Sabtu, 30 Mei 2020

KISAH BENNY BUDIANTO, ANAK DIVONIS KEBOCORAN JANTUNG, SEMBUH BERKAT MUJIZAT

Ujian seolah tak pernah berhenti dalam rumah tangga Benny Budianto.
Di tahun 2007, dia harus kehilangan putra sulungnya Juan yang baru berusia 11 bulan. Peristiwa itupun menimbulkan trauma yang hebat atas dirinya, khususnya dalam tahun-tahun pertama setelah kehilangan.
Benny dan istrinya Agnes, sendiri tak menyangka putra kecil mereka yang begitu disayangi tersebut harus diambil dari hidup mereka.
“Saya sempat ke psikolog untuk mengecek kondisi saya. Karena kondisi saya mengalami trauma. Sempat psikolog menganjurkan untuk mengkonsumsi obat penenang setiap malam biar saya tidur tenang,” jelas Benny.
Trauma yang dialami Benny dan istrinya tak begitu saja hilang. Namun, mereka tetap tak berhenti berharap untuk kembali mendapatkan anak.
Pada akhirnya, mereka lalu dikarunia seorang putri. Dan setelah berusia setahun, mereka kembali dikarunia seorang putra, yang diberi nama Jonathan.
Bagi Benny, dikarunia lagi anak laki-laki setelah kematian Juan adalah suatu anugerah. Sayangnya, hal itu sama sekali gak mudah karena Jonathan lahir dalam kondisi tidak sempurna.
“Anak kami yang ketiga Jonathan divonis dokter ada kebocoran jantung tiga lubang. Waktu itu saya sangat terpukul mendengar anak kami divonis seperti itu dan serasa badan sangat lemas saya mendengarnya. Sempat tanya ke Tuhan, ‘Tuhan ini ujian apa lagi buat saya.’” ucapnya.
Gak mudah memang menerima kenyataan itu. Namun Benny dan Agnes berusaha untuk mencerna rencana Tuhan atas hidup mereka. Hal inilah yang membuat mereka berharap sepenuhnya pada mujizat Tuhan terjadi atas kesembuhan Jonathan.
“Anak itu saya bawa ke ibadah bersama istri, saya gendong. Kami percaya bahwa Tuhan dapat menutup tiga lubang itu. Waktu pas ibadah itu, saya merasakan hadirat Tuhan nyata,” jelasnya.
Meski keadaannya masih belum berubah, Benny dan Agnes tetap percaya dan beriman kalau putra ketiga mereka itu akan mengalami mujizat kesembuhan dari Tuhan.
Gak ada yang lebih damai dan sukacita bagi Benny ketika dia menaruhkan seluruh beban dan kekuatirannya kepada Tuhan. Dia bahkan mengklaim firman yang dia dengarkan lewat Filipi 4: 13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”, terjadi atas hidupnya.
Bersama Tuhan, Benny akhirnya berhasil menghadapi kondisi penyakit yang dialami putranya. Sampai pada akhirnya Tuhan bertindak dan menyembuh kondisi Jonathan secara perlahan-lahan.
“Pada saat itu, umur tiga bulan lubangnya masih tiga. Terus saya datang (check up) satu bulan ke Surabaya, dokter akhirnya ngomong gini, ‘Bu sebelum satu tahun harus dioperasi.’ Setelah itu saya datang umur 10 bulan waktu itu,” terang Agnes.
Siapa sangka, saat proses operasi akan dilakukan dokter yang menangani Jonathan mengakui jika lubang jantungnya hanya tampak satu. Sementara dua diantaranya sudah tertutup.
“Jadi pas kontrol yang 10 bulan itu, lubang sudah ketutup dua. Jadi tinggal satu, satunya itu operasi,” jelas Agnes.
Proses operasi pun berhasil dilakukan. Jonathan akhirnya dinyatakan sembuh total. Dan kesembuhan itu dianggap sebagai mujizat dari Tuhan.
Tuhan bukan hanya membantu mereka untuk kuat dan teguh dalam menghadapi penyakit putranya, tapi Tuhan juga memberikan sepaket komplit pertolongan atas pasangan ini yaitu menyembuhkan Jonathan dan menyediakan semua biaya medis yang dibutuhkan untuk operasi Jonathan.
“Dengan prediksi dokter biaya 100 juta, kami pulang dengan hanya membayar satu juta. Dan itu yang kami rasakan suatu mujizat dari Tuhan juga,” ucap Benny.
Mujizat Tuhan yang terjadi atas Jonathan, membuat Benny percaya sepenuhnya bahwa Tuhan sanggup mengubahkan setiap keadaan. Asalkan kita mau menaruh sepenuhnya iman kita di dalam Dia.

Senin, 25 Mei 2020

RUT FELICIA, AKHIRNYA BISA HAMIL SETELAH DIVONIS MANDUL 7 DOKTER

Satu tahun setelah menikah, Rut Felicia dan suami Adrianus mulai bertanya-tanya kenapa mereka tak kunjung dikarunia anak.
Di tahun 2016, Rut memutuskan untuk menjalani pemeriksaan ke dokter kandungan. Bukannya mendapat kabar baik, Rut malah divonis mandul. Gak puas dengan satu hasil pemeriksaan, pasangan ini lalu mencari dokter kandungan lain untuk hasil pemeriksaan yang mungkin bisa berbeda. Sayangnya, lebih dari 7 dokter menyampaikan hasil yang sama bahkan kondisi kesehatan Rut sangat tidak memungkinkannya untuk mempunyai anak karena mengidap penyakit PCOS (sindrom ovarium polikistik) dan juga miom yang cukup besar di dalam rahimnya.
“Kita hancur hati ya pada waktu itu. Terlebih istri sudah divonis lebih dari 7 dokter tidak dapat mengandung. Karena 90% dokter mengatakan bahwa tidak dapat mengandung dari hasil USG karena ada kista dan ada pcos nya,” kata Adrianus suaminya.
Secara pribadi, Rut juga mengakui bahwa divonis mandul benar-benar membuatnya terpuruk. Dia bahkan gak bisa menerima kenapa Tuhan harus mengijinkannya untuk mengidap penyakit tersebut.
“Sebagai seorang wanita, tentu saya merasa sangat gagal. Saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Padahal impian seorang wanita salah satunya adalah bisa menjadi seorang ibu,” terang Rut.
Tanpa bisa berbuat apa-apa, Rut dan Adrianus pun hanya bisa berdoa setiap hari. Berharap Tuhan masih memberi mereka kesempatan untuk menjadi orangtua bagi anak-anak mereka.
Dinubuatkan Akan Hamil
Divonis mandul memang membuat pasangan ini hanya bsia sedikit berharap kepada Tuhan.
Tapi siapa sangka, tahun 2017 adalah tahun dimana mereka menerima kabar baik saat menghadiri sebuah ibadah di kota tempat mereka tinggal, Yogyakarta.
“Tanggal 5 April 2017, saat itu akan diadakan suatu ibadah. Di akhir ibadah hamba Tuhan tersebut mengatakan ‘Bagi pasangan suami istri yang ingin memiliki anak, tetapi memiliki kendala, atau memiliki hambatan atau dikatakan dokter tidak dapat memiliki anak boleh maju ke depan.’” terang Rut.
Dalam posisi dipenuhi hadirat Tuhan yang begitu penuh, Rut merasakan ada sesuatu yang bergerak di dalam perutnya.
“Kemudian tiba saat ketika saya didoakan, sebelum berdoa hamba Tuhan ini kok berkata kepada saya ‘Mother, next year you’ll have a baby. And your baby is a boy.’ (Ibu tahun depan kamu akan punya seorang anak. Dan anakmu itu laki-laki.) Waktu itu saya amini, saya benar-benar mau percaya kepada Tuhan. Bahwa apa yang dinubuatkan oleh hamba Tuhan itu pasti terjadi dalam kehidupan saya,” ucapnya.
Walaupun secara medis dia mengaku mustahil punya anak, tapi Rut hanya perlu untuk percaya saja dengan nubuatan tersebut.
Positif Hamil
Beberapa waktu Rut mulai berpikir kenapa diriya nggak datang bulan juga. Diapun memutuskan untuk melakukan tespek kehamilan.
Dengan hati yang deg-degan, dia terus menunggu hasilnya. Betapa bahagianya Rut dengan hasil yang dia lihat. Positif hamil!
Untuk memastikan kebenarannya, dia memutuskan untuk memeriksakan kandungannya ke dokter.
“Kemudian dokter melihat hasil tes lab tersebut dan ketika dilakukan USG dokter mengatakan, ‘Ibu pantas saja tidak haid coba dilihat ini ada kantong janin di sini ibu. Ibu tuh hamil!’ Ketika itu saya rasanya seperti terbang di awan-awan. Saya bahagia sekali!”
Mendapat kabar bahagia kalau dirinya hamil membuat Rut merasa kalau Tuhan menjawab doanya dalam waktu yang sangat cepat.
Pada akhir taun 2018, seorang bayi laki-laki lahir di tengah keluarga Rut dan Adrianus. Bagi mereka, kehadiran anak itu jadi bukti mujizat dari Tuhan. “Dan saat itu saya percaya, bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan. Ketika kita mengangkat tangan, saya percaya Tuhan turun tangan di dalam kehidupan kita. Dan segala hal yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. Segala hal yang sulit itu menjadi sangat mudah di hadapan Tuhan,” terangnya.
Iman yang ditaruh oleh pasangan ini kepada Tuhan membuktikan kalau Tuhan berkuasa membalikkan segala sesuatu dan Dia adalah Tuhan yang mampu mematahkan setiap perkataan mustahil manusia.

Rabu, 20 Mei 2020

MULYATI SALIM : BARU DUA BULAN HAMIL, AKU MALAH DIVONIS AKAN MATI

Pasangan mana yang gak bahagia dikarunia momongan gak lama setelah menikah? Semua orang mendambakan hal itu.
Tapi gak semua orang bisa mengalaminya. Hal inilah yang dihadapi pasangan Mulyati dan Budiman Salim yang mengikat janji suci pernikahan pada bulan Desember 2004. Mereka harus sabar mendapatkan momongan setelah lima tahun menikah.
Harapan mereka akhirnya dikabulkan Tuhan. Tepat pada 17 November 2009 Mulyati positif hamil. Kehamilan itu tentu saja membawa kebahagiaan yang gak terkira bagi pasangan ini.
Untuk memastikan kondisi kandungannya, mereka pun melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.
“Saya datang ke sana dokternya heran. ‘Loh kok ada yang menyumbat ya? Antara miom, tumor, kok bisa ya ada bayi di tengah-tengah sekelilingnya tumor semua,” terang Mulyati.
Gak puas dengan hasil pemeriksaan dokter, Budiman akhirnya merujuk sang istri ke dokter kandungan lain. Bukannya mendapat kabar yang lebih baik, sang dokter malah memvonis Mulyati meninggal dalam waktu dua minggu.
“Secara manusia saya bingung waktu dokter bilang, ‘Tumor ini tidak membahayakan janinnya.’ Tapi membahayakan nyawa saya. Jadi dia bilang, ‘Ini kasusnya seribu banding satu. Jadi lebih baik digugurkan.’” katanya.
Mempertimbangkan keselamatannya, sang dokter pun memberikan pilihan, antara menyelamatkan sang ibu atau mengugurkan kandungannya.
Mulyati pun gak mampu berkata-kata. Dia benar-benar gak menyangka akan mengalami kondisi ini di tengah sukacita mereka akan mendapatkan momongan.
Memilih mengugurkan kandungan membuat Mulyati benar-benar depresi. Dia gak sanggup kalau harus membunuh bayi yang ada dalam kandungannya. Karena baginya mengugurkan berarti membunuh satu nyawa.  
“Saya menangis di hadapan Tuhan. Karena saya bayi ini harus digugurkan. Kemudian saya telpon mama saya, mama saya umur kamu masih muda. Kamu masih bisa punya anak. Kamu ikuti kata dokter,” katanya.
Gak patah arang, Mulyati dan Budiman pun berusaha mencari solusi dari dokter lain. Mereka berpikir barangkali akan ada pilihan lain selain mengugurkan kandungannya. Sayangnya, dari tujuh dokter yang mereka temui semuanya menyampaikan hal yang sama. Mengugurkan kandungannya adalah pilihan terbaik untuk menyelamatkan nyawa Mulyati.
Meski di satu sisi Mulyati dihantui oleh risiko fatal yang akan dihadapinya jika mempertahankan kandungan. Namun dengan iman dia memilih untuk mempertahankannya. “Saya di situ doa sama suami, sepakat. Saya hanya mengandalkan Tuhan.”
Sebagai manusia kita pasti akan memutuskan mengikuti apa kata manusia bukan? Namun dengan memegang kebenaran firman Tuhan dan mengimaninya, Mulyati belajar untuk menghadapi ketakutannya dengan sikap berserah.
Dalam penyerahan diri yang total pula dia mendapatkan pengharapan dari Tuhan.
“Waktu saya doa sama suami Tuhan berbicara kepada saya di dalam Matius 7 ayat 1 sampai 10. ‘Jika aku menemukan iman sebesar biji sesawi saja engkau akan sembuh.’ Saya bangkit. Saya berkata kepada Tuhan, ‘Ini hambaMu Tuhan. Bukan lagi dengan kekuatan saya lagi. Tapi biarlah dengan kekuatan RohMu yang tinggal di dalam saya.’” terangnya.
Waktu berlalu, kandungan Mulyati terus berkembang. Meskipun rasa sakit kerap menyerangnya, namun Mulyati tetap bertahan karena dia percaya pada perlindungan Tuhan.
Di bulan keenam kehamilan, atas saran suaminya, mereka pun mencari solusi yang tepat dari dokter spesialis kandungan sekaligus tumor.
Tuhan membukakan jalan bagi pasangan ini dengan bertemu seorang dokter yang mau menangani kondisi Mulyati sampai masa persalinan.
Mujizat Itu Masih Ada
Memasuki ruang operasi, dokter mengambil langkah dengan mengangkat bayi sekaligus tumor yang ada di dalam kandungannya.
Saat itu, dokter hanya butuh waktu 10 menit untuk mengangkat kantong janin. Kemudian dilanjut dengan mengangkat tumor seberat 3 kilo dari dalam rahimnya.
Bahkan dokter yang menanganinya mengaku takjub karena kasus janin yang berkembang berdempetan dengan tumor terbilang langka terjadi. Menurutnya itu adalah mujizat dari Tuhan.
“Dia bilang ini adalah mujizat Tuhan. Jadi angkat bayinya 10 menit beratnya 2.2 kilo, begitu diangkat saya nangis. Saya terharu. Saya meneteskan air mata. Saya bilang, ‘Tuhan Engkau luar biasa Tuhan. Kau berikan bayi yang luar biasa buat hidup saya.’”katanya.
Ya, benar mujizat Tuhan itu masih ada. Asal kita mau berharap sepenuhnya pada Dia, maka apa saja yang kita kehendaki akan diberikannya.
Jadi, kalau kamu mau mengalami mujizat dari Tuhan, berharaplah selalu kepada Dia. Jangan biarkan rasa putus asa dan depresimu menghalanginya untuk bekerja dengan luar biasa dalam hidupmu.

Jumat, 15 Mei 2020

GAVRILLA SETIAWAN, MASIH MUDA TAPI DIVONIS KANKER STADIUM 4

Gavrilla Setiawan adalah salah satu anak muda yang selalu energik dan aktif. Tapi siapa sangka diusianya yang masih begitu muda, Gavrilla justru divonis kena kanker kelenjar getah bening.
Awal kejadian divonis kanker
Setelah lulus SMA, Gavrilla memutuskan untuk kuliah dan mengambil jurusan Sastra China di salah satu perguruan tinggi di Indonesia.
Selama kuliah, bisa dibilang Gavrilla adalah salah satu mahasiswa yang berprestasi. Terpilih sebagai perwakilan lomba dari kampusnya sampai meraih penghargaan di lomba-lomba Nasional adalah masa kesuksesan dalam hidupnya.
Namun saat lagi senang-senangnya menikmati kesuksesan itu, masalah besar dalam hidupnya pun muncul. Demam yang dia anggap biasa saja terjadi jadi gejala dari penyakit mematikan yang bersarang di tubuhnya.
“Awalnya saya cuma berasa demam. Pada saat demam pun itu saya lagi mendapatkan penghargaan di panggung. Singkat cerita saya divonis dokter ada tumor sebesar 8 senti di belakang rongga dada saya,” ungkap Gavrilla.
Dari hasil pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter yang menanganinya di Penang, Malaysia, Gavrilla divonis kanker getah bening stadium 2.
Shock? Sudah tentu dialaminya. Apalagi penyakit tersebut muncul justru diusianya yang masih sangat muda. Gak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan kesedihan hatinya waktu itu.
“Saya gak terpikirkan bakal kena sakit seperti itu. Apalagi saya orang yang sangat enerjik. Saya orang yang sangat-sangat aktif, ingin meraih semua prestasi dalam hidup saya. Pada saat itu jujur saya nangis, saya gak kuat. Tuhan kenapa mesti saya?” terangnya.
Jalani pengobatan panjang
Selaa tujuh bulan, Gavrilla harus beristirahat sementara dari kesibukannya di kampus. Dia hanya fokus pada perawatan dan kesembuhannya, mulai dari menjalani biopsi, kemoterapi sampai konsultasi lanjutan.
Perjuangan Gavrilla pun membuahkan hasil. Pada bulan Juli 2015, dia dinyatakan sembuh dari kanker. Dia pun berkesempatan untuk ikut wisuda.


Kembali divonis kanker
Menderita kanker ibarat mimpi buruk dalam hidupnya. Setelah dinyatakan sembuh total, rupanya penyakit ini kembali muncul lagi. Sama halnya seperti sebelumnya, penyakit ini muncul ketika Gavrilla sedang semangatnya meraih impiannya.
“Di saat saya senang-senangnya mewujudkan impian cita-cita saya kembali, pada tahun 2017 teptnya bulan Maret, saya divonis dokter (kalau) kankernya kembali lagi terus sudah menyebar sampai ke paru-paru. Dokter bilang itu sudah stadium 4,” katanya.
Gavrilla pun kembali harus menjalani pengobatan sama seperti apa yang dia jalani sebelumnya selama tiga bulan.
Melewati masa-masa kritis tersebut, hasil pemeriksaan dokter menyatakan Gavrilla sudah sembuh.
Belum lagi sempat menikmati kebebasanny untuk kembali aktif dengan musiknya, dia kembali divonis kanker. Sel kanker dalam tubuhnya nyatanya ditemukan aktif dan terus tumbuh.
“Pada saat hasil keluar, yang di radiasi sudah bersih. Tapi sel kankernya muncul kembali. Seperti gak ada habis-habisnya sel kanker itu muncul dalam hidup saya. Dan dokter kembali mengatakan saya harus kemo,” ungkapnya.
Saat itu bahkan menangispun dia serasa tak lagi sanggup. Dia sama sekali gak habis pikir kenapa sel kanker itu terus muncul. Sebagai manusia, dia mengaku sudah gak kuat dan memilih menyerah saja.
“Aku hanya bisa diam. Bisa dibilang di situ saya sudah hopeless. Saya udah gak ada harapan hidup…Ketakutan, khawatir itu pasti muncul. Semua orang wajar takut mati. Apalagi takut menghadapi penyakit yang gak main-main. Saya berdoa, “Tuhan jalan mana yang harus saya ambil?” Saya jujur udah gak mau kemo, saya udah gak mau radiasi. Saya lebih banyak berdiam diri sama Tuhan,” jelasnya.
Mencari wajah Tuhan dan menemukan kesembuhan
Di tengah masa sakitnya, Gavrilla memilih untuk lebih banyak mencari wajah Tuhan. Dia memilih untuk mendengar suara Tuhan dalam kesendiriannya.
Seperti yang difirmankan Tuhan bahwa barang siapa yang mencari Tuhan maka dia akan menemukan. Hal yang sama pun dialami oleh Gavrilla. Tuhan seolah menuntutnya untuk menjalani pola hidup sehat.
“Saya fokus sama Tuhan setiap hari. Dan sampai detik ini saya ada di sini saya bisa sehat. Saya bisa survive sampai sekarang ini semua itu karena mujizat Tuhan,” pungkasnya.
Meskipun berat, namun pada akhirnya dia mengaku bersyukur karena Tuhan mengijinkan penyakit tersebut untuk semakin mendewasakannya secara pribadi.
Bakatnya dalam bidang musik terus diasah dan setelah sembuh, Gavrilla pun menjalani beasiswa di Sanghai Konservatory of Music pada tahun 2018.

Minggu, 10 Mei 2020

KEZIA CHRISTINE, MUJIZAT KESEMBUHAN SEORANG PENGIDAP KANKER LIDAH

“Saya dengar vonis dokter dipikiran saya, saya takut. Saya mati gitu..” ungkap Kezia Christine, seorang penyintas kanker lidah. 
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kezia merasa begitu putus asa. Sariawan di bagian lidah yang tak kunjung sembuh rupanya jadi akar dari kemunculan kanker. Setelah menjalani proses pemeriksaan, dia harus menerima kenyataan bahwa dia mengidap kanker lidah.
Tak ayal, kenyataan pahit ini harus terjadi saat dirinya ingin sekali membahagiakan kedua orangtuanya dan meraih karir impiannya.
“Saya divonis cancer (kanker ) tahun 2 011. Gejalanya karena sariawan yang tidak kunjung sembuh. Dan saya juga berusaha mencari dokter ke sana kemari. Sampai beberapa dokter, mereka pembicaraan vonisnya sama. Kamu suspect, kanker lidah harus dibiopsi untuk mengetahui stadium dan tambahannya menyebar kemana. Jadi saat divonis itu mimpi saya seperti hilang,” jelas Kezia.
Sekalipun penyakit ini membuat hati Kezia hancur, namun dia tak menyerah begitu saja. Dia berusaha mencari pengobatan terbaik dari rumah sakit. Dia mengikuti prosedur yang ditetapkan termasuk menjalani MRI dan hal lainnya. 
Hanya keinginannya untuk tetap hiduplah yang membuatnya bertahan dan bahkan mendapatkan pertolongan yang tak disangka-sangka dari Tuhan.
Jika saat itu Kezia masih belum benar-benar percaya Tuhan. Maka di suatu momen, Tuhan tampanya sedang bekerja atas hidupnya. Melalui kakaknya, Kezia pun diajak menghadiri sebuah ibadah gereja. Di sanalah dia mengaku mengalami pengalaman spiritual yang belum pernah dia alami sebelumnya.
“Saya sempat kanget, mungkin karena belum terbiasa dengan situasi gereja tersebut. Saya lihat orang-orang didoakan, saya melihat orang-orang menangis, jatuh saat didoakan. Itu sempat membuat saya takut terus terang. Sempat membuat saya bingung. Sebenarnya saya salah gak sih ke sini,” demikian penuturan Kezia.
Tapi siapa sangka momen itulah yang membawanya untuk mengenal dan menerima Yesus.
“Seorang pendeta bertanya kepada saya, maukah kamu menerima Tuhan Yesus sebagai juru slamat kamu? Dan anehnya saya menjawab saya mau. Saya didoakan, ditumpang tangan tepatnya oleh pendeta. Saya jatuh, saya merem lama, saya mangis. Saat itu saya merasa damai yang belum pernah saya rasakan dalam hidup saya. Saya merasa nyaman, aman lalu saya merasa seperti dipeluk. Saya merasa dijaga,” ungkapnya.
Setelah momen itu, dia pun mulai mencoba untuk membiasakan dirinya berdoa dan meminta kekuatan dari Tuhan untuk bisa melewati penyakit mematikan yang sedang dia hadapi.

Mengingat pengobatan yang tidak murah, bahkan suami Kezia pun mengaku saat itu tidak mampu menanggung seluruh biayanya. Untungnya, Tuhan menyediakan seluruh biaya yang diperlukan melalui kebaikan dari atasan Kezia saat itu.
Dua minggu sebelum operasi, Kezia pun tak putus-putusnya terus berdoa dan meminta kekuatan dari Tuhan.
Bagi Kezia, bisa dioperasi dan mendapatkan bantuan dana adalah sebuah mujizat. Dan dia berharap operasi yang dijalaninya di Singapura saat itu akan berhasil.
“Sangat disayangkan operasi pertama saya kurang berhasil. Karena saat dokter menusukkan jarumnya ke lidah saya darahnya tidak mengalir. Mati. Jadi saya mesti operasi pembetulan yang ke-2 supaya lidahnya itu bisa hidup,” terangnya.
JJIka di operasi yang pertama, Kezia sendiri mengalami gangguan yang hampir membuatnya tidak bisa bernapas. Maka di operasi yang kedua dia mengaku mengalami hal yang benar-benar mengerikan yaitu antara hidup dan mati.
“Operasi yang kedua itu, saya merasa hampir mati. Karena saya sudah mendapati diri saya seperti di suatu tempat yang sangat putih, yang luas. Tidak ada pembatas, tidak ada orang. Hanya suara teriakan,” ungkapn Kezia menerangkan pengalaman spiritual yang dilewatinya.
Namun di tengah pengalaman ituah Kezia mendengar sebuah suara yang memintanya untuk pulang.
“Tuhan memanggil saya kembali. Tuhan berkata, “Anakku pulanglah” Karena anak saya masih menunggu di rumah. Saya merasa langsung roh saya tertarik dan saya bisa membuka mata saya dan saya melihat orang-orang panik. Karena mereka berkata bahwa saya sudah pucat, lidah saya sudah biru saya juga sudah biru. Mereka mengira saya tidak akan selamat,” terangnya.
Setelah operasi tahap ke-2 selesai, dia pun harus melewati proses pemulihan yang sangat lama. Lidahnya yang sudah kehilangan fungsi akibat kanker harus kembali dilatih berbicara. Dia juga harus menjalani terapi untuk bisa makan dan menelan melalui tenggorokannya. 
Sebagai manusia biasa, Kezia mengaku bahwa dia tak akan pernah sanggup melewati proses pengobatan panjang itu jika hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Dan dia mengaku bahwa kekuatan yang dia peroleh asalnya dari setiap doa-doa yang sudah dipanjatkan baginya baik dari doa-doanya maupun dari hamba Tuhan dan orang-orang yang dikasihinya.
“Saya mendapatkan kekuatan dari uluran tangan Tuhan. Jadi, saya mendengar lagu rohani saat saya lemah, saya berdoa dan saya merasa kuat. Saya berteriak kepada Tuhan. Tuhan tolong saya. Kadang prose situ sangat sakit. Saya sampai pikir saya gak bakal sanggup melalui ini semua. Tapi seiringnya waktu, sampai detik ini sampai sekarang saya sudah Sembilan tahun, Tuhan tetap bersama saya,” ungkapnya.
Kesembuhan yang dialaminya itu pun dharap bisa menjadi kesaksian bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang hidup dan yang setia.

Selasa, 05 Mei 2020

JANGAN BIARKAN MULUTMU TERKUNCI, PUJILAH TUHAN SEKARANG JUGA !

Jangan Biarkan Mulutmu Terkunci, Pujilah Tuhan Sekarang Juga!

1 Tesalonika 5:8
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Bacaan Alkitab Setahun Mazmur 79; Roma 7; Ulangan 5-6
Helen Berhane menghabiskan waktu hampir tiga tahun di penjara militer Eritrea karena imannya. Ia dan beberapa wanita dimasukkan dalam penjara peti kemas besi yang sudah tua. Disana suhunya sangat panas dan kutu serta lalat beterbangan dimana-mana.
Semua orang merasa putus asa, dan banyak wanita yang berada di peti kemas itu marah. Mereka bertanya kepada Helen, apa yang harus mereka lakukan. Helen tahu bahwa wanita-wanita itu berharap bahwa ia akan berkata, "Kita harus berteriak atau memukul-mukul dinding peti kemas itu, dan memberitahu orang-orang yang memenjarakan mereka bahwa perlakuan terhadap mereka tidak bisa diterima."
Tapi saat itu Helen diingatkan bahwa ia pernah membaca tentang orang-orang Kristen, mereka itu seperti burung bulbul, tidak bisa dilarang bernyanyi sekalipun di penjara, dan ia menyarankan agar mereka semua bernyanyi.
“Kita harus memuji Tuhan sekalipun ditengah-tengah lalat dan kutu ini, sekalipun kepanasan. Kita harus bersyukur kepada Tuhan apapun kondisi kita,” demikian ucapnya kala itu.
Jadi ia dan para tahanan wanita lainnya memuji Tuhan, dan berdoa. Bahkan ia membagikan Firman Tuhan berdasarkan apa yang ia ingat.
Sama seperti Helen Berhane, kita saat ini menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan bahkan menakutkan. Penyebaran corona virus menghantui semua orang, sebagian mungkin sudah bekerja di rumah dan anak-anak diliburkan dari sekolah.
Mungkin kamu juga bertanya seperti wanita-wanita yang dipenjara bersama Helen, “Apa yang harus kita lakukan menghadapi situasi ini?”
Jawabannya adalah sama seperti yang disampaikan oleh Helen, mari kita memuji Tuhan di tengah situasi ini. Mari menyembah Allah kita yang adalah pencipta langit dan bumi. Mari kita proklamirkan kemenangan dari Kerajaan Allah melalui doa-doa kita.
Ajaklah orang-orang dirumahmu untuk memuji Tuhan dan berdoa, serta memperkatakan Firman Tuhan. Terus bangunlah imanmu, dan ijinkan Dia bekerja dalam situasi yang kamu hadapi saat ini.
Percayalah bahwa ada kuasa dalam puji-pujian, karena pujian dan penyembahan kita akan membuka pintu bagi hadirat Tuhan untuk semakin nyata dalam hidup kita.
Puji-pujian kita juga akan membangun iman kita, karena firman iman itu kita perkatakan dan kita dengar dengan telinga kita. Jika tembok Yeriko bisa runtuh oleh sorak-sorai orang Israel dan belenggu serta pintu penjara bisa terbuka saat Paulus dan Silas memuji Tuhan, maka hal yang sama juga akan terjadi dalam hidup kita.
Yuk kita isi hari-hari kita dengan puji-pujian bagi Allah kita.