Rabu, 30 Mei 2018

KEHILANGAN BOLA MATA BUAT SAYA KENAL KASIH KRISTUS, KISAH PREMAN SAKTI, NIXON MITCHEL

Saya adalah Nixon Mitchel. Keinginan saya adalah menjadi penguasa semua jalur yang ada di terminal. Untuk bisa mendapatkannya, saya harus menjadi pribadi yang paling kuat sehingga disegani oleh preman-preman sekitar sana. 
Senja itu saya datang ke sebuah tempat dimana ada beberapa teman yang sedang minum-minuman keras. Mereka mencekoki saya dengan minuman tersebut hingga saya mabuk dan jatuh pingsan. Ditengah kondisi yang mabuk dan nyaris tak sadarkan diri, mereka mulai menghajar saya dengan berbagai tindakan keji seperti memukul dengan batu, kayu, melempari batu, bahkan saya harus kehilangan satu bola mata setelah dicucukkan dengan benda tajam. 
Alasannya? Menurut mereka, saya adalah seorang penghianat yang hendak merebut wilayah kekuasaannya. Saya dibawa ke sebuah tempat sepi dengan darah disekujur tubuh saya. Tidak ada satu pun yang mau menolong. Kaki ini rasanya tidak sanggup lagi berdiri, saya mulai memaksakan diri merangkak untuk menyelamatkan diri. Rencana mereka adalah untuk memusnahkan saya. Mereka menganggap saya sudah mati. 
Tindakan keji mereka terhadap wajah saya yang tidak lagi nampak seperti wajah. Saya hancur. Ditambah dengan mata yang kini sudah tidak bisa digunakan lagi membuat timbul perasaan benci dan dendam terhadap mereka. Hingga akhirnya teman saya datang dan mengatakan kalau ingin membalas dendam, tentu saja saya harus menjadi lebih kuat lagi dibandingkan saat itu. 
Saya menurutinya hingga rela meninggalkan kota Manado. Saya mendatangi seorang guru agar kesaktian ini meningkat. Ada banyak ritual dan latihan yang dijalani. Selama tiga bulan disana sambil mengobati mata ini dengan akar dan rebusan daun-daunan. Merasa kalau ilmu ini tidak cukup, saya belajar ilmu bela diri kung fu selama empat tahun. 
Sekembalinya ke Manado, tidak ada tujuan lain selain balas dendam. Saya mencari setiap orang yang dulu berniat memusnahkan saya. Mata harus diganti dengan mata. Dari rumah ke rumah, dari tempat satu ke tempat lainnya. Hingga akhirnya saya menemukan seseorang yang dahulu ikut menghajar. 
Saya dekati orang tersebut dengan tatapan keji dan penuh dendam, namun saat orang tersebut berdiri, saya bisa melihat kalau kakinya sudah tidak lagi bisa berfungsi dengan baik. Ia pincang. Saya mengurungkan niatan balas dendam pada orang tersebut karena merasa kasihan. 
Tidak lama setelahnya, saya berhasil menguasai satu jalur di terminal. Merasa kurang puas membuat saya ingin mencobai kekuatan yang telah enam tahun saya latih. Saya tidak ingin ada satu pun orang yang mengganggu hal ini, sehingga saya siap menantang setiap mereka yang mengganggu. Saya selalu menang. 
Setelah berhasil menguasai satu jalur, kehidupan saya semakin membaik. Saya memiliki beberapa anak buah dan tidak ada orang yang berani mengusik posisi saya saat itu, termasuk oknum polisi.
Suatu hari, ada beberapa orang datang mencari saya. Dari jarak sekitar 10 meter, saya merasa ada hawa yang aneh dari orang-orang tersebut. Biasanya, dengan kesaktian yang dimiliki, saya bisa merasakan seberapa sakti orang tersebut.
"Shalom," kata salah satu diantara mereka sambil mengulurkan tangan untuk mengajak salaman. Saya kaget sambil bertanya-tanya apa arti dari kata shalom sekaligus menganggap kalau orang yang mengajak salaman tadi ini sedang mengajak saya untuk mengadu ilmu. 
Saya menyambut uluran tangan tersebut sambil membacakan mantra. Ada tingkatan mantra yang saya miliki. Tingkat pertama saat membacakannya, orang tersebut akan mengalami retak tulang, kedua akan membuat urat seseorang putus dan yang terakhir dapat membuat hati seseorang hangus. Saya bacakan semua tingkatan tersebut. 
Tidak ada perubahan yang terjadi pada orang yang saya salami. Semakin tinggi mantra yang saya bacakan, justru kuat pula bapak yang sedang berhadapan dengan saya ini. Hingga pada satu titik saat mengeluarkan tingkatan yang paling sakti, saya terkapar. 
Saat saya sudah mulai membuka mata, bapak tadi memperkenalkan dirinya sebagai seorang pendeta. Satu kata yang terlontar dari mulutnya, tanpa saya bisa duga atau pikirkan, ia mengatakan "Tuhan Yesus mengasihimu, mari ikut bersama kami." Saya menangis. Sekalipun saya tidak pernah merasakan bahkan mendengar kata kasih pun tidak pernah. 
Kehidupan saya berubah sejak saat itu. "Apakah saya sudah bisa diangkat menjadi murid om?" Tanya saya saat sedang bermain catur bersama pak pendeta. Ia berkata kalau tidak ada yang abadi di dalam kehidupan ini. Ketenaran, kekuatan, uang, semua tidak ada gunanya saat kita mati. Saya menepis dan menjawab kalau kita harus menjadi kuat agar bisa selamat. Pendeta itu tersenyum. 
“Seperti permainan catur, semua akan selesai. Pertanyaannya, kalau kamu mati, kemanakah kamu akan pergi? Kamu yakin kalau kamu bisa masuk ke Surga?” Ujar pak pendeta penasaran dengan jawaban saya. 
Ia menyodorkan Alkitab kepada saya. Katanya, kitab ini memberitakan kebenaran dan ada pribadi yang ada dalam Alkitab, yaitu Kristus. Dialah yang bisa menyelamatkan kita dari dosa. Kalau kita percaya dan yakin, maka dia akan menyelamatkan hidup kita. 
Keraguan timbul dari dalam hati saat mengingat kembali betapa banyaknya dosa yang telah saya perbuat. Pendeta itu kembali tersenyum dan mengatakan, "Tuhan membenci dosa, namun ia mengasihi kita dan akan menyelamatkan orang yang berdosa." 
Saya akhirnya sadar kalau kasih Yesus tidak melihat siapa saya atau seberapa dosa yang telah saya lakukan. Setelah saya menerima Kristus dalam kehidupan ini, semua benda pusaka yang dulu saya gunakan untuk melawan preman-preman saya buang. Saya menyesal dan mohon ampun kepada Tuhan karena telah mengecewakanNya. 
Godaan dunia tidak dapat menjamin kehidupan yang kekal, namun kebenaran firman dan kasih Kristus dapat membuat kita hidup dalam kehidupan yang kekal dalam Kristus.  

Sumber : jc channel (WWW.JAWABAN.COM)

Sabtu, 26 Mei 2018

MURKA TUHAN MEMBAWAKU DALAM TUBUH YANG TERPOTONG-POTONG, LEONARDO EDO

Leonardo Edo Wior, itulah nama yang diberikan kepada saya. Sejak berusia 6 tahun hingga lulus SMP saya diasuh oleh Opa, terpisah dari kedua orang tua. Didikan Opa sangat keras. Kerap kali melakukan kesalahan, ia akan membentak, memukul, atau mencambuk saya. Kebiasaan ini membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang keras. 
Meskipun demikian, dalam hati saya, masih ada kerinduan untuk bisa berada di tengah-tengah keluarga yang utuh bersama kedua orang tua, Papa dan Mama. 
Suatu hari, Papa dan mama menjemput dan mengajak saya untuk tinggal bersama mereka di Manado. Awalnya, saya sangat senang akan hal ini. Akhirnya saya bisa merasakan sosok orang tua utuh yang mengasihi saya. Saya bisa membayangkan betapa bahagianya bisa dikasihi dalam keluarga yang hangat.
Tetapi harapan saya ini tidak sesuai dengan kenyataan yang saya hadapi. Setiap melakukan kesalahan, walaupun kesalahan itu menurut saya adalah hal yang kecil, Papa akan mencambuk saya. Saya masih ingat pertama kali Papa mencambuk saya menggunakan ikat pinggang. 
Walaupun mama ada dan mencoba untuk membela saya, namun Mama tidak bisa menghetikan Papa. Rasa sakit dan kecewa makin melekat dalam diri saya saat itu. Saya rindu untuk mendapatkan pelukan dari seorang Papa, saya rindu untuk dirangkul dan disayangi oleh Papa. Ini yang kemudian memicu saya untuk menjadi seorang pemberontak kepada Papa. 
Masa SMA adalah awal dari semua sikap pemberontakan itu. Saya mulai mengajak teman-teman untuk minum, merokok, bermain hingga larut malam di rumah. Masa bodoh jika Papa marah. Saya sekarang sudah besar, kalaupun Papa mau memukul, kini saya bisa melawannya. 
Tahun 2010, saya pergi ke Batam untuk bekerja. Kala itu, saya bekerja sebagai seorang pengawas diskotik besar di Batam. Disinilah dimana saya semakin terjerumus ke dalam dosa. Pernah suatu hari seorang teman mengajak saya ke sebuah hotel untuk menemui seorang bandar narkoba. 
Jenis sabu adalah narkoba yang saat itu teman saya ajarkan dan berikan kepada saya. Perasaan pertama saat baru mencobanya adalah perasaan yang tenang. Saya berpikir kalau ini adalah kepuasan yang selama ini saya cari. Semakin hari, wanita, sex bebas, mabuk, narkoba adalah hal yang biasa bagi saya. Ini adalah gaya hidup saya. Namun tetap saya tidak merasa ada kepuasan dalam diri. 
Tentu saya tidak tahu kalau Papa yang menyuruh Mama untuk menelepon. Namun hati kecil, setiap mendapat panggilan dari rumah, saya selalu berharap kalau Papa lah orang yang ada diseberang telepon sana.  Saya berbohong kepada Mama dengan mengatakan kalau saya bekerja di sebuah toko sepatu. 
Saat saya berada di diskotik, teman mengatakan kalau saya yang harus membeli obat. Karena menghargai dan ada perasaan ingin diakui sebagai teman, saya membeli dan menggunakannya. Tidak sampai habis, setengah pun tidak. 
Sekitar pukul 3 pagi, saya mendengar ada suara yang tegas, keras, berwibawa seperti desau air bah dengan cahaya berkata, "murkaku ada padamu, dan amarahku menyala-nyala ke atasmu." Sontak saya ketakutan, seluruh tubuh rasanya gemetar. Ketakutan ini bahkan semakin menjadi-jadi, terutama saat tahu kalau saya sedang berada dalam murkanya Tuhan.
Saat itu saya dibawa kepada suatu kejadian yang nampak nyata. Saya melihat ada seorang yang meninggal karena kecelakaan. Dengan jelas saya bisa melihat setiap potongan tubuh korban yang porak poranda akibat kecelakan tersebut. Betapa kagetnya saya saat mendapati kalau orang yang mengalami kecelakaan tersebut adalah saya sendiri. Saya kalap. Saya ketakutan.
Tentu saya harus bisa memastikan kalau ini bukanlah halusinasi karena sabu yang saya konsumsi sebelumnya. 3 hari lamanya saya mengurung diri di kamar. Ketakutan kalau nanti keluar kamar, saya akan mati sia-sia. Masih terngiang dalam pikiran saya betapa mengerikannya tubuh saya yang tergeletak di trotoar malam itu. 
Ada keinginan dalam diri kalau saya tidak ingin lagi hidup dalam dosa, saya tidak ingin melakukan kejahatan lagi. Saya ingin berubah dan saya ingin dipulihkan. Dalam ketakutan saya akan kehidupan di neraka, murka Tuhan dan kematian, ada suara dalam hati kecil saya untuk mohon ampun kepada Tuhan. 
Saya merasa diingatkan kalau Tuhan adalah pribadi yang mengasihi, yang mencintai apa adanya. Dia adalah Yesus Kristus yang telah berkorban bagi saya diatas kayu salib. Saya mengikuti apa yang hati kecil saya itu katakan. “Tuhan Yesus, kalau masih boleh saya diampuni, kalau masih boleh dosa saya kembali diputihkan,” doa saya kala itu.
Sesaat setelah berkata demikian, saya merasa kalau ada damai sejahtera dan sukacita dari Surga yang tercurah dalam hidup saya dari ujung kepala sampai kaki. Saya merasa sedang berada di dalam Surga. Dunia ini tidak bisa memberikan sejahtera dan sukacita yang luar biasa saya rasakan tersebut. Narkoba, bahkan Papa pun tidak bisa. 
Semua ini didapat saat saya menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Saya merasakan damai sejahtera sorgawi, saya merasakan sukacita dan kasih Yesus yang ada dalam saya tanpa syarat apa pun. Tak lama setelahnya, hati kecil saya seakan berkata kalau saya membutuhkan seorang pembimbing rohani yang bisa menuntun ke dalam perubahan. 
Saya mendatangi sebuah gereja dan menemukan sosok pembimbing rohani tersebut.Disitu saya belajar kembali mengenai pengampunan. Ada dorongan kalau saya harus mengampuni Papa. Saya pergi ke Manado, menemui Papa dan meminta maaf atas kelakuan saya yang mungkin menyakiti hati Papa. Saat itu pula saya bisa merasakan kalau hubungan kami juga dipulihkan. 
Saya merasakan damai sejahtera, sukacita, dan kasih yang luar biasa di dalam Kristus. Walaupun dosa yang saya rasa adalah besar, tetapi Tuhan bisa mengampuni seluruh dosa saya dan memberikan pemulihan dan berkat yang melimpah bagi saya.
Setelah menerima semua pemulihan ini, saya mulai mendengar kesaksian dari Papa. Saya tahu kalau Papa adalah sosok yang menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Setiap kekerasan yang dilayangkan kepada saya adalah tindakan yang Papa saya dapat dari Opa. Kini keluarga saya sudah utuh, semuanya sudah dipulihkan dalam nama Yesus. 
Sumber : solusi24 (WWW.JAWABAN.COM)

Selasa, 22 Mei 2018

AFFANDI : SELAMAT DARI BADAI LAUT, KINI TAK LAGI MAU BERONTAK SAMA ORANGTUA

Bapak-mama memberi namaku Affandi Panduwinata. Bagus sekali kedengarannya bukan? Tapi nama yang begitu terdengar indah itu tidak seperti yang banyak orang pikirkan. Aku adalah seorang pemberontak di rumah.
Bapakku yang super disiplin justru membuatku makin beringas. Bahkan karena tidak tahan dengan sikap bapakku, aku akhirnya sempat beberapa kali lari dari rumah. Namun, karena mama yang begitu gigih mencariku, aku pun kembali ke rumah.
Beranjak ke SMA, aku bergaul dengan teman-teman yang tidak baik dan di situ pun aku hidup seorang diri tanpa pengawasan orangtua. Mereka justru mengajakku untuk mencuri barang-barang berharga. Tawaran itu pun aku terima. Pada satu malam, aku dan teman-temanku akhirnya berhasil menggodol sebuah sepeda motor.

Motor yang berhasil kami curi ketika itu pun kami jual lagi. Betapa senang hati ini ketika aku menerima uang. Ada kebanggaan di hati ini bahwa bisa menghidupi diri sendiri tanpa bantuan bapak-mamaku.
Ditangkap Polisi
Meski selalu berada di luar rumah, aku tetap perhatian dengan mamaku. Makanya ketika aku mendengar bahwa mama sakit, aku dengar berbagai macam cara pulang ke rumah untuk menengoknya.
Saat berada di rumah orangtuaku, betapa kagetnya diriku ketika sejumlah polisi datang dan menangkapku. Begitu aku masuk ke mobil polisi, aku melihat temanku berada di dalamnya. Ia ternyata sudah lebih dahulu diringkus oleh pihak berwajib. Aku beserta temanku pun lalu digelandang ke penjara.
Tidak lama setelah aku ditahan, mama menjengukku. Betapa senang hati ini melihat mama. Namun, perasaan itu hanya sekejap saja setelah ia justru memojokkanku dengan kata-katanya. Ia sama sekali tidak membela aku dihadapan teman-teman, tetangga kami yang ada di luar. Seolah semua ini, aku yang salah.

Orangtua terutama mamaku tidak menyadari bahwa aku seperti ini karena mereka. Jadi, ketika mama berkunjung untuk kali kedua, aku tidak menjumpainya. Jujur, hatiku sudah sakit.
Terjebak di Laut
Hari-hari di penjara berakhir usai. Aku pun kembali bisa menghirup udara bebas. Keluar dari hotel prodeo, aku memperbaiki hidup sehingga bisa lulus SMA. Setelah lulus SMA, aku ikut saudara yang menawari untuk mengikutinya berlayar.
Di kapal itu, kehidupanku justru kembali kacau. Di dalam otakku hidup itu untuk senang-senang dan senang-senang itu untuk hidup.
Pada satu perjalanan, kapal kami terkena ombak di Laut China Selatan. Lebih tepatnya terkena angin taifun selama empat hari. Dalam kurun waktu itu tidak ada matahari keluar. Yang ada hanyalah hujan dan petir. Ombak itu bahkan mencapai ketinggian sekira 15 meter. Kami gak bisa minggir karena itu sama aja, di laut kami mati, mengarah ke daratan kami juga mati.
Akhirnya kami yang ada ambil keputusan akhirnya kita tetap di laut. Keadaan di dalam kapal benar-benar menyedihkan. Kehabisan makanan, banyak dari kami yang akhirnya muntah-muntah.

Di tengah situasi mengerikan seperti itu, aku teringat dengan segala perbuatan buruk yang pernah aku lakukan. Itu seperti diulang kembali. Tidak lama kemudian, aku mendengar suara sebanyak tiga kali, ‘Aku mengasihimu, Aku mengasihimu, Aku mengasihimu’. Dan itu tidak dengan suara audible, tetapi di hati.
Ingin Lebih Mengenal Tuhan
Saat mendengar kata ‘Aku mengasihimu’, aku merasakan damai sejahtera di hati. Kata-kata itu juga mengangkat harga diriku yang hancur. Aku merasakan diriku begitu berharga.
Sebuah janji pun kusampaikan dalam hati bahwa kalau aku bisa selamat dari bencana taifun ini, aku ingin mengenal Kristus, mengenal Yesus lebih dalam lagi.
Setelah taifun reda, aku pun kembali pulang ke Solo.
Di Solo, aku sempat bertemu dengan seorang teman dan dia pun menceritakan mengenai Tuhan Yesus. Dia pun mengutip sebuah ayat Firman Tuhan yang meneguhkanku yaitu bahwa “Akulah Jalan yang Lurus dan Hidup, tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
Di saat temanku berbicara, aku disadarkan bahwa apa yang aku lakukan waktu dulu itu salah. Aku kemudian ambil keputusan untuk meninggalkan kehidupan lamaku seperti mabuk-mabukan, seks bebas, dan narkoba. Saat yang sama aku menyatakan bahwa aku percaya Yesus itu Tuhan yang benar, Yesus itu adalah Tuhan dan Juruselamat.
Rekonsiliasi dengan Orangtua
Perlahan tapi pasti, aku pun diajar untuk mengampuni orangtuaku. Aku menyadari bahwa orangtua itu pada hakikatnya beritikad baik untuk anaknya. Hanya ketika itu aku tidak mengerti apa yang menjadi kehendak orangtua. Aku justru melakukan pemberontakan.
Pada suatu hari, dihadapan bapak-mama, aku mengakui segala kesalahan yang aku lakukan selama bertahun-tahun dan meminta maaf kepada mereka. Sejak hari itu, saya semakin mengasihi orangtua saya, bahkan orangtua saya mengasihi saya juga.
Hidup Baru
Setelah percaya Tuhan dan hidup diberkati, aku mengambil keputusan untuk melayani Tuhan melalui pendidikan bersama dengan anak-anak. Mengapa aku melakukan itu? Karena aku tidak ingin apa yang aku alami zaman dahulu terulang kepada anak-anak dan aku ingin mereka mengenal Kristus dengan baik.
Aku mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang memberi kesempatan untuk melayani Tuhan melalui anak-anak. Aku percaya bahwa ini adalah hal luar biasa yang dipercayakan kepadaku dan hidupku kini bisa menjadi dampak bagi yang lain. Amin!
copas : www.jawaban.com

Jumat, 18 Mei 2018

KESAKSIAN DARI BAPAK A SENG (PENGUSAHA)

Kesaksian dari Bp. A Seng (pangusaha)
Shalom, terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bersaksi.Kesaksian ini untuk memuliakan Tuhan dan disampaikan apa adanya, tanpa bermaksud menyinggung atau mempermalukan siapapun. Oleh karena itu, sya mohon maaf terlebih dahulu.
Dulu saya adalah seorang pengusaha sepatu. Usaha itu maju dan berkembang dengan luar biasa. Tapi kemudian saya mengaami proses. Tuhan ijinkan saya mengalami kebangkrutan. Akhirnya usaha saya, rumah, mobil, semuanya habis dan hutang bertumpuk sangat banyak, tidak mampu saya bayar.
Dalam kondisi itu, saya sangat stres. Ketika itu, saya memang belum betobat. Tetapi saya sudah sering ke gereja. Waktu itu, Gereja Sungai Yordan masih beribadah di gedung Graha Air Kehidupan, Jl. H. Abbas. Ketika saya mengalami kebangkrutan, saya tidak memiliki seorang teman yang bisa menasehati saya., memberikan ide atau jalan supaya kita bisa semangat kembali. Apalagi biasanya, jika sedang bangkrut, rumah tangga dan keluarga pun mengalami masalah.
Waktu itu, saya berencana menjual rumah saya di daerah Paris II. Sebuah rumah 2 tingkat, dengan lebar 20 m. Tetapi istri saya tetap mempertahankannya. Namun akhirnya juga tidak bisa dipertahankan juga. Rumah saya yang ditempat lain pun habis dijual. Sekalipun saya belum bertobat, tetapi saya bukan penjudi, pemabuk, tidak pernah terlibat kriminal. Namun semua uang dan harta saya tetap ludes.
Saya bingung, tidak ada jalan keluar dan tidak ada teman yang bisa diajak bicara. Di rumah pun sering bertengkar dengan istri sampai hampir mau cerai. Saya pun tidak tahu mengapa bisa sampai begini, padahal sebenarnya saya sayang dengan istri, sekalipun dia bersalah, tapi saya sering mengampuninya.
Saya sudah sering berbicara dengan beberapa adik ipar saya. Saya katakan, jika saya di rumah sering bertengkar dengan istri, sehubungan dengan ekonomi keluarga yang sedang sulit. Mungkin istri juga sering pulang ke rumah orang tuanya dan berbicara dengan mereka, tentang perkelahian kami. Jadi saya minta tolong dengan adik ipar saya untuk mengatakan kepada istri supaya bisa mengerti keadaan saya sebagai kepala rumah tangga, Tetapi justru kepahitan yang saya peroleh.
Saya sudah pernah share masalah ini dengan Pdt. Tonny dan beberapa kawan gereja. Suatu hari, Saya berniat mau ke rumah mertua saya dengan tujuan untuk menjelaskan kepada mereka, jika keadaan saya sudah susah. Saya datang bukan untuk pinjam uang atau minta beras. Saya hanya ingin minta nasehat, berikan saya ide dan jalan, supaya saya bisa bangkit dan berusaha kembali.
Saya datang ke sana. Saya mulai menjelaskan keadaan saya ini, tetapi justru saya diminta untuk menceraikan istri. Hal ini sangat melukai dan membuat hati saya pahit. Bukan saran, ide dan nasehat yang saya terima, tetapi sebaliknya. Jadi kepahitan saya sangat besar. Sampai bulan Novembur 2011 lalu, saya masih belum bisa mengampuni mereka. Ketika saya masih jaya, istri saya tidak pernah kekurangan suatu apapun. Bahkan ketika sudah susah, saya tidak pernah pinjam, apalagi minta uang dan beras dengan keluarga istri.
Ketika saya mendapat perkataan seperti itu, saya pun berdiri hendak pergi. Saya pun pergi dengan kesal. Saya mengendarai motor tanpa tujuan. Belok ke kiri, ke kanan, tapi tanpa tujuan, tidak tahu menyasar di mana, seperti orsng ling-lung. Saya sudah sangat stress.
Bukan menyombongkan diri, tetapi sejak kecil memang saya tidak pernah hidup susah. Saat itu, saya tidak bisa terima kenyataan hidup. Sampai saya pernah mencoba untuk bunuh diri. Ketika saya pergi dari rumah keluarga tadi, tanpa sepengetahuan saya, tiga orang saudara istri saya ingin menjebak saya. Waktu saya sampai di rumah, adiknya menelepon dan meminta saya kembali ke rumah. Katanya mau berbicara dengan saya. Saya pun kembali, karena saya memang bertujuan untuk berbicara. Saya mau bicara dan minta nasehat tentang masalah rumah tangga kami.”
Setelah tiba di sana, ternyata ibukan kebaikkan yang saya terima. Ketika saya masuk ke rumah, langsung pintu rumah itu dikunci dari dalam. Mereka bertiga mau memukuli saya. Saya pun melawan, tetapi untung kakak ipar saya tiba dan membantu saya, jika tidak saya sudah dikeroyok. Saya pun pergi.
Saya pustukan untuk pergi ke Jakarta dengan uang yang pas-pasan. Dengan kasih karunia Tuhan, saya bisa berusaha dan bangkit kembali. Saya belum punya uang cukup, jadi saya kredit motor. Namun saya masih depresi waktu itu. Setiap malam saya selalu bermimpi buruk, dendam, menangis sampai berteriak-teriak. Tetapi puji Tuhan, saya bisa bangkit kembali, tanpa bantuan pihakkeluarga  istri. Tetapi sakit hati dan dendam masih ada dalam hati saya.
Sekitar November 2011, saya datang dan beribadah di gereja Sungai Yordan di gedung Graha Mazmur 21, atas ajakan dari Pdt. Markus Tonny Hidayat, yang memang sudah melayani dan mementori saya ketika masih beribadah di Jl. H. Abbas. Saya dipulihkan kembali ketika beribadah di sini. Saya menyadari bahwa dalam keadaan apapun, kita sebagai anak, cucu, mertua atau istri, derajatnya tidak akan pernah berubah. Ketika saya beribadah di Sungai Yordan, batu yang terasa puluhan kilo beratnya, yang tersimpan dalam hati saya, telah terangkat dan dibuang Tuhan. Dalam keadaan apapun, anak adalah tetap anak, dan mertua tetap mertua. Selesai beribadah, saya pulang dan berlutut dihadapan Tuhan, mengucap syukur atas kasih karunia-Nya yang sungguh besar. Lalu saya mendatangi mertua saya dan mohon pengampunan mereka, sekalipun sebenarnya saya tidak bersalah. Betapa luar biasanya orang yang membangun Rumah Kediaman-nya dan memiliki seorang mentor yang baik.

Copas : edy-fajarpengharapan.blogspot.co.id

Senin, 14 Mei 2018

KESAKSIAN BAPAK SUMADI (PENGUSAHA SUKSES) : SEMUA ORANG BISA SUKSES !


Exclusive Interview with SUMADI

SEMUA ORANG BISA SUKSES!
Dengan tampilan seperti anak muda yang stylelish, saya berkesempatan berjumpa dan berbincang-bincang dengan seorang pengusaha muda di showroom mobil-nya, yang sekaligus juga tempat tinggal beliau. Sumadi(35), demikian biasa  kami menyapanya, adalah gambaran dari seorang pengusaha muda yang sukses karena pertolongan Tuhan. Dalam usianya yang masih tergolong muda, suami dari seorang istri bernama Santi(30), sudah berhasil memimpin sebuah showroom jual-beli mobil, yang cukup baik di Pontianak.
“Semuanya hanya karena Tuhan”,demikian perkataannya dalam pertemuan kami yang hangati sore itu, pengusaha kelahiran Pontianak ini menturkan kisah kesaksiannya, yang menjelaskan bahwa semua orang bisa sukses (sama seperti judul salah satu buku tulisan Bpk. Markus Tonny hidayat), bagaimana dia berangkat dari keluarga yang tidak mampu secara finansial, bahkan pernah berjualan es, sampai akhirnya mencapai kesuksesan dalam usaha dan pelayanannya.Di akhir perbincangan, ayah dari Rich Stephen (8), Rich Stepfanny(5) dan Rich Stella Vannesia(4), juga menuturkan kiat-kiat sukses yang dilakukan dan dialaminya. Mari kita simak..... .
Yakobus Edy Susanto (YES) :Ceritakan latar belakang bapak, sebelum mengalami sukses seperti ini, pak.
Sumadi(SMD):
Saya lahir di Pontianak,  35 tahun yang lalu, tepatnya Maret 1976. Ketika itu saya tinggal di gg. Damai sampai berumur sekitar 5 tahun. Kemudian kami pindah ke jl. AR. Hakim dalam. Keadaan kami masih sangat memprihatinkan. Rumah masih dinding kayu dan ber-atap daun. Saya dibesarkan dalam keadaan seperti ini.
Sejak menduduki bangku sekolah dasar, saya sudah ikut papa jualan es di pelampung (tempat penyeberangan kapal ferry). Ketika itu, penyeberangan dengan kapal ferry, lebih ramai dari sekarang, karena jembatan Tol yang menghubungkan kota dengan Siantan, belum dibangun. Jadi semua kendaraan dan orang, jika mau menyeberang ke daerah siantan, pasti menggunakan jasa kapal ferry.  Tetapi setelah jembatan Tol dibangun, mulai terasa sepi, karana banyak kendaraan yang memilih menggunakan jembatan dari pada kapal ferry, terutama mereka yang mau ke arah Tanjung Raya, Tanjung Hulu dan Ambawang. 
YES : Apakah hal ini sempat membuat perkonomian keluarga semakin sulit?
SMD:
Jelas pak. Hal ini membuat pergumulan ekonomi keluarga, semakiin terasa. Ketika memasuki usia SMP (sekitar 13 atau 14 tahun). Papa dan saya tidak lagi jualan es lagi. Saya bersyukur untuk papa saya, sekalipun keadaan kami sangat sederhana, tetapi dia berkorban luar biasa dan terus berusaha supaya kami bisa tetap mengenyam pendidikan di sekolah yang bagus. Kami ada empat bersaudara dan semuanya lulus di sekolah favorit di Pontianak.
 YES : Apakah setlah itu, masih jualan es lagi?
SMD:
Setelah, tidak lagi berjualan di pelampung, saya membantu papa berjualan es cincau. Seporsi es cincau, kami mendapat keuntungan hanya sekitar Rp. 50 saja. Memasuki bulan puasa, kami berjualan dengan menggunakan gerobak, dan mangkal di tepi jalan.
Memasuki usia pemuda dan bersekolah SMA, saya membantu papa berjualan buah di kaki lima pasar Mawar, Pontianak. Yang menyedihkan, karena kami berjualan di dekat.tempat pembuangan sampah Pasar Mawar, tentunya bisa dibayangkan bagaimana keadaannya, sangat tidak hiegenis. Apalagi jika sudah musim buah durian, sang berbau. Karena saking banyaknya sampah durian yang menumpuk sehingga kami terpaksa berjualan di atas timbunan sampah. Hal ini berjalan cukup lama, beberapa tahun, sampai akhirnya TPS itu dipindahkan dan pasar Mawar dibangun kembali, seperi keadaan sekarang ini. 
Ketika hampir tamat SMA, saya memiliki kerinduan supaya orang tua saya, tidak lagi perlu bekerja.  Karena saya kasihan dengan mereka. Jika dilihat dari wajah mereka, justru di masa tuanya sekarang, bisa nampak lebih muda daripada dulu, ketika masa muda, karena ketika masih muda, orang tua saya bekerja sangat keras untuk menghidupi keluarga.  Tapi puji Tuhan, kerja keras mereka ada hasilnya juga.  Dari hasil jual buah, saya bisa kuliah dan orang tua saya bisa pensiun, menikmati masa tuanya.  
YES : Bagaimana kehidupan Anda pada waktu kuliah dan setelah selesai kuliah, pak?
SMD:
Setelah selesai kuliah, saya masih belum bertobat dan mengenal Tuhan.  Sekalipun saya bersekolah di sekolah Katolik dari sejak TK, namun saya masih belum mengenal Kristus. Saya memang siring mengikuti kebaktian di gereja dan sekolah minggu, tapi itu dilakukan dengan motivasi yang kurang benar, seperti hanya untuk memenuhi kewajiban dari sekolah, cari teman, dll. Bahkan ketika saya kuliah, itu lebih parah lagi. Saya sama sekali tidak lagi pergi ke gereja dan lebih mengikuti kepercayaan tradisi kebudayaan. Seiring dengan proses yang saya alami, karena bekerja keras, perokonomian pun semakin membaik. Bukankah Tuhan juga berkata bahwa orang yang bekerja, layak mendapat upahnya, sekalipun orang itu belum mengenal-Nya? 
Setelah selesai kuliah, pada tahun 2002, saya menikah dengan seorang gadis, yang sampai saat ini menjadi istri saya tercinta. Saya menikah dalam keadaan belum bertobat. Karena kekurangan dana untuk menikah, saya ikut arisan Tiong Hoa.  Dari arisan itu saya memperoleh uang Rp. 45 juta. Tapi saya menggunakan uang itu untuk membangun rumah saya yang masih kumuh saat itu. Dengan perhitungan seorang tukang bangunan, uang itu cukup untuk merenovasi rumah saya. Diperlukan waktu satu bulan dalam proses renovasinya. Tetapi akhirnya biaya renovasinya “membengkak”, sampai kisaran Rp.  90-an juta. Diperparah lagi dengan biaya untuk menikah. 
Kami mengadakan repsepsi pernikahan di sebuah hotel ternama di Pontianak, maka biaya yang saya butuhkan semakin membengkak. Akhirnya pendapatan dari hasil jualan buah, saya gunakan untuk membayar semua biaya itu. Tetapi itu masih belum cukup. Saya berhutang kepada orang sampai mencapai ratusan juta rupiah. 
Tetapi karena masih ada jualan buah, akhirnya kami cicil semua hutang itu. Sampai ketika kami mempunyai anak pertama, masalah lain, yang tak kalah sulitnya, mulai timbul. Kami menikah dalam keadaan belum siap secara mental, maka sering mengalami cek cok suami-istri, terutama karena masalah anak. Diperparah lagi dengan rewelnya anak kami. 
Rewelnya anak kami, istilah orang Khek disebut “ma’ to”.  Jadi jika ada orang yang meninggal, kita lewat di depan tempat persemayamannya, atau melayat ke tempat orang meninggal, pasti anak ini akan rewel, menangis, sampai tidak bisa tidur, baik anak itu, juga kami. Sedangkan kami setiap jam empat subuh sudah harus ke Pasar, mengurus jualan buah kami. Kami sangat stress dan jengkel  dengan keadaan anak ini. Satu-satunya cara untuk menenangkannya, jika sudah mulai rewel, kami harus mengajak anak ini keliling dengan motor, tidak boleh ada di rumah. 
Kami berusaha menyembuhkan anak ini dengan memanggil “orang pintar” (dukun). Orang pintar ini memberikan mantra. Dengan mantra dan memandikannya,, anak ini bisa tenang, tapi hanya bertahan sekitar satu sampai dua minggu. Setelah itu, datang lagi “penyakitnya” ini. Ini terjadi berulang-ulang terus meneruss. Kami sangat stress mengahdapi situasi ini, sampai kami berlangganan dengan “orang pintar” itu. Setiap kali mulai ada gejala seperti itu, saya langsung menghubungi “orang pintar” itu. 
YES : Selain pernah menggunakan jasa “orang pintar”, apakah Anda pernah terlibat dosa-dosa lainnya?
Sumadi(SMD):
Ada. Saya juga memiliki emosi yang tidak baik, cepat marah. Kesukaan saya adalah dugem (dunia gemerlap). Saya suka ke diskotik, karaoke, judi, nonton film porno, perzinahan, onani dan terikat narkoba. Sejak kuliah saya sudah terikat narkoba, sekitar tahun 2000. Bahkan setelah menikah, saya masih menggunakan narkoba secara “curi-curi”.
YES : Masih ada kelanjjutan proses lainnya?
SMD:
Setelah saya mengalami proses seperti itu, timbul lagi masalah lainnya, yaitu sakitnya mama saya dan harus diopname di rumah sakit. Ini sekitar tahun 2004. Penyakit yang didiagnosa dokter adalah ada penyempitan pergeseran tulang belakang. Penyakit ini menyebabkan mama susah untuk berjalan (lumpuh) dan menangis terus di pembaringannya. Setelah keluar dari rumah sakit, mama bilang bahwa dia tidak mau hidup lagi.   
YES : Bagaimana ceritanya sampai Anda bisa mengenal Yesus?
SMD:
Awal proses yang membawa saya mulai mengenal Yesus dimulai dari ketika saya sempat mengembangkan usaha dengan membuka sebuah toko ATK di Pasar Melati, Parit Baru. Usaha ATK itu berjalan sekitar empat tahun (th 2000-th 2004). Ketika itu, saya sering diinjili hamba-hamba Tuhan. Mereka sering membeli ATK di toko, sambil menceritakan tentang Yesus. 
Awalnya saya hanya diam saja, kurang meresponi. Tetapi ternyata seorang karyawan saya, mulai percaya dan ikut ke gereja. Akihrnya dia masuk Kristen. Mula-mula, karyawan saya itu menuliskan firman Tuhan di kertas dan sengaja ditaruh di meja saya. Saya membacanya, tetapi tidak memberikan respon apapun. Kejadian ini terus berlangsung sampai ketika saya menutup toko itu, di tahun 2004, karena sakitnya mama.
Sampai suatu ketika, beberapa tahun kemudian, secara tidak sengaja, saya berjumpa kembali dengan seorang gadis hamba Tuhan, yang sering memberitakan injil di toko itu. Ketika itu, gadis ini, dengan berjalan kaki, sedang melintasi depan rumah saya, bertemu dan dipanggil oleh papa. Padahal  gadis itu tidak tahu dimana rumah saya. Saya percaya, ini pasti rencana Tuhan.
Secara luar biasa, papa bisa meminta gadis itu untuk mendoakan istrinya (mama) yang sedang sakit. Padahal sebenarnya papa tidak suka dengan gadis ini, karena sering memberitakan injil di toko. Akhirnya mama didoakan dan dihibur oleh gadis itu. Dia berkata bahwa di dalam Yesus, ada pengharapan. Awalnya hamba Tuhan ini hanya datang sendiri, tetapi ketika mengunjungi kami kembali, dia mulai membawa teman-temannya. Semain sering dia datang dan semakin banyak teman yang dia bawa. 
Suatu ketika, gadis hamba Tuhan ini, minta kami untuk mulai wa mama ke gereja. Kami mulai membawa mama ke gereja. Saat itu, saya sudah mulai terjun ke bisnis jual-beli mobil, tetapi masih dalam skala kecil, maklum, baru mulai. Ketika mengantar mama beribadah, saya tidak mau masuk. Sampai suatu saat, secara ajaib mama mulai pulih kesehatannya. Mama terus didoakan, sambil terus menjalankan terapi. Puji Tuhan, akhirnya mama sembuh total.
YES :  Apakah Anda langsung percaya Yesus, setelah melihat kesembuhan mama?
SMD:
Belum. Saya masih bandel dan belum mau bertobat serta percaya kepada Tuhan Yesus. Jika sudah sembuh, ya sudahlah. Kejadian dahsayt ini, “lewat” begiitu saja dalam hidup saya. Temperamen saya juga masih tidak baik, pemarah. Saya berpikir, kalau bekerja seperti ini terus, mau sampai kapan baru bisa sukses. Harta saya miliki, tetapi saya tidak memiliki kedamaian dan ketentraman hidup. Emosi yang juga semakin tidak terkendali. Keadaan keluarga juga hanya “begini-begini” saja, anak sering sakit dan uang banyak habis untuk berobat saja. 
YES : Jika demikian, kapan saat Anda mulai mengalami proses kelanjutan untuk mengenal Yesus?
SMD:
Sampai suatu saat, Tuhan mulai melakukan rencana-Nya untuk memulihkan kami sekeluarga. Saat itu, papa pergi ke luar negeri. Pulangnya, papa singgah di Jakarta. Adik saya menghubungi seorang hamba Tuhan dari sebuah gereja besar di Jakarta, dan hamba Tuhan ini ikut papa pulang ke Pontianak. Hamba Tuhan ini bermalam di rumah kami, walaupun pada saat itu, rumah kami bukanlah rumah yang bagus. Tiga hari dua malam, hamba Tuhan itu bermalam. 
Selama bermalam, beliau teruws menceritakan tentang kebaikkan Tuhan Yesus. Hingga hari terakhir, sorenya hamba Tuhan ini akan kembali ke Jakarta, tetapi siangnya, mama yang sudah mulai percaya, dan adik saya, mengambil keputusan untuk dibaptis. Sedangkan saya masih bingung. Saya menelepon istri saya, untuk menanyakan pendapatnya tentang hal ini. Istri nampaknya kurang setuju. Dia menganjurkan supaya saya memikirkannya kembali. Saya berkata, jika ada orang yang mengajak saya melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti  judi, diskotik, karaoke, narkoba, saya tidak pernah menolaknya, masakan ada orang yang mengajak untuk hal-hal yang baik, harus saya tolak? “Lalu kenapa saya tidak coba untuk ikut Yesus”, pikirku. 
Saat itu, tidak ada lagi yang bisa merubah hidup, sikap dan temperamen saya yang keras. Tapi mungkin Yesus bisa. Akihirnya saya, berkomitmen untuk mengikuti Yesus. Saya mengetuk kamar hamba Tuhan itu, dan menyatakan mau menerima Yesus dan dibaptis. Hamba Tuhan itu, langsung berdiri, mengangkat tangannya dan mengucap syukur kepada Tuhan. Dia langsung bernubuat untuk saya. Dia berkata bahwa Tuhan akan memakai saya secara luar biasa. 
Lalu kami dibaptis pada tahun 2006. Baptisan itu berlangsung luar biasa pula. Kami sekeluarga dibaptis di dalam kamar mandi (WC). Satu per satu kami “dicelupkan” dalam bak mandi berukuran 1m x 50 cm. Bagi saya, ini merupakan pengalaman baptisan yang luar biasa. 
YES : Puji Tuhan, pengalaman yang dahsyat! Sebelumnya Anda mengatakan pernah menggunakan jasa “orang pintar”, apakah pernah terlibat okultisme, yang lebih mendalam? 
SMD:
Dulu saya sering menggunakan kuasa kegelapan (okultisme). Sekalipun pada waktu itu, kami berpikir bahwa kuasa-kuasa itu, kami pergunakan untuk Tuhan, padahal bukan. Sepertinya menyembah Tuhan, padahal bukan. Ketikamengunakan kuasa-kuasa kegelapan itu, banyak pantangannya. Tidak boleh terkena sesuatu, tidak boleh dibawa ke WC, tidak boleh makan ini...itu..., dll. Saya juga mengenakan dan menggunakan jimat-jimat, seperti cincin. Tujuannya supaya saya memiliki karisma, dll. Semuanya saya gunakan. Jadi rumah saya penuh dengan jimat dan mantra. Jika jimatnya sudah tidak mempan, saya ganti lagi dengan jimat yang lain. 
Tetapi ketika saya dibaptis, saya meraakan ada pembaharuan dalam hidup saya. Ternyata Yesus adalah Tuhan yang sanggup mengubahkan saya. Dia Tuhan yang Maha hadir. Bahkan di WC sekalipun, Dia ada. Dialah Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan Maha Kuasa. Kami bergabung deengan sebuah gereja di Pontianak. Sekalipun letaknya jauh, tetapi kami tetap beribadah di gereja itu. Itulah kasih mula-mula.
Sekitar dua tahun kemudian, pertengahan tahun 2008, kami bergabung dengan Psalm 21 Successfull Community dan mengalami pemulihan yang lebih lagi. Tetapi saya masih bergumul untuk istri, karena dia belum percaya 100%, ketika itu. Puji Tuhan, suatu saat istri saya berdoa, “Yesus, jika Engkau mau isaya ikut Engkau, bukalah jalan bagiku.” Halangan terbesar adalah dari bapak mertua saya, yang melarang istri untuk bertobat. Bapak mertua adalah seorang dukun (orang pintar). Kakak-kakak ipar saya mengatakan kepada istri, “Terserah kamu lah.” Akhirnya istri mengambil keputusan menerima Yesus, dan dibaptis. 
YES : Haleluyah! Bagaimana proses selanjutnya?
SMD:
Kami sudah seiman, tetapi masih ada tantangan yang kami hadapi. Sudah percaya Tuhan, tetapi kan hutang masih harus dibayar? Suatu saat saya berdoa, “Tuhan, kami adalah anak-Mu. Dan Engkau tidak pernah mempermalukan kami. Kami masih memiliki hutan sekian ratus juta, tolong kami, berilah jalan bagi kami untuk bisa melunasi hutang ini. 
Setalah menyerahkan hal ini kepada Tuhan, herannya, berkat-berkat mulai mengalir. Setiap hari saya selalu menghitung pendapatan saya dan selalu disisihkan untuk membayar hutang setiap dua minggu atau satu bulan. Anehnya,setiap kali menghitung pendapatan, selalu ada uang yang lebih. Saya heran, uang yang lebih itu darimana asalnya, saya tidak tahu. Istri saya berkata, “Mungkin saya salah catat kali.” “Mungkn saja,” Jawabku. Tapi saya percaya, inilah salah satu cara Tuhan untuk membantu melunasi hutang.  
Haleluyah, dengan berjalannya waktu, akhirnya hutang itupun lunas. Satu per satu masalah mulai terselesaikan. Keluarga pun semakin harmonis. Kami mulai memiliki anak kedua dan ketiga. Mereka tidak lagi rewel, ada apa-apa tinggal kami doakan dalam nama Yesus. Disinilah kami melihat bahwa kuasa Tuhan Yesus, luar biasa. Dialah “mantra di atas mantra”, lebih dahsyat! Benturan-benturan alam keluarga pasti ada, tetapi selalu ada jalan keluar untuk menyelesaikannya. Semua masalah itu dapat diselesaikan dengan selalu memuji Tuhan, berdoa dan bersekutu bersama dalam mezbah keluarga. Setiap malam kami sekeluarga doa bersama.  
YES : Bagaimana proses bisa memiliki rumah yang megah ini, sampai bisa bisnis di mobil?
SMD:
Suatu saat, kami memiliki sebuah impian, punya rumah baru, karena rumah lama kami, yang kami huni saat itu, tidak memiliki sertifikat, karena rumah itu awalnya adalah rumah kumuh yang didirikan di atas tanah milik negara. Saya merindukan memiliki rumah yang ada bathtub. Kami terus mendoakan semua impian ini. Tetapi justru Tuhan menjawab doa kami dengan cara lain, cara yang unik.
Tahun 2009, ada sebuah developer, yang ingin membangun ruko di daerah tempat tinggal saya itu. Salah satu syarat untuk mendapatkan kucuran pinjaman dana dari bank, harus ada akses jalan yang lebar, sesuai standar yang ditetapkan bank. Akses jalan di tempat tinggal kami itu sempit, jadi harus diperlebar, menjadi minimal 5 meter.
Pada waktu itu, bisnis jual beli mobil sudah saya jalankan, tapi masih dalam skala kecil. Saya mendapatkan surat edaran dari developer tersebut, mengenai teras rumah yang harus segera dibongkar, untuk pelebaran jalan. Jadi, kami berdoa untuuk bisa mendapatkan rumah bersertifikat, yang memiliki bathtub, tapi jawaban-Nya adalah rumah tempat tinggal kami waktu itu, malah harus dibongkar terasnya. Sepertinya kontradiksi, tetapi sebenarnya tidak. 
Akhirnya kami mengadakan pertemuan dengan pihak developer. Karena rumah kami tidak memiliki sertifikat, tetapi jika kemi merelakan teras rumah dibongkar untuk pelebaran jalan, maka rumah kami tidak akan dibongkar keseluruhannya. Sempat terjadi keributan,m karena kami tetap bertahan, tidak menyerahkan teras rumah untuk dibongkar. Seluruh pemilik rumah di deretan itu, menunjukk ke saya, karena rumah kami berada di deretan paling depan. Mereka berkata  bahwa jika rumah saya yang ada di deretan terdepan dibongkar terasnya, maka yang lainnya akan mengikuti. Developer menggunakan segala cara untuk mempengaruhi saya. Mereka menggunakan jasa  keplosian dan pengacara. Mereka juga tidak segan-segan menggunakan preman-preman untuk menekan saya. Jadi saya terus diintimidasi dan diancam. 
Hingga suatu hari, tetangga saya menyerah dan merelakan teras rumahnya dibongkar, dengan ganti rugi yang sangat kecil, tidak sesuai. Kami sekeluarga berunding, jika kita tidak menyerahkan teras rumah dibongkar, maka rumah kita ini bisa dibongkar paksa, karena tidak bersertifikat, wah nanti susah. 
Akhirnya Tuhan mempertemukan saya dengan bos pemilik developer itu. Jadi kami bersepakat, teras rumah kai boleh dibongkar dengan ganti rugi sepantasnya. Setelah Ruko dibangun, maka kami dijinkan untuk membangun kembali teras rumah kami. Jadi ini hanya semacam trik untuk mendapatkan kredit dari bank.  Selain itu, rumah kami juga dironavasi, dibangun kembali denagn beton (sebelumnya hanya kayu). Ganti rugi yang kami terima, jika dibandingkan dengan tetangga lain, bisa berkali-kali lipat. 
Kami tetap memiliki kerinduan untuk memiliki rumah impian seperti yang saya saksikan di atas. Dengan uang yang berlebih, saya mulai brgerak dalam usaha kaplingan tanah. Puji Tuhan, kaplingan itu laku, tetapi uang saya “dimakan” oleh teman saya sendiri, yang bagian menagih cicilan pembelian tanah dari pembeli. Saya merugi puluhan juta rupiah. 
Namiun akhirnya saya menemukan sebuah rumah, yang menyerupai impian saya, yaitu rumah tinggal saya sekarang ini. Awalnya kami suami-istri datang meninjaunya, langsung terasa cocok. Tanpa membesarkan kemampuan kami, semuanya bisa kami miliki karena Tuhan. Tuhan menjawab doa kami secara luar biasa, sekalipun cara-Nya unik, yaitu melalui suatu masalah, kami justru diberkati. Dengan kesetiaan dan ketaatan, kita bisa mmuliakan Tuhan. 
Rumah ini dibuka dengan harga Rp. 1,5 M. Setiap minggu, sepulang dari ibadah di Psalm 21,  saya membawa keluarga melewati rumah ini. Saya selalu berkata dengan iman kepada istri dan anak saya, ini rumah kita. Mama menertawakan saya, dia berkata, “Kamu belinya pake uang apa? Rp. 1,5 M lho?” 
Saya tetap yakin bahwa Tuhan akan memberikan rumah itu. Saya memberanikan diri untuk menawar rumah itu. Akhirnya setelah tawar-menawar, disepakati harga Rp. 1,35 M. Karena rumah ini dimiliki oleh sebuah yayasan, maka diperlukan proses untuk pemberesan administrasi surat-menyurat-nya. Sebenarnya sudah banyak orang menaksir rumah ini, karena luas dan terletak di tepi jalan yang ramai, sangat baik untuk bisnis. Bahkan ada yang berani membayar ratusan juta lebih banyak dari harga yang kami putuskan. Ada juga yang berani memberikan bonus, untuk mendapatkan rumah ini. Ada seorang calon pembeli yang berani membayar saya Rp. 150 juta, untuk mendapatkan rumah ini. 
Anehnya, ketua yayasan pemilik rumah, tetap memutuskan hanya menjual rumah ini kepada saya. Keluarga istri saya sempat mmberikan masukan. Mereka bilang bahwa saya harus waspada, jangan-jangan rumah ini ada masalah, karena ada orang yang mau beli dengan nilai tinggi, tetapi pemilik rumah tidak mau menjualnya. Tetapi saya tetap pada keyakinan saya bahwa inilah mujizat Tuhan. Ada orang yang mau beli dengan harga mahal, pemilik rumah tidak mau menjualnya. Tetap mau menjualnya pada saya. Inilah kuasa-Nya yang ajaib.
Enam bulan kemudian, masih tidak ada perkembangannya. Saya menelepon pemiliknya dan menanyakan hal ini. Rupanya pemilik rumah mengira saya tidak jadi membelinya. Saya katakan bahwa saya tetap serius dengan kesepakatan harga yang telah ditetapkan.  Notaris yang ditunjuk pemilik mengatakan bahwa berdasarkan NJOP Rumah, sebenarnya harga rumah ini di atas Rp.2 M. Namun saya tetap memegang kesepakatan harga yang telah diputuskan sebelumnya yaitu Rp.1,35 M. Lalu saya berkata,  “Saya serahkan semuanay kepada Anda, sekarang tergantung Anda saja.” 
Setiap malam saya mengajak istri dan anak-anak berdoa, “Tuhan, jika memang rumah ini yang Engkau berikan kepada kami, bukalah jalan bagi kami, tetapi jika bukan kehendak-Mu, biarlah Engkau menutup semua jalannya. Kalau bukan kehendak-Mu, rumah ini tidak jadi dibeli juga tidak apa-apa.” Tetapi  dalam kejadian-kejadian berikutnya, Tuhan membukakan jalan yang luar biasa!
Seminggu kemudian, pihak yayasan menelepon saya. Mereka langsung meng-OK-an. Kami langsung mengadakan transaksi. Puji Tuhan! Tetapi masih ada masalah lain. Uang yang sudah saya sediakan, sudah terpakai untuk inves di usaha jual-beli mobil dan saham, jadi saya mengajukan pinjaman ke sebuah bank swasta. Kredit saya disetujui, tetapi kucuran dananya tidak sesuai, tidak mencukupi. Akhirnya pihak penjual protes, jika saya tidak ada uang cukup, batal saja.
 YES: Tetapi rumah ini tetap dibeli? Bagaimana Anda bisa mendapatkan uang untuk membeli rumah ini, pak?
SMD:
Tuhan menggerakkan hati saya untuk menceritakan hal ini kepada seorang teman hamba Tuhan dari Jakarta. Teman itu bersedia meminjamkan uang kepada saya, tetapi saya katakan akan berunding dulu dengan istri. Akhirnya kami bersepakat, untuk menerima pinjaman itu, sebesar Rp. 600 juta. Dengan una pinjaman itu, ditambah dengan uang kami suami-istri dan bantuan dari orang tua, akhirnya kami beli rumah itu, kontan.
Masalah berikutnya adalah, saya harus mengembalikan pinjaman Rp. 600 juta itu. Tidak lama kemudian, tiba-tiba ada orang yang memperkenalkan seorang teman yang bekerja di sebuah bank, dimana bank itu sedang ada promo kredit rumah murah. Kreditnya jauh lebih murah dari kredit dari bank tempat kami mengajukan kredit sebelumnya. Bahkan dengan bunga flatt, selama 5 tahun. Saya belum pernah menemukan ada bank yang bisa membrikan pinjaman semudah ini, dengan kredit yang murah dan bunga 7,8% flatt! Di bank lain biasanya kredit dengan bunga flatt, hanya berlangsung maksimal 2 tahun, setelah itu bunga pinjaman akan kembali tinggi. Inilah jalan Tuhan yang dahsyat! 
Dua minggu kemudian, dengan kucuran dana pinjaman dari bank ini, saya gunakan untuk membayar hutang kepada teman hamba Tuhan itu. Saya sudah berjanji kepada Tuhan bahwa rumah ini akn menjadi berkat dan saya akan bersaksi akan kebesaran Tuhan. 
YES : Setelah memiliki rumah, bagaimana dengan showroom ini?
SMD:
Setelah punya rumah, saya bisa mengoptimalkan usaha saya dalam jual-beli mobil. Saya membuka showroom mobil di rumah saya. Jika ditanya darimana modalnya, saya sendiri juga binggung. Tetapi yang pastinya, bahwa Tuhan sungguh-sungguh mengangkat kita menjadi kepala. Saya berdoa, bahea saya mau usaha saya ini bisa menjadi berkat bagi orang lain. Puji Tuhan, melalui tempat ini, sudah banyak jiwa yang dimenangkan untuk Tuhan. Sampai sekarang sudah terhitung beberapa keluarga yang bertobat, bahkan sampai tukang yang mengecat rumah ini dan keluarganya pun, bertobat. 
YES : Puji Tuhan! Jadi ukuran keberhasilan itu bukan harta yang dimiliki, tetapi bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dan memenangkan jiwa bagi Dia. Apa ada Firman Tuhan yang menjadi pegangan bapak dalam berbisnis?
SMD:
Firman Tuhan yang menjadi pegangan saya, untuk menjalankan segala bisnis saya adalah Mazmur 1:1-3, yang berbunyi, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”
YES : Sebelum kita menutup perbincangan ini, adakah kiat-kiat yang bisa disampaikan bagi pembaca Psalm 21 Magazine, supaya para pembaca pun bisa mengalmi sukses di usia muda seperti Anda?
SMD:
Saya percaya, jika kita setia melakuakn firman-Nya, Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Saya merangkum Lima Prinsip untuk Sukses, yang selalu saya jadikan pedoman. Semua orang bisa sukses, karena sesungguhnya manusia diciptakan untuk sukses. Kelima prinsip itu adalah :
1.    Beriman lepada Tuhan Yesus. 
Mujizat ternesar dalam hidup saya, adalah ketika mengenal Yesus. 
2.    Bertobat dari segala dosa.
Setelah mengikuti Tuhan, saya berkomitmen untuk bertobat dari segala dosa. Saya menghancurkan semua kaset-kaset film porno, meninggalkan narkoba, judi, perzinahan, onani dan kehidupan malam. Saya bertobat dari segala dosa itu pada th. 2006. 
3.    Berani bermimpi. 
Dalam Yesus ada pengharapan. Dan pengharapan itulah yang menguatkan saya untuk berani bermimpi (maksudnya memilki impian untuk masa depan – red). Tapi impian kita, harus selaras dengan firman Tuhan. Inpian saya terbesar adalah saya mau seluruh kehidupan, bisnis, keluarga saya bisa menjadi berkat.
4.    Berani melangkah. 
Untuk mencapai mimpi itu. Jadi jangan hanya bermimpi saja. Iman tanpa perbuatan, hakekatnya mati. Dengan impian yang selaas dengan firman, dan kita melangkah bersama Tuhan untuk mencapai impian itu, maka saya yakin,  sukses sudah ada di hadapan kita. 
5.    Taat dan setia pada perkara kecil. 

Salah satu ketaatan kita adalah berkomitmen untuk melayani Tuhan, sesuai talenta kita. Itulah ssebabnya sampai sekarang, saya aktif melayani sebagai penyiar di Radio rohani, Radio Mazmur 21. Saya juga terlibat dalam komsel di rumah, setiap hari Rabu. Saya juga menyediakan kamar di rumah, untuk penginapan –hamba-hamba Tuhan, yang direkomendasikan gereja.
YES : Haleluyah! Apakah masih ada impian dimasa depan yang belum tercapai, tetapi Anda sedang menuju ke sana?
SMD:
 Saya rindu untuk membangun semacam mess khusus untuk penginapan hamba-hamba Tuhan. Saya yakin, jika Tuhan mengijinkan, dalam waktu lima tahun ini, impian ini bisa terlaksana. Saya juga memiliki kerinduan bersama istri, bisa melayani Tuhan dimana-mana.Mohon dukung dalam doa, untuk impian-impian ini. GBU
Demikianlah perbincangan kami. Saya yakin, para pembaca sekalian sangat diberkati Sekarang tiba saatnya, bagi kita untuk memprakktekkan kelima prinsip diatas.SUKSES! GBU
Penulis :YES


Copas : edy-fajarpengharapan.blogspot.co.id

Kamis, 10 Mei 2018

KISAH PERTOBATAN SEORANG GANGSTER BRUTAL ! MENJADI TERANG BAGI MASYARAKAT TERHILANG

Exclusive Interview with Niko Kilikily, sebuah kesaksian nyata
Tahun ini adalah tahun bagi kita untuk menjadi terang bagi sesama, terutama bagi masyarakat terhilang. Salah satu komponen yang termasuk di dalam katagori masyarakat terhilang adalah para gangster (preman), yang kerap kali berulah dan menimbulakn berbagai kesulitan. Banyak cap negatif yang diberikan kepada golongan yang satu ini. Tetapi bagaimana pun juga, mereka adalah manusia yang memiliki hak yang sama untuk diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka bisa diselamatkan, jika tidak ada yang melayani dan memberitakan Injil kepada mereka? Dan siapa yang melakukan pelayanan yangh penuh resiko ini, jika tidak ada yang terpanggil melakukannya.
Adalah Niko Kilikily, seorang mantan gangster brutal, yang bertobat. Suami dari Edita Erni, SH, terpanggil untuk melayani kaum terhilang ini. Dalam sebuah kesempatan, ayah dari Joanda KiliKily, Jesica Kilikily, dan Jordan Kilikily,menuturkan kesaksiannya melalui sebuah wawancara eksklusif dengan salah satu redaktur Psalm 21 Magazine, Yakobus Edy Susanto.
Dalam penyajian kali ini, kita akan melihat bagaimana sepak terjang pertobatan, perjuangan, pelayanan dan pekerjaan di dalam menjalankan panggilannya sebagai Pendeta dan Pengusaha bagi sekitar tiga ribu mantan gangster yang dibinanya saat ini, di Jakarta. Dalam kesempatan yang sama, direktur utama dari PT. Haltim Maining dan PT. Haltim Nusantara Perkasaini, membagikan kiat-kiat untuk menjadi sukses dalam pelayanan dan usaha.

Yakobus Edy Susanto (YES)   : Bagaimana ceritanya Bapak bisa mengenal Kristus, dan bisa kenal dengan pak Toni?
Niko Kilikily (NK)       :
Saya memiliki 7 saudara, empat diantaranya laki-laki. Keempat saudara yang laki-laki itu semuanya ganster. Saya memiliki 3 saudara perempuan, yang semuanya menikah dengan gangster. Itulah latar belakang saya sebelumnya. Saya sebenarnya sudah mengenal Tuhan pada Tahun 1992. Pada waktu itu, saya ada di Pontianak dan saya hampir saja membunuh seseorang, karena sebuah permasalahan yang terjadi.  Tetapi puji Tuhan, sebelum saya melaksanakan niat saya itu, seorang teman hamba Tuhan, bernama bp. Lambert Boseren, sempat melihat saya “ribut-ribut”. Singkat cerita, teman saya itu memperkenalkan saya dengan Tuhan Yesus. Saya memang sudah Kristen sejak lahir, tetapi saya belum mengenal Tuhan Yesus secara pribadi.
Teman ini juga yang membawa saya berkenalan dengan pak Tony. Beliau melayani dan mendoakan saya. Saya terkejut karena tiba-tiba, pak Toni meminta sebilah Mandau (pedang/senjata tajam Suku Dayak), yang saya sembunyikan di belakang. Saya heran, kenapa orang ini bisa tahu kalau saya membawa Mandau. Lebih heran lagi, pak Tony minta jimat berbentuk sebuah akar, yang saya sembunyikan di dompet.
Saya menyerahkan Mandau dan jimat itu kepada pak Tony. Pikiran saya waktu itu, wah orang ini sakti sekali. Jangan-jangan dia dukun. Tetapi, koq dukun bisa berbicara tentang firman Tuhan….?Tidak lama kemudian, baru saya tahu kalau orang ini adalah pendeta. Singkat cerita, saya bertobat, tetapi masih “TOMAT” (setelah TObat, kuMAT, lagi).
Setelah saya kembali ke Jakarta, karena tidak ada yang mentoring, saya balik lagi ke kehidupan lama. Usia pertobatan saya hanya berkisar 6 bulan saja, sebelum saya kembali dalam kehidupan duniawi yang makin parah. Ketika teman-teman saya mendengar saya di Jakarta, saya kembali diajak untuk menjadi preman lagi dan  melakukan pekerjaan-pekerjaan sepertidebt collector (penagih hutang). Untuk pertama dan kedua kali, masih saya tolak. Tetapi ketika saya ditawarkan yang ketiga kali, saya tergiur untuk melakukannya, karena jumlah tagihannya besar. Ketika saya mencobanya, saya berhasil. Justru karena keberhasilan inilah, awal kejatuhan saya. Untuk itu, jangan kita coba-coba melakukan dosa. Ini adalah hal yang berbahaya. Akhirnya, semakin hari, saya semakin jauh dari Tuhan. Saya merasa angkuh, sudah memiliki uang banyak dan tidak butuh Tuhan lagi.

YES :Tadi Bapak katakan, hampir membunuh orang. Sebagai gangster, apa Bapak memang pernah membunuh?
NK :
Yang berhadapan langsung, saya hitung sudah 12 orang, yang saya bunuh. Tapi tidak terhitung lagi yang pernah saya bunuh ketika terjadi tawuran, kerusuhan dan keributan besar. Pada tahun 1994, saya ada suatu eksekusi tanah di daerah kavling Polri, Jelambar, Jakarta Barat. Saya mengadakan negosiasi dengan pihak lawan, tetapi mereka tidak mau diajak negosiasi. Akhirnya terjadi bentrok fisik dan saya jatuh dalam dosa pembunuhan lagi. Saya membunuh kepala gengsternya sampai tewas di tempat.

YES : Maaf pak, Anda pernah masuk penjara?
NK :
Saya pernah ditahan, tetapi selalu bisa keluar lagi.Peristiwa pembunuhan di atas sempat membuat saya di tahan di Polres Jakarta Barat. Saya berasal dari keluarga pengacara. Ayah saya juga seorang pengacara. Karena ayah saya dekat dengan Kapolres, maka beliau memohon supaya saya dilepaskan. Ketika saya dilepaskan, bukannya bertambah baik, malah saya bertambah jahat.

YES : Saya dengar, Bapak pernah bergabung dengan bang Hercules?
NK :
Saat di penjara itulah, saya bertemu dan bergabung kembali dengan bang Hercules. Anda tentunya tahu siapa Hercules itu. Sebelumnya dulu saya sudah sempat bergabung dengan beliau, tetapi kemudian berpisah. Bang Hercules meminta saya bergabung kembali, karena mendengar peristiwa yang saya alami itu. Setelah bergabung kembali, saya menjadi salah satu tangan kanannya.
Waktu itu, saya hidup dengan kelompok bang Hercules, di daerah Tanah Abang. Kehidupan saya semakin jauh dari Tuhan. Hampir tiap hari, saya menumpahkan darah orang yang tidak bersalah. Senantiasa ribut setiap hari.
Suatu ketika, Tuhan ijinkan saya mengalami keributan dari pukul 09.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Akibat dari keributan itu, kantor kecamatan Tanah Abang dibakar. Saya yang memimpin kerusuhan besar itu. Saya ditahan oleh bp. Sutiyoso, yang masih menjabat sebagai Pangdam Jaya, sebelum menjabat sebagai Gubernur DKI. Saya bersama 21 anak buah ditahan di Kodam Jaya. Setelah ditahan, saya minta bantuan lagi kepada ayah saya supaya dilepas. Ketika dilepas, saya bertambah semakin jahat lagi. Saya kembali menjalankan profesi saya, mengeksekusi sebidang tanah di daerah Gatot Subroto, Jakarta.

YES : Selain membunuh dan membuat keributan, kejahatan apa lagi yang pernah Bapak lakukan sebagai gangster?
NK :
Kehidupan yang jahat seperti ini, terus berlanjut. Selain sebagai gangster atau preman, saya juga pecandu berat obat-obat terlarang, khususnya jenis ekstasi, shabu-shabu dan heroin. Setiap hari Minggu, tidak pernah lagi saya ke gereja, tetapi di diskotik. Dari satu diskotik, ke diskotik yang lain. Saya merasa bahwa saya bisa hidup sampai saat ini, karena kekuatan dan kepintaran saya sendiri.


YES : Bagaimana proses pemulihan yang Bapak alami, sehingga bisa kembali kepada Tuhan?
NK :
Akhirnya saya menyadari bahwa kehidupan seperti yang saya jalani adalah salah. Yeremia 17:5 berkata, "…Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” dan ayat 7 berkata, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.”
Tuhan menegur saya melalui ayat-ayat ini. Saya yakin, saat itu adalah waktu dari Tuhan bagi saya, untuk bertobat. Setelah ayat-ayat ini menegur saya, sebuah peristiwa tragis yang membawa saya untuk kembali pada Tuhan terjadi.

YES : Peristiwa tragis apa Pak?
NK :
Ketika itu, seorang teman, yang juga pernah menjadi pilot pribadi orang terkemuka di Indonesia, memberikan saya ekstasi. Saya mengalami overdosis, karena selain menelan 7 butir ekstasi, saya juga sudah menikmati heroin dan shabu-shabu. Darah segar mengalir keluar dari hidung, telinga dan mulut. Seketika itu juga, saya dilarikan ke RSCM Jakarta. Ketika dalam kendaraan, saya merasakan hawa dingin yang perlahan-lahan naik dari kaki, sampai ke leher.
Ketika tiba di rumah sakit, sementara di infus, tiba-tiba saya teringat sebuah lagu sekolah minggu, yang berbunyi “Yesus..,Yesus…, dokterku yang baik, dokter dunia tak sama Dia, saya sakit, Dia sembuhkan, Yesus dokterku yang baik.”
Sementara lagu itu berdengung di hati, saya melihat bayangan dosa saya, ditayangkan lagi seperti film. Mulai dari dosa kecil seperti mencuri ayam, burung, sampai dosa besar, seperti narkoba dan membunuh. Ketika itu, saya sangat ketakutan, karena dalam kondisi demikian, jika saya meninggal, pasti masuk neraka.
Akhirnya saya menyanyikan lagu sekolah minggu yang terus saya dengar dalam hati saya itu. Seorang perawat, karena mendengar saya menyebutkan Yesus…Yesus, datang menghampiri dan bertanya apakah saya orang Kristen. Saya katakan, ”Ya”. Lalu saya minta perawat itu untuk mendoakan saya, karena mungkin sebentar lagi saya bisa meninggal.
Perawat itu pun mendoakan saya. Kemudian seorang dokter datang memeriksa nadi saya, dan dia berkata, ”Sebentar lagi.” Mungkin maksudnya sebentar lagi saya akan meninggal. Perawat itu masih berdoa. Ketika perawat itu selesai berdoa, dokter memvonis, bahwa saya tidak bisa ditolong lagi. Lalu saat itu, dengan sekuat tenaga yang tersisa, saya berteriak tiga kali berturut-turut, “Tuhan Yesus tolong saya!”Tiba-tiba mukjizat itupun terjadi.Sekitar sepuluh menit kemudian, rasa dingin yang sudah menyelimuti sekujur tubuh saya, perlahan-lahan mulai menghilang, diganti dengan rasa hangat. Akhirnya dingin itupun hilang sama sekali dan saya masih hidup sampai saat ini!
Saya memutuskan untuk bertobat, mengakui semua dosa saya dan kembali kepada Yesus. Pada saat itu, genaplah 1 Yohanes 1:9, yang berkata, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” dan Yesaya 1:18, “Marilah, baiklah kita beperkara! -- firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
Jadi, kita sangat berharga dimata Tuhan. Saya bersyukur memiliki Tuhan Yesus yang sungguh dahsyat dan penuh kasih. Seharusnya orang jahat seperti saya ini sudah black list di Surga, tetapi ternyata Dia masih mau menerima saya. Oleh karena kasihNya, masih ada anugrah keselamatan untuk saya.

YES : Setelah bertobat, apa yang Bapak lakukan kemudian?
NK :
Setelah bertobat, saya berpikir untuk menjadi jemaat biasa saja, datang beribadah di gereja, sebagaimana lazimnya orang Kristen. Tetapi ternyata itu tidak cukup. Tuhan mau yang lebih lagi. Dia mau saya menjadi hambaNya. Saya meresponi panggilan Tuhan ini dan Dia menaruh kerinduan untuk menjangkau preman-preman bagiNya.

YES : Bagaimana awalnya Bapak memulai pelayanan Bapak, menjangkau para preman?
NK :
Saya mulai bergerak, melayani para preman. Puji Tuhan, dimulai dari sebuah komunitas sel 2-3 orang yang saya bina, sampai saat ini sudah sekitar tiga ribu preman yang bertobat. Pada waktu itu, GBI Sungai Yordan Jakarta, sedang bergerak dalam JERUK (JEmaat RUkun Keluarga), kami pun melakukannya. Oleh karena itu, komunitas sel kami, disebut JERUK. Dimulai dari satu jeruk, sampai saat ini sudah mencapai sekitar seribu JERUK, dengan tiga ribu anggota. Target saya, pada tahun 2012 nanti, akan mencapai tiga ribu JERUK, setiap JERUK menjangkau 3-7 keluarga.
Dalam Amanat Agung, Tuhan mengatakan bahwa kita harus menjangkau jiwa sampai ke ujung dunia. Saat ini saya sedang membangun komunitas untuk menjangkau para preman di Amerika, tepatnya di Broklyn dan Arkansas. Semuanya untuk kemuliaan Tuhan Yesus.

YES : Ketika melayani Tuhan, tentunya banyak tantangan yang kita hadapi. Bisa Bapak ceritakan, tantangan apa saja yang dihadapi?
NK :
Banyak juga tantangan yang saya hadapi, ketika melayani seperti ini. Banyak orang tidak mau melayani hal ini. Mereka menganggap pelayanan seperti ini adalah pelayanan “buang uang”, “rugi”, dan harus memberi. Tetapi saya sudah siap dengan semuanya ini. Saya siap memberi hal yang paling berharga, yaitu diri saya sendiri, untuk pelayanan ini. Banyak hamba-hamba Tuhan saat ini, tidak lagi mencari domba yang sesat, tetapi mencari domba yang “lezat”.

YES : Selain melayani Tuhan dan akhirnya Bapak menjadi Pendeta, saya mendengar bahwa Bapakl juga adalah pengusaha?
NK :
Benar. Setelah saya memutuskan untuk terjun dalam pelayanan ini, Tuhan Yesus membukakan banyak hal untuk saya. Bukan hanya berkat rohani, tetapi juga berkat jasmani yang melimpah. Saya memang adalah seorang Pendeta, tetapi juga karena anugrahNya, saya juga diangkat Tuhan untuk menjadi Presiden Direktur dari beberapa perusahaan pertambangan. Puji Tuhan, karena campur tangan Tuhan, semua pertambangan yang saya kelola, dapat berjalan dengan baik. Dari hasil pertambangan inilah, saya mengembangkan pelayanan saya dan membiayai kehidupan ke-tiga ribu preman yang bertobat itu.

YES: Jadi, Bapak juga membiayai kehidupan para preman yang Bapak bina?
NK :
Selain saya menggembalakan para preman yang bertobat itu, saya juga membiayai kehidupan mereka. Karena dalam melayani para preman, kita tidak bisa hanya datang dengan Injil dan meminta mereka bertobat. Seperti pengalaman saya, ketika mengenal Tuhan pertama kalinya, saya kembali lagi ke kehidupan lama saya. Kita memang harus bertobat, tetapi perut kan perlu makan. Dan keahlian saya hanya premanisme. Jadi, itulah yang bisa saya kerjakan.
Saya mengambil hikmat di sini, jika kita mau membawa seorang preman bertobat, maka kita juga harus membawa mereka keluar dari kehidupan lama mereka. Perlengkapi mereka dengan keahlian dan carikan bidang pekerjaan yang baru. Jika tidak, maka kemungkinan besar, mereka akan kembali dalam kehidupan lama lagi.
Di antara para preman yang saya layani, ada sekitar 300-an jiwa, yang telah mengambil keputusan untuk melayani kaumnya. Mereka telah menjadi hamba Tuhan, dan sekitar 100 diantaranya, sudah saya bawa mengunjungi Tanah Perjanjian, Israel. Tujuan saya, selain untuk memberkati Tanah Perjanjian, juga supaya iman hamba-hamba Tuhan itu semakin dikuatkan, dan nama Tuhan dipermuliakan. Puji Tuhan, sampai saat ini, Tuhan terus melindungi kami dan pelayanan ini terus berkembang. Biarlah semuanya ini hanya untuk memuliakan Tuhan Yesus Kristus.

YES : Bagaimana Bapak bisa berjumpa dengan Pak Yos Lamel (Gembala Senior) dan bergabung dengan Sungai Yordan?
NK :
Setelah terjadi kerusuhan besar di Jakarta tahun 1998, saya kembali ke Pontianak. Pada kesempatan itu, saya berjumpa dan berkenalan dengan Pdt. Yos Lamel. Beliau mengetahui keberadaan saya dari Pdt. Rudy (Singkawang). Diutuslah bp. Sebastian Napitupulu, untuk mewawancarai saya bagi sebuah majalah, sekaligus juga mengajak saya bergabung dengan Sungai Yordan. Saya pun bergabung, dan sampai saat ini, Pdt. Yos Lamel, adalah bapa rohani saya.
Saya sangat bersyukur, memiliki bapa rohani seperti Pdt. Yos Lamel dan kakak rohani seperti bp. Budi, karena merekalah yang mensponsori saya kembali kepada Tuhan, mapan dalam pelayanan rohani dan kehidupan jasmani. Disinilah kita melihat bagaimana pentingnya kita dimontoring oleh seorang sponsor. Tanpa itu, bisa saja saya kembali jatuh.
Saya juga sangat bersyukur, bisa berjumpa dengan Pak Tony, Pak Lambert, Pak Rudy,Pak Edy dan rekan-rekan hamba Tuhan lainnya di Pontianak, merekalah yang memperkenalkan Yesus pada saya.

YES : Pak, saya pribadi tahu persis bagaimana kehidupan Bapak ketika masih bergelut di dunia gangster. Tapi keadaan Bapak saat ini sungguh terbalik. Bapak berhasil dalam pelayanan dan pekerjaan. Menurut Bapak, apa inti dari kesuksesan yang Bapak alami ini?
NK :
Intinya adalah tunduk kepada Tuhan dan gembala kita. Mazmur 133 dengan jelas menggambarkan hal ini. Selain tunduk kepada Tuhan, kita juga harus tunduk kepada orang-orang yang diberi otoritas di atas kita, misalnya orang tua kita, bapa rohani kita dan juga gembala, leader dan sponsor kita. Apapun yang mereka suruh, harus kita lakukan dengan taat. Sekalipun orang itu, kita anggap banyak kekurangan, tapi jika dia memiliki otoritas atas kita, maka kita harus taat kepadanya.
Mazmur 133 menjelaskan bahwa berkat Tuhan, mengalir dari imam. Jaman sekarang ini, Imam adalah gembala kita. Jika kita minta doa berkat kepada siapapun juga, tapi tidak tunduk kepada gembala, maka berkat itu tidak akan turun.
Ketika saya didoakan oleh Pdt. Yos Lamel di Israel, saya mendapatkan nubuat bahwa saya akan digunakan sebagai bendahara bagi Indonesia, saya akan menjadi konglomerat. Seketika itu juga saya rebah dalam roh. Setelah didoakan, saya langsung meresponi hal ini.

YES: Pak, Anda kan bergerak dibidang pertambangan, bisa Anda ceritakan, bagaimana bisa terjun dalam pertambangan?
NK :
Setelah didoakan di Israel dan kembali ke Indonesia, seperti air yang mengalir dari keran yang dibukakan, demikian juga berkat itu mengalir dalam kehidupan saya. Suatu hari, saya mengadakan doa puasa 3 hari dan 3 malam, di daerah Puncak. Setelah berdoa, Tuhan mengerakkan saya untuk mencari lahan tambang di Indonesia Timur (Maluku). Ketika berada di Maluku, Bupati di sana menyarankan saya untuk membuka lahan kayu saja, karena lahan tambang sudah penuh. Saya tidak putus asa, tetapi tetap berdoa. Tiba-tiba ada sepupu saya yang mengajak melihat sebuah lahan tambang nikel, milik sebuah perusahaan tambang. Ternyata setelah diselidiki, saya temukan masih ada sedikit lahan tambang tersisa di sana, yang belum digarap. Saya yakin, itulah tambang yang Tuhan kasih.
Saya mengusahakannya, dan hasilnya sungguh luar biasa. Karena hasil yang luar biasa itulah, banyak pengusaha tambang berebut untuk bisa bekerja sama dengan saya, mengelola lahan pertambangan itu.
Bermula dari tambang nikel itu, Tuhan terus membukakan yang lain. Sampai saat ini, selain tambang nikel itu, saya sedang mengelola dua pertambangan lainnya, yaitu batu bara dan emas. Total semuanya ada 3 tambang. Hasilnya kami ekspor ke Jepang, Tiong Kok dan Amerika.

YES: Semua hasilnya Bapak pergunakan untuk pelayanan?
NK:
Hasil pekerjaan saya ini, selain dipakai untuk kebutuhan kehidupan dan operasional pekerjaan, selebihnya digunakan untuk membiayai pelayanan-pelayanan.
Di Jakarta saya sudah membangun sebuah gedung untuk operasional pekerjaan dan pelayanan. Gedung itu bernama Kokan. Terletak di daerah Kelapa Gading. Perusahaan Pertambangan saya bernama : PT.Haltim Maining dan PT Haltim Nusantara Perkasa.

YES : Bisa Bapak ceritakan pengalaman spiritual lainnya yang Anda alami?
NK :
Pengalaman spiritual lain yang saya alami adalah ketika saya bertobat untuk kedua kainya. Saya sempat merasa kehilangan. Semua anak buah dan teman-teman meninggalkan saya. Dulu saya hidup berkecukupan, tetapi justru setelah bertobat, saya kekurangan uang. Teman-teman benci pada saya, karena saya bertobat. Saya sungguh jatuh miskin. Sangat miskin. Untuk beli obat dan jajan anak saja susah. Bisa saja saya menghubungi kembali pengusaha-pengusaha yang pernah saya layani dulu, tetapi saya tahu, itu semua kembali akan menjebak saya jatuh dalam dunia kejahatan.
Saya menganggap apa yang saya alami ini sebagai proses, sebagaimana yang dialami Sadrak, Mesak dan Abednogo. Tapi saya percaya Tuhan pasti menolong, asalkan kita tetap memuliakan Dia. Akhirnya Tuhan angkat saya lagi. Saya bisa berangkat ke Israel pertama kali, karena dibiayai.

YES: Pengalaman lainnya dalam pelayanan?
NK :
Dalam pelayanan, Tuhan lengkapi saya juga dengan karunia kesembuhan. Saya sudah berkotbah dan melayani di KKR-KKR, hampir di seluruh dunia. Dan Tuhan selalu menyertai dengan tanda-tanda mukjizat seperti orang lumpuh berjalan, tuli mendengar, bisu berbicara, dll.

YES : Terakhir pak, adakah kiat-kiat bagi kita untuk bisa mencapai kesuksesan?
NK :
Kiat-kiat sukses :
1.   Tunduk pada Tuhan dan Gembala/orang yang memiliki otoritas di atas kita.
2.   Miliki hati hamba.
3.   Dekat dengan Tuhan.
Saya menghimbau, semua pengusaha, lebih dekatkan diri lagi kepada Tuhan. Dalam bisnis yang saya geluti ini, tidak terhitung banyaknya halangan yang saya hadapi. Tetapi semuanya dapat diatasi hanya karena campur tangan Tuhan. Semua rencana kita, serahkan kepada Tuhan.


Saat ini Bp. Niko Kilikily & keluarga, Tinggal di daerah Kelapa Gading, Jakarta. Seluruh operasional pelayanan dan pekerjaan beliau, dikendalikan di sebuah gedung, bernama Gedung Kokan, yang dibangunnya di daerah Kelapa Gading. (Kesaksian  adalah kisah nyata dan sudah pernah dimuat dalam Psalm 21 Magazine edisi Paskah 2010)

Copas : edy-fajarpengharapan.blogspot.co.id