji ayahku yang diterima setiap bulan tidak mampu mencukupi semua kebutuhan keluarga. Melihat kondisi keluarga yang kekurangan, ibu berjualan kue di sekitar kompleks perumahan.
Kue yang dijual oleh ibu itu sangat sederhana, yaitu donat yang dibuat dari kentang dan ditaburi gula halus. Ibu memiliki masalah fisik sehingga tidak memungkinkan untuk berjualan setiap hari, jadi dalam satu minggu ia hanya berjualan tiga kali. Keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat ibu, malahan ia mengatakan kalau strateginya menjual donat tiga kali seminggu itu bagus karena membuat pelanggannya dilanda “rindu” terlebih dahulu.
Apa yang ibu lakukan itu ada benarnya juga. Setiap kali ia berjualan keliling komplek perumahan, para pelanggan membeli donat dalam jumlah banyak, ada yang membeli lima donat sekaligus bahkan lebih. Mungkin mereka membeli banyak karena tahu kalau tidak setiap hari bisa menyantap donat kentang buatan ibuku.
Tuhan Yesus memberkati usaha berjualan donat yang ibu kerjakan. Setiap kali ia berjualan, semua donat selalu habis terjual sehingga uang hasil penjualan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga kami.
Suatu hari tagihan listrik di rumah kami telah jatuh tempo, tapi kami tak punya cukup uang untuk melunasinya. Uang yang kami miliki saat itu seharusnya digunakan untuk berbelanja kebutuhan bahan-bahan membuat donat kentang.
Ayah berusaha mencari pinjaman uang untuk membayar tagihan listrik itu. Aku teringat kalau masih ada tabungan yang kusimpan di celengan. Kubongkar celengan itu dan kukumpulkan setiap keping uang logam. Setelah digabung dengan sisa uang yang ada, ternyata itu cukup untuk membayar tagihan listrik kami.
Aku teringat satu ayat yang tertulis dalam Lukas 3:14 tentang perkataan Yohanes Pembaptis kepada prajurit-prajurit yang bertanya kepadanya, “Cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Ayat ini menguatkanku kalau Tuhan mencukupi kebutuhan keluargaku sehingga kami tidak harus berhutang kepada orang lain.
Aku berdoa sembari tanganku menggenggam uang. “Ya Bapa, Engkau tahu bahwa uang ini adalah uang terakhir yang ada di keluarga kami. Dan uang ini akan digunakan untuk membayar listrik. Aku menyerahkan uang ini ke dalam tangan kuasa-Mu. Biarlah dengan uang ini, kami dapat memenuhi setiap kebutuhan kami hingga akhir bulan nanti. Dalam nama Tuhan Yesus, amin,” ucapku pada-Nya.
Aku pikir masalah hari itu sudah selesai, tapi masih ada yang terjadi. Aku tidak melihat ibu menyiapkan bahan membuat donat kentang, padahal besok adalah hari Selasa yang semestinya ibu berjualan. Karena seluruh uang yang kami miliki, termasuk uang hasil penjualan donat ibu telah digunakan untuk melunasi tagihan listrik, maka kami tidak punya sisa uang lagi untuk membeli bahan-bahan membuat donat.
“Apakah tidak ada stok bahan yang tersisa di dapur?” tanyaku. Ibu menjawab kalau ia hanya memiliki dua buah kentang, padahal untuk satu kali adonan donat membutuhkan empat buah kentang.
Jika besok ibu tidak berjualan, kami tidak akan memiliki uang untuk makan karena penghasilan ibulah yang menjadi penyangga kehidupan sehari-hari kami. Aku masih tidak percaya kalau hanya tersisa dua kentang saja. Aku bergegas menuju dapur yang diterangi cahaya redup. Ternyata apa yang ibu katakan itu benar, hanya tersisa dua kentang saja di sana.
Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan berdoa. “Tuhan terimakasih atas berkat-Mu karena akhirnya kami dapat membayar listrik tanpa meminjam uang. Tapi, Tuhan, ibu kehabisan kentang untuk membuat donat, sedangkan besok kami membutuhkan uang untuk makan. Bapa, aku yakin bahwa Engkau tak pernah membiarkan anak-Mu terlantar dan kelaparan. Engkau pasti memberi jalan keluar untuk segala permasalahan kami. Kami serahkan segalanya ke dalam tangan kuasa-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.”
Seusai berdoa aku keluar dari kamar dan tiba-tiba ibu menghampiriku dengan raut wajah penuh syukur. Ia mengatakan kalau ayah menemukan dua buah kentang lagi yang tersembunyi di bawah tangga. Tangan ayah mampu merogoh hingga ke ujung dan ternyata ada dua buah kentang yang tersimpan di bawah sana. Awalnya ibu berpikir kalau kentang yang ditemukan itu pastilah sudah busuk karena itu kentang sisa dari minggu sebelumnya. Tapi, kentang itu masih dalam kondisi baik, tidak busuk.
Aku terharu melihat pertolongan Tuhan karena aku tahu kentang itu tidak datang tiba-tiba dari langit. Tuhan menjawab doaku dan membuatku menangis penuh ucapan syukur. Aku menyadari kalau pertolongan Tuhan itu selalu tepat waktu. Tidak lebih cepat, tapi juga tidak terlambat.
Ketika kita dihadapkan pada keadaan di mana segala sesuatunya seolah buntu, Tuhan tahu jalan keluar terbaik untuk setiap persoalan anak-anak-Nya. Kisahku bersama Tuhan menjadi suatu bukti kalau Dia tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya kelaparan.
Firman Tuhan dalam Lukas 12:22-24 menguatkanku karena Tuhan berjanji selalu memelihara anak-anak-Nya, bahkan menyediakan setiap detail kebutuhan kita. Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang burung-burung di udara yang tidak menabur atau menuai, tetapi tetap dipelihara oleh-Nya. Jika Tuhan sanggup memelihara burung-burung itu, terlebih lagi Ia juga memelihara kita. Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya, namun yang perlu kita lakukan adalah setia melakukan bagian kita dengan baik.
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu,” (1 Petrus 5:7). Seberat apapun pergumulan yang kamu alami, kamu tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan Yesus menemani langkah perjalananmu, bahkan Ia juga akan menggendongmu ketika kamu lemah. Ketika kita mengakui kelemahan kita dan merendahkan diri di hadapan-Nya, di situlah kita akan merasakan penyertaan-Nya.
Menutup kesaksianku, ada satu ayat yang diambil dari 1 Korintus 10:13b, “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Jadi, seberat apapun pergumulan yang kamu alami, janganlah menyerah pada keadaan, tetapi berserahlah kepada Tuhan.
Sumber : www.warungsatekamu.org