Kamis, 28 Maret 2019

DI BUI AKU MENEMUKAN JALANKU

Di Bui Aku Menemukan Jalanku

Kami lagi asyik menghisap pipa hashish (ganja) ketika pintu kamar hotel kami diketuk. Pipa yang kami hisap bersama masih penuh. Aku (Douglas Norrgard), Richard, Carolyn, dan Helen saling berpandangan. Ada rasa cemas di hati kami semua. Richard kemudian membuka pintu setelah ia menyembunyikan pipa yang barusan kami hisap. Tetapi, itu percuma saja dilakukan. Polisi yang kemudian masuk ke kamar kami, dengan cepat dapat menemukannya. Kami pun digelandang ke kantor polisi. Kami ditahan dengan tuduhan menjual obat bius di jalan-jalan kota Madena, Italia.
Kami semua menyadari bahwa saat itu kami sedang menghadapi persoalan besar dengan polisi Italia. Kami akan dihadapkan dengan undang-undang negara. Entah berapa tahun kurungan harus kami jalani. Membayangkan hal itu, aku menjadi takut dan cemas. Tapi aku sadar, bahwa aku tak punya daya apa pun untuk menghindar dan menyelamatkan diri. Kami tertangkap basah, sehingga tak mungkin lagi dapat mengingkari dan mengelak dari semua tuduhan yang diarahkan kepada kami.
Beberapa waktu sebelumnya, aku baru saja menyelesaikan tugas wajib militer di Angkatan Laut. Aku langsung pulang ke California, tempat tinggal ketika masa kanak-kanak. Sesaat aku melibatkan diri dalam kehidupan politik. Karena tidak puas, aku pun meninggalkannya dan beralih dalam kehidupan keagamaan negara-negara Timur. Tetapi, hal ini pun ternyata mengecewakan. Karena terus kecewa, maka aku mengambil jalan pintas: obat bius! Dan aku pun terperangkap!
Mula-mula aku hanya menghisap obat bius yang tidak terlalu keras. Tetapi, akhirnya aku pun menghisap LSD dan hashish. Memang, semula hal itu hanyalah sekadar untuk kelepasan, bukan untuk kenikmatan. Tetapi, ketika seorang teman menawariku untuk ke Eropa, pada saat itu aku sungguh-sungguh sudah terikat dengan LSD secara terus-menerus. Kondisi keuanganku sesungguhnya cukup baik. Aku memiliki sebuah mobil sport, mobil yang banyak dirindukan mereka yang menganggap dirinya telah sukses. Koleksi pakaianku pun banyak dan mentereng di lemari. Hanya saja, aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Aku sering merasa bahwa hidup ini hampa. Setelah mengunjungi Inggris, Skotlandia, Perancis, dan Spanyol, perjalananku berakhir di negeri asal obat bius, Maroko. Di Maroko inilah aku mengenal Richard dan dua kawan gadisnya, Carolyn dan Helen. Mereka berasal dari New Zealand. Segera saja kami pun menjadi akrab dan memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah untuk kami tinggali bersama-sama. Pada jam-jam santai, kami bersama-sama menghisap hashish di rumah itu.
Suatu hari, Richard mengatakan bahwa ia memunyai kawan baik di Genoa. Temannya tersebut biasa memperdagangkan obat bius yang sudah disamarkan, dengan membungkusnya di dalam kotak-kotak kecil dan kemudian mencelupkannya ke dalam cokelat beku. Hashish yang sudah disamarkan ini kemudian dikemas, kemudian dikirim ke Amerika. "Kalau kita bisa menyelundupkan ke Genoa, kita akan mendapat untung yang besar," kata Richard. Di Maroko, setiap kilogram hashish bisa dibeli dengan USD 1.300 dan bisa dijual dengan harga antara USD 10.000 sampai USD 15.000 di New York. Kami kemudian memulai perjalanan dengan truk milik Richard. Kami bisa melewati beberapa pelabuhan tanpa mendapat kesulitan, hingga akhirnya kami tiba di Madena, Italia.
Uang kami telah menipis, padahal kami harus membayar untuk memindahkan truk. Semula, kami berusaha mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang. Beberapa kenalan dan kawan pun kami telegram untuk dimintai bantuannya, hasilnya nihil. Karena jalan buntu, kami kemudian sepakat untuk menjual sebagian hashish yang kami bawa. Tak sukar untuk mendapatkan pembelinya. Pemakai obat bius selalu dapat saling berhubungan tanpa kesulitan. Kami menjualnya dengan harga miring, sehingga banyak orang yang kemudian mendengarnya. Bahkan juga polisi! Akibatnya, kami berempat harus meringkuk di dalam bui.
Lelaki dari "Back to Bible"
Koran-koran Italia memberitakan tentang penangkapan kami di halaman depan koran mereka. Berita tersebut ternyata mengundang perhatian Athur Weins, seorang pekerja di Back to Bible Italia. Ia langsung menghubungi dan menemui kami. Sejak saat itu hingga 39 minggu berikutnya, tiada putus-putusnya ia mengunjungi kami di penjara. Ia selalu menghibur kami dengan kabar keselamatan. Dikatakannya pula bahwa rekan-rekannya mendoakan kami dalam doa kelompok.
Kami berempat tidak menyukainya, lebih-lebih saya dan Richard. Soalnya, ia selalu mengatakan bahwa kami adalah orang yang berdosa. Pernyataan itu membuat kami resah dan tak enak. Namun, hanya dialah yang dapat memberikan bacaan-bacaan berbahasa Inggris untuk kami. Bacaan itulah satu-satunya alat bagi kami untuk merintangi waktu selama kami mendekam di dalam penjara. Bacaan yang diberikannya adalah Alkitab. Bacaan lainnya, yang disediakan pihak penjara berbahasa Italia, dan tak seorang pun di antara kami berempat yang bisa berbahasa itu.
Helenlah yang pertama kali menerima Kristus sebagai Juru Selamat akibat membaca Alkitab itu. Seminggu sekali, aku mendapat kesempatan untuk mengunjunginya. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia telah menaruh iman dan kepercayaannya kepada Kristus. Aku gusar sekali mendengar perkataannya itu.
"Douglas, pertaruhkanlah kepercayaanmu kepada Kristus. Aku sungguh-sungguh telah mendapatkan damai itu, damai yang telah kucari bertahun-tahun lamanya," katanya. Tak bosan-bosannya Helen mengatakan hal itu kepadaku, tetapi aku tetap menolaknya. Bahkan aku menertawakannya. Sejak saat itu, aku memang rajin membaca Alkitab, namun dengan tujuan untuk berusaha membuktikan bahwa apa yang ada di dalam Alkitab adalah salah. Tetapi, kenyataan berkata lain. Alkitab ternyata sebuah buku yang memunyai daya tarik yang sangat kuat. Aku membaca dan terus membaca serta mengulanginya. Aku memang meluangkan banyak waktu untuk melakukan itu.
Aku melihat Helen kini telah berubah. Ia tampak bahagia, penuh damai, dan memiliki kepuasan batin. Pada waktu kami diperiksa di pengadilan, aku benar-benar terpukul karenanya. Aku, Richard, dan Carolyn mendapat pemeriksaan ketat dengan mendapat pertanyaan gencar dan menyudutkan. Helen sama sekali lepas. Ia tak mengalami kesulitan apa-apa dalam pemeriksaan itu.
Athur Weins tetap mengunjungi kami. Ia tetap ramah, meski kami menentang dan membuatnya sakit hati. Weins tetap membawakan bacaan-bacaan rohani untuk kami. Secara iseng-iseng saja kemudian aku membacanya. Saat aku membacanya, di sampingku pasti ada Alkitab, dengan tujuan untuk membandingkannya. Hal itu berguna untuk menyangkal Weins apabila ia datang keesokan harinya.
Segalanya Kemudian Berbalik
Aku tak pernah dapat melakukan serangan terhadap Weins secara telak. Justru serangan itu berbalik menghantam kami, meskipun kami sadar bahwa hal itu bukanlah kemauan Weins. Bacaan-bacaan itu pada akhirnya menuntunku untuk menyadari bahwa Kristus Yesus telah datang di hatiku untuk menyelamatkan diriku yang berdosa. Aku menyerahkan diriku ke dalam tangan-Nya dan menerima-Nya sebagai Juru Selamatku. Aku menemukan kepuasan yang tidak terhingga di dalam Dia. Aku merasa luruh, ikhlas, dan menyatu. Richard memerhatikan diriku dan menjadi heran karenanya. "Apa yang terjadi denganmu, Douglas? Engkau tidak lagi membantah pengawal. Aku tidak melihat keserakahan menyelimuti dirimu belakangan ini. Engkau sekarang justru lebih banyak memberi. Engkau tampak berubah!" kata Richard kepadaku.
Aku menceritakan kepada Richard tentang segala sesuatu yang telah terjadi, tentang Yesus yang telah menjadi Juru Selamatku, dan juga tentang buku-buku yang telah banyak menuntunku untuk menemukan hal yang paling berharga dalam hidup ini. Richard menatapku dalam-dalam dengan rasa tak percaya yang terpancar dari sorot matanya. Tentu saja ia heran melihatku yang sebelumnya selalu berbicara keras kepada Athur Weins, orang yang memperkenalkan kekristenan kepada kami, tiba-tiba telah menjadi orang Kristen. "Sungguh menakjubkan. Ini luar biasa. Aku yang telah begitu lama menginginkannya, tak pernah dapat memilikinya. Engkau tahu bahwa sudah 25 tahun aku hidup dalam dunia yang penuh lumpur ini. Aku melakukan kejahatan yang satu ke kejahatan yang lain. Aku terlibat dalam berbagai kegiatan obat bius dari satu negara ke negara yang lain dengan terus berkelana. Kehidupanku lenyap, juga rumah dan keluargaku lenyap sudah. Tetapi, engkau yang selama ini lebih gigih daripada aku di dalam menentang dan menolak Dia untuk masuk ke dalam kehidupanmu, kini justru telah menerima Dia sebagai Juru Selamat pribadimu. Engkau justru lebih dahulu menemukan Juru Selamat dan Raja Damai itu!" kata Richard mirip keluhan.
"Jadi, engkau juga ingin menemukannya?" Dengan ragu Richard menatapku. Aku mencoba menerangkan sesuatu hal tentang Allah kepadanya. Aku mengatakan, "Allah tidak akan mengingat-ingat bentuk kehidupan kita yang telah lalu, bila kita mau bertobat dan menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya." Aku gembira bahwa Richard mau mendengarkan kata-kataku itu. Sejak saat itu, aku membacakan untuk Richard berbagai bacaan dari Alkitab yang dahulu diberikan Arthur Weins kepadaku. Setiap hari, hal itu kulakukan untuknya. Richard tampak berusaha memahami dengan sungguh-sungguh apa yang kami baca dan bahas bersama. Semangatnya yang besar untuk dapat memahami firman Allah, ternyata mempercepat dirinya di dalam memperoleh kepenuhan Roh.
Kami sekarang memiliki damai sejahtera yang begitu luar biasa. Tadinya, sebelum kami menerima Yesus sebagai Juru Selamat, yang kami pikirkan dan harapkan hanyalah bagaimana caranya dapat segera keluar dari bui yang tembok-temboknya tebal dan dingin ini. Kami muak dan benci bila melihat jeruji besi yang membatasi kami. Pikiran seperti itu meracuni diri kami setiap saat. Aku sendiri dahulu bertekad untuk keluar dari kamar-kamar ini dengan cara apa pun. Namun kini, setelah aku bertobat, keinginan itu sudah tidak ada lagi. Kepuasan, kedamaian, dan sejahtera yang memenuhi batinku telah mengalihkan dan menggantikan apa saja. Aku memercayakan segala sesuatunya ke dalam tangan Allah. Aku percaya sepenuhnya bahwa Allah yang telah memberikan kedamaian, kepuasan, dan sejahtera yang melimpah itu, dan telah membebaskan aku dari segala belenggu dosa, akan membebaskan diriku dari penjara pula. Entah dengan cara bagaimana. Yang jelas, Natal pertama yang kulalui di dalam penjara kurasakan begitu indah. Aku duduk bersama-sama saudara seiman dengan penuh sukacita. Kurasakan kehadiran Yesus yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupanku. Sehabis pesta Natal, seorang sipir penjara datang ke selku. Ia tampak begitu ramah. "Tuan Norrgard, Anda dibebaskan. Pergilah ke kantor untuk mengambil surat-surat pembebasan Anda."
"Puji Tuhan!" kataku.
Kepala penjara menyalamiku ketika aku mendatangi dia. Ia memberikan surat pembebasan kepadaku. Sesaat kemudian, aku telah menghirup udara luar penjara. Aku merasa betapa nyaman rasanya. Segera saja aku pergi ke Florence untuk mengambil dokumen kewarganegaraanku. Di sana, mereka mengatakan bahwa pembebasanku keliru dan harus kembali ke penjara. Tetapi, pada saat yang mendesak itu, seorang konsul Amerika membelaku. Setelah melalui perundingan, akhirnya aku boleh kembali ke Amerika asalkan aku mau menandatangani surat perjanjian. Aku wajib datang memenuhi panggilan pada waktunya bila pengadilan banding dilaksanakan. Dengan penuh kepercayaan kepada Kristus, surat itu kutandatangani. Aku percaya bahwa bila Kristus telah memberikan kebebasan kepadaku, Ia tidak akan membiarkan aku kembali ke balik tembok penjara.
Dari Italia, aku langsung ke Swiss untuk menikmati hari-hari kebebasanku. Betapa bahagianya aku mendapatkan kebebasan. Ketika saat pengadilan banding itu tiba, aku pun kembali ke Italia. Di sana pengadilan menyatakan bahwa aku bebas karena aku telah cukup dalam menjalani masa hukumanku. Richard masih harus menjalani hukumannya beberapa waktu lagi. Ketika bertemu denganku, ia sama sekali tidak menunjukkan kecemasan ataupun kegelisahan. Ia dengan tenang menjalani pemeriksaan dalam pengadilan banding itu. Ketika hakim bertanya apakah masih ada sesuatu yang ingin disampaikannya, Richard berkata, "Tuan, semua yang disebut dalam pemeriksaan ini benar adanya. Saya memang bersalah dan akan menerima putusan apa pun yang dijatuhkan kepadaku. Tetapi, ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda sekalian. Selama di dalam penjara, saya telah menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi saya. Saya telah menjadi orang yang baru, yang diperbarui oleh Roh Kudus. Saya telah berubah berkat penyerahan diri saya kepada-Nya."
Aku sungguh-sungguh terharu mendengar perkataan Richard itu. Ia telah menemukan apa yang selama 25 tahun lebih ini dicarinya. Ia juga telah menemukan Yesus Kristus seperti yang telah aku dan Helen alami, termasuk juga Carolyn yang menyusul kemudian. Kami merasa berbahagia sekali karena Yesus Kristus telah membebaskan kami, bukan hanya dari penjara manusia, melainkan dari penjara iblis dan dosa yang telah membelenggu kami di sepanjang hidup kami yang lalu. Kini, kami adalah manusia yang sungguh-sungguh telah dibebaskan karena kami memasrahkan diri kami sepenuhnya ke dalam tangan Yesus Kristus, sebagai Juru Selamat pribadi.
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku:Semua Karena Anugerah-Nya
Penulis:Adhy Asmara
Penerbit:Yayasan Andi, Yogyakarta 1996
Halaman:29 -- 38
copas : sabda.org

Minggu, 24 Maret 2019

MENGIKUTI JEJAK SANG AYAH

Mengikuti Jejak Sang Ayah

Hidup di tengah hutan Peru adalah masa-masa yang indah bagi Linder yang saat itu berusia 4 tahun. Ayah dan ibunya mengasihinya dan ada banyak waktu untuk bermain bersama teman-temannya.
Ayah Linder adalah seorang penginjil keliling yang sering bepergian dari desa ke desa untuk memberitakan Injil Kristus. Karena kegiatannya ini, tentara yang bertugas di daerah itu kemudian mencurigai ayah Linder. Mereka mencurigainya terlibat dalam kelompok teroris dan karena itu, ia harus mati.
Akan tetapi, mereka memerlukan pengakuan. Untuk mendapatkan itu dari ayah Linder, mereka menangkap Linder dan meletakkan kepalanya di atas batu. Tanpa menunjukkan rasa kasihan, mereka memotong daun telinga Linder dengan bayonet.
Linder menjerit kesakitan, namun hati ayahnya terasa lebih sakit lagi melihat anaknya menderita. Kalut dan khawatir dengan keadaan Linder, ayahnya berteriak keras, "Baiklah ... baiklah, saya seorang teroris, apa pun yang ingin kalian dengar, tetapi tolong jangan sakiti anak saya!"
Merasa senang mendengar pengakuan ini, tentara kemudian memberondong ayah Linder dengan tembakan tepat di hadapan Linder. Berlumuran darah di wajahnya, Linder tidak hanya kehilangan daun telinganya, ia baru saja kehilangan ayah yang dikasihinya.
Kekerasan yang dialami Linder tidak hanya membunuh ayahnya, tetapi juga membunuh indahnya masa kecil anak laki-laki ini. Sekejap, ia berubah menjadi seorang anak yang penuh kemarahan dan dendam. Ia bersumpah, tidak akan ada siapa pun dan seorang pun yang dapat menyakitinya lagi.
Dua tahun kemudian, karena kemiskinan yang semakin menyengsarakan keluarga ini, ibu Linder memutuskan untuk mengirimnya ke panti asuhan di ibu kota yang dikelola oleh sebuah yayasan Kristen. Kemarahan dan luka dalam hati Linder membuatnya sulit berinteraksi dengan anak-anak lain, bahkan ia tidak tunduk pada pimpinan panti asuhan.
Ketika Pendeta Guillermo dan istrinya mengambil alih menjadi pemimpin di panti asuhan tersebut, mereka semakin tergelitik melihat Linder kecil yang selalu berusaha menghindari mereka berdua. Pendeta Guillermo mulai berdoa pada Tuhan untuk memberinya hikmat melayani Linder.
Satu hari, Pendeta Guillermo menggenggam tangan Linder dan memandang jauh ke dalam matanya. Ia bisa merasakan Linder mencoba untuk melepaskan cengkeramannya dan lari. Namun, Pendeta Guillermo memegangnya erat-erat.
Menyadari bahwa ia tidak mungkin melawan, Linder balas menatap Pendeta Guillermo. Dengan tegas, namun penuh kasih, Pendeta Guillermo berkata kepadanya, "Linder, aku ingin engkau membayangkan tentara yang membunuh ayahmu. Bayangkan wajahnya sekarang!" Tubuh Linder bergetar dan aura kebencian memenuhi seluruh dirinya, matanya menyala dengan kebencian. Mengetahui ia tidak bisa melarikan diri, Linder mulai mengeluarkan kata-kata kebencian dari hatinya.
Setelah itu, Pendeta Guillermo berkata lagi, "Sekarang, gantikan wajah itu dengan wajahku" Jika saja Pendeta Guillermo tidak memegang lengan Linder erat-erat, tanpa ragu kemarahan Linder pasti sudah ditumpahkan pada Pendeta itu. Air mata sudah membasahi wajah Linder, ia menangis dengan segenap hatinya.
Pendeta Guillermo masih memegangnya erat, "Sekarang Linder ...." ia memohon, "Ampuni aku ... tolong ampuni aku."
Dalam sekejap mata, rantai itu putus. Otot tubuh Linder yang tadi menegang mulai terasa rileks, dan suara tangis yang menyakitkan mulai keluar leluasa dari dalam hatinya. Ia menangis, menangis, dan terus menangis, tapi tangisan ini adalah tangisan pemulihan. Kemarahan, rasa sakit dan takut yang ia simpan bertahun-tahun, tumpah ruah bersama air matanya.
Sekarang, jika ada tamu datang ke panti asuhan, Linder akan berkata pada mereka, "Kalau saya dewasa nanti, saya akan menjadi penginjil seperti Ayah."
Diambil dari:
Judul Buletin:Frontline Faith, Januari - Februari 2011
Penulis:Tim Redaksi
Penerbit:Open Doors Indonesia, Jakarta
Halaman:2 -- 3
copas : sabda.org

Rabu, 20 Maret 2019

TIDAK MELEDAK

Tidak Meledak

Ini adalah yang ketiga kalinya di dalam karier saya sebagai penegak hukum. Saya memarkir mobil di suatu tempat yang terpencil, mematikan mesin dan radio panggil. Seperti biasa, saya melanjutkan meratapi nasib seorang manusia yang paling kacau di dunia ini, yaitu diri saya sendiri.
Ayah adalah seorang pendeta. Jadi sepanjang hidup, saya selalu mendengar tentang Tuhan dari orang tua saya. Saya teringat peristiwa yang selalu menghantui saya, dengan hati yang kesal, saya berjalan keluar dari gedung gereja tempat ayah melayani, sambil memaki-maki Tuhan, dan meludahi gereja. Saya bersumpah bahwa seumur hidup, saya tidak akan menjejakkan kaki lagi di gereja mana pun.
Saya berkata, "Kalaupun Tuhan itu ada, saya tidak mau berurusan dengan-Nya." Bagi saya, Dia hanyalah Tuhan dari segala kemiskinan, kekalahan, dan keputusasaan, dan sesungguhnya Dia tidak pernah memedulikan saya. Yang Dia lakukan di dalam keluarga kami hanyalah membuat ibu tetap sakit, dan membiarkan kami bangkrut karena harus terus membayar tagihan dokter dan biaya rumah sakit.
Saat masih kecil, saya pernah diberi tahu suatu alasan mengapa kakek begitu cepat dipanggil ke Surga, adalah karena Tuhan sangat membutuhkan kakek di sana. Bukankah ini Tuhan yang mementingkan diri-Nya sendiri? Pikir saya. Apakah Dia tidak berpikir bahwa masih ada anak-anak dan cucu-cucunya yang sangat menyayangi kakek di bumi? Hati saya semakin benci kepada Tuhan.
Sejak kecil, saya selalu memimpikan bahwa suatu saat kelak saya akan menjadi seorang penegak hukum. Akhirnya, mimpi itu terwujud. Namun, kebencian saya pada Tuhan terus mengikuti saya, menyatu pada seragam, lencana, dan pistol saya. Kebencian itu memengaruhi dan memuncak hingga ke sekitar saya, pada orang-orang, terutama saya lampiaskan untuk menindak pelaku kriminal.
Keseharian saya sebenarnya penuh dengan ketakutan, meskipun saya tidak pernah membicarakannya dengan orang lain. Walaupun saya membenci Tuhan, namun ada suara-suara dalam hati saya yang mengatakan bahwa yang saya lakukan adalah salah. Dan, perbuatan saya ini bisa menyeret saya ke neraka, bukan hanya saya sendiri, namun juga menyeret seluruh keluarga saya.
Setiap ada panggilan radio untuk sebuah tugas, saya tahu, ini mungkin adalah hal terakhir yang saya lakukan. Karena hidup saya bisa berakhir di tangan seorang maniak dengan senapannya, ataupun seorang anak kecil yang ketakutan dengan pistol di tangannya. Dan, itulah saatnya saya harus menanggung semua ini di neraka.
Walaupun begitu, saya tidak punya pilihan, saya tetap melanjutkan hidup saya yang tanpa sukacita dan harapan ini. Kebiasaan saya minum-minuman keras bertambah parah, bahkan saya mulai sering mencampurnya dengan obat-obatan terlarang. Pertengkaran besar dengan istri menjadi hal yang biasa terjadi setiap hari. Dan, saya mulai sering membicarakan tentang bunuh diri. Saya selalu mengambil garis depan dalam tugas, berharap saya bisa terbunuh dalam tugas sehingga keluarga saya bisa mendapatkan asuransi dan terbebas dari diri saya yang kacau ini.
Suara itu semakin lama semakin kuat dalam kepala saya dan berkata, "James, kau telah mengacaukan hidupmu, dan hanya ada satu jalan keluar untuk mengakhirinya. Engkau harus mati, engkau harus bunuh diri."
"Nah, sekaranglah waktunya," saya berkata dalam hati. Di tempat yang sepi ini, saya mematikan mesin mobil, mematikan radio panggil, dan mengambil pistol saya.
Saya memejamkan mata, mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan saya yang menyedihkan, kemudian menarik pelatuknya. Klik!
Saya memeriksa pistol itu, memasukkan peluru, merenung sambil memandangi pistol Magnum 357 yang telah menemani tugas-tugas saya, dan tidak pernah mengecewakan. Kemudian, saya mengokang pistol itu dan memasukkan ke dalam mulut saya.
Saya memejamkan mata, mengucapkan selamat tinggal pada kehidupan saya yang menyedihkan, kemudian menarik pelatuknya. Klik! Pistol itu tidak meledak! Saya ulangi berkali-kali, klik, klik, klik ..., tetap tidak meledak!
Saya bingung, apa yang terjadi dengan pistol saya, apakah pistol itu rusak? Kemudian, saya arahkan pistol itu keluar jendela dan menembakkannya, dan pistol itu meledak! Gema dari ledakannya membuat kepala saya sakit dan ingin segera mengakhiri hidup.
Kali ini, saya mengarahkan pistol itu ke dahi saya, dan menarik pelatuknya. Kembali, pistol itu macet dan tidak dapat ditembakkan! Saya memeriksa amunisinya dan mencoba menembakkannya sekali lagi, dan pistol itu meledak di luar jendela sekali lagi dengan suara yang membahana. Saya bingung, apa yang terjadi.
Lalu, saya meninggalkan tempat sepi itu, khawatir ada orang yang mendengar suara tembakan yang berasal dari pistol saya dan melaporkannya ke kantor.
Kemudian, saya kembali ke kantor dan membawa pistol itu ke bagian amunisi dan persenjataan untuk diperiksa, namun setelah mereka periksa, pistol saya dinyatakan dalam kondisi yang terawat baik dan tidak rusak.
Karena kejadian itu, saya berpikir keadaan seterusnya akan menjadi baik-baik saja. Saya berpikir itu merupakan sebuah kebetulan yang baik, mungkin selanjutnya banyak keberuntungan yang baik akan terjadi. Akan tetapi, ternyata saya salah.
Ketergantungan saya pada alkohol semakin berat, setidaknya saya menghabiskan satu botol whisky setiap harinya. Dan, tiga jam tanpa minum alkohol merupakan hal yang mustahil bagi saya.
Suara-suara di kepala saya menjadi semakin keras, "James, kamu harus mati!" Suatu hari, saya menjawab suara itu, "Akan tetapi, saya mencintai istri dan anak-anak, saya tidak mau mereka hidup dengan kenyataan bahwa ayahnya bunuh diri." Suara itu menjawab, "Itu mudah, bawa mereka bersamamu." Suara itu bahkan mengajarkan bagaimana membunuh mereka dan setelah itu, membunuh diri saya sendiri. Akan tetapi, rencana itu selalu gagal karena anak-anak dan istri saya terlalu takut untuk melihat saya. Mereka semua pergi bersembunyi saat saya tiba di rumah.
Suara itu mengatakan agar saya melupakan saja keluarga, dan lebih baik membunuh diri sendiri karena saya harus mati. Suatu sore, saya kembali lagi ke tempat di mana saya pertama kali melakukan percobaan bunuh diri. Sekali lagi, saya mengarahkan pistol Magnum 357 saya dan menarik pelatuknya. Dan, klik! Pistol itu tidak meledak.
Bagaimana mungkin dua kali berturut-turut saya mencoba bunuh diri, tapi tidak berhasil? Ini bukan lagi sebuah kebetulan. Saya pikir Tuhan pasti begitu membenci saya, sehingga bahkan di neraka pun Dia tidak mau menerima saya. Dia ingin terus menyiksa saya dan tidak mau saya mengakhiri siksaan hidup ini.
Saat itu, saya tidak tahu bahwa sebenarnya orang tua saya terus berdoa bagi saya setiap hari. Tuhan mendengar doa orang tua saya, dan saya tidak tahu bahwa Dia punya rencana yang indah atas hidup saya.
Percobaan bunuh diri yang gagal dua kali itu terjawab. Ketika istri saya menerima Tuhan Yesus, ia seperti dilahirkan kembali. Saya bisa melihatnya, saya bisa merasakannya, dia kini selalu tersenyum saat melihat saya. Sebelumnya, dia tidak pernah tersenyum pada saya. Padahal, saat itu kami sedang dalam proses perceraian, namun dia membatalkannya. Saat saya ingin memulai perkelahian dengan mengucapkan kata-kata kasar padanya, dia memandang saya dengan kasih, dan berkata, "James aku mencintaimu." Dengan tenang, ia berlalu meninggalkan saya dalam kebingungan dan saya hanya bisa terdiam.
Saya terkejut akan perubahan istri saya. Dan, itu mendatangkan pengaruh besar dalam perubahan hidup saya. Istri saya seperti menemukan sukacita, hidup, dan jalan keluar dari semua masalahnya. Meski saya selalu menjadi sumber penderitaannya, hal itu sepertinya tidak berpengaruh lagi padanya karena sukacita dan damai yang ada di dalam hatinya mengalahkan semua itu. Saya ingin mengetahui apa penyebabnya. Akan tetapi, saya tidak berani menanyakannya.
Saya memunyai teman-teman sesama polisi yang dengan mereka saya bergaul. Anehnya, akhir-akhir ini mereka tidak mau lagi minum-minum bersama saya dan tidak mau lagi mendengarkan humor-humor jorok saya. Saya ditinggalkan sendirian. Tidak lama kemudian, saya mengetahui bahwa ternyata mereka telah memiliki pergaulan baru, yang bernama FGBMFI. Mereka justru mengundang saya untuk makan malam bersama. Saya menerimanya dan mengikuti acara makan malam yang diadakan di sebuah restoran. Akan tetapi, saat mengikuti acara itu, saya merasa dijebak dan saya sangat marah karenanya. Saya memaki-maki teman saya dan juga istri saya yang ikut dalam acara itu. Akhirnya, setelah marah-marah, saya bisa tenang sebentar. Saya berkata dalam hati, "Oke, kali ini saya ikuti permainan konyol kalian, saya ingin lihat sampai di mana permainan ini berakhir."
Pembicara malam itu adalah seorang pebisnis yang bersaksi bagaimana ajaibnya Tuhan bekerja di dalam kehidupannya. Satu ucapannya yang tidak pernah bisa saya lupa adalah: "Sekalipun tidak ada neraka untuk ditakuti atau tidak ada surga untuk dikejar, saya akan tetap menjadi seorang Kristen karena menjadi Kristen sangatlah menyenangkan."
Saya tidak bisa tidur karena memikirkan kata-kata itu. Saya dibesarkan di lingkungan gereja, dan sepanjang pengetahuan saya, orang-orang datang ke gereja dengan penuh permasalahan dan minta didoakan. Namun, yang Pendeta katakan hanyalah bersabar dan bertahanlah. Hal itu membuat saya berpikir bahwa menjadi orang Kristen adalah sama dengan melekatkan diri pada penderitaan, dan harus terus bersabar serta bertahan dengan penderitaan itu. Akan tetapi, saat ini saya tidak melihat penderitaan itu ada di wajah istri dan teman-teman saya. Yang saya lihat, mereka sangat "senang" menjadi Kristen. Mereka tidak terlihat sedang "bertahan dan bersabar sampai nanti".
Sekarang, saya kembali lagi ke tempat di mana saya sudah berulang kali mencoba bunuh diri. Saya mematikan mesin, mematikan radio panggil, mengeluarkan pistol, memandangnya cukup lama, dan memasukkan kembali pistol itu ke dalam sarungnya. Hari itu adalah minggu pertama di bulan Juni tahun 1970, pukul 9.45 pagi.
Di situ, saya menangis sejadi-jadinya dan berseru, "Tuhan, aku lelah hidup dalam neraka ini. Aku minta ampun atas dosa-dosaku. Aku siap memulai lembar baru dalam kehidupanku, dan berjanji semua hal salah yang telah aku lakukan akan aku ubah menjadi hal-hal baik sepanjang sisa hidupku ini. Tuhan Yesus..., maukah Engkau datang dalam hidupku?" Saat itu, tiba-tiba ada sebuah perasaan hangat luar biasa memenuhi seluruh tubuh saya. Saya terus menangis saat merasakan sebuah sukacita yang telah lama saya nantikan, kini muncul dalam hati saya. Sebuah damai yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya memenuhi dan menghangatkan hati saya. Saat itu juga, saya dilahirkan baru.
Setelah hari itu, semuanya berubah. Perkawinan kami dipulihkan, keinginan untuk merokok dan alkohol mendadak hilang. Bahkan, saya mendoakan penjahat yang saya tangkap dan banyak dari mereka yang bertobat. Saya bahkan pernah mendoakan seseorang yang terperangkap dalam mobilnya akibat kecelakaan. Menurut tim penyelamat, satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan memotong bagian tubuhnya yang terjepit dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian, saya berdoa dengan orang itu. Selesai berdoa, saya meminta tim penyelamat mencoba mengeluarkannya lagi tanpa memotong tubuhnya, dan mereka berhasil. Korban kecelakaan itu berhasil diselamatkan tanpa perlu ada bagian tubuhnya yang dipotong.
Di kemudian hari, Tuhan memanggil saya untuk melayani-Nya sepenuh waktu, dan Dia benar-benar menyediakan apa pun yang kami perlukan dalam kehidupan rumah tangga kami. Sebelumnya, saya sempat bertugas menjadi pengawal pribadi Gubernur Jimmy Carter. Dalam tugas itu, saya berkesempatan berbagi dengan Gubernur tentang kesaksian hidup saya, bagaimana Tuhan mengubahkan dan menolong saya secara luar biasa. Saya percaya kisah saya itu banyak memengaruhi beliau dan keputusan-keputusannya mengantarnya ke kursi Presiden. Begitulah kesaksian hidup saya, bagaimana Tuhan yang saya dengar dari sebuah pertemuan FGBMFI menyelamatkan saya dan rumah tangga saya. Sekarang, saya selalu berkata, "Sekalipun tidak ada neraka untuk ditakuti atau surga untuk dikejar, saya akan tetap menjadi orang Kristen karena menjadi orang Kristen itu menyenangkan dan penuh sukacita di dalam Yesus Kristus.
Diambil dan disunting dari:
Judul majalah:SUARA edisi 79 -- FGBMFI, 2005
Penerjemah:Lucky Mamusung
Penerbit:Communication Department - Full Gospel Business Men`s Fellowship Internasional - Indonesia, Jakarta
Halaman:20 -- 23

copas : sabda.org

Sabtu, 16 Maret 2019

BAYANG-BAYANGNYA BERBENTUK SALIB

Bayang-Bayangnya Berbentuk Salib

Pada tahun 1967, ketika mengikuti pelajaran di kelas fotografi Universitas Cincinnati, aku berkenalan dengan seorang pemuda bernama Charles Murray. Ia adalah siswa di sekolah yang sama denganku, yang sedang dilatih untuk persiapan olimpiade musim panas tahun 1968 sebagai seorang pelompat indah papan kolam renang. Charles sangat sabar terhadapku ketika aku berbicara selama berjam-jam dengannya tentang Yesus Kristus dan bagaimana Ia telah menyelamatkanku.
Charles tidak dibesarkan dalam keluarga yang beribadah di gereja mana pun. Jadi, semua yang kuceritakan kepadanya memesonanya. Ia bahkan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengampunan dosa. Akhirnya, tibalah harinya untukku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya. Aku bertanya apakah ia menyadari kebutuhan dirinya akan seorang Penebus, dan apakah ia siap untuk memercayai Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Aku melihat wajahnya berubah dan perasaan bersalah tergambar di situ. Namun, jawabannya tegas sekali, "TIDAK!"
Hari berikutnya, ia tampak diam dan sering kali aku merasa bahwa ia menjauhiku. Sampai suatu hari, aku menerima telepon dari Charles. Ia ingin mengetahui di mana ia dapat menemukan beberapa ayat dalam Perjanjian Baru yang telah kuberikan kepadanya mengenai keselamatan. Aku memberikan referensi menuju beberapa pasal dan bertanya apakah aku dapat menemuinya. Ia menolak tawaranku dan mengucapkan terima kasih untuk ayat-ayat yang kuberikan. Aku dapat menebak bahwa ia amat gelisah, tetapi aku tidak tahu di mana ia berada atau bagaimana cara menolongnya. Karena, saat itu ia sedang berlatih dengan fasilitas khusus milik universitas untuk menghadapi olimpiade.
Di antara pukul 22.30 -- 23.00 malam itu, Charles memutuskan untuk berenang dan melakukan sedikit latihan lompat papan. Malam pada bulan Oktober itu sangat cerah, bulan tampak penuh dan cemerlang. Kolam renang universitas kami berada di bawah langit-langit kaca sehingga bulan dapat bersinar terang melalui puncak dinding di areal kolam.
Ketika Charles mendaki papan lompat yang paling atas untuk melakukan lompatannya yang pertama, Roh Allah mulai menempelak dosa-dosanya. Semua ayat yang telah dibacanya dan kenangan saat aku bersaksi kepadanya tentang Kristus mulai memenuhi benaknya. Ia berdiri di atas papan dengan membelakangi kolam untuk melakukan lompatannya, merentangkan kedua tangannya untuk keseimbangan, memandang ke atas dinding, dan melihat bayang-bayangnya sendiri yang disebabkan oleh cahaya bulan. Bayang-bayangnya berbentuk salib. Ia tidak dapat menahan beban dosanya lebih lama lagi.
Hatinya hancur dan ia duduk di atas papan lompat itu dan meminta Allah untuk mengampuninya dan menyelamatkannya. Ia menerima Yesus Kristus di ketinggian lebih dari 20 kaki (7 meter) dari tanah. Tiba-tiba lampu di areal kolam menyala. Petugasnya masuk dan mengadakan pemeriksaan kolam.
Ketika Charles menengok ke bawah dari atas papan itu, yang dilihatnya adalah kolam yang kosong yang telah dikeringkan untuk beberapa perbaikan. Hampir saja ia menerjunkan dirinya menuju kematian, tetapi salib telah menghentikannya dari bencana tersebut.
Diambil dan disunting dari:
Nama buletin:Buletin Sinode GUPDI, Edisi IV/2002
Penulis:Tidak dicantumkan
Penerbit:Sinode GUPDI, Solo 2002
Halaman:33
"Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."
(1 Korintus 1:18)
copas : sabda.org

Selasa, 12 Maret 2019

YESUS MENGUBAH SEGALANYA


Saya dilahirkan di Pulau Samosir dalam keluarga Katolik. Meskipun orang tua saya bukanlah orang yang rajin beribadah, tetapi mereka mengajarkan saya untuk rajin beribadah. Jadi, sejak umur 4 tahun, saya sudah ikut liturgi dan rajin sekolah minggu. Keluarga besar saya adalah penyembah berhala meskipun sudah beragama, mereka tetap meyakini kuasa gelap. Saat saya berusia 5 tahun, keluarga saya pindah ke Bagan Batu, Riau, untuk mencoba kehidupan baru. Orang tua saya memulai usaha perkreditan barang. Dalam memulai usaha tersebut, orang tua saya meminta bantuan "orang pintar" agar dagangan laris. Awalnya, semuanya berjalan sangat baik. Akan tetapi, setelah beberapa saat keadaan berbalik, bukan untung yang didapat, tetapi malah buntung. Keadaan perekonomian keluarga saya hancur. Bahkan, harta tanah yang ada sampai terjual habis.

Entah karena apa, orang tua saya sangat gampang marah. Jika saya melakukan kesalahan kecil saja, ayah saya akan menghajar saya dengan kayu sampai seluruh tubuh saya penuh dengan bekas pukulan. Terkadang, saya malu untuk berangkat sekolah karena bekas pukulan tersebut masih jelas terlihat di paha, tangan, dan wajah saya. Karena itu, saya sangat membenci ayah saya. Bahkan, waktu itu saya berpikir akan membunuh ayah saya jika saya besar nanti. Perasaan dendam dan benci kepada orang tua saya terus terngiang di otak saya. Akibat dari rasa dendam itu, saya mulai merokok dan minum minuman keras saat saya masih berumur 10 tahun. Dan yang lebih parah lagi, saya sudah menonton film porno pada saat usia saya masih 9 tahun. Pergaulan yang buruk menambah tingkat kenakalan saya. Namun, Yesus sangat sayang kepada saya sehingga ketika saya berusia 12 tahun, saya bisa mengenal Yesus Kristus. Yesus Kristus yang saya kenal itu tidak langsung mengubah saya, tetapi Dia membentuk saya secara perlahan. Pertama, Dia melepaskan saya dari rokok, lalu minuman keras, lalu keterikatan pada film porno. Akan tetapi, untuk memaafkan orang tua masih sangat sulit bagi saya.

Saya rindu diubahkan menjadi pribadi yang baru. Dalam khotbahnya, gembala saya menyampaikan bahwa setiap orang harus dilahirkan kembali, tidak hanya mengenal-Nya saja. Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak layak masuk Kerajaan Surga. Ketika saya masuk sekolah menengah atas, saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup saya. Pada tanggal 13 Agustus 2000, saya dibaptis selam. Beberapa bulan setelah saya dibaptis, saya mengikuti ibadah pria sejati. Dalam ibadah tersebut, topik utamanya adalah pemulihan hati Bapa. Dalam ibadah tersebut diberitahukan bahwa kita harus mempunyai hati Bapa yang rela mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita. Mendengar hal tersebut, hati saya berontak. Namun, saat tiba waktunya menyembah Tuhan, saya tidak tahu mengapa air mata saya terus mengalir tanpa henti. Dalam penyembahan tersebut, saya merasakan urapan Tuhan menyelimuti hati saya. Ada damai yang sungguh besar, ada sukacita yang luar biasa, rasa benci dan dendam kepada ayah berubah menjadi rindu. Entah bagaimana caranya, pada saat itu saya dapat melepaskan pengampunan atas ayah saya. Saya minta ampun atas dosa yang saya perbuat selama ini kepada Tuhan, dan saya melepaskan berkat atas ayah saya.

Sejak saat itu, banyak perubahan yang terjadi pada diri saya, pada keluarga saya, dan pada orang–orang yang ada di sekitar saya. Ayah saya yang dahulunya adalah seorang pemarah, berubah menjadi lemah lembut. Keluarga saya yang dahulunya percaya pada okultisme berubah menjadi keluarga yang mengandalkan Tuhan. Memang ajaib Tuhan Yesus. Pengenalan dan penerimaan akan Yesus mengubahkan segalanya. Haleluya. Amin.

Diambil dan disunting dari:
Nama situs : cmangadar.blogspot.com
Alamat URL : http://cmangadar.blogspot.com/2012/08/yesus-mengubah-segalanya-kesaksian.html
Penulis : Mangadar Christian Sihaloho A.Md
Tanggal akses : 4 Juni 2013


"Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." 

copas : sabda.org

Jumat, 08 Maret 2019

DARI PENDERITAAN MENUJU KASIH KARUNIA


Pada tahun 1994, saya mendapati diri saya berada dalam tahap akhir kecanduan alkohol. Selama 15 tahun, setiap hari saya selalu berada dalam keadaan mabuk. Saya adalah contoh dari apa yang orang sebut sebagai "alkoholik fungsional". Kebanyakan orang tidak pernah tahu bahwa saya masih mengonsumsi alkohol, dan mereka yang tahu pun tidak bisa menduga berapa banyak yang sudah saya minum setiap harinya. Saya mengonsumsi alkohol sebanyak 5,5 unit per hari (di Amerika, batas wajar dalam mengonsumsi alkohol selama satu hari adalah di bawah 5 unit untuk pria dan 4 unit untuk wanita. Yang disebut unit atau "minuman standar" adalah minuman yang mengandung 18 ml/14 g alkohol -- red.).

Saya menderita stres pascatraumatik yang disebabkan oleh kekerasan yang saya alami ketika masih anak-anak. Dan, di kemudian hari, kekerasan yang saya alami dalam pernikahan justru membuat apa yang sudah saya alami saat masih kecil tidak ada apa-apanya. Saya kabur dari pernikahan itu dengan menderita dislokasi pada tulang belakang di leher saya, masalah pada punggung saya, dan parut pada wajah saya yang diakibatkan oleh luka tembak.

Saya pernah mendengar tentang Injil. Saya adalah salah satu dari orang-orang yang menilai Kristus dengan melihat mereka yang mengaku sebagai orang Kristen, tetapi tidak menyatakan Kristus dalam tindakan mereka. Sejak ayah meninggalkan kami ketika saya masih berusia 11 tahun, saya juga membuat asumsi bahwa Tuhan juga telah meninggalkan saya. Saya menyimpan sakit hati berkaitan dengan keberadaan Tuhan.

Saya terus merawat ibu saya yang menganiaya saya sepanjang hidup saya. Selain itu, saya juga merawat kakak perempuan saya yang menderita Schizophrenia. Dahulu, kami berdua sering dianiaya oleh ibu kami. Saat saya merawat mereka berdua, sebenarnya saya merasa bahwa saya terjebak dalam posisi itu. Anehnya, saya merasa bahwa Tuhanlah yang menempatkan saya di sana sehingga sekalipun saya ingin pergi meninggalkan mereka, saya tetap tidak sanggup melakukannya.


Saya Mulai Berdoa
Saya merasakan kesakitan yang luar biasa oleh karena kecanduan saya terhadap alkohol, tetapi saya tidak sanggup melepaskan kebiasaan itu. Alkohol adalah satu-satunya kekuatan saya untuk menjalani kehidupan, tanpa harus merasakan penderitaan mental dan emosional. Akan tetapi, kesakitan yang harus saya derita pada tubuh saya semakin menjadi dan tak tertahankan. Saya pun mulai berdoa. Waktu itu, doa saya lebih seperti sebuah permohonan, saya memohon agar Tuhan mengizinkan saya untuk mati.

Saat malam hari, saya sering mencoba menghentikan jantung dan paru-paru saya agar kehabisan napas. Saya menderita insomnia dan tidak dapat tidur selama berminggu-minggu. Saya sering kali berpikir untuk bunuh diri, tetapi tidak berhasil. Seharusnya, saya sudah mati bertahun-tahun yang lalu, tetapi selalu saja selamat dari hal-hal yang tak dapat dibayangkan.

Pada suatu saat, saya berusaha jujur kepada Allah, dan dengan marah saya berkata, "Baiklah, jika seharusnya Engkau adalah Allah yang penuh belas kasihan dan penuh kasih, jika ada setitik kasih yang Engkau miliki, ambillah penderitaan ini. Biarkanlah aku mati dan terbebas dari kesakitan ini."

Aku Tertidur Seperti Seorang Bayi

Setelah doa itu, hal yang aneh terjadi. Saya mulai tertidur dengan nyenyak, seperti seorang bayi, untuk pertama kalinya sejauh yang dapat saya ingat. Akan tetapi, ketika saya bangun keesokan harinya, saya merasa seperti habis dihajar. Saya ingat, dengan kedua tangan menutupi wajah saya, saya berkata, "Ya, Allah, aku tidak sanggup menghadapi satu hari lagi. Aku tidak sanggup menanggungnya." Setelah itu, saya berjalan ke kamar mandi dan bertumpu pada wastafel untuk membasahi wajah saya dengan air. Tiba-tiba saya merasa bahwa ada orang lain di situ selain saya. Saya membalikkan badan untuk menengok, tetapi tidak ada orang di sana. Namun, perasaan itu semakin kuat hingga membuat saya tidak dapat bernapas.

Kemudian, saya mendengar sebuah suara, seperti bisikan dalam benak saya. Suara itu berkata, "Lihatlah ...." Saya berpaling ke cermin secara perlahan, dan saat itu saya mengenali siapa yang memandang ke arah saya dari cermin itu; upah dari segala dosa saya.

Apa Pun yang Tersisa dariku Adalah Milik-Mu

Saya berlari kembali ke kamar dan mengunci pintu. Saya mengira bahwa saya dapat terhindar dari perasaan itu. Namun, saya ingat. Setelah tiga langkah ke belakang, saya pun berlutut dan meminta agar Allah mengampuni saya. Saya yakin bahwa saya akan mati, saya berkata kepada-Nya, "Tuhan, aku tidak tahu mengapa Engkau harus menyelamatkan seseorang seperti saya. Aku sudah menyia-nyiakan hidup yang Engkau berikan kepadaku. Namun, aku ingin berkata kepada-Mu saat ini, "Apa pun yang tersisa dari diriku adalah milik-Mu. Aku tahu, tidak banyak yang tersisa, tetapi terjadilah padaku sesuai kehendak-Mu. Sekarang, aku adalah kepunyaan-Mu."

Kemudian, saya mulai menuangkan setiap tetes minuman keras yang saya miliki di rumah ke dalam tempat pembuangan air, dan sejak itu, saya tidak pernah menyentuhnya lagi. Anehnya lagi, saya tidak pernah merasa ketagihan lagi sejak hari itu.

Biasanya, saya juga mengkonsumsi rokok setidaknya tiga bungkus per hari, tetapi sejak hari itu, saya juga tidak pernah menginginkannya lagi. Jadi, inilah yang saya alami: saya memohon kepada Allah untuk mati dan itulah yang Ia berikan kepada saya. Saya yakin, saya telah mati pada pagi itu. Saya menaruh hidup saya pada kaki salib Yesus. Ia juga mengulurkan tangan-Nya untuk mengangkat beban saya dan memikulnya bagi saya. Pagi itu, seorang wanita telah mati dan mengalami lahir baru.

Ia Juga Menyembuhkan Saya
Rasa sakit yang dahulu ada, kini juga tidak pernah saya alami. Seperti halnya Ia menyelamatkan saya, Ia juga menyembuhkan saya. Saya hanya ingin berkata, "Terpujilah Allah! Terima kasih Tuhan Yesus karena Engkau mengambil tempat saya dan memberi saya belas kasihan yang tidak layak saya dapatkan!" (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : christianity.about.com
Judul asli artikel : Sarah's Pain - From Misery to Mercy
Penulis : Sarah Pain
Tanggal akses : 12 Agustus 2013


"TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia." 

copas : sabda.org