Rabu, 30 Oktober 2019

TUHAN MENJAGA RUMAH KAMI

Pemazmur mengingatkan dirinya sendiri, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” Saat sekarang ini, menjalani kehidupan yang sedemikian sibuk, kita membutuhkan peringatan ini juga karena mudah bagi kita untuk melupakan kasih karunia Tuhan dan rasa syukur kepada-Nya. Saat kita terlepas dari bencana besar, kita melihatnya sebagai penyelamatan dari Tuhan. Padahal bagaimana dengan kejadian sehari-hari yang kadang kala kita cenderung melihatnya sebagai suatu kebetulan belaka? Sampai sejauh mana kita benar-benar menghitung berkat-berkat Tuhan?

Di sini, pemberi kesaksian ini mengingat kasih Tuhan yang secara terus-menerus diberikan kepada keluarganya. Apakah Anda juga akan melakukan hal yang sama jika Anda berada pada posisinya?

"Suatu hari, saya berada di dapur rumah baru kami, saya sedang memasak sepanci makaroni ketika bel pintu berbunyi. Saya berjalan ke pintu depan dan melihat salah satu tante saya dan keluarganya datang mengunjungi kami. Karena terlalu bersemangat untuk bertemu dengan mereka, saya bergegas keluar ke teras depan untuk menyambut mereka. Tiba-tiba ada hembusan angin yang kuat dan saya mendengar pintu depan terbanting di belakang saya! Ketika saya menyadari bahwa saya tidak membawa kunci pintu, saya mulai panik. Kompor gas berada di posisi maksimum untuk memasak makaroni, dan anak saya yang berumur tiga tahun berada di ruang dekat dapur sedang bermain. Bagaimana jika air di panci kering? Bagaimana jika anak saya berjalan ke dapur? Saya tidak berani memikirkan akibatnya.

Buru-buru, tamu saya dan saya melakukan berbagai upaya untuk masuk ke dalam rumah tapi kami tidak berhasil. Ketika tampaknya semua cara telah kami lakukan, saya memutuskan untuk berdoa kepada Tuhan. Sekali lagi, hati Tuhan tidak berpaling dari permohonan saya.

Pada saat genting ini, pemilik rumah sebelumnya kebetulan berada di lingkungan kami dan mampir untuk memberitahukan kepada kami bahwa dia masih berutang satu set kunci pintu. Ketika ia mendengar masalah saya, dia bergegas pulang untuk membawakan saya cadangan set kunci tersebut, Dengan kunci tersebut, saya bisa masuk ke dalam rumah dan dengan cepat mematikan kompor gas. Puji Tuhan, panci air tidak kering, dan anak saya tidak terluka.

Segala kemuliaan bagi nama Tuhan.”

Jumat, 25 Oktober 2019

DARI HANYA MENDENGAR TENTANG ALLAH HINGGA MELIHAT TUHAN

Qin Ru Wang—Fuqing, China

IMAN TURUN MENURUN

Dalam nama Yesus, saya bersaksi tentang bagaimana saya menemukan iman saya kepada Tuhan. Saya sangat bersyukur bahwa saya dapat tumbuh dalam keluarga Gereja Yesus Sejati. Keluarga saya percaya pada gereja sejati melalui kakek-nenek saya.

Kakek saya dulunya adalah seorang pendeta dari gereja Metodis di Cina, tapi percaya pada Gereja Yesus Sejati setelah ia mendengar tentang ajaran gereja yang benar dan disembuhkan dari penyakit yang sudah lama di deritanya pada tahun 1926. Kemudian, kakek-nenek saya harus menderita banyak penganiayaan dan kesulitan untuk percaya kepada Injil yang benar, tapi mereka masih memegang teguh iman mereka.

Saya dibaptis saat bayi, dan ketika saya berumur satu minggu, saya menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan, juga dikenal sebagai Black Death di Dunia medis Barat. Itu adalah penyakit yang mengerikan, dan terkadang seluruh desa akan habis oleh wabah ini. Orang tua saya akan melakukan apa pun untuk melihat saya disembuhkan. Namun, dokter tidak bisa berbuat apa-apa, dan dia mengatakan kepada orang tua saya bahwa tidak ada yang bisa dilakukan dan bahwa mereka harus kembali ke rumah.

Kemudian Orang tua saya ingat bahwa mereka telah lupa untuk mengandalkan Tuhan dan mereka perlu meminta Belas kasihan Tuhan. Mereka kemudian membawa saya ke sebuah kapel terdekat di mana ada seorang pekerja gereja yang berusia lanjut. Mereka menempatkan saya di tempat tidur pekerja ini, dan mereka bertiga berdoa sepanjang malam.Pada pagi harinya, saya telah sembuh.

APAKAH ALLAH BENAR-BENAR ADA?

Pada tahun 1956, Gereja di daratan Cina berhenti mengadakan kebaktian dan tidak bisa melakukan kegiatan gereja. Tumbuh di bawah pemerintahan komunis dengan pendidikan atheis, aku bersifat masa bodoh dan lemah dalam iman. Ketika orang tua saya meminta saya untuk berdoa, saya berdoa, dan ketika saya menghadapi kesulitan, saya akan berdoa juga. Namun saya mempertanyakan keberadaan Tuhan dalam hati saya.

Selama Revolusi Kebudayaan di China, seluruh keluarga saya mengalami penderitaan yang berat. Ayah saya dulu seorang dokter gigi terkenal di Fuqing, dan saya dulunya bekerja untuk pemerintah, tapi kami tidak diizinkan untuk melanjutkan pekerjaan kami seluruh keluarga dibawa ke bukit untuk menjadi petani. Hidup kami sangat keras waktu itu, dan keraguan muncul dalam hati saya; dalam doa saya bertanya " Tuhan, jika Engkau benar-benar ada, mengapa keluarga saya harus melalui begitu banyak penderitaan" ?

AIR YANG MENJADI OBAT

Hidup sebagai petani terasa sulit dan ketika istri saya jatuh sakit, kami tidak punya uang untuk mengobatinya, dan ia harus tinggal di rumah selama dua hari. Suatu hari ketika saya kembali dari lereng bukit, ibu memberitahu ayah bahwa dia ingin mengambil air untuk istri saya dan berdoa sebelum ia meminumnya agar Allah menyembuhkannya. Ayah setuju, lalu ibu mengambil cangkir, mengisinya setengah penuh dan pergi ke kamar saya. Orangtua saya dan saya kemudian berdiri di depan tempat tidur dan mulai berdoa. Setelah berdoa, ayah saya memberi cangkir kepada saya dan menyuruh saya untuk memberikannya ke istri saya. Ketika saya menerima cangkir tersebut, saya mencium aroma obat yang kuat. Orang tua saya pergi, dan saya memberikan cangkir itu kepada istri saya. saya bertanya istri saya bagaimana perasaannya saat ia meminumnya. Dia bertanya mengapa air tersebut memiliki rasa obat yang kuat meskipun tidak ada obat apapun di rumah kami. Istri saya kemudian sembuh. Keajaiban ini memungkinkan saya untuk merasakan Tuhan secara pribadi untuk pertama kalinya dalam hidup saya.

IBLIS DIUSIR

Keajaiban tak terlupakan lainnya terjadi ketika seorang saudara datang ke rumah dan mengetuk pintu di suatu malam. Saya menanyakan apa yang ia butuhkan dan ia meminta ayah untuk berdoa bersama di rumahnya. Jadi ayah dan saya mengambil senter dan diikuti saudara ini. Ketika kami sampai di rumahnya, kami melihat istrinya menari dan bernyanyi. Saya takut karena saya pikir bahwa dia pasti mengalami cacat mental. Saya bertanya-tanya apakah doa akan membantu orang sakit seperti itu dan mungkin lebih baik baginya untuk dikirim ke rumah sakit jiwa.

Ayah menanyakan keluarganya bagaimana saudari itu menjadi seperti ini, dan mereka mengatakan kepadanya bahwa dia bertengkar dengan suaminya malam itu dan telah membuka peluang untuk Iblis. Selanjutnya, ayah saya memerintahkan mereka untuk berlutut dan berdoa. Saya juga berlutut saat berdoa. Namun, saya tidak berani menutup mata saya sepenuhnya karena saya takut bahwa pasien cacat mental ini akan menyerang kita. Saya ingin melihat apa yang akan dia lakukan.

Setelah doa, ayah saya berdiri dan berjalan ke saudari tersebut, mengangkat tangannya dan berkata, "Dalam nama Tuhan Yesus Kristus,mengusir Iblis!" Dengan Segera, saudari tersebut menjadi tenang, membuka matanya dan menatap kami, bertanya, "Apa yang kamu lakukan di rumahku pada tengah malam?" Seluruh Keluarganya tertawa setelah itu. Ayah saya mendorong mereka untuk menjaga keharmonisan dalam rumah bukannya menimbulkan pertengkaran, agar tidak membuka peluang untuk iblis.

TUHAN ITU ADA!

Setelah itu, kami pulang. Kejadian tersebut menyentuh hati saya begitu dalam. Orang kerasukan Iblis ini bisa dibebaskan dari Iblis melalui doa, yang merupakan hal yang mustahil bagi manusia, tapi hanya dengan kuasa Allah. Kejadian ini menunjukkan bahwa, ketika kami pergi ke rumah saudara ini untuk berdoa, Tuhan Yesus juga ada disana untuk berdoa bersama kami. Dia yang membuat keajaiban ini terjadi. Malam itu, saya begitu terharu sampai saya tidak bisa tertidur.

Keesokan harinya, saya berpuasa dan berdoa selama sehari dan berkata kepada Tuhan, "Saya sekarang merasakan kehadiranMu. Seseorang yang kerasukan Iblis membuktikan bahwa ada tempat seperti neraka, dan fakta bahwa Iblis diusir melalui doa membuktikan keberadaan Tuhan dan surga. Saya tidak ingin pergi ke neraka, tapi saya ingin masuk surga. Semoga Tuhan mengasihani saya sehingga saya tidak akan pernah meninggalkanNya sepanjang hidup saya. "

Setelah Revolusi Kebudayaan mereda, Semua saudara saya dibaptis dalam Kristus, dan kasih karunia Allah datang kembali atas keluarga saya. Orang tua saya melanjutkan profesi mereka yang dahulu. Meskipun saya diberi kesempatan untuk kembali ke pekerjaan saya yang dahulu, saya takut untuk kembali karena saya merasa bahwa saya adalah orang yang lemah dan saya akan kehilangan iman dan kehidupan rohani saya setelah kembali ke dunia. Ketika tahun 1970-an datang dan Revolusi Kebudayaan akan segera berakhir, gereja secara bertahap kembali mengadakan kebaktian dan, melalui bimbingan Allah, gereja mulai bertumbuh dan bertambah makmur.

MENEMUKAN CINTA DALAM GEREJA

Sejak pemerintahan Mao ,seluruh keluarga saya mengalami penganiayaan selama Revolusi Kebudayaan, banyak kerabat dan teman-teman kami takut untuk berkomunikasi dengan kami. Serupa dengan penderita kusta dalam Perjanjian Lama, orang menjauhi kami karena dengan memiliki hubungan yang dekat dengan kami akan mempengaruhi masa depan keluarga mereka. Dengan demikian, banyak dari mereka menolak untuk berinteraksi dengan kami selain saudara perempuan saya beserta suaminya.

Meskipun hal ini sangat menyedihkan, saudara dan saudari dari gereja terus mengunjungi kami, mendorong ayah saya, dan berdoa bagi kita. Melalui peristiwa ini, saya menemukan cinta sejati di dalam gereja. Cinta yang ditemukan di dunia ini adalah cinta yang bersyarat- hanya kasih Allah tidak bersyarat. Saya sangat terharu bahwa saya telah menemukan sebuah gereja yang indah, rumah Allah. Mengapa saya harus kembali ke dunia? Dunia ini tidak stabil dan bergejolak, tetapi saya telah menemukan tempat perlindungan di gereja yang benar, sehingga jiwa saya mendapatkan kedamaian. Melalui pilihan Allah, dan dorongan dari orang tua saya, saya mulai melibatkan diri dalam pelayanan gereja, yang memungkinkan saya untuk mengalami lebih banyak mukjizat dan berkat yang memperkuat iman saya.

MALAIKAT MELAKUKAN OPERASI

Kesaksian-kesaksian ini tidak ada habisnya, tapi saya ingin membagikan dua dari mereka. Ada seorang bernama Tuan Lin di desa saya yang menyembah berhala. Pada tahun 1991, ia menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan, sebuah tumor di lehernya, dan ia dikirim ke rumah sakit terbaik di Fujian untuk pengobatan. Tapi dokter yang melakukan operasi untuknya akhirnya tidak berani untuk mengangkat tumor tersebut. Setelah itu, ia kembali ke rumahnya dengan perasaan sangat sedih. Orang ini baru berusia tiga puluhan, dan keluarganya sangat miskin. Dia menganggap bahwa ia hanya bisa menunggu ajalnya.

Suatu hari, seorang saudari dari gereja kami mengunjunginya, dan ia dan istrinya yang menangis karena merasa bahwa ia tidak punya harapan lagi. Lalu saudari ini memberitahu mereka bahwa meskipun tidak ada harapan di dunia ini, kita masih memiliki harapan di dalam Tuhan Yesus yang merupakan dokter terhebat; tidak ada yang mustahil dihadapan-Nya. Dia berbagi banyak kesaksian tentang bagaimana pasien dengan penyakit parah telah disembuhkan. Setelah mendengarkan kesaksian ini, orang itu sangat tersentuh dan ingin percaya pada Yesus. Istrinya datang ke gereja, dan gereja melihat bahwa istrinya sangat tekun bersungguh-sungguh, lalu gereja mengirim tiga pekerja gereja ke rumah tuan Lin untuk menghapus semua berhala dan untuk berdoa dan berpuasa baginya selama tiga hari.

Suatu hari, beberapa hari setelah mereka pergi, tuan Lin sedang dalam keadaan setengah tertidur di tempat tidurnya, dan istrinya dan putri berada di samping tempat tidurnya,menjahit selimut. Saat ia setengah tertidur, ia melihat dua orang berpakaian putih, seperti dokter, berjalan ke rumahnya. Tiba-tiba ia terbangun dan mengatakan kepada istrinya apa yang telah dilihatnya.

Semenjak istrinya telah mendengar banyak kesaksian tentang bagaimana orang telah disembuhkan, dia langsung berterima kasih kepada Tuhan, mengatakan bahwa Allah telah mengutus dua malaikat ke rumah mereka untuk menyembuhkan suaminya. Dia menyuruh suaminya berlutut, berdoa, dan menghadap dinding dengan kemeja tidak dikancing, sehingga malaikat bisa melakukan operasi. Seluruh keluarga beranggotakan tiga orang tersebut terus dalam doa, dan setelah tuan Lin berdoa, dia tertidur, dan dua malaikat muncul lagi. Dia merasa bahwa para malaikat sedang melakukan operasi di lehernya untuk mengangkat tumor. Setelah itu, mereka mendudukkannya di tempat tidurnya dan menunjukkan tumor tersebut, mengatakan kepadanya bahwa ia telah sembuh. Ketika ia terbangun, ia melihat bahwa istri dan putrinya yang masih berdoa. Dia berseru, "Para malaikat telah menyelesaikan operasi!" Mereka sangat kagum karena ada noda darah di lehernya dan di kerahnya. Sebelum operasi itu, ia tidak bisa menggerakkan lehernya dan menurunkan kepalanya untuk makan, tapi malam itu ia bisa menggerakkan kepalanya dengan bebas.

Kemudian, ia pergi ke gereja Gaoshan di Provinsi Fujian untuk memberikan kesaksian. Sabat itu, saya kebetulan berada di gereja Gaoshan untuk memberikan khotbah. Sabat berikutnya, ia pergi ke gereja lain di daerah itu, gereja Sanshan, untuk memberikan kesaksian ini, dan, sekali lagi, saya kebetulan berada di sana juga. Setelah ia bersaksi, saya bertanya baju apa yang dia pakai selama operasi. Dia menjawab bahwa itu adalah baju yang sama ia kenakan saat berada di Gaoshan, karena itu kemejanya yang paling bagus. Saya diminta untuk melihat kemejanya, dan ia berkata bahwa ia telah mencuci bajunya dua kali, tapi noda darah masih terlihat. Saya mengatakan kepadanya untuk tidak mencuci baju ini lagi, tetapi menyimpannya sebagai kesaksian.

Sejak tahun 1991, lebih dari dua puluh tahun telah berlalu, dan saudara Lin masih sangat sehat. Dia kemudian menawarkan rumahnya sebagai tempat ibadah, dibangun rumah lain, dan memungkinkan gereja untuk membangun sebuah kapel di atas bekas rumahnya.

ROH KUDUS BEKERJA DENGAN LUAR BIASA

Mulai dari tahun 1991, Roh Kudus terus menggerakkan orang untuk datang ke gereja kami untuk mempelajari Alkitab dan mendengarkan firman Allah, terutama siswa yang berasal dari Nanjing Union Theological Seminary. Pada tanggal 1 Maret 1993, lebih dari empat puluh orang dibaptis di Nanjing dan selanjutnya, gereja didirikan.

Pada bulan Mei, banyak pencari kebenaran datang ke gereja kami. Mereka sangat lapar dan haus akan Roh Kudus, tetapi karena tidak ada pengkhotbah, roh jahat mulai bekerja di antara mereka. Di bulan yang sama, saya pergi ke Nanjing dengan pengkhotbah lain, dan setelah mengajar mereka bagaimana untuk membedakan roh, pekerjaan Iblis cepat berakhir.

Ketika kami melakukan baptisan kedua di Nanjing, kami membaptis tiga kali sehari- pagi, sore, dan malam sebelum Perjamuan Kudus; orang-orang terus datang untuk meminta untuk dibaptis. Dengan demikian, Roh Kudus bekerja secara luar biasa, dan setiap malam orang akan menerima Roh Kudus. Bahkan mereka yang pertama kalinya datang untuk mendengarkan juga menerima Roh Kudus. Tidak ada kapel pada saat itu, dan kami berkumpul di rumah seorang saudari. Kami tidak takut untuk berdoa keras, dan setiap malam, kami katakan kepada mereka untuk mengecilkan suara mereka. Selama baptisan kedua, lebih dari empat puluh orang dibaptis.

SEORANG LUMPUH BERJALAN

Suatu malam, setelah kebaktian, beberapa mahasiswa teologi mendekati kami dan kami berbicara sampai sekitar 22:30 ketika mereka harus kembali ke sekolah.Saya mengundang mereka untuk berdoa bersama sebelum mereka pergi.Saat kami hendak berdoa, seorang saudari yang sudah tua, bernama Suster Wang, bergabung dengan kami. Dia berusia enam puluh delapan tahun. Karena ia telah mengalami kecelakaan mobil sebelumnya, kedua kakinya hancur, dan dia menggunakan dua penopang untuk berjalan. Ketika ia melihat bahwa kami ingin berdoa, dia meminta kami untuk berdoa baginya, sehingga ia tidak lagi perlu berjalan dengan penopang dan mampu pergi keluar dan berkhotbah. Karena dia meminta kami, saya tidak ingin menolak permintaannya. Dia tidak bisa berlutut, jadi saya memberi kursi saya kepadanya.

Lalu saya berlutut untuk berdoa dengan pendeta dan mahasiswa teologi yang lain. Saya berdoa kepada Tuhan, mengatakan "Tuhan, gereja Nanjing didirikan oleh Anda. Saya tidak datang ke sini pada kemauan saya sendiri, tetapi Anda telah membawa saya di sini. Tolong wujudkan kekuatan Anda sehingga orang-orang ini akan tahu bahwa Gereja Yesus Sejati adalah gereja yang memiliki kuasa dari Roh Kudus. "Lalu saya menumpangkan tangan saya pada Suster Wang, dan meminta pendeta lain untuk menumpangkan tangan pada Suster Wang juga.

Setelah berdoa, saya menemani para siswa menuju pintu, dan saya tidak menduga bahwa Suster Wang akan berjalan ke arah kami tanpa penopangnya,ia memuji Allah karna dia tidak harus menggunakan penopang lagi. Ketika mahasiswa teologi melihat ini, mereka begitu kagum, terharu, dan iman mereka dikuatkan. Setelah mereka lulus dan kembali ke daerah masing-masing, mereka memberitakan Injil dan mendirikan Gereja Yesus Sejati di sana.

DARI PENDENGARAN UNTUK MELIHAT

Sejak tahun 1926, iman telah diwariskan kepada generasi kelima dalam keluarga saya. Meskipun kami menghadapi banyak cobaan dan kesengsaraan dalam perjalanan iman kami, kesaksian kakek saya sangat menguatkan kami setiap kali kami bertemu dengan kesukaran. Melihat kembali penderitaan kami selama Revolusi Kebudayaan, saya juga dapat mengatakan bahwa penderitaan ini bermanfaat bagi kami. Melalui penderitaan, saya dan keluarga saya berkembang dari hanya mendengar Allah menjadi melihat Allah dengan mata kami sendiri. Iman kami dihidupkan kembali, dan akhirnya semua saudara saya dibaptis. Tuhan juga telah mengijinkan saya untuk menyaksikan banyak mujizat yang memungkinkan saya untuk merasakan Dia secara pribadi, iman saya hidup kembali, dan keraguan saya hilang. Terima kasih Tuhan, semoga semua kemuliaan hanya dalam nama-Nya.


http://members.tjc.org/sites/en/id/Kesaksian/Dari%20Hanya%20Mendengar%20Tentang%20Allah%20Hingga%20Melihat%20Tuhan.aspx




Minggu, 20 Oktober 2019

DALAM KEPUTUSASAAN AKU BERTEMU TUHAN

Masa muda adalah masa keemasan dalam hidup dan saat memiliki harapan yang tinggi serta masa depan cerah.

Namun bagi saya, seorang mahasiswa baru yang berumur 20 tahun, saya kecanduan obat-obatan terlarang. Pandangan saya akan kehidupan ini amat gelap dan suram. Ditengah jerat obat-obatan terlarang, saya menjadi pribadi yang muram dan menyedihkan, saya kehilangan harapan hidup sampai pada titik dimana bahkan keluarga saya telah pasrah dengan kehidupan saya.

KECANDUAN PADA NARKOBA

Pada tahun 1990, ayah saya mengirim saya ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan disana. Datang dari Taiwan tanpa ada keluarga yang mendampingi, saya tinggal bersama tantesaya dan kuliah di kota New Jersey. Karena perlakuannya yang terlalu ketat pada saya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Universitas Arizona karena saya ingin memiliki kebebasan yang lebih.

Keinginan saya terwujud pada tahun 1995. Saat saya pindah ke asrama, saya merasa seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Saya dipenuhi rasa kegembiraan dan suka cita! Dengan mobil mewah yang diberikan ayah saya, saya pergi ke banyak pesta yang penuh dengan minuman-minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.

Penasaran dan tanpa berpikir panjang, saya mencoba segalanya. Saya berkata pada diri saya sendiri, “Aku kuat dan dapat mengontrol diri.” Sayangnya, saya terlalu tinggi diri, dan secara tidak sadar saya menjadi kecanduan. Saya merasa ada yang tidak beres ketika penggunaan obat-obatan terlarang dan pengeluaran saya meningkat. Saya berkata kepada diri sendiri untuk menjauhi narkoba tetapi saya dikalahkan berkali-kali oleh kecanduan saya.

Yang paling membuat saya terkejut adalah saat rambut saya mulai rontok. Karena pemakaian obat-obatan terlarang berlebih, rambut saya banyak yang rontok setiap kali saya menyisir rambut. Hal itu membuat saya cemas, hingga suatu kali saya mencukurnya habis dengan pikiran bahwa nanti rambut saya akan tumbuh lebih lebat. Tetapi itu semua sia sia.

Hidup dengan kepala botak di usia 20 tahun saat penampilan adalah segalanya sungguh menjatuhkan ego saya. Hal ini membuat rasa percaya diri saya hilang dan hancur. Dengan penampilan saya yang sekarang, rasanya mustahil pula untuk menemukan cinta.

Antara tahun 1996 dan 1998, saya menjadi amat terbebani oleh masalah kebotakan saya. Saya mengenakan topi baseball setiap hari dan menghindari yang mau mengunjungi saya. Saya menjadi tidak waras. Pernah suatu kali saya terpikir untuk melakukan transplantasi rambut, namun transplantasi tidak dapat berhasil dengan rambut tipis saya yang tersisa.

Perasan saya hancur, saya meminum minuman beralkohol untuk lari dari masalah. Saya terus memakai obat-obattan terlarang dan berkubang dalam keterpurukan dan depresiku. Prestasi saya di kampus menurun dan saya akhirnya dikeluarkan dari kampus.

KEKACAUAN DALAM KELUARGA

Menyadari bahwa anaknya hanya menyia-nyiakan diri, ayah saya memaksa saya untuk tinggal dengan kakak laki-laki saya di California agar terjadi perubahan. Jadi dari tahun 1998 sampai 1999, saya kuliah di California. Namun demikian tidak serta merta menyembuhkan saya dari kecanduan yang parah.

Pada kondisi ini, bahkan keluarga saya ketakutan mendengar kabar dari saya. Kakak perempuan saya, Ruo-Lan, berkeluh kesah, “Adikku sering menghilang selama dua atau tiga hari. Tiap kali dia meneleponku, dia menginginkan uang untuk melepaskan dirinya dari jerat penjual obat-obatan terlarang. Dia diancam dengan begitu mengerikan. Setiap hari aku merasa gugup dan takut untuk menerima telepon darinya.”

Dan dengan penuh kepedihan hati bagi saya untuk menceritakan ini, bahwa ibu saya sampai berlutut di depan saya dan memohon agar saya berbalik dari kehidupan saya yang sekarang. Namun saat itu hati saya telah membatu dan tubuh saya diperbudak oleh obat-obatan terlarang.

Semua orang dalam keluarga saya telah putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Ayah saya ingin agar saya memulai semuanya dari awal dengan kembali ke Taiwan untuk masuk dalam militer, namun berada di Amerika Serikat selama sebelas tahun dan tidak lulus kuliah terlalu memalukan untuk pulang.

Saya sungguh tersesat bahkan muncul dipikiran saya untuk menjadi biksu Buddha. Dalam keadaan saya yang menyedihkan saya memutuskan untuk menjalani nasehat nenek saya: “Percayalah pada Yesus! Inilah satu-satunya jalan.”

MENCARI TUHAN

Dari saat itulah, saya mulai menonton saluran televisi penginjilan di malam hari, kemudian saya mulai merasakan beberapa pengalaman yang luar biasa.

Ketika saya mau merokok, saya akan mendengar suara penginjil di televisi berkhotbah menentang rokok. Ketika saya berkeliaran di jalanan saya akan mendengar suara atau pesan yang memberitahu untuk pulang ke rumah. Ketika saya ingin membaca atau menonton film porno, yang terjadi adalah saya tidak dapat meraih majalah tersebut di bawah sofa atau film itu entah bisa terhapus begitu saja.

Pada saat itu, saya tidak mengerti tentang dunia rohani dan berpikiran bahwa sesuatu yang tidak berasal dari Bumi menuntun saya. Saat saya menonton saluran televisi penginjilan, saya juga belajar membaca Alkitab. Saya sering kali mendapatkan ayat dalam Alkitab yang mendorong saya agar tidak jatuh ke dalam perangkap iblis. Perlahan saya menyadari bahwa Tuhan membenci hal-hal yang bersifat najis, maka itu saya membakar semua hal-hal yang berbau pornografi yang saya miliki. Saya juga mulai untuk berdoa dan meminta Tuhan untuk menyelamatkan saya. Seringkali kepedihan saya membuat saya meneteskan air mata dan membuat saya putus asa.

Suatu hari, jemaat Gereja Yesus Sejati memperkenalkan injil pada adik laki-laki saya. Namun karena adik saya tidak percaya Tuhan, kakak perempuan saya lah yang diundang ke gereja. Dia pergi ke gereja untuk mendoakan saya, meminta pada Tuhan untuk membantu saya. Ketika dia kembali malam itu, ia berkata, “Sungguh luar biasa! Roh Kudus ada dalam Gereja Yesus Sejati!”

TUNTUNAN MENUJU GEREJA YESUS SEJATI

Saya ingin pergi ke gereja, namun saya ragu-ragu karena kebotakan saya. Disamping itu, bukankah akan sama saja apabila saya berdoa dan belajar Alkitab di rumah?

Meski demikian, Tuhan menggerakan seorang saudari dari gereja untuk mengajak saya ke gereja. Karena kebotakan saya, saya berulang kali menolak ajakannya. Meski ia dengan gigihnya mengajak saya, akhirnya saya berkata padanya, “Aku telah membulatkan tekad, jangan hubungi aku lagi.”

Dalam pikiran saya, “Mengapa dia tidak menyerah dan berhenti menghubungiku?” Lalu saya berkata padanya, “Kecuali kalau Tuhan sendiri yang menghubungiku untuk pergi, maka aku akan pergi!” Sebelum dia memutuskan teleponnya dia berkata, “Baiklah kalau begitu. Mengapa kau tidak mencatat alamat gereja kami: B-a-l-d-w-i-n, Baldwin Park Church.” Saya tersentak ketika saya mendengar alamat itu. Apa yang dia maksud Bald Win? Si botak akan menang? (Dalam bahasa inggris Bald berarti botak dan Win berarti menang). Saya telah berjuang dalam kebotakan sejak saya berumur 20. Apakah ini sebuah arti bahwa Tuhan ingin saya pergi ke gereja ini dan saya akan mengalahkan kebotakan saya? Apa ini berarti saya akan menang?

Hal ini sungguh memberi saya harapan dan kemudian saya bertanya pada Ruo-Lan, “Apa benar bahwa gereja itu ada di Baldwin?” Ketika dia membenarkan hal tersebut, saya berteriak keras, “Tuhan Yesus mengasihani aku! Aku mau ke gereja! Aku mau ke gereja!”

Keinginan pergi ke gereja memang sudah pasti, namun harus bertemu dengan orang-orang dengan kebotakan saya nyatanya lebih sulit. Saya berjuang secara emosional saat pertama kali saya mengunjungi gereja. Saya bahkan sampai memakai spray penumbuh rambut. Setelah saya pulang dari gereja, saya bermimpi bahwa rambut saya tumbuh kembali. Ini bisa jadi jaminan yang sungguh indah dari Tuhan

Dalam kebaktian yang berikutnya, saya merasakan bahwa Tuhan berbicara pada saya melalui suatu khotbah. Beberapa kali, saya merasa amat tergerak dan sadar bahwa saya tidak perlu gelisah dengan penampilan saya. Hanya ada dua hal yang benar benar penting: Takut akan Tuhan dan membenci dosa. Saya juga mengalami firman Tuhan ini: “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12).

Saat saya mulai memahami Alkitab, saya berhenti memakai topi baseball. Saya tidak lagi takut untuk menunjukan siapa sebenarnya diri saya di dalam gereja dan dalam ibadah. Saya sungguh menyesali perbuatan saya dan bertobat dihadapan Tuhan dan memohon pengampunanNya akan segala pelanggaran saya di masa lalu. Diliputi dengan dosa-dosa saya di masa lalu, saya hanya bisa bergantung pada kekuatan Roh Kudus untuk mengatasi segala kelemahan saya.

DIBAHARUI OLEH ROH KUDUS

Saya telah bertekad untuk berdoa memohon Roh Kudus setiap hari. Dari Desember tahun 2000, saya mulai berpuasa dan berdoa sebelum melayani. Saya berkata pada diri saya sendiri, “Aku akan selalu ingat hari dimana Tuhan mengaruniakanku Roh Kudus”. Pagi hari pada tanggal 25 Desember, aku mendorong diriku sendiri untuk berpuasa dan fokus berdoa di dalam gereja.

Dalam kesedihan, saya menyesali segala pelanggaran saya di masa lalu. Kemudian suatu gelombang panas yang hebat mengampiri saya saat saya berdoa. Ini terasa seperti sekujur tubuh saya dialiri listrik. Saya merasakan suatu arus yang kuat mengalir di tangan saya. Ini adalah pengalaman akan kekuatan Allah yang tidak akan saya lupakan. Selesai berdoa, beberapa jemaat gereja memberitahu bahwa ketika seseorang menerima Roh Kudus, ia akan merasa sukacita dan berbahasa lidah. Saya tidak dapat berbahasa lidah saat itu, namun saya memutuskan untuk berdoa lagi esok harinya. Keesokan harinya, saya berdoa sepenuh hati, dan kekuatan yang sama datang kembali, namun saya masih belum berbahasa lidah. Beberapa saat kemudian, pendeta menyarankan saya agar tidak terlalu tegang. Tidak lama setelah itu, saya menerima Roh Kudus.

Sungguh luar biasa bisa menerima Roh Kudus. Saat saya memiliki pikiran jahat, Roh Kudus menegur dan meningkatkan kesadaran saya akan hal tersebut. Saya berserah pada Roh Kudus dan pikiran tersebut segera menghilang. Sewaktu-waktu saya merasakan dorongan untuk memakai narkoba, rokok, atau minuman, saya berdoa dalam roh. Roh Kudus membantu saya mengatasi keinginan tersebut, dan saya kembali merasa damai, bahagia dan sukacita dalam Tuhan.

Saat bulan Maret tahun 2001, saya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Saya merasa seperti orang yang baru setelah baptisan karena segala beban saya disingkirkan. Di masa lalu, saya merasa hampa dan tidak ada harapan, menyimpan pikiran untuk bunuh diri, mendatangkan malapetaka dalam keluarga, dan berkeliaran tanpa tujuan di jalanan.

Namun Tuhan yang maha pengasih menarik saya dari kegelapan dan membawa saya kepada terang. Dia memilih saya dan mengaruniakan Roh Kudus. Ia membuat saya lahir baru. Semua yang saya miliki dan apa adanya diri saya adalah dari Dia. Inilah mengapa saya merasa begitu yakin akan Lukas 1:79: “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Ya, hanya Allah Yang Mahakuasalah yang sanggup melakukan keajaiban. Setelah mengalami kasih karunia Allah, saya selalu bersukacita untuk melihat terang dalam hidup saya. Perubahan dari perjuangan saya untuk kemenangan saya atas dosa mendorong saya untuk berjalan di jalan terang.

Di dalam gereja, saya mengalami kasih yang sejati dari saudara-saudari, dan saya akhirnya mampu melepas kebencian di masa lalu. Sayapun terdorong untuk membalas kasih karunia ini menjadi tindakan untuk berbagi kasih karuniaNya dengan orang lain. Tuhan Yesus adalah “Jalan(ku), kebenaran(ku), dan hidup(ku)” (Yohanes 14:6)


Selasa, 15 Oktober 2019

BUDAK UANG

CY Lai - Taiwan

Sebelum saya pecaya kepada Kristus, saya percaya sebagai manusia kita dapat bersandar kepada kekuatan kita sendiri untuk mengatasi semua halangan-halangan. Saya berpikir sejauh saya bekerja keras, saya dapat mencapai tujuan apapun dalam hidup ini.

Istri saya dan saya adalah teman sekelas dari fakultas farmasi dan memiliki apotik di Chia-Yi, Taiwan. Kami bekerja dengan sangat keras. Selama enam tahun berturut-turut, kami bekerja tanpa sehari pun libur. Padahal, saya sering melihat orang hidup secara nyaman tanpa harus bekerja keras. Semata-mata mereka memiliki keberuntungan atau warisan keluarga.

Empat tahun sesudah saya membuka apotik saya, saya melepaskan ateisme saya dan mulai pergi ke berbagai kuil Buddha seperti setiap orang di sekeliling kami, berharap berhala-hala dapat membantu saya mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik dan menghasilkan lebih banyak uang. Sepertinya secara materi hidup saya semakin baik, jadinya saya terus melakukan penyembahan berhala selama beberapa tahun.

Tetapi saat kehidupan materi saya semakin baik, nafsu saya untuk menghasilkan uang semakin meningkat. Saya merasakan bahwa saya tidak dapat berpuas-hati dengan apa yang saya dapatkan. Saya menjadi terobsesi dengan pengejaran kekayaan tanpa henti.

Dengan maksud menumpuk kekayaan yang lebih besar, pikiran saya tidak henti-hentinya memikirkan bagaimana menginvestasikan uang saya. Ibu saya pernah memberitahukan kepada saya, “Tidak ada salahnya meminjam uang ke bank. Semua orang kaya juga meminjam uang ke bank.” Jadi saya meminta pinjaman dari bank dan menjadi anggota asosiasi farmasi untuk mendanai investasi saya.

Dengan keadaan seperti ini, saya menjadi seperti yang tercatat dalam Alkitab – menjadi budak Mammon.

Melihat ke belakang, saya benar-benar menyesal atas apa yang saya lakukan. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Untuk siapa saya bekerja seperti budak seperti ini?” Tetapi pada saat itu saya tidak tahu perbudakan itu sedalam apa.

TITIK BALIK

Adik laki-laki saya bertemann dengan beberapa jemaat Gereja Yesus Sejati (GYS) saat dia kuliah di Canada. Dia berada di sana saat ayah saya didiagnosa leukemia, jadi dia menghubungi gereja Chia-Yi dan meminta bantuan jemaat di sana untuk membantu ibu saya.

Ibu saya bertumbuh dalam keluarga Katolik, tetapi dia sudah tidak ke gereja untuk beberapa tahun dan praktis adalah seorang atheis. Adik saya mengingatkan ibu saya untuk bersandar kepada Tuhan.

Awalnya ibu saya berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, memohon kesembuhan daripada-Nya. Ayah saya juga menunjukkan ketertarikan dalam injil kebenaran. Selama dia tinggal di rumah sakit Tai-Chung, banyak saudara-saudari seiman dari gereja Tai-Chung datang berkunjung dan berdoa bagi ayah saya. Namun dia meninggal tiga bulan kemudian dan tidak mendapat kesempatan untuk dibaptis.

Ibu saya merasa sangat kehilangan ayah saya dan menjadi enggan untuk percaya kepada Tuhan. Dia tidak mengerti mengapa Tuhan tidak mendengarkan doanya saat orang lain memberitahukan kepadanya bahwa doa itu berkhasiat.

Suatu hari, saat ibu saya menangis di kamarnya, Tuhan menghiburnya dengan membuat dia dapat mendengarkan suara-suara indah dari malaikat yang menaikan kidung pujian. Awalnya ibu saya berpikir bahwa itu adalah suara saudara-saudari seiman yang datang berkunjung, tapi saat dia bertanya dia mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang bernyanyi. Adik saya memberitahukan kepada kami sesudahnya dia sering berdoa agar Tuhan menghibur ibu saya.

Kejadian ini membuat ibu saya kembali memikirkan kepercayaanya. Melalui penghiburan Kristus yang terus menerus dan pengalaman pribadi dia, ibu saya memutuskan untuk menerima Yesus sebagai juruselamat. Dia mulai mengikuti kebaktian-kebaktian di GYS dan tidak lama kemudian dia menerima baptisan air dan menjadi anggota GYS. Dia mengikuti sesi Pemahaman Alkitab, persekutuan dan mendengar banyak kesaksian-kesaksian yang luar biasa.

Ibu saya tinggal bersama saya, istri saya dan anak perempuan saya. Ibu saya bersaksi tentang Kristus saat kami berkumpul bersama untuk makan, dia berharap kami bertiga akan menerima injil keselamatan. Dia ingin menyampaikan kabar keselamatan akan Yesus Kristus kepada kami, tetapi saya menganggapnya adalah sampah. Sikap ini membuat ibu saya sakit kepala.

Setiap kali dia menceritakan gereja, kesaksian dan Yesus Krisuts, saya menjadi marah. Saya berdebat dan membantah sampai ibu saya kehabisan kata-kata. Saya merasa yakin sekali bahwa kehidupan beragama itu menghabiskan waktu karena saya hanya tertarik untuk mengejar kekayaan, kekuasaan dan status sosial. Ibu saya sering bersembunyi di kamar, menangis dan cemas tentang bagaimana membawa kami kepada Tuhan.

Walaupun saya menolak untuk menerima Kristus saat ini karena saya hanya tertarik akan uang, saya tidaklah berpuas hati dalam hidup saya. Dengan bisnis ini, saya dan istri saya sangat tidak punya waktu setiap harinya. Kehilangan hanya tiga jam saja dapat membuat kami merugi sangat banyak dan membuat keuangan kami tidak seimbang di akhir bulan.

Dalam rangka meningkatkan pendapatan kami, saya dan istri saya sering mengadakan pertemuan untuk membahas dan merincikan hal-hal. Kami mencari perbaikan tetapi selalu berakhir berselisih pendapat dengan istri saya. Kami menjadi pasangan yang sangat tidak bahagia. Di mata orang lain kita tampaknya memiliki segalanya: rumah bagus, mobil, uang, dan seorang putri.

Tetapi saya masih tidak berpuas hati dan selalu membandingkan diri saya dengan orang lain. Saya menyadari sekarang bahwa harta dunia adalah hal hampa dan tidak bermakna, tetapi saat itu saya tidak mengetahui hal tersebut.

KESADARAN DALAM SAKIT

Hidup kami berubah di awal April 2003. Istri saya meminta untuk pemeriksaan fisik sesudah merasa lelah selama beberapa hari. Hal ini pernah dirasakannya sebelumnya, tapi baru kali ini dia meminta agar diperiksa oleh dokter, jadi adalah suatu mujijat dia meminta pemeriksaan ini.

Tes darah menunjukkan bahwa semuanya normal kecuali tingkat alpha-fetoproteinnya. Istri saya mengidap Hepatitis B sehingga indikator ini seharusnya tidak lebih dari 20 mg/ml, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan 30 mg/ml. Ada kemungkinan 90% bahwa istri saya menderita kanker hati.

Saya dan istri saya baru berumur tiga puluh tahun lebih. Kami berada di puncak kehidupan kami dan memiliki rencana serta tujuan yang belum dicapai. Jika benar istri saya menderita kanker, hanya akan ada kesempatan 50% baginya untuk hidup lima tahun lagi setelah menjalankan operasi yang berhasil.

Mengetahui hal ini, hidup kami penuh dengan kecemasan, kekhawatiran, dan air mata. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kami merasa kehidupan kami menjadi gelap dan tanpa harapan. Kami menyampaikan kabar buruk itu kepada ibu saya. Dia tidak tahu bagaimana caranya menghibur saya, tapi dia mengatakan hal yang paling penting, "Kamu harus berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus."

Pada saat itu, yang saya inginkan hanyalah agar istri saya dapat disembuhkan. Bahkan jika operasi berjalan lancar, dokter tidak bisa menjamin kelangsungan hidup istri saya. Dengan pemikiran ini, saya berkata pada diri sendiri, "Mengapa tidak mengambil saran ibuku dan berdoa kepada Yesus Kristus, karena menyembah berhala tampaknya sia-sia?"

Karena saya tidak tahu bagaimana harus berdoa, saya hanya berkata, "Yesus, jika kamu adalah Tuhan, tolong dengarkan doa saya." Saya mencurahkan segala sesuatu dari dalam diri saya kepada Tuhan. Saya juga mengingat banyak kesalahan saya dari masa lalu, tapi saya memohon, "Jika Tuhan mengizinkan, tolong selamatkan istri saya."

Beberapa hari kemudian, istri saya berobat ke rumah sakit yang lebih baik untuk pemeriksaan yang lebih rinci lagi. Dari USG, mereka menemukan bercak hitam sekitar dua atau tiga centimeter besarnya. Pemeriksaan CAT scandijadwalkan keesokan sorenya untuk analisis yang lebih akurat.

Keesokan paginya, saya berdoa dengan cara saya sendiri. Saya berlutut dengan Alkitab pemberian ibu saya di depan saya. Ketika saya belajar di sekolah Katolik, Alkitab hanya menjadi hiasan di kamar saya untuk menunjukkan bahwa saya adalah orang yang berpengetahuan; sesungguhnya saya tidak pernah membacanya! Sekarang Alkitab ada tepat di depan saya membuat saya berpikir, "Saya akan mengambil ayat apa pun yang saya buka setelah doa sebagai perintah Tuhan kepada saya."

Setelah saya berdoa, saya membuka Alkitab dan yang saya buka adalah Yohanes 4: 46-53, yang mencatat bagaimana Yesus menyembuhkan anak pegawai istana. Saya sangat senang setelah membaca ayat-ayat ini. Saya berlari turun untuk memberitahu istri saya bahwa dia akan baik-baik saja dalam pemeriksaan sore itu karena Yesus Kristus menunjukkan kepada saya bahwa istri saya akan bertahan hidup.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, saya berpikir, "Yesus, Yesus, jika CAT scan menunjukkan bahwa istri saya tidak mengidap kanker, kami berdua akan percaya pada-Mu dalam sisa hidup kami." Sebelum kami sampai ke rumah sakit, saya memberitahukan istri saya akan keputusan saya ini, dan dia juga menyatakan bahwa dia akan melakukan hal yang sama.

Sore itu hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa titik hitam itu adalah tumor jinak, namun di belakang titik hitam ada tumor lain sebesar 1 cm. Tumor ini kemungkinan adalah tumor ganas. Dengan hal tersebut di dalam pikiran, saya dan istri saya pulang ke rumah dan mulai berdoa.

HATI YANG BEBAL

Saya tidak tahu bagaimana saya harus berdoa atau kalau-kalau Yesus mendengarkan doa-doa kami. Saya membalik-balikkan Alkitab dan melihat Yakobus 5:16, yang berbunyi, "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." Saya sangat tersentuh oleh ayat ini.

Saya tahu bahwa saya orang berdosa, begitu juga dengan istri saya karena kami telah banyak menyembah berhala dan menjalani hidup yang penuh dengan kesombongan dan tidak baik. Jadi saya pergi ke ibu saya, berharap bahwa dia akan berdoa untuk istri saya, dan saya juga meminta ibu saya meminta pertolongan anggota gereja untuk berdoa bagi kami. Ibu saya berkata, "Tentu, tapi akan ada Kebaktian Kebangunan Rohani beberapa saat lagi, orang-orang mungkin sedang sibuk sekarang."

Ibu saya segera memanggil Pendeta Lin dari GYS Chia-Yi dan beliau beserta beberapa saudara-saudari lainnya bermaksud datang ke rumah saya dan berdoa untuk kami keesokan harinya. Saya dan istri saya tidak menyambut baik hal ini karena walaupun kami ingin percaya kepada Yesus namun kami belum siap untuk dibaptis.

Saya telah menyembah banyak berhala di masa lalu, tapi itu ternyata sia-sia. Jika orang-orang di gereja ini sama seperti orang-orang di kuil Buddha, akan susah untuk menolak mereka. Tapi karena saya yang melontarkan permintaan ini kepada ibu saya, mau tidak mau saya harus menyambut mereka sebagai tamu saya. Saya bertekad bahwa jika mereka mencoba untuk memaksa kami bergabung dengan gereja, saya akan berpura-pura tidak mendengar mereka.

Hari berikutnya, pendeta dan anggota gereja datang ke rumah. Mereka berbincang dengan kami, berdoa bagi kami, dan tidak memaksa kami untuk datang ke gereja. Hal ini berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Saya tersentuh oleh kasih mereka dan merasa sedikit malu pada diri sendiri.

Saya bertanya pada pendeta tentang Matius 19: 16-21, yang mencatat kisah pemuda kaya yang bertanya kepada Yesus apa yang harus ia lakukan untuk menerima hidup yang kekal. Dan kata Yesus kepadanya, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (Mat 19:21).

Saya mengatakan kepada pendeta bahwa saya akan melakukan hal yang sama jika saya bisa menerima damai sejahtera dari Allah. Pendeta itu menjawab, "Jangan mengartikan secara harafiah, pengajaran ini dimaksudkan untuk mereka yang diperbudak oleh uang.” Saya merenungkan apa yang dikatakan tetapi tetap tidak mau ke gereja.

TUNTUNAN TUHAN

Suatu Kamis malam sekitar dua minggu setelah kunjungan pendeta, hati saya begitu berbeban, jadi saya membawa putri saya untuk naik sepeda motor bersama dengan saya. Kami melewati jalan Hou-Ping dan melihat sebuah bangunan dengan tanda, “Gereja Yesus Sejati, Chia-Yi”.

Saat itu sekitar pukul tujuh malam dan gereja terang benderang dengan pintu dan jendela yang terbuka lebar. Saya melihat beberapa orang menaikan puji-pujian di dalam, tapi tidak ada seorang pun di belakang mimbar. Tiba-tiba, saya pikir mungkin saya harus masuk ke dalam untuk berdoa. Saya berpikir mungkin Tuhan akan mendengar doa saya dan menjawabnya jika saya datang ke gereja-Nya, karena gereja adalah rumah Yesus.

Saya bertanya kepada putri saya apakah dia ingin masuk ke dalam dan berdoa. Dia berkata, "Baiklah." Kami masuk ke gereja dan duduk di bangku terakhir. Saya menunduk kepala, memejamkan mata, dan mulai berdoa. Ketika doa berakhir, gereja dipenuhi dengan orang-orang, dan mereka agak terkejut melihat saya, seorang asing, dengan air mata di seluruh wajah saya.

Kebaktian dilanjutkan, tapi saya hanya mengkhawatir tentang masalah saya sendiri dan terus memandangi langit-langit, berpikir bahwa Tuhan mungkin menetap di sana. Saya menatap langit-langit dan berdoa kepada Allah untuk meringankan jiwa saya dari beban saya, sementara air mata jatuh di pipi saya.

Pada akhir kebaktian, pendeta berkata, "Jika ada yang ingin berdoa untuk mendapatkan Roh Kudus, dipersilakan untuk maju ke depan." Saya berpikir bahwa mungkin Tuhan tidak bisa mendengar doa saya karena saya duduk begitu jauh di belakang, jadi saya pindah ke depan.

Berlutut di depan dikelilingi oleh orang-orang dengan Roh Kudus, saya berpikir, orang-orang ini haruslah yang disebut sebagai "orang benar" yang disebutkan dalam Yakobus 5:16. Akan sangat bagus jika mereka semua bisa berdoa sepuluh detik saja untuk istri saya. Lalu saya memikirkan mereka yang berjuang dalam perang Irak; saya dipenuhi dengan belas kasihan kepada mereka dan mulai berdoa untuk mereka. Pikiran ini muncul dalam pikiran saya sebanyak tiga kali dan saya terus berdoa dengan sungguh-sungguh.

Ketika doa berakhir, pendeta mengumumkan bahwa simpatisan yang datang untuk pertama kali telah menerima Roh Kudus. Sayalah simpatisan itu. Untuk pertama kalinya dalam sebulan ini saya merasa bahwa beban saya terangkat dari pundak saya dan bahwa rasa takut dan khawatir saya hilang.

Saya pulang ke rumah dan mengatakan kepada istri saya bahwa saya mendapat Roh Kudus. Dia bertanya, "Apakah Roh Kudus itu?" Sebenarnya, saya pun tidak memiliki banyak pengetahuan tentang Roh Kudus. Yang saya tahu adalah bahwa beban saya terangkat dalam doa.

Tiga hari kemudian, saya kembali ke gereja ingin tahu lebih banyak tentang Roh Kudus, karena Roh Kudus memberikan kelegaan yang begitu besar kepada saya. Saya juga terus menyelidiki Alkitab dan ingin memiliki dasar yang kuat dalam keyakinan saya. Saya tidak ingin menyembah tuhan yang salah seperti yang saya lakukan sebelumnya.

Saya mengatakan kepada istri saya bahwa penyakitnya tidak bisa disembuhkan oleh dokter atau medis canggih sekalipun. Saya menegaskan bahwa hanya melalui doa-doa dia bisa disembuhkan. Kadang-kadang kita berdebat karenanya. Tapi ternyata dia berdoa secara diam-diam tanpa saya ketahui.

Suatu malam, saya mengingatkan istri saya lagi tentang doa dan bertanya mengapa ia tidak berdoa lebih banyak lagi. Dia berkata, "Saya telah berdoa." Kami berdua mulai menangis. Sebelum kami tidur, saya menggenggam tangannya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Dia berbaring di tempat tidur dan air mata jatuh di wajahnya. Dia tidak bisa tidur sampai jam 2:00 subuh jadi saya pergi ke ruang lain dan meneruskan doa saya di sana.

Keesokan harinya, ketika saya sedang membaca Alkitab, istri saya berlari ke arah saya dalam kegembiraan yang begitu besar dan dia mengatakan bahwa dia barusan saja menerima Roh Kudus. Empat hari kemudian, ibu saya, yang telah dibaptis selama dua tahun, menerima Roh Kudus juga. Terima kasih Tuhan, hanya dalam waktu satu minggu, tiga dari kami dalam satu keluarga menerima Roh Kudus.

BUKTI

Istri saya terus menjalani MRI setiap bulannya. Keadaanya tampaknya telah stabil. Atas saran dari seorang saudara, kami memutuskan bahwa biopsi hati akan memberikan indikasi yang lebih baik atas keadaannya, jadi kami merencakan melakukannya di bulan Agustus.

Ketika tiba saatnya untuk melakukan biopsi, kami mulai merasa cemas dan takut atas risikonya. Tapi kemudian saya berpikir, sekarang saya percaya kepada Yesus, saya seharusnya tidak perlu takut. Saya mulai berdoa kepada Tuhan untuk memohon bantuan-Nya.

Suatu malam, dalam doa saya, saya memohon kepada Tuhan, mengatakan bahwa jika Dia ingin saya sebagai murid-Nya biarlah saya tidak merasa takut lagi. Saya juga meminta Tuhan untuk menunjukkan beberapa bukti sehingga saya bisa mendapat damai sejahtera. Saya tahu bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahakuasa, jadi permintaan ini tidak dimaksudkan untuk menguji-Nya.

Tidak lama setelah itu, Tuhan memberikan saya penglihatan. Dalam doa saya, saya melihat empat malaikat muncul di depan saya. Salah satu dari malaikat tersebut lebih besar dan memiliki enam sayap (tiga pasang), dan tubuh tampak mengkilap dan tembus pandang. Malaikat itu mulai menumpangkan tangan pada saya.

Sementara itu, istri saya sedang tidur di lantai dengan tubuhnya dalam posisi meringkuk. Tiga malaikat lain menghampiri dia dan meletakkan tangan di kepalanya. Salah satu dari mereka menghampiri punggungnya dan tampaknya mengerjakan sesuatu. Saya bertanya, "Apa artinya ini?" Malaikat itu menjawab, "Bukankah kamu meminta bukti? Tuhan telah mendengar apa yang kamu minta, jadi jangan ragu."

Saya kemudian menanyakan nama malaikat tersebut, dan malaikat itu menjawab, "Nama saya tidak penting; yang Anda percaya, Yesus Kristus, adalah penting.” Saya bertanya sekali lagi untuk namanya sebelum saya bangun.

Keesokan paginya, istri saya mengatakan kepada saya bahwa punggungnya sakit. Dia bertanya-tanya apakah dia telah tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Dia masih mengeluh tentang rasa sakit di punggung malam itu, jadi saya memberitahukannya akan penglihatan saya dan memintanya untuk tidak khawatir. Saya juga mengatakan bahwa saya hanya akan memberitahu ibu saya tentang hal ini, dan tidak pada orang lain.

Seminggu kemudian, sebelum kami kembali ke rumah sakit untuk USG, kami terus berdoa kepada Tuhan dan berharap bahwa tumornya tidak akan menjadi lebih besar. Puji Tuhan, USGmenunjukkan bahwa titik hitam telah benar-benar menghilang. Dokter melihat USG dengan hati-hati, tapi tidak bisa menemukan apa-apa. Titik hitam itu hilang sepenuhnya.

Enam minggu berlalu. Istri saya berpikir segala sesuatunya baik-baik saja, jadi dia melakukan tes darah tanpa memberitahu saya, dan tidak berdoa sebelumnya. Setelah melalui semua pencobaan ini, saya telah belajar bahwa saya perlu mengandalkan Tuhan dalam segala hal, jadi saya tidak senang saat mengetahui apa yang istri saya lakukan.

Hasil pemeriksaan keluar malam itu. Hasilnya menunjukkan bahwa salah satu indikator kanker hati bertambah dua kali lipat. Jumlah sebesar itu menunjukkan kemungkinan 95% ia mengidap kanker hati. Tiba-tiba, kami kehilangan iman kami. Keraguan dan kekhawatiran memenuhi hati kita. Agar lebih berhati-hati, kami merencanakan pemeriksaan lain lagi di rumah sakit yang lebih baik hari Senin berikutnya.

Hari Minggu sebelum pemeriksaan itu, Gereja Chia-Yi mengadakan persekutuan injil. Pada sesi doa di akhir persekutuan, saya dan istri saya berdua berlutut dan berdoa dengan sungguh-sungguh untuk penyembuhan dari Tuhan. Dalam doa, saya mendengar suara yang jelas mengatakan, "Jangan takut; Aku mengasihinya lebih besar daripada kasihmu terhadap dia.” Suara itu diulang tiga kali.

Setelah kami pulang, istri saya mengatakan kepada saya bahwa dalam doa di gereja ia meminta Tuhan untuk menghibur saya karena dia tahu bahwa saya begitu mengkhawatirkan dia. Pada hari Senin, indikator telah turun dari 400 mg/ml sampai 200 mg/ml. Puji Tuhan, ini adalah mujijat lagi, dan kami berdua bersuka-cita dengan air mata.

NILAI SESUNGGUHNYA

Saya tahu Tuhan akan menjawab doa-doa kami sesuai dengan iman kami. Tuhan itu Maha Kuasa, dan jika kita memegang teguh keyakinan kita Dia akan menyelamatkan kita pada akhirnya. Seperti dicatat dalam Roma 8:28, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Kami menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi kepada kami itu sesuai dengan kehendak Tuhan yang indah. Puji Tuhan kami sekeluarga bertiga dibaptis pada bulan Maret 2004. Tuhan telah memberi kami Roh Kudus yang berharga, dan sekarang kami milik nama-Nya yang kudus.

Meskipun mata manusia tidak bisa melihat Allah, dengan adanya Roh Kudus, Tuhan dimanifestasikan dalam diri kita. Hal ini mempertegas bahwa Gereja Yesus Sejati mempunyai Roh Kudus, Injil yang benar, dan Tuhan Yesus Kristus ada di dalam gereja ini. Saya tahu bahwa kita dapat selalu mengandalkan Roh Kebenaran yang telah diberikan kepada kita.

Sejak saya mengenal Tuhan, hidup saya telah berubah secara drastis. Saya tahu bahwa tujuan hidup kami adalah untuk memuliakan Yesus Kristus, untuk mencintai keluarga kami, dan untuk menjaga iman. Kita juga harus membantu orang lain menemukan arti sebenarnya dari hidup dengan memberitakan kebenaran kepada mereka. Karena berkat dari Tuhan, sekarang saya hidup bahagia dan menjalani hidup yang berarti.

Saya berharap bahwa setiap orang dapat datang ke gereja ini untuk mempelajari kebenaran dan mengetahui bahwa Yesus adalah Allah yang benar; Dia adalah Tuhan yang memberikan hidup kepada kita. Gerbang-Nya yang penuh kasih selalu terbuka untuk semua orang, dan siapa pun yang datang kepada-Nya akan menerima kasih karunia yang melimpah dan memahami arti sebenarnya dari kehidupan.

Segala kemuliaan hanya bagi nama-Nya!

Kamis, 10 Oktober 2019

BAGAIMANA AKU BERHENTI BERMAIN VIDEO GAMES

Richard Fan—Irvine, California, USA

VIDEO GAMES ADALAH HIDUPKU

Aku mulai bermain video games sejak dari kelas sekolah dasar. Pada saat itu kedua orang tuaku sangat ketat mengawasi game yang aku mainkan dan seberapa lama aku bermain. Namun seiring aku bertumbuh besar, aku menemukan cara-cara untuk menghindari pengawasan mereka.

Seiring berjalannya waktu, video games perlahan menjadi hal yang paling terutama dalam hidupku, meskipun aku sebenarnya tidak mau mengakuinya. Aku senang menawar-nawar seberapa lama aku dapat bermain video games dengan orang tuaku. Kapanpun orang tuaku pergi, aku dapat berhenti dari apapun yang sedang kukerjakan dan langsung memainkan komputer atau X-Box. Ini seperti alam kedua bagiku. Aku biasa mengevaluasi kualitas hariku dengan seberapa lama aku bermain video games – Hari-hari tanpa video games kuanggap hari-hari yang buruk.

Jika kamu pernah bermain games yang bernama The Sims, kamu pasti tahu bahwa karakter dalam game tersebut memiliki delapan kebutuhan, atau keinginan yang ditampilkan dalam bentuk balok panjang. Jika karakter memakan sesuatu, balok “lapar” terisi penuh, dan jika karakter bermain video games, balok “kesenangan” akan terisi pula. Meski demikian, kenyataan tidak berjalan seperti itu. Aku bermain video games dengan pikiran dapat memuaskan hasrat “kesenangan”ku, tapi setelah berjam-jam bermain video games, hasrat itu tidak pernah terpenuhi. Justru aku semakin ingin bermain lebih lagi.

Hasrat bermain video games sungguh kuat sampai-sampai hal itu selalu muncul di pikiranku. Aku berpikir tentang video games ketika aku tidur, ketika ujian, bahkan ketika aku berdoa memohon Roh Kudus.

Setelah beberapa lama aku mencari Tuhan, aku menerima Roh Kudus dan dibabtis saat aku kelas 9. Namun aku tetap merasa video games tidak menjadi masalah dalam hidupku, meskipun hal ini menguras banyak waktuku yang berharga, membuatku lupa untuk memegang hari Sabat, dan membuatku banyak berbohong pada orang tua.

Aku tidak menyadari bahwa video games adalah masalah bagi kehidupan rohaniku sampai aku menghadiri the 2003 Winter Student Spiritual Convocation (SSC) untuk pertama kalinya sebagai murid baru di SMA. Topik khusus mengenai video games sangat kuat dan menyentuh. Hal ini menyadarkanku bahwa video games memenuhi waktu-waktuku dibanding untuk Tuhan. Aku juga belajar bagaimana video games secara tidak sadar mempengaruhiku dalam banyak hal, seperti mempengaruhi emosiku dan membiasakanku berbuat kasar.

Namun aku tidak cukup kuat untuk berhenti atau bahkan mengurangi bermain video games.

TITIK BALIK

Sebelum menghadiri the 2006 National Youth Theological Seminar (NYTS) di bagian selatan California, perasaanku bercampur aduk. Aku mendengar banyak hal-hal “buruk” akan acara tersebut, seperti orang-orang berhenti bermain video games dan menonton TV setelah menghadiri NYTS. Aku tidak perduli soal TV, karena aku tidak punya kebiasaan menonton TV. Namun aku tidak dapat membayangkan diriku tanpa video games. Bagiku video games merupakan suatu hal yang terpenting dalam hidupku.

Seperti biasa, video games tetap muncul di pikiranku selama doa di NYTS. Sebelumnya ketika aku mendengar pastur berkata bahwa kita tidak dapat melayani dua tuan, aku selalu berkata pada diriku aku tidak melayani dua tuan; bahwa video games hanyalah bagian dari aktivitas senggangku. Namun selama doa aku perlahan menyadari bahwa aku memiliki masalah.

Aku teringat Yesus Kristus pernah berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Sehingga aku memutuskan untuk melemparkan beban yang paling berat pada Yesus Kristus, yaitu video games dan kedua orang tuaku yang belum dibabtis.

Aku berkata pada Tuhan Yesus, “Jika Engkau membuat kedua orang tuaku dibabtis, maka aku akan berhenti bermain video games.” Aku merasa sedikit cerdas dengan melempar tanggung jawab pada Tuhan, karena aku tahu bahwa jika kedua orang tuaku memutuskan untuk dibaptis, pertemuan rohani dan baptisan yang berikutnya masih 5 bulan lagi, dan selama 5 bulan tersebut aku masih bisa bermain video games sepuasnya. Masalah selesai.

Meski demikian, doaku semakin memburuk. Saat Kamis pagi, aku merasa imanku lebih rendah daripada saat aku hadir di NYTS sebelumnya. Aku telah siap untuk pulang karena aku sangat rindu pada gamesku. Aku juga merasa aku tidak perlu untuk tinggal karena aku tidak melakukan dosa yang berat, jadi aku tidak butuh pengampunan.

Bersyukur pada Tuhan, penasehatku dan penasehat yang lain memberiku semangat dengan ayat-ayat Alkitab dan pengalaman hidup mereka, dan aku memutuskan untuk tinggal. Saat itu pula aku sadar bahwa aku butuh pengampunan dan rahmat Tuhan lebih daripada siapapun.

PENGALAMAN DENGAN TUHAN DAN SETAN

Selama doa malam hari Selasa, aku mendapat pengalaman yang paling indah selama aku hidup. Saat aku bertobat dan menyesali perbuatanku dalam doa, Aku merasa Tuhan amat menjamahku dan menggenggamku dengat erat; aku bahkan melihat Dia memberiku hati yang baru. Air mata sukacita yang tidak dapat kutahan lagi mengalir deras selama doa tersebut. Setelah doa tersebut, aku merasa ringan, sungguh tanpa beban, dan aku tidak pernah merasa seperti ini sejak aku mendapat Roh Kudus.

Aku merasa seperti video games tidak menjadi suatu masalah lagi, bukan karena aku berhenti dari video games, tapi karena video games telah berhenti dariku. Aku merasa sangat bebas, video games tidak punya kuasa lagi terhadap diriku. Aku sangat bersukacita, sungguh ingin aku membagikan sukacitaku dengan orang-orang disekitarku.

Malam itu aku sangat bahagia karena aku tidak dapat tidur hingga larut malam. Anehnya, aku mendapat mimpi buruk. Aku terjatuh, terus jatuh, dan aku tidak merasakan angin menerpa wajahku yang sedang jatuh bebas ke bawah. Dalam perjalananku jatuh ke bawah, aku melihat iblis sedang jatuh mendahuluiku di depan.

Tubuh iblis itu menyerupai seekor gurita, namun dengan jumlah kaki yang lebih banyak. Wajahnya tidak terlalu jelas dan aku tidak dapat ingat seperti apa rupanya. Disekitar iblis tersebut terdapat banyak monitor komputer, jatuh bersama iblis tersebut. Saat-saat kami menuju ke tanah, aku melihat sebuat lubang api yang amat besar di bawah sana, menyala-nyala dengan laharnya.

Si Iblis dan seluruh monitor tersebut jatuh ke dalam lubang itu, merekapun lenyap. Ketika aku hampir jatuh juga ke dalam lubang api itu, tiba-tiba aku terbangun dengan sebuah ayat di benakku. Saat aku mencari ayat tersebut pagi harinya, hanya butuh 5 detik sampai aku mendapatinya (biasanya aku tidak secepat itu).

Demikian bunyi ayat tersebut, “Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaanya semula.” (Mat 12:45). Dari pengalaman ini, aku menyadari bahwa aku harus segera mengisi kehidupanku dengan firman Tuhan dan hal bermakna lainnya, jika tidak maka aku akan jatuh ke dalam pencobaan yang lain.

MEMBUAT KETETAPAN

Aku menikmati kebebasanku yang baru untuk sementara waktu. Tetapi 2 hari kemudian, godaan untuk bermain video games kembali muncul – kali ini jauh lebih kuat dari yang pernah ada. Aku merasa imanku menjadi lemah, dan video games hampir mengambil alih diriku kembali. Aku merasa seperti bangsa Israel yang tidak tahu berterima kasih; yang bahkan setelah mengalami mukjizat Tuhan yang penuh kuasa, kasih, dan pengampunan, aku masih memalingkan perhatianku untuk mengingat kembali akan ikan yang kumakan di Mesir.

Sisa dari apa yang terjadi selama NYTS, aku mengalami pergumulan hebat antara roh dan daging. Aku tahu bahwa aku tidak dapat membiarkan pertempuran ini terus berlanjut. Aku tahu bahwa aku akan kembali pada kehidupanku yang lama saat aku meninggalkan NYTS – diperbudak oleh video games, menyesali waktu yang terbuang sia-sia, namun tidak sanggup berbuat apa-apa.

Aku menyadari bahwa aku butuh sebuah obat dalam dosis yang besar untuk benar-benar menghentikan video games dari kehidupanku. Aku memutuskan untuk bernazar sebelum NYTS berakhir. Aku mengerti kalau kita tidak boleh menganggap remeh nazar, tapi aku tahu Tuhan-ku maha pengasih, sehingga aku memutuskan bahwa bernazar akan lebih menguntungkan untuk diriku daripada tidak melakukannya. Nazarku adalah, “Aku tidak akan menyentuh video games lagi seumur hidupku, jika tidak maka Tuhan akan menghukumku dengan sangat berat, seperti membiarkanku gagal dalam semua pelajaran.”

Setelah kedua orang tuaku mengantarkanku ke rumah dari NYTS, mereka harus pergi ke pesta sahabatnya. Nenekku sedang di luar dan adik laki-lakiku juga tidak sedang di rumah. Rumahku kosong. Godaan untuk bermain video games muncul. Aku dapat mendengarnya memanggilku, “Kemarilah, habiskan malam terakhir denganku, lalu kau dapat melenyapkanku besok.”

Puji syukur pada Tuhan bahwa aku baru saja kembali dari NYTS, dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku berlutut dan berdoa. Setelah 30 detik aku merasa cukup kuat untuk menyalakan komputer, menghapus semua games yang kumainkan, dan memutuskan untuk tidak berurusan lagi dengan video games.

ARAH YANG BARU

Sedikit sulit untuk terbiasa pada awalnya. Aku mendadak mempunyai waktu luang yang amat banyak, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Perlahan-lahan aku menemukan kesenangan berkebun di halaman rumahku, rasa pencapaian saat membantu urusan dapur, kesabaran lebih untuk membaca buku bahasa Inggris (Bahasa Inggris bukanlah bahasa utamaku), lebih banyak waktu untuk keluargaku, dan lebih banyak waktu untuk membaca Alkitab dan berdoa.

Ketika aku kembali kuliah untuk tahun keduaku, aku memiliki waktu yang lebih banyak dengan persekutuan di kampus, lebih banyak waktu untuk fokus dalam akademis, memiliki keingingan untuk menjadi relawan dalam klub, dan lebih semangat menghadiri pelayanan Jumat malam dan bergabung dengan tim paduan suara. Tuhan juga memberkatiku dalam banyak hal, seperti peningkatan nilai akademik; bahkan aku mendapat nilai A+ untuk yang pertama kalinya dalam hidupku; dalam kelas kimia organik yang sulit.

Selama SSC pada musim dingin, aku menemukan bahwa tidak ada lagi rasa hampa setelah berdoa seperti tahun sebelumnya. Yang paling penting, aku menemukan jalan untuk masa depanku yang lebih jelas – aku memiliki arah, dan tujuan untuk terus maju.

Aku ingin menjadi professor di bidang sains, sehingga di kemudian hari aku dapat berkhotbah tentang kebenaran kepada para ilmuwan dan menjadi kesaksian yang baik bagi Kritstus. Seorang professor juga dapat mempengaruhi muridnya secara benar, dan membantu persekutuan dalam kampus. Aku masih belum tahu apakah ini adalah tempat yang diperuntukan Tuhan bagiku, namun aku tahu jika aku mengarahkan tujuanku kepada hadiah terakhir – Menuju Surga – dan aku sungguh-sungguh mengutamakan Tuhan dalam hidupku, maka Tuhan akan memimpinku kepada jalan yang benar.

Berhenti dari video games terkadang terasa seperti terkekang, seperti pada tahun kemarin ketika teman sekamarku berkumpul dan bermain video games tetapi aku tidak dapat bermain, atau ketika seseorang mengajakku untuk bermain video games saat aku pergi ke rumahnya. Tetapi aku tahu bahwa pertemanan yang sesungguhnya tidak dibangun diatas video games. Video games adalah dunia maya dimana kau dapat menutupi idetitas aslimu dan tidak perlu bertanggung jawab akan apa yang kau perbuat. Namun kehidupan yang kita jalani sesungguhnya sama sekali tidak seperti itu.

Video games terkadang membawa kenangan yang indah, seperti ketika aku dan adik laki-lakiku mengalahkan game bersama-sama. Tapi yang sudah lalu biarlah berlalu. Paulus berkata dalam Filipi 3:13, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” Aku yakin masih banyak hal selain video games yang dapat kulakukan dengan adikku untuk mempererat hubungan kami.

Belajar Terbang dalam Ikatan

Aku melihat sebuah video singkat yang sangat membangun pada website Gereja Yesus Sejati Taiwan (http://www.joy.org.tw). Ini menceritakan mengenai sebuah layang-layang yang sangat menikmati terbang, dan berpikir bahwa dia dapat memutuskan diri dari ikatan tali, dia dapat terbang lebih tinggi lagi dan memandang lebih banyak hal. Sehingga dia meminta angin untuk menghempaskannya.

Dia menikmati kebebasannya namun perlahan mulai turun. Dia tersangkut diantara pepohonan, terbawa pergi, namun jatuh di atas tanah. Terinjak dan tertendang, dia dipenuhi dengan lumpur serta penuh luka-luka. Saat dia menangis dan menyesal, seorang anak kecil pemilik layang-layang tersebut menemukannya, membersihkannya, menutupi lukanya, dan membawanya terbang kembali ke angkasa.

Layang-layang tersebut kini menikmati kebebasan terbang dalam tali. Air mata menetes keluar saat aku menonton video ini, meskipun video ini ditujukan untuk anak kecil. Terkadang kita mungkin melihat keluarga, gereja, atau bahkan Tuhan sebagai batasan yang mencegah kita untuk mencapai sesuatu yang tinggi. Namun kenyataannya adalah, tanpa mereka, kita bukan apa-apa.

Aku berharap pengalamanku dapat menguatkan kamu untuk jangan pernah kehilangan harapan dalam Tuhan. Kita tidak perlu takut untuk membuat ketetapan hati untuk Tuhan kita, karena Tuhan kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus, sesungguhnya adalah Tuhan yang maha pengasih.

SETELAH ITU

Semenjak menulis kesaksianku di awal tahun 2007, aku telah menyadari bahwa tidaklah semudah pikiranku untuk menjauhi video games.

Seiring musim panas datang, aku berhenti dari kebiasaanku membaca Alkitab dan berdoa. Oleh sebab itu aku merasa jauh dari Tuhan, dan ketika aku mulai merasa kewalahan dengan tugas pelajaran dan penelitianku, aku tidak mampu menghadapi godaan untuk bermain video games. Bersyukur pada Tuhan, aku berhenti dan bertobat setelah bermain video games dua kali.

Saat sekolah kembali dimulai di musim gugur, iman dan rohaniku kembali stabil. Aku pikir hal ini dikarenakan Irvine Campus Fellowship. Selalu indah mempunyai banyak saudara dan saudari di sekitar kita untuk selalu bersekutu.

Aku tahu bahwa aku memiliki ketetapan untuk berhenti bermain video game tetapi tanpa pertolongan Tuhan aku tidak dapat melakukannya. Jika aku berpikir aku dapat melakukanya dengan kekuatanku sendiri, itu adalah bentuk kesombongan dan aku tidak akan mampu untuk berhasil.

Namun aku tahu bahwa aku tetap dapat hidup dalam kemenangan dengan pertolongan Tuhan dan kasih dari saudara dan saudari sekalian.

Sabtu, 05 Oktober 2019

DULU SAYA TEGAR TENGKUK DAN BODOH



Peter Wong – Malacca, Malaysia

Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi. Ayah saya percaya kepada Yesus saat ia berumur tiga puluhan. Dia seorang penjudi, bahkan sesudah dia dibaptis dia tidak berhenti sampai Tuhan mengingatkan dan menggerakan hatinya melalui serangkaian kejadian. Sama seperti ayah saya, saya juga adalah seorang yang tegar tengkuk.

Menolak Panggilan Tuhan

Pada tahun 2008, beberapa pendeta mengusulkan kepada pengurus di gereja tempat saya berkebaktian untuk mengangkat saya menjadi diaken. Saat saya mendengar berita ini, saya terkejut sekali. Saya benar-benar tidak ingin melayani sebagai seorang diaken; saya berpikir bahwa orang dengan karakter seperti saya tidak cocok. Saya menolak usulan tersebut.

Saat beberapa pendeta menegur saya atas penolakan yang saya lakukan, saya merasa saya ada di posisi yang benar dan saya menjadi kesal terhadap mereka. Saya berpikir sudah cukup baik jika saya aktif di gereja tanpa harus menjadi seorang diaken. Saya memiliki karir yang sangat baik, dan saya menikmati kehidupan pribadi dan kehidupan bergereja saya. Terlebih lagi, saya berpikir bahwa ini adalah hidup saya dan gereja tidak mempunyai hak untuk memutuskan apa yang harus saya lakukan. Saya salah. Dari saat kita dibaptis, hidup kita bukan milik kita lagi tetapi sudah ditebus oleh Yesus; hidup kita adalah kepunyaan Tuhan Yesus dan kita adalah anggota tubuh-Nya yaitu Gereja.

Keadaan yang Aneh

Tidak lama berselang, sesuatu terjadi kepada saya. Suatu malam di tahun 2008, jam 3 subuh, saya tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di punggung saya, seperti seseorang baru saja meninju saya dengan sangat keras. Saya bangun dan menyuruh istri saya untuk memijat punggung saya. Tetapi hal itu tidak membantu. Saya berjalan naik turun di tangga rumah saya, mencoba untuk menghilangkan rasa sakit. Tiba-tiba, saya kehilangan semua fungsi motorik dan tidak bisa berdiri. Sebelum saya roboh, saya berteriak memanggil istri saya, “Saya akan jatuh!” Berbaring di lantai ruang tamu, saya hanya mampu menggerakan kepala saya. Bagian tubuh saya yang lain lumpuh. Saya kaget luar biasa tetapi berusaha menenangkan diri saya sendiri. Sesudah istri saya dan saya berdoa bersama selama satu jam, luar biasa, ada perasaan melegakan di leher saya dan tiba-tiba saya dapat bergerak kembali. Jauh di lubuk hati saya, saya merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tetapi saya menekan hati nurani saya untuk berpikir tentang hal itu.

Sesudah kejadian itu, saya menjalani pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imaging) tetapi hasil menunjukkan tidak ada masalah apa pun. Lega rasanya dan saya pun melanjutkan hidup saya seperti biasa. Sesudah satu tahun kemudian yaitu tahun 2009, gejalanya muncul lagi dan saya jatuh sebanyak tiga kali di waktu yang berlainan – dua kali di rumah dan satu kali di gereja. Setiap kali, sesudah saya berdoa, saya sembuh. Jelas sekali Tuhan ingin memberitahukan sesuatu kepada saya. Istri saya bahkan bertanya kepada saya, “Apakah kamu berbuat kesalahan? Apakah kamu perlu bertobat?” Saya berkata, “Tentu saja tidak.” Tetapi jauh di dasar hati saya, rasa takut mulai ada. Saya merasakan Tuhan sedang memberi saya pelajaran, tetapi sekali lagi saya menekan perasaan saya tersebut, saya keras kepala dan bodoh.

Sesudah kejadian-kejadian ini, kami berkonsultasi dengan berbagai dokter. Semua mengatakan tidak ada apa-apa dengan saya. Salah satu dokter ingin merujuk saya ke psikiater, dan dokter lain bahkan meminta saya untuk menemui “orang pintar”. Saya juga berobat ke akupuntur. Saya bahkan hampir mati di klinik. Lima menit sesudah dokter memulai akupuntur dan meninggalkan ruangan, saya kehilangan semua fungsi motorik saya lagi. Lebih lagi, saya hampir tidak bisa bernafas dan saya merasa saya menjadi lumpuh lagi. Hal ini benar-benar menakutkan. Saya gemetaran, dan saya berteriak minta tolong tetapi tidak ada yang datang. Kemudian saya berdoa dan berjuang untuk meraih handphone saya. Puji Tuhan, saya akhirnya dapat menghubungi istri saya, yang langsung lari ke ruang pengobatan dengan dokter.

Mereka terkejut ketika mereka melihat saya. Pada awalnya, saya tidak bisa bergerak tapi setelah sekitar satu jam, saya dapat bergerak kembali dan pulang ke rumah. Dokter pengobatan alternatif mendesak saya untuk segera menemui dokter bedah.

Tetap Keras Kepala

Keesokan paginya, pada tanggal 14 Juni 2009, saya pergi ke rumah sakit dan langsung dirawat. Sepanjang hari itu saya hanya berbaring di tempat tidur, tanpa ada seorang pun datang memeriksa saya. Dokter bedah memeriksa hasil MRI saya, yang telah dilakukan tahun sebelumnya namun tidak ada masalah. Ia berpikir bahwa tidak mungkin terjadi sesuatu kepada saya dalam waktu sesingkat itu.

Namun pada jam 7 malam itu, saya mengalami rasa sakit kembali dan saya menahannya sampai tengah malam. Saya diberi obat penghilang rasa sakit tetapi tidak berhasil. Rasa sakit mencapai titik di mana tubuh saya tidak bisa menanggungnya lagi dan akhirnya saya kejang. Saya mulai kejang-kejang secara mengerikan di tempat tidur. Saya bahkan tidak ingat apa yang terjadi setelah itu, tapi sepertinya saya telah kehilangan semua indera saya. Menurut istri dan adik saya, saya mulai meneriaki orang tanpa beraturan.

Selain dari rasa sakit, seluruh tubuh saya terasa mati rasa dan saya tidak bisa bernapas. Dokter datang dengan beberapa perawat dan mereka menusuk tubuh saya dengan jarum untuk memeriksa indera perasa saya. Saya benar-benar berpikir bahwa saya tidak akan bertahan hidup. Namun, bahkan pada saat menyakitkan seperti itu, saya tetap keras kepala. Orang lain mungkin akan mulai bertobat dan meminta ampun kepada Tuhan, tapi saya tidak. Saya tidak mau berjanji apa-apa kepada Tuhan.

Malam itu, saya melakukan pemeriksaan MRI lagi dan juga melakukan CT scan. Akhirnya dokter menemukan ada pendarahan di belakang leher saya. Saya harus menjalani operasi darurat untuk menyelamatkan nyawa saya. Dokter masih belum dapat memastikan penyebab pendarahan tersebut dan mengatakan kepada saya bahwa operasi ini akan sangat berbahaya. Dia juga mengatakan bahwa walaupun saya selamat dari operasi ini, saya mungkin kehilangan beberapa fungsi motorik saya. Jauh di dalam hati saya, saya tahu bahwa saya tidak akan mati, namun saya mengatakan kepada istri saya bahwa saya mencintainya dengan pemikiran siapa tahu saya tidak bangun lagi.

Keesokan paginya, saya menjalani operasi. Puji Tuhan, saya bangun setelah itu, dan saya sembuh dalam waktu seminggu, walaupun tiga tulang diambil dari belakang leher saya. Saya juga berterima kasih kepada Tuhan bahwa saya tidak memiliki efek samping dari operasi kecuali kehilangan beberapa bagian dari memori saya.

Melayani Tuhan Dimulai dengan Kepatuhan

Setelah kejadian ini, saya mulai berpikir mengapa hal ini terjadi. Saya mulai berdoa kepada Tuhan. Saya tahu bahwa saya tidak patuh dan bahwa seorang diaken yang tidak patuh akan menyebabkan banyak masalah di gereja. Saya berkata kepada Tuhan: "Tuhan, jika Engkau ingin memakai saya, Engkau harus mengubah saya." Kemudian, saya menyadari bahwa Tuhan memang mengubah saya melalui pengalaman ini. Tuhan meninggalkan bekas luka yang sangat dalam di belakang leher saya, yang akan selalu mengingatkan saya untuk tidak tegar tengkuk.

Pada 2013, pengurus gereja lokal sekali lagi membicarakan tentang masalah diaken kepada saya dan kali ini saya menerima panggilan tersebut. Sejak saat itu, pandangan saya tentang pelayanan Tuhan telah berubah secara signifikan. Di masa lalu, saya egois dan saya hanya akan melakukan pelayanan yang saya sukai saja. Namun, saya menyadari bahwa pekerjaan gereja bukanlah hobi; itu adalah pelayanan kita kepada Tuhan. Jadi ketika kita dengan rendah hati melakukan pelayanan yang kita tidak suka, kita melaksanakan kepatuhan dan benar-benar melayani Tuhan.

Setelah pentahbisan saya sebagai diaken, Tuhan terus mengubah saya. Saat ini, saya selalu berdoa kepada Tuhan untuk membentuk, mengubah, dan membantu saya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, bukan kehendak saya sendiri. Kadang-kadang, saya masih memiliki pikiran negatif atau keras kepala. Setiap kali itu terjadi, saya menjangkau dan menyentuh leher saya. Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan kedua untuk melayani-Nya menurut kehendak-Nya dan atas pengajaran, pembentukan dan perubahan yang Tuhan lakukan atas saya.

Jika kita tegar tengkuk dan mencoba untuk menantang Tuhan, kita akan merasakan kita kalah perang, karena kita memang tidak akan pernah menang melawan Tuhan. Namun, jika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, kita akan menemukan kedamaian dan sukacita dalam pelayanan kita kepada-Nya.

Segala kemuliaan bagi nama Tuhan Yesus terimakasih. Amin.