Selasa, 22 Mei 2018

AFFANDI : SELAMAT DARI BADAI LAUT, KINI TAK LAGI MAU BERONTAK SAMA ORANGTUA

Bapak-mama memberi namaku Affandi Panduwinata. Bagus sekali kedengarannya bukan? Tapi nama yang begitu terdengar indah itu tidak seperti yang banyak orang pikirkan. Aku adalah seorang pemberontak di rumah.
Bapakku yang super disiplin justru membuatku makin beringas. Bahkan karena tidak tahan dengan sikap bapakku, aku akhirnya sempat beberapa kali lari dari rumah. Namun, karena mama yang begitu gigih mencariku, aku pun kembali ke rumah.
Beranjak ke SMA, aku bergaul dengan teman-teman yang tidak baik dan di situ pun aku hidup seorang diri tanpa pengawasan orangtua. Mereka justru mengajakku untuk mencuri barang-barang berharga. Tawaran itu pun aku terima. Pada satu malam, aku dan teman-temanku akhirnya berhasil menggodol sebuah sepeda motor.

Motor yang berhasil kami curi ketika itu pun kami jual lagi. Betapa senang hati ini ketika aku menerima uang. Ada kebanggaan di hati ini bahwa bisa menghidupi diri sendiri tanpa bantuan bapak-mamaku.
Ditangkap Polisi
Meski selalu berada di luar rumah, aku tetap perhatian dengan mamaku. Makanya ketika aku mendengar bahwa mama sakit, aku dengar berbagai macam cara pulang ke rumah untuk menengoknya.
Saat berada di rumah orangtuaku, betapa kagetnya diriku ketika sejumlah polisi datang dan menangkapku. Begitu aku masuk ke mobil polisi, aku melihat temanku berada di dalamnya. Ia ternyata sudah lebih dahulu diringkus oleh pihak berwajib. Aku beserta temanku pun lalu digelandang ke penjara.
Tidak lama setelah aku ditahan, mama menjengukku. Betapa senang hati ini melihat mama. Namun, perasaan itu hanya sekejap saja setelah ia justru memojokkanku dengan kata-katanya. Ia sama sekali tidak membela aku dihadapan teman-teman, tetangga kami yang ada di luar. Seolah semua ini, aku yang salah.

Orangtua terutama mamaku tidak menyadari bahwa aku seperti ini karena mereka. Jadi, ketika mama berkunjung untuk kali kedua, aku tidak menjumpainya. Jujur, hatiku sudah sakit.
Terjebak di Laut
Hari-hari di penjara berakhir usai. Aku pun kembali bisa menghirup udara bebas. Keluar dari hotel prodeo, aku memperbaiki hidup sehingga bisa lulus SMA. Setelah lulus SMA, aku ikut saudara yang menawari untuk mengikutinya berlayar.
Di kapal itu, kehidupanku justru kembali kacau. Di dalam otakku hidup itu untuk senang-senang dan senang-senang itu untuk hidup.
Pada satu perjalanan, kapal kami terkena ombak di Laut China Selatan. Lebih tepatnya terkena angin taifun selama empat hari. Dalam kurun waktu itu tidak ada matahari keluar. Yang ada hanyalah hujan dan petir. Ombak itu bahkan mencapai ketinggian sekira 15 meter. Kami gak bisa minggir karena itu sama aja, di laut kami mati, mengarah ke daratan kami juga mati.
Akhirnya kami yang ada ambil keputusan akhirnya kita tetap di laut. Keadaan di dalam kapal benar-benar menyedihkan. Kehabisan makanan, banyak dari kami yang akhirnya muntah-muntah.

Di tengah situasi mengerikan seperti itu, aku teringat dengan segala perbuatan buruk yang pernah aku lakukan. Itu seperti diulang kembali. Tidak lama kemudian, aku mendengar suara sebanyak tiga kali, ‘Aku mengasihimu, Aku mengasihimu, Aku mengasihimu’. Dan itu tidak dengan suara audible, tetapi di hati.
Ingin Lebih Mengenal Tuhan
Saat mendengar kata ‘Aku mengasihimu’, aku merasakan damai sejahtera di hati. Kata-kata itu juga mengangkat harga diriku yang hancur. Aku merasakan diriku begitu berharga.
Sebuah janji pun kusampaikan dalam hati bahwa kalau aku bisa selamat dari bencana taifun ini, aku ingin mengenal Kristus, mengenal Yesus lebih dalam lagi.
Setelah taifun reda, aku pun kembali pulang ke Solo.
Di Solo, aku sempat bertemu dengan seorang teman dan dia pun menceritakan mengenai Tuhan Yesus. Dia pun mengutip sebuah ayat Firman Tuhan yang meneguhkanku yaitu bahwa “Akulah Jalan yang Lurus dan Hidup, tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”
Di saat temanku berbicara, aku disadarkan bahwa apa yang aku lakukan waktu dulu itu salah. Aku kemudian ambil keputusan untuk meninggalkan kehidupan lamaku seperti mabuk-mabukan, seks bebas, dan narkoba. Saat yang sama aku menyatakan bahwa aku percaya Yesus itu Tuhan yang benar, Yesus itu adalah Tuhan dan Juruselamat.
Rekonsiliasi dengan Orangtua
Perlahan tapi pasti, aku pun diajar untuk mengampuni orangtuaku. Aku menyadari bahwa orangtua itu pada hakikatnya beritikad baik untuk anaknya. Hanya ketika itu aku tidak mengerti apa yang menjadi kehendak orangtua. Aku justru melakukan pemberontakan.
Pada suatu hari, dihadapan bapak-mama, aku mengakui segala kesalahan yang aku lakukan selama bertahun-tahun dan meminta maaf kepada mereka. Sejak hari itu, saya semakin mengasihi orangtua saya, bahkan orangtua saya mengasihi saya juga.
Hidup Baru
Setelah percaya Tuhan dan hidup diberkati, aku mengambil keputusan untuk melayani Tuhan melalui pendidikan bersama dengan anak-anak. Mengapa aku melakukan itu? Karena aku tidak ingin apa yang aku alami zaman dahulu terulang kepada anak-anak dan aku ingin mereka mengenal Kristus dengan baik.
Aku mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang memberi kesempatan untuk melayani Tuhan melalui anak-anak. Aku percaya bahwa ini adalah hal luar biasa yang dipercayakan kepadaku dan hidupku kini bisa menjadi dampak bagi yang lain. Amin!
copas : www.jawaban.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar