Rabu, 31 Juli 2019

AJAIB, 12 PASANG IGA PATAH DAPAT BERSATU KEMBALI !


Kesaksian, kecelakaan yang terjadi didepan mataku dan yang mengalaminya  adalah suamiku. Mobil yang menabrak suamiku dan dia terlindas oleh ban mobil membuat dia patah tulang rusuk. Kejadian ini membuat saya belajar beriman, untuk kesembuhan suamiku. Dari kesaksian ini kita dapat belajar bahwa, ada hal-hal yang Tuhan ijinkan itu terjadi, untuk membuat orang-orang yang kita sayangi itu bertobat. Kadang-kadang hal itu sangat menakutkan bagi kita karena itu antara hidup dan mati. Jawabannya apakah kita mau bersesarah dan percaya atau tidak.

Berjalan dengan suami di trotoar
Pukul 05.15 WIB, 6 November 1999, saya (Yeyen), suami saya (Achin), dan anak bungsu kami (Vincent), hendak ke Gambir. Waktu itu kami berencana bertemu ibu saya di Bandung sebab ia sakit kanker payudara dan akan dibawa ke sinshe. Baru saja kami keluar dari gang, tepatnya di jalan arteri Palmerah, Jakarta Barat, sebuah mobil boks dari arah belakang tiba-tiba menyambar tubuh saya. Saya pun terjatuh ke arah trotoar dan kaki saya terlindas ban mobil.

"Minggir!" saya berteriak mencoba mengingatkan suami saya yang berjalan di depan. Namun karena kurang cepat bergerak, bress...! mobil yang sama menghantam muka suami saya sampai dia terjatuh. Sungguh mengerikan, suami saya jatuh ke arah jalan sehingga badannya masuk di bawah kolong mobil dan, kress...!, ban belakang mobil itu menggilas tubuhnya. Saya melihat dengan mata kepala sendiri ketika ban mobil itu menggilas dadanya dan menyeretnya sejauh kurang lebih 1 meter. Melihat kondisinya yang sangat parah, membuat saya lupa pada sakit saya sendiri. Spontan saya berteriak, "Tuhan Yesus, tolong! Tuhan Yesus, tolong!"


Mobil langsung lari tidak terkejar lagi. Saya hanya bisa jongkok di pinggir jalan sambil memangku suami. Karena lukanya sangat parah, tiba-tiba terlintas di benak saya, jangan-jangan suami saya umurnya tidak akan lama lagi. Karena pemikiran ini, saya seolah dituntun untuk mengatakan padanya demikian, "Kamu harus bertobat, minta ampun." Kata-kata ini saya sampaikan karena saya tahu, meski suami saya sudah Kristen dan dibaptis setelah 14 tahun kami menikah, namun ia jarang sekali ke gereja. Kalau saya ajak ke gereja, ia biasanya marah-marah bahkan mengajak bertengkar. "Pokoknya kamu harus minta ampun," kata saya berulang-ulang.

Tidak lama kemudian, taksi datang. Saya menyuruh anak saya, Vincent, untuk pulang. Di dalam taksi, kami ditemani oleh seorang tetangga. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa bernyanyi dan berdoa. Selain itu, saya terus meminta suami saya untuk bertobat, minta ampun pada Tuhan. Mendengar anjuran saya, ia memberikan respons. Dia berkata lirih, "Tuhan Yesus, ampuni saya." Saya pun menimpali, "Jangan berhenti panggil nama Yesus. Bilang, `Darah Yesus tolong saya!`"

"Darah Yesus, darah Yesus, darah Yesus," kata-kata ini diulang-ulang suami saya hingga kami tiba di RS Pertamina.

Tiba di Rumah Sakit
Tiba di rumah sakit, suami saya langsung masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Ia langsung ditangani secara cepat. Kurang lebih 15 menit kemudian, hasilnya sudah dapat diketahui. Benar dugaan saya, kondisi suami saya memang betul-betul parah. Tulang rusuk bagian depan dan belakang, hampir semuanya patah. Dokter mengatakan, "Secara teori, seharusnya sulit untuk bertahan. Tidak ada kesempatan lagi." Kalau sebelumnya pada sepanjang perjalanan saya berdoa dan menyanyi, dan bisa menahan untuk tidak menangis, kini setelah tiba di rumah sakit, lebih-lebih setelah tahu hasil rontgen suami, air mata saya keluar dengan derasnya. "Tuhan, saya tidak kuat," bisik saya sambil menghubungi pendeta saya, Bapak Mulyadi Sulaeman. Pada saat saya mengatakan "tidak kuat", tiba-tiba ada suara yang berbisik, "Tuhan tidak akan mengujimu melebihi kekuatanmu." Saya pun berkata, "Tuhan kuatkan saya. Amin." Ketika selesai mengatakan hal itu, saya langsung mendapatkan kekuatan baru. Saya pun menjadi tegar.

Tidak berapa lama Pak Mulyadi datang. Kepada beliau saya berkata, "Om, tolong dijaga ya, saya sudah tidak tahan." Luka suami saya memang sangat parah. Celana jean yang ia pakai saat terjadi kecelakaan robek. Karenanya, wajar saja kalau kakinya penuh luka dan di pahanya ada luka yang sangat besar. Untuk mengeluarkan darah akibat paru-paru yang mengalami pendarahan, dada suami saya dilobangi. Pak Mulyadi sendiri, mungkin karena melihat harapan untuk hidup begitu kecil, dengan lirih ia menasihati, "Kamu yang sabar saja ya, Yen. Kalau Tuhan memanggil suamimu, kamu harus kuat." Saya mengangguk. Saya bisa memahami ucapannya karena memang menurut kalkulasi manusia, kemungkinan yang terbesar adalah kematian. "Om, saya pasrah. Saya rela suami saya dipanggil sekarang dari pada menunggu nanti tapi belum bertobat. Kalau Tuhan mau panggil, panggillah," demikian jawaban saya penuh kepasrahan.

Kondisi suami kritis
Kondisi suami saya betul-betul kritis. Paru-parunya tidak bisa bekerja dengan baik alias tidak bisa mengembang sehingga pernafasannya diatur oleh mesin. Mulutnya sudah tidak bisa berfungsi. Makanan dimasukkan lewat infus melalui satu lubang hidung, sementara lubang yang satunya untuk nafas. Leher juga dilubangi untuk "CPP", yang dipakai untuk mengontrol suhu tubuh. Melihat keadaannya yang seperti ini, pada hari ketiga dokter kembali berkata, "Ibu berdoa saja. Yang bisa menolong suami Ibu hanya imannya sendiri." Saya tahu kalau dokter sudah berkata begitu berarti harapan secaramedis sudah tidak ada. Karena berdiri di dekat tempat tidur, suami saya dapat mendengar apa yang dikatakan sang dokter. Saya pun kembali menegaskan kata-kata dokter. Kata saya, "Kamu tidak usah khawatir. Seperti dikatakan pak dokter tadi, yang bisa menolong kamu itu hanya imanmu. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan itu baik, kamu sekarang sebenarnya sedang ditegur Tuhan. Sekarang kamu bersyukur saja. Ampuni orang yang menabrak kamu."

Saya betul-betul heran dengan kata-kata saya sendiri, terutama seruan untuk mengampuni sopir yang telah menabraknya. Saya yakin hikmat itu datangnya dari Roh Kudus. "Sudah jangan ingat-ingat lagi. Kamu jangan marah. Saat kamu mengampuni orang yang menabrak, Tuhan Yesus pasti mengampuni kamu. Ketika dosa kita diampuni, maka apa yang kamu minta pasti Tuhan dengar, sebab penghalang doa kita menurut firman Tuhan tak lain adalah dosa kita," tegas saya lagi. Sejujurnya, antara iman saya dan kenyataan waktu itu bertentangan, tapi saya harus belajar beriman. Di ruang ICU saya tetap berdoa, menyanyi, dan membacakan Alkitab untuk suami saya. Kalau saya sedang menyanyi seluruh ruangan bisa mendengar. Mereka memandangi saya. Mungkin mereka membatin, "Bagaimana mungkin suaminya sakit parah ia masih bisa menyanyi?"

Hari terus bergulir. Setiap kali dokter jaga datang, saya selalu menanyakan kondisi suami saya. Jawaban dokter selalu sama, "Tetap saja, belum juga membaik." Suatu kali, saat saya mengajukan pertanyaan yang sama, jawaban dokter demikian, "Tunggu besok, ya. Kalau besok tidak panas berarti mendingan, tapi kalau panas itu artinya berbahaya." Esoknya suhu badan suami benar-benar panas hingga 40 derajat. Suster di belakang saya saling berbisik, "Wah, tidak mungkin hidup." Tapi suami saya dapat melewati masa kritis itu dan panas itu akhirnya turun. Saya terus berdoa. Mata saya benar-benar hanya tertuju pada Tuhan Yesus.

Hari keenam, pukul 09.00 WIB, keadaan suami kritis lagi. Suami saya pingsan. Untuk menyadarkannya ia harus ditepuk-tepuk bergantian oleh para suster. Saya segera dipanggil oleh dokter. Katanya, "Keadaan Bapak...." Namun, sebelum dokter itu meneruskan kata-katanya, saya langsung memotongnya, "Entahlah Dok, saya tidak mau mendengarkan apa yang Dokter katakan. Jika Dokter ingin mengatakan sesuatu, katakan saja kepada pendeta saya." Dokter itu diam dan saya segera keluar menelepon pak pendeta. Saat itu saya sendirian. Pekerja gereja yang setiap malam menemani saya pagi itu sudah pulang. Setelah menunggu agak lama, pak pendeta akhirnya datang. Saya tetap di luar karena takut. Ketika pak pendeta masuk ia mendapati pengukur detak jantung suami saya sempat lurus. Namun, 2 jam kemudian bergerak lagi dan kembali pada posisi semula. Kira-kira pukul 11.00 WIB, karena desakan pak pendeta, saya pun mau masuk ke kamar rawat suami saya. "Ko, ko, ko," begitu saya memanggil suami dan ia menyahut. Karena sudah sadar saya tidak takut lagi. Sekali lagi ia selamat.

Cahaya Terang Masuk ke Kamar ICU
Malam hari setelah peristiwa yang menegangkan itu, anak saya yang pertama, Michael, datang bersama 2 orang temannya. Mereka bukan orang Kristen. Kami di tempat itu berenam -- Michael dengan 2 orang temannya, saya, seorang pekerja gereja, dan seorang teman saya. Kira-kira pukul 22.00 WIB kami berdoa bersama di lift. Karena saya ingin menghormati teman Michael yang bukan Kristen, saya bilang, "Kita berdoa dalam hati saja, berdoa menurut kepercayaan masing-masing." Selesai berdoa, teman Michael yang bukan Kristen mengatakan, "Michael, waktu kita berdoa, saya melihat ada cahaya terang sekali masuk ke kamar ICU."

"Ma, Agung bilang, waktu berdoa ia melihat sinar masuk ke kamar ICU," kata Michael sembari menyebut nama temannya.

"Lho, kamu sedang menutup mata, bagaimana bisa lihat?" tanya saya.
"Ya, waktu menutup mata itulah saya melihatnya,"jawab Agung mantap.

"Saat melihat cahaya itu, apa yang kamu rasakan?" pertanyaan ini saya ajukan sebab di kamar ICU memang sering terjadi peristiwa aneh-aneh. Saya khawatir cahaya itu bukan dari Tuhan tapi dari setan.

"Perasaan saya damai," jawab Agung. Mendengar cerita dan jawaban Agung, saya langsung mengimani bahwa Tuhan sedang melawat suami saya. Melihat buahnya saya yakin sinar itu merupakan manifestasi Roh Kudus. Saya percaya, kalau ada lawatan Allah pasti sesuatu akan terjadi. Dari kesaksian Agung itu, iman saya kembali dibangkitkan, saya yakin suami saya pasti sembuh. "Terima kasih Tuhan," ujar saya penuh syukur.

Hari berikutnya, saya bertanya pada dokter ahli paru-paru dan mendapat jawaban menggembirakan, "Sudah ada sedikit perbaikan." "Terima kasih dokter, puji Tuhan!" ujar saya spontan, pokoknya saya terus imani dari hal yang kecil pasti akan terjadi hal yang besar. "Jangan berterima kasih pada saya, berterimakasihlah pada Tuhan," jawab dokter itu. Tadinya saya tidak tahu, ternyata dokter itu memang saudara seiman. Keadaan ini terus membaik. Setelah dirawat di ICU selama 5 minggu, suami saya dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Keadaan di ICU sungguh berkesan. Kehadiran saya paling tidak telah membuat orang-orang yang tegang sedikit merasa terhibur. Saya percaya ketika kita menyembah Tuhan lewat nyanyian, hadirat Allah ada di ruangan itu. Hal inilah yang mungkin membuat suasana di ICU menjadi hidup dan lebih nyaman. Sampai-sampai kalau saya tidak bernyanyi, saudara yang tak seiman pun bahkan sering bilang, "Ayo nyanyi, dong. Kalau kamu tidak nyanyi sepi, lho!" Ada juga yang mengatakan, "Suaramu merdu lho." Wah heran juga saya, sebab seumur-umur baru kali ini suara saya dipuji.

Di ruang perawatan biasa, kesehatan suami saya semakin cepat pulih. Di ruang ini suami hanya dirawat selama 2 minggu dan herannya setelah dirontgen, tulang-tulang rusuknya yang patah dinyatakan telah tersambung kembali! Tanggal 30 Desember 1999, suami saya keluar dari rumah sakit. Waktu pulang suami saya sudah normal. Ia sudah dapat berjalan dan tidak memakai alat bantu apa pun. Ia juga tidak pantang makan. Tanggal 31 Desember 1999, suami saya sudah ke gereja. Akhir 1999, sungguh menjadi saat yang manis bagi keluarga kami, sebab tidak saja pada tahun itu suami saya mengalami mukjizat kesembuhan, tapi kerinduan saya dan anak-anak untuk pergi ke gereja bersama ayahnya sudah dijawab Tuhan. 

Sumber: sabda.com

Jumat, 26 Juli 2019

LAMPU KAMAR NYALA SENDIRI

Lampu kamar Nyala sendiri "Kesaksian"


Ini kesaksian pribadi saya (ini bukan di buat-buat atau alusinasi tapi ini kenyataan). Kejadiannya hari sabtu malam dan minggu pagi. Bagi setiap orang yang suka menonton indonesia idol (7/7/12), pasti tahu pada malam minggu adalah Final indonesia idol. Saya juga menonton indonesia idol pada malam itu tapi hanya 1 jam, lalu saya masuk kekamar.

Di dalam kamar saya, dingatkan untuk ambil waktu berdoa. Saya tahu itu, yang Tuhan mau, supaya saya datang untuk menyembah Tuhan dalam Roh dan Kebenaran. Saya mengambil Hp dan memasang Headset, untuk dapat mendengar setiap pujian yang ada di Hp. Saya mulai memuji dan menyembah, tiba-tiba di pikiran saya teringat akan idonesia idol, lalu saya diigatkan Roh Kudus, engkau mau Menyembah Tuhan dan membaca Firman atau yang kamu pilih adalah hanya menyenakan dirimu sendiri untuk melihat indonesia idol.



Di saat itu saya katakan, Tuhan saya memilih seperti Tuhan mau, yaitu memuji Tuhan dan membaca Firman. Saya berdoa dan saya katakan Tuhan biarlah Darah Yesus yang melayakan saya untuk dapat Menyembah dalam Roh dan Kebenaran. Saya mulai rasakan Hadirat Tuhan di dalam kamar dan saya tahu ini yang Tuhan mau saya lakukan. Saya mulai berdoa dari jam 11.30 sampai 01.00 pagi, selesai menyembah Tuhan saya baca Firman Tuhan sampai jam 01.30.

Dan selesai baca Firman saya tidur, sebelum tidur saya matikan lampu dan mengunci pintu kamar saya dari dalam. Saya bangun pagi jam 04.00 pagi. Ketika bangun lampu kamar saya sudah nyala. Saya mulai berpikir lagi, tadi saat tidur lampu kamar suda  di matikan.

Saya melihat pintu kamar saya terkunci, lalu saya mau tidur lagi, Roh Kudus ingatkan saya, nanti kalau kamu punya masalah baru cari Tuhan, tapi kalau saya kasih bangun kamu untuk berdoa tidak mau, tiba-tiba saya mendengar kursi kamar saya bunyi.

Dan saya tahu bahwa Tuhan mau supaya saya bangun pagi untuk berdoa. Saat itu saya rasakan hadirat Tuhan dan saya mulai memuji dan menyembah. Di saat itu saya mulai mengucap syukur karena Tuhan memberikan tanda buat saya, dengan nyalakan lampu kamar dan mebangunkan saya untuk dapat datang berdoa pagi.

Karena pagi itu minggu pagi saya pergi ibadah, setelah pulang Gereja saya menanyakan saudaraku tentang apa yang terjadi di kamar saya, apakah mereka tahu bahwa lampu kamar saya padam atau tidak, dan mereka katakan memang itu benar bahwa saat kamu tidur lampu kamarmu telah padam. Karena pada jam 03.30 pagi ada 2 saudaraku yang mau pergi ke idomaret.

Saat mereka jalan keluar rumah mereka lihat lampu kamarku tidak nyala, mereka kembali kerumah jam 04.00 pagi mereka lihat lampu kamarku sudah nyala. Saya katakan kepada mereka bahwa lampu kamar saya nyala, bukan saya yang nyalakan. Tapi menyala sendiri, dan saya katakan itu tanda dari Tuhan menyuruh saya bangun pagi untuk berdoa.

Saya menceritan kesaksian ini karena, saya tahu ini yang Tuhan mau supaya setiap kita orang percaya harus memiliki Hubungan Pribadi dengan Tuhan,  dengan cara Memuji,Menyembah dalam Roh dan Kebenaran, dan membaca Firman Tuhan.

Tuhan dapat menggunkan bermacam cara untuk megingatkan kita untuk datang bersekutu secara pribadi dengan Tuhan, karena itu yang Tuhan mau kita lakukan. 

Pertanyaannya adalah..? Apakah kita lebih memilih untuk santai sambil nonton TV,  jalan-jalan, bermain dan lain-lain. Atau ketika kita diingatkan Roh Kudus untuk Berdoa, apakah kita mau lakukan atau tidak. Waktu yang terbaik ketika kita datang bersekutu dengan Tuhan...Amin.

Mazmur 5:4, TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.

Hosea 6:6, Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran. 

Yosua 1:8, Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.

Mazmur 119:105, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku

Yohanes 14:15-17, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. 

Yohanes 14:26, tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Senin, 22 Juli 2019

DITOLONG ORANG GILA

Ditolong Orang Gila

Diberikan Alkitab, dari orang gila
Nama saya NN dan cerita saya bermula di tahun 1970. Suatu hari saya sedang berjalan di sebuah daerah bernama Bojongloa, Bandung, ketika saya bertemu dengan seorang laki-laki kusam dengan pakaian compang-camping dan kelihatan tidak waras. Ia mendekati saya dan memberikan sebuah buku. Dengan kebingungan saya menerima buku itu dan membawanya pulang karena sayang untuk membuangnya. Sampai di rumah saya coba membukanya lembar demi lembar. Saya terkejut karena ternyata buku itu adalah kitab Injil, kitab suci orang Kristen. Saya kemudian menjadi tertarik mempelajarinya dan menyisihkan waktu untuk membacanya setiap pulang dari mengajar.


Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya jika melalui buku tersebut saya akan meninggalkan keyakinan lama saya. Maksud saya membaca kitab tersebut hanyalah untuk menambah wawasan, tidak ada maksud lain. Bagi orang yang berlatar belakang seperti saya, mengubah kepercayaan tidak mungkin untuk dilakukan.

Belajar ilmu santet
Saya lahir dan dibesarkan di sebuah desa di Tasikmalaya. Sejak kecil saya mempelajari dan mendalami ilmu pelet, santet, dan ilmu kebal. Saya pun harus tekun menjalani semua kewajiban agama karena ilmu-ilmu itu hanya berfungsi bila saya rajin menjalani ibadah agama. Saya menjadi orang yang disegani dan mudah bagi untuk mencari uang karena saya memiliki ilmu-ilmu itu. Jadi, bisa dibilang saya orang sakti yang juga sangat taat menjalankan ibadah.

Saya sakit
Suatu hari saya menderita sakit. Ada batu yang menyumbat saluran empedu saya sehingga saya harus dirawat di rumah sakit. Dokter memutuskan untuk menjalankan operasi untuk mengobati penyakit tersebut. Saat di rumah sakit, datang serombongan tamu untuk membesuk pasien yang di sebelah saya. Saya melihat mereka mendoakan pasien itu. Saya terkejut karena setelah mendoakan pasien di sebelah saya, mereka kemudian datang ke tempat saya dan minta izin untuk mendoakan saya. Walaupun agak berat, saya mengizinkannya juga. Saat mereka sedang berdoa, saya sangat terharu sampai meneteskan air mata karena melihat dan merasakan ketulusan hari mereka.

Mencari rahasia damai didalam Kitab Injil
Saya teringat akan kerabat saya yang kalau membesuk hanya sekadar membawa makanan atau buah-buahan, tapi tidak membawa harapan akan kesembuhan. Peristiwa itu membuat saya membaca lagi Injil untuk mendalaminya, mencoba menemukan rahasia dari harapan, damai sejahtera, dan sukacita yang timbul saat mereka mendoakan saya. Operasi pun selesai, namun masih ada kemungkinan saya harus dioperasi lagi pada kemudian hari karena masih ada batu yang tertinggal di dalam saluran empedu saya. Untuk memastikan hal tersebut maka saya harus menjalani pemeriksaan USG. Saya pun dilanda kebingungan dan kekhawatiran. Satu kali operasi sudah cukup menyakitkan. Saya menjadi takut mungkin tidak bisa melewati operasi kedua dengan selamat.

Terjadi Mujizat
Tanpa sengaja, saya menjerit kepada Yesus yang saya baca di Injil, "Jikalau Engkau ada, Tuhan yang hidup, dan tidak ada perkara yang mustahil bagi-Mu, maka sembuhkanlah saya, singkirkan batu itu dari saluran empedu saya". Setelah menjalani tes USG, dengan tegang saya menanti hasilnya. Dokter menyatakan bahwa batu itu sudah tidak ada di dalam empedu saya! Sebuah mukjizat! Hari itu juga saya diperbolehkan pulang.

Menerima Yesus sebagai Tuhan secara pribadi
Malam itu saya berdoa kepada Yesus memanjatkan terima kasih dan berjanji bahwa besok saya akan mencari gereja dan beribadah di sana. Keesokan harinya, saat hari masih subuh, saya membungkus kitab Injil yang saya dapat dari orang gila tersebut dengan koran. Tanpa sepengetahuan keluarga, saya keluar rumah pergi mencari gereja.

Ketahuan Keluarga
Beberapa bulan saya pergi ke gereja tanpa diketahui keluarga. Namun, akhirnya aktivitas saya ke gereja tercium oleh keluarga. Sebuah risiko yang saya takutkan selama ini terjadi. Saya diusir dari keluarga dan menjadi anak jalanan, namun tetap memegang teguh iman kepada Yesus apa pun yang terjadi.

Hidip di jalanan
Selama 8 bulan saya menjadi anak jalanan dan saya bertemu dengan seorang kawan lama ketika di kampung dulu. Dia mengatakan bahwa ia telah percaya kepada Yesus. Saya juga menceritakan bahwa beberapa bulan yang lalu saya sudah memutuskan untuk percaya kepada Yesus. Kami berdua kaget akan kebetulan yang luar biasa ini dan berpelukan dengan keharuan yang mendalam akan kasih Kristus. Sejak hari itu saya memunyai teman berdiskusi dan melalui pamannya saya mendapatkan pekerjaan hingga saya bisa menyewa sebuah kamar berukuran kecil untuk berteduh. Tahun 1985 saya kembali ke desa P, orang tua saya bertanya apakah benar saya sudah beralih kepercayaan. Selama ini mereka mendengarnya dari orang-orang dan hari ini mereka ingin mendengar langsung dari mulut saya sendiri. Saya menjawab bahwa saya tidak berpindah agama, melainkan saya hanya percaya kepada Yesus. Bagi mereka percaya kepada Yesus adalah suatu perbuatan yang sangat menjijikkan.

Diadili keluarga
Ayah saya sangat kecewa dan marah, hingga ia menggelepar-gelepar seperti seorang yang kerasukan, sambil berteriak-teriak mengatakan saya sudah menjadi orang kafir. Saya diusir dari rumah itu. Sore harinya saya dipanggil. Kali ini oleh keluarga mertua saya, katanya mereka ingin bertemu. Seorang saudara menjemput dan saya mengikutinya. Namun anehnya, bukannya membawa saya ke rumah mertua, melainkan saya dibawa ke pinggir sebuah sungai yang besar. Sesampai di sana, saudara saya itu bertanya, apakah saya mau kembali lagi pada kepercayaan yang lama, dan meninggalkan kepercayaan saya sekarang. Saya menjawab bahwa saat ini saya telah menjadi seorang benar dan itu adalah hak saya untuk memutuskannya. Jawaban saya membuat mereka menjadi sangat marah. Ia mencabut golok dan mengatakan, jika demikian saya harus dibunuh. Begitu melihat golok yang siap dihujamkan ke tubuh saya, maka saya segera lari menghindar. Puji Tuhan saya dilindungi oleh-Nya. Saya bisa terluput dari usaha pembunuhan itu, saya diberikan tempat persembunyian yang membuat mereka tidak bisa melihat saya.

Ibu saya mau bunuh diri
Kemudian saya kembali untuk membawa istri saya bersama saya, tapi mertua saya tidak mengizinkannya. Namun, istri saya bersikeras untuk pergi dan tinggal bersama dengan saya. Melihat usaha yang sia-sia menahan kepergian istri saya, ibunya berusaha gantung diri. Tetapi baru saja tergantung terayun-ayun, ada orang yang mencegah serta menolongnya, sehingga ibu selamat. Kejadian itu kemudian dibawa ke pihak yang berwajib. Di sana saya membuat perjanjian, bahwa jika saya dengan sengaja membawa istri saya menjadi pengikut Kristus, maka saya mau diadili. Di kemudian hari karena melihat perubahan yang terjadi pada diri saya, istri saya akhirnya menjadi percaya kepada Yesus dengan sukarela tanpa paksaan dari saya. Tuhan Yesus selalu membela kami dalam menghadapi tekanan dan masalah. Damai sejahtera melingkupi hari kami dan pengharapan kami akan masa depan menjadi pasti di tangan Yesus, sekalipun perjuangan hidup sangat berat. Bahkan untuk membiayai keluarga, saya harus menjadi penggali pasir, sehingga banyak orang yang mengolok-olok dan menghina saya, namun iman saya tidak goyah.

Mendapat Pekerjaan
Pada tahun 1987, Tuhan mulai mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga kami. Saya menjadi pekerja sol sepatu di daerah Bojongloa. Tahun 1994 ada seorang wartawan datang mewawancarai saya akan keputusan saya mengikuti Yesus. Setelah wawancara dan perbincangan itu, ia kemudian memutuskan untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Puji Tuhan, Dia sungguh ajaib, dapat menjamah siapa saja yang mau membuka hari untuk-Nya. Tahun 1996, saya mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan. Pada waktu luang, kami melakukan pelayanan ke desa-desa di Jawa Barat. Sejak saat itu, Tuhan Yesus mulai mengangkat saya sesuai dengan janji-Nya, bahwa Tuhan tidak akan pernah mempermalukan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Saya berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer jauhnya untuk pelayanan, namun tetap bersukacita bekerja di ladang Tuhan.

Hidup dalam kasih Tuhan
Pada suatu hari, seseorang menelepon menyuruh saya datang ke rumahnya bersama istri. Setelah kami sampai, orang itu menyerahkan sebuah STNK, BPKB, dan sebuah sepeda motor kepada kami. Saat itu saya sangat terharu bahwa Tuhan telah menjawab doa kami. Sampai saat ini, saya tidak mengetahui siapa orang yang memberikan motor itu. Ibu mertua yang dulu pernah mau gantung diri karena putrinya mengikuti suami yang percaya Yesus, justru menjadi orang pertama yang mengikut jejak kami menjadi pengikut Kristus. Beliau dibaptis pada tahun 1994. Walaupun dari pihak keluarga saya sendiri belum ada yang percaya, namun kalau dulu mereka begitu membenci saya, sekarang komunikasi kami berjalan baik. Perjalanan hidup di dalam Yesus sungguh mendatangkan sukacita luar biasa dalam kehidupan saya.

Kamis, 18 Juli 2019

ANAK SEBAGAI TUMBAL UNTUK MENDAPATKAN KEKAYAAN

Anak sebagai Tumbal untuk mendapatkan kekayaan

Kesaksian Dada Suhada
Kehidupan di keluarga saya sangat memprihantikan, sampai-sampai saya tidak dianggap sebagai keluarga di tengah-tengah, keluarga istriku. Hal ini membuat saya sangat sakit hati kepada keluarga.

Karena kehidupan saya sering mabuk membuat saya tidak disukai di tengah keluarga. Suatu ketika seorang teman saya, datang ke tempat kerja saya, dan saya katakan kepada dia, kenapa saya harus menjadi orang miskin, lalu teman saya memberikan suatu jimat, katanya kalau saya gunakan jimat ini maka usaha saya akan berhasil, tanpa pikir panjang, saya menggunya.

Ketika saya menggunakan jimat-jimat, maka usaha saya mulai berjalan lancar, hal ini membuat saya makin yakin, bahwa jimat-jimat tersebut yang dapat membuat usaha saya bisa lancar. Suatu waktu teman saya yang sama datan kepada saya, lalu menawarkan kepada saya, kamu mau lebih kaya ga, saya katakan mau, kalau kamu mau lebih kaya, kamu harus memiliki modal yang banyak, lalu kita ke dukun.


Dari cerita teman saya, maka saya mulai mengumpulkan uang dan mengambil perhiasan istri saya, sampai-sampai saya harus meminjam uang dari ibu mertua saya. Pikir istri saya, kalau yang dilakukan adalah suatu usaha, jadi dia tidak berpikir aneh-aneh, kemana uang tersebut saya gunakan.

Uang yang saya kumpulkan tersebut, saya gunakan untuk membeli sesaji, karena kalau tidak menggunakan sesajian, maka tidak dapat berhubungan dengan arwah-arwah tersebut. Pikiran saya, hanya kekayaan, saya tidak perduli berapa yang harus saya bayar. Ketika dukun ini katakan, tetapi harus ada tumbalnya, saya mulai katakan saya siap kalau nyawa saya sebagai tumbalnya. Saya selama tujuh hari, tujuh malam tidur di makam tersebut, tiba-tiba saya mendapat suatu mimpi, di mimpi tersebut saya ketemu sama seorang wanita, lalu wanita ini katakan, dia akan memberikan saya kekayaan, tetapi anak petamanya harus menjadi tumbal. Saya katakan tidak, lalu saya bangun, karena kekayaan itu sebagai anak, bukan kepada saya.

Dari kejadian tersebut menjadi berangtakan, uang saya habis, banyak utang, usaha saya mulai tidak berjalan. Hal ini membuat hidup saya kembali mabuk-mabukan. Sampai-sampai anak saya sendiri berbicara kalau dia sering di sebut anak seorang pemabuk, bapak yang tidak benar. Hal ini membuat saya merasa sedih, dan saya mau bertobat, tetapi saya tidak tahu caranya bagaimana.

Istri saya memanggil adik saya untuk datang melayani saya, ketika adik saya berbicara kepada saya, kalau kita bertobat dengan kekuatan kita sendiri itu tidak bisa, tetapi kalau Tuhan yang sanggup mengubah hidup kita menjadi yang baru. Saya tahu bahwa saya adalah seorang pendosa. Adik saya katakan bahwa berapa besar dosa kakak Tuhan pasti akan mengampuni dosa kakak.

Saya mulai diajak berdoa, ketika saya disuruh mengampuni setiap orang yang telah meyakiti hati saya, dipikiran saya mulai terlitas, ingatan kata-kata dari orang yang menghina saya, tetapi karena kebaikan Tuhan sehingga saya dapat melepaskan pengampunan kepada musuh saya.

Ketika keputusan tersebut saya ambil, hal tersebut membuat hidup saya menjadi berubah, kehidupan dengan keluarga mulai dipulihkan, usaha saya mulai berhasil. Kekayaan yang setan berikan ujunnya membawa kebinasaan, tetapi kalau kita hidup bersama Tuhan maka kita akan menerima keselamatan masuk surga dan di bumi kita akan mendapat berkat dari Tuhan.

Catatan:
Semua Karena Kasih Karunia Tuhan, pertobatan adalah kunci dimana anda dapat melihat Tuhan bekerja dalam hidup kita. Ketika kita mulai mengakui dosa kita dan juga memaafkan musuh-musuh kita, itulah anugerah Tuhan yang diberikan kepada kita, untuk dapat berjalan didalam terang kasih Tuhan.

Dari kisah ini kita dapat belajar bahwa, kekayaan dapat diperoleh dengan berbagai macam cara, yang pertama, dengan kekuatan kita sendiri, kedua dengan kuasa kegelapan, dan yang ketiga karena kita diberkati Tuhan.

Contoh orang yang menggunakan kekuatan mereka sendiri adalah orang ateis yang tidak percaya Tuhan, kalau kegelapan tentu dari kuasa-kuasa setan. Tetapi sebenarnya dalam hal membangun kerajaan setan, kedua cara tersebut sangat berkaitan untuk membuat manusia jauh dari Tuhan dan tidak percaya bahwa segala sesuatu Berkat berasal dari Tuhan.

Bagi kita orang percaya jangan datang kepada Tuhan untuk mencari kekayaan tetapi kita tahu bahwa Dia Tuhan Yesus yang telah mati untuk menebut dosa kita. Kekayaan adalah bonus, yang terpenting adalah hidup kita menjadi terang dan garam dunia, diamanapun kita berada. Amin


Minggu, 14 Juli 2019

DIBEBASKAN DARI ROH LUCIFER

Dibebaskan dari roh lucifer

Setan berusaha memisahkan manusia dengan Tuhan, dengan kesaksian ini menceritakan bagaimana Giovani di bebaskan dari kuasa kegelapan. Anda ingin tahu lebih jelas dari kesaksian ini, baca dibawa ini..?

Saat Ibadah
Kejadiannya terjadi saat ibadah natal di Gereja di plaza sunter saat itu yang kotbah Ev. Daniel Vicky Pridnani seorang keturunan India dengan latar belakang penyembah berhala dan bertobat menerima Tuhan Yesus.

Sewaktu kotbah ada seorang jemaat tidak kuat mendengar firman Tuhan dan badannya bergetar hebat seperti mau kerasukan namanya Giovani, akhirnya giovani keluar ruang ibadah dan menyampaikan kepada salah seorang pengerja dan pengerja menyampaikan hal tersebut ke pendeta dan minta di doakan diluar tetapi oleh pendeta diminta masuk saat altar call.

Dikonseling
Saat dikonseling sebelum didoakan giovani menceritakan kembali kejadian tersebut dan mengatakan sering ikut kotbah pak daniel tapi baru kali ini rasanya lain tidak tau kenapa saya bergetar sendiri bahkan sampai sekarang masih bergetar saya tidak kuat seperti mau kerasukan lalu saya keluar. Yang saya lihat dia gemetar ketakutan.

Dia menceritakan semua hal tentang dirinya bahwa dia adalah anak yang tidak diinginkan orang tuanya, pernah pasang susuk, pernah pindah agama 2 tahun ke ajaran seberang karna ikut suami dan akhirnya kembali lagi karna tidak nyaman dan dia juga mengaku kalau dia kotor karena pernah bekerja di spa.

Saya bilang Tuhan akan mengampuni semua dosa kamu walau dosamu merah seperti kain kirmizi karna kamu sudah mengakuinya dan iblis tidak bisa mendakwa lagi karna kamu sudah mengaku dosa.


Didoakan lalu manifestasi
Akhirnya sampailah giovani didoakan oleh ev. Daniel. Saat didoakan dalam nama Yesus segala roh roh jahat, kuasa gelap lepas, dia teriak dan berbahasa lidah tetapi palsu (teriak tatatata... Babababa....) kemudian saya sampaikan ke pak daniel kalau dia unwanted child. Saat itulah ditengking roh penolakan dan berteriaklah giovani kemudian jatuh rebah kemudian tertawa seperti hantu.

Mengaku sebagai lucifer
Kemudian Pak daniel berkata "dalam nama Yesus siapa engkau?" kemudian giovani menjawab "aku lucifer daniel...", sahut pak daniel "Hei lucifer, Roh yang ada didalamku lebih besar dari engkau" sambil teriak2 giovani menjawab tapi dengan ekspresi sangat sedih dan terlihat kesedihan yang mendalam dari matanya "aku lebih berkuasa dari Yesusmu, daniel" expresinya seperti menangis "aku telah membunuhNya", balas pak daniel "dalam nama Yesus" dengan suara lantang, "jangan sebut nama itu, jangan usir aku daniel dia milikku, dia sudah ada perjanjian denganku" balasnya .

Beberapa jemaat dan pengerja menyaksikannya sekitar 50 orang sambil berdoa, kemudian dia berkata "berhenti, kalian semua jangan doakan dia berhenti doakan dia (maksudnya jangan doakan giovani kata lucifer) sambil teriak2 kesakitan.

Tengking pak daniel "dalam nama Yesus, terikat, kuasa mu dipatahkan, engkau tidak berkuasa lagi, Holy Spirit fire" dia mengerang kepanasan tersiksa oleh Api Roh Kudus sambil di ciprat oleh minyak urapan "stop, jangan siram lagi, panas..." kata lucifer, setelah itu dia terkulai lemas.

Lucifer keluar dari tubuh Giovani
Kemudian pak daniel duduk sejenak beristirahat sambil terengah2 dan berkata "beri kemuliaan bagi Tuhan Yesus" disambut dengan tepuk tangan jemaat dan kemudian saya ceritakan konseling giovani ke pak daniel dan dilanjutkan dengan doa lagi sambil lucifer kesakitan menggelepar dan teriak teriak dilantai.

Kemudian pak daniel minta saya bawakan pujian, dan saya bersama pengerja dan jemaat angkat pujian oleh Darah Anak Domba. Lucifer teriak2 sambil menutup telinga dan berguling kekanan kekiri.

Dan akhirnya "dalam nama Yesus keluar kau" kata pak daniel, karena Yesus adalah terang dunia dan dimana ada terang kegelapan tidak dapat menguasainya.

Dan akhirnya dipanggil roh giovani kembali ke tubuhnya dan kemudian berdiri dan berdoa mengikuti doa pak daniel "dalam nama Yesus, aku orang berdosa, ampuni aku Tuhan, aku menerima  Engkau sebagai Tuhan dan juruselamat, bebaskan aku Tuhan, dalam nama Yesus aku batalkan semua perjanjian dengan lucifer, perjanjian dari susuk aku batalkan, aku usir lucifer keluar dari tubuhku dalam nama Yesus, amin" kemudian rebahlah giovani dan bebaslah ia dari belenggu iblis. Terpujilah Tuhan Yesus.

Catatan:
Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil bagi yang percaya kepada Dia. Kita jangan membiarkan kuasa kegelapan membutahkan kita, sehingga kita menjauh dari Hadirat Allah. Lihat tangan Tuhan selalu terulur buat kita, supaya kita dapat berada dalam kerajaan-Nya.

Bagi saudara yang masih terikat dengan kuasa kegelapan atau hidup dalam dosa, lepaskan semua itu karena semua itu hanya sementara, tetapi carilah jalan keselamatan yang Tuhan telah sediakan buat kita umat manusia. Tuhan tidak melihat berapa besar kesalahan yang saudara telah lakukan. Dia Tuhan ingin datang kedalam hidup saudara untuk membebaskan saudara dari ikatan dosa tersebut. Berdoa kepada Dia, undang Tuhan hadir dalam hidup anda, katakana kepada Dia bahwa anda ingin bertobat, mau meninggalkan kehidupan lama dan hidup menjadi manusia yang baru. Ketika anda berdoa dan percaya maka anda akan menerima sukacita dan damai sejahterah dari Tuhan. Amin

Terima kasih atas kesaksian yang telah dikirim ke kesaksianlife@gmail.com, Biar dengan kesaksian ini banyak orang akan diberkati. GBU

Rabu, 10 Juli 2019

SETIA DALAM DOA, KISAH ANAK KELAS 4 SD

Setia dalam Doa, Kisah Anak kelas 4 SD

Ada seorang anak kecil kelas 4 SD yang selalu mengucap syukur dalam keadaan apapun. Ia tinggal di suatu desa Milaor, Camarines Sur,di Negara Filipina. Setiap hari untuk sampai ke sekolahnya ia harus berjalan kaki melintasi daerah yang tanahnya berbatu dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang. 

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, Andoy selalu mampir sebentar ke Gereja untuk berdoa. Tindakannya ini diamati oleh Pdt. Agaton. Karena merasa terharu dengan sikap Andoy yang lugu dan beriman tersebut. Suatu hari ketika Andoy hendak masuk ke Gereja Pdt. Agaton menyapanya.

Bpk. Pdt : "Selamat pagi Andoy, apa kabarmu? Apakah kamu akan ke sekolah?"

Andoy : "Ya, Bapa Pendeta!" balas Andoy sambil tersenyum.

Bpk.Pdt : "Mulai sekarang saya akan membantu dan menemani kamu menyeberangi jalan raya tersebut setiap kali kamu akan menyeberang.

Andoy : Terima kasih, Bapa Pendeta."

Bpk. Pdt : "sekarang apa yang akan kamu lakukan?"

Andoy : "Aku hanya ingin menyapa Tuhan Yesus... sahabatku."

Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya bersama Tuhan, tapi kemudian Pdt. Agaton bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy.

Andoy mulai berbicara kepada Sahabatnya

Andoy : "Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman2ku yang lain melakukannya. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini.Terima kasih buat kue ini Tuhan!. aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir..mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu. Engkau tahu Tuhan sepatu ini akan rusak, tapi tak mengapa..yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah.

TuhanKu kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, karena itu beberapa temanku sudah berhenti sekolah. tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.

Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Dan rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Tuhan ??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya) Tolong jangan marahi Ibuku ya..??? memang dia sedang lelah dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan juga biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukulku.

Oh ya..Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, menurutMu apakah dia akan menyukaiku?

Ah..bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun untuk menyenangkan hatiMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei.. Tuhan temanku, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja aku punya hadiah untukMu. tapi ini kejutan dan Aku harap Engkau menyukainya.Ooops aku harus pergi sekarang. Selamat siang"

Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.

Andoy : "Pak Pendeta..pa Pendeta..aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Tuhan Yesus, skarang anda bisa menemaniku menyeberang jalan!

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi seperti yang dimiliki Andoy.

Saat hari Natal tiba, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Pengelolaan Gereja diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum, mereka selalu menyalahkan segala sesuatu yang diperbuat orang lain.

Hari itu tgl. 25 Desember ketika 4 wanita tua tadi sedang berada di gereja tiba-tiba masuklah Andoy dan hendak menyapa Sahabatnya.

Andoy: "Halo Tuhan..Aku ...'
4 Wanita : "Kurang ajar kamu bocah !!! Apakah matamu tidak melihat kami sedang berdoa ??!!! Keluar.!!!"

Andoy begitu terkejut, karena tidak pernah ia diusir oleh Pdt.Agaton.

Andoy: "Dimana Bapa Pendeta? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya ."
Ketika Andoy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar. Andoy sedih, bigung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya tersebut.

Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan, sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy mulai menyeberang sambil melindungi hadiah tadi di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba brakkk ... (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak) Apa yang terjadi? ternyata karena tidak bisa menghindari bus besar tadi Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.

Sedih...Saat itu entah darimana munculnya tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata, ia memeluk tubuh Andoy dan menangis.

Orang-orangpun heran, mereka penasaran lalu bertanya;

Orang-orang : " Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini ? Apakah anda mengenalnya ?"

Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata : "Anak ini namanya Andoy, Dia adalah sahabatku."

Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...

Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andoy. Ketika Pdt. Agaton bertemu dengan orangtua Andoy ia bertanya; "Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal ?" Ibu Andoy menjawab sambil menghapus airmatanya: "Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." Pdt. Agaton bertanya lagi: "Apa katanya ?"

"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya Dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu" Jawab ayah Andoy.

Pdt.Agaton ; "Apa yang dikatakannya ?"

Ayah Andoy menjawab; " Dia berkata Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu.engkau akan bersamaku." Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis karena bahagia .. aku tidak dapat menjelaskannya, ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi Pak Pendeta tolonglah katakan siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? anda pasti mengenalnya karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal¡¨

Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes dipipinya, dengan lutut gemetar Pdt. Agaton berbisik, "Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa.. kecuali dengan Tuhan Yesus."

Tahukah anda dimana Andoy berada sekarang? Ya ia berada di sorga bersama Tuhan Yesus. Inginkah kita sekalian juga ... berada di sorga nanti ? Ya kita semua menginginkannya.

Andoy memiliki hati yang selalu bersyukur. Walaupun situasi hidup yang dialaminya sulit tetapi ia selalu bergembira karena ia tahu Tuhan Yesus sahabatnya selalu mengasihi dia. Melalui peristiwa tabrakan tadi Tuhan Yesus datang menjemputnya ke sorga

silahkan di bagikan cerita ini untuk mengingatkan atau menyadarkan kita harus selalu bersyukur