Sabtu, 20 Juni 2020

HENRIETA SUZANNA, KEHILANGAN GAMBAR DIRI YANG BENAR KARENA ULAH LAKI-LAKI

Hidup Henrieta Suzanna mulai hancur-hancuran sejak keluarganya berantakan. Dia mulai membenci papanya karena tega menyelingkuhi mamanya sendiri.
Dia dan mamanya pun memutuskan kembali ke Jakarta dan hidup berdua saja.
Sayangnya, kondisi kesehatan sang mama terus menurun. Dari hasil diagnosa dokter, dia dinyatakan mengidap kanker stadium empat.
Hati Henrieta semakin hancur. Apalagi waktu itu dia sama sekali gak bisa berbuat apa-apa karena uang pun dia sama sekali tak punya.
“Jadi ya shock banget waktu dengar itu. Kanget,” ucap Hendrieta.
Sebagai manusia, dia mengaku bahwa harapan sang mama untuk sembuh dari penyakit tersebut sepertinya mustahil. Kenyataan itulah yang mendorong Hendrieta untuk bisa menerima kepergian sang mama dengan ikhlas.
“Lagi-lagi saya melihat mama saya yang kesakitan itu, rasanya udah kayak ngak tega. Kayak lebih baik ya udahlah Tuhan kalau mau ambil ya ambil. Walaupun waktu itu saya gak tahu bagaimana hidup saya (ke depan),” terangnya.
Pada akhirnya sang mama meninggal dunia. Dengan ikhlas, dia pun melepaskan sang mama dengan tenang. Meskipun dia tak memungkiri jika kepergian mamanya terasa seperti separuh darinya hilang.
Diputuskan sang pacar sampai hidup makin berantakan
Sepeninggalan sang mama, hidup Henrieta semakin hancur. Dia mengalami depresi yang begitu berat dengan hanya bisa melamun dan merokok sepanjang hari tanpa makan.
Kebiasaan ini akhirnya membuat tubuhnya semakin kurus. Dan hal inilah yang jadi alasan kekasihnya untuk memintanya putus.
“Waktu akhirnya dia memutuskan (hubungan kami) itu bisa dibilang titik yang paling rendah setelah mama saya gak ada. Karena saya kayak gak punya siapa-siapa lagi. Nah dari situlah jadi mulai tambah hancur-hancuran,”katanya.
Henrieta merasa hidupnya gak berarti dan gak ada satu orangpun yang akan mencintai dan menghargainya. Di tengah rasa putus asa itulah pikiran untuk bunuh diri sempat terbersit dalam benaknya.
Bangkit dari keterpurukan
Pikiran untuk bunuh diri sama sekali tak terjadi. Di tengah kegamangannya, dia pun mencari pertolongan dari kakak rohaninya.
Dengan penuh uraian air mata, Henrieta mengungkapkan semua beban hidupnya.
“Dengan cepat waktu itu saya tahu bahwa kondisinya sedang tidak baik. Saya langsung berangkat menjemput Susan di kos-kosannya. Kemudian saya bawa dia ke rumah saya dan malamnya saya baru betul-betul mengajak Susan untuk berbicara dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya,” kata Lia, kakak rohaninya.
Lia melihat Henrieta sedang dalam ketakutan di tengah kesendiriannya. Dan berkat bimbingannya dan dukungan keluarganya, gambar diri Henrieta perlahan-lahan pulih.
“Yang aku rasain waktu aku berdoa, waktu aku nangis, aku ngak ngerasain yang namanya dihakimin, aku ngak ngerasain ditolak. Karena kalau bisa dibilang, Dia Tuhan aku udah ngak pantas lagi bicara sama Dia. Tapi saat itu saya bisa ngerasain Dia peluk aku dan Dia kayak, kalau aku bayangin waktu itu aku ngerasain yang namanya Tuhan itu senyum kayak welcome back,” terangnya.
Dia tahu bahwa Tuhan sendiri senang ketika dia mau kembali ke jalanNya. Dan itu adalah momen yang begitu spesial karena lewat hal itu Henrieta perlahan-lahan bangkit dari keterpurukannya.
Bahkan yang paling membahagiakan, hubungannya dengan papanya dipulihkan oleh Tuhan. Dengan rendah hati dia pun mengampuni papanya.

Senin, 15 Juni 2020

CAHYANING, KEKASIHKU TETAP SETIA WALAU AKU MENGIDAP KANKER

“Saya bilang ‘Sudah aja. Sudah cukup. Karena udah sakit semua. Udah gak kuat. Lebih baik kamu carilah pacar yang lain yang lebih sehat. Jangan sama aku’” ucap Cahyaning kepada kekasihnya Yosep yang setia mendampinginya saat menjalani proses perawatan dari penyakit kanker langka yang dideritanya.
Mungkin kisah semacam ini persis seperti di dalam film. Tapi kisah Cahyaning benar-benar nyata. Karena tak lagi sanggup menahan sel kanker yang tumbuh di dalam tubuhnya, dia pun terpaksa meminta Yosep untuk meninggalkannya.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi kepada Cahyaning?
Dokter memvonis Cahyaning menderita kanker. Kenyataan itu harus diterima dengan begitu pahit. Apalagi saat itu Cahyaning masih muda dan belum menikah.
Sekalipun begitu, kekasihnya Yosep tetap menerima dia apa adanya. Bahkan dia memberikan dukungan penuh kepada wanita yang dicintainya itu selama proses pemulihan.
“Ini adalah kanker yang sangat agresif dan sangat langka. Setelah kemo yang keempat itu benar-benar keluar darah dari mulut. Mau minum apa aja gak bisa. Begitu kalau misalnya minum pasti muntah darah. Dokter udah bilang bahwa kankermu kanker yang sangat langka dan agresif,” terang Cahyaning.
Di mata Yosep, Cahyaning adalah sosok yang begitu kuat. Sekalipun penyakit itu membuatnya menderita, namun Cahyaning tetap gigih menghadapinya. Itulah yang membuatnya tetap setia mendampingi sang kekasih.
“Dia berulang kali sih (bilang begitu supaya meninggalkan dia),” katanya.
Mujizat terjadi atas Cahyaning
Di suatu waktu, kondisi Cahyaning mendadak kritis. Dia bahkan hampir meninggal dunia.
Namun berkat iman dan doa Yosep, Cahyaning mengalami mujizat kesembuhan.
“Dia menyadari bahwa mungkin hidupku gak lama. Bagi saya, hidup itu kan Tuhan yang ngatur. Kalau kita percaya mujizat itu ada, semua itu pasti terjadi,” katanya.
Saat tim dokter memeriksa kondisi Cahyaning, di luar Yosep mulai berdoa. Dia meminta mujizat Tuhan terjadi. “Apa pun yang terjadi Tuhan Engkau yang punya rencana.” ucapnya dalam doa.
Yosep mengaku bahwa cintalah yang membuatnya kuat dan setia. Baginya Cahyaning adalah separuh dari hidupnya dan yang akan menjadi teman hidupnya kelak. Apapun yang terjadi, dia menyerahkan hidup kekasihnya sepenuhnya kepada Tuhan.
Keesokan harinya, sesuatu pun terjadi kepada Cahyaning.
“Ini hari minggu, saya pengen ibadah banget karena udah lama banget kan. Aku mau ke gereja. Hampir enam bukan di rumah sakit,” kata Cahyaning.
Setelah itu, tenggorokannya merasa kering dan haus. Dia lalu melihat segelas air putih dan mengambilnya sembari berbisik. ‘Tuhan saya haus dan saya lapar sekali tolong berkati air ini Tuhan. Aku ingin minum seteguk saja. Berkati air ini menjadi air kesembuhan buat aku. Engkau keluarkan semua sakit penyakit yang di dalam tubuhku melalui air ini.’”doanya.
Setelah itulah sesuatu terjadi.
“Saya bukan muntah darah tapi saya muntah jaringan. Seperti plasenta. Saya meyakini, mengimani, dan mengamini bahwa itu adalah mujizat yang Tuhan berikan kepada saya. Tuhan angkat semua sakit penyakit saya waktu itu,” ucapnya.
Setelah peristiwa itu, kondisi kesehatan Cahyaning perlahan membaik. Dokter bahkan memastikan kalau dia sudah diperbolehkan untuk pulang.
25 Juli 2004 adalah momen bersejarah bagi Cahyaning. Itu adalah hari bagi Cahyaning seperti dilahirkan kembali sebagai pribadi yang baru. Mujizat itulah yang mendorong Cahyaning untuk melakukan hal-hal yang besar dalam hidupnya.
“Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus sebagai Juruslamat saya pribadi. Dan untuk semua anugerah dan berkat yang melimpah di dalam kehidupan saya. Dan juga untuk mama papa yang sudah terus melakukan hal yang terbaik untuk anaknya. Dan juga untuk suami saya dan semua orang-orang yang di sekitar saya,” pungkasnya.

Rabu, 10 Juni 2020

SELVI : KEPAHITAN SAMA MAMA MERTUA MEMBUATKU JATUH SAKIT

Belum lama setelah menikah, Alex dan Selvi masih harus tinggal di rumah ibunya Alex.
Di awal pernikahan, sebagai menantu Selvi masih merasa betah. Tapi setelah beberapa bulan, dia mulai merasakan perlakuan yang gak baik dari mama mertuanya.
Hal ini diungkapkannya kepada suaminya. Namun lantaran kondisi ekonomi mereka yang belum stabil. Alex harus membujuk Selvi untuk tetap bersabar sama mereka bisa pindah ke rumah sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Selvi pun memutuskan untuk berjualan kue lemper di rumah. Siapa sangka usaha kecil ini berkembang dengan baik dan mampu menutupi kebutuhan mereka. Bahkan bisa mengontrak rumah dan pindah dari rumah mama mertuanya.
“Akhirnya kami pindah dari rumah mama mertua dank ami tinggal di rumah yang kami cicil dari bank. Kami memulai usaha lemper kami yang tadinya hanya sampingan, tapi sekarang jadi penghasilan utama buat kami. Dan hasilnya cukup lumayan,” ungkap Selvi.
Usaha lemper yang dijalankan oleh pasangan ini pada akhirnya menyita seluruh waktu mereka. Untuk pergi ke gereja atau ikut pelayananpun mereka tak lagi punya waktu.
“Sabtu-Minggu kadang kami tidak ke gereja karena memang agak rame pessenan sampai 500. Selvi agak kewalahan. Kita cuman berdua yang ngerjain,’ kata Alex.
Selvi jatuh sakit
Suatu kali di tengah kesibukannya, Selvi merasa kurang enak badan dan tiba-tiba diserang sesak nafas. Kondisi yang dia alami tampak cukup parah. Sehingga suaminya Alex harus melarikannya ke rumah sakit.
Setelah diperiksa, dokter mendiagnosa Selvi dengan penyakit yang cukup langka dan terpaksa harus masuk ruang ICU.
Sejak masuk ruangan ICU, kondisi Selvi malah lebih buruk. Dia sama sekali tak sadarkan diri. Di tengah kondisi kritis itulah dokter yang menangani Selvi mengaku kalau kemungkinan harapan hidupnya sangat kecil.
“Tiap hari saya nemuin si dokter Santoso ini, jawabannya begitu terus. Perkembangannya gak ada karena semenjak masuk ICU kayak orang yang gak sadar,” ucap Alex.
Di tengah kondisi yang dialami sang istri. Alex hanya bisa merenung dan mendengarkan firman Tuhan. Di masa-masa itulah Tuhan seakan mengingatkan dia tentang kisah Ayub dalam Alkitab.
“Firman Tuhannya Ayub aja terus. Ayub aja tiap hari. Kenapa Ayub diambil semuanya sampai harta, anak, menantunya diambil, dia masih bisa bersyukur? Nah dari situ saya (berserah kepada Tuhan) ‘Ya Tuhan kalau Selvi mau diambil saya pun gak akan ninggalin Tuhan’” ungkapnya.
Selama tujuh hari koma, Selvi sama sekali tak tahu apa yang sedang terjadi. Dia mengaku seperti mendengar teriakan seorang anak yang menyuruhnya untuk pulang.
“Dan saat itu juga saya mendengar suara yang seperti berbisik kepada saya yang mengatakan, ‘Anakku semua sakit penyakit yang saya berikan ini bukan untuk menghukum kamu. Tapi karena saya ingin menyatakan mujizat. Tuhan itu masih ada saat ini’” terang Selvi.
Selvi sadarkan diri
Penantian panjang Alex pun membuahkan kabar sukacita. Dokter menyatakan Selvi siuman dan kondisinya mulai perlahan-lahan sembuh.
“Dan ketika mujizat kesembuhan itu terjadi, saya merasa Tuhan mau saya kembali sama Dia,” kata Selvi.
Akar kepahitan disembuhkan
Bukan hanya sembuh secara fisik. Tapi Selvi mulai menyadari kalau ternyata sumber penyakit yang bersarang di tubuhnya berasal dari akar kepahitan dan kekecewaan terhadap mama mertuanya.
Sejak di awal pernikahan, Selvi mengaku kalau perlakuan mama mertuanya membuatnya harus memendam semua perasaan yang dia alami. Tanpa sadar perasaan itulah yang justru tumbuh semakin besar dalam hatinya.
“Dulu tuh bisa dibilang gak bisa mengungkapkan isi hati saya. Saya selalu pendam semuanya. Jadi apa yang saya rasakan, saya pendam, saya tumpuk sendiri. Ya mungkin di situ timbul akar kepahitan saya (kepada mama mertua),” terang Selvi.
Kepahitan Selvi terhadap mama mertuanya gak cukup sampai di situ. Bahkan setelah sembuh, kekecewaan itu semakin mendalam lantaran selama sakit, mama mertuanya bahkan tak mau membantu sang suami dalam mengurus anaknya.
Tapi perlahan-lahan, dia mulai sadar kalau kepahitan itulah yang membuatnya jatuh sakit. “Gak sadar kekecewaan, kepahitan yang saya tumpuk di dalam hati saya justru itu yang bikin saya sakit.”
Lewat sebuah pelayanan, Selvi mulai membuka hatinya untuk mau mengampuni mama mertuanya. Meski sulit, dia mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
“Saya gak mau balik lagi kayak dulu. Saya gak mau menyimpan lagi kepahitan. Saya mau Tuhan pakai saya tanpa syaratlah. Dari komsel itu saya ngerasain gimana cara mengampuni yang sesungguhnya. Mengampuni itu harus dari hati. Buang dulu semua sampahnya, baru Tuhan gempur. Tuhan mau kerjakan sesuatu buat saya,” ungkap Selvi.
Dengan penuh keberanian, Alex dan Selvi pun mendatangi mama mertuanya. Di momen itulah Tuhan mengerjakan sesuatu yang besar atas hidup mereka. Pemulihan pun terjadi.
Setelah hubungan mereka dipulihkan, dia memberikan kepercayaan penuh mama mertuanya untuk melanjutkan usaha lempernya.
“Hari ini saya sudah bebas dari kekecewaan. Dan itu semua karena dari Tuhan Yesus,” kata Selvi.
Apakah kamu pernah mengalami kepahitan atau kekecewaan terhadap orang lain? Entah itu keluarga atau pasanganmu? Kalau saat ini kamu merasa hidupmu gak mengalami kemerdekaan seperti sebelum kamu mengalami hal itu, mulailah minta ampun kepada Tuhan.

Jumat, 05 Juni 2020

BONAR DAN ESTER, PASANGAN SUAMI ISTRI YANG TAK MENDUGA KEDUA ANAKNYA MENDERITA EPILEPSI

Oswin dan Osbert, kakak beradik yang lahir dengan normal. Gak ada tanda-tanda kelainan yang tampak terjadi pada kedua anak ini diusia kurang dari setahun.
Namun pasangan suami istri Bonar Siahaan dan Ester Silalahi mulai curiga dengan keterlambatan pertumbuhan yang dialami putra pertama mereka Oswin yang masih belum bisa menggunakan kaki untuk berjalan di usia lebih dari 9 bulan.
Akhirnya, keduanya memutuskan untuk memberikan terapis kepada Oswin. Gak cukup di situ, untuk memastikan kondisi Oswin merekapun memeriksakan ulang putra mereka ke salah satu Pediatric Urology untuk menjalani rekam otak (EEG).
“Grafik (otaknya) memang sungguh kacau. Operatornya juga bilang very very crowded (sangat kacau). Kayak hutan belantara dia bilang. Akhirnya di situ memang diputuskan (penyakitnya) epilepsi. Tapi tidak tau apa penyebabnya karena semua norma,” kata Bonar.
Kenyataan pahit ini menghancurkan hati Bonar dan juga Ester. Bahkan risiko kematian Oswin yang tiba-tiba bisa terjadi, seperti palu yang menghantam hidup mereka.
Meski begitu, dengan iman Ester mengaku rela jika waktunya Tuhan membawa Oswin pulang. Karena dia tahu semua orang pasti akan mengalami masa itu.
Syukurnya, dalam kondisi lemah Oswin masih tetap diberikan kesempatan hidup. Satu setengah tahun kemudian dia pun kehadiran adiknya Osbert.
Sama halnya seperti Oswin, Ester mengaku proses kelahiran dan pertumbuhan Osbert sama sekali normal.
“Anak kedua saya lahir di tanggal 19 Februari 2005. Osbert itu perkembangannya persis sebenarnya mengikuti apa yang Oswin waktu dulu jalanin juga ya. Saya kira dua anak saya harus saya rawat dengan kondisi yang kurang lebih serupa,” jelas Ester.
Kasus serupa terjadi kepada Osbert. Sayangnya, keduanya belum bisa mendapat jawaban soal apa penyebab penyakit epilepsi yang dialami keduanya.
Suatu kali Oswin mengalami panas tinggi dan kejang-kejang sampai dia harus dirawat di ruang ICU. Dokter yang menangani Oswin sendiri mengaku gak lagi mampu berbuat apa-apa. Karena kejang-kejang yang terus terjadi pada Oswin berisiko paling fatal akan membuatnya sulit bernapas.
“Dokter bilang saya sudah tidak tahu lagi bu. Ini sudah di luar kemampuan saya. Kita masukin ke ICU, tapi saya tidak tahu apa yang akan terjadi,” jelasnya.
Di tengah kondisi itu, Ester dengan teguh menghampiri Oswin di ruang ICU. Di sana dia membisikkan kepada putranya itu untuk berdoa dan minta Tuhan Yesus menyembuhkannya. Tapi di sisi lain, sebagai ibu yang tahu betul kondisi yang dialami anaknya dia mau menyerahkannya sepenuhnya ke Tuhan.
“Keesokan harinya, Oswin 36 derajat. Tiga hari kemudian pulang. Saya percaya di situ bahwa Oswin punya hubungan sama Tuhan Yesus. Kita juga percaya mereka berdoa, bukan hanya bicara mereka berdoa. Tapi mereka berdoa juga,” katanya.
Tidaklah mudah bagi Bonar dan Ester merawat kedua putra mereka yang menderita epilepsi langka. Namun hanya oleh karena iman dan kasih Yesus saja, Ester mengaku bisa melewati hari demi hari dengan setia berada di samping kedua anaknya.
Dia yakin betul bahwa penyakit yang dialami Oswin dan Osbert bukanlah rancangan kecelakaan. Sebaliknya, dia percaya Tuhan punya rencana atas apa yang mereka alami.
“Saya pernah bilang sama dia, ‘Oswin masih di sini. Tuhan masih punya rencana sama Oswin.’ Rencananya apa saya gak tahu. Banyak yang bilang Oswin gak bisa apa-apa kog. Tapi sampai sekarang, anak-anak saya sudah menyentuh berapa banyak hidup orang. Sehingga orang-orang itu diberkati,” jelas Ester.
Menurutnya, semua manusia diciptakan sempurna. Tapi dosa membuat manusia kehilangan kesempurnaan itu dan kemudian dipulihkan lewat karya penebusan Yesus.
“Tidak mungkin Tuhan menciptakan (seseorang) tidak sempurna. Karena kita bilang yang sempurna itu harus gini harus gini. Tapi kesempurnaan di mata Tuhan adalah hati manusia. Yang tadinya juga gak sempurna, berdosa, tapi ditebus sama Tuhan dan pulih lagi,” jelas Ester.