Senin, 30 September 2019

DUA KALI DISEMBUHKAN


Dalam nama Tuhan Yesus menyampaikan kesaksian. 

Saya lahir pada tahun 1936 dalam keluarga yang belum percaya Tuhan Yesus. Saya sangat bersyukur karena bisa percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati sejak tahun 1950. 

Itu semua bermula dari penderitaan saya. Sejak berumur 6 tahun mata saya selalu merah, berair, dan bengkak. Sebabnya tidak diketahui meskipun sudah berobat ke banyak dokter. Dan dengan bermacam obat serta ramuan pun, hasilnya tetap tidak ada. 

Sampai pada suatu hari ada seorang saudari datang ke rumah dan ia mengajak saya ke Gereja Yesus Sejati. Saya tergerak dan ingin mencoba memohon kesembuhan. Jadi setiap hari Sabtu saya datang mengikuti kebaktian Sabat untuk mendengarkan firman Tuhan tentang kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan orang sakit. Ketika diadakan sakramen baptisan, saya memberi diri dibaptis. 

Beberapa hari setelah dibaptis, mata saya berangsur sembuh. Hal ini membuat heran orang tua saya, karena sakit mata yang telah berlangsung selama 8 tahun itu sekarang sembuh tanpa pengobatan. Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah bahwa kedua orang tua dan kelima adik saya akhirnya tergerak untuk percaya kepada Tuhan Yesus dan mereka pun menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena melalui mujizat ini keluarga saya mendapat anugerah keselamatan. 

Ada lagi satu anugerah Tuhan yang saya rasakan. Sesudah menikah, tentunya sebagai istri saya harus membantu pekerjaan suami. Karena suami saya adalah seorang yang belum percaya Tuhan dan saya sendiri sibuk mengurus anak dan rumah tangga, saya menjadi jauh dari Tuhan dan jarang mengikuti kebaktian. Dalam satu tahun saya hanya satu kali berkebaktian, yaitu pada kebaktian awal tahun. 

Namun rupanya Tuhan masih menyayangi saya, sehingga pada tahun 1985 saya mendapat peringatan dari Tuhan. Saya mengalami kesakitan yang luar biasa di bagian perut yang disertai dengan pendarahan selama 3 bulan terus-menerus. Saya diperiksa oleh beberapa ahli kandungan. Dan semua dokter memastikan bahwa dalam rahim saya ada tumor yang harus segera diangkat. Seketika itu juga saya teringat akan penyakit mata saya dahulu. Saya teringat bahwa hanya Tuhanlah yang dapat menyembuhkan segala penyakit. Saya memohon ampun kepada Tuhan. Siang-malam saya berdoa dengan pasrah sambil mencucurkan air mata. Akhirnya tanggal untuk operasi pun ditentukan. 

Tapi mujizat terjadi kembali. Pada hari yang sudah disepakati untuk operasi, pendarahan itu berhenti. Saya merasa gembira dan amat yakin bahwa Tuhan sudah menyembuhkan saya. Namun untuk lebih memastikan, saya memeriksakan diri kepada dokter yang sedianya akan mengoperasi saya. Dokter itu juga merasa heran karena tumor itu telah mengecil. Ia mengatakan bahwa sementara ini operasi tidak perlu dilakukan. 

Sejak itu sakit perut dan pendarahan yang saya alami berhenti sama sekali berkat kasih karunia-Nya. Karena itu saya tidak berani lagi menjauhi ibadah dan meninggalkan Tuhan. Pada Kebaktian Kebangunan Rohani tahun 1985, saya memperoleh Roh Kudus yang sangat saya rindukan. Saya merasa sangat bersukacita dan bertambah yakin dan percaya bahwa Tuhan Yesus yang saya sembah adalah Allah yang hidup, yang dapat menyembuhkan segala penyakit yang bagi manusia mustahil disembuhkan. Saya tidak dapat membalas kasih Tuhan yang begitu besar kepada saya. Semoga melalui kesaksian ini, nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Amin.


Lam Sim Mey - Bandung, Indonesia

Rabu, 25 September 2019

RIRI PANJAITAN : SAYA MAU MENGAMPUNI PEMBUNUH PAPA

Kesaksian iman Riri Panjaitan, putri almarhum Jenderal D.I. Panjaitan. Bagaimana kisah tragis pembunuhan ayahnya menanam kebencian di dalam hatinya, serta bagaimana Allah bekerja di dalam hidupnya mendatangkan kelepasan.


Ketika itu pukul 3 pagi. Waktu terjadi pendobrakan pintu pertama kali, saya ada di dalam rumah, bersama keluarga. Saya sedang berada di dalam kamar. Dan tiba-tiba mereka meletuskan senapan dan menembak ke arah rumah kami. Selama beberapa saat peluru-peluru mereka menghujani rumah kami. Mereka masuk ke dalam rumah dan menyuruh ayah saya menemui mereka atau mereka akan meledakkan rumah kami. Saya ingat waktu itu ayah keluar dengan berpakaian militer lengkap sebagai angkatan darat.

Saya dengar ayah saya berbicara, rupanya ayah saya meminta waktu untuk berdoa. Saat itu ayah saya ditembak, diberondong dengan beberapa peluru. Lalu jenazah ayah diseret dan dilempar ke lubang yang dalamnya hampir 2 meter. Saya berlari ke depan dan saya melihat darah yang kental… Saya ingin pegang, saya ingin peluk papa saya tapi tidak ada… Sepertinya saat itu saya betul-betul mengalami kecewa, dan sungguh berat untuk seorang anak berumur 8 tahun seperti saya.

Marieke Panjaitan (Istri Mayjen Anumerta DI Panjaitan): Waktu itu Riri masih kecil sehingga dia belum mengerti arti kejadian itu. Tapi sesudah dia melihat banyak orang datang ke rumah, ada yang menangis juga, dan dia menjadi heran, apa yang sudah terjadi. Baru setelah itu dia tahu papanya sudah tidak ada lagi.

Saya merasa sangat kehilangan… Orang yang kita cintai diambil seperi itu, diseret seperti binatang, dibantai seperti binatang… Tapi saya tidak mendapat jawaban dari siapapun mengapa ini harus terjadi. Saat itu saya merasakan tidak adil, dalam hidup saya ada sesuatu yang tidak adil, dan itu yang berbekas di hati saya.

Saya bertambah besar dan peristiwa G30SPKI tahun 1965 itu semakin jauh saya tinggalkan, tapi tidak ada satu titik pun yang bisa saya lupakan. Saat-saat itu saya merasa begitu menderita, di dalam batin saya, sekalipun keadaan fisik saya baik sekali.

Marieke Panjaitan (Istri Mayjen Anumerta DI Panjaitan): Dulu dia selalu kelihatan gembira, karena setiap papanya pulang, selalu menemani anak-anak. Tapi setelah peristiwa itu dia jadi pendiam, dia merasakan pahitnya peristiwa itu. Dan sebagai orang tua saya merasakan penderitaan yang sama dengan dia.

Kalau saya melihat suatu persoalan yang tidak pada tempatnya, saya merasa seperti ada sesuatu yang tidak bisa saya tahan. Saya susah untuk bergaul dan saya susah untuk menyesuaikan diri, temperamental, sangat sulit sekali bagi saya untuk mengekspresikan apa yang saya inginkan, sulit sekali untuk saya merasa nyaman dan damai… Seperti mau berontak hanya tidak tahu mau berontak kepada siapa. Dan kalau saya ingat masa-masa itu, saya merasa ada kekejaman, ada ketidakadilan dan kekejian… saya merasa manusia itu jahat sekali ya…

Penampilan luar saya bisa menipu. Saya bisa tertawa, saya bisa hidup sehari-hari seperti anak-anak lain, gembira, tapi hati saya tidak bisa sembuh dari luka itu. Tidak ada obat yang bisa mengobati luka karena peristiwa itu terjadi dalam hidup saya.

Lalu saat saya pergi ke Eropa, saya bertemu dengan seorang teman yang bisa berbicara tentang Tuhan dengan sangat dalam. Saat itu mungkin saya sudah dijamah Tuhan tapi saya sepertinya tidak mengerti karena saya tidak mempunyai pengetahuan tentang Tuhan. Selama kurang lebih 4 tahun saya mencari, akhirnya saya bertemu dengan Tuhan secara pribadi.

Saat itu saya dalam puncak kesedihan saya dan saya menangis, saya putus asa dan ingin mati, Tuhan datang. Tiba-tiba saya lihat langit terbuka, dan terang itu masuk ke kamar. Saya takut, saya pikir saya sudah mati, karna saya minta mati maka saya mati. Saya lihat ada seseorang menghampiri saya dan Dia begitu besar, begitu terang… Dia merentangkan tanganNya dan berkata, “Riri, kau harus mengampuni, engkau harus memberikan pengampunan kepada orang-orang yang kamu benci.” Saya katakan tidak mungkin. Dia menjawab, “Ya mungkin. Karena jika engkau melepaskan pengampunan, maka Aku, Tuhan Yesus akan mengampuni engkau. Riri, apakah engkau mau mengampuni?”

Ketika Tuhan berkata seperti itu, maka seperti ada video dalam pikiran saya, peristiwa G30SPKI itu, saya melihat diri saya, saya melihat peristiwa itu terulang. Dan Tuhan bilang, “Jikalau engkau tidak mengampuni peristiwa itu, Aku tidak akan mengampuni engkau.” Lalu saya katakan,”Saya mau mengampuni, Tuhan. Saya mau mengampuni pembunuh papa…” Dan saya rasakan Tuhan bekerja di dalam kata-kata saya itu, Tuhan seperti masuk dalam batin saya yang terdalam, dan Dia cabut semua akar kebencian, kepahitan, amarah, dari dalam hati saya. Semua tercabut seperti akar wortel. Saya merasa damai masuk ke dalam hati saya dan saya merasakan… saya tidak pernah merasakan hidup seperti itu.

Saya sadar bahwa Tuhan sudah menampakkan diriNya. Dan sejak itu saya mulai hidup dengan bersukacita, tidak lagi bersedih-sedih… Dia sembuhkan saya, Dia baharui hati saya, Dia beri saya kuasa kebangkitan. Hidup saya sudah berubah, saya tahu tujuan saya, saya tahu ayah saya sudah duduk bersama Bapa di Sorga, tidak ada penyesalan, tidak ada kebencian, tidak ada akar kepahitan, tidak ada dendam, yang ada hanya damai sejahtera, ucapan syukur. Kiranya Tuhan boleh memakai saya untuk mereka yang membutuhkan kesaksian saya.

“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25)

Jumat, 20 September 2019

PDT. FAYE PAMA MUSA : AKU TIDAK AKAN PERNAH MENYANGKAL JURUSELAMATKU


NIGERIA, Borno (MP) – Laporan Open Doors, organisasi advokasi Kristen teraniaya, membuka kembali lembaran pahit keluarga mendiang Pdt. Faye Pama Musa yang ditembak mati oleh tiga orang bersenjata di kediamannya di Maiduguri, negara bagian Borno, Nigeria, 14 Mei 2013 lalu.

Sebulan setelah kejadian yang memiriskan hati ini, pengurus Open Doors disambut oleh ibu Mercy, janda dengan empat orang anak. “Yang kulihat hari ini adalah persahabatan sejati,” ungkapnya. 

“Bagaimana kau bisa datang ke Maiduguri pada saat berbahaya ini ketika orang-orang sedang meninggalkan kota? Kau disambut di sini dalam nama Yesus. Saya senang bertemu denganmu lagi.”

Pada peristiwa malam 14 Mei itu, Pdt. Musa, ibu Mercy dan sebagian dari anak-anak mereka sedang berada di rumah. Sementara ibu Mercy sedang mempersiapkan makan malam, Zion (17), remaja putri yang duduk di luar, melihat tiga orang bersenjata melompat pagar. Dia berlari masuk ke ruang tamu untuk mengingatkan ayahnya.

Pdt. Musa melirik melalui jendela dan melihat para pelaku sudah berada di pintu depan. Mereka menerobos masuk dan berteriak, "Semua orang di lantai!"

Pdt. Musa langsung menyadari mengapa orang-orang itu datang, dan mencoba meloloskan diri melalui pintu belakang dan melompati pagar. Tapi mereka berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke teras rumah. "Hari ini kau adalah orang mati. Panggil Yesusmu untuk membantumu, Mr CAN!"* teriak salah satu penyerang.

Pdt. Musa tidak menyerah tanpa perlawanan. Sementara bergulat dengan tiga orang itu, ia terus-menerus memanggil nama Yesus.

Saat itu Zion tidak bisa menanggung mendengar ayahnya. Dia bangun dari lantai dan lari ke teras. Dia memohon para penyerang untuk tidak membunuh ayahnya. Mereka melepaskan tembakan ke arahnya tapi luput. Namun, syok membuatnya pingsan.

Pergumulan terus berlanjut. Ibu Mercy mendengar suaminya berkata, "Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku." Saat ia merangkak ke pintu, ia melihat penyerang menembak suaminya tiga kali di bagian kepala. Pdt. Musa meninggal di tempat, dan para penyerang kabur dengan sebuah mobil.

Pdt. Musa tidak hanya memiliki teman di kalangan orang Kristen. Banyak saudara-saudara Muslim menyatakan syok dengan kematiannya. Seorang pejabat keamanan Muslim terkemuka mengutuk keras pembunuhan itu. Ia mengatakan, "Pdt. Faye Pama Musa adalah seorang duta perdamaian. Aku akan merindukan pria Kristen ini yang adalah berkat dan aset besar bagi masyarakat ini."

Pdt. Musa meninggalkan seorang istri, ibu Mercy, dan empat orang anak: Winner (19), seorang mahasiswa di Universitas Ghana, Zion (17), seorang siswa sekolah menengah, Praise (11), dan Miracle (6), kedua masih murid pendidikan dasar. Saat ini Open Doors menopang dengan bantuan moneter untuk kebutuhan mendesak seperti sewa dan biaya sekolah.

"Terima kasih untuk tetap menaruh kami dekat dengan hati kalian," ungkap ibu Mercy. "Terima kasih untuk pemberian ini. Tetapi di atas semuanya, terima kasih untuk cinta kalian untuk keluarga saya. Semoga Tuhan yang baik semakin mempersatukan kita."


Alm. Pdt. Musa, selain sebagai Pengawas Umum Rhema Assembly International Church, beliau adalah juga Sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN).
Doakan masyarakat Nigeria, terutama orang Kristen, yang masih terus menghadapi kekerasan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh para teroris. Darah para martir adalah pupu

COPAS : menarapenjaga.blogspot.com

Minggu, 15 September 2019

KISAH NYATA : PRIA BUTA YANG BISA SELESAIKAN S3


Akibat kecelakaan saat bermain bola, Tri Bagio yang saat itu masih kecil dinyatakan dokter harus dioperasi. Namun, setelah dioperasi, matanya malah tidak bisa melihat lagi.

"Ketika saya tidak melihat, serasa dunia ini menjadi runtuh, tidak ada pengharapan lagi. Semuanyatotally musnah," ujar Tri.

Kebutaannya membuat Tri tidak merasa nyaman, dia merasa sebagai kelompok yang terpinggirkan. Yang ada di dalam pikirannya kemudian, dia tidak tahu lagi apa tujuannya untuk hidup. Dia pun mengambil keputusan bulat untuk bunuh diri.

Di dekat rumahnya, ada sebuah sumur, di sanalah ia memutuskan untuk mengakhiri hidup. Tetapi ketika dia hendak melompat, tetangganya memergoki dia dan menyelamatkannya. Tetangganya itupun menasihati dia untuk tetap semangat. Singkat cerita, Tri merasa dibangkitkan semangatnya untuk terus hidup.

Dia pun belajar dengan serius, apalagi di sekolah umum tidak tersedia sarana bagi penyandang tunanetra sehingga Tri harus bekerja keras dan bergantung penuh pada pertolongan teman-temannya yang mau membacakan materi pelajaran.

Hasilnya berbuah manis. Dia lulus jenjang SMA, dan dapat meneruskan pendidikannya ke universitas. Namun dia pernah gagal dalam suatu mata kuliah karena tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Salah satu teman wanitanya pun menawarkan untuk menjadi pembaca tetapnya. Itu sangat membantu Tri, sampai akhirnya ia lulus dari mata pelajaran itu.

Persahabatan yang tulus itu akhirnya berkembang menjadi sebuah hubungan asmara. "Saya menganggap dia sosok yang bisa mengganti penglihatan saya. Ketika saya tidak bisa melihat, dia bisa menggantikan hal itu. Dia bisa menjadi tongkat, dia bisa menjadi penolong saya."

Namun suatu hari, kekasih Tri memutuskan agar mereka berpisah karena ditentang oleh keluarga wanita.

"Saya sempat juga bertanya pada Tuhan : Kenapa sih Tuhan ini terjadi pada saya? Kalau saja saya bukan tunanetra, saya tidak akan mengalami hal seperti ini."

Tiga hari lamanya Tri mengurung diri dengan rasa kecewa sampai dia mendengar sebuah lagu di radio yang sedang dibukanya.

"Tuhan berbicara di syair lagu itu, dan betul-betul saya kena. Di situ saya terbangun. 'Kenapa hanya masalah itu saja kok kamu terpuruk, kamu jatuh.' Saat itu saya mengevaluasi diri, saya merefleksikan kenyataan yang saya alami dengan kata-kata di lagu itu dan saya bangkit. Saya berdoa dan tidak akan menyalahkan diri saya. Saya ingin bangkit, saya ingin menjadi Tri yang berbeda."

"Saya menangkap Tuhan berkata bahwa saya tidak boleh mengandalkan manusia, karena rancangan manusia itu belum tentu rancangan Tuhan, rancangan saya juga belum tentu rancangan Tuhan. Jadi saya harus memahami, ketika Tuhan punya rancangan, mungkin tidak enak buat saya, tapi rancangan Tuhan itu indah pada waktunya, pasti menyenangkan."

Berkat kegigihannya, dia dapat menyelesaikan gelar S1-nya, bahkan saat ini dia tengah menyelesaikan gelar S3-nya.

"Kebutaan bukan akhir dari semuanya. Saya bersyukur juga, ketika saya boleh mengalami hal itu, saya nilai bahwa Tuhan ijinkan history saya kenal dengan Dia, ada perubahan, ada motivasi, ada pengharapan, ada rancangan ke depan membangun cita-cita."

Judul asli: Kisah nyata pria buta yang bisa selesaikan S3

Selasa, 10 September 2019

KESAKSIAN BILLY GLEN : KAU TIDAK MEMBIARKANKU TENGGELAM DALAM LUMPUR DOSA

Ketika Billy Glen menjauh dari Tuhan, kesuksesan membawanya pada kehancuran hidup. Namun teguran Tuhan membawanya kembali ke jalan yang mendatangkan hidup. 



Aku lahir dari sebuah keluarga yang sangat taat pada Kristus. Sejak kecil aku rajin ke gereja dan ibuku selalu menanamkan dasar-dasar iman Kristus kepadaku.
Tahun 1995, pada suatu kesempatan yang luar biasa, aku mengikuti sebuah ajang pemilihan top model di Bandung. Selama proses audisi, aku selalu berdoa pada Tuhan meminta agar aku keluar sebagai pemenangnya. Dan ternyata Tuhan memang baik, Ia menjawab doaku. Aku terpilih menjadi juara pertama.

Setelah memenangkan ajang tersebut, kesempatanku untuk masuk ke dunia model semakin besar. Perjalanan karierku sebagai seorang model berjalan dengan sangat lancar. Aku percaya bahwa ini semua berkat pertolongan Tuhan dan aku selalu menyempatkan waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Karierku semakin berkembang, banyak job dari Jakarta. Situasi ini membuatku memutuskan untuk tinggal di sana saja.
Meraih Kesuksesan
Ternyata di Jakarta karierku berkembang dengan sangat baik. Bahkan aku mulai memasuki dunia akting sinetron. Dengan berbekal pengalaman di bidang taekwondo yang sejak kecil digeluti, aku berhasil menapaki dunia akting dengan peran pertamaku sebagai peran pembantu utama. Aku pun berhasil mendapatkan peran dalam film layar lebar yang sangat terkenal saat itu, Ca Bau Kan. Disaat teman-temanku harus berjuang keras dalam dunia entertainment ini, jalanku justru sangat mulus.

Aku sangat merasakan kemurahan Tuhan yang luar biasa dalam hidupku. Tahun 2002, aku mendapat peran utama dalam sebuah sinetron yang terkenal. Saat itulah aku meraih titik puncak kesuksesanku dan mendapatkan kontrak yang bernilai sangat besar.
Melupakan Tuhan
Namun, kemurahan Tuhan dan kesuksesanku itu justru membuatku semakin menjauh dari Tuhan. Kesibukanku justru membuatku tidak memiliki waktu untuk berdoa dan mendekat padaNya. Aku mulai merasa mampu hidup tanpa Dia. Aku benar-benar membuang Tuhan jauh-jauh dari hidupku. Saat itulah, kuasa kegelapan mulai masuk dalam hidupku. Aku mulai terbawa arus pergaulan yang buruk. Diskotik, minuman keras, bahkan jenis narkoba seperti extacy, ganja, kokain, dan shabu-shabu selalu ada di setiap hari-hariku. Honor dari pekerjaanku itu kuhabiskan untuk berfoya-foya sehingga aku pun terjerumus dalam pergaulan seks bebas.

Tertangkap Polisi
September 2002, aku tertangkap polisi. Ketika baru saja pulang dari syuting sebuah sinetron, aku meminta temanku untuk membelikan sejenis narkoba. Polisi ternyata telah mengincar temanku itu sehingga ia tidak bisa melarikan diri lagi. Setelah ditangkap, atas pengakuannya polisi memintanya untuk menjebakku. Seperti yang telah mereka rencanakan, akhirnya aku pun ditangkap dan harus menjalani masa tahanan selama 8 bulan.

Dalam situasi ini kesombongan masih kuat menguasaiku sehingga aku tidak menyadari kesalahan, sebaliknya malah selalu mempersalahkan Tuhan. Sebagai seorang artis yang sudah dikenal, aku sering menerima pujian. Tetapi semuanya berubah menjadi hinaan karena tindakan kriminalku ini. Walaupun aku tahu bahwa narkoba itu tidak baik bagi masa depanku, tetapi keterikatanku dengan obat jahat itu membuatku terus mengkonsumsinya sekalipun berada dalam penjara.

Bebas dan Tertangkap Lagi
Setelah masa 8 bulan tahanan itu selesai, aku kembali mulai merintis karierku di dunia sinetron. Namun kesombongan itu tetap mengendalikan pikiranku. Aku sama sekali tidak tergerak untuk bertobat, justru semakin kecanduan dengan obat-obatan. Akhirnya, aku boleh dikatakan menjadi lebih bodoh dari orang bodoh…karena orang bodoh pun tidak akan masuk ke lubang yang sama. Pukul 12 malam itu, ketika sedang berpesta drugs di sebuah tempat di kota Bekasi, bersama teman-teman pecandu, polisi pun mengetahui aksi kami ini dan kami pun digelandang ke tahanan setempat. Aku harus mendekam lagi selama 7 bulan di penjara Bulak Kapal Bekasi.

Ingat Tuhan?
Dalam penjara, pengalaman memalukan ini membuatku merenungkan kasih Tuhan yang besar dalam hidupku. Di saat aku meninggalkanNya, Ia tidak membiarkanku terjebak terus-menerus dalam jurang dosa, justru berusaha menegurku bahkan sampai 2 kali agar aku berbalik kembali kepada jalanNya. Akupun teringat tulisan dalam Wahyu 3: 9 yang mengatakan “Barangsiapa Kukasihi, ia kuhajar. Sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Aku langsung menangis histeris dan menyadari bahwa Tuhan begitu baik bagiku.

Walaupun aku telah menjauh dariNya, bahkan seringkali menyalahkanNya, namun Ia tidak pernah meninggalkanku dan tetap mengakuiku sebagai anakNya. Ia ingin agar aku bertobat sebelum semuanya terlambat. “Tuhan, Engkau sangat baik bagiku. Kau tidak membiarkanku tenggelam dalam lumpur dosa. Kau tidak membiarkan narkoba itu merenggut nyawaku dan membawaku ke dalam kematian.

Terima kasih untuk kesempatan ini. Aku ingin menjadi hambaMu yang taat dan setia di dalam Engkau…” Saat itu aku benar-benar bertobat. Yang berbeda dalam masa tahananku kali ini ialah, sebelumnya aku ditahan dengan rasa kekuatiran dan kemarahan, namun kali ini aku lebih banyak mengucap syukur dan berusaha untuk menjalani dengan sukacita hari-hari dalam tahanan itu sampai akhirnya, 31 Desember 2005, aku selesai menjalani masa tahananku.

Titik balik kehidupanku
1 Januari 2006, hari yang paling bersejarah untukku karena hari itu aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan Tuhan Yesus yang akan terus menuntunku dalam tiap langkahku. “Tuhan, ajar aku melakukan segala yang Kau inginkan untuk aku jalani dalam hidupku ini…” pintaku kepadaNya.
Sebagai jawaban doaku, Ia menempatkanku dalam sebuah komunitas rohani di daerah Kelapa Gading. Dan aku juga kembali memulai karierku di dunia entertainment dengan cara hidupku yang baru dalam Kristus. Aku juga ambil bagian dalam pelayanan untuk menyaksikan betapa besar kasihNya bagiku karena Ia telah menghajar dan menegurku saat aku hampir tenggelam dalam lembah maut demi menyelamatkan hidupku.

Lingkungan pergaulanku yang baru ini juga membuatku merasa sangat damai dan tentram. Ada sukacita yang kurasakan dalam hari-hariku, yang tidak pernah kurasakan sebelumnya ketika aku masih hidup dalam kenikmatan dunia. Hal yang membanggakan bagiku ialah, melalui pertobatan dan pemulihanku ini, ayahku yang dulu belum sungguh-sungguh di dalam Tuhan kini mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen sejati.

Kamis, 05 September 2019

MATA DI BELAKANG KEPALA

Dari tempat kediaman-Nya [Allah] menilik semua penduduk bumi. —Mazmur 33:14
Mata di Belakang Kepala
Semasa kecil, seperti lazimnya anak-anak lain yang seusia, saya sering nakal dan berusaha menyembunyikan kenakalan itu agar tidak dimarahi. Namun, ibu saya biasanya langsung tahu apa yang telah saya perbuat. Saya ingat betapa kagumnya saya kepadanya karena dengan cepat ia mengetahui ulah saya. Ketika saya heran dan bertanya bagaimana ia bisa tahu, ibu saya selalu menjawab, “Ibu punya mata di belakang kepala.” Tentu saja, jawaban itu membuat saya penasaran dan mengamati kepala ibu saya setiap kali ia berbalik membelakangi saya. Saya bertanya-tanya, apakah matanya tidak terlihat atau tertutup oleh rambut merahnya? Setelah besar, saya berhenti mencari bukti sepasang mata tambahan ibu saya sembari menyadari bahwa ternyata saya memang tidak selihai yang saya kira. Pengamatan ibu saya yang jeli menjadi bukti kasih dan perhatiannya kepada anak-anaknya.
Walaupun sangat mensyukuri perhatian ibu saya (meskipun kadang-kadang kecewa karena ulah nakal saya selalu ketahuan), saya jauh lebih bersyukur kepada Allah karena Dia “melihat semua anak manusia” pada saat memandang kita dari surga (Mzm. 33:13). Dia tidak hanya melihat perbuatan kita; tetapi lebih daripada itu, Dia melihat kesedihan kita, sukacita kita, dan kasih kita kepada satu sama lain.
Allah melihat karakter kita yang sejati dan selalu mengetahui dengan tepat apa yang kita perlukan. Dengan pandangan-Nya yang sempurna, yang melihat jauh sampai ke kedalaman hati kita, mata Allah tertuju kepada mereka yang mengasihi-Nya dan yang berharap penuh kepada-Nya (ay.18). Dialah Bapa kita yang penuh perhatian dan kasih setia. —Kirsten Holmberg
WAWASAN
Paralelisme adalah teknik sastra yang berupa pengulangan—baik kalimat senada maupun yang bertentangan—untuk menekankan atau memperjelas pesan yang hendak disampaikan. Dalam Mazmur 33, penulis memakai teknik sastra puisi Ibrani ini untuk menegaskan kuasa dan kepedulian Tuhan pada umat-Nya. Dalam ayat 6, Firman Allah sebagai Pencipta digambarkan dengan istilah yang sama yaitu “firman TUHAN” dan “nafas dari mulut-Nya.” “Surga” dan “tentaranya” juga merupakan istilah dengan pengertian serupa. Paralelisme juga membantu untuk mengetahui makna suatu ungkapan, misalnya: ”Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia!” (ay. 8). Dalam ayat ini, jelas bahwa yang dimaksud dengan “takut akan Tuhan” adalah menghormati-Nya dan “gentar terhadap Dia.” —Arthur Jackson
Apakah kamu terhibur karena mengetahui bahwa Allah melihat segala sesuatu dan selalu memperhatikanmu? Apa yang sedang dikerjakan-Nya untuk membentuk karaktermu belakangan ini?
Ya Bapa, terima kasih karena Engkau senantiasa memperhatikan umat-Mu dan selalu mengetahui apa yang terjadi di dunia dan di dalam hidupku.
COPAS : warungsatekamu.org