Jumat, 10 Agustus 2018

DIA SUNGGUH SUNGGUH MENGASIHIKU

Dalam tulisan ini aku akan menceritakan bagaimana karya Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Aku betul-betul merasakan betapa Allah membimbing aku melewati kehidupan ini.

Aku adalah anak ke-4 dari tujuh bersaudara. Aku tinggal di sebuah kota kecil di Sumatra, yakni Jambi. Masa kecilku aku habiskan seperti anak-anak pada umumnya. Hanya ketika aku berusia enam tahun, aku mengalami kecelakaan. Aku ditabrak sebuah mobil ketika aku sedang menyebrangi jalan. ini memang salahku karena aku berlari menyebrang jalan tanpa melihat apakah ada kendaraan yang melintas. Dalam kecelakaan itu aku mengalami luka serius dibagian kepalaku. Aku tidak tahu berapa lama aku tidak sadar. Yang aku ingat ketika aku sadar adalah aku sudah berada di Rumah sakit. Aku juga tidak tahu berapa lama aku dirawat disana. Tapi yang aku tahu bahwa Tuhan masih memberikan kepadaku kesempatan untuk hidup. Kalau dipikir-pikir untuk anak seusiaku yang mengalami kejadian tersebut dengan luka yang serius masih bisa bertahan hidup adalah sebuah keajaiban. Tuhan benar-benar bekerja.

Setelah melewati masa-masa tersebut kehidupanku kembali berjalan seperti biasa.
Suatu hari aku bersama keluarga pergi ke kota kelahiranku, Lubuk Linggau. Kami kesana karena abangku mendapatkan kecelakaan. Puji Tuhan keadaannya tidak parah. Ketika diadakan acara syukuran untuk keselamatan abangku itu, aku bersama sepupuku dan teman-temannya pergi bermain. Kami sampai di sebuah saluran irigasi sawah. Tiba-tiba mereka ingin berenang. Tanpa menunggu lagi mereka membuka baju dan langsung terjun ke air. Melihat mereka bersenang-senang disana dan juga sepertinya arus air kelihatan tidak begitu deras, aku jadi ingin berenang juga walaupun aku tidak pintar berenang. Akupun membuka baju dan terjun ke air. Tapi, kejadian yang tidak pernah aku duga terjadi. Aku tidak dapat menahan arus yang aku pikir tidak deras. Aku kemudian terseret arus. Aku berteriak minta tolong. Kemudian salah seorang sepupuku yang agak besar badannya naik kepermukaan dan mengejarku. Namun arus begitu kuat dan aku begitu cepat terseret. Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Aku pasrah dan meminta pertolongan Tuhan. Aku tidak tahu berapa meter aku sudah terseret arus sampai akhirnya kakiku menginjak sebuah batu yang besar dan disanalah aku berdiri. Aku menopangkan tubuhku diatasnya dan aku tidak terseret arus lagi. Kemudian aku dibawa kepermukaan oleh sepupuku yang berusaha mengejarku tadi. Tuhan kembali mengulurkan tanganNya untuk menolongku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak menginjak batu itu, Tuhan yang menuntun kakiku untuk menginjaknya. Terima kasih Tuhan bisikku dalam hati. Untuk kedua kalinya Tuhan memberikan ku kesempatan untuk tetap hidup.

Keluargaku pindah rumah waktu aku kelas 4 SD. Jarak dari sekolah dan rumah baruku sangat jauh. Aku direncanakan pindah sekolah. Namun, rencana itu tidak terlaksana dengan alasan 2 tahun lagi aku akan lulus. Perjuangan pergi ke sekolah cukup berat. Aku tidak diantar oleh orang tuaku. Tapi aku berangkat bersama adikku. Ada banyak hal yang kualami selama masa-masa itu dan Tuhan selalu menolongku jika aku dalam kesusahan. Hingga aku menginjak kelas 6 SD. Ketika itu pengumuman hasil Ebtanas sudah keluar. Aku mendapat NEM 40,35 dari lima mata pelajaran yang di ujikan. Sesuai rencanaku, aku ingin melanjutkan sekolahku ke SMP 11 yang terletak dekat dengan Sekolah Dasar ku. Aku memilih SMP tersebut karena selain bagus juga karena teman-temanku banyak yang mau kesana. Sampai tiba waktu pendaftaran, aku mengambil formulir dan membawanya pulang kerumah. Aku kemudian mengisi formulir tersebut. Pilihan pertama aku memilih SMP 11 dan kedua SMP 17. Setelah aku mengisinya, aku menunjukkannya kepada ibuku. Diluar dugaan ku yang berpikir bahwa ibuku akan setuju, beliau menyarankan aku untuk masuk ke SMP yang berada dekat dengan rumahku, yakni SMP 22. SMP yang belum lama di bangun. Setelah ibuku memberikan alasan-alasan kepadaku kenapa aku harus kesana, entah kenapa aku mau saja. Padahal sudah cukup lama aku ingin ke SMP 11. Akupun merubah pilihan pertamaku dan menggantikannya menjadi SMP 22. Kemudian formulirpun aku serahkan kembali ke sekolahku. Namun beberapa hari kemudian sesuatu terjadi. Aku merasa menyesal dan ingin kembali masuk ke SMP 11. Aku menyampaikannya kepada ibuku dan ibukupun tidak bisa memaksaku lagi. Lalu aku dan kakakku pergi kesekolahku dengan maksud merubah pilihan pertamaku. Namun ternyata kepala sekolah tidak ada disana. Aku kemudian pergi kerumah wali kelasku. Dari beliau aku tahu bahwa berkas-berkas pendaftaran kami telah diserahkan ke pusat. Aku begitu sedih dan menyesal. Mengapa harus aku ubah?? Tapi, semua sudah terjadi. Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sampai tiba waktu pengumuman diterima atau tidaknya aku di SMP yang aku pilih. Akupun kemudian pergi ke SMP 22 untuk melihat pengumumannya. Ternyata namaku ada disana. Aku diterima. Namun aku tidak begitu senang sampai sesuatu terjadi. Aku mendengar kabar bahwa NIM terendah yang diterima di SMP 11 adalah 43 dan SMP 17 adalah 41. aku terdiam dan begitu heran dengan pimpinan Tuhan. Seandainya aku jadi memilih SMP 11, maka aku bakalan tidak masuk dan akan sekolah di Swasta. Dan itu pasti akan merepotkan orang tuaku. Aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan atas apa yang dilakukannya kepadaku. Luar biasa pimpinanNya. Aku jadi mengerti kenapa Dia ingin aku masuk ke SMP 22. Terima kasih Tuhan..
Ternyata banyak hal yang Tuhan kejakan bagiku selama aku sekolah di sini. Salah satunya adalah Aku diberi kesempatan kepada Tuhan untuk menjadi siswa berprestasi disekolah ini. Menjadi Juara Umum dan menjadi pemenang dalam suatu perlombaan tingkat Kota. Dia mengajariku untuk selalu bersyukur atas apapun yang aku dapatkan.
Tanpa terasa masa-masa aku di SMP akan berakhir. Seperti ketika aku SD, aku ingin melanjutkan sekolahku sesuai keinginanku. Aku berencana masuk ke SMA 5 dengan alasan karena bagus dan tidak terlalu jauh.

Namun, hal yang pernah terjadi dulu kembali terjadi. Ceritanya begini. Ketika itu aku hendak menyerahkan sesuatu yang aku lupa apa itu di ruang Tata usaha. Ketika aku tiba disana, ada beberapa orang guru. Kemudian salah seorang dari mereka bertanya kemana aku akan melanjutkan sekolahku. Dan akupun langsung menjawab bahwa aku ingin ke SMA 5. Namun, beliau kemudian berkata mengapa aku tidak masuk kes SMA 1 saja? Alasan beliau karena SMA 1 adalah sekolah terbaik di kotaku dan jarang ada yang masuk kesana dari sekolahku. Setidaknya jika ada yang bisa masuk dapat membanggakan sekolah juga. Aku tidak banyak bekata apa-apa untuk menjawab beliau. Aku kemudian permisi untuk keluar. Tetapi, hal itu kemudian aku fikirkan. Dan akhirnya dalam waktu singkat aku memutuskan untuk ke SMA 1. Aku juga tidak mengerti kenapa. Padahal SMA 5 adalah rencana SMA yang cukup lama juga aku inginkan. Ada perasaan damai dihatiku untuk memilih ke SMA 1 walaupun aku tahu resiko-resiko apa yang akn aku hadapi. Aku mungkin tidak akan ada teman kesana dan sekolah cukup jauh dari rumahku dibandingkan dengan SMA 5. Apalagi aku mendengar dari teman-temanku bahwa disana ada perbedaan pergaulan anatara orang-orang kaya dengan miskin. Meskipun aku tahu hal itu, aku tetap ingin kesana. Dan ternyata selain aku, ada seorang temanku juga yang mau kesana. Aku kemudian menyampaikan hal ini kepada orangtuaku. Dan terjadi pertengkaran kecil antara bapak dan ibuku. Bapak setuju aku masuk SMA 1. Namun ibuku tidak ingin aku kesana. Beliau ingin aku masuk STM agar bisa langsung kerja. Berbeda ketika aku SD yang langsung menuruti ibuku, aku tetap pada pilihannku. Aku membawa ini didalam doaku dan memohon pimpinan Tuhan. Sampai pada waktu penyerahan formulir, aku tetap memilih SMA 1 meskipun banyak tantangan yang aku hadapi dan SMA 5 menjadi pilihan keduaku. Aku serahkan sama Tuhan. Aku yakin Dia akan memimpinku.

Waktu terus berjalan sampai tiba saatnya pengumuman diterima atau tidaknya aku di SMA 1. Dengan perasaan cemas aku pergi melihat pengumuman tersebut. Dan Puji Tuhan aku diterima di SMA 1. Nilaiku memenuhi untuk masuk kesana. Begitu juga dengan temanku. Aku bersyukur kepada Tuhan. Namun aku belum tahu apa kehendak Tuhan aku masuk kesini.
Hari pertama aku menjadi siswa baru di SMA 1 adalah hari yang cukup sulit bagiku karena ku belum mempunyai teman disana. Sementara temanku yang juga lulus sudah memiliki teman yang juga adalah sepupunya. Aku sendiri disini. Tapi tidak, ada Tuhan Yesus bersamaku.

Hari-haripun berlalu. Ternyata aku mampu melewatinya. Aku sudah punya beberapa teman. Hingga suatu hari, tepatnya hari Jumat, disekolahku ada persekutuan bagi anak-anak kristen. Akupun diajak untuk ikut dan dengan senang hati aku ikut. Kali kedua aku ikut persekutuan sekolahku, aku bertemu dengan seorang kakak TPS (Tim Pembimbing Siswa) bernama Kak Yulia. Dia mengajakku untuk ikut dalam KATA (Kebaktian Awal Tahun Ajaran). Akupun menyetujuinya. Namun karena sesuatu hal, akhirnya aku tidak jadi mengikuti kegiatan tersebut.

Seminggu setelah KATA berlangsung dan pada saat itu diadakan persekutuan kembali disekolahku, kak Yulia menghampirku dan memintaku agar besok datang ke PAPSI (Persekutuan Akhir Pekan Siswa) yang diadakan oleh PSKKJ (Persekutuan Siswa Kristen Kota Jambi) dibawah naungan Perkantas (Persekutuan Kristen Antar Universitas). Kata beliau, ada yang mau dibicarakan dengan aku selesai PAPSI. Akupun berjanji akan datang. Keesokan harinya aku menepati janjiku untuk datang. Aku kemudian bertemu dengan kak Yulia dan beberapa teman satu sekolahku yang aku kenal. Akupun mengikuti ibadah sampai selesai. Hingga pada saat pengumuman, namaku disebutkan untuk tinggal sebentar selesai ibadah. Aku tidak tahu apa yang mau dibicarakan. Setelah ibadah selesai, aku beserta beberapa orang yang juga disebutkan namanya saat pengumuman tadi dikumpulkan. Ternyata kami dipilih untuk mengikuti sebuah Kamp di Jakarta yaitu KKSJ (Kamp Kepemimpinan Siswa Jakarta). Aku belum tahu apa-apa tentang KKSJ. Tapi, aku ikuti saja. Untuk mengikuti KKSJ diperlukan dana yang cukup besar. Tapi tangan Allah yang murah mencukupkan segala kebutuhan yang aku perlukan. Sampai akhirnya KKSJpun dilaksanakan. Hari pertama bagiku biasa saja. Namun sejak hari kedua dan setrusnya aku mulai menikmati setiap acara yang diadakan di KKSJ. Terlebih ketika pada saat sesi perenungan. Pada moment itu ada satu lagu yang begitu mengena dan yang pada akhirnya membuat aku sadar mengapa Tuhan menginjinkan aku untuk ikut kegiatan ini. Lagu tersebut berjudul “Why have You choosen me”. Inilah lirik lagunya:

Why have You choosen me
Out of million Your child To be
You know all the wrong that i’ve done
O How could You pardon me
Forgive my iniquty
To save me give Jesus Your Son

But lord help me be what You want me to be
Your word i will strive to obey
My life i now give for You i will live
And walk by Your side all the way

Lewat lagu ini, Aku disadarkan akan satu hal. Mengapa Dia memilih aku, padahal masih banyak orang yang lebih baik dari aku. Aku tidak tahu kenapa aku harus dipilih ikut KKSJ. Aku adalah siswa yang baru masuk. Mereka tidak tahu siapa aku dan bagaimana sifatku (baik ataukah buruk). Mereka mempercayakan aku untuk ikut moment KKSJ yang sebenarnya dibuat untuk mempersiapkan anak-anak Tuhan melayani. Dia yang merubah pilihan pertamaku untuk masuk ke SMA 5 dan menuntunku ke SMA 1 dengan caranyaNya yang ajaib. Ternyata Dia ingin mempersiapkan aku untuk melayani Dia. Aku begitu heran. Allah secara nyata telah memilihku dan mempersiapkanku untuk melayaniNya. Dan inilah saatnya aku dipanggil. Saat aku telah menjadi seorang siswa SMU. Sejak saat itu, aku memberikan diriku sepenuhnya kepada Allah untuk Dia pakai sesuai dengan kehendakNya.

KKSJ pun berlalu. Tiba saatnya aku melayani Dia setelah sebelumNya aku diperlengkapi. Aku mulai rajin mengikuti persekutuan, baik di sekolah maupun di PSKKJ. Aku masuk kedalam KK (Kelompok Kecil) untuk terus dibina. Awal aku mulai melayani adalah dengan menjadi pelayan seperti pengumpul persembahan pada saat ibadah disekolahku. Aku rindu lebih lagi melayaniNya dalam hal yang lain. Akupun lalu mengikuti training MC yang diadakan oleh PSKKJ. Setelah mengikuti training tersebut, aku mulai melayaninya sebagai MC. Suatu hari, aku melihat kekurangan pelayan sebagai gitaris untuk ibadah di sekolahku. Akupun menjadi rindu untuk bisa menjadi gitaris. Aku sampaikan hal ini kepada Tuhan. Aku mulai belajar bermain gitar secara otodidak. Sampai akhirnya aku menyampaikakn hal ini kepada PKK (Pemimpin KK) ku, bang Edu namanya. Beliau kemudian mengajarkanku lebih lagi bagaimana bermain gitar. Beliau pula yang juga mengajarkanku bernyanyi. Hingga akhirnya aku dapat menjadi seorang gitaris di ibadah sekaligus dapat bernyayi. Aku juga dipercaya Tuhan untuk menjadi pengurus sekaligus pelayan di gerejaku sebagai singer. Tuhan telah memberikan kepadaku tiga talenta dan semua aku pergunakan untuk Tuhan. Ketika aku kelas 2, aku mulai mengambil pelayanan sebagai pengurus, tepatnya sebagai Koordinator di persekutuan sekolah dan Seksi Acara di PSKKJ. Dan ketika aku kelas 3, aku dipercaya Tuhan menjadi Koordinator di PSKKJ. Meskipun aku melayaniNya, aku tetap bertanggung jawab terhadap studiku. 100% Studi, 100 % pelayanan.

Tanpa terasa masaku di SMA sudah selesai. Aku ingin melanjutkan ke bangku perkuliahan. Setelah pengumuman kelulusan, aku menyampaikan keinginanku kepada orangtuaku. Mereka mendukungku. Namun ketika aku ingin mengikuti bimbingan belajar intensif untuk menghadapi SPMB, ibuku tidak mengijinkan dengan alasan biaya. Aku begitu sedih. Namun aku tahu Tuhan pasti akan membantuku dengan caraNya yang ajaib. Dia selalu punya cara. Akupun kemudian hanya belajar dirumah saja. Aku mendapatkan pinjaman buku dari kakak tingkatku yang telah lulus sebelumnya. Hingga waktu pendaftaran tiba, aku mendaftarkan diri. Hanya ada satu pilihanku yaitu jurusan Teknik Pertambangan UnSri. Aku tidak tahu lagi mau memilih apa. Hanya jurusan itulah yang terus aku doakan kepada Tuhan. Namun karena pada formulir pendaftaran harus mengisi dua pilihan, aku akhirnya memilih Teknik Kimia UnSri. Dan pada akhirnya aku tahu kalau grade untuk Teknik Kimia lebih tinggi dari pada Teknik Pertambangan. Itu berarti jika aku tidak lulus pilihan pertama, maka pilihan kedua pasti tidak lulus. Namun itu tidak menjadi masalah bagiku karena yang aku inginkan dan doakan adalah Teknik Pertambangan. Melalui buku pedoman yang aku dapat, aku mengetahui bahwa jumlah peminat Teknik Pertambangan begitu banyak. Tahun lalu saja ada 740 orang dan daya tampung hanya 81 orang. Akupun bertanya dalam hati apakah tahun ini aku termasuk yang ke-81 orang itu? Ada perasaan khawatir dalam diriku. Apakah aku bisa lulus sedangkan aku tidak ikut bimbel dan persiapanku pun masih begitu minim? aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan dan membawa ini dalam doa. Hingga suatu hari aku mengalami kejadian yang akhirnya membuatku sadar. Kejadiannya terjadi saat aku mengembaliakan formulir pendaftaran dan mengambil nomor peserta. Pada saat itu aku ditemani oleh seorang kakak TPS bernama Kak Lusi. Setelah mendapatkan kartu peserta, aku menaruhnya di dompetku. Kemudian kak Lusi mengajakku makan di kantin. Setelah selesai makan, kami menuju ke bus untuk pulang. Namun ketika aku hendak melihat kartu pesertaku, aku terkejut. Aku tidak mendapati dompetku didalam tas. Dengan perasaan cemas aku menyampaikan hal ini kepada kak Lusi. Kamipun kemudian mencarinya ketempat kami tadi makan. Namun tidak kami temukan. Kamipun kemudian bertanya kepada seorang bapak penjual gorengan. Namun, bapak tersebut tidak tahu. Dengan perasaan sedih, aku dan kak Lusi pergi untuk mengurus kembali kartu peserta SPMBku. Puji Tuhan ternyata semuanya bisa diurus dengan sedikit kerja keras. Akhirnya setelah semua selesai diurus, kamipun pulang. Sampai di rumah aku menceritakan hal ini kapada orangtuaku. Orang tuaku sedikit marah karena aku kurang hati-hati. aku tahu aku salah. Namun tiba-tiba HP bapakku berbunyi dan ketika diangkat, ternyata itu berasal dari seseorang yang menemukan dompetku. Tanpa menunggu waktu lagi, aku dan bapak menuju ke alamat yang diberikan orang tersebut. Setelah kami sampai, alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui siapa yang menemukan dompetku. Ternyata orang itu adalah bapak penjual gorengan yang tadi kami tanyakan. Aku heran. Mengapa aku mesti melewati proses yang panjang dulu, baru kemudian menemukan dompet tersebut? Mengapa tidak bapak itu kasih saja waktu kami bertanya? Setelah dompetku kembali aku merenungkan kembali apa maksud Tuhan dengan kejadian ini. Aku akhirnya sadar bahwa Tuhan ingin aku percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan sesuatu yang mustahil bagi anak-anakNya. Dia ingin anak-anakNya melalui proses yang dia kehendaki untuk aku lalui hingga sampai ketujuan walaupun itu sulit kelihatannya. Dengan kejadian tersebut, aku sadar dan meminta ampun atas keraguanku. Aku mendapatkan keyakinan yang baru setelah kejadian tersebut.
Hari ujian SPMB pun datang. Aku diantar oleh kakakku menuju ke tempat ujian dengan menggunakan motor. Dalam perjalanan aku menyanyikan sebuah lagu. Berikut lagu yang aku nyanyikan:

Yesusku kudatang dihadapanMu
Mengaku selalu kecewakanMu
Merasa Kau tak sanggup untuk menolongku
Tak pernah menjawab doaku
Saatku lewat badai kehidupan
Ditengah keraguan kan setiaMu
Kau hadir tunjukkan kasih kuasaMu kepadaku
tanganMu mengangkat wajahku
Tak berubah setiaMu
Selamanya tak pernah mengecewakanku
Trimakasih oh Yesusku
Trang kasihMu lenyapkan segala raguku

Ketika aku menyanyikan lagu itu, tiba-tiba aku menangis. Aku merasa lagu tersebut sesuai dengan yang aku alami. Kakakku tidak mengetahui aku menangis karena waktu itu aku menggunakan helm tertutup dan aku berusaha menahan isak tangis. Allah melawat hatiku dengan lagu itu. Dan setelah kejadian tersebut aku mengikuti SPMB dengan perasaan tenang karena damai sejahtera ada dalam hatiku. Hari-haripun berlalu. Tanpa terasa pengumuman hasil SPMB telah tiba. Dengan perasaan cemas aku menghubungi temanku untuk bertanya apakah aku lulus. Dan berita apa yang akhirnya aku dapatkan? Aku LULUS!!!! Aku tidak tahu harus bagaimana. Yang aku tahu bahwa aku sangat bersukacita mengetahui bahwa aku lulus. aku benar-benar tidak percaya. Akupunpun kemudian pergi kekamar dan berdoa disana. Aku mengucapkan terimakasih kepada Tuhan atas apa yang telah Dia kerjakan bagiku.

Setelah lewat pengumuman, akupun harus segera berangkat ke Inderalaya untuk melakukan pendaftaran ulang di Universitas Sriwijaya. Aku berangkat kesana bersama ibu. Rencananya aku akan tinggal di rumah keluargaku yang berada didekat kampus. Namanya bang Laban.

Hari-hari sebagai mahasiswa baru aku jalani dengan perasaan sedih dan kesepian. Aku rindu dengan keluargaku. Sulit rasanya. Tapi, aku harus bertahan. Perasaan tersebut kemudian berangsur hilang karena aku sudah punya beberapa teman dan kegiatan. Seperti mahasiswa baru yang lainya, di kampus kami diadakan Ospek. Yang paling buatku bimbang untuk mengikutinya adalah ospek orang batak. Hal ini dikarenakan didalamnya terdapat kekerasan. Aku tahu bahwa hal itu tidak dikehendaki Tuhan. tiba waktunya ospek tersebut dilaksanakan. Aku akhirnya memutuskan untuk tidak ikut. Aku serahkan sama Tuhan untuk apapun konsekuensi yang akan aku hadapi. Setelah ospek tersebut berlalu, aku dan teman-teman yang tidak datang dipanggil oleh kakak tingkat untuk dihukum. Aku pasrah dan serahkan kepada Tuhan. Waktu ”penyiksaan” itu datang. aku meminta kekuatan kepada Allah dan Ia menjawab seruanku. Aku bisa melewati masa-masa sulit itu.

Gereja HKBP di tempat tinggalku mengadakan penyambutan mahasiwsa baru kristen. Semua mahasiswa baru disetiap sektor akan membawakan sebuah persembahan yang akan ditampilkan di acara tersebut. Aku yang tinggal di rumah bang Laban tidak tahu masuk ke sektor mana. Akupun tahu ada acara tersebut dari seorang teman satu jurusanku. Aku datang bersama dia suatu hari ketika ada latihan koor digereja. Melihat teman-teman yang lain memberikan persembahan pujian dari setiap sektor, aku jadi ingin mempersembahkan sebuah lagu juga. Lalu aku menjumpai seksi acaranya dan menyampaikan maksudku. Mereka merespon dengan senang. Disaat itu jugalah aku berjumpa dengan bapak pendeta yang melayani jemaat di sana. Namanya Pdt. Hotlan Butarbutar. Beliaulah yang akan mengiringiku bernyanyi. Suatu hari ketika aku latihan bersama beliau, beliau memintaku untuk menjadi pelayan digeraja tersebut sebagai singer. Aku menerima hal tersebut dengan senang hati. Aku bersyukur bisa menjadi pelayannNya di gereja ini. Dan disinilah Tuhan menambahkan kepadaku sebuah talenta lagi, yaitu bermain keyboard. Ceritanya begini. Di gereja ini hanya ada 2 orang yang biasa mengiringi ibadah dengan keybord setiap minggunya. Namanya Kak Ani Sihombing dan Bang Toni Simorangkir. Mereka berdua adalah mahasiswa tingkat akhir. Oleh karena itu, supaya ada penerus mereka nantinya, maka Pdt. Hotlan mengadakan pelatihan kepada orang-orang yang ia tunjuk untuk menjadi calon organis di gereja nanti. Aku tahu hal ini dari Kak Ani. Lalu aku menyampaikan kepada dia bahwa aku juga ingin berlatih. Dan hal itu kemudian disampaikannya kepada Pdt. Hotlan. Beliau menyetujui keinginanku dan aku pun ikut latihan. Aku mengikuti latihan ini dengan sungguh-sungguh. Aku ingin bisa melayani Dia sebagai pemain keyboard. Apa yang aku rindukan akhirnya terjadi. Pdt. Hotlan mempercayaiku menjadi keyboardis untuk ibadah digereja. Disitulah pertama kalinya aku melayani sebagai keyboardis. Aku bersyukur karena Dia memberikan kepadaku talenta ini. Talenta ini akan aku gunakan selamanya untuk melayaniNya. Thanx God,.
Selain digereja, aku juga mengikuti persekutuan di kampusku. Namanya Persekutuan Doa Oikumene Teknik. Sesuai namanya, persekutuan ini ada sebagai wadah bertumbuh untuk anak-anak teknik. Disinilah aku trus mengalami pertumbuhan iman dan kembali melayani. Setahun aku manjadi mahasiswa, aku dipercaya untuk menjadi pengurus. Aku mendoakan hal ini dan akhirnya mengiyakan panggilan ini. Aku menjadi pengurus selama tiga kali periode kepengurusan. Diperiode ketiga aku dipercaya menjadi Koordinator. Demikianlah selama aku menjadi mahasiswa, aku memberi diriku untuk menjadi pelayanNya di kampus dan digerejaku. Bahkan sampai kapanpun dan dimanapun nanti Tuhan menempatkanku, aku akan tetap melayani Dia, Allah yang telah menyelamatkan hidupku dengan KasihNya yang Kekal..
Itulah hal-hal luar biasa yang Tuhan kerjakan dalam hidupku sampai aku mahasiswa. Setiap aku mengingat hal ini, maka aku akan terkagum-kagum dan membuatku terus menyembah Dia. Dia luar biasa dan segalanya di hidupku. Selamanya Dia akan menjadi Tuhanku. Dan aku percaya kehidupanku selanjutnya didunia kerjapun akan tetap Dia sertai. Dia tidak akan pernah meninggalku dan sampai akhir hidupku, Dia akan besertaku.

I LOVE YOU GOD.

Kiriman kesaksian dari: David Ferdinand Rumahorbo
Lubuk Linggau

Copas : www.beritakeselamatan.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar