Jumat, 30 Agustus 2019

KETIKA TUHAN MEMULIHKAN KELUARGAKU YANG HANCUR

Aku dibesarkan di keluarga broken-home. Sejak aku masih kecil, aku sudah sering menyaksikan kebencian, kecemburuan, amarah, dan emosi-emosi negatif yang memperburuk keadaan keluargaku. Ayahku sering mengancam ibuku untuk bercerai, tapi karena usiaku dan saudara-saudaraku yang masih kecil, ibuku tidak setuju.
Ketika aku berusia 11 tahun, kakak lelaki dan perempuanku melarikan diri dari rumah karena tidak tahan lagi dengan masalah-masalah yang harus dihadapi. Waktu itu, keluargaku tidak tergabung ke dalam kelompok agama atau kepercayaan apapun, dan aku juga bukan orang percaya. Sekalipun aku memiliki banyak teman-teman yang Kristen, tapi aku tidak tahu apa-apa tentang Yesus.
Ketika aku duduk di bangku SMP, kedua orangtuaku kembali ingin bercerai. Aku begitu marah dan kecewa karena adik lelaki dan perempuanku menjadi korban dari kemarahan orangtuaku. Keadaan keluarga kami pun memburuk, sehingga adik perempuanku harus tinggal di rumah bibiku selama beberapa bulan. Bahkan, adik lelakiku hampir saja diadopsi oleh orang lain, tapi ibuku menolak. Akhirnya, pamanku memutuskan untuk mengasuh adikku untuk sementara supaya menghidarkannya dari hal-hal yang tak diinginkan. Tatkala kedua orangtuaku bertengkar, sesudahnya ibuku akan pergi menginap di rumah saudaranya selama beberapa hari. Di usiaku yang ke-13 tahun, aku pindah ke sebuah asrama yang jauh dari rumah. Tapi, aku selalu merasa pedih tiap kali berpikir tentang keluargaku. Aku merasa terjebak di dalam situasi tanpa harapan.
Suatu hari, aku pergi ke kamar temanku yang Kristen dan meminjam ponselnya untuk mendengarkan musik. Karena dia seorang Kristen dan melayani sebagai pemusik di gereja, jadi hampir seluruh lagu di ponselnya adalah lagu rohani. Ketika aku mendengar lagu Hillsong yang berjudul “Shout to the Lord”, aku merasa tenang dan nyaman. Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang saat itu terjadi kepadaku, tapi aku merasa hatiku tersentuh dan air mataku mulai menetes. Sejak saat itu, aku sering meminjam ponsel temanku hanya untuk mendengarkan lagu-lagu rohani. Setiap kali aku mendengarnya, hatiku merasa terhibur dan tenang.
Di usiaku yang ke-14 tahun, untuk pertama kalinya aku pergi ke gereja. Waktu itu, pendeta di sana menyampaikan khotbah tentang harapan untuk umat manusia. Ketika dia berkata bahwa dia mau berdoa untuk orang-orang yang membutuhkan harapan, aku pun berdiri. Aku mencoba meniru temanku. Aku menutup mataku, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan karena aku tidak pernah berdoa dan tidak tahu caranya berdoa. Tatkala pendeta itu berdoa, tangisanku tak dapat kubendung lagi dan sesudahnya aku malah merasa lebih baik. Aku menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi kepadaku, tapi aku tidak tahu itu apa.
Sejak saat itu, aku mulai rutin datang ke gereja untuk belajar lebih banyak tentang Yesus. Aku juga mengikuti sekolah Minggu untuk mendengarkan cerita-cerita tentang Yesus. Semakin aku belajar tentang Yesus, semakin aku yakin bahwa Dialah pengharapan yang aku cari selama bertahun-tahun ini. Aku menyadari bahwa Yesuslah satu-satunya harapan yang bisa mengubahkan hidupku hingga akhirnya aku memberi diriku dibaptis pada usia 15 tahun.
Sebagai orang percaya yang baru, ada tantangan yang harus kuhadapi. Ketika aku memberitahu kedua orangtuaku bahwa aku ingin dibaptis dan meminta ibuku menjadi saksinya, ayahku marah besar. Bahkan, dia tidak segan untuk mengusirku dari rumah jika aku menjadi orang Kristen. Aku coba menjelaskan pada mereka bahwa satu-satunya yang bisa memulihkan keluarga kami hanyalah nama Yesus, tapi ayahku malah menamparku. Aku tidak menyerah. Aku terus datang ke gereja secara rutin dan berdoa supaya keluargaku mau membuka hati mereka untuk menerima kebenaran firman Tuhan.
Suatu hari, aku bertanya pada ayahku tentang mana yang lebih dia pilih; Aku yang dahulu (mengonsumsi alkohol, suka merusak barang-barang, mencemarkan nama baik Ayah, dan selalu membalas perkataan orangtuaku), atau aku yang baru (rajin datang ke persekutuan doa, menanggalkan tabiat burukku, juga berhenti merokok dan minum alkohol). Aku berkata pada Ayah bahwa aku menghormatinya sebagai ayahku seperti Yesus telah mengajarkan kita untuk menghormati orangtua kita. Aku mengucap syukur karena akhirnya ayahku mau menerima imanku kepada Yesus dan mengizinkan ibuku menjadi saksi di hari aku dibaptiskan. Bermula sejak itu, aku terus membagikan harapan tentang Yesus kepada Ibu dan saudaraku. Aku berkata pada mereka bahwa keluarga kami bisa dipulihkan jika kami percaya dan berharap kepada-Nya. Saudara-saudaraku mulai datang ke gereja dan ibuku menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya tatkala dia melihat perubahan-perubahan terjadi di keluarga kami. Kami terus saling menguatkan dan mendoakan satu sama lain. Aku melihat perubahan besar terjadi dalam kehidupan keluargaku.
Sekarang, delapan tahun telah berlalu dan aku dapat dengan yakin mengatakan bahwa keluargaku telah sepenuhnya dipulihkan oleh anugerah dan belas kasihan dari Tuhan Yesus. Ibuku sering berkata, “masa lalu sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ayahku mulai datang ke gereja dan ibuku selalu mendoakannya. Ibuku sekarang melayani sebagai majelis di gereja, dan saudara-saudara perempuanku melayani di bidang musik dan kaum muda. Aku sendiri melayani sebagai pemimpin pujian, pemain musik, dan pernah juga menjabat sebagai ketua kelompok penjangkauan kaum muda.
Dulu, aku adalah seorang yang tak memiliki pengharapan, tapi telah kutemukan harapan itu di dalam Yesus yang menguatkanku. Kisah pertobatanku dimulai dari sebuah lagu “Shout to the Lord”; sekarang aku yakin sepenuhnya bahwa Yesus adalah kekuatanku, Tuhanku, Juruselamatku, dan harapanku yang kekal. Aku berharap kisah yang kubagikan ini boleh menjadi bukti akan betapa besarnya kuasa Tuhan. Tuhan mampu memulihkan kita terlepas dari apapun keadaan kita; Dia adalah harapan untuk mereka yang kehilangan pengharapan.
Jika saat ini kamu sedang menghadapi masalah atau merasa bahwa tidak ada harapan, percaya dan bersandarlah pada Yesus! Kamu akan menemukan bahwa Dialah harapan yang kamu cari.
copas : warungsatekamu.org

Minggu, 25 Agustus 2019

BEBAS DARI KUTUK RAMALAN


Saya percaya Hong Sui karena orang tua saya
Sejak kecil saya (WS) dididik berdasarkan kepercayaan orangtua saya, termasuk memercayai ramalan nasib atau yang sering disebut Khua Mia ataupun Hong Sui. Saya menyaksikan para peramal mengungkapkan dan menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, bahkan menyatakan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang pada diri saya. Misalnya, kapan waktunya usaha saya akan menurun, kapan menghadapi masalah, dll.. Ibu saya yang pernah dilarang mengikuti resepsi pernikahan adik saya, karena menurut hasil ramalan, disebutkan tahun 1990 merupakan "Tahun Kuda" -- suami adik saya dilahirkan di Tahun Kuda dan ibu saya juga lahir di Tahun Kuda; menurut ramalan, kalau mereka bertemu maka hal itu akan "Chiong" atau menyebabkan keadaan yang "tidak baik". Pada saat pesta pernikahan dilangsungkan, ibu saya terserang stroke. Kejadian itu membuat saya semakin percaya pada hasil ramalan selanjutnya. Diberitahukan juga bahwa istri saya akan sakit-sakitan, kami akan bercerai, usaha saya akan bangkrut, dan banyak lagi ramalan-ramalan yang serba buruk, hingga membuat kami sekeluarga hidup dalam rasa takut.



Bisnis saya sering gunakan peramal
Demikian hebatnya ramalan itu membelenggu diri saya, sehingga dalam merekrut para pegawai di perusahaan kami ataupun jika saya ingin mengadakan kontak bisnis dengan seseorang, saya terlebih dahulu berkonsultasi dengan para "ahli spiritual" saya. Apabila para penasihat spiritual tersebut mengatakan bahwa mempekerjakan orang tertentu atau jika melakukan bisnis tertentu tidak baik, maka dengan yakin saya tidak melakukannya. Atau jika ia memberikan petunjuk bahwa melakukan bisnis tertentu baik, maka saya akan segera melakukannya dengan sepenuh hati. Semakin saya terikat di dalamnya, ternyata membuat diri saya semakin merana, menderita, dan membuat ruang lingkup saya semakin tidak bebas -- ada arah-arah dan tempat-tempat yang tidak baik, ada ukuran pintu yang tidak cocok, dst.. Setiap saat saya menaruh perasaan curiga terhadap orang lain, bahkan kepada anggota keluarga sendiri pun harus meneliti jam, hari, bulan, dan tahun kelahirannya dengan cermat. Apabila shionya tidak cocok, maka dapat dipastikan akan terjadi hari buruk, tetapi kalau shionya tepat, maka akan terjadi hari baik.

Saya bangkrut
Ketika pabrik harus dijual untuk membayar hutang agar perusahaan ini kembali berkibar seperti pada keadaan semula, sesuai dengan nasib (mia) atau berdasarkan jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun lahir saya dan istri saya, serta atas anjuran seorang peramal, maka saya diharuskan untuk melakukan bermacam-macam "syarat". Karena kami belum mengenal "Jalan Kebenaran dari Tuhan", maka demi keutuhan keluarga dan usaha, dengan terpaksa istri menyetujui seluruh "syarat-syarat" itu. Tetapi tidak berapa lama setelah saya melakukan "syarat-syarat" tersebut, kenyataan yang saya hadapi bukannya menjadi semakin baik, tetapi sebaliknya -- keluarga dan perusahaan kami semakin hari semakin bertambah parah. Pada suatu hari anak kami yang paling bungsu, Vincent, yang saat itu masih berusia tujuh tahun dan sedang belajar di sekolah Kristen Penabur, telah lebih dulu percaya kepada Yesus. Setiap malam dia selalu mendoakan agar keluarganya hidup dengan rukun.


Saya rencana bunuh diri
Tahun 1998, tidak lama setelah peristiwa kerusuhan Mei, ketika saya sedang duduk termenung untuk merencanakan bunuh diri, Vincent datang mendekati saya. Tetapi karena saya masih menyembah berhala, maka ia tidak berani berhadapan muka dengan saya. Ia bertanya apakah ia boleh percaya kepada Yesus dan menjadi orang Kristen? Saya menjawabnya "terserah". Saat itulah pertama kali saya mendengar tentang nama Yesus. Awal tahun 1999, dalam keadaan frustasi, saya berangkat ke Batam dengan menumpang kapal laut. Ketika seorang diri di dalam kamar kapal, yang ada di dalam pikiran saya hanyalah merencanakan penyelesaian seluruh masalah yang sedang saya hadapi dengan cara pintas, yaitu dengan bunuh diri. Sementara pikiran saya di kamar kapal sedang kacau, tiba-tiba melalui pengeras suara yang ada dalam kapal, saya mendengar sebuah pengumuman yang menyatakan bahwa di dalam kapal ini akan diadakan sebuah pertemuan umat Kristen. Entah kekuatan dari mana datangnya, sehingga mendorong saya untuk melangkahkan kaki dan pergi mengunjungi persekutuan siang hari itu.

Bertobat
Saya menyimak seorang pria yang sedang menceritakan pengalaman hidupnya dan saya terpesona mendengarnya. Ia mantan bintang film asal Hong Kong yang datang untuk memberitakan Tuhan Yesus, yang telah mengubah jalan hidupnya. Karena saya juga menginginkan perubahan seperti yang terjadi pada orang tersebut, akhirnya saya membuka hati untuk menerima Yesus masuk ke dalam hati saya. Malam itu menjadi malam yang sangat bersejarah di sepanjang hidup saya. Setelah Yesus masuk ke dalam hati saya, bukan saja telah mengubah hidup yang berputus asa menjadi hidup penuh dengan pengharapan dan damai sejahtera, tetapi setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus, Dia pun juga telah membatalkan keinginan saya untuk mengakhiri hidup dengan meloncat ke laut. Beberapa hari kemudian saya kembali ke Jakarta dengan hati dipenuhi kedamaian. Saya menceritakan seluruh peristiwa perjumpaan saya dengan Yesus di kapal kepada istri saya, saya juga mengatakan bahwa kami sekeluarga akan mengikut Yesus sebagai Tuhan kami. Kami sepakat untuk mematahkan keterikatan kami dengan seluruh kuasa Khua Mia atau ramalan yang pernah membelenggu hidup kami selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kasih Yesus yang ajaib telah menolong saya untuk mengumpulkan semua patung-patung dan berhala di dalam satu kardus, dan dengan pertolongan seorang teman, ia telah membuangnya jauh-jauh dari hidup saya. Tuhan telah menggenapi janji-Nya yang mengatakan bahwa: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu". Saya juga menceritakan Tuhan Yesus kepada ibu dan adik-adik saya. Pada tanggal 28 November 1999, ibu dan delapan orang adik saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi mereka. Selain bersekutu lebih dekat kepada Tuhan, kecintaan saya kepada-Nya telah memudarkan keinginan saya terhadap gemerlap dunia ini. Sekalipun sampai sekarang saya selalu berdoa agar gunung persoalan, baik di dalam usaha bisnis maupun pelayanan, disingkirkan dari depan saya agar bisa berjalan mulus, tetapi Tuhan selalu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk melewati gunung-gunung tersebut.

Selasa, 20 Agustus 2019

PERAMAL REMAJA YANG BISA BICARA DENGAN ROH


Kesaksian Esther Shinta
Esther Shinta terbiasa dengan ritual sejak dari kecil, tanpa pernah bertanya. Di sisi lain, Esther tidak pernah akur dengan ayahnya. "Waktu itu saya putus asa, saya kesel, kesel sekali. Waktu itu saya merasa saya beda dengan adik kakak saya. Papa saya memperlakukan saya beda. Kenapa seperti ini?" terang Esther.

Karena itu, Esther seringkali melarikan diri ke dapur. Di sana jugalah dia dapat menemukan sosok yang membawa ketenangan baginya. "Kenapa harus di dapur? Karena di situlah saya ngerasa tenang. Apa yang saya rasain, saya bisa cerita. Pertama saya cerita-cerita, sudah itu ada yang balik ngomong sama saya. Karena waktu itu saya masih kecil, saya ga tau itu suara darimana, yang penting saya tenang. Makanya kenapa saya ga merasa terlalu butuh teman, apa yang saya dapat dari dia lebih dari yang saya dapati dari teman." Bertahun-tahun lamanya, roh gaib itu menjadi teman setia Esther sampai Esther beranjak remaja.

Suatu hari, Esther bersama teman-temannya pergi ke dukun. Di sana, Esther sebagai orang terakhir yang mengambil kartu, dinyatakan bahwa dialah yang akan menggantikan sang dukun itu sebagai penerusnya.

Saat pulang ke rumah, roh gaib itu bertanya padanya apakah dia mau melihat sosok roh tersebut. Esther langsung menjawab iya. Saat roh tersebut berkata bahwa Esther harus meminta ijin orangtuanya dulu untuk dapat melihatnya, Esther pun meminta ijin kepada mamanya.

Mama Esther yang selama ini melakukan sesajen, yang secara tak sadar justru membolehkan roh tersebut tinggal di rumah mereka, melarangnya. Sejak saat itu, suara roh tersebut menjauh. Tapi dia muncul dalam bentuk lain.

Esther yang tadinya tertawa ceria, tiba-tiba akan seperti nenek-nenek yang jalannya membungkuk, nafasnya pun menjadi sesak. Karena itu, Esther dilarang banyak tertawa oleh mamanya. Di sisi lain, kehadiran roh tersebut membuat Esther bisa meramal. Mengetahui kelebihannya ini berasal dari roh, dia makin memberikan sesajen. Karena itu, Esther makin mempunyai banyak teman yang memintanya untuk meramal.


Namun, Tuhan punya cara yang unik. Suatu hari, sang mama bertemu dengan temannya yang baru saja pulang dari gereja dan merasakan hadirat Tuhan. Sang mama pun bertanya pada Esther dan suaminya, apa itu yang dimaksud dengan "hadirat Tuhan" yaitu Yesus yang dibicarakan teman mamanya itu.

Esther pun ingin membuktikan bahwa Tuhan Yesus itu tidak ada. Mereka pun datang ke gereja. Hamba Tuhan itu kemudian bisa membongkar semua hal-hal yang mereka lakukan. Hamba Tuhan itupun mengatakan bahwa Esther masih berteman dengan roh-roh gaib, yang ditanggapi enteng oleh Esther. Karena memang bagi Esther, bisa mengetahui sesuatu itu adalah hal yang biasa.

Esther kemudian ditantang oleh hamba Tuhan ini. "Kita lihat saja besok, roh-roh yang ada pada kamu atau Tuhan Yesus yang lebih berkuasa." Esther langsung menerima tantangan ini.

Apa yang terjadi saat hari tantangan itu tiba? "Dia berdoa, aku juga berdoa," kata Esther saat kejadian itu. Esther sempat terjatuh. Merasa kalah, Esther meminta bantuan kepada roh-roh yang selama ini membantunya. Tapi roh-roh itu tidak menjawab. Tiba-tiba ada suara yang berkata, "Sudahlah, sekarang kamu ikut Aku aja dan lepaskan hidup kamu."

Esther bingung seperti apa yang dimaksud dengan melepaskan hidupnya. Dia pun mulai pasrah dan berkata di dalam hatinya, "Jika memang Tuhan Yesus memang lebih hebat daripada kamu (roh-roh, red), mendingan saya ikut Yesus aja."

Selama "pertarungan" itu, hamba Tuhan menumpangkan tangannya ke kepala Esther. "Dalam nama Yesus, dalam nama Yesus…" sebutnya.

"Tenangin aja dulu, sekarang hati kamu itu udah bersih, semua roh yang bukan dari Tuhan itu sudah dibersihin semuanya, Tuhan itu mau kasih Roh yang baru dari Tuhan Yesus. Ini Roh yang berikan kamu damai sejahtera, keselamatan, semuanya ada di sini sekarang," kata hamba Tuhan itu kepada Esther sambil tetap menumpangkan tangannya.

Sesampainya di rumah, Esther pun berdoa kepada Tuhan Yesus. "Tuhan Yesus, Engkau Tuhan yang hidup, kata orang-orang. Saya juga pengen tahu, kalau memangnya Tuhan itu ada, tolong pimpin saya. Tolong buka, Tuhan ngomong apa sama saya, karena saya ga bisa denger." Selesai berdoa, Esther secara tak sengaja membuka Alkitab yang telah diberikan hamba Tuhan itu sebelumnya.

"Tuhan mengampuni wanita peramal, dukun-dukun, dan berhubungan dengan roh-roh jahat, hal-hal seperti itu, Tuhan mau ampuni mereka." Jelas Esther tentang ayat yang dia lihat di Alkitab tersebut. "Buat saya, itu kayak kasih ketenangan, kedamaian buat saya. Dari situ saya merasa ternyata "Tuhan, Engkau mau mengampuni saya."" jelasnya lagi.

Namun, roh-roh tersebut ternyata tidak berhenti. Tiba-tiba ada suara keras yang menanyakan, "Tuhan mana yang kamu sembah?" sebanyak tiga kali dan dijawab Esther "Saya percaya Tuhan Yesus."

Dan tiba-tiba di dalam hati Esther muncul perkataan, "Aku mengasihi engkau." Kata-kata yang membuat hati Esther begitu merasa luar biasa. Esther yang selama ini jarang mendengar perkataan seperti itu, apalagi oleh orangtuanya, merasa begitu tersentuh. Suara itu buat Esther begitu damai sejahtera dan tenang, berbeda dengan suara-suara sebelumnya yang dia dengar, yang keras dan emosi.

Perubahan dalam hidup Esther mengubah semua anggota keluarganya. Mereka semua menjadi percaya Yesus dan melepaskan sesajen yang selama ini disembah. "Jika selama ini saya menolong orang dengan apa yang saya dengar (dari roh-roh), sekarang saya bisa menolong orang dengan firman Tuhan, apa yang Tuhan katakan…Yesus tujuan hidup saya," tutup Esther.

Jika ada di antara kita yang merindukan Yesus, datanglah kepada-Nya. Datanglah bersama keluarga agar mereka pun mendapatkan damai sejahtera dan ketenangan seperti yang didapatkan Esther. Tidak ada satu kuasa yang sanggup melepaskan kita dari jerat dosa, kecuali Yesus semata. Terimalah Dia


Sumber Kesaksian : Esther Shinta Samali . Jawaban.com

Kamis, 15 Agustus 2019

AKU DIANCAM OLEH KELUARGAKU


Kesaksian yang di alami oleh Gulshan adalah salah satu kisah yang dialaminya di daerah timur tengah, masih ada banyak cerita yang dialami oleh beberapa orang ketika mereka mulai percaya kepada Isa, sehingga mereka diacam ditengah-tengah keluarga mereka. Sebenarnya bukan hanya di timur tengah tetapi di indonesia, kita juga dapat mendengar dan membaca kesaksian yang sama.

Kesaksian Gulshan
Bagaimana sampai Gulshan mau di acam oleh keluarganya sediri, anda dapat membaca di sini .. 19 tahun lumpuh di sembuhkan.. ini adalah alasan yang membuat dia, mau percaya kepada Isa- Al Masih.

Saya harus menceritkan apa yang saya alami ditengah-tengah keluargaku
Selama beberapa hari pengunjung-pengunjung berduyun-duyun datang termasuk paman dan bibi yang datang dari tempat-tempat yang jauh begitu pula kakak perempuanku dari Rawalpindhi. Pada akhir minggu kami mengadakan suatu perayaan dengan pesta dan banyak sekali orang berkumpul. Kepada semua orang saya memberi kesaksian bagaimana Yesus (Yang mereka sebagai Nabi Isa) telah menyembuhkan saya. Karena kesaksianku yang terus menerus tentang hal ini maka timbul reaksi yang pahit terhadap seluruh kejadian ini mula-mula dari kakak-kakak lelakiku yang telah menyebabkan keresahan bagi mereka. 

Ketika untuk ke-6 kalinya mereka telah mendengarkan kesaksian ini, maka Safdar Shah sesuai dengan fungsinya sebagai pemuka agama dikeluarga kami, merasa perlu mengemukakan pernyataan ini : "Kami akan lebih menghormatimu jika kau katakan bahwa Nabi Muhammad yang menyembuh kan engkau, Nabi Isa itu tidak penting bagi kita." Tapi saya tidak dapat mengatakan bahwa Nabi Muhammad yang menyembuhkan saya.Yesus sendirilah yang melakukannya dan IA berpesan padaku untuk mengatakan demikian.


" Umatnya Yesus ada di Inggris, Amerika Kanada. Negeri-negeri ini ialah tempat orangorang Kristen. Engkau kan tidak akan kesana untuk memberikan kesaksian kepada mereka bagaimana Nabi Isa telah menyembuhkanmu dan adalah bijaksana untuk tidak mengumumkan hal yang demikian itu disini." Safdar Shah mengatakan hal ini sebagai suatu pernyataan.

Mungkin dia tidak bermaksud untuk membuat pernyataan ini terdengar seperti sebah ancaman, tapi saya dapat merasakan apa yang tersirat didalamnya dimana ada kesatuan perasaan untuk mengasingkan seseorang dan memusuhinya sebab hal ini telah diajarkan kepada kami tentang umat yang menganut agama kitab lain itu. Yang dimaksudkan disini ialah Taurat dan Injil - Kitab-kitab suci orang-orang Yahudi dan Kristen yang merupakan isi Alkitab. Penganut Islam Syiah menganggap bahaya bagi Iman Islam mereka, sehingga ada usaha-usaha untuk menunjukkan bahwa Al-Quran pun diturunkan kemudian jelas lebih unggul dan benar karena mengembalikan kebenaran kepada kedua kitab suci itu. Saya telah menerima hal ini dan berakar dalam hatiku, tapi kini saya mulai berpikir. " Mengapa jika Yesus tidak penting, tapi IA sanggup menyembuhkanku? Kenapa jika Al-Quran dinyatakan sebagai tuntunan tertinggi bagi setiap segi kehidupan kami,namun namun hanya begitu sedikit menceritakan tentang Yesus ? Apakah kuasa penyembuhan ini benar-benar kuasa yang dinyatakan dalam Al-Quran?. Apakah kuasa ini datangnya dari Allah ?" Jadi, setahap demi setahap saya didorong mencari kebenaran tentangNYA. Saya ingin membaca Injil iu sendiri agar dapat belajar dan mengetahui lebih banyak tentang Yesus.

Jika saya akan menemukan kuasa yang berbeda sebagaimana yang telah diketahui oleh keluargaku selama ini, maka mereka akan menjumpai hal-hal baru tentang saya begitu pula akan terjadi hubungan yang baru dengan saya. Sebagai seorang adik, perempuan, tidak berdaya lalu selama ini sakit, saya adalah makhluk tanpa kemauan bagi mereka. Mereka tahu dimana menemukanku dan bagaimana mengurusku. Mereka tahu bahwa saya akan selalu setuju dan menerima saran-saran mereka. Saya tidak memiliki kemampuan pribadi - saya bergantung sepenuh penuhnya pada mereka. Tapi sekarang, saya merupakan pribadi yang bebas dan lebih lagi saya menemukan pribadi dan keadaanku sebagai putri ayahku dan mempunyai perasaan sendiri yang telah di bina melalui suatu pendidikan yang tidak mungkin dapat saya miliki sekiranya dari dulunya saya sehat dan normal. Kadang-kadang saya dapat memenangkan perdebatan dengan Safdar Shah. Ia sadar bahwa akan sulit sekali baginya untuk berdebat dengan sebuah mujizat berjalan karena didalamnya ada dorogan moral tersendiri pula.

Saya mau dikeluarkan dari keluarga
Setelah terdiam sejenak, kakakku berkata lagi," Jika engkau meneruskannya, engkau akan dibuang dari keluarga dan dari segala kesenangan yang pernah kau miliki disini. Jika kau pergi kepada orang-orang Kristen kami malah akan menyusahkan mereka juga, tentu saja mereka tidak ada di Pakistan." Waktu itu saya juga berpikiran demikian. Selama ini saya selalu diam, saya tidak berlagak menurut terhadap kaum keluarga dan orang-orang yang lebih tua dan kini mereka menggertak saya. Bagi si Gulshan yang lama tentu ia akan menyerah karena tidak sanggup menonjolkan dirinya. Tetapi sekarang si Gulshan yang baru ini merasakan suatu kuasa didalam dirinya dan kuasa ini memberikan kepadanya suatu keberanian yang baru, saya tidak merasa takut kepada mereka, kata-kata yang tidak saya cari-cari ataupun pikirkan malah datang ke bibir saya.

"Saya telah cukup mendengarkan dan tentu saja saya mengerti tentang keprihatinan anda sekalian, kataku, saya tidak menjawab semua pertanyaan yang diajukan, karena saya harus menunggu jawaban dari Yesus padaku. Ia akan memberitahukan padaku apa yang harus kulakukan berikutnya. Bila saya mendapat perintah maka saya akan mematuhinya dan bila bahkan bila anda sekalian membunuhku saya akan menjalaninya." Terdengar tarikan-tarikan napas disekeliling ruangan itu, alangkah kurang-ajarnya kata para paman seorang kepada yang lain dan kelihatan seolah-olah mereka tidak mempercayai pendengaran telinganya, atas jawaban yang lancang itu. Sayapun sendiri terperanjat terhadap diriku yang begitu berani menantang kekuatan keluargaku dengan cara demikian. Sekarang apa yang akan mereka lakukan? Saat itu adalah saat yang berbahaya. Saya segera menambahkan ," Saya berjanji saya tidak akan mempermalukan keluarga kita dalam segala hal yang akan saya lakukan, tapi saya masih harus menunggu sampai Yesus memberitahu padaku, bagaimana saya menyatakan kesaksian itu. Saya belum lagi bertemu dengan seorang Kristenpun, saya malah tidak tu dimana menemui mereka."

Para pria saling mendekatkan kepala, kakak-kakak perempuanku serta bibi menghindar untuk memandangku. Mereka tidak berkata apa-apa sebab para wanita tidak diharapkan untuk ikut campur ketika para pria sedang membuat keputusankeputusan penting. Dalam hatiku saya bertanya-tanya apakah keluargaku merecanakan untuk membunuhku nantinya?, mereka mempunyai hak untuk melakukannya. Tidak ada yang mempersoalkannya kecuali bahwa saya ini dikenal serta dicintai oleh banyak orang disekitar kami. Kematianku secara mendadak tentunya memerlukan suatu usaha guna menyembunyikan atau menutupinya dan pekerjaan ini rumit. Safdar Shah memberikan keputusannya, "Oke, kami akan menunggu apa yang akan kau lakukan nanti, kamipun akan berdoa untukmu mungkin saja kau telah menjadi gila karena peristiwa ini."

Untuk saat itu selesailah badai tersebut buat sementara, namun saya tau bahwa mereka tidak akan berhenti sampai saya benar-benar diam tentang subjek dari penyembuhanku. Tapi bagiku, untuk mematuhi perintah mereka akan berarti saya mengingkari apa yang telah diyakinkan dan ditunjukkan padaku oleh Bapaku disurga.

Saya berdoa dan mendapat jawaban
"Apa yang engkau kehendaki untuk saya lakukan?" saya berdoa kepadanya dalam kebingungan. Jawabnya datang dua malam kemudian, dengan suatu desakan perasaan yang nyata, saya berdoa menggunakan kata-kata yang sederhana, "Tunjukkanlah padaku jalanMU,oh tunjukkanlah kepadaku jalanMU." Saya memandang keatas dan terlihat sebuah tiang kabut tipis yang berdiri dari lantai sampai ke-langit-langit kamarku. Yesus ada didalam kabut tipis tersebut. Cahaya terang yang pernah kusaksikan sebelum ini terselubung dikabut tipis itu. Saya tidak tertidur ataupun bermimpi, Yesus berkata, " Datanglah kepadaKU !" Dengan penuh sukacita saya bangkit datang kepadaNYA, Ia mengulurkan tanganNya dan ada semacam kain diatasnya, tanganku saya ulurkan kepadaNYA. Saya merasakan diriku diangkat dari kakiku seolah-olah melayang diudara. Saya menutup mataku kemudian dengan lembut saya ditaruh diatas sesuatu yang lunak dan ketika saya melihat, saya sedang berdiri diatas suatu lapangan terbuka yang membentang sampai jauh, berwarna hijau dan sejuk serta kulihat orang-orang baik didekat maupun dikejauhan. Mereka semua mengenakan Mahkota dikepalanya masing-masing dan pakaiannya gemerlapan dan cahayanya menyilaukan mataku. Terdengar suara seperti lagu-lagu orang-orang itu menyanyikan "Suci & Haleluyah". Kata-kata ini merupakan ungkapan-ungkapan baru bagiku yang tidak saya gunakan sebelumnya. Mereka berkata, "Dialah Domba yang disembelih, Dia hidup." Saya menyadari bahwa mereka semua memandang kepada Yesus.

Yesus berkata :"Inilah umatKU, inilah orang-orang yang mengatakan kebenaran, mereka inilah yang tau bagaimana caranya berdoa. Orang-orang ini yang percaya kepada anak Allah. Saya melihat sebuah wajah muncul dari antara kerumunan orangorang itu, saya memandang orang itu baik-baik, ia sedang duduk. Yesus berkata, "Pergilah sekitar 18 km kearah Utara dan orang ini akan memberikn kepadamu sebuah Alkitab. Begitu saya memandang orang tersebut yang sama halnya dengan lainnya yang juga sedang kuperhatikan, kelihatannya mereka tidak menyadari akan kehadiranku lalu orang-orang ini semakin menghilang dan akhirnya saya kembali pada diriku sendiri lagi, berlutut didalam kamarku diantara semua milikku yang kukenal.

Saya merenungkan apa yang telah kulihat lalu suatu perasaan sukacita yang sangat besar mengalir dengan cepat keseluruh jiwa dan rohku. Saya telah bertanya untuk ditunjukkan apa yang patut kuperbuat selanjutnya dan inilah jawabannya. Untuk pergi dan memberikan kesaksian kepada orang ini tentang visi saya, tentang Yesus dan meminta daripaanya sebuah Alkitab. Tapi dimanakah saya akan menjumpainya?.

Kemudian saya teringat sesuatu, Razia tinggal di Jhang Sadar yang letaknya kira-kira kearah utara dari tempat tinggal kami. Pada waktu pesta saya telah bersepakat dengannya dan mengatur untuk mengunjunginya dalam waktu dekat. Jadi, demikianlah jadinya. ada seseorang yang tinggal disuatu tempat didekat rumahnya yang dipersiapkan untuk memberikan padaku sebuah Alkitab. Saya harus pergi sendiri, jika keluargaku mengetahui mereka akan berusaha untuk menghentikanku.

Keputusan telah kuambil, saya memepersiapkan rencanaku dengan hati-hati masih belum menyadari benar bahwa langkah yang saya ambil ini tidak dapat saya ambil kembali dan bagaimana langkah ini kemudian merubah seluruh hidupku.

Pencarian Alkitab
Tiga minggu sesudah kesembuhanku, saya mendapatkan keberanian untuk melaksanakan rencanaku untuk memperoleh sebuah Alkitab. Saya memberitahukan Bibi bahwa saya mau pergi mengunjungi Razia. "Engkau akan membawa serta Salimah?" tanya bibi yang belum terbiasa sepenuhnya dengan cara hidupku yang baru dan menyesuaiannya dengan keadaanku sekarang. " Tidak bibi ", jawabku tersenyum. Saya kira saya telah cukup dewasa sekarang untuk bepergian tanpa ada seorangpun yang memikirkan bahwa akan terjadi hal lebih buruk terhadap saya di jalanan, tolong mintakan Munshi menyiapkan mobil untukku. Bibi membuka mulutnya seolah-olah hendak membantah, tapi menutupnya lagi dengan ketat. Gulshan yang baru ini telah mememiliki kecenderungan untuk tidak lagi terlalu mempertimbangkan apa yang dipkirkan oleh orang lain dibandingkan dengan Gulshan yang lama.

Majid membawa Marzedes biru yang mengkilap itu berputar dan membukakan pintu belakang sambil tersenyum. Tirai-tirai didalamnya diturunkan agar melindungiku terhdap lirikan orang lain. Begitu kami meluncur ke gerbang utama, terlihat kepuasan pada dirinya waktu melaksanakan tugas yang dibebankan padanya sesudah kejadian yang berganti-gantian ini. Seorang chowkedar menutup pintu dengan tersenyum dibelakang kami dan selanjutnya mobil meluncur maju.

Razia telah siap-siap unuk kunjunganku. Apa yang tidak diketahuinya ialah bahwa saya mempunyai sesuatu keperluan untuk mengunjungi orang lain lagi. Saya menyuruh Majid kembali dan meminta kepadanya untuk datang menjemputku sesudah jam makan siang. Lalu saya berpaling untuk menemui guruku yang sangat gembira melihat saya begitu sehat dan mengajukan beberapa pertanyaan. Ia kecewa dan sedikit penasaran waktu kukatakan bahwa saya hendak menemui seseorang lain untuk suatu keperluan penting dan mendesak di bagian lain kotanya.

"Tidak, saya tidak perlu ditemani" kataku, "hanyalah sedikit urusan transaksi dagang yang perlu kulakukan". Saya meninggalkannya berdiri kebingungn diberanda rumahnya, pandangannya mengikutiku begitu saya bergegas menuruni lorong lalu menuju ke jalan besar. Saya merasa kurang enak. Belum pernah saya mencoba berlaku curang terhadap seseorang sebelumnya selama hidupku, tapi rasanya ini merupakan cara satu-satunya bagiku untuk memperoleh Alkitab. Setelah tiba di jalan besar barulah kusadari bahwa kurk {Penutup kepala)ku telah tertinggal – kelihatannya seluruh kejadian ini merupakan lambang dari kemerdekaan yang sedang bertumbuh di dalam diriku.

Sebuah tonga (dokar) yang ditarik kuda menghampiriku dan saya menghentikan si tonga-walah (sais) yang agak tua itu. "Saya sedang mencari seorang pria beragama Kristen yang tinggal di Kachary road. Apakah anda kenal seseorang seperti itu?" Ia memandang lurus kedepan di antara telinga kudanya seolah-olah tidak mendengar dan segera saya tambahkan, "Ada satu tugas yang harus kukerjakan". Ia menunjuk kearah utara. "Ada sebuah tempat disana. Tempat itu amat tua dan sudah ada sebelum negara Pakistan lahir. Saya tidak tahu apakah ada seseorang Kristen tinggal di sana, tapi jika anda mau saya akan membawamu kesana." Tolong bawa saya ke sana". Saya naik ke tonga itu. Saisnya mencambuk kudanya yang kurus lalu kami bergerak dengan langkah cepat dan tenang. Sepanjang perjalanan selama 1/2 jam itu banyak waktu bagiku untuk merenungkan apa yang sedang kulakukan.

Apa yang akan dikatakan kakak-kakak perempuanku jika mereka melihat Gulshan-nya tercinta dengan ceria berjalan-jalan di jalanan umum sendirian di atas tonga?. Tindakan seperti ini sama sekali tidak akan ditiru oleh wanita manapun dalam keluargaku. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Yesus telah mengirimkan saya untuk melakukan perjalanan ini dan saya mempercayakan kepadaNYA akan apahasilnya nanti. Kami tiba di sebuah gedung besar kemudian kuketahui adalah sebuah kapel (gereja kecil) orang Kristen. Di sebelahnya berdiri sebuah bungalow dibelakang pagar tinggi. Tonga itu berhenti di depan salah satu pintu pagar tersebut. "Inilah tempatnya" kata si tonga wallah. Saya membayar sewanya dan lewat pintu saya masuk ke sebuah halaman yang banyak pohonnya. Saya berjalan menuju rumah itu dan melihat seorang pria duduk di bawah sinar matahari dengan setumpuk buku di atas meja kecil di sampingnya.

Wajah yang telah aku lihat dalam doaku
Ketika saya mendekat, pria itu memandang ke atas. Hatiku melonjak penuh kekaguman. Itulah wajah yang telah kulihat dalam visiku. Yesus berkata: "Orang ini akan memberikan padamu sebuah Alkitab". Dengan sopan sambil setengah berdiri pria itu berkata : Jika anda datang untuk menemui istriku, maaf, ia sedang tidak di rumah. Ia telah pergi ke Lahore. Dengan cepat saya berkata: "Saya bukanlah datang mencari istri anda tapi datang menemui anda untuk memperoleh sebuah Alkitab. Saya telah melihat anda dalam sebuah visi". Pria itu terkejut dan menatapku dengan cermat, mencoba menembus dopattaku yang secara naluri telah kutarik menutupi wajahku waktu melewati halaman. Kini saya membiarkan syal itu terjatuh dari wajahku dan memandang padanya. "Siapakah anda? Apakah agamamu? Anak perempuan siapakah anda? "Saya tinggal 18 km dari sini, berasal dari keluarga Islam". Saya dapat melihat bahwa ia takut mendengarkan keteranganku. Bahaya apakah yang akan didatangkan wanita Muslimat yang masih asing ini terhadapnya dengan permintaannyauntuk mendapatkan sebuah Alkitab? Ia berkata, "Jika saya adalah anda, saya akan kembali ke rumah dan terus membaca Al-Quranmu.

Apa yang ada disana baik bagimu dan apa yang ada di dalam Alkitab baik bagiku. Janganlah anda risaukan dirimu dengan Alkitab itu". Ia bangkit dengan maksud mengantarkan saya keluar. Tapi saya tetap berdiri, hatiku tenggelam ketika perasaan sukacitaku surut. Saya telah membayangkan bahwa ia akan menyambutku, malah mungkin telah bersiap-siap untuk kunjunganku, "Yesus Immanuel mengirim saya kepadamu. Percayalah kepadaku!" Ia mempelajari saya sebentar, lalu menyilahkan saya duduk. Saya menceritakan riwayatku, mula-mula agak malu, lalu menghangat menjelaskan padanya sedikit tentang betapa hidupku selama 19 tahun sebagai seorang lumpuh. Kuceritrakan perjalanan ke Mekkah, begitu pula tentang doa-doa kami yang dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan di sana hasilnya masih mengecewakan. Saya singgung tentang kematian ayahku yang tragis dan dampaknya yang mengagumkan - Yesus berbicara kepadaku dan menunjukkan pembacaan tentang Dia di dalam Al-Quran. Dengan bersunguh-sungguh Ia menatap ke depan, matanya ditujukan kewajahku.

Saya belum pernah ditatap sedemikian cermat oleh pria asing sebelumnya - namun saya merasakan bahwa dia bukanlah orang asing bagiku. Saya lanjuntukan dengan memberikan kesaksian tentang visinya Yesus di dalam kamarku serta penyembuhanku. "Kemudian" kataku, "saya melihat anda". "Yesus menampakkan diriNya lagi dan menunjukkan umatNya kepadaku dan anda ada diantara mereka. IA menyuruh saya datang kepadamu untuk memperoleh sebuah Alkitab. Dan jika anda masih juga belum percaya padaku, dengarkanlah doa yang diajarkan Yesus kepadaku untuk berdoa. Lalu saya mengulangi kata-kata dari Dia "Bapa Kami".

Ketika selesai, suasana menajdi hening. Temanku duduk, tangannya diletakkan dilengan kursi, kepala ditundukkan kearah dada sambil berpikir keras. "Apakah mungkin?. tanyanya, lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. Ia menarik napas dalam-dalam dan sesudah itu berdiri. "Duduklah disini sebentar, saya harus pergi dan berdoa unuk ini karena langkah ini adalah hal yang serius bagi kita jika saya harus memberikan sebuah Alkitab padamu." Ia masuk kerumahnya dan saya duduk di bawah sinar matahari sementara burung-burung kolibri terbang dengan cepatnya diantara pepohonan, sayap-sayapnya yang mungil mendesing begitu cepat, terlihat seperti tidak bergerak-gerak di udara. Setelah memakan waktu yang lama sekali rasanya, tapi mungkin tidak sampai 1/2 jam, temanku keluar dari rumah dan berkata, "Saya telah berdoa dan bertanya kepada Allah apa yang harus saya lakukan dan saya merasa Ia menyuruh saya memberikan padamu apa yang kau perlukan.

Tapi ketahuilah bahwa apa yang engkau pikirkan untuk beralih dari kepercayaanmu itu merupakan sesuatu yang sulit dan anda dapat saja diusir dari keluargamu. Anda akan banyak menanggung beban yang berat dan banyak kehilangan, tapi jika anda tetap setia, anda akan menerima hidup yang kekal". "Saya mengetahui dan menyadari semuanya itu, "kataku. Saya mau mengiring Yesus Immanuel yang telah menyembuhkanku dan menunjukkan padaku jalan kasih". Ia tersenyum dan berkata, "Sekarang pikirkanlah lagi tentang hal itu. Apabila anda harus menyerahkan apa yang patut anda persembahkan kepada Yesus maka si jahat akan menyerangmu. Ia akan menimbulkan banyak rintangan dan hambatan bagimu sehingga sukar bagimu untuk menerobos dan melampauinya."Tantangan besar akan anda hadapi. Bahkan mungkin orang Kristen sendiri malah yang akan menimbulkan hambatan-hambatan itu bagimu". Air mataku berlinang. "Saya tidak memikirkan tentang hambatan-hambatan ini.

Yang kuketahui hanyalah Yesus Immanuel yang telah menunjukannya kepadaku. IA telah membangkitkan saya dan memberikan terang padaku. "Saya ingin mengetahui lebih banyak tentang DIA dan kini DIA mengirim saya kepadamu untuk mendapatkan bantuan. Tolonglah saya. Sesudah inilah ia memberikan padaku sebuah kitab perjanjian baru dalam bahasa Urdu serta sebuah buku lain bernama :"Orang-orang yang mati syahid dari Carthage". Lalu ia memanjatkan doa yang indah dimana dengan kata-kata dan perasaan sederhana ia mengungkapkan tentang persaudaraan dan kasih yang membuat saya merasa kuat.

Kembali kerumah
Dari rumah ini saya naik tonga lagi kembali ke Razia tepat sebelum makan siang, saya tidak menjelasakan padanya tentang perjalananku tapi hanya mengatakan apa yang kuperlukan telah kuperoleh. Tapi masalahnya belum terpecahkan, lalu saya mengalihkan percakapan yang kami tertawa serta mengobrol seolah-olah tidak ada hal-hal aneh yang terjadi sampai Majid datang menjemput saya pulang. Bibi telah mengamat-amati saya, dengan sunguh-sungguh beliau menatapku, tapi saya memalingkan muka karena merasa yakin bahwa apa yang saya alami baru-baru ini pasti tergambar diwajahku. Bagimana khabar Razia, tanya Bibi. Baik, dia mempunyai beberapa orang murid yang lain dan merasa bahagia karena saudara perempuannya kini telah menikah. Sayang sekali ia sendiri belum menikah tapi saya pikir keluarganya tidak mempunayi mas-kawin yang cukup untuknya. "Benar, ia masih menerima muridmurid untuk membantu ayahnya karena hanya memiliki usaha dagang kecil-kecilan saja.

Mulai membaca Alkitab
Membicarakan gosip seperti itu akan cukup membuat kami tidak sibuk sampai sekurang-kurangnya 2 jam seperti yang kami lakukan diwaku-waktu sebelum ini, tapi si Gulshan baru telah mempunyai perhatian pada hal-hal lain yang jauh lebih penting. Saya memohon diri masuk ke kamar tidurku dan menutup pintu. Lalu saya berbaring dan beristirahat, rasa-rasanya fisik dan emosiku telah terkuras. Malam itu saya mulai membaca perjanjian baruku secara sembunyi-sembunyi, bagaimanakah rasanya?. Tanyakanlah kepada seseorang yang haus betapa artinya air itu. Tanyakanlah pada seorang bayi betapa berartinya air susu ibu itu. Padaku telah diberikan makanan yang sulit kucernakan dan sekarang saya memperoleh roti untuk mengenyangkan laparku serta memebaca tentang kebenaran kehidupan manusia dan tujuan hidup manusia yang tertulis dalam halaman-halamannya.

Yesus telah berkata kepadaku:,"Akulah Jalan, kebenaran dan hidup. kata-katanya dalam Injil menumbuhkan pengertianku, belum pernah benar-benar saya dapat memahami isi kitab suci, tanpa bimbingan. Tapi Alkitab ini lain daripada yang lain, Ia membuka mata rohaniku, cerita-ceritanya menjadi hidup ketika saya membacanya. Saya menemukan 12 belas rasul yang telah menemani Yesus dalam visi saya yang menakjubkan dulu, saya menemukan kata demi kata Doa telah kupelajari dikaki Yesus Immanuel. Saya menemukan arti dari nama Yang Indah yang diberikan padaku dalam Visi itu: AKULAH YESUS, AKULAH IMMANUEL...... ALLAH BESERTA KITA!. Saya telah dibesarkan dengan pola berpkir bahwa Allah adalah sesuatu yang terpisah dan tak dapat dicapai. Disini akhirnya saya menemukan penjelasan mengenai kuasakuasa Ilahi serta misi Yesus. IA dapat membangkitkan orang mati karena IA adalah Tuhan atas kehidupan. Ia akan datang lagi karena IA hidup selamanya. IA memiliki hidup. Sumber: Book THE TORN VEIL

Catatan:
Siapa yang percaya maka dia akan mendapatkannya, salah satu kerinduan Tuhan adalah supaya kita memiliki kehausan dan kelaparan untuk mencari Dia. Kalau kita memiliki Alkitab bacalah kebenaran Firman Tuhan, karena dari situ hidup anda akan di ubahkan menjadi ciptaan yang baru. Dari kesaksian ini maka kita dapat melihat bahwa Tuhan memiliki cara yang ajaib untuk membawa mereka yang tidak mengenal Yesus, kepada terang itu, karena Dia adalah air kehidupan kita. Kuncinya apakah kita memiliki kehausan dan kelaparan untuk mencari Dia atau tidak.

Bagi saudara yang belum mengenal Yesus, kesaksian ini bukan hanya sekedar cerita tetapi ini adalah suatu kebenaran yang di sampaikan supaya kita juga dapat memiliki bagian dalam kerajaan surga. Bukan sekedar tulisan tetapi ini adalah kebenaran untuk menerangi hati kita supaya kita dapat melihat jalan yang benar. Amin

Sabtu, 10 Agustus 2019

TANDA-TANDA BAHWA KITA TELAH MENGAMPUNI

Kita tidak memiliki dorongan kuat untuk membicarakannya
Saat kita belum membereskan emosi kita terhadap seseorang atau situasi tertentu. Luapan emosi keluar dari mulut kita sepanjang waktu, bahkan kita tidak menyadari bahwa kita telah mulai mengatakannya. Perhatikanlah perkataan kita. Amatilah beberapa sering percakapan mengarah kepada orang yang telah menyakiti kita. Kita akan mendapat jawaban berapa jauh kemajuan kita dalam proses mengampuni.

Kita jarang memikirkannya
Orang yang belum kita ampuni mendominasi pikiran kita. Dia menyeruak dalam pikiran kita saat kita tidak mengharapkannya. Saat kita mencoba untuk berdoa, dia muncul di depan kita. Kita kesulitan untuk berhenti memikirkannya. Jika hal ini terjadi ketika anda ingin berdoa, berhentilah. Ucapkanlah kata-kata pengampunan. Alkitab menyatakan bahwa jika kita mengetahui bahwa seseorang sakit hati karena kita, kita harus meninggalkan persembahan korban di atas mezbah, lalu pergi membereskan hubungan itu dulu.

Kita tidak berhasrat untuk membalas dendam
Ada kecenderungan kuat pada kita untuk membalas dendam dan menghukum. Secara diam-diam, kita ingin menjadi hakim, juri, dan algojo, sehingga memastikan bahwa hukuman atas kejahatan tersebut sesuai dengan pemikiran kita tentang beratnya kejahatan itu. Allah berfirman agar kita tidak menuntut balas. Pembalasan adalah hak-Nya. Saat kita membalas dendam, kita tidak menaati Allah. Kita aka menerima akibatnya. Kadang kala kita menantikan Allah memberikan hukuman atau menunggu mereka mengakui kesalahan, baru kita mengampuni.

Ini bukanlah kehendak Allah. Dia mengatakan, “Tugasmu adalah mengampuni. Akulah yang menghukum. Pembalasan adalah hak-Ku.” Anda tidak perlu memikir cara pembalasan itu terjadi. Allah memiliki gambaran yang sempurna tetang pembalasan itu. Dia memiliki seluruh pengetahuan untuk menghakimi secara tepat dan menjatuhkan hukuman dengan adil. Dia memang hak untuk menghakimi dan menghukum para pelaku kesalahan. (Roma 12:19-20).

Kita sering ingin memberikan ucapan pengampunan yang bersyarat, “Aku akan mengampuni, tetapi aku tidak akan melupakan.” Ini bukanlah tipe pengampunan kehendak Allah. Kita terus menyimpan rasa sakit dengan memilih untuk terus mengingat-ingat kaesalahan orang. Ketika kita sungguh-sungguh mengampuni, Allah menyembuhkan rasa sakit dalam ingatan kita tentang peristiwa tersebut. Ingatan tersebut tetap berada disana, tetapi tidak menimbulkan rasa sakit. Hal itu tidak mengontrol hidup kita lagi. Kita jangan memikirkannya. Selama proses tersebut, kita harus mampu melepasnya dengan cepat tanpa rasa sakit atau penyesalan.

Kita bisa memberkati orang yang menyakiti kita
Ini merupakan tujuan akhir ke depan. Kita akan tahu bahwa kita telah sungguh-sungguh mengampuni ketika kita tidak hanya rindu melihat musuh kita diberkati, tetapi aktif mendoakannya, bahkan memperlancar mengalirkan berkat itu. proses pengampunan bisa dibantu dengan memilih berdoa untuk memberkati orang tersebut.

jika pada awalnya anda melakukan dengan kemarahan, perlahan-lahan perasaan anda mulai membaik. Anda dapat melakukan sesuatu untuk memberkati mereka atau memberi mereka hadiah. Hal ini akan memberlakukan prinsip pengampunan secara lebih cepat. (Matius 5:24)

Yesus mengatakan, “Berbuat baiklah kepada orang yang membenci kamu, dan berdoalah kepada mereka yang memandang kamu rendah.” Rasul Paulus mengajar kita untuk tidak menuntut balas, tetapi menyerahkan kepada Allah untuk bertindak atas kita. Dia berkata bahwa kita harus memberi makan musuh kita dan memberkati mereka.

“Jangan membiarkan dosa menjadi tuan atas kita. jangan mau dikuasi kejahatan. kalahkan kejahatan dengan kebaikan.” (Roma 12:12)

Hal ini disebut hidup dengan roh yang berbeda. Yesus telah menunjukkannya dengan begitu indah melalui kedatangan-Nya ke bumi dan dengan hidup dalam kerendahan hati, menyerahkan kepada Bapa, dan ketaatan kepada-Nya. Karya Yesus ini menghancurkan kuasa dosa atas maut.

Dia memiliki sikap seperti ini dan menunjukkannya. Bapa meninggalkan-Nya. Dia menunjukan sikap ini secara ekstrem, yaitu merelakan diri-Nya didakwa bersalah dan disalib seperti penjahat. Tanpa membuka mulut-Nya untuk membela diri. Bukannya membalas dendam, yang dapat Dia lakukan dengan memanggil pasukan malaikat untuk membebaskan diri-Nya, Dia taat pada kehendak Bapa.

Apapun keadaanmu hari ini, dalam keadaan yang sulit sekali untuk mengampuni, ingatlah kepada Tuhan Yesus yang telah mengampuni dirimu terlebih dahulu, oleh sebab itu tidak ada alasan untuk kita mengampuni musuh kita. Amin

Senin, 05 Agustus 2019

DI PENJARA DAPAT MEMENANGKAN 30 JIWA

Kesaksian Pdt. Saeed Abedini ketika dipenjara di negara Iran
Meskipun penjara Evin di Teheran, Iran, mengurung Pendeta Saeed Abedini, namun itu tidak dapat mengurung keberaniannya untuk tetap teguh di dalam Tuhan. Sambil menerima siksaan selama di tahanan, Saeed tetap membawa sejumlah orang kepada Juruselamat—setidaknya 30 orang telah dia bawa kepada Kristus.

Hal itu disampaikan istri Saeed, Naghmeh Abedini, dalam sebuah acara di Liberty University, AS.

"Mereka (otoritas Iran) telah memberitahu dia (Saeed) berulang kali bahwa mereka akan membebaskan dia dan mengijinkan dia kembali kepada keluarganya, yakni anak-anak dan saya, jika dia meninggalkan iman Kristennya, namun dia teguh berdiri selama di penjara. Dia telah membawa begitu banyak orang—lebih dari 30 orang—kepada Kristus selama dia dipenjara," kata Naghmeh seperti dikutip dari CBN News (22/9) 


Pada 26 September 2013 nanti adalah genap satu tahun Saeed ditahan di Iran. Di tanggal tersebut akan diadakan doa khusus untuk pendeta yang sempat membangun gereja di Iran tersebut.


Pengujian iman Saeed benar-benar tidak mudah. Selama di balik jeruji besi, ia harus menghadapi pukulan, siksaan, bahkan ancaman agar dia menyangkali Yesus Kristus dan masuk Islam. Perjuangan Saeed belum usai, oleh karenanya mari kita dukung doa untuk memerangi kuasa jahat yang ingin menggagalkan iman Saeed dan keluarganya. Harapan itu masih ada. 

Sumber: Jawaban.com