Kamis, 30 Januari 2020

JANGAN BIARKAN MAHKOTAMU DIAMBIL

Jangan biarkan Mahkotamu diambil "kesaksian"


Pentingnya Menggenapi Perjalanan kita
Sebelum era Gerakan Kharismatik, Dr. Brian J. Bailey adalah seorang yang masih muda di dalam pelayanan, hidup disebuah kota di Amerika Utara. Pada waktu itu, sangatlah tidak popular untuk dibatis dalam Roh Kudus dan memanifestasikan karunia-karunia Roh. Sayangnya, masyarakat Kristen di kota itu menjadi terpecahbelah karena masalah tersebut, dan Dr. Bailey mendapati dirinya jerjepit di antara kontroversi itu menjadi tidak tertanggukan lagi, ia berkata, “Tuhan, saya sudah cukup menderita. Ambil saja nyawaku. “Allah menjawab tubuhnya dan kemudian terbang dengan kecepatan yang luar biasa ke surga. Tetapi semakin dekat ke pintu gerbang surga, semakin besar kesedihannya yang dia rasakan. Lalu, di depan matanya, ia melihat seluruh kehidupannya terbentang di hadapannya seperti dalam film. Ia dapat melihat dirinya sendiri ketika masih bayi, dalam masa kanak-kanaknya, sebagai seorang remaja, sampai saat meninggalkannya. Tetapi kemudian film singkat itu berhenti dan yang ada hanyalah film-film kosong.

Kesedihan pada saat pergi ke surga tanpa menyelesaikan misi Allah
Beberapa saat kemudian berubah ia menyadari betapa sedihnya meninggal sebelum waktu yang ditentukan bagi seseorang, atau masuk ke surge dengan suatu perjalanan yang belum terselesaikan. Masih ada begitu banyak hal yang telah Allah rancangkan untuk ia lakukan di dalam dan melalui hidupnya. Allah membuatnya mengerti sejelas-jelasnya bahwa bukan saja penting bagi kita untuk masuk surga, tetapi juga untuk menggenapi misi kehidupan dan tugas kita. Kalau tidak, kita tidak akan siap untuk mengambil posisi kita di surga. Kita akan mendapatkan sesuatu tempat yang lebih rendah di dalam kerajaan Allah yang kekal, dan akan menyerahkan mahkota kita kepada orang lain. Allah tidak akan dapat berkata, “Baik sekali perbuatan itu, hai hamba-ku yang baik dan setia” kepada orang-orang yang telah menggenapi pekerjaan mereka namun belum menyelesaikan sebagian kecil dari padanya!

Dr. Beiley juga diberikan sebuah pengertian baru tentang Wahyu 21:4 yang berbunyi, “Ia akan hapus segera air mata dari mata mereka.” Ia kemudian mengerti bahwa di hadapan takhta penghakiman Kristus, banyak orang kudus yang meratap dengan sedihnya ketika mereka melihat upah kekal yang tidak dapat mereka raih, karena mereka telah digantikan dengan yang lain. Jadi, kita dinasihati di dalam Wahyu 3:11 untuk memegang teguh apa yang telah Allah berikan, “supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.”

Kita akan diperintahkan untuk mempertangung jawabkan kehidupan kita
Suatu panggilan bukanlah sekedar undangan, melainkan sebuah perintah. Sebuah perintah untuk menghadap Hakim dan mempertangung jawabkan apa yang telah kita lakukan dengan hidup, waktu, talenta, dan harta milik kita. Perumpamaan-perumpamaan Tuhan mengungkapkan hal ini dengan jelas (Mat. 25:14-30; Luk. 19:12-27). Pekerjaan kita di bumi ini mempersiapkan kita untuk menjalankan suatu posisi kekal di dalam kehidupan kita yang akan datang. Tahun-tahun yang kita jalani di atas bumi hanyalah suatu persiapan untuk menghadapi kekekalan. Bahkan pekerjaan sekuler kita pun meningkatkan kualitas-kualitas rohani di dalam kita untuk memerintah bersama kristus. Jadi, kita tidak boleh meremehkan pekerjaan sekuler. Musa belajar di dunia sekuler (istana Firaun); hal ini adalah persiapan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari belenggu yang mengikat mereka menuju tanah pusaka mereka. Daud, sebagai seorang gembala dilatih di dalam perkara-perkara sehari-hari dalam kehidupan. Allah sedang mempersiapkannya untuk mengembalakan memelihara umat-Nya (Mazmur 78:70-72).

Allah bukan saja melatih Daud di dalam pekerjaan sekulernya untuk suatu pelayanan rohani, tetapi Ia pun sedang mempersiapkannya untuk suatu pelayanan di dalam kehidupan mendatang, karena Daud akan dibangkitkan pada massa millenium (zaman seribu tahun) dan menjadi seorang gembala bagi Israel (Yer. 30:9; Yeh. 34:23-24, 37:24-25; Hos. 3:5). Ingatlah kita pun sedang dibentuk untuk menjadi raja dan imam agar dapat memerintah bersama Kristus di dalam kekekalan (Why. 5:9-10; 1:6; 20:6).

Tentunya, karena belas kasihan Allah, Dr. Bailey kembali dari kematiannya untuk menceritakan kepada kita malam yang menakjubkan itu. Sejak itu, kehidupan dan khotbah-khotbahnya memohon dengan sangat kepada para pendengarnya agar menjadi para penyelesai. Paulus adalah seorang penyelesai dan ia berkata, “Aku telah mencapai garis akhir.” Yesus mendeklarasikan, “Aku telah… menyelesaikannya.” Daniel yang setia diberitahu bahwa ia akan mendapat bagiannya (harta pusakanya) pada kesudahan zaman (Daniel 12:13; Yosua 14:8; Yohanes 17:4; Kis. 13:25; 20:24; 2 Tim. 4:7). Janganlah kita biarkan siapapun mengambil makota kita!

Sabtu, 25 Januari 2020

JATUH DARI LANTAI 7, MASIH HIDUP


Nama saya Robert. Beberapa tahun yang lalu saya hidup dalam dosa, .. dan merokok, minum-minuman keras, dugem (ke klap-klap malam), dan pacar saya adalah seorang penari ! Saya tidak pernah pergi ke gereja atau membaca Alkitab dan tidak nyakin jika ada Tuhan. Saya tidak berpikir tentang Tuhan atau jiwa saya.

Suatu pagi saya baru saja menyelesaikan pekerjaan dan berbaring di tempat tidur. Ketika saya berbaring di situ saya mengalami kunjungan dari Tuhan Yesus Kristus. Kuasa Tuhan datang atas saya dan menyatakan dosa saya. Tuhan menyatakan kepada saya bahwa Alkitab itu benar dan merupakan perkataan Tuhan. Sehingga Roh Tuhan memberi kenyakinan ke dalam hati saya dan saya mulai menangis.


Saya mendengar suara yang berkata kepadaku, Apakah kamu percaya dalam Bapa, Anak dan roh Kudus ?

Saya menjawab: Ya!

Dengan melihat kejadian ini, saya bertobat dan mengalami keduanya pengampunan atas dosa-dosa dan damai sejahtera dalam hati saya. (Sebelum ini saya tidak pernah benar-benar mempunyai damai sejahtera dan sukacita sebelum ini).

Secara singkat setelah kunjungan saya, mengurai ke atas, saya jatuh dari jendela flat saya, dari lantai 7 di kompleks apartemen yang berlantai 16. 

Waktu  saya jatuh ke tanah dengan begitu cepat , saya langsung berteriak YESUS. Kemudian saya mendengar suara yang menjawab : Kamu diselamatkan. Saya percaya bahwa Tuhan melepaskan saya pada hari itu, karena saya telah jatuh di atas pinggir beton dan akibat terburuk jatuh  dari lantai 7 akan melumpuhkan saya selamanya atau menyebabkan kematian saya.

Saya tidak mendarat di atas beton tersebut tetapi di atas batas rumput, beberapa kaki jaraknya dari bangunan.

Sebuah surat kabar mengomentari kecelakaan ini: Seorang laki-laki hidup setelah jatuh dari lantai 7 ke rumput!

Tetapi saya tanpa luka, sehat dan baik. Hari ini saya berkotbah Injil Yesus Kristus, karena anugerah Tuhan telah ditumpahkan ke dalam hati saya. Saya juga bekerja sebagai perawat dan melihat orang-orang masuk ke rumah sakit mengantar pasien yang masih hidup tetapi pengantar pasien tersebut dengan sedih meninggalkan rumah sakit karena pasien sudah meninggal. Saya sedang membagikan kesaksian ini untuk mengingatkan Anda bahwa hidup ini seperti  uap. Alkitap mengatakan: Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu ? Hidupmu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yak 4: 14).

Meskipun demikian saya memberi tahu pentingnya Anda bertobat dan menyandarkan kehidupan Anda hanya kepada Yesus Kristus, silahkan melihat pada halaman: Bagaimana saya menerima Yesus Kristus, mendapatkan keselamatan dan lahir baru.

Senin, 20 Januari 2020

MUJIZAT PENYEMBUHAN DAN UNDANGAN ILAHI KE SURGA

Mujizat Penyembuhan dan Undangan Ilahi ke Surga


Oleh Pastor Brani Duyon

Di bulan Mei tahun 2006, seorang pelayan Tuhan dibawa ke surga untuk bertemu dengan Tuhan Yesus dan menerima 6 pesan. Brani Duyon@Efendie, 52 tahun, seorang dari dusun. Dia melayani di Gereja Borneo Evangelis, Kota Belud, Sabah( di Malaysia Timur) sebagai seorang  penatua gereja. Sebelumnya dia melayani sebagai pendeta di Melangkap Baru, Kota Belud, dan kemudian menjadi pemimpin gereja di SIB Bayayat daru tahun 2005-2006.


Tanggal 21 April 2006, saya dan istri pergi ke Malaysia Barat untuk menghadiri pernikahan anak laki-laki kami. Sayangnya setelah satu minggu, saya terkena serangan stroke mendadak. Dengan segera saya dibawa ke  unit  perawatan medis di Universitas Malaysia dimana dokter  memeriksa keadaan saya. Dia berkata kepada saya bahwa ada sel-sel yang pecah di otak saya dan saya harus segera dioperasi.

Saya koma selama 1 minggu setelah operasi dan menjalani perawatan  intensif selama lebih dari 1 bulan.

Ada banyak pelayan Tuhan yang datang untuk membesuk dan berdoa untuk saya, termasuk mantan President SIB Sabah- Pendeta Taipin Melidoi, asistennya- Pendeta Datuk Arun Selatan, dan juga Pendeta Michael.

Satu kali saya berimimpi ada hujan lebat yang turun atas saya.  Saya menafsirkan mimpi ini sebagai jawaban-jawaban untuk para pendeta yang telah mendoakan kesembuhan saya. Puji Tuhan, dengan kekuatanNya saya sembuh lebih cepat dari yang diperkirakan.

Di tengah malam, yaitu di minggu ketiga bulan Mei 2006, saya merasa sangat aneh, saya tidak bisa tidur, sementara pasien yang lain telah tertidur amat lelap.  Selama itu, di pikiran saya hanya ada Yesus. Saya teringat dalam kitab Yesaya 43:26  “Ingatkanlah Aku, marilah kita berperkara, kemukakanlah segala sesuatu, supaya engkau nyata benar!” Saya tetap memikirkan kata-kata ini karena saya mau memfokuskan pikiran saya hanya kepada Tuhan Yesus. Saya merasa hadirat Tuhan yang kuat saat itu.

Lalu saya mulai berdoa dalam roh. Setelah berdoa, saya mencoba untuk tidur namun saya tidak bisa. Lalu saya berbaring kembali di ranjang. Tibatiba saya merasa ada seseorang yang menyentuh punggung dan membelai kepala saya. Ini terjadi  beberapa saat. Saya merasakan sesuatu yang luar biasa mengalir ke dalam tubuh saya. Saya percaya itu adalah  cinta Bapa untuk anakNya. Saya bertanya-tanya siapa orang itu. Saat saya memalingkan muka untuk melihat dia, saya terkejut bahwa dia adalah seorang pria muda yang tampan, berpenampilan baik, tubuhnya tinggi dengan rambutnya sampai ke leher. Dan dia memakai jubah putih. Saya bertanya padanya, “apakah kau Tuhan yang sedang aku pikirkan?” Dia hanya menggelengkan kepalanya. Lalu  saya bertanya lagi, “jika bukan lalu siapakah engkau?” Pada akhirnya dia mulai berkata pada saya”Aku adalah pembawa pesan dari surga. Yesus menyuruhku datang padamu untuk membawa kabar baik”

Sekarang saya sadar bahwa dia adalah Malaikat Tuhan, lalu saya bertanya padanya,  “kabar baik apa yang kau hendak katakan pada saya?” Dia membalas,“malam ini kau akan pergi ke Surga.” Dengan segera saya merasa tenang dan damai walaupun tubuh saya sedang sakit. Saya merasa saya tidak merasakan sakit apapun. Saya telah disembuhkan dari penyakit saat Malaikat Tuhan berkata bahwa saya akan pergi ke surga. Lalu saya berkata pada Malaikat itu,“saya siap untuk mengikut engkau ke surga. Saya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Tuhan.”

Sementara kami sedang berjalan saya melihat tubuh jasmani  saya tertinggal di atas ranjang.  Setelah kami berjalan keluar dari rumah sakit, saya melihat seekor kuda yang luar biasa besar dan tinggi. “kita akan mengendarai kuda ini,” kata Malaikat. Malaikat membantuku menaiki kuda itu, berhubung kuda itu sangat tinggi.  Lalu saya bertanya pada Malaikat itu, “apakah kita dapar pergi ke surga dengan mengendari kuda ini?” Lalu dia meyakinkan saya, “tentu saja, jangan takut dan khawatir. Sudahkah kau membaca Firman Tuhan tentang Elia yang terangkat ke surga oleh Allah?” Saya berkata padanya “ya, saya sudah membaca itu sebelumnya. Kendaraan yang membawanya ke surga adalah  sebuah kereta yang berapi ditarik dengan kuda-kuda api.” “itu benar, dan ini adalah salah satu kuda dari kuda-kuda itu yang akan kita kendarai sekarang,” ujar Malaikat itu.

Mulanya kami pergi dengan lambat, tapi kira-kira setelah 100 meter kuda mempercepat kecepatannya ke kecepatan yang sangat tinggi dan saya merasa seperti diterpa oleh badai. Lalu saya melihat kuda tersebut melayang terbang. Kami melewati  gunung-gunung dengan mudahnya, melayang terbang dengan kekuatan Allah.

Lalu kami mencapai sebuah padang rumput hijau yang sangat besarsangat menakjubkan, tanpa ada satupun rumput yang kering. (Mazmur 23:2 “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbingku ke air yang tenang”). Setelah kuda itu berhenti, kami turun dan mulai berjalan.

Saya dapat melihat Kerajaan Allah tepat di depan mata saya. Sementara kami sedang berjalan di atas padang, saya mendengar bel berbunyi. Lalu saya bertanya pada Malaikat ”mengapa bel itu berbunyi?” Dia berkata “bel itu adalah tanda bahwa ada seseorang yang datang.”

Kami melanjutkan perjalanan ke ujung padang, sementara bel masih berbunyi, saya melihat seekor kuda yang sangat cantik, di atasnya ada seberkas cahaya merah, seperti lampu lalu lintas. Di cahaya itu saya melihat nomor “51”. Saya bertanya pada Malaikat apa arti nomor itu. Dia berkata,“berapa umurmu sekarang?” saya berumur 51 tahun saat ini. “nomor itu adalah umurmu, jadi itu adalah nomor kudamu juga,” kata Malaikat itu. Saya merasa sangat senang dan damai melihat apa yang Allah telah siapkan untuk saya di surga. Saya melihat banyak rumah yang sudah disiapkan oleh Yesus untuk anak-anakNya yang percaya dan mengikut Dia.

Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah rumah yang luar biasa besar, dengan banyak orang di dalamnya. Saya percaya mereka adalah orang  –orang kudus yang Allah telah pilih. Mereka sedang memuji Allah. Saya melihat Yesus sedang duduk di atas tahtaNya sementara semua orang sedang memuji dan menyembahNya. Mereka memuji Dia dengan segenap hati, menari, mengangkat tangan mereka, dan berlutut. Di lubuk hati saya berkata,  “Jika saja orang-orang di bumi memuji dan menyembahNya seperti ini, Allah pasti sangat senang”

Saya melihat banyak orang-orang menangis sambil memuji Allah. Yesus tersenyum menyaksikan betapa setianya mereka menyembah Allah. Mereka mengangat tangan kearah Yesus dan Yesus memberkati mereka semua. Setelah selesai, Yesus berjalan di antara mereka dan menghapuskan air mata mereka. Lalu saya teringat ayat di kitab Wahyu, “dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita,"

Malaikat itu membawa saya pada Yesus. Malaikat berbicara pada Yesus,“Tuhan, inilah anak yang telah Kau pilih untuk datang kesini.” Lalu Yesus berkata pada saya,  “Bagus! AnakKu kau telah datang hari ini.”Lalu Yesus memeluk saya dan itu membuat saya sangat bahagia dan damai hingga membuat saya menangis. Jiwa saya bersorak gembira sebab Yesus sendirilah yang memeluk saya.

Lalu Malaikat itu berkata,  “Tuhan, aku pergi ke rumahnya di bumi saat dia sedang sakit,  namun sekarang dia menjadi lebih baik.” Yesus membalas, “Ya, Aku mendengar dan melihat apa yang terjadi padanya.”Lalu Malaikat itu melanjutkan,  “selama itu, aku mendengar istrinya berdoa mengharapkan pertolonganMu. Dia berdoa: “Tuhan, tolong kami, tolong jangan ambil dia sekarang karena kami belum siap dia pergi meninggalkan kami.” “Itulah doanya, Tuhan.” Lalu Yesus berkata, “Aku tahu segalanya. Istrinya adalah seorang yang takut akan Tuhan. Dia setia padaKu dan rajin berdoa.” Lalu jiwaku menangis kembali memikirkan kesetiaan istriku pada Allah.

Lalu Tuhan berbicara pada saya,  “anakKu, kau akan kembali ke bumi, karena ini bukan saatnya bagimu untuk berada di sini. Ada banyak pekerjaan untukmu saat kau kembali ke sana. Kau akan sangat sibuk melayani Aku.” Lalu saya membalas, “Tuhan, tolong jangan memintaku untuk kembali, karena saya sangat bahagia bersamaMu di sini. Saya bahagia dekat denganMu, Tuhan. Tolong, saya tidak mau kembali.”

Dari wajahNya, saya tahu bahwa Yesus menjadi kecewa. Lalu saya memohon pengampunan padaNya karena telah mengecewakan Dia. Saya berkata,  “Tuhan, saya siap kembali ke bumi tapi tolong saya Tuhan, berikan saya kekuatan, dan jagalah saya kemanapun saya pergi. Sertai saya Tuhan.” Lalu Yesus berkata, ”ya, jangan khawatir, kemanapun kau pergi melayani Aku, Aku akan selalu bersama denganmu.”

Yesus mempunyai beberapa pesan untuk saya bawa ke bumi. Dia ingin saya menyampaikan pesan-pesan ini kepada anak-anak Allah di bumi.“Pesan-pesan ini sangat penting untuk mereka ketahui”,  kata Yesus. Saya diberitahu bahwa saya akan sangat sibuk menyampaikan pesanpesan ini. Yesus juga ingin saya berbagi pengalaman Surgawi saya kepada semua anak-anak Allah sehingga mereka akan diberkati dan memperbaharui kekuatan mereka dalam mengikut Dia.

Yesus berkata pada saya, “saat kau kembali ke bumi katakan kepada anak-anakKu pesan-pesan ini” (ada enam pesan yang Yesus telah berikan kepada saya):

Pesan pertama:
“katakan kepada anak-anakKu, mereka harus percaya kepadaKu dengan segenap hati, dengan segenap kekuatan dan dengan segenap pikiran mereka. Bagi mereka yang khawatir dan ragu-ragu tidak akan masuk ke dalam sini.” Kata Tuhan Yesus

Pesan kedua:
“katakan kepada anak-anakKu, mereka harus setia untuk datang beribadah ke Gereja, karena inilah waktu dimana Aku menyinari wajah mereka dan mereka akan mencari wajahKu. Aku akan sangat bahagia melihat anak-anakKu menyembah di Gereja,” kata Tuhan Yesus

Pesan ketiga:
“katakan kepada anak-anakKu, mereka harus setia berdoa, melakukan kehendakKu, dan hidup seturut FirmanKu,” kata Tuhan Yesus

Pesan keempat:
“Katakan kepada anak-anakKu, mereka harus taat memberi persepuluhan dan persembahan,” kata Tuhan Yesus (sementara Yesus sedang memberikan pesan ini, Dia berkata “AnakKu, lihatlah kesana” Dia menunjukkanku kuda-kuda yang cantik yang sudah siap untuk anak-anakNya. “AnakKu, kuda-kuda ini telah siap, Aku telah siapkan untuk semua anak-anakKu yang percaya dan taat kepadaKu.”Lalu Dia menjunjukkan saya kuda-kuda yang tidak komplit. Saya bertanya, “Tuhan, mengapa kuda-kuda ini belum komplit?”Lalu Yesus berkata,  “AnakKu, kuda-kuda ini milik anak-anakKu yang tidak dengan rela memberikan persepuluhan dan persembahan. Kudakuda ini akan siap dan komplit setelah anak-anakKu memberikan lebih persepuluhan dan persembahan di rumahKu.”

Pesan kelima:
Katakan kepada anak-anakKu, mereka harus menempatkan semua perbendaharaan mereka di dalam doa kepadaKu untuk perlindungan dan berkat selagi mereka masih di bumi, sehingga saat aku datang kembali ke bumi untuk yang kedua kalinya, mereka tidak akan terikat dengan kekayaan duniawi. Ingatlah kisah akan istri Lot,” kata Tuhan Yesus.

Pesan keenam:
“katakan kepada anak-anakKu, mereka harus siap dan  waspada, karena aku akan datang segera. Lebih cepat dari yang orang-orang perkirakan!” kata Tuhan Yesus,(Kedatangan Yesus tidak diketahui tetapi pengangkatan sudah pasti akan terjadi. Tuhan Yesus akan datang segera!!!)


Sementara yesus sedang berbicara kepada saya  tentang  pesan yang keenam, Dia menunjukkan saya langit, langitnya bersih dan tak berawan. Saya melihat Yesus membuka tanganNya ke bumi dan Dia berkata, “Aku siap menjemput anak-anakKu.” Lalu saya melihat banyak orang-orang berpakaian jubah putih terbang melayang di langit untuk bertemu Yesus. Mereka semua berkumpul di sebelah kiri dan kanan Yesus. Banyak orang yang percaya Yesus terangkat. Terlebih lagi, saya melihat banyak anggota keluarga  sedang terangkat. Saya dapat melihat suami dan isteri dengan anak-anak mereka terbang melayang kearah Yesus. Saya merasa damai melihat penglihatan ini.


Lalu Yesus berkata,“lihatlah ke bawah”. Yesus lalu menunjukkan saya situasi di bumi, dan itu sangat kacau balau. Tidak ada kedamaian di bumi pada saat itu. Saya melihat orang-orang berlarian  ke segala tempat dan berteriak-teriak. Orang tua mencari anak-anaknya dan orang-orang muda mencari orang tua mereka.

Lalu Yesus menunjukkan pada saya Gereja di kota kelahiran saya. Saya merasa amat sedih karena ada beberapa orang yang tertinggal.

Lalu Yesus berkata pada saya.  “setialah kepadaKu. Kau harus menyampaikan hal-hal yang telah kau lihat dan telah kau dengar kepada anak-anakKu di bumi.”

Lalu Malaikat membawa saya ke bumi dengan kuda yang kami naiki sebelumnya. Kami pergi ke bumi dengan sangat cepat. Lalu Malaikat membawa saya kembali ke rumah sakit. Sementara saya sedang  melihat tubuh jasmani saya, roh saya seketika kembali ke dalamnya.

Saya melihat bahwa tubuh saya sudah pulih total dari penyakit. Puji Tuhan karena kuasaNya!Saya ingat saat saya berada di  surge tubuh saya terlihat seperti saat saya masih muda.

Inilah kesaksian saya tentang perjumpaan dengan Tuhan Yesus di surga.

Rabu, 15 Januari 2020

JANIN

JANIN

Bandung. Di sini kami adalah perantauan semata. Kami dari Manado. Suamiku sedang mengambil specialis kandungan. Semuanya terasa tidak bersahabat ...Ha.....ha... mungkin demikianlah lagu kebangsaan semua orang perantauan. Aku adalah ibu beranak satu. Sekarang aku hamil anak kami kedua. Karena suamiku sedang mengambil specialis kandungan dari ilmu kedokteran, maka janinku pun diperiksa.
Menurut hasil pemeriksaan, janin itu tidaklah menunjukkan ciri-ciri sebagai janin yang baik. Artinya janin itu buruk. Tentu hal itu meminta keputusan kami. Apakah janin itu dipertahankan ataukah janin itu digugurkan. Ada risiko bayi dilahirkan cacat. Benarkah Tuhan memberikan kami seorang bayi yang cacat? Oh itu adalah pertanyaan besar, Itu juga adalah pertanyaan serius.
Iman dan pengetahuan keduanya ada pada kami. Justru keduanya ada pada kami maka pikiran dan hati kami bergolak. Jika engkau yang mengalami ini, apa yang kau putuskan??? ...Setelah melalui banyak pertimbangan dan banyak berdoa, maka kami membulatkan hati untuk memelihara janin itu. Apa pun bayi itu dan bagaimana pun bayi itu kami sudah siap. Betulkah demikian???...Kami pura-pura tidak tahu apa kata ilmu kedokteran. Justru ketika suamiku mengambil specialis kandungan, justru kami bergumul soal janin. Menjelang hari melahirkan, aku terbang ke Manado. Aku memilih kotaku sendiri sebagai tempat aku melahirkan. Di Rumah Sakit aku mendapatkan banyak kunjungan dan seluruh dunia menyambut hangat kehadiran bayi cantikku yang utuh dan sehat sempurna. Sekarang dia sudah dewasa dan menjadi dokter gigi. Ohhhh....berbahagialah orang yang bersandar kepada Tuhan.
Yvonne Sumilat
1 Agustus 2017
Iman mereka pemanis imanku


Jumat, 10 Januari 2020

PERJALANANKU DI DALAM SEBUAH PERJALANAN : DARI KETAKUTAN DAN KERAGUAN MENUJU IMAN DAN KEPERCAYAAN

Wai Leng Loke—Cheras, Kuala Lumpur, Malaysia

Saya sering mendengar tentang pengkabaran injil yang dilakukan gereja ke India. Ketika saya mengagumi semangat dan kesungguhan dari yang melayani dalam pengkabaran injil tersebut, saya tidak pernah menyangka akan terlibat dalam pengkabaran injil di bagian Asia Selatan.

Suatu hari, ketika saya menerima undangan secara mendadak untuk membantu pelayanan pendidikan agama di India, saya sangat bahagia. Saat saya mendengarkan koordinator departemen ini menjelaskan tentang apa yang dapat saya bantu, hati saya luar biasa bersemangat. Tetapi saya tidak dapat menghilangkan perasaan ketidakmampuan saya ketika saya mengingat keterbatasan saya dan kurangnya pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki. Saya khawatir saya tidak dapat beradaptasi dengan kondisi kehidupan disana. Terlebih lagi ingatan tentang kejadian kriminalitas yang menyeramkan di India memenuhi pikiran saya, meredam antusias saya. Saya harus mengusahakan perjalanan iman pribadi saya lebih daripada perjalanan pengkabaran injil ini.

KEJADIAN 1. MEMPERCAYAKAN PADA TUHAN 

Jembatan pertama dan yang paling dekat yang harus saya lalui adalah izin dari orang tua. Tidak heran, orang tua saya sangat khawatir ketika mereka tahu keinginan saya untuk pergi dalam perjalanan ini. Ayah saya menyebutkan kejadian kriminal terbaru yang ada di koran yang terjadi di India, berharap hal ini akan menghalangi saya. Beberapa hari berlalu, kejadian-kejadian kriminal yang terjadi di India terus menerus mengikis tekadku untuk ikut dalam pengkabaran injil ini. Saya mulai khawatir dengan hal yang ditugaskan kepada saya, karena saya tidak tahu harus memulai darimana untuk menyiapkan diri saya. Saya mulai merasa tertekan dan diam-diam saya memiliki harapan bahwa perjalanan ini akan dibatalkan. Saya bergumul untuk beberapa minggu, khawatir tetapi tidak mau melewatkan kesempatan indah ini. Akhirnya beberapa saudara seiman dan saya memutuskan untuk membawa masalah ini dalam doa.

Suatu sore setelah kebaktian, saya berbagi dengan seorang pendeta tentang kekhawatiran saya. Dengan cepat ia meyakinkan saya "Pergilah. Tuhan Yesus akan menjaga engkau. Ia akan menjaga hamba-hambaNya. Pergilah dan pergilah dengan iman." Tiba-tiba saya merasa bahwa Tuhan sendiri yang mengucapkan kata-kata itu kepada saya, dengan kuasaNya yang penuh dan penghiburanNya. Kebahagiaan dan Iman pada Tuhan memenuhi saya (Yoh 14:1)

"Tuhan, Aku akan pergi kemanapun Engkau ingin aku pegi!"

Esok paginya, saya memberitahu orang tua saya tentang keputusan saya dan meminta mereka untuk tidak khawatir, meyakinkan mereka bahwa Tuhan pasti akan menjaga pekerja-pekerjaNya.

RENUNGAN 1: MELANGKAHLAH!

Di Laut Merah, Musa hanya perlu mengulurkan tangannya ke atas dan Tuhan membelah airnya jadi orang Israel dapat menyebrang laut itu di atas tanah yang kering (Kel 14:21, 22). Tetapi saat di Sungai Yordan, ketika orang Israel akan memasuki tanah perjanjian, Tuhan menginginkan mereka untuk menyeberangi sungai ketika arus di sungai itu sangat kuat. Tuhan memerintahkan imam yang membawa Tabut Allah untuk melangkah kedalam air dan menjanjikan bahwa air yang mengalir dari hulu akan terputus dan membentuk sebuah bendungan (Yos 3:13-16). Apakah kita ada diantara para imam, apakah kita akan mengambil langkah itu?

Mudah untuk berdoa pada Tuhan untuk meminta penambahan iman pada Tuhan. Tetapi ujian sebenarnya datang ketika kita harus meninggalkan zona nyaman kita dan mengubah pengetahuan dan kepercayaan kita menjadi tindakan yang nyata. Sulit bagi kita untuk mengambil langkah pertama karena kita terbiasa berjalan dengan penglihatan bukan dengan iman. Ketika kita tidak lagi melihat hal yang biasa kita lihat yang membuat kita nyaman, ketika kita melihat dengan gugup pada arus yang kuat dan air yang begitu banyak di hadapan kita dan kita hanya mengingat akan keterbatasan kita, kita lupa bahwa Tuhan kita Maha Kuasa. Kita harus mengingatkan diri kita bahwa Tuhan menjaga dan Ia akan menolong kita untuk mencapai kehendakNya. Tetapi kita harus memiliki keberanian untuk mengambil langkah pertama. Kepercayaan dan tindakan - itulah iman sejati.

Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu,

dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.

Akuilah Dia dalam segala lakumu,

maka Ia akan meluruskan jalanmu.

(Ams 3:5-6)

Alkitab menyediakan begitu banyak pengingat pada kita akan bagaimana Tuhan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin - Ia membelah Laut Merah (Kel 14:21); Tuhan Yesus menyembuhkan orang buta (Mrk : 10:46-52), berjalan di atas air (Mat 14:25), menenangkan angin dan ombak (Luk 8:22-25); Ia bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal (Yoh 11:38-44). Apakah ada hal yang tidak dapat dilakukan oleh Allah?

Bagi saya pribadi, apa yang saya butuhkan adalah untuk tidak melihat lagi kekhawatiran saya yang begitu besar dan mengambil langkah pertama untuk mempercayakan seluruh perjalanan dan perkerjaan kudus kedalam tangan Tuhan.

KEJADIAN 2. MELAKUKAN BAGIAN KU

Saya menerima telpon dari Komite Misionari ke India yang dibawah Departemen Pendidikan untuk memastikan perjalanan saya. Dua saudari akan menjadi rekan sekerja saya, salah satu dari mereka telah beberapa kali berpartisipasi dalam misionari ke India dan Afrika lebih dari satu dekade dan masih bersemangat untuk terlibat dalam pekerjaan kudus ini. Dia dan saudari yang lain sangat membantu saya dalam persiapan saya untuk menjalankan perjalanan ini dan menjalankan tugas saya.

Sebagai tambahan saya mempelajari pelajaran yang akan saya bawakan nanti. Saya juga mempelajari tentang perbedaan cuaca dan perbedaan budaya di India, menyiapkan obat-obatan dan mencari nasihat dari beberapa pekerja kudus dan saudara yang sudah pernah ke India.

Setelah menyiapkan semua yang saya butuhkan, kekhawatiran baru mendatangi saya: harus menjelaskan dan menguraikan tentang topik ini tanpa naskah yang bisa saya baca. Saya tidak yakin saya memiliki kemampuan dan kepandaian yang mencukupi. Bahkan saya merasa sangat tidak mampu. Lalu saya megingat apa yang telah Tuhan katakan kepada Musa:

Siapa yang membuat lidah manusia? (Kel 4:11a)

Sekali lagi, saya memandang pada Yesus. Saya berdoa dan memohon penyertaan Tuhan secara menyeluruh untuk memampukan saya menyampaikan dengan lancar dan melayanai sesuai dengan kehendak Tuhan.

Saya bertemu rekan sekerja saya pada tanggal 15 Mei 2013 di Bandara Internasional Kuala Lumpur untuk melanjutkan perjalanan kami ke India. Saya biasanya takut saat terbang tetapi entah mengapa penerbangan kali ini terasa berbeda. Ketika pesawat kami tinggal landas, saya memikirkan tentang betapa Maha Kuasanya Tuhan yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya. Rasa takut yang biasa saya alami digantikan dengan perasaan tenang, memberikan saya sebuah keyakinan bahwa semua hal akan berjalan dengan baik dibawah penyertaan Tuhan. Tidak lama kami sampai di Chennai, India, berjalan keluar mendapati senyum sambutan dari diaken dan pendeta setempat.

KEJADIAN 3. MELIHAT DAN MERASAKAN PEKERJAAN TUHAN YANG LUAR BIASA

Sewaktu 2 minggu di India, saya benar-benar merasakan penyertaan Tuhan; bersama Tuhan tidak ada yang tidak mungkin (Luk 1:37)

Saat itu musim panas dan sangat panas. Di tengah panas teriknya hari, saya sering bermandikan keringat. Bahkan ketika saya sedang berbaring di atas ranjang dengan nyaman pada malam hari dengan kipas angin yang meniup dengan kencang, baju saya tetap basah oleh keringat. Tetapi panas itu tidak merintangi pekerjaan saya sama sekali. Dan luar biasanya, tidak ada satu orang pun diantara kami yang mengalami dehidrasi yang serius atau diare, bahkan tidak terkena demam karena tanpa sengaja meminum minuman dingin yang dijual di pinggir jalan.1

Lalu pada hari berikutnya seorang pendeta memberitahu kami bahwa seminggu sebelumnya ada angin ribut yang menuju ke tempat kami. Menakjubkannya angin tersebut tiba-tiba berubah arah dan pergi menuju arah sebaliknya. Bukankah itu adalah berkat dan perlindungan daripada Tuhan kita yang penuh kasih, gereja dan pusat pelatihan kita di Ambattur, Chennai bisa saja terkena angin ribut itu dan seluruh perjalanan kami bisa saja dibatalkan.

Ketika saya memulai kelas saya, saya mendapati bahwa ketakutan saya yang sebelumnya sama skali tidak terjadi. Kata-kata mengalir dengan lancar dan saya dapat mengajar dengan lancar. Sebelumnya saya sangat khawatir saya tidak akan memiliki contoh yang cukup untuk dibagikan. Pada kenyataanya saya kehabisan waktu sebelum selesai maengajarkan semuanya! Bersyukur pada Tuhan atas penyertaanNya

RENUNGAN 2: MELANGKAHLAH!

Jauh di dalam diri kita semua, ada saat-saat dimana kita ingin melakukan sesuatu untuk Tuhan. Tetapi sebelum kita mulai kita dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif yang begitu banyak. Hal ini sering membuat kita lemah sehingga kita berpikiran pesimis dan kita menyerah sebelum mencoba. Tetapi pernahkah kita memikirkan bahwa pekerjaan Tuhan dapat terlaksana karena penyertaan Tuhan dan bukan dari kepandaian dan kekuatan kita yang terbatas?

Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia?... Bukankah Aku, yakni TUHAN?" "Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (Kel 4:11a, 12)

Sekali lagi kita harus melihat kepada rasul-rasul. Bahkan rasul Paulus pun terbeban oleh kelemahannya. Tetapi ia membagikan kepada kita apa yang Tuhan katakan pada dia yang membuat dia tenang, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Kor 12:9a)

Dan Yakobus memberi tahu kita bagaimana mengalahkan kekhawatiran kita: Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, — yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit — ,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. (Yak 1:5, 6)

KEJADIAN 4. MENIKMATI KESATUAN DIDALAM KRISTUS

Satu di dalam Departemen

Ketika kami melayani bersama, rekan kerja saya dan saya melihat bahwa Tuhan memiliki maksud baik di semua hal yang telah Ia randangkan untuk kita. Kami dapat melihat bahwa Ia menempatkan kami bersama sebagai rekan kerja karena kami melengkapi satu sama lain didalam pengetahuan, kemampuan dan bahkan di dalam cara berpikir kami dan kekuatan fisik kami! Terpujilah Tuhan!

Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, (Rom 12:4) 

Satu Keluarga

Tidak hanya saya menikmati berkat untuk melayani bersama-sama saudara seiman, saya sangat tersentuh dengan kehangatan mereka - orang yang belum pernah saya temui sebelumnya tetapi kasihnya melampaui ras, budaya dan wilayah karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita.

Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. (1 Yoh 4:11)

Suatu hari seorang saudara mengantar kami ke greja di Chengalput, sekitar 1.5 jam perjalanan dari pusat pelatihan kami di Ambattur. Karena saya mengalami mabuk darat, perjalanan itu sangat menyiksa saya. Kita harus berhenti di pinggir jalan sehingga saya dapat pulih dari mabuk dan pusing yang saya alami. Saya merasa sagat tidak enak karena menyebabkan ketidaknyamanan pada semua orang, tetapi saudara seiman disana sangat baik dan mengerti kondisi saya, pergi ke tempat yang cukup jauh untuk mencari obat untuk saya.

Terlebih lagi selama perjalanan, saudari kami yang berasal dari India berusaha cukup keras untuk menyiapkan masakan, makanan ringan dan minuman tradisional India untuk kami makan. Tidak ada masa dimana kami merasa lapar! 2 minggu berlalu begitu cepat karena saudara seiman disini benar-benar membuat kami seperti kami berada di rumah.

Saya sangat bersyukur pada Tuhan akan kasihNya yang terpancar melalui pekerjaNya. Disamping jemaat setempat, saudara seiman kami di tempat kami berasal juga tidak henti-hentinya berdoa untuk kami dan rekan sekerja saya yang memberikan dukungan kasih baik dalam perkataan maupun perbuatan (1 Yoh 3:18). Tindakan mereka telah memberikan pelajaran pada saya untuk juga memberikan perhatian dan kasih pada sesama.

KESIMPULAN

Seluruh perjalanan berjalan dengan baik. Puji syukur pada Tuhan atas kasihNya yang begitu besar, berkat dan perlindunganNya dalam 2 minggu perjalanan kami di India. Kata-kata tidak dapat mengungkapkan rasa syukur saya atas kesempatan yang begitu berharga ini untuk bekerja bersama rekan sekerja yang baik, bisa melayani saudara seiman di India dan dapat menyaksikan sendiri karya Tuhan yang begitu luar biasa.

Saya diminta untuk mengajar tetapi karena kasih Tuhan yang besar, perjalanan ini memberikan saya banyak pelajaran yang sangat berharga.


Tidak hanya saya belajar untuk mengesampingkan kelemahan dan kekurangan saya, "Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." (2 Kor 12:10), tetapi saya juga menyadari bahwa bahkan di dalam kelemahan saya, saya masih dapat melakukan lebih karena Tuhan melalui Kristus telah menguatkan saya - secara jasmani dan rohani (Flp 4:13).

Saya belajar untuk menyerahkan segala kekuatiran saya kepada Bapa kita di surga melalui doa terus menerus (1 Ptr 5:7), untuk menghilangkan ketakutan saya dan percaya pada Tuhan. Saya juga belajar untuk percaya pada rancangan Tuhan karena Ia mengetahui segala kebutuhan kita dan kita tidak dapat menyelami pekerjaan Tuhan. Jika saya hanya melihat pada arus air yang kuat dan tidak mengambil langkah pertama untuk menjawab panggilan Tuhan, saya tidak akan menyaksikan bagaimana Tuhan bekerja melalui hambaNya. Ia menguatkan iman saya di dalam Ia dan menghilangkan keraguan saya. Saya sekarang dengan tidak sabar menunggu panggilan saya yang berikutnya
Segala puji dan kemuliaan hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.


1 Penasihat perjalanan ke India mengingatkan kita akan makanan dan minuman yang dijual di pinggir jalan karena tingginya kemungkinan makanan dan minuman tersebut telah terkontaminasi.


Minggu, 05 Januari 2020

ANUGRAH YANG INDAH

Suatu hari di pertengahan bulan Juni tahun 1983, ketika anak laki-laki saya duduk di kelas 2 SD, ia pulang ke rumah dan mengeluh tentang kakinya yang terasa sakit sekali. Saya memeriksanya dan menemukan bahwa amandelnya juga membengkak. Saya tidak terlalu menganggapnya serius. Tiga bulan kemudian ia mengeluhkan tentang perut bagian kanannya terasa sakit. Saya membawanya menemui dokter dan kami dianjurkan untuk pergi ke rumah sakit yang lebih besar agar bisa dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Setelah banyak dilakukan pengetesan darah dan X-ray, didapati bahwa ia memiliki jumlah sel darah putih yang di atas normal. Jumlah normalnya adalah sekitar 6000 - 10,000; sedangkan ia memiliki 30,000. Dokter juga menemukan bahwa 90% sel darahnya tidak normal. Mereka segera memasukan ia ke rumah sakit karena kondisinya sudah mengkhawatirkan. Ia terkena kanker darah dan hari yang ia lalui bisa baik dan bisa juga buruk. Kondisi yang tidak stabil ini tidak dapat di atur, dokter hanya menyarankan untuk menikmati setiap harinya. Sebagai seorang penganut agama budha hati saya terasa hancur. Saya tidak pernah menjadi orang yang jahat, saya tidak mengerti mengapa hal ini dapat terjadi pada anak laki-laki yang saya kasihi. Lalu saya teringat dengan istri teman saya yang seorang Kristen yang penuh iman di Gereja Yesus Sejati. Saya menelponya, nama nya nyonya Liu dan saya menjelaskan situasi yang sedang saya alami, berharap ia dapat membantu melalui doa.Besoknya ia dengan segera datang ke rumah sakit untuk berdoa untuk anak saya. Ia juga datang bersama beberapa jemaat Gereja Yesus Sejati. Selama beberapa bulan ke depan mereka sering datang dan mendoakan anak saya.

Setelah empat bulan, tidak ada perbaikan yang terjadi dan dokter terus menambah dosis obat yang diberikan sehingga ia menyuntikan obat 54 kali lebih besar dari dosis awal, dari 25cc sampai 1350cc. Saya sangat terkejut tetapi dokter berkata bahwa ini adalah satu-satunya cara agar anak saya dapat bertahan dan jika tidak dilakukan anak saya dapat meninggal.

Anak saya terus menerus mengeluarkan darah dan setiap beberapa menit seorang suster harus mengganti pispotnya dan mengelap darah yang keluar dari mulutnya. Jantungnya berdetak lebih dari 120 detakan setiap menit. Seluruh tubuhnya juga gemetar dan ia tidak ada kekuatan berdiri dengan kedua kakinya. Paru-parunya juga terinfeksi dan tubuhnya tidak mampu untuk memproduksi sel darah.

Suatu hari saat saya sedang membersihkan tubuhnya, tubuhnya tiba-tiba bergerak diluar kendali dan matanya mengarah ke atas sehingga hanya bagian yang putih saja yang terlihat. Setelah kami berdoa, ia menjadi tenang tetapi terlihat sangat lemah, saya sangat takut ia akan segera meninggal. Tiga hari kemudian di pagi hari ketika saya sedang berdoa di kamarnya, saya melihat sebuah cahaya turun menyinari kepala saya. Setelah berdoa, sambil mengelap darah dari mulut anak saya, saya masih merasa sedih, tiba-tiba anak saya duduk dan berkata dengan suara yang keras, ia merasa sangat jauh lebih baik dan ia ingin dibaptis. Saat itu Nyonya Liu datang dan memberitahu bahwa Pendeta Chang merasa bahwa anak saya harus di baptis. Setelah ia dibawa kedalam air dan di baptis, dosanya diampuni dan ia berjalan sendiri ke mobil dan mulai bermain dengan kemudi mobil itu. Setelah itu pada malam hari setelah mandi dan bermain mainan di dalam air, ia ingin makan kue dan minum susu. Sebelum hari itu ia tidak dapat makan selama 4 hari. Selama 9 bulan suhu tubuhnya di atas 101 F. Sekarang suhu tubuhnya kembali ke 98 F, kembali normal lagi. Sejak saat itu ia berkunjung ke rumah sakit hanya untuk memeriksa perkembangannya. Ia kembali ke sekolah ke kelas 4 SD dan ia adalah anak yang sangat lincah.

Puji Tuhan! Tuhan Yesus adalah Tuhan Yang Mahakuasa, Ia penuh kasih dan kuasa dan akan mendengarkan doa kita. Diberkatilah semua yang mengasihiNya dan percaya padaNya. Biarlah damai sejahtera daripada Tuhan Yesus Kristus beserta anda. Amin

Tezen Ye Ming