Kamis, 31 Januari 2019

CAMPUR TANGAN TUHAN DALAM HIDUPKU

Campur Tangan Tuhan dalam Hidupku

Banyak orang yang memiliki kesalahan di masa lalu, termasuk saya. Nama saya adalah Steven Paembonan dan saya terlahir dari keluarga Kristen. Walaupun saya terlahir dari keluarga Kristen, tetapi hal itu belum menjamin apakah saya sudah menerima Yesus Kristus dalam hidup saya. Sebelumnya saya kurang memahami apa yang dimaksud dengan segala sesuatu yang berhubungan mengenai kekristenan. Saya menganggap menjadi orang Kristen hanyalah sebagai rutinitas semata. Datang gereja, memuji Tuhan, mendengarkan Firman Tuhan, lalu pulang. Terkadang saya jarang pergi ke gereja dan lebih memilih bermain game dirumah, nonton TV, dan bermain dengan teman-teman.
Bahkan pada saat saya mulai masuk SMP, saya mulai gemar bermain game online. Menurut saya itu adalah hal yang menyenangkan, apalagi dikerjakan setiap waktu. Hal itu bahkan sudah mulai menjadi kebiasaan saya pada saat itu dan saya merasa sulit untuk melepaskannya. Saya jadi malas untuk belajar dan lebih memilih bermain game online dengan teman-teman lainnya. Akibatnya setiap ulangan harian saya selalu mendapatkan nilai kurang dari 50 dan pada saat semesteran nilai saya banyak yang jatuh padahal saat itu saya selalu di dalam ranking 10 besar. Saya mengatakan kepada diri saya apa yang telah terjadi, sebelumnya saya selalu masuk rangking 10 besar akan tetapi sekarang nilai saya selalu menurun. Hati dan pikiran saya mengatakan bahwa saya sudah sangat jauh dari Tuhan, dan mungkin Tuhan akan menolak saya karena saya sudah jarang beribadah dan bahkan lebih memilih bermain game online dari pada bersekutu di gereja. Apakah ini akibatnya? Apa aku masih layak di hadapan Tuhan? Pertanyaan tersebut semakin membuat saya menjadi bingung.
Tetapi pada ibadah di hari minggu saya mendengarkan khotbah di gereja saya mengenai membangun relasi dengan Allah. Pendeta tersebut menjelaskan bahwa kita perlu membangun relasi yang baik dengan Allah melalui doa dan persekutuan. Pendeta tersebut juga menjelaskan Firman Tuhan dalam Matius 6:33 yang menyatakan bahwa "Akan tetapi, carilah dahulu Kerajaan dan kebenaran-Nya, dan semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." Pada saat itu saya merasa telah berdosa karena saya telah jauh dari persekutuan dengan Tuhan dan juga jarang untuk berdoa. Selama satu minggu saya terus memikirkan dan merenungkan hal tesebut. Pada akhirnya saya berdoa kepada Yesus. "Yesus apakah aku masih layak untuk memiliki relasi yang baik dengan diri-Mu? Aku telah berdosa kepada-Mu tetapi aku ingin terus dekat bersama-Mu setiap waktu." Akhirnya saya mengambil keputusan untuk bertobat dari apa yang saya lakukan dan ingin memiliki relasi dengan Tuhan Yesus setiap saat. Saya mulai meninggalkan game online dan mulai rajin datang beribadah, serta mulai membangun relasi dengan Tuhan Yesus melalui doa. Walaupun hal tersebut sangat sulit dilakukan, tetapi saya percaya bahwa Tuhan Yesus yang memampukan saya untuk melakukan hal tersebut. Tanpa campur tangan Tuhan mungkin saya sudah tidak tahu akan jadi apa saya kedepannya.

COPAS : sabda.org

Minggu, 27 Januari 2019

MENGAPA PENGAMPUNAN PENTING DAN HARUS KITA LAKUKAN? YUK KITA BELAJAR DARI KISAH NYATA INI

Setiap orang pasti melakukan kesalahan atau paling tidak setiap orang pernah berbuat salah, entah karena itu disengaja ataupun tak disengaja. Kesalahan juga banyak wujudnya, bisa berupa tindakan atau melalui perkataan yang mungkin menyakitkan hati orang lain. Banyak sekali orang yang merasa tersakiti karena kata – kata atau tindakan yang salah. Lantas apakah kita sebagai orang Kristen harus mengampuni setiap orang yang berbuat salah pada kita?

Suatu hari ada seorang pengacara muda yang sedang duduk di ruang tunggu untuk menjumpai seorang pengacara senior. Sembari menunggu, ia juga berkonsultasi dengan pengacara lain perihal kasusnya. Tetapi saat tiba waktunya, pengacara senior ini hanya melihat sekilas pada sang pengacara muda dan melontarkan kata – kata hinaan. Mendengar hinaan itu, pengacara muda ini hanya pura – pura tidak mendengarkan dan segera masuk ke ruang persidangan. Saat sidang berlangsung, ternyata pengacara senior ini dapat membela kliennya dengan brilian. Nalarnya bagus dan argumennya tepat dan sang pengacara muda ini pun berniat ingin lebih giat lagi belajar tentang hukum.

Waktu pun berlalu dan singkat cerita, pengacara muda ini tidak hanya menjadi seorang pengacara melainkan ia terpilih menjadi presiden Amerika Serikat pada tahun 1861. Barangkali kita semua sudah tahu kisah ini dan siapa sang pengacara muda ini. Ya, Abraham Lincoln. Diantara banyak kritikus, ia tetap menghormati sosok pengacara senior yang pernah menghinanya, ia adalah Edwin Stanton. Bahkan, Lincoln tidak membalas dendam malah mengangkat Stanton sebagai sekretaris perang. Lincoln bukan hanya berhasil menjadi seorang presiden, tetapi ia juga berhasil mengalahkan rasa sakit hati atas hinaan yang dilontarkan oleh Stanton. Ia mengampuni Stanton dan melepaskan rasa sakit hati nya.

Dari sepenggal kisah Abraham Lincoln di atas, kita dapat belajar tentang pengampunan. Dalam Kolose 3:13 Firman-Nya berkata, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Ayat ini mengajarkan pada kita untuk saling mengampuni sesama kita. Abraham Lincoln tidak menaruh dendam pada Stanton dan kita bisa melihat bahwa ia menjadi orang yang sukses.

Sebagai orang yang mengenal Tuhan Yesus, hendaknya kita belajar saling mengampuni antar sesama karena Tuhan telah mengampuni setiap dosa kita dan itu adalah sebuah teladan yang patut kita lakukan juga. Mengampuni dapat meredakan kebencian dan membuat hidup kita sendiri merasa damai. Mengampuni itu memang susah dilakukan tetapi itu bukan hal yang tidak mungkin. Asal kita mau belajar untuk mengampuni, maka Tuhan Yesus akan memampukan kita untuk mengampuni orang yang bersalah pada kita. Tuhan Yesus memberkati.

Sumber : Jawaban.com


Rabu, 23 Januari 2019

BERSAMA ALLAH, SEMUA PELUANG MENJADI BESAR

Sore itu saya sedang membaca sebuah artikel mengenai orang-orang Yunani kuno. Dikatakan dalam artikel tersebut bahwa orang Yunani kuno sangatlah menghargai peluang atau kesampatan yang dihadapkan kepada mereka. Bahkan, mereka menggambarkan sebuah peluang dengan sosok seorang yang tua, pendek, gemuk, berkepala botak dan badan yang licin.
Maksud dari gambaran dewa ini adalah kalau peluang itu tidak mudah lantaran ia berlari dengan cepat dan lincah. Saat ditangkap pun, belum tentu kita bisa memegangnya dengan erat karena badannya yang licin.

Tentu dong, sebagai seorang percaya kita tidak boleh menyembah dewa peluang tersebut. Namun, ada benarnya juga kalau kita harus menghargai setiap peluang yang ada di depan kita. Tidak banyak orang yang abai pada peluang yang ada di depannya.

Keraguan hati membuat kita tidak yakin kalau peluang itu sebenarnya adalah berkat dari Tuhan. Belum lagi cara kita yang selalu terkesan pilih-pilih peluang. Situasi untuk mendapatkan peluang pun bisa dihitung sangat langka alias sangat jarang terjadi. Justru sebaliknya, yang kita anggap awalnya peluang justru merugikan bagi diri sendiri.

Ketidaktahuan akan peluang yang ada di depan kita ini yang membuat kita ragu. Kita ragu karena tidak tahu kalau peluang ini akan berhasil atau tidak. Karenanya, kunci dari peluang yang besar adalah mengandalkan Tuhan. Penyertaan Tuhan akan berdampak besar dalam kehidupan kita. Bahkan saat kita tidak tahu kalau sebenarnya apa yang sedang kita kerjakan adalah peluang yang tercurah dari Tuhan atas kita.

Coba kembali kita bayangkan cerita Daud. Saat dirinya melawan Goliat si raksasa, apakah kita melihat ada peluang? Justru sebaliknya, kita melihat Daud sangat berani karena melawan seorang raksasa berbekal ketapel. Tapi ini yang justru membuat berkat Tuhan melimpah atasnya. Ia menang dan menjadi raja atas Israel.

Hal ini ditulis dalam 1 Samuel 19:13, “Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya, berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Pada setiap karya Tuhan, akan selalu ada gunung kemustahilan. Namun ini yang akan membuat hidup kita sangat di berkati oleh Tuhan. Mustahil bagi manusia berarti sangat mungkin bagi Allah.

Saat kita berada dalam situasi yang sepertinya peluang keberhasilannya kecil, kita harus melangkah dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian, gunung kemustahilan itu akan berpindah dan kuasa Tuhan ada di dalam kita.

Kesulitan yang sedang kita hadapi kini juga boleh jadi adalah sebuah peluang dari Tuhan. Karenanya kita tidak boleh menyerah dan berhenti percaya kepada Tuhan. Dalam Tuhan, semua kemustahilan akan diubahkan menjadi peluang besar yang dapat mengubahkan kehidupan kita.

Sumber : jawaban.com
Click to email this to a friend (Opens in new window)
Share on Facebook (Opens in new window)
Click to share on Twitter (Opens in new window)
Click to share on Google+ (Opens in new window)
Click to share on Tumblr (Opens in new window)
Click to share on Pinterest (Opens in new window)


Sabtu, 19 Januari 2019

KESAKSIAN INDRI HANS : 'KESEMBUHAN DAN MUJIZAT"

 ‘Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.’
1 Tesalonika 1:2-3



“Shalom, nama saya Indri Hans, suami saya gembala sidang Gereja Bethel Indonesia Jl. Pasir Koja Bandung, saya ingin bersaksi bagaimana Tuhan Yesus luar biasa dalam kehidupan saya, bulan September 2006 yang lalu saya mengalami nyeri pada bagian pinggang saya yang cukup hebat, dank arena nyeri itu saya tidak tahan akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter. Dan hasil USG menyatakan bahwa didalam rahim saya ternyata ada kista dan miom atau sejenis tumor yang cukup besar, dan juga banyak yang kecil. Akhirnya, dokter menyarankan kepada saya untuk segera dioperasi, karena kalau tidak segera di operasi maka miom itu akan semakin membesar dan akan menekan pada ginjal saya dan mungkin saya tidak tahan dengan hal itu.

Besok harinya akhirnya saya dioperasi. Ketika operasi sedang berlangsung, suami saya dipanggil oleh tim dokter, dan beliau menyatakan bahwa ternyata banyak sekali miom yang menempel di saluran kencing atau melengket di saluran kencing, sehingga kalau itu diangkat semua, maka saluran kencing itu akan terangkat dan saya harus memindahkan saluran kencing itu keluar. Saya tidak tahu apa yang terjadi kalau itu semua bisa terjadi dalam hidup saya. Tetapi saya bersyukur untuk semuanya karena, hasil dari miom itu, hasil dari operasi tersebut bukan tumor ganas. Saya hanya bersyukur kepada Tuhan dan suami saya juga bisa berdoa dan beryukur kepada Tuhan.

Oleh kemurahan Tuhan saya juga sempat memeriksakan diri pergi ke rumah sakit di Singapore dan Australia. Dokter-dokter disana menyatakan juga ternyata itu bukan kanker atau bukan tumor ganas. Saya hanya bisa bersyukur untuk hal itu. Bahkan di Singapore saya tidak bayar sama sekali meskipun itu rumah sakit yang cukup mahal. Setelah operasi sebulan berjalan, dokter menyarankan saya untuk saya disuntik dengan obat anti kanker untuk menekan sel-sel kanker di dalam rahim saya, sejenis kemoterapi. Dan harganya cukup mahal sekali, tetapi saya bersyukur bahwa ada jemaat yang menanggung semua biaya ini selama 6 bulan. Satu bulan satu kali saya melakukan hal itu. Belum cukup sampai disitu, efek samping dari kemoterapi ini ternyata bisa membuat rambut rontok, dan juga perubahan bentuk tubuh dan juga beberapa hal yang lain.

Saya datang kepada Tuhan dan saya berdoa saya bilang : “ Tuhan saya tidak mau mengalami itu semua, saya tidak mau rambut saya rontok, atau perubahan bentuk tubuh saya ” dan Tuhan menjawab saya tidak mengalami itu semua. Saya hanya bisa bersyukur, saya menangis dihadapan Tuhan. Karena saya tahu bahwa Tuhan Yesus luar biasa dalam kehidupan saya. Karena itu saya menghimbau bagi para wanita, ibu-ibu yang mungkin mengalami hal yang sama dengan saya, jangan pernah takut jangan pernah kuatir karena Yesus sudah menanggung itu semua di atas kayu salib 2000 tahun yang lalu, bukan hanya untuk keselamatan kita, tapi juga untuk semua penyakit kita. Karena itu serahkan segala sesuatu kepada-Nya. Dia akan menanggung semuanya buat kita semua. Terimakasih. Tuhan Yesus memberkati.”

Sumber: Blessing Media – GBI Mekar Wangi Bandung
Narasumber  : Indri Hanns

www.gbi-bethel.org

Senin, 14 Januari 2019

KESAKSIAN TUMOR HILANG KETIKA PERCAYA TUHAN YESUS

Pertengahan 1984, Bini merasakan ada yang tak beres pada perutnya, penat, seperti ada yang menekan. Namun itu tak dihiraukannya. Ia tetap bekerja seperti biasa. Bangun jam 23.00 WIB saat kebanyakan orang di desa Bejen, Kaliwungu, Semarang masih lelap tidur. Setiap hari, ia harus puas dengan tidur 4 sampai 5 jam. Tangannya dengan sigap menyiapkan masakan yang akan dijualnya ke pasar Teguhan -Boyolali atau Kaliwungu. Menu yang ia siapkan cukup beragam. Nasi soto, sambal goreng, pecel dan beberapa sayuran. Sementara, suaminya berjualan kain di Blitar.

Bini memang harus kerja keras karena saat itu keenam anaknya masih sangat butuh biaya sekolah. "Saya ingin mereka berpendidikan, lebih baik dari kami orangtuanya," aku Bini yang tak tamat SD.
Untunglah, anak-anak cukup mengerti kondisi orangtuanya. "Mereka semaksimal mungkin membantu saya. Sepulang sekolah, mereka memotong sayur-mayur yang akan dimasak malam harinya. Bahkan anak-anak yang agak besar terpaksa bergilir tidak masuk sekolah untuk menjaga adik- adiknya di rumah. Sampai-sampai, anakku, Catur, mendapat julukan Mbok Pon karena setiap Pon (penanggalan Jawa, red.) ia tidak sekolah," kata Bini mengenang.

Menderita Tumor

Suatu pagi, Bini tak dapat menahan rasa sakit. Perutnya seperti diaduk. Kali ini, ia terpaksa ke dokter di Boyolali. Setelah diberi obat, ia merasa lebih enak. Tak lama kemudian, rasa sakitnya berkurang. Namun, ia tak bisa tenang-tenang istirahat di rumah. "Meski kadang perut kambuh, selama bisa ditahan, saya tetap berjualan. Kebutuhan makan sehari-hari untuk anak sangat besar. Belum lagi keperluan sekolah juga tak sedikit. Kalau saya nggak kerja, gimana?" tutur wanita sederhana yang selalu berkebaya ini.
Lima bulan kemudian, Bini kembali ke dokter, lagi-lagi karena tak tahan dengan rasa sakit yang menyerang. Ketika ia raba-raba perutnya, seperti ada yang mengganjal. Karuan saja, ia kaget dan panik. Oleh dokter yang kedua, Bini dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap. Maka dengan hati yang lungkrah, Bini diantar keluarga pergi ke RS Jebres di Solo.
Bayangan dan pikiran Bini campur aduk tak karuan. Satu sisi memikirkan sakitnya, di sisi lain, ia teringat anak-anak, pekerjaan, dan segudang kebutuhan. "Pikiran saya nggak karuan, apa lagi saya dengar harus rawat inap," kenangnya getir. Hari kesebelas di rumah sakit, pikiran Bini semakin galau saat mendengar penjelasan bahwa dari hasil USG, ada tumor di perutnya dan harus segera dioperasi.
Tumor? Operasi? Sungguh dua kata itu sangat menakutkan baginya. Tidak saja bayangan sakitnya dioperasi, tetapi juga anak-anak yang harus ditinggalkan di rumah. Lantas, bagaimana pula dengan biaya yang cukup besar. Dari mana semua itu?

Perut Kian Membesar

Kondisi Bini semakin memprihatinkan. Perutnya membesar, ia tak lagi bebas bergerak. Untuk duduk pun, ia harus mencari posisi yang pas supaya rasa sakitnya berkurang. Bahkan akhirnya Bini tak mampu lagi berjalan, ia perlu bantuan orang lain untuk memapah atau menggendongnya. "Perut saya sebesar balon dan keras sekali. Hampir semua orang yang melihat kondisi saya menangis. Hati saya tambah sedih kalau ditengok teman. Dalam hati saya bertanya, kenapa saya harus mengalami semua ini?" kisahnya.
Ingin rasanya ia menolak untuk operasi. Namun, ia juga takut akan kondisinya yang semakin parah. "Saya betul-betul bingung. Dalam hati saya berkata, 'Duh Gusti tolong saya.' Beberapa hari sebelumnya, anak kedua kami, Christine Sri Rahayu, yang telah kenal Yesus menjagaiku, menghibur dan menguatkan. Beberapa temannya pun datang menengok saya dan mengatakan hal yang sama yaitu ada pertolongan dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kala itu, anak-anaknya yang kecil sudah mulai ikut sekolah minggu."
Ketakutan dan kebingungan Bini makin memuncak. Tubuhnya pun luruh tanpa daya. Ia tak pernah mampu menata hatinya untuk tetap tenang. Saat gundah dan sedih merasuk hati, ia teringat ucapan-ucapan yang memberi harapan bahwa Yesus Kristus dapat menolong. Ia berdoa dalam hatinya dengan permintaan sederhana, tolong saya ya Tuhan.

Percaya Yesus, Tumor Menghilang

Malam hari sebelum tindakan operasi, Bini ditengok Denish Free, seorang misionaris asal Amerika yang melayani di GJKI Salatiga dan juga kebaktian keluarga di lingkungan tempat tinggal Bini. Denish sudah sangat dikenal Bini karena kerap bertandang ke rumahnya menemui anak-anaknya.
Malam itu adalah saat yang terindah dalam hidup Bini. Ia mendengar dari Denish tentang jalan keselamatan di dalam nama Yesus Kristus. Roh Kudus bekerja di dalam hatinya. Memberi pengertian baru bahwa hanya melalui darah penebusan Yesus, manusia bisa sampai kepada Allah. Ada kehidupan kekal bagi orang percaya. Tak hanya itu, Denish juga menjelaskan kuasa Yesus yang ajaib dan mukjizat kesembuhan di dalam nama-Nya.
Malam itu, oleh karya Roh Kudus, Bini percaya kepada Yesus. Denish berdoa untuk Bini agar iman di hatinya terus tumbuh. Doa yang kedua, memohon kesembuhan untuk tumor Bini. "Setelah doa, meski masih sakit sekali, pikiran saya tenang. Saya berserah pada Tuhan," imbuhnya.
Esok paginya sekitar jam 05.00 WIB, Bini buang air kecil. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup keras. Kaget tak karuan. Bini hampir tak percaya apa yang dilihat matanya. Air seninya hitam pekat seperti air kopi dengan bau menyengat. "Perut saya yang gede seperti orang hamil 9 bulan lama-lama kempes, kisahnya dengan mata berkaca-kaca mengingat kejadian ajaib itu.
Tentu saja Bini heran dengan kejadian itu. Begitupun Christine yang menemani di rumah sakit sepanjang malam. Berita segera sampai di telinga suster jaga dan akhirnya pihak rumah sakit kembali mengecek kondisi Bini, USG lagi. Hasilnya? Mukjizat Tuhan! Tumornya tidak ada! Rasa sakit yang menyiksanya hilang lenyap. Bini merasakan badannya segar. "Seperti mimpi," ucapnya.

Kesaksiannya Membawa Berkat

Dokter yang menangani Bini tak kalah bingung. "Dia bertanya pada saya, dikasih apa Bu? Pakai dukun, ya?" kata Bini menirukan kebingungan dokter. Bini lantas menceritakan pada dokter apa adanya. Apa yang telah ia dengar, apa yang dirasakannya. "Saya percaya yang menyembuhkan saya Gusti Yesus. Saya ndak pakai apa-apa. Cuma didoakan dan percaya saja pada-Nya,"
Kejadian ajaib itu segera saja sampai di desa Bejen, tempat tinggal Bini. Semua orang yang mendengarnya takjub. Lebih-lebih bagi mereka yang sehari sebelum kejadian itu membesuk Bini, melihatnya dengan perut besar dan merintih kesakitan. Tetangga. keluarga, dan teman- teman di pasar yang datang melihatnya, tentu saja penasaran ingin mendengar "kisah aneh" tersebut.
Dua hari kemudian, Bini diizinkan pulang, meninggalkan rumah sakit. Kejadian yang dialami Bini benar-benar sebuah kesaksian besar tentang kuasa Tuhan. Beberapa orang yang yang tak puas dengan kisah Bini yang selintas itu kembali mendatanginya untuk bertanya lebih dalam. "Saya cerita apa adanya. Ndak nambahi, ndak ngurangi. Pokoknya saya didoakan, saya beriman, saya percaya Tuhan Yesus dan paginya terjadi seperti itu. Lalu firman Tuhan yang diceritakan pada saya itu saya ceritakan kembali pada orang-orang yang Tanya sama saya. Mbah Soma, salah satu tetangga yang dengar cerita saya itu lalu menerima Yesus. Sampai sekarang ia setia pada Tuhan dan rajin pergi ke gereja," kenangnya penuh rasa haru.

Merasakan Perubahan Hidup

Merasa sudah sehat, beberapa hari kemudian, Bini kembali bekerja, jualan di pasar. Namun ada satu perubahan. Bukan cuma kerja keras yang dilakukan Bini setiap harinya, "Saya juga berdoa mohon berkat untuk jualan saya dan berdoa juga buat anak-anak," kata Bini tersenyum.
Sukacita Bini melimpah. Sungguh ia tak dapat menghitung kebaikan- kebaikan Tuhan. Doa dan kerja yang dilakukan bertahun-tahun telah membuahkan hasil. "Saya berterima kasih sama Tuhan, anak-anak bisa sekolah dengan baik, dan ikut Tuhan".
Harapan Bini tercapai. Kedelapan anaknya, Subito, Christine Sri Rahayu, Suharso, Catur Samiasih, Is Wahyudi, Wiji Utami, Erni Johan, dan Hasto Nugroho telah mengecap pendidikan lebih dari orangtuanya. Uniknya, empat dari mereka adalah jebolan STII, Jogjakarta. "Anak bungsu saya masih kuliah di UKRIM," kata Bini yang banyak mengasuh anaknya sendirian karena suaminya telah meninggal sepuluh tahun lalu. Rentetan anugerah yang dirasakan Bini seakan meling kupi masa tuanya. Dan pasti anugerah terbesar di dalam hidupnya adalah perjumpaannya dengan Yesus, Sang Juru Selamat. "Saya madep mantep nderek Gusti Yesus," ungkapnya dalam bahasa Jawa, maksudnya tidak ragu-ragu atau sungguh-sungguh mantap mengikut Tuhan Yesus.


Sahabatku, kesaksian ini sungguh menjadi berkat buatku. Dari kesaksian ini kita bisa mengerti bahwa untuk mengalami mukjizat Tuhan itu tidak sulit, cukup dengan percaya di dalam nama Tuhan Yesus, semua bisa dinyatakan bagi kita.
Tapi kenyataan sering kali kita sudah berkata kita percaya, tapi belum ada jawaban atas doa kita, belum ada mukjizat.Kenapa ini bisa terjadi? ternyata hal ini pernah terjadi juga waktu jaman Tuhan Yesus ada. Kita bisa lihat di Matius 14:17-21. Menceritakan tentang orang yang mempunyai seorang anak yang sakit ayan, tapi belum sembuh juga walau sudah dibawa ke murid Tuhan Yesus. Sama seperti keadaan kita yang mengaku percaya Tuhan pasti sembuhkan, Tuhan pasti jawab doa kita, Tuhan pasti nyatakan mukjizat, tetapi sampai sekarang belum terjadi dan membuat kita ragu.

Dan jawaban dari keadaan ini dijelaskan secara jelas di Firman Tuhan dalam Matius 17:20 yang berkata "Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu." Semua belum terjadi karena ternyata kita kurang percaya. Percaya itu bukan cuma sebatas perkataan saja. Kalau percaya sebatas perkataan semua bisa melakukan, tetapi tidak semua yang merasakan mukjizat Tuhan, karena iman percaya kita belum penuh kepada Tuhan. 

Firman Tuhan dalam Matius 11:24 berkata "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." Dari Firman ini kita bisa mengerti kalau iman percaya kita harus sampai merasa telah menerima. Saat kita tanamkan cara berfikir seperti itu, kita percaya di dalam Tuhan ada kepastian. Walau saat kita doakan kita belum melihat sesuatu, tapi kita percaya Tuhan sedang bekerja buat kita. Kita sudah melakukan bagian kita, selebihnya biar Tuhan yang bekerja. Jadi apa yang kita minta dan doakan, asal untuk kemuliaan nama Tuhan, pasti dinyatakan di dalam hidup kita.

Sahabatku, pernahkan kamu mengalami saat-saat dimana apa yang kamu doakan belum dijawab sama Tuhan, belum ada mukjizat, belum ada kesembuhan? Mari kita belajar punya iman percaya yang tulus dan benar dihadapan Tuhan, percaya penuh akan kuasaNya. Percaya disaat kita berdoa Tuhan sudah jawab doa kita, selebihnya biarkan Tuhan bekerja. Walau terkadang waktunya Tuhan tidak seperti yang kita pikirkan, jangan menyerah, tetap yakin Tuhan sudah jawab doamu. 
Tuhan pasti nyatakan mukjizatNya di dalam hidupmu.

Tuhan Yesus memberkati ^__^

Rabu, 09 Januari 2019

HUTANG CAPAI RATUSAN JUTA, KELUARGA KAMI JADI RETAK! INI YANG TUHAN LAKUKAN, DENNY HILTON

Siapa sih yang tidak menginginkan memiliki kehidupan yang lebih baik lewat uang yang dimilikinya? Tidak terkecuali aku. Lewat seorang teman yang kukenal dekat dengan istri, kami memutuskan untuk ikut berinvestasi kepadanya dengan keuntungan yang sangat menggiurkan.
Dua kali lipat. Itulah jumlah keuntungannya. Meski ragu, tapi dengan berbekal kepercayaan, aku memberanikan diri untuk menyerahkan sejumlah uang untuknya. Aku pikir, dengan keuntungan yang cukup besar tersebut, kehidupan keluarga kami akan jadi jauh lebih bahagia.
Istriku, Donna berhasil membuatku memutuskan untuk mengikuti teman yang telah dikenalnya selama lebih dari 7 tahun ini. Belum lagi, orang ini telah memberi jaminan kepada kami berupa sertifikat tanah, BPKB mobil, kami pun semakin mantap untuk menyerahkan uang kepadanya.
Total uang yang kami serahkan kepadanya adalah Rp. 300 juta. Sumber uang tersebut diantaranya, 1/3 berasal dari gesek tunai kartu kredit, sementara 2/3nya adalah uang kami pribadi. Saat itu, tentu saja rasa was-was kurasakan. Hanya saja, aku mengurungkan perasaan itu setelah mengetahui keuntungan yang akan diterima nantinya.
Uangku dibawa kabur
Tidak lama setelah aku dan istri memberikan uang tersebut kepada teman tersebut, nomor handphonenya tidak lagi bisa dihubungi. Apalagi saat tagihan kartu kredit kami sudah jatuh tempo. Mau itu di kantor, di rumah, atau dimanapun, rasanya telepon kami ini tidak berhenti dari orang-orang yang menagih utang tersebut.
Parahnya lagi, asset-aset berupa surat rumah, surat kendaraan dan lain sebagainya, yang digunakan olehnya sebagai jaminan, semuanya tidak pernah ada. Usaha aku dan istri tidak sampai di situ. Kami berusaha untuk menghubungi orang ini untuk dimintai kepastiannya terhadap uang yang  telah kami percayakan. Hasilnya nihil. Kami dengar, orang tersebut telah pergi membawa uang kami ke Australia.
Depresi menjadikanku hampir membunuh
Ada saat dimana kami sudah lelah menghadapi tagihan dari mana-mana. Kantor, rumah, semuanya menjadi sasaran mereka. Bukan kami tidak mampu membayar, hanya saja kami butuh waktu untuk melunasinya. Sampai satu waktu, dimana ada seorang penagih utang yang mendatangi rumah.
Aku emosi. Ada pisau didekatku. Ada perasaan ingin meraih pisau tersebut dan menusukkannya pada penagih utang tersebut. Untungnya, ia tidak emosi. Aku tidak jadi meraih pisau tersebut dan kami membicarakan perkara hutang ini dengan baik.
Hutang membuat keluarga kami mengalami keretakan
Aku menyalahkan kejadian ini sepenuhnya pada istriku. Kalau saja ia tidak mengenalkanku pada orang itu, pastilah kehidupan kami lebih baik sekarang ini. Aku mulai menjadi pribadi yang lebih emosi. Aku tidak lagi berdoa. Aku selalu menolak ajakan istri untuk bersaat teduh setiap pagi. Aku bisa mendengar istriku membacakan Mazmur 23. Tetapi aku tetap dalam posisiku yang tertidur.
Sebagai gantinya, aku menjadi pribadi yang makin emosian. Kehidupan malam juga menjadi pelarianku. Aku bahkan berselingkuh di belakang istriku. Semakin hari, rasanya beban kehidupanku semakin berat.
Di perjalanan pulang setelah mampir ke sebuah klub malam, ada perasaan untuk mengakhiri kehidupanku. Aku berkendara dengan sangat kencang, menabrakkan diriku ke sebuah pohon. Aku terjatuh, tetapi luka tersebut tidak parah. Aku mulai merenungkan kehidupanku. Aku ingat, kalau sampai aku mati, siapakah yang akan bertanggung jawab atas istriku?
Tak jadi bunuh diri, keluarga kami dipulihkan
Aku menyadari kalau istriku berusaha sebaik mungkin untuk bisa membayar hutang-hutang ini. Dari pagi sampai malam, bahkan akhir pekan pun ia habiskan untuk bekerja. Sampai aku mendapatinya sakit. Ada perasaan iba kepada istriku tersebut. Aku menyadari kalau seharusnya, aku sebagai seorang kepala keluargalah yang seharusnya bekerja dengan keras.
Aku menyesal atas setiap hal yang kulakukan. Aku ingat pernah memperlakukannya dengan kasar, aku mohon ampun atas perselingkuhan yang kujalani, aku memohon ampun atas setiap kesalahan yang telah aku perbuat kepada istriku. Tangis kami pecah.
Aku tahu kalau ini bukanlah perkara mudah untuk menerimaku kembali. Aku percaya kalau bukan karena Kristus, kehidupan pernikahan kami tidak akan kembali pulih. Aku merasakan sukacita pada detik itu juga.
Kami berdua melepaskan pengampunan satu dengan yang lain, juga pada orang yang telah menipu tersebut. Puji Tuhan, ketika keluarga kami pulih, Tuhan membukakan segala caraNya untuk melepaskan kami dari beban hutang kami.  Tuhan mulai memberi kami hikmat agar bisa menyelesaikan permasalahan ini. Bahkan, salah satu kerinduan kami sebagai suami istri, yaitu anak, kami juga telah mendapatkannya dari Tuhan.
Aku percaya, apa pun permasalahan kita, apa pun yang kita pergumulkan, saat kita datang kepada Tuhan untuk memohon ampun dan meminta pertolonganNya, maka Tuhan Yesus pasti akan mengulurkan tanganNya untuk kita. 
Sumber : solusi
www.jawaban.com

Sabtu, 05 Januari 2019

SEMBUH DARI SAKIT JANTUNG SEJAK KECIL

Disembuhkan dari sakit jantung sejak kecil yang dikarenakan tidak bisa mengampuni orang lain.

Pada tanggal 24 Oktober 2004 jam 9.30 malam, saya kedatangan tamu seorang wanita muda yang mengidap penyakit jantung sejak kecil. Dia menceritakan tentang masalahnya sejak kecil sampai dewasa ini, dan saat ini tubuhnya lemah serta sesak nafas, dan dadanya sakit. Menurut dokter ada penyumbatan di jantungnya dan harus dikoret melalui operasi jantung.

Sejak kecil wanita ini sudah disingkirkan oleh ibunya. Dia selalu dianiaya oleh ibunya, dan selalu dibedakan perlakuannya terhadap adik dan kakaknya. Bahkan karena saking stress-nya dan dendamnya dengan ibunya, wanita tersebut lari dan kuliah di kota lain. Dia tipe wanita yang kurang kasih sayang. Pada saat menempuh kuliahnya ini, dia bertemu dengan calon suaminya yang sanggup memberi kasih sayang kepada wanita tersebut pada mulanya. Tetapi dengan berjalannya waktu, calon suaminya tersebut mulai sering menganiaya wanita tersebut bahkan laki-laki tersebut mulai menjalin hubungan dengan wanita lain. Dan akhirnya wanita ini sangat dendam dengan calon suaminya.

Setelah wanita tersebut selesai bercerita tentang masalah yang dideritanya, Kami mengajak dia untuk menyembah Tuhan. Saya mengiringi dengan gitar dan melantunkan penyembahan “Seperti yang Kau Ingini”. Wanita tersebut mulai menangis. Dan saya ajak untuk mengampuni ibunya. Wanita tersebut menjerit-jerit sekeras-kerasnya tidak mau mengampuni ibunya, karena ibunya sangat kejam sering memukul dia tiada ampun. Setiap saya ajak wanita tersebut untuk mengampuni ibunya, dia menjerit-jerit tidak mau mengampuni ibunya, ibunya jahat tidak sayang kepada dia. Lama sekali wanita tersebut mau mengampuni ibunya. Setelah dia mampu untuk mengampuni ibunya, dia mulai muntah-muntah banyak sekali. Kami terus menyembah dan mengucap syukur karena Tuhan Yesus sudah memampukan wanita ini untuk mengampuni ibunya.

Kemudian kami mengajak wanita ini untuk mengampui calon suaminya. Wanita ini mulai meronta-ronta dan menjerit-jerit tidak mau mengampuni calon suaminya. Karena laki-laki ini sering memukuli dia. “Dia kejam, tidak sayang dengan aku”. Dan saya jawab:”Tidak, calon suamimu ini sangat sayang sama kamu, kalau tidak sayang dia sudah lama tinggalkan kamu”. “Mari ampuni dia, kalau kamu tidak mengampuni calon suamimu, kamu juga tidak akan diampuni oleh Bapa di Sorga”, kata saya. Dia menjawab:’Tidak mau, dia orangnya kejam, dia juga pacaran dengan wanita lain”. “Di dalam nama Tuhan Yesus, aku minta Roh Kudus untuk memampukan wanita ini mengampuni calon suaminya”, saya memohon kepada Tuhan. Setiap kali wanita ini berusaha mengampuni calon suaminya, dia selalu muntah-muntah. “Di dalam nama Tuhan Yesus, saya perintahkan roh-roh yang mencengkeram jantungnya keluar”. Darah segar dan darah kental berwarna merah hati banyak keluar dari mulutnya. Lama sekali wanita ini mampu mengampuni calon suaminya yang sering menganiaya wanita tersebut. Kemudian kami meneruskan menyembah Tuhan Yesus. Diantara penyembahan ini, wanita tersebut mulai mengampuni calon suaminya sambil menangis. Ternyata Tuhan sudah memampukan wanita tersebut untuk mengampuni calon suaminya.

Seminggu kemudian, dia bersaksi bahwa jantunnya sudah sembuh dan telah dicek ke dokter. Dan calon suaminya menjadi sangat baik dengan wanita ini. Dengan tertawa yang mengekspresikan sukacitanya, dia berterima kasih pada saya karena semua masalahnya sudah diselesaikan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sungguh sangat luar biasa.
Dendam yang bertahun-tahun membuat wanita ini mengidap penyakit jantung. Karena dia datang kepada Tuhan Yesus, semua masalahnya sudah diselesaikan-Nya.
Amin.
Tuhan Yesus memberkati

Sumber : yesuskristus.com

Selasa, 01 Januari 2019

KESAKSIAN DARI KENYA, AFRIKA


Kesaksian dari Kenya, AfrikaPDFPrintE-mail
Kesaksian dari mujizat-mujizat yang terjadi dari pelayanan seorang hamba Tuhan di Kenya, Afrika.

 Kira-kira pada awal Maret 2000, John K. Nduati, seorang gembala dari Nairobi (ibukota Kenya – Afrika), datang mengadakan KKR 4 hari di kota saya, Eldoret, Kenya. Ada banyak mukjizat kesembuhan dan karunia pengetahuan mengalir dengan bebas. Kami berdiri dengan penuh keheranan dan kekaguman tentang apa yang Allah sedang kerjakan; Roh Kudus berkuasa sepenuhnya di lapangan tempat KKR itu. Saya pernah mendengar atau membaca tentang hamba-hamba Tuhan yang memiliki karunia pengetahuan, karunia hikmat, dan karunia penyembuhan dan lain-lain. Namun, apa yang saya lihat di dalam pelayanan Pendeta Nduati sangat mencengangkan. Apa yang Tuhan telah karuniakan kepadanya, saya sebut sebagai “rentetan pewahyuan” dalam bentuk karunia perkataan pengetahuan, karunia perkataan hikmat, plus nubuatan.  Kisah berikut ini adalah beberapa contohnya:Pada malam kedua (saya tidak menyaksikan KKR malam pertama), ada ribuan orang di dalam KKR itu. Setelah hamba Tuhan selesai berkhotabh, ia berkata bahwa ia ingin berdoa bagi orang-orang yang hadir. Ia menunjuk ke suatu arah dan berkata, “Di sana ada seorang wanita di arah yang saya tunjukkan yang memiliki suami seorang pengemudi. Nama wanita ini Esther, dimanakah dia?” Seorang wanita mengacungkan jarinya. “Mari, maju ke depan!” Setelah wanita ini datang, inilah yang dikatakan hamba Tuhan itu, “Selama ini engkau diberi nafkah dari uang hasil curian. Suamimu adalah seorang pencuri. Tetapi sejak hari ini suamimu tidak akan mencuri lagi.” Kemudian hamba Tuhan ini mulai memanggil banyak orang di dalam KKR itu dengan nama mereka masing-masing – nama kecil maupun nama keluarga – untuk maju ke depan. Apabila namanya sama, Allah akan menentukan siapa di antara mereka yang dimaksudkannya.

Ketika hal ini berlangsung begitu lama, beberapa orang mulai bertanya-tanya, dari mana hamba Tuhan ini tahu nama-nama setiap orang. Kemudian hamba Tuhan itu berkata, “Disini ada seorang pemuda di bagian belakang (sambil tangannya menunjuk ke suatu arah) dan namanya John. John, engkau telah bertanya-tanya kepada dirimu sendiri, ‘bagaimana pendeta ini tahu nama orang-orang di sini?’ Dimana engkau, John?” Seorang pemuda mengangkat tangannya. Hamba Tuhan ini berkata, “Majulah, John, saya akan memberitahukan sesuatu tentang dirimu.” Ketika Pendeta Nduati selesai berdoa bagi group pertama, mereka semua menerima mukjizat. Kebanyakan di antara mereka rebah dalam kuasa Roh Kudus. Kemudia pendeta itu berkata, “Di sini ada empat puluh orang yang positif mengidap sakit HIV AIDS. Majulah ke depan!” Tanpa malu-malu orang-orang itu maju. Ia menghitung ada 39 orang sudah datang ke depan. Ia tahu ada seorang yang masih ketinggalan. Kemudian Pendeta Nduati berkata, “Di sini ada satu orang pemuda di bagian belakang sana (sambil menunjuk ke suatu arah) bernama Philip Ruto. Pacarmu baru saja menularkan AIDS kepadamu tahun lalu, dan kamu sekarang belum maju ke depan.” Ketika namanya disebut, pemuda ini berlari ke depan. Setiap orang di KKR itu tertawa dan bertepuk tangan. Pendeta itu berdoa dan penyakit AIDS segera hilang dari antara mereka. Kemudian pendeta itu berkata lagi, “Di sini ada lima puluh wanita yang belum dikarunia anak. Ayo, maju untuk didoakan.” Ternyata ada 60 orang wanita maju ke depan.

Maka hamba Tuhan itu berkata, “Lihatlah kepadaku. Jika kalian di sini belum memiliki suami, kalian boleh kembali ke belakang.” Beberapa wanita keluar dari kelompok itu. Kemudian hamba Tuhan itu meneruskan, “Jika di antara kalian ada yang memiliki suami kedua, kembalilah ke belakang.” Seorang wanita pergi ke belakang. Kemudian ia meneruskan lagi, “Jika pada masa lalu ada di antara kalian yang pernah menggugurkan kandungan dua kali, kembalilah ke belakang!” Ketika seorang wanita pergi, hamba Tuhan itu berkata kepadanya, “Saya tidak dapat berdoa bagi kamu untuk memperoleh anak lagi karena kamu telah menggugurkan kandungan dan membuang anak-anakmu ke dalam jamban. Salah seorang di antara anak-anak itu seharusnya akan menjadi seorang pengkhotbah. Kamu harus bertobat dan berdoa selama setahun sebelum Bapa mempertimbangkan akan memberi kamu anak lagi.” Akhirnya tepat 50 wanita berdiri di depan. Pendeta itu menyuruh semua wanita itu untuk bergeser ke sebelah kanan. Kemudian ia berkata, “Jika saya memanggil nama kalian, pindahlah ke sebelah kiri!” Dengan mengherankan pendeta itu memanggil satu persatu wanita itu dan mereka pindah ke sebelah kiri, seolah-olah hamba Tuhan ini membacakan daftar dua puluh lima orang, padahal dia belum pernah mengenal siapapun di kota ini. Esther, Jane, Chepchumba, …. dan lain-lain. Setelah mereka dipanggil, terbentuklah kelompok di sebelah kiri dan di sebelah kanan. Kepada group yang satu hamba Tuhan ini berkata, “Kalian yang di sebelah kiri, mulai besok kalian sudah boleh membeli perlengkapan bayi laki-laki. Bapa akan memberikan kalian anak laki-laki.” Dan kepada group lainnya, “Kalian yang di sebelah kanan, mulai besok kalian sudah boleh membeli perlengkapan bayi perempuan. Bapa akan memberikan kalian anak perempuan.” Kemudian ia menunjuk ke seorang wanita dan berkata, “Kepadamu, Tuhan akan memberikan bayi laki-laki dan perempuan, kembar. Mulai besok, persiapkanlah pakaian anak perempuan dan laki-laki.” Kemudian hamba Tuhan ini berdoa bagi mereka semua. Ketika hamba Tuhan ini selesai melayani mereka, ia bertanya berapa banyak di antara jemaat yang hadir yang ingin menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka. Sekitar delapan ratus orang maju ke depan dan menerima Tuhan Yesus. 
sumber : yesuskristus.com