Senin, 04 Februari 2019

BERTOBAT DAN MELAYANI TUHAN

Pada 26 Desember 2010, saya mengalami pertobatanmendadak dalam perjalanan pulang dengan bus. Sungguh, peristiwa itu benar-benar suatu kesaksian berdasarkan Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri”. Seketika itu juga, mata rohani saya dibuka dan pikiran bodoh saya menjadi bijaksana. Saya langsung mempunyai pikiran bahwa semua yang saya kejar dalam hidup ini sia-sia dan saya seharusnya menyerahkan hidup saya untuk melayani Allah. Saya bertanya-tanya, bagaimana saya bisa mulai masuk Far Eastern Bible College (FEBC), satu-satunya sekolah Alkitab yang saya ketahui sejak dahulu. Namun, ketika saya melihat ke belakang, sepertinya saya salah menanggapi panggilan untuk keselamatan ini sebagai panggilan untuk pelayanan.
Gambar: Alkitab
Saya terus hidup dalam dosa meskipun terus-menerus ada dorongan dari Roh Kudus, dan bahkan setelah menerima hukuman Tuhan, saya tidak bertobat. Namun, karena pemeliharaan-Nya yang penuh berkat, melalui teladan yang bersinar dari pelayan-pelayan setia-Nya secara terus-menerus, hati saya digerakkan dan ditegur. Saya dihukum untuk bertobat, lalu saya berhenti melakukan kesalahan-kesalahan saya secara bertahap. Sementara itu, ketika saya mulai membaca Alkitab lebih sungguh-sungguh, saya dipaksa untuk mematuhi Tuhan lebih lagi.
Pada pertengahan Agustus 2016, setiap hari saya dibebani dengan pikiran-pikiran yang menyatakan bahwa Tuhan mungkin sungguh memanggil saya untuk melayani Dia secara penuh. Saya merenungkan karya kasih karuniapengudusan Tuhan dalam hidup saya, dan bagaimana saya dihukum untuk berhenti dari kecanduan saya, keinginan duniawi, hobi, dan hubungan yang tidak menyenangkan Dia. Sekarang, saya bertekad untuk menjalani hidup bagi Tuhan dan berusaha mencapai kekudusan supaya menjadi kesaksian Kristen yang baik. Saya juga mempunyai rasa lapar yang tidak pernah puas akan firman-Nya yang memaksa saya untuk memperdalam pengetahuan Alkitab saya. Dahulu, saya tidak pernah membaca buku apa pun, apalagi membaca hal-hal yang berhubungan dengan firman Allah.
Gambar: Servant of all
Namun, pertanyaan ini segera muncul di benak saya, “Sejauh mana saya rela menyerahkan hidup saya sepenuhnya untuk melayani Allah?” Jawaban saya, “Mungkin setelah pensiun atau sampai saya memperoleh sumber pendapatan.” Ini diikuti dengan pemikiran akan penyakit kritis, disabilitas, atau gangguan apa pun yang dapat menjadikan saya tanggung jawab bagi anggota keluarga saya yang lainnya. Semua ini memberikan sebuah pukulan bagi saya. Saya juga diingatkan akan ayat dalam Injil Lukas 12:48b: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” Hal ini menimbulkan rasa takut yang tiba-tiba dalam diri saya, mengingatkan saya bahwa jika saya lari dari kehendak Allah, bahkan setelah melihat penyertaan-Nya dalam hidup saya dan menerima berkat-Nya yang melimpah, Dia tidak akan menyelamatkan saya dan pastinya bisa mengambil nyawa saya atau melumpuhkan saya, kapan pun Dia mau.
Lalu, saya mengambil keputusan, dan pada 24 Agustus, saya mencari persyaratan aplikasi di website FEBC. Saya segera putus asa karena saya yakin bahwa saya tidak dapat menghasilkan bukti yang cukup untuk dimasukkan dalam daftar pilihan panggilan pelayanan saya. Pada malam harinya, Tuhan menggunakan Amsal 24:10: “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu” untuk menegur saya karena tekad saya kecil. Dengan rendah hati saya mengakui iman saya yang kecil karena saya memutuskan untuk melupakan pikiran tentang aplikasi itu. Saya mendapat banyak informasi tentang banyaknya tantangan dan kesulitan yang harus saya hadapi. Dan, juga tidak nyaman ketika mengetahui bahwa pelayanan bukanlah “mangkuk nasi besi”, bukan juga akan tanpa kerja keras yang konsisten, pertentangan, tekanan, dan sakit hati. Lebih lagi, pikiran-pikiran mengenai penganiayaan yang diderita oleh para nabi dan rasul membuat saya lebih khawatir lagi dalam memasuki pelayanan. Semua kekurangan ini menggerogoti niat saya untuk menerima panggilan Allah. Keyakinan saya yang lemah menyebabkan saya berdoa dengan diam-diam supaya Tuhan tidak menunjuk saya untuk mengambil tugas yang mulia itu.
Gambar: Injil Matius
Namun, sementara itu, oleh kasih karunia-Nya, Tuhan menggunakan firman-Nya melalui renungan harian saya dari Injil Matius untuk mendorong, menghibur, dan yang paling penting, mengajar saya untuk percaya kepada-Nya. Saya membaca tentang bagaimana Tuhan kita, Yesus, memanggil murid-murid-Nya dan mereka segera mengikut Dia. Meskipun mereka memulai dengan iman yang kecil dan kurang pengertian akan kedaulatan-Nya, Kristus tidak pernah sekali pun meninggalkan mereka, melainkan terus melatih mereka dalam persiapan untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar, yang harus dikerjakan setelah kenaikan-Nya. Yang diperlukan dari mereka adalah memiliki iman dalam Dia.
Allah bermurah hati dalam mengenali kebutuhan saya akan iman dan keyakinan yang sama ini, dan pada saat yang tepat, Dia mengarahkan mata saya kepada perkataan Kristus dalam Matius pasal 8 dan 9. Secara berurutan tersebar di kedua pasal ini adalah kata-kata Yesus dalam urutan berikut ini, “Pergilah,” “Ikutlah Aku,” dan “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”
Pada hari berikutnya, Tuhan memberikan tanda lain kepada saya. Bro Maritus, seorang mahasiswa FEBC, meminta saya untuk mempertimbangkan mendaftar di FEBC guna mempelajari firman Tuhan. Saya sedikit tercengang ketika secara tiba-tiba dia mengangkat topik itu, sebab itu benar-benar tidak terduga dan kami belum pernah mengadakan percakapan semacam ini. Namun, saya sungguh-sunggh berterima kasih atas perhatiannya dan saya melihat ini sebagai pemeliharaan yang istimewa dari Allah.
Melalui seluruh periode itu, saya sadar untuk tidak menjadi sombong dan juga tidak menjadikan terang dari panggilan yang lebih tinggi ini menekan saya. Saya juga berdoa setiap hari melakukanya supaya Allah merendahhatikan saya sehingga saya dapat memperhatikan dan mengoreksi diri sendiri akan maksud-maksud yang jahat, juga agar kehendak-nya dilakukan dalam hidup saya.
Saya juga telah memastikan bahwa pikiran-pikiran ini tidak berasal dari selesainya studi saya akhir-akhir ini, dan bukan juga karena keinginan perubahan dalam karier atau lingkungan kerja. Bahkan, baru sebulan yang lalu, saya diberitahu tentang kemampuan saya untuk sebuah kursus yang akan sangat meningkatkan pengetahuan saya pada suatu bidang yang spesifik, dan hal itu meningkatkan kompetensi kerja saya dalam industri akuntansi. Dengan penuh semangat, saya menunggu-nunggu waktu pendaftaran yang masih dua minggu lagi itu. Akan tetapi, saat waktunya tiba, saya sudah kehilangan minat mengikuti kursus itu, mengingat panggilan yang dari Tuhan ini. Tantangan baru dan kesempatan belajar di dunia kerja menjadi tidak sama menariknya seperti sebelumnya. Pencapaian saya tidak memberikan kepuasan kepada saya, dan setiap hari saya menyeret kaki saya untuk bekerja dengan berat hati.
Gambar: Lukas 9:62
Demikianlah, saya yakin bahwa rencana Allah bagi saya adalah untuk mendedikasikan diri saya untuk pelayanan-Nya, dan percaya bahwa saya tidak akan memiliki kedamaian sampai saya tunduk pada kehendak dan panggilan-Nya. Saya siap dan sadar untuk memperhatikan kata-kata TUHAN dalam Lukas 14:27-28: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” Dan, dalam Lukas 9:62, Tuhan dan Juru selamat kita, Yesus Kristus, memperingatkan bahwa, “Setiap orang yang siap untuk membajak, tetapi menoleh ke belakang tidak layak untuk Kerajaan Allah.”
Dalam kepasrahan yang rendah hati, saya mendaftar di FEBC dan memulai studi saya di sana pada 3 Januari 2017. Saya sudah menghitung biayanya dan saya bertekad untuk tidak menoleh ke belakang. Semoga Tuhan menolong saya untuk melayani-Nya dengan setia, dengan hati yang bersyukur dan bersukacita selalu. (t/Yoel)
copas : sabda.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar