Jumat, 31 Mei 2019

MISKIN, TETAPI KAYA DI DALAM TUHAN

Baca: Yakobus 1:9-11

1:9 Baiklah saudara yang berada dalam keaadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi,
1:10 dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput.
1:11 Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.
Miskin, Tetapi Kaya di Dalam Tuhan
Tumbuh dengan latar belakang keluarga yang selalu hidup pas-pasan, aku sering berangan-angan menjadi orang kaya. Beberapa waktu lalu, aku merasa kesal karena melihat teman-temanku membeli mobil baru, makan malam di tempat-tempat yang keren, dan mereka memamerkannya di Instagram. Perasaan itu tidak mudah dihilangkan sekalipun aku tahu mereka adalah teman-teman Kristen yang sungguh-sungguh dalam iman.
Aku ingin menjadi orang yang mengandalkan Tuhan, tetapi pada saat yang sama aku juga ingin menjadi seorang yang kaya. Aku tahu bahwa menjadi kaya itu tidak salah, Alkitab mencatat sejumlah tokoh yang kaya raya seperti Ayub dan Yusuf. Namun, Alkitab juga berulang kali mengingatkan kita untuk tidak memburu harta dan kekuasaan (1 Timotius 6:7-10).
Jadi, bagaimana seharusnya aku memandang kekayaan yang bersifat materi? Akankah keinginanku untuk menjadi seorang yang kaya membuat kehidupan Kristenku menjadi dangkal? Apakah keinginan menjadi kaya itu keinginan yang salah?
Dalam pasar 1:9-11, Yakobus menggunakan beberapa paradoks untuk menolong para pembacanya memahami situasi para orang percaya yang sedang dilanda kesulitan. Kemungkinan besar, kesulitan yang dialami mereka itu adalah kesulitan ekonomi demi mempertahankankan iman mereka.
Yakobus memulai suratnya dengan menyapa umat percaya yang miskin dari kelompok Yahudi, yang disebutnya memiliki “kedudukan yang tinggi” (ayat 9). Meskipun orang-orang ini dipandang rendah oleh dunia, mereka memiliki banyak hal yang dapat dibanggakan. Mereka dikaruniai “segala berkat rohani di dalam Kristus” (Efesus 1:3), mereka adalah anak-anak Allah dan para ahli waris bersama-sama dengan Kristus (Roma 8:17). Dalam Kristus, orang-orang yang miskin sungguh menjadi kaya! Mereka bisa disebut sebagai orang-orang miskin yang kaya.
Yakobus lalu ganti menyapa umat percaya yang kaya secara materi, yang disebutnya memiliki kedudukan yang rendah (ayat 10). Meskipun mereka mungkin bisa menikmati hidup yang lebih baik dari orang lain, Yakobus mengingatkan bahaya yang mereka hadapi: mereka cenderung mengandalkan harta kekayaan mereka, lupa bahwa semua pencapaian mereka itu tidak akan bisa bertahan selamanya, sama seperti bunga rumput (ayat 10-11). Sebab itu, umat percaya perlu belajar untuk bermegah dalam keadaan yang rendah, selalu datang dengan kesadaran bahwa mereka miskin secara rohani dan membutuhkan Tuhan, sama seperti saat mereka pertama kali datang kepada Kristus. Mereka bisa disebut sebagai orang-orang kaya yang miskin.
Kedua paradoks tersebut diberikan Yakobus untuk menjelaskan bahwa segala sesuatu yang kita punya di bumi ini suatu hari kelak akan lenyap, baik itu keadaan yang miskin maupun kaya (ayat 11). Sebab itu, rasa aman kita haruslah diletakkan pada harta yang bersifat kekal.
Daripada berupaya menekan keinginan kita untuk menjadi kaya, mari kita mencari kekayaan rohani yang sejati di dalam Kristus dan menempatkan rasa aman kita di dalam Tuhan yang senantiasa mencukupkan hidup kita dengan kehadiran-Nya. —Tracy Phua, Singapura
Memiliki Tuhan berarti memiliki segalanya!
Pertanyaan untuk direnungkan

1. Apa yang menjadi ambisi dalam hidupmu? Hal-hal apa yang bernilai bagimu dan yang kamu impikan?

2. Apakah kamu ingin menjadi seorang yang kaya? Bagaimana keinginan itu bisa menghalangi hubungan pribadimu dengan Tuhan?
Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.
Tentang Penulis:
Tracy Phua, Singapura | Tracy suka meluangkan waktunya bersama orang yang dia kasihi, apalagi jika sambil makan bersama. Dia suka menata dan merapikan ruangan, yang buatnya ini seperti sebuah terapi. Dia juga tertarik pada bahasa dan berharap bisa mempelajari satu atau dua bahasa lain lagi selama hidupnya. Menikmati ciptaan Tuhan dengan pergi ke laut atau gunung adalah liburan yang sempurna buatnya. Dia juga suka dengan kucing, sup panas di hari yang dingin, dan juga ayam goreng.
COPAS : WWW.WARUNGSATEKAMU.ORG

Senin, 27 Mei 2019

KETIKA AKU TIDAK SEPENDAPAT DENGAN ALKITAB

Oleh Lim Chien Chong, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When I Don’t Agree with Bible
Belum lama ini, temanku yang adalah seorang Kristen bercerita bahwa dia sedang mengalami masa-masa yang sangat berat dalam hidupnya. Dia bertanya-tanya mengapa Allah, yang Alkitab gambarkan sebagai Allah yang penuh kasih, mengizinkan semua itu terjadi dalam hidupnya. Dia juga menjadi semakin kecewa ketika Tuhan seolah tidak menjawab doa-doanya. Allah dalam Alkitab ternyata tidak seperti yang diharapkan olehnya.
Ada juga teman Kristenku yang lain yang bercerita kalau dia sedang berpacaran dengan seseorang, tapi hubungan itu adalah hubungan yang jelas-jelas dilarang dalam Alkitab. Mereka sudah saling jatuh cinta, dan hubungan itu sangat berarti baginya. Baginya, perintah Tuhan dalam Alkitab itu tidak masuk akal, terutama tentang dengan siapa orang-orang percaya boleh berpacaran.
Dua orang temanku itu hanyalah contoh dari banyak orang yang aku tahu juga bergumul dengan apa yang Alkitab katakan. Kasus kedua temanku ini terasa lebih berat karena pertentangan yang terjadi bukan hanya masalah doktrin, tapi juga masalah harapan-harapan, kesukaan-kesukaan, dan gaya hidup mereka.
Apa yang kita lakukan ketika kita tidak sependapat dengan Alkitab? Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, aku memulainya dengan menelaah kembali asumsi-asumsi dan keyakinan-keyakinan yang kumiliki tentang diriku dan tentang Tuhan.
Asumsi #1: Pemikiran dan perasaanku tidak mungkin salah
Segala ketidaksepakatan di antara dua orang terjadi ketika masing-masing pihak merasa yakin bahwa mereka benar. Aku merasa sulit menerima hal-hal yang berbeda dengan apa yang telah aku percaya sebagai hal yang benar sejak dulu. Terlebih ketika aku merasa begitu yakin dengan pendapat dan perasaanku sendiri.
Biasanya, ketika apa yang Alkitab katakan tidak sejalan dengan apa yang kurasakan, kupikirkan, dan kuinginkan, reaksi naturalku adalah mengatakan bahwa Alkitab itu salah.
Tapi jika aku jujur kepada diriku sendiri, aku harus mengakui bahwa ada banyak kali dalam hidupku di mana pendapat, perasaan, atau caraku merespons ternyata salah. Kenyataannya, aku bisa salah—meskipun aku tidak suka mengakuinya.
Aku ingat ketika dulu aku ditolak masuk ke sekolah kedokteran. Tidak seperti teman-temanku yang ingin menjadi dokter karena alasan-alasan pribadi, aku ingin menjadi dokter karena aku ingin “menyelamatkan” nyawa orang-orang. Awalnya aku pikir Tuhan melakukan kesalahan dengan tidak mengizinkanku diterima di sekolah kedokteran. Tapi kini ketika aku melihat kembali hidupku, aku sadar bahwa Tuhan lebih tahu yang terbaik untukku. Banyak orang mendukung pekerjaanku sekarang sebagai seorang guru. Dan ketika aku mengajar firman Tuhan dan membagikan Injil Kristus, sesungguhnya aku sedang “menyelamatkan” jiwa-jiwa untuk kekekalan. Aku mengucap syukur pada Tuhan karena meskipun aku telah salah memandang diriku sendiri, tetapi Tuhan tidak pernah salah.
Asumsi #2: Aku sudah mengerti Alkitab cukup baik
Bagi kita yang sudah menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun, kita tentu sudah mendengar banyak khotbah dan sudah banyak membaca serta mempelajari Alkitab. Dengan segala pengetahuan itu, kita mungkin telah memiliki pemahaman tertentu tentang Tuhan dan tentang kehidupan.
Tidak heran kita menjadi bergumul ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita pahami. Tapi, jika kita lebih teliti membaca Alkitab sesuai dengan konteksnya, kita mungkin akan menyadari kalau selama ini kita salah memahami maksud Alkitab, dan itu membuat kita memiliki pemahaman yang salah tentang Tuhan.
Dulu aku berpikir kalau Tuhan akan menjawab semua doa-doaku kalau aku mengakhirinya dalam nama Yesus. Tapi, bukan itu yang dimaksud dalam Yohanes 16:24. Kamu bisa membayangkan betapa kecewanya aku ketika aku merasa Tuhan tidak menjawab doa-doaku. Namun akhirnya aku sadar bahwa aku kecewa karena aku memiliki pemahaman yang salah tentang Tuhan. Ketika aku merenungkannya kembali, aku sadar bahwa Tuhanlah yang seharusnya kecewa kepadaku.
Asumsi #3: Tuhan harus bertindak sesuai dengan cara yang kita harapkan
Kita berharap teman dekat kita mengerti dan menerima kita. Kita juga memiliki harapan tertentu tentang bagaimana mereka seharusnya bertindak dan merespons. Karena itu, kita menjadi sangat kecewa ketika mereka tidak memenuhi harapan kita. Jadi, jika Tuhan tidak bertindak dengan cara yang kita harapkan, kita merasa ada yang salah dengan-Nya.
Tapi kita tidak bisa memandang Tuhan dengan cara yang sama seperti kita memandang teman-teman kita. Dia adalah Tuhan yang Mahabesar, yang memerintah dengan hikmat dan kekuasaan penuh. Dalam Yesaya 40:12-26, kita dapat melihat bagaimana bangsa Israel menggambarkan Allah sebagai Tuhan yang tiada tandingannya. Lagipula, jika kita dapat “mengatur Tuhan” dan mengatakan kepada-Nya apa yang Dia harus lakukan, Dia bukanlah Tuhan karena Dia ada di bawah kendali kita.
Jadi, untuk menggantikan ketiga asumsi yang salah itu, berikut adalah tiga pilar keyakinan yang kini aku pegang:
Pilar #1: Tuhan yang menentukan segalanya, bukan aku
Hal paling mendasar yang harus aku perhatikan adalah apakah aku menerima fakta bahwa Tuhanlah yang menentukan apa yang benar dan salah, yang baik dan buruk, yang asli dan palsu, menurut kuasa, kasih, dan pengetahuan-Nya yang sempurna, terlepas dari apa yang aku pikirkan dan rasakan.
Aku bisa saja berbangga diri dan menjadi keras kepala karena aku pikir aku lebih tahu karena aku telah membaca, melihat, dan mengalami banyak hal. Tapi, aku juga bisa memilih untuk rendah hati dan menerima kenyataan bahwa Tuhan yang Mahabesar itu bekerja jauh melebihi apa yang aku pikirkan.
Ketika Ayub dicobai, istri dan teman-temannya berusaha memberikan alasan-alasan “logis” di balik penderitaan yang Ayub alami. Tapi, Tuhan tidak (dan juga tidak harus) bertindak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Pada puncaknya di dalam Ayub 38:1 – 40:2, Tuhan mengingatkan Ayub bahwa Dia adalah Tuhan yang Mahabesar; Di tahu bagaimana mengatur alam semesta yang telah Dia ciptakan, dan hikmat-Nya jauh melampaui hikmat manusia.
Aku sadar bahwa seringkali cara pandang dan penilaianku begitu sempit dan berat sebelah. Masih ada banyak hal yang aku tidak tahu. Sesungguhnya, aku perlu terus belajar dan mempelajari ulang banyak hal. Anak-anakku menjadi guruku dalam hal ini. Pertanyaan-pertanyaan polos mereka seperti “Bagaimana ini bisa terjadi?”, “Mengapa harus seperti itu?”, dan “Mengapa ayah mengatakan ini tapi melakukan itu?” seringkali menunjukkanku bahwa ada banyak hal yang aku tidak tahu, dan aku juga tidak sebaik, sebijaksana, sesabar, dan seadil yang aku pikir. Sungguh bodoh jika aku berpikir aku lebih tahu dari Tuhan.
Pilar #2: Tuhan sendiri yang memberikan firman-Nya
Terkadang aku harus menerima apa adanya kebenaran-kebenaran yang tertulis dengan jelas di dalam Alkitab. Pada awalnya aku mungkin tidak mengerti atau tidak setuju dengan kebenaran-kebenaran atau perintah-perintah tertentu. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa Tuhan sudah menuliskan itu semua di dalam Alkitab.
Aku harus menanggapi hal ini bukan dengan cara menghapus atau memoles ayat-ayat itu, tapi dengan mengambil waktu untuk berusaha mempelajari dan memahaminya. Kadang, aku hanya perlu menerima kebenaran-kebenaran itu bahkan ketika aku merasa itu tidak masuk akal. Mungkin kita tidak benar-benar mengerti tentang konsep Allah Tritunggal atau doktrin predestinasi. Mungkin kita tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Tuhan mengizinkan penderitaan terjadi. Mungkin kita tidak tahu mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doa kita. Walaupun demikian, kita bisa tetap menyimpan pertanyaan-pertanyaan ini dan menunggu untuk melihat bagaimana Tuhan menolong kita menjawab pertanyaan-pertanyaan itu seiring berjalannya waktu. Ketika Habakuk merasa bingung dengan cara Tuhan yang misterius, jawaban Tuhan kepadanya adalah: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4). Jadi, tunggulah waktunya Tuhan menolongmu.
Pilar #3: Tuhan adalah Tuhan atas dunia ini
Daripada kita berfokus kepada perbedaan antara apa yang Alkitab katakan dan apa yang kita lihat, mengapa kita tidak mencoba melihat banyaknya kesamaan antara Alkitab dan dunia ini? Kita tidak perlu terkejut, karena Tuhan yang memberikan kita firman-Nya adalah Tuhan yang juga menciptakan dunia ini.
Sebuah kebiasaan yang baik yang bisa kita lakukan adalah mencari contoh-contoh bagaimana karakter dan kebenaran Tuhan terlihat di dalam dunia yang kita tinggali dan di dalam pengalaman yang kita alami. Contohnya, kasih, belas kasihan, dan keadilan bukanlah sebuah konsep yang abstrak. Semua hal itu adalah prinsip-prinsip yang penting yang dapat kita lihat dalam hidup dan lingkungan tempat kita tinggal. Mereka seolah menunjukkan (meskipun tidak sempurna) bagaimana Tuhan berinteraksi dengan dunia ini. Tapi cara Tuhan melakukannya tentu berbeda dengan cara manusia melakukannya, karena tidak seperti manusia, Dia sempurna dalam segala hal yang Dia lakukan.
Jadi apa yang dapat aku lakukan ketika aku tidak sependapat dengan Alkitab? Aku rasa aku sudah siap menjawab pertanyaan ini sekarang.
Ketika aku tidak sependapat dengan Alkitab…
1. Aku akan menelisik kembali keyakinanku, pemikiranku, dan keinginanku dan terbuka dalam menghadapi kemungkinan kalau-kalau apa yang kupikirkan tentang dunia ini, tentang hidup ini, bahkan tentang Tuhan mungkin saja salah.
2. Aku akan melihat kembali apa yang Alkitab katakan sesuai dengan konteksnya. Mungkin ada bagian yang terlewati atau salah kupahami ketika aku membacanya.
3. Jika akhirnya aku dapat melihat kesalahan-kesalahanku, aku akan meluruskan kembalijalanku dan belajar untuk melepaskan kesombonganku dan sifat keras kepalaku.
4. Jika akhirnya aku masih tidak sependapat, aku akan memantapkan kembali iman percayaku di dalam Tuhan yang Mahabesar, percaya bahwa Dia akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih jelas pada waktu-Nya kelak.
Keempat hal di atas mungkin terlihat biasa, namun tidak mudah untuk melakukannya ketika masalah itu benar-benar datang. Mungkin itulah mengapa kedua temanku itu bergumul. Ketika aku bersyukur karena salah satu temanku itu akhirnya belajar untuk memahami dan menerima bahwa Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik untuknya, temanku yang lain kini masih harus bergumul dengan masalah hubungannya yang dilarang oleh Tuhan. Aku berdoa agar dia dapat meluruskan kembali jalannya kepada Tuhan.
Chien Chong mulai melayani sepenuh waktu bersama Singapore Youth For Christ (SYFC) pada tahun 1998 setelah enam tahun menjadi guru di sebuah sekolah menengah. Di tahun 2005, dia diangkat menjadi SYFC National Director. Saat ini dia aktif melayani mimbar dan kelas pendalaman Alkitab di gereja. Selain berkhotbah, dia juga memberi pelatihan dan mengajar di banyak gereja dan kelompok pemuda di Singapura. Dia telah menikah selama 15 tahun dan telah dikaruniai dua orang anak lelaki, Joshua (11 tahun) dan Elijah (8 tahun).
COPAS : WWW.WARUNGSATEKAMU.ORG

Kamis, 23 Mei 2019

TUHAN YESUS, TERIMA KASIH UNTUK TRAGEDI INI

Oleh Novi, Surabaya
Mungkin kisah hidupku tidak seindah cerita tentang Cinderella yang menemukan pangeran tampannya, atau tidak juga seromantis kisah Romeo dan Juliet yang rela berkorban demi pasangannya. Namun, ketika aku menyerahkan hidupku ke dalam tangan Tuhan, Dia membuat perjalanan hidupku indah pada waktunya. Inilah sepenggal kisah perjalanan hidupku yang ingin kubagikan kepadamu.
Dilahirkan di keluarga Kristen bukan berarti aku menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. Sekalipun pada waktu SMP aku memutuskan untuk memberi diri dibaptis, aku belum sepenuhnya menghidupi iman percayaku. Aku baru mengalami lahir baru seutuhnya saat aku duduk di bangku kuliah dan belajar untuk aktif melayani Tuhan.

Ketika Tuhan mengizinkan tragedi terjadi di hidupku

Aku pikir setelah aku menerima Tuhan Yesus seutuhnya maka kehidupanku akan bertambah baik, tetapi kenyataan berkata lain. Aku harus kehilangan ayah yang dipanggil kembali kepada Tuhan di surga. Kehilangan sosok ayah membuat ekonomi keluarga kami terguncang sehingga ibu memutuskan untuk bekerja merantau ke luar negeri. Masalah tidak berhenti sampai di situ, adikku pun terjerat dalam narkoba hingga harus mendekam di penjara.
Saat itu aku sedang menempuh kuliah dan merasa begitu tertekan. Aku tidak tega melihat keadaan keluargaku yang seperti ini dan aku pun bertanya pada Tuhan, “Kenapa semua ini terjadi saat aku sudah menyerahkan hidupku untuk-Mu, Tuhan?” Tapi aku bersyukur karena ibuku tetap tegar. Dia bekerja sekuat tenaga di luar negeri untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarga kami.
Setelah lulus kuliah aku pun bekerja untuk membantu ibu mencukupi kebutuhan keluarga. Aku begitu bersemangat untuk bekerja hingga tidak menyadari kalau usiaku ternyata telah menginjak angka 30 tahun dan aku belum pernah sekalipun berpacaran! Lama-lama aku merasa stres karena banyak anggota keluarga yang selalu bertanya kepadaku, “Kapan kamu menikah?”
Saat aku mulai mencoba membuka diri untuk siap menjalin relasi, ada seorang temanku yang mengenalkanku dengan seorang pria. Singkat cerita kami saling berkenalan dan berteman. Tapi aku sendiri tidak yakin kalau dia adalah orang yang tepat buatku sekalipun kami sama-sama orang Kristen.
Suatu ketika dia bertanya kepadaku, “Apakah kamu lebih memilih apa kata Tuhan atau kata hatimu?” Aku pun menjawabnya kalau aku tentu lebih memilih apa kata Tuhan. Aku sendiri pun tidak tahu apa alasan dia bertanya seperti itu kepadaku. Semenjak saat itu perlahan dia mulai menghilang dariku dan terakhir kali kulihat dia telah bersama perempuan lain.
Sejujurnya walau saat itu kami masih hanya berstatus teman, tetapi aku merasa sakit hati karena dia meninggalkanku begitu saja. Ketika aku berdoa dan menangis kepada Tuhan, Roh Kudus mengingatkanku untuk taat dan berserah.

Sebuah pertemuan tidak terduga

Lambat laun aku mampu menjalani kehidupanku seperti biasa dan tidak terlalu berfokus memikirkan tentang pasangan hidup. Hingga aku tiba pada suatu kesempatan yang tidak pernah kuduga sebelumnya.
Suatu ketika di awal bulan Maret 2015 aku sedang berbelanja di sebuah supermarket dan bertemu dengan seorang teman SMA yang sudah 12 tahun tidak bertemu. Dulu kami tidak saling mengenal dan yang aku tahu kalau temanku itu adalah anak yang populer di sekolah karena dia adalah ketua OSIS dan setahuku dia juga disukai banyak teman-teman perempuan.
Aku pikir pertemuan itu hanya sebatas pertemuan biasa, tetapi di bulan Juli 2015 kami mulai lebih sering mengobrol. Kami berusaha saling mengenal satu sama lain hingga aku pun mengetahui kalau temanku itu sudah menjadi orang Kristen yang lahir baru. Saat kami sudah menjadi teman akrab, di bulan Oktober 2015 kami memutuskan untuk berpacaran. Kami pun meminta bimbingan dari kakak rohani di gereja untuk membimbing hubungan ini.
Kami berkomitmen untuk menjunjung tinggi kekudusan dalam hubungan kami. Kami hanya berpegangan tangan kalau diperlukan. Kami juga saling menguatkan, saling mengisi, saling menegur kalau kami salah. Bagiku kekudusan itu sangat penting. Aku memiliki komitmen kalau ciuman pertamaku nanti adalah ketika kami berada di altar gereja dalam pemberkatan pernikahan kami.
Saat ini kami berdua melayani kaum muda di gereja kami berjemaat. Kami mengajarkan adik-adik kami untuk menjaga kekudusan dan menggunakan masa muda mereka untuk melayani Tuhan yang adalah Raja segala raja. Di samping bekerja dan melayani, saat ini kami juga sedang mempersiapkan untuk memasuki perjalanan baru dalam hidup kami berdua. Ya, kami akan menikah di bulan Oktober 2017 nanti. Kami percaya Tuhan yang mempertemukan kami berdua, Dia juga yang akan menyiapkan semuanya.

Rancangan Tuhan adalah yang terbaik

Setiap peristiwa yang terjadi di dalam hidupku, entah itu baik ataupun buruk semuanya ditenun oleh Tuhan menjadi sesuatu yang indah. Tragedi yang terjadi di masa awal aku mengikut Tuhan itu membawaku pada suatu dilema, apakah aku mau tetap berserah kepada Tuhan dan menata hidupku atau menyesali keadaan dan mencari pelarian lain.
Lambat laun Tuhan mulai memulihkan keluargaku. Secara ekonomi perlahan kami bisa lepas dari jerat hutang dan adikku yang dulu pernah terlibat narkoba pun kita sudah terbebas dari segala jenis kecanduan. Aku telah merasakan pengalaman kalau pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat dan aku tidak pernah menyesal karena menyerahkan hidupku kepada-Nya.
Pengalaman hidup yang telah kualami itu mengingatkanku bahwa setiap kita dilahirkan di dunia ini untuk memenuhi tujuan Tuhan. Tapi, seringkali kita menjauh dari tujuan itu karena kita “bingung” dengan urusan sendiri. Kita khawatir dengan banyak hal. Makan apa hari ini? Kerja di mana nanti? Kapankah pasangan hidup itu ditemukan? Dan banyak kekhawatiran lain.
Lewat kesaksian ini aku ingin mendorong teman-teman agar tidak pernah ragu memberikan masa muda kita kepada Tuhan. Kita tidak perlu khawatir tentang siapa yang menjadi pasangan hidup kita ataupun bagaimana masa depan kita kelak. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan menjamin hidup kita. Apapun yang kita letakkan di bawah kaki-Nya tidak pernah sia-sia.

“Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Timotius 2:4)\

COPAS : WWW.WARUNGSATEKAMU.ORG

Minggu, 19 Mei 2019

MENABUR BENIH KEGIGIHAN

Siang itu saya mendapati raut wajah anak saya sedih dan marah tanpa saya ketahui apa sebab musababnya.

Ketika itu saya baru menghabiskan sekian puluh menit guna mencuci keset-keset yang ada di rumah saya. Ternyata kesibukan saya itu membuat saya kehilangan konteks. Meskipun saya tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi, tetapi saya berusaha melempar kalimat-kalimat penghiburan.


Saya tahu bahwa dia suka makan masakan yang pakai bawang bombai sebagai bumbunya.

"Sudah makan, Chris?"Kalimat itu rupanya hanya sebagai angin lalu saja tanpa jawaban "sudah" ataupun "belum".

Wah, gawat, rupanya sedihnya sedalam lautan.

"Ada Ayam Saus Inggris lho ... dari 'Restoran Bareng'," saya bercanda. Karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada "Restoran Bareng". "Bareng" adalah kampung tempat tinggalku.

Hari itu adalah hari libur, jadi saya bisa memasak menu yang sedikit istimewa. Ada kelonggaran waktu untuk berlama-lama di dapur.

Ayam dipotong-potong, lalu dicuci dan direbus sampai matang. Lalu, angkat dan tiriskan.

Langkah kedua, ayam digoreng sampai kering.

Langkah ketiga, kupas bawang bombai, cuci lalu iris tipis. Cuci tomat lalu iris tipis. Tumis bawang bombai sampai harum lalu tambahkan irisan tomat, dan tumis sampai layu. Tambahkan Saus Inggris, kecap manis, dan saus tomat. Tambah gula pasir, garam, dan lada. Setelah bumbu tercampur rata, tambahkan ayam goreng dan aduk rata. Lalu, matikan api dan masakan siap dihidangkan.

Mudah, bukan? Tetapi jangan ragukan kenikmatannya. Engkau pasti suka. Itu tidak kalah sedap dari masakan restoran. Maka saya berujar dengan nada canda bahwa itu dari "Restoran Bareng".

Jika engkau membaca dengan teliti, pasti engkau ingat ada berapa langkah dalam proses memasak itu. Ada tiga langkah. Nah, itu dia .... Memasak tiga langkah seperti itu adalah kemewahan bagi saya dari segi waktu.

Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya harus tersedia makanan sehat bergizi untuk suami dan anak-anak. Dan, jangan lupa poin "nikmat". Pada hari kerja saya miskin waktu di dapur. Memasak sambil berlomba waktu.

Bawang bombai tak berhasil menghapus kesedihan Christo. Lalu detik-detik di siang itu menjadi menit-menit yang senyap.

Sore datang menjelang dan Christo terbangun dari tidurnya.

Dia bersuara,

"Ma, tolong antar ke Tidar. Sepatuku ketinggalan."

"Ketinggalan di mana?"

"Di tempat soccer."

Wah ...??????

Pantas siang tadi mukanya panjang.

"Kok bisa ketinggalan?"

"Iya, tadi aku telepon, terus disuruh Papa jalan kaki pulangnya."

Pantas hatinya jengkel sekali. Bagaimana tidak? Sudah capai setelah main soccer dan minta jemputan, tetapi berhembus angin buruk. Capainya berlipat dua dengan berjalan kaki untuk berpulang. Setiap langkah sepanjang tiga setengah kilometer adalah langkah-langkah tanpa keceriaan.

Senja itu kami naik motor memecah udara lembab karena hujan baru usai.

Di depan lapangan soccer, di tepi jalan saya menunggu. Kubiarkan Christo berusaha mencari sendiri sepatunya yang ketinggalan itu.

Sekitar sepuluh menit telah berlalu dan Christo menjumpaiku dengan tangan kosong dan kabar buruk.

Saya tidak mau menyerah begitu saja.

Lalu kuparkir motorku dan kami berdua masuk ke lapangan soccer itu. Saya mencari dengan teliti di sana sini. Tak ada sesuatu yang menggembirakan. Saya melongok ke tong-tong sampah. Mungkin saja ada orang yang menganggap sepatu yang tertinggal itu sebagai sampah dan kemudian memasukkannya di tong sampah.

Kami menjumpai petugas dan saya menjelaskan duduk perkaranya. Petugas itu menjelaskan bahwa dia baru bertugas sore itu sedangkan peristiwa kehilangan sepatu itu siang dan ada petugas lain yang sudah pulang.

"Apakah tidak ada pesan?"

"Tidak ada."

"Apakah tidak ada titipan barang?"

"Tidak ada."

"Tolong diperiksa. Mungkin ada barang yang dititipkan di kantor ini."

Saya sebagai saksinya, petugas itu memeriksa ke segala penjuru kantor itu. Sembari itu, mata saya juga memeriksa keliling kantor itu. Usaha kami tidak berhasil.

Saya tidak mau menyerah begitu saja.

"Apa tidak ada satpam di sini?"

"Apa tidak ada cara supaya sepatu itu bisa ketemu?"

Lalu petugas itu berkata, "Di sini ada CCTV, tetapi sekarang kantor sudah tutup. Saya bisa minta petugas kantor pagi untuk memutar rekaman CCTV siang tadi."

Ada secercah harapan.

Lalu petugas itu mencatat nomor HP Christo supaya bisa dihubungi. Berikut catatan tentang ciri-ciri sepatu dan tas sepatu. Dan, Christo juga mencatat nomor HP kantor lapangan soccer itu.

Kedatangan kami di rumah disambut dengan kalimat-kalimat mematikan.

"Tidak bakalan ketemu."

"Itu pasti hilang."

Ya ... setidaknya saya sudah berusaha mencarinya dan tentu berdoa. Itu memang adalah tempat umum, tempat di mana banyak orang datang dan pergi. Tetapi ada prosedur yang menguntungkan kami yaitu bagi pengunjung yang ingin menyewa lapangan soccer itu diharuskan meninggalkan nama dan nomor HP.

Kalau sungguh-sungguh hilang bagaimana? Kalau hilang sayang. Nilainya sekitar enam bulan uang saku Christo. Bagi orang sederhana seperti kami, banyak barang yang biasa menjadi mahal nilainya.

Kalau ketemu lumayan. Setidaknya tidak berpikir lagi untuk membeli penggantinya.

Pada dasarnya saya tidak suka mencatat sad ending. Jadi, jelas bahwa kisah nyata tentang kehilangan sepatu soccer ini berakhir dengan happy ending, sebagaimana Tuhan Yesus mengisahkan domba yang hilang dan ditemukan. Maknailah itu sebagai spirit kegigihan.

Hari berikutnya Christo berjalan kaki pergi dan pulang ke lapangan soccer itu. Walaupun sekitar tujuh kilometer, itu pasti tidak akan melelahkan. Setiap langkah selalu terasa ringan karena dia tahu bahwa dia akan pulang dengan sepatu keberuntungannya. Dan, pasti dia menangkap sebutir kegigihan sebagai salah satu bekal untuk sisa hidupnya.

19 Januari 2015,

COPAS : artikel.sabda.org

Rabu, 15 Mei 2019

JANIN

JANIN

Bandung. Di sini kami adalah perantauan semata. Kami dari Manado. Suamiku sedang mengambil specialis kandungan. Semuanya terasa tidak bersahabat ...Ha.....ha... mungkin demikianlah lagu kebangsaan semua orang perantauan. Aku adalah ibu beranak satu. Sekarang aku hamil anak kami kedua. Karena suamiku sedang mengambil specialis kandungan dari ilmu kedokteran, maka janinku pun diperiksa.
Menurut hasil pemeriksaan, janin itu tidaklah menunjukkan ciri-ciri sebagai janin yang baik. Artinya janin itu buruk. Tentu hal itu meminta keputusan kami. Apakah janin itu dipertahankan ataukah janin itu digugurkan. Ada risiko bayi dilahirkan cacat. Benarkah Tuhan memberikan kami seorang bayi yang cacat? Oh itu adalah pertanyaan besar, Itu juga adalah pertanyaan serius.
Iman dan pengetahuan keduanya ada pada kami. Justru keduanya ada pada kami maka pikiran dan hati kami bergolak. Jika engkau yang mengalami ini, apa yang kau putuskan??? ...Setelah melalui banyak pertimbangan dan banyak berdoa, maka kami membulatkan hati untuk memelihara janin itu. Apa pun bayi itu dan bagaimana pun bayi itu kami sudah siap. Betulkah demikian???...Kami pura-pura tidak tahu apa kata ilmu kedokteran. Justru ketika suamiku mengambil specialis kandungan, justru kami bergumul soal janin. Menjelang hari melahirkan, aku terbang ke Manado. Aku memilih kotaku sendiri sebagai tempat aku melahirkan. Di Rumah Sakit aku mendapatkan banyak kunjungan dan seluruh dunia menyambut hangat kehadiran bayi cantikku yang utuh dan sehat sempurna. Sekarang dia sudah dewasa dan menjadi dokter gigi. Ohhhh....berbahagialah orang yang bersandar kepada Tuhan.
Yvonne Sumilat
1 Agustus 2017
Iman mereka pemanis imanku
Artikel ini ditulis berdasarkan kesaksian seorang Ibu, 1994
Copas : www.artikel.sabda.org

Sabtu, 11 Mei 2019

TUHAN YESUS : TABIB YANG AJAIB

TUHAN YESUS: Tabib Yang Ajaib

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Oktober 2015

Baca:  Lukas 5:27-32

"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;"  Lukas 5:31

Secara umum kata tabib memiliki arti:  orang yang pekerjaannya mengobati orang sakit secara tradisional, atau dapat pula disebut dokter.  Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang bukan hanya mengampuni dosa-dosa kita, menjamin keselamatan dan menyediakan sorga sebagai tempat yang pasti bagi kita, tetapi Ia adalah Tuhan yang juga peduli dengan keberadaan hidup kita selama hidup di dunia ini.  Terbukti Dia memberikan Roh Kudus sebagai penolong dan penghibur yang menyertai kita sampai akhir zaman.  Ia juga memperkenalkan diri-Nya sebagai gembala dan tabib.

     Semua orang pasti tahu bahwa pekerjaan tabib adalah menyembuhkan orang yang sakit.  Dengan kata lain yang membutuhkan tabib adalah orang-orang yang sedang sakit atau bermasalah.  Sakit berarti keadaannya tidak normal.  Sakit yang dimaksudkan disini bukan semata-mata sakit secara fisik.  Mungkin secara fisik tubuh kita sehat dan kuat, tapi tanpa kita sadari kerohanian kita sedang sakit:  malas berdoa, malas baca Alkitab, malas beribadah, tidak lagi bersemangat dalam melayani Tuhan, persekutuan kita dengan Tuhan sedang sakit;  tubuh jasmani kita tampak sehat tapi keadaan rumah tangga kita sedang sakit, hubungan antara suami-isteri sedang sakit;  keuangan keluarga sedang sakit;  tubuh jasmani kita sehat tapi hati kita sedang sakit karena menyimpan kepahitan, dendam, sulit mengampuni, kebencian dan sebagainya.

     Dalam kondisi  'sakit'  seperti ini jangan menjadi lemah dan putus asa karena ada Pribadi yang siap untuk menolong, menyembuhkan dan memulihkan kita.  Datanglah kepada tabib yang ajaib yaitu Tuhan Yesus.  Jangan sekali-kali mencari pertolongan kepada manusia dan berharap kepadanya, sebab ada tertulis,  "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"  (Yeremia 17:5).  Dalam menghadapi persoalan, tindakan iman sangatlah penting yaitu iman dalam perbuatan.  Sia-sialah kita berkata beriman kepada Tuhan jika kita sendiri tidak mau datang kepada-Nya.  Tindakan imanlah yang membuka kuasa mujizat itu bekerja di saat kita memerlukannya.

Ingin disembuhkan dan dipulihkan?  Datanglah kepada Tuhan Yesus dengan iman, karena Dia adalah tabib yang ajaib dan siap untuk menolong.

Selasa, 07 Mei 2019

TUHAN YESUS TABIB AJAIB - MUJIZAT KESEMBUHAN

Shalom, kesempatan kali ini saya akan membagikan pengalaman hidup saya ketika Tuhan Yesus menyatakan kuasa-Nya yang sangat dahsyat melalui kesembuhan yang saya alami.
Pada bulan Januari tahun 2008, saat itu saya masih berumur 10 tahun. Saat itu beberapa kali saya mengalami sakit luar biasa pada bagian perut saya. Awalnya sakit tersebut hanya mengganggu aktivitas bersekolah, namun lama-kelamaan saya selalu merengek pada mama saya mengenai sakit yang saya alami. Rasa sakit itu saya alami hampir setiap saat, sebelum makan, setelah makan atau bahkan ketika tidak makan.
Awalnya kami sangat mengandalkan dokter, mencoba mendatangi beberapa dokter. Namun tidak ada yang tahu sakit apa yang saya alami. Bahkan dokter pun telah bingung dengan penyakit apa yang saya alami.
Namun Tuhan selalu menyatakan kemuliaanNya melalui orang di sekitar kita. Tuhan selalu menempatkan orang yang tepat untuk berada disekitar kita. Bersyukur sekali mama saya adalah orang percaya yang selalu mengajak saya untuk datang kepada Tuhan ditengah apa yang saya alami saat itu. Walaupun saat itu pengenalan saya akan Yesus sangatlah dangkal, namun mama saya selalu mengajarkan untuk mengandalkan Tuhan dalam kehidupan. Tuhan selalu memberikan kekuatan kepada saya dan mama saya.
Namun saat itu kami memang belum mengandalkan Tuhan sepenuhnya, kami masih mencari dokter yang dapat menyembuhkan penyakit saya. Sampai suatu saat kami pergi menemui seorang dokter spesialis yang cukup dikenal. Memang pada akhirnya penyakit saya diketahui penyebabnya, Di dalam lambung saya ada bakteri Helicobacter Pylori (adalahsuatu bakteri yang menyebabkan peradangan lapisan lambung yang kronis pada manusia yang biasanya hanya dialami oleh orang dewasa.)

Saat itu kami memiliki kendala mengenai biaya pengobatan saya yang sangat mahal. Namun kami tetap percaya dan berserah bahwa Tuhan pasti menyediakan yang kami perlukan dan Tuhan sungguh luar biasa, ketika memerlukan biaya , tiba-tiba saja kami mendapat berkat sehingga sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. Tuhan tetap mengasihi kami apapun keadaannya,
“33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Mat 6:33-34
 Pada suatu saat saya melakukan pemeriksaan dan dokter menjelaskan secara medis kondisi lambung saya, singkatnya perut saya harus dioperasi karena diafragma saya tidak dapat tertutup yang menyebabkan asam lambung saya terus keluar dan menyebabkan sakit perut yang luar biasa. 

Pada suatu ketika mama saya sedang berada di gereja dan melihat sebuah brosur mengenai salah satu kebaktian kebangkitan rohani . Setelah membawa permasalahan ini ke dalam doa , akhirnya ada dorongan dari Roh Kudus agar kami  pergi dan mendatangi kebaktian tersebut. Sebenarnya ada beberapa kendala yang menyebabkan kami hampir tidak jadi pergi, namun Tuhan selalu membukakan jalan. Pada saat itu , ketika orang yang memiliki pergumulan disuruh kedepan untuk didoakan, sebenarnya saya tidak ingin maju, namun mama saya trs mengajak saya untuk maju dan ditumpangi tangan.
“20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,” Efesus 3 :20
Setelah didoakan, mama saya bertanya apa saya masih merasa sakit, setengah bingung saya bilang bahwa perut saya sudah tidak sakit. Pada bulan agustus 2008 akhirnya kami pun makan dan pulang, biasanya saat seperti itu saya akan merasa sakit perut dan tidak dapat tidur, namun saat itu saya langsung tertidur pulas. Dan kami pun yakin dan percaya bahwa saya telah Tuhan sembuhkan.
4 “Tuhan membantu dia di ranjangnya waktu sakit;
di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.” Mazmur 41: 4

Sungguh luar biasanya Tuhan, sakit penyakit saya telah disembuhkan sepenuhnya! Setelah itu saya melakukan pemeriksaan lagi dan hasilnya membuktikan bahwa sudah tidak ada bakteri dalam tubuh saya dan dokter menyatakan bahwa saya sembuh, tanpa menggunakan operasi, dan bahkan obat dari dokter tidak menyembuhkan saya, tapi Tuhan Yesus dengan bilur-bilurnya telah menyembuhkan saya.
Sebelum meminta pertolongan manusia, kita harus mengingat bahwa Tuhan Yesus lebih dahsyat dan mampu dan mau untuk menolong kita. Walaupun tanpa obat dan dokter, yakin dan percaya bahwa bilur-bilur Yesus di atas kayu salib telah menyembuhkan segala sakit penyakit . Terjadilah sesuai dengan iman kita, karena itulah yang Tuhan inginkan
24 “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”  1 Petrus 2 : 24
*Jika saudara membaca ini dan sedang mengalami sakit penyakit, Teruslah menaruh pengharapan kita pada Tuhan Yesus Kristus, dan percaya bahwa Tuhan telah menyembuhkan kita. Pada saat itu saya mengalami sakit selama 8 bulan, memang tidak mudah dan mungkin dapat membuat seseorang patah semangat, namun jadikanlah Tuhan sebagai sumber kekuatan kita, makatidak akan ada suatu permasalahan yang terlalu berat untuk kita jalani. Juga Perkatakanlah ayat Firman Tuhan berikut:

 Ia sendiri telah memikul dosa ku di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya aku, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya aku telah sembuh.”  1 Petrus 2 : 24

Tetapi sesungguhnya, penyakit kulah yang ditanggungnya , dan kesengsaraan  ku yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas   Allah.  "  Yesaya 53 : 4


4 “Tuhan membantu aku di ranjangnya waktu sakit;
di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.” Mazmur 41: 

Jumat, 03 Mei 2019

DENGAN IMAN AKU SEMBUH

Shalom, Saya Ester Nining, saya ingin menyaksikan cinta kasih Tuhan Yesus yang sudah menyembuhkan saya dari sakit. Singkat cerita….pada pertengahan bulan Oktober 2013 Tuhan ijinkan saya terbaring sakit. Awalnya hanya sakit flu biasa, badan lemas dan tidak kuat untuk berjalan. Tidak hanya saya yang sakit tapi Tuhan ijinkan suami saya juga sakit, tidak lama Puji Tuhan suami saya sembuh dan akhirnya saya diantar periksa ke RS. Disitu saya harus cek Darah total dan USG, dan hasil diagnosa bahwa saya positive terkena penyakit Hepatitis A. Saya terkejut dan Dokter menyarankan untuk rawat inap, dan saya menolak. Ketika saya melangkah pulang, saya bertemu dengan saudara seiman dan tetap disarankan untuk rawat inap. Dengan berat hati saya diantar kembali masuk ke ruangan Dokter dan mengambil keputusan untuk rawat inap. Kondisi tubuh saya lemas dan menjadi berwarna kuning. Saya selalu ucapkan” Saya punya IMAN dan saya SEMBUH” Setiap hari selalu menjalani test darah, dan selama 4 hari saya selalu disuntikkan antibiotik dan mengkonsumsi obat yang menurut saya harganya sangat mahal, tensi selalu naik, akhirnya dokter memberikan ijin saya pulang dan harus menjalani rawat jalan , dimana setiap 5 hari sekali saya harus kembali control. Secara manusia saya tidak sanggup mengeluarkan biaya dan sempat ada rasa takut dan kawatir, tetapi luarbiasanya Tuhan selalu menguatkan saya sehingga saya percaya Tuhan selalu sediakan dana dan cukupkan untuk setiap apa yang saya perlukan. Berkat itu selalu mengalir dalam hidup saya. Tuhan tidak tinggal diam, Tuhan kirimkan saudara-saudara seiman datang kerumah untuk mendoakan saya dan memberikan penguatan melalui pujian. Tidak secara kebetulan juga Tuhan kirimkan Dokter yang seiman, setiap saya kontrol beliau selalu mengajak saya berdoa, menguatkan saya dan berkata” Anda jangan mencari saya, tetapi Anda harus mencari Tuhan Yesus, dan bisa bersaksi” Saya intens menjalani kontrol, tapi ternyata tidak sampai disitu saudara, saya benar-benar harus memiliki iman yang sangat besar untuk melewati proses itu. Tiba-tiba dokter menyarankan saya untuk Operasi Laparascopy, karena dinyatakan ada peradangan dan Kristal dalam kantong Empedu saya. Sangat terkejut mendengar hal tersebut. Dan dihadapan Dokter saya langsung katakan “SAYA TOLAK OPERASI DALAM NAMA YESUS SAYA SEMBUH” saya tidak mau operasi. Tetapi dengan berjalannya waktu kurang lebih 2 bulan saya hopeless dan rasanya tidak sanggup lagi untuk hidup karena sempat saya merasa takut kalau-kalau saya tidak bisa melewati ini. Tapi puji Tuhan suami dan keluarga saya selalu memberikan motivasi iman kepada saya, dan saya pun kembali dikuatkan dan iman saya semakin dibangkitkan, kemudian saya katakan dengan iman “Asal ku jamah jubahNya PASTI SAYA SEMBUH” Setiap pukul 9 pagi saya selalu berdoa, memuji Tuhan dan baca Firman Tuhan. Saya selalu Pujikan : “Terima kasih Yesus, Terimakasih Yesus, Ku b’ri Syukur hanya bagiMU, ya Allah ku ya Tuhanku” dan “ Sungguh ku percaya tiada yg mustahil Mujizat masih ada dalam hidupku, Sembuhkan sakitku, pulihkan jiwaku, Mujizat masih ada bagiku” Saya ditegur oleh Tuhan untuk satu hal dalam kondisi seperti apapun kita harus selalu mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan. Saya dirujuk kembali oleh Dokter untuk menjalani pemeriksaan MRI dengan biaya yang mahal, saya hanya bisa berserah kepada Tuhan. Sebelum saya masuk ruang pemeriksaan, saya dan suami berdoa dan memuji Tuhan. Selama diruang pemeriksaan saya katakan “Tuhan, Engkau sendiri yang akan memeriksa saya, Engkau turun tangan, Tuhan sudah angkat dan sembuhkanku, AKU PASTI SEMBUH” Kemudian hasil saya bawa kembali ke Dokter untuk dibacakan, Dan Puji Nama Tuhan, “Sungguh Ajaib!!! Mujizat Tuhan dinyatakan dalam hidup saya ”Dokter katakan bahwa didalam kantong empedu saya TIDAK ADA Kristal!! Saya menangis dan langsung saya katakan HALELUYA!!! Sungguh Tuhan Yesus ajaib!!! Luar Biasa, Firman dan janji-NYA Ya dan Amin!!! Yesus sumber Mujizat, Yesus sumber pertolongan….!!! Ini kesaksian saya, dan saya rindu kesaksian ini bisa menjadi berkat bagi setiap saudara yang mungkin mengalami suatu pergumulan berat, jangan kuatir, dengan Iman percaya kepada Tuhan kita sanggup lewati segala sesuatu. Tuhan Yesus Memberkati.
Ibu Ester Nining


Source https://gbika.org/site/dengan-iman-aku-sembuh/