Selasa, 04 Desember 2018

DEMI MASA DEPAN ANAK, AKU RELA JUAL GANJA, FERNANDO TOBING

 189


Aku sudah menikah dengan seorang gadis yang sangat cantik. Sebentar lagi, kami akan memiliki anak pertama kami. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang sangat kami  syukuri. Hanya saja, kondisi ekonomi kami bisa dikatakan berkekurangan.
Aku tidak punya sepeserpun uang untuk biaya persalinan nantinya, belum lagi popok dan susunya. Kebutuhan ini membuatku langsung menerima ajakan seorang teman yang memintaku untuk ikut berjualan ganja.
Aku dan istri terlibat dalam penjualan barang ‘haram’
Secara terang-terangan, aku memberitahu niatku ini kepada istri. Meski sempat menolaknya, baik aku maupun istri menyadari kalau anak kami perlu kehidupan yang lebih baik dibandingkan kami berdua. Kami pun mulai berjualan ganja. Biasanya, saya akan pergi untuk mencari pelanggan, sementara istri akan membantu ‘packing’ di rumah.
Setelah beberapa lama, aku memutuskan untuk menjadi seorang bandar. Dimana aku harus mengambil sejumlah barang dengan sistem hutang. Buatku, hal ini merupakan sebuah peluang untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya.
Rasa cemas menghampiri saat polisi semakin gesit memburu para pengedar narkoba
Awalnya, memang aku berpikir kalau pekerjaan ini akan sangat menguntungkan. Sampai pada akhirnya salah satu bandar terbesar yang kukenal tertangkap oleh polisi. Berita yang terdengar sampai ke telingaku melalui siaran televisi itu sukses membuatku merasa cemas.
Aku dan istri memutuskan untuk pergi dari Jakarta menuju Tanjung Pinang untuk tinggal bersama dengan orang tuaku. Karena masih punya kewajiban untuk membayar hutang, telepon demi telepon sering kuterima dari bandar pusat.
Saat itu aku tidak menjalani penjualan, sementara hutang harus dibayar. Bukan hanya polisi, aku pun takut tertangkap oleh bandar pusat yang mengancam akan mencelakaiku kalau tidak kunjung membayar hutang.
Buron menjadikanku merasaka cemas dan takut
Sejak menjadi buron, rasanya ada beban yang sangat berat dalam kehidupanku. Istri sedang hamil, sementara aku harus tinggal bersama dengan orang tua. Setiap harinya, hanya ada kecemasan dalam kehidupanku.
Aku sering tidak tidur berhari-hari karena perasaan cemas, tidak bisa tenang dan takut. Sampai akhirnya aku meratapi anakku yang baru saja lahir, dimana aku merasa kalau kehidupan yang kujalani ini sedang berada dalam sebuah kebuntuan.
Pemulihanku berawal dari motivasi untuk mencari kerja
Karena tidak punya pekerjaan, orang tuaku memberi saran untuk datang ke gereja untuk mencari orang-orang yang mau dimintai tolong. Aku pun memutuskan untuk pergi ke gereja.
"Ingatlah saudara, kalau dosa itu bekerja seperti pemburu. Ia memburu kita dari masa lalu untuk menghancurkan masa depan kita," terang pendeta ditengah-tengah khotbahnya. Di akhir khotbah, pendeta ini berkata kalau dia punya kerinduan untuk menghampiri seseorang yang sudah lama dibayangi oleh masa-masa kelam. Ia langsung menunjuk dan memintaku untuk maju dan aku langsung didoakan.
“Apakah Anda ingin ditolong oleh Tuhan?” Aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pendeta tersebut dengan tangisan.
Aku heran atas kebaikan Tuhan yang bersedia menolongku.  Aku merasa Tuhan telah menjamahku dan seketika itu pula aku memohon ampun pada Tuhan. Aku melihat anakku, betapa aku mengasihinya. Dari sini aku belajar tentang kasih Bapa yang tidak berkesudahan.
Kalau boleh aku menghitung, rasanya tidak ada satu kebaikan pun yang pernah kuberikan pada Yesus Kristus. Tetapi Ia mau berkorban dan mengulurkan tanganNya kepadaku. Ia memulihkan keluargaku dan menjadikanku sebagai anakNya.
Dulu aku berpikir kalau jual ganja dan narkoba akan mengubahkan kehidupan jadi lebih baik. Aku salah. Hal tersebut justru membuatku semakin terpuruk. Saat kita berjalan bersama Kristus, ada solusi dan jalan keluar yang Ia sediakan agar kita tidak tersesat. 
Sumber : solusi
www.jawaban.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar