Kamis, 30 April 2020

AYAH, JANGAN TAKUT !



Penulis: Feng-Mei Chen

Ketika saya membuka pintu bangsal rumah sakit, saya melihat ayah mertua saya memegang erat kedua sisi tempat tidur rumah sakit, menatap langit-langit dan seluruh tubuhnya gemetar. Istri saya dengan cepat mengatakan kepadanya, "Ayah! Jangan takut!"Tapi ayah mertua saya terus menggigil. Tangannya terus memegang erat sisi tempat tidur sampai jam 5 pagi." Sdr. Yang Jianzhang ingat bagaimana ayah mertuanya, seorang pria lembut dan jujur​​, yang tidak pernah melakukan hal-hal yang tertentangan dengan hati nuraninya, menghadapi ancaman kematian, bagaimana ia berjalan melalui "lembah kematian", dan bagaimana ia dipenuhi dengan rasa takut tentang dunia yang tidak dikenal.

Namun setelah ayah mertua saya dibaptis, ia mampu bernyanyi, "saya ingin pulang." Dia tahu ke mana ia pergi, dan ia benar-benar tenteram dan tenang ". Yang Jianzhang secara pribadi menyaksikan perbedaan keadaan mental dan emosional dari ayah mertuanya sebelum dan setelah ia dibaptis, dan dia merasa harus bersaksi tentang tindakan Tuhan yang luar biasa.


Saya tidak memerlukan agama

Chai Jingzhu (ayah mertua dari Sdr. Yang Jianzhang, ayah dari Sdri. Chai Cunhui) berasal dari Kabupaten Pingtung, Taiwan. Ia lahir pada tahun 1929, dan bekerja sebagai guru di Sekolah Dasar Pingtung Municipal Chung Zheng selama 44 tahun, mengorbankan seluruh hidupnya untuk penelitian dan mempromosikan pendidikan di bidang seni.

"Ayah saya adalah seorang yang rendah hati, baik, optimis, sopan santun dan tulus. Dia juga adalah seorang guru yang baik, suami yang baik dan ayah yang baik." Demikianlah Sdri. Chai Cunhui menggambarkan ayahnya. Yiang Jianzhang mengingatnya sebagai "orang yang menjalani kehidupan yang sederhana, ia tidak memiliki sifat buruk, dia adalah orang yang lembut dan ramah, yang tidak bertengkar dengan orang-orang. Bahkan sebelum ia percaya kepada Tuhan, ia berperilaku sangat mirip dengan seorang Kristen. "

Namun semakin tinggi kedisplinan diri dan kepercayaan diri yang ia miliki, semakin sulit ia menerima Injil.

Chai Cunhui adalah satu-satunya yang percaya dalam keluarga. Setelah dia menikah dengan Yang Jianzhang, mereka berdua terus berpikir untuk memberitakan Injil kepada orang tuanya. Namun ayahnya selalu berkata, "Selama seorang pria tidak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nuraninya, tidak ada yang perlu ditakutkan dan tentu ia akan menjalani kehidupan yang baik. Jika semua orang muda memiliki agama mereka sendiri, lalu siapa yang akan menyembah nenek moyang!" Kata-katanya membuat mereka merasa benar-benar tak berdaya. Namun, dengan perlindungan Tuhan, ia melewati setiap hari dengan lancar dan damai. Dengan demikian, Yang Jianzhang dan istrinya tidak merasa perlu untuk memberitakan Injil kepada orang tuanya.

Namun, kebutuhan untuk menginjili itu muncul lima belas tahun yang lalu, ketika ibu Chai Cunhui meninggal dunia karena kanker lambung. Tidak mau merepotkan anak-anaknya, ayahnya Chai Jinzhu bersikeras tinggal sendirian. Namun, Chai Cunhui khawatir akan ayahnya dan meneleponnya setiap hari untuk memastikan bahwa ia baik-baik saja. Dia juga berusaha meyakinkan ayahnya untuk datang ke utara untuk tinggal bersama mereka, namun ayahnya selalu menepis saran tersebut.

Pada bulan September 1998, Chai Cunhui akhirnya berhasil meyakinkan ayahnya untuk datang dan tinggal di Taipei. (Namun atas desakan ayahnya, diatur baginya untuk tinggal di kondominium berbintang lima khusus orang-orang tua– Runfu Xinxiang, terletak di sekitar kediaman Yang Jianzhang dan istri). Yang Jianzhang berpikir, "Kesempatan telah tiba!"

Namun, setelah pindah ke Taipei, Chai Jinzhu bahkan semakin sibuk. Selama pengobatan diabetes yang dideritanya, ia mengenal Dr. Hong Jiande, dan atas dorongannya, Chai Jinzhu mengambil pekerjaan sebagai seorang guru seni untuk kelas seni yang dilakukan khusus untuk pasien diabetes. Dia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, bahkan media pun datang untuk mewawancarainya. Setiap Yang Jianzhang dan istrinya mengundangnya ke gereja, dia akan mengatakan bahwa ia terlalu sibuk dan tidak perlu baginya untuk ke gereja.


Takut selama sakit serius

Pada Maret 2000, Chai Jinzhu kuatir atas rasa dingin yang dideritanya yang berlangsung lebih dari satu bulan. Setelah satu bulan, masih belum ada tanda-tanda pemulihan. Putrinya membawanya ke dokter, dan setelah pemeriksaan lebih lanjut ditegaskan bahwa ia menderita kanker paru-paru (lung adenocarcinoma), dan bahwa sel-sel kanker telah menyebar ke tulang. Chai Jinzhu telah masuk stadium empat kanker dan dokter memperkirakan bahwa dia kemugkinan besar akan hidup hanya setengah tahun lagi. "Supaya memberikan ayah keinginan untuk hidup, kami hanya mengatakan kepadanya bahwa ia menderita kanker, tapi tidak mengatakan kepadanya bahwa penyakitnya telah menyebar ke tulang. "Chai Cunhui menekan kesedihannya saat memberitahukan ayahnya atas kondisinya, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa tertekan sekali. Dia tahu bahwa saat-saat bahagia, bebas dari kekhawatiran, yang biasanya mereka nikmati pada masa lalu akan hilang, dan jalan di depan mereka akan sangat berat.

Selama masa pengobatan, Chai Jinzhu menahan semua jenis rasa sakit dan penderitaan tanpa kata atau keluhan. Dengan belas kasihan Tuhan dan perawatan yang sangat hati-hati dari Chai Cunhui, ia hidup damai satu tahun lagi.

Namun pada tahun 2001, setelah Chai Jinzhu menjalani 32 kali kemoterapi, ia mulai merasakan sakit di mana sel-sel kanker menyebar ke tulang-tulangnya. Tumor menggerogoti pinggangnya, dan tekanan dari panggulnya membuat dia tidak bisa berdiri, membuatnya hanya mampu bergerak di kursi roda. Dengan saran dari dokter, ia mulai menjalani radioterapi. Tanpa diduga, kondisinya memburuk dari hari ke hari, dan ia menjadi semakin lemah dari hari ke hari, muntah bahkan hanya sedikit air saja yang diminumnya. Yang Jianzhang dan istri harus membawa ayah mereka ke rumah sakit lagi.

Pada 3 November, itu adalah hari kesepuluh berturut-turut Chai Jinzhu tidak memakan makanan apapun. Pada tengah malam hari itu, pihak rumah sakit memberitahu bahwa Chai Jinzhu berada dalam kondisi kritis. Ketika Yang Jianzhang dan istrinya bergegas ke rumah sakit, mereka melihat ayah mereka menatap langit-langit, dengan kedua tangannya berpegang erat ke tempat tidur rumah sakit dan seluruh tubuhnya gemetar.... "Ini adalah pertama kalinya saya melihat mertua saya dalam keadaan ketakutan hebat. Ketika dia dalam keadaan sehat, ia sering menekankan bahwa selama seseorang tidak melakukan apa-apa yang berlawanan dengan hati nuraninya, tidak ada yang perlu orang tersebut takutkan. Namun dalam kenyataannya, untuk orang yang tidak mengenal Tuhan, karena ia tidak tahu ke mana dia akan pergi setelah dia menutup matanya, dia akan merasa ketakutan."Yang Jianzhang melihat bagaimana takutnya ayah mertuanya ketika menghadapi kematian. Dia bahkan tidak berani untuk tidur dan terus gemetar ketakutan.

Selanjutnya, dokter menyarankan agar mereka mengirim Chai Jinzhu ke rumah perawatan. Baru di kemudian hari Yang Jianzhang dan istrinya menyadari bahwa ayah mereka tidak akan "pulang" dengan mereka lagi.


Berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menganugerahkan kehidupan rohani

Pada 10 November, setelah Yang Jianzhang menghadiri kebaktian Sabat, ia memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit Mackay untuk melihat di lingkungan rumah sakit tersebut. Ketika seorang saudari tahu tentang hal ini, dia berkata, "Ayah mertuamu sudah begitu parah sakitnya sekarang, mengapa kamu masih belum membawa dia untuk dibaptis?" Ketika Yang Jianzhang mendengar hal ini, dia merasa sangat bingung dan tak berdaya. Ia berpikir, "Selama 19 tahun terakhir ini, kami telah mencoba untuk menginjilinya tapi tidak memiliki kesempatan. Sekarang penyakitnya sudah begitu berat, bagaimana ia dapat menerima baptisan?"

Keesokan harinya pada 11 November, Yang Jianzhang pergi ke Banqiao untuk persekutuan dan pelajaran Alkitab. Namun ia terus mengkhawatirkan peralihan ayah mertuanya dari rumah sakit ke rumah sakit perawatan, dan dia merasa sangat kecewa, karena dokter mengatakan kepadanya bahwa ayah mertuanya hanya akan hidup satu bulan lebih lagi. Sambil menyetir, ia menyalakan saluran di radio, dan tiba-tiba ia mendengar saluran radio Gereja Yesus Sejati. Dia segera berhenti di saluran ini, dan mendengarkan kesaksian bagaimana Bro. Chen Rencai mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang pendeta.

Selama operasi kanker lambung Chen Rencai ini, setelah dokter membuat sayatan, dokter keluar dari ruang operasi untuk memberitahu istrinya, "Jika saya melanjutkan operasi, suami kamu akan meninggal di meja operasi saat ini." Namun Ny. Chen mengatakan, "Kami percaya kepada Tuhan, lakukan apa yang perlu Anda lakukan!" Kesaksian ini membuat Jianzhang sangat terharu dan merasakan sumber kekuatan yang besar mengalir dari dalam.

Setelah ia kembali ke rumah, ia segera memberitahu istrinya: "Ayah kita tidak punya banyak waktu lagi. Di masa lalu kita sering mengatakan bahwa kita ingin menginjilinya, sekarang kita harus mengambil kesempatan untuk memohon kepada Tuhan untuk melimpahkan ayah dengan kehidupan rohani." Malam itu, mereka bersatu hati berdoa tentang hal ini.

Keesokan harinya, pada pagi hari 13 November, Yang Jianzhang menelepon orang tuanya di Pingtung, serta saudara-saudara di gereja Danshui, meminta mereka untuk berdoa tentang hal ini. Dia juga menelpon pendeta setempat di gereja Danshui pada saat itu, Pdt. Chen Shengquan, meminta ia mengunjungi rumah sakit setidaknya dua sampai tiga kali seminggu, untuk bersaksi tentang Injil kepada ayah mertuanya. Pdt. Chen Shengquan bersedia.

Kakak tertua dari Chai Cunhui bergegas kembali dari Amerika Serikat pada hari berikutnya. Malam itu, mereka memindahkanayah mereka ke Rumah Sakit Mackay, sebuah rumah sakit perawatan yang sangat besar. Karena kurangnya tempat parkir, Yang Jianzhang dan kakak dari istrinya kembali ke rumah mereka di Danshui. Namun pada jam 10:20 malam itu, mereka menerima telepon dari istrinya Chai Cunhui yang memberitahukan mereka bahwa, "Dokter memprediksi bahwa ayah tidak akan mampu bertahan melewati malam ini. Bawalah tikar untuk kakak dan diri kamu sendiri untuk tidur di sini di rumah sakit! "


Membawa ayah untuk dibaptis besok!

Ketika Yang Jianzhang meletakkan telepon, pikirnya, apakah benar Tuhan telah meninggalkan ayah mertuanya? Pada saat ketidak berdayaan dan kebingungan, ia sekali lagi memanggil kedua orang tuanya di Pingtung dan saudara-saudari di Danshui, berharap bahwa mereka dapat berdoa bagi ayah mertuanya. Ketika Pdt. Chen Shengquan menerima kabar ini, beliau menelepon Sdr. Yang untuk menanyakan keadaan. Yang Jianzhang menjawab, "Ayah mertuaku tidak akan hidup melewati hari ini!" Pdt. Chen bertanya kembali: "Jianzhang, apakah kamu memiliki iman? Hal pertama yang akan kita lakukan besok pagi, kita akan membawa dia untuk dibaptis." Ketika ia mendengar ini, Yang Jianzhang tertegun sejenak, setelah itu ia berkata, "Ok!" Setelah itu, ia menelepon istrinya, dan Cunhui patuh, "Baiklah, kita akan mempercayakan kehidupan ayah ke tangan Tuhan."

Setelah semuanya diatur, ketika Yang Jianzhang hendak pergi tidur, ia tiba-tiba teringat bahwa istrinya adalah satu-satunya orang percaya dalam keluarga. Dia akan perlu menginformasikan saudara kandung istrinya, dan perlu mendapat persetujuan mereka juga. Oleh karena itu, pertama-tama ia menelepon kakak perempuan istrinya di Amerika Serikat. Karena ia adalah seorang Kristen juga, ia berkata, "Itu hanya percikan air, saya setuju saja, lakukanlah itu!" Yang Jianzhang kemudian menjelaskan padanya, "Di gereja kami, segala sesuatu adalah sesuai dengan ajaran Alkitab, yaitu, kami harus sepenuhnya terendam dalam air yang mengalir selama baptisan."Ketika kakak mendengar ini, dia berseru "Wow!" dan ia pun setuju saja.

Berikutnya, ia menelepon adik istrinya. Dia bukan seorang Kristen, oleh karena itu lebih sulit untuk menyampaikan hal ini kepadanya. Setelah berbicara dengannya dalam waktu yang lama, ia akhirnya setuju. Orang terakhir yang harus ia lalui adalah kakak laki-laki tertua istrinya. Karena kakaknya ini sudah tertidur pulas, Yang Jianzhang berpikir bahwa ia akan memberitahukan kepadanya keesok harinya

Pukul 6 pagi keesokan harinya, dia membangunkan kakak tertua istrinya. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Yang Jianzhang memberitahukan kepadanya bahwa seluruh jemaat gereja menasehati untuk diadakannya baptisan, dan bersaksi kepadanya bahwa kehidupan rohani lebih penting daripada kehidupan fisik. Namun saat itu ada arus dingin dan suhu turun menjadi di bawah 13o, dan selama baptisan, ayah perlu benar-benar diselamkan di laut Danshui. Sang kakak berpikir bahwa Yang Jianzhang sudah gila, dan berbalik untuk menatapnya tak percaya. Yang Jianzhang terus berkata bahwa cukup sering seseorang dibaptis saat sakit parah, atau keadaan cuaca sangat buruk, namun ini adalah ujian Tuhan bagi iman anggota keluarga yang bersangkutan.

Sang kakak menjawab, "Ayah sudah sangat sakit, bagaimana dia bisa masuk ke dalam air?" Tuhan memberikan iman Yang Jianzhang pada detik itu untuk berkata, "Jangan khawatir! Tuhan akan mempersiapkan air panas!" Sang kakak kemudian berkata, "Kita lihat apa yang ayah katakan saat kita sampai di rumah sakit."


Tuhan akan mempersiapkan air panas

Ketika ia melangkah ke bangsal, ia melihat istri dan pembantunya menangis, mata mereka bengkak. Ayah mertuanya hampir tidak bernafas, tekanan darahnya telah turun menjadi 40, dan ia tak sadarkan diri. Yang Jianzhang mengumpulkan keberaniannya dan mengatakan kepada istrinya Cunhui, "Berimanlah, bawa ayah untuk dibaptis." Dia juga meminta istrinya untuk memberitahu ayahnya yang tidak sadarkan diri, "Ayah, yakinlah, Tuhan Yesus mengasihi ayah, Tuhan Yesus akan menyelamatkan ayah hari ini!" Setelah Cunhui mengatakan hal itu, ayahnya, yang tak sadarkan diri, tiba-tiba terbangun dan berkata,"Saya pikir saya akan dilahirkan kembali hari ini."

Ketika ia melihat Yang Jianzhang dan anak sulung ia bahkan berkata, "Kamu sudah di sini!" Yang Jianzhang cepat-cepat meminta istrinya untuk menanyakan ayah mertuanya, "Ayah, apakah ayah ingin percaya pada Tuhan Yesus?" Ayah mertuanya menjawab, "Tentu!" "Ayah, apakah kami boleh membawa ayah untuk dibaptis hari ini?" Ayah mertuanya menjawab, "Tentu!" Yang Jianzhang dengan cepat menggunakan perekam untuk merekam kejadian itu sebagai bukti atas keinginan ayah mertuanya untuk percaya kepada Tuhan.

Selanjutnya, ketika adik istrinya yang tiba, pernyataan pertama yang ia sampaikan saat ia melangkah ke bangsal itu adalah, "Di luar hujan!" Kemudian ia berpaling ke ayahnya Chai Jinzhu dan mengatakan, "Apakah ayah tahu bahwa setelah ayah dibaptis, ayah tidak boleh memegang dupa lagi?" Chai Jinzhu menjawab, "Tidak apa-apa!" Lalu ia memanggil anak tertuanya ke sisinya dan mengatakan, "Mulai sekarang kamu yang harus bertanggung jawab untuk menyembah, membeli buah-buahan…" Ia berbicara dengan cara yang sangat teratur, tanda jelas bahwa pikirannya masih jernih. Ia juga menyatakan bahwa mulai dari sekarang, ia tidak akan lagi menyembah berhala. Melihat ayahnya masih sangat sadar, anak bungsunya bertanya, "Apakah ayah lapar?" Chai Jinzhu, yang tidak bisa makan makanan selama lebih dari sepuluh hari berkata, "Ayah lapar." Setelah itu, ia dengan cepat menghabiskan setengah semangkuk bubur.


Dimana air panasnya?

Setelah menghabiskan buburnya, ia mengganti pakaian dan menunggu pendeta tiba. Sekitar pukul 11 ​​pagi, pendeta tiba. Yang Jianzhang kemudian mengatur mobil ambulans untuk membawa ayah mertuanya ke pantai untuk baptisan. Sepanjang jalan, cuaca sangat dingin dan angin kuat. Yang Jianzhang terus menghibur kakak tertua dan adik istrinya dengan berkata, “Tuhan Yesus akan mempersiapkan air panas."

Ketika mereka tiba di lokasi baptisan, saudara-saudari dari gereja Danshui sudah ada di sana menyanyikan pujian. Yang Jianzhang dan anggota keluarganya membawa Chai Jinzhu yang duduk di kursi roda turun dari ambulans. Ada seorang saudara yang mengajukan diri untuk memanggul Chai Jinzhu ke dalam air, tetapi ia tiba-tiba mengatakan, "Saya bisa berjalan ke sana sendiri!" Semua orang terkejut mendengar hal itu. Di tengah puji-pujian anggota keluarganya dan saudara-saudari gereja, Chai

Setelah ia kembali ke mobil dan tukar pakaian, dalam perjalanan kembali ke gereja Danshui, wajah kakak tertua dan adik dari istri Sdr. Yang terlihat sangat serius dan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka berpikir dalam hati mereka sendiri: "Ayah pastilah masuk angin." Tidak pernah mereka bayangkan bahwa wajah Chai Jinzhu ini sedikit memerah ketika mereka tiba di gereja, bahkan menyapa semua orang dengan mengatakan, “Haleluyah!” Setelah itu, Chai Jinzhu menyelesaikan sakramen Basuh Kaki dan Perjamuan Kudus.

Chai Jinzhu memiliki iman yang baik saat mereka kembali ke rumah sakit, dan dia berkata kepada anak-anaknya, "Hari ini saya telah menerima baptisan, dan memenuhi keinginan saya lebih dari sepuluh tahun. Seolah-olah saya menerima baptisan atas nama ibumu juga." Lima belas tahun yang lalu, ibu Chai Cunhui menjalani operasi untuk kanker lambung, dan juga diobati dengan kemoterapi selama dua sampai tiga minggu. Namun, ia mengalami stroke sesaat sesudah itu dan tenggelam dalam ketidaksadaran. Sementara dalam keadaan itu, dia terus mengulang, "Haleluya!"

Pada saat itu, Chai Cunhui meminta pendeta untuk melakukan baptisan bagi ibunya. Namun karena Chai Cunhui adalah satu-satunya yang percaya kepada Tuhan di keluarganya, pendeta berharap untuk menunggu sampai Ny. Chai sadar, dan menyatakan keinginnya sendiri untuk dibaptis. Oleh karena itu saudara-saudari seiman diminta untuk berdoa untuk hal ini. Namun Ny. Chai tidak pernah bangun. Mereka tidak menyangka kalau sesudah sepuluh tahun hal ini masih ada dalam pikiran Chai Jinzhu.

Tidak lama sesudah Chai Jinzhhu mengatakan hal itu kepada putrinya, ia mengalami demam tinggi dan tidak sadarkan diri lagi.

Malam itu, ketika Yang Jianzhang sedang dalam perjalanan pulang, Cunhui yang dipenuhi dengan banyak pikiran dan perasaan berkata, "Belum pernah saya bermimpi bahwa Tuhan Yesus akan membiarkan ayah menerima baptisan dengan cara yang sedemikian menakjubkan." Lalu ia menambahkan dengan mengatakan, "Jianzhang, hari ini cuaca sangat dingin, tapi kamu terus bersaksi bahwa Tuhan akan mempersiapkan air panas untuk ayah? Saya pastilah disalahkan oleh kakak dan adik saya karena ayah masuk angin." Jianzhang tercengang sejenak, sehingga ia berkata, "Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda."

Keesokan harinya, Jianzhang menemani kakak istrinya yang bergegas datang dari Amerika Serikat untuk ke rumah sakit mengunjungi Chai Jinzhu. Ketika mereka membuka pintu bangsal rumah sakit, mereka melihat Chai Jinzhu dalam keadaan sangat sadar dan sedang makan! Karena itu, Cunhui merasa nyaman dan karenanya memutuskan untuk kembali mengajar. Jianzhang didampingi istrinya ke stasiun kereta api, dan sepanjang jalan Cunhui bertanya sekali lagi, "Bukankah kamu mengatakan bahwa akan ada air panas?" Dia tampak merenung atas masalah ayahnya yang demam waktu itu.


Saat saya masuk ke dalam air, airnya panas

Orang tua Yang Jianzhang dan kakak nya bergegas ke rumah sakit untuk mengunjungi Chai Jinzhu setelah pembaptisannya. Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba mereka mendengar kesaksian berikut direkam adik perempuan keduanya. Chai Jinzhu tiba-tiba berkata, "Saya punya sesuatu yang penting untuk mengatakan. Pertama, saya telah dibaptis hari ini. Kedua, dengan menerima baptisan saya telah memenuhi keinginan saya semenjak sepuluh tahun yang lalu, dan ini seolah-olah istri saya juga telah menerima baptisan. Ketiga, saya telah mengecewakan Tuhan Yesus karena baru sekarang saya menjalani baptisan ini. Keempat, hari ini ketika saya menerima baptisan, meskipun cuaca sangat dingin, ada banyak saudara-saudari seiman yang datang dan menunjukkan perhatian mereka. Tapi saya lebih bersyukur lagi yaitu saat saya masuk ke dalam air, air itu panas! "

Saat Chai Cunhui kembali ke rumah, dia juga mendengarkan rekaman ini. “Terima kasih Tuhan, saat saya masuk ke dalam air, air itu panas!” Tuhan Yesus benar-benar sudah mempersiapkan air panas!


Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku

Seminggu kemudian, Chai Jinzhu tiba-tiba menyanyikan lagu rakyat Jepang "Sunset" (Dia tidak tahu bagaimana menyanyikan lagu pujian), frase terakhir dari lagu ini adalah, "Saya ingin pulang!" Seolah-olah dia memberitahu semua orang bahwa dia bisa pergi dengan damai sekarang. Dua hari kemudian, setelah Yang Jiangzhang dan istri berdoa untuk dia sembari memegang tangan ayah mereka, ia meninggal dengan damai. Pasangan ini menggenggam tangannya dan berdoa, "Ayah, damai sejahtera menyertaimu! Hanya orang-orang yang telah menerima Tuhan Yesus dapat menerima kedamaian yang sejati, sukacita dan hidup yang kekal."

Ketika Yang Jianzhang ingat pengalaman ini, dia mengatakannya dengan penuh syukur, "Dengan dipilihnya ayah mertua saya oleh-Nya, Allah menguatkan iman kami berdua, dan memungkinkan kita untuk mengalami kasih karunia-Nya yang besar. Selama 19 tahun terakhir, kami telah mencoba menggunakan cara kami sendiri, tetapi kita tidak bisa meyakinkan ayah mertua saya untuk menerima Injil. Namun Tuhan Yesus hanya memerlukan waktu tiga hari, ayah mertua saya sadarkan diri, terbangun dan menerima baptisan. Yang lebih menakjubkan adalah bahwa dengan iman saya mengatakan bahwa akan ada air panas, dan benar-benar ada adalah air panas! "

Karena kasih karunia yang luar biasa ini, Yang Jianzhang mengambil setiap kesempatan yang dipunyainya saat memimpin kebaktian di GYS berbagai cabang untuk bersaksi akan hal ini. Dia secara pribadi menyaksikan bagaimana ayah mertuanya yang telah menjadi manusia benar sepanjang hidupnya, ketika dihadapkan dengan ancaman kematian, mewujudkan apa yang ditulis di Mazmur, "Hatiku gelisah, kengerian maut telah menimpa aku." (Mzm 55: 4), dan setelah baptisan, ia langsung mendapat kedamaian, "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mzm 23: 4)

Memang merupakan berkat besar bagi seseorang untuk dapat "meninggalkan dunia dalam damai", dan membawa penghiburan yang besar bagi kerabat yang sedang berduka.





Sabtu, 25 April 2020

DISEMBUHKAN LUAR DALAM

Steffi Jeong-Irvine, California, USA

Dalam nama Tuhan Yesus saya bersaksi untuk memuliakan nama-Nya. Saya telah menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati (GYS) sejak saya lahir. Saya dibaptis dan dibesarkan di gereja, mengikuti kelas-kelas pendidikan agama, dan bahkan menerima Roh Kudus ketika saya masih muda. Karena masa kecil saya begitu berakar dalam iman, semua orang mengira saya akan tumbuh menjadi remaja teladan Gereja Yesus Sejati, tapi ternyata hal itu tidak menjadi kenyataan
"SAYA TIDAK PERLU ALLAH"

Ketika saya mulai memasuki SMA, perilaku dan kerohanian saya baik-baik saja. Namun, kehidupan rohani saya jatuh seirin gsaya menjalani tahun pertama saya di SMA. Pada tahun pertama saya, saya bertengkar dengan keluarga saya setiap hari, pergi ke tempat mana pun yang saya mau, terus-menerus terus-menerus, dan berteman dengan teman yang tidak baik. Saya mulai membenci gereja dan saudara-saudari di gereja. Saya dikendalikan oleh pikiran dan keinginan saya. Hal tersebut berkembang ke suatu titik di mana saya berpikir untuk berhenti datang gereja karena saya tidak bisa mengerti mengapa saya terikat dengan begitu banyak aturan ketika semua yang saya inginkan adalah kebebasan saya. Saya merasa dikucilkan dan dihakimi di gereja, dan saya merasa bahwa Tuhan tidak mencintaiku. Keangkuhan juga mulai tumbuh dalam hati saya karena segala sesuatu dalam hidup saya begitu baik. Saya masih muda dan berprestasi di sekolah. Tidak ada hal buruk yang pernah terjadi pada saya. Saya merasa kebal terhadap apapun.

Selama masa ini, hubungan antara ibu saya dan saya juga memburuk. Seringkali, saya akan bekerja dan dia terkadang akan memasuki kamar saya untuk bertanya apakah saya telah berdoa. Setiap kali dia masuk, saya marah akan membentak dengan berkata, "Tidak ! Mengapa kau pikir saya berdoa?" Saya akan mengusir ibu saya pergi karena kehadirannya sangat mengganggu saya. Apa yang saya tidak sadari adalah bahwa saya terlihat sangat gembira, namun di dalam hati saya sedang sekarat.


SAYA MENYERAH, DIA TIDAK

Suatu pagi pada bulan Oktober tahun 2012, pada tahun pertama saya di SMA, saya terbangun dengan leher sangat pegal. Ketika saya pergi ke kamar mandi dan melihat ke cermin, saya melihat benjolan seukuran permen karet, mencuat keluar dari tulang selangka (pundak) sebelah kiri. Seiring saya terus mengamati benjolan tersebut, saya tidak pernah berpikir tentang kanker. Keangkuhan dalam hati saya mengatakan bahwa hal itu mustahil-tidak pernah bisa terjadi pada saya. Seminggu berlalu dan benjolan tersebut telah membengkak sebesar ukuran kepalan tangan saya. Seiring minggu demi minggu berlalu, benjolan tampak tumbuh lebih besar.

Setelah menemui serangkaian spesialis dan ahli kanker, saya didiagnosa menderita limfoma stadium II Hodgkin, yang merupakan kanker kelenjar getah bening. Akhirnya, panik mulai merasuk dalam hati saya. Saya pikir siapa pun akan takut setelah didiagnosa menderita kanker. Iman saya lemah, jadi saya tidak menyalahkan Tuhan atau meminta bantuan-Nya. Rasanya sia-sia karena saya berpikir bahwa Tuhan tidak mencintaiku.

Setelah didiagnosa menderita kanker, prosedur standarnya adalah menjalani beberapa pemeriksaan tubuh. Ternyata ada dua tumor di tubuh saya, satu di tulang selangka kiri saya, dan satu lagi, besarnya sekitar 9 cm, di tengah-tengah dada saya, tepat di atas hati saya. Terima kasih Tuhan, meskipun saya punya dua tumor besar, kanker tersebut hanya sampai pada tahap II, yang berarti bahwa kanker tersebut ditemukan di tahap awal dan dapat diobati. Pada kenyataannya, tanpa keluarnya benjolan kecil untuk memberitahu saya bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuh saya, saya tidak akan pernah tahu bahwa ada benjolan yang lebih besar di dada saya.


IMAN TERLAHIR KEMBALI MELALUI PENDERITAAN

Kesaksian ini bukan tentang keajaiban besar, tapi berkat kecil yang saya terima selama pengobatan saya, di mana Allah perlahan-lahan melatih iman dan ketekunan saya. Melalui pelajaran-pelajaran kecil ini, saya belajar bahwa Tuhan memang mencintai saya. Dia ingin saya melalui ujian ini, tetapi Dia tidak pernah memberi saya lebih dari yang bisa saya hadapi.

Kemoterapi saya berlangsung sekitar sekali setiap dua minggu. Meskipun kemoterapi tersebut sulit untuk dihadapi, kemoterapi tersebut lebih ringan dan lebih sedikit frekuensinya daripada pengobatan yang dijalani anak-anak senasib di rumah sakit. Namun, saya masih merasakan rasa sakit yang luar biasa. Saya harus menerima injeksi khusus untuk mengisi sel-sel darah putih saya. Sel darah putih dibuat di sumsum tulang kita, jadi ada malam yang tak terhitung jumlahnya ketika saya tersentak terjaga oleh sensasi terbakar yang menyakitkan di tulang belakang saya. Di satu malam, saya bertanya kepada Tuhan mengapa Dia membawa penderitaan ini kepada saya, dan saya memohon kepada-Nya untuk menghilangkan rasa sakit ini. Ketika saya berbaring di sana, saya mulai merenungkan betapa berdosanya hidup saya.

Saya ingat bahwa, "Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi" (Amsal 3:12). Saat saya berpikir tentang ayat ini, isi doa saya mulai mengalami perubahan. Saya mulai mengerti bahwa Allah sedang menghukum saya, dan saya menerima tindakan-Nya, seperti umat Allah di bagian akhir dari Zakharia 1: 6:

Maka bertobatlah mereka serta berkata: Sebagaimana TUHAN semesta alam bermaksud mengambil tindakan terhadap kita sesuai dengan tingkah laku kita dan perbuatan kita, demikianlah Ia mengambil tindakan terhadap kita!"



Dalam doa saya, saya mulai mengakui kesalahan saya. Saya mengakui bahwa hal ini pantas saya dapatkan dan saya menerimanya. Ketika saya kembali ke Tuhan, Dia menunjukkan kesetiaan-Nya dan mengurangi penderitaan saya. Terima kasih Tuhan, pengobatan saya berjalan sekitar enam bulan total, waktu yang relatif singkat dalam hal pengobatan kanker.

Tuhan juga melindungi saya secara psikologis. Sepanjang seluruh diagnosis dan pengobatan saya, saya hanya sekali menangis. Setelah itu, saya tidak pernah merasa takut atau tertekan, karena saya tahu bahwa Tuhan telah menempatkan saya ke tangan manusia yang handal seiring melindungi saya dengan tangan-Nya sendiri. Saya memiliki dukungan yang besar dari orang tua saya, teman-teman, keluarga, dan gereja. Saya merasa damai dan sukacita tercurah pada diri saya, yang hanya dimungkinkan melalui pengharapan kepada Allah.


BERKAT DI GEREJA DAN DI RUMAH

Berkat lainnya adalah saya bisa pergi ke gereja sepanjang saya sakit, meskipun saya dirawat di rumah. Kanker mempengaruhi sistem kekebalan tubuh saya, jadi saya harus belajar di rumah. Saya tidak diijinkan untuk pergi keluar sering-sering, karena bahkan flu biasa bisa membunuh saya. Tapi ketika hari Sabtu tiba, saya akan berpakaian dan pergi ke gereja untuk menjaga hari Sabat. Saya bisa terus melakukan pekerjaan kudus dan bersekutu dengan saudara-saudara saya. Saya seharusnya memakai masker pelindung ketika saya pergi keluar sehingga saya tidak akan sakit, tapi saya tidak memakai masker di gereja. Saya tidak takut karena saya merasa bahwa Tuhan melindungi saya, Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada saya.

Karena itu, gereja adalah satu-satunya sumber pengaruh selama periode enam bulan tersebut. Ini adalah berkat lainnya, karena saya telah dihapus dari kegelapan tempat saya tinggal dulunya. Saya tidak lagi dikelilingi oleh teman-teman yang buruk atau pengaruh negatif di sekolah. Allah menyembuhkan saya secara rohani, dan pada saat yang sama, Dia mengisi saya dengan kasih dan rahmat-Nya melalui anggota gereja dan keluarga saya. Saya tidak lagi merasa perlu untuk berdosa atau untuk memenuhi kesenangan saya sendiri, karena saya sudah merasa sangat tercukupi.

Berkat terbesar adalah bahwa kanker mengubah hubungan saya dengan keluarga saya. Setelah enam bulan menjadi sakit dan menghabiskan setiap hari dengan orang tua saya, saya mengalami cinta mereka lebih dari yang bisa dibayangkan. Mereka mendukung saya selama kemoterapi saya, karena mereka menemani saya setiap sesi, membuat saya merasa nyaman, membersihkan saya setelah hari yang panjang, dan membantu saya pulih. Mereka mencurahkan seluruh hidup mereka untuk merawat saya dan memastikan saya baik-baik saja. Saya benar-benar berterima kasih kepada Tuhan untuk memberikan saya orang tua yang menakjubkan.

Saya merenungkan mengapa dahulu saya melawan keluarga saya dan menyadari bahwa alasan saya sungguh egois dan sia-sia. Saya memutuskan untuk berhenti berkelahi dengan keluarga saya karena mereka tidak layak menerima kata-kata kasar saya setelah menunjukkan begitu banyak cinta dan perawatan. Terima kasih Tuhan, sejak saat itu, kami tidak mengalami perkelahian serius, dan saya bahkan memberitahu orang tua saya bahwa saya mencintai mereka sepanjang waktu. Saya juga tidak tega membohongi mereka lagi, karena saya sekarang mengerti betapa mereka mencintai saya. Dengan cara ini, kanker adalah panggilan Tuhan untuk membangunkan saya.

Setelah semuanya selesai, ibu saya mengatakan kepada saya bahwa sebelum diagnosis kanker, ketika dia sedang memasak atau membersihkan rumah, dia akan mendengar saya berdoa dalam bahasa lidah, tetapi ketika ia datang untuk memeriksa saya, saya hanya terlihat sedang duduk bekerja. Dalam kebingungannya, ia bertanya apakah saya sedang berdoa, hanya untuk menerima jawaban kasar. Dia mengatakan kepada saya bahwa ini adalah cara Tuhan mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi kepada saya dan bahwa ia harus berdoa untuk saya. Tuhan sedang mempersiapkan seluruh keluarga saya untuk sidang ini.


KEMOTERAPI SPIRITUAL

Seiring kemoterapi bekerja untuk mengecilkan sel-sel ganas dan tumor, saya juga merasa keinginan jahat, kemarahan, dan kelemahan saya berkurang. Itu merupakan kemoterapi spiritual. Saya merasa fakta tersebut sangat menarik bahwa saya pun kanker besar tepat di depan hatiku, seolah-olah itu adalah manifestasi fisik dari semua kejahatan yang meliputi hati saya. Hal ini telah mengakibatkan begitu banyak kemarahan dan kekosongan dalam diri saya, mencegah saya melihat Allah dan orang lain dalam pandangan yang baik. Selama perawatan, meskipun saya merasa seperti tubuh luar saya sedang sekarat, batin saya perlahan-lahan dibawa kembali ke kehidupan, yang diperkuat dan dipulihkan di jalan yang benar.

Terima kasih Tuhan, saya dinyatakan bebas kanker pada bulan April 2013. Sejak itu, saya tidak berhenti mencoba untuk meningkatkan iman saya. Meskipun saya menderita, saya keluar tanpa luka apapun. Bahkan sekarang, pengalaman saya memiliki kanker terasa seperti mimpi yang hampir saya tidak ingat. Pengingat bahwa saya pernah sakit adalah bekas luka di tubuh saya. Tuhan benar-benar melindungi saya dan menunjukkan belas kasihan dan kasih-Nya. Dia menempatkan saya di api untuk memperbaiki saya sehingga saya akan menjadi bejana yang lebih lengkap. Dia menunjukkan kebenaranNya. Bahkan, Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Bapa surgawi saya. Dia membawa saya kembali dan menyelamatkan saya dari keadaan tersesat. Sekarang saya merasa bahwa saya harus melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah untuk membayar kasih-Nya.

Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?... Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
(Ibr 12: 7, 10, 11)

Melalui pengalaman ini, Tuhan mengatakan kepada saya bahwa saya adalah anak-Nya dan bahwa Dia mengasihi saya. Saya mempelajari bahwa ketika kita menderita, mungkin karena kita tidak taat. Ketika Tuhan menyesah kita, hal itu adalah untuk menunjukkan kepada kita kasih dan rahmat-Nya sehingga kita akan kembali kepada-Nya. Saya sangat bersyukur bahwa Dia menyelamatkan hidup saya. Semoga semua kemuliaan dan puji bagi nama-Nya.


Kotak Teks:

Perspektif seorang Pengamat

oleh Raymond Chou

Bagi saudari Steffi, penyakitnya adalah seperti mimpi. Dia mungkin tidak ingat detailnya, tapi saya ingat. Sebagai seorang pengkhotbah setempat, saya berada di bawah begitu banyak tekanan karena dewan gereja ingin saya menghiburnya. Tapi apa yang bisa Anda katakan kepada seorang gadis muda, cerah, dan cantik enam belas tahun yang baru saja didiagnosis dengan stadium kanker II?

Setelah banyak berdoa dan berjalan mondar-mandir, saya mengangkat telepon untuk meneleponnya. "Hi Pastor!" Katanya. Dia terdengar bahagia dan saya bisa mendengar suara video game di telepon-mungkin dia sedang bermain dengan kakaknya. Saya bertanya apakah dia baik-baik saja. "Saya baik-baik, saya baik-baik saja, tapi saya sibuk sekarang. Saya dapat berbicara dengan Anda nanti. "Dia terdengar baik-baik saja, jadi saya bertanya-tanya jika ada sesuatu yang salah. Tetapi di gereja pada hari Sabtu, saya duduk di samping ibu Steffi selama waktu makan siang untuk mengetahui lebih lanjut. Sebelum saya bisa mengatakan apa-apa, dia mulai menangis. Itu tidak mudah, terutama bagi orang tuanya.

Sebagai pengamat, kita melihat Allah menunjukkan bimbingan-Nya yang ajaib, membantu benih kecil untuk tumbuh, dan tumbuh kuat. Suatu hari, saya bertanya Steffi bagaimana perkembangan kemoterapi tersebut. Dia berkata, "Terima kasih Tuhan kemoterapi tersebut berjalan baik. Pada hari Kamis, saya melakukan kemoterapi. Pada hari Jumat, saya muntah sepanjang hari. Tapi puji Tuhan, pada hari Sabtu, saya bisa pergi ke gereja! "Saya tidak tahu bagaimana menanggapi jawaban positif seperti itu. Sungguh menakjubkan bagaimana seseorang bisa begitu nyaman menghadapi situasi seperti yang mengerikan dan drastis dalam hidupnya. Dia bahkan memimpin sesi penyembahan kidung disaat ia tidak memiliki rambut. Melihat hal ini, saya akan berpikir bahwa hal itu hanya dimungkinkan melalui kekuatan dari Tuhan-tidak ada alasan lain.

Ada saat-saat ketika Steffi berada dalam bahaya besar kehilangan hidupnya, ketika jumlah sel darahnya turun begitu rendah sehingga ia bisa meninggal kapan saja. Tapi seluruh cobaan tidak hanya sangat meneguhkan keluarganya, tetapi juga gereja lokal. Banyak anggota mulai merenungkan makna hidup dan rajin berdoa untuknya. Kami benar-benar berterima kasih kepada Tuhan bahwa kita mampu untuk melihat seperti perubahan besar dalam dirinya. Hal ini adalah keajaiban yang telah menginspirasi seluruh gereja. Semoga Tuhan terus membantu dan membimbing saudari Steffi.



Senin, 20 April 2020

TERSESAT DALAM IDEALISME DUNIAWI

Elizabeth Yao-Nanjing, Cina

Saya dibaptis ke dalam Gereja Yesus Sejati (TJC) di Queens, New York, pada tanggal 23 Agustus, 2003 ketika saya berumur tujuh belas tahun. Selama tujuh tahun berikutnya, saya hanya dua kali menghadiri Seminar Teologi Pemuda Nasional dan pergi ke kebaktian Sabat secara tidak teratur. Ada banyak alasan penyebab hal ini, beberapa di antaranya, tapi tidak semuanya berada di luar kendali saya.

Orang tua saya dibaptis di sekitar waktu yang sama dengan saya dan, sebagai orang percaya baru, kami tidak membuat keputusan berdasarkan kepentingan rohani. Saya memilih untuk pergi ke universitas yang tidak ada gereja disekitarnya, dan kepercayaan saya akhirnya menurun semata-mata menjadi hikmat dunia. Pada saat itu, saya tidak tahu bahwa saya berada didalam dunia, ketika saya seharusnya berada di dalam Kristus. Bahkan, saya tidak tahu apa-apa tentang apa artinya hidup untuk Tuhan, dan betapa menakjubkannya hidup seperti itu.

Doa saya mencerminkan kerohanian saya yang lemah. Saya berdoa hanya ketika saya membutuhkan sesuatu dari Tuhan. Ketika Dia menjawab, saya akan sangat berterima kasih, tetapi kemudian akan melupakan semua hal yang telah saya janjikan kepada-Nya dalam doa. Dan ketika hidup menjadi hampa dan tak tertahankan, karena saya keras kepala mengikuti kemauan saya sendiri, saya akan sekali lagi berlutut dan tanpa malu-malu mengatakan: "Tuhan, saya tidak tahan lagi. Saya menyerah! "Lalu, doa yang tidak dijawab akan mendorong saya untuk mencari hiburan di tempat lain.

Ada saat-saat ketika saya mencoba untuk kembali menjalin hubungan dengan Tuhan dan meningkatkan iman saya, tapi saya merasakan jurang yang besar antara saya dan anggota gereja lainnya. Saya merasa bahwa entah bagaimana mereka dapat mencapai "standar" yang berarti Tuhan akan selalu ada untuk mereka; Saya bukan bagian dari dunia itu, dan saya ragu jika Tuhan bahkan masih cinta kepada saya.

KEKACAUAN MENTAL DAN FISIK

Pada bulan Juni 2011, saya berada di New York untuk mempersiapkan diri menghadapi kelas musim panas. Pada saat itu, hidup saya tanpa Allah dan saya berada di tingkat kerohanian yang terendah. Kehidupan rohani saya tidak sehat meskipun kehidupan sehari-hari saya berjalan seperti biasa. Kemudian, suatu hari, tiba-tiba, bagian bawah punggung saya mulai sakit. Rasa sakit meningkat setiap hari dan akan menyerang saraf kaki setiap kali saya bergerak. Saya khawatir bahwa saya mungkin akan kehilangan kemampuan untuk berjalan. Dua minggu kemudian, saya menelepon orang tua saya di Cina. Karena saya tidak memiliki asuransi kesehatan dan tidak ada yang merawat saya, saya harus meninggalkan semuanya dan pulang.

Kembali di Nanjing, Cina, saya mengunjungi berbagai dokter setidaknya di tiga rumah sakit yang berbeda. Selama tiga bulan pertama, saya menjalani pemeriksaan medis, kesalahan diagnosa, suntikan antibiotik, dan mengalami banyak malam menyakitkan dan tanpa bisa tidur. Rasa sakit membuat saya tidak bisa bergerak. Dan kondisi saya tetap tidak dapat didiagnosis.

Seiring waktu, minggu-minggu pun berubah menjadi bulan-bulan, saya ditelan oleh kekacauan hati dan seringkali menangis pada hal-hal sepele. Meskipun awalnya khawatir, orang tua saya bahkan mulai berpikir bahwa rasa sakit dan segala sesuatunya yang lain adalah murni imajinasi saya. Bagi mereka, saya hanya bermalas-malasan di rumah dan bermuram durja.

Saya berbalik kepada Allah, tapi dalam doa, saya berjuang dalam kemarahan, keraguan, sedih, dan pertanyaan tanpa tujuan. Saya menyesal atas masa lalu saya, dan memohon Tuhan untuk penyembuhan spiritual dan fisik. Tapi saya ingin Tuhan untuk memberikan saya ini segera; Saya tidak ingin berusaha terlalu banyak. Tidak mengherankan, doa-doa saya diabaikan olehNya.

INTROSPEKSI DIRI DALAM DOA

Dengan tidak adanya pilihan lain yang tersisa, saya terus berdoa. Saya ingat saat saya menerima Roh Kudus, dan saat-saat iman saya paling kuat. Saya memeriksa hati saya dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri saya menuju pertobatan sejati. Saya mengakui kesalahan dan kekurangan saya di masa lalu, dan menerima konsekuensi dari tindakan saya. Saya menyadari pengalaman ini tidak hanya pengingat yang tegas dari Allah untuk mengubah cara hidup saya yang dahulu, tetapi juga tanda dari seberapa jauh diri saya dari-Nya. Saya merasa dorongan untuk membuang jauh-jauh segala dosa saya, seperti sampah yang akan dibuang. Oleh karena itu, bukan hanya menuntut penyembuhan, doa-doa saya menjadi: "Bantu saya Tuhan untuk belajar dari masa lalu saya, dan ajarkan saya untuk berubah. Saya mengerti ada alasan untuk kesakitan yang saya alami. Tolong beri saya kekuatan dalam hati agar saya tahu bagaimana cara saya berdoa. Jagalah saya satu hari lagi."

Setiap saya berdoa, saya merasa menjadi baru. Menghadiri gereja di Nanjing TJC lebih teratur juga membantu untuk menguatkan firman Allah dalam hati saya. Seiring kekuatan Tuhan mengalir ke dalam diri saya, saya merasa diperkuat dan lebih bersedia untuk menyerahkan kehendak saya kepada-Nya. Seperti desakan Allah:

“Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!"(Yeh 18: 31-32)


PERKEMBANGAN

Semakin saya membiarkan Roh Allah untuk menguatkan saya, semakin saya bisa mengosongkan diri saya dari kesalahan masa lalu. Semakin sedikit saya berfokus pada diri sendiri dan kemauan diri, saya merasa lebih dekat kepada-Nya. Aku tahu aku memerlukan kekuatan-Nya untuk mengatasi rasa takut saya pada pikiran bahwa punggung saya mungkin tidak akan pernah sembuh.

Proses introspeksi diri memaksa saya untuk mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan penting seperti apakah aku akan tergoda untuk meninggalkan Tuhan jika Dia tidak menyembuhkan saya. Saya merefleksikan diri pada kehidupan saya sejak saya dibaptis. Saya berpikir tentang hal-hal yang saya cintai dalam hidup, percaya bahwa hal ini akan mendatangkan kebahagiaan untuk saya, dan saya menyadari bahwa saya telah mencari di tempat yang salah. Pada saat itu, semua kilau dan glamor yang Setan gunakan untuk menghiasi kesenangan dari dunia ini tiba-tiba berubah menjadi debu. Seiring Roh Allah menyinarkan kebenaran-Nya ke dalam hati saya, saya tahu bahwa saya membutuhkan Tuhan dalam hidup saya apa pun yang terjadi.

Memahami hal ini menyebabkan perkembangan baru dalam cara saya berdoa dan memandang hidup saya. Kekuatan yang membantu saya untuk melakukan hal ini tidak berasal dari dunia atau diri saya sendiri. Tuhan memberikan saya petunjuk langkah-demi-langkah apa artinya untuk mengandalkan-Nya. Roh Allah diam di dalam diri kita, memperkuat batin kita, adalah kuat tak terukur (Ef 3:16). Kuasa dan kebenaran Tuhan bekerja di dalam kita melalui firman-Nya. Semakin kita mendekat pada Roh, semakin kita bisa menyingkirkan beban, kelemahan, dan ketakutan kita.

Seiring Roh Allah menggerakkan saya, saya belajar untuk menjadi lebih berpusat pada Tuhan dan lebih sedikit berpusat pada diri saya sendiri dalam doa. Saya mencari kehendak-Nya. Saya menjadi lebih sabar dan tenang, karakter yang tidak akan dianggap orang banyak ada didalam saya. Masih ada hari-hari ketika saya merasa putus asa-ketika saya akan berlutut untuk berdoa berkali-kali, tapi tidak bisa menemukan posisi yang tidak terasa sakit. Hal ini membuat saya menyadari kelemahan manusia dengan cara yang belum pernah dikenal sebelumnya, dan mengingatkan saya tentang menempatkan kehendak Tuhan diatas kehendak saya.


MEMAHAMI KEHENDAK-NYA

Suatu hari, seorang anggota keluarga menyarankan agar saya melakukan scan pada tulang. Sampai saat itu, hanya organ internal saya yang telah diperiksa. Sebuah MRI scan pada seluruh badan saya, mengungkapkan sendi yang telah mengalami keretakan di tulang belakang saya. Ini merupakan berita buruk, tapi hati saya sudah tak tahan untuk memuji Tuhan. Ketika saya tiba di rumah, saya berlutut di hadapan Tuhan dan mencurahkan rasa terima kasih. Tiga bulan saya habiskan menunggu dan belajar untuk mempercayai-Nya telah ditegaskan oleh tanda ini bahwa Dia telah mendengar saya; Dia membimbing saya untuk hubungan yang lebih dalam dengan-Nya, untuk memahami kehendak-Nya, dan takut akan kekuatan maha agung-Nya.

Mengenali masalah punggung saya memungkinkan saya untuk mulai mencari pengobatan. Meskipun saya masih bersemangat untuk kembali ke kehidupan normal, saya tidak cemas lagi. Allah telah mengajarkan saya melalui tiga bulan tersebut tentang bagaimana untuk percaya pada kekuatan dan cinta-Nya, bagaimana berdoa dengan sabar dan menunggu kehendak-Nya untuk terjadi, dan juga, bagaimana caranya bersyukur. Bahkan, penyembuhan yang terjadi pada batin saya, perubahan dalam hati saya, mulai sebelum tanda-tanda harapan yang jelas. Seperti Paulus berkata:

Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa.. (2 Kor 4: 7-9)

HIDUP DARI KEKUATAN DAN PETUNJUK ALLAH

Pada pertengahan September tahun 2011, saya mulai mencoba akupunktur, yang harus dilakukan selama satu bulan atau lebih agar efektif. Saya heran bagaimana saya bertahan menghadapi hari-hari tersebut. Akupunktur menumpulkan rasa sakit, yang memungkinkan saya untuk berjalan dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari, hal ini penting karena saya mulai bekerja sebagai guru. Namun, rasa sakit, meskipun intensitasnya sudah berkurang, selalu setia mengikuti. Selain itu, tiga kali seminggu, ayah saya akan mengantar saya ke ahli akupunktur, yang akan menusuk jarum ke dalam tubuh saya dan mengalirkan arus listrik melalui mereka. Saya sangat takut akan sesi ini. Hanya dengan bergantung pada Tuhan membuat saya dapat melalui masa-masa ini.

Pada akhir Desember, orang tua saya membawa saya ke dokter di Changzhou, tiga jam dari kota asal saya. Dokter ini dikenal telah "menyembuhkan" banyak pasien lainnya yang menderita masalah turun bero dengan metode khusus yang melibatkan menyuntikkan nutrisi ke tulang belakang, pijat medis, pengobatan chiropractic manual, serta latihan fisik setiap hari.

Pada awalnya, rasa sakit meningkat karena pengobatan mengaktifkan saraf di punggung saya yang telah mati rasa dengan akupunktur. Tapi setelah perawatan selesai, dokter mengucapkan bahwa punggung saya sembuh. Ia menyebutkan syarat bahwa setidaknya butuh waktu satu sampai tiga tahun untuk sepenuhnya sembuh dan menyarankan saya untuk tidak melakukan perjalanan lewat udara selama setidaknya satu tahun.

Aku benar-benar bersyukur dan mengarahkan sisa kekhawatiran saya menjadi doa. Meskipun penyembuhan akan memakan waktu dan nyeri pada punggung saya tetap ada, saya telah belajar bagaimana untuk mempercayai bahwa kehendak Allah akan nyata sesuai dengan waktu-Nya.

KETERGANTUNGAN PENUH

Setelah tugas mengajar saya telah selesai, saya mulai berencana untuk kembali ke perguruan tinggi di New York pada musim semi. Tingkat kepercayaan saya pada Tuhan menuntun saya untuk melakukan sesuatu yang dianggap gila oleh kebanyakan orang. Kuliah semesteran akan dimulai pada akhir Januari 2012 dan saya tidak ingin tinggal diam di Nanjing. Saya merasa bahwa jika Tuhan bersama saya, tidak ada alasan untuk menggantungkan hidup saya karena rasa takut atau logika manusia. Namun, saya tidak ingin mencobai Allah dengan menentang nasihat medis jadi saya banyak berdoa tentang hal ini. Sesuatu di dalam hati saya mengatakan kepada saya untuk mengabaikan dokter dan mempercayai Tuhan.

Lalu saya mengambil penerbangan ke New York. Saya telah diperingatkan bahwa perubahan tekanan selama lepas landas bisa menyebabkan sendi saya kembali retak. Punggung saya sakit selama penerbangan dan tetap sakit bahkan setelah mengistirahatkan pungung saya malamnya di New York. Jadi saya berdoa dan mengatakan Allah: "Aku sangat mengasihi Engkau. Saya telah belajar banyak dalam bulan-bulan belakangan ini dan saya sangat bersyukur atas bimbingan, kasih karunia, dan kekuatan dariMu. Engkau telah membimbing saya dan menjaga saya sampai hari ini. Inilah saya. Saya sepenuhnya percaya pada Mu. Saya sendiri di sini dan akan tinggal sendiri untuk sisa masa tahun saya sekolah – Saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan dalam penerbangan pulang, atau jika sendi saya akan retak kembali. Saya hanya memiliki Engkau, dan Engkau berkuasa melampaui batas. Aku tahu Engkau bisa menyembuhkan saya jika Engkau mau, tapi kalau itu bukan kehendakMu, saya akan menerimanya. Karena tidak peduli apapun yang terjadi, saya akan mengikuti Engkau sepanjang hari-hari hidup saya, selama Engkau bersama dengan saya. "

Hari Sabtu keesokan harinya, saya berdoa sebelum saya pergi untuk menghadiri kebaktian sabat di rumah doa Brooklyn. Saya tidak menjelaskan mengapa tapi saya punya firasat bahwa Allah akan menyembuhkan saya segera setelah saya sampai di sana. Selama 20 menit naik taksi, punggung saya sakit, tapi saya merasakan kedamaian yang tak terlukiskan. Dan saat saya melangkah ke dalam tempat ibadah, rasa sakit menghilang. Saya berlutut, dan pada titik ini, saya tahu bagaimana berdoa. Saya menangis. Saya bersyukur kepada Tuhan. Itu adalah doa penuh kebahagiaan dari seseorang yang telah disembuhkan secara fisik. Tapi, lebih dari itu, doa di mana saya merasa jiwa saya telah benar-benar dihidupkan kembali oleh kasih karunia Allah yang mengagumkan.

KEMBALI KEDALAM PELUKAN BAPA

Selama empat tahun terakhir saya telah menyaksikan bagaimana Allah menggunakan masa-masa dalam hidup saya tersebut sebagai awal dari perjalanan rohani saya untuk kembali kepada-Nya. Masa-masa tersebut dipenuhi oleh perjuangan, tapi setiap kali saya putus asa atau ragu, setiap kali saya tersesat tanpa ada jalan untuk kembali, kekuatan dan ketekunan yang telah saya peroleh selama enam bulan tersebut telah menjadi sangat penting dalam membantu saya menahan gelombang hidup saya yang lama. Dia selalu membawa saya kembali ke pelukan-Nya.

Pada tahun 2011 yang lalu, saya adalah anak buta yang hilang yang berharap untuk merangkak kembali ke rumah Bapa-nya. Tuhan tidak berdiri saja tapi hadir di sana untuk saya disetiap langkah sepanjang jalan berbatu. Dia menunjukkan bahwa:

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Kor 4: 17-18)

Saya sekarang memiliki harapan yang melampaui penderitaan duniawi, dan saya tahu pasti bahwa Dia telah menyaksikan, dan akan selalu mengawasi saya. Amin.

Rabu, 15 April 2020

KESAKSIAN RIBKA SELAMAT DARI MAUT OLEH PERTOLONGAN TUHAN YESUS


Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Namaku Ribka. Aku tinggal di sebuah kota pinggiran di Indonesia. Aku akan menceriterakan kisahku. Sebenarnya aku malu menceritakan kisahku ini, tetapi melalui mimpi, Tuhan Bapa menyuruhku agar menceritakan kisahku ini kepada segala bangsa.
Inilah kisahku :
Pada tahun 2010 usiaku 33 tahun. Ada kejadian aneh di hidupku. Pada saat itu setiap aku berhias di depan cermin, berkali-kali aku melihat ada darah di telapak tanganku seperti darah di telapak tangan Tuhan Yesus yang disalib. Saat itu aku bertanya-tanya dalam hatiku ada apa ini? Saya tidak tahu apa artinya semua ini. Aku malah sempat berpikir karena usiaku saat itu sama dengan usia Tuhan Yesus pada waktu disalibkan yaitu berusia 33 tahun.
Tetapi suamiku pernah berkata bahwa aku diberi karunia dari Tuhan supaya aku dapat menyelami lebih dalam lagi akan penderitaan Tuhan Yesus sewaktu di kayu salib.
Kemudian pada saat yang hampir bersamaan di tahun itu juga, suamiku ditawari oleh temannya sebuah rumah dijual. Kami tertarik untuk membeli dan membangun rumah itu karena kami ingin pindah dari rumah lama kami.
Suamiku sempat bimbang jadi membeli rumah apa tidak. Pada saat itu suamiku setengah mimpi setengah sadar sekitar jam setengah 5 pagi ada bisikan di telinga kanannya yang sangat jelas sekali, bisikannya yaitu: “Pikullah salibmu!”. Karena bisikan itu, maka suamiku terbangun dari tidurnya dan dia bertanya di dalam hatinya apakah suara itu jangan-jangan sebagai pertanda untuk tidak jadi saja membeli rumah itu. Namun suamiku tetap berkeinginan terus untuk tetap membeli rumah itu walaupun ada kebimbangan dalam hatinya karena kami ingin segera pindah dari rumah kami yang lama.
Singkat kata rumah itu jadi kami beli dan kami bangun. Sewaktu pembangunan dimulai semua berjalan dengan lancar. Namun setelah pembangunan rumah mendekati selesai, tukang-tukang bangunan kami mau mengundurkan diri karena berbagai alasan yang sulit dipahami.
Pada saat yang hampir bersamaan, suamiku detak jantungnya sangat sesak, detaknya seperti diprogram sehingga sulit mengikuti irama detak jantungnya. Pikirnya kena serangan jantung dan sudah seperti mau mati karena lemas dan keluar keringat dingin. Kejadian ini berlangsung beberapa hari, sampai-sampai waktu di perjalanan saat berangkat kantor, suamiku terkulai lemas tidak sanggup berdiri lagi. Kemudian dicek kesehatan di rumah sakit. Namun anehnya setelah dicek di laboratorium dan melalui uji treat mill untuk test jantung di rumah sakit, semuanya normal. Bersamaan dengan pengecekan di rumah sakit itu suamiku berserah diri kepada Tuhan Yesus, untuk tidak mengingini duniawi, dan pada saat itu juga setelah suamiku menyatakan itu seluruh beban yang mengikat jantungnya tiba-tiba terlepas karena terasa ada suatu Kuasa yang mengangkat ke atas dan kemudian penyakit suamiku hilang.
Pada saat itu kami tidak tahu kalau penyebab sakit itu ternyata berasal dari kuasa gelap (santet). Dan kami akhirnya baru menyadarinya setelah berjalan beberapa waktu kemudian ketika serangan kuasa gelap (santet) menyerang bertubi-tubi dan terus menyerang tanpa henti ke seluruh rumah kami seperti gelombang lautan.
Singkat kata rumah kami sudah selesai dibangun dan kami sekeluarga pindahan rumah baru kami, dan lingkungan rumah baru kami belum mengenal Tuhan Yesus Kristus.
Baru saja pindahan rumah, kami hampir setiap hari selalu didera serangan kuasa-kuasa gelap, namun yang terkena pertama kali adalah pembantu saya. Hampir setiap hari pembantu saya mencium kemenyan dan kembang setaman, dan kepalanya pusing sekali bahkan badannya seperti diikat oleh tali dan dipukuli serta badannya disundut oleh api rokok. Kejadian itu berkali-kali sampai tidak tahan lagi dan pembantu saya mengatakan itu adalah santet, namun kami saat itu tidak percaya kalau itu santet, karena pikir kami santet tidak bisa menyerang rumah kami. Dan akhirnya dia pulang kampung dan tidak kerja lagi di rumah kami.
Setelah kejadian itu kami didera berbagai-bagai serangan kuasa gelap (santet) yang berusaha membinasakan seluruh keluarga kami termasuk anakku yang masih kecil. Saya tidak mengerti mengapa mereka sangat membenci kami dan tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Namun terus dan terus, tangan Tuhan Bapa yang Maha Tinggi selalu menolong kami yang lemah ini. Kami tidak memiliki karunia-karunia mujizat seperti yang dimiliki oleh banyak anak-anak Tuhan yang lain. Namun dari kelemahan, kami hanya berserah kepada Bapa dan Tuhan Yesus yang Maha Agung yang akan menolong kami yang lemah ini. Berbagai pertolongan dari Bapa dapat kami ceritakan sbb :
  1. Pada saat saya tidur malam saya terbangun dan begitu kagetnya setelah bangun saya melihat jantung saya dicabut oleh suatu tangan yang tiba-tiba muncul dari depan saya. Saya rebutan jantung dengan tangan itu, namun “Dalam nama Tuhan Yesus” saya ucapkan akhirnya Bapa membela saya dan tangan itu melepaskanku.
  2. Pada bulan April 2012 suami saya ada keanehan yaitu marah hebat pada dirinya sendiri dan itulah kemudian kami baru tahu kalau iblis bisa masuk kepada orang-orang percaya melalui amarah.
  3. Sejak saat itu suamiku hampir setiap malam hari melihat ribuan serangga yang tidak kelihatan beterbangan yang jumlahnya tidak terhitung terbang ada di kamar kami namun itu hanya bisa dilihat oleh suamiku saja, sedangkan yang lainnya tidak bisa melihatnya. Keesokan harinya serangga-serangga yang tidak bisa dilihat oleh mata namun bisa dirasakan menyerang suamiku. Dan menyerang berbagai tubuh suamiku, mulai dari wajah sampai sekujur tubuh, sampai suamiku mules-mules diare dini hari seperti mau mati, kalau tidak ada pertolongan dari Bapa Yang Maha Agung.
  4. Suamiku hanya berserah mengandalkan kebesaran Yesus dan Bapa Yang Maha Kudus tetap menopang kami, sekalipun kami dalam lembah kekelaman, berangsur-angsur suamiku telah pulih.
  5. Saat saya tiduran malam kira-kira jam 8 malam sedang menunggu suami pulang dari kerja, saya kaget sekali karena didatangi Nyi Roro Kidul (ratu pantai selatan pulau Jawa) yang memakai mahkota dengan pakaian dodot pengantin raja-raja Jawa Tengah berwarna hijau. Dia berambut panjang, dan tersenyum kepada saya seakan-akan senyumannya itu bermaksud untuk memikat saya supaya saya mau dijadikan pembantunya. Tetapi sekali lagi Bapa Yang Maha Kudus membela saya dan saya ucapkan “Darah Yesus!! menghancurkan segala kuasa Nyi Roro Kidul dan setan-setannya”. Kemudian Nyi Roro Kidul menghilang dan tidak mendekatiku.
  6. Dan sewaktu pagi hari sekitar jam 10-an pagi, ada serangga berupa lebah pembunuh besar dikirim kepadaku. Lebah itu berwarna orange dan bentuknya besar sekali yaitu sebesar 2 kali jari tangan dewasa dan mempunyai jarum penusuk bersiap menyerang dan mau menusukku. Namun lagi dan lagi, Tuhan Bapa melalui malaikatNya menyelamatkanku, seperti ada yang membimbingku aku menggunakan raket nyamuk, sekali tangkis langsung mengenai lebah itu dan mati. Anehnya lebah itu saat mati berubah menjadi kecil tetapi aneh sekali, setelah kurang lebih 1 menit lebah itu bisa menghilang sendiri, aku tidak tahu kenapa bisa raib tak berbekas.
  7. Sewaktu anak saya tidur dini hari, dia terbangun dan kaget sekali sampai matanya melotot karena jantungnya juga sedang dicabut oleh suatu tangan yang tiba-tiba muncul, dan lagi Tuhan Bapa menolong kami. Anak saya mengucapkan “Dalam Nama Tuhan Yesus”, tangan itu melepaskan anak saya.
  8. Pada suatu malam saat saya dan anak saya sedang berdoa pujian penyembahan kepada Bapa Yang Maha Kudus, saya mendapat penglihatan dari Tuhan. Saya memakai pakaian putih bersih panjang dan menaiki anak tangga yang tinggi, di samping kiri saya ada sederet banyak orang yang mengejek saya. Orang-orang tersebut belum mengenal Tuhan Yesus. Dan setelah semakin naik, kemudian saya menoleh ke belakang sebelah kiri, lama-lama orang-orang tersebut sudah tidak ada lagi. Saudara-Saudaraku, selama kita berserah kepada Bapa Yang Maha Kudus, Bapa akan membela umat-Nya yang lemah.
  9. Pada sore hari saya sedang memasak sendirian di dapur, saya didatangi rombongan pasukan jin ada yang berujud ada yang tidak berujud, ada juga yang cuma bersuara saja. Mereka semua bilang “Serbuu…….!!!” Mereka mau membinasakanku. Saya kewalahan dan ketakutan luar biasa. Tetapi Roh Kudus dari Bapa Yang Maha Kudus masih menolongku. Aku mengucapkan “Dengan Kuasa Darah Yesus, kuasa-kuasa kegelapan telah dihancurkan!”. Mereka semua akhirnya langsung hilang lenyap.
  10. Selanjutnya selang beberapa hari kemudian, pada saat saya sedang memasak sendiri di dapur, kami kedatangan lagi pasukan jin namun jumlahnya sangat-sangat banyak tak terhitung jumlahnya mengeroyokku. Namun karena saya tidak berbuat apa yang salah, maka Tuhan Bapa tetap membelaku dan akhinya pasukan jin itu juga hilang lenyap.
  11. Saudaraku yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian sewaktu aku berangkat tidur malam, tiba-tiba jantung saya kembali diserang kuasa gelap dengan kesakitan luar biasa dan saya mau minta tolong sama anakku dan suamiku tapi tidak kesampaian, akhirnya saya merasa kesakitan yang luar biasa seperti mau dicabut nyawaku. Kemudian aku tidak sadarkan diri. Tapi lagi Tangan Bapa Yang Maha Kudus menyelamatkanku. Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi merasa jantung saya sudah pulih kembali.
  12. Pada keesokan harinya saat kami ibadah di Gereja. Sewaktu kami melakukan pujian penyembahan kepada Bapa Yang Maha Kudus, aku mendapat penglihatan dari Tuhan. Yaitu tampak sebuah neraka dengan api yang menyala-nyala membumbung tinggi apinya berkobar-kobar dan aku berteriak-teriak: “TuhanYesus jangan aku ditempatkan di sini, tolong aku Tuhan!” Sampai beberapa kali aku ucapkan itu, kemudian Tuhan Yesus mengatakan kepadaku : “Sebenarnya kamu sudah mati namun kamu sudah Aku bangkitkan dari kematian. Tetapi setan-setan di neraka sangat membencimu”.
  13. Berbagai jenis jin terus dikirim ke rumah kami, mulai pocongan, kuntil anak, jin hitam, putih, besar, kecil, tinggi, pendek, berbagai jenis tuyul dan berbagai jin lainnya berpakaian lokal sampai jin yang berpakaian ala Timur Tengah. Dan masih banyak lagi serangan-serangan kuasa gelap (santet) seperti gelombang lautan yang tidak putus-putusnya yang tidak bisa kami ceritakan di sini. Aku mengharapkan agar orang-orang yang membenci kami agar berhenti menyerang kami dan bertobat ke jalan yang benar.
Sekalipun orang-orang tersebut membenci kami, dan kami didera dan dianiaya tanpa berbelas kasih sedikitpun kepada kami, dalam nama Yesus kami tetap mengampuni karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Dan kami lepaskan pengampunan dan berkat kepada mereka yang menganiaya kami untuk bertobat. Karena itulah yang diajarkan oleh Yesus kepadaku :
“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."
(Matius 6:14 – 15)
Saudara-saudaraku yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus. Sangat luar biasa Tuhan Yesus itu memberikan kami kehidupan, sekalipun kami dalam lembah kekelaman, kami sangat bersyukur kepada-NYA.
Inilah bukti kasih Tuhan Yesus selalu ada di antara kita. Dan Tuhan selalu membela dan menguatkan orang-orang yang lemah dan tidak berdaya seperti kami.
Akhir kata dariku Saudara-saudara, bahwa hanya Yesus Kristus yang dapat menyelamatkan kita dari hukuman kekal di neraka dan sebagai syarat pertama untuk diterima oleh Bapa di dalam sorga, karena di luar Yesus tidak ada kehidupan setelah kematian, yang ada adalah siksaan dalam api neraka selama-lamanya tanpa akhir.
Ada tertulis di dalam kitab Injil kabar keselamatan untuk Saudara-saudara semua yang membaca kesaksian ini :
“Kata Yesus kepadanya: Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”.
(Yohanes 14:6)
Yesus berkata: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ."
(Yohanes 14:2-4)
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Yesus, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."
(Kisah Para Rasul 4:12)
“Siapa yang percaya (kepada Yesus) dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (di neraka)”.
(Markus 16:16)
Kiranya Tuhan Yesus beserta kita dan memberkati Saudara-Saudara yang membaca kesaksian ini.
Amin.
Salam dari kami, Ribka

Jumat, 10 April 2020

DENGAN IMAN AKU SEMBUH

Dengan Iman Aku Sembuh

praise
Shalom, Saya Ester Nining, saya ingin menyaksikan cinta kasih Tuhan Yesus yang sudah menyembuhkan saya dari sakit. Singkat cerita….pada pertengahan bulan Oktober 2013 Tuhan ijinkan saya terbaring sakit. Awalnya hanya sakit flu biasa, badan lemas dan tidak kuat untuk berjalan. Tidak hanya saya yang sakit tapi Tuhan ijinkan suami saya juga sakit, tidak lama Puji Tuhan suami saya sembuh dan akhirnya saya diantar periksa ke RS. Disitu saya harus cek Darah total dan USG, dan hasil diagnosa bahwa saya positive terkena penyakit Hepatitis A. Saya terkejut dan Dokter menyarankan untuk rawat inap, dan saya menolak. Ketika saya melangkah pulang, saya bertemu dengan saudara seiman dan tetap disarankan untuk rawat inap. Dengan berat hati saya diantar kembali masuk ke ruangan Dokter dan mengambil keputusan untuk rawat inap. Kondisi tubuh saya lemas dan menjadi berwarna kuning. Saya selalu ucapkan” Saya punya IMAN dan saya SEMBUH” Setiap hari selalu menjalani test darah, dan selama 4 hari saya selalu disuntikkan antibiotik dan mengkonsumsi obat yang menurut saya harganya sangat mahal, tensi selalu naik, akhirnya dokter memberikan ijin saya pulang dan harus menjalani rawat jalan , dimana setiap 5 hari sekali saya harus kembali control. Secara manusia saya tidak sanggup mengeluarkan biaya dan sempat ada rasa takut dan kawatir, tetapi luarbiasanya Tuhan selalu menguatkan saya sehingga saya percaya Tuhan selalu sediakan dana dan cukupkan untuk setiap apa yang saya perlukan. Berkat itu selalu mengalir dalam hidup saya. Tuhan tidak tinggal diam, Tuhan kirimkan saudara-saudara seiman datang kerumah untuk mendoakan saya dan memberikan penguatan melalui pujian. Tidak secara kebetulan juga Tuhan kirimkan Dokter yang seiman, setiap saya kontrol beliau selalu mengajak saya berdoa, menguatkan saya dan berkata” Anda jangan mencari saya, tetapi Anda harus mencari Tuhan Yesus, dan bisa bersaksi” Saya intens menjalani kontrol, tapi ternyata tidak sampai disitu saudara, saya benar-benar harus memiliki iman yang sangat besar untuk melewati proses itu. Tiba-tiba dokter menyarankan saya untuk Operasi Laparascopy, karena dinyatakan ada peradangan dan Kristal dalam kantong Empedu saya. Sangat terkejut mendengar hal tersebut. Dan dihadapan Dokter saya langsung katakan “SAYA TOLAK OPERASI DALAM NAMA YESUS SAYA SEMBUH” saya tidak mau operasi. Tetapi dengan berjalannya waktu kurang lebih 2 bulan saya hopeless dan rasanya tidak sanggup lagi untuk hidup karena sempat saya merasa takut kalau-kalau saya tidak bisa melewati ini. Tapi puji Tuhan suami dan keluarga saya selalu memberikan motivasi iman kepada saya, dan saya pun kembali dikuatkan dan iman saya semakin dibangkitkan, kemudian saya katakan dengan iman “Asal ku jamah jubahNya PASTI SAYA SEMBUH” Setiap pukul 9 pagi saya selalu berdoa, memuji Tuhan dan baca Firman Tuhan. Saya selalu Pujikan : “Terima kasih Yesus, Terimakasih Yesus, Ku b’ri Syukur hanya bagiMU, ya Allah ku ya Tuhanku” dan “ Sungguh ku percaya tiada yg mustahil Mujizat masih ada dalam hidupku, Sembuhkan sakitku, pulihkan jiwaku, Mujizat masih ada bagiku” Saya ditegur oleh Tuhan untuk satu hal dalam kondisi seperti apapun kita harus selalu mengucap syukur dan berterimakasih kepada Tuhan. Saya dirujuk kembali oleh Dokter untuk menjalani pemeriksaan MRI dengan biaya yang mahal, saya hanya bisa berserah kepada Tuhan. Sebelum saya masuk ruang pemeriksaan, saya dan suami berdoa dan memuji Tuhan. Selama diruang pemeriksaan saya katakan “Tuhan, Engkau sendiri yang akan memeriksa saya, Engkau turun tangan, Tuhan sudah angkat dan sembuhkanku, AKU PASTI SEMBUH” Kemudian hasil saya bawa kembali ke Dokter untuk dibacakan, Dan Puji Nama Tuhan, “Sungguh Ajaib!!! Mujizat Tuhan dinyatakan dalam hidup saya ”Dokter katakan bahwa didalam kantong empedu saya TIDAK ADA Kristal!! Saya menangis dan langsung saya katakan HALELUYA!!! Sungguh Tuhan Yesus ajaib!!! Luar Biasa, Firman dan janji-NYA Ya dan Amin!!! Yesus sumber Mujizat, Yesus sumber pertolongan….!!! Ini kesaksian saya, dan saya rindu kesaksian ini bisa menjadi berkat bagi setiap saudara yang mungkin mengalami suatu pergumulan berat, jangan kuatir, dengan Iman percaya kepada Tuhan kita sanggup lewati segala sesuatu. Tuhan Yesus Memberkati.
Ibu Ester Nining

COPAS : https://gbika.org/dengan-iman-aku-sembuh/
Source https://gbika.org/dengan-iman-aku-sembuh/

Minggu, 05 April 2020

TUHAN MENJAMAHKU

Dalam nama Tuhan Yesus Kristus saya bersaksi. Saya dilahirkan di Kamboja, dan datang ke Amerika Serikat pada tahun 1981 saat berumur 9 tahun. Dari tahun 1975 sampai 1979, terjadi pembantaian di Kamboja: dari 6 juta penduduknya, 3,5 juta orang mati selama tahun-tahun itu. Setiap hari, orang-orang mati karena kelaparan atau hukuman mati – bahkan juga sanak saudara dan orang-orang yang saya sayangi. Saya selalu bertanya pada diri sendiri, Tuhan macam apa yang menciptakan manusia, dan kemudian membiarkan mereka mati seperti itu? Bagaimana Tuhan ini bisa menjadi Tuhan yang baik? Tak bisakah Dia melihat orang-orang ini sekarat?

Setelah datang ke Amerika, saya mulai mengalami mimpi buruk. Mimpi buruk yang selalu sama setiap malam. Lima roh jahat merenggut saya: dua roh jahat mengikat tangan saya, dua yang lain mengikat kaki saya, dan yang satunya mencekik saya. Saya jadi takut tidur. Setelah dewasa, saya menerima dua atau tiga pekerjaan sekaligus karena tidak ingin tidur. Sepanjang waktu itu, saya begitu ketakutan dan kesepian.

TAHUN-TAHUN PENUH GELOMBANG
Saya sudah mencari kebenaran dan mencari Tuhan sepanjang hidup saya, namun hati saya masih merasa kesepian. Saya berkata pada diri sendiri, hidup harus lebih baik dari ini. Sewaktu kuliah, saya menghadiri pesta-pesta tempat saya melihat orang-orang berdansa, minum, dan menikmati begitu banyak kesenangan. Saya bilang, wow, ini yang namanya kebahagiaan, eh? Jadi selama tahun pertama dan kedua kuliah, saya berkeliaran dan minum dan berdansa. Kalau pergi ke pesta, saya pasti naik ke pentas dan menari seperti orang gila. Orang-orang akan meneriakkan nama saya, "Vuthy! Vuthy!" Tetapi saya tidak bisa menemukan kebahagiaan. Akhirnya, saya berkata pada diri sendiri, ini bukanlah jalannya.

Saya hampir dikeluarkan dari sekolah pada tahun kedua kuliah. Ketika menyadari apa yang terjadi pada diri saya, saya sedikit menenangkan diri, tetapi tetap merasa sangat kesepian. Saya berpikir bahwa mungkin, setelah selesai kuliah, saya akan mendapatkan pekerjaan dan punya penghasilan, dan itu akan membuat saya bahagia. Tetapi setelah lulus dan mendapatkan pekerjaan yang bagus, hati saya tetap terasa hampa.

MENCARI KEBENARAN
Sepanjang waktu itu saya masih terus mencari kebenaran, tetapi tidak berhasil. Saya pernah pergi ke sebuah gereja Kristen, di sana saya dibaptis untuk pertama kalinya. Tetapi Tuhan tidak menggerakkan saya dan saya tidak melihat adanya Tuhan di gereja itu, jadi tak lama kemudian saya tinggalkan. Setelah itu, ibu saya membawa saya ke Gereja berbahasa Yunani tempat saya dibaptis untuk kedua kalinya. Tetapi saya selalu jatuh tertidur setiap kali pergi ke sana, sebab mereka bicara dalam bahasa Yunani dan saya tidak bisa memahami apa yang mereka bicarakan.

Setelah meninggalkan gereja kedua ini, saya berkata pada diri sendiri, lupakan saja, Tuhan itu tidak ada. Saya pusatkan saja perhatian pada pekerjaan. Salah satu rekan sekerja adalah anggota Gereja Yesus Sejati. Suatu hari dia melihat Alkitab di atas meja saya, lalu mengajak saya menghadiri Pemahaman Alkitab (PA). Saya pikir, kenapa tidak, toh tak ada ruginya, dan pergi ke PA tersebut. Di ujung acara, ketika mereka berlutut dan berdoa dalam bahasa Roh, saya betul-betul ketakutan.

Salah satu saudari-saudari itu pasti sudah mendoakan saya, karena minggu berikutnya saya tidak sabar ingin pergi ke PA. Setelah pertemuan itu, saya merasa Tuhan menggerakkan saya. Saya mulai menghadiri PA, dan kemudian mulai mengikuti kebaktian gereja secara rutin. Saya merasa bahwa Tuhan ada di sana, meskipun kami cuma berkumpul di sebuah kemah doa. Saya mulai berdoa dengan sunguh-sungguh setiap malam karena saya merasakan gerakan Tuhan. Setiap ajaran Alkitab yang saya pelajari dan saya ikuti selalu benar adanya.

TUHAN MENJAMAHKU
Suatu malam ketika saya sedang tidur, kuasa Tuhan datang pada saya dan berkata, "Vuthy, bangun dan berdoalah." Jadi saya menjawab, "baiklah," dan mulai berdoa.

Saya berkata, "Haleluya," dan ada kuasa yang datang ke dalam diri saya, dan saya mulai berkata-kata dalam bahasa Roh. Saya mulai menangis bahagia kerena merasakan begitu banyak kasih dan kemurahan dari Tuhan. Inilah pertama kalinya hati saya merasakan sukacita, dan saya tahu ini berasal dari Tuhan. Selama doa tersebut Tuhan membuat saya menyadari orang macam apa saya ini, dan semua hal-hal berdosa yang telah saya lakukan sewaktu SMU dan kuliah dulu.

Ketika saya sedang berdoa, Tuhan menggerakkan saya untuk berkata, "Buka 1 Petrus." Saya bahkan tidak tahu di mana letak 1 Petrus dalam Alkitab. Jadi saya bangun, menyalakan lampu, dan membuka 1 Petrus, pasal 1. Sewaktu membaca, firman Tuhan menjadi hidup, nyaris seperti berbentuk tiga dimensi. Setiap firman datang pada saya seolah benda hidup, dan benar-benar menyentuh saya.

PEPERANGAN ROHANI
Beberapa hari kemudian, mimpi-mimpi buruk saya datang lagi. Sudah beberapa tahun saya tidak mendapatkan mimpi-mimpi buruk itu. Mereka masih lima roh jahat yang sama, dan kali ini mereka mencekik saya kuat-kuat. Saya tidak bisa bernapas, tidak bisa berteriak, tidak bisa menjerit. Tetapi saya berkata, "Dalam nama Tuhan Yesus Kristus," dan mereka pun pergi.

Saya bertanya pada saudara-saudari di gereja mengapa saya masih mendapatkan mimpi buruk walaupun telah menerima Roh Kudus. Mereka bertanya apakah di rumah saya ada berhala. Saya memang punya patung emas kecil berbentuk kepala, dan mereka menyuruh saya untuk membuangnya. Jadi dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya membuangnya ke toilet.

Malam berikutnya saya bermimpi buruk lagi, tetapi kali ini hanya ada satu roh. Roh hitam besar ini mencekik saya, dan saya tidak dapat melihat wajahnya. Betul-betul menakutkan karena ini merupakan sesuatu yang baru. Saya berkata, "dalam nama Tuhan Yesus Kristus," dan balas mencekik roh itu. Saya membalikkan roh tersebut di atas ranjang, dan melihat bahwa wajahnya rusak berat dan penuh cacing. Lalu tiba-tiba ia menghilang.

Sekali lagi saya bertanya pada saudari di gereja kenapa saya masih mengalami mimpi buruk. Saya tidak tahu apa yang menyebabkannya; saya merasa tidak punya apa-apa lagi di rumah. Dia bilang sebaiknya saya memeriksa ulang. Jadi saya mencari dan mencari, dan akhirnya menemukan patung kepala lainnya yang dulu diberikan oleh ibu saya. Saya sudah lupa bahwa patung itu ada di dalam kotak harta saya. Jadi sekali lagi di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, saya membuangnya ke toilet.

"PRAKTEK" AYAH SAYA
Setelah dibaptis di Gereja Yesus Sejati, saya mulai bercerita pada ayah saya tentang Tuhan. Ayah saya berumur tujuh puluh tiga tahun. Sejak masih muda di Kamboja, ia sudah memraktekkan ilmu sihir. Seisi kota tahu bahwa tidak ada seorang pun yang bisa membunuhnya dengan tembakan atau tusukan. Ketika masih kecil, saya merasa bangga akan hal ini, tetapi tidak begitu memercayainya.

Ketika keluarga saya datang ke Amerika pada tahun 1981, kami diperlakukan dengan luar biasa buruk. Rumah kami dibakar dua kali. Pada kebakaran yang kedua, ayah saya keluar dan berkelahi dengan para pembakar rumah kami. Salah seorang di antaranya berusaha memukul ayah saya dengan tongkat baseball, tetapi ayah saya mengangkat tangan dan mematahkan tongkat itu menjadi dua. Setelah itu, saya mulai percaya bahwa ayah saya benar-benar menggunakan ilmu sihir.

Kali pertama ayah saya pergi ke gereja Kristen setelah datang di Amerika, ia jadi sakit parah dan hampir mati. "Sesembahan" ilmu sihirnya memperingatkan bahwa ia akan membunuh ayah saya jika tetap pergi ke gereja. Jadi dari tahun 1981 sampai 1999, ayah saya tidak pernah pergi ke gereja lagi.

Pada bulan Juni 1999, saya pergi mancing bersama ayah. Pada waktu itu saya sudah mengikuti kebaktian di Gereja Yesus Sejati secara rutin. Saya benar-benar percaya bahwa Tuhan itu ada dan saya merasakan kasih-Nya. Jadi saya berkata pada diri sendiri, ini kesempatan bagus untuk membicarakan Tuhan kepada ayah saya. Saya berkata, "Selama ini aku belum pernah meminta Ayah melakukan apa pun. Tapi aku sudah menemukan Tuhan, dan aku ingin Ayah datang ke gereja lima kali saja. Kalau setelah lima kali Ayah tidak merasakan apa pun, Ayah tidak perlu datang lagi." Dia sepakat, "Baiklah Nak, aku akan datang, demimu."

Malam itu, keponakan saya berada di kamar ayah. Tiba-tiba ia menjerit-jerit, "Kakek, Nenek, ada yang ingin membunuhku!" Ayah saya melihat ke sekeliling tapi di sana tidak ada siapa-siapa. Lalu ia sadar bahwa itu adalah sesembahannya. Esoknya ia menceritakan hal ini kepada saya, tetapi saya memintanya untuk tidak khawatir karena Tuhan itu Mahakuasa, dan hanya Dialah yang dapat mengambil nyawa manusia.

MENYINGKIRKAN MASA LALU
Jumat berikutnya pada saat PA, saya bertanya kepada saudara-saudari apa yang harus saya perbuat dengan semua peralatan berhala di kamar ayah saya. Mereka menyarankan supaya saya berdoa dan membuangnya, tapi siapa yang berani masuk ke kamarnya dan membuang semua itu? Ayah saya tidak akan melakukannya dan saya tidak cukup beriman untuk melakukannya sendiri. Jadi satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah berdoa.

Puji Tuhan, Sabtu itu ayah saya datang ke gereja. Setelah doa, saya menanyakan bagaimana perasaannya. Ia berkata, "Aku kedinginan dan gemetaran." Saya berpikir, sepertinya ada yang tidak beres. Benar saja, saya mendapati bahwa ia mengenakan kalung berliontin kepala besar. Jadi saya memberitahukan, "Itu sumber masalahnya, Ayah harus membuangnya. Ayah harus membuang semua berhala di kamar Ayah juga, kalau benar-benar ingin berdoa kepada Tuhan."

Jadi dengan bantuan Tuhan, ayah saya membuang semua peralatan berhalanya (termasuk kalungnya) dan ia mulai berdoa setiap malam.

HIDUP BARU
Sabat berikutnya, ayah saya datang ke gereja dan sekali lagi berlutut berdoa. Saya tidak pernah menjelaskan kepadanya seperti apa Roh Kudus itu. Setelah doa, ia berkata bahwa ia merasakan getaran di sekujur tubuhnya, dan rasanya sangat nyaman. Saya benar-benar bersyukur pada Tuhan.

Di minggu itu juga, kaki kiri ayah terasa amat sakit sampai-sampai tidak bisa jalan. Ia tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi pada dirinya. Dalam perjalanan ke gereja ia berkata kepada saya, "Kalau Tuhanmu itu Tuhan yang benar, biarlah Dia menyembuhkan kakiku." Jadi saya berpikir, "Tuhan, kita sudah mendapatkan dia." Ayah saya adalah orang yang memegang kata-katanya. Saya tahu bahwa yang harus kami lakukan hanyalah beriman dan berdoa, maka Tuhan akan menyembuhkannya.

Kakinya sakit selama seminggu, lalu pada suatu malam ia terbangun sambil berteriak kesakitan. Begitu terbangun, ia merasakan ada kuasa yang bergerak dari telapak kaki menuju lututnya, dan ia bisa berjalan. Ia memanggil saya dan menceritakan hal ini, membuat saya merasa sangat bahagia. Saudara-saudari di gereja sudah berdoa begitu giat untuknya.

Dalam perjalanan ke kebaktian Sabat berikutnya, ia berkata kepada saya, "Nak, aku akan mengikuti imanmu; aku sudah bilang pada ibumu bahwa aku akan mengikuti imanmu dan mengikuti Tuhanmu." Saya benar-benar bersyukur pada Tuhan. Ayah saya sudah menyembah berhala seumur hidupnya, sama seperti kakek-nenek dan buyut-buyutnya. Baginya, percaya Tuhan dan datang ke gereja adalah suatu mujizat.

Sekarang ayah, ibu, dan saudara laki-laki saya sudah mengikuti kebaktian Sabat secara rutin. Kasih dan kemurahan Tuhan jauh melampaui pemikiran saya. Kalau kita berdoa dengan kesungguhan hati dan iman, segala sesuatu menjadi mungkin melalui Tuhan. Segala kemuliaan dan pujian hanya bagi Tuhan Yesus.
Vuthy Nol-Mantia – Boston, Massachusetts, Amerika Serikat
Sumber: Manna #31 [Apr – Jun 2000]:03-05