Senin, 30 Maret 2020

DIJAGA OLEH DOA

Iman yang tidak bertumbuh
Kedua orangtua saya dibaptis ketika saya masih kecil. Mereka dibaptis karena dibawa ke gereja oleh tetangga kami. Setelah dibaptis, iman Mama bertumbuh dan bertahan. Setiap Sabat Mama rajin datang ke gereja, tetapi Papa imannya tidak bertumbuh, sehingga ia hampir tidak pernah berkebaktian.

Suatu ketika Papa sakit kencing batu, dan harus dioperasi. Kemudian jemaat gereja bersama-sama mendoakannya agar sembuh. Dan Tuhan yang sangat murah hati, mendengarkan doa kami. Sebelum dioperasi, Papa buang air kecil, dan saat itu batunya keluar, sehingga ia tidak jadi dioperasi. Akan tetapi mujizat ini tidak berhasil membuat iman Papa tumbuh. Ia tetap tidak datang berkebaktian. Berkali-kali kami mengajaknya berkebaktian, tetapi ia tetap tidak mau, dengan berbagai alasan. Akhirnya yang dapat kami lakukan adalah berdoa agar Tuhan membuat Papa mau datang berkebaktian.

Bertahun-tahun berlalu, doa yang diucapkan tetap sama, yaitu agar Papa mau datang berkebaktian. Doa yang sekian lama diucapkan itu akhirnya menjadi hafal di luar kepala, sehingga ketika saya berdoa, ucapan itu terlontar begitu saja, tanpa dipikir lagi. Tetapi yang terjadi adalah, bukan saja Papa tidak mau berkebaktian, sebaliknya ia memarahi kami jika pergi ke gereja. Berbagai perkataan yang keras diucapkannya jika kami pulang dari gereja. Lama kelamaan kami menjadi takut pulang, apalagi jika kebetulan di gereja sedang ada banyak kegiatan, yang membuat kami harus pulang lebih telat dari biasanya.

Lalu pokok doa pun kami tambah. Selain mendoakan Papa agar mau datang ke gereja, kami juga berdoa agar Papa tidak melarang kami ke gereja. Herannya kami masih berani mengajaknya datang ke gereja setiap kali ada Kebaktian Kebangunan Rohani, untuk memohon Roh Kudus. Tetapi Papa selalu menjawab, “Kamu orang saja yang pergi.” Kembali lagi tahun-tahun berjalan. Keadaan bukan semakin baik, sebaliknya jadi semakin parah. Sering kali terjadi pertengkaran antara Mama dan Papa, dan gereja yang tidak ada hubungannya, ikut terbawa-bawa.

Terkena stroke
Suatu kali kepala Papa sakit luar biasa, sehingga kami semua panik, karena selama ini Papa jarang sakit. Lalu kami semua mendoakannya agar sembuh dan membawanya pergi ke dokter. Tidak lama kemudian, sakit kepalanya sembuh, tetapi dokter berpesan agar Papa berhati-hati, karena bila terserang lagi, akan mengakibatkan penyakit yang lebih parah. Sebenarnya Tuhan berbaik hati kepada Papa saya, dengan memberikan kesempatan untuk bertobat dan menjaga kesehatannya. Tetapi kesembuhan ini pun tidak membuat Papa pergi ke gereja.

Kembali lagi tahun-tahun berjalan dengan berbagai pertengkaran mengenai ibadah Sabat. Setiap Sabat, kami ingin pergi ke gereja, sedangkan Papa ingin agar kami mengurus usahanya. Sampai pada suatu hari, karena tidak memperhatikan nasihat dokter, Papa terkena stroke. Kami semua bingung karena saat itu stroke masih jarang terdengar. Kami membawanya ke rumah sakit. Saudara seiman datang menjenguk, sambil berdoa agar Papa cepat sembuh. Tetapi kali ini, doa kami tidak segera dijawab seperti sebelumnya. Sebulan berlalu, Papa masih juga dirawat di rumah sakit. Kami sekeluarga bertanya-tanya, sampai kapan Papa akan dirawat di rumah sakit. Kami dan saudara seiman tidak henti-hentinya mendoakan Papa. Dua bulan berlalu, masih belum ada kabar kapan Papa boleh pulang. Dokter hanya berkata jika Papa pulang, makan dan minumnya harus melalui selang dari hidung. Kami bingung dan berdoa kepada Tuhan. Kali ini Tuhan langsung menjawab doa kami. Secara mendadak Papa melepaskan selang yang ada di hidungnya dan fisioterapis memerintahkan suster untuk memberi Papa makan. Dan Puji Tuhan, Papa dapat makan secara normal, lewat mulut, dan ia segera diperbolehkan pulang.

Karena penyakit stroke yang dideritanya, Papa mengalami kelumpuhan kaki dan tangan kanan. Ia juga tidak dapat berbicara lagi. Hal ini sangat menyiksa dirinya yang biasa aktif. Bahkan ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya, sehingga banyak terdapat luka di kaki, tangan, dan badannya. Tubuh manusia jika diam terus di atas ranjang, akan mengalami iritasi yang lama kelamaan menjadi lecet dan akhirnya luka. Jika hal ini terus berlangsung, maka lukanya akan semakin dalam dan membentuk lubang.

Setelah melalui begitu banyak penderitaan, akhirnya tubuh Papa mulai dapat bergerak sedikit-sedikit. Melihat kemajuan yang dicapainya, mulanya Papa masih bersemangat untuk memulihkan kelumpuhan yang dideritanya agar sembuh total. Fisioterapis secara rutin datang untuk membantu memulihkan kaki dan tangan Papa. Keadaan Papa sedikit membaik. Ia dapat bangun, berdiri bahkan berjalan dengan menggunakan kaki dan tangan kirinya, tetapi yang sebelah kanan tetap tidak dapat digerakkan. Dokter akupunktur pun secara rutin memberikan terapi kepada Papa. Tetapi setelah bertahun-tahun berusaha, keadaan Papa tidak ada kemajuan lagi. Hal ini membuat Papa akhirnya menyerah, dan tidak mau berobat lagi. Sementara itu kami terus mendoakannya agar tubuhnya pulih kembali, sambil mengajaknya berdoa memohon kesembuhan, dan juga membujuknya untuk datang ke gereja. Sampai saat ini pun Papa masih tidak mau datang ke gereja. Memang sulit dengan tubuh seperti itu untuk datang ke gereja, apalagi aula letaknya di lantai dua.

Setahun dua tahun kemudian, Papa sakit lagi. Badannya panas. Dan karena ia tidak dapat berbicara, kami tidak tahu apa keluhannya. Kami membawanya ke dokter, dan Papa dinyatakan sakit infeksi paru-paru, dan harus menjalani pengobatan di rumah sakit selama satu sampai dua minggu, setelah itu harus minum obat minimal enam bulan. Sejak saat itu, pokok doa kami bertambah, yaitu agar Papa jangan sakit-sakitan, dan memohon kepada Tuhan agar stroke-nya jangan kambuh lagi, karena kalau sampai terserang lagi, dapat membahayakan hidupnya. Kadang-kadang kami masih membujuknya untuk datang ke gereja, dan sesekali mengajaknya berdoa bersama. Sampai saat ini pun Papa masih belum mau datang ke gereja.

Iman mulai bertumbuh
Kemudian saya menikah dan tinggal bersama orangtua. Belum lagi setahun, istri saya diketahui mengidap penyakit kanker usus. Papa saya yang mengetahui hal ini, hanya bisa sedih dan menggelengkan kepalanya. Sepuluh bulan di akhir hidupnya, istri saya selalu menangis dan berteriak kesakitan. Setiap malam Papa mendengar tangisan istri saya. Setiap kali melihat istri saya yang semakin kurus, Papa saya hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Suatu kali saya mengundang pendeta dan jemaat untuk datang berkebaktian di rumah. Pada kesempatan itu, Papa ikut berkebaktian di rumah. Dan saya meminta kepada mereka agar kebaktian ini dilakukan secara rutin seminggu sekali. Mereka setuju, dan akhirnya Papa saya ikut berkebaktian di rumah. Selain mendoakan istri saya, pendeta juga mendoakan Papa.

Rupanya Tuhan mulai mendengarkan dan mengabulkan doa kami. Setelah sekian tahun kami berdoa, Papa mulai senang berkebaktian. Setiap kali ada kebaktian, Papa selalu keluar kamar untuk ikut berkebaktian. Setelah kebaktian, ia masuk kamar kembali. Sekian bulan kemudian, sakit istri saya semakin parah dan Papa semakin prihatin melihatnya. Akhirnya di bulan November 2002, istri saya meninggal, dan Papa memaksakan diri untuk ikut datang ke rumah duka. Dari sikap dan raut wajahnya, kami menduga Papa telah sadar, bahwa hidup manusia penuh dengan penderitaan dan berlalunya terburu-buru.

Saat itu kami tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera mengajak Papa datang ke gereja. Kami berkata kepada Papa, “Papa tidak usah sedih, dia sudah meninggal, tetapi ia sekarang senang karena telah berada di Surga. Sedangkan Papa belum tentu masuk Surga. Jadi yang harus disedihkan adalah diri Papa sendiri yang belum tentu masuk Surga.” Mendengar itu Papa setuju untuk datang ke gereja berkebaktian Sabat.

Mula-mula kami membawa Papa ke gereja Samanhudi, karena di sana ada ruang serba guna di lantai satu yang dipakai untuk kebaktian Sabat pagi, sehingga tidak perlu naik tangga. Karena Papa tidak dapat berjalan, maka kami menggunakan kursi roda. Tetapi di sana ramai sekali, sehingga bulan berikutnya, kami membawa Papa ke gereja Sunter, meskipun di sana kami harus menggotongnya untuk naik ke lantai dua.

Dijaga oleh doa
Tahun pertama kebaktian Sabat pagi di Sunter dimulai pukul 7.00. Walaupun pagi hari, Papa rajin ikut berkebaktian. Pagi-pagi Papa harus bangun dan mandi untuk pergi ke gereja. Melihat hal ini, saya mulai tidak mendoakan Papa lagi untuk mau datang ke gereja, karena saya berpikir, Papa telah bulat tekadnya untuk rajin datang ke gereja, dan Tuhan telah mengabulkan doa kami. Jadi untuk apa saya mendoakannya lagi? Tetapi di saat lengah itu, Iblis datang mengganggu. Suatu kali Papa sakit flu. Ia tidak mau datang ke gereja, dan kami pun tidak memaksanya. Kami berpikir nanti setelah sembuh, Papa akan kami ajak kembali. Tetapi yang terjadi adalah, Papa tidak mau datang ke gereja lagi, meskipun ia telah sembuh. Melihat hal ini, saya seperti tersadar akan pentingnya doa, dan mulai mendoakannya kembali agar ia mau datang ke gereja lagi.

Puji Tuhan, Ia segera menjawab doa saya, dan Papa mau rajin datang ke gereja kembali. Kali ini saya tidak mau ambil risiko. Setiap hari saya mendoakan Papa agar datang ke gereja terus. Saya bertekad untuk mendoakan Papa sampai akhir hidupnya. Saya tidak ingin kecolongan lagi.

Perjamuan Kudus terakhir
Selama ini Papa tidak pernah makan Perjamuan Kudus lagi. Sejak dibaptis, ia hanya sekali makan Perjamuan Kudus, setelah itu, entah kapan terakhir kali ia makan Perjamuan Kudus. Tetapi hal yang baik terjadi. Sejak bulan Maret 2005, di Sunter diadakan Perjamuan Kudus pagi hari untuk pertama kalinya. Selama ini Perjamuan Kudus hanya diadakan di Sabat siang. Dan hari itu Papa pun menerima Perjamuan Kudus, setelah sekian puluh tahun tidak menerimanya.

Tanggal 12 April 2005, Papa meninggal di rumah sakit. Setelah delapan tahun menderita dengan berbagai kesulitan, kesakitan, dan kelemahan, akhirnya Papa dipanggil Tuhan. Delapan tahun adalah waktu yang panjang bagi orang yang menderita lumpuh. Hidupnya hanya di kursi roda dan di ranjang. Tetapi kami bersyukur pada Tuhan, karena Ia memberikan kesempatan kepada Papa untuk datang ke gereja sebelum ia meninggal, dan diberi kesempatan untuk mengikuti Perjamuan Kudus pula. Bisa saja Papa meninggal saat ia sakit stroke, atau sakit paru-paru, atau sakit yang lainnya. Tetapi Tuhan sangat bermurah hati kepada Papa. Ia tidak memanggil Papa ketika ia dalam keadaan tidak siap. Tuhan memberikan kesempatan yang indah yang mungkin tidak dapat diperoleh oleh orang lain. Kesempatan telah begitu banyak dilewatkan, tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan terakhir kepada Papa.

Pentingnya doa
Berkat doa, Papa mau datang ke gereja. Berkat doa, Papa dijaga agar tekun berkebaktian. Hal ini membuat saya sadar akan pentingnya doa, dan teringat sebuah perikop tentang berjaga-jaga.

Matius 25:1-13: "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Berjagalah dalam doa, janganlah putus asa. Banyak jiwa dapat dimenangkan dengan berdoa. Selain itu dengan berjaga dan berdoa, mata hati kita akan selalu menyala, bagaikan pelita yang berminyak.

Amin
Jokoginta - Sunter, Jakarta, Indonesia
Sumber: Warta Sejati 46

Rabu, 25 Maret 2020

TUHAN DOKTER BEDAHKU

Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi,

Kejadian ini terjadi pada bulan Januari 2002, waktu itu saya sedang bertandang ke Jakarta untuk mengunjungi ibu saya. Suatu hari saya pergi memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan di Jakarta. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sebuah kista di ovarium sebelah kiri sebesar 1½ cm. Dokter menyerepkan obat antibiotik untuk saya.

Karena saya tinggal di Pontianak dan pergi ke Jakarta hanya setahun sekali, maka dokter memberikan empat resep dengan obat yang sama, dan kalau ada keluhan boleh konsultasi langsung lewat telepon. Setelah kembali ke Pontianak, obat sudah ditebus sampai tiga resep, setiap hari sampai bosan minum obat antibiotik yang sama, tetap tidak ada perubahan. Malah suatu hari tidak tahu kenapa tiba-tiba perut saya sebelah kiri terasa sakit sekali. Sakitnya sampai ke pinggang belakang seperti sakit datang bulan, tetapi saat itu saya tidak datang bulan. Obat antibiotik langsung saya hentikan karena sakit yang tak tertahankan. Sorenya saya langsung pergi ke dokter kandungan. Ketika dokter memeriksa dan menekan perut saya sebelah kiri, saya berteriak karena terasa sakit sekali.

Setelah di USG, dokter berkata bahwa terdapat infeksi radang kista, dan besar kista bertambah menjadi 3 cm, dan kalau didiamkan bisa membahayakan dan akan terus terasa sakit, dan harus dioperasi untuk membuang ovarium sebelah kiri. Saya terkejut mendengar kata operasi. Dokter memberi obat penahan sakit untuk tiga hari, dan kalau setelah ini masih terasa sakit harus cepat kembali ke dokter untuk dioperasi.

Setelah kembali ke rumah, saya berdoa menangis dan berkata, "Tuhan, saya tidak ingin ovarium kiri saya dibuang, biarlah hanya kuasa Tuhan saja yang dapat menjamah dan menghilangkan kista saya." Dalam doa saya percaya bahwa Tuhan akan mendengar dan menjawab doa saya. Puji Tuhan setiap selesai berdoa hati terasa ada sukacita dan segala kekuatiran pun hilang.

Puji Tuhan, setelah lewat tiga hari sampai sekarang perut saya tidak terasa sakit lagi. Kemudian saya mencoba kembali ke dokter kandungan. Setelah di-USG kembali, dokter mencari-cari dan mengatakan "ajaib", kistanya hilang. Dokter heran, sebab infeksi radang itu biasanya sulit dan lama sembuhnya.

Dengan spontan saya berkata pada dokter "puji Tuhan", Tuhanlah yang menjamah kista saya. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan Yesus karena Tuhan sudah menjawab doa saya. Biarlah kesaksian ini hanya untuk kemuliaan nama Tuhan, juga dapat memberikan kekuatan iman bagi kita semua. Amin.
Yohana Gunawan - Pontianak, Indonesia

Jumat, 20 Maret 2020

SERAHKAN SEGALA KEKUATIRANMU KEPADA NYA


"Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1Petrus 5:6-8)

Rasul Petrus menasihati kita untuk menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan karena Dia yang memelihara kita.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering lupa bahwa kehidupan kita dapat dipertahankan dan ditopang oleh karena pemeliharaan Tuhan. Jika Tuhan menarik tangan-Nya dari alam semesta, meskipun hanya sesaat, alam semesta tidak akan dapat bertahan sendiri (Ibr. 1:3).

Tetapi, kadang-kadang mata kita dibutakan terhadap pemeliharaan ini dan kita memerlukan Tuhan untuk mengingatkan kita bahwa Dialah yang menopang segala sesuatu di alam semesta ini – bukan hanya matahari, bulan, dan bintang-bintang – tetapi kita juga (Mzm. 63:9).

Saya akan membagikan dua pengalaman rohani yang mengungkapkan pelajaran penting yang diajarkan Tuhan kepada saya. Kedua pengalaman tersebut disebabkan oleh kelemahan daging; tetapi, sekaligus merupakan sebuah kesaksian akan kebesaran kasih karunia Tuhan.

Di hari-hari terakhir ini, sebelum Kristus datang kembali, kita harus semakin waspada, karena Iblis tahu bahwa waktu-Nya sudah dekat. Jadi kita harus merendahkan diri sendiri. Sadar, berjaga-jaga, sehingga kita dapat menang sampai pada kesudahan dunia.

Harapan saya adalah agar pengalaman-pengalaman yang saya bagikan ini dapat mengingatkan dan mendorong, tetapi yang terpenting, menanamkan kepada Anda luasnya jangkauan pemeliharaan Tuhan terhadap kita. Pemeliharaan dan perlindungan Tuhan jauh melampaui pengertian kita, manusia yang terbatas; kasih-Nya tidak dapat dibayangkan.

PENGANIAYAAN ROHANI
Pertama-tama saya akan membagikan pengalaman rohani lama yang mengajarkan pentingnya pengaruh pikiran kita terhadap keberhasilan menyelesaikan perjalanan kita menuju kerajaan Tuhan.

Bertahun-tahun yang lalu, tak lama setelah saya percaya Kristus, saya berusaha sekuat tenaga meneruskan pencarian rohani saya terhadap Tuhan setiap hari. Saya berdoa berjam-jam, bukan bermenit-menit, setiap hari. Saya membaca Alkitab sebanyak beberapa kitab, bukan beberapa pasal.

Waktu itu saya masih muda, tetapi saya berusaha sekuat tenaga mengubah hidup saya secara radikal bagi Tuhan. Tetapi kemudian iman saya mencapai titik rendahnya.

Selama masa itu, saya menghadapi penganiayaan dari keluarga dan teman-teman saya sendiri karena iman dan pencarian rohani saya. Penganiayaan yang saya hadapi bukanlah dalam bentuk ancaman luka badani ataupun kematian; melainkan penganiayaan emosi dan rohani, yang dapat menjadi jenis yang paling sulit diatasi.

Sulit sekali terus-menerus mendengar hal-hal seperti, "Mengapa kau berdoa begitu banyak?" "Apa yang salah denganmu?" "Kau aneh!" "Kau sudah tidak menyenangkan lagi diajak main. Daah." Segera saja, Anda mulai merasa seolah-olah hidup Anda sudah mengambil belokan yang salah besar, sekalipun hati Anda tahu bahwa itu tidak benar.

Lubang Jurang Maut
Sebagai orang yang baru percaya, dihadapkan pada situasi seperti ini, saya menjadi sangat tertekan. Pada suatu malam, saat saya duduk di pojok tempat tidur, siap untuk tidur, saya berpikir, "Wah! Sulit sekali menjadi orang Kristen." Saya hampir menyerah.

Kemudian saya mempunyai pikiran lain: "Mungkin neraka tidak seburuk itu. Bisa seburuk apa sih?" Sambil berpikir begitu, saya menjatuhkan punggung ke tempat tidur, tetapi bukannya menghantam bantal, saya jatuh ke dalamnya!

Apakah saya berpindah ke dimensi lain secara jasmani? Mungkin tidak. Namun demikian, secara rohani, saya merasa seolah-olah terjatuh ke lubang yang dalam. Karena beberapa alasan, saya punya gagasan bagus mengenai di mana saya berada. Saya berada di lubang jurang maut seperti yang dicatat dalam kitab Wahyu .

Bagaimana rasanya terjatuh ke lubang jurang maut?

Sulit sekali melukiskan perasaan yang timbul – kesepian, kegelapan, dan kebingungan tiada tara yang Anda rasakan – selagi Anda melayang turun ke dalam jurang yang gelap dan tanpa dasar. Saya hanya dapat membayangkan bahwa inilah yang dialami oleh Nabi Yunus ketika dibuang dari kapal dan terjatuh di laut yang menggelora (Yun. 1:15; 2:3).

Yang lebih buruk lagi, Anda melesat turun ke dalam kegelapan dengan kesadaran penuh akan tidak adanya dasar yang dapat mengakhiri kepiluan Anda.

Sewaktu saya terjun bebas ke dalam lubang yang gelap ini, saya merasa seakan diri saya berputar tak terkendali. Saya juga merasakan roh-roh yang dingin dan jahat – Iblis – berlarian melalui dan mengelilingi tubuh saya. Ketika roh-roh itu menembus tubuh saya, saya merasakan kepedihan mereka dan mendengar tangisan tanpa suara mereka.

Roh-roh yang dingin ini terus terbang di sekitar dan mengelilingi tubuh saya sewaktu saya bergulung-gulung ke arah bawah. Akhirnya, saya merasakan kegelapan yang amat sangat pekat di dalam lubang itu. Kegelapan yang tak dapat dibandingkan dengan kegelapan macam apa pun yang ada di bumi. Ini adalah kegelappekatan rohani yang mencekik Anda sampai Anda merasa akan mati lemas.

Selagi terjatuh, saya teringat kesaksian seorang saudara di Afrika yang ketika sedang berdoa mendapat penglihatan tentang hari penghakiman. Di dalam doanya, saudara itu melihat dirinya sedang menunggu dalam barisan berisi ribuan orang. Semua orang sedang menunggu giliran di hadapan takhta penghakiman Tuhan.

Semakin mendekati takhta, saudara itu melihat Tuhan Yesus duduk di atas takhta-Nya dengan mata menyala-nyala bagaikan api (Why. 1:14).

Takhta itu dikelilingi malaikat dalam jumlah besar. Kemudian saudara itu melihat bahwa kalau seseorang didapati layak memperoleh keselamatan Tuhan, semua malaikat akan bernyanyi dengan suara keras, dan orang tersebut disambut dengan hangat ke dalam kerajaan Tuhan.

Tetapi jika para malaikat tidak bernyanyi, maka orang itu akan digiring oleh dua malaikat, satu malaikat pada setiap lengannya, ke sebuah lubang besar. Saudara itu melihat jiwa-jiwa terkutuk ini menendang-nendang dan menjerit-jerit selagi digiring ke lubang jurang maut itu dan dilemparkan ke dalamnya secara paksa.

Ketika saya merenungkan kesaksian saudara ini dan membandingkannya dengan situasi saya di dalam jurang, saya menyadari bahwa saya tidak akan dapat keluar dari lubang itu tanpa pertolongan Tuhan. Jadi saya mulai mengucapkan "Haleluya" dengan suara pelan dan bertobat dari pemikiran saya yang salah.

Pada waktu itu saya berkata kepada Tuhan, "Aku tidak ingin begini. Tuhan, selamatkan aku." Tiba-tiba, saya merasa seolah-olah tangan Tuhan mengambil roh saya dan mengangkat saya kembali ke dunia sekarang. Saya begitu bersyukur dapat kembali ke kamar saya sehingga saya terus memuji Tuhan.

Sejak saat itu, saya sadar bahwa saya tidak akan pernah mau menyerah dalam hal kehidupan rohani saya – tak peduli seberapa pun sulit keadaannya.

MENCARI CINTA DI TEMPAT YANG SALAH
Pengalaman rohani kedua yang saya terima datang bersama mimpi dan penglihatan, sebagai hasil dari mencari cinta di tempat yang salah.

Kita sering mencari cinta berdasarkan persyaratan kita sendiri dan di luar berkat Tuhan. Tetapi, Kidung Agung 2:7 mengajar kita agar jangan membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya. Banyak saudara dan saudari di gereja yang mencari cinta, dan sering kali kelihatannya begitu sulit, bahkan rasanya tidak mungkin ditemukan.

Cinta adalah berkat dan anugerah dari Tuhan; tetapi, cinta bukanlah sesuatu yang boleh tergesa-gesa kita bangkitkan sebelum saatnya yang tepat tiba. Melalui berkat Tuhan, orang dapat menemukan cinta sejati mereka.

Cinta juga merupakan panggilan Tuhan yang tertinggi. Menemukan seorang belahan jiwa untuk saling berbagi panggilan Tuhan yang tertinggi adalah perkara yang indah dan mulia di mata-Nya. Tetapi ketika kita mencari orang seperti ini, kita sering dihadapkan pada keputusan-keputusan dan situasi-situasi sulit di antara begitu banyaknya rintangan lain yang mungkin kita hadapi.

Keinginan daging termasuk rintangan terberat yang kita temui selagi kita menjalin hubungan dengan lawan jenis. Pikiran dan perbuatan yang penuh nafsu, bagaimanapun juga, tidak menghasilkan kebenaran Tuhan ataupun menolong kita membangun hubungan cinta yang sejati.

Malahan, perbuatan-perbuatan yang dilandai nafsu memperburuk hubungan cinta antara seorang pria dan seorang wanita yang dimaksudkan Tuhan sebagai sumber berkat dan sukacita antara sepasang suami dan istri.

Mengikuti Keinginan Daging
Beberapa waktu yang lalu, pada saat saya tidak berjaga-jaga dalam pencarian cinta, saya jatuh ke dalam perangkap nafsu. Karena saya tidak berjaga-jaga dalam pemupukan rohani, saya tidak dapat bertahan terhadap pencobaan-pencobaan daging. Yakobus 1:13,14 berkata:

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.

Keinginan daging kita yang penuh nafsu, sekalipun bukan percabulan ataupun perzinahan, bukanlah keinginan yang dikehendak Tuhan agar kita turuti.

Yesus bahkan memperingatkan kita untuk berhati-hati terhadap cara kita berpikir tentang lawan jenis pada saat memandangnya, dengan berkata: "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya" (Mat. 5:28).

Jika kita harus waspada bahkan terhadap pikiran-pikiran kita, seberapa banyak kita harus waspada terhadap perbuatan-perbuatan kita, yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran kita?

Orang-orang yang tidak percaya tidak dapat mamahami efek samping rohani yang ditimbulkan oleh pikiran atau perbuatan penuh nafsu mereka. Bagi mereka, nafsu adalah kecenderungan alamiah yang harus dituruti seperti orang kelaparan yang berada di tempat makan-sepuasnya (lihat Mat. 4:2-4).

Mengapa orang yang lapar harus menolak makanan? Tetapi Roma 8:6 memperingatkan kita, "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera."

Ketika saya berdosa terhadap Tuhan melalui keinginan-keinginan daging saya, "akal sehat" saya tahu bahwa yang saya lakukan itu salah; saya bahkan tahu bahwa pada saat itu iman saya sedang lemah dan bahwa saya harus lebih berhati-hati.

Tetapi, saya menguji Tuhan karena alasan-alasan pribadi. Karena keyakinan saya terhadap hal-hal lahiriah (Flp. 3:3), saya begitu yakin bahwa segala sesuatu dapat saya kendalikan sehingga tidak menyadari bahwa saya telah jatuh ke dalam dosa.

Mempelajari Pelajaran yang Sulit
Melalui pengalaman dan kesalahan-kesalahan dalam kehidupan, saya telah mempelajari pelajaran yang sulit tetapi penting dari Tuhan.

Kadang-kadang, ajaran-ajaran Tuhan itu sulit ditelan, dan beberapa nubuat Tuhan itu sulit diucapkan (Why. 10:9-11). Tetapi firman dan kebenaran Tuhan harus selalu diambil, dimakan, dan dinyatakan – di masa-masa kegelapan sekalipun.

Dengan kasih, Tuhan membawa kita keluar dari kegelapan dan mengajari kita pelajaran-pelajaran sulit – pelajaran-pelajaran yang mungkin tidak ingin kita pelajari atau pelajaran-pelajaran yang kita pikir sudah kita ketahui.

1 Korintus 10:12-13 mengajarkan:

"Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

Saya sudah berulang kali membaca ayat-ayat ini di masa lalu, tetapi kadang-kadang hanya pelajaran-pelajaran yang diberikan oleh kehidupanlah yang dapat mengajarkan maknanya.

Pekerjaan menanggung dosa-dosa sendiri itu suatu beban yang berat. Hanya Tuhanlah yang mengetahui jalan untuk keluar dari pencobaan. Setelah berdosa terhadap Tuhan, saya berpikir, "Mengapa Tuhan tidak menghukum aku?" Saya menunggu dan berdoa meminta tanda dari Tuhan untuk menunjukkan dengan jelas arah yang harus saya ambil.

Seaneh kedengarannya, saya memang benar-benar menantikan penghakiman Tuhan atas diri saya dengan penuh harap. Saya hampir-hampir ingin agar Tuhan mengambil kembali Roh Kudus saya atau melakukan sesuatu sehingga saya dapat "terjaga" dari kelelapan rohani saya. Tetapi tanda dari Tuhan tidak kunjung datang ... sampai suatu malam.

MIMPI "KARTU HITAM"
Seperti tidur-tidur lainnya, tidur rohani juga memberikan kenyamanan yang sementara kepada daging. Dan pada malam ketika tanda dari Tuhan akhirnya datang, saya tidur nyenyak sekali.

Malam itu saya mendapatkan mimpi yang tidak biasa, padahal saya jarang bermimpi. Dalam mimpi itu, saya melihat diri saya berada di sebuah ruangan bersama ayah. Saya memiliki sebuah kartu hitam, tetapi saya menyembunyikannya dalam Alkitab yang saya bawa.

Entah bagaimana saya tahu bahwa kartu hitam itu memiliki kekuatan yang besar dan jahat, sehingga saya menyembunyikannya agar tidak memengaruhi orang lain. Saya juga tahu bahwa saya ingin – dan harus – memusnahkan kartu itu. Yang tidak saya sadari, sampai beberapa waktu kemudian, adalah betapa mimpi saya terdengar mirip adegan film.

Saya tidak ingin siapa pun melihat atau mengambil kartu hitam itu, terutama karena saya ingin memusnahkannya. Jadi saya menyembunyikannya. Karena beberapa alasan, saya paham bahwa siapa saja yang memiliki kartu itu akan menjadi Iblis pamungkas – si antikris. Jadi saya merasakan betapa pentingnya menyimpan kartu tersebut, tetapi pada saat yang sama, saya ingin memusnahkannya.

Duduk di ruangan itu bersama ayah, beliau mulai menanyakan Alkitab saya. Saya ingat betapa anehnya mendengar ayah menanyakan Alkitab. Karena mereka yang mengenal ayah tahu bahwa beliau tidak akan pernah membaca Alkitab.

Tetapi saya mulai mengemukakan alasan karena saya tidak ingin memberikan Alkitab itu kepadanya. Saya tahu bahwa ayah, sebagai seorang yang tidak percaya, tidak sungguh-sungguh menginginkan Alkitab tersebut. Yang sesungguhnya beliau inginkan adalah kartu hitam yang tersembunyi di dalam Alkitab saya.

Setelah itu, saya melihat diri saya berada di dalam sebuah mobil baru yang sedang meluncur bersama saudara perempuan saya dan temannya, yang menyombongkan mobil barunya. Ketika kami menghentikan mobil dan ngobrol, saya mulai merasakan bahwa saudara perempuan saya dan temannya ditarik kepada kartu hitam yang ada di dalam Alkitab.

Saya bergegas keluar dari mobil karena tidak ingin terjebak di bangku belakang mobil. Sewaktu kami semua keluar, saya sudah waspada terhadap saudara perempuan saya dan temannya.

Tiba-tiba mereka berdua menyergap saya untuk merebut Alkitab. Takut membahayakan hidup saya dan mereka, saya melarikan diri. Saya tahu bahwa saya harus pergi dari sana.

PENGLIHATAN PERANG ROHANI
Seketika itu juga, saya mendapat penglihatan, banyak malaikat terbang di depan saya. Malaikatnya begitu banyak sampai saya tidak dapat menghitungnya. Para malaikat berkumpul di dua sisi, mereka saling berhadapan dengan kecepatan tinggi dan kekuatan dahsyat.

Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya, tetapi saya tahu bahwa satu kumpulan malaikat mewakili yang baik dan kumpulan yang lain mewakili yang jahat.

Ketika para malaikat itu saling menderu ke arah yang lain, mereka berbenturan dengan kekuatan yang begitu hebat sehingga menimbulkan gelombang udara berkekuatan besar. Kemudian saya melihat dimaklumkannya permulaan peperangan rohani yang sengit. Saya tahu bahwa perang ini adalah jenis perang rohani yang sama dengan yang digambarkan dalam Wahyu 12:7-8.

Namun demikian ada perbedaannya: dalam Wahyu 12:7-8, pemimpin malaikat, Mikhael, dan para malaikatnya menang, tetapi, dalam penglihatan saya, para malaikat jahat yang menang. Pada saat itu, hati saya begitu terguncang sehingga terjaga.

Saya bangun dengan kesadaran penuh di kamar yang gelap. Saya sadar bahwa ini bukan lagi penglihatan melainkan kehidupan nyata. Segera sesudah itu, saya merasakan kehadiran sosok jahat yang mendekat dengan cepat dari sisi kanan saya. Iblis datang dan mendekat dengan cepat.

Pada saat itu saya panik karena tahu bahwa saya tidak punya banyak waktu. Rasanya saya tidak pernah merasa setakut itu seumur hidup saya. Saya cepat-cepat berlutut dan mulai berdoa di dalam Roh. Sewaktu berdoa, saya merasakan ada cakar-cakar yang mencengkeram kerongkongan saya. Satu kuku yang sangat tajam milik salah satu cakar tersebut tepat menekan jakun saya.

Cakar itu berusaha menusuk saya seakan ingin membunuh, tetapi ada sesuatu yang menahannya. Pada saat yang sama, saya sedang berusaha mengucapkan "Haleluya". Tetapi saya hampir tidak dapat berbicara karena cakar-cakar di sekeliling kerongkongan saya dan kuku tajam itu menekan jakun saya dengan kekuatan besar.

Saya merasakan kekuatan besar yang ada di tangan berkuku itu. Tetapi saya tak hentinya takjub mengapa kuku itu tidak bisa menusuk saya.

TANGAN PENYELAMATAN DAN PESAN TUHAN
Selagi kuku yang tajam itu menekan dan terus menekan leher saya dengan kuat, saya tak hentinya bertanya-tanya mengapa kuku itu tidak bisa tembus. Akhirnya saya sadar bahwa Tuhan melindungi saya. Tetapi pada hari-hari itu saya merasa begitu jauh dari Tuhan sehingga saya mulai bertanya-tanya mengapa Tuhan masih mau mengasihi dan melindungi saya.

Tiba-tiba, saya merasakan hadirat Tuhan yang kuat datang pada diri saya, dan saya mulai berdoa dalam kepenuhan Roh. Tuhan menanamkan kepada saya dua pesan penting dalam doa itu, yang sekarang akan saya bagikan kepada Anda.

Pertama, Tuhan menekankan bahwa kita tidak dapat bertahan hidup atau bahkan sekadar bertahan tanpa anugerah dan perlindungan kasih-Nya. Saya sudah mengetahui kebenaran itu sebelumnya, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memahaminya. Tetapi dalam doa itu, Tuhan mencelikkan mata hati saya, dan saya memahami kebenaran itu dengan begitu jelas, sejernih kristal. Anugerah Tuhanlah yang membuat saya tetap hidup dan menopang saya di sepanjang dosa dan kelemahan saya.

Kita mengenal banyak kebenaran dengan "akal sehat", tetapi sebelum Tuhan menyatakannya ke dalam hati kita dan di dalam roh, kita sering tidak dapat sepenuhnya memahami kebenaran-kebenaran-Nya.

Kebenaran bahwa hanya Tuhan yang dapat menopang dan melindungi kita dari Iblis bukanlah hal yang baru ataupun suatu perubahan besar; sebaliknya, itu adalah permohonan yang bisa ditemukan dalam doa Bapa Kami: "Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat" (Mat. 6:13).

Pesan kedua yang disampaikan Tuhan kepada saya adalah: "Engkau harus menyaksikan pengalamanmu bagi-Ku – demi kepentingan saudara-saudarimu yang lain." Karena banyak pemikiran mulai berkelebatan ke dalam benak saya, saya bertanya kepada Tuhan, "Haruskah?" Tuhan tidak perlu menjawab dengan suara keras menggelegar, sebab Dia telah menaruh jawabannya di dalam hati saya.

Tetapi saya menunda untuk menceritakannya dan, mungkin berusaha untuk melupakannya. Atas dosa ini, saya harus bertobat lagi kepada Tuhan dan meminta maaf kepada orang-orang yang dikasihi Tuhan. Walaupun saya berusaha untuk melupakannya, Tuhan tidak membiarkan saya lupa. Jadi saya berkata kepada Tuhan bahwa saya akan menuliskannya, yang sudah saya lakukan sekarang. Dan demikianlah saya membagikan pesan ini kepada Anda.

"Karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka." (Mat. 10:26-28; lihat Pkh. 12:14)

Setelah pengalaman itu, saya sempat bertanya-tanya mengapa Tuhan begitu mendesak saya untuk menyampaikan kesaksian.

Saya memahami dua hal: (1) Tuhan ingin mengajarkan kerendahan hati yang telah saya lupakan dan mengajarkan bahwa di dalam kerajaan-Nya tidak ada perkara semacam kebanggaan pribadi; dan (2) Tuhan menyatakan kepada saya bahwa ada saudara-saudari lain yang melakukan dosa yang sama atau malah lebih buruk.

Saya mendorong saudara-saudari tersebut untuk memasukkan pengalaman saya ini ke dalam hati dan segera berbalik kepada Tuhan dan jalan-Nya.

Saya akan menutup tulisan ini seperti saya memulainya, dengan nasihat ini: serahkanlah segala kekuatiranmu kepada Tuhan, sebab Ia yang memelihara kamu. Kita semua, ada kalanya, akan menghadapi kesulitan-kesulitan karena tekanan hidup. Kita semua akan berjumpa dengan kegelisahan-kegelisahan karena keputusan-keputusan yang harus diambil dalam kehidupan. Tetapi marilah kita menjumpainya bersama Tuhan. Bukan Dia yang tidak memelihara, tetapi kitalah yang tidak menyadari berapa banyak Dia memperhatikan kita.

Melalui pemeliharaan-Nya, Tuhan akan membawa kita ke dalam kerajaan-Nya.

Saya berdoa agar Tuhan menggunakan kesaksian saya ini sesuai dengan maksud-Nya. Segala kemuliaan dan hormat hanya bagi Raja yang mulia. Hanya Dialah yang layak kita sembah dan puji. Amin.

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah. (Mzm. 55:23)
Jason Hsu – Baldwin Park, California, Amerika Serikat
Warta Sejati 44 - Cyberporn
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).

Minggu, 15 Maret 2020

BAPA SURGAWI MENEMUKANKU

DISAMBUT PULANG KE RUMAH
Aku tak akan pernah melupakan hari ketika Roh Kudus memasuki kehidupanku. Saat itu musim panas 1986, dan sekaligus akhir tahun keduaku di universitas. Tak pernah terbayang olehku suatu saat akan pergi ke New York seorang diri, apalagi ke gereja. Tapi, di sanalah aku, di Gereja Yesus Sejati di Queens, New York.

Pada waktu itu, aku tinggal di kota universitas kecil di Texas bagian tengah. Keluargaku atheis, kecuali Ibu, yang mulai tertarik pada Gereja Yesus Sejati. Walaupun Ibu sering mendorong, baru dua kali aku bersua dengan gereja sebelum berangkat ke Queens.

Aku merasa tidak nyaman dengan cara orang-orang berdoa di gereja. Tetapi, kontak pertama dengan gereja membuatku bertanya-tanya tentang Tuhan yang mereka beritakan ini. Aku terkesan melihat betapa mereka selalu menggunakan Alkitab sebagai referensi untuk menjawab semua pertanyaanku. Suatu kali aku juga merasakan rasa hangat sewaktu berdoa.

Tetapi, diperlukan suatu mujizat bagiku untuk benar-benar ingin pergi ke New York guna menghadiri acara rohani istimewa di sana. Pergi mengikuti kebaktian kebangunan rohani (KKR), yang sepanjang hari diisi dengan sesi khotbah dan doa, bisa sangat membosankan dan menakutkan bagi seseorang yang tidak punya latar belakang kerohanian, seperti aku.

Oleh karena itu, mula-mula aku berencana untuk tinggal di gereja selama beberapa hari saja supaya pemuda-pemudi yang kutemui di Texas bisa mengajakku jalan-jalan di New York. Lalu, aku akan mengunjungi seorang teman di Boston.

Kita bisa membuat rencana tetapi Tuhan mungkin menyimpan sesuatu yang sangat berbeda untuk kita. Begitu sampai di New York, aku ingat betapa saudara-saudari di Queens menyambutku dan membuatku merasa seperti di rumah sendiri. Malahan, aku merasa seolah sudah pulang ke rumah meskipun baru kenal beberapa orang di sana. Aku merasakan ketertarikan yang sangat kuat karena kata-kata yang kudengar selama khotbah, dan karena kasih yang ditunjukkan oleh saudara-saudari kepadaku.

Suatu peristiwa yang ajaib terjadi. Sewaktu doa sore di hari kedua, aku berdoa supaya Tuhan menyembuhkan seorang saudari yang sedang menderita sakit kepala hebat. Tak lama setelah berlutut, sekali lagi aku merasakan seluruh tubuhku menjadi hangat. Rasa panas itu mulai menjalar dari kepala sampai ke seluruh tubuh. Selanjutnya, aku merasakan lututku naik dan turun membentur lantai kayu, seolah ada suatu kekuatan yang berulang-ulang mengangkat tubuhku setengah inci dari atas lantai dan cepat-cepat menurunkannya lagi.

Pikiran yang langsung terlintas adalah, "Waduh, pasti ada gempa bumi." Tetapi aku ingat, tidak ada gempa bumi di pantai timur. Oleh karena itu, aku menyimpulkan bahwa itu pasti karena aku terlalu lelah berlutut begitu lama akhir-akhir ini. Cepat-cepat aku mengganti posisi demi menghentikan benturan tapi tidak berhasil.

Selanjutnya, dalam keadaan mata tertutup, aku melihat suatu cahaya terang nan agung menyoroti diriku lurus dari atas. Aku yakin cahaya itu menghubungkanku langsung dengan Tuhan. Pada saat yang bersamaan aku melihat sesuatu yang pastilah merupakan kemuliaan Tuhan, dan tanganku mulai bergetar naik dan turun. Lidahku bergerak dengan cara yang berbeda dari "haleluya" yang berusaha kuulang-ulang—menghasilkan suara yang sama sekali asing bagiku.

Setelah dibungkus oleh cahaya ajaib itu selama kurang lebih 10 menit, aku merasa tangan kananku menggenggam tangan orang lain. Malah, itu adalah tangan seorang lelaki; besar dan terasa kasar. Aku terkejut luar biasa. Aku harus membuka mata untuk melihat, walau pendeta menghimbau untuk tidak "mengintip" selama berdoa. Aku ingin tahu tangan siapa yang kugenggam itu.

Lalu, melihat bahwa yang kugenggam masih tetap tangan kiriku sendiri, ada sesuatu yang memberitahuku bahwa Yesuslah yang menggenggam tanganku. Tiba-tiba saja, air mata mengalir dari mataku. Aku tidak mengerti mengapa aku menangis, tetapi aku ingat akan sukacita dan kedamaian luar biasa yang membanjiri hatiku pada saat itu. Kata-kata tak akan dapat mengungkapkan perasaan menakjubkan yang kualami pada saat itu juga.

Akhirnya, Bapaku menemukan aku! Aku merasa seperti seorang gadis kecil yang sudah jauh tersesat sekian lama sampai-sampai ia sendiri lupa bahwa dirinya tersesat. Lalu, akhirnya Bapa yang penuh kasih meraih tanganku dan menuntunku pulang. Kasih Yesus meliputi diriku sepenuhnya, mengisi "lubang" yang ada di hatiku; lubang-lubang yang ku tak tahu ada di sana. Aku tidak pernah mengalami perasaan puas semacam ini sebelumnya di dalam hidupku. Aku tahu bahwa sejak saat itu, aku tak akan pernah melepaskan tangan-Nya.

Setelah doa selesai, aku tahu bahwa aku sudah menerima Roh Kudus. Semua saudara-saudari yang mendoakanku merasa senang, dan mereka mendorongku untuk menerima baptisan pada akhir KKR.

Ini berarti aku harus tinggal lebih lama dari rencanaku semula, dan aku harus memberitahukan perubahan ini kepada temanku di Boston. Aku yakin dia akan merasa sangat kecewa.

Awalnya aku tidak ingin membuat komitmen macam apa pun yang seserius baptisan. Meskipun pada saat itu aku tidak tahu banyak tentang Alkitab, paling tidak aku bisa bilang bahwa dibaptis berarti aku terikat seumur hidup. Selagi aku menunda-nunda membuat keputusan akhir, banyak pemuda-pemudi yang mendoakanku. Dan akhirnya, pada malam sebelum baptisan, Tuhan memberitahuku dengan cara yang ajaib bahwa aku harus menerima baptisan.

KEHAMPAAN TEROBATI
Setelah pulang ke rumah, aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidup sebagai orang Kristen. Tak ada seorang pun di gereja yang tahu orang macam apa aku sebelumnya, walau mereka mungkin sudah mendapatkan gambaran dari penampilanku.

Seperti apa penampilanku? Aku bangga pada diri sendiri karena menjadi orang yang "unik". Rambut kupotong sangat pendek di satu sisi sehingga anting-anting besarku bisa terpampang jelas, sementara sisi yang lain kubiarkan tetap panjang menjuntai di depan wajah, nyaris menutupi salah satu mataku. Aku suka memakai berbagai jenis topi. Dan pada hari-hari yang dingin, aku akan memakai mantel hitam ala militer.

Pada salah satu foto yang kuambil di Queens, aku mengenakan topi merah, sepatu bot merah, dan tas besar model loper koran. Aku senang menarik perhatian orang lain dengan mengenakan dandanan yang sangat berbeda dari orang lain. Walaupun pada saat itu aku tidak mengerti, belakangan aku sadar bahwa semua penampilan "nyentrik"-ku itu hanyalah cerminan satu hati yang teramat hampa.

Untuk mengisi kehampaan itu di masa lalu, aku berpaling pada musik dan disko. Aku hidup dengan video-video musik dan aku menyetel musik keras-keras. Setiap kali sempat, aku akan pergi ke pesta-pesta disko atau pergi dugem. Aku sangat terkenal di antara orang-orang sepergaulan, mereka bahkan memilihku menjadi ketua klub gaul Asia-Amerika di kampus.

Tapi anehnya, semakin aku mengelilingi diri dengan orang-orang yang menyukai musik keras dan disko, semakin aku merasa hampa. Kekosongan di dalam hatiku kadang-kadang begitu parahnya sampai aku nyaris merasakan sakitnya secara fisik. Untuk mematikan rasa sakit, aku semakin sering pergi ke pesta-pesta dan klub-klub untuk mencari kepuasan.

Dalam rangka mengejar "kebahagiaan" ini, nilai-nilaiku menurun drastis. Sekolah menempatkan aku ke dalam masa percobaan. Aku tidak punya arah dan tujuan hidup. Kukira disko bukanlah hal yang buruk. Tidak seperti minum, merokok, atau memakai obat-obatan.

Aku berpendapat itu cuma cara berolah raga yang menyenangkan. Aku menganggap diriku seorang yang sangat bermoral dan "baik" karena aku punya banyak teman. Tapi aku tidak tahu bahwa aku sudah menjadi orang yang sangat angkuh, egois, dan pemberontak.

Aku tidak ingin berbicara dengan orang yang kelihatannya tidak memenuhi standarku. Aku tidak ingin bercakap bahasa Mandarin karena aku tidak mau membuang waktu dengan orang-orang yang tidak kenal cara hidup Amerika. Aku membuang-uang uang yang dengan susah payah diperoleh orangtuaku, untuk kesenanganku sendiri dan tidak bersekolah dengan sungguh-sungguh. Aku tidak mau mengindahkan permohonan Ibu agar tidak pulang larut malam.

Aku harus berterimakasih kepada Tuhan karena Dia telah menemukanku sebelum aku sempat mulai ketagihan pada hal lain di luar musik dan disko. Kemungkinan besar pada akhirnya aku akan terlibat penyalahgunaan obat-obatan karena aku begitu tersesat dalam kehidupan yang tanpa tujuan. Meskipun orangtuaku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, Bapa kita yang di surga sudah tahu. Ia mengulurkan tangan-Nya yang penuh kasih dan memegang tanganku. Dan kenapa Yesus mau menyentuh orang sejahat aku? Itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah kumengerti.

DIUBAH OLEH KASIH TUHAN
Yang kutahu adalah, begitu aku menerima Roh Kudus, Tuhan membuang kecintaanku pada musik keras dan disko. Entah bagaimana, aku tidak memerlukan semua hal yang tadinya membuatku bersemangat itu.

Di tempat disko, aku hanya ingin membaca Alkitab dan berdoa. Di tempat lagu-lagu pop, aku hanya ingin menyanyikan lagu-lagu pujian untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan. Aku memutuskan bahwa aku tidak lagi membutuhkan teman-teman pestaku. Sebaliknya, setiap minggu aku menantikan tibanya hari Sabat supaya aku bisa berada di antara umat Tuhan.

Di dalam hatiku ada perasaan yang begitu damai dan sukacita sehingga aku tidak lagi keberatan bila harus sendirian. Aku merasa puas duduk diam di kamar membaca Alkitab atau menyanyikan lagu-lagu pujian yang baru kupelajari. Diriku yang lama sangat takut bila harus sendirian. Itulah sebabnya aku menyetel volume pengeras pada posisi maksimal, dalam upaya membenamkan rasa sepi yang mendera ketika aku sendirian.

Aku juga menyadari bahwa aku tidak lagi merasa perlu memakai baju-baju aneh untuk menarik perhatian orang. Aku gembira saja mengenakan kaos dan jins tua apa pun yang ada di lemari bajuku. Aku mulai menimbang-nimbang akan membeli beberapa rok dan gaun yang dapat kupakai ke gereja. Sampai di titik itu dalam hidupku, aku tidak memiliki apa pun yang bersifat feminin semacam rok atau gaun. Aku mulai membiarkan rambutku tumbuh panjang.

Perubahan dalam diriku membingungkan keluargaku dan bahkan aku sendiri. Tak ada seorang pun yang benar-benar menjelaskan kepadaku apa yang perlu kulakukan untuk hidup sebagai umat Kristen. Tetapi, Roh Kudus sendiri yang membimbingku dan menggerakkan aku untuk melakukan hal-hal yang dikenan-Nya. Roh Kudus juga mengajarkan kepadaku pelajaran tentang kerendahhatian, ketaatan, dan tidak mementingkan diri sendiri.

TUHAN DAPAT MENGUBAH KEHIDUPAN
Sungguh ajaib apa yang dapat dilakukan oleh Roh Tuhan untuk mengubah kehidupan seseorang secara menyeluruh ketika Dia memilihnya. Yang dibutuhkan hanyalah kerelaan kita untuk terbuka bagi-Nya dan memiliki hati yang sederhana dan rendah hati di hadapan-Nya. Aku sudah tahu betapa berkuasanya Roh Tuhan. Dia membimbingku kepada diri-Nya, meskipun aku berusaha melarikan diri dari-Nya,, mengira diriku tidak memerlukan Tuhan.

Ketika Roh Tuhan datang kepadaku dengan penuh kuasa, aku tidak lagi bisa mengingkari keberadaan-Nya. Untuk pertama kalinya aku belajar bahwa dosaku yang terbesar ialah mengingkari kebutuhanku akan Tuhan. Aku mengira bahwa akulah yang memegang kendali dan bahwa aku bisa mengurus hidupku.

Tetapi akhirnya aku diyakinkan oleh kasih Yesus, saat Dia menggenggam tanganku dan membuatku mengerti betapa Dia memedulikan aku. Karena Tuhan memuaskan hatiku yang hampa dengan Roh-Nya, aku memperoleh pengharapan dan arah hidup yang baru. Aku tidak lagi ingin hidup demi diri sendiri. Sebaliknya, aku ingin memberikan hidupku bagi Sang Pencipta, Juruselamat, dan Sahabatku.

Tak terhitung banyaknya peristiwa di mana Tuhan mengubah kehidupan orang-orang secara menyeluruh, dan hari ini siapa pun bisa mengalami kehidupan yang diubahkan. Yang dibutuhkan dari Anda hanyalah mengenali kebutuhan Anda, berusaha sekuat tenaga membaca dan mendengarkan firman-Nya, dan memiliki hati yang sederhana dan rendah hati. Yesus selalu siap mengubah kehidupan Anda menjadi jauh lebih baik.

Tetapi pertanyaannya adalah: "Siapkah Anda?"
Alice-Jung – El Monte, California, Amerika Serikat
Sumber: Manna 46 / Warta Sejati 52
untuk menyimpannya ke dalam media penyimpan, klik-kanan pada link di atas, dan pilih "save link as" (pada Mozilla Firefox) atau "save target as" (pada Microsoft Internet Explorer).

Selasa, 10 Maret 2020

DALAM KEPUTUSASAAN AKU BERTEMU TUHAN


Masa muda adalah masa keemasan dalam hidup dan saat memiliki harapan yang tinggi serta masa depan cerah.

Namun bagi saya, seorang mahasiswa baru yang berumur 20 tahun, saya kecanduan obat-obatan terlarang. Pandangan saya akan kehidupan ini amat gelap dan suram. Ditengah jerat obat-obatan terlarang, saya menjadi pribadi yang muram dan menyedihkan, saya kehilangan harapan hidup sampai pada titik dimana bahkan keluarga saya telah pasrah dengan kehidupan saya.


KECANDUAN PADA NARKOBA

Pada tahun 1990, ayah saya mengirim saya ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan disana. Datang dari Taiwan tanpa ada keluarga yang mendampingi, saya tinggal bersama tantesaya dan kuliah di kota New Jersey. Karena perlakuannya yang terlalu ketat pada saya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Universitas Arizona karena saya ingin memiliki kebebasan yang lebih.

Keinginan saya terwujud pada tahun 1995. Saat saya pindah ke asrama, saya merasa seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Saya dipenuhi rasa kegembiraan dan suka cita! Dengan mobil mewah yang diberikan ayah saya, saya pergi ke banyak pesta yang penuh dengan minuman-minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.

Penasaran dan tanpa berpikir panjang, saya mencoba segalanya. Saya berkata pada diri saya sendiri, “Aku kuat dan dapat mengontrol diri.” Sayangnya, saya terlalu tinggi diri, dan secara tidak sadar saya menjadi kecanduan. Saya merasa ada yang tidak beres ketika penggunaan obat-obatan terlarang dan pengeluaran saya meningkat. Saya berkata kepada diri sendiri untuk menjauhi narkoba tetapi saya dikalahkan berkali-kali oleh kecanduan saya.

Yang paling membuat saya terkejut adalah saat rambut saya mulai rontok. Karena pemakaian obat-obatan terlarang berlebih, rambut saya banyak yang rontok setiap kali saya menyisir rambut. Hal itu membuat saya cemas, hingga suatu kali saya mencukurnya habis dengan pikiran bahwa nanti rambut saya akan tumbuh lebih lebat. Tetapi itu semua sia sia.

Hidup dengan kepala botak di usia 20 tahun saat penampilan adalah segalanya sungguh menjatuhkan ego saya. Hal ini membuat rasa percaya diri saya hilang dan hancur. Dengan penampilan saya yang sekarang, rasanya mustahil pula untuk menemukan cinta.

Antara tahun 1996 dan 1998, saya menjadi amat terbebani oleh masalah kebotakan saya. Saya mengenakan topi baseball setiap hari dan menghindari yang mau mengunjungi saya. Saya menjadi tidak waras. Pernah suatu kali saya terpikir untuk melakukan transplantasi rambut, namun transplantasi tidak dapat berhasil dengan rambut tipis saya yang tersisa.

Perasan saya hancur, saya meminum minuman beralkohol untuk lari dari masalah. Saya terus memakai obat-obattan terlarang dan berkubang dalam keterpurukan dan depresiku. Prestasi saya di kampus menurun dan saya akhirnya dikeluarkan dari kampus.


KEKACAUAN DALAM KELUARGA

Menyadari bahwa anaknya hanya menyia-nyiakan diri, ayah saya memaksa saya untuk tinggal dengan kakak laki-laki saya di California agar terjadi perubahan. Jadi dari tahun 1998 sampai 1999, saya kuliah di California. Namun demikian tidak serta merta menyembuhkan saya dari kecanduan yang parah.

Pada kondisi ini, bahkan keluarga saya ketakutan mendengar kabar dari saya. Kakak perempuan saya, Ruo-Lan, berkeluh kesah, “Adikku sering menghilang selama dua atau tiga hari. Tiap kali dia meneleponku, dia menginginkan uang untuk melepaskan dirinya dari jerat penjual obat-obatan terlarang. Dia diancam dengan begitu mengerikan. Setiap hari aku merasa gugup dan takut untuk menerima telepon darinya.”

Dan dengan penuh kepedihan hati bagi saya untuk menceritakan ini, bahwa ibu saya sampai berlutut di depan saya dan memohon agar saya berbalik dari kehidupan saya yang sekarang. Namun saat itu hati saya telah membatu dan tubuh saya diperbudak oleh obat-obatan terlarang.

Semua orang dalam keluarga saya telah putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Ayah saya ingin agar saya memulai semuanya dari awal dengan kembali ke Taiwan untuk masuk dalam militer, namun berada di Amerika Serikat selama sebelas tahun dan tidak lulus kuliah terlalu memalukan untuk pulang.

Saya sungguh tersesat bahkan muncul dipikiran saya untuk menjadi biksu Buddha. Dalam keadaan saya yang menyedihkan saya memutuskan untuk menjalani nasehat nenek saya: “Percayalah pada Yesus! Inilah satu-satunya jalan.”


MENCARI TUHAN

Dari saat itulah, saya mulai menonton saluran televisi penginjilan di malam hari, kemudian saya mulai merasakan beberapa pengalaman yang luar biasa.

Ketika saya mau merokok, saya akan mendengar suara penginjil di televisi berkhotbah menentang rokok. Ketika saya berkeliaran di jalanan saya akan mendengar suara atau pesan yang memberitahu untuk pulang ke rumah. Ketika saya ingin membaca atau menonton film porno, yang terjadi adalah saya tidak dapat meraih majalah tersebut di bawah sofa atau film itu entah bisa terhapus begitu saja.

Pada saat itu, saya tidak mengerti tentang dunia rohani dan berpikiran bahwa sesuatu yang tidak berasal dari Bumi menuntun saya. Saat saya menonton saluran televisi penginjilan, saya juga belajar membaca Alkitab. Saya sering kali mendapatkan ayat dalam Alkitab yang mendorong saya agar tidak jatuh ke dalam perangkap iblis. Perlahan saya menyadari bahwa Tuhan membenci hal-hal yang bersifat najis, maka itu saya membakar semua hal-hal yang berbau pornografi yang saya miliki. Saya juga mulai untuk berdoa dan meminta Tuhan untuk menyelamatkan saya. Seringkali kepedihan saya membuat saya meneteskan air mata dan membuat saya putus asa.

Suatu hari, jemaat Gereja Yesus Sejati memperkenalkan injil pada adik laki-laki saya. Namun karena adik saya tidak percaya Tuhan, kakak perempuan saya lah yang diundang ke gereja. Dia pergi ke gereja untuk mendoakan saya, meminta pada Tuhan untuk membantu saya. Ketika dia kembali malam itu, ia berkata, “Sungguh luar biasa! Roh Kudus ada dalam Gereja Yesus Sejati!”


TUNTUNAN MENUJU GEREJA YESUS SEJATI

Saya ingin pergi ke gereja, namun saya ragu-ragu karena kebotakan saya. Disamping itu, bukankah akan sama saja apabila saya berdoa dan belajar Alkitab di rumah?

Meski demikian, Tuhan menggerakan seorang saudari dari gereja untuk mengajak saya ke gereja. Karena kebotakan saya, saya berulang kali menolak ajakannya. Meski ia dengan gigihnya mengajak saya, akhirnya saya berkata padanya, “Aku telah membulatkan tekad, jangan hubungi aku lagi.”

Dalam pikiran saya, “Mengapa dia tidak menyerah dan berhenti menghubungiku?” Lalu saya berkata padanya, “Kecuali kalau Tuhan sendiri yang menghubungiku untuk pergi, maka aku akan pergi!” Sebelum dia memutuskan teleponnya dia berkata, “Baiklah kalau begitu. Mengapa kau tidak mencatat alamat gereja kami: B-a-l-d-w-i-n, Baldwin Park Church.” Saya tersentak ketika saya mendengar alamat itu. Apa yang dia maksud Bald Win? Si botak akan menang? (Dalam bahasa inggris Bald berarti botak dan Win berarti menang). Saya telah berjuang dalam kebotakan sejak saya berumur 20. Apakah ini sebuah arti bahwa Tuhan ingin saya pergi ke gereja ini dan saya akan mengalahkan kebotakan saya? Apa ini berarti saya akan menang?

Hal ini sungguh memberi saya harapan dan kemudian saya bertanya pada Ruo-Lan, “Apa benar bahwa gereja itu ada di Baldwin?” Ketika dia membenarkan hal tersebut, saya berteriak keras, “Tuhan Yesus mengasihani aku! Aku mau ke gereja! Aku mau ke gereja!”

Keinginan pergi ke gereja memang sudah pasti, namun harus bertemu dengan orang-orang dengan kebotakan saya nyatanya lebih sulit. Saya berjuang secara emosional saat pertama kali saya mengunjungi gereja. Saya bahkan sampai memakai spray penumbuh rambut. Setelah saya pulang dari gereja, saya bermimpi bahwa rambut saya tumbuh kembali. Ini bisa jadi jaminan yang sungguh indah dari Tuhan

Dalam kebaktian yang berikutnya, saya merasakan bahwa Tuhan berbicara pada saya melalui suatu khotbah. Beberapa kali, saya merasa amat tergerak dan sadar bahwa saya tidak perlu gelisah dengan penampilan saya. Hanya ada dua hal yang benar benar penting: Takut akan Tuhan dan membenci dosa. Saya juga mengalami firman Tuhan ini: “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibrani 4:12).

Saat saya mulai memahami Alkitab, saya berhenti memakai topi baseball. Saya tidak lagi takut untuk menunjukan siapa sebenarnya diri saya di dalam gereja dan dalam ibadah. Saya sungguh menyesali perbuatan saya dan bertobat dihadapan Tuhan dan memohon pengampunanNya akan segala pelanggaran saya di masa lalu. Diliputi dengan dosa-dosa saya di masa lalu, saya hanya bisa bergantung pada kekuatan Roh Kudus untuk mengatasi segala kelemahan saya.


DIBAHARUI OLEH ROH KUDUS

Saya telah bertekad untuk berdoa memohon Roh Kudus setiap hari. Dari Desember tahun 2000, saya mulai berpuasa dan berdoa sebelum melayani. Saya berkata pada diri saya sendiri, “Aku akan selalu ingat hari dimana Tuhan mengaruniakanku Roh Kudus”. Pagi hari pada tanggal 25 Desember, aku mendorong diriku sendiri untuk berpuasa dan fokus berdoa di dalam gereja.

Dalam kesedihan, saya menyesali segala pelanggaran saya di masa lalu. Kemudian suatu gelombang panas yang hebat mengampiri saya saat saya berdoa. Ini terasa seperti sekujur tubuh saya dialiri listrik. Saya merasakan suatu arus yang kuat mengalir di tangan saya. Ini adalah pengalaman akan kekuatan Allah yang tidak akan saya lupakan. Selesai berdoa, beberapa jemaat gereja memberitahu bahwa ketika seseorang menerima Roh Kudus, ia akan merasa sukacita dan berbahasa lidah. Saya tidak dapat berbahasa lidah saat itu, namun saya memutuskan untuk berdoa lagi esok harinya. Keesokan harinya, saya berdoa sepenuh hati, dan kekuatan yang sama datang kembali, namun saya masih belum berbahasa lidah. Beberapa saat kemudian, pendeta menyarankan saya agar tidak terlalu tegang. Tidak lama setelah itu, saya menerima Roh Kudus.

Sungguh luar biasa bisa menerima Roh Kudus. Saat saya memiliki pikiran jahat, Roh Kudus menegur dan meningkatkan kesadaran saya akan hal tersebut. Saya berserah pada Roh Kudus dan pikiran tersebut segera menghilang. Sewaktu-waktu saya merasakan dorongan untuk memakai narkoba, rokok, atau minuman, saya berdoa dalam roh. Roh Kudus membantu saya mengatasi keinginan tersebut, dan saya kembali merasa damai, bahagia dan sukacita dalam Tuhan.

Saat bulan Maret tahun 2001, saya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Saya merasa seperti orang yang baru setelah baptisan karena segala beban saya disingkirkan. Di masa lalu, saya merasa hampa dan tidak ada harapan, menyimpan pikiran untuk bunuh diri, mendatangkan malapetaka dalam keluarga, dan berkeliaran tanpa tujuan di jalanan.

Namun Tuhan yang maha pengasih menarik saya dari kegelapan dan membawa saya kepada terang. Dia memilih saya dan mengaruniakan Roh Kudus. Ia membuat saya lahir baru. Semua yang saya miliki dan apa adanya diri saya adalah dari Dia. Inilah mengapa saya merasa begitu yakin akan Lukas 1:79: “untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Ya, hanya Allah Yang Mahakuasalah yang sanggup melakukan keajaiban. Setelah mengalami kasih karunia Allah, saya selalu bersukacita untuk melihat terang dalam hidup saya. Perubahan dari perjuangan saya untuk kemenangan saya atas dosa mendorong saya untuk berjalan di jalan terang.

Di dalam gereja, saya mengalami kasih yang sejati dari saudara-saudari, dan saya akhirnya mampu melepas kebencian di masa lalu. Sayapun terdorong untuk membalas kasih karunia ini menjadi tindakan untuk berbagi kasih karuniaNya dengan orang lain. Tuhan Yesus adalah “Jalan(ku), kebenaran(ku), dan hidup(ku)” (Yohanes 14:6)

Kamis, 05 Maret 2020

BUDAK UANG


Sebelum saya pecaya kepada Kristus, saya percaya sebagai manusia kita dapat bersandar kepada kekuatan kita sendiri untuk mengatasi semua halangan-halangan. Saya berpikir sejauh saya bekerja keras, saya dapat mencapai tujuan apapun dalam hidup ini.

Istri saya dan saya adalah teman sekelas dari fakultas farmasi dan memiliki apotik di Chia-Yi, Taiwan. Kami bekerja dengan sangat keras. Selama enam tahun berturut-turut, kami bekerja tanpa sehari pun libur. Padahal, saya sering melihat orang hidup secara nyaman tanpa harus bekerja keras. Semata-mata mereka memiliki keberuntungan atau warisan keluarga.

Empat tahun sesudah saya membuka apotik saya, saya melepaskan ateisme saya dan mulai pergi ke berbagai kuil Buddha seperti setiap orang di sekeliling kami, berharap berhala-hala dapat membantu saya mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik dan menghasilkan lebih banyak uang. Sepertinya secara materi hidup saya semakin baik, jadinya saya terus melakukan penyembahan berhala selama beberapa tahun.

Tetapi saat kehidupan materi saya semakin baik, nafsu saya untuk menghasilkan uang semakin meningkat. Saya merasakan bahwa saya tidak dapat berpuas-hati dengan apa yang saya dapatkan. Saya menjadi terobsesi dengan pengejaran kekayaan tanpa henti.

Dengan maksud menumpuk kekayaan yang lebih besar, pikiran saya tidak henti-hentinya memikirkan bagaimana menginvestasikan uang saya. Ibu saya pernah memberitahukan kepada saya, “Tidak ada salahnya meminjam uang ke bank. Semua orang kaya juga meminjam uang ke bank.” Jadi saya meminta pinjaman dari bank dan menjadi anggota asosiasi farmasi untuk mendanai investasi saya.

Dengan keadaan seperti ini, saya menjadi seperti yang tercatat dalam Alkitab – menjadi budak Mammon.

Melihat ke belakang, saya benar-benar menyesal atas apa yang saya lakukan. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Untuk siapa saya bekerja seperti budak seperti ini?” Tetapi pada saat itu saya tidak tahu perbudakan itu sedalam apa.


TITIK BALIK

Adik laki-laki saya bertemann dengan beberapa jemaat Gereja Yesus Sejati (GYS) saat dia kuliah di Canada. Dia berada di sana saat ayah saya didiagnosa leukemia, jadi dia menghubungi gereja Chia-Yi dan meminta bantuan jemaat di sana untuk membantu ibu saya.

Ibu saya bertumbuh dalam keluarga Katolik, tetapi dia sudah tidak ke gereja untuk beberapa tahun dan praktis adalah seorang atheis. Adik saya mengingatkan ibu saya untuk bersandar kepada Tuhan.

Awalnya ibu saya berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, memohon kesembuhan daripada-Nya. Ayah saya juga menunjukkan ketertarikan dalam injil kebenaran. Selama dia tinggal di rumah sakit Tai-Chung, banyak saudara-saudari seiman dari gereja Tai-Chung datang berkunjung dan berdoa bagi ayah saya. Namun dia meninggal tiga bulan kemudian dan tidak mendapat kesempatan untuk dibaptis.

Ibu saya merasa sangat kehilangan ayah saya dan menjadi enggan untuk percaya kepada Tuhan. Dia tidak mengerti mengapa Tuhan tidak mendengarkan doanya saat orang lain memberitahukan kepadanya bahwa doa itu berkhasiat.

Suatu hari, saat ibu saya menangis di kamarnya, Tuhan menghiburnya dengan membuat dia dapat mendengarkan suara-suara indah dari malaikat yang menaikan kidung pujian. Awalnya ibu saya berpikir bahwa itu adalah suara saudara-saudari seiman yang datang berkunjung, tapi saat dia bertanya dia mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang bernyanyi. Adik saya memberitahukan kepada kami sesudahnya dia sering berdoa agar Tuhan menghibur ibu saya.

Kejadian ini membuat ibu saya kembali memikirkan kepercayaanya. Melalui penghiburan Kristus yang terus menerus dan pengalaman pribadi dia, ibu saya memutuskan untuk menerima Yesus sebagai juruselamat. Dia mulai mengikuti kebaktian-kebaktian di GYS dan tidak lama kemudian dia menerima baptisan air dan menjadi anggota GYS. Dia mengikuti sesi Pemahaman Alkitab, persekutuan dan mendengar banyak kesaksian-kesaksian yang luar biasa.

Ibu saya tinggal bersama saya, istri saya dan anak perempuan saya. Ibu saya bersaksi tentang Kristus saat kami berkumpul bersama untuk makan, dia berharap kami bertiga akan menerima injil keselamatan. Dia ingin menyampaikan kabar keselamatan akan Yesus Kristus kepada kami, tetapi saya menganggapnya adalah sampah. Sikap ini membuat ibu saya sakit kepala.

Setiap kali dia menceritakan gereja, kesaksian dan Yesus Krisuts, saya menjadi marah. Saya berdebat dan membantah sampai ibu saya kehabisan kata-kata. Saya merasa yakin sekali bahwa kehidupan beragama itu menghabiskan waktu karena saya hanya tertarik untuk mengejar kekayaan, kekuasaan dan status sosial. Ibu saya sering bersembunyi di kamar, menangis dan cemas tentang bagaimana membawa kami kepada Tuhan.

Walaupun saya menolak untuk menerima Kristus saat ini karena saya hanya tertarik akan uang, saya tidaklah berpuas hati dalam hidup saya. Dengan bisnis ini, saya dan istri saya sangat tidak punya waktu setiap harinya. Kehilangan hanya tiga jam saja dapat membuat kami merugi sangat banyak dan membuat keuangan kami tidak seimbang di akhir bulan.

Dalam rangka meningkatkan pendapatan kami, saya dan istri saya sering mengadakan pertemuan untuk membahas dan merincikan hal-hal. Kami mencari perbaikan tetapi selalu berakhir berselisih pendapat dengan istri saya. Kami menjadi pasangan yang sangat tidak bahagia. Di mata orang lain kita tampaknya memiliki segalanya: rumah bagus, mobil, uang, dan seorang putri.

Tetapi saya masih tidak berpuas hati dan selalu membandingkan diri saya dengan orang lain. Saya menyadari sekarang bahwa harta dunia adalah hal hampa dan tidak bermakna, tetapi saat itu saya tidak mengetahui hal tersebut.


KESADARAN DALAM SAKIT

Hidup kami berubah di awal April 2003. Istri saya meminta untuk pemeriksaan fisik sesudah merasa lelah selama beberapa hari. Hal ini pernah dirasakannya sebelumnya, tapi baru kali ini dia meminta agar diperiksa oleh dokter, jadi adalah suatu mujijat dia meminta pemeriksaan ini.

Tes darah menunjukkan bahwa semuanya normal kecuali tingkat alpha-fetoproteinnya. Istri saya mengidap Hepatitis B sehingga indikator ini seharusnya tidak lebih dari 20 mg/ml, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan 30 mg/ml. Ada kemungkinan 90% bahwa istri saya menderita kanker hati.

Saya dan istri saya baru berumur tiga puluh tahun lebih. Kami berada di puncak kehidupan kami dan memiliki rencana serta tujuan yang belum dicapai. Jika benar istri saya menderita kanker, hanya akan ada kesempatan 50% baginya untuk hidup lima tahun lagi setelah menjalankan operasi yang berhasil.

Mengetahui hal ini, hidup kami penuh dengan kecemasan, kekhawatiran, dan air mata. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kami merasa kehidupan kami menjadi gelap dan tanpa harapan. Kami menyampaikan kabar buruk itu kepada ibu saya. Dia tidak tahu bagaimana caranya menghibur saya, tapi dia mengatakan hal yang paling penting, "Kamu harus berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus."

Pada saat itu, yang saya inginkan hanyalah agar istri saya dapat disembuhkan. Bahkan jika operasi berjalan lancar, dokter tidak bisa menjamin kelangsungan hidup istri saya. Dengan pemikiran ini, saya berkata pada diri sendiri, "Mengapa tidak mengambil saran ibuku dan berdoa kepada Yesus Kristus, karena menyembah berhala tampaknya sia-sia?"

Karena saya tidak tahu bagaimana harus berdoa, saya hanya berkata, "Yesus, jika kamu adalah Tuhan, tolong dengarkan doa saya." Saya mencurahkan segala sesuatu dari dalam diri saya kepada Tuhan. Saya juga mengingat banyak kesalahan saya dari masa lalu, tapi saya memohon, "Jika Tuhan mengizinkan, tolong selamatkan istri saya."

Beberapa hari kemudian, istri saya berobat ke rumah sakit yang lebih baik untuk pemeriksaan yang lebih rinci lagi. Dari USG, mereka menemukan bercak hitam sekitar dua atau tiga centimeter besarnya. Pemeriksaan CAT scan dijadwalkan keesokan sorenya untuk analisis yang lebih akurat.

Keesokan paginya, saya berdoa dengan cara saya sendiri. Saya berlutut dengan Alkitab pemberian ibu saya di depan saya. Ketika saya belajar di sekolah Katolik, Alkitab hanya menjadi hiasan di kamar saya untuk menunjukkan bahwa saya adalah orang yang berpengetahuan; sesungguhnya saya tidak pernah membacanya! Sekarang Alkitab ada tepat di depan saya membuat saya berpikir, "Saya akan mengambil ayat apa pun yang saya buka setelah doa sebagai perintah Tuhan kepada saya."

Setelah saya berdoa, saya membuka Alkitab dan yang saya buka adalah Yohanes 4: 46-53, yang mencatat bagaimana Yesus menyembuhkan anak pegawai istana. Saya sangat senang setelah membaca ayat-ayat ini. Saya berlari turun untuk memberitahu istri saya bahwa dia akan baik-baik saja dalam pemeriksaan sore itu karena Yesus Kristus menunjukkan kepada saya bahwa istri saya akan bertahan hidup.

Dalam perjalanan ke rumah sakit, saya berpikir, "Yesus, Yesus, jika CAT scan menunjukkan bahwa istri saya tidak mengidap kanker, kami berdua akan percaya pada-Mu dalam sisa hidup kami." Sebelum kami sampai ke rumah sakit, saya memberitahukan istri saya akan keputusan saya ini, dan dia juga menyatakan bahwa dia akan melakukan hal yang sama.

Sore itu hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa titik hitam itu adalah tumor jinak, namun di belakang titik hitam ada tumor lain sebesar 1 cm. Tumor ini kemungkinan adalah tumor ganas. Dengan hal tersebut di dalam pikiran, saya dan istri saya pulang ke rumah dan mulai berdoa.


HATI YANG BEBAL

Saya tidak tahu bagaimana saya harus berdoa atau kalau-kalau Yesus mendengarkan doa-doa kami. Saya membalik-balikkan Alkitab dan melihat Yakobus 5:16, yang berbunyi, "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." Saya sangat tersentuh oleh ayat ini.

Saya tahu bahwa saya orang berdosa, begitu juga dengan istri saya karena kami telah banyak menyembah berhala dan menjalani hidup yang penuh dengan kesombongan dan tidak baik. Jadi saya pergi ke ibu saya, berharap bahwa dia akan berdoa untuk istri saya, dan saya juga meminta ibu saya meminta pertolongan anggota gereja untuk berdoa bagi kami. Ibu saya berkata, "Tentu, tapi akan ada Kebaktian Kebangunan Rohani beberapa saat lagi, orang-orang mungkin sedang sibuk sekarang."

Ibu saya segera memanggil Pendeta Lin dari GYS Chia-Yi dan beliau beserta beberapa saudara-saudari lainnya bermaksud datang ke rumah saya dan berdoa untuk kami keesokan harinya. Saya dan istri saya tidak menyambut baik hal ini karena walaupun kami ingin percaya kepada Yesus namun kami belum siap untuk dibaptis.

Saya telah menyembah banyak berhala di masa lalu, tapi itu ternyata sia-sia. Jika orang-orang di gereja ini sama seperti orang-orang di kuil Buddha, akan susah untuk menolak mereka. Tapi karena saya yang melontarkan permintaan ini kepada ibu saya, mau tidak mau saya harus menyambut mereka sebagai tamu saya. Saya bertekad bahwa jika mereka mencoba untuk memaksa kami bergabung dengan gereja, saya akan berpura-pura tidak mendengar mereka.

Hari berikutnya, pendeta dan anggota gereja datang ke rumah. Mereka berbincang dengan kami, berdoa bagi kami, dan tidak memaksa kami untuk datang ke gereja. Hal ini berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Saya tersentuh oleh kasih mereka dan merasa sedikit malu pada diri sendiri.

Saya bertanya pada pendeta tentang Matius 19: 16-21, yang mencatat kisah pemuda kaya yang bertanya kepada Yesus apa yang harus ia lakukan untuk menerima hidup yang kekal. Dan kata Yesus kepadanya, "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (Mat 19:21).

Saya mengatakan kepada pendeta bahwa saya akan melakukan hal yang sama jika saya bisa menerima damai sejahtera dari Allah. Pendeta itu menjawab, "Jangan mengartikan secara harafiah, pengajaran ini dimaksudkan untuk mereka yang diperbudak oleh uang.” Saya merenungkan apa yang dikatakan tetapi tetap tidak mau ke gereja.



TUNTUNAN TUHAN

Suatu Kamis malam sekitar dua minggu setelah kunjungan pendeta, hati saya begitu berbeban, jadi saya membawa putri saya untuk naik sepeda motor bersama dengan saya. Kami melewati jalan Hou-Ping dan melihat sebuah bangunan dengan tanda, “Gereja Yesus Sejati, Chia-Yi”.

Saat itu sekitar pukul tujuh malam dan gereja terang benderang dengan pintu dan jendela yang terbuka lebar. Saya melihat beberapa orang menaikan puji-pujian di dalam, tapi tidak ada seorang pun di belakang mimbar. Tiba-tiba, saya pikir mungkin saya harus masuk ke dalam untuk berdoa. Saya berpikir mungkin Tuhan akan mendengar doa saya dan menjawabnya jika saya datang ke gereja-Nya, karena gereja adalah rumah Yesus.

Saya bertanya kepada putri saya apakah dia ingin masuk ke dalam dan berdoa. Dia berkata, "Baiklah." Kami masuk ke gereja dan duduk di bangku terakhir. Saya menunduk kepala, memejamkan mata, dan mulai berdoa. Ketika doa berakhir, gereja dipenuhi dengan orang-orang, dan mereka agak terkejut melihat saya, seorang asing, dengan air mata di seluruh wajah saya.

Kebaktian dilanjutkan, tapi saya hanya mengkhawatir tentang masalah saya sendiri dan terus memandangi langit-langit, berpikir bahwa Tuhan mungkin menetap di sana. Saya menatap langit-langit dan berdoa kepada Allah untuk meringankan jiwa saya dari beban saya, sementara air mata jatuh di pipi saya.

Pada akhir kebaktian, pendeta berkata, "Jika ada yang ingin berdoa untuk mendapatkan Roh Kudus, dipersilakan untuk maju ke depan." Saya berpikir bahwa mungkin Tuhan tidak bisa mendengar doa saya karena saya duduk begitu jauh di belakang, jadi saya pindah ke depan.

Berlutut di depan dikelilingi oleh orang-orang dengan Roh Kudus, saya berpikir, orang-orang ini haruslah yang disebut sebagai "orang benar" yang disebutkan dalam Yakobus 5:16. Akan sangat bagus jika mereka semua bisa berdoa sepuluh detik saja untuk istri saya. Lalu saya memikirkan mereka yang berjuang dalam perang Irak; saya dipenuhi dengan belas kasihan kepada mereka dan mulai berdoa untuk mereka. Pikiran ini muncul dalam pikiran saya sebanyak tiga kali dan saya terus berdoa dengan sungguh-sungguh.

Ketika doa berakhir, pendeta mengumumkan bahwa simpatisan yang datang untuk pertama kali telah menerima Roh Kudus. Sayalah simpatisan itu. Untuk pertama kalinya dalam sebulan ini saya merasa bahwa beban saya terangkat dari pundak saya dan bahwa rasa takut dan khawatir saya hilang.

Saya pulang ke rumah dan mengatakan kepada istri saya bahwa saya mendapat Roh Kudus. Dia bertanya, "Apakah Roh Kudus itu?" Sebenarnya, saya pun tidak memiliki banyak pengetahuan tentang Roh Kudus. Yang saya tahu adalah bahwa beban saya terangkat dalam doa.

Tiga hari kemudian, saya kembali ke gereja ingin tahu lebih banyak tentang Roh Kudus, karena Roh Kudus memberikan kelegaan yang begitu besar kepada saya. Saya juga terus menyelidiki Alkitab dan ingin memiliki dasar yang kuat dalam keyakinan saya. Saya tidak ingin menyembah tuhan yang salah seperti yang saya lakukan sebelumnya.

Saya mengatakan kepada istri saya bahwa penyakitnya tidak bisa disembuhkan oleh dokter atau medis canggih sekalipun. Saya menegaskan bahwa hanya melalui doa-doa dia bisa disembuhkan. Kadang-kadang kita berdebat karenanya. Tapi ternyata dia berdoa secara diam-diam tanpa saya ketahui.

Suatu malam, saya mengingatkan istri saya lagi tentang doa dan bertanya mengapa ia tidak berdoa lebih banyak lagi. Dia berkata, "Saya telah berdoa." Kami berdua mulai menangis. Sebelum kami tidur, saya menggenggam tangannya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Dia berbaring di tempat tidur dan air mata jatuh di wajahnya. Dia tidak bisa tidur sampai jam 2:00 subuh jadi saya pergi ke ruang lain dan meneruskan doa saya di sana.

Keesokan harinya, ketika saya sedang membaca Alkitab, istri saya berlari ke arah saya dalam kegembiraan yang begitu besar dan dia mengatakan bahwa dia barusan saja menerima Roh Kudus. Empat hari kemudian, ibu saya, yang telah dibaptis selama dua tahun, menerima Roh Kudus juga. Terima kasih Tuhan, hanya dalam waktu satu minggu, tiga dari kami dalam satu keluarga menerima Roh Kudus.



BUKTI

Istri saya terus menjalani MRI setiap bulannya. Keadaanya tampaknya telah stabil. Atas saran dari seorang saudara, kami memutuskan bahwa biopsi hati akan memberikan indikasi yang lebih baik atas keadaannya, jadi kami merencakan melakukannya di bulan Agustus.

Ketika tiba saatnya untuk melakukan biopsi, kami mulai merasa cemas dan takut atas risikonya. Tapi kemudian saya berpikir, sekarang saya percaya kepada Yesus, saya seharusnya tidak perlu takut. Saya mulai berdoa kepada Tuhan untuk memohon bantuan-Nya.

Suatu malam, dalam doa saya, saya memohon kepada Tuhan, mengatakan bahwa jika Dia ingin saya sebagai murid-Nya biarlah saya tidak merasa takut lagi. Saya juga meminta Tuhan untuk menunjukkan beberapa bukti sehingga saya bisa mendapat damai sejahtera. Saya tahu bahwa Allah adalah Tuhan yang Mahakuasa, jadi permintaan ini tidak dimaksudkan untuk menguji-Nya.

Tidak lama setelah itu, Tuhan memberikan saya penglihatan. Dalam doa saya, saya melihat empat malaikat muncul di depan saya. Salah satu dari malaikat tersebut lebih besar dan memiliki enam sayap (tiga pasang), dan tubuh tampak mengkilap dan tembus pandang. Malaikat itu mulai menumpangkan tangan pada saya.

Sementara itu, istri saya sedang tidur di lantai dengan tubuhnya dalam posisi meringkuk. Tiga malaikat lain menghampiri dia dan meletakkan tangan di kepalanya. Salah satu dari mereka menghampiri punggungnya dan tampaknya mengerjakan sesuatu. Saya bertanya, "Apa artinya ini?" Malaikat itu menjawab, "Bukankah kamu meminta bukti? Tuhan telah mendengar apa yang kamu minta, jadi jangan ragu."

Saya kemudian menanyakan nama malaikat tersebut, dan malaikat itu menjawab, "Nama saya tidak penting; yang Anda percaya, Yesus Kristus, adalah penting.” Saya bertanya sekali lagi untuk namanya sebelum saya bangun.

Keesokan paginya, istri saya mengatakan kepada saya bahwa punggungnya sakit. Dia bertanya-tanya apakah dia telah tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Dia masih mengeluh tentang rasa sakit di punggung malam itu, jadi saya memberitahukannya akan penglihatan saya dan memintanya untuk tidak khawatir. Saya juga mengatakan bahwa saya hanya akan memberitahu ibu saya tentang hal ini, dan tidak pada orang lain.

Seminggu kemudian, sebelum kami kembali ke rumah sakit untuk USG, kami terus berdoa kepada Tuhan dan berharap bahwa tumornya tidak akan menjadi lebih besar. Puji Tuhan, USG menunjukkan bahwa titik hitam telah benar-benar menghilang. Dokter melihat USG dengan hati-hati, tapi tidak bisa menemukan apa-apa. Titik hitam itu hilang sepenuhnya.

Enam minggu berlalu. Istri saya berpikir segala sesuatunya baik-baik saja, jadi dia melakukan tes darah tanpa memberitahu saya, dan tidak berdoa sebelumnya. Setelah melalui semua pencobaan ini, saya telah belajar bahwa saya perlu mengandalkan Tuhan dalam segala hal, jadi saya tidak senang saat mengetahui apa yang istri saya lakukan.

Hasil pemeriksaan keluar malam itu. Hasilnya menunjukkan bahwa salah satu indikator kanker hati bertambah dua kali lipat. Jumlah sebesar itu menunjukkan kemungkinan 95% ia mengidap kanker hati. Tiba-tiba, kami kehilangan iman kami. Keraguan dan kekhawatiran memenuhi hati kita. Agar lebih berhati-hati, kami merencanakan pemeriksaan lain lagi di rumah sakit yang lebih baik hari Senin berikutnya.

Hari Minggu sebelum pemeriksaan itu, Gereja Chia-Yi mengadakan persekutuan injil. Pada sesi doa di akhir persekutuan, saya dan istri saya berdua berlutut dan berdoa dengan sungguh-sungguh untuk penyembuhan dari Tuhan. Dalam doa, saya mendengar suara yang jelas mengatakan, "Jangan takut; Aku mengasihinya lebih besar daripada kasihmu terhadap dia.” Suara itu diulang tiga kali.

Setelah kami pulang, istri saya mengatakan kepada saya bahwa dalam doa di gereja ia meminta Tuhan untuk menghibur saya karena dia tahu bahwa saya begitu mengkhawatirkan dia. Pada hari Senin, indikator telah turun dari 400 mg/ml sampai 200 mg/ml. Puji Tuhan, ini adalah mujijat lagi, dan kami berdua bersuka-cita dengan air mata.



NILAI SESUNGGUHNYA

Saya tahu Tuhan akan menjawab doa-doa kami sesuai dengan iman kami. Tuhan itu Maha Kuasa, dan jika kita memegang teguh keyakinan kita Dia akan menyelamatkan kita pada akhirnya. Seperti dicatat dalam Roma 8:28, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Kami menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi kepada kami itu sesuai dengan kehendak Tuhan yang indah. Puji Tuhan kami sekeluarga bertiga dibaptis pada bulan Maret 2004. Tuhan telah memberi kami Roh Kudus yang berharga, dan sekarang kami milik nama-Nya yang kudus.

Meskipun mata manusia tidak bisa melihat Allah, dengan adanya Roh Kudus, Tuhan dimanifestasikan dalam diri kita. Hal ini mempertegas bahwa Gereja Yesus Sejati mempunyai Roh Kudus, Injil yang benar, dan Tuhan Yesus Kristus ada di dalam gereja ini. Saya tahu bahwa kita dapat selalu mengandalkan Roh Kebenaran yang telah diberikan kepada kita.

Sejak saya mengenal Tuhan, hidup saya telah berubah secara drastis. Saya tahu bahwa tujuan hidup kami adalah untuk memuliakan Yesus Kristus, untuk mencintai keluarga kami, dan untuk menjaga iman. Kita juga harus membantu orang lain menemukan arti sebenarnya dari hidup dengan memberitakan kebenaran kepada mereka. Karena berkat dari Tuhan, sekarang saya hidup bahagia dan menjalani hidup yang berarti.

Saya berharap bahwa setiap orang dapat datang ke gereja ini untuk mempelajari kebenaran dan mengetahui bahwa Yesus adalah Allah yang benar; Dia adalah Tuhan yang memberikan hidup kepada kita. Gerbang-Nya yang penuh kasih selalu terbuka untuk semua orang, dan siapa pun yang datang kepada-Nya akan menerima kasih karunia yang melimpah dan memahami arti sebenarnya dari kehidupan.

Segala kemuliaan hanya bagi nama-Nya!