Jumat, 28 Juni 2019

SETELAH MENIKAH 19 TAHUN, TUHAN MEMBERI KARUNIA ANAK KEMBAR


Sdri. Huazhu pertama kali hamil adalah Ectopic Pregnancy, setelah digugurkan, bekas kehamilan tersebut mengganggu kesehatannya. Setelah percaya Tuhan, anugerah Tuhan sungguh ajaib, membuat kesehatannya beranggsur-anggsur pulih. Pada suatu hari, karena merasa tidak enak badan maka dia pergi memeriksakan diri ke rumah sakit, dokter memberitahu bahwa dia terkena Ovarian Cancer, tidak mungkin lagi bisa hamil di kemudian hari. Namun, Pdt. Xiao memberitahunya “Asalkan kamu terus berdoa dan bersyukur, pastilah akan mendapatkan anak.”


Sdri. Gao Huazhu, lahir tahun 1957, sekarang merupakan jemaat Gereja Zhudong, Taiwan.

Setiap kali melihat anak-anak, hati saya sangat kagum dan berpikir : Mengapa orang lain bisa mendapatkan dengan memohon kepada Tuhan Yesus? Tetapi mengapa permohonan yang sudah berulang kali saya panjatkan malah tidak mendapatkan apa-apa?


Dalam nama Tuhan Yesus bersaksi,
Waktu kecil saya adalah jemaat gereja presbitarian, hingga tahun 1985 saya percaya Gereja Yesus Sejati, dari sejak itu anugerah Tuhan terhadap keluarga saya sangatlah tak terhingga, ingin sekali membalas kasih Tuhan.

Permohonan Anak Kepada Tuhan Tidak Terkabul, Terkena Ectopic Pregnancy
Tahun 1976, saya berumur 20 tahun menikah dengan suami saya, dia adalah seorang guru SD, setelah menikah kami saling mencintai, hidup damai dan harmonis, namun ada satu hal yang sangat disayangkan adalah setelah menikah bertahun-tahun tidak ada satu pun anak. Saya sebagai istri, merasa sangat sedih dan tertekan karena tidak dapat melahirkan, merasa rendah diri dan mengasihani diri sendiri, dalam keadaan psikologis yang negatif seringkali saya berpikir yang tidak-tidak. Setiap kali melihat anak-anak, hati saya sangat kagum dan berpikir : Mengapa orang lain bisa mendapatkan dengan memohon kepada Tuhan Yesus?

Tetapi mengapa permohonan yang sudah berulang kali saya panjatkan malah tidak mendapatkan apa-apa? Meski sudah melakukan pemeriksaan ke rumah sakit besar di Taipei, dan rumah sakit besar di Xinzhu, semua tidak membuahkan hasil. Tahun 1982, pada suatu kali saya hamil, hati sangat bersukacita, setelah pergi memeriksa ke rumah sakit, ternyata adalah ectopic pregnancy, janin yang berumur satu bulan lebih harus segera digugurkan, selain itu, hal ini pun mempengaruhi kesehatan saya, bukan hanya tubuh menjadi lemah, tapi juga hati yang tidak ada damai sejahtera. Setelah melalui diagnosis dokter, tidak mendapatkan hasil penyebab kelemahan tubuh saya, tetapi tubuh saya melemah dan menjadi kurus dari hari ke hari.

Mendengar Kesaksian Kebenaran, Menjadi Percaya dan Dibaptis
Tahun 1985, Sdri. Xu Suhua yang tinggal satu kampung dengan saya adalah jemaat Gereja Yesus Sejati Huayuan, dia memberitakan injil Gereja Yesus Sejati kepada saya, dan juga menceritakan kesaksian anugerah Tuhan menyembuhkan orang sakit. Pada saat itu adalah bulan desember ketika hari natal akan tiba, dia memberitahu bahwa Gereja Yesus Sejati mengikuti ajaran Alkitab, tidak mengurangi, tidak menambahi, dan tidak mengubah firman dalam Alkitab. Di dalam Alkitab tidak dicatat bahwa 25 Desember adalah hari natal, oleh karena itu, Gereja Yesus Sejati tidak memperingati hari tersebut, terlebih lagi Yesus adalah Allah sejati yang kekal, tidak berawal dan tidak berakhir, oleh karena itu kita tidak perlu memperingati kelahirannya, Tuhan hanya memerintahkan kita untuk ingat akan pengorbananNya mati di atas kayu salib. Dia memperlihatkan majalah Holy Spirit kepada saya, dan membawa saya mengikuti kebaktian di gereja. Sejak saat itu, dari rasa ragu akan “mengapa gereja tidak sama” yang saya miliki, hingga dengan bertahap percaya akan “Gereja Yesus Sejati yang memilik Roh Kudus, Kebenaran, dan mujizat Allah”. Setelah mengerti kebenaran sejati, saya menerima baptisan air hidup yang sesuai Alkitab di gereja Wufeng, dengan bersandar darah Yesus yang membersihkan segala dosa, dan menyerahkan sepenuhnya masalah keinginan untuk memiliki anak dan tubuh yang lemah ini kepada Allah, saya juga sering sekali berdoa memohon. Sungguh anugerah Tuhan yang ajaib, tidak terasa, tubuh saya yang lemah menjadi pulih, sehat kembali secara bertahap.

Tuhan Memberi Anak Perempuan, Tidak Dapat Hamil Lagi
Pada tahun 1990, Tuhan memberikanku kesempatan yang baik, melalui perkenalan dari jemaat gereja, saya mengadopsi seorang bayi perempuan, hal ini membuat hati saya mendapatkan penghiburan, puji Tuhan! Ia sekarang sudah berusia 9 tahun, duduk di kelas 2 SD, sangat aktif dan lucu.

Tahun 1993, pada suatu hari, saya merasa tubuh saya tidak nyaman, saya memeriksakan diri ke rumah sakit Rongmin di kota Zhudong, dan hasil dari diagnosa dokter adalah saya terkena Ovarian Cancer, dia menyarankan saya untuk membuangnya dengan operasi. Setalah operasi, saya diberitahu bahwa pasti tidak akan bisa hamil lagi. Setelah mendengar hal itu saya merasa sangat sedih dan tak berdaya, namun yang bisa saya lakukan hanya menerima kenyataan.

Pendeta Memberkati, Ternyata Hamil
Saya ingat pada tahun 1992 Juni, Pdt. Xiao dipindahkan dari gereja Zhudong ke gereja Jilong, saya bertanya padanya “Saya sungguh tidak tahu kapan baru bisa memiliki anak!” Dia dengan lancarnya berkata pada saya,”Asalkan kamu terus berdoa dan bersyukur, pastilah akan mendapatkan anak, jika sudah ada nanti harus telepon beritahu saya ya!” Karena itu saya sepenuh hati berdoa, bersandar pada Tuhan.

Sungguh ajaib anugerah Tuhan, pada tahun 1995 musim gugur, lagi-lagi saya merasa ada yang berbeda dengan tubuh saya, saya mengira adalah efek dari operasi ovarium yang dulu dilakukan, namun setelah diperiksa, ternyata saya hamil, hati saya sangat bersukacita, dan mengadakan pengecekan secara rutin. Hingga pada awal bulan oktober, saya menelepon gereja Jilong untuk mencari Pdt. Xiao, begitu dia menerima telepon dari saya, dia langsung berkata “Pasti sudah akan lahir ya!”. Saya berkata,”Pendeta, coba anda tebak ada berapa?” Pendeta menjawab,”Satu”. Saya berkata,”Bukan, dokter berkata ada dua, dan lima bulan lagi akan lahir. Tetapi karena faktor usia saya, dokter menyarankan untuk Amniocentesis”. Pendeta lalu mendorong saya,”Tidak usah Amniocentesis, asalkan terus berdoa, Tuhan pasti akan lindungi dan memberi damai sejahtera.”

Lancar Melahirkan Jieren dan Jie’en
Bersyukur akan kasih Tuhan, pada tanggal 10 Maret 1996, setelah menikah selama 19 tahun, di usia saya yang ke 40 tahun, dengan lancar melahirkan anak kembar, keduanya adalah anak laki-laki, yang satu bernama Jieren, yang satu bernama Jie’en, hari ini sudah berumur 3 tahun, tumbuh dengan sehat dan lucu, ini semua berkat kasih karunia Allah. Alkitab mengatakan,”Sesungguhnya, anak-anak lelaki (Alkitab bahasa Mandarin : anak-anak lelaki dan perempuan) adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah.” (Mzm 127:3). Semoga Tuhan memberkati, agar kita dapat mengemban tanggung jawab membesarkan mereka, menjadi anak-anak Allah yang baik, menjadi laskar Yesus Kristus.

Anugerah yang Sangat Luar Biasa, Bersyukur Kepada Tuhan
Ishak berdoa kepada Allah karena istri nya mandul, setelah menikah selama 20 tahun, Tuhan memberikan kepada mereka sepasang anak kembar, Esau dan Yakub (Kej 25:21-26). Hana yang pada mulanya mandul, Allah yang sejati memperhatikan dia, sehingga dia bisa melahirkan empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan (1 Sam 1:1-2, 19-20, 2:21). Saya yang pada mulanya tidak memiliki anak, Tuhan memberi kasih karunia, sehingga saya menjadi ibu dari seorang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki. Bersyukur kepada Tuhan Yesus atas anugerahNya. Segala kemuliaan bagi Allah. Amin!

(Kesaksian : Gao Huazhu, Majalah Holly Spirit 1998 Mei)






Senin, 24 Juni 2019

PERAHU EMAS

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Sarah Pai – Cerritos, California, USA

Saya belum pernah berencana untuk keliling dunia, jauh dari keluarga dan teman-teman saya. Akan tetapi melalui pimpinan Tuhan, saya meninggalkan Taiwan dan pindah ke Amerika, yang ternyata membawa saya lebih dekat dengan Tuhan dan iman saya dikuatkan. 

Berpaling dari Tuhan

Setelah lulus dari universitas, saya bekerja selama beberapa tahun sebagai guru TK. Saya suka akan pekerjaan itu, tetapi oleh pengaturan Tuhan, saya dipimpin untuk mengejar gelar Master untuk bidang “Teaching English as a Second Language (TESL)” (Red.: Mengajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua). 

Saya mulai mencari universitas-universitas di Amerika, yang menawarkan program-program seperti itu dan saya bertekad untuk belajar di universitas yang lokasinya berdekatan dengan Gereja Yesus Sejati. Saya menemukan hanya satu universitas yang cocok dengan kriteria saya. Meskipun saya belajar dengan rajin, saya ternyata belum mampu mencapai nilai ujian yang dibutuhkan untuk diterima ke dalam program di universitas yang saya pilih. Pilihan saya hanya masuk universitas Arkansas Tech. 

Pada bulan Agustus 2005, saya sampai di Arkansas. Saya memutuskan untuk mempercayakan segala sesuatu kepada Tuhan dan menikmati hidup saya di Amerika. Saya berpikir ada kemungkinan Tuhan membawa saya ke sana untuk memberitakan Injil karena di sana tidak ada jemaat GYS. Namun, saya ternyata tidak mempunyai keberanian untuk bersaksi kepada teman-teman saya di sana. 

Saya bergaul dengan banyak teman yang juga keturunan Tionghua dan belajar di Arkansas. Mereka sepertinya mengasihi dan menghormati saya. Saat saya diminta untuk menjadi mediator atas perselisihan di antara mereka, saya berdoa memohon pertolongan Tuhan dan secara luar biasa, Dia membuat permasalahan-permasalahan itu selesai dengan lancar. 

Saya senantiasa diajak ke mana pun mereka pergi; mulai dari sekedar duduk-duduk, berbelanja sampai ke bar. Awalnya satu hal yang saya masih pegang adalah hari Sabat, namun perlahan-lahan mata dan hati saya pelan-pelan mulai berpaling dari Tuhan. 

Keadaan seperti ini terus berlanjut sampai akhir semester pertama. Suatu hari, saya berjalan berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah seorang diri. Secara tiba-tiba, orang-orang yang saya anggap teman selama ini, tidak mau berkomunikasi lagi dengan saya. Dalam kesepian, saya mencoba untuk mencari Tuhan dan pada saat itu saya menyadari bahwa ternyata saya sudah begitu jauh dari Tuhan. 

Pengucilan dari teman-teman membuat saya sadar dan bertekad untuk kembali lebih dekat kepada Tuhan. Akan tetapi, oleh karena tidak ada jemaat Gereja Yesus Sejati yang tinggal di sekitar situ, saya mulai mencari orang Kristen dan gereja-gereja lain untuk memenuhi kekosongan jiwa saya. 

Mencoba lebih dekat kepada Tuhan

Pada bulan Desember 2005, saya dikenalkan kepada sebuah keluarga, yang juga beriman untuk memegang Sabat. Setelah meluangkan waktu berbicara dengan mereka, saya mengetahui bahwa iman kepercayaan mereka adalah sama dengan doktrin-doktrin dari Gereja Yesus Sejati sehingga saya mau ikut bergabung dalam sesi Pemahaman Alkitab (PA) dan kebaktian Sabat di gereja mereka. 

Mereka menjalankan Sabat dari Jumat matahari terbenam sampai Sabtu matahari terbenam, tetapi rupanya mereka menjalankan Sabat itu melebihi daripada yang di Gereja Yesus Sejati. Mereka juga memegang semua perayaan yang dituliskan dalam Perjanjian Lama, seperti perayaan Paskah, Roti Tidak Beragi, Pentakosta dan Pondok Daun. 

Mereka percaya bahwa berbicara dalam bahasa lidah merupakan wujud dari kehadiran Roh Kudus, tetapi mereka melakukannya itu hanya di rumah dan bukan di gereja karena beranggapan bahwa itu tidak akan bermanfaat bagi orang lain, jika tidak ada orang yang dapat mengerti apa yang dikatakan. 

Setiap kali saya bertanya, mereka segera menunjukkan ayat-ayat Alkitab yang mendasari kepercayaan mereka. Pada saat itu, saya belum benar-benar mempelajari Alkitab sehingga secara perlahan-lahan saya meyakini beberapa hal yang mereka ajarkan. Saya bahkan mencoba untuk tidak makan makanan yang “najis” (seperti daging babi dan udang) agar menyenangkan Tuhan. 

Meskipun saya tumbuh di Gereja Yesus Sejati dengan sistem pendidikan agama yang ada, dan saya aktif sebagai seorang guru agama sejak saya di SMA, saya mulai mempertanyakan iman saya saat berada di Arkansas itu. Saya mulai mempertanyakan mengapa Gereja Yesus menganggap bahwa dirinya sebagai satu-satunya Gereja yang akan diselamatkan dan tidak mengerti mengapa mereka-mereka yang di luar Gereja Yesus Sejati yang begitu mengasihi Tuhan dan sesama manusia tidak dapat diselamatkan. 

Namun, tidak peduli betapa banyak pertanyaan saya dan tidak peduli betapa saya meragukan doktrin Gereja kita, ada hal yang sungguh-sungguh saya percayai, yaitu bahwa Tuhan adalah Penasihat terhebat yang akan memberikan jawaban kepada saya pada akhirnya. 

Menerima jawaban dari Allah

Saya telah memesan tiket perjalanan pulang ke Taiwan sebelum menyelesaikan kuliah dengan harapan bahwa saya akan mulai bekerja begitu saya pulang. Namun, satu bulan sebelum kuliah berakhir, salah satu teman menyarankan agar saya melamar ke Optional Practical Training. Jika diterima, saya akan dapat bekerja di Amerika selama satu tahun dengan visa pelajar. Setelah mempertimbangkan saran teman saya selama dua minggu, saya memutuskan untuk melamar. Lamaran saya diterima sehingga saya tidak jadi pulang ke Taiwan. 

Ada sebagian orang memberitahu kepada saya bahwa sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan di Arkansas. Akan tetapi, saya mendapatkan pekerjaan mengajar di sekolah swasta sesudah mencarinya hanya pada suatu siang hari dan saya mulai bekerja sekembalinya saya dari liburan. Mendengar hal tersebut, semua teman saya merasa takjub. 

Selama liburan, saya melakukan perjalanan di berbagai negara bagian, akhirnya terbang dari New York ke California Selatan untuk menghadiri National Youth Theological Seminar (atau di Indonesia disebut Kursus Alkitab Lanjutan dan selanjutnya akan ditulis KAL). Meskipun batas waktu pendaftaran kegiatan telah lewat, saya bertekad menghadirinya secara penuh. Untuk itu, saya telah sampai di tempat itu dua minggu sebelum kegiatan itu dimulai. 

Karena saya mempunyai banyak pertanyaan tentang iman dan kepercayan saya, saya berlutut berdoa setiap pagi dan siang hari. Dan karena ada tugas-tugas bagi peserta KAL sebelum kegiatan rohani itu dimulai sehingga saya pun mulai mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh. Saya mempunyai sangat banyak pertanyaan seputar kekristenan yang akhirnya saya buat daftarnya dan sekaligus mencatat ayat-ayat Alkitab yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sesudah saya menceritakan kepada Pendeta yang bertugas pada saat itu bahwa saya mengikuti kebaktian di gereja lain, beliau pun membantu saya menjawab beberapa pertanyaan saya. 

Satu minggu kemudian, seorang saudari seiman mengajak saya untuk tinggal di rumahnya sebelum KAL itu dimulai. Saya coba meluangkan lebih banyak waktu di dalam doa untuk memohon pertolongan Tuhan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Sesudah lama berdoa dan meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab, jawaban-jawaban itu sedikit demi sedikit terungkap setiap harinya dan saya menyadari bahwa sebagian pengajaran dari gereja yang selama ini saya datangi di Arkansas adalah keliru. 

Suatu Rabu malam setelah kebaktian, saya benar-benar merasakan keberadaan Tuhan. Saya merasa damai dan tanpa rasa ragu apapun, saya berdoa dan tidur. Malam itu, saya mendapat suatu mimpi yang begitu jelas. 

Perahu Emas

Teman sekamar saya di Arkansas, Rose dan Emily, sedang berdiri dengan saya di atap sebuah gedung, yang lebih tinggi daripada gedung-gedung di sekitarnya. Saya mendengar mereka berteriak terkejut ketika memandang ke langit. Ketika saya memandang ke atas, saya melihat ada sebuah titik berwarna keemasan. Semula titik itu kecil saja, tetapi makin lama semakin membesar dan menurun. Tiba-tiba, titik berwarna keemasan itu menjadi sebuah perahu emas. Saya tidak mampu memandang langsung pada perahu itu dalam waktu yang lama, sebab sinarnya begitu terang benderang, tetapi saya bisa melihat sebuah salib yang terpahat di sampingnya. 

Ketika perahu emas makin mendekat, tiba-tiba perahu itu menjadi sebuah bangunan gedung berwarna abu-abu dengan salib di atapnya. Tampak 12 jendela dan di setiap jendelanya ada seseorang yang berdiri di situ. Di salah satu jendela di sebelah kiri, ada sebuah baskom perak dan sehelai handuk putih sehingga terlihat seperti asrama. 

Semua orang yang berdiri di jendela-jendela itu tersenyum dan melambai dengan penuh kasih kepada saya sehingga saya juga turut tersenyum dan membalas lambaiannya mereka. Perlahan-lahan, perahu itu bergerak naik dan menjauh ke kiri dan kemudian berhenti bergerak. Meskipun perahunya berada jauh dari kami, kami masih melihatnya tergantung di tengah-tengah langit. 

Lalu, Rose datang dan menyerahkan satu tumpukan kertas dan meminta saya untuk melakukan survei kepada semua orang yang berada di dalam perahu emas. Kami tidak lagi berada di atap, tetapi di dalam sebuah ruangan yang tidak ada atapya. Saya segera menyanggupi permintaan Rose. Tetapi melihat perahu itu terbang makin jauh, saya bingung bagaimana saya dapat menyerahkan kertas-kertas itu ke sana. Saya tidak dapat terbang dan mustahil untuk menyeberangi langit. 

Saya menempelkan kertas pada tepian jendela di sebelah saya, lalu saya berlutut berdoa menghadap ke jendela. Sesudah lima menit berdoa, kertas-kertas itu terangkat ke langit dan terbang dalam bentuk lengkungan yang terus-menerus dari tepian jendela ke perahu emas. 

Beberapa saat kemudian, kertas-kertas itu terbang kembali ke saya membentuk sebuah tumpukan di tempat tidur saya. Sesudah semua kertas kembali, saya memutuskan untuk melihat jawaban-jawabannya. Pada setiap lembaran kertasnya terdapat pertanyaan-pertanyaan dengan garis-garis yang disediakan di bagian bawah dari tiap-tiap pertanyaan untuk jawabannya. 

Survei pertama yang saya lihat dijawab dengan penuh, memakai semua tempat jawaban yang disediakan. Saya berpikir yang ini pasti dijawab oleh salah satu jemaat gereja yang beriman. Namun, di survei yang kedua sepertinya dijawab oleh seseorang yang tidak terlalu peduli dengan pertanyaannya atau tidak mengerti harus menjawab apa, karena kebanyakan dijawab dengan “Ya” atau “Tidak”, dan pertanyaan yang memerlukan penjelasan lebih lanjut tidak dijawab. Selagi saya masih melihat-lihat hasil survei, tiba-tiba mimpi itu berakhir. 

Damai melalui berdoa

Ketika bangun pada keesokan harinya, saya duduk terdiam, hati saya terus bertanya-tanya karena mimpi itu kelihatannya sangat nyata. Saya masih ingat mimpi itu dengan sangat jelas dan saya terkejut terhadap apa yang telah terjadi, tetapi saya tidak mengerti apa maksudnya. Meskipun tidak masuk akal, saya tidak meluangkan waktu untuk menganalis atau merenungkannya. 

Pada hari itu juga, saat saya di mobil bersama beberapa jemaat dalam perjalanan kami untuk mengikuti sesi PA (Pemahaman Alkitab), salah satu saudari menepuk bahu saya sambil berkata, “Lihatlah ke langit.” Kami melihat sebuah awan berbentuk perahu dengan sebuah salib dan seseorang yang sedang duduk di dalam perahu itu. Kami semua terkesima ketika melihatnya, tetapi saya tidak memberitahu mereka tentang mimpi saya. 

Selang beberapa hari, saya lupa akan mimpi perahu emas itu. Hari Minggu itu, kegiatan rohani KAL dimulai. Saya menikmatinya, belajar tentang Alkitab dan menjadi bagian dari persekutuan saudara-saudari seiman yang luar biasa. Kami termotivasi untuk saling mendoakan. Saya merasakan indahnya berada dekat dengan Tuhan dan hati saya makin lama semakin bersukacita. 

Salah satu hal yang saya doakan pada saat itu adalah tentang iman saya – andai saya pindah ke California, akan menjadi lebih mudah untuk menghadiri kebaktian dan memelihara iman saya. Namun seandainya saya pulang ke Arkansas, saya mungkin dapat memberitakan Injil kepada teman-teman sehingga mereka dapat diselamatkan. 

Di dalam doa, saya merasa bahwa pulang ke Arkansas itu merupakan pilihan yang tepat, tetapi saya tahu bahwa nantinya iman saya akan diuji. 

Selama berdoa, saya mencucurkan air mata memohon pertolongan Tuhan untuk menguatkan dan membuat saya tetap setia kepada Dia. Tiba-tiba, segala kesedihan dan kekhawatiran saya lenyap dan saya merasa tenang dan damai sejahtera tatkala mendengar suatu suara yang berkata, “Engkau adalah anak-Ku.” Saya tahu bahwa Tuhan pasti akan memelihara saya di Arkansas. 

Mengerti Mimpiku

Meskipun sebagian pertanyaan saya sudah terjawab selama berada di California Selatan, tapi masih ada sebagian pertanyaan saya yang masih belum terjawab. Namun oleh kasih karunia Tuhan, jawaban-jawaban terbuka untuk saya melalui Alkitab selama mengikuti KAL di situ. 

Akhirnya, saya hanya mempunyai satu pertanyaan tersisa, yaitu “Mengapa Gereja Yesus Sejati adalah satu-satunya gereja yang akan diselamatkan?” Saya berdoa sungguh-sungguh untuk pertanyaan ini dan saya memberitahu Tuhan bahwa saya tidak tahu bagaimana harus melanjutkan iman saya jika saya tidak menerima jawaban dari Dia. 

KAL sebentar lagi berakhir, tetapi pertanyaan saya masih belum terjawab. Ketika berdoa dalam sesi terakhir, saya mencari jawaban terhadap pertanyaan saya lagi. Saat saya berdoa dengan pertanyaan tersebut bermain di benak saya, perahu emas dari mimpi saya terlintas dalam pikiran saya. 

Tiba-tiba, saya mengerti apa maksud dari mimpi itu. Perahu melambangkan Gereja Yesus Sejati dan emas melambangkan kemurnian dan kebenaran Injil yang kita beritakan. Sama seperti bahtera Nuh, hanya orang-orang di dalam perahu itulah yang akan diselamatkan. Jawaban yang terkumpul dari survei tersebut melambangkan bahwa keselamatan tidak bergantung pada pengetahuan, kemampuan ataupun kesetiaan kepada Tuhan dan manusia, tetapi pada iman. Barangsiapa yang percaya dan dibaptis di dalam Gereja Yesus Sejati, dia akan diselamatkan, baik mereka yang menjawab pertanyaan-pertanyaan survei dengan jelas atau tidak. 

Tuhan memberi jawaban atas pertanyaan yang sedang saya doakan. Gereja Yesus Sejati adalah satu-satunya gereja yang akan diselamatkan karena satu-satunya Gereja yang mempunyai kebenaran yang sepenuhnya. 

Rancangan Allah

Sesudah kegiatan KAL berakhir, saya pulang ke Arkansas. Awalnya saya bekerja di sekolah penitipan anak untuk menjaga anak-anak berusia 18-24 bulan. Meskipun saya menikmati pekerjaan itu, saya berhenti sesudah bekerja selama satu bulan karena sekolah itu tidak bisa membantu saya mendapatkan visa kerja. 

Suatu hari, saya menerima panggilan telepon yang meminta saya untuk menjadi guru pengganti. Hal ini sungguh tak terduga karena saya telah melamar pekerjaan itu dua bulan yang lalu dan saya belum pernah diminta untuk menjadi guru pengganti. Setelah kali pertama tersebut, saya kerap dihubungi untuk menjadi guru pengganti dari berbagai tingkat kelas mulai dari TK sampai SMA. 

Pada bulan Oktober, paman saya menghubungi saya menanyakan apakah saya bisa mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Siswa di Dallas pada akhir bulan Desember. Dia mengatakan juga harapannya bahwa sekiranya mungkin saya bisa pindah ke Dallas sehingga saya dapat hidup lebih dekat dengan jemaat-jemaat Gereja Yesus Sejati yang ada di situ. 

Saya tidak suka akan gagasan pindah ke suatu tempat karena merasa bahwa hidup saya sekarang sudah berjalan dengan baik. Suatu kali dalam kesempatan berdoa, saya mengerti bahwa saya perlu taat dan pindah, tetapi di saat yang sama, hati saya merasa sedih, “Bagaimana tentang kemungkinan pemberitaan Injil di Arkansas?” Pertanyaan ini terus berkecamuk di dalam hati sehingga saya tidak rela melepas kesempatan itu. 

Karena belum memutuskan rencana untuk pindah, saya menggunakan waktu yang tersisa di Arkansas untuk membalas kasih Tuhan dan semua orang yang telah berbuat baik kepada saya. Salah satu hal yang saya akan lakukan dalam beberapa bulan ke depan ialah memberi tumpangan kepada siswa-siswa yang tidak mempunyai mobil. Beberapa dari mereka menanyakan tentang bagaimana saya diberkati sehingga mempunyai pekerjaan dan saya bersaksi bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang telah memberi saya segala sesuatunya. 

Melalui kasih Tuhan, empat dari siswa itu akhirnya ikut dalam KKR Siswa di Dallas bersama dengan saya dan salah satu dari mereka menerima Roh Kudus. Dia akhirnya dibaptis setelah menyelesaikan studinya di Amerika. Saya menyadari bahwa Tuhan telah merancangkan sesuatu yang melampaui pengertian saya sehingga saya seharusnya tidak perlu khawatir untuk meninggalkan Arkansas dan peluang untuk memberitakan Injil di sana. 

Melihat kejadian-kejadian yang sudah terjadi, hati saya dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan tentang bagaimana Dia memimpin saya melewati tahun-tahun terakhir di Amerika. Saya teringat bagaimana saya terus-menerus ada di sekitar teman-teman dunia, lalu beribadah di dalam gereja yang saya kira sama dengan Gereja Yesus Sejati, saya sadar bahwa tanpa pertolongan Tuhan, saya mungkin telah jauh dari perahu emas yang berharga, satu-satunya gereja-Nya yang diselamatkan. 

Sama seperti yang Paulus tuliskan dalam kitab 2Korintus 3:5, “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.” 

Kini saya sadar bahwa kuasa dan pimpinan Tuhan lebih besar daripada apa yang dapat kita bayangkan. Dan pekerjaan-Nya diselesaikan setahap demi setahap di dunia ini, bahkan tanpa kita sadari. 

Suatu hari, cerita-cerita tentang diri kita mungkin terlupakan, tetapi kesaksian Tuhan tidak akan pernah berakhir. Saya berharap bahwa kita dapat terus mendoakan pekerjaan kudus di daerah terpencil dan pemberitaan Injill ke manapun kita pergi. Segala kemulian bagi Tuhan kita. 



Kamis, 20 Juni 2019

DISEMBUHKAN LUAR DALAM

Steffi Jeong-Irvine, California, USA

Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi untuk memuliakan nama-Nya. Saya telah menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati (GYS) sejak saya lahir. Saya dibaptis dan dibesarkan di gereja, mengikuti kelas-kelas pendidikan agama, dan bahkan menerima Roh Kudus ketika saya masih muda. Karena masa kecil saya begitu berakar dalam iman, semua orang mengira saya akan tumbuh menjadi remaja teladan Gereja Yesus Sejati, tapi ternyata hal itu tidak menjadi kenyataan
"SAYA TIDAK PERLU ALLAH"

Ketika saya mulai memasuki SMA, perilaku dan kerohanian saya baik-baik saja. Namun, kehidupan rohani saya jatuh seirin gsaya menjalani tahun pertama saya di SMA. Pada tahun pertama saya, saya bertengkar dengan keluarga saya setiap hari, pergi ke tempat mana pun yang saya mau, terus-menerus terus-menerus, dan berteman dengan teman yang tidak baik. Saya mulai membenci gereja dan saudara-saudari di gereja. Saya dikendalikan oleh pikiran dan keinginan saya. Hal tersebut berkembang ke suatu titik di mana saya berpikir untuk berhenti datang gereja karena saya tidak bisa mengerti mengapa saya terikat dengan begitu banyak aturan ketika semua yang saya inginkan adalah kebebasan saya. Saya merasa dikucilkan dan dihakimi di gereja, dan saya merasa bahwa Tuhan tidak mencintaiku. Keangkuhan juga mulai tumbuh dalam hati saya karena segala sesuatu dalam hidup saya begitu baik. Saya masih muda dan berprestasi di sekolah. Tidak ada hal buruk yang pernah terjadi pada saya. Saya merasa kebal terhadap apapun.

Selama masa ini, hubungan antara ibu saya dan saya juga memburuk. Seringkali, saya akan bekerja dan dia terkadang akan memasuki kamar saya untuk bertanya apakah saya telah berdoa. Setiap kali dia masuk, saya marah akan membentak dengan berkata, "Tidak ! Mengapa kau pikir saya berdoa?" Saya akan mengusir ibu saya pergi karena kehadirannya sangat mengganggu saya. Apa yang saya tidak sadari adalah bahwa saya terlihat sangat gembira, namun di dalam hati saya sedang sekarat.


SAYA MENYERAH, DIA TIDAK

Suatu pagi pada bulan Oktober tahun 2012, pada tahun pertama saya di SMA, saya terbangun dengan leher sangat pegal. Ketika saya pergi ke kamar mandi dan melihat ke cermin, saya melihat benjolan seukuran permen karet, mencuat keluar dari tulang selangka (pundak) sebelah kiri. Seiring saya terus mengamati benjolan tersebut, saya tidak pernah berpikir tentang kanker. Keangkuhan dalam hati saya mengatakan bahwa hal itu mustahil-tidak pernah bisa terjadi pada saya. Seminggu berlalu dan benjolan tersebut telah membengkak sebesar ukuran kepalan tangan saya. Seiring minggu demi minggu berlalu, benjolan tampak tumbuh lebih besar.

Setelah menemui serangkaian spesialis dan ahli kanker, saya didiagnosa menderita limfoma stadium II Hodgkin, yang merupakan kanker kelenjar getah bening. Akhirnya, panik mulai merasuk dalam hati saya. Saya pikir siapa pun akan takut setelah didiagnosa menderita kanker. Iman saya lemah, jadi saya tidak menyalahkan Tuhan atau meminta bantuan-Nya. Rasanya sia-sia karena saya berpikir bahwa Tuhan tidak mencintaiku.

Setelah didiagnosa menderita kanker, prosedur standarnya adalah menjalani beberapa pemeriksaan tubuh. Ternyata ada dua tumor di tubuh saya, satu di tulang selangka kiri saya, dan satu lagi, besarnya sekitar 9 cm, di tengah-tengah dada saya, tepat di atas hati saya. Terima kasih Tuhan, meskipun saya punya dua tumor besar, kanker tersebut hanya sampai pada tahap II, yang berarti bahwa kanker tersebut ditemukan di tahap awal dan dapat diobati. Pada kenyataannya, tanpa keluarnya benjolan kecil untuk memberitahu saya bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuh saya, saya tidak akan pernah tahu bahwa ada benjolan yang lebih besar di dada saya.



IMAN TERLAHIR KEMBALI MELALUI PENDERITAAN

Kesaksian ini bukan tentang keajaiban besar, tapi berkat kecil yang saya terima selama pengobatan saya, di mana Allah perlahan-lahan melatih iman dan ketekunan saya. Melalui pelajaran-pelajaran kecil ini, saya belajar bahwa Tuhan memang mencintai saya. Dia ingin saya melalui ujian ini, tetapi Dia tidak pernah memberi saya lebih dari yang bisa saya hadapi.

Kemoterapi saya berlangsung sekitar sekali setiap dua minggu. Meskipun kemoterapi tersebut sulit untuk dihadapi, kemoterapi tersebut lebih ringan dan lebih sedikit frekuensinya daripada pengobatan yang dijalani anak-anak senasib di rumah sakit. Namun, saya masih merasakan rasa sakit yang luar biasa. Saya harus menerima injeksi khusus untuk mengisi sel-sel darah putih saya. Sel darah putih dibuat di sumsum tulang kita, jadi ada malam yang tak terhitung jumlahnya ketika saya tersentak terjaga oleh sensasi terbakar yang menyakitkan di tulang belakang saya. Di satu malam, saya bertanya kepada Tuhan mengapa Dia membawa penderitaan ini kepada saya, dan saya memohon kepada-Nya untuk menghilangkan rasa sakit ini. Ketika saya berbaring di sana, saya mulai merenungkan betapa berdosanya hidup saya.

Saya ingat bahwa, "Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi" (Amsal 3:12). Saat saya berpikir tentang ayat ini, isi doa saya mulai mengalami perubahan. Saya mulai mengerti bahwa Allah sedang menghukum saya, dan saya menerima tindakan-Nya, seperti umat Allah di bagian akhir dari Zakharia 1: 6:

Maka bertobatlah mereka serta berkata: Sebagaimana TUHAN semesta alam bermaksud mengambil tindakan terhadap kita sesuai dengan tingkah laku kita dan perbuatan kita, demikianlah Ia mengambil tindakan terhadap kita!"

Dalam doa saya, saya mulai mengakui kesalahan saya. Saya mengakui bahwa hal ini pantas saya dapatkan dan saya menerimanya. Ketika saya kembali ke Tuhan, Dia menunjukkan kesetiaan-Nya dan mengurangi penderitaan saya. Terima kasih Tuhan, pengobatan saya berjalan sekitar enam bulan total, waktu yang relatif singkat dalam hal pengobatan kanker.

Tuhan juga melindungi saya secara psikologis. Sepanjang seluruh diagnosis dan pengobatan saya, saya hanya sekali menangis. Setelah itu, saya tidak pernah merasa takut atau tertekan, karena saya tahu bahwa Tuhan telah menempatkan saya ke tangan manusia yang handal seiring melindungi saya dengan tangan-Nya sendiri. Saya memiliki dukungan yang besar dari orang tua saya, teman-teman, keluarga, dan gereja. Saya merasa damai dan sukacita tercurah pada diri saya, yang hanya dimungkinkan melalui pengharapan kepada Allah.


BERKAT DI GEREJA DAN DI RUMAH

Berkat lainnya adalah saya bisa pergi ke gereja sepanjang saya sakit, meskipun saya dirawat di rumah. Kanker mempengaruhi sistem kekebalan tubuh saya, jadi saya harus belajar di rumah. Saya tidak diijinkan untuk pergi keluar sering-sering, karena bahkan flu biasa bisa membunuh saya. Tapi ketika hari Sabtu tiba, saya akan berpakaian dan pergi ke gereja untuk menjaga hari Sabat. Saya bisa terus melakukan pekerjaan kudus dan bersekutu dengan saudara-saudara saya. Saya seharusnya memakai masker pelindung ketika saya pergi keluar sehingga saya tidak akan sakit, tapi saya tidak memakai masker di gereja. Saya tidak takut karena saya merasa bahwa Tuhan melindungi saya, Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada saya.

Karena itu, gereja adalah satu-satunya sumber pengaruh selama periode enam bulan tersebut. Ini adalah berkat lainnya, karena saya telah dihapus dari kegelapan tempat saya tinggal dulunya. Saya tidak lagi dikelilingi oleh teman-teman yang buruk atau pengaruh negatif di sekolah. Allah menyembuhkan saya secara rohani, dan pada saat yang sama, Dia mengisi saya dengan kasih dan rahmat-Nya melalui anggota gereja dan keluarga saya. Saya tidak lagi merasa perlu untuk berdosa atau untuk memenuhi kesenangan saya sendiri, karena saya sudah merasa sangat tercukupi.

Berkat terbesar adalah bahwa kanker mengubah hubungan saya dengan keluarga saya. Setelah enam bulan menjadi sakit dan menghabiskan setiap hari dengan orang tua saya, saya mengalami cinta mereka lebih dari yang bisa dibayangkan. Mereka mendukung saya selama kemoterapi saya, karena mereka menemani saya setiap sesi, membuat saya merasa nyaman, membersihkan saya setelah hari yang panjang, dan membantu saya pulih. Mereka mencurahkan seluruh hidup mereka untuk merawat saya dan memastikan saya baik-baik saja. Saya benar-benar berterima kasih kepada Tuhan untuk memberikan saya orang tua yang menakjubkan.

Saya merenungkan mengapa dahulu saya melawan keluarga saya dan menyadari bahwa alasan saya sungguh egois dan sia-sia. Saya memutuskan untuk berhenti berkelahi dengan keluarga saya karena mereka tidak layak menerima kata-kata kasar saya setelah menunjukkan begitu banyak cinta dan perawatan. Terima kasih Tuhan, sejak saat itu, kami tidak mengalami perkelahian serius, dan saya bahkan memberitahu orang tua saya bahwa saya mencintai mereka sepanjang waktu. Saya juga tidak tega membohongi mereka lagi, karena saya sekarang mengerti betapa mereka mencintai saya. Dengan cara ini, kanker adalah panggilan Tuhan untuk membangunkan saya.

Setelah semuanya selesai, ibu saya mengatakan kepada saya bahwa sebelum diagnosis kanker, ketika dia sedang memasak atau membersihkan rumah, dia akan mendengar saya berdoa dalam bahasa lidah, tetapi ketika ia datang untuk memeriksa saya, saya hanya terlihat sedang duduk bekerja. Dalam kebingungannya, ia bertanya apakah saya sedang berdoa, hanya untuk menerima jawaban kasar. Dia mengatakan kepada saya bahwa ini adalah cara Tuhan mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada saya dan bahwa ia harus berdoa untuk saya. Tuhan sedang mempersiapkan seluruh keluarga saya untuk sidang ini.


KEMOTERAPI SPIRITUAL

Seiring kemoterapi bekerja untuk mengecilkan sel-sel ganas dan tumor, saya juga merasa keinginan jahat, kemarahan, dan kelemahan saya berkurang. Itu merupakan kemoterapi spiritual. Saya merasa fakta tersebut sangat menarik bahwa saya pun kanker besar tepat di depan hatiku, seolah-olah itu adalah manifestasi fisik dari semua kejahatan yang meliputi hati saya. Hal ini telah mengakibatkan begitu banyak kemarahan dan kekosongan dalam diri saya, mencegah saya melihat Allah dan orang lain dalam pandangan yang baik. Selama perawatan, meskipun saya merasa seperti tubuh luar saya sedang sekarat, batin saya perlahan-lahan dibawa kembali ke kehidupan, yang diperkuat dan dipulihkan di jalan yang benar.

Terima kasih Tuhan, saya dinyatakan bebas kanker pada bulan April 2013. Sejak itu, saya tidak berhenti mencoba untuk meningkatkan iman saya. Meskipun saya menderita, saya keluar tanpa luka apapun. Bahkan sekarang, pengalaman saya memiliki kanker terasa seperti mimpi yang hampir saya tidak ingat. Pengingat bahwa saya pernah sakit adalah bekas luka di tubuh saya. Tuhan benar-benar melindungi saya dan menunjukkan belas kasihan dan kasih-Nya. Dia menempatkan saya di api untuk memperbaiki saya sehingga saya akan menjadi bejana yang lebih lengkap. Dia menunjukkan kebenaranNya. Bahkan, Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Bapa surgawi saya. Dia membawa saya kembali dan menyelamatkan saya dari keadaan tersesat. Sekarang saya merasa bahwa saya harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah untuk membayar kasih-Nya.

Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?... Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

(Ibr 12: 7, 10, 11)

Melalui pengalaman ini, Tuhan mengatakan kepada saya bahwa saya adalah anak-Nya dan bahwa Dia mengasihi saya. Saya mempelajari bahwa ketika kita menderita, mungkin karena kita tidak taat. Ketika Tuhan menyesah kita, hal itu adalah untuk menunjukkan kepada kita kasih dan rahmat-Nya sehingga kita akan kembali kepada-Nya. Saya sangat bersyukur bahwa Dia menyelamatkan hidup saya. Semoga semua kemuliaan dan puji bagi nama-Nya.


Kotak Teks:

Perspektif seorang Pengamat

oleh Raymond Chou

Bagi saudari Steffi, penyakitnya adalah seperti mimpi. Dia mungkin tidak ingat detailnya, tapi saya ingat. Sebagai seorang pengkhotbah setempat, saya berada di bawah begitu banyak tekanan karena dewan gereja ingin saya menghiburnya. Tapi apa yang bisa Anda katakan kepada seorang gadis muda, cerah, dan cantik enam belas tahun yang baru saja didiagnosis dengan stadium kanker II?

Setelah banyak berdoa dan berjalan mondar-mandir, saya mengangkat telepon untuk meneleponnya. "Hi Pastor!" Katanya. Dia terdengar bahagia dan saya bisa mendengar suara video game di telepon-mungkin dia sedang bermain dengan kakaknya. Saya bertanya apakah dia baik-baik saja. "Saya baik-baik, saya baik-baik saja, tapi saya sibuk sekarang. Saya dapat berbicara dengan Anda nanti. "Dia terdengar baik-baik saja, jadi saya bertanya-tanya jika ada sesuatu yang salah. Tetapi di gereja pada hari Sabtu, saya duduk di samping ibu Steffi selama waktu makan siang untuk mengetahui lebih lanjut. Sebelum saya bisa mengatakan apa-apa, dia mulai menangis. Itu tidak mudah, terutama bagi orang tuanya.

Sebagai pengamat, kita melihat Allah menunjukkan bimbingan-Nya yang ajaib, membantu benih kecil untuk tumbuh, dan tumbuh kuat. Suatu hari, saya bertanya Steffi bagaimana perkembangan kemoterapi tersebut. Dia berkata, "Terima kasih Tuhan kemoterapi tersebut berjalan baik. Pada hari Kamis, saya melakukan kemoterapi. Pada hari Jumat, saya muntah sepanjang hari. Tapi puji Tuhan, pada hari Sabtu, saya bisa pergi ke gereja! "Saya tidak tahu bagaimana menanggapi jawaban positif seperti itu. Sungguh menakjubkan bagaimana seseorang bisa begitu nyaman menghadapi situasi seperti yang mengerikan dan drastis dalam hidupnya. Dia bahkan memimpin sesi penyembahan kidung disaat ia tidak memiliki rambut. Melihat hal ini, saya akan berpikir bahwa hal itu hanya dimungkinkan melalui kekuatan dari Tuhan-tidak ada alasan lain.

Ada saat-saat ketika Steffi berada dalam bahaya besar kehilangan hidupnya, ketika jumlah sel darahnya turun begitu rendah sehingga ia bisa meninggal kapan saja. Tapi seluruh cobaan tidak hanya sangat meneguhkan keluarganya, tetapi juga gereja lokal. Banyak anggota mulai merenungkan makna hidup dan rajin berdoa untuknya. Kami benar-benar berterima kasih kepada Tuhan bahwa kita mampu untuk melihat seperti perubahan besar dalam dirinya. Hal ini adalah keajaiban yang telah menginspirasi seluruh gereja. Semoga Tuhan terus membantu dan membimbing saudari Steffi.





Minggu, 16 Juni 2019

TUHAN YANG TELAH MEMIMPIN SEPANJANG HIDUPKU


Ren-De Huang-Tainan, Taiwan 

Saya lahir pada tahun 1946 dan dibaptis ke dalam Gereja Yesus Sejati (TJC) setelah saya lahir. Mengenang kembali hidup saya, saya merasa bahwa Allah telah mengawasi saya sepanjang hidup saya, dan saya telah menerima berkat-berkat yang melimpah dari-Nya.

Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku. Kepada-Mu aku diserahkan sejak aku lahir, sejak dalam kandungan ibuku Engkaulah Allahku (Mazmur 22:9-10)

Terima kasih Tuhan, saya merasa diberkati karena dilahirkan dalam sebuah keluarga Gereja Yesus Sejati. Allah memilih saya dari sejak saya dilahirkan. Oleh karena itu, saya tidak harus melalui proses dalam mencari kebenaran. Sebaliknya, Allah sudah ada di sana untuk memimpin saya sepanjang hidup saya. Ini adalah bentuk khusus dari kasih Allah kepada saya.


PERPINDAHAN GEREJA KAKEK SAYA

Pada tahun 1926, kakek dan ayah saya berganti aliran ke Gereja Yesus Sejati dari gereja Presbyterian , sebuah gereja tempat kakek saya pernah menjadi penatua. Sekelompok anggota Gereja Yesus Sejati dari Xiamen telah datang ke Taiwan untuk mengabarkan Injil. Pada tahun itu, tiga gereja didirikan di Taiwan.

Selama waktu itu, Penatua Barnabas Chang memberitakan Injil di kota kakek saya dan injil diterima dengan baik di kota tersebut. Saat itulah kakek saya mulai mempelajari dan mendiskusikan kebenaran dengan pengurus Gereja Yesus Sejati. Dia percaya bahwa orang yang memiliki iman di dalam Yesus Kristus harus memiliki Roh Kudus. Ketika para pengurus Gereja Yesus Sejati bertanya pada kakek saya apakah ia telah menerima Roh Kudus, dia menjawab, "Kami juga memiliki Roh Kudus."

Kemudian mereka bertanya, "Dimana Roh Kudus itu?"

Kakek saya menjawab, "Kami menerima Roh Kudus ketika kita percaya."

Para pengurus meminta kakek saya untuk membuka kitab Kisah Para Rasul 19: 2, 6 dan 7. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan mengakui Kristus dengan bibirnya tidak secara otomatis menerima Roh Kudus. Sebaliknya, ketika orang percaya menerima Roh Kudus, ia akan berbicara dalam bahasa roh.

Setelah penjelasan ini, kakek saya dan beberapa orang lainnya berdoa untuk mendapat Roh Kudus sesuai dengan cara yang diajarkan oleh Gereja Yesus Sejati. Selanjutnya, beberapa di antara mereka menerima Roh Kudus. Setelah merasakan kehadiran Roh Kudus, mereka percaya bahwa Yesus Kristus benar-benar ada di dalam Gereja Yesus Sejati. Setelah kejadian itu, beberapa keluarga yang berjumlah sekitar tiga puluh orang meninggalkan gereja Presbyterian dan beralih ke Gereja Yesus Sejati.

ALLAH YANG MAHAKUASA

Sekitar lima puluh tahun yang lalu, salah satu keponakan ayah saya mengalami sakit demam yang berlangsung beberapa hari. Suhu tubuhnya mencapai empat puluh derajat Celcius. Dokter di dekat rumah memeriksa anak itu beberapa kali. Dia mengatakan kepada ayah saya, "Kita berteman baik, jadi aku akan jujur. Saya telah mencoba setiap obat yang tersedia, termasuk antibiotik. Hasil prognosa(prediksi) tidak baik. "Ini adalah hal yang mengkhawatirkan bagi ayah saya.

Tapi kemudian, ia teringat seorang diakenis dengan nama Mary Yang. Tuhan telah memberkati dia dengan bakat khusus. Jika ada seseorang yang sakit atau kerasukan setan, mereka akan sembuh setelah dia mendoakan mereka. Lalu ayah saya naik sepeda motor dan pergi ke Kaoshiung yang berjarak tujuh puluh kilometer dari kota kami untuk menemui diakenis Mary. Pada saat itu, semua jalan tak beraspal dan penuh batu kerikil, dan sepeda motor tersebut terbuat dari potongan-potongan besi. Perjalanan menuju Kaoshiung memakan waktu lebih dari dua jam. Ketika ayah saya akhirnya tiba, ia menjelaskan semuanya kepada Diakenis Yang. Namun, dia sedang sibuk dengan pekerjaan gereja pada waktu itu, dan mungkin secara fisik tidak dapat bertahan dua jam naik sepeda motor dalam perjalanan kembali ke Matou. Jadi ia meminta ayah saya untuk duduk dan membaca Yohanes 4: 46-53.

Kutipan ini mencatat bagaimana seorang bangsawan dari Kapernaum datang ke Kana untuk meminta Yesus untuk menyembuhkan anaknya. Tapi bukannya pergi ke Kapernaum dengan dia, Yesus mengatakan kepada orang itu, "Pergilah; anakmu hidup "(Yoh 4:50). Pada saat itu, anak laki-laki itu berada di Kapernaum yang berada sekitar dua puluh lima kilometer jauhnya. Dalam perjalanan pulang, bangsawan bertemu dengan hamba-Nya, yang melaporkan kepadanya bahwa anaknya telah sembuh. Setelah bertanya lebih lanjut, ia mendapatkan informasi bahwa demam telah meninggalkan anaknya pada waktu yang tepat saat Yesus berkata, "Anakmu hidup."

Setelah ayah saya telah membaca ayat ini, Diakenis Yang berkata, "Mari kita berdoa bersama-sama. Setelah kita berdoa, keponakan Anda akan sembuh. "Jadi ayah saya berdoa dengan Diakenis Yang di gereja Kaoshiung dan kemudian kembali ke Matou, beristirahat di gereja Tainan dalam perjalanan. Setelah ia sampai di rumah, kakak ipar saya bertemu dia di ambang pintu. Dia berkata, "Ayah, demamnya sudah turun." Selain itu, ayah saya mendapatkan informasi bahwa demam telah turun sekitar jam 11:00, ketika ia telah berdoa dengan Diakenis Yang di Kaoshiung.

Allah yang kita sembah adalah Allah yang Mahakuasa, melampaui ruang dan waktu. Meskipun Diakenis Yang dan ayah saya berdoa dari tempat yang berada tujuh puluh kilometer jauhnya, kuasa Allah masih datang pada anak yang sakit itu. Aku bersyukur untuk kesaksian dari ayah saya ini, karena kesaksian tersebut tidak hanya memperkuat iman dari generasi-generasi orang percaya dalam keluarga kami, tetapi juga membantu kita untuk memahami Tuhan yang kita sembah-Dia benar-benar hidup, mahakuasa dan hadir di manapun.


BIMBINGAN ALLAH DALAM HIDUPKU
Karir

Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?? (Pengkhotbah 3:22)

Melalui bimbingan Tuhan dalam hidup saya, saya dapat menemukan pekerjaan yang benar-benar saya cintai. Saya selalu ingin menjadi seorang guru sejak saya masih muda. Ketika saya berusia lima belas tahun, saya mengunjungi kota Taipei dengan beberapa orang lainnya. Saat kami berjalan keliling kota, kami melewati universitas terbaik di Taiwan. Saya berpikir betapa indahnya jika suatu hari saya bisa masuk di universitas ini. Saya bahkan meminta seseorang untuk mengambil gambar saya di depan universitas. Tuhan memenuhi keinginan saya empat belas tahun kemudian. Pada usia dua puluh sembilan, saya terdaftar di universitas ini untuk belajar mengenai pendidikan.

Semenjak saya bekerja di bidang pendidikan, saya menjadi sangat terlibat dalam hal pendidikan dan konseling agama di gereja. Oleh karena itu, Allah mengizinkan saya untuk melayani-Nya sesuai dengan bakat dan minat saya. Dia juga memungkinkan saya untuk bekerja dengan gembira sebagai guru selama tiga puluh tahun, yang saya percaya adalah rahmat khusus dari Allah.

Keluarga
Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.. (3 Yoh 1: 4)

Saya percaya bahwa orang-orang yang memiliki keluarga akan fokus pada anak-anak mereka, dan akan khawatir tentang masa depan anak-anak mereka. Tapi Alkitab memberitahu kita bahwa kita tidak perlu khawatir, selama anak-anak kita berjalan dalam kebenaran.

Saya dan istri saya membawa tiga anak kami ke kebaktian gereja sejak mereka masih muda, bahkan di malam hari. Menghadiri gereja menjadi bagian dari kehidupan mereka dan mereka tetap menghadiri kebaktian secara teratur sejak mereka mulai bersekolah, bahkan ketika tugas sekolah mereka meningkat dan hal menjadi lebih menantang. Jika mereka memiliki ujian hari berikutnya, mereka akan menghadiri kebaktian malam dan belajar setelah itu.

Sebagai orang tua, hal ini membuat saya merasa lebih nyaman, karena saya tahu bahwa kebiasaan menghadiri kebaktian gereja secara teratur akan membantu anak-anak saya berpegang teguh pada dasar iman, sehingga mereka tidak akan mudah tersesat. Terima kasih Tuhan, saat ini semua anak-anak saya telah lulus dari universitas dan memiliki karir dan keluarga mereka sendiri. Yang paling penting, mereka tetap di gereja dan mampu berpartisipasi dalam pelayanan gereja, yang memberi saya penghiburan. Nyatanya, warisan terbaik yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita adalah warisan iman.

Kesehatan
Pada tahun 2002, saya pensiun dini. Pada bulan September tahun itu, saya menghadiri pesta pernikahan yang diresmikan oleh Penatua Huang dari Tainan. Dia tidak melihat saya selama enam bulan, dan mengatakan bahwa saya menjadi sangat kurus. Meskipun saya mengaitkan hal ini dengan latihan dan makan makanan yang sehat sejak pensiun, ia masih khawatir dan menyarankan agar saya mendapatkan check-up. Beberapa minggu kemudian, beberapa siswa program pelatihan teologis yang mengunjungi saya juga melihat penurunan berat badan saya dan menyarankan hal yang sama. Meskipun saya merasa baik-baik saja, saya berpikir saya akan menuruti nasihat mereka.

Saya menunggu satu bulan sebelum saya bertemu dokter di rumah sakit, karena saya bisa mendapatkan diskon dua puluh persen pada bulan saat saya berulang tahun. Sehari setelah pemeriksaan fisik, saya kembali untuk mengambil hasil pemeriksaan. Dokter mengatakan penurunan berat badan tampaknya disebabkan oleh tumor. Empat hari kemudian, dia menelepon untuk mengkonfirmasi bahwa saya di diagnosis terkena kanker usus besar. Lutut saya menjadi lemas ketika saya mendengar ini. Karena kita hidup di sebelah gereja, saya dan istri saya segera pergi ke sana untuk berdoa.

Kemudian, saya menjalani operasi untuk mengeluarkan lima belas sentimeter dari usus saya, diikuti oleh enam bulan kemoterapi. Meskipun saya sudah keluar dari rumah sakit, para dokter terus memantau kondisi saya selama tujuh sampai delapan tahun setelah itu.

Mengingat kembali, jika Tuhan tidak mengirimkan berbagai orang untuk merekomendasikan agar saya menemui dokter, saya tidak akan melakukannya. Tapi Tuhan mengingatkan saya melalui saudara-saudara ini, dan mendorong saya untuk mengambil tindakan. Meskipun diagnosis tersebut buruk, tumor itu ditemukan lebih awal, sehingga pengobatan kanker tersebut memiliki kesempatan lebih besar untuk sukses. Allah memang Allah yang terus-menerus mengawasi dan mengurus kami.


YESUS KAMI LEBIH MAHAKUASA

Pada bulan April 2009, selama hari terakhir pertemuan rohani kita di gereja rumah saya, saya mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. Karena kondisi saya sudah kritis, hati saya berhenti dan saya terhubung ke pompa mekanik selama empat hari. Prosedur ini efektif, tapi memiliki efek samping. Saya mengalami pembengkakan di bagian wajah yang disebabkan oleh penumpukan cairan di jaringan wajah. Kemudian, ada masalah dengan ginjal dan sirkulasi darah saya. Pembuluh darah saya pecah, dan lokasi perdarahan tidak ditemukan sampai tujuh atau delapan hari kemudian.

Saya harus tinggal di Unit Perawatan Intensif selama delapan puluh hari, saya mengalami koma selama empat puluh empat hari dan terhubung ke ventilator.

Dr. Wang menginformasikan istri dan anak-anak saya bahwa hasil prognosis tidak baik. Karena ia telah melihat istri dan anak-anak berdoa, dia meminta mereka jika agama kita mengizinkan resusitasi, dan apakah saya ingin kembali ke rumah sebelum mengambil napas terakhir saya. Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar seperti hukuman mati, jadi istri saya menjadi sangat sedih. Dia mengatakan, "Bulan lalu, ketika suami saya tidak sadarkan diri, Yesus menyelamatkannya. Sekarang, kita hanya bisa meminta Anda menggunakan pertimbangan profesional Anda untuk membantu kami, sementara kami berdoa di rumah. "

Kemudian, istri saya menelepon dua saudara dan meminta agar mereka memberitahu semua orang untuk berdoa bagi saya. Dokter telah mengumumkan bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, sehingga satu-satunya cara sekarang adalah untuk mengandalkan Tuhan.

Selama beberapa hari berikutnya, istri saya melihat bahwa ketergantungan saya pada ventilator secara bertahap menurun. Para dokter mengatakan bahwa jika saya pulih, saya tetap akan melekat pada ventilator selama sisa hidup saya. Namun, setelah seminggu, saya bisa bernapas sendiri. Istri saya sangat gembira. Dokter tetap berhati-hati, tapi setelah lima hari pengamatan saya tetap stabil, jadi saya pindah ke kamar kardiologi biasa.

Seorang ahli jantung menjenguk, Dr. Yeh, datang menemui saya di bangsal kardiologi. Hal pertama yang dia katakan adalah, "Paman Huang, Dr Wang mengatakan bahwa Yesus Anda pasti lebih kuat dari dia." Ketika kami mendengar ini, kami sangat terhibur. Dr Wang adalah pekerja profesional yang berpengalaman di rumah sakit besar. Tapi karena pemulihan saya menantang prognosis, ia hanya bisa menyatakan bahwa ini adalah mukjizat dari Tuhan.

Disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur.. (Mzm 107: 20)

Ketika kita sakit, merupakan hal wajar untuk mencari perawatan medis terbaik, tetapi kita harus memiliki pola pikir yang benar. Ini adalah Allah kita yang tak terbatas yang memungkinkan kita untuk hidup dan menyembuhkan penyakit kita. Dokter dapat membantu proses tersebut, tapi kuasa Allah tak terbatas dan selalu menyertai. Jadi ketika kita melihat dokter, kita harus ingat untuk terus mengandalkan Tuhan melalui doa.

Sejak pemulihan saya, saya terus bersyukur kepada Tuhan atas anugerahNya yang telah diberikan kepada saya. Semoga kesaksian ini mendorong semua orang untuk memiliki kepercayaan lebih pada Tuhan Yesus. Semoga semua kemuliaan dan kehormatan adalah untuk Bapa surgawi kita. Haleluya! Amin.

Copas : http://members.tjc.org



Rabu, 12 Juni 2019

TERSESAT DA;LAM IDEALISME DUNIAWI


Elizabeth Yao-Nanjing, Cina

Saya dibaptis ke dalam Gereja Yesus Sejati (TJC) di Queens, New York, pada tanggal 23 Agustus, 2003 ketika saya berumur tujuh belas tahun. Selama tujuh tahun berikutnya, saya hanya dua kali menghadiri Seminar Teologi Pemuda Nasional dan pergi ke kebaktian Sabat secara tidak teratur. Ada banyak alasan penyebab hal ini, beberapa di antaranya, tapi tidak semuanya berada di luar kendali saya.

Orang tua saya dibaptis di sekitar waktu yang sama dengan saya dan, sebagai orang percaya baru, kami tidak membuat keputusan berdasarkan kepentingan rohani. Saya memilih untuk pergi ke universitas yang tidak ada gereja disekitarnya, dan kepercayaan saya akhirnya menurun semata-mata menjadi hikmat dunia. Pada saat itu, saya tidak tahu bahwa saya berada didalam dunia, ketika saya seharusnya berada di dalam Kristus. Bahkan, saya tidak tahu apa-apa tentang apa artinya hidup untuk Tuhan, dan betapa menakjubkannya hidup seperti itu.

Doa saya mencerminkan kerohanian saya yang lemah. Saya berdoa hanya ketika saya membutuhkan sesuatu dari Tuhan. Ketika Dia menjawab, saya akan sangat berterima kasih, tetapi kemudian akan melupakan semua hal yang telah saya janjikan kepada-Nya dalam doa. Dan ketika hidup menjadi hampa dan tak tertahankan, karena saya keras kepala mengikuti kemauan saya sendiri, saya akan sekali lagi berlutut dan tanpa malu-malu mengatakan: "Tuhan, saya tidak tahan lagi. Saya menyerah! "Lalu, doa yang tidak dijawab akan mendorong saya untuk mencari hiburan di tempat lain.
Ada saat-saat ketika saya mencoba untuk kembali menjalin hubungan dengan Tuhan dan meningkatkan iman saya, tapi saya merasakan jurang yang besar antara saya dan anggota gereja lainnya. Saya merasa bahwa entah bagaimana mereka dapat mencapai "standar" yang berarti Tuhan akan selalu ada untuk mereka; Saya bukan bagian dari dunia itu, dan saya ragu jika Tuhan bahkan masih cinta kepada saya.

KEKACAUAN MENTAL DAN FISIK

Pada bulan Juni 2011, saya berada di New York untuk mempersiapkan diri menghadapi kelas musim panas. Pada saat itu, hidup saya tanpa Allah dan saya berada di tingkat kerohanian yang terendah. Kehidupan rohani saya tidak sehat meskipun kehidupan sehari-hari saya berjalan seperti biasa. Kemudian, suatu hari, tiba-tiba, bagian bawah punggung saya mulai sakit. Rasa sakit meningkat setiap hari dan akan menyerang saraf kaki setiap kali saya bergerak. Saya khawatir bahwa saya mungkin akan kehilangan kemampuan untuk berjalan. Dua minggu kemudian, saya menelepon orang tua saya di Cina. Karena saya tidak memiliki asuransi kesehatan dan tidak ada yang merawat saya, saya harus meninggalkan semuanya dan pulang.

Kembali di Nanjing, Cina, saya mengunjungi berbagai dokter setidaknya di tiga rumah sakit yang berbeda. Selama tiga bulan pertama, saya menjalani pemeriksaan medis, kesalahan diagnosa, suntikan antibiotik, dan mengalami banyak malam menyakitkan dan tanpa bisa tidur. Rasa sakit membuat saya tidak bisa bergerak. Dan kondisi saya tetap tidak dapat didiagnosis.

Seiring waktu, minggu-minggu pun berubah menjadi bulan-bulan, saya ditelan oleh kekacauan hati dan seringkali menangis pada hal-hal sepele. Meskipun awalnya khawatir, orang tua saya bahkan mulai berpikir bahwa rasa sakit dan segala sesuatunya yang lain adalah murni imajinasi saya. Bagi mereka, saya hanya bermalas-malasan di rumah dan bermuram durja.

Saya berbalik kepada Allah, tapi dalam doa, saya berjuang dalam kemarahan, keraguan, sedih, dan pertanyaan tanpa tujuan. Saya menyesal atas masa lalu saya, dan memohon Tuhan untuk penyembuhan spiritual dan fisik. Tapi saya ingin Tuhan untuk memberikan saya ini segera; Saya tidak ingin berusaha terlalu banyak. Tidak mengherankan, doa-doa saya diabaikan olehNya.

INTROSPEKSI DIRI DALAM DOA

Dengan tidak adanya pilihan lain yang tersisa, saya terus berdoa. Saya ingat saat saya menerima Roh Kudus, dan saat-saat iman saya paling kuat. Saya memeriksa hati saya dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri saya menuju pertobatan sejati. Saya mengakui kesalahan dan kekurangan saya di masa lalu, dan menerima konsekuensi dari tindakan saya. Saya menyadari pengalaman ini tidak hanya pengingat yang tegas dari Allah untuk mengubah cara hidup saya yang dahulu, tetapi juga tanda dari seberapa jauh diri saya dari-Nya. Saya merasa dorongan untuk membuang jauh-jauh segala dosa saya, seperti sampah yang akan dibuang. Oleh karena itu, bukan hanya menuntut penyembuhan, doa-doa saya menjadi: "Bantu saya Tuhan untuk belajar dari masa lalu saya, dan ajarkan saya untuk berubah. Saya mengerti ada alasan untuk kesakitan yang saya alami. Tolong beri saya kekuatan dalam hati agar saya tahu bagaimana cara saya berdoa. Jagalah saya satu hari lagi."

Setiap saya berdoa, saya merasa menjadi baru. Menghadiri gereja di Nanjing TJC lebih teratur juga membantu untuk menguatkan firman Allah dalam hati saya. Seiring kekuatan Tuhan mengalir ke dalam diri saya, saya merasa diperkuat dan lebih bersedia untuk menyerahkan kehendak saya kepada-Nya. Seperti desakan Allah:
            “Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!"(Yeh 18: 31-32)

PERKEMBANGAN

Semakin saya membiarkan Roh Allah untuk menguatkan saya, semakin saya bisa mengosongkan diri saya dari kesalahan masa lalu. Semakin sedikit saya berfokus pada diri sendiri dan kemauan diri, saya merasa lebih dekat kepada-Nya. Aku tahu aku memerlukan kekuatan-Nya untuk mengatasi rasa takut saya pada pikiran bahwa punggung saya mungkin tidak akan pernah sembuh.

Proses introspeksi diri memaksa saya untuk mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan penting seperti apakah aku akan tergoda untuk meninggalkan Tuhan jika Dia tidak menyembuhkan saya. Saya merefleksikan diri pada kehidupan saya sejak saya dibaptis. Saya berpikir tentang hal-hal yang saya cintai dalam hidup, percaya bahwa hal ini akan mendatangkan kebahagiaan untuk saya, dan saya menyadari bahwa saya telah mencari di tempat yang salah. Pada saat itu, semua kilau dan glamor yang Setan gunakan untuk menghiasi kesenangan dari dunia ini tiba-tiba berubah menjadi debu. Seiring Roh Allah menyinarkan kebenaran-Nya ke dalam hati saya, saya tahu bahwa saya membutuhkan Tuhan dalam hidup saya apa pun yang terjadi.

Memahami hal ini menyebabkan perkembangan baru dalam cara saya berdoa dan memandang hidup saya. Kekuatan yang membantu saya untuk melakukan hal ini tidak berasal dari dunia atau diri saya sendiri. Tuhan memberikan saya petunjuk langkah-demi-langkah apa artinya untuk mengandalkan-Nya. Roh Allah diam di dalam diri kita, memperkuat batin kita, adalah kuat tak terukur (Ef 3:16). Kuasa dan kebenaran Tuhan bekerja di dalam kita melalui firman-Nya. Semakin kita mendekat pada Roh, semakin kita bisa menyingkirkan beban, kelemahan, dan ketakutan kita.

Seiring Roh Allah menggerakkan saya, saya belajar untuk menjadi lebih berpusat pada Tuhan dan lebih sedikit berpusat pada diri saya sendiri dalam doa. Saya mencari kehendak-Nya. Saya menjadi lebih sabar dan tenang, karakter yang tidak akan dianggap orang banyak ada didalam saya. Masih ada hari-hari ketika saya merasa putus asa-ketika saya akan berlutut untuk berdoa berkali-kali, tapi tidak bisa menemukan posisi yang tidak terasa sakit. Hal ini membuat saya menyadari kelemahan manusia dengan cara yang belum pernah dikenal sebelumnya, dan mengingatkan saya tentang menempatkan kehendak Tuhan diatas kehendak saya.

MEMAHAMI KEHENDAK-NYA

Suatu hari, seorang anggota keluarga menyarankan agar saya melakukan scan pada tulang. Sampai saat itu, hanya organ internal saya yang telah diperiksa. Sebuah MRI scan pada seluruh badan saya, mengungkapkan sendi yang telah mengalami keretakan di tulang belakang saya. Ini merupakan berita buruk, tapi hati saya sudah tak tahan untuk memuji Tuhan. Ketika saya tiba di rumah, saya berlutut di hadapan Tuhan dan mencurahkan rasa terima kasih. Tiga bulan saya habiskan menunggu dan belajar untuk mempercayai-Nya telah ditegaskan oleh tanda ini bahwa Dia telah mendengar saya; Dia membimbing saya untuk hubungan yang lebih dalam dengan-Nya, untuk memahami kehendak-Nya, dan takut akan kekuatan maha agung-Nya.

Mengenali masalah punggung saya memungkinkan saya untuk mulai mencari pengobatan. Meskipun saya masih bersemangat untuk kembali ke kehidupan normal, saya tidak cemas lagi. Allah telah mengajarkan saya melalui tiga bulan tersebut tentang bagaimana untuk percaya pada kekuatan dan cinta-Nya, bagaimana berdoa dengan sabar dan menunggu kehendak-Nya untuk terjadi, dan juga, bagaimana caranya bersyukur. Bahkan, penyembuhan yang terjadi pada batin saya, perubahan dalam hati saya, mulai sebelum tanda-tanda harapan yang jelas. Seperti Paulus berkata:
            Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.. (2 Kor 4: 7-9)

HIDUP DARI KEKUATAN DAN PETUNJUK ALLAH

Pada pertengahan September tahun 2011, saya mulai mencoba akupunktur, yang harus dilakukan selama satu bulan atau lebih agar efektif. Saya heran bagaimana saya bertahan menghadapi hari-hari tersebut. Akupunktur menumpulkan rasa sakit, yang memungkinkan saya untuk berjalan  dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari, hal ini penting karena saya mulai bekerja sebagai guru. Namun, rasa sakit, meskipun intensitasnya sudah berkurang, selalu setia mengikuti. Selain itu, tiga kali seminggu, ayah saya akan mengantar saya ke ahli akupunktur, yang akan menusuk jarum ke dalam tubuh saya dan mengalirkan arus listrik melalui mereka. Saya sangat takut akan sesi ini. Hanya dengan bergantung pada Tuhan membuat saya dapat melalui masa-masa ini.
Pada akhir Desember, orang tua saya membawa saya ke dokter di Changzhou, tiga jam dari kota asal saya. Dokter ini dikenal telah "menyembuhkan" banyak pasien lainnya yang menderita masalah turun bero dengan metode khusus yang melibatkan menyuntikkan nutrisi ke tulang belakang, pijat medis, pengobatan chiropractic manual, serta latihan fisik setiap hari.

Pada awalnya, rasa sakit meningkat karena pengobatan mengaktifkan saraf di punggung saya yang telah mati rasa dengan akupunktur. Tapi setelah perawatan selesai, dokter mengucapkan bahwa punggung saya sembuh. Ia menyebutkan syarat bahwa setidaknya butuh waktu satu sampai tiga tahun untuk sepenuhnya sembuh dan menyarankan saya untuk tidak melakukan perjalanan lewat udara selama setidaknya satu tahun.
Aku benar-benar bersyukur dan mengarahkan sisa kekhawatiran saya menjadi doa. Meskipun penyembuhan akan memakan waktu dan nyeri pada punggung saya tetap ada, saya telah belajar bagaimana untuk mempercayai bahwa kehendak Allah akan nyata sesuai dengan waktu-Nya.

KETERGANTUNGAN PENUH

Setelah tugas mengajar saya telah selesai, saya mulai berencana untuk kembali ke perguruan tinggi di New York pada musim semi. Tingkat kepercayaan saya pada Tuhan menuntun saya untuk melakukan sesuatu yang dianggap gila oleh kebanyakan orang. Kuliah semesteran akan dimulai pada akhir Januari 2012 dan saya tidak ingin tinggal diam di Nanjing. Saya merasa bahwa jika Tuhan bersama saya, tidak ada alasan untuk menggantungkan hidup saya karena rasa takut atau logika manusia. Namun, saya tidak ingin mencobai Allah dengan menentang nasihat medis jadi saya banyak berdoa tentang hal ini. Sesuatu di dalam hati saya mengatakan kepada saya untuk mengabaikan dokter dan mempercayai Tuhan.

Lalu saya mengambil penerbangan ke New York. Saya telah diperingatkan bahwa perubahan tekanan selama lepas landas bisa menyebabkan sendi saya kembali retak. Punggung saya sakit selama penerbangan dan tetap sakit bahkan setelah mengistirahatkan pungung saya malamnya di New York. Jadi saya berdoa dan mengatakan Allah: "Aku sangat mengasihi Engkau. Saya telah belajar banyak dalam bulan-bulan belakangan ini dan saya sangat bersyukur atas bimbingan, kasih karunia, dan kekuatan dariMu. Engkau telah membimbing saya dan menjaga saya sampai hari ini. Inilah saya. Saya sepenuhnya percaya pada Mu. Saya sendiri di sini dan akan tinggal sendiri untuk sisa masa tahun saya sekolah – Saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan dalam penerbangan pulang, atau jika sendi saya akan retak kembali. Saya hanya memiliki Engkau, dan Engkau berkuasa melampaui batas. Aku tahu Engkau bisa menyembuhkan saya jika Engkau mau, tapi kalau itu bukan kehendakMu, saya akan menerimanya. Karena tidak peduli apapun yang terjadi, saya akan mengikuti Engkausepanjang hari-hari hidup saya, selama Engkau bersama dengan saya. "
Hari Sabtu keesokan harinya, saya berdoa sebelum saya pergi untuk menghadiri kebaktian sabat  di rumah doa Brooklyn. Saya tidak menjelaskan mengapa tapi saya punya firasat bahwa Allah akan menyembuhkan saya segera setelah saya sampai di sana. Selama 20 menit naik taksi, punggung saya sakit, tapi saya merasakan kedamaian yang tak terlukiskan. Dan saat saya melangkah ke dalam tempat ibadah, rasa sakit menghilang. Saya berlutut, dan pada titik ini, saya tahu bagaimana berdoa. Saya menangis. Saya bersyukur kepada Tuhan. Itu adalah doa penuh kebahagiaan dari seseorang yang telah disembuhkan secara fisik. Tapi, lebih dari itu, doa di mana saya merasa jiwa saya telah benar-benar dihidupkan kembali oleh kasih karunia Allah yang mengagumkan.

KEMBALI KEDALAM PELUKAN BAPA

Selama empat tahun terakhir saya telah menyaksikan bagaimana Allah menggunakan masa-masa dalam hidup saya tersebut sebagai awal dari perjalanan rohani saya untuk kembali kepada-Nya. Masa-masa tersebut dipenuhi oleh perjuangan, tapi setiap kali saya putus asa atau ragu, setiap kali saya tersesat tanpa ada jalan untuk kembali, kekuatan dan ketekunan yang telah saya peroleh selama enam bulan tersebut telah menjadi sangat penting dalam membantu saya menahan gelombang hidup saya yang lama. Dia selalu membawa saya kembali ke pelukan-Nya.

Pada tahun 2011 yang lalu, saya adalah anak buta yang hilang yang berharap untuk merangkak kembali ke rumah Bapa-nya. Tuhan tidak berdiri saja tapi hadir di sana untuk saya disetiap langkah sepanjang jalan berbatu. Dia menunjukkan bahwa:
            Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Kor 4: 17-18)
Saya sekarang memiliki harapan yang melampaui penderitaan duniawi, dan saya tahu pasti bahwa Dia telah menyaksikan, dan akan selalu mengawasi saya. Amin.

Copas : http://members.tjc.org