Senin, 29 April 2019

AKU NGERTI CARA SUKSES, TAPI KOK AKU GA SUKSES?

Pada suatu ketika, saya melihat ada dua teman saya yang sedang bercakap-cakap. Saya sedikit penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, sehingga saya memutuskan untuk nimbrung masuk ke dalam percakapan mereka. Dan ternyata, mereka sedang membicarakan tentang fitness.
Salah satu dari teman saya ini memiliki tubuh yang gemuk, sedangkan yang satu lagi memiliki tubuh yang ideal (tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk). Namun uniknya, teman saya yang gemuk ini lah yang lebih banyak berbicara. Dia menjelaskan tentang metode work-out yang baik, dia menjelaskan tentang makanan-makanan yang harus dimakan dan makanan-makanan yang harus dihindari, dan dia juga menjelaskan tentang berbagai jenis supplement yang dapat membantu pertumbuhan otot.
Saya pun menjadi sangat bingung, “Mengapa orang ini seperti mengetahui banyak tentang fitness, tetapi tubuhnya tidak menunjukkan bahwa dia seseorang yang suka fitness.”
Beberapa bulan setelah percakapan itu terjadi, saya bertemu kembali dengan teman saya yang gemuk tersebut. Saya tidak melihat perubahan sama sekali pada tubuhnya. Singkat cerita, saya menemukan bahwa ternyata dia masih memakan segala jenis makanan berminyak yang tidak sehat, dan dia juga sudah berhenti fitness.


Saya percaya kalian juga pasti pernah menyaksikan orang-orang yang seperti ini. Mungkin seseorang menceritakan tentang bagaimana cara menjadi sukses, tetapi ternyata hidupnya tidaklah sukses. Mungkin seseorang menceritakan tentang bagaimana cara mendapatkan pacar, tetapi ternyata dirinya ditolak terus oleh wanita. Mungkin seseorang menceritakan tentang Firman Tuhan, tetapi ternyata hidupnya tidak mencerminkan Firman Tuhan. Dalam kata lain, orang-orang ini adalah orang-orang yang omdo (Omong Doang).
Teman-teman, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang hanya tau apa yang harus dilakukan, tetapi tidak sungguh-sungguh melakukannya. Seberapa besar pun pengetahuan kita tentang fitness, jika kita tidak menerapkannya, kita tidak akan pernah memiliki badan yang keren. Seberapa besar pun pengetahuan kita tentang cara menjadi sukses, jika kita tidak menerapkannya, kita tidak akan pernah mencapai kesuksesan. Seberapa besar pun pengetahuan kita tentang Alkitab, jika kita tidak menerapkannya, hidup kita tidak akan berubah ke arah yang lebih baik.
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (Matius 7:24-27)
Mengumpulkan pengetahuan adalah sesuatu yang baik, tetapi janganlah sampai kita lupa untuk menerapkan pengetahuan yang telah kita kumpulkan. Saya percaya setiap dari kita sudah sering mendengar Firman Tuhan—maka itu sekarang yang harus kita lakukan adalah mencoba untuk menerapkannya di dalam hidup kita. Jangan sampai Firman Tuhan hanya menjadi sesuatu yang masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri. Marilah kita hidup di dalamnya, dan saya berjanji kita semua pasti akan melihat hal-hal luar biasa terjadi di dalam hidup kita.

Kamis, 25 April 2019

DI SAAT AKU BERDUKACITA, TUHAN MENGHIBURKU

Oleh Wisud Yohana Sianturi, Sidikalang
Aku telah kehilangan kedua orangtuaku. Ayahku dipanggil Tuhan lebih dulu. Ketika hari itu tiba, aku marah dan kecewa. Aku menyalahkan semuanya, orang-orang di sekitarku, keadaanku, bahkan juga Tuhan.
Sewaktu ayahku masih hidup, hubungan kami kurang begitu baik. Karena banyak hal, aku berusaha menjaga jarak dengannya. Hingga ketika Ayah mengalami sakit keras, dia berkata kepadaku, “Nang [nak], pasti kau merasa kalau aku tidak peduli kepadamu, cuek sama kamu. Tapi bapak sayang samamu, nang.” Hari itu aku menangis di depan Ayah. Ketika dia akhirnya meninggal dunia, aku menyesal karena merasa dulu tidak menjadi anak yang baik.
Selepas kepergian Ayah, aku menjauhi Tuhan. Aku sering mengabaikan pertemuan ibadah di gereja dan juga tidak mau berdoa lagi. Ketika ibuku tahu tentang hal ini, dia menegurku. Katanya, Tuhan itu tidak pernah berbuat buruk. Tuhan selalu berlaku baik. Apa pun itu pasti untuk kebaikan. Aku menangis mendengar teguran dari ibuku, dan setelahnya aku pelan-pelan belajar untuk kembali berdoa.
Beberapa bulan berselang, ibuku masuk rumah sakit dan harus dipindahkan ke rumah sakit lain yang lebih memadai. Ketika kabar itu datang, hari sudah malam dan aku tidak tahu harus berbuat apa karena kami tidak tinggal di satu kota yang sama. Perasaanku tak karuan dan aku ketakutan. Dalam keadaan itulah aku berdoa dan membaca Alkitab sambil menangis. Aku berkata pada Tuhan kalau aku belum siap jika harus kehilangan Ibu. Jika ibuku pergi meninggalkanku, maka aku akan menyerah dengan mengakhiri hidupku juga.
Keesokan harinya, aku dikabari bahwa Ibu terkena stroke dan dilarikan ke ICU. Setelah kuliah usai, aku bergegas menuju rumah sakit tempat ibuku dirawat. Ibuku sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Di dekat telinganya, aku berbisik, “Mak, jangan tinggalkan aku. Aku gak siap mamak tinggalkan sendirian.” Aku melihat ibuku meneteskan air mata.
Singkat cerita, melalui serangkaian proses perawatan itu ibuku bisa bertahan dan tetap bersamaku selama hampir setahun sampai aku diwisuda. Hari-hari yang dulu kulalui bersama Ibu adalah hari yang berat. Namun, dalam kondisi seperti itu justru aku merasa kalau itu adalah masa-masa di mana aku dekat Tuhan. Masa-masa di mana aku benar-benar membutuhkan Tuhan. Hanya Tuhan tempatku mengadu, sampai akhirnya Ibu kembali masuk rumah sakit dan Tuhan memanggilnya.
Dalam dukacitaku, Tuhan menghiburku
Sejujurnya, aku rasa aku tidak sanggup menerima kenyataan kalau aku sudah tidak lagi punya orangtua. Ketika Ibu meninggal, aku sempat berpikir untuk berhenti membaca firman Tuhan dan tidak mau berdoa lagi. Ada rasa marah dan kecewa pada Tuhan hingga aku ingin meninggalkan-Nya selama beberapa waktu. Tapi, di sisi lain hatiku, aku sadar bahwa hanya Tuhan sajalah satu-satunya yang kumiliki. Dialah penciptaku, yang tahu betul akan diriku lebih daripada aku sendiri. Aku pun teringat pesan ibuku dulu ketika aku berusaha menjauhi Tuhan setelah kepergian Ayah. Tuhan itu selalu baik dan apa pun yang terjadi adalah untuk mendatangkan kebaikan.
Selama seminggu aku diliputi rasa duka. Hingga suatu ketika aku bertanya-tanya dalam hati, “Apa sih yang Tuhan akan katakan mengenai keadaanku saat ini?” Aku pun membaca renungan yang ada di tabletku. Isi renungan hari itu diambil dari Yohanes 14 yang terdiri dari beberapa ayat. Ada satu ayat yang membuatku menangis.
“Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu”(Yohanes 14:18).
Melalui ayat ini, aku merasa Tuhan benar-benar menghiburku. Aku berusaha menjauh dari-Nya, tapi Dia tidak pernah meninggalkanku sendirian. Kuakui, ketika kedua orangtuaku masih hidup, aku sangat mengandalkan mereka. Bersama mereka, aku merasa aman dan kuletakkan harapanku pada mereka. Tapi, ketika mereka pergi, barulah aku sadar bahwa manusia itu terbatas dan tumpuan harapan terbesar yang seharusnya menjadi satu-satunya andalanku adalah Tuhan Yesus sendiri.
Kedua orangtuaku telah pergi dari sisiku, tetapi Tuhan selalu ada buatku. Entah bagaimana pun keadaanku, di mana pun aku berada, Dia selalu bersamaku.
Aku berdoa, kiranya kesaksianku ini boleh memberi kekuatan untuk teman-teman yang membacanya.
“Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh”(Mazmur 139:2).
Copas : warungsatekamu.org

Minggu, 21 April 2019

CATATAN HIDUPKU SEBAGAI SEORANG ALBINO

Oleh Anatasya Patricia, Bontang
Halo kawan, perkenalkan namaku Anatasya, atau kerap disapa Ana. Aku ingin membagikan cerita pengalamanku kepadamu lewat tulisan ini.
Aku adalah seorang yang mengalami albinisme. Sewaktu aku kecil, aku merasa diriku tidak ada bedanya dengan teman-temanku lainnya. Ketika aku beranjak dewasa, barulah aku menyadari bahwa ada yang berbeda dari fisikku dengan teman-temanku lainnya. Awalnya aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku, hingga saat aku duduk di bangku SMP, aku mulai mencari tahu. Aku pun mendapati bahwa diriku mengalami albinisme.
Albinisme adalah suatu kelainan pada produksi melanin yang mengakibatkan penderitanya kekurangan melanin, atau sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut. Akibatnya, rambutku, kulitku, dan mataku terlihat sangat pucat atau putih. Penderita albinisme biasa disebut sebagai orang albino. Aku kurang tahu pasti apa yang mengakibatkanku mengalami ini, namun setahuku kelainan ini bisa juga disebabkan karena faktor keturunan. Nenek buyutku juga adalah seorang albino.
Keadaan fisikku ini lumayan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hariku. Aku tidak bisa terlalu banyak terkena sinar matahari karena kulitku begitu sensitif. Lalu, ada juga dampak sosial yang kualami. Orang-orang sering memandangiku, mungkin karena mereka baru pertama kali melihat seorang albino. Saat aku sedang jalan di tempat yang ramai misalnya, banyak orang akan melihat kepadaku dengan penasaran. Aku seolah menjadi pusat perhatian dan bahkan ada di antara mereka yang bertanya-tanya hal aneh seperti apa yang ibuku makan waktu ia hamil sehingga aku bisa menjadi albino. Bahkan, ada beberapa juga yang mengajakku berfoto.
Lalu, di sekolah pun ada beberapa temanku yang merasa risih dengan perbedaan fisikku. Mereka mengolok-olokku: “Pucat seluruh badan”, turis masuk kampung!”, “mayat hidup berjalan!”. Meski begitu, aku mengucap syukur karena tidak semua temanku bersikap demikian. Ada juga yang tetap memandang dan memperlakukanku dengan baik.
Saat ada orang yang menghinaku seperti itu, awalnya aku selalu menangis dan merasa tidak terima dengan keadaanku yang seperti itu. Meski aku tahu perbedaanku hanyalah pada pigmen di kulit, tapi astaga, mengapa respons yang diberikan sampai seperti itu.
Aku pun mencoba menceritakan pergumulan ini kepada orangtuaku. Aku bersyukur karena mereka selalu mengajarkanku bahwa aku sesungguhnya tidak berbeda dari teman-temanku yang lain; aku tetap bisa beraktivitas, bermain, dan belajar sama seperti anak-anak lainnya. Lalu, orang tuaku juga meyakinkanku bahwa aku tidak perlu marah ketika teman-temanku mengolokku. Katanya, olokan mereka adalah suatu bentuk perhatian mereka kepadaku, hanya mungkin caranya yang salah. Aku pun diajar mereka untuk selalu berdoa meminta kekuatan pada Tuhan. Berkat dukungan inilah aku memiliki tekad untuk tidak kecewa, sedih, dan marah terus-terusan. Kehidupan ini terus berlanjut, entah itu kalau aku menerima keadaan fisikku ataupun tidak. Jadi, kupikir hanya buang-buang waktu saja kalau aku larut dalam rasa kecewa.
Orang tuaku pun mendukungku dengan memberiku nasihat-nasihat berdasarkan firman Tuhan. Di mata Tuhan, kita semua adalah sama. Untuk setiap kekurangan yang ada dalam hidup kita, Tuhan pun sesungguhnya memberikan kelebihan. Namun, segala dukungan itu masih belum membuatku benar-benar mengerti mengapa Tuhan membuatku keadaanku seperti ini. Hingga suatu ketika, dalam sebuah ibadah keluarga, renungan yang disampaikan itu menegurku. Tuhan memiliki rencana atas kehidupan kita masing-masing, dan aku ingat betul inti dari renungan itu terdapat dalam Yeremia 29:11.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Seusai ibadah itu, aku pun merenungkan ayat yang baru saja kudengar itu. Di rumah, aku berdoa memohon bimbingan Tuhan supaya aku dapat mengerti apa yang jadi kehendak Tuhan lewat renungan tersebut. Dan pada akhirnya, aku pun mengerti bahwa Tuhan memiliki rencana yang terbaik untuk kehidupanku melalui perbedaan fisik yang aku miliki. Tuhan tidak menciptakanku dengan kesalahan. Pun Dia tidak meninggalkanku sendirian. Tuhan menunjukkan kasih-Nya juga melalui orang tuaku dan sahabatku yang selalu mendampingiku.
Sekarang, aku tidak lagi memandang albinismeku sebagai kekurangan, melainkan sebagai sebuah keunikan dari Tuhan yang tidak semua orang miliki, dan aku bersyukur untuk hal itu. Meski terkadang ada masa di mana rasa minder itu muncul, tetapi ketika itu terjadi, aku berdoa dalam hati meminta kekuatan dari Tuhan, supaya aku tidak larut dalam perasaan tersebut.
Kepada teman-temanku yang mau berteman denganku, aku mau menjalin relasi sebaik mungkin dengan mereka. Aku sangat menghargai kesediaan hati mereka. Kepada teman-temanku yang masih mengolokku, aku pun belajar untuk menghormati mereka. Aku tidak akan marah dan tidak akan memasukkan olokan-olokan tersebut ke dalam hatiku.
Kelak, aku ingin terus memuliakan Tuhan lewat kehidupanku. Aku ingin menjadi seorang guru Bahasa Inggris supaya aku bisa mendidik generasi yang akan datang dengan terang firman Tuhan.
copas : warungsatekamu.org

Rabu, 17 April 2019

DI TENGAH PATAH HATI HEBAT YANG KUALAMI, TUHAN MEMULIHKANKU

Oleh Lidia, Jakarta
Di bulan Maret 2010, aku pertama kali berpacaran dengan seorang pria. Dia adalah teman sekelasku di bangku kuliah. Dia tumbuh baik di keluarga Kristen dan kupikir karena kami adalah pasangan yang seiman, maka kami pasti mampu menghadapi badai apapun di depan kami. Jadi, saat itu aku pun berpikir kalau pacarku itu kelak akan menjadi calon suamiku. Namun, pada tahun 2010, aku dinyatakan memiliki tumor di kedua payudaraku. Waktu itu usiaku masih 20 tahun dan kenyataan ini membuatku sangat sedih. Aku bertanya-tanya mengapa aku harus mengalami penyakit ini di saat aku bahkan belum lulus kuliah.
Aku menceritakan pergumulan ini dengan terbuka kepada pacarku. Dia mengatakan kalau dia menerima kondisiku. Namun, beberapa hari sebelum aku menjalani operasi pengangkatan tumor, pacarku meneleponku. Dia berkata kalau dia menceritakan keadaanku kepada ibunya, tapi ibunya merespons dengan meminta dia untuk segera memutuskan hubungan denganku. Ibunya khawatir apabila di kemudian hari jika aku menikah dengannya, aku terkena kanker dan akan menghabiskan uang putranya.
Mendengar hal itu, aku menangis dengan perasaan sangat sedih. Dalam hatiku juga timbul amarah karena aku tidak habis pikir mengapa ibunya dapat berpikir setega itu. Aku tidak berdebat dengan pacarku setelahnya. Tapi, pikiranku jadi sangat kacau, padahal seharusnya aku menyiapkan diriku untuk menjalani operasi. Aku menyimpan hal ini rapat-rapat. Aku tidak menceritakannya kepada siapapun, termasuk kedua orang tuaku.
Singkat cerita, Tuhan sangat baik, operasiku berjalan lancar. Tapi, pasca operasi saat aku sadarkan diri, aku menangis sangat keras. Aku masih teringat jelas kata-kata dari ibu pacarku itu. Pacarku masih menjengukku, namun di hari kedua setelah aku dioperasi, dia meneleponku dan berkata kalau dia tidak dapat lagi mengunjungiku di rumah sakit. Ibunya melarang dia untuk menemuiku.
Melanjutkan hubungan tanpa kepastian
Meski sudah dilarang oleh ibunya, kami masih sering bertemu. Aku tahu kalau hubungan ini bukanlah hubungan yang sehat. Tapi saat itu aku masih belum paham apa itu hubungan yang sehat. Selama tiga tahun kami berpacaran secara sembunyi-sembunyi.
Aku sadar bahwa hubungan kami ini tidak ada kepastian, tapi aku terjebak dalam dilema. Di satu sisi aku merasakan kepahitan, sakit hati akibat kata-kata dari ibu pacarku. Di sisi lainnya, aku takut kehilangan pacarku. Aku berpikir kalau aku putus dengannya, tidak mungkin ada orang lain yang mau menerima keadaan fisikku yang sudah dioperasi kedua payudaranya. Aku pun merasa tidak ingin bercerita kepada orang lain (saat teman-teman meledekku selalu makan makanan sehat) kalau aku pernah operasi tumor payudara. Aku merasa takut kalau orang lain pun mungkin akan mengatakan hal yang sama seperti yang ibu pacarku ucapkan.
Pacarku pun diliputi perasaan bimbang. Dia bingung apakah harus memutuskan relasi ini atau tidak. Dia mengatakan bahwa apa yang ibunya katakan tidak sepenuhnya benar dan dia ingin melanjutkan relasi denganku. Tapi, di sisi lainnya, sebagai anak dia tidak dapat melawan orang tuanya. Akhirnya, aku pun menceritakan pergumulan ini kepada kedua orang tuaku. Mereka mengatakan apa yang dikatakan oleh ibu pacarku itu wajar, karena sebagai orang tua mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Lalu kedua orang tuaku pun menyarankanku lebih baik untuk putus.
Relasiku dengan Tuhan pun terasa semakin hambar. Hatiku jauh dari Tuhan dan aku merasa tidak ada lagi damai sejahtera. Meski aku masih berdoa, tapi aku tidak merasakan ada hadirat Tuhan dalam hidupku. Ada dorongan dalam hatiku untuk berani mengambil keputusan, tetapi aku masih bersikukuh untuk bertahan dalam hubungan yang tidak jelas ini, sekalipun hubungan kami saat itu sudah dipenuhi dengan pertengkaran.
Berakhir dengan patah hati namun Tuhan memulihkanku
Sampai suatu ketika, pacarku memberitahuku kalau dia sudah memiliki teman perempuan lain, dan saat itu mereka sedang pergi berdua saja ke luar kota. Sejak dia mengatakan itu, maka hubungan kami pun berakhir. Aku menangis dan merasa terpuruk. Aku merasa tidak berharga dan kehilangan akal sehatku. Namun, aku teringat untuk menghubungi beberapa teman seimanku dan itulah kali pertama aku menceritakan masalahku kepada mereka. Dengan jujur aku bercerita kalau aku merasa sakit hati oleh perkataan ibu mantan pacarku, juga alasan mengapa aku tetap bertahan dalam hubungan yang tidak jelas karena aku khawatir apabila tidak ada orang lain yang mau menerimaku apa adanya. Malam itu, aku menangis di hadapan Tuhan dan aku benar-benar meminta pertolongan dari-Nya.
Kemudian aku teringat kembali akan sebuah ayat dari Mazmur 34:19, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Aku merasa Tuhan berbicara kepadaku melalui ayat ini. Kemudian, dalam hatiku aku mendengar Dia berkata, “Anak-Ku, tidak percayakah kamu dengan-Ku? Aku, Tuhan, Mahakuasa, berkuasa atas kehidupan ini.”
Sejujurnya, bisikan Tuhan dalam hatiku itu sudah sering kudengar dulu, tapi itu tidak membuatku merasa sukacita dan damai. Aku masih takut kehilangan pacarku dan sebagainya. Tapi, detik itu juga, ketika aku benar-benar berserah memohon pertolongan Tuhan, aku sadar bahwa di dunia ini semua orang bisa meninggalkan kita. Hanya ada satu Pribadi yang bisa kita percaya dan andalkan, Dialah Tuhan Yesus.
Selama seminggu setelahnya, aku bergumul untuk melanjutkan hidupku. Aku merasa broken bukan hanya karena putus, tetapi karena aku merasa diriku tidak berharga dan mungkin pria-pria lain akan takut dengan wanita sepertiku. Kata-kata dari ibu mantan pacarku masih bergema dalam diriku. Rasa sedih masih sering muncul dan saat aku sedang sendirian di kantor, aku pun menangis. Namun Tuhan kembali menguatkanku. Dia mengajakku untuk melepaskan kesedihanku, memaafkan mereka yang telah menyakitiku, dan percaya sepenuhnya kepada-Nya. Hari itu juga aku berkomitmen untuk move-on dan puji Tuhan, dalam hari-hariku setelahnya, Tuhan mengaruniakanku kedamaian dan sukacita. Hingga akhirnya, saat ini aku tidak lagi merasa kecewa ataupun terpuruk atas segala pengalaman yang telah kulalui tersebut.
Mengampuni memang bukan perkara yang mudah. Tapi ketika Tuhan berbicara kepadaku, aku sadar bahwa aku juga manusia yang pernah mengecewakan hati Tuhan. Tapi, Tuhan mau mati untukku di kayu salib untuk mengampuni dosa-dosaku. Lalu, siapakah aku yang tidak mau mengampuni orang lain?
Aku merasakan dan mengecap bahwa Tuhan itu teramat baik dalam kehidupanku. Bukan karena jalan hidupku selalu lancar, tetapi Tuhan selalu menolongku tepat pada waktu-Nya. Tuhan menolongku bukan hanya saat ketika aku bergumul dengan mantan pacarku, tetapi juga dalam studi S-2ku dan juga pekerjaan yang kutekuni sekarang.
Hal lainnya yang kupelajari adalah meskipun aku sempat menjauh dari Tuhan, tapi sesungguhnya Tuhan tidak pernah menjauh dariku (Ibrani 13:5). Tuhan tetap menerimaku ketika aku datang kepada-Nya. Di dalam doa, aku bisa menumpahkan semua yang kurasakan dan meminta ampun kepada-Nya atas segala kesalahan dan dosaku. Hanya dengan datang kembali pada Tuhanlah maka aku bisa kembali merasakan keintiman dengan-Nya.
Hanya Tuhan sajalah yang mampu memberikan sukacita yang sejati, bukan kesenangan semata yang ada hari ini dan besok hilang karena masalah lain; bukan pula euforia sementara yang ada di dalam hidup kita. Kawan, apapun pergumulanmu, datanglah pada Tuhan Yesus dan mulailah berdoa kepada-Nya sekarang. Percayakanlah masa depan dan harapanmu pada Tuhan Yesus. Andaikan semuanya tidak berjalan sesuai keinginan hatimu, jangan pernah berhenti berharap pada Tuhan Yesus, sebab Tuhan pasti memiliki rancangan yang indah untuk kita. Dan ketika kita bersama-Nya, kita tidak akan kekurangan.
copas : warungsatekamu.org

Sabtu, 13 April 2019

DIPULIHKAN KARENA DOA

Oleh Katarina Tathya Ratri, Jakarta
Hari itu adalah hari terakhir di tahun 2011 ketika aku berjalan menyusuri jalanan di kota kecil tempat kelahiranku. Berbeda dari malam tahun baru sebelumnya yang aku lewati dengan berhura-hura, hari itu aku berjalan sendirian tanpa tujuan yang jelas. Aku tak peduli dengan orang-orang yang memadati jalanan untuk melihat kembang api, aku hanya ingin sesuatu yang berbeda untuk melewatkan tahun baru.
Langkah kakiku terhenti di depan sebuah jalan kecil yang menuju sebuah gereja. Hati kecilku bicara supaya aku melangkah ke dalam gereja itu. Tapi, aku merasa enggan karena itu bukan gereja yang pernah kusinggahi sebelumnya. Lagipula sejak duduk di bangku SMP, aku jarang pergi beribadah ke gereja. Namun, suara hatiku semakin keras dan aku memutuskan masuk ke dalam gereja itu.
Ketika aku tiba di dalam gereja, satu hal yang kuingat adalah berdoa. Sudah lama aku tidak berdoa, dan malam itu aku mau kembali berdoa. Kupejamkan mata dan mengarahkan hati kepada hadirat-Nya. Aku merasakan damai yang melingkupi hatiku dan tak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Malam itu aku berdoa dengan khusyuk karena aku begitu rindu untuk bertemu Sang Pencipta.
Aku percaya bahwa rasa damai yang melingkupiku waktu itu mengingatkanku kalau Tuhan ingin aku kembali pada-Nya. Dalam keheningan itu aku menyadari kalau selama ini aku menganggap doa hanya sebagai kewajiban saja sehingga aku tidak memiliki kerinduan untuk melakukannya.
Doa yang kunaikkan malam itu mengubahkan hidupku. Selama ini aku mencari pelarian dari situasi rumah yang membuatku muak. Aku pergi bersama teman-teman untuk merokok, menonton video porno, hingga pulang larut malam. Hari itu Tuhan menegurku untuk kembali pada-Nya. Lewat doa, aku mengucap janji untuk berbalik pada-Nya dan meninggalkan cara hidupku yang lama.
Aku berusaha menjaga komitmenku untuk setia pada Tuhan walaupun godaan untuk kembali ke kehidupan yang lama terus datang. Setiap hari aku terus berdoa pada-Nya memohon kekuatan, dan seiring berjalannya waktu aku menjadi semakin senang berdoa. Doa adalah nafas hidupku sehingga aku akan merasa sesak jika aku melewatkannya.
Setiap kali aku berdoa, aku tidak hanya melaporkan pada-Nya masalah-masalah yang kualami, tapi lebih dari sekadar melapor, aku mendiskusikan masalahku dengan Tuhan, mengucap syukur atas pemeliharaan-Nya, dan berdoa juga untuk orang-orang lain. Aku percaya kalau Tuhan maha mengetahui, tapi aku merasa perlu untuk mengungkapkan isi hatiku kepada-Nya supaya hati dan cara pikirku berubah sesuai dengan kehendak Tuhan.
Komitmenku untuk meninggalkan cara hidup yang lama seringkali membuatku khawatir. Aku takut jika harus kehilangan teman-teman sepermainan, tapi firman Tuhan dalam Filipi 4:6-7 mengingatkanku, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Aku mengalami sendiri bagaimana damai sejahtera Tuhan turun aDIPtas diriku. Ketika aku harus menghadapi ujian sidang skripsi, aku sangat takut karena ada mahasiswa sebelumku yang dinyatakan gagal. Aku khawatir kalau-kalau aku akan dinyatakan gagal juga. Alih-alih rasa khawatir semakin menguasai diriku, aku berdoa dan mengucap syukur atas proses yang bisa kulalui. Damai sejahtera Tuhan memenuhiku, dan aku yakin kalau Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk studiku.
Sejatinya, bukan Tuhanlah yang membutuhkan doa kita, tetapi kita yang butuh berdoa kepada Tuhan. Apapun kekhawatiranmu, ungkapkanlah kepada-Nya, sebab ada tertulis, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).
COPAS : warungsatekamu.org

Selasa, 09 April 2019

CERITA SETELAH MENDAPATKAN PELAYANAN PEMULIHAN

Kesaksian: CERITA SETELAH MENDAPATKAN PELAYANAN PEMULIHAN


Saya Lina peserta SOH Reguler angkatan X. Saya rindu berbagi cerita tentang kejaiban kasih Tuhan yang saya peroleh sepulang dari SOH. Saya adalah “si anak hilang yang baru kembali” setelah 17 tahun menghilang meninggalkan gereja. Meskipun saya bukan berasal dari keluarga Kristen, namun saya sudah mengenal Tuhan sejak kanak-kanak. Saya dibaptis waktu masih duduk di bangku SMP. Setelah itu saya aktif mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan di gereja.
Akan tetapi, sejak saya menikah, sepertinya semua semangat saya menurun drastis. Saya agak “lupa” ke gereja. Setiap kali ke gereja, saya merasa tidak mendapat apa-apa dan khotbah yang saya dengarkan berlalu begitu saja. Hal itu membuat saya jenuh dan malas ke gereja. Sampai akhirnya suatu hari Tuhan menegur saya dengan keras dan itu menyadarkan saya untuk kembali datang ke rumah Tuhan, berdoa dan berbicara dengan Dia.

Sebelum ikut SOH saya sudah dilayani oleh alumni SOH di Jakarta. Dalam beberapa pertemuan itu banyak hal yang saya temukan kembali, terutama tentang makna sebuah pengampunan. Tetapi dalam perjalanan untuk memberikan pengampunan yang sejati, saya merasa masih ada yang kurang dan tidak saya mengerti. Saya tidak mengerti bagaimana harus berserah kepada Tuhan. Saya tidak mengerti apa arti kalimat, “Kerjakan bagianmu, dan serahkan kepada Tuhan apa yang tidak bisa  kau selesaikan”. Saya tidak mengerti bagaimana bersabar menunggu waktu Tuhan. Saya bertanya-tanya, “Mana janji setiaMu Tuhan? Kapan waktuMu akan menggenapi janji-janjiMu itu? Mengapa saya masih merasa “sakit” menghadapi hidup saya padahal saya sudah melepaskan pengampunan kepada orang yang menyakiti saya?

Susah sekali bagi saya, yang sekian lama hidup “sendiri” dan berusaha menyelesaikan masalah saya sendiri  untuk mengartikan semua ini. Saya berpikir, alangkah bodohnya saya. Untuk hal berserah saja yang mungkin bagi orang lain kelihatannya sederhana kok saya tidak bisa. Sebenarnya keikutsertaan saya dalam SOH  ini karena “dijerumuskan” oleh kakak saya. Namun saya yakin ini bukanlah suatu kebetulan tapi karena kehendak Tuhan. Dan puji syukur bagi Bapa di surge. Amazing! CaraNya bekerja dalam menjawab keraguan-keraguan saya sungguh ajaib dan tak terjangkau oleh akal pikiran. Melalui renungan pagi Yohanes 8: 1 – 11, perasaan-perasaan sakit, rasa tidak berharga atas perlakuan-perlakuan yang menyakitkan terangkat oleh sebait ayat dalam Firman Tuhan yang selama ini sering saya ucapkan tapi terlewatkan di ayat terakhirnya. Saya disadarkan bahwa rasa sakit yang masih tersisa disebabkan karena penghakiman saya terhadap diri sendiri dan ketidakmampuan mengampuni diri sendiri. Renungan pagi itu sungguh membukakan mata hati saya. Pada ayat 9-11 saya disadarkan bahwa Yesus tidak pernah meninggalkan saya bahkan Dia berkata “Aku juga tidak menghukum engkau, Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang”.
After SOH, saya sangat bersyukur karena Tuhan mengijinkan saya untuk mendapatkan pemahaman-pemahaman tentang diri saya, hubungan saya dengan orang lain dan penyerahan diri saya kepada Tuhan. Saat ini saya masih harus banyak belajar dan mengejar ketertinggalan saya setelah sekian lama “menghilang”.  Saya mau dibentuk sesuai kehendakTuhan. Saya mau belajar mengurangi porsi kesombonganku sampai akhirnya aku benar2 berserah pada kehendakMu. Bukan hal yang mudah bagi saya menghadapi pergumulan pribadi, keluarga dan pekerjaan. Tapi saya mau tetap maju dan berjalan bersama Yesus. Saya tidak mau lagi lelah berjalan sendiri. Terima kasih saya kepada seluruh tim Duta Pembaharuan, fasilitator saya selama di SOH dan fasilitator saya di Jakarta. Juga kakak saya yang begitu sayang dan terus mendukung saya dalam pemulihan saya. Tuhan Yesus memberkati.
(Seperti yang ditulis Lina W melalui email, dengan editing seperlunya)
COPAS : dutapembaharuan.com

Jumat, 05 April 2019

PERTOBATAN PEKERJA HOMOSEKSUAL SETELAH MENONTON SOLUSI

Pertobatan Pekerja Homoseksual Setelah Menonton Solusi


Saat pertama kali menonton tayangan Solusi, Kris sudah merasa sangat terberkati sehingga hatinya langsung tergerak untuk mencatat nomor telepon call center Solusi. Setelah seminggu berlalu, dia terdorong untuk menelepon  call center Solusi. Dia menceritakan bagaimana hidupnya tidak tenang dan sangat gelisah setelah melihat kesaksian Solusi di televisi yang menceritakan tentang seseorang yang dapat bertobat dari kehidupan yang kelam.
Secara jujur dan terbuka, Kris bercerita tentang pengalaman hidupnya kepada tim Solusi. Dia mengaku selama ini dia bekerja sebagai pekerja seks disalah satu Pub malam yang harus melayani para lelaki homoseksual dan pekerjaan yang dijalani sudah berjalan kurang lebih selama 5 tahun. Kemudian tim Solusi menelusuri latar belakang yang mendorong Kris terjerumus pada dosa homoseksual.
Kris menceritakan kalau dulunya dia adalah orang yang tidak percaya dengan Tuhan dan sejak kecil dia sudah kehilangan seorang figur seorang ayah. Sejak saat itu dia harus terpaksa mandiri dan mencari kehidupan sendiri. Dia mulai mengenal Tuhan Yesus pada saat merantau ke Jakarta, diajak oleh temannya untuk gereja dan saat itu dia juga dibaptis di gereja tempat temannya tersebut. Tapi karena pergaulan yang terlalu bebas, akhirnya Kris terjerumus dengan dosa penyimpangan seksual dan pernah dilecehkan oleh sesama pria, kehancuran hidupnya dimulai dari situ. Kris merasa saat itu dia sudah dijual dan ikut bekerja di Kuala Lumpur sebagai pekerja seksual.
Saat ini Kris rindu untuk bertobat dan dibimbing kembali untuk hidup benar di dalam Tuhan oleh sebab itu dia menghubungi call center Solusi supaya didoakan dan dibukakan jalan untuk alami pertobatan. Dia berjanji akan berubah dan akan mengurus kepulangannya ke Indonesia supaya dapat segera dimuridkan.
Terima kasih pada seluruh Mitra CBN untuk tetap setia menabur dalam pelayanan Solusi, setiap kesaksian yang  tayang telah memberkati banyak orang. Salah satunya yang telah Anda lihat adalah hidup Kris, teruslah menabur untuk pekerjaan tangan Tuhan! 
copas : jawaban.com

Senin, 01 April 2019

SEMBUH SETELAH 10 TAHUN LUMPUH

Sembuh Setelah 10 Tahun Lumpuh


Puluhan tahun lalu melalui proses yang panjang dan tidak mudah untuk dilalui seorang manusia biasa, Bapak Esa mengalami perubahan besar di dalam hidupnya. Dari seorang biasa saja hingga menjadi pelayan Tuhan. Berikut adalah kesaksiannya:
Bapak Esa adalah salah satu penggemar tayangan Solusi karena baginya kesaksian yang ditayangkan selalu dapat memberkati dan memberikan pengharapan bagi orang yang sedang putus asa sehingga bisa bangkit kembali dan beroleh kemenangan dalam setiap pergumulan hidupnya.
Dalam suatu perjalanan ke kantornya pada pagi itu, Bapak Esa tidak menyangka akan mengalami sebuah kecelakaan maut, mobilnya ditabrak oleh pengendara mobil yang berkecepatan tinggi. Seketika Bapak Esa mengalami kaget yang luar biasa dan hilang kendali, sehingga mobil yang dikemudikannya hancur. Puji Tuhan saat itu Bapak Esa masih diberikan nafas kehidupan oleh Tuhan, melalui bantuan polisi yang waktu itu hadir di tempat kejadian, tubuh Bapak Esa yang terjepit di dalam mobil dikeluarkan dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah sampai di rumah sakit baru diketahui bahwa kakinya patah dan harus segera dioperasi, kemudian Bapak Esa dilarikan ke rumah sakit di kota. Bapak Esa dirawat hampir sebulan di rumah sakit, selain itu usahanya berantakan karena tidak ada yang mengurusnya. Biaya yang tidak sedikit harus dikeluarkan sehingga semua aset usahanya habis dan rumahnya juga harus dijual.
Disaat keadaan hidup Bapak Esa benar-benar jatuh inilah, Tuhan banyak berbicara kepada dia. Bahkan melalui penglihatannya, Tuhan memberikan tiga janji bahwa dia akan sembuh, akan menjadi hamba Tuhan dan akan beroleh berkat yang luar biasa daripada Tuhan. Dengan bekal tersebut, Bapak Esa menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam berdoa, memuji Tuhan dan membaca firman-Nya. Kurang lebih 10 tahun, Bapak Esa mengalami kesembuhan total dan saat itu dia langsung aktif di gereja dan memutuskan menjadi seorang pendeta sampai hari ini.
Mengikut Tuhan tidak selalu mudah, tetapi kesetiaan Bapak Esa untuk mengikut Tuhan membuat hidupnya mengalami banyak mujizat dan mempermuliakan nama Tuhan. Terima kasih juga atas kesetiaan Anda sebagai Mitra CBN, sehingga tayangan Solusi dapat selalu tayang dan berdampak bagi hidup orang banyak.
copas : jawaban.com