Sabtu, 30 November 2019

TUHAN YESUS MENGABULKAN DOAKU

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yes. 29:11)
Saya dan suami, Rusmin Ali, menikah pada bulan Desember 1998. Ketika itu tidak terbersit sedikit pun dalam benak kami bahwa kami akan sulit memperoleh keturunan, sehingga sepakat untuk tidak usah buru-buru punya anak karena masih ingin konsentrasi bekerja.

Setelah lewat satu tahun, barulah saya serius berusaha untuk mengandung. Beberapa bulan berlalu tapi belum berhasil juga. Kami pun memutuskan untuk ke dokter. Mula-mula saya diberi program untuk hamil secara alami dengan sistem kalender dan bantuan obat hormon. Sampai badan saya jadi gemuk karena hormon selama enam bulan berusaha, tidak berhasil juga. Berikutnya dokter menyarankan untuk mencoba program yang kemungkinan berhasilnya lebih tinggi tetapi biayanya pun lebih mahal, yaitu inseminasi buatan. Kami dua kali mencoba inseminasi buatan dengan jarak beberapa bulan, tetapi tetap tidak berhasil. Hati saya mulai dihinggapi rasa takut – ternyata ingin punya anak itu tidak mudah.

Mulailah kami gonta-ganti dokter. Dalam kurun 5 tahun saya sudah menjalani 5 kali inseminasi buatan dan menelan, bahkan sampai disuntik, beraneka ragam obat hormon. Saya pikir, selama masih ada jalan, saya akan terus mencoba. Apalagi, menurut dokter, rahim saya tidak ada masalah. Suami pun tak luput menenggak bermacam ragam vitamin. Semua itu benar-benar menghabiskan tenaga dan biaya yang tak terhitung besarnya. Pengobatan tradisional pun tidak ketinggalan kami coba. Tiga kali ganti sinshe dalam waktu 1,5 tahun dengan biaya yang jauh lebih mahal daripada pengobatan modern.

Semuanya itu sungguh melelahkan. Hari-hari yang harus saya lewatkan dengan menunggu apakah hasilnya positif atau negatif, sungguh menyiksa. Sementara itu saya dan suami tak pernah lupa untuk senantiasa berdoa, setiap kali memohon agar program yang saya jalani bisa berhasil, dan memohon dengan sungguh-sungguh agar saya diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Namun ternyata penantian kami masih panjang dan lama, sampai saya hampir putus asa.

Ketika saya sudah bosan, ada teman yang menyarankan untuk mencoba program bayi tabung, program tercanggih di dunia kedokteran saat ini. Biayanya sangat mahal sementara kemungkinan berhasilnya hanya 30%. Teman saya itu sudah mencobanya dan berhasil. Setelah berkonsultasi dengan tim dokter dan diberi penyuluhan tentang risiko dan akibatnya, apalagi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa saluran telur saya dua-duanya tersumbat sehingga memang tidak mungkin hamil dengan cara lain, semakin mantaplah keputusan kami untuk mencobanya.

Awal 2003, program bayi tabung ini dimulai. Setiap hari, tak peduli ada di mana pun saya sebelumnya, saya harus buru-buru terbang ke rumah sakit agar tepat pada jam 1 siang sudah berada di sana, siap untuk disuntik. Tidak boleh telat sedikit pun, karena akan mempengaruhi hormon dalam rahim saya. Dengan tekun saya patuhi semua peraturan walau harus menanggung banyak kesakitan, sambil tak lupa berdoa memohon campur tangan Yesus.

Akhirnya tiba saatnya untuk melakukan transfer embrio. Tiga dari sembilan embrio yang sudah jadi akan dimasukkan ke dalam rahim. Setelah itu kami harus menunggu kira-kira 2 minggu untuk mengetahui apakah program berhasil atau tidak. Dalam masa penantian itu, yang saya lalui dengan harap-harap cemas, saya benar-benar memohon dengan sungguh hati kepada Tuhan agar keinginan kami dikabulkan. Semua kegiatan, termasuk kerja, saya hentikan, supaya bisa benar-benar istirahat di rumah.

Kira-kira 2 minggu kemudian, sebelum memeriksakan diri ke dokter, tiba-tiba saya melihat darah segar keluar. Kepanikan saya terbukti ketika dokter menyatakan bahwa program gagal. Tiga embrio yang sudah ditanam tidak berhasil menempel di rahim; saya tetap menstruasi seperti biasa.

Sedihnya luar biasa. Segala biaya, jerih lelah, dan rasa sakit yang saya tanggung ternyata sia-sia. Yang tersisa hanya penderitaan dan keputusasaan yang mendalam. Dalam isak tangis, saya mengatakan kepada Tuhan, kalau ini memang kehendak-Nya, saya akan tegar. Saya mencoba untuk tetap setia dan tidak kecewa kepada-Nya. Memang dalam lubuk hati yang terdalam ada perasaan bahwa Tuhan tidak memedulikan saya, tetapi bisikan si jahat ini tidak saya gubris. Saya pasrah sepenuhnya dan tetap mau percaya bahwa Tuhan punya rencana sendiri. Dan saya pun memutuskan untuk menghentikan usaha mendapatkan anak ini. Biarlah segalanya terjadi sesuai dengan kehendak-Nya saja.

Baru saja program bayi tabung ini selesai, papa mertua saya sakit keras sampai akhirnya meninggal pada pertengahan 2003. Seluruh perhatian kami pun tersita pada urusan perawatan yang begitu melelahkan seluruh anggota keluarga mertua saya, juga untuk memberitakan kebenaran dan secepatnya mengenalkan Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kepada papa dan mama mertua. Hingga akhirnya, pada detik-detik terakhir sebelum papa mertua menjadi lumpuh, beliau dan mama mertua dibaptis.

Kami semua sangat terharu dan bersukacita karena satu pasang lagi domba yang hilang ditemukan. Alangkah baiknya Tuhan yang memberikan kesempatan dan kesaksian yang begitu indah buat keluarga mertua saya. Tuhan begitu lembut dan penuh kasih, karena mau menerima mereka tepat pada waktunya. Di tengah sekian banyak ujian, ternyata ada sinar mukjizat Tuhan yang meneguhkan iman kami berdua, bahkan seluruh keluarga. Saya jadi mengerti, mengapa Tuhan tidak mengizinkan saya hamil pada saat itu, yaitu agar saya bisa ikut merawat dan menginjili papa mertua.

Setengah tahun 2003 itu begitu melelahkan dan penuh tekanan, membuat saya ingin cuti panjang dari pekerjaan dan pergi berlibur ke Singapura sampai entah kapan, menginap di rumah teman sekolah yang juga saudari seiman. Ketika saya memberitahukan rencana ini kepada adik saya, ia langsung menyarankan agar saya memeriksakan diri ke rumah sakit pemerintah di Singapura. Sejujurnya, saya sudah muak dengan segala urusan ke dokter kandungan. Tapi saya pikir, toh saya memang mau check-up, tak ada salahnya sekalian periksa urusan kehamilan. Paling-paling komentarnya sama saja dengan dokter di sini. Lagipula, setelah program yang paling canggih pun gagal, saya sudah membuang semua harapan untuk hamil.

Tiba di Singapura awal Agustus 2003, pada hari ketiga saya menemui profesor dokter sambil membawa dokumen-dokument medis lengkap. Sangat mengejutkan, si profesor bilang hasil pemeriksaan terdahulu belum tentu benar. Saya jadi sedikit lega; artinya saluran telur saya mungkin tidak tersumbat dan saya masih bisa hamil kalau Tuhan mengizinkan. Setelah memeriksa saya, ia langsung memutuskan bahwa saya harus segera dioperasi karena ada endometriosis, infeksi di luar saluran rahim, yang selain tidak baik bagi kesehatan secara keseluruhan, juga menyebabkan kehamilan lebih sulit terjadi.

Setelah operasi, profesor itu mengatakan bahwa dalam waktu 3 bulan saya pasti bisa hamil secara alami. Kalau tidak hamil juga, saya disuruh kembali lagi pada bulan November 2003. Saya pribadi sudah tidak berani berharap lagi. Yang penting, penyakit itu sudah dibuang dan tubuh saya tentu jadi lebih sehat.

Tiga bulan berlalu, saya tidak terlalu memikirkan masalah kontrol ulang karena sibuk dengan masalah pindah rumah. Setelah 5 tahun tinggal di rumah kontrakan, Tuhan Yesus memberi kami rejeki untuk membangun rumah sendiri. Betapa indahnya kalau di rumah itu nanti ada seorang... ah, langsung saja saya kubur dalam-dalam pikiran itu. Lalu pada Januari 2004, seorang saudari seiman, yang juga teman baik saya, menganjurkan untuk mencoba adopsi saja.

Dengan begitu banyak kegagalan yang saya alami selama ini, masalah yang sebelumnya sama sekali tidak saya inginkan ini akhirnya benar-benar saya pertimbangkan. Suami dan orangtua saya juga mendukung. Dalam kebimbangan, saya berdoa kepada Tuhan. Akhirnya saya pun setuju untuk adopsi. Sejak semula, ibu dari calon bayi yang akan saya adopsi sudah menegaskan, bila yang lahir laki-laki, perjanjian batal, tetapi kalau perempuan, saya boleh mengambilnya.

Ketika saat melahirkan tiba, yang lahir bayi perempuan. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba saja ibu itu berubah pikiran! Dia tidak tega memberikan anaknya kepada orang lain. Saya dan suami sempat bingung, mengapa ingin mengadopsi anak pun, Tuhan tidak mengizinkan? Di satu pihak saya lega karena tidak jadi adopsi, di sisi lain saya merasa takut, karena kelihatannya Tuhan benar-benar tidak mau memberi saya keturunan. Saya hanya bisa bertanya-tanya kepada Tuhan, apa maksud dari semua ini dan memohon agar diberi kekuatan dan kesabaran untuk menantikan rencana-Nya.

Pada bulan April 2004, saya dan suami mendapat liburan dari kantor, jalan-jalan ke Praha, Cekoslowakia, selama 10 hari. Bersama rekan-rekan seprofesi, kami bermain, berlari kian-kemari, berhujan-hujanan salju – hujan salju pertama yang kami rasakan. Setiap hari kami keluar main sampai letih sekali, tiba di hotel langsung berendam air panas dan tidur.

Usai liburan dari kantor, kami lanjutkan dengan jalan-jalan sendiri ke Jerman naik kereta selama 6 jam lalu disambung dengan bermobil selama 2 jam. Harus angkat-angkat sendiri koper yang beratnya minta ampun. Di Jerman kami menginap di rumah sahabat saya semasa SMP, yang juga saudari seiman, dan suaminya. Tiga malam di sana, setiap hari kami diajak jalan-jalan, dalam cuaca yang jauh lebih dingin daripada di Praha, sampai larut malam, jam 12 baru pulang. Capeknya luar biasa. Setelah itu kami pulang ke Indonesia.

Sebelum berangkat ke Eropa, saya sempat memeriksakan diri ke dokter kandungan karena sudah telat menstruasi sekitar sebulan. Dokter memberikan obat hormon, yang katanya setelah dikonsumsi selama 10 hari, akan membuat menstruasi keluar. Tapi 20 hari sudah lewat, sampai saya sudah balik lagi ke Indonesia dan obat juga sudah habis, saya belum juga mendapat haid. Saya jadi khawatir, apakah saya terkena penyakit lain? Saya memutuskan untuk ke dokter lagi.

Tetapi pagi-pagi sebelum ke dokter, iseng-iseng saya tes air seni walau dengan pikiran, mustahil saya hamil. Saya terkejut setengah mati melihat hasilnya: + (positif). Puji Tuhan! Saya sangat bersukacita, tapi hanya bisa berteriak di dalam hati. Saya dan suami langsung berlutut berdoa bersama-sama, memuji Tuhan sampai menitikkan air mata. Juga memohon agar hasil tes ini tidak salah.

Ketika hasil tes itu saya perlihatkan ke dokter, dia langsung memberi selamat. Melihat saya masih ragu, dokter melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG). Di layar, terlihatlah janin kecil seumur jagung tumbuh di dalam rahim saya. Dokter berkata, “Ibu, ini tandanya positif hamil, 99,9999%. Yakin, ya? Usianya sudah dua bulan.” Rasa bahagia saya sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata!

Kalau saya renungkan kembali, pengaturan waktu Tuhan memang benar-benar tepat. Rumah sudah tersedia, adopsi tidak jadi, kedua mertua sudah dibaptis menjadi anak-anak Tuhan. Tuhan memang punya rencana yang lebih baik daripada yang saya bayangkan. Dia ingin memberi saya anak dari rahim sendiri, setelah semua kehendak dan pekerjaan-Nya selesai. Dalam kondisi kelelahan akibat jalan-jalan ke luar negeri ditambah makan obat untuk mempercepat menstruasi, Tuhan menjaga kandungan saya. Kalau Tuhan sudah memberikan, dalam keadaan bagaimana pun, tetap saja bisa hamil. Dan selama 9 bulan kehamilan, saya tetap bekerja seperti biasa.

Akhirnya, setelah menunggu selama 5 tahun, pada tanggal 2 November 2004, lahirlah bayi perempuan pemberian Yesus yang sangat cantik dan sehat, Megan Isabelle Lifian, melalui operasi Caesar. Kebahagiaan saya sungguh meluap-luap. Sekarang Megan sudah berumur 8 bulan. Setelah dia besar nanti, saya akan menceritakan mukjizat yang takkan pernah saya lupakan ini kepadanya, agar dia tahu bagaimana Tuhan sangat mengasihi dia dan ibunya.

Terima kasih, Tuhan Yesus, Engkau sudah mengabulkan doaku. Hanya Engkau yang pantas disembah dan dipuji, karena hanya Engkaulah yang dapat memberikan segala sesuatu, yang dapat membuat yang mustahil jadi mungkin. Segala puji dan kemuliaan memang selayaknya hanya bagi nama-Mu. Amin.

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ia telah membuat segala sesuatu indah pada waktunya. (Pkh. 3:1,11)

Fifi Sofian - Sunter, Jakarta



Senin, 25 November 2019

10 TAHUN KAKI DAN TANGAN PECAH-PECAH, TUHAN PULIHKAN


Ia sendiri telah memikul dosa kita, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. (1 Petrus 2:24)
Penderitaan saya bermula sejak saya masih tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Pada tahun 1983, kulit telapak tangan saya mengelupas. Saya pikir ini cuma pergantian kulit biasa. Jadi tidak saya hiraukan. Tetapi ternyata pengelupasan kulit ini tidak kunjung berhenti, menyebabkan kulit telapak tangan saya semakin tipis, sampai warna otot yang kemerah-merahan seakan membayang. Tidak berhenti sampai di sana, pengelupasan kulit ini mulai menyebar ke kaki. Kulit di sela-sela jari-jari tangan dan kaki pun jadi pecah-pecah, yang tidak jarang menimbulkan rasa perih.

Pada saat itu saya mulai khawatir karena merasa bahwa pengelupasan kulit ini bukanlah perkara sepele. Maka saya segera pergi ke dokter spesialis kulit. Dokter mendiagnosa bahwa saya menderita eksim. Tetapi harapan saya untuk sembuh hanya tinggal harapan. Berulang kali saya mengunjungi dokter spesialis kulit, tapi tidak membuahkan hasil yang menggembirakan.

Melihat penderitaan yang saya alami, banyak orang menyarankan pengobatan alternatif secara tradisional. Terdorong keinginan untuk sembuh, berbagai jenis pengobatan alternatif pun saya coba. Makan daging trenggiling, membalurkan bedak yang terbuat dari kulit trenggiling, merendam tangan dan kaki dalam air rebusan daun inboh, dsb. Namun penyakit saya tidak kunjung sembuh.

Karena merasa sangat terganggu oleh rasa perih yang saya alami, saya sering merendam tangan dan kaki dalam larutan kapur. Kapur bahan bangunan kalau dicampur air menimbulkan suhu panas yang terasa nyaman bagi kulit pecah-pecah saya. Tapi akibatnya telapak tangan dan kaki saya menjadi kaku dan semakin kasar, sungguh tidak sedap dipandang. Akhirnya saya merasa bosan dengan segala usaha pengobatan yang ternyata sia-sia itu. Saya pun memutuskan untuk tidak berobat lagi.

Tahun 1989 saya pindah ke Solo. Di sana saya berkenalan dengan Sri Lestari, seorang jemaat Gereja Yesus Sejati, yang kemudian menjadi istri saya. Karena berkenalan dengan dialah saya mulai berkebaktian di Gereja Yesus Sejati walaupun sampai kami menikah pada tahun 1991 saya belum juga dibaptis.

Setahun kemudian Tuhan memberkati keluarga kami dengan kelahiran putri pertama, Della. Sewaktu Della baru berusia beberapa bulan, kami berencana untuk membaptisnya. Saya sendiri masih belum tergerak untuk dibaptis di Gereja Yesus Sejati, karena saya sudah dibaptis di gereja yang saya kunjungi sejak kecil di Kudus.

Namun kasih Tuhan sungguh teramat besar, Ia menggerakkan seorang hamba Tuhan untuk memberitakan kebenaran tentang baptisan kepada saya. Roh Kudus bekerja. Saya yang tadinya bersikeras menolak dibaptis ulang, akhirnya tergerak untuk menerima baptisan yang benar yang sesuai dengan Alkitab bersama-sama dengan putri saya.

Usai baptisan ada sakramen basuh kaki. Saya bilang kepada istri, saya malu dan sungkan menerima sakramen basuh kaki mengingat keadaan kaki saya yang pecah-pecah dan agak bau—apakah pendeta mau membasuh kaki saya? Istri saya menyuruh jangan khawatir, pendeta pasti mau membasuh kaki saya tanpa rasa jijik.

Kuasa Tuhan sungguh nyata. Setelah dibaptis dan dibasuh kaki, telapak tangan dan kaki saya berangsur-angsur pulih sendiri dalam beberapa bulan, tanpa diobati apa-apa, dan sampai saat ini tidak pernah kambuh lagi. Telapak tangan dan kaki menjadi halus seperti sekarang.

Saya sangat bersyukur karena setelah 10 tahun menantikan kesembuhan sampai-sampai bosan dengan berbagai upaya pengobatan, akhirnya dengan kuasa Tuhan Yesus, kesembuhan datang tanpa diminta.

Tuhan juga menambahkan berkat-Nya kepada keluarga kami dengan kelahiran putra kedua, Yesaya, pada tahun 1996. Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Riyanto - Solo


Rabu, 20 November 2019

TIDAK ADA TENUNGAN YANG MEMPAN

Saya berasal dari keluarga non-Kristen, dan sejak kecil diajar untuk rajin beribadah. Tetapi, walaupun rajin beribadah, saya tidak merasa kalau Tuhan itu ada dalam kehidupan saya. 

Pada tahun 2001 saya bekerja sebagai babby sitter di salah satu keluarga jemaat Gereja Yesus Sejati. Kemudian saya dibawa ke gereja dan diperkenalkan pada agama Kristen oleh keluarga itu. Setelah beberapa bulan mendengarkan Firman Tuhan, saya mulai mengenal kebenaran dan jalan keselamatan. Setiap malam saya selalu berdoa memohon Roh Kudus di rumah, karena saya tahu bahwa Roh Kudus itu Roh Allah yang dapat menyelamatkan kita dan membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Surga. 

Kurang lebih enam bulan mendengarkan firman Tuhan, saya menjadi percaya dan yakin kalau Tuhan Yesus itu benar-benar ada. Pada suatu kebaktian Jumat malam, saya ikut maju ke depan untuk berdoa memohon Roh Kudus. Pendeta menumpangkan tangan di atas kepala saya yang terus berdoa mengucapkan "Haleluya, Haleluya." Tak lama kemudian lidah saya bergetar dan mengucapkan kata-kata dalam bahasa lain yang saya sendiri tidak tahu apa artinya. Lalu tangan saya bergerak-gerak sendiri, dan hati saya terasa tenang dan damai; begitu sukacitanya sampai tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. 

Ketika bel tanda doa selesai berbunyi, seketika itu juga bahasa asing itu berhenti dengan sendirinya. Pendeta memberitahukan bahwa saya telah menerima Roh Kudus. Sejak saat itu, setiap kali berdoa saya selalu memakai bahasa Roh, dan saya merasa hidup saya semakin tenang dan damai. Saya merasakan bahwa Tuhan Yesus hidup dalam diri saya dan selalu menyertai setiap langkah saya. 

Beberapa bulan kemudian, saya minta dibaptis, yang dilaksanakan pada tanggal 14 September 2002. Kurang lebih delapan bulan setelah dibaptis dan ikut Tuhan Yesus, saya mengalami cobaan yang berat, karena ibu saya meninggal dunia. Saya pulang ke kampung halaman saya di Kediri, dan selama satu bulan di sana, saya berdoa dengan cara sembunyi-sembunyi karena belum berani berterus terang kepada keluarga. Pada suatu hari, sewaktu saya sedang berdoa di dalam kamar, tiba-tiba ayah saya masuk. Memergoki saya yang sedang berdoa itu, ayah saya langsung marah. Akhirnya saya pun berterus terang kepada keluarga bahwa saya sekarang beragama Kristen. Mendengar hal itu, seisi keluarga sangat marah dan memusuhi saya, terutama Ayah, yang begitu marahnya sampai tidak mau bicara dengan saya. 

Kira-kira dua minggu kemudian, saya diberi air putih yang sudah diberi mantera oleh paranormal. Saya tidak boleh minum air putih lain kecuali air yang sudah disediakan itu. Jadi setiap kali mau minum, saya selalu berdoa dalam hati agar Tuhan Yesus menyertai saya. Selama di kampung saya hanya minum air putih itu, bahkan sampai sekarang pun kalau saya pulang, pasti disediakan air yang sudah dimanterai itu. 

Setelah saya beberapa hari minum air itu, si paranormal datang ke rumah. Saya disuruh duduk di depannya, lalu didoakan. Saya tetap tenang, dan di dalam hati terus berdoa. Saya percaya bahwa Tuhan Yesus yang ada di dalam diri saya akan selalu melindungi saya. Setelah beberapa menit berdoa, si paranormal berkata kepada Ayah: "Anak Bapak sudah tidak bisa lagi berbalik pada agama yang lama. Dia sudah percaya pada Tuhan yang lain." 

Setelah satu bulan di kampung, saya kembali ke Jakarta, tapi tidak langsung ke tempat kerja, melainkan mampir dulu ke rumah Bibi. Sampai di rumah Bibi, Bibi mengajak saya pergi, katanya mau diajak ke rumah saudara. Tapi ternyata saya dibawa ke rumah seorang paranormal. Setibanya di sana, paranormal itu bertanya kepada saya, "Kamu agama apa?" 
"Saya agama Kristen," jawab saya. 
Mendengar itu si paranormal berkata, "Pantas saja dari tadi saya merasa panas, semakin kamu dekat ke rumah saya, saya merasa semakin panas." 

Saya pun disuruh menatap mata paranormal itu dan mengikuti kata-kata yang diucapkannya. Tetapi saya tidak mengikuti perintahnya karena dalam hati saya ada yang berkata, "Jangan ikuti, jangan ikuti." Sambil memandang mata paranormal itu, saya terus berdoa di dalam hati. Akhirnya si paranormal tidak kuat memandang mata saya, lalu mengatakan kepada Bibi bahwa saya sudah tidak bisa berbalik ke agama yang lama dan lebih percaya pada agama yang baru. Paranormal itu juga mengatakan bahwa di dalam diri saya ada hawa sejuk dan sinar teramat terang yang melindungi saya. 

Sampai saat ini pun, Ayah masih belum merelakan saya memeluk agama Kristen. Berbagai macam cara beliau lakukan agar saya bisa kembali ke agama lama. Setiap malam Jumat, Ayah dan paranormal di kampung terus berdoa dan membaca-baca mantera. Bahkan baju saya pun dibawa ke rumah paranormal itu untuk diberi mantra. Puji Tuhan, karena Roh Kudus bekerja, saya di sini tidak merasakan apa-apa dan tidak ada sesuatu pun yang terjadi pada diri saya. Memang Ayah tidak mengusir secara langsung ataupun tidak mengakui saya sebagai anaknya, tapi secara halus Ayah menentang agama saya. 

Karena segala yang saya alami ini, saya makin bersyukur pada Tuhan Yesus karena Tuhanlah yang melindungi dan bekerja dalam diri saya, sehingga segala macam roh jahat tidak dapat mengganggu saya, seperti kata Firman Tuhan: tidak ada mantera ataupun tenungan yang mempan terhadap Yakub (Bil. 23:23). 

Dengan bersandar pada Tuhan dan menjalankan Firman Tuhan, kita yakin dan percaya bahwa Roh Allah sendiri yang akan bekerja dalam hidup kita. Oleh karena itu kita harus rajin berdoa, jangan sampai kita berputus asa dalam memohon Roh Kudus. Biarpun sudah bertahun-tahun lamanya memohon dan sampai sekarang Tuhan belum juga mencurahkan Roh Kudus-Nya, kita yakin bahwa suatu saat nanti Tuhan pasti akan memberikan Roh Kudus-Nya, seperti janji Firman Tuhan: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu" (Luk. 11:9). Kiranya firman ini dapat menguatkan iman kita dan mendorong kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus, Juruselamat kita. 

Selain itu, Tuhan Yesus pun berkenan memberikan penglihatan yang membuat saya semakin percaya bahwa Dia benar-benar ada dan sungguh merupakan Juruselamat kita umat Kristen, dan Roh Kudus-Nya selalu menjaga kita walaupun kita tidak menyadarinya, asalkan kita senantiasa bersandar pada Tuhan Yesus. 

Penglihatan pertama terjadi pada suatu malam di hari Kamis tahun 2003, saat saya sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba saja saya berdiri di suatu tempat yang amat gelap dan sempit. Sewaktu saya berjalan dan terus berjalan, jalan yang saya lalui semakin melebar dan menjadi terang sekali. Di ujung jalan, saya melihat Seseorang yang sedang duduk di atas kursi dari emas yang indah sekali. Di kanan dan kiri-Nya, tampak banyak orang berpakaian putih yang sedang menyanyikan pujian-pujian. Saya tahu bahwa Dia adalah Tuhan Yesus yang duduk di atas tahta Kerajaan Surga. Saya berusaha untuk memandang wajah Tuhan tetapi tidak dapat, karena wajah-Nya tertutup oleh sinar yang sangat terang. Kemudian tangan Tuhan Yesus diulurkan ke arah saya. Saya berusaha untuk memegang tangan-Nya, tetapi untuk menyentuh pun tidak dapat. 

Yang kedua terjadi beberapa bulan kemudian pada tahun yang sama, melalui sebuah mimpi. Saya melihat banyak orang sedang berkumpul membentuk lingkaran. Di antara orang-orang itu ada saya dan Nyonya, majikan saya. Tiba-tiba dari bawah kami keluarlah api yang sangat besar membakar kami semua. Dari arah depan, Nyonya mengajak saya untuk mengatakan "Haleluya! Haleluya!" Heran sekali, semua orang yang berkumpul di tempat itu terbakar sampai hangus, bahkan sampai tidak kelihatan seperti manusia lagi, tetapi kuasa Tuhan sungguh aneh dan ajaib. Tuhan Yesus melindungi saya dan Nyonya sehingga sedikit pun kami tidak terbakar, tidak terluka, dan tidak merasa panas. Puji dan syukur hanya bagi Tuhan Yesus! 

"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Rm. 8:28). Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. 

Haleluya, amin! 

Any Mulyani – Sunter, Jakarta




Jumat, 15 November 2019

DI LAUT DAN DI GUNUNG

D
"Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang,
atau bulan pada waktu malam."(Mzm. 121:6)
Aku sangat menyukai pemandangan alam. Pemandangan matahari terbenam yang melatarbelakangi sawah di belakang rumahku, kadang kala membuatku menahan napas mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Sebentuk pohon yang tumbuh di tepi jalan yang kulihat dalam perjalanan bepergian dengan bus, juga dapat menggetarkan hatiku. Aku juga suka memandangi hewan-hewan: betapa lucunya anak-anak anjing, kucing, ayam, kambing; bahkan seekor ulat hijau berkepala besar di pohon sirsak pun kuanggap lucu. 

Karena itulah aku berkeinginan mengunjungi tempat-tempat wisata alam untuk menikmati keindahannya. Kesempatan datang ketika aku mulai kuliah. Sebagai mahasiswa baru kami diwajibkan memilih salah satu kegiatan di kampus. Aku melihat dalam daftar kegiatan tercantum kelompok pencinta alam. Dengan gembira aku memilih kelompok itu dan tidak menghiraukan kelompok kegiatan lainnya. Aku tahu bahwa untuk mengikuti kegiatan kepencinta-alaman membutuhkan biaya yang cukup besar. Karena itu aku berusaha menyisihkan sebagian uang yang kuterima untuk dapat mengikuti berbagai kegiatan yang dilakukan. Puji syukur, selama masa pembinaan calon anggota, kegiatan praktek lapangan dilakukan di daerah-daerah yang tidak terlalu jauh, jadi ongkos transportasi dapat ditekan. 

Pembinaan yang dilakukan cukup berat, tapi aku sangat senang mengikutinya. Aku dapat menikmati dinginnya udara malam di pegunungan dan dinginnya hembusan angin laut pada malam hari; sebab bila kita tidak pernah merasakan dingin, kita tidak akan tahu bagaimana hangatnya sinar matahari. Juga merasakan tetesan-tetesan keringat mengalir di wajah ketika mendaki gunung, merasakan kegelapan dan dinginnya udara di dalam gua dengan bau khasnya berupa kotoran kelelawar seraya mengamati ornamen gua berupa berbagai bentuk stalaktit dan stalakmitnya, merasakan hembusan angin yang menyertai jatuhnya air pada sebuah air terjun sampai terbentuk pelangi, mendengar kicauan burung dan teriakan satwa hutan, dan pengalaman-pengalaman tak terlupakan lainnya. Sungguh! Semua itu adalah ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa. Betapa kecil manusia bila kita merasakan kebesaran alam ciptaan Tuhan. 

Suatu hari di tahun 1996, aku beserta lima orang teman pergi ke sebuah pantai di selatan pulau Jawa. Dengan riang kami menyusuri pantai seharian, merasakan hangatnya sinar matahari di kulit kami. Malamnya kami tidur di alam terbuka di tepi pantai, diselimuti oleh cahaya keemasan bulan purnama. Walaupun banyak nyamuk yang mengganggu, sungguh tak terlupakan kenangan ketika berbaring menatap langit yang bertaburan bintang. Satu lagi ciptaan Tuhan yang membuat aku kembali merasa kecil. Pagi harinya kami melanjutkan perjalanan menyusuri pantai. Hari itu adalah hari libur dan esoknya kami harus kembali kuliah. Karena itu kami akhirnya memutuskan untuk kembali agar tidak terlalu malam sampai di rumah. 

Kami berhasil memperoleh sebuah perahu-motor-bercadik kecil untuk kembali ke pantai di mana kami tiba pertama kali. Dengan hati gembira kami mulai melaju di air laut yang biru jernih. Merasakan hembusan angin dan hangatnya sinar matahari, kami tidak menyadari ombak-ombak kecil yang mulai memasuki perahu. Yang terjadi selanjutnya, secara perlahan perahu mulai masuk ke dalam air, turun dan turun. Kami akan tenggelam! Aku panik dan segera berteriak ‘Haleluya’ di dalam hati. Aku takut sekali. Aku tidak bisa berenang! Untunglah nelayan tukang perahu itu menenangkan kami. Ia berkata bahwa kayu tidak dapat tenggelam. Mendengar itu aku lega kembali. Kami terapung-apung dengan berpegangan pada perahu. Teman-temanku yang bisa berenang turun ke laut dan berusaha mengeluarkan air dari dalam perahu, tapi sia-sia. Beban kami terlalu berat, perahu kecil itu tidak dapat menahannya. 

Kami dapat melihat tepi pantai, karena itu kami berusaha berenang dan mendorong perahu ke arah pantai. Sia-sia. Kami tidak tahu sudah berapa lama terapung-apung di laut ketika sebuah perahu-bercadik lain yang lebih besar lewat. Puji Tuhan! Kami berteriak dan perahu itu mendekat. Kami tertolong. Kami mendarat di pantai dengan perut lapar dan pakaian basah. Kami segera berganti pakaian dan mendapat jamuan makan di salah satu rumah penduduk. Tidak pernah aku merasakan nikmatnya makan seperti waktu itu, walau dengan lauk yang sederhana. Puji syukur kepada Tuhan, Ia telah menolong kami. Kami pulang dengan kenangan tak terlupakan. 

Setahun kemudian, pada bulan Desember 1997, aku dan teman-teman kelompok pecinta alam dari berbagai universitas mendaki sebuah gunung di Jawa Tengah. Pendakian kami jalani dengan santai. Waktu itu musim hujan, sehingga perjalanan kami adakalanya disertai turunnya hujan. Walaupun demikian pendakian tetap dilakukan. Untunglah hujan yang turun tidak terlalu deras dan air yang jatuh terhalang oleh lebatnya kanopi hutan. Ada satu saat di mana kami harus berhenti dan mendirikan tenda sementara untuk berteduh karena hujan yang turun cukup deras. Pendakian ke puncak gunung memerlukan waktu tiga hari, jadi kami tidur di tenda-tenda selama dua malam. 

Untuk mencapai puncak gunung kami harus mendaki lereng berpasir dan berbatu-batu yang mudah lepas. Karena itu kami harus hati-hati agar tidak tergelincir dan terguling ke bawah. Cuaca cukup cerah ketika itu, matahari bersinar dengan terang. Puncak gunung berupa kawah yang sangat luas, kami harus hati-hati menyusuri bibir kawah. Setelah mengambil foto dan mengisi perut ala kadarnya untuk menahan lapar, kami bermaksud turun kembali ke base camp. 

Perjalanan turun ini juga memerlukan kehati-hatian agar tidak tergelincir jatuh. Belum sampai sepuluh menit kami berjalan turun, tiba-tiba cuaca berubah. Langit menjadi gelap dan awan hitam menggumpal-gumpal. Di ketinggian lebih dari 3400 m dpl, tiba-tiba turun hujan es! Kami pernah mendengar bahwa pada bulan Februari sering terjadi badai putih di puncak gunung ini, di mana kabut putih menyelimuti dan udara menjadi sangat dingin, seluruh pemandangan berwarna putih. Telah banyak korban yang terjebak badai itu. Kami takut kalau yang kami hadapi itu adalah badai putih. Kilat menyambar-nyambar, jadi kami turun dengan berjongkok, berusaha serapat mungkin dengan permukaan tanah. Udara sangat dingin, dan aku hampir-hampir tidak dapat menggerakkan kaki! Aku berseru dalam hati “Tuhan, tolong! Selamatkan kami.” Dan Ia mendengar doaku. Hujan es dan badai kilat yang terasa sangat lama itu tiba-tiba berhenti, dan aku dapat berjalan normal kembali. Aku baru menyadari kalau semua orang berusaha turun paling cepat untuk menyelamatkan dirinya masing-masing, tanpa peduli kepada teman-teman lainnya yang tertinggal. Aku termasuk yang paling akhir tiba di base camp. Tubuhku bergetar menggigil kedinginan, tapi aku yakin Tuhan Yesus tidak akan meninggalkanku. 

Aku dilahirkan di sebuah keluarga yang telah percaya Yesus di Gereja Yesus Sejati. Dengan sendirinya aku mengikuti kepercayaan orangtuaku. Tetapi semakin besar aku semakin memahami kebenaran ajaran Gereja Yesus Sejati, yang benar-benar sesuai dengan firman Tuhan. Untuk itu aku sangat bersyukur menjadi salah seorang anak ayah dan ibuku, walaupun hidup kami cukup sederhana. Aku menjalani kehidupanku dengan lancar tanpa ada masalah yang berarti. Mungkin karena itulah aku terbiasa akan kemudahan-kemudahan yang kuperoleh dalam kehidupanku. Semua berkat yang kuterima kuanggap biasa dan sudah sewajarnya. Dan aku percaya bahwa Tuhan Yesus akan selalu melindungiku di mana pun aku berada. 

Oleh karenanya, kejadian di laut dan di gunung itu aku anggap biasa saja, dan aku tidak pernah berpikir untuk menuliskannya sebagai kesaksian agar diketahui oleh saudara-saudari lainnya. Aku berpikir bahwa kejadian itu tidak terlalu ‘menggemparkan’ seperti kesaksian tentang kesembuhan dari penyakit berat, terhindar dari kecelakaan hebat, penglihatan ajaib, dan lain-lain, yang sering disaksikan oleh saudara-saudari seiman lainnya. Namun kini aku sadar dan sangat bersyukur karena Tuhan telah memberikan kehidupan yang sangat baik kepadaku sehingga aku tidak sampai mengalami penderitaan yang cukup berat. Sungguh, dengan adanya kedua peristiwa itu aku semakin yakin bahwa Ia selalu melindungi umat-Nya. 

Biarlah kesaksian ini dapat memuliakan Allah Bapa kita, Tuhan Yesus Kristus. Amin. 

"Tuhan akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu." (Mzm. 121:7) 

Lidia Chang - Tangerang


Minggu, 10 November 2019

MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL

Maria Santi Inggriani—Edmonton, Canada

Bertumbuh dalam Iman

Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga besar di Indonesia. Aku adalah anak tertua dari lima bersaudara, dan meskipun kami tidak memiliki banyak uang, kami tidak pernah merasa kekurangan karena kebutuhan kami selalu dicukupi oleh Tuhan. Ayah saya bekerja sangat keras ia memiliki beberapa pekerjaan dan ibu saya adalah seorang guru.

Kami dibaptis di gereja dari anak-anak dan sudah terbiasa untuk mengikuti kebaktian dan berdoa, tapi aku tidak benar-benar memahami apakah iman itu. Saya tidak mengerti mengapa saya perlu berdoa dan pergi ke gereja, dan saya tidak mengenal Yesus atau memiliki hubungan yang dekat dengan-Nya. Namun, saya memiliki ibu yang bisa menjadi contoh yang baik untuk saya, yang berdoa selama satu sampai dua jam setiap pagi.

Setelah lulus dari SMA, saya masuk sebuah universitas di kota sejauh dua jam dari rumah. Saya merasa kesepian karena saya tidak punya teman, dan saya berada jauh dari keluarga saya. Meskipun saya tinggal dengan ayah saya, yang telah mendirikan bisnis baru di sana, saya tak lagi tinggal bersama saudara saya atau ibu saya. Dan karena ayah saya bekerja sangat keras untuk menafkahi kami, saya tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan ayah.

Saya merasa begitu sendirian dan tak berdaya sampai saya berpikir untuk bunuh diri. Tapi suatu hari saya memutuskan bahwa saya akan meminta Tuhan untuk membantu saya mengatasi keputusasaan saya. Saya mulai berdoa setiap hari selama tiga puluh menit sampai satu jam. Saya mulai membaca Alkitab, dan kadang-kadang saya berpuasa. Sedikit demi sedikit, Tuhan menyembuhkan saya. Saya mendapatkan kekuatan dari membaca Alkitab, dari khotbah di gereja, dan dari perbincangan dengan saudara-saudari lainnya.

Pandangan saya berubah dan saya menjadi lebih bahagia dan lebih ramah kepada orang lain. Lebih penting lagi, saya merasa damai dan mengerti bagaimana diberkatinya saya sebagai anak Allah dan mengenal Dia. Saya akhirnya mengerti apa iman itu dan mengapa hal itu penting, dan iman tersebut tetap bersama dengan saya melalui saat baik dan buruk.

Masalah Ekonomi

Indonesia mengalami krisis ekonomi pada awal tahun 2009 sebagai bagian dari resesi dunia. Bisnis ayah saya itu sangat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi yang buruk, dan, tanpa penghasilan, keluarga kami tidak mampu membayar utang.

Semuanya berubah di rumah, menjadi tempat yang suram tanpa adanya damai atau tawa. Ayah saya berada di dalam banyak tekanan dan mulai khawatir tentang masa depan kita. Dia berbicara kepada saya tentang banyak permasalahan yang membuat dia cemas, seperti seolah-olah ia akan segera mati dan keluarga tidak bisa melunasi hutang, atau apa yang akan terjadi jika dia dimasukkan ke dalam penjara.

Ayah saya memberitahu saya tentang asuransi jiwa miliknya dan meminta saya untuk mengurus keluarga karena saya adalah anak tertua. Dia bahkan mengajari saya bagaimana untuk membangun kembali bisnisnya jika ia sudah tidak ada. Saya sangat sedih dan takut melihat keadaan ayah saya yang seperti ini

Saya belum pernah melihat ayah saya menangis sebelumnya, tapi saya melihat ayah saya meneteskan air mata di depan keluarga karena masalah ini. Hati saya menjadi pilu. Situasi kami sulit untuk diterima karena saya tidak ingin menjadi miskin. Saya takut apa yang akan terjadi pada kami dan tidak tahu apa yang bisa saya lakukan untuk menolong keluarga kami.



MENERIMA KEMISKINAN

Ketika krisis menerpa bisnis ayah saya, dia tidak memberitahu adik saya bagaimana sulitnya keadaan saat ini. Mereka hanya tahu bahwa bisnis itu tidak berjalan dengan baik, dan mereka melakukan apa yang mereka bisa untuk membantu keluarga.

Setiap hari saya berdoa selama tiga puluh menit sampai satu jam. Setiap kali saya berdoa kepada Tuhan, saya meneteskan air mata karena kesulitan yang kami hadapi. Saya memiliki begitu banyak pertanyaan tentang apa yang akan terjadi jika kita kehilangan segalanya. Bagaimana saya akan melanjutkan bisnis ayah saya? Apa yang bisa saya lakukan untuk memberi makan keluarga saya? Dan apa yang akan saya lakukan untuk dapat menyelesaikan tahun terakhir saya di universitas?

Saya menceriterakan segalanya kepada Yesus. Selama doa saya, saya merasa bahwa hati saya berkata, "Ini adalah kesempatan untuk membuktikan iman Anda. Ini adalah kesempatan untuk mengandalkan iman Anda dalam situasi apapun. Buktikan bahwa segala sesuatu adalah pemberian dari Tuhan sehingga apa pun yang terjadi, Anda akan mengatakan 'Terima kasih Tuhan.' "

Setelah pengalaman ini, saya menghadapi dilema: di satu sisi saya tidak ingin menjadi miskin, tetapi di sisi lain ini adalah kesempatan bagi saya untuk mewujudkan iman saya ke dalam tindakan. Jadi, saya mencoba untuk menerima kemungkinan bahwa kita akan kehilangan segalanya.

Saya membayangkan apa jadinya jika saya tidak punya uang untuk membeli makanan-mungkin saya harus makan nasi dan garam setiap hari. Saya akan menjadi kotor dan lapar sepanjang waktu. Mungkin Saya harus berjalan di mana-mana, termasuk ke gereja.

Setelah saya membayangkan semua hal-hal negatif yang terjadi, saya menerimanya. Saya bahkan bisa bersyukur kepada Tuhan karena saya masih tetap hidup bahkan jika saya menjadi miskin dan lapar. Selama saya masih hidup, saya masih akan mampu untuk melayani Dia, dan saya menyadari bahwa hidup bagi Allah adalah semua yang saya butuhkan.

Dikuatkan oleh Mujizat

Meskipun masalah kami masih belum terselesaikan, saya tidak lagi takut atau khawatir. Saya tahu bahwa Allah akan menjaga kami, dan yang harus kita lakukan adalah memiliki iman dan percaya kepada-Nya.

Ayah saya memutuskan untuk menjual mobilnya untuk membantu melunasi sebagian dari utang, dan saya membantunya memasang iklan online. Saya menemukan seseorang yang ingin membeli mobil dan kami siap untuk menyerahkannya kepadanya setelah kami menerima pembayaran darinya.Tapi ketika kami sedang membuat jadwal untuk pengambilan mobil kami, dia mengatakan bahwa dia tidak ingin membeli mobil lagi.

Dia menjelaskan bahwa ia tahu bahwa kami membutuhkan mobil tersebut dan kami bisa menyimpan uang yang sudah ia bayar kepada kami. Kami sangat terkejut dan bersyukur kepada Allah. Itu adalah keajaiban yang menguatkan kami ketika kami sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Uang yang kami terima sangat membantu kami. Kami masih memiliki banyak utang, tapi kami mampu untuk membayar biaya hidup sehari-hari, dan itu sudah cukup bagi kita.

YANG KAMI BUTUHKAN ADALAH YESUS

Setelah melalui masa sulit ini, saya belajar bahwa pencobaan membantu kita memahami hal-hal yang kita tidak dimengerti sebelumnya. Ini adalah kesempatan bagi kami untuk bertumbuh. Jika hidup kami berjalan mulus, kami tidak akan membutuhkan bantuan. Jika kami tidak pernah membutuhkan bantuan, kami tidak dapat mengerti apa artinya percaya dan mengandalkan Tuhan.

Allah memberikan saya cobaan ini sehingga saya bisa belajar tentang iman. Yang penting adalah bahwa saya menerima situasi ini dan mempercayakan segalanya kepada Tuhan. Seperti Ayub berkata, "TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, Terpujilah nama TUHAN "(Ayub 1:21b).

Meskipun sangat menyakitkan untuk memikirkan apa yang bisa terjadi, saya mengatasi semua kekhawatiran dan ketakutan saya karena Yesus. Jika kita kehilangan segalanya-uang, teman, anak, atau orang tua-kita masih bisa bertahan hidup. Kami akan tetap memiliki Yesus, Tuhan kita yang luar biasa, dan itu adalah semua yang kita butuhkan.

Seperti dikatakan dalam Pengkhotbah, segala sesuatu di dunia ini sia-sia.Apa yang membuat hidup kita berharga adalah memiliki Yesus, menyenangkan Dia, dan melayani-Nya dengan segenap hati kita sampai menghembuskan nafas terakhir.

Matius 6:33 mengatakan, "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dan semua hal ini akan ditambahkan kepadamu."Janji ini dari Yesus adalah benar. Saya tahu karena saya mengalaminya secara langsung.

Tuhan tahu hati kita. Jika kita mencari hal-hal duniawi, hidup kita akan menjadi sia-sia. Tetapi ketika kita mencari Allah, Dia tidak akan membiarkan kita melalui sesuatu yang tidak bisa kita tangani. Jika kita menghadapi masa-masa sulit, semua yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada-Nya, karena Dia memiliki tujuan dalam apa yang telah direncanakan untuk kita, dan itu adalah untuk yang terbaik.

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.(Rom 5:3-5)

Tuhan adalah kekuatan dan sandaran kita. Apa pun yang terjadi, kita melakukan apa yang benar dan menyenangkan hati-Nya ketika kita bersyukur dalam segala keadaan.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.(1 Tes 5:18)

Selasa, 05 November 2019

SELAMAT DARI LEMPENGAN BETON


Oleh Sdr. Xiu-Ying Ho

Haleluya, di dalam namaTuhanYesus saya bersaksi. Saya ingin bersaksi bagaimana satu-satunya cucu perempuan saya diselamatkan dari kecelakaan melalui kasih karunia Tuhan. Kecelakaan ini terjadi tahun lalu pada tanggal 13 Mei, ketika cucu perempuan saya, Yong Xing Ho, dan cucu saya yang lain yang satu kelas dengannya sedang bermain.Pada hari itu, orang tua mereka berada di Kao-Xiung dan dua anak-anak tersebut bermain di luar rumah mereka. Pada sekitar 3:30 siang, saya mendengar cucu saya yang satunya berteriak, "Yong Xing jatuh!" Segera saya berlari keluar dan bertemu dengan dua tetangga saya yang berkata kepada saya, "Kami tidak bisa menemukan pekerja bangunan untuk membantu menyelamatkan!" Kebetulan bagian depan dan samping rumah saya sedang dalam proses konstruksi, ada bangunan-bangunan besar yang sedang dibangun. Oleh karena itu, ada terpasang tanda bahaya pada tempat tersebut. 

Salah satu tetangga saya kemudian pergi mencari suaminya. Pada saat itu, saya mulai panik dan menuju ke lokasi pembangunan dan berteriak mencari Yong Xing. "Aku di sini!" Sebuah suara keluar dari bawah beton yang ditempatkan lima kaki di atas sebuah dinding. Kedua anak berjalan di atas beton ketikamereka tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Yong Xing, kemudian terjebak di bawah beton dan dia berseru, "Haleluya!" dan mencoba mengangkat beton. Tapi dia tidak bisa menggerakannya dan merasakankan sakit yang luar biasa di pinggang. Saya melihat bahwa ada potongan-potongan pecahan kaca dan beton di tanah dan saya mendengar suara yang mengatakan bahwa Yong Xing mungkin bisa menjadi cacat.

Saat itu, saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan memohon Dia untuk menyelamatkan cucu perempuan saya satu-satunya dan hanya Dia-lahsatu-satunya yang dapat menyelamatkan cucu saya. Saat itu, saya bisa mendengar langkah kaki suami Ny. Lee yang berhasil mengangkat beton dengan tangannya yang kuat. Cucu saya akhirnya dapat ditarik keluar dari bawah beton. Kecuali untuk beberapa memar di wajahnya, dia tampak baik-baik saja. TerimakasihTuhan! Tangan-Nya yang kuat menahan beton tersebut. Tidak lama kemudian, beton terlepas dari tangan Bp. Lee dan jatuh dengan suara yang keras. Saya membawa Yong Xing pulang dan kami berdoa bersama. Dia segera masuk kekamar untuk tidur tanpa banyak berkata-kata. Setelah selesai berdoa, saya merasa kuatir bahwa dia mungkin menderita luka dalam, jadi saya membawanya ke rumahsakit di Tai-Nan. Dari pemeriksaan medis, tidak ada luka serius namun dia diopname untuk observasi lebih lanjut. Setelah saya memberitahu kronologis kejadian kepada dokter, dokter menempatkan dia dalam kondisi kritis untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dia diberi masker oksigen dan diinfus. Pada saat itu, cucu saya merasa mengantuk dan tertidur. Sesaat kemudian dia batuk-batuk darah dan ada luka memar di sisi kiri wajahnya.

Cucu saya bangun keesokan harinya. Ketika ditanya apakah dia merasa sakit, dia menjawab tidak ada. Saat kejadian, dia hanya merasa bahwa wajahnya bengkok namun dia tidak merasa takut sama sekali. Terimakasih Tuhan! Hal ini tentunya penyertaan Tuhan. Setelah enam hari di rumahsakit, kecuali untuk pembengkakan di otaknya, semua memar yang lain telah sepenuhnya menghilang. Hasil observasi menyatakan bahwa darah yang keluar saat dia batuk-batuk waktu itu bukan dari luka dalam tapi dari memarnya. Saya merasa segala sesuatunya sudah beres dan memutuskan untuk membawa Yong Xing pulang. Namun dokter bersikeras agar Yong Xing tetap dirawat di rumahsakit dikarenakan pembengkakan di otaknya masih ada. Jika pembengkakan itu tidak hilang, dia harus menjalani operasi yang bisa saja membuat dia beresiko terinfeksi.

Namun, meskipun beberapa hari kemudian pembengkakan tidak berkurang, kami meminta izin dokter untuk membawa dia pulang. Kami ingin hanya mengandalkan Yesus. Kami kemudian membawanya kembali ke Kao-Xiung bersama dengan obatnya. Malam itu, gereja Shi-Tian berdoa untuk kami. Hari berikutnya bertepatan hari Sabat, di Gereja kami berdoa sepanjang hari tanpa Yong Xing meminum obat sama sekali. Secara ajaib, pembengkakannya mulai menghilang. Keesokan harinya, pembengkakannya hanya sebesar koin. Dari kejadian ini, kita pastinya bisa melihat bahwa hari Sabat adalah hari dimana kita dapat menerima berkat-berkat dari Tuhan. Seminggu kemudian, kami kembali ke Tai-Nan dan dokter memberitahukan bahwa Yong Xing sudah sembuh sepenuhnya. Dia juga tidak perlu menjalani rontgen.

Bersyukur kepada Tuhan atas berkat-Nya yang indah dan menakjubkan. Tidak ada obat lain yang bisa menyembuhkan secepat obat dari Tuhan. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada jemaat-jemaat gerejaTai-Nan, Kai-Yuan dan Shi-Juan untuk kasih mereka dalam doa-doa tak henti-hentinya dan juga untuk pembesukan dari mereka secara terus menerus. Doa-doa mereka yang tidak putus-putus akhirnya didengar oleh Tuhan yang menyembuhkan domba kecil ini. Kejadian ini juga memuliakan nama Tuhan dan juga mengungkapkan mujizat dari Allah kepada orang-orang yang tidak percaya. Beberapa orang bahkan berkomentar, "Seandainya kami tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, kami tidak akan percaya bahwa cucu Anda adalah anak yang mengalami kecelakan ditimpa beton. Harusnya walaupun tidak meninggal, biasanya akan mengalami cacat. Mungkin hal ini disebabkan ibadah Anda yang tulus kepada Tuhanmu sehingga Yesus Kristus melindungi cucu perempuan Anda.” Seperti tercatat dalam Mazmur 34:8, “Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” Segala kemuliaan untuknama-Nya! Amin.