Senin, 24 Juni 2019

PERAHU EMAS

Gereja Yesus Sejati Indonesia

Sarah Pai – Cerritos, California, USA

Saya belum pernah berencana untuk keliling dunia, jauh dari keluarga dan teman-teman saya. Akan tetapi melalui pimpinan Tuhan, saya meninggalkan Taiwan dan pindah ke Amerika, yang ternyata membawa saya lebih dekat dengan Tuhan dan iman saya dikuatkan. 

Berpaling dari Tuhan

Setelah lulus dari universitas, saya bekerja selama beberapa tahun sebagai guru TK. Saya suka akan pekerjaan itu, tetapi oleh pengaturan Tuhan, saya dipimpin untuk mengejar gelar Master untuk bidang “Teaching English as a Second Language (TESL)” (Red.: Mengajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua). 

Saya mulai mencari universitas-universitas di Amerika, yang menawarkan program-program seperti itu dan saya bertekad untuk belajar di universitas yang lokasinya berdekatan dengan Gereja Yesus Sejati. Saya menemukan hanya satu universitas yang cocok dengan kriteria saya. Meskipun saya belajar dengan rajin, saya ternyata belum mampu mencapai nilai ujian yang dibutuhkan untuk diterima ke dalam program di universitas yang saya pilih. Pilihan saya hanya masuk universitas Arkansas Tech. 

Pada bulan Agustus 2005, saya sampai di Arkansas. Saya memutuskan untuk mempercayakan segala sesuatu kepada Tuhan dan menikmati hidup saya di Amerika. Saya berpikir ada kemungkinan Tuhan membawa saya ke sana untuk memberitakan Injil karena di sana tidak ada jemaat GYS. Namun, saya ternyata tidak mempunyai keberanian untuk bersaksi kepada teman-teman saya di sana. 

Saya bergaul dengan banyak teman yang juga keturunan Tionghua dan belajar di Arkansas. Mereka sepertinya mengasihi dan menghormati saya. Saat saya diminta untuk menjadi mediator atas perselisihan di antara mereka, saya berdoa memohon pertolongan Tuhan dan secara luar biasa, Dia membuat permasalahan-permasalahan itu selesai dengan lancar. 

Saya senantiasa diajak ke mana pun mereka pergi; mulai dari sekedar duduk-duduk, berbelanja sampai ke bar. Awalnya satu hal yang saya masih pegang adalah hari Sabat, namun perlahan-lahan mata dan hati saya pelan-pelan mulai berpaling dari Tuhan. 

Keadaan seperti ini terus berlanjut sampai akhir semester pertama. Suatu hari, saya berjalan berangkat ke sekolah dan pulang dari sekolah seorang diri. Secara tiba-tiba, orang-orang yang saya anggap teman selama ini, tidak mau berkomunikasi lagi dengan saya. Dalam kesepian, saya mencoba untuk mencari Tuhan dan pada saat itu saya menyadari bahwa ternyata saya sudah begitu jauh dari Tuhan. 

Pengucilan dari teman-teman membuat saya sadar dan bertekad untuk kembali lebih dekat kepada Tuhan. Akan tetapi, oleh karena tidak ada jemaat Gereja Yesus Sejati yang tinggal di sekitar situ, saya mulai mencari orang Kristen dan gereja-gereja lain untuk memenuhi kekosongan jiwa saya. 

Mencoba lebih dekat kepada Tuhan

Pada bulan Desember 2005, saya dikenalkan kepada sebuah keluarga, yang juga beriman untuk memegang Sabat. Setelah meluangkan waktu berbicara dengan mereka, saya mengetahui bahwa iman kepercayaan mereka adalah sama dengan doktrin-doktrin dari Gereja Yesus Sejati sehingga saya mau ikut bergabung dalam sesi Pemahaman Alkitab (PA) dan kebaktian Sabat di gereja mereka. 

Mereka menjalankan Sabat dari Jumat matahari terbenam sampai Sabtu matahari terbenam, tetapi rupanya mereka menjalankan Sabat itu melebihi daripada yang di Gereja Yesus Sejati. Mereka juga memegang semua perayaan yang dituliskan dalam Perjanjian Lama, seperti perayaan Paskah, Roti Tidak Beragi, Pentakosta dan Pondok Daun. 

Mereka percaya bahwa berbicara dalam bahasa lidah merupakan wujud dari kehadiran Roh Kudus, tetapi mereka melakukannya itu hanya di rumah dan bukan di gereja karena beranggapan bahwa itu tidak akan bermanfaat bagi orang lain, jika tidak ada orang yang dapat mengerti apa yang dikatakan. 

Setiap kali saya bertanya, mereka segera menunjukkan ayat-ayat Alkitab yang mendasari kepercayaan mereka. Pada saat itu, saya belum benar-benar mempelajari Alkitab sehingga secara perlahan-lahan saya meyakini beberapa hal yang mereka ajarkan. Saya bahkan mencoba untuk tidak makan makanan yang “najis” (seperti daging babi dan udang) agar menyenangkan Tuhan. 

Meskipun saya tumbuh di Gereja Yesus Sejati dengan sistem pendidikan agama yang ada, dan saya aktif sebagai seorang guru agama sejak saya di SMA, saya mulai mempertanyakan iman saya saat berada di Arkansas itu. Saya mulai mempertanyakan mengapa Gereja Yesus menganggap bahwa dirinya sebagai satu-satunya Gereja yang akan diselamatkan dan tidak mengerti mengapa mereka-mereka yang di luar Gereja Yesus Sejati yang begitu mengasihi Tuhan dan sesama manusia tidak dapat diselamatkan. 

Namun, tidak peduli betapa banyak pertanyaan saya dan tidak peduli betapa saya meragukan doktrin Gereja kita, ada hal yang sungguh-sungguh saya percayai, yaitu bahwa Tuhan adalah Penasihat terhebat yang akan memberikan jawaban kepada saya pada akhirnya. 

Menerima jawaban dari Allah

Saya telah memesan tiket perjalanan pulang ke Taiwan sebelum menyelesaikan kuliah dengan harapan bahwa saya akan mulai bekerja begitu saya pulang. Namun, satu bulan sebelum kuliah berakhir, salah satu teman menyarankan agar saya melamar ke Optional Practical Training. Jika diterima, saya akan dapat bekerja di Amerika selama satu tahun dengan visa pelajar. Setelah mempertimbangkan saran teman saya selama dua minggu, saya memutuskan untuk melamar. Lamaran saya diterima sehingga saya tidak jadi pulang ke Taiwan. 

Ada sebagian orang memberitahu kepada saya bahwa sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan di Arkansas. Akan tetapi, saya mendapatkan pekerjaan mengajar di sekolah swasta sesudah mencarinya hanya pada suatu siang hari dan saya mulai bekerja sekembalinya saya dari liburan. Mendengar hal tersebut, semua teman saya merasa takjub. 

Selama liburan, saya melakukan perjalanan di berbagai negara bagian, akhirnya terbang dari New York ke California Selatan untuk menghadiri National Youth Theological Seminar (atau di Indonesia disebut Kursus Alkitab Lanjutan dan selanjutnya akan ditulis KAL). Meskipun batas waktu pendaftaran kegiatan telah lewat, saya bertekad menghadirinya secara penuh. Untuk itu, saya telah sampai di tempat itu dua minggu sebelum kegiatan itu dimulai. 

Karena saya mempunyai banyak pertanyaan tentang iman dan kepercayan saya, saya berlutut berdoa setiap pagi dan siang hari. Dan karena ada tugas-tugas bagi peserta KAL sebelum kegiatan rohani itu dimulai sehingga saya pun mulai mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh. Saya mempunyai sangat banyak pertanyaan seputar kekristenan yang akhirnya saya buat daftarnya dan sekaligus mencatat ayat-ayat Alkitab yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sesudah saya menceritakan kepada Pendeta yang bertugas pada saat itu bahwa saya mengikuti kebaktian di gereja lain, beliau pun membantu saya menjawab beberapa pertanyaan saya. 

Satu minggu kemudian, seorang saudari seiman mengajak saya untuk tinggal di rumahnya sebelum KAL itu dimulai. Saya coba meluangkan lebih banyak waktu di dalam doa untuk memohon pertolongan Tuhan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Sesudah lama berdoa dan meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab, jawaban-jawaban itu sedikit demi sedikit terungkap setiap harinya dan saya menyadari bahwa sebagian pengajaran dari gereja yang selama ini saya datangi di Arkansas adalah keliru. 

Suatu Rabu malam setelah kebaktian, saya benar-benar merasakan keberadaan Tuhan. Saya merasa damai dan tanpa rasa ragu apapun, saya berdoa dan tidur. Malam itu, saya mendapat suatu mimpi yang begitu jelas. 

Perahu Emas

Teman sekamar saya di Arkansas, Rose dan Emily, sedang berdiri dengan saya di atap sebuah gedung, yang lebih tinggi daripada gedung-gedung di sekitarnya. Saya mendengar mereka berteriak terkejut ketika memandang ke langit. Ketika saya memandang ke atas, saya melihat ada sebuah titik berwarna keemasan. Semula titik itu kecil saja, tetapi makin lama semakin membesar dan menurun. Tiba-tiba, titik berwarna keemasan itu menjadi sebuah perahu emas. Saya tidak mampu memandang langsung pada perahu itu dalam waktu yang lama, sebab sinarnya begitu terang benderang, tetapi saya bisa melihat sebuah salib yang terpahat di sampingnya. 

Ketika perahu emas makin mendekat, tiba-tiba perahu itu menjadi sebuah bangunan gedung berwarna abu-abu dengan salib di atapnya. Tampak 12 jendela dan di setiap jendelanya ada seseorang yang berdiri di situ. Di salah satu jendela di sebelah kiri, ada sebuah baskom perak dan sehelai handuk putih sehingga terlihat seperti asrama. 

Semua orang yang berdiri di jendela-jendela itu tersenyum dan melambai dengan penuh kasih kepada saya sehingga saya juga turut tersenyum dan membalas lambaiannya mereka. Perlahan-lahan, perahu itu bergerak naik dan menjauh ke kiri dan kemudian berhenti bergerak. Meskipun perahunya berada jauh dari kami, kami masih melihatnya tergantung di tengah-tengah langit. 

Lalu, Rose datang dan menyerahkan satu tumpukan kertas dan meminta saya untuk melakukan survei kepada semua orang yang berada di dalam perahu emas. Kami tidak lagi berada di atap, tetapi di dalam sebuah ruangan yang tidak ada atapya. Saya segera menyanggupi permintaan Rose. Tetapi melihat perahu itu terbang makin jauh, saya bingung bagaimana saya dapat menyerahkan kertas-kertas itu ke sana. Saya tidak dapat terbang dan mustahil untuk menyeberangi langit. 

Saya menempelkan kertas pada tepian jendela di sebelah saya, lalu saya berlutut berdoa menghadap ke jendela. Sesudah lima menit berdoa, kertas-kertas itu terangkat ke langit dan terbang dalam bentuk lengkungan yang terus-menerus dari tepian jendela ke perahu emas. 

Beberapa saat kemudian, kertas-kertas itu terbang kembali ke saya membentuk sebuah tumpukan di tempat tidur saya. Sesudah semua kertas kembali, saya memutuskan untuk melihat jawaban-jawabannya. Pada setiap lembaran kertasnya terdapat pertanyaan-pertanyaan dengan garis-garis yang disediakan di bagian bawah dari tiap-tiap pertanyaan untuk jawabannya. 

Survei pertama yang saya lihat dijawab dengan penuh, memakai semua tempat jawaban yang disediakan. Saya berpikir yang ini pasti dijawab oleh salah satu jemaat gereja yang beriman. Namun, di survei yang kedua sepertinya dijawab oleh seseorang yang tidak terlalu peduli dengan pertanyaannya atau tidak mengerti harus menjawab apa, karena kebanyakan dijawab dengan “Ya” atau “Tidak”, dan pertanyaan yang memerlukan penjelasan lebih lanjut tidak dijawab. Selagi saya masih melihat-lihat hasil survei, tiba-tiba mimpi itu berakhir. 

Damai melalui berdoa

Ketika bangun pada keesokan harinya, saya duduk terdiam, hati saya terus bertanya-tanya karena mimpi itu kelihatannya sangat nyata. Saya masih ingat mimpi itu dengan sangat jelas dan saya terkejut terhadap apa yang telah terjadi, tetapi saya tidak mengerti apa maksudnya. Meskipun tidak masuk akal, saya tidak meluangkan waktu untuk menganalis atau merenungkannya. 

Pada hari itu juga, saat saya di mobil bersama beberapa jemaat dalam perjalanan kami untuk mengikuti sesi PA (Pemahaman Alkitab), salah satu saudari menepuk bahu saya sambil berkata, “Lihatlah ke langit.” Kami melihat sebuah awan berbentuk perahu dengan sebuah salib dan seseorang yang sedang duduk di dalam perahu itu. Kami semua terkesima ketika melihatnya, tetapi saya tidak memberitahu mereka tentang mimpi saya. 

Selang beberapa hari, saya lupa akan mimpi perahu emas itu. Hari Minggu itu, kegiatan rohani KAL dimulai. Saya menikmatinya, belajar tentang Alkitab dan menjadi bagian dari persekutuan saudara-saudari seiman yang luar biasa. Kami termotivasi untuk saling mendoakan. Saya merasakan indahnya berada dekat dengan Tuhan dan hati saya makin lama semakin bersukacita. 

Salah satu hal yang saya doakan pada saat itu adalah tentang iman saya – andai saya pindah ke California, akan menjadi lebih mudah untuk menghadiri kebaktian dan memelihara iman saya. Namun seandainya saya pulang ke Arkansas, saya mungkin dapat memberitakan Injil kepada teman-teman sehingga mereka dapat diselamatkan. 

Di dalam doa, saya merasa bahwa pulang ke Arkansas itu merupakan pilihan yang tepat, tetapi saya tahu bahwa nantinya iman saya akan diuji. 

Selama berdoa, saya mencucurkan air mata memohon pertolongan Tuhan untuk menguatkan dan membuat saya tetap setia kepada Dia. Tiba-tiba, segala kesedihan dan kekhawatiran saya lenyap dan saya merasa tenang dan damai sejahtera tatkala mendengar suatu suara yang berkata, “Engkau adalah anak-Ku.” Saya tahu bahwa Tuhan pasti akan memelihara saya di Arkansas. 

Mengerti Mimpiku

Meskipun sebagian pertanyaan saya sudah terjawab selama berada di California Selatan, tapi masih ada sebagian pertanyaan saya yang masih belum terjawab. Namun oleh kasih karunia Tuhan, jawaban-jawaban terbuka untuk saya melalui Alkitab selama mengikuti KAL di situ. 

Akhirnya, saya hanya mempunyai satu pertanyaan tersisa, yaitu “Mengapa Gereja Yesus Sejati adalah satu-satunya gereja yang akan diselamatkan?” Saya berdoa sungguh-sungguh untuk pertanyaan ini dan saya memberitahu Tuhan bahwa saya tidak tahu bagaimana harus melanjutkan iman saya jika saya tidak menerima jawaban dari Dia. 

KAL sebentar lagi berakhir, tetapi pertanyaan saya masih belum terjawab. Ketika berdoa dalam sesi terakhir, saya mencari jawaban terhadap pertanyaan saya lagi. Saat saya berdoa dengan pertanyaan tersebut bermain di benak saya, perahu emas dari mimpi saya terlintas dalam pikiran saya. 

Tiba-tiba, saya mengerti apa maksud dari mimpi itu. Perahu melambangkan Gereja Yesus Sejati dan emas melambangkan kemurnian dan kebenaran Injil yang kita beritakan. Sama seperti bahtera Nuh, hanya orang-orang di dalam perahu itulah yang akan diselamatkan. Jawaban yang terkumpul dari survei tersebut melambangkan bahwa keselamatan tidak bergantung pada pengetahuan, kemampuan ataupun kesetiaan kepada Tuhan dan manusia, tetapi pada iman. Barangsiapa yang percaya dan dibaptis di dalam Gereja Yesus Sejati, dia akan diselamatkan, baik mereka yang menjawab pertanyaan-pertanyaan survei dengan jelas atau tidak. 

Tuhan memberi jawaban atas pertanyaan yang sedang saya doakan. Gereja Yesus Sejati adalah satu-satunya gereja yang akan diselamatkan karena satu-satunya Gereja yang mempunyai kebenaran yang sepenuhnya. 

Rancangan Allah

Sesudah kegiatan KAL berakhir, saya pulang ke Arkansas. Awalnya saya bekerja di sekolah penitipan anak untuk menjaga anak-anak berusia 18-24 bulan. Meskipun saya menikmati pekerjaan itu, saya berhenti sesudah bekerja selama satu bulan karena sekolah itu tidak bisa membantu saya mendapatkan visa kerja. 

Suatu hari, saya menerima panggilan telepon yang meminta saya untuk menjadi guru pengganti. Hal ini sungguh tak terduga karena saya telah melamar pekerjaan itu dua bulan yang lalu dan saya belum pernah diminta untuk menjadi guru pengganti. Setelah kali pertama tersebut, saya kerap dihubungi untuk menjadi guru pengganti dari berbagai tingkat kelas mulai dari TK sampai SMA. 

Pada bulan Oktober, paman saya menghubungi saya menanyakan apakah saya bisa mengikuti Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Siswa di Dallas pada akhir bulan Desember. Dia mengatakan juga harapannya bahwa sekiranya mungkin saya bisa pindah ke Dallas sehingga saya dapat hidup lebih dekat dengan jemaat-jemaat Gereja Yesus Sejati yang ada di situ. 

Saya tidak suka akan gagasan pindah ke suatu tempat karena merasa bahwa hidup saya sekarang sudah berjalan dengan baik. Suatu kali dalam kesempatan berdoa, saya mengerti bahwa saya perlu taat dan pindah, tetapi di saat yang sama, hati saya merasa sedih, “Bagaimana tentang kemungkinan pemberitaan Injil di Arkansas?” Pertanyaan ini terus berkecamuk di dalam hati sehingga saya tidak rela melepas kesempatan itu. 

Karena belum memutuskan rencana untuk pindah, saya menggunakan waktu yang tersisa di Arkansas untuk membalas kasih Tuhan dan semua orang yang telah berbuat baik kepada saya. Salah satu hal yang saya akan lakukan dalam beberapa bulan ke depan ialah memberi tumpangan kepada siswa-siswa yang tidak mempunyai mobil. Beberapa dari mereka menanyakan tentang bagaimana saya diberkati sehingga mempunyai pekerjaan dan saya bersaksi bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang telah memberi saya segala sesuatunya. 

Melalui kasih Tuhan, empat dari siswa itu akhirnya ikut dalam KKR Siswa di Dallas bersama dengan saya dan salah satu dari mereka menerima Roh Kudus. Dia akhirnya dibaptis setelah menyelesaikan studinya di Amerika. Saya menyadari bahwa Tuhan telah merancangkan sesuatu yang melampaui pengertian saya sehingga saya seharusnya tidak perlu khawatir untuk meninggalkan Arkansas dan peluang untuk memberitakan Injil di sana. 

Melihat kejadian-kejadian yang sudah terjadi, hati saya dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan tentang bagaimana Dia memimpin saya melewati tahun-tahun terakhir di Amerika. Saya teringat bagaimana saya terus-menerus ada di sekitar teman-teman dunia, lalu beribadah di dalam gereja yang saya kira sama dengan Gereja Yesus Sejati, saya sadar bahwa tanpa pertolongan Tuhan, saya mungkin telah jauh dari perahu emas yang berharga, satu-satunya gereja-Nya yang diselamatkan. 

Sama seperti yang Paulus tuliskan dalam kitab 2Korintus 3:5, “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.” 

Kini saya sadar bahwa kuasa dan pimpinan Tuhan lebih besar daripada apa yang dapat kita bayangkan. Dan pekerjaan-Nya diselesaikan setahap demi setahap di dunia ini, bahkan tanpa kita sadari. 

Suatu hari, cerita-cerita tentang diri kita mungkin terlupakan, tetapi kesaksian Tuhan tidak akan pernah berakhir. Saya berharap bahwa kita dapat terus mendoakan pekerjaan kudus di daerah terpencil dan pemberitaan Injill ke manapun kita pergi. Segala kemulian bagi Tuhan kita. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar