Kamis, 28 Februari 2019

KEBENARAN DIBUKAKAN

Saya seorang pria berusia 27 tahun dari keluarga bukan Kristen. Sejak di bangku SMP, saya mulai tertarik dengan pelajaran agama, khususnya mengenai perbandingan agama. Saya juga aktif dalam kegiatan keagamaan di SMP. Saya menjadi lebih tertarik dengan ilmu perbandingan agama setelah saya nonton film tentang Yesus di TVRI bulan Desember 1988, menjelang Natal.
Saya dahulu tidak percaya dengan semua ajaran Kristen, baik itu Allah Tritunggal, dosa warisan, dan ajaran-ajaran Kristen yang lain, khususnya tentang penyaliban Yesus, yang katanya disalib untuk menebus dosa manusia. Ada beberapa pertanyaan yang janggal mengenai penyaliban Yesus, yaitu:
Benarkah Yesus disalib, sedangkan Ia sendiri adalah Tuhan? Bukanlah Tuhan itu maha perkasa? Mungkinkah Tuhan bisa mati di atas kayu salib?
Menurut ajaran agama saya, yang disalibkan adalah Yudas, karena ia telah mengkhianati Yesus dan Allah telah menolong Yesus naik ke langit. Benarkah Yesus disalib?
Saya mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Suatu kali, saya kembali menonton film Yesus yang disiarkan oleh RCTI pada perayaan Paskah. Setelah menonton film tersebut, saya mengirim surat ke sebuah yayasan penginjilan yang tertera di film tersebut dan mereka mengajak saya berdialog tentang ajaran-ajaran Kristen, baik itu tentang Allah Tritunggal, dosa warisan, dan penyaliban Yesus, kematian-Nya untuk menebus dosa kita. Roh Kudus bekerja dan memberikan saya pengertian tentang pertanyaan-pertanyaan saya.
Yesus bersabda, yang tercantum dalam injil Matius 20:17-19, yang berbunyi:
Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:
"Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.
Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."
(Baca pula Markus 8:31, Lukas 18:31-34, Yohanes 12:20-36)
Dari keempat Injil tersebut telah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya: Mengapa Yesus tidak berdaya waktu disalib? Mengapa Yesus tidak melawan dan diam saja padahal Ia adalah Tuhan? Ini jawabnya: karena Tuhan Yesus, di empat Injil sudah memberitahukan bahwa diri-Nya akan menderita, dan penderitaan Yesus itu untuk menggenapi segala yang telah dinubuatkan Allah melalui para nabi sebagaimana tercantum dalam kitab-kitab Perjanjian Lama.
Jika Tuhan melarikan diri, atau dengan kata lain ditolong oleh Allah naik ke langit dan Allah mengubah wajah Yudas menjadi Yesus, sehingga yang ditangkap dan disalib adalah Yudas, itu sama saja dengan Tuhan yang merusak rencana-Nya sendiri, karena Allah telah menubuatkan melalui para nabi, bahwa Anak Manusia akan menderita dan serahkan kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Ini sama dengan orang yang telah membuat sebuah rencana matang, lalu di kemudian hari ia merusaknya sendiri. Allah adalah Allah yang membuat rencana dan rencana-Nya tidak akan dapat digagalkan oleh siapapun dan tidak mungkin diubah oleh-Nya, karena Ia maha tahu. Jika Allah yang telah membuat rencana, dan rencana-Nya kemudian diubah oleh-Nya oleh karena mungkin ada yang kurang baik dari rencana yang telah Ia buat, maka itu menunjukkan bahwa Allah yang demikian adalah Allah yang kurang maha tahu.
Lalu rencana matang apakah dengan kematian Yesus di atas kayu salib? Rencana matang itu adalah:
Kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib untuk menebus dosa kita, sebagaimana diterangkan dalam surat Roma 5:
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Juga tertera dalam 1 Korintus 15:3-6. Ini artinya, kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib adalah untuk menghapus dan menebus dosa-dosa kita. Ia adalah Tuhan, Juruselamat kita yang perkasa.
Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu berkata kepada mereka: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan segala sesuatu yang ditulis oleh para nabi mengenai Anak Manusia akan digenapi.
Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, diolok-olokkan, dihina dan diludahi,
dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit."
Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengerti semuanya itu; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan.
Oleh karena pekerjaan Roh Kudus, maka saya boleh mengerti mengapa Tuhan Yesus harus mati di kayu salib. Itu bukan berarti bahwa Ia tidak mampu menolong diri-Nya sendiri, tetapi setiap dosa harus ada penebusan. Karena Allah adalah Allah Yang Maha Suci, sehingga tidak ada kemungkinan manusia yang sudah jatuh dalam dosa dapat menghampiri Allah. Kita dapat datang menghampiri Allah yang Maha Suci, apabila diri kita juga suci. Dan yang menyucikan kita adalah darah Yesus. Darah melambangkan hidup, oleh karena itu dalam Perjanjian Lama ada darah binatang yang dialirkan untuk berdamai dengan Allah dan penggenapannya adalah Darah Anak Allah sendiri, yaitu Yesus yang dialirkan untuk menebus dosa kita.
Dalam Matius 27:1-5, dijelaskan mengenai penyesalan Yudas yang telah menjual Yesus, bahwa ia mati bunuh diri. Ia menyesal, tetapi tidak bertobat. Sedangkan Petrus, yang telah menyangkal Yesus, menyesal dan bertobat. Kematian Yudas pun tertera dalam surat Kisah Para Rasul 1:18.
Oleh karena pengertian yang telah diberikan, maka saya bertobat dan menerima Yesus yang adalah Tuhan, Juruselamat, dan Raja.
Ada satu keinginan saya setelah bertobat, bahwa saya ingin memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus yang telah mati untuk menebus dosa dan telah bangkit dari kematian dan menang atas dosa. Saya terus mendalami akan iman Kristen dengan pemahaman teologia yang benar.
Mengenai kesaksian ini yang dititikberatkan pada kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib adalah semata-mata untuk membuat kita paham mengenai rahasia yang telah Allah berikan kepada kita. Sebenarnya saya juga ingin mengulas tentang Allah Tritunggal, dosa warisan, namun biarlah tentang keduanya itu akan saya buat dalam bentuk buku.
Semua kesaksian mengenai iman saya kepada Kristus ini saya tulis bukan karena paksaan, tekanan, ataupun iming-iming, tetapi oleh karena kemurahan Tuhan yang rela memberikannya kepada saya ketika pencarian kebenaran selama 12 tahun.
Semoga kesaksian ini boleh menjadi berkat dan sebelum mengakhirinya saya ingin mengutip surat Roma 10:9:
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan
Tuhan Memberkati. AMIN
Jakarta, Desember 2002
Budi S.
copas : sabda.org

Minggu, 24 Februari 2019

KESOMBONGAN MENGHANCURKAN PERSAHABATANKU

Kesombongan Menghancurkan Persahabatanku

Pada saat saya masih kuliah, saya merasa bahwa saya merasa mampu melakukan segala sesuatu dengan kemampuan saya sendiri. Saya semakin senang dan besar kepala ketika teman-teman saya mengakui bahwa saya memang mampu melakukan tugas-tugas dengan benar. Saya menjadi sombong dan meremehkan setiap tugas yang saya dapat karena nilai-nilai saya bagus dan nyaris sempurna. Namun, saya tidak menyadari kalau semua itu berkat dari Tuhan, dan keberhasilan saya hanya karena pertolongan Tuhan.
Hingga pada suatu saat, tepatnya pada semester akhir kuliah saya, saya menghadapi masalah dalam mengerjakan tugas akhir sebagai syarat kelulusan kuliah. Saya sakit selama beberapa hari hingga tidak bisa masuk kuliah. Saya sangat sedih karena selama saya sakit tidak ada seorang teman pun yang datang menjenguk atau memberi informasi terkait dengan mata kuliah maupun keadaan kelas di kampus. Saya sadar bahwa saya sudah ketinggalan banyak materi pelajaran, dan hal ini akan berpengaruh pada kelulusan saya. Setelah saya sembuh, saya segera bertanya kepada teman saya, tetapi mereka tidak memberikan jawaban yang jelas dan seolah tidak memedulikan pertanyaan saya. Dengan kejadian ini, saya diingatkan Tuhan akan kesalahan saya. Selama ini saya tidak menyadari bahwa kemampuan saya itu adalah pemberian Tuhan Yesus; tanpa pertolongan-Nya saya tidak mampu mengerjakan apa pun dengan kekuatan saya sendiri.
Saya mulai sadar apa yang telah saya perbuat, saya terlalu membanggakan diri sendiri, saya begitu sombong dengan kepintaran saya dalam melakukan segala hal, dan cenderung tidak mau kalah dalam berdebat dengan siapa pun. Saya bersyukur Tuhan mengingatkan saya akan kesombongan saya ini. Namun demikian, saya merasa bahwa penyesalan saya ini sudah terlambat karena teman-teman saya tidak ada yang mau memedulikan saya dan menolong saya dengan memberikan penjelasan kepada saya tentang tugas kuliah yang harus saya kerjakan.
Dalam keadaan seperti ini, saya pun segera pulang dan berdoa kepada Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh, merendahkan hati, dan meminta pengampunan kepada-Nya karena saya terlalu membanggakan diri sendiri dan sombong. Dan saat itu pula, hati saya digerakkan Tuhan untuk meminta maaf kepada teman-teman saya karena kelakuan saya, kesombongan saya, dan segala kesalahan saya.
Keesokan harinya, saya meminta maaf kepada teman-teman saya, tetapi mereka hanya diam saja. Saya merasa tidak dianggap dan tidak enak hati. Dan, ketika saya mau pergi, ada seorang yang menanggapi permintaan maaf saya dan menjelaskan kepada teman-teman saya bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sama seperti Tuhan mengampuni kesalahan kita. Lalu, ia tersenyum dan mengatakan bahwa dia memaafkan saya. Tidak lama kemudian, teman-teman saya memaafkan saya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus karena melalui sakit yang saya dapat, Dia menyadarkan saya bahwa Dia mengasihi saya dan menghendaki saya untuk rendah hati di hadapan orang, dan terlebih lagi di hadapan-Nya.
Sumber Kesaksian: Yans
"Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkitkan perkara, menceraikan sahabat yang karib." (Amsal 17:9)
http://alkitab.sabda.org/?Amsal+17:9 >
copas : sabda.org

Rabu, 20 Februari 2019

KISAH PERTOBATAN DAN PEMBEBASANKU DARI RASA SAKIT HATI DAN KEBIASAAN BERDOSA

Terpeliharanya hidup tidak bergantung pada seberapa kaya atau cukupnya hidup seseorang. Demikianlah yang terjadi dalam hidupku. Orang tuaku bekerja sebagai wiraswasta, dan hidup kami berkecukupan secara materi. Akan tetapi, keluargaku tidak bahagia karena perhatian dan kasih sayang di antara anggota keluargaku sangat kurang. Pertengkaran satu sama lain sering terjadi, kesalahan kecil pun yang aku lakukan tidak jarang membuatku mendapatkan omelan-omelan kasar yang menyakitkan. Orang tuaku sering mengatakan bahwa aku adalah anak perempuan yang bodoh, tidak cantik, dan tidak menghargai orang tuaku. Hal itu tentu saja membuatku sangat kecewa terhadap mereka.
Aku bertumbuh menjadi anak perempuan yang rendah diri dan penakut. Aku takut orang lain juga akan menolakku dan mengatakan hal-hal buruk tentang diriku. Akhirnya, aku mencari pelarian ke pendidikan, aku menyibukkan diri untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah dan pelajaran-pelajaran yang kudapatkan. Aku mengejar kepopuleran. Aku memang berhasil menjadi juara kelas terus, bahkan terpilih juga sebagai siswa teladan sewaktu SD dan SMP. Namun, aku tidak bahagia dan tidak merasa puas karena aku selalu hidup dalam ketakutan. Di sisi lain, aku menjadi sombong dan sering merendahkan teman-temanku. Aku tahu dan sadar bahwa semua yang aku perbuat itu tidak benar.Meskipun aku selalu rajin beribadah di gereja dan aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani, tetapi aku tidak mampu keluar dari dosa-dosaku dan sakit hati yang menjeratku. .SUNGGUH SANGAT MENGENASKAN!!!
Suatu hari, ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP, ada seorang siswa SMA yang menjelaskan kepadaku tentang status semua orang di dunia dan hukuman di balik semua itu. "Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23), dan upah bagi semua orang yang berdosa adalah maut atau kematian kekal di neraka.
Jelas aku tidak mau mendapatkan tempat di neraka! Karena itu, aku mengakui dosa-dosaku waktu itu dan tidak mau mengulanginya lagi. Lalu, aku memohon pertolongan Tuhan Yesus yang telah mati bagiku di kayu salib untuk menebus dosa-dosaku. Aku juga mengundang-Nya masuk ke dalam hatiku sebagai Tuhan yang berhak mengatur hidupku dan sebagai Juru Selamatku secara pribadi. Aku tidak mau terus-menerus hidup dalam dosa-dosaku, keminderanku, dan rasa sakit hatiku.
Setelah aku berdoa, aku merasa lega sekali. Aku sangat bersukacita. Aku berjumpa dengan Pribadi yang mengasihiku dan yang tidak akan menyakitiku. Aku juga sangat yakin kalau dosa-dosaku sudah diampuni dan aku memperoleh jaminan dari Tuhan Yesus bahwa aku tidak akan masuk neraka. Sebab, itulah janji-Nya dalam Yohanes 5:24, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup." Karena aku sudah diampuni, mulai saat itu aku belajar mengampuni orang tuaku dan menghargai teman-temanku. Aku memang tidak selalu berhasil, terkadang aku masih jatuh bangun. Namun, aku tidak takut karena keselamatanku tidak akan hilang. Keselamatan yang kuperoleh dari Tuhan Yesus ini bukan karena jerih lelahku. Sejak waktu itu, Tuhan Yesus semakin mengubah hidupku lewat firman-Nya yang kupelajari dalam kelompok Pemahaman Alkitab. Bersama teman-temanku, aku belajar suatu kebenaran bahwa hidupku ini penting dan berharga. Aku tidak perlu takut dan minder lagi. Semakin hari, aku semakin mengenal Tuhan dan kasih-Nya. Oleh karena itu, aku semakin dipuaskan dengan sukacita yang sejati.
Maukah kamu mengalami seperti yang aku alami? Mendapatkan keselamatan jiwa dan kebebasan? Datanglah kepada Tuhan Yesus dan mintalah pengampunan dari-Nya atas dosa-dosamu. Terimalah Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatmu secara pribadi. Kamu pasti bisa merdeka dari dosa dan hukuman kekal. Tuhan Yesus mengasihi kita.
Sumber Kesaksian: Ester Winarsih
"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15)

copas : sabda.org

Sabtu, 16 Februari 2019

KESAKSIAN PERTOBATAN TEVANNUS

Nama saya Tevannus, 19 tahun. Dasar kepercayaan keluarga saya adalah Buddha, tetapi dari kecil saya sudah mengenal nama Yesus Kristus dalam kepercayaan Kristen. Awalnya, saya juga pernah ikut acara sekolah minggu, tetapi pada saat remaja semua itu tidak ada artinya lagi bagi saya. Saya makin tumbuh menjadi anak yang memberontak, melawan orang tua, sombong, berkata-kata yang tidak pantas dan kasar. Saya sering menghina dan memperdaya orang. Saya menjadi seorang pendendam, egois. Lebih naas lagi karena saya jatuh dalam banyak dosa perkelahian dan dosa pornografi.
Ini semua berlanjut sampai saya duduk di kelas 3 SMA. Dalam hati kecil saya, saya sadar kalau hidup saya ini adalah hidup dengan cara yang salah. Saya tahu tentang Tuhan, tetapi itu hanya agama belaka. Artinya, saya pergi ke gereja baik-baik, tetapi setelah pulang dari gereja, sifat-sifat lama saya kembali lagi.
Satu hari, saya tidak tahan lagi dan ingin mengubah hidup saya yang kosong ini. Saya hanya berseru kepada Tuhan dalam doa saya, "TUHAN, AKU MAU BERUBAH, BANTU AKU." Tuhan menjawab doa saya. Kurang lebih dua minggu setelah itu, saya bertemu seseorang yang menceritakan tentang Injil di Mall Season City. Kami berbincang sejenak dan saat itu saya benar-benar merasa bahwa apa yang dikatakan orang ini menjamah hati saya dan dengan tantangan yang dia berikan, saya akhirnya mengambil keputusan untuk bertobat saat itu juga. Setelah saya berdoa pertobatan itu, saya langsung mengingat seruan saya kepada Tuhan dua minggu lalu.
Saya sekarang mengerti bahwa Tuhan itu sangat baik, Dia tetap menunggu sampai saya sendiri mengambil keputusan untuk mencari-Nya. Saya yakin pengalaman ini bukan kebetulan, dan ini adalah rencana Tuhan. Orang yang membawa pesan Injil itu sekarang menjadi pastor saya, dia bernama Pastor Alvin.
Saya percaya Tuhan akan membantu saya, Pastor Alvin juga membantu saya dan orang-orang lain untuk mengalami pertobatan di dalam Kristus. Sekarang, saya sedang berusaha untuk menghancurkan sifat-sifat lama saya. Saya memohon kepada Tuhan, kiranya Tuhan selalu menolong saya sehingga saya tidak lagi diperbudak oleh Iblis.
Saya bangga bisa menjadi pemenang. Hidup lama sudah saya tinggalkan. Kini, saya sangat bangga menjadi anak Tuhan yang sejati.
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9)
http://alkitab.sabda.org/?1yohanes+1:9 >
copas : sabda.org

Selasa, 12 Februari 2019

ALLAH MENGUBAH HIDUPKU

Chandra adalah seorang penduduk yang tinggal di wilayah Andhra Pradesh, India. Dia mempunyai sebuah panti asuhan dimana dia merawat orang-orang yang membutuhkan pertolongan -- anak yatim piatu, para janda dan orang-orang cacat. Chandra bekerja keras merawat dan mengasihi mereka. Tapi dulu Chandra bukanlah orang yang seperti itu. Berikut ini adalah kesaksiannya :
  • Seorang pria meninggal karena kebencianku pada Allah dan semua orang Kristen. Tujuan hidupku adalah menghajar setiap orang Kristen yang kulihat sedang menceritakan tentang Allah dan Kasih-Nya. Kadang- kadang aku membakar Alkitab mereka dan menyobek-nyobek traktat yang mereka bagi-bagikan lalu membuangnya ke tempat sampah. Temanku dan aku juga membakar tas dan pakaian mereka. Keinginanku adalah membunuh semua orang Kristen yang kutemui.
  • Pada waktu itu, aku telah memiliki sebuah toko perhiasan yang dibantu oleh 10 orang pekerja. Hasil pendapatan dari toko selalu kuhambur- hamburkan untuk memenuhi segala sesuatu yang memberiku kepuasan.
  • Ada 3 orang pendeta yang biasa berkunjung ke toko dan mendoakanku. Suatu hari, sesaat setelah ketiga pendeta itu memasuki toko, aku segera menutup semua pintu dan memukuli mereka. Aku lepaskan pakaian mereka dan membakar pakaian tsb. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa kecuali memandangiku. Karena pukulan-pukulan yang dilancarkan ke tubuh mereka, salah satu dari pendeta itu meninggal dunia. Polisi menangkapku dengan tuduhan pembunuhan dan aku dihukum penjara seumur hidup. Aku berdoa memohon bantuan kepada para dewa yang kusembah agar membebaskanku dari penjara, tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi.
  • Suatu hari, seorang pendeta datang berkunjung ke penjara. Dia menceritakan kepada semua narapidana tentang Allah dan bagaimana Dia telah mengutus Yesus Kristus, Anak-Nya, agar datang ke dunia untuk disalibkan sehingga barang siapa yang percaya pada-Nya akan mendapatkan pengampunan. Lalu, pendeta itu membagi-bagikan traktat yang kemudian mulai kubaca. Semenjak saat itu, hidupku mulai berubah. aku mulai suka membaca Alkitab -- buku yang sebelumnya sangat kubenci dan pernah kubakar. Aku mulai belajar berbicara dengan Allah.
  • Setahap demi setahap, tingkah lakuku mulai berubah. Karena tingkah lakuku baik selama di penjara maka kepala penjara mengusulkan namaku pada pemerintah setempat agar memberikan kebebasan. Akhirnya aku bebas -- bebas dari penjara dan bebas dari rasa benci yang selama ini telah menguasai hidupku.
  • Sekarang aku mulai menceritakan kepada orang-orang yang kutemui tentang semua yang telah Allah kerjakan dalam hidupku dan apa yang dapat Ia kerjakan dalam hidup mereka. Kebencianku telah diubah-Nya menjadi rasa kasih. Aku sekarang rindu memberi pertolongkan kepada mereka yang membutuhkan."
  • Sumber: S O O N, Issue no. 169
    copas : sabda.org

    Jumat, 08 Februari 2019

    PERTOBATANKU DARI KECANDUAN GAME ONLINE

    Pertobatanku dari Kecanduan Game Online

    Oleh: Lukas
    Salam sejahtera bagi kita semua,
    Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya dikenal sebagai anak yang pendiam atau tidak banyak bicara. Akan tetapi, ketika saya sudah di luar sekolah, saya berubah 180 derajat dari yang dikenal di sekolah. Berawal dari bermain dengan teman saya yang sudah dicap sebagai anak nakal di kampung, saya kemudian mulai akrab dengan rokok dan pulang larut malam. Sering kali, saya tidur di teras rumah karena pintu sudah dikunci dan terpaksa menjadi santapan bagi nyamuk. Saya sering kali menghindar ketika diajak untuk mengikuti persekutuandan saya jarang pergi ke gereja karena malas.
    Gambar: Bermain Game Online
    Saat masuk ke Sekolah Menengah Pertama, saya memiliki hobi baru, yaitu bermain game online. Saya sudah termasuk kecanduan dalam bermain game. Setiap pulang sekolah, setelah makan dan ganti baju, saya akan langsung pergi ke warnet untuk bermain game online. Dalam sehari, saya bisa memainkan game online hingga lima jam, bahkan pernah sampai sepuluh jam ketika hari libur. Saya juga mempunyai kebiasaan buruk, yaitu berkata kotor ketika sedang bermain game. Sebenarnya, bukan saya saja, hampir semua orang yang kecanduan bermain game di warnet memiliki kebiasaan berkata kotor. Selain itu, bermain game online juga bisa membuat kita menjadi orang yang boros dan membuat tubuh kurang sehatkarena kita akan menjadi malas untuk berolahraga.
    Pada saat itu, saya menjadi pribadi yang malas dan tidak benar-benar mengenal Kristus dalam hidup saya. Pernah, suatu kali, teman gereja mendatangi saya di warnet dan mengajak saya untuk datang ke persekutuan, tetapi saya menolak. Sebenarnya, dalam diri saya ada keinginan untuk ikut dalam persekutuan. Lalu, ketika saya akan mengikuti Ujian Nasional di Sekolah Menengah Pertama, saya diajak ibu saya untuk ikut dalam sebuah KKR. Di sana, saya seperti diingatkan lagi untuk datang ke persekutuan dan untuk lebih mengenal lagi tentang kehidupan orang Kristen yang taat pada Tuhan. Sedikit demi sedikit, saya diarahkan untuk menjadi pribadi yang taat pada Tuhan. Saya mulai meninggalkan kebiasaan buruk saya, termasuk kecanduan dalam bermain game, sehingga diri saya menjadi lebih mudah untuk diatur.
    Gambar: Paduan Suara
    Sesudah itu, saya ikut dalam sebuah pelayanan di gereja, yaitu pelayanan paduan suara. Seminggu sekali, kami berlatih di gereja dan hal itu membuat saya semakin menyukai kegiatan di gereja dibanding melakukan kebiasaan yang dulu. Tidak berhenti hanya pada pelayanan di gereja, saya pun mulai mengikuti sebuah persekutuan komunitas Kristen di Solo yang tujuannya untuk menjangkau siswa-siswi, khususnya dari Sekolah Menengah Atas di Solo. Saya ditunjuk menjadi salah satu pengurus yang bertugas untuk mengajak siswa-siswi datang ke persekutuan di komunitas Kristen tersebut. Persekutuan itu diadakan sebulan sekali. Setiap minggu ada rapat untuk membahas mengenai kegiatan persekutuan yang akan diadakan pada bulan berikutnya. Saya pun mulai enjoy mengikuti kegiatan tersebut untuk menjadi pribadi yang taat kepada Kristus.
    Gambar: Persekutuan
    Selama satu tahun, saya menjadi pengurus di komunitas Kristen hingga tiba saatnya saya harus diganti dengan pengurus yang baru. Akan tetapi, saya masih selalu datang ke persekutuan setiap bulan serta mengikuti kegiatan retret yang diadakan tiap tahun untuk lebih mengenal Kristus. Senang rasanya memiliki banyak teman yang dapat membantu saya untuk lebih mengenal Kristus di kehidupan saya. Saya bersyukur sekali karena Tuhan mengarahkan saya untuk kembali ke jalan yang benar dan menjadi berkat bagi sesama. Saya percaya, Tuhan pasti menolong setiap kita dalam setiap pergumulan yang kita alami. Dari pengalaman pribadi saya ini, saya belajar bahwa Tuhan Yesus Kristus sangat mengasihi saya. Ketika saya datang untuk bertobat, Tuhan akan selalu menerima kembali walaupun kita sering kali menyakiti hati Tuhan dengan kelakuan kita yang tidak mencerminkan teladan-Nya.
    Kiranya kesaksian saya ini dapat menjadi berkat bagi kita semua agar kita lebih mementingkan Tuhan dalam kehidupan kita serta untuk melayani Dia dengan segenap hati. Percayalah, tangan Tuhan akan selalu terbuka untuk setiap orang yang datang dan bertobat kepada-Nya.
    Copas : sabda.org

    Senin, 04 Februari 2019

    BERTOBAT DAN MELAYANI TUHAN

    Pada 26 Desember 2010, saya mengalami pertobatanmendadak dalam perjalanan pulang dengan bus. Sungguh, peristiwa itu benar-benar suatu kesaksian berdasarkan Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri”. Seketika itu juga, mata rohani saya dibuka dan pikiran bodoh saya menjadi bijaksana. Saya langsung mempunyai pikiran bahwa semua yang saya kejar dalam hidup ini sia-sia dan saya seharusnya menyerahkan hidup saya untuk melayani Allah. Saya bertanya-tanya, bagaimana saya bisa mulai masuk Far Eastern Bible College (FEBC), satu-satunya sekolah Alkitab yang saya ketahui sejak dahulu. Namun, ketika saya melihat ke belakang, sepertinya saya salah menanggapi panggilan untuk keselamatan ini sebagai panggilan untuk pelayanan.
    Gambar: Alkitab
    Saya terus hidup dalam dosa meskipun terus-menerus ada dorongan dari Roh Kudus, dan bahkan setelah menerima hukuman Tuhan, saya tidak bertobat. Namun, karena pemeliharaan-Nya yang penuh berkat, melalui teladan yang bersinar dari pelayan-pelayan setia-Nya secara terus-menerus, hati saya digerakkan dan ditegur. Saya dihukum untuk bertobat, lalu saya berhenti melakukan kesalahan-kesalahan saya secara bertahap. Sementara itu, ketika saya mulai membaca Alkitab lebih sungguh-sungguh, saya dipaksa untuk mematuhi Tuhan lebih lagi.
    Pada pertengahan Agustus 2016, setiap hari saya dibebani dengan pikiran-pikiran yang menyatakan bahwa Tuhan mungkin sungguh memanggil saya untuk melayani Dia secara penuh. Saya merenungkan karya kasih karuniapengudusan Tuhan dalam hidup saya, dan bagaimana saya dihukum untuk berhenti dari kecanduan saya, keinginan duniawi, hobi, dan hubungan yang tidak menyenangkan Dia. Sekarang, saya bertekad untuk menjalani hidup bagi Tuhan dan berusaha mencapai kekudusan supaya menjadi kesaksian Kristen yang baik. Saya juga mempunyai rasa lapar yang tidak pernah puas akan firman-Nya yang memaksa saya untuk memperdalam pengetahuan Alkitab saya. Dahulu, saya tidak pernah membaca buku apa pun, apalagi membaca hal-hal yang berhubungan dengan firman Allah.
    Gambar: Servant of all
    Namun, pertanyaan ini segera muncul di benak saya, “Sejauh mana saya rela menyerahkan hidup saya sepenuhnya untuk melayani Allah?” Jawaban saya, “Mungkin setelah pensiun atau sampai saya memperoleh sumber pendapatan.” Ini diikuti dengan pemikiran akan penyakit kritis, disabilitas, atau gangguan apa pun yang dapat menjadikan saya tanggung jawab bagi anggota keluarga saya yang lainnya. Semua ini memberikan sebuah pukulan bagi saya. Saya juga diingatkan akan ayat dalam Injil Lukas 12:48b: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Hal ini menimbulkan rasa takut yang tiba-tiba dalam diri saya, mengingatkan saya bahwa jika saya lari dari kehendak Allah, bahkan setelah melihat penyertaan-Nya dalam hidup saya dan menerima berkat-Nya yang melimpah, Dia tidak akan menyelamatkan saya dan pastinya bisa mengambil nyawa saya atau melumpuhkan saya, kapan pun Dia mau.
    Lalu, saya mengambil keputusan, dan pada 24 Agustus, saya mencari persyaratan aplikasi di website FEBC. Saya segera putus asa karena saya yakin bahwa saya tidak dapat menghasilkan bukti yang cukup untuk dimasukkan dalam daftar pilihan panggilan pelayanan saya. Pada malam harinya, Tuhan menggunakan Amsal 24:10: “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu” untuk menegur saya karena tekad saya kecil. Dengan rendah hati saya mengakui iman saya yang kecil karena saya memutuskan untuk melupakan pikiran tentang aplikasi itu. Saya mendapat banyak informasi tentang banyaknya tantangan dan kesulitan yang harus saya hadapi. Dan, juga tidak nyaman ketika mengetahui bahwa pelayanan bukanlah “mangkuk nasi besi”, bukan juga akan tanpa kerja keras yang konsisten, pertentangan, tekanan, dan sakit hati. Lebih lagi, pikiran-pikiran mengenai penganiayaan yang diderita oleh para nabi dan rasul membuat saya lebih khawatir lagi dalam memasuki pelayanan. Semua kekurangan ini menggerogoti niat saya untuk menerima panggilan Allah. Keyakinan saya yang lemah menyebabkan saya berdoa dengan diam-diam supaya Tuhan tidak menunjuk saya untuk mengambil tugas yang mulia itu.
    Gambar: Injil Matius
    Namun, sementara itu, oleh kasih karunia-Nya, Tuhan menggunakan firman-Nya melalui renungan harian saya dari Injil Matius untuk mendorong, menghibur, dan yang paling penting, mengajar saya untuk percaya kepada-Nya. Saya membaca tentang bagaimana Tuhan kita, Yesus, memanggil murid-murid-Nya dan mereka segera mengikut Dia. Meskipun mereka memulai dengan iman yang kecil dan kurang pengertian akan kedaulatan-Nya, Kristus tidak pernah sekali pun meninggalkan mereka, melainkan terus melatih mereka dalam persiapan untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar, yang harus dikerjakan setelah kenaikan-Nya. Yang diperlukan dari mereka adalah memiliki iman dalam Dia.
    Allah bermurah hati dalam mengenali kebutuhan saya akan iman dan keyakinan yang sama ini, dan pada saat yang tepat, Dia mengarahkan mata saya kepada perkataan Kristus dalam Matius pasal 8 dan 9. Secara berurutan tersebar di kedua pasal ini adalah kata-kata Yesus dalam urutan berikut ini, “Pergilah,” “Ikutlah Aku,” dan “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”
    Pada hari berikutnya, Tuhan memberikan tanda lain kepada saya. Bro Maritus, seorang mahasiswa FEBC, meminta saya untuk mempertimbangkan mendaftar di FEBC guna mempelajari firman Tuhan. Saya sedikit tercengang ketika secara tiba-tiba dia mengangkat topik itu, sebab itu benar-benar tidak terduga dan kami belum pernah mengadakan percakapan semacam ini. Namun, saya sungguh-sunggh berterima kasih atas perhatiannya dan saya melihat ini sebagai pemeliharaan yang istimewa dari Allah.
    Melalui seluruh periode itu, saya sadar untuk tidak menjadi sombong dan juga tidak menjadikan terang dari panggilan yang lebih tinggi ini menekan saya. Saya juga berdoa setiap hari melakukanya supaya Allah merendahhatikan saya sehingga saya dapat memperhatikan dan mengoreksi diri sendiri akan maksud-maksud yang jahat, juga agar kehendak-nya dilakukan dalam hidup saya.
    Saya juga telah memastikan bahwa pikiran-pikiran ini tidak berasal dari selesainya studi saya akhir-akhir ini, dan bukan juga karena keinginan perubahan dalam karier atau lingkungan kerja. Bahkan, baru sebulan yang lalu, saya diberitahu tentang kemampuan saya untuk sebuah kursus yang akan sangat meningkatkan pengetahuan saya pada suatu bidang yang spesifik, dan hal itu meningkatkan kompetensi kerja saya dalam industri akuntansi. Dengan penuh semangat, saya menunggu-nunggu waktu pendaftaran yang masih dua minggu lagi itu. Akan tetapi, saat waktunya tiba, saya sudah kehilangan minat mengikuti kursus itu, mengingat panggilan yang dari Tuhan ini. Tantangan baru dan kesempatan belajar di dunia kerja menjadi tidak sama menariknya seperti sebelumnya. Pencapaian saya tidak memberikan kepuasan kepada saya, dan setiap hari saya menyeret kaki saya untuk bekerja dengan berat hati.
    Gambar: Lukas 9:62
    Demikianlah, saya yakin bahwa rencana Allah bagi saya adalah untuk mendedikasikan diri saya untuk pelayanan-Nya, dan percaya bahwa saya tidak akan memiliki kedamaian sampai saya tunduk pada kehendak dan panggilan-Nya. Saya siap dan sadar untuk memperhatikan kata-kata TUHAN dalam Lukas 14:27-28: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” Dan, dalam Lukas 9:62, Tuhan dan Juru selamat kita, Yesus Kristus, memperingatkan bahwa, “Setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
    Dalam kepasrahan yang rendah hati, saya mendaftar di FEBC dan memulai studi saya di sana pada 3 Januari 2017. Saya sudah menghitung biayanya dan saya bertekad untuk tidak menoleh ke belakang. Semoga Tuhan menolong saya untuk melayani-Nya dengan setia, dengan hati yang bersyukur dan bersukacita selalu. (t/Yoel)
    copas : sabda.org