Senin, 30 Desember 2019

DIPULIHKAN DARI KECANDUAN ALKOHOL

Sekitar tujuh tahun lalu, banyak rekan bisnis saya yang suka minum minuman keras dan berjudi. Suatu kali dalam perjalanan bisnis ke kota saya bertemu dengan seorang teman dan ia mengundang saya untuk bermain kartu di rumahnya. Bukannya pergi membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang, saya setuju untuk bermain kartu dengan dia dan akhirnya saya menginap di rumahnya selama tujuh hari tujuh malam. Selama itu kami tidak tidur maupun makan. Kami hanya minum minuman beralkohol untuk menghilangkan rasa haus kami.

Pada hari ketujuh saya ingin pulang ke rumah tetapi ia membujuk saya untuk tinggal lebih lama dan menunggu beberapa temannya yang juga ingin bermain kartu. Sementara menunggu saya berenang selama kurang lebih satu jam. Kelelahan dan kelaparan maka saya keluar dari kolam dan memakan beberapa udang yang dicelupkan kedalam minuman beralkohol. Sekitar dua puluh menit kemudian saya memuntahkan semua yang baru saja saya makan. Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba lalu kami melanjutkan bermain kartu lagi. Setelah dua putaran saya merasa sangat lemah lalu saya memakan beberapa buah dan meminum beberapa gelas minuman beralkohol. Saya tertidur dan merasakan mengeluarkan keringat dingin. Saya menggigil walaupun sudah diselimuti lima penghangat.

Teman saya sangat ketakutan lalu ia membawa saya ke rumah sakit. Seorang dokter memperingatkan saya jika saya minum lebih banyak lagi mereka harus membawa saya ke kamar jenazah. Sel darah putih saya berjumlah melebihi normal jadi saya harus tinggal di rumah sakit untuk menjalani beberapa perawatan. Setelah pemulihan saya selalu mengingat peringatan dokter tersebut, saya tidak berani lagi untuk meminum meinuman beralkohol. Pada suatu waktu dalam perjalanan untuk menghadiri sebuah pernikahan saya meminum beberapa bir. Saat saya tiba di rumah dari mempelai perempuan, saya jatuh tak sadarkan diri dan mereka memanggil ambulans untuk membawa saya ke rumah sakit. Karena itu adalah pernikahan saudari ipar saya, saya memutuskan untuk kembali ke pernikahan tersebut nanti. Ketika saya sampai saya meminum segelas air putih dan saya merasa tubuh saya menjadi lemah lagi.

Dokter memberitahu istri saya bahwa hati saya sudah mengeras jadi proses pemulihan akan menjadi sulit. Kemungkinan saya hanya memiliki waktu tiga tahun lagi untuk hidup. Saya dimasukan ke tempat rehabilitasi bagi pecandu alkohol selama 41 hari. Setelah saya keluar dari tempat rehabilitasi saya tidak minum minuman beralkohol selama empat bulan. Tetapi dalam suatu acara ketika saya pergi berburu dengan tetangga saya, saya tidak dapat menahan diri saya untuk tidak meminum minuman beralkohol. Sejak itu kecanduan saya bertambah parah. Saya dapat menghabiskan enam botol minuman keras dalam dua jam. Pada malam hari saya dapat melihat nyamuk-nyamuk yang menjadi mabuk disekitar saya dikarenakan kadar alkohol yang ada didalam darah saya. Saya menelantarkan keluarga dan pekerjaan saya dan hidup untuk minum. Lalu istri saya meninggalkan saya tanpa memberitahu saya. Setiap hari saya begitu mabuk sehingga tidak menyadari bahwa semua anggota keluarga saya sudah meninggalkan saya.

Pada satu titik saya tidak merasa nyaman lagi di rumah karena jika saya tiba-tiba meninggal, tidak akan ada yang tahu lalu saya menjual rumah itu dan pindah ke kota untuk berbisnis. Saya mulai minum-minum lagi dan setengah tahun kemudian saya tidak dapat berjalan dengan baik. Pada waktu itu ada seorang saudara dari Gereja Yesus Sejati yang tinggal di kota. Ia melihat kondisi saya dan mengundang saya untuk mengikuti kebaktian di gereja bersama dia, berharap bahwa Tuhan akan mengobati penyakit saya.

Setelah beberapa lama pergi ke gereja dengan teratur, saya memutuskan untuk dibaptis. Empat atau lima hari sebelum dibaptis saya menerima Roh Kudus. Saya dibaptis pada tanggal 1 November 1981. Tepat sebelum baptisan, seorang teman mencobai saya dengan minuman beralkohol. Saya memutuskan ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Saya meminum dua botol dan belum saya berjalan lebih dari lima langkah saya memuntahkan itu semua. Seluruh kepala saya menjadi memerah. Orang lain dapat mencium bau alkohol di sekitar saya. Tuhan berbelas kasihan pada saya. Ketika saya dibaptis saya melihat darah Tuhan Yesus.

Setelah baptisan, saya dihukum oleh Tuhan karena saya tidak menyadari dosa-dosa saya. Karena kasihNya dan kuasaNya saya akhirnya diberkati dan dipulihkan seluruhnya. Sekarang hidup saya sudah menetap dan saya sangat bertekun untuk gereja. Istri saya kembali dan menyemangati saya untuk mengikuti kelas teologi dari gereja untuk membantu saya memahami Alkitab. Saya berterima kasih pada Tuhan karena sudah menyelamatkan hidup saya dan memberikan saya kesempatan kedua.





Rabu, 25 Desember 2019

BINTANG YANG MEMBAWAKU KEPADA GEREJA YESUS SEJATI

(Manna 28/Lim Sook Imm, Singapura)

Nama saya adalah Lim Sook Imm. Saya dilahirkan pada tahun 1959 dan dibesarkan di dalam sebuah keluarga penganut Taoisme yang saleh.Sejak dari masa kecil saya sudah menjalani kehidupan ritual-ritual ibadah agama dan ketaatan. Dan ini adalah tentang bagaimana saya menjadi percaya di dalam Tuhan.

Suatu hari ketika masih di sekolah dasar, guru saya menceritakan sebuah kisah tentang seseorang bernama Yesus, yang hidup pada dahulu kala di kota Betlehem. Dia menunjukkan banyak tanda heran dan mujizat serta menyembuhkan banyak orang sakit, termasuk yang pincang, yang lumpuh bahkan yang kerasukan setan. Akan tetapi, orang-orang sebangsanya tidak menyukai-Nya. Jadi, mereka menyalibkan Dia sampai mati di kayu salib.

Saya mendengarkan cerita itu dengan penuh perhatian. Itu adalah pertama kalinya saya mendengar cerita seperti itu. Ketika saya mendengar bahwa Dia dihukum mati, entah bagaimana, saya menaruh perasaan simpati untuk-Nya di dalam hati. Pada tengah malam di hari itu, saya bermimpi. Saya melihat ada seorang laki-laki yang sepertinya baik sedang terikat dengan tali coklat dan berdiri di awan-awan. Kepala-Nya terbungkus kain dan ada sebatang tongkat di tangan-Nya. Perlahan-lahan, Dia turun dari awan. Saya jatuh berlutut dan menatap Dia dengan sungguh-sungguh. Orang itu berkata kepada saya, “Akulah Yesus. Kamu harus percaya kepada-Ku. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh. 14:14). Sesudah itu, saya terbangun dari mimpi, tetapi saya menyimpan mimpi saya tersebut di dalam hati.

Ayah saya adalah satu-satunya pencari nafkah di dalam keluarga agar bisa menghidupi sepuluh anak, ibu dan nenek. Saya adalah anak kedelapan. Tekanan hidup kerap menimbulkan pertengkaran di antara kedua orangtua saya. Saya masih ingat, pada suatu kali, di saat pertengkaran itu, ayah saya menghancurkan tempayan yang berisi beras untuk melampiaskan amarahnya. Melihat lantai penuh berserakan dengan butiran-butiran beras, saya segera memungutnya dengan tangan dan memasukkannya ke dalam sebuah baskom. Karena saya merasa kuatir, jika tidak demikian, jangan-jangan tidak ada nasi untuk dimakan. Saya melihat sendiri bagaimana orang tua saya tetap menderita walaupun mereka begitu taat kepada berhala mereka. Ibu saya begitu saleh kepada dewa-dewanya, tetapi dia belum mendapatkan apapun sebagai balasannya, termasuk perlindungan dari pada dewa-dewa mereka tersebut. Lalu, saya bertekad bahwa saya tidak akan menyembah berhala-berhala itu yang selama ini ditaruh di dalam rumah. Saya akan berdoa kepada Yesus untuk melindungi keluarga saya.

Ketika saya berusia 15 tahun, salah satu teman sekelas mengajak saya untuk datang ke Gereja Yesus Sejati. Tadinya saya mengira akan mendapatkan sekolah gratis di gereja tersebut sehingga saya pun meminta izin kepada kedua orangtua saya dengan dasar itu dan merekapun menyetujuinya. Akan tetapi bahkan sesudah menyadari bukan untuk mendapatkan sekolah gratis, saya ternyata masih senang dengan ajakan teman saya tersebut. Sesudah sekian lama, akhirnya saya baru mempunyai kesempatan untuk tahu lebih banyak tentang Yesus, yang ternyata pernah saya impikan dahulu dan yang pernah diceritakan oleh guru saya. Jadi saya ikut teman saya berkebaktian Sabat di Gereja Yesus Sejati pada tahun 1974. Sebagai orang asing di gereja itu, saya cuma bisa mengamat-amati. Tetapi ketika mendengar doa jemaatnya, saya mendengar suara doanya bagaikan desau air bah, sama seperti yang diilustrasikan di dalam Alkitab (Why. 19:6). Sayapun mengikuti kebaktian-kebaktian di sana selama 15 bulan. Selama waktu tersebut saya mempelajari dasar-dasar kepercayaan dari Gereja Yesus Sejati. Dari Alkitab, saya juga dapat mengetahui bahwa:

1. Yesus adalah Firman yang menjadi manusia dan Dia mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Dia bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga. Dia adalah Juruselamat manusia, Allah semesta alam dan satu-satunya Allah yang sejati (Yoh. 1:14; Mat. 20:28; Yoh. 20:1-8; Luk. 2:8-11);

2. Baptisan air adalah sakramen untuk penebusan dosa (Yoh. 3:5; Kis. 2:38),

3. Percaya di dalam Yesus berarti takut akan Allah dan mengasihi sesama manusia (Mat. 22:34-40).

Ternyata menghadiri kebaktian-kebaktian di gereja sangat bermanfaat bagi saya, tetapi saya juga menjumpai pencobaan dan pengujian. Sebagai contoh, percaya Yesus oleh sebagian besar anggota keluarga saya dianggap sebagai suatu pelanggaran di dalam silsilah keluarga. Kasih sayang nenek, air mata ibu, sikap keras ayah, dan teguran dari saudara-saudara kandung dijadikan alasan yang kuat untuk melawan keputusan saya untuk percaya kepada Tuhan. Dihadapkan pada hal-hal tersebut, hati saya mulai bimbang. Suatu malam, saya memutuskan untuk berdoa kepada Tuhan memohon petunjuk-Nya. Tuhan, langkah apa yang seharusnya saya ambil? Lalu, saya bermimpi. Di dalam mimpi itu, saya melihat sebuah bintang terang yang muncul dari halaman belakang rumah. Merasa takjub, saya pun ingin menggapainya. Saya mendekati bintang itu, tetapi tiba-tiba saja bintang itu bergerak, menjauh dari halaman belakang saya ke jalan utama, terus melintasi banyak tempat sampai akhirnya berhenti di hadapan Gereja Yesus Sejati di Telok Kurau! Ketika berhenti di situ, bintang itu makin terang benderang sehingga saya tidak mampu lagi membuka mata.

Mimpi saya diakhiri dengan sampainya saya di Gereja Yesus Sejati. Ini mengingatkan saya akan cerita kelahiran Yesus, ketika orang-orang Majus juga mengikuti bintang dari Timur sampai berhenti tepat di atas tempat bayi Yesus berada (Mat. 2:1-12).

Meskipun ada perbedaan waktu dan keadaan di antara saya dan orang-orang Majus itu, saya sebenarnya yakin bahwa Tuhan Yesus telah mendengarkan doa saya dan menunjukkan kepada saya arah mana harus saya ambil.

Oleh sebab kasih karunia-Nyalah, saya dibaptis di dalam TUHAN pada bulan Desember 1975.

Lim Sook Imm
Singapura


Jumat, 20 Desember 2019

DISEMBUHKAN LUAR DALAM

Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi untuk memuliakan nama-Nya. Saya telah menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati (GYS) sejak saya lahir. Saya dibaptis dan dibesarkan di gereja, mengikuti kelas-kelas pendidikan agama, dan bahkan menerima Roh Kudus ketika saya masih muda. Karena masa kecil saya begitu berakar dalam iman, semua orang mengira saya akan tumbuh menjadi remaja teladan Gereja Yesus Sejati, tapi ternyata hal itu tidak menjadi kenyataan
"SAYA TIDAK PERLU ALLAH"

Ketika saya mulai memasuki SMA, perilaku dan kerohanian saya baik-baik saja. Namun, kehidupan rohani saya jatuh seirin gsaya menjalani tahun pertama saya di SMA. Pada tahun pertama saya, saya bertengkar dengan keluarga saya setiap hari, pergi ke tempat mana pun yang saya mau, terus-menerus terus-menerus, dan berteman dengan teman yang tidak baik. Saya mulai membenci gereja dan saudara-saudari di gereja. Saya dikendalikan oleh pikiran dan keinginan saya. Hal tersebut berkembang ke suatu titik di mana saya berpikir untuk berhenti datang gereja karena saya tidak bisa mengerti mengapa saya terikat dengan begitu banyak aturan ketika semua yang saya inginkan adalah kebebasan saya. Saya merasa dikucilkan dan dihakimi di gereja, dan saya merasa bahwa Tuhan tidak mencintaiku. Keangkuhan juga mulai tumbuh dalam hati saya karena segala sesuatu dalam hidup saya begitu baik. Saya masih muda dan berprestasi di sekolah. Tidak ada hal buruk yang pernah terjadi pada saya. Saya merasa kebal terhadap apapun.

Selama masa ini, hubungan antara ibu saya dan saya juga memburuk. Seringkali, saya akan bekerja dan dia terkadang akan memasuki kamar saya untuk bertanya apakah saya telah berdoa. Setiap kali dia masuk, saya marah akan membentak dengan berkata, "Tidak ! Mengapa kau pikir saya berdoa?" Saya akan mengusir ibu saya pergi karena kehadirannya sangat mengganggu saya. Apa yang saya tidak sadari adalah bahwa saya terlihat sangat gembira, namun di dalam hati saya sedang sekarat.


SAYA MENYERAH, DIA TIDAK

Suatu pagi pada bulan Oktober tahun 2012, pada tahun pertama saya di SMA, saya terbangun dengan leher sangat pegal. Ketika saya pergi ke kamar mandi dan melihat ke cermin, saya melihat benjolan seukuran permen karet, mencuat keluar dari tulang selangka (pundak) sebelah kiri. Seiring saya terus mengamati benjolan tersebut, saya tidak pernah berpikir tentang kanker. Keangkuhan dalam hati saya mengatakan bahwa hal itu mustahil-tidak pernah bisa terjadi pada saya. Seminggu berlalu dan benjolan tersebut telah membengkak sebesar ukuran kepalan tangan saya. Seiring minggu demi minggu berlalu, benjolan tampak tumbuh lebih besar.

Setelah menemui serangkaian spesialis dan ahli kanker, saya didiagnosa menderita limfoma stadium II Hodgkin, yang merupakan kanker kelenjar getah bening. Akhirnya, panik mulai merasuk dalam hati saya. Saya pikir siapa pun akan takut setelah didiagnosa menderita kanker. Iman saya lemah, jadi saya tidak menyalahkan Tuhan atau meminta bantuan-Nya. Rasanya sia-sia karena saya berpikir bahwa Tuhan tidak mencintaiku.

Setelah didiagnosa menderita kanker, prosedur standarnya adalah menjalani beberapa pemeriksaan tubuh. Ternyata ada dua tumor di tubuh saya, satu di tulang selangka kiri saya, dan satu lagi, besarnya sekitar 9 cm, di tengah-tengah dada saya, tepat di atas hati saya. Terima kasih Tuhan, meskipun saya punya dua tumor besar, kanker tersebut hanya sampai pada tahap II, yang berarti bahwa kanker tersebut ditemukan di tahap awal dan dapat diobati. Pada kenyataannya, tanpa keluarnya benjolan kecil untuk memberitahu saya bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuh saya, saya tidak akan pernah tahu bahwa ada benjolan yang lebih besar di dada saya.


IMAN TERLAHIR KEMBALI MELALUI PENDERITAAN

Kesaksian ini bukan tentang keajaiban besar, tapi berkat kecil yang saya terima selama pengobatan saya, di mana Allah perlahan-lahan melatih iman dan ketekunan saya. Melalui pelajaran-pelajaran kecil ini, saya belajar bahwa Tuhan memang mencintai saya. Dia ingin saya melalui ujian ini, tetapi Dia tidak pernah memberi saya lebih dari yang bisa saya hadapi.

Kemoterapi saya berlangsung sekitar sekali setiap dua minggu. Meskipun kemoterapi tersebut sulit untuk dihadapi, kemoterapi tersebut lebih ringan dan lebih sedikit frekuensinya daripada pengobatan yang dijalani anak-anak senasib di rumah sakit. Namun, saya masih merasakan rasa sakit yang luar biasa. Saya harus menerima injeksi khusus untuk mengisi sel-sel darah putih saya. Sel darah putih dibuat di sumsum tulang kita, jadi ada malam yang tak terhitung jumlahnya ketika saya tersentak terjaga oleh sensasi terbakar yang menyakitkan di tulang belakang saya. Di satu malam, saya bertanya kepada Tuhan mengapa Dia membawa penderitaan ini kepada saya, dan saya memohon kepada-Nya untuk menghilangkan rasa sakit ini. Ketika saya berbaring di sana, saya mulai merenungkan betapa berdosanya hidup saya.

Saya ingat bahwa, "Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi" (Amsal 3:12). Saat saya berpikir tentang ayat ini, isi doa saya mulai mengalami perubahan. Saya mulai mengerti bahwa Allah sedang menghukum saya, dan saya menerima tindakan-Nya, seperti umat Allah di bagian akhir dari Zakharia 1: 6:

Maka bertobatlah mereka serta berkata: Sebagaimana TUHAN semesta alam bermaksud mengambil tindakan terhadap kita sesuai dengan tingkah laku kita dan perbuatan kita, demikianlah Ia mengambil tindakan terhadap kita!"

Dalam doa saya, saya mulai mengakui kesalahan saya. Saya mengakui bahwa hal ini pantas saya dapatkan dan saya menerimanya. Ketika saya kembali ke Tuhan, Dia menunjukkan kesetiaan-Nya dan mengurangi penderitaan saya. Terima kasih Tuhan, pengobatan saya berjalan sekitar enam bulan total, waktu yang relatif singkat dalam hal pengobatan kanker.

Tuhan juga melindungi saya secara psikologis. Sepanjang seluruh diagnosis dan pengobatan saya, saya hanya sekali menangis. Setelah itu, saya tidak pernah merasa takut atau tertekan, karena saya tahu bahwa Tuhan telah menempatkan saya ke tangan manusia yang handal seiring melindungi saya dengan tangan-Nya sendiri. Saya memiliki dukungan yang besar dari orang tua saya, teman-teman, keluarga, dan gereja. Saya merasa damai dan sukacita tercurah pada diri saya, yang hanya dimungkinkan melalui pengharapan kepada Allah.


BERKAT DI GEREJA DAN DI RUMAH

Berkat lainnya adalah saya bisa pergi ke gereja sepanjang saya sakit, meskipun saya dirawat di rumah. Kanker mempengaruhi sistem kekebalan tubuh saya, jadi saya harus belajar di rumah. Saya tidak diijinkan untuk pergi keluar sering-sering, karena bahkan flu biasa bisa membunuh saya. Tapi ketika hari Sabtu tiba, saya akan berpakaian dan pergi ke gereja untuk menjaga hari Sabat. Saya bisa terus melakukan pekerjaan kudus dan bersekutu dengan saudara-saudara saya. Saya seharusnya memakai masker pelindung ketika saya pergi keluar sehingga saya tidak akan sakit, tapi saya tidak memakai masker di gereja. Saya tidak takut karena saya merasa bahwa Tuhan melindungi saya, Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada saya.

Karena itu, gereja adalah satu-satunya sumber pengaruh selama periode enam bulan tersebut. Ini adalah berkat lainnya, karena saya telah dihapus dari kegelapan tempat saya tinggal dulunya. Saya tidak lagi dikelilingi oleh teman-teman yang buruk atau pengaruh negatif di sekolah. Allah menyembuhkan saya secara rohani, dan pada saat yang sama, Dia mengisi saya dengan kasih dan rahmat-Nya melalui anggota gereja dan keluarga saya. Saya tidak lagi merasa perlu untuk berdosa atau untuk memenuhi kesenangan saya sendiri, karena saya sudah merasa sangat tercukupi.

Berkat terbesar adalah bahwa kanker mengubah hubungan saya dengan keluarga saya. Setelah enam bulan menjadi sakit dan menghabiskan setiap hari dengan orang tua saya, saya mengalami cinta mereka lebih dari yang bisa dibayangkan. Mereka mendukung saya selama kemoterapi saya, karena mereka menemani saya setiap sesi, membuat saya merasa nyaman, membersihkan saya setelah hari yang panjang, dan membantu saya pulih. Mereka mencurahkan seluruh hidup mereka untuk merawat saya dan memastikan saya baik-baik saja. Saya benar-benar berterima kasih kepada Tuhan untuk memberikan saya orang tua yang menakjubkan.

Saya merenungkan mengapa dahulu saya melawan keluarga saya dan menyadari bahwa alasan saya sungguh egois dan sia-sia. Saya memutuskan untuk berhenti berkelahi dengan keluarga saya karena mereka tidak layak menerima kata-kata kasar saya setelah menunjukkan begitu banyak cinta dan perawatan. Terima kasih Tuhan, sejak saat itu, kami tidak mengalami perkelahian serius, dan saya bahkan memberitahu orang tua saya bahwa saya mencintai mereka sepanjang waktu. Saya juga tidak tega membohongi mereka lagi, karena saya sekarang mengerti betapa mereka mencintai saya. Dengan cara ini, kanker adalah panggilan Tuhan untuk membangunkan saya.

Setelah semuanya selesai, ibu saya mengatakan kepada saya bahwa sebelum diagnosis kanker, ketika dia sedang memasak atau membersihkan rumah, dia akan mendengar saya berdoa dalam bahasa lidah, tetapi ketika ia datang untuk memeriksa saya, saya hanya terlihat sedang duduk bekerja. Dalam kebingungannya, ia bertanya apakah saya sedang berdoa, hanya untuk menerima jawaban kasar. Dia mengatakan kepada saya bahwa ini adalah cara Tuhan mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada saya dan bahwa ia harus berdoa untuk saya. Tuhan sedang mempersiapkan seluruh keluarga saya untuk sidang ini.


KEMOTERAPI SPIRITUAL

Seiring kemoterapi bekerja untuk mengecilkan sel-sel ganas dan tumor, saya juga merasa keinginan jahat, kemarahan, dan kelemahan saya berkurang. Itu merupakan kemoterapi spiritual. Saya merasa fakta tersebut sangat menarik bahwa saya pun kanker besar tepat di depan hatiku, seolah-olah itu adalah manifestasi fisik dari semua kejahatan yang meliputi hati saya. Hal ini telah mengakibatkan begitu banyak kemarahan dan kekosongan dalam diri saya, mencegah saya melihat Allah dan orang lain dalam pandangan yang baik. Selama perawatan, meskipun saya merasa seperti tubuh luar saya sedang sekarat, batin saya perlahan-lahan dibawa kembali ke kehidupan, yang diperkuat dan dipulihkan di jalan yang benar.

Terima kasih Tuhan, saya dinyatakan bebas kanker pada bulan April 2013. Sejak itu, saya tidak berhenti mencoba untuk meningkatkan iman saya. Meskipun saya menderita, saya keluar tanpa luka apapun. Bahkan sekarang, pengalaman saya memiliki kanker terasa seperti mimpi yang hampir saya tidak ingat. Pengingat bahwa saya pernah sakit adalah bekas luka di tubuh saya. Tuhan benar-benar melindungi saya dan menunjukkan belas kasihan dan kasih-Nya. Dia menempatkan saya di api untuk memperbaiki saya sehingga saya akan menjadi bejana yang lebih lengkap. Dia menunjukkan kebenaranNya. Bahkan, Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Bapa surgawi saya. Dia membawa saya kembali dan menyelamatkan saya dari keadaan tersesat. Sekarang saya merasa bahwa saya harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah untuk membayar kasih-Nya.

Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?... Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
(Ibr 12: 7, 10, 11)

Melalui pengalaman ini, Tuhan mengatakan kepada saya bahwa saya adalah anak-Nya dan bahwa Dia mengasihi saya. Saya mempelajari bahwa ketika kita menderita, mungkin karena kita tidak taat. Ketika Tuhan menyesah kita, hal itu adalah untuk menunjukkan kepada kita kasih dan rahmat-Nya sehingga kita akan kembali kepada-Nya. Saya sangat bersyukur bahwa Dia menyelamatkan hidup saya. Semoga semua kemuliaan dan puji bagi nama-Nya.

Kotak Teks:

Perspektif seorang Pengamat
oleh Raymond Chou

Bagi saudari Steffi, penyakitnya adalah seperti mimpi. Dia mungkin tidak ingat detailnya, tapi saya ingat. Sebagai seorang pengkhotbah setempat, saya berada di bawah begitu banyak tekanan karena dewan gereja ingin saya menghiburnya. Tapi apa yang bisa Anda katakan kepada seorang gadis muda, cerah, dan cantik enam belas tahun yang baru saja didiagnosis dengan stadium kanker II?

Setelah banyak berdoa dan berjalan mondar-mandir, saya mengangkat telepon untuk meneleponnya. "Hi Pastor!" Katanya. Dia terdengar bahagia dan saya bisa mendengar suara video game di telepon-mungkin dia sedang bermain dengan kakaknya. Saya bertanya apakah dia baik-baik saja. "Saya baik-baik, saya baik-baik saja, tapi saya sibuk sekarang. Saya dapat berbicara dengan Anda nanti. "Dia terdengar baik-baik saja, jadi saya bertanya-tanya jika ada sesuatu yang salah. Tetapi di gereja pada hari Sabtu, saya duduk di samping ibu Steffi selama waktu makan siang untuk mengetahui lebih lanjut. Sebelum saya bisa mengatakan apa-apa, dia mulai menangis. Itu tidak mudah, terutama bagi orang tuanya.

Sebagai pengamat, kita melihat Allah menunjukkan bimbingan-Nya yang ajaib, membantu benih kecil untuk tumbuh, dan tumbuh kuat. Suatu hari, saya bertanya Steffi bagaimana perkembangan kemoterapi tersebut. Dia berkata, "Terima kasih Tuhan kemoterapi tersebut berjalan baik. Pada hari Kamis, saya melakukan kemoterapi. Pada hari Jumat, saya muntah sepanjang hari. Tapi puji Tuhan, pada hari Sabtu, saya bisa pergi ke gereja! "Saya tidak tahu bagaimana menanggapi jawaban positif seperti itu. Sungguh menakjubkan bagaimana seseorang bisa begitu nyaman menghadapi situasi seperti yang mengerikan dan drastis dalam hidupnya. Dia bahkan memimpin sesi penyembahan kidung disaat ia tidak memiliki rambut. Melihat hal ini, saya akan berpikir bahwa hal itu hanya dimungkinkan melalui kekuatan dari Tuhan-tidak ada alasan lain.

Ada saat-saat ketika Steffi berada dalam bahaya besar kehilangan hidupnya, ketika jumlah sel darahnya turun begitu rendah sehingga ia bisa meninggal kapan saja. Tapi seluruh cobaan tidak hanya sangat meneguhkan keluarganya, tetapi juga gereja lokal. Banyak anggota mulai merenungkan makna hidup dan rajin berdoa untuknya. Kami benar-benar berterima kasih kepada Tuhan bahwa kita mampu untuk melihat seperti perubahan besar dalam dirinya. Hal ini adalah keajaiban yang telah menginspirasi seluruh gereja. Semoga Tuhan terus membantu dan membimbing saudari Steffi.




Minggu, 15 Desember 2019

TUHAN MENGEMBALIKAN ANAKKU

Pada Tanggal 1 April 1987, saya dan istri saya sangat dibahagiakan oleh kelahiran anak pertama kami, seorang anak laki-laki yang kami beri nama Lai Zhen Seng. Tetapi kebahagiaan kami hanya bertahan sebentar. Ketika suster memberi dia makan pertamanya, susu yang diberikan tidak dapat masuk. Setiap memberikan susu, semuanya dimuntahkan kembali. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menemukan bahwa beberapa bagian dalam organ pencernaannya tidak tersambung dengan baik sehingga susu yang diberikan tidak bisa sampai ke perutnya. Kami diberitahu bahwa bayi kami harus segera dioperasi atau ia bisa meninggal. Dia belum berumur 1 hari! Bagaimana bisa bayi kecil ini bertahan dari cobaan yang begitu menyakitkan? Tetapi Puji Tuhan, Roh Kudus menenangkan saya dan memberikan saya kekuatan untuk mempercayakan kehidupan bayi ini kedalam tangan Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Ilmu medis mungkin sudah sangat maju tetapi seorang dokter tetap tidak dapat memberikan kehidupan kepada pasien yang sekarat. Hanya Tuhan Yesus yang dapat melakukannya. Setelah dikuatkan oleh Roh Kudus, saya dan istri saya sepenuhnya menyerahkan hidup anak kami kepada Tuhan.

Dokter mengoperasinya keesokan harinya. Ketika ia dibawa keluar dari ruang operasi, penampilannya sudah tidak seperti yang kami kenal. Kepala kecilnya diperban dan banyak selang dengan berbagai ukuran tejulur dari tubuhnya, tubuhnya dipenuhi dengan selang-selang yang berjuluran. Ia lebih terlihat seperti alien dari luar angkasa! Pemandangan itu sangat memilukan hati dan hati saya dipenuhi rasa kasihan kepadanya. Ketika seorang pendeta menjenguk bayi kami, ia menyarankan kami untuk siap akan hal terburuk yang bisa terjadi. Saudara-saudari yang lain juga berkata demikian. Untuk beberapa hari bayi kami ada di dalam ruang perawatan intensif. Ia diberi makan melalui dua selang; satu dipasang di lehernya dan satu lagi di daerah perutnya - pemandangan yang menyedihkan bagi semua orang yang melihatnya.

Tetangga kami menyarankan pada kami untuk tidak mempercayai Tuhan Yesus lagi dan kembali kepada penyembahan berhala untuk meminta bantuan atau bayi kami akan meninggal. Tetapi kami berpegang teguh pada iman kepercayaan kami pada Tuhan dan tidak bimbang dalam iman kami.

Puji Tuhan atas belas kasihan dan kemurahan berkat Tuhan, melalui doa dari saudara-saudari seiman, bayi kami berangsur-angsur pulih setelah 28 hari di rumah sakit. Sekarang dia adalah seorang anak laki-laki berumur delapan tahun yang aktif, menggemaskan dan sehat. Puji Syukur dan kemuliaan pada Tuhan Yang Maha Kuasa!

Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup" (Yoh 11:25)

"Tiada seorangpun berkuasa menahan angin dan tiada seorangpun berkuasa atas hari kematian." (Pkh 8:8)



Selasa, 10 Desember 2019

AKU BELAJAR BERJALAN BERSAMA TUHAN

Iman kita di dalam Tuhan bukanlah serangkaian kejadian terpisah melainkan seuntai pita tanpa sambungan yang terangkai dari iman ke iman. Saya mahir mengutarakan perenungan semacam ini karena sejak hari saya percaya kepada Tuhan sampai sekarang, Ia telah memberkati saya dengan begitu banyak cara yang sudah membuat iman saya berakar dan membuat saya dapat lebih mendekati Dia.

Tuhan memilih kita tentu saja bukan karena sesuatu yang telah kita perbuat tetapi karena kemurahan dan kasih karunia-Nya. Ia juga memberi kita pengalaman yang begitu kaya yang mendorong kita untuk membalas kasih-Nya dan mempelajari pengajaran-Nya dengan lebih mendalam lagi.

Berikut ini adalah kisah tentang sekelumit berkatnya kepada saya, dan setiap pengalaman melabuhkan iman saya semakin dalam serta membantu saya berjalan bersama Tuhan dalam Roh dan kebenaran.


Kasih Karunia Tuhan
Keluarga saya pindah ke Argentina pada 1986 karena kepindahan tugas kerja ayah saya. Pada saat itu saya baru berumur lima tahun dan Gereja Yesus Sejati di Argentina masih dalam tahap bayi. Ibu saya membawa kami bersaudara beribadah di sana, tapi pada saat itu kami belum dibaptis.

Baru pada tahun 1992 gereja mengadakan kebaktian kebangunan rohaninya yang pertama. Saya ingat malam pertama kebaktian pengabaran Injil jatuh pada hari Rabu, dan semua orang menceritakan pada saya betapa indahnya menerima Roh Kudus itu, dan betapa, tanpa Roh Kudus, kita tidak akan dapat memasuki pintu surga. Pada saat itu, saya hanyalah seorang anak sebelas tahun tak berdosa yang tidak banyak tahu soal keselamatan, tapi saya bertekad kuat untuk menerima Roh Kudus.

Saya ingat membuat janji kepada Tuhan, dalam salah satu doa di kebaktian kebangunan rohani, bahwa jika Dia memberi saya Roh Kudus, saya akan mempersembahkan diri saya sebagai persembahan yang hidup untuk melayani Dia seumur hidup saya. Saya merasa seperti seorang anak yang menukarkan sesuatu yang bernilai demi harta yang jauh lebih berharga.

Setelah mengucapkan janji ini kepada Tuhan, saya merasakan suatu rasa hangat yang luar biasa turun dari atas dan memenuhi tubuh saya. Sewaktu Roh Kudus memenuhi diri saya, suatu sinar yang amat terang menyala di depan saya. Cahayanya lebih terang dari matahari dan sangat hangat. Saya bisa menatap lurus ke dalamnya, dan ada perasaan ramah nan lembut yang tak bisa dibandingkan dengan sinar jenis lain mana pun juga.

Sewaktu sinar itu semakin mendekat, saya mulai menangkap garis-garis salib yang muncul dari sinar itu, yang lebih terang dari sinar itu sendiri, dan salib serupa-kristal itu tampak transparan dan sangat berharga. Sinar dan salib itu semakin mendekati saya, dan sewaktu berada tepat di depan wajah saya, saya melihat seorang pria tergantung di atasnya.

Ia babak belur parah sekali dan kurus kering sampai saya bisa menjajaki tulang-tulang-Nya. Mata-Nya terpejam dan saya melihat mahkota duri di kepala-Nya, tetapi raut mukanya bukanlah raut muka seseorang yang terluka parah. Ia memiliki penampilan yang sangat ramah—penampilan yang teramat ingin saya dekati, yang berkata, “Aku mengasihimu. Inilah yang harus Kubayar untuk menyelamatkanmu.”

Penglihatan ini mendorong saya untuk menerima baptisan setelah kebaktian kebangunan rohani tahun itu. Tapi yang paling penting, saya menyadari betapa besar Tuhan mengasihi saya dan betapa saya juga harus mengasihi Dia.

Selama tahun-tahun berikutnya yang penuh kesakitan nan semakin meningkat, dan sewaktu iman saya lemah, penglihatan ini mengingatkan saya bahwa saya sudah dibeli dengan darah Yesus Kristus, dan melalui kasih karunia-Nyalah keselamatan datang kepada saya. Oleh karena itu, saya berbeda dari dunia ini. Ingatan ini menguatkan saya untuk hidup menurut firman-Nya, dan masih terus menguatkan saya sampai hari ini.


Penyembuhan Tuhan
Saya terlahir dengan sejenis penyakit yang sekarang kita kenal sebagai Lupus (SLE-Systemic Lupus Erythematosus), suatu kelainan sistem kekebalan tubuh. Gejalanya seperti reaksi alergi terhadap musim dingin.

Setiap kali musim berputar, seluruh sendi-sendi saya akan membengkak sampai saya jadi tak bisa dikenali lagi. Saya sangat mengerikan untuk dilihat karena pembengkakan itu, mungkin lebih mengerikan daripada raksasa, dan saya sendiri takut melihat diri sendiri setiap kali melongok ke cermin. Bengkak-bengkak di persendian saya akan menjadi biru dan hijau, dan terasa gatal serta sakit.

Orangtua saya membawa saya ke dokter sewaktu saya berumur empat tahun, dan satu-satunya kecurigaan mereka pada waktu itu hanyalah adanya masalah pada sirkulasi darah saya. Kesempatan bertahan hidup dengan menjalani operasi yang disarankan paling banyak hanya lima puluh persen, dan tingkat keberhasilan operasi itu sendiri hanya lima puluh persen. Biayanya juga sangat mahal jadi kami tidak melakukannya.

Kelainan ini akan mendera saya kira-kira dua kali setahun, dan butuh kira-kira satu sampai dua minggu bagi bengkak-bengkak itu untuk kempis lagi sebelum saya kembali normal. Orangtua saya mengharuskan saya untuk tetap pergi ke sekolah selama masa bengkak itu, dan saya akan menundukkan kepala sedalam-dalamnya selama pelajaran atau pada saat berjalan di koridor. Anak-anak sering memanggil saya “monster kecil”.

Saya sudah mendengar kesaksian bagaimana baptisan bukan hanya menghapus dosa, tapi Tuhan juga dapat menyembuhkan penyakit sewaktu orang menerima baptisan. Setelah dibaptis, saya masih mengidap penyakit itu dan saya bertanya-tanya kenapa Tuhan tidak menyembuhkan saya.

Pada tahun yang sama dengan tahun baptisan saya, kami pindah ke Amerika Serikat. Dan pada 1993, pada saat kebaktian kebangunan rohani siswa musim dingin, alergi itu menyerang lagi dan saya merasakan persendian saya membengkak. Takut orang akan ngeri melihat saya, saya pun menelepon Ibu, minta dijemput pulang.

Ibu saya tahu betapa seriusnya masalah ini, jadi dia berkendara ke gereja Garden Grove dalam guyuran hujan. Belakangan ia menceritakan bahwa sewaktu mengemudi ke gereja, ia berseru kepada Tuhan, “Putriku sudah mengidap penyakit ini sejak masih kecil dan kami tidak bisa menolongnya. Tuhan, Engkau Allah yang perkasa dan Engkau dapat menyembuhkannya sekarang juga.”

Ia menjemput saya dari gereja lalu kami pulang dan berdoa. Ibu saya memohon kepada Tuhan, katanya, “Aku memercayakan dia ke dalam tangan-Mu. Bagi manusia ini tidak mungkin, tapi aku berharap kepada-Mu karena bagi-Mu segala sesuatu mungkin. Jika Engkau berkenan menyembuhkannya, mohon hentikan pembengkakannya.”

Sebelum saya pergi tidur, Ibu memberitahu saya apa yang ia doakan, dan saya tahu bahwa itu adalah permintaan yang mustahil karena, selama tiga belas tahun terakhir kehidupan saya ini, selalu butuh waktu paling tidak seminggu sampai bengkaknya mengempis, dan tak ada cara supaya bisa kembali normal persis pada keesokan harinya.

Benar saja, setelah saya pergi tidur, Tuhan benar-benar menyembuhkan saya pada keesokan harinya—persis seperti doa ibu saya. Dua belas tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu dan penyakit saya tidak pernah kambuh. Puji Tuhan!
Julie Lee - Baldwin Park, California, USA

Kamis, 05 Desember 2019

KUASA TUHAN YESUS DALAM PUJI-PUJIAN

Kesaksian ini berawal ketika saya bekerja di toko material merangkap rumah Ii (kakak perempuan Mama) di Jalan Mangga Besar Raya. Bangunan rumahnya agak kuno dengan panjang 50 meter dan lebar 18,5 meter, ditambah bangunan mess untuk karyawan, gudang, dan kamar pembantu. Rumah yang didirikan di atas tanah bekas kuburan ini terdiri dari dua lantai,

Lantai satu untuk toko, ruang makan, kantor, dapur, kamar mandi, dan gudang. Di lantai dua ada taman, ruang tamu, lima kamar tidur, kamar mandi, di tengah-tengah ada taman lagi, lalu sebuah bangunan lagi terdiri dari dua kamar tidur ukuran besar, ruang tamu, dan kamar mandi. Di lantai atasnya lagi ada tempat jemuran, lapangan kosong, dan gudang.

Tapi rumah sebesar itu hanya ditinggali oleh Ii suami istri sudah lanjut usia, dua orang pembantu, dan saya sendiri.

Pada waktu mulai bekerja saya tidak tahu kalau rumah itu agak angker. Sampai tak lama kemudian, sewaktu tidur di malam hari, saya merasa ada yang mencekik leher saya. Tapi saya tidak melihat wujudnya. Dalam hati saya berteriak, “Dalam nama Tuhan Yesus, Iblis pergi!” Saya terbangun dengan napas terengah-engah dan ingin buang air kecil, tapi takut.

Waktu itu saya tidur di salah satu dari lima kamar tidur yang ada di bangunan bagian depan lantai dua. Saudara saya dan suaminya tidur di kamar lainnya di bagian yang sama. Setelah beberapa tahun, saya pindah ke kamar yang di bagian belakang, sendirian, karena khawatir kalau dibiarkan kosong terus akan bertambah angker. Hanya di siang hari pembantu menyeterika di ruang belakang.

Ternyata di kamar ini hampir setiap malam saya diganggu. Saat saya sudah tidur pulas, sering tiba-tiba ada suara keras, seperti batu yang diketuk-ketukkan, dari arah bawah tempat tidur saya, membuat jantung saya berdetak-detak. Saya pun terjaga lalu dalam hati berdoa, terus mengulang-ulang Haleluya, Haleluya. Karena saya tidak mau terpengaruh, saya lalu tidur lagi. Kadang gangguannya berupa suara orang membuka pintu kamar, atau bunyi-bunyian di lemari hias.

Karena penasaran, saya bertanya kepada Icong (suami Ii). Ternyata katanya dulu pernah ada karyawan yang kerasukan sewaktu rumah itu direnovasi. Roh yang merasuki karyawan itu marah-marah karena setiap hari dia dilindas truk-truk besar. Maka orang pun menggali tanah di halaman tempat parkir mobil, dan di kedalaman beberapa meter ditemukan peti mati yang masih utuh, lengkap dengan tulang belulang manusia.

Tulang-tulang itu diangkat dan dikuburkan di ujung pekarangan, sedangkan peti matinya dikembalikan ke tempat semula. Pernah diusahakan untuk mengremasi tulang-tulang itu, kira-kira dua tahun yang lalu, tahun 2004, tapi pihak yayasan kremasi meminta surat kematian dari kepolisian. Karena tidak ada surat kematian dan asal tulang-tulang itu pun tidak diketahui, rencana kremasi pun dibatalkan dan tulang-tulang itu dibiarkan tetap terkubur di ujung pekarangan.

Icong ingin menjual rumah itu, maka ia membeli rumah lagi. Tapi karena rumah itu tidak laku-laku, dipanggilah paranormal. Sewaktu paranormal datang, dalam hati saya berdoa terus. Paranormal itu minta disediakan tanah asli rumah itu, yang berarti tanah kuburan, dan kerupuk putih. Semuanya diletakkan di atas meja lalu dibacakan mantera-mantera.

Malamnya, kira-kira pukul 21.00, kebetulan saya belum tidur, tiba-tiba muncul seekor kelewar yang cukup besar berputar-putar dari lantai atas turun ke lantai bawah. Anehnya kelelawar itu ingin menyerang saya tapi saya terus berdoa. Setelah beberapa kali gagal dalam usahanya menyerang saya, kelelawar itu naik lagi ke lantai atas dan pergi lewat taman. Esoknya pada pukul 18.00 sewaktu saya dan pembantu sedang duduk nonton TV, sesosok bayangan perempuan berpakaian putih berkelebat menuruni tangga lalu berbelok ke kiri menuju toko dan menghilang. Saya dan pembantu hanya bisa saling pandang dalam diam.

Semua itu saya ceritakan kepada Icong dan Ii, dan sejak itu mereka tidak mau lagi memanggil paranormal itu lagi ataupun menuruti permintaannya supaya mereka mengadakan selamatan dengan mempersembahkan sesajen. Saya mengatakan kepada mereka, saya akan membantu doa agar rumah cepat terjual jika memang Tuhan berkenan, tepat pada waktunya. (Pada bulan Desember 2004 sebenarnya sudah ada yang mau membeli tapi entah kenapa Icong membatalkannya.)

Pada bulan Oktober 2004 Icong dan Ii pindah ke rumah baru dengan membawa satu orang pembantu. Jadi kalau malam tiba, tinggal saya dan pembantu satu lagi yang tinggal di rumah Mangga Besar.

Setelah kepindahan mereka, gangguan makin menjadi-jadi. Bahkan di siang hari pun sering ada yang membuka pintu kamar di lantai bawah padahal tidak ada orangnya. Kulkas sering bersuara seperti dibuka tutup, juga ada suara orang yang naik turun tangga. Suatu hari pada pukul 19.00, saat saya sedang minum di meja makan, tiba-tiba dari arah dapur terdengar suara orang yang sedang mengambil air minum dari teko. Saya kaget dan dengan serta-merta menengok, tapi tidak ada siapa-siapa. Pernah juga saat saya menaiki tangga pada pukul 20.00, terasa ada sekelebat bayangan yang melintas. Jantung saya serasa berhenti berdetak dan dalam hati saya langsung berteriak Haleluya, lalu saya jalan lagi.

Sejak tinggal berdua saja dengan pembantu, saya jadi punya lebih banyak waktu di dalam kamar untuk memuji-muji Tuhan dan membaca Firman. Dulu saya suka nonton TV. Tapi belakangan saya sadar itu kebiasaan yang tidak baik, maka saya berdoa mohon Tuhan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan puji Tuhan akhirnya berhasil.

Saya suka sekali memuji Tuhan. Walaupun suara saya sumbang, saya tidak malu karena tidak ada orang yang mendengar; hanya Tuhan yang tahu dan melihat saat saya memuji Tuhan dengan sepenuh hati. Kalau lagunya sedih, kadang tanpa saya sadari air mata saya menetes. Saya sungguh merasakan hadirat Tuhan ketika saya sedang memuji-muji Dia. Apalagi saya pernah menanyakan kepada pendeta apa yang harus kita lakukan kalau kita suka diganggu roh jahat ketika sedang berdoa, dan pendeta menjawab sebaiknya memutar lagu-lagu rohani pelan-pelan untuk menemani kita berdoa.

Jadi kalau saya masih bertahan tinggal di rumah itu, semua karena perlindungan Tuhan Yesus. Setiap kali saya merasa ada roh jahat yang ingin mengganggu atau merasa gelisah, saya akan mengambil Kidung Rohani lalu menyanyi memuji Tuhan. Kalau saya sudah memuji dan menyembah Tuhan, saya pasti bisa tidur lelap sekali dan ada damai sejahtera di dalam hati saya.

Pada awal Februari 2005, saya mendapat kabar bahwa kakak laki-laki saya sudah beberapa hari diganggu roh jahat. Dia beragama Kristen aliran Pentakosta dan suka berdoa berjam-jam, bisa dua sampai tiga jam lamanya berdoa. Saya tidak tahu kenapa dia tiba-tiba diganggu roh jahat.

Keluarga saya, yang tinggal di Tanjung Priok, sudah menghubungi gereja dan teman-temannya tapi tidak ada tanggapan dan tidak ada yang datang.

Roh jahat dalam dirinya itu suka mengamuk, kadang membuatnya bertelanjang bulat, bahkan pernah membahayakan jiwanya. Waktu itu kebetulan tidak ada yang bisa menjaganya di rumah. Maka papa mengajaknya ke rumah yang merangkap toko di Jl. Warakas. Di lantai dua rumah itu ada jendela yang selalu terkunci. Kakak naik ke lantai dua lalu mengacak-acak lemari pakaian mencari kunci jendela. Papa yang ada di toko curiga mendengar suara ribut di lantai atas. Saat naik, Papa kaget melihat Kakak sedang membuka kunci jendela. Dia bilang mau meloncat dari jendela untuk menyambut Tuhan Yesus yang sedang menunggunya. Cepat-cepat papa merebut kunci dari tangannya.

Karena saat itu saya sedang bekerja, saya menelepon Mama supaya mencoba menghubungi gereja Samanhudi (waktu itu Mama sudah percaya Tuhan Yesus dan sering kebaktian di Samanhudi tapi belum dibaptis). Tapi saat itu di gereja sedang tidak ada pendeta, dan Mama disarankan untuk menghubungi gereja Sunter. Saya ingin Mama yang menelepon langsung karena Mama lebih tahu kejadiannya. Tapi di Sunter juga tidak ada pendeta. Akhirnya Kakak dibiarkan saja beberapa hari, sampai tanggal 6 Februari 2005, hari Minggu, saat menelepon, saya diberitahu bahwa masih belum ada pendeta yang datang.

Padahal waktu itu saya sedang mengikuti rapat pertama drama musikal, dan ada beberapa pendeta yang ikut hadir. Tapi saya tidak berkata apa-apa kepada mereka karena tidak ingin menyusahkan. Sebab saya tahu semua pendeta sedang sibuk dan malah ada yang esoknya harus pergi tugas.

Malamnya saya saat berdoa dan memuji Tuhan, saya memohon agar Tuhan memimpin saya karena besoknya saya mau pulang ke Tanjung Priok. Tanggal 7 Februari 2005, saat bersiap-siap untuk pulang, seperti ada yang menyuruh saya membawa Kidung Rohani. Dalam perjalanan, tidak henti-hentinya saya berdoa dan memuji Tuhan.

Tiba di rumah, Kakak masih tidur-tiduran di kamar di rumah, tidak mau mandi dan makan. Di rumah ada Mama, Papa, kakak ipar, dan kakak laki-laki lain yang belum berangkat kerja. Papa tidak berani pergi ke toko karena takut kalau kakak ngamuk lagi tidak ada yang bisa memegangnya. Kakak yang lain juga tidak kuat.

Sewaktu mendengar suara saya, dia bangun lalu keluar kamar. Saya melihat sorot matanya aneh dan bicaranya kacau. Saya duduk lalu menyuruhnya duduk di seberang saya. Dalam hati saya berdoa mohon perlindungan Tuhan Yesus.

Saya berkata, “Dalam nama Tuhan Yesus memuji Tuhan.” Mula-mula saya menyanyikan Kidung Rohani No. 41. Di tengah-tengah nyanyian, Kakak tidak tahan lalu menutup kedua telinganya dan menyuruh saya berhenti menyanyi. Tapi bukannya berhenti, saya malah menyanyi lebih bersemangat lagi dan lebih berserah kepada Tuhan Yesus. Akhirnya Kakak ikut memuji Tuhan.

No. 41 selesai, saya lanjutkan menyanyi Kidung Rohani No. 43, 39, 78, 168, 170, 172, 173, 176, 285, 292, 292, dan masih ada yang lainnya lagi, saya lupa. Kira-kira setengah jam lamanya saya memuji-muji Tuhan.

Sewaktu sudah menyanyikan beberapa lagu, tiba-tiba Kakak bangun dan mau makan. Tapi Mama menyuruhnya mandi dulu karena sudah beberapa hari tidak mandi dan gosok gigi. Kakak menurut. Selagi dia mandi, saya terus saja memuji Tuhan. Akhirnya saya lelah dan berhenti menyanyi. Saya lihat dirinya sudah berubah, terlihat segar dan wajahnya cerah.

Lalu saya membantu Mama membereskan rumah karena sudah beberapa hari Mama sibuk mengurus Kakak dan keluarga. Sorenya saya harus balik ke Mangga Besar karena pembantu di sana tidak berani tinggal sendirian dan tanggal 8-nya saya masih harus kerja walaupun tanggal 9-nya adalah tahun baru Imlek Sebelum pamit saya berpesan kepada Mama supaya menyanyikan puji-pujian kalau Kakak diganggu roh jahat lagi.

Pada hari tahun baru Imlek, keluarga saya termasuk Kakak datang ke Mangga Besar, lalu dari situ kami bersama-sama ke rumah baru Ii. Saat itu Kakak sudah sembuh total. Saya sempat bercakap-cakap dengannya, memberikan kekuatan iman. Puji Tuhan, sampai hari ini Kakak tidak pernah diganggu roh jahat lagi. Semua ini berkat kuasa Tuhan Yesus di dalam puji-pujian.

Pengalaman ini semakin menguatkan iman saya bahwa jika kita bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, menyembah dan memuliakan Dia dengan puji-pujian, kuasa Tuhan Yesus pasti akan bekerja; tidak ada yang mustahil bagi Tuhan Yesus. Jika kita memuji Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh, Tuhan Yesus pasti hadir di tengah-tengah kita.

Segala puji syukur dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus. Amin.
Mimi - Jakarta