Kamis, 02 Agustus 2018

BUTA AKIBAT SOFTLENS

Pada bulan Juli 2017 yang lalu, saya lupa tepatnya tanggal berapa. Saya liburan ke Bali. Saya tinggal di Medan. Saya pergi sendiri tanpa orang tua saya, hanya keluarga dekat saya saja yaitu Bou (Bibi *adik ayah kandung). Singkat cerita pada hari itu saya liburan seharian menggunakan softlens yang menyebabkan mata saya hampir mengalami kebutaan. Jadi waktu saya pergi jalan-jalan seharian saya menggunakan softlens tersebut hanya untuk membuat penampilan saya menarik. Karena saya mempunyai mata yang kecil dan sipit. Jadi saya memutuskan menggunakan softlens jika saya ingin berpenampilan lebih menarik, softlens itu hanya saya jadikan untuk fashion bukan karena saya mempunyai riwayat mata minus atau yang disarankan oleh dokter.
Sebelumnya, mama saya sudah sering memperingati saya agar tidak menggunakan softlens tersebut. Jadi, saat saya pada perjalanan pulang menuju tempat saya menginap saya merasa mata saya seperti berembun dan sangat perih. Karena saat itu juga saya tidak menetesi mata saya dengan cairan softlens tersebut. Alhasil mata saya pedih dan berembun, tapi saya tidak ambil pusing. Saat itu juga saya langsung membuka softlens saya karena keadaan jalan yang macet jadi saya membukanya saat itu juga. Sesampainya di tempat saya menginap saya langsung istirahat karena besok saya juga akan pergi beribadah dan jalan-jalan kembali. Besoknya, saya kembali memakai softlens tersebut saat ibadah. Pada saat ibadah saya menangis saat melalukan penyembahan, pada saat itu juga saya merasa sudah tidak enak dengan mata saya akhirnya saya ke toilet pada saat khotbah karena sudah tidak tahannya saya dengan mata yang gatal, perih, dan berembun. Setelah dari toilet saya masih tetap masih memakai softlens tersebut. Sampai akhirnya, selesai ibadah mata saya terus menerus mengeluarkan air mata.
Akhirnya saya, bou, dan kakak saya memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelumnya saya sudah menghubungi mama saya. Saya menghubungi meminta obat supaya saya bisa mengatasi mata saya ini. Dan saat itu mama saya sudah resah dan marah karena saya tidak mau mendengar perkataan mama saya selama ini untuk tidak menggunakan softlens. Akhirnya, saya membuka softlens saya ketika selesai makan siang.
Ketika saya membuka softlens tersebut mata saya semakin parah keadaanya. Merah, berair, gatal, berembun gak karuan awalnya hanya sebelah kanan yang parah tetapi sebelah kiri juga sudah seperti sebelah kanan. Akhirnya, kami memutuskan pulang dan singgah sebelumnya ke apotik untuk membeli salep obat mata yang saya minta sama mama saya. Ketika sudah sampai di tempat penginapan, saya langsung memakai salep tersebut ke mata saya dan beristirahat. Tetapi, hasilnya sama sekali tidak berkurang malah semakin parah. Pada waktu malam, saya menghubungi orang tua saya kembali. Akhirnya, mama saya nangis begitu juga dengan saya. Mama saya berkata “Itukan nang, uda berapa kali mama bilang supaya gak kau pake lagi softlens itu. Ini yang mama takutkan kalo kau buta gimana”.
Akhirnya hanya penyesalan yang bisa saya lakukan saat itu sambil menangis padahal mata saya sudah semakin parah. Dan akhirnya sebelum memutus telepon mama saya bilang “Ya sudah pake dulu salep itu sampai besok ya nang, berdoa yakin dan imani kalau kau gak akan mengalami kebutaan, ingat ga usah lagi pake softlens mulai dari sekarang”. Tanpa dibilang juga saya sudah berpikir seperti itu. Akhirnya, saya langsung berdoa. Meminta ampun karena saya sudah tidak mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Meminta pertolongan agar memberikan kesembuhan.
Besok harinya, mata saya tetap masih keadaannya sama. Bahkan mata saya tidak bisa terbuka lagi. Mungkin akibat dari salep mata tersebut. Dan mama saya pun menghubungi saya kembali menanyakan kabar saya, sampai akhirnya memutuskan untuk ke rumah sakit. Akhirnya, saya dengan bou saya pergi ke dokter. Hasilnya, sangat parah bagian selaput mata saya ternyata sudah robek dan luka. Iritasi yang sangat parah dan diberikan resep. Akhirnya, saya menggunakan obat resep dokter. Sambil menggunakan obat tersebut saya berdoa terus menerus memohon agar Tuhan Yesus memberikan kesembuhan melalui obat yang saya konsumsi. Saya tidak bisa tidur saat itu saya sempat pesimis apakah mata saya bisa sembuh? Tapi saya tengking rasa pesimis saya tersebut dengan berdoa, berdoa, dan berdoa. Sampai besoknya, saya datang ke dokter kembali dan Puji Tuhan dokter mengatakan mata saya sudah berkurang drastis luka pada selaput mata saya dan dokter mengakatakan harus mengkonsumsi obatnya sampai habis.  Saya sangat senang Tuhan Yesus sudah mengabulkan doa saya, padahal saya sempat meragukan mata saya tidak bisa normal kembali alias Buta. Akhirnya, saya balik kembali ke Medan. Mama saya sangat senang sekali melihat keadaan saya.
Saat saya sudah berada di Medan dan melakukan kegiatan saya seperti biasa, salah satunya yaitu PA ternyata mama saya meminta kepada gembala PA untuk mendoakan agar mata saya bisa sembuh kembali. Saya sangat terharu mendengar cerita dari para kerabat PA saya. Ternyata saya menyimpulkan Doa benar-benar mengubah segala sesuatu. Dengan Doa dan Iman menghasilkan mujizat yang sangat luar biasa bagi kehidupan kita 🙂
NB : Saat saya berdoa, ketika mata saya masih buta tersebut saya bernazar, berjanji agar membagikan pengalaman atau kesaksian saya ini kepada semua orang yang membutuhkan kesaksian saya. Terimakasih sudah menjadi media kesaksian saya walaupun saya masih belum pas dalam menceritakan detail kejadian kebutaan saya. Lebih kurang gambarannya seperti itu.
Semoga bermanfaat yah, Tuhan Yesus Memberkati.
Kesaksian dari: Aviva Sari Octavia Simanjuntak
Medan
Copas : www.beritakeselamatan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar